NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjohi 1:5 no Sekai demo Futsu ni Ikirareru to Omotta? Geki Juu Kanjou na Kanojotachi ga Mujikaku Danshi ni Honrousaretara Volume 1 Chapter 2

Chapter 2: Nama Untuk Perasaan Yang Tak Tertahan


 

───●Teman Masa Kecil Tipe Mahasiswi Merasa Cemburu●○●

 

Liburan musim panas dalam hidup.

 

Karena masuknya sulit tapi lulusnya mudah, kehidupan kampus di Jepang sering kali dijuluki seperti itu.

 

Tentu saja itu tidak berlaku bagi sekolah kejuruan atau universitas jurusan sains, tapi untuk jurusan sastra, memang banyak tempat yang terasa seperti itu.

 

Universitas tempatku belajar ini, jika dikategorikan secara garis besar, termasuk ke dalam tipe "liburan musim panas".

 

Selama menjalani keseharian dengan normal, aku rasa aku bisa lulus... kupikir begitu.

 

Justru karena masuknya yang sulit, sepertinya tidak banyak mahasiswa yang tersiksa oleh tugas perkuliahan.

 

Dan karena disebut sebagai liburan musim panas dalam hidup, semua mahasiswa ingin menikmati kehidupan kampus mereka sepuasnya.

 

"Laki-laki! Nggak ada yang bisa ditangkap!"

 

...Mizuho──**Tonosaki Mizuho**──yang duduk di sebelahku, sepertinya tipe orang yang ingin menikmati hidup dengan habis-habisan di bidang asmara.

 

"Ini sudah dua bulan sejak masuk kuliah, lho!? Harusnya satu atau dua laki-laki sudah bisa ditangkap, kan!?"

 

"Nggak gitu juga, standar kamu ketinggalan zaman tahu..."

 

Mizuho menggerakkan kepala dan kuncir dua khasnya dengan heboh untuk menunjukkan perasaannya.

 

Satu atau dua orang kata kamu... Kamu tahu nggak sih berapa banyak perempuan yang mengakhiri masa kuliahnya tanpa pernah punya satu pun pacar...

 

"Nggak mau tahu! Ini kan kehidupan kampus yang berharga!? Kalau nggak bisa kencan berkali-kali sama pacar terus main mesra-mesraan, ya nggak ada gunanya!"

 

"Bisa nggak suaranya jangan kencang-kencang kalau bahas begituan..."

 

"Pokoknya, dalam waktu dekat aku harus mengadakan kencan buta kelompok (*gokon*). Saat itu, Koumi-dono wajib ikut ya!"

 

"Kamu siapa sih, pakai logat begitu segala."

 

Temanku ini sepertinya sudah agak konslet otaknya karena hawa panas. Yah, memang dari sananya dia anak yang tensinya tinggi seperti ini, sih.

 

Saat aku sedang menghela napas, tiba-tiba Mizuho memutar leher dan kuncir duanya, lalu menatapku tajam.

 

Eh, apa sih? Seram tahu.

 

"Hei, Koumi. Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, kan?"

 

"Eh? Kayaknya... nggak ada deh..."

 

"Pasti ada! Kalau begitu..."

 

Mizuho menunjuk tepat ke wajahku dengan jari telunjuknya.

 

"Siapa cowok ganteng yang selalu kuliah bareng kamu itu!"

 

"Deg..."

 

Ternyata ada yang kusembunyikan darinya.

 

"Pantas saja belakangan ini aku merasa ada yang aneh. Kamu mulai bilang nggak bisa ambil kelas bareng aku lagi. Padahal pas aku tanya teman-teman yang lain, mereka juga bilang: 'Belakangan Koumi tiba-tiba nggak mau ambil kelas bareng lagi'."

 

Aku sudah tahu suatu saat ini pasti bakal ketahuan.

 

Masalahnya, selama ini hampir di setiap mata kuliah aku punya teman untuk masuk bareng.

 

Karena aku menolak hampir semuanya dengan alasan tidak bisa ambil kelas bareng lagi, ya jelas saja langsung ketahuan...

 

"Terus pas aku iseng melirik ke pojok kelas? Ternyata ada cowok ganteng di sana? Dan ada Koumi yang lagi senyum-senyum baper di sebelahnya?"

 

"Ma-mana ada aku senyum-senyum baper!"

 

"Ada tahu! Itu tadi jelas-jelas wajah perempuan yang lagi jatuh cinta!"

 

A-apa sejelas itu ya... aku jadi malu sendiri.

 

"Yah, ya sudah kalau begitu... tapi kamu bakal ngenalin dia ke aku, kan?"

 

"Ah... anu... itu..."

 

Aku sudah punya firasat ini bakal terjadi.

 

Pada dasarnya jumlah laki-laki memang sedikit, dan... meskipun sekarang dia *belum* jadi milikku, **Masato** itu benar-benar keren, kepribadiannya sempurna, dan dia adalah "aset berharga". Bukan cuma berharga, kalau sampai sifat asli Masato diketahui orang lain, para perempuan pembawa label "terjual" pasti akan berbondong-bondong datang merubungnya.

 

Tentu saja akan kuhancurkan mereka semua.

 

Justru karena itulah, pertemuan saat itu benar-benar sebuah keajaiban. Bukan sekadar keajaiban... tapi lebih seperti takdir.

 

Iya kan? Pertemuan setakdir itu bahkan jarang ada di dalam komik.

 

"Anu──Koumi-san?"

 

"Ah, maaf, maaf."

 

Ini bukan waktunya melamun. Yah, wajar saja kalau dia minta dikenalkan... tapi aku harus bagaimana?

 

Jujur, hatiku sudah mantap sejak lama.

 

"Maaf. Untuk yang satu itu, aku benar-benar nggak bisa."

 

"Eeeh! Kenapa!? Padahal kita sudah janji bakal berbagi informasi soal laki-laki!"

 

"Maaf!"

 

"..."

 

Aku menangkupkan kedua tangan dan menundukkan kepala, memotong perkataan Mizuho.

 

Memang benar, seperti yang Mizuho katakan, aku sudah membuat janji itu.

 

Sejujurnya saat itu aku tidak menyangka akan jatuh cinta sedalam ini pada satu orang, pikiranku waktu itu cuma sebatas "ingin coba pacaran sama seseorang".

 

Tapi sekarang, semuanya sudah berbeda.

 

"Aku serius, Mizuho. Maaf... orang itu... Masato tidak akan kuberikan pada siapa pun."

 

Cinta pertama yang kusadari.

 

Hanya ini yang tidak bisa kuberikan pada siapa pun.

 

Saat aku terus menundukkan kepala, terdengar suara helaan napas dari Mizuho.

 

"Haaa... kalau sahabatku sendiri sudah menunduk sampai begitu, aku nggak bisa bilang apa-apa lagi."

 

"Maaf... terima kasih ya."

 

"Tapi! Sebagai gantinya, semua informasi laki-laki lain harus kamu kasih ke aku! Kalau kamu mau memonopoli cowok ganteng itu sendirian, kamu harus ngenalin cowok lain ke aku!"

 

"Ahahaha... aku usahakan sebisanya ya..."

 

Ternyata Mizuho memang anak yang baik. Kalau, kalau saja aku punya kesempatan bicara dengan laki-laki lain selain Masato, aku pasti akan mengenalkannya pada Mizuho.

 

Setelah berpisah dengan Mizuho, aku sampai di ruang kelas jam kedua.

 

"Lho... Masato belum datang ya?"

 

Biasanya dia sudah sampai 15 menit sebelum kuliah dimulai dan kami berkumpul, tapi sampai sekarang belum ada kabar darinya.

 

"Ya sudah deh. Aku pesankan kursi dulu saja."

 

Aku masuk ke ruang kelas yang masih sepi dan berjalan lurus ke kursi paling belakang. Aku menaruh tas di kursiku dan di kursi sebelahnya untuk mengamankan tempat.

 

Di sinilah Masato akan duduk.

 

Hanya memikirkan itu saja, sudut bibirku otomatis terangkat.

 

"Aku kirim pesan dulu ah."

 

Sambil duduk, aku membuka ponselku.

 

Kami bertukar kontak dalam sekejap. Begitu aku bilang ingin mengirim foto materi kuliah, dia langsung setuju. Rasanya bodoh sekali aku sempat merasa tegang.

 

Apa dia bakal merasa risih ya kalau aku pakai emotikon hati... ah, tapi kan ini Masato. Dia pasti tidak akan berpikiran buruk seperti itu.

 

Setelah menjalani kehidupan kampus bersama Masato selama sekitar satu bulan lebih, yang kurasakan adalah kepribadiannya yang terlalu baik. Sebenarnya aku sudah merasakannya sejak awal, tapi ini benar-benar keterlaluan. Saking baiknya, aku sampai khawatir.

 

Apa yang kukhawatirkan? Karena sifatnya yang terlalu baik itu, pertahanan Masato terhadap perempuan sangatlah longgar. Jika dipikir secara normal, itu sudah di tahap yang tidak masuk akal.

 

Yah, berkat itu juga aku bisa akrab dengannya, tapi sebagai orang yang sudah sangat dekat dan berniat mengincarnya, ini benar-benar mencemaskan. Aku bisa merinding ketakutan kalau membayangkan dia sampai ditipu oleh perempuan jalang yang licik.

 

(*Aku harus melindunginya...*)

 

Karena itulah, selama di universitas, aku yang akan menjaganya.

 

Aku akan berusaha sesering mungkin bersamanya. Dan suatu saat nanti... di luar kampus pun, aku ingin melindunginya. Hehe.

 

*Piron*, notifikasi berbunyi dan aku segera mengeluarkan ponsel.

Sebuah stiker kucing menggemaskan yang bilang "Terima kasih!" dikirim oleh Masato.

 

Bahkan sampai hal sekecil ini pun dia sangat imut...

 

Tenang saja, aku pasti akan melindungimu.

 

Sekitar sepuluh menit setelah kuliah dimulai, Masato muncul di ruang kelas. Dia masuk dari pintu belakang sambil celingak-celinguk. Imut sekali.

 

Aku melambaikan tangan agar Masato menyadariku. Begitu dia melihatku, dia mulai berjalan ke arah sini. Hm. Baju biasanya hari ini juga keren. Kesannya lebih *sporty* dari biasanya. Masato memang punya selera fesyen yang luar biasa bagus.

 

"Makasih banyak ya, Koumi."

 

"Nishishi... Kalau buat Masato, hal begini sih gampang banget tahu ♪"

 

Kami saling memanggil nama seperti ini dan mengikuti kuliah bersama.

 

Bagiku, setiap hari adalah waktu yang terasa seperti mimpi. Namun, sudah sebulan sejak kehidupan ini dimulai.

 

Sudah waktunya... sudah waktunya untuk melangkah ke tahap berikutnya, bukan? Begitulah pikirku.

 

(*Hm... kalau begitu, situasi sekarang ini... bisa dimanfaatkan, kan?*)

 

Sambil menyeka keringat dengan sapu tangan, aku memandangi profil wajah Masato dari samping yang sedang mengeluarkan alat tulis.

 

Aku menyukai Masato. Tapi kalau aku menyatakannya sekarang, peluang menangnya tipis.

 

Wajar saja, karena kami belum benar-benar banyak menghabiskan waktu bersama. Masato pasti tidak akan langsung mengiyakan pernyataan cinta dari orang yang baru dikenalnya beberapa minggu.

 

Karena aku benar-benar ingin menjadikan Masato pacarku, kegagalan tidak boleh terjadi. Itulah sebabnya aku tidak bisa menyatakan cinta kecuali aku sudah punya keyakinan kalau aku tidak akan ditolak.

 

Segala sesuatu butuh tahapan, dan yang dibutuhkan sekarang adalah menjadi lebih akrab.

 

Cara tercepat untuk menjadi akrab adalah... kencan.

 

Aku akan mencoba peruntunganku.

 

Aku menarik ujung kaus Masato yang sudah dalam posisi tenang siap mendengarkan kuliah.

 

"...Hei, mumpung aku sudah pesankan kursi, hari ini ayo makan bareng."

 

...Apa ini terlalu agresif? Tapi kalau tidak begini, dia tidak akan pernah menyadari perasaanku.

 

"Ah~, ma-af banget, hari ini aku ada kerja sambilan."

 

*Guh*... tapi ini sudah kuduga. Soalnya Jumat lalu pun dia menolak karena alasan yang sama. Kalau begitu, aku masih punya taktik lain.

 

"Eeeh. Apa Masato selalu ada kerja sambilan setiap hari Jumat?"

 

"Iya, hampir selalu begitu sih."

 

"Begitu ya~ Kalau begitu, hari Senin depan gimana!"

 

"Kalau Senin sih boleh saja, nggak masalah."

 

"Yess!"

 

Berhasil! Aku dapat janji kencan!

 

Saking senangnya, aku refleks melakukan gerakan kepalan tangan tanda kemenangan. Tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar bahagia!

 

Seketika, di dalam kepalaku mulai tersusun berbagai rencana kencan. Hari Senin kuliah cuma sampai jam keempat, jadi harusnya selesai sekitar jam 17.00.

 

Untuk makan malam tentu saja aku akan memesan tempat, tapi sebelumnya kami mau ke mana? Belanja di depan stasiun? Nonton film... kayaknya waktunya agak mepet. Pergi karaoke juga tidak buruk.

 

Sambil membayangkan berbagai fasilitas di stasiun terdekat, aku mencari cara yang paling bisa membuat Masato senang. Isi kuliah sama sekali tidak ada yang masuk ke otakku.

 

"...Hei."

 

"......?"

 

Di saat itulah, Masato memanggilku dengan suara pelan.

 

Ah, gawat. Aku sama sekali tidak mendengarkan kuliah, gimana kalau ditanya soal materi?

 

Namun, dugaanku salah.

 

"Apa beneran nggak apa-apa? Daripada kuliah denganku, kamu pasti lebih ingin kuliah bareng teman-temanmu yang lain, kan...?"

 

"...... Hmー? Enggak juga tuh. Kalau sama teman yang lain kan bisa ketemu di klub."

 

...Apa maksudnya? Tentu saja tidak. Aku ingin kuliah bersama Masato. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.

 

Perasaan sesak mulai bersarang di dadaku.

 

Dan dia malah menambah serangan lagi.

 

"Maksudku, sesekali kamu kuliah bareng teman-temanmu juga nggak apa-apa kok. Lagipula aku sudah terbiasa sendirian."

 

...Kenapa kamu bicara begitu?

 

Seketika, emosi gelap bergejolak di dalam dadaku.

 

"Kenapa?"

 

Suaraku keluar dengan nada yang sangat dingin, bahkan aku sendiri sampai terkejut.

 

"Eh, nggak, maksudku... mana tahu Koumi ingin kuliah bareng teman yang lain gitu."

 

"Apa Masato nggak suka kuliah bareng aku? Jangan-jangan, kamu ingin kuliah bareng perempuan lain?"

 

Padahal aku tidak ingin bicara ketus begini. Tapi gelombang emosi gelap terus merangsek naik dan tidak bisa berhenti.

 

"Enggak, enggak, enggak! Bukan begitu! Aku beneran berterima kasih, dan nggak ada yang lebih membahagiakan daripada bisa kuliah bareng gadis cantik sepertimu, beneran! Lagian aku nggak punya teman lain selain kamu!"

 

...Ga-gadis cantik?

 

Barusan dia panggil aku gadis cantik?

 

"Ga-gadis cantik? Masa sih? Apa menurut Masato, aku imut?"

 

"I-iya lah. Kamu itu imut kok. Kamu boleh lebih percaya diri, tahu."

 

Eh, aku senang sekali. Tiba-tiba hatiku terasa hangat dan nyaman.

 

"Gitu yaー Ehehe... Imut ya..."

 

Aku tidak tahu kalau dibilang imut oleh orang yang kusuka rasanya akan sebahagia ini. Aku benar-benar bersyukur sudah berusaha keras merawat diri selama ini.

 

Lalu aku teringat apa yang dikatakan Mizuho pagi tadi.

 

──Ternyata benar, sepertinya aku memang sedang senyam-senyum baper.

 

Setelah jam ketiga berakhir, Masato pulang.

 

Aku mengantarnya sampai ke pintu keluar universitas, lalu berbalik menuju kelas untuk jam keempat.

 

Di tengah perjalanan, aku teringat kembali kejadian di jam kedua tadi.

 

(*Padahal aku tidak ingin bicara ketus begitu...*)

 

Aku sendiri tidak mengerti. Hanya dengan membayangkan Masato mungkin ingin bertemu gadis lain, emosi gelap di dalam hatiku langsung bergejolak liar. Sebuah perasaan cemburu yang buruk.

 

Seingatku, Masato juga tampak sangat panik tadi. Padahal dia sama sekali tidak bilang ingin mengikuti kuliah bersama gadis lain.

 

(*Padahal Masato orang yang sangat baik... tapi aku...*)

 

Tanpa sadar aku merasa benci pada diriku sendiri. Namun, bahkan sekarang pun, jika

 

Masato bilang ingin bermain dengan gadis lain, aku merasa akan tetap mengatakan hal yang sama.

 

Aku akan tetap berpikir, "Kan ada aku, kenapa nggak sama aku saja?".

 

Ini pertama kalinya aku mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Setiap hari terasa sangat menyenangkan.

 

──Namun, aku juga merasa tidak sanggup mengendalikan emosi yang teramat besar ini.

 

Aku harus berhati-hati... Kalau sampai dia membenciku, mungkin aku tidak akan pernah bisa bangkit lagi.

 

Ah, begitu ya. Jatuh cinta dan menyukai seseorang... akhirnya membuatku menyadari satu hal.

 

Ternyata aku──adalah perempuan yang sangat gampang cemburu.

──● Anak SMP Anggota Ekskul Basket Menjadi Aneh ●○●

 

Sudah satu bulan berlalu sejak aku mulai bermain basket bersama Kakak.

 

Belakangan ini, bermain basket bersamanya terasa sangat menyenangkan sampai aku tidak bisa menahannya lagi.

 

Hari ini hari Jumat. Begitu pelajaran jam kelima yang sedang berlangsung ini selesai, aku bisa bertemu dengannya.

 

Ekskul basket yang kuikuti benar-benar beruntung karena kebetulan hari Jumat libur, jadi aku sangat senang bisa pergi ke tempat Kakak tanpa ragu sedikit pun.

 

Di dalam kelas, mungkin karena ini pelajaran Bahasa Jepang setelah jam makan siang, ada beberapa anak di sekitarku yang mulai terkantuk-kantuk.

 

Tapi aku sama sekali tidak mengantuk karena terlalu menantikan apa yang akan terjadi setelah ini.

 

Saat aku sedang merasa riang, bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi.

 

Asyik! Aku bisa pergi ke taman!

 

"Baiklah, petugas piket, silakan pimpin salam~"

 

Anak yang bertugas piket memberi aba-aba, lalu guru pun keluar kelas.

 

Setelah ini tinggal menunggu wali kelas datang, lalu aku mau cepat-pulang!

 

Saat aku sedang memasukkan buku pelajaran dan barang lainnya ke dalam tas untuk bersiap-siap pulang lebih awal, Rika-chan yang sesama anggota ekskul basket menyapaku.

 

"Yuka~! Hari ini Yusuke-kun mengajak latihan mandiri, jadi beberapa anak mau ke gedung pusat komunitas, Yuka ikut juga yuk!"

 

"Ah~... anu... itu..."

 

Yusuke-kun adalah salah satu anggota laki-laki di ekskul basket.

 

Dia tidak terlalu jago basket, tapi dia sering mengobrol dengan anak perempuan, jadi dia cukup populer di kelas maupun di ekskul. Aku juga tidak membencinya, tapi kami bukan teman akrab yang sampai harus mengobrol khusus begitu...

 

Dan di atas segalanya, hari ini aku sudah memutuskan untuk bermain basket bersama Kakak.

 

"Maaf! Hari ini aku ada urusan!"

 

"Eeeh! Minggu lalu kamu juga bilang begitu terus langsung pulang~, emangnya ada apa sih?"

 

"Itu sih~~ anu~~..."

 

Gawat, aku harus bilang apa ya?

 

Kalau aku bilang mau pergi main basket berdua saja dengan kakak-kakak yang ganteng dan jago banget main basket, pilihannya cuma dua: antara aku dibilang tukang halu, atau mereka bakal minta dikenalkan...

 

"Anu... mau main basket..."

 

"Lho? Kalau gitu kan nggak apa-apa kalau main bareng-bareng?"

 

"Anu, aku sudah janji sama orang! Jadi, maaf ya!"

 

*Puk*, aku menangkupkan kedua tangan sambil meminta maaf.

 

Aku sadar kalau aku jadi kurang bergaul. Tapi, hanya waktu bermain basket dengan Kakak inilah yang benar-benar tidak bisa kuberikan kepada siapa pun...!

 

"Hmm, ya sudah kalau begitu. Tapi kalau nanti ada yang jadi dekat sama Yusuke-kun, jangan menyesal ya kalau kamu ketinggalan~!"

 

"Ah, kalau itu nggak apa-apa kok."

 

Menurutku dia orang baik, tapi bukan tipeku sih...

 

Aku pun berhasil melepaskan diri dari teman sekelas dan segera meninggalkan sekolah.

 

Sejak bertemu Kakak... lebih tepatnya, sejak aku menyukai Kakak, setiap hari terasa jadi lebih berwarna.

 

Aku yakin saat ini Kakak belum melihatku sebagai lawan jenis atau target romantis.

 

Tapi, tidak apa-apa. Sekarang aku akan sering-sering tebar pesona, dan nanti saat aku sudah SMA, kalau dia mulai menyadariku... aku akan sangat bahagia.

 

"Belakangan ini Yuka agak aneh nggak sih?"

 

"Iya kan! Belakangan dia suka senandung pas jam istirahat, terus pas jam pelajaran selesai langsung buru-buru pulang..."

 

"Hei~ aku kepikiran... jangan-jangan Yuka lagi ketemuan sama cowok dari sekolah lain...?"

 

"Eeeh masa sih!?"

 

"Tapi bisa jadi lho... Belakangan kadar 'senyam-senyum' dia pas lagi baca buku di jam pelajaran juga kayaknya makin parah."

 

"Apa ada hubungannya...?"

 

"Nanti kapan-kapan kita tanya Yuka yuk. Dia ngapain sih sampai buru-buru pulang begitu!"

 

Gawat, gawat! Gara-gara tadi mengecek di cermin rumah apakah penampilanku aneh atau tidak, aku jadi menghabiskan terlalu banyak waktu!

 

Mungkin di jam segini, kalau seperti biasanya, Kakak sudah berada di taman.

 

Aku berlari sekencang mungkin menuju taman. Ujung-ujungnya kalau lari begini rambutku jadi berantakan juga, percuma tadi dicek di cermin~.

 

Sekarang sudah benar-benar musim semi, dan sinar matahari pun mulai terasa cukup terik.

 

Sambil berlari, aku bisa merasakan keringat mengalir di dahi. Bakal jadi yang terburuk kalau dia sampai berpikir aku bau keringat... Untungnya aku bawa deodoran semprot, sih...!

 

Sambil berlari, terdengar suara pantulan bola yang biasa di tanah. Tidak salah lagi. Kakak sudah ada di sana!

 

Aku berhenti sejenak di balik bayangan pohon, lalu mengeluarkan deodoran semprot dari ransel dan menyemprotkannya ke baju.

 

Aku mengeluarkan cermin saku dari tas kecilku dan mengecek kondisi rambut.

 

Tidak aneh, kan. Oke.

 

Aku mengatur napas yang tersengal karena berlari dengan napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju lapangan.

 

Kakak sedang bermain basket.

 

Masih sama seperti biasanya, kendali bolanya sangat indah.

 

Ah, baju yang dia pakai hari ini juga keren...

 

Gaya berpakaian yang longgar dan santai, gaya yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh anak laki-laki sebayaku.

 

Mungkin karena dia berniat olahraga, celananya pun model tujuh per delapan yang agak longgar. Atasannya cuma kaus lengan pendek biasa dan terlihat simpel, tapi sepertinya tadi dia sempat memakai rompi yang sekarang tergantung di bangku itu. Benar-benar keren...

 

Aduh, nggak boleh, nggak boleh. Aku bisa melihatnya selamanya, tapi hari ini aku datang untuk main basket bareng...!

 

Aku harus menyapanya.

 

"Ka-Kakak!"

 

"Hah?"

 

Kakak yang sedang dalam posisi hendak menembak menanggapi suaraku dan menoleh ke arah sini. Tampak sampingnya saja sudah keren, tapi tampak depannya jauh lebih keren lagi.

 

...Bukan itu, anu, aku harus bilang ayo main basket bareng...

 

Padahal sudah bertemu berkali-kali, tapi begitu bertemu Kakak, kata-kata yang ingin kuucapkan malah sulit keluar...

 

Duh—padahal di rumah aku sudah latihan berkali-kali...

 

Aku menarik napas panjang.

 

"Ha-hari ini aku pasti menang! Dan Kakak harus... menyerahkan tempat ini padaku!!"

 

Ah, kenapa sih ujung-ujungnya jadi begini!?

 

Padahal aku ingin jadi lebih jujur!

 

"Datang juga ya, si bocah."

 

"Aku bukan bocah!! Yuka sudah jadi anak SMP tahu!!"

 

Belakangan ini Kakak suka sekali menggodaku dengan memanggilku "bocah". Dia memang bersikap lebih santai padaku sekarang, dan kurasa hubungan kami sudah makin akrab.

 

Tapi, sebutan "bocah” ini harus segera aku perbaiki...! Demi membuat dia menyadariku sebagai perempuan suatu saat nanti, ini mutlak.

 

"Ha-hari ini aku pasti akan merebut kembali tempat ini...!"

 

Aku sama sekali tidak berniat merebutnya. Malahan, aku ingin waktu seperti ini terus berlanjut selamanya.

 

"Hahahaha, memangnya kamu pernah menang dariku sekali saja, wahai Gadis Muda~?"

 

Ah, levelku naik jadi "Gadis Muda". Sedikit senang, sih.

 

"Ha-hari ini aku punya taktik rahasia!"

 

Ini bukan bohong. Di klub sekolah, aku sudah melatih sebuah *skill*. Hari ini, aku pasti akan mencuri satu poin dari Kakak menggunakan teknik itu!

 

Tentu saja, aku sudah berjanji kalau aku menang dia tidak boleh datang lagi ke sini, tapi sejujurnya mengalahkan Kakak itu sangat sulit. Justru karena itulah, aku bisa menantangnya dengan segenap tenagaku.

 

"Heh~" Kakak tertawa seolah merasa tertarik. Uuh... setiap gerakannya benar-benar terlalu keren untuk dipandang...!

 

"Ke-kenapa malah melamun! Ki-kita tanding satu lawan satu (*1on1*), kan?"

 

Duh, apa tadi aku terlalu belagu? Di tengah kalimat aku merasa agak lancang, jadi suaraku mengecil di akhir.

 

"Boleh saja~. Tapi, pemanasan yang benar dulu ya? Nanti malah cedera lho."

 

Kakak mengkhawatirkanku... Kenyataan itu perlahan meresap dan menghangatkan hatiku.

 

"T-tentu saja. Yang begitu sih sudah selesai."

 

"Eh? Kamu kan baru saja sampai...?"

 

Karena aku berlari sekuat tenaga demi segera bertemu Kakak, pemanasanku sudah hampir sempurna. Dan gerakan pemanasan lainnya sudah kuselesaikan dengan cepat saat mengecek penampilanku tadi. Jadi, sekarang sudah siap!

 

Aku mengeluarkan bola dari ransel, melakukan *bound pass* ke arah Kakak, lalu mengambil posisi bertahan. Kakak selalu menyesuaikan diri dengan ukuran bolaku saat bermain. Dia benar-benar orang yang sangat baik.

 

*TL/Note: Bound pass (Bounce Pass): Operan dalam basket yang dilakukan dengan memantulkan bola ke lantai sekali sebelum diterima rekan setim.

 

"Mendadak sekali... Oke, aku mulai ya~"

 

Dia datang...! Pikiranku dalam sekejap beralih ke mode basket. Kakak adalah seorang *all-rounder*. *Handling*-nya hebat, *shooting*-nya akurat, bahkan teknik di bawah ring pun dia punya. Bagi pemain bertahan, sangat sulit untuk mengantisipasi semua itu.

 

Kakak melakukan *crossover* ringan, lalu melakukan tusukan tajam ke samping. Cepat...!

 

Tapi, aku sudah tahu dia secepat itu...!

 

"Nggak akan kubiarkan...!"

 

Aku berputar dengan gesit untuk menghadangnya. Aku harus bisa melakukan setidaknya sebanyak ini kalau mau jadi lawan tanding Kakak.

 

"Sampai di sini saja ya, hap!"

 

"Ah!"

 

Keputusan Kakak sangat cepat. Saat aku berhasil mengejarnya, dia menyadari tumpuan berat badanku belum stabil karena baru saja bergerak, dan dia langsung melakukan *jumper* jarak menengah. Gerakan menembaknya terlalu cepat sampai aku tidak sempat melakukan blok...

 

"...!"

 

Tepat saat Kakak melompat. Karena dia memakai kaus yang agak longgar, kaus itu tersingkap ke atas saat dia melompat. Perut Kakak terlihat jelas. Otot perut yang kencang dan elastis, membuktikan kalau dia memang rutin berlatih.

 

"Sip, poin pertama buatku ya~... hm? Yuka-chan?"

 

Padahal tadi pikiranku sudah fokus penuh ke basket, tapi dalam sekejap kapasitas otakku tercuri habis oleh pemandangan itu. Eh, itu terlalu seksi... mana tahan...!

 

Detak jantungku yang bertalu-talu terasa sangat berisik.

 

"...Ada apa?"

 

"Haeeh..."

 

Tanpa sadar Kakak sudah ada di depanku.

 

(*Duh...!*)

 

Ga-gawat. Kalau sampai ketahuan aku sedang memperhatikan perutnya, dia pasti tidak mau main basket denganku lagi! A-aku harus tenang sekarang. Ta-tapi pemandangan tadi tidak mau hilang dari kepalaku...

 

"Hei, wajahmu merah sekali lho? Apa kamu kena *heatstroke*? Mau istirahat di bangku dulu?"

 

*TL/Note: Heatstroke (Sengatan Panas): Kondisi serius yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh hingga lebih dari 40°C, disertai gangguan sistem saraf (seperti kebingungan atau hilang kesadaran) akibat kegagalan tubuh mengatur suhu karena paparan panas berlebihan.

 

"A-aaaaa!? Bukan, bukan! Aku nggak apa-apa! Ce-cepat kasih bolanya! Aku bakal segera menyamakan kedudukan!"

 

Hampir saja!! Benar-benar memanjakan mata... eh bukan, ini racun buat mataku tahu...! Aku jadi gemetaran karena disodori fakta kalau aku sedang bermain basket dengan kakak sekeren ini.

 

Tarik napas dalam. Hirup yang dalam, lalu buang. Aku harus fokus sekarang. Aku harus menunjukkan hasil latihan mingguan ini kepada Kakak...!

 

Aku terbangun karena suara bola basket yang membentur ring.

 

Lho... seingatku aku tadi... Aku sedang main basket sama Kakak, lalu...

 

(*...Deg!*)

 

Aku ingat sekarang. Kakiku tersangkut, lalu aku menindih Kakak... Aku pingsan dalam keadaan seolah-olah dipeluk olehnya... Ma-malu banget! Dia pasti menganggapku anak yang aneh...!

 

Saat aku buru-buru bangkit, ada lipatan handuk di tempat kepalaku tadi berbaring. Pasti

 

Kakak yang menaruhnya saat membaringkanku. Meski situasinya memalukan, rasa bahagia tetap membuncah di hatiku.

 

Aku mengalihkan pandangan. Kakak sedang asyik latihan *shooting*.

 

"Hup...!"

 

Tembakan dari dekat garis tiga angka. Putaran bolanya sangat indah, meluncur membentuk garis lengkung... dan *swish*, masuk dengan mulus ke dalam ring.

 

(*Keren banget ya...*)

 

Tentu saja aku menyukai kepribadiannya, tapi saat Kakak sedang bermain basket, dia terlihat jauh lebih keren. Kakak yang mengambil bola dan berjalan kembali menyadari kalau aku sudah bangun.

 

"Oh, sudah bangun. Keadaanmu gimana? Sudah baikan, Yuka?"

 

Jantungku berdegup kencang. Ta-tadi dia memanggil namaku tanpa embel-embel, kan? Ini pertama kalinya dia memanggilku begitu...! Senangnya...!

 

"A-aku nggak apa-apa. Maaf ya, sudah merepotkan..."

 

"Nggak apa-apa kok! Berhubung sekarang sudah jam segini, aku juga sudah mau pulang. Ayo kita pulang bareng."

 

"Eh?" Aku menoleh ke jam taman, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah lima.

 

Sepertinya aku pingsan cukup lama... Sial... padahal aku ingin main basket lebih lama lagi sama Kakak...

 

Sepertinya perasaanku itu terlihat jelas di wajahku.

 

"Tenang saja, minggu depan aku datang lagi kok. Kamu mau merebut tempat ini lagi, kan?"

 

Mungkin dia sadar aku sedang sedih, Kakak menepuk bahuku perlahan. Dia memberiku semangat dan menjanjikan pertemuan minggu depan saja sudah membuatku sangat bahagia, tapi jarak ini, jaraknya terlalu dekat dan membuatku deg-degan...!

 

"Ah, handuk itu pinjam saja dulu. Kamu pasti berkeringat, pakai itu untuk mengelapnya pas pulang ya? Aku masih punya satu lagi kok!"

 

"Eh..."

 

Aku melihat handuk yang terlipat rapi di bangku. Dia... meminjamkannya padaku...?

 

"Kalau begitu, dadah! ...Ah, soal yang tadi, meski gagal, gerakan *roll*-mu sudah bagus kok!

 

Dengan kecepatan seperti itu, kalau cuma satu pemain bertahan pasti sulit menghentikannya. Jadi, percaya diri ya!"

 

"Dadah!" kata Kakak sambil melangkah pergi. ...Dia benar-benar mengatakan semua hal yang ingin kudengar.

 

Kakak sudah pulang. Dan sekarang, di tanganku ada handuk milik Kakak. Sambil menahan detak jantung yang makin kencang... pertama-tama, aku mencoba memegangnya. Hanya handuk olahraga biasa yang tidak ada istimewanya.

 

Namun...

 

"Haaah...! Haaah...!"

 

Napasku jadi tersengal-sengal. Maaf ya Kakak, sepertinya aku ini anak yang nakal... Aku mencoba membenamkan wajahku ke handuk itu. Pura-pura mengelap wajah. Aroma Kakak langsung merebak memenuhi wajahku.


 

───● Si OL Tsundere Menolong ●○●

 

Masa sibuk. Setiap perusahaan punya waktu yang berbeda-beda untuk hal ini.

Tergantung jenis industri, atau divisinya.

 

Divisi tempatku bernaung kebetulan sedang berada di puncak masa sibuk, apalagi kalau sudah menyentuh akhir pekan di hari Jumat seperti ini.

 

"Terima kasih atas kerja kerasnya~"

 

Setelah menyelesaikan lembur, akhirnya aku bebas dari tugas. Aku meneteskan obat mata ke mataku yang lelah karena terus menatap layar komputer. Biasanya, para rekan kerja akan sangat bersemangat pergi minum-minum karena ini malam Jumat, tapi hari ini semua orang benar-benar sudah di ambang batas kelelahan.

 

"Aku duluan ya. Sampai ketemu hari Senin~"

 

"Ah, baik. Terima kasih atas kerja kerasnya, Kak."

 

Miki-senpai, orang yang membawaku ke tempat itu, sepertinya juga langsung pulang hari ini.

 

Mau bagaimana lagi, sejak jam makan siang tadi wajahnya sudah terlihat sangat kuyu.

 

"Aku juga sudah limit nih, duluan ya!"

 

Di saat rekan-rekan kerjaku satu per satu pulang setelah menyelesaikan tugas mereka, aku melirik sekilas ke arah jam tangan.

 

"Jam 21.00, ya..."

 

Memang, bagi mereka yang rumahnya jauh, jam segini sudah bukan waktunya untuk pergi minum-minum. Tapi untungnya, jarak dari kantorku ke rumah tidak terlalu jauh.

 

Sekalipun aku pergi minum beberapa jam mulai dari sekarang, masih ada banyak waktu sebelum kereta terakhir lewat. Jika begitu, tempat yang harus kudatangi hanya satu. Aku memang belum pernah pergi ke sana sendirian, tapi hal itu tidak akan menggoyahkan tekadku.

 

Aku menyelesaikan tugas yang didelegasikan kepadaku secepat kilat, lalu mematikan laptop yang masih terbuka. Melakukan absensi pulang dan berpamitan. Dengan ini, sosok diriku sebagai seorang pekerja kantoran telah usai.

 

Begitu keluar kantor sambil membawa tas, aku sudah menjadi orang bebas. Di bawah langit malam di mana bintang mulai terlihat satu per satu, aku melakukan peregangan tubuh sekali dengan kuat.

 

"Maaf ya aku datang terlambat, Masato-kun."

 

Sambil membayangkan wajah pemuda yang kini telah menjadi dambaan hatiku, aku melangkah cepat menuju kawasan hiburan.

 

"Selamat datang, Tuan Putri."

 

Ruangan gemerlap yang terbentang saat pintu dibuka, serta sapaan tidak biasa yang membuat hati berdebar ini, meski sudah menjadi hal yang biasa, rasa tegangku tetap tidak hilang karena ini pertama kalinya aku datang sendirian.

 

"Apakah malam ini Anda ingin memesan seseorang secara khusus?"

 

"...Masato."

 

"...! Baik, dimengerti. Saya akan mengantar Anda ke meja, silakan tunggu sebentar."

 

Saat aku menyebut nama Masato-kun, petugas itu tampak terkejut sesaat. Apa ada hal yang perlu dikagetkan?

 

Aku diantar ke bagian dalam toko dan dipersilakan duduk.

 

"Mohon tunggu sebentar."

 

Petugas penerima tamu itu membungkuk hormat lalu berbalik pergi.

 

Meski sudah duduk, tetap saja momen menunggu kedatangannya ini membuatku tidak tenang. Aku celingak-celinguk melihat dekorasi di dalam toko. Aku jadi seperti mahasiswa dari desa yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota besar saja.

 

...Setelah menunggu beberapa lama, Masato-kun tak kunjung muncul. Biasanya aku tidak pernah dibuat menunggu selama ini. ...Mungkin sebaiknya aku ke kamar mandi dulu sebentar.

 

Meski merasa agak tidak enak, aku mengambil tas dan beranjak dari kursi. Saat berjalan melewati koridor toko—

 

"Eh, nggak apa-apa kan, kamu minum juga~"

 

"Anu, maaf. Saya tidak bisa minum..."

 

"Eeeh, kok nggak asyik sih?"

 

Suara itu tidak mungkin salah dengar. Itu suara Masato-kun.

 

Sepertinya dia sedang melayani pelanggan.

 

Masato-kun sedang melayani orang lain selain aku. Memikirkan itu saja sudah membuat dadaku sedikit sesak. Namun, saat ini ada hal yang lebih penting.

 

"Kalau gitu ceritain hal lucu dong."

 

"Maaf, saya tidak terlalu pandai bicara..."

 

"Eeeh? Kamu beneran *boy* di sini?"

 

Aku bisa melihat punggung Masato-kun dari koridor yang kulewati. Hanya dengan mendengar percakapannya sedikit saja aku langsung tahu. Sepertinya Masato-kun tidak sedang duduk melayani meja tersebut, tapi saat dia sedang mengantarkan minuman, dia dicegat dan digoda secara paksa oleh orang-orang mabuk. Di tangannya masih ada nampan pembawa minuman.

 

Punggung itu terlihat seolah-olah sedang merasa sangat bersalah.

 

"Masato."

 

Tanpa sadar, aku memanggilnya.

 

Dia berbalik dengan wajah terkejut. Hari ini pun, Masato-kun terlihat sangat keren dan imut.

 

"Seira-san...!?"

 

"Duh, padahal aku sudah pesan tapi kamu nggak datang-datang. Cepat ke mejaku, ya?"

 

"Ah, i-iya, saya segera ke sana!"

 

Aku melirik sekilas ke arah belakangnya, ada tiga orang ibu-ibu yang sudah sangat mabuk.

 

Mereka menatapku dengan angkuh. ...Maaf ya, tapi aku tidak punya waktu untuk meminjamkan Masato-kun kepada orang-orang yang bahkan tidak paham di mana letak daya tariknya.

 

"Maaf membuat Anda menunggu, Tuan Putri. Anda datang lagi ya."

 

"Ya-yah, begitulah. Kebetulan aku ada sedikit waktu luang. Cuma iseng kok!"

 

"Fufufu, terima kasih banyak."

 

Begitu kembali ke meja yang disediakan, Masato-kun segera datang. Menurutku, tindakanku tadi poinnya cukup tinggi, bukan?

 

"Tadi benar-benar terbantu, terima kasih sudah memanggil saya, Seira-san."

 

"Tidak apa-apa kok. Tapi repot juga ya kalau harus melayani pelanggan seperti itu."

 

Memang keterlaluan kalau ada yang tidak paham kebaikan Masato-kun, tapi mungkin lebih baik kalau orang-orang seperti mereka tidak perlu tahu.

 

Saat aku sedang memikirkan itu, Masato-kun menuangkan minuman ke gelasku sambil tersenyum pahit.

 

"Tapi saya juga salah sih. Saya tidak bisa minum alkohol. Rasanya aneh kalau semua orang sedang minum dengan asyik, tapi cuma saya yang tidak bisa mabuk."

 

Sepertinya dia merasa bertanggung jawab karena tidak bisa minum alkohol.

 

Melihat sosoknya yang terlihat sedikit lemah untuk pertama kali, aku jadi bingung harus bicara apa.

 

"Ya-yah, benar juga. Bekerja di tempat seperti ini tapi tidak bisa minum alkohol memang terdengar aneh, ya."

 

"Begitu, ya..."

 

Salah! Bukan itu yang ingin kuucapkan! Aku buru-buru berbalik menghadapnya.

 

"Ta-tapi aku tidak peduli soal itu, kan!? Aku ke sini bukan karena ingin cari teman minum bareng! Beneran deh, aku ini pelanggan yang sangat pas buatmu! Harusnya kamu berterima kasih padaku!"

 

Masato-kun tampak bengong sesaat, tapi di detik berikutnya wajah itu berubah menjadi senyuman.

 

"Hahaha... benar juga, mungkin begitu ya. Seira-san benar-benar pas untuk saya. Terima kasih banyak."

 

Refleks, aku memalingkan wajah. Daya hancurnya terlalu tinggi. Aku merenungkan kata-katanya tadi. '*Seira-san benar-benar pas untuk saya*'. Betapa indah dan... memikatnya bunyi kalimat itu.

 

"T-tentu saja! Memang cuma aku yang begini! Jadi hargai aku, ya!"

 

Jantungku tidak pernah berdegup sekencang ini seumur hidupku. Sosoknya yang ada di sampingku terasa begitu berharga.

 

Setelah itu, aku kembali minum dan mengobrol dengannya seperti biasa. Apa pun topiknya, kalau bersama dia pasti terasa menyenangkan. Bagiku, waktu ini sangat tak ternilai. Waktu yang terbaik.

 

...Namun, setiap kali aku teringat bahwa kami hanya bisa bertemu seminggu sekali, dan hubungan kami hanyalah antara pelayan dan pelanggan, dadaku mendadak terasa sesak sekali.

 

Satu bulan telah berlalu sejak pertama kali aku datang ke Festa.

 

Hari ini hari Jumat.

 

Aku mengecek waktu di jam tangan favorit yang baru saja kubeli. Sedikit lagi.

 

Sedikit lagi jam kerja berakhir. Aku tidak bisa menahan debaran di dadaku.

 

Kesibukan minggu lalu sudah agak mereda, dan karena hari ini aku sudah berusaha keras sejak siang, sepertinya aku bisa pulang tepat waktu.

 

Kehidupanku yang sebelumnya seperti mayat hidup yang cuma kerja lalu pulang untuk tidur, kini terasa seperti mimpi lama saja.

 

Aku melirik jam tangan sekali lagi. Tepat, jarum detik menyentuh angka 12.

 

"Terima kasih atas kerja kerasnya, saya permisi pulang duluan!"

 

Tanpa ragu aku melakukan absensi tepat di jam pulang dan segera meninggalkan kantor.

 

Rasanya saat ini aku bahkan sanggup menaklukkan dunia.

 

Di belakangku yang sedang meluncur pergi dengan perasaan seringan angin, aku mendengar sayup-sayup suara dari dalam kantor.

 

"Mochizuki-san belakangan ini pulangnya cepat banget ya? Apalagi kalau hari Jumat."

 

"Jangan-jangan dia sudah punya cowok?"

 

"Eh, serius?"

 

Ya-yah, anggap saja sudah setengah jadi. Aku tidak peduli lagi apa yang dikatakan orang-orang di kantor. Aku segera keluar.

 

Karena Masato-kun sedang menungguku. Belakangan ini, hanya dengan memikirkan hal itu aku jadi punya semangat hidup.

 

 

Hari liburku yang biasanya hanya diisi kemalasan kini menjadi waktu untuk merawat diri sebagai perempuan, dan waktu bekerja pun tidak terasa berat jika aku berpikir itu demi mengumpulkan uang untuk bertemu Masato-kun.

 

Malahan aku ingin uang yang lebih banyak lagi.

 

Tepat saat aku sedang berjalan riang menuju toko tersebut—

 

"Seira-chan!"

 

Seseorang memanggilku dari belakang.

 

"...Miki-san."

 

Ternyata itu adalah seniorku, Miki-san, orang yang memberitahuku tentang tempat itu.

 

Miki-san sepertinya sudah membawa tasnya dan bersiap pulang, lalu mengejarku.

Mungkin karena aku mengincar rekor tercepat di dunia, Miki-san sampai terlihat sangat terengah-engah.

 

Setelah akhirnya aku berhenti, Miki-san menghela napas lega dan mendekatiku tanpa kata.

 

Eh, apa aku melakukan kesalahan dalam pekerjaan ya...

 

Miki-san tetap diam sampai dia berdiri tepat di sampingku... lalu tiba-tiba, dia merangkul bahuku dengan kuat.

 

"Kamu mau pergi ke 'Perjamuan', kan?"

 

"Ukh..."

 

Perjamuan, itu adalah kata sandi untuk toko tersebut, Festa.

 

Istilah rahasia yang diciptakan agar hanya dimengerti oleh sesama rekan dan supaya tidak ketahuan atasan kalau kami sering pergi ke *Boys' Bar*. Budaya dari mana itu.

 

Tapi, tebakan Miki-san tepat sasaran. Memang itulah tujuanku. Aku pikir aku bakal dimarahi karena mencoba pergi diam-diam... tapi di saat itulah, Miki-san membisikkan sesuatu ke telingaku.

 

"Bawa aku juga dong~ ♡"

 

……Harusnya Kakak lakuin itu ke *boy* favorit Kakak saja, deh.

 

Miki-san melangkah dengan sedikit berjingkrak. Melihat betapa senangnya dia saat di Festa, sepertinya Miki-san benar-benar sudah naksir berat sama *boy* itu. Apa isi dompetnya bakal aman ya?

 

(*Yah, aku sendiri juga nggak berhak ngomongin orang sih...*)

 

Sejujurnya, aku pun ingin sekali berjingkrak kegirangan. Memikirkan kalau sebentar lagi aku akan bertemu dengannya, tensiku beneran naik drastis.

 

Sejak pertama kali bertemu dengannya hari itu, aku tidak pernah absen datang ke tempat ini setiap minggu. Ya iyalah. Dia kan malaikatku.

 

Senyumnya yang polos, ekspresinya yang kaya, dan ekspresi apa pun selalu terlihat pas untuknya. Laki-laki yang lebih baik darinya mungkin tidak ada lagi di dunia ini.

 

Belakangan aku bahkan sudah tidak pernah lagi teringat soal mantan pacar.

Lagipula, membandingkan mantan pacar dengan Masato-kun itu beneran nggak sopan banget buat Masato-kun.

 

Sambil melamunkan itu, tanpa sadar aku sudah sampai di depan toko. Hari ini pun papan iklannya masih mencolok seperti biasanya.

 

Miki-san yang berjalan di depanku matanya sudah berbinar-binar penuh semangat.

 

"Ayo masuk? Ke dunia mimpi...!"

 

"I-iya, benar juga ya..."

 

Ini sudah kelima kalinya aku datang, tapi tetap saja aku merasa tegang sebelum masuk. Aku belum terbiasa dengan suasananya.

 

Yah, semua itu bakal terlupakan sih begitu aku mulai mengobrol dengannya.

 

"Selamat datang, Tuan Putri... lho, Miki kan! Kamu datang lagi ya~"

 

"Fufu... jangan formal begitu dong, Yusee. Kan kemarin aku sudah bilang kalau mau datang."

 

Aduh, mulai deh. Miki-san sudah menyerang *boy* favoritnya dengan jarak yang sudah nol meter begitu.

 

Aku benar-benar menghormati keberaniannya itu. Aku sih tidak akan pernah bisa melakukannya. Risiko dibenci itu jauh lebih menakutkan bagiku.

 

Saat aku sedang menatap mereka berdua yang asyik bermesraan dengan tatapan hampa, sang *boy* tiba-tiba menoleh ke arahku.

 

"Kalau Tuan Putri yang di sebelah sana... pesannya Masato, kan?"

 

"...!"

 

D-dia sudah hafal...!

 

Malu banget. Apa aku sudah dikenal di toko ini sebagai perempuan yang selalu memesan

 

Masato-kun...?

 

...Hm? Tapi kalau dipikir-pikir, itu bagus juga. Berarti secara publik sudah diakui, kan?

 

"Tolong ya," ucapku, dan sang *boy* membalas dengan senyuman. Karena Miki-san sampai tergila-gila padanya, orang ini pasti aslinya baik juga.

 

Yah, kalau aku sih tetap Masato-kun harga mati.

 

Kami diantar ke kursi sofa, aku dan Miki-san duduk dengan sedikit jarak.

 

"Miki-san... kemarin kan hari kerja? Apa Kakak kemarin ke sini sepulang kantor?"

 

"Eh? Enggak kok. Sesuka-sukanya aku, kalau besoknya masih kerja sih aku jarang ke sini..."

 

"Lho? Tapi tadi Kakak bilang 'kan kemarin sudah bilang'..."

 

Miki-san jelas-jelas bilang begitu ke *boy* favoritnya.

 

Aku pikir itu artinya Miki-san kemarin juga datang ke sini, tapi...

 

"Tsk tsk tsk... duh, ini boleh nggak ya diomongin kencang-kencang? Hmm, bingung deh~ gimana ya~ tapi kan kamu adik tingkat kesayanganku~"

 

Dengan wajah yang kalau dicari di mesin pencari bakal muncul sebagai hasil pertama untuk kata kunci "muka songong", Miki-san melirik-lirik ke arahku. ...Duh, apa senior ini emang se-menyebalkan ini ya?

 

Dia jelas ingin pamer tapi malah berlagak menunggu ditanya sambil gerak-gerak nggak jelas, beneran bikin aku gemas. Yah, dia emang orang baik sih dan aku suka dia, tapi tetap saja...

 

Miki-san mendekatkan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu padaku.

 

"Sebenarnya... aku sudah dapat kontaknya ♡"

 

"...!?"

 

K-kontak...!?

 

Miki-san menjulurkan lidahnya sambil bergaya *tehe-pero*, membuatku terperangah. Itu curang. Curang banget, tahu.

 

Itu artinya hubungannya bukan lagi sebatas di toko, tapi sudah ke ranah pribadi. Artinya dia bisa mengobrol dengan sang pujaan hati di luar jam kerja.

 

Aku pun, dengan Masato-kun...!

 

"Selamat malam. Anda datang lagi ya."

 

Tubuhku langsung kaku seketika.

 

Suara yang seolah meluluhkan hati ini. Tidak mungkin aku salah dengar.

 

Saat aku memberanikan diri mendongak, di sana ada Masato-kun dengan senyum malaikatnya.

 

...Ah, hari ini dia nggak pakai dasi, itu juga kelihatan bagus banget...

 

Eh, bukan itu!

 

"Ta-kebetulan saja aku sedang senggang..."

 

Sama sekali bukan kebetulan, aku tadi beneran melakukan *sprint* habis absen pulang, tapi cuma ini yang bisa kukatakan.

 

Habisnya, kalau aku bilang 'aku memikirkanmu setiap hari dan hari ini aku melakukan RTA pulang kantor demi bertemu kamu', itu bakal kedengaran menjijikkan banget.

 

Makanya, aku harus berakting seolah ini cuma kebetulan.

 

Kalau tidak begitu, tembok pertahanan hatiku bakal jebol. Tapi, di saat itu...

 

"Masato-kun! Seira itu beneran naksir berat sama kamu lho! Tolong diladeni ya!"

 

Gara-gara senior yang bermulut ember ini, semuanya hampir hancur berantakan.

 

"Miki-san, berhenti!"

 

Begitu aku menoleh ke arah Miki-san, wajahnya sudah merah padam.

 

Cepat banget sih mabuknya!

 

Aku harus meluruskan ini...!

 

"Ehem... e-enggak kok, beneran, ini cuma kebetulan. Aku diajak senior, jadi terpaksa ikut. Terus, karena bicara denganmu itu yang paling mendingan dibanding yang lain, makanya aku memanggilmu. Paham?"

 

Sip, lumayan oke. Karena hari ini ada Miki-san, alasannya jadi masuk akal. Meski mungkin kurang meyakinkan karena minggu lalu aku juga datang, tapi aku malu setengah mati kalau harus mengakui kebenaran di depan Miki-san.

 

"Hahaha... terima kasih banyak. Saya memang cuma bisa mendengarkan saja, tapi saya sendiri sebenarnya cukup suka mendengarkan cerita Seira-san."

 

"...!"

 

A-anak ini...!

 

Saking imutnya, rasanya otakku mau terbakar. Sejujurnya aku hampir mati kena serangan jantung gara-gara senyumannya itu.

 

"Ka-kamu ini ya... pasti sering bilang begitu ke semua orang, kan?"

 

"Eh?... Tidak kok... Orang aneh yang mau memilih saya cuma Seira-san saja lho...?"

 

Cuma aku... begitu ya, cuma aku saja.

 

Itu sebenarnya situasi yang sangat menguntungkan buatku, tapi perempuan di dunia ini beneran nggak punya mata ya. Padahal jelas-jelas Masato-kun itu laki-laki terbaik di dunia ini.

 

"...Be-begitu ya. Kalau begitu syukurlah. Benar juga. Mana ada orang lain yang mau memilih anak yang bahkan tidak minum alkohol sepertimu selain aku..."

 

"Memang benar begitu kok."

 

Tapi di sisi lain, ada bagian dari diriku yang tidak ingin orang lain menyadari kehebatannya.

 

Dengan egois, aku ingin memonopoli senyumannya ini.

 

Padahal kami tidak pacaran. Aku cuma perempuan yang dilayani di toko ini. ...Lho, kok aku jadi mau nangis sendiri pas ngomong begini...

 

Lalu, aku teringat ucapan Miki-san tadi.

 

'*Aku sudah dapat kontaknya ♡*'

 

...Seandainya. Seandainya aku juga bisa dapat kontak Masato-kun. Sudah pasti aku bakal merasa sangat bahagia sampai serasa terbang ke langit.

 

Tapi di saat yang sama, kalau aku ditolak, aku nggak yakin punya rasa percaya diri buat bertahan hidup seminggu ke depan. Atau mungkin, beneran nggak sanggup.

 

Setelah itu, sekitar dua jam berlalu.

 

Seperti biasa, Masato-kun benar-benar malaikat, dan mengobrol dengannya terasa sangat menyenangkan. Benar-benar waktu yang sangat membahagiakan.

 

Di tengah-tengah, pelayan datang sampai empat kali menanyakan, "Apakah Anda ingin ganti *boy*?", tapi aku selalu memilih untuk memperpanjang waktu.

 

Ya habisnya, aku sama sekali tidak tertarik pada siapa pun selain Masato-kun.

 

Namun, waktu yang menyenangkan itu menyedihkannya berlalu dalam sekejap.

 

"Seira~! Ayo pulang~! Sampai kapan mau bermesraan terus sama Masato-kun! Ayo!"

 

Sepertinya waktu kami sudah habis.

 

...Tapi, bermesraan!? Kami tidak sedang bermesraan tahu!

 

Walau aku ingin, sih!

 

"Ha, haah!? Siapa juga yang bermesraan! Sama sekali nggak begitu tahu! Lagian dia cuma... cuma cowok krempeng... cowok krempeng yang..."

 

Gawat. Tadinya aku ingin mengejeknya, tapi tidak ada kata yang terlintas di kepala.

 

Tolong puji aku karena secara instan bisa mengubah bentuk tubuhnya yang semampai itu menjadi sebutan "krempeng" untuk sedikit menghinanya.

 

Hanya ini yang bisa kulakukan sekuat tenaga.

 

"Iya, iya. Saya memang cowok krempeng. Sering-sering datang lagi ya."

 

Tanganku diambil olehnya.

 

...Ah, tidak mungkin, aku cinta dia. Cinta banget.

 

Hanya karena tanganku diambil saja, jantungku berdegup sekencang ini.

 

Ditambah efek alkohol, tubuhku terasa panas.

 

Sampai di meja kasir, saat Miki-san sedang membayar, Masato-kun terus menggenggam tanganku. ...Kalau sekarang.

 

Kalau sekarang, aku bisa menyalahkan alkohol dan sedikit bermanja padanya, kan? Aku memberanikan diri untuk menyandarkan berat tubuhku pada Masato-kun.

 

Detak jantung di dadaku terasa sangat berisik.

 

Aroma manis Masato-kun menggelitik penciumanku.

 

Rasanya seolah seluruh tubuhku sedang diwarnai oleh sosok Masato-kun.

 

"...Seira-san?"

 

Namaku dipanggil. Suara yang sangat nyaman di telinga.

 

Namun, sekarang aku tidak bisa menunjukkan wajahku.

 

Aku tidak mungkin memperlihatkan wajah yang berantakan karena malu ini padanya.

 

Karena itu, aku tetap menunduk.

 

"...Nggak boleh ya."

 

"...Eh?"

 

"Jangan terima... pesanan khusus dari orang lain selain aku......"

 

Aku tahu aku egois. Karena dia bekerja di toko, sudah sewajarnya dia melayani siapa pun yang memesannya.

 

Tapi, hanya dengan membayangkan Masato-kun melayani perempuan lain selain aku, dadaku terasa sesak.

 

"Tenang saja. Saya kan cuma masuk hari Jumat."

 

"...... Begitu ya."

 

"Dan setiap hari Jumat itu, Seira-san selalu memesan saya dengan setia, kan?"

 

"...... Iya."

 

Licik sekali.

 

Kalau dia bilang begitu, aku jadi harus datang setiap hari Jumat.

 

Yah... tanpa diminta pun, aku pasti akan datang, sih. Meski sebenarnya aku ingin lebih lama lagi bersama Masato-kun, aku terpaksa keluar dari toko.

 

Setelah sampai di tempat di mana toko sudah tidak terlihat lagi, aku dan Miki-san duduk sejenak di bangku.

 

Ah, beneran deh, hari ini pun Masato-kun adalah malaikat... bukan, dia adalah Tuhan.

 

"Heiii Seira! Beraninya kamu bermesraan di belakang orang yang lagi bayar haaaaah!!?"

 

"E-eeeeh!? Ka-Kakak lihat!?"

 

"...Nggak boleh ya (sambil berkaca-kaca)"

 

"AAAAAAAAAAAAAA! Lupakan! Sekarang juga!"

 

Malu banget!

 

Padahal awalnya aku *ilfeel* melihat tingkah laku Miki-san saat pertama kali ke toko ini, tapi sekarang aku benar-benar tidak berhak menertawakan orang lain.

 

Miki-san tertawa terbahak-bahak.

 

"Wah, tadi itu benar-benar luar biasa ya... Nah, ayo pulang... tadinya mau bilang begitu, tapi aku lapar nih, gimana kalau kita makan dulu baru pulang?"

 

"Bo-boleh saja. Ayo kita lakukan itu."

 

Belakangan ini, akhirnya hidupku terasa sedikit menyenangkan.

 

Tentu saja keberadaan Masato-kun sangat besar pengaruhnya, tapi keberadaan senior yang memedulikanku seperti ini juga sangat berarti.

 

"Kalau begitu, sampai jumpa! Sampai ketemu hari Senin ya!"

 

"Iya, mari, Kak!"

 

Arah pulangku dan Miki-san berbeda. Tadinya cuma berniat makan sebentar, tapi karena pembicaraan kami sangat seru, waktu jadi terasa sangat larut. Hari sudah lama berganti tanggal.

 

"Nah..."

 

Rumahku berjarak sekitar dua stasiun dari sini. Tidak terlalu jauh. Sambil menikmati sisa-sisa kebahagiaan hari ini, aku hendak menuju peron stasiun.

 

Saat itulah hal itu terjadi.

 

"...Eh."

 

Tanpa sadar, aku tertegun.

 

Di ujung pandanganku.

 

Menyelinap di antara orang-orang yang mabuk, ada seorang pemuda yang berjalan sendirian.

 

Dilihat dari mana pun, tidak salah lagi... itu Masato-kun.

 

Mana mungkin aku salah lihat.

 

Masato-kun dengan pakaian biasa.

 

Tiba-tiba detak jantungku meningkat.

 

Sebentar lagi waktu kereta terakhir. Kalau aku melewatkan ini, hari ini aku terpaksa pulang naik taksi. Meski begitu, kakiku secara alami malah mengejarnya. Aku malah mengikutinya.

 

Gimana nih, gimana nih, gimana nih.

 

Tanpa sadar aku sudah melewati taman dekat stasiun dan masuk ke area pemukiman.

 

Di ujung pandanganku, ada Masato-kun.

 

Apa yang kulakukan ini benar-benar tindakan kriminal.

 

(*Nggak boleh... padahal nggak boleh...!*)

 

Aku tahu. Aku tahu ini perbuatan buruk.

 

Aku tahu ini hal yang mutlak tidak boleh dilakukan, tapi jantungku yang berpacu kencang dan kepalaku yang terasa panas tidak mau berhenti. Aku tidak mungkin bisa membuat keputusan yang normal. Logikaku jelas-jelas menghakimi tindakan ini, tapi keinginan yang membara meluap-luap dan tidak bisa dihentikan. Aku tidak sanggup melawan hasrat bahwa ini mungkin bisa menjadi cara untuk terhubung dengan Masato-kun.

 

Masato-kun berhenti di sebuah apartemen setelah berjalan sedikit dari taman.

 

Mungkin, itu adalah──.

 

"...!!"

 

Tepat saat aku mencoba mengintip ke arah Masato-kun dari balik bayangan tiang listrik.

 

Masato-kun menoleh ke arah sini sesaat.

 

(Ketahuan? Apa aku ketahuan?)

 

Kalau Masato-kun datang ke sini dan memanggil polisi, hidup sosialku akan tamat.

 

Tidak ada alasan yang bisa kuberikan.

 

Ini namanya penguntit. Aku menekan jantungku yang terus berdegup kencang, lalu dengan was-was, benar-benar dengan sangat was-was, aku mengintip sekali lagi.

 

Ternyata, sepertinya Masato-kun sudah masuk ke dalam rumah.

 

"Hah──...!"

 

Aku langsung terduduk lemas di tempat itu.

 

Sejak dulu aku sadar kalau aku ini perempuan yang kotor, tapi aku tidak menyangka akan sampai separah ini.

 

Meski aku merasakan rasa bersalah di sekujur tubuh, kakiku tidak mau berhenti.

 

Perlahan aku mendekati apartemen itu... hingga sampai tepat di depan kamarnya.

 

(*Katari... Katari ya nama keluarganya, Masato-kun.*)

 

Dengan tangan gemetar, aku membuka aplikasi catatan di ponsel.

 

Air mata mulai mengalir.

 

Air mataku tidak mau berhenti memikirkan betapa aku adalah manusia sampah yang tidak bisa dipercaya.

 

Namun.

 

Tubuhku secara otomatis mencatat alamatnya.

 

(*Aku nggak akan pakai buat apa-apa! Aku nggak akan kirim barang atau semacamnya! Aku nggak akan, nggak akan melakukan apa-apa!*)

 

Lalu kenapa aku mencatatnya?

 

Aku tidak tahu.

 

Hal seperti ini jelas-jelas sudah lewat batas.

 

Saat itu... terdengar suara dari dalam kamar Masato-kun.

 

Suara itu... aku langsung tahu kalau itu adalah suara pancuran air (*shower*).

 

"Haha... hahahahahaha......"

 

Sekali lagi tubuhku melemas.

 

Tanpa tenaga, aku jatuh terduduk di tempat itu.

 

Sambil memasukkan ponsel yang berisi catatan alamat itu ke dalam saku setelan jasku.

 

Aku hanya bisa terus mengucurkan air mata.

 

Padahal situasinya seperti ini.

 

Hanya terpisah satu sekat dinding, Masato-kun sedang mandi.

 

Cukup dengan itu saja... Aku merasa sangat bersemangat hingga tak bisa kukendalikan.

 

Benar-benar mesum yang sudah tidak tertolong lagi.

 

Begitu menyadari hal itu, akhirnya aku pun memahaminya.

 

Atau mungkin, sebenarnya aku sudah tahu sejak momen itu terjadi.

 

"Hei, aku sudah hancur lho, Masato-kun."

 

Perasaan ini sudah tidak bisa lagi dihentikan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close