Chapter 5: Begitu Sulitnya Mencintai
───● Teman Masa Kecil Tipe
Mahasiswi Memperkenalkan ●○●
Beberapa hari telah berlalu sejak Mizuho
ditolak mentah-mentah.
Aku datang ke universitas dengan tekad
untuk mentraktirnya es krim sepulang kuliah nanti, mengira dia masih terpuruk.
Tapi begitu sampai di kampus pagi-pagi sekali, aku langsung sadar kalau
kekhawatiranku itu sama sekali tidak diperlukan.
"Makanya aku bilang, ini tuh
pertemuan takdir!"
"Mizuho, ini sudah kelima kalinya
kamu bilang gitu hari ini—”
"Kamu nggak ceritain hal yang sama ke
semua orang, kan?"
Bersama beberapa teman klub, Mizuho sedang
membicarakan (mungkin bisa disebut) kisah cintanya yang entah sudah keberapa
kali hari ini. Karena dia menceritakannya setiap kali ada teman baru yang
datang sejak pagi, aku yang bersamanya dari awal sudah tidak terhitung lagi
berapa kali mendengar cerita itu.
"Wah~ ternyata takdir itu beneran ada
ya! Hidup emang nggak bisa ditebak!"
"Iya, iya. Tapi kan belum tentu kamu
bisa ketemu dia lagi?"
"Ooh, jelas bakal kucari! Aku bakal
mencarinya sampai ke ujung dunia! Demi dia, aku rela pergi sampai ke sisi lain
dunia!"
"Mizuho, kamu tahu nggak satu 'ri'
(satuan jarak kuno) itu berapa meter?"
"……Eh? ……Sekitar 100 meter?"
Mizuho menjulurkan lidahnya dengan imut.
Dia tertawa terbahak-bahak, dan teman-teman di sekelilingnya pun ikut tertawa
melihat keceriaannya. Yah, syukurlah kalau dia sudah semangat lagi. Jujur,
tepat setelah penolakan itu, dia terlihat sangat hancur sampai aku tidak tega
melihatnya. ……Yah, aku juga sih yang salah karena mengintip…….
"Kalau gitu kami duluan ya, ada
kelas! Dah~!"
"Dah~! Oh iya, kalau ketemu orang
takdirku, tolong kabari ya!!"
"Informasimu terlalu dangkal, mana
bisa ketemu kalau cuma modal gitu……"
Mizuho memberikan hormat dengan tegas ke
arah teman-teman yang pergi sambil tersenyum kecut. Kelas berikutnya aku dan
Mizuho berada di ruangan yang sama.
Kami berjalan menyusuri koridor. Cahaya
matahari dari jendela terasa sangat menyenangkan. Di sampingku, Mizuho berjalan
dengan suasana hati yang sangat baik sambil bersenandung.
"Tapi syukurlah. Sepertinya ini
pertama kalinya ya, Mizuho beneran serius naksir seseorang?"
"Iya ya, rasanya memang begitu~.
Ternyata mencintai seseorang itu rasanya begini ya, hehe!"
"Ada-ada saja kamu ini……"
Kronologi kejadiannya sudah kudengar
sampai kenyang pagi tadi. Katanya saat dia menjatuhkan lensa kontaknya, ada
orang yang membantunya mencari, lalu meletakkan lensa kontak itu di atas sapu
tangan saat menyerahkannya kembali.
Memangnya itu cincin apa?
Jujur, kalau orangnya selembut itu, pasti
dia sudah punya satu atau dua pacar…… tapi kalau bilang begitu ke Mizuho yang
sekarang, rasanya tidak sopan.
"Jadi, karena itu, Watson-kun."
"Siapa yang kamu panggil
Watson-kun."
"Sudahlah! Watson-kun juga harus
bantu aku mencari orang takdirku!"
"Boleh saja sih…… tapi kalaupun dia
mahasiswa baru di universitas ini, kandidatnya ada sekitar 2000 orang
lho?"
Menurut Mizuho, pulpen yang dijatuhkan
laki-laki itu adalah pulpen yang dibagikan kepada mahasiswa baru tahun ini,
jadi kemungkinan besar dia anak kelas satu. Seingatku jumlah mahasiswa baru ada
sekitar sepuluh ribu orang…… dan karena di kampus ini laki-laki sedikit lebih
banyak, mungkin ada sekitar 2000 orang.
Mempersempit dari jumlah itu akan sangat
sulit. Apalagi Mizuho sedang tidak memakai lensa kontak dan menangis saat itu,
jadi dia hampir tidak ingat wajahnya. Rasanya pertemanan kami saja tidak akan
cukup.
"Ck, ck, ck…… kalau menyerah
sekarang, pertandingannya berakhir tahu?"
"Kenapa malah aku yang disalahkan
sih……?"
Mizuho memasang ekspresi penuh percaya
diri. Apa dia punya rencana rahasia?
"Kalau ketemu pasti langsung ingat!!
Rambutnya gaya *all-back*!"
"Gaya rambut ya……"
Menurut cerita Mizuho, laki-laki itu
memakai gaya rambut *all-back* yang ditata kaku dengan gel. Memang termasuk
jarang sih. Tapi kan belum tentu dia dandan begitu setiap hari…….
"Aku akan mengembalikan sapu tangan
ini…… dan aku akan bilang padanya! Akulah bangau yang waktu itu kamu tolong!
Aku datang untuk membalas budi!"
"Malah jadi cerita dongeng kuno kamu
mah~"
Dia menggenggam sapu tangan itu dengan
penuh arti, katanya itu pinjaman dari laki-laki tersebut. Padahal katanya nggak
usah dikembalikan, tapi Mizuho bertekad untuk bertemu dan mengembalikannya.
Tepat saat itu.
*Pilon.*
Ponselku bergetar menerima notifikasi.
Ah…… benar juga, kelas jam ketiga
berikutnya adalah mata kuliah yang belakangan ini aku ambil bareng Masato.
Selama ini, maaf ya Mizuho, aku mengambilnya bareng Masato…… tapi.
(*Selama ini, karena Masato terlalu
ganteng, aku takut teman-temanku malah jatuh cinta padanya jadi aku agak
menjauhkan dia dari mereka…… tapi kalau Mizuho sepertinya sudah aman ya.*)
Sudah jelas, Mizuho yang berjalan riang di
sampingku ini sedang tergila-gila pada laki-laki takdirnya itu. Aku juga merasa
kasihan karena sepertinya Masato tidak punya teman kuliah lain selain aku……
bukankah ini kesempatan bagus?
"Hei, Mizuho. Kalau mau…… kelas
berikutnya kita barengan sama Masato bertiga, yuk?"
"Eh? Boleh!? Wah, aku emang pengen
banget ngobrol sama pacarnya Koumi!"
"Kan sudah dibilang bukan pacar……!
Kalau ketemu jangan ngomong yang aneh-aneh ya?"
"Nggak bakal kok~! Aku bakal jadi
duta promosi kelebihan Koumi yang hebat. Serahkan padaku!"
Mizuho menepuk dadanya dengan mantap.
Mengingat dia tidak punya dada, gerakannya itu terlihat sangat imut.
"Tapi tumben banget? Angin apa nih
yang bikin kamu berubah pikiran?"
"Habisnya, Mizuho kan sekarang lagi
tergila-gila sama orang takdir itu. Harus punya orang yang disukai dulu baru
aman kalau ketemu Masato. Kalau nggak, baru ngobrol 30 menit saja bisa-bisa
langsung naksir sama si ganteng kebangetan itu."
"Cinta terkadang memang merusak orang
ya……"
"Ah, barusan kamu meremehkanku
ya."
Mizuho menatapku dengan tatapan seolah
melihat orang yang malang. Tapi beneran deh, daya hancur Masato itu luar biasa.
Aku nggak tahu laki-laki lain yang sesempurna dia.
"Tenang saja, Bos. Sekarang fokusku
cuma satu, mencari orang takdir itu sekuat tenaga! Soal Masato-kun itu, nanti
bakal kupromosikan Koumi baik-baik deh. Makanya, cepetan nembak gih!"
"Sudah kubilang nggak usah ikut
campur!!"
Dia beneran bisa ngomong yang nggak-nggak
nih. Bakal nggak apa-apa ya? Untuk
sementara aku membalas pesan Masato.
Mungkin karena dia sedang di kampus juga,
balasan langsung datang bahkan sebelum aku sempat menutup ponsel.
Lengkap dengan stiker kucing yang sedang
menundukkan kepala tanda permisi. Masato di media sosial pun imutnya curang
banget ya…….
"Masato bilang oke. Kalau gitu kelas
jam ketiga kita bertiga ya."
"Asyik! Bisa melihat pemandangan
orang ganteng, amin……"
"Duh, pokoknya jangan bercanda
keterlaluan ya?"
Kalau orang yang kusukai dan sahabatku
bisa akrab, aku pasti senang. Rasanya kehidupan kampusku bakal jadi makin seru!
Wah, wah, ternyata aku dibolehkan bertemu
dengan cowok yang bikin Koumi tergila-gila itu!
Koumi waspada banget ya, sampai takut aku
bakal nggak sengaja naksir sama si
Masato-kun itu makanya selama ini nggak
dikenalin……. Yah, namanya juga cinta. Sip, baguslah!
Tapi tenang saja! Sekarang aku lagi sibuk
mengumpulkan informasi!
Terlalu cepat kalau cuma menyimpulkan dia
dari universitas yang sama hanya karena pulpen? Huhuhu. Biarpun begitu, selama
ada petunjuk, aku tidak akan menyerah!
Habisnya, kalau bisa bertemu sekali lagi
pasti indah sekali, kan? Memikirkan itu saja sudah cukup membuatku senang.
Aku mengeluarkan sapu tangan dari saku
sekali lagi.
Desain berwarna biru tua yang simpel,
dengan aksen garis merah dan hitam di sudutnya.
Aku menggenggamnya erat-erat.
"Oh, kursinya masih banyak yang
kosong ya. Ambil buat tiga orang yuk."
"Siap laksanakan, Bos!"
Aku melipat sapu tangan itu pelan-pelan
dengan rapi dan menyimpannya di tas.
Bersama Koumi, aku mengamankan kursi di
barisan belakang kelas.
Mengamankan kursi di universitas adalah
hukum rimba siapa cepat dia dapat...! Maaf ya kalian yang masih asyik makan
siang... Realitas itu memang kejam. Hiks hiks hiks...
"Katanya Masato sebentar lagi sampai,
aku jemput ke depan kelas dulu ya."
"Sip! Silakan, Tuan Putri!"
Aku mengantar kepergian Koumi ke luar
kelas, lalu kali ini aku mengeluarkan pulpennya.
"Apa mungkin... dia bukan anak kelas
satu ya?"
Setahu aku, desain pulpen seperti ini baru
pertama kali dibagikan tahun ini. Jadi biasanya memang anak kelas satu yang
punya, tapi kalau pergi ke gedung staf atau dosen, bukan tidak mungkin mereka
juga punya.
Berarti, ada kemungkinan dia kakak tingkat
satu atau dua... atau bahkan tiga tahun di atasku?
Dia memang kelihatan seperti orang yang
lebih dewasa, sih.
Yah, tapi sejujurnya, umur bukan masalah.
Aku mencoba mengingat kejadian saat itu.
Aku teringat senyum yang berkilau itu.
(*Keren banget ya……*)
Kalau diperlakukan begitu, siapa pun pasti
bakal jatuh cinta. Wajahnya memang tidak terlihat jelas saat itu, tapi aku
sudah tidak peduli soal wajah. Bersentuhan dengan kelembutan dan senyum itu
saja sudah cukup, wajah bukan masalah utama.
(*Andai saja saat itu bisa terekam jelas
di mataku…… hiks hiks……*)
Aku merebahkan kepala di meja.
Kalau saja saat itu aku tidak menangis...
eh, tapi kalau tidak menangis kan dari awal aku tidak akan menjatuhkan lensa
kontak, dan kalau begitu aku tidak akan pernah bertemu dengannya... Begitulah
kira-kira. Mengingatnya saja sudah membuat dadaku berdegup kencang.
(*Iya. Pokoknya aku benar-benar ingin
bertemu sekali lagi dengan benar. Bilang terima kasih, terus……*)
Kalau sudah bertemu, harus bagaimana ya?
Kalau langsung bilang suka pasti bakal dianggap mencurigakan……
Mulai dari berteman dulu? Tapi nanti
kelihatan banget ada niat terselubungnya.
Pokoknya aku ingin bilang terima kasih.
Bahwa berkatmu, aku terselamatkan dari titik terendahku.
……Apa itu terdengar agak lebay ya?
Tapi aku memang berterima kasih sampai
sebegitunya…… dan aku sangat mengaguminya.
Jadi meskipun sedikit lebay, tolong
dimaafkan ya.
"Nihehe……"
Gawat. Aku pasti sedang memasang wajah
yang aneh.
Bisa sedih banget kalau sampai dianggap
orang aneh di depan 'gebetan' Koumi!
Siapa tahu lewat jaringan pertemanan
laki-laki, dia bisa membantuku mencari orang takdirku itu…… Kesan pertama itu
penting!
Sekitar 10 menit sebelum jam pelajaran
dimulai.
Koumi masuk ke kelas. Di belakangnya,
terlihat sosok seorang laki-laki.
Wah, wajah Koumi beneran wajah perempuan
yang lagi jatuh cinta nih. Terus, sepertinya cowoknya emang ganteng ya……?
Badannya juga lumayan tinggi.
Baru masuk saja, mahasiswi di sekitar
kelas sudah pada curi-curi pandang. Pantas saja Koumi sampai khawatir.
Sambil memperhatikan itu, Koumi dan
laki-laki tersebut akhirnya sampai di tempatku duduk.
"Yak! Jadi ini sahabatku, Tonosaki
Mizuho! Terus, kalau yang ini tuh…… te-temanku, Katari Masato!"
Dari belakang Koumi.
Muncul wajah si ganteng itu yang mengintip
sedikit.
"Halo! Aku sudah sering dengar
ceritamu dari Koumi lho~ Salam kenal ya!"
……Lho?
───● Si Mahasiswi Ceria
Diperkenalkan ●○●
Musim panas akhirnya mulai menunjukkan
taringnya, dan belakangan ini aku makin sering terbangun di pagi hari gara-gara
udara yang panas.
Seperti biasa, sambil mengucek mata yang
masih mengantuk, aku menyantap sarapan merangkap makan siangku dengan santai,
lalu bersiap pergi ke kampus.
Karena jam ketiga hari ini aku ada kelas
bareng Koumi, aku harus berangkat lebih awal.
Nggak enak juga kalau dia terus yang
ambilkan kursi buatku.
Sambil memasukkan barang-barang ke dalam
tas, tiba-tiba bel pintu rumahku berbunyi nyaring.
"Hooi, Masato, kamu di dalam?"
"Oalah, ternyata Kak Aika toh."
Kak Aika sudah lama jadi semacam wali
bagiku sekarang.
Dia sesekali memberiku makan malam, dan
sampai sekarang aku masih merasa sangat berutang budi padanya.
"Iya, iya! Selamat pagi."
"Ooh, pagi. Kayaknya ada kiriman
barang dari panti asuhan tempat tinggalmu dulu buat Masato. Nih. Semua yang ada
di kardus ini isinya barang-barang itu."
"Wah, terima kasih banyak ya."
Jujur saja, aku belum paham betul
bagaimana kehidupan "aku" di dunia ini sebelumnya.
Mungkin situasinya seperti jiwaku di dunia
lama dan dunia ini tertukar... atau semacam itu.
Aku nggak terlalu paham soal konsep
*sci-fi* begitu, sih.
Tapi sepertinya baik di dunia lama maupun
dunia sekarang, aku memang nggak punya orang tua. Bagian itu tetap sama.
Aku anak tunggal dan nggak punya saudara
dekat, jadi aku nggak punya tempat bernaung dan tinggal di tempat semacam panti
asuhan. Lalu, pas mau lulus SMA dan harus keluar dari panti, aku berniat kuliah
pakai beasiswa, tapi tepat saat itulah aku berpindah dunia (*isekai*).
Semoga "aku" yang di dunia lama
juga bisa bertemu orang seperti Kak Aika di sana.
Tapi ya, nggak mungkin semuanya berjalan
semulus itu, kan.
Kak Aika menjauhkan rokok elektrik dari
mulutnya, lalu mengembuskan uap ke udara.
"……Yah, aku sudah memutuskan buat
menjagamu terlepas dari masa lalu apa pun yang kamu punya. Kalau kamu merasa
ingin balik ke panti atau semacamnya, bilang saja ya."
"Nggak mungkinlah! Beneran deh, aku
sangat berterima kasih pada Kak Aika. Nanti kalau sudah lulus kuliah, aku pasti
bakal balas budi."
"Fufu. Aku tunggu ya. Pokoknya
sekarang nikmati saja masa kuliahmu~ soal masa depan, dipikirkan nanti saja pas
waktunya tiba."
"Siap!"
Sambil melambaikan tangan, Kak Aika pun
pergi.
Beneran deh, aku sangat bersyukur... Aku
harus membalas budinya suatu saat nanti.
...Tapi apa balas budi itu berarti aku
harus jadi nomor satu di 'Festa'? Itu sepertinya tantangan yang lumayan berat
buatku...
Sambil menggendong kardus itu, aku kembali
ke kamar.
"Hup."
Aku membuka tutup kardus pakai cutter. Di
dalamnya penuh dengan tumpukan barang yang berantakan.
"Ada yang rasanya familier, ada juga
yang beneran baru pertama kali kulihat..."
Mungkin itu perbedaan yang muncul karena
aku berpindah dunia.
Sepatu basket butut yang pernah kupakai
terasa familier dan bikin kangen, tapi tumpukan surat? Sepertinya banyak yang
tidak kukenal. Apa aku pernah dapat surat sebanyak ini ya?
Meski tinggal di panti, aku tetap sekolah.
Apa kabar ya teman-temanku dulu?
"Hm...?"
Isinya kebanyakan surat-surat dan buku
referensi yang nggak kukenali. Ada juga alat tulis lama. Terus, aku menemukan
dua set perlengkapan bisbol yang sudah usang.
"Bikin kangen ya... eh gawat!
Waktunya!"
Aku ingin terus bernostalgia, tapi kalau
begini terus aku bisa telat ke kampus.
Aku menutup kardus itu rapat-rapat lagi,
lalu menyimpannya di dalam lemari.
"Masato~! Pagi!"
"Pagi, Koumi. Maaf ya, aku selalu
merepotkanmu buat ambil kursi."
"Nggak apa-apa! Santai saja! Aku kan
sudah di sini sejak jam kedua, jadi nggak masalah!"
Sesampainya di kampus, Koumi menyambutku.
Hari ini Koumi memakai kaus model *square
neck* dengan luaran kain renda tipis, dan bawahannya celana pendek putih.
Mengingat aku cukup sering bertemu dengannya, melihat dia selalu ganti-ganti
koordinasi pakaian setiap hari, sepertinya dia memang sangat perhatian soal
fesyen.
Katanya hari ini dia mau mengenalkanku
pada temannya.
Memang belakangan ini karena dia sering
ambil kelas bareng aku, aku khawatir hubungan pertemanan Koumi sendiri jadi
terbengkalai.
Jadi kalau aku bisa akrab dengan teman
Koumi dan semuanya bisa berjalan beriringan, itu akan sangat bagus. Aku sangat
setuju.
"Tapi syukurlah. Aku sempat khawatir
kalau belakangan ini Koumi nggak bisa main bareng teman-temanmu gara-gara
aku."
"Duh, apa-apaan sih! Jangan bicara
kayak Ibu-ibu dong!"
"Bukan begitu maksudku! Tapi aku
bakal berusaha biar bisa akrab sama temanmu kok."
Bakal runyam kalau sampai aku dibenci
temannya... aku harus hati-hati.
Koumi membalikkan badannya membelakangiku.
"……Tapi kalau terlalu akrab juga aku
bisa repot sih……"
"Hm? Kamu bilang sesuatu?"
"Nggak! Nggak ada apa-apa!"
Sepertinya dia bergumam sesuatu dengan
suara kecil, tapi nggak kedengaran jelas.
Pokoknya aku mengikuti Koumi masuk ke
dalam ruang kelas.
Lalu di barisan belakang bagian dalam, aku
melihat sosok seorang gadis.
Apa itu temannya?
Aku dan Koumi pun sampai di depan gadis
itu.
"Yak! Jadi ini sahabatku, Tonosaki
Mizuho! Terus, kalau yang ini tuh…… te-temanku, Katari Masato!"
Matanya bulat besar, dan rambut kuncir dua
(*twintail*) yang diikat rendah sangat cocok dengan wajahnya yang terlihat awet
muda.
Menurutku dia tipe anak imut yang masih
punya aura kekanak-kanakan.
"Halo! Aku sudah sering dengar
ceritamu dari Koumi lho~ Salam kenal ya!"
"……"
……Lho, lho? Apa kesan pertamaku gagal?
Apa ada yang salah dengan caraku menyapa?
"Mizuho?"
Mungkin merasa aneh, Koumi juga ikut
memanggil Mizuho.
"Ooooh! Maafkan kekhilafanku! Jadi
kamu toh yang namanya Masato-san! Aku sudah dengar banyak dari
Koumi-dono~!"
"Eh, oh, begitu ya?"
"Tentu saja! Wah~! Tapi beneran bikin
kaget! Memang beneran ganteng ya ternyata……"
"Mizuho, kamu beneran paham kan apa
yang aku bilang tadi……"
"Duh galaknya! Iya iya, maaf
deh~!"
Oalah, syukurlah. Ternyata dia tipe anak
yang sangat ceria.
Mizuho-chan mengangguk-angguk sambil
mengulurkan tangannya padaku.
"Perkenalkan, nama saya Tonosaki
Mizuho…… mohon bimbingannya."
"Hahaha. Kamu lucu ya. Aku Katari
Masato. Panggil saja Masato nggak apa-apa kok."
Aku menjabat tangannya. Tangannya terasa
mungil. Mungkin karena perawakannya juga satu atau dua ukuran lebih kecil dari
Koumi, makanya aku merasa begitu.
"Masato, kalau kamu ngikutin tensinya
Mizuho terus, kamu nggak bakal kuat sehari, jadi cuekin saja nggak apa-apa
kok."
"Gwaaa! Koumi, jadi selama ini kamu
menganggapku begitu!? Sungguh terlalu~"
Meski bicara begitu, ekspresi Koumi
terlihat cerah. Karena aku sudah sering dengar ceritanya dari dulu, mereka
sepertinya memang sangat akrab.
Sip. Baguslah kalau begitu.
Bel tanda kuliah dimulai berbunyi, jadi
kami pun duduk di kursi masing-masing.
Apa setelah ini kami bakal makin sering
ambil kelas bertiga ya?
Jam kelima berakhir.
Karena setelah kenalan tadi kami ambil
kelas yang sama, akhirnya kami terus bertiga sampai sekarang.
"Wah~ capek banget!! Nggak nyangka
kelas terakhir tadi tiba-tiba ada kuis ya."
"Kalau bukan karena materi yang
difotokan Koumi, aku bakal gawat nih..."
Kami keluar dari gedung kelas menuju jalan
pulang. Matahari sudah mulai miring sekarang.
Di sekeliling kami penuh dengan kebisingan
mahasiswa lain yang juga hendak pulang.
"Ah, gawat."
"? Kenapa, Koumi?"
Koumi yang sedang membuka tas *tote
bag*-nya berhenti melangkah, jadi aku dan
Mizuho-chan juga ikut berhenti.
"Sepertinya ada barangku yang
ketinggalan di kelas... Aku ambil dulu ya, kalian berdua pulang duluan saja
nggak apa-apa!"
Begitu toh. Tapi karena kami baru saja
keluar dari gedung dan kelas tadi ada di lantai dua, jaraknya lumayan dekat
kalau mau kembali sekarang.
"Aku nggak buru-buru kok, jadi aku
bakal tunggu di sini. Sini, titipkan saja tasmu. Biar aku yang bawakan.
Mizuho-chan sendiri gimana?"
"Bagi *sessha* juga *mou mantai*!
Tidak masalah! Aku bakal ikut menunggu!"
Mizuho-chan berpose damai (*peace*) dengan
penuh semangat. Setiap gerakannya selalu ekspresif, dan itu membuat gadis ini
terlihat seperti sebuah lukisan yang hidup.
"Maaf ya! Terima kasih! Kalau begitu
aku pergi sebentar~!"
Setelah menitipkan tas *tote bag*-nya
padaku, Koumi pun berlari kembali ke gedung kelas, melawan arus para mahasiswa
yang sedang berjalan keluar.
"Kalau begitu, kita tunggu di bangku
sebelah sana saja yuk."
"Ide bagus, Kak Masato! Wah~ tapi
beneran deh, Kak Masato ini baik sekali ya~"
"Nggak juga, bukannya menunggu teman
itu sudah sewajarnya ya?"
"Oho, barusan *sessha* sempat
melihatnya lho. Kebaikan yang tertidur jauh di dalam lubuk hati Kak
Masato..."
"Kamu berlebihan ah~"
Kami duduk di bangku taman sambil menunggu
Koumi. Cahaya senja terasa menyilaukan, tapi sepertinya matahari akan segera
terbenam. Arus mahasiswa yang baru selesai kelas pun sudah mulai mereda,
membuat suasana di depan kampus sekarang terasa cukup sepi.
Tepat saat keheningan sesaat menyelimuti
kami.
"Ngomong-ngomong, Kak Masato."
"Hm?"
Mizuho-chan yang tadi sudah duduk,
tiba-tiba berdiri dengan penuh semangat. Dia berdiri tepat di depanku, lalu
membetulkan posisi topi *marine cap* biru tua miliknya hingga menutupi dahinya
lebih dalam.
"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan
pada Kak Masato!"
"……Ya?"
Meskipun nada bicaranya masih terdengar
seperti sedang bercanda. Namun, sepasang mata *sky blue* miliknya menatap lurus
ke arahku. Sosoknya yang berdiri membelakangi matahari terbenam itu terlihat
sangat menawan, menciptakan atmosfer yang terasa begitu magis.
Melihatnya tersenyum dengan cara yang
begitu memikat, jantungku pun mendadak berdegup kencang.
───● Si Mahasiswi Ceria Menahan
Diri ●○●
"Halo! Aku sudah sering
dengar ceritamu dari Koumi lho~ Salam kenal ya!"
……Lho?
Rasanya aku pernah dengar suara ini di
suatu tempat…….
Meskipun aku sudah dengar dari Koumi
sebelumnya, pemuda yang berdiri di depanku ini memang sangat tampan.
Tingginya sekitar 175 cm. Tidak berotot,
tapi juga tidak terlalu kurus.
Kaos putih yang dipakainya agak longgar,
ditambah kalung berbahan kulit yang melingkar di lehernya sebagai aksen yang
pas tanpa terlihat berlebihan.
Senyumnya yang ramah menunjukkan kalau dia
sama sekali tidak punya niat buruk padaku.
"……Mizuho?"
(……Duh, nggak boleh, nggak boleh! Dia kan
cowok yang disukai Koumi, lagipula aku kan sudah punya orang takdir yang sudah
kuputuskan di dalam hati……!)
Aku sempat berpikir wajar saja kalau Koumi
sampai jatuh cinta, sampai akhirnya Koumi memanggilku dengan nada khawatir.
Duh, bisa-bisanya aku melamun! Aku harus
membalas salamnya dengan benar.
"Ooooh! Maafkan kekhilafanku! Jadi
kamu toh yang namanya Masato-san! Aku sudah dengar banyak dari
Koumi-dono~!"
"Eh, oh, begitu ya?"
Oh, sudah dengar banyak sekali, tahu.
Belakangan ini, cerita Masato-kun dari
Koumi sudah jadi semacam acara rutin di antara teman-teman kami.
Tadinya kupikir itu pasti karena Koumi
pakai "kacamata cinta" jadi berlebihan, tapi ternyata memang
kenyataannya tidak beda jauh.
Sepanjang obrolan kami, pemuda di depanku
ini terus tersenyum. Dan gara-gara itu, Koumi juga ikut tersenyum.
Beneran deh, mereka kelihatan berkilau
banget. (Enak ya, Koumi. Kalau aku sudah ketemu orang takdirku nanti, apa aku
juga bisa jadi seperti itu……?)
Meski sekarang, bertemu saja belum.
Tapi karena dia orang yang sangat baik,
tidak apa-apa kan kalau aku berharap setinggi itu?
Saat Koumi sedang pergi mengambil
barangnya yang ketinggalan di kelas.
Aku teringat kalau aku belum meminta
tolong padanya, jadi aku menghadap ke arah Masato-kun.
Aku harus menyampaikan ini! Kita nggak
pernah tahu petunjuk bakal jatuh di mana, kan!
"Sebenarnya ya…… Masato-kun, aku
ingin minta bantuanmu untuk mencari orang takdirku!!"
"Eeeh!?"
Masato-kun membelalakkan matanya karena
kaget. Ekspresinya kaya banget ya.
"Sebenarnya aku nggak bisa cerita
detailnya sih…… tapi aku punya orang takdir. Dan orang itu kemungkinan besar……
mahasiswa kelas satu di universitas ini!!"
"Ho-hooo……?"
"Makanya, karena Masato-kun itu
laki-laki, kalau boleh, aku ingin kamu membantuku mencarinya!!"
Siapa tahu kan ada jaringan pertemanan
sesama cowok begitu…….
"Bo-boleh saja sih, tapi siapa
namanya?"
"Nggak tahu!"
"Nggak tahu toh!"
Saat aku membuat gerakan menyilang besar
dengan tanganku, Masato-kun juga bereaksi dengan gaya yang dilebih-lebihkan.
Reaksinya seru banget, bikin aku nggak tahan buat nggak ketawa.
"Eh, terus setidaknya fakultasnya
apa, atau ciri-cirinya……"
"Fakultasnya juga nggak tahu! Malah,
aku cuma yakin dia anak kelas satu di sini, tapi itu pun nggak pasti-pasti
banget!"
"Syaratnya terlalu berat lho!?"
Aku sendiri merasa permintaanku ini aneh.
Tapi aku tidak boleh menyerah!
"Tapi rambutnya gaya *all-back*,
terus tingginya…… sepertinya sekitar setinggi Masato-kun ya……?"
"Hm hm…… *all-back* memang termasuk
jarang ya."
Iya, kalau seandainya dia memang selalu
bergaya *all-back*, rasanya bakal ketemu dengan cukup cepat!
Soalnya aku jarang banget lihat orang
bergaya *all-back* di kampus!
"Pokoknya pakai jaringan pertemanan
cowokmu itu ya…… kalau ketemu tolong kasih tahu!"
"Yah, aku bakal senang kalau bisa
membantu, tapi……"
Masato-kun memasang wajah sulit.
Apa jangan-jangan aku terlalu tidak tahu
malu ya tiba-tiba minta tolong begini……?
Saat aku mencuri pandang ke arah wajahnya,
dia terlihat sedang menggaruk pipi dengan canggung.
"Aku…… nggak punya teman, lho."
Kata-kata yang keluar darinya sungguh di
luar dugaan.
"Lho, kok bisa!"
Masato-kun tersenyum kecut karena malu. Si
ganteng ini, gerakan kecil begitu saja tetap terlihat seperti lukisan, curang
banget!
"Makanya, kalau aku kebetulan lihat
orang yang mirip seperti itu nanti bakal kukabari…… segitu saja nggak
apa-apa?"
"Kamu rajin banget sih!! Makasih ya!
Aku benar-benar berterima kasih atas bantuannya!"
Teringat juga sih Koumi pernah bilang
kalau Masato-kun ini telat masuk kuliah makanya temannya sedikit…… aduh, aku
jadi nggak enak sudah minta yang aneh-aneh…….
Sambil mengobrol begitu, Koumi datang
berlari dari kejauhan.
"Maaf ya, terima kasih! Ayo
jalan!"
"Sip, selamat datang kembali~"
"Koumi! Masato-kun juga bakal bantu cari orang takdirku!!"
"Ooh~ bagus dong! Masato, apa ada
orang yang terlintas di pikiranmu?"
"Nggak, aku sama sekali nggak
tahu."
Bersama Koumi dan Masato, kami berjalan
menuju stasiun. Rasanya kehidupan kampusku mulai sekarang bakal sangat
menyenangkan!
Jarak dari universitas ke stasiun terdekat
sekitar 10 menit jalan kaki.
Waktu singkat 10 menit itu terasa berlalu
sekejap karena kami bertiga terus mengobrol di sepanjang jalan.
"Kalau gitu aku naik kereta yang arah
sini ya! Sampai jumpa!"
"Daaaah! Sampai besok ya!"
"Dah~!"
Kebetulan arah keretaku dan Masato-kun
sama, cuma Koumi yang beda arah.
Setelah mengantar Koumi sampai gerbang
tiket jalurnya, aku dan Masato-kun berjalan menuju gerbang tiket yang lain.
Mumpung cuma berdua sama Masato-kun, tanya
hal yang bikin penasaran ah~.
"Sebenarnya, hubunganmu sama Koumi
itu gimana sih~?"
"Eh? Hm~ nggak ada yang perlu
dicurigai kok. Teman biasa, beneran."
"Eeeh~ masa sih~?"
Aku menyikut-nyikut pinggang Masato-kun.
Kalau dia menunjukkan sedikit saja rasa gugup, berarti Koumi masih punya
peluang…… pikirku.
"Gimana ya, Koumi itu beneran baik
banget. Dia mau bersikap baik padaku yang nggak punya teman sama sekali……
sejujurnya aku bersyukur. Makanya aku merasa lebih kuat perasaan 'nggak ingin
mengkhianatinya'."
"……"
Sangat serius. Masato-kun ini beneran
orang yang sangat serius.
Hmm, kalau begini sepertinya dia belum
sadar sama sekali soal perasaan Koumi ya……?
Semangat ya, Koumi…….
"Lagipula aku sudah dengar dari Koumi
kalau Mizuho-chan itu anak yang baik. Kalian beneran akrab ya."
"Tentu saja! Koumi sesekali
kinerjanya bagus juga ya! Benar sekali! Aku ini memang anak baik!"
"Ahahaha. Bisa-bisanya kamu bilang
begitu sendiri!"
Obrolan dengan Masato-kun terasa sangat
nyaman dan menyenangkan.
Mungkin karena itu.
Aku jadi lengah. Saat melihat dua orang
yang berjalan dari arah depan…… seluruh tubuhku seketika membeku.
"……? Mizuho-chan?"
Refleks aku bersembunyi di balik punggung
Masato-kun…… tapi sepertinya sudah terlambat.
"……Hm?"
Dua orang di depanku itu…… adalah senior
dari klub bulu tangkisku. Orang yang pernah kunyatakan cinta, Kak Keito, dan
Kak Satsuki, senior kelas tiga yang akrab dengannya.
Kumohon jangan sampai sadar…… tadinya
kupikir begitu, tapi saat berpapasan, matanya bertemu denganku.
"Ternyata beneran dia. Siapa ya
namanya, Tonosaki……? Kalau nggak salah Mizuho ya."
"……"
Buruk sekali.
Kenapa harus di saat seperti ini sih…….
"Oh, anak kelas satu yang nembak
Keito itu?"
"Iya, itu! Gara-gara Satsuki suruh
aku baikin anak kelas satu, makanya jadi ada cewek yang salah paham
begini."
"Eh, jadi salahku ya?"
……Aku ingin segera pergi dari sini.
Aku mendorong punggung Masato-kun, lalu
bergumam pelan mengajaknya pergi.
"Tunggu dulu."
Tapi, dia tidak membiarkanku pergi begitu
saja.
"Apa-apaan? Padahal baru nembak,
sudah ganti gandengan baru? Hebat ya~ cepat banget cari penggantinya. Dasar
jelek, kalau nggak nempel sama cowok nggak bisa hidup ya?"
"Keito, mending jangan
berlebihan..."
Aku tidak melihat wajahnya, tapi aku tahu
hanya dari suaranya. Nada bicaranya benar-benar menghina. Aku yakin dia pasti
sedang melihatku sambil menyeringai.
Aku bahkan tidak sudi melihatnya.
"Tuh, cowok yang kamu suka lagi
panggil kamu, lihat ke sini dong?"
Buruk sekali.
Kenyataan bahwa hal memalukan seperti ini
dilihat oleh Masato-kun juga... padahal aku pikir kami baru saja bisa akrab,
tapi sekarang dia pasti akan merasa ilfeel padaku...
Hari penolakan yang bahkan tidak ingin
kuingat itu kembali berkelebat di ingatanku. Jangan.
"Aku memang orang luar, dan nggak
terlalu paham apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian, tapi..."
Tanpa kusadari, Masato-kun sudah berdiri
di antara aku dan senior itu.
"Ada satu hal yang sudah jelas
bagiku, jadi bisa tolong ditarik kembali ucapannya?"
"Siapa sih lo?"
"Gue? Gue temannya Mizuho."
"Sudah gue duga, mana mungkin
pacarnya. Cowok mana yang mau pacaran sama cewek jelek kayak begini."
"Itu dia maksud gue."
Aku tidak bisa melihat ekspresinya.
Tapi tanpa melihat pun, aku tahu kalau
nada bicaranya sedang menahan amarah yang meledak.
"Dia nggak jelek. Mizuho-chan itu
imut tahu."
"...Hah? Cuma itu?"
"Gue nggak tahu detail masalahnya.
Gue juga cuma dengar ceritanya dari orang lain. Tapi, kalau ada satu hal yang
bisa gue bilang salah dari ucapan lo, anak ini nggak jelek. Baik kepribadian
maupun penampilannya. Dia gadis yang baik hati dan luar biasa."
...
"Apaan maksud lo soal posisi lebih
tinggi? Apa orang yang ditembak itu derajatnya lebih tinggi dari yang
nembak?"
"Pemikiran lo itu beneran bikin salah
paham ya. Bikin gue muak. Gue nggak suka sama sikap lo terhadap gadis yang
sudah menyampaikan perasaannya dengan tulus."
"...! Lo...!"
Kak Keito melangkah mendekati Masato-kun.
...Aku harus menghentikannya.
Tapi.
Kenapa jantungku berisik sekali?
Kenapa wajahku terasa sangat panas? Di
belakang Masato-kun, aku mencengkeram erat kemejanya.
"Ya sudah, kalau gitu lo mau kan
pacaran sama dia? Gue sih nggak sudi pacaran sama cewek jelek kayak gini, tapi
kalau lo mau ya silakan."
"Gue nggak sudi bicara soal dia
dengan orang yang sama sekali nggak memedulikan perasaan orang lain, dan cuma
menganggap orang sebagai alat buat memastikan nilai dirinya sendiri."
"...Lo beneran bodoh ya. Padahal muka
lo lumayan... Sudahlah. Bikin nggak mood saja. Satsuki, ngapain bengong, ayo
pergi."
...
Para senior itu pergi.
Hanya tersisa aku dan Masato-kun.
"Ah–... Maaf ya, Mizuho-chan.
Klubmu... jadi makin sulit buat didatangi ya... Harusnya aku nggak asal
bertindak tanpa berpikir panjang begini..."
"..."
Bukan itu masalahnya. Toh klub bulu
tangkis itu memang sudah sulit untuk kudatangi.
Dibandingkan itu, aku merasa lebih
bersalah karena sudah melibatkan Masato-kun.
Tapi, lebih dari itu.
"Aku merasa nggak enak kalau orang
yang nggak tahu apa-apa sepertiku malah ikut campur... tapi aku beneran nggak
bisa tahan. Maaf ya."
"..."
Jangan. Hentikan.
Kamu beneran... terlalu baik.
Habisnya. Aku kan sudah punya orang yang
kutentukan di dalam hati, dan orang di depanku ini adalah orang yang disukai
Koumi.
Senyum canggungnya itu beneran menusuk
jantungku. Aku tidak bisa menahan debaran dadaku.
Ah, aku iri sekali.
Koumi bisa bilang dengan lantang kalau dia
suka orang ini.
Tarik napas panjang.
Hanya dengan segitu sih debaran ini nggak
bakal hilang, tapi setidaknya aku merasa sedikit
lebih tenang.
*Semangat, diriku,* gumamku pelan. Lalu.
Seketika, tangannya diletakkan di bahuku.
"Nggak perlu dipaksakan kok."
"Eh...?"
"Nggak perlu dipaksakan. Kalau lagi
berat, bilang saja berat. Aku... memang baru kenal Mizuho-chan beberapa jam,
tapi aku tahu kamu sedang berusaha bersikap ceria. Tapi kamu nggak perlu
memaksakan diri di saat sedang terluka. Nggak ada orang yang nggak bakal sakit
hati kalau dikatain seperti tadi."
"..."
"Aku belikan menu baru di kafe itu
ya! Tunggu sebentar di sini. Selama itu, kamu bisa menenangkan pikiranmu. Aku
bakal dengerin ceritamu kok. Makanya, jangan dipaksakan."
Masato-kun berkata begitu lalu berjalan
menuju kafe.
Punggungnya perlahan menghilang dari
pandangan.
Aku hanya bisa terduduk lemas sambil
memegang dadaku.
"Sesak rasanya..."
Air mataku menetes.
Tapi alasan air mata ini menetes pasti
berbeda dengan saat itu.
Apa aku beneran se-gampang itu ya...?
Kenapa ya. Suara itu, sosok itu, beneran
membekas di dalam dadaku.
Aku tahu apa nama perasaan yang muncul di
hati ini. Tapi, aku tidak boleh mengatakannya.
"Tahan... aku harus
menahannya...!"
Rasa bersalah pada Koumi.
Perasaan terhadap Masato-kun.
Dan kejadian dengan orang takdirku.
Berbagai perasaanku bercampur menjadi
satu, berubah menjadi air mata.
Terus mengalir jatuh.
Cinta itu, rasa suka itu, ternyata sesulit ini.



Post a Comment