Chapter 4
Kota
Silmenia
1
──Apakah harus ada kata-kata agar bisa merasa senang?
Konoe teringat ucapan Telnerica. Ia merenungkannya
kembali berkali-kali.
Gadis yang tersenyum itu. Dia bilang dia tetap merasa
senang meski tanpa kata-kata.
Dan Konoe pun…….
(……Tidak, itu tidak mungkin.)
Begitu pikirnya. Kata-kata
itu penting. Justru karena ada kata-kata, manusia bisa berinteraksi dengan
sesamanya. Bisa saling memahami.
Bukankah memang begitu? Ataukah tidak?
Konoe yang jarang membuka mulut tidak bisa menegaskan
seberapa penting sebuah kata-kata.
Namun, ia hidup di tengah nilai-nilai seperti itu.
Seingatnya, di sekolah pun ia diajarkan untuk
mengutarakan apa yang ingin dikatakan. Ia pikir di dunia ini pun sama saja.
……Karena itulah, Konoe tidak bisa memahami ucapan
Telnerica.
Dia
berbohong…… atau mungkin hanya asal bicara.
Pikirnya, ada saja orang yang sekadar bicara manis
mengikuti suasana hati──.
"──"
──Ah, tapi. Telnerica yang ia lihat selama ini.
──Gadis yang berteriak sambil memuntahkan darah pada hari
itu.
"……"
……Konoe tidak mengerti. Ia tidak paham.
◆
──Dua puluh tiga hari telah berlalu sejak ia tiba di
Kota Silmenia.
Masa tugasnya di kota ini pun tinggal tujuh hari lagi.
Belakangan ini, berbanding terbalik dengan kegalauan
Konoe yang semakin mendalam, beban kerjanya sendiri justru berkurang.
Sebab, konsentrasi miasma di kota mulai menipis.
Langit yang terlihat dari jendela tak lagi berwarna
miasma yang pekat, dan warna biru mulai kembali.
Pasien Penyakit Mati juga berkurang drastis beberapa hari
terakhir; kemarin dan lusa, saat pagi hari hanya ada satu pasien.
Dan hari ini.
"──Adept-sama, hari ini tidak ada pasien Penyakit
Mati."
"……Begitu ya."
Ekspresi ksatria yang menyampaikan hal itu pada Konoe
tampak serius dan sikapnya tenang──tapi nada bicaranya terdengar sedikit ceria.
Dia pasti senang. Tentu saja. Hari ini adalah hari
ke-tiga puluh delapan sejak luapan Labirin dimulai.
Perjuangan yang telah berlangsung bahkan sebelum Konoe
tiba di kota ini akhirnya mencapai titik balik.
Akhir dari segalanya mulai terlihat, dan sudah berada di
depan mata.
Setelah Menara Barrier dibangun kembali, luapan ini bisa
dikatakan benar-benar berakhir.
Yah, meski setelah itu pastinya masa pemulihan yang
sangat panjang sudah menanti…….
(……Tapi, dengan begini pekerjaanku juga sudah habis, ya.)
Bagaimanapun, pekerjaan Konoe pun ikut mencapai
puncaknya.
Sisanya, ia cukup menangani monster sampai penghalang
kembali aktif.
Caranya adalah dengan membawa tombak dan berpatroli di
perbatasan kota, atau melakukan deteksi hawa keberadaan dari tempat yang tinggi
lalu membasmi mereka.
Kira-kira mana yang lebih baik, pikirnya.
(……Hari ini, aku akan naik ke menara pengawas saja.)
Entah kenapa, ia memutuskan begitu. Suasana hatinya
sedang ingin melihat keadaan kota sebentar.
◆
Di tembok kota Silmenia, terdapat beberapa menara tinggi
yang dibangun di berbagai titik untuk pengawasan.
Hingga beberapa waktu lalu, para prajurit selalu berjaga
di sana untuk mendeteksi penyusup yang mendekati kastil atau kejanggalan di
dalam kota, namun kini sebagian besar telah hancur akibat serangan monster.
Akan tetapi, ada satu menara yang secara ajaib tetap utuh
tanpa luka sedikit pun.
Dari puncaknya, orang bisa memandang hingga ke hutan di
pinggiran kota, sehingga belakangan ini Konoe menjadikannya sebagai basis
kegiatannya.
"……"
Konoe berdiri di pinggir menara dan memandangi kota.
Hari ini pun, orang-orang yang penuh semangat berada
di sana.
Suara teriakan penuh tekad terdengar, dan anak-anak
tampak berlarian.
Perbaikan Menara Barrier sudah sangat maju, dan
akhirnya pun sudah terlihat.
Entah mengapa, Konoe menujukan pandangannya pada mereka
sejenak──.
──Lalu ia menyipitkan mata, memperluas deteksi hawa
keberadaan ke arah hutan.
Di dalam hutan yang tak jauh dari reruntuhan tembok kota.
Secara kasatmata tempat itu tampak tak berpenghuni──namun, banyak hawa
keberadaan monster yang menggeliat di sana.
Mungkin mereka berniat menyerang siapa pun yang
mendekat. Atau mungkin mereka bersembunyi karena takut pada patroli
para ksatria.
"……"
Sambil mengunci target monster-monster itu, ia
menciptakan pisau dari alat sihir di tangannya.
Alat sihir ini sudah digunakan Konoe sejak lama, sebuah
mahakarya yang sering ia gunakan untuk kemudahan dalam pertempuran biasa. Alat
sihir yang bisa menciptakan pisau kecil selama mana masih tersedia.
Pisau yang dibuat dengan ini memiliki ketahanan rendah
dan akan menghilang setelah beberapa saat. Karena itu, alat ini tidak bisa
diandalkan untuk pertarungan jarak dekat secara langsung. Tapi, alat ini sangat
berguna dalam situasi tertentu.
Artinya──.
"──"
──Konoe mengayunkan lengannya ke arah hutan.
Empat bilah pisau terjepit di sela jari-jarinya, dan
dilepaskan secara bersamaan.
Dalam satu tarikan napas, pisau-pisau itu melintasi kota,
mencapai sisi luar tembok──.
"──!!??"
Di lapisan luar hutan, beberapa hawa keberadaan yang ia
deteksi menghilang.
Di saat yang sama, pepohonan bergoyang gaduh, dan
hawa-hawa keberadaan mulai bergerak semakin jauh ke dalam.
Konoe menghujani punggung monster-monster itu dengan
pisau-pisau hasil ciptaannya satu demi satu.
Tak ada belas kasihan di sana.
Kata-kata bahwa musuh yang melarikan diri tak perlu
dikejar mungkin bisa ditujukan bagi binatang buas, tapi tidak untuk monster.
──Monster adalah musuh bebuyutan bagi umat manusia.
Monster, pion yang diciptakan oleh Dewa Jahat, makhluk
yang memangsa manusia.
Sejak awal, monster dilahirkan oleh Dewa Jahat sebagai
musuh manusia.
Itu karena Dewa Jahat sangat membenci dan memendam niat
membunuh terhadap umat manusia.
Dan karena dia memberikan imbalan kepada monster yang
melakukan pembunuhan.
Semakin banyak manusia yang dibunuh monster, semakin kuat
monster itu.
Semakin banyak manusia yang dimakan, semakin cerdas
mereka.
Semakin besar rasa benci dan niat jahat yang mereka
miliki terhadap manusia, semakin kuat berkah yang mereka dapatkan.
Meski ada perbedaan berdasarkan ras saat lahir, begitulah
prinsip dasar para monster.
……Oleh karena itulah, saling pengertian antara manusia
dan monster adalah hal yang mustahil.
Untuk saling memahami dibutuhkan interaksi, dan untuk
berinteraksi dibutuhkan kecerdasan.
Namun, karena monster harus memangsa banyak manusia untuk
mendapatkan kecerdasan, maka tidak ada jalan keluar.
Mereka tidak akan pernah bisa saling memahami…… tidak,
mereka tidak boleh saling memahami.
Begitulah
makhluk hidup yang disebut monster di dunia ini.
"……"
Itulah
sebabnya Konoe tidak ragu sedikit pun, dan terus menciptakan pisau berikutnya
di tangannya dalam keheningan.
……Lalu,
ia menghunjamkan pisau-pisau itu ke arah hawa keberadaan yang lari tunggang
langgang.
◆
Beberapa waktu kemudian. Setelah mengitari perbatasan
kota satu putaran, Konoe menghentikan tangannya.
Ia tidak membunuh semuanya, namun termasuk mereka yang
melarikan diri, monster-monster itu sudah menghilang dari sekitar kota.
Sisanya ia tinggal berjaga-jaga seperti ini, dan
menangani mereka jika ada yang mendekat lagi.
"……"
Karena itu, Konoe mengembuskan napas pendek dan
berbalik.
Ternyata di sana ada sebuah kursi panjang kecil yang
diletakkan sendirian, dan seorang gadis sedang duduk di atasnya.
Di menara yang penuh dengan senjata itu, terdapat
seorang gadis berpakaian pelayan yang tampak tidak pada tempatnya.
……Telnerica, hari ini pun berada di sisi Konoe.
"Konoe-sama, apakah Anda ingin beristirahat?"
"……Ya."
"Begitu ya, kalau begitu saya akan menyeduh
teh," ujar Telnerica sambil tersenyum. Ia mengambil teko dan cangkir dari
dalam keranjang──.
──Di samping Telnerica, ada ruang kosong yang cukup untuk
satu orang lagi.
"……"
Ia tahu. Telnerica sengaja mengosongkan ruang itu untuk
Konoe. Karena kemarin pun sama, jadi ia paham.
……Namun. Jika duduk di sana, jaraknya dengan Telnerica
akan menjadi sangat dekat.
"…………"
Awalnya──beberapa hari lalu, saat pertama kali datang ke
menara pengawas ini, keadaannya berbeda.
Telnerica tetap berdiri menunggu selama pembasmian
monster, dan saat istirahat pun ia mencoba tetap berdiri di samping Konoe.
Tapi, duduk sendirian sementara sang gadis berdiri di
sampingnya membuat Konoe merasa tidak nyaman.
Karena itu ia meminta Telnerica untuk duduk.
Tanpa memikirkan ukuran maupun jumlah kursinya.
Hasilnya adalah
keadaan yang sekarang ini.
"………………"
Konoe ragu untuk duduk di ruang sempit di samping
Telnerica.
Akan tetapi, Konoe tahu jika ia tetap berdiri, gadis itu
juga akan ikut berdiri dan mencoba memberikan kursinya.
……Oleh karena itu, ia memutuskan untuk duduk dengan
menjaga jarak agar tidak terlihat tidak alami. Jarak seukuran satu kepalan
tangan.
"Konoe-sama. Silakan tehnya."
Begitu ia duduk di sampingnya, Telnerica segera
memberikan teh yang dituangkan dari teko.
Teh yang ada di dalam alat sihir pengatur suhu itu terasa
hangat. Konoe perlahan menyesap teh yang masih mengepulkan uap itu.
"……"
Aroma teh yang nikmat menyebar di rongga hidungnya, dan
ia mengembuskan napas.
Napasnya terlihat memutih karena udara dingin…… namun
segera terhapus oleh angin yang berembus dari samping.
"……Anginnya agak kencang ya. Konoe-sama, apakah Anda
kedinginan?"
"……Ya, begitulah, sedikit."
Telnerica bergumam lirih.
Begitu dikatakan, Konoe baru tersadar kalau udaranya
memang agak dingin.
Yah, meski begitu bukan berarti itu jadi masalah baginya.
Adept dilatih agar bisa beradaptasi di segala lingkungan.
Meski bisa merasakan panas dan dingin, secara fisik tidak
ada perbedaan besar antara gunung salju di musim dingin dan tempatnya sekarang.
Begitulah kenyataannya.
Karena itu, Konoe tidak terlalu memikirkannya dan kembali
menyesap tehnya──.
"Konoe-sama."
"……Apa……!!??"
──Saat itu. Tiba-tiba, tubuh Telnerica condong ke arahnya.
Konoe terkejut dan secara refleks ingin menghindar……
tapi, kemampuan deteksi sebagai seorang Adept memberitahunya bahwa jika ia
menghindar, Telnerica akan jatuh tersungkur ke kursi.
Karena itu, Konoe tidak bisa bergerak.
Ia hanya bisa terdiam melihat tubuh Telnerica yang
semakin mendekat.
"──"
Sentuhan lembut terasa di lengannya.
Kepala, bahu, dan lengan Telnerica bersentuhan dengan
Konoe.
Jarak yang ada beberapa saat lalu kini telah menghilang.
Konoe benar-benar tidak bisa bergerak. Selagi
ia mematung, rasa hangat perlahan-lahan merembas dari titik sentuhan mereka
melalui lapisan pakaian.
"……Telnerica, apa yang kau lakukan?"
"Konoe-sama, apakah Anda tahu? Meski angin bertiup
kencang, kita akan merasa hangat jika saling bersandar."
Suara lembut Telnerica menyahuti pertanyaan yang susah
payah dilontarkan Konoe.
Suaranya halus, nyaris menyerupai bisikan. Ditanya apakah
ia tahu atau tidak, hal seperti itu...
"Aku ti-tidak tahu."
"……Begitu ya. Kalau begitu, ketahuilah hari
ini."
Tawa kecil Telnerica menggelitik telinga Konoe.
Konoe merasa kacau. Ia benar-benar bingung.
Ia tidak mengerti kenapa gadis ini melakukan hal
semacam ini. Karena terlalu banyak hal yang tidak ia pahami, Konoe tidak bisa
berbuat apa-apa.
Saat ia memberanikan diri melirik, gadis itu hanya
tersenyum dengan pipi yang merona tipis.
"……"
"……"
Keheningan pun terus berlanjut di antara mereka.
Di atas menara yang tak ada siapa pun selain mereka
berdua. Hanya ada suara desiran angin dan deru napas Telnerica.
Benar, di sana tidak ada kata-kata yang memicu kecurigaan
akan niat jahat. Hanya ada kehangatan lembut yang tersalurkan secara perlahan.
"……"
──Telnerica, terasa begitu hangat.
2
Puluhan kilometer dari kota Silmenia.
Naga Angin masih berdiam di lereng gunung, tepat di
lokasi gua yang telah runtuh.
"──"
Ia menyembunyikan hawa keberadaannya, merebah di tanah,
dan terus mengawasi kota.
Ia berhenti mengeluarkan suara dan tidak bergerak
sedikit pun. Tak lama kemudian, serangga dan hewan kecil mulai merayapi
tubuhnya, namun sang naga tetap bergeming.
Sang naga menyadarinya. Di kota itu, penghalang mulai
kembali pulih.
Menara terkutuk itu hampir kembali ke bentuk asalnya, dan
hawa keberadaan Dewa pun semakin menguat.
……Jika terus begini, sang naga tidak akan bisa lagi
memasuki kota.
Jika ingin menyerang, sekaranglah saatnya. Itu adalah
fakta yang dipahami tidak hanya oleh naga, tapi juga oleh monster lainnya.
Itulah alasan kenapa jumlah monster di sekitar kota tidak
kunjung berkurang. Sebanyak apa pun pisau yang dihujamkan Konoe ke dalam hutan,
mereka akan segera kembali lagi.
Bagi para monster, permukiman manusia tanpa penghalang
adalah kesempatan emas sekali seumur hidup untuk memperkuat diri mereka
sendiri.
"……"
……Meski begitu, sang naga tetap tidak bergerak dan
terus mengawasi kota.
◆◇◆
──Pagi keesokan harinya.
Hari itu pun, Konoe dan Telnerica naik ke menara
pengawas berdua.
Konoe membasmi monster, sementara Telnerica
memperhatikan dari belakang.
Konoe yang serius dan efisien melindungi kota, serta
Telnerica yang menjaga dengan pandangannya.
Lalu saat waktu istirahat di tengah angin kencang,
mereka berdua meminum teh bersama──.
"……"
"……"
Hari ini pun mereka duduk berjajar di kursi, dengan
bahu yang sedikit bersentuhan.
Tak banyak kata di antara mereka. Hanya sesekali
Telnerica mengajak bicara, dan Konoe hanya menyahut singkat.
Selebihnya, mereka hanya duduk berdampingan.
Suhu tubuh merambat dari bagian yang sedikit
bersentuhan, dan Konoe yang tak familier dengan hal itu tetap saja tidak bisa
terbiasa meski waktu terus berlalu.
……Tapi entah mengapa, ia tidak merasa ingin menjauh.
"……"
"……"
Karena itu, mereka tetap seperti itu sampai matahari naik
tinggi.
◆
Lalu, saat siang hari tiba.
Tiba-tiba Konoe merasakan pengaktifan gerbang
transmisi. Sepasang tamu telah tiba di kota.
"……Pedagang?"
"Iya, dari Ibu Kota."
Ia bertanya-tanya siapa yang datang, rupanya itu adalah
pedagang yang sengaja berkunjung ke sini.
Namun, meski begitu.
"……Walaupun sudah menipis, bukankah miasma masih
tersisa?"
"Bertindak meski harus menanggung risiko seperti
itu, itulah pedagang. Jika mereka pikir bisa untung, mereka bahkan akan pergi
sampai ke dasar Labirin. Mereka makhluk yang seperti itu. ……Jika Konoe-sama
berkenan, bagaimana kalau Anda melihatnya juga?"
……Benar-benar
tangguh.
Konoe
merasakan sedikit rasa hormat terhadap vitalitas mereka yang bahkan
mempertaruhkan nyawa──namun, saat ditawari, ia sama sekali tidak tertarik.
Karena itu, ia berniat mengabaikannya saja karena merasa
tidak butuh……
"──"
Di situ ia menyadari. Tak biasanya, Telnerica menatap
Konoe dengan mata berbinar-binar layaknya gadis seusianya.
"……"
Dan selama hari-hari yang telah berlalu, Konoe tahu.
Gadis ini pasti tidak akan pergi berbelanja sendirian,
pikirnya.
"……………Kalau begitu, tolong pandu aku."
"Baik!"
Dipandu oleh Telnerica, Konoe berpindah menuju lapangan
di depan kastil.
Di sana sesuatu yang menyerupai tenda besar darurat sudah
didirikan, dan barang-barang dagangan sudah dihamparkan di dalamnya. Terlihat
tempat itu ramai oleh banyak orang.
Ada pedagang yang menggosok-gosokkan tangan, wanita paruh
baya yang memeriksa kain dengan wajah serius. Ada
pramuniaga muda yang meneriakkan nama camilan dengan suara lantang, dan
anak-anak yang berkerumun di depannya.
Ada pria yang memegang botol minuman sambil
melirik-lirik ke samping, dan wanita yang membalasnya dengan senyum ketus.
……Semua orang tampak berbelanja dengan riang.
Barang-barang terjual dengan cepat, namun produk baru
terus dipajang di rak satu demi satu.
Barang dalam jumlah banyak itu pasti dibawa
menggunakan gudang yang diperluas dengan sihir ruang.
Karena gerbang transmisi hanya bisa dilewati dalam
waktu singkat dalam sekali pengaktifan, dibutuhkan alat sihir ruang yang
mengompres benda untuk membawa muatan besar.
……Lalu, alasan mengapa mereka mendambakan teknologi
mesin Bumi meski sudah ada berbagai sihir ruang yang praktis ini adalah karena
semua alat sihir tersebut merupakan barang buatan tangan para perajin. Jumlah
produksinya terlalu sedikit.
"……"
Tapi, ramai sekali ya, pikir Konoe sambil mendekati
toko tempat orang-orang berkumpul.
Tempat itu begitu meriah sampai-sampai ia ragu untuk
berbaur ke dalamnya.
"Konoe-sama, apakah ada barang yang Anda
butuhkan? Jika Anda berkenan, saya bisa mencarikannya untuk Anda."
"……Hm, ah…… kalau begitu, tolong camilan apa
saja."
Di saat itu, Telnerica melongokkan wajahnya dari samping.
Sambil berpikir bahwa gadis itu sangat peka, Konoe
menyerahkan beberapa koin perak dari dompetnya. Lalu ia mengantar kepergian
sang gadis yang berlari menjauh……
"──Wah, wah, Adept-sama, sebuah kehormatan bisa
bertemu dengan Anda."
"……Hm?"
Dipanggil seperti itu, ia menoleh.
Tampak seorang pedagang mendekat sambil
menggosok-gosokkan tangannya. ……Entah kenapa, ia berpikir kalau gestur
ini ternyata sama saja meski di dunia lain.
"Apakah ada barang yang Anda butuhkan? Jika itu
adalah permintaan dari Adept-sama, saya, Yonin, akan menyiapkannya dengan
segenap tenaga."
"……Tidak."
"Begitu rupanya. Sangat disayangkan, tapi jika
nanti ada sesuatu, saya akan sangat bahagia jika Anda berkenan berkonsultasi
dengan saya."
Lalu, ia melanjutkan bahwa mereka memiliki toko di Ibu
Kota, dan lokasinya adalah──.
Konoe mendengarkan itu sambil lalu, ia merasa pedagang
ini punya gaya bicara yang anehnya terlalu formal.
Ataukah memang begini normalnya seorang pedagang
menghadapi Adept, pikirnya.
Konoe sendiri baru saja menjadi Adept jadi ia tidak
terlalu paham.
……Yah, kesannya sopan dan tidak buruk, jadi ia pikir
tidak masalah.
Telnerica yang sedang berbelanja pun tampak ceria, dan
pedagang itu sepertinya tidak melakukan penipuan harga.
"Ah, kali ini kami memberikan harga murah. Karena
kami sudah lama menjalin hubungan dagang Bunga Suci dengan kota ini."
"……Begitukah."
Jawaban kembali datang padahal ia tidak bertanya.
Entah karena pedagang itu sangat peka, ataukah Konoe yang
mudah dibaca.
"Yah, karena itulah ini sangat disayangkan. Tak
disangka, Bunga Suci di kota ini sampai layu. Bahkan sampai ke benihnya pun
ikut habis, ya ampun."
"……"
"Saya rasa jika kita mendatangkan benih dari kota
lain, budidaya Bunga Suci bisa segera dimulai kembali. Namun, Bunga Suci di
kota ini sedikit istimewa. Sebagai pedagang, saya pun merasa sangat
menyesal," lanjutnya.
Pedagang itu pun mengembuskan napas pendek.
Konoe hanya menanggapi dalam hati bahwa Bunga Suci di
kota ini ternyata spesial, seolah itu adalah urusan orang lain.
──Tepat saat itu, tiba-tiba terdengar suara gemertak
gigi.
Saat ia melirik, tampak seorang ksatria yang berjalan
di dekat sana sedang menggertakkan giginya.
Ia menatap sang pedagang, lalu menatap ladang yang
layu di kejauhan dengan wajah penuh penyesalan.
Sepertinya dia tadi ikut mendengarkan pembicaraan itu.
"……"
Konoe berpikir bahwa keadaan pasti sedang sangat sulit
bagi mereka. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan terkait urusan tanaman.
Karena itu, ia kembali menatap pedagang tadi tanpa
terlalu memikirkannya.
"──Ngomong-ngomong, Adept-sama. Sebenarnya kami
membawa titipan barang yang ditujukan untuk Anda."
"……?"
……Barang?
◆
"……Ini, katalog rumah?"
Konoe kembali ke kamarnya dan membuka barang yang ia
terima.
Pengirimnya adalah instruktur di akademi. Di dalam
tas kertas itu terdapat sebuah katalog dan sebuah catatan.
Catatan itu berisi tulisan tangan sang instruktur:
"Sepertinya kamu mulai senggang, kan? Aku mengirimkan barang yang pernah
kamu bicarakan dulu."
Konoe pun teringat kalau sang instruktur memang tahu
rencananya membeli rumah. Lagipula, instruktur itulah yang membujuk Konoe masuk
ke akademi dengan janji-janji manis.
……Yah, ia memutuskan untuk berterima kasih atas
perhatian bahwa dirinya mungkin sedang senggang.
"……"
Ia membalik halaman katalog itu satu per satu. Berbagai
rumah yang sedang dijual terpampang di sana, lengkap dengan berbagai keterangan
dalam tulisan kecil.
Konoe mengamati denah tersebut dan membaca kalimat
promosinya. Ia memutar katalog yang terisi detail mendalam itu, lalu meletakkan
tangan di dagu sambil berpikir.
Setelah melihatnya cukup lama, ia mengangkat wajah
dan mengalihkan pandangannya ke langit-langit.
"……"
……Sejujurnya, aku tidak mengerti sama sekali, pikirnya.
Semuanya terlihat sama saja di matanya.
Sepertinya Konoe tidak punya kemampuan untuk membaca
denah di dunia ini.
Lagi pula, ia tidak paham istilah teknis yang tertulis di
denah itu. Saat ia berpikir bahwa ini tidak ada jalan keluarnya──Telnerica
mengintip dari samping.
"Konoe-sama, apakah Anda akan membeli rumah?"
"……Ya."
Sambil mengangguk pada Telnerica, ia menutup katalog
tersebut.
Gadis itu kemudian menangkupkan kedua tangan di depan
dada sambil berseru.
"──Luar biasa! Rumah seperti apa yang akan Anda
pilih!?"
"……"
Mata Telnerica berbinar-binar. Entah kenapa dia terlihat
sangat bersemangat.
Konoe mengerjapkan mata melihat tingkahnya, lalu berpikir
sejenak. Jika ditanya rumah seperti apa.
"……Yah, aku ingin rumah yang berada di lokasi yang
praktis."
"Benar sekali! Lalu apa lagi?"
"……Selain itu, sepertinya tidak ada lagi."
"……! Jangan begitu! Sayang sekali jika Anda membeli
rumah tanpa keinginan lain!"
Telnerica merebut katalog dari tangan Konoe.
Lalu, ia membukanya di atas meja dan mulai mengocehkan
ini-itu.
Misalnya, rumah ini punya rumah kaca kecil, atau rumah
ini punya oven khusus.
Ada juga rumah yang punya banyak kamar, atau yang
dilengkapi alat sihir untuk pendingin dan pemanas ruangan. Ada yang punya
laboratorium di bawah tanah, kebun yang luas, atau bahkan memiliki Familiar.
Konoe sedikit terperangah melihat tingkah Telnerica itu,
namun seiring percakapan berlangsung, ia mulai mengerti. Sedikit demi sedikit
ia pun mulai mengutarakan pendapatnya sendiri.
Yah, aku ingin ada kamar mandi, katanya. "Itu
benar-benar harus ada!" sahut Telnerica.
Saat ia bertanya seperti apa rasanya punya Familiar,
Telnerica menjawab, "Mereka akan membantu bersih-bersih!"
Saat ia bilang rumah yang terlalu luas sepertinya sulit
dikelola, Telnerica membalas, "Anda bisa mempekerjakan pelayan!
Menggunakan uang yang Anda hasilkan untuk memutar roda
ekonomi juga tugas orang yang berada di atas!"
Begitulah mereka mengobrol berdua, dan tak terasa
matahari mulai condong ke barat.
Sesekali monster mendekat, namun sambil mengatasinya,
Konoe terus mengobrol hingga lupa waktu──.
◆
"──Tuan Putri, boleh saya meminta waktunya
sebentar?"
Dan, tepat saat itulah seorang pelayan datang ke kamar
untuk memanggil Telnerica.
3
"Bicara? Ada apa ya? ……Konoe-sama, saya izin keluar
sebentar."
"……Ya."
Setelah
mengantar Telnerica yang pergi bersama pelayan itu, Konoe memutuskan untuk
pergi ke menara pengawas.
Sebenarnya
tidak masalah jika ia lanjut melihat katalog, tapi karena sudah tertutup, ia
merasa sedang tidak ingin melakukannya.
Rasanya
sudah agak lama semenjak ia berjalan sendirian, pikirnya sambil keluar dari
kastil dan menuju tembok kota……
"Adept-sama."
"……Hm?"
Di tengah jalan, ia dipanggil. Di sana ada seorang pria
yang ia kenal.
Itu adalah pria yang ia temui di depan aula audiensi saat
ia baru tiba di kota ini untuk menyapu monster. Pria
yang tak mundur selangkah pun meski hampir mati saat melawan Troll.
Dia adalah Komandan Ksatria kota ini, sekaligus orang
yang memimpin pertahanan kota sampai Konoe tiba.
"Maaf jika saya tidak sopan, tapi bolehkah saya
meminta waktunya sebentar?"
"……Ya."
Melihat Komandan Ksatria menundukkan kepala dengan wajah
sungkan, Konoe mengangguk sambil berpikir bahwa ini hal yang langka.
Sangat jarang pria itu mengajaknya bicara, apalagi sampai
datang ke kastil.
Sudah belasan hari semenjak ia tiba di kota ini. Seluruh
anggota ksatria termasuk sang Komandan melakukan patroli bergilir di perbatasan
kota.
Alasan mengapa monster tidak masuk ke kota meskipun kota
ini kehilangan penghalang adalah karena Konoe yang membasmi mereka, namun di
sisi lain itu juga karena kewaspadaan para ksatria.
Monster yang cerdas akan segera kabur jika dilempari
pisau dari menara pengawas, tapi monster yang bodoh tidak akan sadar ada musuh
jika tidak diperlihatkan penjagaan tepat di depan mata mereka.
Oleh karena itu, Konoe merasa terbantu oleh para ksatria
dan ia juga merasa berterima kasih pada ksatria yang beraktivitas siang dan
malam itu.
"Sebenarnya, kami dari korps ksatria memiliki
permohonan yang ingin didiskusikan dengan Adept-sama."
"……Permohonan?"
◆
"………………"
Setelah mendengarkan penjelasan Komandan Ksatria selama
beberapa saat.
Konoe sedang melemparkan pisau ke arah hutan dari atas
menara pengawas. ……Ia melempar lebih banyak pisau dari biasanya, hingga ke area
yang lebih dalam.
"Anu, Konoe-sama, saya sudah kembali."
"……Ya."
Saat itulah Telnerica muncul dari tangga menara.
Di tangannya ia membawa teko seperti biasa, dan aroma teh
pun tercium. ……Namun, ekspresinya kali ini sedikit suram, berbeda dari
biasanya.
Konoe memiringkan kepala melihat kondisi Telnerica, namun
tetap lanjut bekerja dengan serius.
"──Konoe-sama…… sebenarnya ada permohonan dari warga
kota."
Setelah
beberapa saat berlalu, Telnerica memantapkan hati untuk berbicara.
Saat
Konoe berbalik, gadis itu sedang duduk di kursi sambil mengepalkan tangan di
atas lututnya. Rok yang ia genggam tampak sangat berkerut.
Melihat
Telnerica yang seperti itu, Konoe pun berkata.
"……Ya, tentang benih itu, kan?"
"……Eh?"
Konoe membuka pembicaraan lebih dulu. Melihat
Telnerica yang terkejut, Konoe teringat kejadian sebelumnya.
"……Aku sudah dengar dari Komandan Ksatria."
Itu adalah pembicaraan mengenai industri kota ini,
Bunga Suci.
◆
"Kami ingin mencari benihnya."
Permohonan Komandan Ksatria dimulai dengan kata-kata itu.
Itu adalah kisah tentang satu-satunya harapan untuk
membangkitkan kembali Bunga Suci kota ini yang telah layu dan musnah
sepenuhnya.
──Tanaman Bunga Suci sepertinya memiliki ekologi yang
cukup unik.
Bunga Suci adalah bunga indah dengan kelopak putih tipis,
namun di sisi lain ia sangat sensitif dan mudah layu.
Ia lemah terhadap perubahan suhu, peka terhadap kualitas
air, layu jika terkena sinar matahari yang terlalu kuat, serta mudah mati
karena hama maupun penyakit.
Di tengah kerentanan itu, Bunga Suci memiliki ekologi
untuk bertahan hidup.
Konon saat nyawanya terancam, dalam rasio yang sangat
jarang──kurang dari satu berbanding seribu──ia akan menciptakan benih baru di
dalam akar bawah tanahnya.
Meskipun sangat lemah, ia akan menitipkan kehidupan di
dalam tanah yang minim faktor eksternal, lalu menunggu kesempatan berikutnya
untuk mekar.
Begitulah jenis bunga ini, jelas sang Komandan Ksatria.
"Bunga yang mekar maupun benih yang disimpan
semuanya telah membusuk karena miasma.
Namun, jika benih itu ada di dalam tanah, ada kemungkinan
ia masih bertahan hidup."
Keinginan untuk mencari benih itulah yang menjadi
kesepakatan seluruh warga kota.
Tentu saja kemungkinannya sangat rendah. Mereka sudah
mencoba menggali sebagian ladang, namun hanya menemukan beberapa benih di satu
petak, dan benih yang ditemukan pun semuanya sudah membusuk.
Namun meski begitu, kondisinya tidak seburuk benih yang
ada di atas tanah.
Dan jika ada sedikit saja kemungkinan, mereka tidak bisa
menyerah begitu saja.
Komandan Ksatria mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil
berteriak penuh emosi.
Jika tersisa satu butir saja, mereka ingin segera
menemukan dan melindunginya.
Mengingat benih yang bertahan hidup pun mungkin semakin
melemah setiap detiknya, mereka tidak bisa tenang.
"……Namun, saat ini kota masih dalam masa pemulihan.
Menara Barrier juga belum selesai diperbaiki. Tenaga kerja benar-benar kurang,
personel yang bisa dikerahkan ke ladang sangat sedikit."
Setelah memikirkan apa yang bisa dilakukan, hasilnya
adalah.
"──Kami ingin mengerahkan sebagian anggota ksatria
ke sana. Jaringan pengawasan memang akan menipis, tapi……"
"Tolong, saya mohon!" Komandan Ksatria memohon
pada Konoe.
Ia menundukkan kepala meminta maaf karena beban Konoe
mungkin akan bertambah.
"Bunga itu istimewa bagi kami! Kami tumbuh bersama
bunga itu, dan mati bersama bunga itu. Begitulah cara hidup kami! ──Kami ingin
mempersembahkan Bunga Suci di depan makam bawahan kami yang telah gugur!"
Begitulah teriak pria yang telah kehilangan banyak
bawahan dalam luapan monster dua puluh hari lalu.
Konoe pun mengerti. Bagi kota ini, Bunga Suci bukan
sekadar komoditas industri, melainkan memiliki makna yang jauh lebih penting.
……Karena itu.
"Tentu saja kami akan memberikan imbalan semampu
kami! Jadi──"
"──Tidak perlu."
Konoe memalingkan muka dari Komandan Ksatria yang
menunduk pasrah, lalu berjalan melewatinya.
"……Lakukan saja sesuka kalian."
"Eh?"
Sejak awal, membasmi monster adalah tugas Konoe.
Jumlah ksatria tidak berpengaruh dalam menjalankan tugas
itu. Lakukan saja apa yang menurut kalian benar. Konoe mengatakan itu pada
Komandan Ksatria──.
◆
"Begitu ya."
"……Ya."
──Begitulah ia menceritakan kronologinya.
Mendengar itu, Telnerica menunduk dengan senyum yang
tampak menertawakan dirinya sendiri.
Lalu ia bergumam pelan, "Aku bahkan tidak menyadari
kemungkinan itu."
……Keheningan pun menyelimuti mereka sejenak.
"Warga kota juga memintaku. Mereka ingin aku ikut
dalam pencarian. Aku memiliki berkah dari Dewa Hutan. Itu akan berguna dalam
mencari benih."
"……Begitu ya."
Konoe mengerti. Berkah Dewa Hutan seharusnya memiliki
pengaruh pada segala jenis tumbuhan.
Jika begitu, memang lebih baik Telnerica ikut
bergabung…….
"……Hm? Berkah Dewa Hutan?"
"Eh, iya, benar begitu……"
"……Bukannya Dewa Perbatasan?"
"……!"
Konoe merasa heran. Hal itu bertentangan dengan apa yang
pernah ia dengar dari pelayan sebelumnya.
Penguasa Silmenia memegang tugas untuk menggunakan
penghalang khusus──Penghalang Penutup.
Jika demikian, berkah yang diterima keluarga itu
seharusnya berkaitan dengan Perbatasan, bukan Hutan.
Sebab penghalang itulah yang membatasi antara sisi dalam
dan luar Labirin.
Karena merasa aneh, Konoe pun bertanya…… namun.
"……E-eh…… Anda tahu…… soal tugas keluarga
Silmenia?"
"……Ya,
dengar dari pelayan."
Entah
kenapa wajah Telnerica tampak syok.
Matanya
membelalak menatap Konoe. ……Namun segera setelah itu tatapannya tampak goyah
dan ia menunduk.
Konoe bingung melihat reaksi Telnerica.
Ia berpikir apakah ia baru saja menanyakan hal yang
tabu, namun kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali.
"Itu, anu. Soalnya…… saya bukan anak sulung…… dan
kelak akan meninggalkan rumah ini…… makanya berkah yang didapat berbeda……"
Telnerica
bergumam terbata-bata. Seolah sedang mencari alasan dengan panik.
Konoe melihat tingkah itu sambil mengerjapkan mata……
namun setelah beberapa detik, gerakan Telnerica tiba-tiba terhenti.
Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke
arah Konoe.
"Tidak, tidak, mohon maaf. Semua yang baru saja
saya katakan adalah bohong."
"……"
"Saya tidak ingin berbohong kepada Konoe-sama.
……Namun, saya juga tidak bisa menyampaikan kebenarannya.
Saya tidak sanggup melakukan tindakan tak tahu malu dan tak tahu balas budi
semacam itu."
"……Apa?"
Telnerica menatap Konoe dengan mata yang begitu tulus.
Ia menggigit bibir, namun tak sekalipun ia memalingkan
wajahnya.
"Oleh karena itu, jika diperkenankan, tolong jangan
tanyakan hal ini."
"………………Baiklah."
Konoe tidak punya pilihan lain selain mengangguk.
Ia tidak terlalu mengerti arti kata-katanya.
Meski begitu, ia tidak sanggup mencecar Telnerica yang
menatapnya dengan pandangan penuh tekad tersebut.
Melihat Konoe mengangguk, ekspresi Telnerica tampak
lega.
"……"
"……"
Keheningan yang canggung mengalir di antara mereka.
Setelah beberapa saat berlalu.
"Setelah ini, saya akan bergabung dalam
pencarian benih. ……Oleh karena itu, saya tidak bisa berada di sisi
Konoe-sama."
"……Begitu ya."
……Ah, benar juga, pikir Konoe.
Ikut dalam pencarian berarti Telnerica akan berpisah
dari Konoe.
Hal itu wajar, sehingga Konoe menerimanya tanpa
masalah sedikit pun.
Bahkan ia justru lebih memikirkan percakapan sebelumnya.
Apa maksudnya tindakan tak tahu balas budi itu.
"……Kalau begitu."
"……Ya."
Telnerica berdiri. Gadis itu kemudian melangkah menuju
tangga menara.
"……Konoe-sama."
"……Hm?"
Tepat sebelum pergi, Telnerica berbalik sekali lagi dan
memanggil nama Konoe.
"……Tidak, lupakan saja."
"……"
Namun, Telnerica tidak mengatakan apa-apa dan menuruni
tangga.
Senyumannya saat pergi terasa berbeda dari biasanya,
tampak sedikit kesepian…… Konoe kembali mengerjapkan matanya beberapa kali.
ï¼”
(……Tapi, aku masih tidak mengerti.)
"──Saya juga tidak bisa menyampaikan kebenarannya.
Saya tidak sanggup melakukan tindakan tak tahu malu dan tak tahu balas budi
semacam itu."
Konoe merenung sambil teringat kata-kata Telnerica.
Ia berdiri di pinggir menara pengawas, menatap hutan dan
kota di bawahnya.
Ia melemparkan pisau ke arah hutan, sambil mengarahkan
pandangan penuh tanya ke arah kota.
Waktu itu, Konoe hanya bertanya soal berkah Telnerica.
Mengapa hal itu bisa dianggap tindakan tak tahu balas
budi? Situasi macam apa yang membuat penjelasan pun tidak
diperbolehkan?
"……"
Meski tidak mengerti, ia sudah diminta Telnerica untuk
tidak bertanya.
Oleh karena itu, Konoe hanya bisa melihat dari atas
menara saat sekelompok orang yang dipimpin gadis berambut pirang itu bergerak
menuju ladang yang layu.
◆
Pencarian benih pun segera dimulai.
Telnerica meninggalkan sisi Konoe dan memimpin para
warga.
Sementara itu, Konoe tetap tinggal sendirian di atas
menara pengawas.
Sambil sedikit memikirkan masalah sebelumnya, ia
terus menghujamkan pisau ke arah hutan. Sesekali ia melihat dari kejauhan sosok
orang-orang yang berkumpul di sekitar ladang dan menggali tanah.
Rasanya sudah lama semenjak Telnerica tidak ada di
sisinya, dan ia merasakan sedikit keganjilan.
Terasa sepi, dan suara angin entah kenapa terdengar lebih
kencang.
……Tapi yah, mengingat selama sepuluh hari terakhir mereka
hampir selalu bersama 24 jam, wajar saja jika rasanya aneh saat tiba-tiba dia
pergi, pikirnya.
Jika ditanya apakah ada masalah, jawabannya tidak ada.
Hanya saja, suasananya begitu sepi.
Wajar saja. Konoe bukan anak kecil.
Di tengah kesibukannya, ia meminum teh yang sudah
disiapkan Telnerica sendirian, lalu memburu monster sedikit lebih banyak dari
biasanya.
"Aku baru saja kembali."
"……Ya."
──Saat matahari terbenam, Telnerica pulang.
Sosoknya kotor oleh tanah di sana-sini, namun ekspresinya
tetap menunjukkan senyum seperti biasa──tapi, ada kelelahan yang terpancar dari
gerakannya. Langkah kakinya terasa berat, dan meski hanya sedikit, ia tampak
terhuyung.
……Wajar saja, pikir Konoe.
Meski ia hanya melihat dari kejauhan, pekerjaan mencari
benih hampir seluruhnya dilakukan secara manual.
Mereka tidak menggunakan sihir──bahkan sihir tanah maupun
sihir penguat tubuh pun tidak digunakan, kecuali oleh segelintir orang termasuk
Telnerica. Konoe merasa heran apa tujuannya.
"Benih Bunga Suci sangat sensitif. Sedikit saja
aliran mana bisa melukainya. Pengecualian hanya berlaku bagi mereka yang
menerima berkah Dewa Hutan…… bagi orang lain, demi keamanan mutlak, sihir
dilarang digunakan. Begitu juga alat sihir."
"……Begitu rupanya."
Saat ditanya, jawaban itu kembali dengan tawa pahit.
Segala makhluk hidup di dunia ini termasuk tanaman
memiliki mana yang unik.
Dan mana yang terpisah dari pemilik aslinya terkadang
bisa menjadi racun hanya dengan bersentuhan. Begitulah hukumnya.
Konoe berpikir bahwa itu memang hal yang tidak bisa
dihindari.
──Namun, itu tetap saja tugas yang sangat berat.
Tidak, menggali seluruh ladang yang tersebar di kota
dengan tangan kosong sepertinya benar-benar tidak realistis, bukan?
"Tetap saja, kami harus melakukannya. Karena hanya
itu satu-satunya cara. ……Satu-satunya penyelamat adalah tanaman ini tidak
memiliki akar yang terlalu dalam," ujar Telnerica sambil tersenyum.
Lalu, ia berdehem ringan dan membenarkan posturnya,
"Nah, meskipun di siang hari saya tidak bisa melakukan apa pun untuk
Konoe-sama, jika ada yang Anda butuhkan, silakan katakan."
Konoe menggelengkan kepalanya, menyuruhnya kembali ke
kamar dan beristirahat.
Ia merapalkan sihir penyembuh dan pembersih ringan pada
gadis itu, lalu mengantarnya sampai ke depan kamar.
"……Fuu."
Setelah menghela napas pelan, Konoe mendeteksi hawa di
sekitar kota.
Memastikan tidak ada masalah, ia pun segera masuk ke
dalam tempat tidur.
……Entah kenapa, hari ini terasa sangat sepi, pikirnya
untuk yang kesekian kali.
◆
──Keesokan harinya.
Pencarian di ladang terus berlanjut. Sejak pagi,
Telnerica sudah pergi ke ladang.
Pekerjaannya tetap sama seperti kemarin, hampir
seluruhnya mengandalkan tenaga manusia, sehingga progresnya sangat lambat.
Namun, meski begitu, semua orang bekerja dengan
gigih.
Gali satu titik, periksa. Gali satu titik lagi, periksa.
Mencari benih, dan saat benih akhirnya ditemukan ternyata
sudah mati, namun mereka tidak menyerah dan lanjut ke titik berikutnya.
Mencari lokasi yang sekiranya berpotensi, berkeliling
kota, lalu menggali lagi.
Warga terus melakukan itu tanpa henti.
Meski sudah berkali-kali menggali, yang muncul hanyalah
benih yang membusuk.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Jangankan
benih Bunga Suci, bahkan benih rumput liar pun membusuk.
"……"
Konoe menyaksikan pemandangan itu dari atas menara
pengawas.
Ia melihat mereka bergerak sebagai satu kesatuan dengan
gadis berambut pirang sebagai pusatnya.
Meski lambat, mereka bergerak maju satu per satu dengan
pasti.
Ia melihat sosok mereka yang tidak menyerah dan terus
melangkah ke depan.
"……?"
Tak lama kemudian, Konoe menyadari sesuatu.
Jumlah orang di ladang semakin bertambah.
Saat ia memastikan di waktu senja, ia merasa jumlahnya
sudah dua kali lipat dibanding siang tadi.
Ia bertanya-tanya dari mana mereka semua berasal.
……Tepat saat itu. Terdengar suara teriakan seorang pria
yang sedang bekerja di kota.
Suara lantang yang meneriakkan bahwa pekerjaannya telah
selesai.
Konoe mengalihkan pandangannya ke arah pria itu.
Pria
itu berseru bahwa tugas hari ini sudah berakhir, sisanya besok.
Terakhir, pria itu memastikan kembali tempat kerjanya,
menyapa pria lain yang bekerja di dekatnya──.
──Lalu, ia berlari menuju ladang.
Bukan pulang ke rumah atau tempat peristirahatan, ia
berlari menuju ladang yang layu.
Ia berbaur dengan kelompok pencari dan mulai bekerja
dengan cara yang sama.
Ada banyak orang yang melakukan hal serupa.
Bukannya berkurang saat matahari terbenam,
orang-orang justru semakin bertambah, membuat pekerjaan berjalan semakin cepat.
Pada akhirnya, hampir semua orang kecuali mereka yang
bertugas memperbaiki menara penghalang pergi menuju ladang, saling bekerja sama
melakukan pencarian.
"──"
──Konoe melihat penduduk kota itu dari kejauhan.
Dari atas menara pengawas yang sunyi, ia terus
memperhatikan mereka.
Ia melihat mereka bersatu, melihat anak-anak yang juga
ikut berbaur sambil tertawa bersama.
Ia menyipitkan mata melihat pemandangan yang tampak
menyenangkan itu, dan matanya tertuju pada kilauan warna emas di tengah
kerumunan.
Di atas menara pengawas yang hanya menyisakan suara
angin, Konoe menatap mereka sambil tetap menjalankan tugasnya dengan serius……
"……"
……Beberapa saat kemudian, Konoe mengalihkan pandangannya
dari mereka.
Lalu, ia berbalik untuk beristirahat sejenak.
Di tengah menara pengawas terdapat sebuah kursi, dan di
atasnya terletak keranjang berisi teh dan camilan yang disiapkan Telnerica.
Konoe melangkah ringan menuju kursi, lalu mengeluarkan
isi dari keranjang.
Ia menuangkan teh ke cangkir, lalu menyantapnya bersama
roti lapis telur yang ada di dalamnya.
Sambil makan sendirian di atas menara pengawas, ia
kembali menyipitkan mata melihat keramaian kota, lalu mengarahkan pandangannya
pada seorang gadis──.
"──?"
──Tapi, itu terjadi setelah waktu berlalu beberapa saat.
Tiba-tiba, Konoe menoleh ke samping. Sudah
sekitar satu hari sejak Telnerica pergi menjauh.
Ia menatap sisi sebelahnya di kursi yang sedikit lebar
itu.
"……"
Tidak ada siapa-siapa di sana. Kosong.
Itu wajar saja. Karena saat ini Telnerica sedang berjuang
bersama semua orang di kota.
Jadi, tidak mungkin dia ada di sini. Hanya itu saja.
"……? ………………?"
……Lho? Hanya itu saja, tapi kenapa ya.
Entah kenapa, entah bagaimana, Konoe teringat sesuatu.
Kejadian tepat kemarin pagi. Saat Telnerica masih ada,
kursi ini terasa jauh lebih sempit.
Jarak dengannya begitu dekat, sampai-sampai sulit untuk
duduk tanpa bersentuhan.
Jarak yang membuat suhu tubuh pun tersalurkan. Gadis itu
tersenyum tepat di sisinya.
"…………………………"
──Tanpa mengerti alasannya, Konoe menatap ke arah ladang.
Di tengah-tengah kerumunan, ada Telnerica. Ia dikelilingi banyak orang, berjuang dan tertawa bersama.
Orang-orang di sekitarnya tampak senang, dan
Telnerica pun terlihat senang. Itu adalah hal yang sangat bagus.
……Tapi, menara pengawas ini terasa begitu sunyi sejak
kemarin sore, dan sedikit terasa dingin.
"…………………………………?"
──Aku tidak mengerti. Konoe sama sekali tidak paham.
……Namun, di sanalah untuk pertama kalinya, Konoe
merasakan sebuah emosi asing muncul di dalam dirinya.
5
"Konoe-sama, ini teh dan camilan untuk hari
ini."
"……Ya."
Keesokan harinya, sejak pagi buta Telnerica sudah pergi
ke kota.
Setelah menyerahkan keranjang berisi makanan dan minuman
pada Konoe dan membungkuk sekali, ia berbalik untuk keluar dari ruangan……
"──"
……Konoe hampir saja memanggil gadis itu tanpa sadar.
Namun, ia terdiam. Ia menurunkan tangannya yang sempat
terangkat sedikit tanpa ia sadari.
"──?"
Apa yang ingin ia katakan pada Telnerica? Ia sendiri
tidak tahu. Apakah ia ingin memperingatkannya agar tidak terluka, ataukah ingin
memberinya semangat.
"……Ada apa denganku?"
Karena tidak paham, Konoe menghela napas pendek sambil
menggaruk kepalanya.
……Ia merasa ingin mencari suasana baru di saat seperti
ini, lalu mencari sesuatu yang bisa ia lakukan.
Lalu ia menemukan sebuah katalog di atas meja. Katalog rumah yang dikirimkan oleh sang instruktur.
Bagi Konoe, buku ini adalah untuk memilih rumah
tempat ia akan membangun harem dalam waktu dekat, dan bisa dibilang sebagai
hasil jerih payahnya selama dua puluh lima tahun.
Membeli rumah, membeli budak, lalu mencekoki mereka
dengan ramuan cinta. Ini adalah langkah pertamanya.
"……Rumah."
Konoe membuka katalog tersebut. Di sana tercantum
berbagai jenis rumah.
Rumah yang luas, rumah yang praktis, hingga rumah
yang memiliki tingkat kebebasan tinggi.
Denah bangunan, beserta kalimat promosi. Bagian mana
yang menarik, atau bagian mana yang dibangun dengan penuh pertimbangan. Hal-hal
seperti itu tertulis di sana.
Denah yang digambar dengan standar dunia lain dan
penuh istilah teknis.
Bagi Konoe yang berasal dari Bumi, itu sulit dibaca……
tapi, alasan kenapa Konoe sekarang bisa sedikit membacanya adalah karena
beberapa hari lalu, ia melihat katalog ini berdua dengan Telnerica dan diajari
banyak hal olehnya.
'──Konoe-sama, rumah seperti apa yang Anda sukai?'
"……"
Konoe membalik halaman katalog satu per satu.
Sambil melihat rumah-rumah di sana, ia pun memikirkan
soal haremnya.
"……"
Tapi hanya dalam beberapa menit, Konoe menutup katalog
itu. Sama sekali tidak menyenangkan. Ia malah merasa malas untuk melihatnya.
Padahal impiannya sudah ada di depan mata. Hari di mana
usahanya membuahkan hasil akhirnya telah tiba.
……Konoe tidak mengerti. Sambil tetap bingung, ia
terus menjalankan pekerjaannya dengan serius.
◆
Hari berikutnya lagi.
Ia merasa kurang bersemangat, namun konsep
"bolos" tidak ada dalam kamus Konoe.
Hari itu pun ia terus melemparkan pisau dan tombak ke
arah hutan, terus membasmi monster.
Sambil sesekali mencari sosok gadis berambut pirang di
antara orang-orang yang berkumpul di ladang, ia terus bekerja dengan serius.
"…………………………"
Lalu, ia kembali ke kamar saat matahari terbenam.
Ia menerima laporan dari Telnerica yang tampak lelah
bahwa hari ini pun benihnya tidak ditemukan.
Benih hampir tidak ditemukan sama sekali, dan benih yang
akhirnya ditemukan pun semuanya sudah busuk karena miasma.
Pencarian benih masih mengalami kebuntuan──tapi, hari ini
ada berita bagus juga.
"……Menara penghalangnya?"
"Iya, sepertinya perbaikannya sudah selesai!
Penghalangnya pun akan segera aktif!"
Itu adalah kabar bahwa pengerjaan menara akhirnya telah
berakhir.
Tanpa ada masalah berarti, uji coba pengoperasiannya pun
sukses.
Karena pengaktifan penghalang membutuhkan pengisian
kekuatan Dewa, hal itu tidak bisa dilakukan secara instan.
Namun, Telnerica berkata dengan riang bahwa dalam dua
hari ke depan, penghalangnya akan kembali seperti semula.
"……"
Mendengar berita itu, Konoe teringat akan kontraknya
sendiri.
Kontrak selama tiga puluh hari, dan hari ini adalah
hari kedua puluh delapan. Tersisa dua hari lagi.
"……Jadi sudah sempat ya."
"Iya! Dengan ini, Konoe-sama tidak perlu
terbebani lagi!"
"……"
Beban. Maksud dari "beban" menurut
Telnerica adalah, intinya jika penghalang tidak bisa aktif, Konoe harus
memperpanjang masa tinggalnya di kota ini.
Tentu saja. Jika Konoe pergi dari kota tanpa adanya
penghalang, kota ini bisa hancur seketika jika ada satu saja monster kelas atas
yang muncul. Tidak mungkin ia bisa pulang ke Ibu Kota jika ia tahu hal itu akan
terjadi.
……Tapi, hari ini kekhawatiran itu sudah hilang.
Nasib penghalangnya sudah jelas, dan Konoe akan
menyelesaikan tugasnya dalam tiga puluh hari.
Jika sudah begitu, ia tinggal pulang ke Ibu Kota.
Menerima koin emas, lalu membangun harem dengan ramuan.
Akhirnya, impiannya akan terwujud. Seharusnya itu adalah
hal yang sangat menggembirakan.
"………………………………"
"……? Konoe-sama……"
Saat Konoe sedang berpikir begitu, Telnerica
membelalakkan matanya dan mengerjap beberapa kali.
Lalu dia melangkah mendekat satu atau dua langkah.
"……Kau, pasti lelah kan?"
"Tapi, itu……"
Konoe menghentikan Telnerica. Terlihat kelelahan yang
luar biasa dari gerakannya.
Oleh karena itu, ia memotong perkataan Telnerica yang
terus mencoba membela diri, lalu mengantarnya paksa ke kamar sebelah agar ia
bisa beristirahat.
Setelah itu, Konoe berbaring di tempat tidur dan
memejamkan mata.
"……"
Hari ini pun, rasa sesak di dadanya tidak kunjung
hilang sepanjang hari.
◆
Fajar menyingsing. Tinggal dua hari lagi sebelum
Konoe pulang.
Hari itu, suasana kota sudah dipenuhi semangat sejak
pagi.
Itu karena informasi bahwa perbaikan menara penghalang
telah selesai sudah tersebar luas.
Penduduk kota bisa bernapas lega, dan sejak pagi buta
suasananya sudah seperti perayaan festival kecil-kecilan.
Dan, kota pun semakin gencar melakukan pencarian benih
Bunga Suci.
Semua orang melakukan pekerjaan mereka masing-masing,
namun saat ada waktu luang, mereka akan segera pergi ke ladang. Semuanya
mencari benih kecil yang ukurannya bahkan tidak sampai satu sentimeter.
"……"
Di tengah keramaian itu, Konoe tetap seperti biasa,
berdiri sendirian di atas menara pengawas.
Sambil bekerja, ia melihat sosok warna emas di antara
kerumunan orang.
Telnerica. Putri penguasa kota ini.
Terkadang ia memberi komando, terkadang ia membawa alat
tani dan ikut bekerja.
Tubuhnya jauh lebih kecil dibanding orang dewasa di
sekitarnya, namun ia bekerja jauh lebih keras.
Itu karena adanya berkah dari Dewa Hutan.
Ia yang bisa menggunakan sihir penguat tubuh dapat
mengangkat sendirian barang yang harus diangkat oleh beberapa pria dewasa.
Telnerica berada di tengah-tengah orang banyak.
Memimpin mereka, dan terus bergerak maju.
Dia benar-benar sosok yang sangat dibutuhkan dalam
pencarian ini.
Tempat di mana dia berada jelas memiliki efisiensi
yang berbeda. Semangat yang berbeda.
Jadi, wajar dan paling benar jika dia berada di sana.
Sosok mereka semua yang bekerja bahu-membahu terlihat menyilaukan bagi Konoe.
"……"
……Tapi, teh yang ia minum saat istirahat terasa sedikit
hambar.
◆
Lalu tibalah hari berikutnya.
Tinggal satu hari lagi sebelum Konoe pulang.
Hari itu pun, setelah mengunjungi kamar Konoe di pagi
hari, Telnerica segera turun ke kota.
Di sisi Konoe terdapat keranjang berisi teh dan camilan
seperti biasa. Saat dilihat ke dalamnya, ada roti lapis telur untuk yang
kesekian kalinya.
"……"
Konoe naik ke menara pengawas dan melihat ke arah kota.
Di bawah sana, tampak sosok Telnerica dan penduduk kota
yang tidak berubah seperti beberapa hari terakhir.
Mereka berusaha dengan sekuat tenaga. Mereka tidak
menyerah sekecil apa pun kemungkinannya.
Pasti ada rasa lelah. Pasti berkali-kali mereka berpikir
apakah ini sia-sia.
Namun mereka melakukan apa yang mereka bisa satu per
satu. Mereka tidak pernah menghentikan langkah mereka.
──Oleh karena itu, mungkin ini bukanlah keajaiban,
melainkan sekadar hasil dari jerih payah.
"……Ada!"
Itu terjadi di waktu senja saat matahari mulai terbenam.
Di sudut kota, di sebuah tempat yang dulunya adalah ladang kecil milik pribadi.
Dari sana, suara gemetar seorang pria menggema ke seluruh
penjuru kota.
ï¼–
──Alasan mengapa benih itu bisa bertahan hidup adalah
karena kebetulan saat itu sedang dilakukan pembersihan saluran air di lokasi
tersebut.
Pada hari saat luapan monster dimulai.
Di samping ladang itu, sebuah saluran air kecil ditutup
sementara untuk dibersihkan.
Namun saat luapan terjadi, orang yang sedang
membersihkannya panik dan melarikan diri tanpa melepas papan penyumbat air.
Akibatnya, air meluap dari saluran dan merendam
ladang di sampingnya.
Bunga Suci yang mekar di atas tanah layu karena
miasma.
Namun akarnya menciptakan benih──dan benih yang
tercipta terlindung dari miasma oleh tanah dan air, dua elemen tersebut.
Sebuah kebetulan yang menyerupai keajaiban, hasil
dari tumpukan kesalahan dan keberuntungan.
Serta hasil dari jerih payah orang-orang yang terus
percaya dan melakukan pencarian.
──Hari keenam pencarian. Dari dalam tanah ladang yang
sudah menjadi lumpur, ditemukan satu butir benih.
◆
"……"
Konoe berdiri di tepi menara sambil menatap ke arah
kota.
Di kejauhan yang terjangkau oleh pandangan yang
diperkuat mana, terlihat orang-orang yang bersorak kegirangan, dengan Telnerica
berada di tengah-tengah mereka.
Di tengah kerumunan penduduk kota, Telnerica
menangkupkan kedua tangan di tengah ladang dan berlutut.
Beberapa orang di sekitarnya juga melakukan posisi yang
sama.
"……Berdoa pada Dewa Hutan."
Suara Telnerica terdengar dari kejauhan.
Kemudian, cahaya hijau meluap dari permukaan tanah.
Cahaya itu berkumpul pada satu butir benih yang
diletakkan di tanah, lalu memancarkan sinar yang kuat. Mewarnai langit senja
yang sudah gelap dengan warna hutan.
"──"
Di depan mata Konoe, perubahan pun mulai terjadi.
Tunas muncul dari benih yang sangat kecil, dan akar mulai
tumbuh memanjang.
Dalam sekejap batangnya tumbuh tinggi, menebal, dan di
ujungnya muncul sebuah kuncup.
Lalu, kuncup itu terbuka──.
──Mekarlah bunga yang sangat besar. Kelopaknya menyerupai
bunga krisan.
Satu tangkai bunga yang bersinar putih bak bulan di
langit malam telah mekar.
"“““““────!!”””””"
Sorakan bergema di langit malam.
Para penduduk kota saling bersukacita dan berpelukan.
Di tengah-tengah kerumunan itu, bunga tersebut layu
dengan cepat seperti saat ia mekar tadi.
Bunganya berubah kecokelatan, dan pangkal kelopaknya
membengkak.
Sebuah buah terbentuk, dan buah itu pun ikut
mengering.
"……"
Telnerica menadahkan tangannya di bawah buah
tersebut. Buah itu pecah, dan beberapa benda kecil terlontar keluar dari
dalamnya.
──Itu adalah puluhan butir benih.
Telnerica memindahkan benih-benih itu ke dalam
kantong dengan hati-hati.
Di saat yang sama, cahaya hijau di sekitar bunga pun
mulai meredup perlahan.
"……"
Konoe menyaksikan suasana kota itu sendirian dari
kejauhan──.
"……?"
──Tepat pada saat itu. Cahaya baru menyelimuti kota.
Sesaat sebelum cahaya bunga menghilang.
Kali ini bukan cahaya hijau, melainkan cahaya biru
yang membungkus kota.
Konoe terkejut──namun itu bukan firasat buruk.
Maka ia tetap tenang dan mengedarkan pandangan untuk
memastikan sumber cahaya tersebut.
"……Menara Penghalang?"
Menara Penghalang yang ada di pusat kota. Cahaya dan
kekuatan dewa meluap dari sana. Ini artinya.
"……Ah, penghalangnya sudah kembali ya."
Cahaya biru menyebar luas di langit malam. Warna sang
Dewa Perbatasan.
Cahaya itu membentuk pola di langit, lalu menyelimuti
seluruh kota.
"““““““────!!!!!”””””"
Sorakan yang jauh lebih kencang dari sebelumnya
membahana di seluruh kota. Pasti karena hal baik terjadi secara berturut-turut.
Sambil mendengarkan suara itu, Konoe mendeteksi musuh
di sekitarnya untuk memastikan keamanan terakhir.
"……"
……Tidak ada masalah. Tidak ada musuh, dan kota sudah
diselimuti penghalang.
Konoe mengembuskan napas pendek. Itulah momen saat
tugas Konoe di kota ini berakhir.
◆
Setelah itu, waktu berlalu cukup lama. Selama itu,
Konoe terus berada di atas menara pengawas.
Kota sedang berpesta pora, bahkan tanpa memperkuat
pendengaran dengan mana pun, sorakan mereka terdengar sampai ke kastil.
Penghalangnya diperbaiki hari ini.
Bunga Suci pun ditemukan. Makanya semua orang tertawa.
Tentu saja hal lainnya masih dalam proses. Tidak ada yang
tahu butuh berapa lama untuk pemulihan total.
Namun, khusus hari ini semua orang bersenang-senang
dengan sekuat tenaga.
"……"
Konoe duduk di kursi menara pengawas yang jauh dari
keriuhan kota itu.
Kursi yang terlalu lebar untuk diduduki sendirian.
Ia duduk dengan tenang di sana, meminum teh yang
sudah benar-benar dingin. Itu adalah sisa teh yang diberikan Telnerica tadi
pagi.
"……"
Konoe mengembuskan napas pendek.
Ia merasa sedikit kedinginan, namun ia tidak berniat
kembali ke kamar.
Untuk kembali sendirian, terlalu banyak emosi yang
berkecamuk di dalam dadanya.
Konoe tidak tahu emosi macam apa itu. Itu adalah emosi yang tidak ia
kenal.
Untuk
bisa mengungkapkan emosi tersebut, Konoe sudah terlalu terbiasa hidup
sendirian.
Karena
selalu sendiri, saat orang lain mulai berbaur, ia menjadi tidak paham bahkan
dengan emosinya sendiri.
……Aku
tidak tahu. Konoe sama sekali tidak paham.
Ia
bahkan tidak tahu kenapa wajah Telnerica muncul saat ia memejamkan mata.
Padahal
ia tidak paham, namun kehidupan di kota ini akan segera berakhir.
Jika
begitu, Konoe akan kembali ke kehidupannya yang semula……
"…………"
……Pandangan
Konoe tertunduk secara alami. Ia melihat ke arah kakinya.
Di sana ada lantai batu menara pengawas.
Tempat di mana hanya ada dirinya sendiri.
Tempat di mana tidak ada orang lain.
Di tempat seperti itu, Konoe sendirian……
"………………?"
……Namun tiba-tiba, Konoe menyadari sesuatu.
Terdengar suara dari arah kaki.
Suara langkah kaki. Ringan, seperti langkah seorang
gadis.
"……!"
"──Konoe-sama!"
Terdengar sebuah suara. Seorang gadis menampakkan
wajahnya dari tangga.
Gadis berambut pirang. Gadis berseragam pelayan yang
sedang terengah-engah, datang bersama suara yang selalu ada di sisinya selama
tiga puluh hari ini.
"Maafkan saya. Saya terlambat."
"……"
Pipi Telnerica merona merah.
Di lehernya, helaian rambut menempel karena keringat.
Suhu di sekitar sudah terasa sedikit dingin setelah
matahari terbenam.
……Melihat penampilannya, ia pasti berlari sampai ke sini.
"Konoe-sama, bolehkah saya duduk di sebelah
Anda?"
"……Ya."
"Terima kasih."
Telnerica duduk di ruang kosong di sebelah Konoe.
Tempat yang memang sudah kosong sejak awal. Kursi
yang sempit untuk diduduki berdua.
Namun entah kenapa, Konoe duduk dengan menyisakan
ruang kosong di sana.
──Di samping Konoe, ada Telnerica.
"……"
Lalu
tubuh Telnerica condong ke arah Konoe.
Seperti saat pertama kali mereka bersandar di atas menara
pengawas dulu.
──Ton. Bahu dan kepala Telnerica bersentuhan
dengan Konoe.
──Beberapa saat kemudian, suhu tubuhnya mulai
tersalurkan.
"……"
"……"
Ada keheningan sejenak. Konoe tentu saja diam, dan
Telnerica pun tidak membuka mulutnya.
Padahal seharusnya ada banyak topik pembicaraan seperti
soal Bunga Suci maupun penghalang.
Namun Telnerica tetap bungkam, bersandar dengan
tenang di sisi Konoe.
Hanya ada suhu tubuh. Tanpa kata-kata, hanya bagian yang
sedikit bersentuhan itu terasa hangat, hanya itu saja.
"……"
Namun, hal itu. Suhu itu.
Kehangatan seseorang yang sudah sangat, sangat lama tidak
pernah ia ketahui keberadaannya ada di sana.
Konoe merasa matanya sedikit memanas.
Konoe merasa seolah suhu tubuh Telnerica menyentuh hingga
ke relung hatinya yang paling dalam.
"………………"
"………………"
Lampu kota dan keriuhan terasa jauh, yang ada hanyalah
cahaya bulan dan suara helaan napas.
Di atas menara pengawas yang sempit itu, hanya ada mereka
berdua. Benar-benar hanya berdua.
Angin berembus sesekali, terasa dingin.
Namun, justru karena itulah Konoe merasa bisa merasakan
siluet dari bagian tubuh yang bersentuhan dengan jelas.
"…………Ah."
Tepat saat itu, angin berembus jauh lebih kencang dari
sebelumnya.
Angin itu tidak hanya membawa suhu dingin tetapi juga
helaian rambut Telnerica, membuat rambut yang terurai itu melambung ringan di
bawah langit malam.
"──"
──Sebuah kilauan sesaat, terpantul oleh cahaya biru pucat
dari bulan dan bintang.
Kilauan itu begitu indah hingga membuat mata tanpa sadar
menyipit. Warna emas yang begitu cantik, sampai-sampai ia ingin terus, terus
menatapnya──.
◆
──Lalu, entah berapa lama waktu telah berlalu.
Telnerica-lah
yang memecah keheningan.
"………………Konoe-sama."
"…………Ya."
"Aku harus mengucapkan 'maaf' kepada
Konoe-sama."
……? Maaf?
Konoe bertanya-tanya dalam hati, mengapa Telnerica harus
meminta maaf.
"Aku sedikit memahami Anda. Aku tahu Anda orang yang
seperti apa."
"……Kamu, memahamiku?"
"Iya, meskipun hanya sedikit."
Karena selama hampir tiga puluh hari ini, aku hanya
memperhatikanmu saja, lanjutnya.
Telnerica berbisik kepada Konoe. Suaranya terdengar
begitu lembut.
Jaraknya begitu dekat hingga helaan napasnya seolah
menyentuh telinga.
……Lalu, karena itulah, katanya.
"Karena itulah, Konoe-sama──sebenarnya ada banyak
hal yang ingin kusampaikan padamu."
"……"
"Masih banyak hal yang ingin kulakukan. ……Aku ingin
berada di sisimu lebih lama lagi."
Sampai di situ, Telnerica mengembuskan napas kecil.
"Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku
terlahir di keluarga Silmenia. Karena aku lahir dan dibesarkan sebagai
bangsawan. Aku harus melindungi kota ini. Itulah tugas yang dititipkan oleh
ayah, ibu, dan kakakku."
"……Bunga Suci."
"Iya, aku harus melindungi Bunga Suci. Aku harus
berdiri di barisan paling depan rakyatku. ……Hasilnya, semuanya jadi tanggung,
ya."
Di sana, untuk pertama kalinya Konoe menoleh ke arah
Telnerica. Telnerica menatap Konoe dengan wajah kesepian dan mata yang
berkaca-kaca.
Konoe sampai menahan napas melihat Telnerica yang seperti
itu.
"Karena itu, aku minta maaf."
"……"
"Anda telah menyelamatkanku. Hari itu, Anda
menemukanku yang hendak mati tanpa bisa melakukan apa pun, lalu mengangkatku.
Anda telah melindungi kota ini, melindungi hal yang sangat berharga
bagiku."
Aku berterima kasih padamu, katanya. Aku belum pernah
merasakan sesuatu yang sehangat itu sebelumnya, lanjutnya.
Telnerica menyandarkan pipinya dengan lembut ke
lengan Konoe.
"……Tapi."
──Padahal begitu, tapi aku tidak bisa melakukan apa pun
untukmu, katanya.
Telnerica mengucapkannya dengan suara sedih yang penuh
penyesalan.
Mendengar kata-kata itu, Konoe ingin segera
menyangkalnya.
Bukan begitu. Seharusnya bukan begitu. Konoe
pasti ingin mengatakan sesuatu kepada Telnerica.
"……Maafkan aku."
"……"
──Namun, kepada Telnerica yang meminta maaf, Konoe tidak
bisa menyampaikan kata-kata itu.
Konoe tidak bisa menyampaikan perasaannya kepada orang
lain.
Karena begitulah cara dia menjalani hidup selama ini.
Konoe tidak bisa melakukan apa pun.
Meskipun ia bisa membunuh monster, bisa menyembuhkan
penyakit mematikan, menjadi kuat, atau menjadi Adept sekalipun.
Konoe bahkan tidak bisa mengucapkan perasaannya sendiri.
Konoe tetaplah orang yang gagap sosial, selamanya.
"……Jadi, setidaknya."
"……"
"Aku pasti akan menepati janji awal kita."
Selagi Konoe terdiam tanpa bisa berkata-kata, tiba-tiba
Telnerica berdiri.
Ia beranjak dari kursi dan melangkah satu-dua langkah.
Lalu, ia berbalik dan tersenyum dengan wajah yang begitu
lembut.
"──?"
──Entah kenapa, Konoe merasakan sesuatu yang ganjil.
Dari suasana itu, dan dari kata-kata "janji
awal", muncul sebuah firasat samar yang tidak masuk akal.
Seolah-olah ada sesuatu yang sangat penting yang keliru.
Ia tidak mengerti maksud dari kata "janji" itu,
tapi ia memiliki firasat yang sangat buruk…… Namun Konoe tidak tahu harus
berkata apa.
"……Telnerica?"
"Iya."
Senyuman membalas kata-kata yang akhirnya berhasil ia
paksakan keluar.
Telnerica tersenyum nakal seolah sedang menjahilinya.
"Konoe-sama, apakah Anda sudah memutuskan rumah mana
yang akan dibeli?"
"……T-tidak."
"……Begitu ya. Belilah rumah yang bagus, ya?"
Tepat setelah Telnerica melontarkan topik pembicaraan
yang tiba-tiba itu, ia berkata, "Kalau begitu," lalu membetulkan
postur tubuhnya──.
──Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"──Konoe-sama, terima kasih banyak atas bantuan Anda
kali ini. Saya tidak bisa cukup berterima kasih karena Anda telah menyelamatkan
kota dan rakyat kami. Saya bersumpah tidak akan melupakan budi ini seumur hidup
saya."
"──"
"Bisa bertemu dengan Anda hari itu, tidak diragukan
lagi, adalah keberuntungan terbesar dalam hidup saya."
──Kata-kata itu terdengar sangat serius dan tanpa
keraguan sedikit pun.
Kata-kata yang memancarkan perasaan yang mendalam.
Kata-kata yang bahkan membuat Konoe tidak bisa
meragukannya lagi.
Lalu, setelah terdiam beberapa saat setelah kata-kata itu
berakhir.
"Konoe-sama. Jika Konoe-sama sudah membeli rumah,
bolehkah aku pergi berkunjung?"
"……Eh, a-ah, ya."
Pertanyaan Telnerica itu diucapkan dengan nada bicara
yang sedikit lebih santai.
Meskipun bingung, Konoe mengangguk. Kemudian.
"──Terima kasih banyak."
Telnerica tersenyum bahagia. Ia tersenyum seolah-olah
merasa sangat senang.
Konoe terpesona oleh senyum itu. ……Namun,
tetap saja Konoe tidak bisa mengatakan apa pun.
Selagi ia terpaku, Telnerica memberi salam hormat, lalu
berkata "Sampai jumpa," sebelum akhirnya berbalik arah.
Ia mulai berlari. Di atas menara pengawas yang sempit, ia
segera sampai di tangga.
──Lalu menghilang ke dalam. Telnerica tidak lagi
terlihat.
Konoe ingin menahannya. Tapi ia tidak bisa melakukannya.
Ia merasa bingung. Sosok Telnerica tadi seolah-olah
sedang mengucapkan perpisahan, tapi padahal.
"……Padahal besok pun masih ada waktu."
Benar, Konoe akan menyelesaikan kontraknya besok
siang dan kembali ke Ibu Kota.
Tapi, besok pagi ia masih berada di kota ini.
Seharusnya jika Telnerica datang seperti biasa di
pagi hari, mereka masih bisa bertemu lagi. Ia berpikir begitu──.
◆
──Keesokan paginya. Telnerica tidak mengunjungi kamar
Konoe.



Post a Comment