Chapter 1
Hari-Hari Baru
1
──Pagi
hari, Konoe terbangun di salah satu kamar penginapan di ibu kota.
Hal pertama yang ia lakukan adalah mendeteksi hawa di
sekitarnya.
Keadaan sekeliling, keberadaan Miasma atau
monster, pergerakan orang-orang…… dan hawa kehadiran yang berada sangat dekat
dengannya; aura dari gadis yang ia kenal.
Konoe mengenali itu semua hanya dalam sekejap mata
setelah ia terjaga.
"────"
……Hari ini pun tidak ada keanehan yang terjadi.
Setelah memastikannya, Konoe mengembuskan napas pendek.
Ia memang telah melatih dirinya agar terbangun secara
otomatis jika terjadi masalah, namun memeriksa keadaan sekitar begitu bangun
sudah menjadi kebiasaannya.
Ini adalah hasil dari latihan selama dua puluh lima
tahun. Inilah jati diri sebagai seorang Adept, sang pelindung dunia
manusia.
"……"
Perlahan, Konoe bangkit dari tempat tidur.
Ia menegakkan tubuhnya yang tadi tidur tengkurap,
lalu duduk di tepi ranjang.
Dari sana, ia bisa melihat ke luar melalui jendela di
sampingnya.
Masih pagi buta, saat matahari baru mulai menampakkan
wajahnya.
Jalanan di depan penginapan masih remang-remang, dan
sosok orang-orang pun masih jarang terlihat.
Pemandangan ibu kota dengan jajaran bangunan batu putih.
Bukan akademi, bukan pula Silmenia; ini adalah
pemandangan kota yang belum biasa ia lihat.
Konoe menatapnya dari tempat tinggal sementaranya itu.
Entah mengapa, ia merasa seperti pengamat dari kejauhan……
"…………Nn."
──Saat itulah, suara ketukan bergema di dalam ruangan.
Suara ketukan pintu yang terdengar sopan dan menyenangkan
di telinga. Konoe sudah tahu siapa pemilik suara itu.
"──Telnerica."
"Iya, selamat pagi. Konoe-sama, apakah saya boleh
masuk?"
"……Ya."
Ia mengangguk menanggapi suara dari balik pintu. Pintu
terbuka perlahan, dan seorang gadis berambut emas muncul.
Seorang gadis Elf yang mengenakan pakaian wanita
biasa──bukan seragam pelayan berenda.
Konoe tidak tahu apa nama pakaian itu, ia hanya berpikir
itu adalah rok panjang.
Gadis itu, yang mengenakan pakaian berbeda dari
sebelumnya, melangkah masuk sambil mendekap berbagai barang di lengannya.
"Konoe-sama, ini pakaian ganti Anda."
"……Ah."
"Sarapan juga akan segera siap. Jika persiapan Anda
sudah selesai, silakan datang ke ruang tengah."
"……Terima kasih."
"Sama-sama," jawab Telnerica sambil tersenyum
lembut dan meletakkan pakaian Konoe di tepi ranjang.
Lalu, ia mulai menyiapkan keperluan pagi lainnya.
Ia mengganti teko air dengan yang baru, dan melakukan
beberapa hal kecil lainnya.
Dari atas tempat tidur, Konoe hanya menatap sosok
gadis itu dengan tatapan kosong.
Gadis emas. Sosok yang telah mengikat janji penting
dengannya di dalam ruangan di kala senja hari itu.
"…………"
Sejak saat itu, sedikit waktu telah berlalu.
Namun, hingga kini Konoe terkadang merasa bahwa sosok
Telnerica hanyalah sebuah ilusi dalam mimpi.
Terasa tidak nyata, samar, dan seolah-olah bisa
menghilang di saat berikutnya.
……Karena itulah, tanpa sadar mata Konoe terus mengikuti
punggung gadis itu yang bergerak sibuk di dalam kamar.
"──Ngomong-ngomong, Konoe-sama."
"……Hm?"
Tiba-tiba, Telnerica berbalik menatap Konoe. Ia
berputar ringan dan tersenyum manis.
Namun, wajah itu bukanlah senyum lembut seperti
biasanya, melainkan seringai jahil.
Ada kesan sedikit nakal pada wajah itu…… seolah-olah ia
sedang menyatakan bahwa ia akan mengatakan sesuatu yang aneh.
"──Hari ini pun, Konoe-sama sudah bangun bahkan
sebelum saya datang, ya."
"……?"
"Bagi saya, itu sedikit mengecewakan."
Kata-kata yang tidak terduga itu diikuti dengan suara
tawa kecil yang terdengar manis. Konoe hanya bisa bertanya-tanya apa maksud
perkataannya.
"……Mengecewakan karena aku sudah bangun?"
"Benar. Sesekali, saya ingin membangunkan
Konoe-sama yang sedang tidur."
……Membangunkan? Membangunkan aku? Konoe memiringkan
kepalanya. Tidak, tapi itu──.
"──Bukannya bagi kamu lebih praktis jika aku
sudah bangun?"
Itulah yang ia pikirkan. Konoe memang tidak punya
pengalaman membangunkan orang, namun ia yakin itu pasti merepotkan.
Sejak kejadian di Silmenia, tanpa disadari ia sudah
terbiasa membiarkan Telnerica mengurus persiapan paginya…… namun, ia berpikir
bukankah lebih baik jika pekerjaan gadis itu berkurang sedikit saja.
"Tidak, tidak. Sama sekali tidak merepotkan.
……Sebab, itu pasti menyenangkan."
"……Menyenangkan?"
Telnerica tertawa kecil terus-menerus. Namun, meski
dikatakan begitu, Konoe tetap tidak mengerti.
"……Aku akan terbangun jika ada orang yang
mendekat."
Konoe adalah makhluk seperti itu.
Sebagai seorang Adept, pelindung umat manusia,
ia telah dilatih seperti itu.
Jadi, ia merasa apa yang dikatakan Telnerica itu sulit
dilakukan.
"……Benar juga. Tapi kalau begitu, pura-pura tidur
saja juga tidak apa-apa, kan?"
"……Pura-pura tidur? ……Apa gunanya?"
Sudah bangun, tapi pura-pura tidur hanya agar
dibangunkan? ……Benar-benar tidak ada gunanya. Kenapa harus melakukan
hal seperti itu.
"Fufu, mungkin memang tidak ada gunanya. Tapi,
sesuatu yang tidak berguna itu justru memiliki nilai."
"…………???"
──Sesuatu yang tidak berguna memiliki nilai. Bagi
Konoe, itu terdengar seperti sebuah teka-teki.
"…………?"
Karena itulah, Konoe tetap tidak bisa memahaminya.
Meski kini ia sudah sedikit bisa mengekspresikan
keinginannya sendiri, Konoe tetaplah Konoe yang dulu.
Namun, melihat Konoe yang memiringkan kepala seperti itu,
Telnerica hanya menyipitkan matanya.
Sebuah senyum lembut, lalu ia menangkupkan kedua
tangannya di depan dada──.
"──Konoe-sama. Saya akan datang untuk membangunkan
Anda berapa kali pun, puluhan kali, bahkan ratusan kali."
"……Begitukah?"
"Iya. ……Jadi, meskipun tidak ada gunanya. Jika
Konoe-sama merasa tidak keberatan──tolong cobalah melakukannya."
Telnerica tersenyum. Senyumnya seperti bunga yang
sedang mekar.
Ia tampak senang, bahagia, dengan pipi yang sedikit
merona.
"──Ini janji, ya?"
Di momen pagi yang singkat itu, gadis emas tersebut
mengucapkannya kepada Konoe.
◆
──Tujuh hari telah berlalu sejak insiden yang dimulai
dari wabah labirin berskala besar itu berakhir.
Hari itu, Konoe berhasil sampai ke sisi Telnerica dan
melindunginya. Lalu mereka saling berjanji──setelah itu, keduanya menyewa kamar
di sebuah penginapan di sudut ibu kota dan mulai tinggal bersama.
Telnerica memilih untuk tetap berada di sisi Konoe sesuai
sumpahnya dan meninggalkan kota Silmenia. Ia mengikuti Konoe yang memutuskan
untuk menjadikan ibu kota sebagai basis aktivitasnya sebagai seorang Adept.
Mengingat pekerjaan seorang Adept, informasi yang
masuk dan gerbang teleportasi jauh lebih banyak tersedia di ibu kota tempat
akademi berada. Jadi, keputusan Konoe ini pun merupakan hasil dari mengikuti
jejak para pendahulunya.
Selain itu, mengenai kepindahan ke ibu kota, Telnerica
pun……
"──Sepertinya memang lebih baik jika saya tidak
berada di Silmenia, ya."
Belum lama ini, ia bergumam dengan wajah sedih setelah
mendengar beberapa informasi. Informasi yang ia dengar adalah tentang penguasa
baru kota Silmenia yang akan segera tiba, dan penguasa tersebut adalah sosok
yang juga dikenal oleh Telnerica──.
"──Beliau adalah nenek buyut yang menikah dengan
keluarga bangsawan tetangga tiga generasi yang lalu. Saat kecil, saya beberapa
kali diajak bermain oleh beliau."
Sepertinya setelah mempertimbangkan situasi dan perasaan
penduduk setempat, pilihan jatuh kepada sosok tersebut. Telnerica merasa
tenang, dan karena itulah……
"Meskipun berasal dari klan yang sama, keberadaan
putri dari penguasa sebelumnya pasti akan menyulitkan bagi beliau──apalagi,
……itu, bersama Konoe-sama yang merupakan seorang Adept."
"……Memangnya begitu, ya."
……Hal itu mungkin bisa menjadi pemicu masalah. Karena
alasan itulah, Telnerica memutuskan untuk menjaga jarak dari Silmenia untuk
sementara waktu.
──Karena itu, Telnerica berada di sisi Konoe kemarin,
hari ini, dan pasti juga esok hari. Kehidupan di mana ia mengucapkan selamat
pagi di awal hari dan selamat tidur di malam hari.
Itulah keseharian baru bagi mereka berdua.
◆
──Setelah sarapan bersama Telnerica, Konoe keluar dari
penginapan sendirian untuk suatu urusan.
Ia melangkahkan kaki menuju tujuannya──Akademi Sihir
Kehidupan. Di jalanan ibu kota yang mulai ramai karena matahari yang sudah
tinggi, ia berjalan melewati kerumunan orang.
"………………"
Konoe berjalan menyusuri kota dalam diam. Tidak ada sosok gadis di sampingnya karena akademi tersebut melarang
orang luar masuk.
Meskipun merupakan kerabat dekat seorang Adept,
ia tidak bisa membawa Telnerica yang merupakan warga biasa. Telnerica
hanya melambaikan tangan di depan pintu penginapan sambil mengucapkan selamat
jalan……
(──Tapi, omong-omong…… apa maksud kejadian tadi pagi
itu?)
Sambil berjalan dengan langkah sedikit cepat, tiba-tiba
Konoe teringat saat ia baru bangun tadi.
"…………"
……Yah, meski merasa aneh, ia berpikir mungkin tidak
apa-apa asalkan gadis itu terlihat senang. Bayangan senyum gadis itu hampir
membuat pipinya sedikit melemas, hingga tanpa sadar Konoe mendongakkan
wajahnya.
"────"
Lalu, di ujung pandangannya, terlihat sebuah dataran
tinggi. Dekat dengan pusat ibu kota. Ada sebuah bukit kecil dengan bangunan
yang berdiri di atasnya.
Akademi──fasilitas pendidikan bagi para Adept yang
terletak di pusat ibu kota. Melihat bangunan itu, Konoe teringat kembali
tujuannya datang ke sini hari ini.
Tujuan ini berkaitan dengan kelangsungan hidup Konoe ke
depannya, atau lebih tepatnya, jika ia membiarkannya, ia akan kesulitan.
"………………"
……Intinya, urusan Konoe hari ini adalah mencari uang.
ï¼’
Jika ditanya apa perbedaan antara dunia ini──dunia
fantasi yang memiliki sihir dan dewa──dengan Jepang, Konoe akan menjawab bahwa
segalanya berbeda.
Pertama-tama, hanya dengan melihat sekeliling,
struktur bangunannya sudah berbeda. Pakaian orang yang berjalan pun berbeda.
Dunia lain. Dunia yang berbeda dari bumi. Ada sihir,
ras berbeda, monster, labirin, dan dewa jahat yang bersarang di bawah tanah──.
──Dan, dunia di mana nyawa manusia jauh lebih murah
dibandingkan di Jepang.
Jika ditanya apa arti uang di dunia seperti ini,
Konoe berpikir bahwa uang adalah alat untuk melindungi diri sendiri.
Di sini, standar hidup minimum tidak terjamin seperti
di Jepang. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin sangat besar, dan banyak
orang yang harus berjuang mati-matian hanya untuk bertahan hidup.
……Benar. Bahkan Konoe yang selama ini hanya mengurung
diri di akademi pun mengetahuinya.
Bahkan di ibu kota negara ini, daerah kumuh tetap
ada. Mereka yang kehilangan rumah, harta benda, dan segalanya, lalu bersusah
payah sampai ke ibu kota demi menyambung nyawa.
Tentu saja ada bantuan dari dewa maupun negara. Namun,
bantuan itu tidak bisa menyelamatkan seluruh rakyat.
Di dunia ini, tempat yang layak huni terbatas pada area
di dalam penghalang yang menyelimuti kota. Manusia tidak bisa hidup di luar
penghalang yang dipenuhi oleh energi jahat.
Hasilnya, orang-orang dalam jumlah besar menumpuk di
distrik-distrik kecil. Hidup di tengah kepadatan penduduk yang tidak wajar itu
sangatlah berat, dan hati manusia pun perlahan mulai mengeras.
Banyak orang yang akhirnya menjual hak mereka dan
menjadi budak demi keluar dari situasi tersebut.
……Dunia tempat Konoe hidup adalah dunia yang seperti
itu.
◆
"…………"
Bagaimanapun juga, uang memang diperlukan demi
Telnerica, pikir Konoe sambil menaiki tangga panjang di depan akademi. Di dunia
ini, seseorang harus melindungi dirinya sendiri.
Jika ingin hidup dengan aman dan normal di tempat
seperti ini, yang paling utama adalah uang.
"…………"
Tujuan Konoe hari ini adalah untuk meminta saran
mengenai cara mencari uang kepada seseorang di akademi──.
"……Sepertinya, Instruktur adalah pilihan
terbaik."
──Selain itu, alasan Konoe tidak mencari pekerjaan
sendiri adalah karena ia belajar dari kejadian tempo hari. Ia menyadari bahwa
ia masih kurang memiliki pengetahuan umum.
◆
Setelah menaiki lebih dari seribu anak tangga, Konoe
akhirnya sampai di gerbang akademi.
Ia melewati gerbang, melintasi halaman depan, dan
masuk ke dalam bangunan. Lalu, di meja resepsionis, ia menyampaikan bahwa ia
ingin menemui Instruktur.
"……Tempat latihan pertama di bawah tanah. Apakah
beliau sedang melatih seseorang?"
Sambil berpikir ia tidak enak jika mengganggu, kali
ini Konoe menuruni tangga di pusat gedung akademi.
Fasilitasnya tidak hanya ada di atas tanah, melainkan
meluas hingga jauh ke bawah tanah. Di lantai paling bawah adalah tujuan
kali ini, yaitu tempat latihan pertama.
Tempat yang dibangun dengan menggali dalam-dalam di bawah
bukit pusat ibu kota itu dibuat secara khusus agar mampu menahan pertarungan
para Adept, dan luasnya telah diperluas dengan sihir ruang.
(……Hm? Hawa ini, Instruktur dan──dia, ya.)
"────"
──Di saat yang bersamaan, sebuah ledakan keras
menghantam gendang telinga Konoe.
Lalu, terdengar suara desis pelan dari langit yang
hangus oleh Holy Majesty. Ia melihat banyak bayangan beterbangan di
tempat latihan yang dipenuhi oleh pegunungan batu yang tidak beraturan. Itu
adalah sekumpulan lingkaran kecil.
Itu adalah lensa. Lensa dengan desain merah di
pinggirannya. Konoe mengenal pemilik Holy Majesty dari senjata
pusaka ini.
"……Haa, haa."
"──Berputar!"
──Gadis itu berteriak. Seketika, lensa-lensa itu bergerak
bersamaan. Ribuan lensa yang beterbangan itu membentuk pola geometris di
langit.
……Di saat berikutnya, semua lensa itu bersinar merah
sesaat.
"──Aaaaa!"
Terdengar teriakan yang kencang. Cahaya
merah mewarnai seluruh tempat latihan. Ribuan laser ditembakkan dari
lensa-lensa tersebut.
──Dan, sosok yang berada di titik sasaran sinar-sinar itu
adalah.
"……Hmm, sepertinya masih sedikit kurang, ya?"
Seorang wanita berambut perak. Instruktur berjalan
melewati lautan sinar merah seolah-olah ia hanya sedang berjalan santai.
Senjata pusaka Holy Majesty miliknya berbentuk
pelindung tangan dan kaki. Sambil menangkis sinar-sinar itu dengan gerakan
lembut, ia terus mengejar gadis itu dengan lincah.
"Bukankah seharusnya kamu memberikan variasi pada
kekuatan seranganmu? Kalau semuanya sama saja, rasa tegangnya jadi hilang,
lho?"
"──Ugh!"
──Terdengar suara ledakan keras. Suara seseorang yang
terpukul. Bersamaan dengan suara dentuman itu, si gadis
terpental ke arah Konoe berada.
Konoe melihat gadis itu melesat melewati sampingnya. Tubuhnya
memantul beberapa kali di tanah…… dan akhirnya kepalanya menancap ke sebuah
gunung batu, lalu berhenti bergerak.
"……"
"……"
Senenyap. Tidak ada yang bergerak.
"…………………………………………"
……Beberapa detik kemudian, tangan gadis yang
kepalanya tertancap di batu itu mulai bergerak. Ia menarik
kepalanya keluar, lalu perlahan menoleh ke arah Konoe──.
"──Kenapa kamu tidak menangkapku, sih!!"
──Ia berteriak sambil membanting bongkahan batu di
tangannya ke tanah.
3
"Duh! Kenapa kamu tidak menangkapku! Ada gadis
cantik yang terpental setelah dipukul, lho!? Bukannya biasanya orang akan
menangkapnya!?"
"……Hm?"
Gadis berambut merah itu berteriak kepada Konoe. Ia
menggembungkan pipi dan dengan mata sedikit berkaca-kaca berlari menghampiri
Konoe.
Konoe merasa bingung dan mengerjapkan matanya
beberapa kali.
"……Tidak juga."
"Apa maksudmu!?"
"……Itu, aku pikir kamu tidak suka
disentuh."
"……Eh? Ada orang yang merasa tidak suka disentuh
saat kepalanya baru saja menancap ke gunung batu?"
Si gadis memiringkan kepalanya dengan wajah heran.
Konoe pun ikut memiringkan kepalanya karena ia benar-benar tidak yakin.
"……Sudahlah! Pokoknya, seharusnya kamu
menangkapku tadi, kan!? Bagaimana kalau wajah cantikku ini jadi luka!"
"…………"
Tidak mungkin orang sepertimu bisa terluka karena hal
sepele seperti itu, pikir Konoe. Ia tetap memilih untuk diam.
Gadis itu terus memukul-mukul perut Konoe dengan kedua
tangannya. Karena ia menahan kekuatannya, itu tidak terasa sakit sama sekali.
Namun, jarak mereka yang sangat dekat membuat Konoe
merasa canggung.
Apalagi wajah gadis di depannya memang tampak sangat
cantik.
Meski insiden dengan Telnerica sudah berakhir, sifat
Konoe yang sulit berkomunikasi tidak bisa berubah begitu saja.
Ia mulai mencari cara untuk melarikan diri.
"……Melmina, tidak baik lho menggunakan Konoe
sebagai tameng untuk melarikan diri."
"Ugh."
Suara Instruktur terdengar mendekat. Gadis berambut
merah bernama Melmina itu tersentak kaget.
Ia langsung bersembunyi di balik tubuh Konoe untuk
menghindari sang Instruktur.
Konoe merasa heran mengapa ia harus takut kepada gurunya
sendiri.
"…………"
──Melmina. Konoe mengenalnya sebagai rekan yang masuk
akademi di waktu yang hampir bersamaan.
Ia adalah gadis mungil dengan rambut merah menyala.
Tubuhnya jauh lebih kecil dari Instruktur.
Kepribadiannya
ceria, dan ia sering terlihat tersenyum…… meskipun ia selalu menyebut dirinya
sendiri cantik atau imut.
"Konoe, bisakah kamu minggir sebentar? Aku
sedang dalam proses mendidik ulang Melmina."
"……Mendidik ulang?"
Kata-kata itu terdengar cukup berbahaya.
Saat Konoe tampak heran, Instruktur
bergumam──"Yah, karena Melmina sudah melibatkanmu, aku akan
menjelaskannya."
"Ini tentang kasus luapan besar yang pernah kita
bahas sebelumnya, Konoe. Melmina ditugaskan untuk menghancurkan Miasma Core,
tapi dia kembali dalam keadaan nyaris mati."
"……Ugh."
"Itu karena saat menyelidiki lokasi Miasma
Core, dia nekat masuk ke dalam dungeon sendirian padahal sudah tahu ada
sepuluh monster kelas Calamity yang bersarang di sana, lengkap dengan
jebakannya. Meskipun tujuannya untuk mengalihkan perhatian monster
itu ke dirinya sendiri…… Melmina, kamu sendiri sadar kan kalau kemampuanmu itu
untuk support? Seharusnya kamu menunggu bantuan, walau butuh waktu,
bukan?"
……Kenapa, sih, dia melakukan hal seperti itu.
Karena Melmina sedang menekan punggungku, aku hanya bisa
menoleh menggunakan leherku.
Melmina terlihat tidak nyaman dan memalingkan wajah ke
arah lain.
Kalau bicara soal Miasma Core di luapan besar, itu
juga ada hubungannya denganku. Ingatan hari terakhir di Silmenia masih segar di
benakku.
Ada banyak hal yang kupikirkan dan alasan untuk berterima
kasih…… tapi kurasa dia sudah bertindak terlalu ceroboh.
"Melmina? Ada yang ingin kau katakan?"
"Hu-huh…… Ka-kalau bantuan datang, bukankah jumlah
hadiahnya akan berkurang?"
"……Kamu ini, masih saja bicara begitu."
Haaah, Instruktur mendesah panjang.
Melmina tersentak dan bahunya gemetar di balik punggungku.
────Hadiah?
……Tiba-tiba, Konoe teringat sesuatu.
Melmina memang sering membahas soal uang sejak dulu.
Bahkan saat latihan pembasmian monster bersama, dia
selalu bilang monster ini bahan materialnya mahal, atau bagian tubuh yang itu
tidak perlu, jadi incar bagian yang itu saja.
Apa yang dia katakan memang masuk akal, dan fakta
bahwa Konoe bisa mendapatkan uang berkat Melmina memang sangat membantu…… tapi
tetap saja.
"…………?"
Namun, aku merasa sedikit ragu.
Sepuluh tahun yang lalu—dia yang dulu tidak pernah
bertindak demi uang sampai mengabaikan keselamatannya sendiri.
Apakah ada alasan tertentu, atau apakah dia berubah
setelah menjadi Adept?
Saat Konoe menatap Melmina dengan pandangan
penasaran, gadis itu mengerang kecil, tampak merasa tidak nyaman.
Dia menggeliat untuk menghindari tatapan Konoe, matanya
terlihat gelisah untuk beberapa saat……
"…………Ugh…………
Mmph."
"……?"
……Tapi
tak lama kemudian, raut wajahnya berubah menjadi cemberut.
Dia menggembungkan pipinya dan memajukan bibir. Wajahnya
dipalingkan, menolak untuk menatapku.
Kemudian, setelah melirik Konoe sekilas dengan matanya,
dia melipat tangan di dada──.
"──Hu-huh! Tapi, karena aku baik-baik saja, tidak
masalah, kan!"
"──Eh?"
"Lagipula, aku juga seorang Adept! Aku punya
hak untuk memutuskan tindakanku sendiri, dan rasanya itu urusanku kalau aku
sedikit nekat!"
Melmina berteriak seolah sudah pasrah.
Seketika itu juga, Instruktur menyipitkan mata sejenak……
"──Hmm."
Begitu gumamnya── terdengar suara jiji. Sensasi
dunia seakan terpotong, seperti bingkai film yang melompat.
"……Ah, begitu ya, itu benar."
"……Eh…… Hiiik!"
Saat Konoe menyadarinya, sosok Instruktur yang tadi
ada di depannya sudah menghilang.
Kemudian, suara dan jeritan terdengar dari belakang.
Saat menoleh, Instruktur sudah berdiri di belakang
Melmina, meletakkan kedua tangannya di pundak gadis itu.
……Gerakannya sama sekali tidak terlihat. Itu adalah Unique
Magic milik Instruktur.
"Memang benar. Adept punya hak. Itu tidak
bisa dibantah. ……Jadi, kesalahan terbesarmu kali ini bukanlah karena tidak
menunggu bantuan, melainkan karena kamu hampir mati saat melawan sepuluh
monster kelas Calamity. Sebagai guru, bukankah aku harus melatihmu lagi
supaya muridku ini bisa menjadi lebih kuat?"
"……Ah, tidak."
Instruktur berbisik di dekat telinga Melmina yang
sedang bercucuran keringat.
Dia tersenyum dengan cara yang terasa menakutkan.
──Instruktur. Seorang instruktur di akademi yang
mendidik Adept, dan orang yang berdiri di puncaknya.
Di antara para Adept dan calon yang berkemauan
keras, ada cukup banyak orang yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang yang
lebih lemah dari mereka.
Fakta bahwa dia berdiri di puncak akademi seperti itu
menunjukkan bahwa instruktur itulah yang terkuat dari siapa pun.
"Seperti yang kamu tahu, salah satu kekuatan
dari berkat Life God kita adalah meningkatkan batas pertumbuhan manusia.
Kekuatan yang memungkinkan kita melampaui bakat, melampaui manusia, dan
memperkuat diri hingga ke batas kehidupan. Tapi kamu
masih sangat jauh dari batas itu."
"Tidak, itu……"
Melmina tampak kebingungan dengan panik. Matanya
mengembara, lalu dia menatap Konoe seolah meminta pertolongan. ……Namun, tidak
ada yang bisa dilakukan Konoe.
Lagipula, sejauh yang kudengar, memang Melmina yang
bermasalah, jadi menurutku lebih baik dia patuh mengikuti latihan.
Adept tidak akan rugi jika terus berlatih
karena mereka bisa menjadi semakin kuat.
Ditambah lagi, berlatih di bawah bimbingan Instruktur
akan membuatmu lebih cepat kuat dibandingkan latihan biasa.
Meskipun sangat kejam sampai rasanya hampir mati.
……Karena itulah, kemampuan dasar Konoe, yang sudah berada
di akademi lebih lama dari orang lain, sebenarnya cukup tinggi dibandingkan Adept
umum.
"…………"
"──!?"
Bagaimanapun, Konoe membuang muka── Melmina memasang
wajah seolah putus asa.
Instruktur mencengkeram kerah baju Melmina dengan
satu tangan.
"──Nah, mari kita lanjutkan latihannya!"
"Eh, a-aaaahhh!"
──Dengan sekali ayun, dia melempar Melmina.
Gadis berambut merah itu melesat menjauh ke arah
kedalaman lapangan latihan dengan kecepatan luar biasa.
Instruktur berteriak pada Melmina yang terbang,
"Hei, jaga jarak, kalau bisa mendaratkan satu serangan saja kali ini aku
maafkan!", dan kata-kata lainnya……
"……Benar-benar, anak itu."
Anak yang merepotkan, gumam Instruktur sambil
menghela napas.
Yah, semua Adept itu pada dasarnya bermasalah,
entah besar atau kecil, gumamnya lagi.
"Lalu, ngomong-ngomong, Konoe. Ada apa hari ini?
Apa kamu ada urusan denganku? Atau sebenarnya urusanmu dengan Melmina?"
"……Ah, tidak, sebenarnya saya ada perlu dengan
Instruktur."
Saat Instruktur menatapnya, Konoe teringat tujuan
awalnya.
Lalu, dia membicarakan masalah mencari uang. Dia
menjelaskan dengan singkat bahwa dia ingin mendapatkan uang, tapi sadar bahwa
pengetahuannya masih kurang, jadi dia ingin meminta saran.
"Ah, kurangnya pengetahuan, ya…… Memang benar. Aku rasa itu juga kesalahan kami
karena tidak memberikan pendidikan yang layak kepadamu, seorang penduduk dunia
lain."
"……"
"Sebenarnya,
setelah kejadianmu baru-baru ini, kami sedang membahas untuk meninjau kembali
pendidikan setelah pemanggilan. Siapa tahu ada banyak hal umum yang
terlewatkan."
Instruktur
mengatakan mereka sedang dalam proses memeriksa semuanya dari awal.
Tapi karena itu butuh waktu, dia bilang permintaanmu
sangat membantunya.
"Hmm, tapi pekerjaan yang cocok untukmu…… Kalau yang
bisa segera menghasilkan uang dan bayarannya terjamin……"
"……"
"……Ah, tapi tunggu, ini mungkin momen yang
pas!"
Saat itu, Instruktur menepukkan kedua tangannya di
depan dada dan tersenyum pada Konoe.
"Konoe, bisakah kamu datang lagi ke akademi
besok? Aku akan mengatur semuanya sampai saat itu."
4
──Keesokan harinya, pagi hari. Konoe mendatangi
akademi sesuai instruksi Instruktur.
Keluar dari penginapan, menaiki tangga panjang,
melewati Melmina yang tergeletak lemas di bangku dekat pintu masuk, Konoe
menuju ruangan Instruktur.
Sesampainya di sebuah ruangan di lantai paling atas,
dia mengetuk pintu.
"Konoe, kamu datang. Masuk, masuk."
"……Ya."
Diterima oleh Instruktur, dia masuk dan diarahkan ke
sofa.
Ruang kerja Instruktur. Itu adalah ruangan yang sudah
cukup akrab bagi Konoe.
Dia sudah sering berkunjung ke sini, jadi dia tidak
lagi merasa gugup secara khusus.
Walaupun tetap saja merasa sedikit gugup seperti biasa.
"Aku buatkan teh ya. Konoe, kamu tidak pakai gula,
kan?"
"……Ya, tolong yang straight saja."
Instruktur tersenyum ceria dan menyeduhkan teh
langsung untuk Konoe.
Sambil bersenandung kecil dengan langkah kaki yang
ringan, dia menyiapkan teh, lalu meletakkannya di depan Konoe seraya berkata,
"Silakan." Konoe mengucapkan terima kasih dan menerima teh itu……
(……Hm? Instruktur hari ini, sepertinya suasana
hatinya sangat baik……?)
"Eh," gumamnya dalam hati. Itu adalah
perubahan yang bahkan bisa dirasakan oleh Konoe.
Pasti orang lain akan lebih merasakannya lagi. Dia
bertanya-tanya apakah sesuatu telah terjadi……
"Nah, langsung saja ya, Konoe. Ada
pekerjaan yang ingin kutitipkan padamu."
"……Ah, ya."
"Isi pekerjaannya adalah── Konoe, bisakah kamu
menerima tugas pengawalan untuk Beliau (Dewa) besok?"
──? Pengawal, Dewa?
◆
──Dewa. Pecahan dari Dewa yang mengatur kehidupan.
Salah satu Dewa yang melindungi dunia ini, sekaligus
sosok tertinggi, satu kepingan darinya.
Gadis
berambut putih murni. Sosok yang paling welas asih dan mencintai manusia.
Dia
menyukai pesta teh dan sering mengajak Konoe saat dia hampir menyerah di masa
pelatihan.
Berkat
itulah Konoe bisa menjadi Adept.
……Pengawalan
Dewa seperti itu, artinya──.
"──Itu
pekerjaan sehari-hari Instruktur, bukan?"
"Ya,
benar."
──Itu
adalah pekerjaan milik orang terkuat di depan mataku.
Pengawal
bagi Dewa yang harus dilindungi apa pun yang terjadi.
Tentu saja, harus bisa merespons segala macam situasi,
dan kegagalan sama sekali tidak diperbolehkan.
Kekalahan adalah hal yang mustahil. Itulah tugasnya.
Karena itulah Instruktur yang memegang peran
tersebut. Yang terkuat, legenda hidup.
Pahlawan yang seratus tahun lalu menumpas pengguna Unique
Magic kelas bencana yang menyerang negeri ini── monster yang sering disebut
sebagai Raja Iblis atau kelas kehancuran.
……Pekerjaan orang seperti itu.
"……Kenapa harus aku?"
Itu aneh. Yah, karena Instruktur juga tidak mungkin
menempel terus selama 24 jam penuh, Konoe tahu sesekali ada pengawal pengganti.
Tapi, sampai saat ini pun, biasanya Adept senior
yang bertugas.
Ini seharusnya bukan pekerjaan yang bisa dipercayakan
kepada pemula seperti Konoe……
"Ah, jangan salah paham ya. Bukan berarti aku
serahkan hanya padamu. Aku juga meminta empat Adept lainnya── dan
Melmina juga termasuk di dalamnya."
"……Ah, begitu ya."
"Ya, seperti yang kamu tahu, soal pencarian musuh,
tidak ada yang bisa mengalahkan anak itu."
……Begitu ya. Artinya, tugas Konoe adalah menjadi salah
satu anggota tim pengawal.
Kalau begitu, masuk akal juga. ……Tapi, mengerahkan
lima Adept, meskipun luapan sudah tenang dan ada kelonggaran tenaga
kerja, rasanya cukup besar juga.
"……Besok, ada acara apa?"
Jadi, Konoe menanyakannya secara alami──.
"……U-umm, itu……"
"…………!?"
──Tiba-tiba saja, pipi Instruktur sedikit memerah.
Wajahnya terlihat malu-malu.
Konoe terkejut melihat Instruktur seperti itu dan
membelalakkan matanya.
Itu adalah ekspresi yang baru pertama kali dia lihat
selama dua puluh lima tahun mereka saling mengenal.
"Anu, itu……"
"……Eh, ya."
"Sebenarnya besok, ada acara pertemuan jodoh."
"Pertemuan jodoh."
◆
Kepada Konoe yang terperangah, Instruktur mulai
bercerita. Apa lagi kalau bukan tentang calon pasangan untuk pertemuan jodoh
besok.
"Dia seorang Crimson Knight. Kamu juga tahu,
kan?"
"……Ya, tahu."
Namanya tentu saja dia tahu. Bahkan Konoe, si orang dunia
lain, pun tahu.
Crimson Knight adalah gelar yang hanya diberikan
kepada mereka yang sangat hebat di antara para ksatria yang menerima berkat
Dewa Perang.
Konon, minimal harus memiliki rekam jejak membasmi
monster kelas atas sendirian, dan karena mereka juga beroperasi dalam tim,
mereka pun ahli dalam berburu monster yang levelnya di atas mereka.
Bahkan, unit ksatria tingkat atas dikatakan memiliki
kemampuan bertarung yang setara dengan Adept.
Konon, pasukan yang dipimpin oleh komandan ksatria bahkan
memiliki rekam jejak menumpas monster kelas Calamity.
"Terlebih lagi, lawan kali ini kabarnya punya
pengalaman menumpas monster kelas Calamity sendirian! Katanya dia yang paling muda dalam beberapa dekade terakhir!"
"……I-itu, begitu ya……?"
"Itu adalah jodoh yang sangat bagus!" seru
Instruktur sambil mengepalkan tangannya.
Konoe sedikit mundur melihat semangatnya itu……
"…………"
Tunggu, Konoe teringat sesuatu.
Dia merasa pernah mendengar di suatu tempat bahwa
Instruktur sedang mencari jodoh.
Sudah cukup lama──lebih dari sepuluh tahun yang lalu,
tapi dia baru sadar sekarang bahwa itu ternyata fakta.
Dan dia juga terkejut karena hal itu akhirnya membuahkan
hasil kali ini.
"Kali ini aku ingin sukses. Karena itu, supaya bisa
menghadapi pertemuan jodoh dengan kekuatan penuh, aku ingin meminimalkan
kekhawatiran sebanyak mungkin. Itulah kenapa aku mengumpulkan para Adept
yang bisa bergerak."
"……Ah, begitu."
"Pertemuan jodohnya sendiri paling cuma satu jam
sih, tapi kan ada persiapan dan sebagainya, kan? Jadi aku berpikir untuk
meminta kalian menggantikan pengawalan selama satu hari. Aku ingin pergi ke
salon untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada pengepasan kostum, ada
riasan, dan juga perawatan kecantikan atau merapikan kuku yang baru
dipopulerkan oleh orang dunia lain!" tambahnya.
"Jadi seperti itulah, aku ingin meminta tolong untuk
pengawalannya. Bisa bantu?"
"……Ya."
Mendengar ekspresi dan kata-kata yang baru pertama kali
muncul dalam dua puluh lima tahun kebersamaan mereka, Konoe merasa sangat
terkejut── namun tetap mengangguk.
Yah, tidak ada penolakan untuk menerima pekerjaan. Karena dia sering dibantu, Konoe juga ingin bekerja sama.
Melihat itu, Instruktur tersenyum senang pada
Konoe──.
"Kalau begitu, tolong ya! Posisi kamu di kamar
Beliau (Dewa). Aku serahkan padamu! Muridku!"
◆
──Berpisah dari Instruktur, di jalan pulang dari akademi.
(……Tapi, kalau pertemuan jodohnya sukses, apakah
selanjutnya akan ada upacara pernikahan?)
Sambil sadar bahwa dirinya masih belum sepenuhnya
mencerna keterkejutan tadi, Konoe berpikir demikian.
Dan dengan kepala yang sedikit bingung, dia memikirkan
hal-hal seperti: apakah ada pakaian untuk upacara pernikahan, siapa yang harus
diajari tata krama, apakah Telnerica tahu tentang hal ini, dan berbagai hal
lainnya yang terus berputar di kepalanya.
"──Tuan Konoe, selamat datang kembali."
"……Ah,
ya. ……Aku pulang."
Di tengah lamunannya, dia kembali ke penginapan tempatnya
menginap.
Konoe yang masih belum terbiasa dengan ucapan
"Selamat datang" dan "Aku pulang", memberikan jawaban
sambil merasa sedikit canggung dan malu, lalu masuk ke dalam kamar.
Dia melepas mantelnya, dan saat dia menyerahkannya kepada
Telnerica yang mengulurkan tangan, gadis itu merapikannya dan menggantungnya di
sudut ruangan.
"Bagaimana hari ini? Apakah ada sesuatu dari
Instruktur?"
"……Ah, aku baru saja menerima pekerjaan."
Konoe mengatakan itu adalah pekerjaan untuk satu hari
besok.
Lalu, Telnerica bertanya lagi pekerjaan seperti apa itu,
dan……
"…………Ah."
Di situ, Konoe sadar. Apakah boleh memberi tahu Telnerica
tentang pekerjaan kali ini?
Dia tidak diberi tahu bahwa pekerjaan kali ini memiliki
kewajiban kerahasiaan.
Dia tidak diberitahu secara lisan, dan dalam kontrak pun
tidak tertulis kewajiban kerahasiaan.
Kontrak Adept di sini cukup ketat, jadi hal-hal
yang tidak boleh dibicarakan pasti tertulis.
……Namun, hal kali ini berkaitan dengan pengawalan
Dewa.
Apakah boleh menyampaikan fakta bahwa Instruktur,
yang merupakan kekuatan tempur terbaik, akan meninggalkan pengawalan Dewa,
kepada pihak luar?
"Tuan Konoe?"
"…………Tidak, tidak apa-apa."
……Setelah berpikir sejenak, Konoe menggelengkan
kepalanya. Dia merasa ingin mengatakannya, tapi memutuskan untuk
berhenti.
Jujur saja, karena ini sangat mengejutkan, dia merasa
ingin mengatakannya kepada seseorang.
Dia ingin memuntahkannya ke lubang di taman atau apa pun
agar lega.
Seperti kisah "Telinga Raja adalah Telinga
Keledai".
……Tetap saja, jika ada kemungkinan sekecil apa pun bahaya
akan menimpa Dewa, dia merasa tidak seharusnya mengatakannya.
"……Maaf. Aku tidak bisa memberi tahu pekerjaan apa
ini."
"Begitu ya. Pasti itu adalah pekerjaan yang sangat
penting, ya."
Telnerica berkata, "Selamat berjuang," dan
Konoe menjawab, "Ya," sambil mengangguk.
Lalu, mereka pindah ke ruang tamu dan makan malam
yang sudah disiapkan berdua.
Setelah makan, mereka minum teh dalam suasana yang
tenang, dan berdua saja di sana──.
"──Ngomong-ngomong, Tuan Konoe, apakah Anda
sudah dengar?"
"……Hm?"
Saat sedang begitu, tiba-tiba Telnerica berbisik.
"Saya dengar selentingan hari ini," katanya.
"Besok, Instruktur akan melakukan pertemuan
jodoh."
"…………!?"
"Sepertinya
sudah waktunya ya."
"…………!?!?"
……?
……?? ……Eh?
Konoe bingung. Dia tidak mengerti apa pun.
Bagaimana dia bisa tahu, apakah itu hal yang begitu
terkenal?
……Terlebih lagi, ada istilah yang tidak bisa dia
mengerti.
"………………Eh, waktunya?"
"Ya, saya rasa festival juga akan segera
tiba."
"…………Eh?"
"…………Eh?"
Dia saling menatap wajah dengan Telnerica.
Bukan, bukan soal "sudah waktunya ya".
Festival? Apa itu?
Kenapa pertemuan jodoh Instruktur ada hubungannya
dengan hal semacam itu?
Konoe bingung, tetapi sebaliknya, Telnerica menatap
Konoe dengan wajah bertanya-tanya.
"……Umm, Tuan Konoe, apakah Anda tidak
tahu?"
"……?"
"Sebenarnya──"
5
──Keesokan harinya. Konoe melewati gerbang akademi
dengan wajah yang sulit digambarkan.
Sambil berjalan di halaman depan, dia terus memikirkan
apa yang didengarnya dari Telnerica kemarin.
『Setiap tahun sekali, Instruktur
menunjukkan wujud sehatnya kepada kita dengan kedok pertemuan jodoh──』
『Hasil pertemuan jodohnya selalu,
selalu dari pihak Instruktur──』
"……Apa maksudnya?"
Dia tidak mengerti. Itu aneh.
Dia memiringkan kepalanya saat mengingat Telnerica
yang matanya berbinar dan sosok Instruktur kemarin. Karena dia
merasa apa yang dikatakan keduanya sangat berbeda……
"………………Haaah."
……Tapi yah, ini adalah hal yang tidak akan dia pahami
berapa pun dia memikirkannya di sini.
Jadi Konoe menggaruk kepalanya sambil menghela napas,
lalu mengalihkan kesadarannya.
Sudah waktunya untuk bekerja.
(……Apakah Melmina sudah berada di posisinya?)
Meskipun masih ada sedikit waktu dari jadwal, ada banyak
lensa yang melayang dari atap akademi hingga ke sekitar ibu kota.
Pasti dia juga menggunakan Unique Magic. Ada
firasat seolah dia sedang diawasi dari suatu tempat.
"……"
Konoe berjalan menyusuri akademi sambil melewati
lensa-lensa tersebut. Lalu dia berdiri di depan sebuah ruangan.
Dia menarik napas dalam sekali, lalu mengetuk pintu──.
【──Selamat datang, terima kasih sudah datang.】
──Dewa muncul. Bukan dengan kata-kata, tetapi suasananya
tersampaikan ke dalam hati.
Sosok gadis dengan sayap putih. Dewa yang murni itu
menatap Konoe dengan mata merahnya yang menjadi satu-satunya warna di tubuhnya.
"……Ya, mohon bantuannya hari ini. Dewa."
【Ya, mari, masuk, masuk!】
Dia dipanggil oleh Dewa yang tersenyum ceria, dan masuk
ke dalam. Ruangan yang sudah lama tidak dikunjungi.
Ini adalah tempat penempatan tugas pengawalan Konoe hari
ini.
Pekerjaan kali ini adalah berada di samping Dewa
sepanjang hari dan melindunginya.
【──♪】
"……"
Sambil berpikir bahwa dia harus tetap waspada, Konoe
berjalan di belakang Dewa yang suasananya tampak sangat senang.
Saat dia berjalan menyusuri ruangan yang luas sambil
tetap waspada terhadap lingkungan sekitar, di depannya──.
(……Eh?)
──Di sana entah kenapa ada meja. Ada satu set kursi dan
juga teko.
Uap mengepul dari teko itu…… dan itu terlihat jelas
seolah persiapan untuk pesta teh.
【──Silakan, duduk. Mari berbincang sambil minum teh?】
………………Hm?
◆
──Tugas pengawalan. Itulah pekerjaan yang diterima
Konoe kali ini.
Pekerjaan berada di samping Dewa, tetap waspada agar
tidak terjadi bahaya sedikit pun, dan menangani situasi darurat.
Untuk itu, tentu saja tidak boleh ada celah, dan
harus menjaga sikap waspada setiap saat.
Karena itu, pesta teh tentu saja adalah hal yang
tidak terpikirkan, dan bahkan jika diajak oleh pihak yang dikawal, seharusnya
tidak boleh dipenuhi. Biasanya memang seperti itu.
"…………"
──Namun, Konoe mengingat kontrak kali ini.
Sebenarnya, hanya untuk pekerjaan ini, izin untuk
pesta teh sudah diberikan oleh Instruktur.
Karena tertulis dalam kontrak bahwa itu adalah
keinginan Dewa sendiri agar ditemani untuk melepas penat, jadi itu tidak salah.
……Ya, tidak salah sih, tapi.
【────♪】
Terdengar
suara air panas, dan aroma harum daun teh tercium. Dewa sedang menyeduhkan teh
untuknya.
Dewa tersenyum lebar, dengan suasana yang terlihat
sangat menikmati……
(……Tidak, tapi, aku tidak menyangka pesta teh akan
dimulai secepat ini)
Dia berpikir sambil kebingungan.
Bagi Konoe, dia membayangkan pesta teh akan dilakukan
sedikit lebih lama, atau sedikit setelah siang hari, yang seperti itu.
Bahwa pesta teh akan dimulai tepat setelah kedatangan
adalah di luar dugaan.
(……Apa ini boleh?)
Konoeæ‚©
(bingung) karena dia mencoba untuk serius.
Secara kontrak tidak ada masalah, tapi apakah
benar-benar boleh?
Karena dia belum melakukan pengawalan sama sekali.
Dia sudah sering melakukan pesta teh berkali-kali
sebelumnya, tapi hari ini berbeda dengan sebelumnya.
Ini adalah pekerjaan resmi yang ada bayaran
pengawalannya.
Jadi, dia merasa seharusnya dia melakukan pengawalan
dengan lebih serius.
【──Silakan.】
"……Terima kasih banyak."
Namun, saat Konoe sedang bingung memikirkan banyak hal,
cangkir diletakkan di depannya.
Lalu, Dewa juga duduk di kursi di seberangnya.
Dewa tersenyum lebar dan ceria, mata Dewa yang seperti
itu bertemu dengan mata Konoe yang wajahnya sedikit tegang──.
【────】
"…………Ah."
──Tapi saat itu. Tiba-tiba
perasaan Dewa tersampaikan ke dalam hati Konoe.
Itu adalah perasaan yang memiliki suhu. Perasaan yang
menyambut, "Terima kasih sudah datang."
Suasana yang membuat dia merasa seolah-olah sedang
dibungkus oleh sesuatu.
Lembut, hangat, dan suasana yang membuat hatinya tanpa
sadar menjadi tenang, menyentuh hati Konoe.
"……Itu."
【Ya.】
……Tidak, apakah salah? Sebenarnya perasaan itu selalu
tersampaikan kepada Konoe.
Sejak pintu dibuka, terus menerus. Tapi karena Konoe sibuk memikirkan banyak hal.
Ya, Dewa selalu menyambutnya. Konoe baru menyadari
hal itu terlambat.
【──Nah,
aku ingin mendengar ceritamu.】
"…………Ya."
Dia
mengangguk. Suasana yang hampir membuat dia berpikir, kenapa orang seperti aku
ini.
Hanya hangat, dan lembut.
Karena itu, Konoe merasa tenaganya seakan terkuras. Dia
menyadari hal itu. Sifatnya yang serius, prinsip kebenarannya, semua hal itu
seolah meleleh dan menghilang.
"……Kalau begitu, mari kita bicara soal
Silmenia."
Konoe membuka mulutnya perlahan──.
◆
──Apa yang dilakukan saat pesta teh? Sebenarnya tidak ada hal yang istimewa.
Hanya berhadapan dengan Dewa, meminum teh, menikmati
camilan, dan berbincang-bincang.
Dewa ingin mendengar cerita Konoe, dan Konoe hanya
menceritakannya dengan terbata-bata.
Dia bercerita tentang apa yang terjadi selama mereka
tidak bertemu, seolah-olah sedang memberikan laporan. Itulah pesta teh antara
Konoe dan Dewa yang sudah berulang selama lebih dari dua puluh tahun.
Tentu saja, Konoe tidak bisa mengatakan hal-hal yang
lucu.
Dia tidak bisa berbicara dengan cara yang bisa
menghidupkan suasana. Itu hampir seperti rentetan fakta belaka…… namun Dewa
selalu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.
Jika
ada hal baik dalam ceritanya, dia akan ikut senang; jika terjadi masalah, dia
akan merasa cemas; dan jika ada tragedi, dia akan menunduk sedih.
Ekspresinya
berubah-ubah, tertawa dan bersedih.
Kali
ini pun, saat Konoe bercerita tentang pelindung Silmenia yang hancur saat
kedatangannya, mata Dewa berkaca-kaca.
Saat
bercerita tentang ksatria yang tidak mundur selangkah pun di depan pintu,
matanya melebar.
Saat
bercerita tentang tiga ribu orang yang berhasil diselamatkan, Dewa tersenyum
lembut, dan saat bercerita tentang penduduk yang tidak menyerah meski di tengah
penderitaan, Dewa mengangguk dalam diam.
Saat
Konoe bercerita bahwa benih Holy Flower telah ditemukan, Dewa tersenyum
tipis karena merasa lega, dan saat bercerita bahwa Telnerica telah pergi, Dewa
merasa cemas.
Saat
bercerita tentang serangan naga, wajahnya menjadi serius dan tatapannya
meredup──dan saat dia berhasil menghancurkan Unique Magic itu, Dewa
tersenyum dan memuji Konoe dengan berkata bahwa dia hebat.
"──Tapi,
maafkan aku, aku telah menggunakan jubah yang terukir lambang Dewa sebagai
umpan."
【Tidak apa-apa, jangan dipikirkan.】
Dewa tersenyum. Katanya tidak apa-apa. Katanya selamat.
Bahwa dirimu selamat, aku pun senang. Perasaan itu
tersampaikan kepada Konoe.
──Dan kemudian.
"──Aku, entah bagaimana berhasil mengejarnya."
【Ya.】
"Aku sudah bicara dengannya, dan kami membuat janji,
untuk apa yang akan terjadi ke depannya."
【Ya.】
"……Lalu, selesai sampai di situ. Setelahnya aku
mencari kamar di ibu kota, dan sampailah sekarang."
【──Ya.】
Dengan kata-kata itu, Konoe mengakhiri ceritanya untuk
sementara.
Sudah berapa lama mereka berbicara?
Mulut yang biasanya jarang digerakkan kini terasa lelah.
Mungkin itu kelelahan secara mental.
【……Begitu ya.】
Kepada Konoe yang seperti itu, Dewa mengangguk kecil
sekali.
Dia mengangguk, menyipitkan mata, dan menatapnya
lekat-lekat.
【……Konoe.】
"……? Ya."
Dewa memanggil nama Konoe. Itu hal yang langka.
Saat dia berkedip, di sana sudah ada suasana yang tenang
dan senyuman──.
【────Kamu sudah berjuang dengan baik.】
Begitulah, hal itu tersampaikan. Pujian yang nyata
menyentuh hati Konoe.
Sebuah emosi yang singkat. Namun, dalam dan lembut.
"……I-ya."
Karena itu, Konoe merasa senang sekaligus malu.
Dia merasa tersipu dengan perasaan yang tidak bisa
disangkal itu.
Kepada Konoe yang tanpa sadar menunduk, Dewa
tersenyum dengan kelembutan yang tak terhingga──.
【────】
Tangan Dewa perlahan terangkat.
Dia mencondongkan tubuh dan mengulurkan tangan.
Telapak tangan Dewa mendekati kepala Konoe.
Konoe melihatnya dengan perasaan yang entah mengapa
terasa kosong.
Tangan itu kemudian menyentuh kepala Konoe……
【……】
"……?"
……Tepat sebelum menyentuh. Namun, telapak tangan itu
berhenti.
Berhenti seketika, diam selama beberapa detik, lalu
perlahan turun seolah kehilangan tenaga.
"………………?"
【……Tidak, bukan apa-apa. Biar aku buatkan teh yang baru,
ya.】
Tangan yang tadi terulur diturunkan, lalu dia
mengambil cangkir di depan Konoe.
Konoe merasa heran dengan Dewa yang seperti itu. Dia
tidak mengerti. Karena.
"……"
……Saat tangannya berhenti, ada rasa sakit yang
menusuk dada yang tersampaikan dari Dewa.
◆
──Setelah itu waktu berlalu, hingga pukul lima. Waktu
berakhirnya tugas telah tiba.
Setelah itu, Konoe membereskan perangkat teh bersama
Dewa, dan sejak sebelum siang Dewa kembali bekerja.
Konoe, kali ini, benar-benar menjaga Dewa sebagai
pengawal……
"……Ah."
Lalu, seiring berjalannya waktu, dia merasakan
Instruktur kembali ke akademi.
Tanda keberadaannya tertangkap oleh Detection
yang ia perkuat untuk berjaga-jaga.
Keberadaan Instruktur sangat kuat, tangguh, lentur,
dan khas dibanding siapa pun, jadi ia langsung mengetahuinya.
Maka, Konoe berpikir untuk menyapa lalu pulang
setelah Instruktur naik ke ruangan──.
"──?"
Namun, entah mengapa. Instruktur tidak menuju ke
sini, ke ruangan Dewa, melainkan menuju lapangan latihan di tingkat paling
bawah.
Bukan ke ruangannya sendiri, melainkan jauh ke bawah
tanah.
Melihat tanda keberadaannya yang perlahan menjauh, Konoe
memiringkan kepalanya……
"……Hm?"
──Saat dia sedang bingung, dia menyadari satu hal
lagi.
Lensa-lensa Melmina yang tersebar di seluruh ibu kota
bergerak menuju atap.
Itu adalah pertanda mereka ditarik kembali.
"……Melmina, tunggu sebentar."
『Konoe? Ada apa?』
Konoe mendekati jendela dan berbicara pada lensanya.
Kemudian, sosok gadis berambut merah muncul di permukaan
lensa. Itu adalah kemampuan Melmina.
Aplikasi dari Unique Magic.
『Ah, apa jangan-jangan kamu mau mengajak gadis imut
sepertiku makan setelah kerja?』
"……Tidak, bukan itu."
『……Hei, cobalah pikirkan sedikit lagi.』
Kepada Melmina yang bercanda sambil menggembungkan
pipinya, Konoe justru punya hal lain yang ingin ditanyakan.
"……Instruktur tidak kembali, apakah tidak apa-apa
kalau ditarik?"
『Ah……
soal itu. Tidak masalah kok. Itu sudah biasa setiap tahun, lagi pula──』
──Orang seperti Instruktur pun, terkadang ingin
berpikir sendirian, katanya. Di dalam lensa, Melmina menundukkan
pandangannya.
『Kurasa aku hanya harus menerimanya. Bagaimanapun, itu
masalah pribadi baginya…… tidak seharusnya kita mengkhawatirkan hal yang
mustahil.』
"……?"
Dia bergumam seperti bicara pada diri sendiri, dan kali
ini lensanya benar-benar menghilang.
Dengan perasaan yang masih belum mengerti, Konoe
melepas kepergiannya.
【Hei, apa ada waktu sebentar?】
"……Dewa?"
Lalu, suasana Dewa tersampaikan dari belakang. Saat berbalik, Dewa tampak seperti sedang memikirkan sesuatu……
【…………Sebenarnya, aku punya dua permintaan untukmu.】
……Setelah beberapa saat terdiam, perasaan Dewa
tersampaikan kepada Konoe.
6
"……………………"
──Dengan begitu, Konoe menuruni tangga.
Dia teringat tentang Instruktur kemarin dan
percakapan dengan Telnerica. Sambil berpikir macam-macam, dia terus turun.
Tak lama kemudian dia sampai di dasar tangga, lalu
Konoe meletakkan tangan pada pintu Lapangan Latihan Pertama seperti hari
sebelumnya……
"……………………Instruktur."
"……Hm, Konoe, kamu ya."
Begitu masuk. Instruktur sedang memeluk lututnya,
bersandar pada dinding di samping pintu.
◆
【…………Sebenarnya, aku punya dua permintaan untukmu.】
Itu terjadi beberapa menit yang lalu. Sebuah permintaan
dari Dewa.
Saat Konoe bertanya apa itu, Dewa berkata.
【Yang pertama…… kalau bisa, tolong temui gadis yang sedang
memeluk lutut di bawah sana.】
◆
"…………Instruktur."
"……Fufufu, gagal lagi. Kali ini pun gagal. Tidak
peduli berapa tahun berlalu, tidak peduli berapa puluh tahun berlalu."
Instruktur bergumam demikian sambil tertawa seolah
menertawakan diri sendiri.
Suara yang tidak bertenaga, berbeda dari biasanya.
Melihat sosok Instruktur yang biasanya kuat dan benar
kini tampak begitu lemah, Konoe merasakan keterkejutan terbesar dalam beberapa
hari terakhir ini──.
"………………"
──Namun, bagi Konoe saat ini, ada hal lain yang lebih
mengganggunya.
Dia teringat sosok Instruktur kemarin.
Dia memerah dengan ceria saat mengatakan akan pergi
pertemuan jodoh.
"……Saya dengar Instruktur selalu menolak
pernikahan atas kemauan sendiri."
◆
──Kemarin. Saat waktu setelah makan malam bersama Telnerica.
Gadis berambut emas itu berkata bahwa pertemuan jodoh
Instruktur adalah acara tahunan, dan festival akan diadakan bersamanya.
『Pertemuan jodoh hanyalah kedok. Instruktur selalu bekerja
keras menjalankan tugas di akademi. Setahun sekali, dia menunjukkan sosoknya
yang sehat kepada kita dengan alasan pertemuan jodoh.』
Mata Telnerica berbinar. Itu adalah tatapan yang murni
dan tulus, mengagumi seorang pahlawan.
Penyelamat negara sekaligus yang terkuat. Pelindung dunia
manusia. Penumpas Raja Iblis dan kelas kehancuran.
Mungkin, jika tidak ada Instruktur, dunia manusia
benar-benar akan hancur secara harfiah.
Hari di mana pahlawan yang disyukuri dan dihormati semua
orang itu menunjukkan wajahnya di depan rakyat setahun sekali.
Telnerica berkata tadi malam bahwa itulah hari pertemuan
jodoh.
Pasangan sang pahlawan yang cantik dan berpakaian indah,
sering kali adalah calon pahlawan baru yang mulai bersinar dalam beberapa tahun
terakhir.
Sang ksatria muda dan Instruktur berjalan bersama di kota
untuk sementara waktu, lalu makan bersama.
Mereka bertemu, berbicara──lalu waktu itu selalu berakhir
dengan kata-kata dari Instruktur.
『Masih kurang, ya. Sebaiknya jangan abaikan dasar-dasar,
dan latihlah tubuhmu hingga batasnya.』
Setelah memberikan saran yang tepat bagi ksatria muda
itu, sang pahlawan pun pergi.
Ksatria muda itu menyimpan bimbingan yang diterimanya di
dalam hati, menantang ujian yang lebih berat, dan meraih lompatan besar.
Telnerica tersenyum mengatakan bahwa itulah festival
tersebut──.
◆
"──Instruktur."
……Namun sosok Instruktur saat ini. Tidak terlihat
berbeda dari gosip yang beredar.
"……Lawan hari ini, tidak buruk. Dia memang anak
yang kuat. Kupikir jika dalam kondisi prima, dia bisa mengimbangi
kelas Calamity. Tapi……"
"……"
"……Tapi, itu hanya jika dalam kondisi prima.
Kekuatan yang menyertakan perlengkapan dan Magic Item. Jika dalam
kondisi alami, bahkan tingkat tertinggi pun mungkin meragukan."
……Yah, ksatria memang seperti itu, tambah Instruktur.
Berbeda dengan Adept yang bisa melampaui batas
manusia berkat berkat Life God.
Ksatria yang tidak bisa lepas dari wadah manusia,
baru bisa bertarung melawan monster yang melampaui bencana dengan menggunakan
perlengkapan dan Magic Item.
"Tapi, itu saja tidak cukup. Tidak cukup. Kalau
tidak lebih kuat dalam kondisi alami, aku……"
"……Instruktur."
Instruktur bergumam dengan suara sedih. Konoe tidak
tahu harus mengatakan apa kepada Instruktur yang seperti itu……
"…………?"
Namun, pada saat yang sama. Konoe memiringkan kepalanya
karena kata-kata itu.
Apa maksudnya "harus kuat"? Mengapa Instruktur
menginginkan kekuatan pada pasangan nikahnya?
"Fufufu, Konoe, kamu sedang bingung ya? Mengapa
aku menuntut kekuatan pada pasangan nikahku."
"……Iya."
"Apa kamu berpikir, 'apa dia tidak suka jika
pasangannya tidak kuat, apa otaknya penuh dengan otot?'"
"……Tidak."
Dia tidak berpikir begitu. Lagipula, berpikir dia
bisa melontarkan lelucon seperti itu menunjukkan bahwa dia benar-benar sedang
terpuruk.
……Lalu, ada sedikit keheningan.
"……Ada alasannya. Mau mendengarkannya?"
◆
──Itu adalah cerita Instruktur saat masa kecil. Cerita
yang terjadi ratusan tahun yang lalu.
Saat Instruktur masih hanyalah seorang gadis yang
penuh bakat. Konon, Instruktur memiliki satu hewan peliharaan.
Anjing yang lucu dengan bulu hitam.
Keluarga yang dibesarkannya bersama sejak dia masih bayi.
Sahabat terbaik yang sering tidur bersama.
Mereka tidur berpelukan, dan saling mengucapkan
selamat pagi di pagi hari. Hubungan seperti itulah yang mereka miliki.
……Namun, suatu hari. Saat Instruktur terbangun di
pagi hari, anjing itu……
"Dia berlumuran darah. Saat aku sadar, dia
hampir mati."
Melihat keluarganya yang sekarat di depan mata,
Instruktur saat kecil menjerit dan mengalami kebingungan.
Dia panik dan mencoba menekan lukanya dengan tangan……
tapi di sanalah dia menyadarinya.
Karena,
darah keluarganya menempel penuh di kedua tangan Instruktur sendiri──.
"──Aku
mengigau, menggunakan Reinforcement Magic, dan salah menakar
kekuatanku……"
"……Itu,
sungguh."
"Nyawanya
sih tertolong. Tapi sejak saat itu, dia tidak pernah lagi datang ke
sisiku."
Konoe
menahan keinginan untuk berkata "Waaa". Wajahnya
menegang……
"…………?"
──Tapi, di sanalah dia merasa heran. Itu adalah hal yang
biasanya tidak mungkin terjadi.
Pada dasarnya, mengendalikan penguatan tubuh saat tidur
atau di bawah sadar adalah hal yang dipelajari pertama kali saat mulai latihan
sihir.
Sihir adalah teknik, dan pada akarnya sudah
disistematisasi agar tidak terjadi kecelakaan.
Dewa sendiri yang memutuskannya. Teknik seperti itulah
yang diajarkan kepada manusia.
Karena jika tidak, jika seorang Adept yang
mengigau memukul dinding dengan serius, seluruh area sekitar bisa hancur.
Kekuatan besar dan tindakan pencegahan keselamatan
dilakukan bersamaan.
……Namun, jika kecelakaan seperti itu tetap terjadi.
"Saat itu, aku belum pernah belajar sihir. Aku
menggunakannya entah bagaimana caranya, dan lagi, aku menyembunyikannya dari
orang tua karena takut dimarahi."
"……Jangan-jangan,
itu Primitive Magic?"
──Sihir yang primitif, penggunaan sihir berdasarkan
insting. Bukan teknik, sihir yang tidak melalui tangan Dewa.
Itu adalah penciptaan sihir baru. Sesuatu yang
berbeda dari Unique Magic, sebuah ambang batas yang hanya bisa dicapai
oleh segelintir jenius.
Konoe diajari bahwa orang biasa tidak akan bisa
menguasainya meski menghabiskan seluruh hidupnya.
……Dengan kata lain, masa lalu Instruktur adalah
sesuatu yang terjadi karena Instruktur melampaui seluruh hidup orang biasa
sebelum ia belajar mengendalikan kekuatan sihir.
"Hal itu menjadi trauma. Jika menikah, tentu
akan ada kesempatan untuk tidur bersama, bukan? Kalau tidak pun, mungkin akan
terjadi masalah. Memikirkan jangan-jangan saat sadar suamiku sudah berlumuran
darah, aku tidak ingin menikah dengan orang yang lemah."
"……Begitu, ya."
Tentu saja, Instruktur yang sekarang tidak mungkin
membunuh orang saat mengigau.
Instruktur adalah ahli tingkat atas dalam manipulasi
sihir.
……Namun, mungkin itulah yang disebut trauma, terus
berpikiran 'bagaimana jika'.
"……?"
Namun, di situ Konoe merasa heran lagi.
Jika menuntut kekuatan pada pasangan, mengapa kali ini
memilih ksatria?
"……Fufufu, Konoe, kamu sedang berpikir, 'kalau tidak
mau pasangan yang lemah, kenapa tidak cari dari Adept saja?' kan? Bukan
ksatria."
"……Iya."
"Apa kamu berpikir, 'jangan-jangan wanita perawan
tua sepertimu masih pilih-pilih?'"
"……Tidak."
Dia tidak berpikir begitu.
"……Huh, meski bicara begitu, kamu sendiri kan
juga paham. Kamu orang yang jahat ya."
"……?"
"Yah, setiap kali membicarakan cerita ini,
awalnya semua orang akan menunjukkan wajah seperti itu, seolah itu urusan orang
lain."
Instruktur memasang wajah merajuk…… lalu menjatuhkan
pandangannya ke tanah dan bergumam.
"Cukup cari Adept saja katanya…… lalu Konoe,
apa kamu bisa menikah denganku?"
"……"
"Padahal aku sudah berkali-kali membuatmu nyaris
mati. Berkali-kali aku menyiksamu. Memaksamu menjalani latihan yang berat,
membuatmu menderita. Pasti sudah sering sekali kamu memuntahkan darah di
tanganku, kan?"
Di negara ini, tidak ada Adept yang tidak pernah
berurusan denganku, kata Instruktur.
Berkali-kali menyiksa, mengasah, dan menghancurkannya.
Bahkan saat menangis pun ditendang.
Punggung yang mencoba melarikan diri pun diinjak.
Semua itu dilakukan untuk menambah jumlah Adept
yang menjaga dunia manusia. Untuk melatih mereka menjadi Adept yang
lebih kuat.
Sejak ratusan tahun yang lalu, dia telah melakukannya.
Bahwa siapa pun yang menjadi Adept di akademi ini
semuanya seperti itu.
"Lagipula, seperti Melmina kemarin lusa, pendidikan
ulang untuk anak yang membuat kesalahan juga kulakukan atas keinginanku
sendiri. Semua orang pasti menganggapku nenek-nenek bawel."
"……Tidak, itu……"
"Tidak apa-apa. Tidak perlu menghibur. Itu adalah
pekerjaanku. ……Tapi, tidak akan ada Adept yang mau menikah
dengan orang seperti aku."
Haaah, Instruktur menghela napas.
Dia berdiri, memunggungi Konoe…… bergumam bahwa ia
akan kembali bertugas, lalu berjalan gontai keluar dari lapangan latihan.
Konoe hanya bisa menatap Instruktur yang seperti
itu……
"……"
……Konoe tidak bisa berkata apa-apa.
Dia tidak memiliki kata-kata yang layak diucapkan
kepada Instruktur.
Meski akhirnya ia mulai bisa sedikit menyampaikan
kehendaknya, Konoe tidak tahu banyak kata-kata.
Meski ditanya apakah ia bisa menikah, ia sama sekali
tidak merasakan kenyataan.
Meskipun begitu, hanya satu hal yang ia pikirkan.
(……Menurutku, Instruktur adalah orang baik.)
Ada penderitaan, ada rasa sakit.
Ia berkali-kali memuntahkan darah.
Itu tidak bisa dibantah.
Namun, Konoe juga tahu akan kelembutan Instruktur.
……Tapi, Konoe tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya.
"……………………"
……Pada akhirnya, tanpa bisa melakukan apa-apa, Konoe
keluar dari lapangan latihan.
Sambil memikirkan apakah ada arti dari kedatangannya ke
sini.
"…………"
……Lalu, ia teringat pemicu kedatangannya ke sini,
permintaan Dewa.
Yang pertama adalah menemui Instruktur.
Yang kedua adalah,
【Tolong perhatikan sedikit soal Melmina. Anak itu adalah anak yang sangat baik.】



Post a Comment