Chapter 1: Gadis
SMA (JK) Kutu Buku itu
───● Gadis Sastra SMA yang Sopan
●○●
Sudah dua bulan berlalu sejak aku datang
ke dunia ini.
Awalnya aku sempat bingung harus
bagaimana, tapi ternyata entah bagaimana semuanya bisa dijalani juga.
Yah, lagipula cuma konsep moralnya saja
yang agak aneh, sisanya tidak ada yang berubah, jadi wajar saja sih kalau
dipikir-pikir.
Bakal berat kalau seandainya aku
terlempar ke dunia lain lalu tiba-tiba dibilang "kamu adalah
pahlawan", tapi dunia ini cukup lembut bahkan bagi orang biasa sepertiku
untuk menjalani hidup normal.
"Fuaaa~... ngantuk banget..."
Hari ini hari Sabtu, jadi tidak ada
kuliah. Sepertinya ada beberapa mata pelajaran kuliah yang bisa diambil di hari
Sabtu, tapi Koumi bilang dia tidak mengambilnya, dan aku pun tipe orang yang
lebih suka libur di hari Sabtu.
Aku melihat jam dinding. Waktu
menunjukkan pukul 10.30 pagi.
Mengingat aku bekerja sampai tengah malam
kemarin, aku sudah berusaha keras untuk bangun jam segini.
"Hari ini kalau tidak salah... mulai
jam 15.00 ya... Hmm, buat makan siang dulu saja kali ya..."
Aku punya janji jam 15.00 hari ini.
Sambil mengucek mata yang masih
mengantuk, aku beranjak dari tempat tidur dengan langkah gontai. Saat itu, aku
mengambil ponsel di samping bantal dan ternyata ada beberapa notifikasi.
*TL/Note: Dalam konteks ini langkah
gontai itu diibaratkan merujuk pada langkah yang lambat dan lesu.
《Koumi》『Apaan sih, itu lucu banget tahu wkwkwk』
《Koumi》『Terus ujung-ujungnya kamu kerja sampingan apa,
Masato?』
"...Tadi lagi bahas apa ya?"
Sejak tukaran kontak, Koumi memang sering
mengirim pesan dua sampai tiga kali sehari seperti ini. Yah, itu komunikasi
yang wajar juga di dunia lamaku, dan aku pun menikmatinya jadi aku membalasnya.
"Tapi kalau soal bar, aku nggak
mungkin bilang..."
Karena aku sempat menolak ajakan Koumi,
dia sudah tahu kalau aku bekerja setiap Jumat
malam. Tapi kalau aku jujur bilang *『Gue kerja di Boys Bar lho wkwk』*,
paling ujung-ujungnya aku bakal dikatain *『Eh...
jijik...』* atau *『Dengan tampang kusam kayak gitu...?』*.
Aku nggak sebodoh itu.
Namun, aku punya ide lain.
"Nah, ini! Kalau yang ini pasti
aman."
Aku menggeser layar ponsel dengan cepat.
《Katari Masato》『Iya,
sebenarnya aku lagi kerja jadi guru les privat.』
Sip. Kalau begini nggak masalah.
Benar, aku memang bekerja sebagai guru
les privat juga. Setiap hari Sabtu jam 15.00.
Kalau aku bilang yang ini, harusnya tidak
akan ada masalah. Pekerjaan sampingan yang normal. Aku menutup ponsel dan
menuju dapur.
Seingatku masih ada dua butir telur dan
daging asap... bikin nasi goreng aja kali ya. Nasi goreng adalah masakan
terkuat buat laki-laki yang tinggal sendiri.
*Pilon.*
*Pilon.*
...?
Saat sedang mengecek sisa nasi di *rice
cooker*, ponselku berbunyi.
Aneh, biasanya Koumi baru membalas tiga
sampai empat jam setelah aku kirim pesan, apa aku punya teman lain yang suka
kirim kabar?
Saat
aku mengambil ponsel, ternyata lagi-lagi nama 《Koumi》
yang muncul.
...Cepat banget balasnya?
《Koumi》『Gu-guru les privat?』
《Koumi》『Jangan bilang kalau muridmu itu perempuan?』
...? Memangnya ada masalah? Memang benar
seperti kata Koumi, muridku itu perempuan, sih.
《Masato》『Iya, kenapa? Murid SMA kok.』
Aku membalas singkat lalu kembali ke
dapur.
Apa itu hal yang sangat mengejutkan?
Rasanya banyak mahasiswa yang jadi guru les privat atau pengajar di bimbingan
belajar...
Tepat saat aku hendak menyendok nasi dari
*rice cooker*.
*Drrrtt, drrrtt, drrrtt.*
Ponsel
di atas meja yang kusetel mode getar terus bergetar hebat. Itu bukan notifikasi
pesan. Tapi telepon. Bahkan dari sini pun aku tahu. Di layarnya terpampang nama
《Koumi》.
...Eh? Kok seram ya.
Lewat jam dua siang.
Aku keluar rumah dan menuju tempat les
privat.
"Aduh, beneran deh, aku nggak pernah
tahu di mana letak 'tombol' kemarahan Koumi..."
Setelah itu, saat aku mengangkat telepon,
aku gemetar mendengar nada suara Koumi yang datar tanpa intonasi. Biasanya
Koumi itu imut-imut menggoda dan cuma melihatnya di kelas saja sudah bikin cuci
mata, tapi kalau 'tombol'-nya terpencet, dia jadi menakutkan.
Mau berhati-hati pun aku nggak tahu di
mana letak tombolnya, jadi nggak ada gunanya. Ujung-ujungnya, di telepon tadi
aku harus menjelaskan situasinya sampai dia tenang kembali. Katanya dia
terpaksa setuju setelah aku janji bakal jelasin semuanya pas hari Senin nanti.
Syukurlah. Perempuan itu sulit
dimengerti...
Aku menengadah menatap langit yang biru
bersih.
Di dunia lama dulu, aku jarang kesulitan
berkomunikasi dengan lawan jenis.
Mungkin karena teman akrabku sejak kecil
adalah perempuan, itu pengaruh besarnya. Berkat itu, saat masa puber pun aku
tidak merasa malu dan bisa berinteraksi normal dengan perempuan.
Makanya, ada saja perempuan yang
menembakku, dan aku pun pernah berpacaran.
Tapi.
*『Katari-kun,
kamu itu ternyata cuma baik ke semua orang saja ya... Maaf ya, selama ini aku
sudah salah paham.』*
...Baru jalan satu bulan pacaran,
tiba-tiba dia minta putus dengan kata-kata seperti itu.
Karena aku lama tinggal di panti asuhan
dan diajarkan oleh pengasuh untuk "berbuat baiklah pada orang lain",
bagiku hal itu sudah sewajarnya dilakukan, makanya kata-kata itu sangat
mengejutkan bagiku.
Di saat yang sama, aku sadar kalau aku
memang memperlakukannya sama seperti aku memperlakukan orang lain. Dan setelah
menyadari fakta itu, aku merasa tidak bisa mengubah sikapku hanya kepada satu
orang saja yang berstatus 'pacar'. Aku pun terpaksa menyerah dan menganggap
diriku memang orang yang seperti itu.
"Cepat, cepat! Semuanya sudah sampai
di taman lho!"
"Tunggu aku~!"
Suara ceria bergema, beberapa anak
perempuan kecil berlari melewatiku. Cuaca hari ini sangat bagus. Pasti mereka
mau main bareng teman-temannya di taman.
Punggung anak-anak yang berlari semangat
itu perlahan mengecil dan akhirnya menghilang dari pandangan.
...Yah, nggak ada gunanya juga jadi
terlalu sensitif, lupakan saja masa lalu.
Demi melupakan kenangan pahit yang
membuatku murung, aku mempercepat langkah menuju stasiun.
Setelah berjalan beberapa menit, aku
sampai di stasiun terdekat.
Tempat mengajar les privat berjarak
sekitar lima stasiun dari sini.
Awal mula aku mulai mengajar les ini
adalah sekitar satu bulan yang lalu.
Saat itu sumber penghasilanku baru dari
bar saja, dan Seira-san belum sesering sekarang datang berkunjung (sekarang
Seira-san royal banget jadi aku bisa sedikit lebih boros), jadi aku merasa
penghasilanku agak kurang.
Tadinya
aku pikir tidak apa-apa ambil banyak *shift* selain hari Jumat karena saat itu
aku masih belajar pekerjaan di bar, tapi Kak Aika bilang *『Nggak
baik kalau terlalu sering melakukan pekerjaan seperti ini』*,
Jadi jadwalku dipatok cuma hari Jumat saja.
Biaya hidupku memang banyak dibantu oleh
Kak Aika, tapi aku merasa nggak enak jadi aku coba konsultasi padanya. Kak Aika
dengan wajah yang terlihat sangat bersemangat bilang, "Ah, kalau gitu
Masato kan pintar, aku ada satu permintaan tolong nih," dan itulah awal
aku jadi guru les ini.
Sepertinya putri dari kenalan Kak Aika di
pekerjaannya ingin masuk ke universitas yang sama denganku. Jadi dia ingin aku
membantu studinya.
Begitulah, sudah sekitar satu bulan ini
aku menjadi guru les privat bagi seorang gadis SMA.
Ngomong-ngomong, tempo hari Kak Aika
bilang, "Gaji guru lesnya sudah aku masukkan ke rekening ya~," dan
saat aku cek, jumlahnya benar-benar di luar nalar.
Kenapa banyak banget?
Rasanya tidak wajar gaji guru les
mahasiswa sebesar ini. Tapi saat kutanya, Kak Aika cuma senyum-senyum nakal
saja.
Yah... mungkin saja itu tambahan dari Kak
Aika supaya hidupku lebih mapan, sih...
Benar-benar deh, aku tidak bisa berkutik
di depan Kak Aika.
"Oke, mari kita mulai."
Setelah turun dari kereta dan berjalan
sebentar dari stasiun, aku sampai di rumah tempatku mengajar. Rumah itu punya
gerbang yang megah, dan setelah melewati taman kecil, barulah sampai di pintu
utama.
Kelihatan banget kalau ini rumah orang
kaya. Masih sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan, tapi ya sudahlah.
Aku menekan bel.
"Permisi, saya Katari. Saya datang
untuk mengajar Shiori-san~"
『Iyaaaa!』
Terdengar suara yang ceria, lalu bunyi
*klik* saat kunci gerbang terbuka otomatis.
Pikirku tiap ke sini, fasilitasnya ngeri
banget...
Begitu pintu depan dibuka, ada ibunya
Shinomiya Shiori-chan, murid lesku.
"Masato-kun, selamat siang! Terima
kasih ya~! Shiori sepertinya sudah ada di kamarnya di lantai dua, silakan
langsung saja!"
"Baik. Saya akan berusaha semaksimal
mungkin."
Aku melepas sepatu dan masuk ke dalam
rumah. Aku harus ingat untuk merapikan sepatuku. Tidak tahu kan, di mana orang
bakal menilai kepribadian kita... Aku naik tangga menuju kamar Shiori-chan. Di
depan pintu kamar dengan papan nama yang imut, aku mengetuk dua kali.
"Shiori-chan? Ini Katari. Boleh aku
masuk?"
"I-iya. Silakan."
Suara sopran yang jernih. Shiori-chan
memang punya suara yang indah.
Begitu pintu dibuka, di sana duduk
seorang gadis ramping dengan rambut hitam panjang berkilau yang dikuncir
*half-up* dengan pita biru muda.
Hmm, dia benar-benar tipe gadis yang
sangat cocok dengan kata 'anggun'.
"Halo, Shiori-chan."
"Iya, halo."
...Ngomong-ngomong, hari ini dia tidak
pakai seragam.
Biasanya dia selalu pakai seragam saat
belajar, apa ada alasan tertentu ya?
"Eh, hari ini kamu nggak pakai
seragam ya."
"I-iya. Soalnya kalau dipikir-pikir,
rasanya aneh juga kalau hari libur tetap pakai seragam..."
Shiori-chan memutar kursinya sedikit ke
arahku.
Hmm, hmm. Atasan hitam lengan pendek
dipadukan dengan *dablier* krem... semacam *overalls* yang menyatu sampai ke
rok, sangat cocok dengan kepribadiannya yang anggun.
*TL/Note: Dablier itu semacam overalls
yang menyatu sampai ke rok. Ini merujuk pada salah satu pakaian non-seragam
yang dikenakan oleh Shiori-chan saat ia mencoba mengejar citra yg anggun.
"Hehe~ bagus kok, cocok banget sama
kamu. Karena biasanya cuma lihat kamu pakai seragam, jadi terasa segar."
"...Fufufu... terima kasih. Pakaian
biasa Masato-san juga... keren."
"Pujian nggak bakal bikin tugasmu
berkurang lho ya~?" Aku pun menaruh tas dan mengeluarkan buku pelajaran.
Mungkin sekarang sulit dibayangkan, tapi
saat pertama kali bertemu Shiori-chan, dia pakai kacamata dan rambutnya
dikepang dua.
Entah apa yang mengubah pikirannya, tapi
pertemuan berikutnya dia sudah ganti gaya rambut dan memakai lensa kontak.
Yah, sepertinya saat pertemuan pertama,
ibunya sengaja merahasiakan kalau guru lesnya laki-laki, jadi dia panik.
Ibunya jahil juga ya...
"Oke... mari kita mulai, eh tapi
masih ada lima menit lagi ya."
"Benar, ya. Jadi bagaimana?"
"Mumpung masih ada waktu, kita
ngobrol santai dulu saja baru belajar."
Aku bukan tipe yang suka memaksakan
belajar terlalu kaku.
Ini sudah keempat kalinya, tapi dia
sepertinya masih gugup, jadi aku ingin dia lebih rileks.
Dibandingkan gadis-gadis yang kutemui
sejak datang ke dunia ini, dia termasuk tipe yang sangat tenang.
Kalau Yuka sih sering banget gugup sampai
salah ngomong. Padahal nggak perlu segugup itu...
Tiba-tiba aku melihat sebuah buku novel
di atas meja Shiori-chan.
Benar, dia ini tipe 'gadis sastra'.
"Ah, hari ini kamu lagi baca buku
apa?"
"Ah, itu... bukunya Tasaka-san yang
ini..."
"Ah~ itu seru ya! 'Musim Panas Jatuh
dari Lantai Dua'... Gaya hidup seperti apa ya sampai bisa kepikiran kalimat
pembuka kayak gitu..."
Jujur, hobiku nggak sampai tahap 'pembaca
buku berat', tapi kalau buku yang populer sih aku pernah baca sedikit.
Untungnya di bagian ini, dunia lama dan
dunia sekarang masih sama.
Punya bacaan yang sama itu sangat
membantu buat mencairkan suasana.
Meskipun kalau dibandingkan dengan
Shiori-chan yang sepertinya penggila buku, pengetahuanku yang cuma sekilas ini
nggak ada apa-apanya.
"A-ahahaha benar juga ya..."
Eh, kok tanggapannya biasa saja ya? Apa
ketahuan kalau aku cuma tahu kulitnya saja? Sulit juga ya.
Satu jam pun berlalu.
"Di bagian ini, cara bacanya berubah
lagi. Karena tanda ini pindah ke sini, jadi yang benar adalah~"
Karena jurusanku Soshum, mata pelajaran
yang kuajarkan pada Shiori-chan adalah Bahasa Jepang, Sejarah, dan Bahasa
Inggris.
Biasanya masing-masing diajarkan selama
satu jam, total tiga jam, dan tugasku selesai. Dengan jeda istirahat, biasanya
selesai sebelum jam tujuh malam.
Sekarang kami baru saja selesai Bahasa
Inggris dan mulai masuk ke Bahasa Jepang.
"Anu... hmmm?"
Sepertinya dia kesulitan.
Begitu ya, bagian ini memang
membingungkan... Ah, benar juga.
Mendapat ide bagus, aku berdiri dan
berputar ke belakang Shiori-chan.
Lalu, aku mengintip buku pelajarannya
dari belakang.
"Oke? Shiori-chan, sekarang
perhatikan jari yang kutunjuk ya. Urutan bacanya bareng-bareng..."
Sip, kalau begini kan lebih mudah
dimengerti.
Begitu pikirku, tapi tangan Shiori-chan
mendadak berhenti.
Lho?
"...Ough"
Eh?
Barusan ada suara aneh.
Apa itu Shiori-chan? Suara tadi.
*Gubrak*, Shiori-chan mendadak berdiri
dari kursinya.
"Ma-maaf, saya mau ke kamar mandi
sebentar..."
"A-ah. Oke oke, sori ya."
Tanpa memperlihatkan wajahnya,
Shiori-chan langsung lari ke toilet.
Gawat, apa aku bikin dia marah?
...Ah, mungkin aku terlalu dekat ya.
Pasti risi kalau didekati laki-laki yang
belum terlalu akrab sesedekat itu.
Aku jadi lengah karena rasio laki-laki
yang sedikit di sini, ini beneran nggak baik.
Duh, maaf ya.
Tak lama kemudian Shiori-chan kembali.
Entah kenapa wajahnya merah banget, apa
dia nggak apa-apa ya?
"Mohon maaf. Mari kita
lanjutkan."
"I-iya, benar juga."
Syukurlah. Sepertinya dia nggak
marah-marah banget.
Aku sempat takut kalau dia bakal
tersinggung.
Supaya nggak mengulangi kesalahan yang
sama, aku bermaksud duduk di sampingnya untuk melanjutkan belajar.
"Eh?"
Shiori-chan menatapku dengan wajah heran.
Lho?
"Ah, tidak. Silakan, lakukan lagi
seperti tadi dari belakang. Tolong tekan sekuat mungkin. Tolong tutupi tubuh
saya dari belakang ya."
Eh?
───● Gadis Sastra SMA Bermimpi ●○●
Kusam. Culun.
Itulah kesan yang sering diucapkan
orang-orang di sekitarku tentang diriku.
Tapi aku tidak merasa menyesal, benci,
atau apa pun soal itu.
Malah, aku pikir lebih baik begini saja.
Aku sekarang duduk di kelas 2 SMA.
Sebelum masuk SMA, aku sempat berpikir
mungkin aku bakal punya pacar...? Tapi fantasi itu hancur dengan mudahnya.
Sekolahku ini sekolah campuran, jadi
lumayan banyak laki-lakinya.
Tapi mereka yang jumlahnya cuma enam
orang di kelas terbagi menjadi dua grup yang masing-masing terdiri dari tiga
orang.
Dan yang bisa mengobrol akrab dengan
mereka pun biasanya cuma dua grup perempuan saja.
Kesempatan seperti itu hanya berputar di
kalangan gadis-gadis kasta atas.
Atau lebih tepatnya, gadis kasta atas itu
seolah memonopoli para laki-laki. Memang begitu kenyataannya. Itulah realitas
di sekolah campuran.
Sisa-sisa remahannya tidak akan pernah
sampai ke orang culun sepertiku.
(Yah... jujur aku merasa nggak butuh juga
sih.)
Pikirku sambil melihat sekeliling.
Laki-laki di kelas ini, kalau wajahnya
sedikit tampan pasti sikapnya tinggi hati atau sok berkuasa. Sebaliknya, yang
lain malah nggak punya rasa menjaga kebersihan, atau terlalu gemuk, intinya
cuma kumpulan orang yang nggak punya daya tarik sebagai lawan jenis.
Meski begitu, mereka tetap saja
menyeringai karena masih ada perempuan yang mendekati mereka.
(Kalau cuma segitu, mending nggak ada
sekalian.)
Bukan maksudku untuk sok kuat.
Aku memang merasa begitu secara alami.
Lagipula.
(Aku... punya ini...)
Diam-diam, aku mengeluarkan sebuah buku
dari kolong meja.
Karena memakai sampul buku, orang di
sekitar tidak akan tahu apa isinya.
Ini adalah buku yang ditujukan untuk
perempuan.
Sejak dulu aku suka cerita fantasi.
Karakter-karakter yang muncul di dalam
cerita semuanya punya hati yang indah dan jernih. Sang *hero* semuanya
tampan... dan sang *heroine* pun punya alasan kenapa mereka disukai.
Tokoh-tokoh di dalam cerita itu benar-benar indah.
Haaah, aku menghela napas sambil
membayangkan para tokoh cerita itu, lalu kembali melihat sekumpulan orang yang
sedang mengobrol di kelas.
(Huft... emang realitas itu sampah ya...)
Cukup ada buku ini saja sudah cukup.
Mengabaikan keriuhan di dalam kelas, aku
duduk di pojok ruangan, seorang diri tenggelam dalam indahnya dunia cerita.
"Aku pulang~"
Sebagai anggota klub yang cuma numpang
nama alias "klub hantu", aku biasanya langsung pulang begitu sekolah
usai.
"Ah, selamat datang kembali,
Shiori."
Aku cuma bilang "aku pulang"
pada Ibu, lalu langsung menuju kamar.
Hari ini selain membaca buku, aku juga
ingin main game. Game tipe visual novel. Selama aku dikelilingi
karakter-karakter tampan, aku merasa bahagia.
"Tunggu dulu, Shiori. Sini
sebentar."
"……Ada apa?"
Ibu memanggilku.
Padahal aku ingin segera main game...
"Kamu... sudah punya teman, atau
pacar belum?"
"Kenapa tiba-tiba tanya gitu? Belum
punya."
"Kamu itu harusnya merasakan cinta
selagi masih pelajar. Setidaknya cobalah berinteraksi dengan anak
laki-laki."
Lagi-lagi bahas soal ini.
Katanya karena sekarang laki-laki makin
sedikitlah, apa lah. Aku sudah kenyang dengarnya. Jujur saja.
"Iya, iya. Aku usahakan."
"Duh, beneran deh... ah, benar juga.
Kamu bilang ingin masuk universitas negeri itu, kan?"
"……? Iya, terus?"
Ujian masuk universitas.
Karena masih kelas 2 SMA, aku belum
memutuskan secara pasti, tapi aku punya universitas incaran. Fasilitas di sana
bagus…Perpustakaannya juga besar.
Meski nilai standarnya (*hensachi*)
tinggi karena itu universitas negeri, tapi bukan tempat yang mustahil kalau aku
berusaha.
*TL/Note: Hensachi = skor standar yang
menunjukkan posisi nilai seseorang dibanding rata-rata peserta (skala umum:
rata-rata = 50).
"Berkat kenalan Ibu, katanya ada
orang yang kuliah di sana, jadi Ibu berniat memanggilnya jadi guru les
privatmu!"
"Eh~... nggak mau ah..."
Guru les? Ogah banget.
Aku bisa belajar sendiri... meski sedih
mengatakannya, tapi karena aku nggak punya banyak teman dan nggak ikut kegiatan
klub, aku punya banyak waktu luang.
Berkomunikasi dengan orang lain itu
merepotkan...
"Sudah diam saja! Pokoknya coba
temui dia sekali saja! Hari Sabtu Ibu panggil ke sini, jadi kamu harus ada di
rumah ya!"
"Eeeh~ malas banget... aku bakal
tolak lho ya nanti?"
"Yah, kalau kamu nggak suka boleh
ditolak kok."
"Eh, kenapa Ibu senyum-senyum gitu,
menjijikkan tahu..."
Yah, kalau boleh ditolak sih.
Maaf ya buat si guru les itu nanti, aku
bakal cari-cari alasan biar dia langsung pulang. Tanpa memikirkan alasan di
balik senyum menjijikkan Ibuku, aku mengurung diri di dalam kamar.
Hari Sabtu. Seperti biasa aku sedang
membaca buku di kamar. Sebuah cerita romansa dengan beberapa ilustrasi yang
agak berani. Ugh! *Hero* yang ini beneran nggak tahan...!
Tampan, pintar, kuat, dan lagi super
lembut. Dewa banget. Yah, namanya juga fiksi, wajar saja sih.
Seandainya laki-laki seperti ini beneran
ada...
Laki-laki yang aku kenal di dunia nyata
cuma teman sekelas, atau artis-artis di TV yang sikapnya berlebihan.
Aku sudah cukup tahu soal kenyataan pahit
dunia.
"Shiori! Guru lesnya sudah datang!
Ibu masuk ya?"
"……Iyaaa."
Duh... maaf ya guru les, tapi aku bakal
suruh kamu pulang secepatnya.
Aku langsung menjejalkan buku yang kubaca
tadi ke rak buku.
Karena hari ini tadi ada sekolah di pagi
hari, aku masih pakai seragam.
Ya sudahlah. Game dan pakaian ganti juga
masih agak berantakan, tapi tolong dimaafkan ya.
Setidaknya kondisinya nggak separah itu
sampai nggak layak dilihat orang.
*Cklek*, pintu dibuka.
Aku menghela napas sambil menoleh ke arah
pintu...
──Mataku
langsung terbelalak.
"Ah, halo, selamat siang,
Shiori-san."
Pikiranku mendadak *freeze*.
Ada cowok ganteng berdiri di sana.
"Eh?"
Tanpa sadar ponsel yang kupegang
terjatuh.
Eh? Ha?
Kenapa ada laki-laki?
Eh?
"Ini orangnya, Katari Masato-kun
yang Ibu minta buat jadi guru lesmu. Ganteng kan~ ayo, Shiori, beri
salam."
……
Butuh beberapa detik bagi otakku untuk
memproses apa yang terjadi.
Lalu, aku memahami apa yang harus
kulakukan sekarang.
"Tung—"
"Tung?"
"TUNGGU SEBENTAR TOLONG TUNGGU
SEBENTAR DULUUUUUU!!!!!!"
Aku paksa mendorong Ibu kembali ke
belakang, dan aku suruh guru les yang ada di belakangnya untuk keluar kamar
juga.
Tunggu, tunggu, tunggu!!!!
Aku nggak dengar kalau guru lesnya
laki-laki!!!!
"Apa-apaan sih kamu, Shiori~"
"Ibu……! Aku beneran nggak bakal
maafin Ibu……!"
Aku tahu Ibu pasti sedang menyeringai.
Dia sengaja diam saja, dasar wanita
licik……! Bakal kulaporkan Ayah kalau Ibu sering main ke Boys Bar……!
Pertama-tama, aku menutupi rak buku
dengan handuk mandi putih bersih untuk menyembunyikannya.
Terlalu banyak buku yang berbahaya kalau
sampai terlihat!!! Gamenya juga kusembunyikan.
Pakaian ganti, baju kotor juga.
Setelah selesai membereskan semuanya
dengan kecepatan luar biasa, terakhir aku berdiri di depan cermin. Tanpa sadar
napasku tersengal, jantungku berdegup kencang.
Terlebih lagi, orang tadi.
(Bukankah dia terlalu ganteng????)
Aku teringat sosoknya yang memberikan
senyum lembut padaku.
Tingginya mungkin sekitar 175 cm. Rambut
hitamnya yang ikal halus benar-benar terlihat indah.
Benar-benar seperti.
(Seperti *hero* di dalam cerita……!)
Wajahku terasa panas.
Aku nggak pernah dengar soal ini.
Segera kurapikan penampilanku, lalu
menarik napas panjang.
"Maaf…… membuat Anda
menunggu……"
Beberapa saat kemudian, aku membuka
pintu.
Di sana benar-benar ada seorang
laki-laki. Jantungku berdegup kencang.
"Ah, maaf ya? Sepertinya
komunikasinya kurang lancar tadi..."
"Nggak, nggak nggak nggak nggak! Ibu
saya yang salah kok……"
Aku mempersilakannya masuk ke kamar.
Gimana ini, gimana ini.
Ada cowok ganteng di kamarku.
"Si-silakan."
Untuk sementara, aku memberikan kursi
meja belajar yang biasa kupakai. Aku sendiri duduk di tepi tempat tidur.
"Maaf ya, terima kasih."
"Nggak apa-apa kok……"
Tenanglah, diriku.
Memang dia tampan, tapi aku tidak boleh
tertipu hanya karena itu.
Dia ini orang yang dibawa oleh Ibu itu.
Bisa saja dia punya sifat yang tinggi
hati, atau bermuka dua.
Aku nggak bakal tertipu. Aku ini wanita
yang tahu perbedaan antara realitas dan fiksi.
"Anu, aku sendiri belum terlalu
paham situasinya tapi... intinya hari ini kita coba mengobrol dulu, lalu
setelah itu baru diputuskan apa aku akan dipekerjakan jadi guru lesmu atau
tidak... begitu kan?"
"A-ah, mungkin... sepertinya
begitu."
Aku sadar suaraku sekarang ini kecil
sekali, hampir seperti cicitan nyamuk. Mana mungkin aku bisa bicara dengan
volume suaraku yang biasanya di depan orang seperti ini.
"Jujur saja, karena ini mendadak,
kamu boleh banget kok menolak tawaran ini. Terus, karena aku tahu pasti sulit
kalau harus bilang langsung padaku, nanti setelah aku pulang kamu tinggal
bilang saja pelan-pelan ke Ibu. Begitu lebih enak buat Shiori-san, kan?"
"……"
……Ha────?
Bukankah dia ini terlalu baik?
Kalau ini laki-laki populer di kelasku,
dalam situasi begini pasti nggak aneh kalau dia bakal bilang, 'Harusnya kamu
bersyukur aku mau ngajarin lo' ???
Nggak, tunggu dulu, Shiori. Jangan mau
tertipu dulu. Bisa saja dia sengaja bersikap baik hari ini supaya dipekerjakan.
Eh, tapi tadi dia bilang boleh ditolak...? Duh, aku nggak paham.
"Shiori-san, kenapa kamu ingin masuk
ke universitas tempatku kuliah?"
"E-eh, itu, fasilitasnya terlihat
bagus... terus, perpustakaannya besar, jadi..."
"Hee~ Shiori-san suka buku ya!"
He-hentikan!! Jangan berikan senyum
berkilau itu padaku!!
Apa-apaan? Orang ini punya level
ketampanan skala 100 ya!? Padahal cuma gerakan kecil, tapi jantungku sampai
berdebar kencang.
"Yah, sedikit saja sih..."
"Wah, perpustakaan kampusku memang
besar, sih... Biasa baca buku apa?"
"……"
Gawat. Harus bagaimana ini.
Aku nggak kepikiran sama sekali. Kalau di
sini aku bilang 'aku suka genre fantasi dan romansa yang agak berani', dia 180%
bakal merasa ilfeel.
Jawaban yang aman... jawaban yang aman
adalah...
"Sastra murni, gitu."
"Hee~! Hebat ya. Aku sendiri agak
payah kalau baca tulisan yang bahasanya kaku begitu... Kalau karya yang populer
sih aku baca, tapi kalau sastra murni rasanya sulit banget buat mulai
baca!"
Bohong, maafkan aku, aslinya aku nggak
baca sama sekali.
Gawat, gawat. Kalau begini terus, aku
nggak bakal bisa nemu celah buruknya! Pasti, di suatu tempat, dia pasti punya
sisi buruk...
Ah, benar juga! Kalau cewek culun kayak
aku bersikap kurang ajar, orang se-sempurna ini pun pasti bakal menunjukkan
sifat aslinya...!
Maaf ya, tapi ini demi masa depanku! Demi
masa depan...!
Aku memantapkan niat, dan sengaja
mengatakan hal yang menyebalkan.
"……Katari-san sendiri juga boleh kok
menolak jadi guru lesku."
"……? Kenapa?"
"Pasti malas kan mengajar gadis
culun kayak aku? Pasti di dalam hati berpikiran kalau lebih enak kalau muridnya
lebih imut, kan? Lagipula Katari-san pasti laku banget di mana-mana."
……Aku sadar sendiri, aku ini benar-benar
wanita rendah diri yang menyebalkan.
Sedih rasanya mengatakan itu sendiri.
Tapi, tapi ya, ini demi masa depan...! Sambil menahan rasa bersalah, aku
memperhatikan reaksinya.
Lalu.
Tanpa memudarkan senyumnya, Katari-san
menggelengkan kepala.
"Nggak
kok. Hal itu nggak ada hubungannya sama sekali. Shiori-san sedang berjuang
keras karena ingin masuk ke universitas tempatku kuliah. Di situ sama sekali
nggak ada perbedaan derajat setitik pun. Siapa pun muridnya, kalau sudah
diputuskan aku yang mengajar, aku bakal membantu sekuat tenaga.
Lagipula──"
"Shiori-san itu sangat manis, lho.
Pas tadi kita pertama ketemu, aku langsung berpikir kalau kamu itu gadis yang
cantik."
……Oke.
Sepertinya *hero* dari cerita favoritku
baru saja melintasi dimensi cuma buat menemuiku.
Singkatnya begini. Aku suka banget sama
dia.
───● Gadis Sastra SMA Mengejar Citra Anggun ●○●
Kehidupanku berubah drastis sejak aku
mulai mempunyai guru les privat.
"Aku pulang!!!"
Begitu sekolah hari Sabtu usai, aku
langsung melesat membuka pintu rumah. Aku mencuci tangan secepat kilat di
wastafel, lalu lari berderap menaiki tangga menuju kamarku sendiri.
"Heh, Shiori~! Kamu beneran sudah
cuci tangan pakai sabun belum itu!"
"Sudah!"
Waktu menunjukkan pukul 13.30.
Tersisa
sekitar satu setengah jam lagi sampai dia──Masato-san──datang.
(Hari ini... aku sudah putuskan mau pakai baju
biasa♪)
Sebelum Masato-san datang, aku hampir
tidak punya baju biasa yang layak. Ya wajar saja, sih. Pakai seragam saja sudah
cukup, lagipula saat hari libur pun aku tidak punya teman untuk diajak pergi
keluar. Aku merasa tidak perlu menghabiskan uang untuk pakaian biasa.
Aku teringat kembali malam setelah
"Hari Takdir" itu... hari pertama aku bertemu Masato-san.
Setelah melontarkan segala macam makian
pada Ibu dan mengancam akan melaporkannya pada Ayah, aku mencoba menenangkan
diri di kamar untuk mengatur situasi.
(Ga-gawat... ini beneran terjadi... nggak
nyangka orang yang kayak *hero* itu bakal datang ke kamarku setiap minggu...!)
Aku sempat mengira dia baru saja keluar
dari buku dongeng.
Penampilannya memang tipe cowok ganteng
yang terlihat tulus, tapi di bagian akhir pertemuan kami, di mataku dia tidak
lebih dari seorang pangeran yang mengenakan baju ksatria yang gagah. Tanpa
sadar aku bersyukur atas keberuntungan yang tiba-tiba jatuh dari langit ini.
Setidaknya dalam hal mendatangkan orang
sehebat itu, aku harus akui selera Ibu boleh juga.
(Lagipula... tadi dia bilang aku...
cantik, kan?)
Tadinya kukira dia pasti punya
kepribadian yang buruk makanya aku sengaja bicara ketus, tapi ternyata jawaban
yang dia berikan benar-benar di luar dugaan. Dipuji seperti itu berarti...
mungkinkah aku bisa jadi lebih akrab dengannya?
Maksudku, kami bakal bertemu setiap
minggu lho!? Meski tujuannya belajar... tapi tidak menutup kemungkinan bakal
ada... itu, kejadian-kejadian yang tidak sengaja... Duh, perasaanku jadi
melayang.
Wajahku terasa sangat panas.
Untuk menenangkan diri, tiba-tiba aku
melihat sampul novel favoritku yang ada di rak buku.
(Beneran deh... orang itu mirip banget
sama *hero* di novel ini...)
...Sampai di situ, gerakanku mendadak
berhenti.
Di samping sang *hero* yang terpampang di
sampul, ada sosok *heroine* yang cantik dan jelita. Lalu, aku melihat ke arah
cermin yang ada di depan lemari. Aku menatap bayanganku sendiri. Di sanalah aku
menyadari sebuah fakta yang mengejutkan.
(……Dengan penampilan kayak begini,
bukankah aku nggak pantas bersamanya sama sekali……?)
Sudah jelas, sih. Meski tadi aku sempat
melayang, tapi kenyataannya aku ini gadis culun. Nggak, menyebut diri sendiri
culun saja rasanya tidak sopan pada ubi cilembu yang beneran enak. Aku ini
bahkan nggak ada enak-enaknya sama sekali. Tubuhku yang tadi panas mendadak
mendingin seketika.
Seandainya ada cerita tentang gadis SMA
berkacamata yang super kusam ini bersatu dengan pangeran dari buku dongeng itu,
kira-kira apa yang bakal kupikirkan pas membacanya?
*『Ehhh
serius mending bangun deh, dramanya halu banget dah hahaha. Mana mungkin cowok
ganteng maksimal mau ngelirik cewek cupu antisosial kayak lo hahaha. Sadar diri
dah hahaha.』*
……Yah, paling komentarnya bakal begitu.
Mungkin saja ada probabilitas sekecil
ukuran plankton kalau Masato-san ternyata punya selera ekstrem ke cewek super
kusam dan bakal menyukaiku apa adanya, tapi aku belum mau mati sebagai wanita
dengan cara pasrah pada keberuntungan mustahil seperti itu.
Lalu, apa yang harus kulakukan?
Sekali lagi aku menatap sampul novel
tadi. Aku melihat sang *heroine* cantik yang berdiri di sana.
(Aku harus... menjadi seperti dia...!)
Aku harus menjadi seperti *heroine* itu.
(Tapi, sekeras apa pun aku berusaha,
mustahil bagiku menjadi tipe *heroine* yang ceria dan penuh semangat... Kalau
gitu, tujuan yang harus kukejar adalah... tipe gadis anggun yang sopan dan
tenang!)
Aku berdiri di depan cermin. Aku melepas
ikatan kepangku. Aku melepas kacamataku.
(Kalau begini terus, nggak akan bisa……)
Aku membuka pintu kamar dengan penuh
tekad. Apa pun bakal kusembunyikan sampai tuntas. Biarpun cuma polesan luar
saja nggak apa-apa. Demi menjadi sosok yang bisa disukai oleh orang itu.
"Ibu, ajari aku cara *makeup*!!"
Strategi besar Operasi Karakter Gadis
Anggun-ku pun dimulai dari sini!
Aku membuka lemari pakaian untuk memilih
baju.
"Pakai yang dipilihkan kemarin saja
kali ya..."
Ajaibnya, sejak aku berhenti mengepang
rambut, ganti kacamata dengan lensa kontak, dan mulai pergi ke sekolah dengan
penampilan baru, aku jadi punya teman di kelas. Apa beneran segampang itu?
Kalau ditanya begitu, mungkin jawabannya tidak sesederhana itu, tapi aku merasa
selama ini akulah yang memutus komunikasi lebih dulu. Mungkin ini soal
mentalitas.
Topik soal "perubahan drastis
penampilanku" jadi bahan obrolan yang bagus. Dan setelah kucoba bicara,
ternyata asyik-asyik saja. Makanya, aku memutuskan minta bantuan para pelopor
"anak gaul" itu buat memilihkan baju. Yah, umat manusia kan
berkembang berkat kemajuan tahap demi tahap, kan? Sudah sewajarnya kalau aku
meminjam kekuatan para pendahulu.
"Oke... mari maju dengan ini."
Aku bakal bertarung dengan jalur
"gadis anggun". Baju biasa pun sepertinya lebih baik yang terlihat
dewasa. Aku mengeluarkan rok tipe *overalls* favoritku. Gaya rambutnya
*half-up*, diikat dengan pita biru muda yang kubeli di toko aksesoris.
Sip, nggak buruk.
*Makeup*-nya jangan terlalu tebal.
Konsisten pada gaya natural.
*Eyeliner* untuk mempercantik mata dan
*foundation* untuk memperhalus kulit. Keduanya tipe kalem yang tidak terlalu
mencolok.
Aku berdiri di depan cermin.
Sip. Nilainya sudah mencapai batas lulus.
Kalau begini, seandainya aku jadi
pasangan sang *hero* pun...
*『Yaaa~~
kalau segini sih, masih dimaafkan lah ya buat cinta beda kasta sedikit.』*
Setidaknya penampilanku sudah sampai di
level itu. Merasa lega untuk sementara, aku meraih novel yang baru kubeli dan
sempat tergeletak begitu saja.
"Shiori-chan? Ini Katari. Boleh aku
masuk?"
He……?
……GAWAAAATTTTTTTTT!!!!
Tadi kupikir waktunya masih luang,
makanya aku malah asyik baca novel romansa yang ilustrasinya agak vulgar!?
Gawat banget ini!? Sudah kurang lima menit dari waktu janjian! Bodohnya aku!
Secepat kilat kupasang sampul buku ke
novel itu. Sampul dari buku sastra murni yang Ibu belikan, katanya sih masuk
peringkat atas di toko buku. Aku bakal bertahan dengan ini!
"I-iya, silakan."
Pintu dibuka dan Masato-san masuk sambil
tersenyum ramah.
Ah... silau banget...
"Halo, Shiori-chan."
*Ough.*
Bahaya. Jangan kalah, diriku. Kamu kan
mau jadi gadis anggun!!
"Iya, halo."
Yo-yosh, bagus. Bagus sekali. Sapaan tadi
rasanya sudah cukup elegan, kan?
Entahlah. Tepat saat aku merasa lega,
Masato-san membelalakkan matanya seolah menyadari sesuatu.
"Eh, hari ini kamu nggak pakai
seragam ya."
Aaahhh se-neeeee-ngnyaaaaaa~~~~ beneran
ada ya di dunia nyata cowok yang memperhatikan hal sekecil itu~~~~.
"I-iya. Soalnya kalau dipikir-pikir,
rasanya aneh juga kalau hari libur tetap pakai seragam."
Coba deh, pamer sedikit ah. Aku memutar
kursi untuk memperlihatkan penampilanku hari ini. Terima kasih, teman-temanku.
Lihatlah kilauan ini. Zirah ini adalah bekal pemberian dari kalian.
"Hehe~ bagus kok, cocok banget sama
kamu. Karena biasanya cuma lihat kamu pakai seragam, jadi terasa segar."
Ooufh xixixi...
Bukan! Bahaya, bahaya... eh tapi beneran
aku seneng banget... nggak kuat... untung aku sudah berjuang...
Aku nggak bakal membiarkan diriku
diserang terus. Rasakan seranganku yang sudah kuasah dengan pedang bernama
"keanggunan" demi hari ini!
"Fufufu, terima kasih. Pakaian biasa
Masato-san juga... keren."
"Pujian nggak bakal bikin tugasmu
berkurang lho ya~?"
Eh? Balasannya kok gitu. Kamu tuh ganteng
banget, berhenti bersikap keren begitu!!
"Oke... mari kita mulai, eh tapi
masih ada lima menit lagi ya."
"Benar, ya. Jadi bagaimana?"
"Mumpung masih ada waktu, kita
ngobrol santai dulu saja baru belajar."
Cowok ganteng yang penuh perhatian *is
God*. Ini sudah keempat kalinya, tapi level ketampanan Masato-san beneran
ketinggian. Kalau di karya fiksi, tingkah laku begini paling bakal dikatain
"halu banget".
"Ah, hari ini kamu lagi baca buku
apa?"
……Gawaaat. Gawat banget ini.
Nggak, tunggu sebentar. Sampul buku
(sampul palsu) sudah terpasang.
Isi aslinya yang merupakan novel romansa
panas ini belum ketahuan.
Kalau aku memperlihatkan ini, dia pasti
bakal percaya! Katanya buku ini lagi populer juga!
Ada suara di dalam hatiku yang bertanya.
*Apa tidak apa-apa dengan perlengkapan
(sampul buku) seperti itu?*
Aku pun mengacungkan jempol sambil
tersenyum.
*Tidak apa-apa. Tidak ada masalah.*
"A-ah, itu... bukunya Tasaka-san
yang ini..."
"Ah~ itu seru ya! 'Musim Panas Jatuh
dari Lantai Dua'... Gaya hidup seperti apa ya sampai bisa kepikiran kalimat
pembuka kayak gitu..."
...
Apa maksudnya musim panas yang jatuh??
Emangnya musim panas itu barang yang bisa jatuh??
Apa-apaan sih ini! Sampulnya sama sekali
nggak membantu! (Kesal)
"A-ahahaha benar juga ya..."
Ba-baca deh. Sumpah, lain kali kalau mau
nyiapin sampul palsu harus sudah dibaca dulu...
Meski mungkin sudah terlambat, di dalam
hati aku meminta maaf sebesar-besarnya kepada penulis yang novelnya kupinjam
sampulnya ini.
Ah~ bahagia banget rasanya~.
Aku memang nggak terlalu suka belajar,
tapi aku suka sekali saat-saat diajar oleh Masato-san.
Cara mengajarnya bagus dan mudah
dipahami. Sejujurnya, awalnya aku pikir mau seburuk apa pun cara mengajarnya
juga nggak apa-apa, tapi ternyata dia beneran jago.
Katanya ini pertama kalinya dia mengajar,
tapi rasanya sulit dipercaya.
*High-spec* banget, paket lengkap tanpa
celah.
"Di bagian ini, cara bacanya berubah
lagi. Karena tanda ini pindah ke sini, jadi yang benar adalah~"
Hmm...?
Sekarang aku sedang mencoba belajar
serius, tapi aku memang payah di pelajaran Bahasa Jepang. Apaan sih sastra
Mandarin kuno (*Kanbun*) ini. Setidaknya jadilah bahasa Jepang yang normal gitu
lho, *please*.
Cara mengajar Masato-san sudah sangat
bagus, jadi memang otakku saja yang bermasalah.
Saat aku sedang berpikir begitu sambil
mati-matian membaca teks pelajaran... aku merasakan sesuatu di punggungku.
Eh?
"Oke? Shiori-chan, sekarang
perhatikan jari yang kutunjuk ya. Urutan bacanya bareng-bareng..."
──Seketika,
sebuah guncangan manis menjalar ke seluruh tubuhku.
Kata-kata yang dibisikkan tepat di
telingaku itu langsung menghantam otakku.
A-apa-apaan ini?
Apa siaran ASMR khusus buatku baru saja
dimulai?
Tadi dia bilang mau menunjuk pakai jari,
tapi maksudnya menunjuk bagian mana???
Seluruh tubuhku terasa mendidih.
Indikator di dalam diriku sudah mencapai
batasnya dan meledak.
"Ough."
Ah, gawat.
Refleks aku menutupi mulutku.
Ini sudah batasnya.
Aku pun berdiri dengan penuh tenaga.
"Ma-maaf, saya mau ke kamar mandi
sebentar..."
"A-ah. Oke oke, sori ya."
Tanpa memperlihatkan ekspresi wajahku,
aku keluar kamar menuju toilet.
Segera kututup pintu toilet rapat-rapat.
Lalu aku terduduk lemas begitu saja di
sana.
"Haaaah────...!
Haaaaah────...!"
Sensasinya masih membekas di punggungku.
Sensasi hangat saat dia mendekat seolah
menyelimutiku. Kata-kata yang diucapkan di dekat telingaku.
Aroma manis yang menggelitik hidungku.
Topeng "gadis anggun"-ku sudah
retak dalam waktu singkat.
Habisnya itu... itu beneran curang
banget.
Keringat mulai menetes.
Hasrat memuakkan yang meluap dari dalam
diriku ini... sosok seperti ini benar-benar tidak pantas jadi seorang
*heroine*. Aku tahu itu.
Tapi, sekarang saja.
Biarkan aku mengatakannya sekarang saja.
Aku ingin membuang topeng ini dan berteriak sebagai diriku yang sebenarnya.
Nanti aku bakal pakai lagi kok topengnya.
Sekarang saja, biarkan aku...
"TABRAK AKU SEKARANG JUGA
DONGGGGGGG!!!!!"
Perasaan yang sangat jauh dari kata "anggun" itu kuteriakkan sepuas hati.



Post a Comment