NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjohi 1:5 no Sekai demo Futsu ni Ikirareru to Omotta? Geki Juu Kanjou na Kanojotachi ga Mujikaku Danshi ni Honrousaretara Volume 2 Chapter 2

Chapter 2: Pikiran yang Berputar di Tengah Keseharian

───● Sahabat Masa Kecil Si Mahasiswi Balas Memukul ●○●

 

Universitas adalah fasilitas pendidikan di mana waktu yang terbuang setiap harinya sangat bergantung pada kemandirian tiap individunya, begitulah menurutku.

 

Orang yang tidak punya semangat biasanya menitipkan absensi pada orang lain lalu pergi bermain, sementara mereka yang bersemangat akan menghadiri banyak kelas untuk mengamankan SKS.

 

Tentu saja, mungkin di universitas lain tidak seperti itu.

 

Aku sendiri berada di tengah-tengah; mengambil kelas secukupnya, dan mengambil libur juga secukupnya.

 

Di antara hari-hari itu, hari ini bisa dibilang adalah hari libur bagiku.

 

Jam ketiga sudah berakhir, dan hari ini aku tidak punya kelas lagi yang harus dihadiri.

 

"Nghhh~! Capek banget! Duh, minggu depan ada kuis ya~ aku nggak percaya diri nih."

 

"Tenang saja, pasti bisa kok!"

 

"Mizuho, kamu selalu bilang gitu tapi ujung-ujungnya selalu mepet kan..."

 

"Karena justru pas mepet itulah hasilnya jadi oke!"

 

Hari ini pun kami bertiga mengikuti perkuliahan bersama.

 

Belakangan ini, sepertinya aku mulai terbiasa beraktivitas bersama mereka bertiga.

 

Aku mencuri pandang ke arah samping wajah Masato yang sedang tertawa mendengar kata-kata Mizuho tadi.

 

Justru karena sudah terbiasa... aku jadi merasa ciut saat memikirkan bagaimana kalau aku mengutarakan perasaanku pada Masato lalu hasilnya gagal.

 

Tapi, kalau aku terus-terusan membiarkan hubungan ini menggantung, Masato itu orangnya gampang bikin cemas, jadi bisa saja dia direbut orang lain.

 

Hanya itu, hanya hal itu yang benar-benar tidak boleh terjadi.

 

"……? Koumi, ada apa?"

 

"Nggak! Nggak ada apa-apa! Kalau begitu, ayo pergi ke tempat *batting center* yang sudah kita janjikan! Letaknya nggak jauh kok kalau naik kereta!"

 

*TL/Note: Batting center adalah fasilitas yang menyediakan tempat berlatih memukul bola bisbol atau sofbol dengan mesin pelempar otomatis.

 

"Oh, boleh saja."

 

Hari ini memang dari awal aku sudah punya janji dengan Masato untuk pergi ke *batting center*.

 

Begini-begini aku ini lulusan klub sofbol lho, dan aku punya kepercayaan diri dalam memukul bola. Tapi biarpun bilang begitu, Masato sama sekali tidak percaya padaku, jadi hari ini aku akan membuktikannya! Begitulah janjinya hari ini.

 

"Mizuho juga ikut, kan?"

 

Gadis kuncir dua yang ceria di sampingku ini juga tipe orang yang jago olahraga.

 

Belakangan ini sepertinya dia sudah makin akrab dengan Masato, jadi kupikir dia pasti mau ikut. Tapi...

 

"Eh? Ah... ahaha! Hari ini aku ada janji lain... kalian berdua nikmati saja ya berduaan!"

 

"Lho? Begitu ya?"

 

"Iya, iya! Habisnya Mizuho-chan yang sangat populer ini kan sibuk banget... hiks hiks hiks."

 

Dia bicara begitu, tapi menurutku ini aneh sekali.

 

Aku sudah lama berteman dengan Mizuho, dan biasanya kalau aku ajak, dia tipe yang bakal datang sambil "mengibaskan ekor" kegirangan...

 

"Mizuho, kamu ada urusan apa?"

 

"……-!"

 

Masato sepertinya juga merasa heran, lalu dia mencondongkan wajahnya memperhatikan ekspresi Mizuho.

 

"Du-duh! Jadi bingung nih. Ternyata Masato kepingin banget ya Mizuho-chan ikut.

 

“Tapi hari ini nggak bisa! Maaf ya! Kalau begitu, sampai jumpa besok kalian berdua~!"

 

"Ah, tunggu sebentar, Mizuho!"

 

Mizuho yang membetulkan posisi topi *marine cap*-nya langsung lari seketika.

 

Kenapa buru-buru sekali? Padahal kan harusnya kita bareng sampai stasiun...

 

"Mizuho agak aneh ya tadi."

 

"Ah..."

 

Mendengar kata "aneh", aku pun tersadar.

 

Mizuho sedang perhatian padaku. Dia sengaja menghindar supaya aku dan Masato bisa berkencan berdua...

 

"Mizuho bodoh... padahal nggak usah sebegitunya juga nggak apa-apa..."

 

"? Kenapa?"

 

"Nggak ada apa-apa! Ayo berangkat!"

 

Besok kalau ketemu aku harus bilang padanya dengan benar.

 

Aku juga suka waktu yang kita habiskan bertiga, dan kalau cuma ke *batting center* saja sih nggak masalah kalau pergi bertiga.

 

Di universitas, memang benar waktu kami bertiga makin banyak, tapi aku sama sekali tidak merasa Mizuho itu mengganggu.

 

Lagipula kan aku sendiri yang mengenalkannya.

 

Karena bagaimanapun, aku juga sayang banget sama Mizuho.

 

Sekitar 10 menit naik kereta dari stasiun terdekat universitas.

 

Aku dan Masato sampai di stasiun tempat *batting center* berada.

Begitu keluar gerbang tiket, di depan mata sudah terlihat atap gedung yang dikelilingi jaring.

 

Suara denting logam yang khas saat pemukul mengenai bola juga sesekali terdengar sampai ke bawah.

 

"Wah, aku jadi semangat nih bisa memukul bola lagi setelah sekian lama."

 

"Fufu, Masato kayak anak kecil saja."

 

"Hal kayak begini tuh paling asyik kalau kita kembali ke jiwa kanak-kanak kita!"

 

Aku mengejar Masato yang berjalan dengan riang menuju lift.

 

Masato waktu kecil ya... anak seperti apa dia dulu. Apa dari dulu dia sudah ganteng ya.

 

Kami naik lift menuju atap.

 

Setelah memasukkan uang 1.000 yen ke mesin tiket, keluarlah tiket untuk empat kali giliran memukul.

 

"Siapa yang mau duluan?"

 

"Silakan Masato duluan saja, dari tadi matamu sudah berbinar-binar gitu kok."

 

"Ahaha, ketahuan ya?"

 

Beneran kayak anak kecil. Bagian itu pun terasa imut dan manis bagiku.

 

Masato melangkah cepat menuju kotak pemukul... tapi.

 

"Masato, di situ kecepatannya 130 km/jam lho? Masa langsung dari awal..."

 

"Nggak apa-apa, tenang saja! Aku lumayan jago lho!"

 

"Masa sih..."

 

Itu adalah kotak pemukul dengan kecepatan bola tercepat kedua di tempat ini.

 

Bahkan buat laki-laki pun, memukul bola secepat itu cukup sulit menurutku...

 

"Ah, maaf. Bisa tolong pegangkan ini?"

 

"Ah, iya."

 

Sebelum Masato masuk ke kotak pemukul, dia menyerahkan ransel, jam tangan, dan kalungnya padaku.

 

……Eh, bukannya ini terasa mirip pacaran banget? Perasaan saat membawakan barang milik cowok itu, rasanya benar-benar seperti seorang pacar, kan!?

 

Sudahlah, anggap saja aku pacarnya (kesimpulan sendiri).

 

Bahagia sekali...

 

"Oke! Mari kita mulai!"

 

Masato masuk ke posisi pemukul sebelah kanan, menyingsingkan lengan bajunya, dan bersiap.

 

Aku memperhatikannya dari balik jaring.

 

Monitor menyala, dan gambar pelempar bola virtual mulai melakukan gerakan melempar.

 

Sesuai dengan gerakan gambar itu, bola pun melesat keluar.

 

"Hup!"

 

Masato mengayunkan pemukulnya dengan gerakan tajam dan mengenai bola tepat sasaran. Terdengar suara denting logam yang nyaring. Bola itu melesat indah ke arah tengah lapangan.

 

"Eh, hebat! Kamu beneran hebat ya, Masato!"

 

"Kan sudah kubilang tadi! Hup!"

 

Bola berikutnya pun kena. Kali ini ke arah kanan.

 

Karena dia mengayunkan pemukul dari sisi dalam, bola yang dipukul melesat kuat ke arah kanan.

 

Eh, dia jago banget... gawat! Kalau begini aku jadi nggak bisa membuktikan kalau aku lebih jago!

 

Tapi mengesampingkan hal itu, melihat gaya Masato saat memukul dari belakang benar-benar terlihat sangat keren.

 

Tanpa sadar aku sampai terpana melihatnya dan lupa harus mengobrol.

 

Ah, benar juga. Aku rekam saja ah.

 

Aku ingin menontonnya lagi nanti pas sudah pulang.

 

Aku mengeluarkan ponsel dan menyalakan kamera. Aku merekam sosok Masato dalam bentuk video.

 

"Hup!"

 

"Eh, hebat, hebat! Hampir semuanya kena ya!"

 

"Kalau segini sih gampang!"

 

Jantungku berdegup kencang.

 

Percakapan ini pun terekam jelas di ponselku.

 

Kalau hal seperti ini aku unggah ke media sosial... bukannya itu bakal terlihat seperti dia pacarku?

 

Apa sebaiknya aku mulai "mengamankan" dia pelan-pelan lewat media sosial saja ya? Menurutku itu ide yang brilian.

 

Ujung-ujungnya, Masato berhasil memukul balik hampir semua bola dengan sangat rapi.

 

"Wah~ seru banget! Padahal sudah lama nggak main tapi ternyata masih bisa!"

 

"Beneran deh, aku kaget lho. Ternyata ucapanmu tadi bukan omong kosong ya."

 

"Kan sudah kubilang!"

 

Melihat Masato yang semangatnya lagi tinggi begini, aku pun ikut tersenyum.

 

Nah, sekarang giliranku buat menunjukkan kemampuanku.

 

"Kalau gitu, sekarang giliranku ya!"

 

"Eh, eh, tunggu dulu, Koumi juga mau memukul di kotak yang itu?"

 

"? Iya, emangnya kenapa?"

 

"Bukankah itu terlalu cepat? Mending di kotak yang lain saja..."

 

Hooo.

 

Sepertinya Masato masih meremehkanku ya?

 

"Nih! Pegang ini!"

 

"O-oh, oke."

 

Kali ini aku menyerahkan kembali barang-barang Masato yang tadi kupegang, ditambah barang-banku sendiri, semuanya aku tumpuk ke Masato.

 

Baiklah! Akan kutunjukkan padamu.

 

Aku masuk ke kotak pemukul dan memasukkan tiketnya.

 

Tanpa ragu aku menekan tombol *start*.

 

Untung hari ini aku pakai celana pendek ketat (*hot pants*) dan sepatu kets.

 

Karena aku sudah menduga bakal olahraga, pilihanku untuk memakai pakaian yang nyaman buat bergerak ini ternyata tepat.

 

Bola yang melesat dari pelempar bola di monitor itu... aku ayunkan pemukulku dengan tajam ke arahnya.

 

Yash! Tepat ke tengah lapangan!

 

"Wuih~! Serius nih!?"

 

"Tuh kan! Sudah kubilang tadi!"

 

Masato terlihat kaget. Hmm, hmm, reaksi ini yang aku mau!

 

Sejak kecil aku sudah punya kesempatan untuk bersentuhan dengan dunia bisbol, dan dari situ entah kenapa aku terus lanjut bermain sofbol.

 

Tanpa sadar aku jadi cukup jago, dan pas SMA pun aku berjuang lumayan keras di klub.

 

Lagipula, dari awal aku memang suka olahraga, sih.

 

Begitu selesai memukul satu bola, jiwa sofbolku langsung membara.

 

Okeee, mulai sekarang nggak akan ada satu bola pun yang kubiarkan lolos begitu saja!

 

Aku memukul bola-bola yang datang satu demi satu tepat di titik tengahnya.

 

Ke tengah, ke kanan, ke kiri. Tanpa mengangkat kaki kiri terlalu tinggi, aku melakukan perpindahan berat badan.

 

Kekuatan untuk menerbangkan bola jauh memang berkurang, tapi sebagai gantinya, akurasi pukulanku jadi meningkat.

 

Tanpa sadar aku jadi terlalu asyik memukul balik bola-bola itu.

 

Setelah urusan di *batting center* selesai.

 

Aku dan Masato sedang beristirahat sejenak di sebuah gerai makanan cepat saji yang ada di lantai satu gedung tersebut.

 

...Tapi.

 

(A-aku melakukannya berlebihan~~~~....)

 

Aku sedang dalam masa penyesalan yang luar biasa.

 

Tadi itu, aku jadi terlalu bersemangat dan memukul terlalu banyak.

 

Tapi, kalau dari sudut pandang Masato, gimana perasaannya? Baru sekarang aku kepikiran soal itu.

 

Padahal sudah susah payah pergi bareng, kalau Masato nggak bisa menikmati waktunya... lagipula nggak ada gunanya kalau aku nggak bisa bikin Masato merasa kalau aku ini gadis yang "oke" di matanya!

 

Tapi aku malah terbawa suasana dan cuma fokus memukul bola terus-terusan...

 

Duh, gimana kalau dia mikir *'Buset~, cewek ini jago banget mukulnya, serem...'* gitu. Mau mati rasanya...

 

"Maaf membuatmu menunggu~"

 

Saat aku sedang tertelungkup di meja, Masato datang membawa nampan berisi pesanan kami.

 

"Wah~ seru banget ya tadi—eh, kenapa, Koumi?"

 

"Nggak... ahahaha..."

 

Gimana nih, aku beneran berlebihan ya... mending aku coba tanya Masato saja deh buat memastikan.

 

Aku mencoba bertanya pada Masato yang sedang meminum jusnya dengan wajah heran.

 

"Kalau menurut Masato... gimana pandanganmu soal cewek yang jago olahraga?"

 

"Gimana, maksudnya?"

 

"Anu~ ya itu~ maksudku tipe cewek kesukaanmu? Kalau disuruh milih antara suka atau nggak suka gitu~"

 

A-aku harus bungkus pertanyaannya sehalus mungkin.

 

Biar nggak terlalu sakit kalau dugaanku benar...!

 

"Entah ya, mungkin karena dulu teman akrabku sering olahraga bareng, jadi kayaknya aku lumayan suka sih. Orang yang jago olahraga."

 

"……Gitu ya."

 

Teman akrab dulu...

 

Begitu ya, benar juga. Masato juga punya masa lalu, dan cowok seganteng ini mana mungkin nggak punya kenangan apa-apa sampai sekarang.

 

Padahal jawabannya sudah bagus, tapi aku jadi benci pada diriku sendiri yang malah jadi murung begini.

 

"Koumi sudah main sofbol dari kapan?"

 

"Eh? Kalau tidak salah dari kelas 5 atau 6 SD ya?"

 

"Begitu ya~ terus lanjut sampai SMA. Pantas saja kamu jago banget."

 

Masato mengangguk kagum sambil mengunyah kentang gorengnya.

 

A-apa boleh aku merasa senang...? Dia bilang nggak benci sama cewek yang jago olahraga, berarti boleh senang kan ya...?

 

Kami naik kereta untuk menempuh perjalanan pulang.

 

Ujung-ujungnya, aku tidak sempat bertanya lebih dalam soal masa kecil Masato.

 

Yah, ke depannya kan masih banyak kesempatan buat mengobrol... pasti akan tiba waktunya buat bertanya lagi.

 

"Oke, aku transit di sini ya."

 

"Ah, iya! Semangat ya! Sampai ketemu besok!"

 

Aku melambaikan tangan mengantar kepergian Masato yang turun dari kereta.

 

Jujur saja, hubungan kami yang sekarang ini terasa nyaman.

 

Di kampus bisa beraktivitas bareng, bisa kirim pesan kapan saja, dan dia mau diajak pergi jalan-jalan yang rasanya sudah kayak kencan... yah, meski orangnya sendiri pasti nggak merasa kalau kami ini lagi pacaran sama sekali.

 

Aku tidak mau menyerahkan dia ke orang lain. Itu pasti.

 

Tapi di saat yang sama, aku juga takut kalau hubungan yang sekarang ini hancur.

 

Kalau sampai aku nggak bisa bareng Masato lagi... aku pasti bakal hancur.

 

*Pilon.*

 

Notifikasi ponselku berbunyi.

 

Kira-kira siapa ya, pikirku sambil mengeluarkan ponsel. Di sana terpampang namaMasato.

 

Ada apa ya. Apa ada barangnya yang lupa aku kembalikan...?

 

Masato》『Terima kasih buat hari ini! Seru banget!

 

Masato》【Mengirimkan gambar

 

Gambar dari Masato...?

 

Segera aku ketuk gambarnya untuk melihatnya.

 

Di sana terlihat sosokku yang sedang fokus memukul bola, dengan ekspresi serius bersiap menunggu bola datang.

 

Itu adalah foto yang diambil dari arah samping belakang.

 

Masato》『Aku curi-curi foto nih, hehe. Kamu beneran keren banget tadi! Pertandingan hari ini aku ngalah deh, aku anggap aku kalah!

 

──Ah. Kenapa orang ini bisa begini.

 

Tanpa sadar, aku memeluk ponselku di dada.

 

Sambil duduk di kursi kereta, aku berusaha meresapi perasaan ini sedalam-dalamnya.

 

Dia melakukan hal-hal yang aku inginkan.

 

Dia memberikan kata-kata yang ingin aku dengar.




"Aku benar-benar mencintaimu…… aku sangat mencintaimu……!"

 

Aku bergumam pelan.

 

Suara detak jantungku begitu riuh, sampai-sampai suara guncangan kereta tak lagi terdengar di telingaku.

───● Si Mahasiswi Ceria Mendapatkan Informasi ●○●

 

Belakangan ini, aku merasa aneh.

 

"Mizuho, kamu punya fotokopi materi kuliah yang kemarin nggak?"

 

"Ah, iya, ada kok."

 

"……Kamu nggak apa-apa? Wajahmu kelihatan agak murung……"

 

"N-nggak kok! Aku sehat walafiat dan penuh semangat, lho!"

 

Aku mengakhiri percakapan itu dengan paksa.

 

Sejak dikenalkan oleh Koumi, aku jadi sering beraktivitas bertiga dengan Masato dan Koumi di kampus. Bahkan kelas yang sedang berlangsung sekarang pun kami ambil bareng.

 

Sebenarnya aku senang, bahkan merasa agak bangga.

 

Di kampus, punya grup yang ada laki-lakinya saja sudah bikin iri, apalagi kalau laki-lakinya ganteng seperti dia.

 

Tapi, aku tahu perasaan yang dimiliki Koumi terhadap Masato.

 

Koumi mengenalkan Masato padaku karena dia tahu hal itu. Itu adalah sebuah bentuk kepercayaan. Tentu saja, mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa aku sudah bertemu "orang takdirku", tapi itu tidak lain karena dia merasa aku adalah orang yang aman untuk dipercaya.

 

Padahal begitu.

 

Tapi tiap kali bersama orang ini…… bersama Masato, aku jadi merasa aneh.

 

Sejak kejadian Kak Keito waktu itu, hatiku terus merasa melayang. Apa hatiku ini memang semudah itu goyah?

 

Aku ingin mencari orang takdirku. Perasaan itu tidak berubah. Karena saat itu, aku benar-benar terselamatkan. Memikirkan kalau orang itu mungkin ada di universitas ini, aku beneran ingin bertemu dan menyampaikan perasaan ini.

 

Tapi kalau begitu, perasaan apa yang sekarang aku miliki untuk Masato?

 

Aku yakin aku bukan tipe orang yang bakal suka sama siapa saja asal dia laki-laki.

 

Harusnya begitu. Tapi entah kenapa, aku tetap saja merasa tertarik pada Masato.

 

Padahal dia orang yang disukai Koumi. Padahal aku sama sekali tidak boleh jatuh cinta padanya.

 

Makin aku memikirkannya, dadaku makin terasa sakit.

 

Materi kuliah sama sekali tidak masuk ke otakku.

 

Catatanku tetap kosong melompong. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kabut yang menyelimuti hatiku tak kunjung hilang. Hanya waktu yang terus berlalu begitu saja.

 

"Nghhh~! Capek banget! Duh, minggu depan ada kuis ya~ aku nggak percaya diri nih."

 

"Tenang saja, pasti bisa kok!"

 

"Mizuho, kamu selalu bilang gitu tapi ujung-ujungnya selalu mepet kan..."

 

"Karena justru pas mepet itulah hasilnya jadi oke!"

 

Kuliah selesai, dan kami sedang di jalan pulang. Saat berjalan seperti ini, aku bisa melupakan semuanya. Baik perasaanku yang rumit, maupun hubungan antara Koumi dan Masato. Aku hanya bisa merasakan waktu yang menyenangkan.

 

"Kalau begitu, ayo pergi ke tempat *batting center* yang sudah kita janjikan! Letaknya nggak jauh kok kalau naik kereta!"

 

"Oh, boleh saja."

 

"Mizuho juga ikut, kan?"

 

Tapi tiba-tiba, hal seperti ini terjadi.

 

Seketika dadaku terasa sesak.

 

Koumi ingin pergi berduaan dengan Masato.

 

Kalau aku ada di sana, aku cuma bakal jadi pengganggu. Karena Koumi suka pada Masato. Di kampus aku sudah merampas waktu berdua mereka, kalau di luar kampus pun aku rampas juga…… aku beneran bakal jadi orang jahat.

 

*Semangat, diriku,* gumamku dalam hati.

 

"Eh? Ah... ahaha! Hari ini aku ada janji lain... kalian berdua nikmati saja ya berduaan!"

 

"Lho? Begitu ya?"

 

"Iya, iya! Habisnya Mizuho-chan yang sangat populer ini kan sibuk banget... hiks hiks hiks."

 

Nggak buruk.

 

Aku bisa berakting seperti biasanya. Begini saja sudah cukup.

Karena dari awal, aku sudah tahu hal ini bakal terjadi.

 

"Mizuho, kamu ada urusan apa?"

 

"……-!"

 

Masato mencondongkan wajahnya memperhatikanku.

 

Sepasang mata yang murni tanpa niat buruk. Wajah yang rapi dan tampan.

 

Jangan.

 

Jangan begitu, dong.

 

Aku menarik napas panjang.

 

"Du-duh! Jadi bingung nih. Ternyata Masato kepingin banget ya Mizuho-chan ikut. Tapi hari ini nggak bisa! Maaf ya! Kalau begitu, sampai jumpa besok kalian berdua~!"

 

"Ah, tunggu sebentar, Mizuho!"

 

Tanpa sadar, aku sudah mulai berlari. Tentu saja aku tidak punya janji apa pun.

 

Tapi, kalau terus bersama mereka lebih lama lagi, jantungku yang terasa perih ini rasanya tidak akan sanggup bertahan.

 

Dalam perjalanan pulang, aku sempat keluar dari gerbang tiket di stasiun transit.

 

Karena masih dalam jangkauan kartu langgananku (*teiki*), tidak akan memakan biaya tambahan.

 

Aku berjalan tanpa tujuan. Saat berjalan sendirian, aku bisa menenangkan perasaanku.

"Ah..."

 

Sambil berjalan begitu, aku sampai di depan sebuah toko kosmetik (*drugstore*) yang terasa familier. Ini adalah tempat aku dan orang takdirku bertemu.

 

Kalau aku jalan-jalan di sini, apa mungkin aku bakal bertemu lagi dengannya ya…… nggak mungkin lah ya. Waktu dan harinya beda dengan saat itu.

 

Kalau sampai bertemu secara kebetulan, itu sih namanya keajaiban.

 

Tapi…… saat ini aku sangat ingin bertemu dengan orang takdirku.

Karena kalau perasaanku bisa mantap ke dia, aku tidak perlu merasa bersalah lagi saat sedang bertiga. Aku pasti bisa membuang perasaan yang mulai tertarik pada Masato ini.

 

"Lihat-lihat kosmetik saja kali ya……"

 

Aku masuk ke dalam toko. Toh aku juga lagi luang.

 

Lalu.

 

"Terima kasih banyak, ditunggu kedatangannya kembali~"

 

"Sama-sama! Mari~!"

 

Seorang laki-laki berjalan keluar dari arah kasir.

 

Seragamnya…… aku mengenali seragam itu.

 

Waktu itu aku sulit mengenalinya karena tidak pakai lensa kontak, tapi──

 

Itu seragam yang sama dengan yang dipakai orang takdirku.

 

*Deg*, jantungku berdegup kencang.

 

Aku memperhatikan wajahnya…… tapi wajahnya beda. Lagipula warna rambutnya terlalu mencolok. Orang itu rambutnya tidak semencolok itu, dan tinggi badannya pun jauh lebih pendek dari orang takdirku.

 

Jelas sekali dia orang yang berbeda, tapi kalau pakai seragam yang sama, kemungkinan besar dia bekerja di tempat yang sama.

 

Atau malah, hampir pasti begitu.

 

Hampir tanpa sadar, aku memanggilnya.

 

"Anu, permisi!"

 

"……? Iya, ada apa?"

 

Ga-gawat. Aku memanggilnya karena terbawa suasana, tapi aku jadi kelihatan kayak orang aneh banget.

 

"Ah, e-itu, anu."

 

"……?"

 

Ha-harus tanya apa ya.

 

Ah, benar! Tanya saja apa ada mahasiswa yang kerja sampingan di sana!

 

"Anu, apa di toko itu ada mahasiswa yang kerja sampingan juga……?"

 

"Mahasiswa? ……Hmm. Ah, iya, ada kok."

 

Ada!

 

Tapi, rasanya aneh kalau nggak ada mahasiswa yang kerja sampingan ya……?

 

Aku butuh informasi lebih banyak lagi…….

 

Mumpung ada kesempatan, aku nggak boleh menyia-nyiakannya!

 

"Anu, si-siapa namanya ya……"

 

"Hmm, maaf ya, karena ini menyangkut privasi toko, sepertinya aku nggak bisa kasih tahu. Maaf ya."

 

"Be-benar juga ya! Maafkan saya!"

 

Ya iyalah bodoh, bodoh! Aku beneran kelihatan kayak orang mencurigakan kalau begini!

 

"Ah, kalau gitu ini buatmu. Kalau kamu penasaran, mending datang saja langsung ke sini."

 

"Eh……? Terima kasih banyak."

 

Pemuda berambut perak dengan wajah tampan tipe imut itu menyerahkan sebuah kartu nama padaku. Sampai ada kartu namanya segala ya…….

 

"Kalau begitu, mari. Kami tunggu kedatangannya, Nona Muda."

 

"……?"

 

Sambil melambaikan tangan, kakak-kakak (?) itu pergi. Dia bukan tipeku sih, tapi menurutku dia sangat tampan. Bukan tampan yang gagah, tapi lebih ke imut?

 

Aku merasa lega karena tidak merasa deg-degan meski dibilang begitu, itu berarti perasaanku memang tidak tertuju pada sembarang orang.

 

Aku melihat kartu namanya. Di sana ada gambar gelas yang berkilau dengan latar belakang pemandangan malam.

 

Pokoknya, bisa tahu nama tempatnya saja sudah kemajuan besar.

 

Mari kita lihat, apa namanya.

 

"Boys Bar 'Festa'…… tunggu, Boys Bar!?"

 

Me-memang sih orang yang tadi maupun orang takdirku itu ganteng, tapi!

 

Ini benar-benar di luar dugaan. Di kartu nama itu, tertulis nama "Yuta".

 

"E-eh...!?"

 

Tadinya kupikir kalau sudah tahu tempatnya, aku akan langsung pergi ke sana. Tapi kalau ternyata sebuah *Boys Bar*, ceritanya jadi beda lagi. Maksudku, apa orang takdirku itu ternyata seorang *host* atau pramuniaga bar laki-laki...!

 

"A-aku harus gimana..."

 

Informasi baru yang baru kuketahui ini terus berputar-putar di kepalaku. Pikiranku tak kunjung tenang. Selama beberapa menit, aku hanya terpaku di tempat tanpa bisa bergerak.

 

Akhirnya, aku sampai di rumah. Aku berguling-guling di kasur sambil memainkan ponsel. Saat aku mencoba mencari tahu tentang tokonya, sepertinya orang berusia 18 tahun ke atas sudah boleh masuk, jadi secara teknis aku bisa ke sana. Tapi... biayanya pasti mahal, dan tentu saja aku belum pernah menginjakkan kaki ke *Boys Bar* seumur hidupku.

 

Lagipula.

 

"Apa dia bersikap baik karena dia seorang *host* ya..."

 

Satu keraguan mulai muncul di benakku. Apa itu cuma bagian dari pelayanan tokonya saja? Tapi...

 

*Anda tidak apa-apa? Mencari lensa kontak, ya? Mari saya bantu cari bersama.*

 

*Maaf ya! Saya sedang mencari lensa kontak sebentar!*

 

*Iya. Hati-hati ya.*

 

Saat aku memejamkan mata, aku bisa mengingatnya seolah kejadian itu baru terjadi kemarin. Senyuman itu, kata-katanya yang lembut, dan kepeduliannya. Aku tidak percaya kalau itu semua palsu. Apalagi waktu itu aku bukan pelanggannya. Apa mungkin dia akan bertindak sejauh itu di luar toko?

 

Kalau dipikir-pikir lagi, itu pasti kebaikan yang tulus dari dalam hatinya dan──

 

*Pilon.*

 

Notifikasi. Ada notifikasi media sosial di ponselku. Sambil tetap berbaring, aku mengintip pesannya tanpa memberikan tanda centang biru (R).

 

Koumi

 

Mizuho, padahal kamu nggak perlu sungkan begitu lho.

 

Tapi, terima kasih ya.

 

Koumi ternyata sadar juga. Tapi tidak apa-apa. Kalau Koumi merasa senang, itu sudah cukup bagi...

 

Tepat saat aku berpikir begitu, notifikasi lain muncul bertubi-tubi.

 

Koumi》【Mengirimkan video 52 detik

 

Koumi》【Mengirimkan gambar

 

Lihat deh. Aku diam-diam ambil foto Masato dari belakang. Keren banget kan?

 

Terus, Masato juga sempat fotoin aku, gila banget kan♪

 

Seketika dadaku terasa sesak. Aku mencengkeram bagian dadaku dengan kuat.

 

Kenapa?

 

Kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa sesak sekali?

 

Aku ingin bilang "syukurlah" padanya. Aku ingin bilang "kalau begitu sih kalian sudah kayak pacaran tahu". Aku ingin mengatakannya dengan nada ceriaku yang seperti biasanya!

 

Tapi kenapa.

 

Kenapa rasanya sesakit ini...?

 

Tiba-tiba, benda yang tadi kuletakkan di atas meja masuk ke pandanganku. Aku mengulurkan tangan dan mengambilnya. Kartu nama. Kartu nama *Boys Bar* yang aku dapatkan di jalan pulang tadi. Sambil berbaring telentang di atas kasur, aku mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi dan menatap kartu itu untuk beberapa saat.

 

……Aku menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tangan kananku hingga menutupi wajahku sendiri.

 

"……Aku… harus pergi."

 

Demi mengakhiri perasaan ini.

 

Demi agar aku tidak menyakiti sahabatku, dan juga diriku sendiri.

 

Aku pun memantapkan tekadku.




───● Gadis SMP Klub Basket Punya Senyum yang Bagus ●○●

 

Hari Minggu, saat panas teriknya musim panas mulai terasa benar-benar menyengat.

 

Suara tonggeret (*semi*) juga sudah mulai terdengar sangat berisik. Di tengah cuaca seperti ini, sejak bangun tidur aku cuma mengurung diri di rumah tanpa ada kegiatan khusus.

 

"Panas banget……"

 

Sumpah, ini sih keterlaluan panasnya!

 

Sebenarnya ada AC di kamarku, tapi karena aku ingin sebisa mungkin menghemat tagihan listrik, biasanya tidak kunjung kunyalakan. Bisa saja sih aku cari alasan kalau panas begini ya wajar kalau pakai AC, tapi ini kan baru awal musim panas.

 

Kalau sekarang saja sudah manja pakai AC terus, aku nggak berani bayang ke depannya gimana.

 

"……Keluar saja kali ya."

 

Mungkin orang bakal bilang di luar malah lebih panas. Memang benar sih, tapi ini soal perasaan. Daripada cuma mengerang kepanasan di dalam ruangan, lebih baik beraktivitas di luar sekalian.

 

Aku mandi sebentar untuk membilas keringat, lalu ganti baju dengan pakaian yang nyaman buat bergerak. Aku masukkan bola basket, handuk, dan perlengkapan lainnya ke dalam ransel.

 

"……Mungkin saja Yuka ada di sana……"

 

Begitu mengecek ponsel, ternyata cuma ada satu pesan singkat dari tadi pagi.

 

Sebagai gadis klub basket yang sehat, mungkin saja sekarang dia juga sedang latihan.

 

Entah kenapa, aku sendiri kaget menyadari kalau aku mulai menantikan main basket bareng Yuka. Habisnya, anak itu makin lama makin jago sih. Seru melihat perkembangannya. Rasanya sebentar lagi tempat rahasiaku itu bakal beneran dia rebut dariku. Sedih sih, tapi ya mau gimana lagi!

 

Beneran deh, dia itu beneran anak SMP ya?

 

"Oke. Berangkat."

 

Aku mengunci pintu dan menuju taman. Matahari musim panas beneran membakar aspal dengan ganasnya, tapi entah kenapa udara di luar terasa sedikit lebih menyegarkan.

 

Sepertinya karena ini Minggu sore, lapangan basket di taman sudah ada

penghuninya.

 

"Yah, nggak mungkin seberuntung itu…… eh."

 

Aku merasakan *deja vu* yang kuat. Begitu sampai di jarak di mana aku bisa melihat sosok orang di lapangan, aku tersadar.

 

Satu dari empat gadis yang sedang main basket di sana adalah orang yang sangat kukenal.

 

"Itu kan Yuka."

 

Rambut hitam pendek dengan jepit rambut biru.

 

Mungkin karena hari ini dia tidak pakai jaket klub tapi pakai setelan yang biasa dia pakai kalau main basket bareng aku, makanya aku bisa langsung menemukannya.

 

Jangan-jangan…… dirundung lagi?

 

Kejadian waktu itu langsung terlintas. Karena punya firasat buruk, aku pun mendekat ke arah lapangan.

 

"Ke sini!"

 

"Iya!"

 

"Tembak saja!"

 

"Nice shot!"

 

Ah, syukurlah, ternyata aman.

 

Ekspresi mereka berempat terlihat serius, dan berbeda dengan waktu itu, aku bisa langsung tahu kalau mereka sedang bermain basket dengan sepenuh hati.

 

"Capeknya~!"

 

"Istirahat sebentar yuk."

 

Ooh…… pemandangan yang segar. Yuka menunjukkan jiwa kepemimpinannya.

 

Mendengar percakapan mereka sepertinya mereka teman seangkatan, dan kalau tidak salah Yuka itu satu-satunya anak kelas satu yang terpilih masuk tim utama buat bertanding, jadi wajar saja kalau dia jadi sosok pemimpin.

 

Mereka berempat menuju bangku di pinggir lapangan.

 

Hmm, gimana ya. Nggak enak juga kalau aku mengganggu Yuka dan teman-temannya yang lagi asyik latihan. Tapi, aku sudah jauh-jauh datang mau main basket dan rasanya sayang kalau nggak menyentuh bola sama sekali.

 

……Kalau aku membelakangi mereka dan cuma latihan menembak (*shooting*) doang, ada peluang nggak bakal ketahuan kan?

 

Latihan sebentar saja habis itu pulang. Sip. Itu rencananya.

 

Aku mengeluarkan bola dari ransel dan masuk ke lapangan secara diam-diam agar tidak ketahuan. Aku membelakangi mereka, lalu mulai mendribel bola beberapa kali.

 

Pemanasan ringan.

 

Melewatkan bola di sela-sela kaki, lalu lewat belakang punggung……

 

Sip, bolanya terasa pas di tangan.

 

Setelah memantulkan bola satu-dua kali ke tanah, aku melakukan *jump shot* dari jarak menengah.

 

*Swish!* Terdengar suara yang enak banget saat bola masuk ke dalam jaring.

 

Hmm, kalau jarak segini persentase masuknya memang tinggi, baguslah.

 

Oke, dua-tiga tembakan lagi habis itu pulan──

 

"Kakak."

 

Tepat saat aku mau mengambil posisi menembak lagi.

 

Terdengar suara yang sangat kukenali dari belakang.

 

A-apa…… katanya……?

 

"Ko-kok bisa ketahuan……"

 

"Menurut Kakak sudah berapa kali aku melihat gaya main Kakak……? Kalau cuma segitu sih, aku bisa langsung tahu."

 

Ternyata Yuka sudah ada di belakangku dan memanggilku. Senyumnya yang merekah itu terlihat sangat menyilaukan.

 

"Iya, iya, maaf ya. Aku pikir nggak enak kalau mengganggu kalian, jadi aku niatnya mau langsung pulang kok."

 

"Eh? Kakak mau pulang?"

 

"Kalian tim satu klub, kan? Nggak apa-apa. Fokus latihan saja sana."

 

Nggak enak juga kalau aku merusak waktu latihan dia bareng teman-teman seangkatannya. Sambil melambaikan tangan ke arah Yuka, aku bermaksud menggendong bola dan undur diri. Setidaknya aku sudah sempat menembak beberapa kali tadi.

 

"Tunggu!"

 

Saat aku sedang berjongkok mau memasukkan bola ke ransel, seseorang memanggilku. Begitu menoleh, ternyata tiga gadis teman setim Yuka sudah datang menghampiriku bersama-sama.

 

A-ada apa nih.

 

"「「Tolong ajari kami basket!!」」"

 

Eeeh……

 

Sepertinya permintaan mereka agar aku mengajar itu di luar dugaan Yuka, sampai-sampai mereka berempat malah berdebat sendiri.

 

……Atau lebih tepatnya, Yuka yang marah-marah sendirian sementara tiga temannya cuma menanggapi dengan santai……

 

Apa aku sudah melakukan kesalahan pada Yuka ya.

 

"Anu, Yuka, kayaknya aku pulang saja deh. Nggak enak soalnya."

 

"Ah! N-nggak! Kakak…… Ja-jangan pulang dulu……"

 

"……? Begitu ya?"

 

Wajahnya merah banget. Dia nggak apa-apa kan ya.

 

"Tolong ajari kami basket juga, sama seperti Kakak mengajari Yuka!"

 

"Kalau cuma hal-hal yang aku bisa sih, boleh saja……"

 

Melihat permainan mereka tadi, memang Yuka yang paling menonjol di grup ini.

 

Anak-anak yang lain sih kesannya seperti siswi SMP anggota klub basket pada umumnya. Mereka sudah cukup jago, tapi kalau level segitu, aku masih sanggup lah mengajari mereka satu-dua hal.

 

"Asyik!! Namaku Suzuka, mohon bantuannya ya Kak!""Namaku Kaho!"

 

"Aku Miho~!"

 

Wah, semangat mereka luar biasa…… masih muda ya.

 

Apa aku ini sudah jadi Om-om ya…… Saat mereka mengulurkan tangan, aku menjabatnya dan mereka menggoyang-goyangkan tanganku dengan semangat.

 

Energinya ngeri banget…….

 

"Duh, beneran deh!!!!"

 

Yuka kelihatan kesal banget. Ternyata beneran mengganggu ya……

 

Nanti pas sudah selesai aku harus minta maaf secara pribadi lewat chat saja deh…….

 

Entah karena mereka masih SMP atau apa, tapi daya serap teknik mereka cepat sekali.

 

Apa yang kuajarkan langsung dipraktikkan dan bisa segera mereka kuasai.

 

Oalah. Sekarang aku paham kenapa ada orang yang bilang "anak SMP itu yang terbaik". Entah kata siapa itu, dan kayaknya aslinya soal anak SD sih.

 

"Kakak, Kakak!"

 

Mungkin karena Yuka memanggilku "Kakak" (*Onii-san*), anak-anak klub basket yang lain pun jadi ikut-ikutan memanggilku begitu. Malah Miho-chan memanggilku

 

"Abang" (*Onii-chan*). Yuka langsung marah besar. Serem euy.

 

Anak yang dikuncir kuda ini…… kalau nggak salah namanya Suzuka-chan ya.

 

"Bagi Kakak, Yuka-chan itu sosok yang seperti apa sih!?"

 

"Suzuka!! Apa-apaan sih kamu!!??"

 

Yuka langsung mengunci leher Suzuka-chan dengan sangat bertenaga.

Eh, itu kayaknya beneran sakit lho…….

 

Karena Yuka pasti nggak mau kalau sampai ada salah paham, oke, aku harus bilang yang sejujurnya di sini. Anggap saja ini buat memulihkan poin kesukaanku di mata Yuka.

 

"Yuka ya…… hmmm. Meskipun kami belum lama kenal, tapi bagiku, dia itu sudah seperti sosok adik perempuan sendiri."

 

Itu benar-benar kata-kata jujur dariku. Tanpa kusadari aku mulai menantikan main basket bareng Yuka, dan kami jadi sering mengobrolkan hal-hal di luar basket. Aku sendiri merasa cukup suka menghabiskan waktu mengobrol dengan Yuka.

 

Apa aku terlalu lancang ya……? Tapi karena Yuka cukup manja padaku, aku ingin percaya kalau dia nggak bakal benci dibilang begitu……

 

"A-adik……"

 

Ah, maaf. Sepertinya dia nggak suka dibilang gitu.

 

Mau nangis rasanya. Ternyata aku cuma salah paham ya.

 

"Oke, sekarang giliranku tanya! Kakak punya pacar nggak sih~!?"

 

Kali ini pertanyaan datang dari Miho-chan yang gayanya gaul banget mirip *gyaru*.

 

Genit juga ya~ apa anak SMP zaman sekarang memang begini?

 

"Nggak ada kok. Aku jomblo."

 

"Eeeh~ nggak nyangka banget! Oke oke! Kalau gitu aku mau mencalonkan diri jadi pacarnya!"

 

"MIHO!!!"

 

Wah~ Yuka beneran marah besar. Tadi dia sempat murung, terus sekarang marah lagi. Aku jadi khawatir sama kestabilan emosi Yuka.

Tapi ya, sampai langsung bilang mau mencalonkan diri jadi pacar segala, sepertinya anak SMP memang masih di fase "jatuh cinta pada konsep cinta" itu sendiri.

 

"「「Terima kasih banyak ya, Kaaaaak!」」"

 

"Sama-sama, aku juga terima kasih ya sudah diajak gabung~"

 

Tiga orang selain Yuka kembali menuju bangku taman. Miho-chan bahkan sempat bilang, "Tiga tahun lagi aku bakal datang buat nembak Kakak!" segala. Gayanya memang kayak *gyaru*, tapi dia anak yang ceria dan baik. Paling tiga tahun lagi dia sudah lupa sama keberadaanku...

 

"Anu, terima kasih banyak ya. Kak... Kak Masato."

 

"Hm? Nggak apa-apa kok. Aku juga minta maaf ya sudah mengganggu."

 

Entah perubahan suasana hati macam apa yang terjadi, tapi Yuka mulai memanggilku "Kak Masato". Aku sih nggak masalah, tapi apa yang tadi soal dia nggak suka dianggap adik itu cuma perasaanku saja ya...?

 

"Teman-temanmu anak baik ya. Dijaga baik-baik pertemanannya."

 

"Iya. Kalau Kakak nggak keberatan, kapan-kapan datanglah lihat pertandinganku."

 

"Oh, tentu saja. Aku juga mau lihat gimana aksi Yuka pas lagi tanding."

 

Kira-kira orang umum boleh masuk nggak ya kalau ada pertandingan. Kalau turnamen sih harusnya bisa nonton, kan...?

 

"A-anu..."

 

"Hm?"

 

Terpapar cahaya senja, entah kenapa pipi Yuka terlihat memerah. Tapi ya, kalau dilihat-lihat begini, meski masih muda, wajah Yuka itu punya garis-garis lembut yang feminin dan menurutku dia imut. Sepasang mata berwarna giok (*jade*) miliknya juga terlihat jernih dan indah.

Kelak, dia pasti bakal jadi wanita cantik.

 

Sempat ada jeda sesaat.

 

"Nggak... nggak ada apa-apa."

 

"……? Begitu ya? Kalau gitu, sampai ketemu lagi ya. Aku bakal temani latihan kapan saja kok."

 

Aku nggak tahu apa yang dipikirkan Yuka dalam beberapa detik tadi.

Tapi dia terlihat seperti sedang menelan kembali kata-kata yang hampir diucapkannya.

 

"Iya. Lain kali, aku ingin... kita latihan berdua saja."

 

"Hahaha, benar juga ya. Kalau mau mengajarimu, memang lebih enak kalau berduaan saja."

 

Level teknik yang bisa kuajarkan padanya beda jauh dengan anak-anak yang lain.

 

Dalam artian itu pun, latihan berdua bakal lebih membantu Yuka buat mengasah kemampuannya.

 

"Iya!! Mohon bantuannya lagi ya!"

 

Senyum Yuka saat membalas ucapanku dengan riang di akhir pertemuan kami itu, beneran imut.

───● Gadis SMP Klub Basket Beneran Serius ●○●

 

Teman-teman seangkatanku di klub basket itu kebanyakan anak baik.

 

Bahkan saat aku sedang dirundung oleh para senior, mereka semua selalu berada di pihakku. ……Ah, soal perundungan itu sendiri, berkat bantuan Kakak, sekarang sudah jauh berkurang dibanding sebelumnya. Benar-benar deh, aku cuma bisa berterima kasih pada Kakak.

 

Pokoknya, aku dan teman-teman seangkatan itu sangat akrab dan saling percaya.

 

Makanya, aku sempat berpikir kalau nanti kami sudah kelas 3, aku ingin kami semua berjuang bareng-bareng di turnamen.

 

"Eeeh~~ siapa sih cowok ganteng itu!! Duh Yuka, kenapa ada orang kayak gitu kamu nggak kenalin ke kami!?"

 

"Kayaknya aku mau ke sini tiap hari deh……"

 

"Yuka pasti mau memonopoli orang itu sendirian, kan! Selama ini apa saja yang sudah kalian lakukan! Hal mesum ya! Pasti kalian sudah mesum, kan! Sampai mana? Sudah sampai mana hah!? Dasar kamu Menteri Mesum yang pura-pura alim!"

 

……Rasanya detik ini juga aku bakal membenci mereka.

 

Kenapa sih situasinya jadi begini?

 

Hari ini kebetulan tidak ada kegiatan klub, dan karena semuanya sedang luang, kami sepakat buat main basket bareng.

 

Sempat ada obrolan mau pakai GOR umum saja, tapi karena di dalam GOR itu pengap dan panas, akhirnya diputuskan buat main di lapangan luar saja.

 

Untungnya aku tahu taman tempat Kakak biasa main basket, jadi aku mengusulkan tempat itu.

 

……Padahal itu kan tempat "khusus" aku dan Kakak, jadi sebenarnya aku agak berat hati menyarankannya, tapi……

 

Begitulah ceritanya sampai kami berakhir main basket di taman ini. Tapi saat kami sedang istirahat sebentar, ada seorang laki-laki yang mulai memakai lapangan untuk main basket sendirian.

 

"Eh! Pas Miho dan yang lain lagi istirahat malah tempatnya diambil orang~!"

 

"……Tunggu sebentar, itu laki-laki kan. Jarang-jarang ya ada yang main sendirian."

 

Mendengar ucapan temanku, aku pun melihat ke arah orang itu…… dan aku langsung tahu kalau itu Kakak.

 

Tinggi badannya, auranya, dan juga…… gaya main basketnya.

 

Cukup satu dari itu saja aku pasti sudah tahu, apalagi kalau ketiganya ada, mana mungkin aku nggak tahu.

 

Orang yang sangat kucintai.

 

"Eh, Yuka mau ke mana?"

 

"Yuka jangan! Biar kata kamu Yuka-chin yang mesum, tapi kalau ke orang asing itu namanya kriminal lho!"

 

……Kalian keterlaluan banget nggak sih?

 

Aku nggak mesum tahu! Aku itu normal! Standar rata-rata!!

 

Jadi begitulah…… awalnya sih bagus aku bisa memanggil Kakak, tapi……

 

Tahu-tahu mereka bertiga sudah ikut datang, dan berani-beraninya mereka malah minta diajari basket sama Kakak!

 

Pa-padahal itu kan hak istimewaku……

 

"A-anu, Kakak itu adalah orang yang mengajariku secara pribadi……"

 

"Diajari apa tuch~~??"

 

"Bimbingan pribadi soal cinta…… tolong jelaskan detailnya."

 

"Pantas saja belakangan ini kamu kelihatan makin dewasa, ternyata itu alasannya ya……"

 

"Bukan begitu tahu!!! Duh, beneran deh aku benci banget!! Jangan bilang hal yang nggak sopan ke Kakak, dong!?"

 

Duh, kacau.

 

Nggak tahu deh mereka bakal bilang apa saja ke Kakak kalau begini……

 

"Anu, Yuka, kayaknya aku pulang saja deh. Nggak enak soalnya."

 

"Ah! N-nggak! Kakak…… Ja-jangan pulang dulu……"

 

"……? Begitu ya?"

 

Aku sama sekali nggak ingin Kakak pulang.

 

Tapi aku juga cemas kalau mereka bertiga bakal bilang hal aneh-aneh ke Kakak.

 

Duh, aku sudah nggak tahu lagi harus gimana~~!!

 

Sementara aku panik, mereka bertiga malah dengan ceria memperkenalkan diri ke Kakak.

 

A-aman nggak ya……

 

Ah. Miho malah memegang tangan Kakak erat-erat……

 

Ugh~~ rasanya sesak banget di dada~~ Padahal Kakak itu kan Kakak-ku……

 

"Duh, beneran deh!!!!"

 

Tahu bakal begini, mending nggak usah kukasih tahu soal taman ini tadi!?

 

Anehnya, begitu masuk ke tahap diajari basket, semuanya mendadak jadi anteng mengikuti instruksi.

 

Ternyata mereka semua beneran suka basket ya.

 

Mengetahui hal itu, aku merasa sedikit senang. Kakak juga mengajar sesuai dengan level masing-masing, dan tentu saja tetap mengajariku dengan benar.

 

Tiap kali Kakak bilang, "Seperti yang pernah kubilang ke Yuka sebelumnya~", aku merasa sangat senang karena merasa diperlakukan spesial.

 

Waktu yang kuhabiskan berdua dengan Kakak adalah hal yang tak tergantikan bagiku.

 

Aku bakal senang banget kalau Kakak juga merasa begitu.

 

"Kakak, oper!"

 

"Kakak hebat banget~!"

 

……Tapi di samping itu, kenapa semuanya ikutan panggil "Kakak"?

 

Orang itu kan Kakak-ku, tapi kenapa…… ah, aku bisa gila kalau begini terus.

 

Po-pokoknya, kalau semuanya panggil "Kakak", aku harus ganti panggilanku.

 

Masato-san……? Tapi dulu dia bilang senang kalau kupanggil Kakak……

Masato-nii-san. Oke, pakai itu saja.

 

"Kakak, Kakak!"

 

Saat istirahat, Suzuka lari menghampiri Kak Masato.

 

……Duh, firasatku nggak enak.

 

"Bagi Kakak, Yuka-chan itu sosok yang seperti apa sih!?"

 

"Suzuka!! Apa-apaan sih kamu!!??"

 

Kamu ngomong apa sih!!!

 

Segera aku amankan Suzuka dengan mengunci kepalanya.

 

"Sakit, sakit! ……Tapi Yuka juga penasaran, kan?"

 

"Ugh……"

 

Te-tentu saja aku penasaran. Bagi Kak Masato, aku ini…… aku bakal senang kalau dia menganggapku orang yang berharga bagi dirinya……

 

A-apalagi ada kejadian waktu itu…… siapa tahu, dia jadi suka padaku……

 

"Yuka ya…… hmmm. Meskipun kami belum lama kenal, tapi bagiku, dia itu sudah seperti sosok adik perempuan sendiri."

 

Seketika, dadaku terasa sedikit perih.

 

"A-adik……"

 

Adik.

 

Memang sih, kalau bicara soal kedekatan, itu memang posisi yang dekat.

Aku juga bisa merasakan kalau dia sangat menjagaku.

 

Tapi kalau cuma "adik", itu nggak cukup.

 

Karena.

 

Selama aku hanya dianggap sebagai adik, dia nggak akan pernah jatuh cinta padaku.

 

Dia nggak akan menjadikanku sebagai pacarnya.

 

Aku menyukai Kak Masato.

 

Makanya, aku ingin dia juga menyukaiku.

 

Rasa perih di dadaku perlahan mulai menjalar luas.

 

"Kakak punya pacar nggak sih~!?"

 

Tunggu, Miho!? Itu pertanyaan yang terlalu frontal tahu!?

 

"Nggak ada kok. Aku jomblo."

 

*Fiuh……!* Syu-syukurlah.

 

Kalau tadi dia jawab punya, mungkin aku sudah menangis. Beneran nggak bohong.

 

Aku pasti bakal menangis dan langsung pulang begitu saja.

 

"Eeeh~ nggak nyangka banget! Oke oke! Kalau gitu aku mau mencalonkan diri jadi pacarnya!"

 

"MIHO!!!"

 

Miho itu beneran gampang banget ya kalau soal begini!

 

Lagipula Miho, bukannya kamu bilang kamu baru saja jadian!?

 

Setelah latihan berakhir.

 

Setelah mengatur napas, aku mendatangi Kak Masato untuk berterima kasih.

 

Sendirian.

 

"Anu, terima kasih banyak ya. Kak... Kak Masato."

 

"Hm? Nggak apa-apa kok. Aku juga minta maaf ya sudah mengganggu…… Teman-temanmu anak baik ya. Dijaga baik-baik pertemanannya."

 

"Iya. Kalau Kakak nggak keberatan, kapan-kapan datanglah lihat pertandinganku."

 

"Oh, tentu saja. Aku juga mau lihat gimana aksi Yuka pas lagi tanding."

 

……Aku senang sekali.

 

Hanya dengan kata-kata seperti itu saja, hatiku sudah terasa hangat.

 

Aku benar-benar orang yang sederhana ya…….

 

Nah. Justru karena itulah, aku ingin mengubah pandangannya yang hanya menganggapku sebagai adik.

 

Tanpa sadar, suaraku keluar lebih dulu.

 

"A-anu……"

 

"Hm?"

 

Tapi, aku harus bilang apa.

 

Begitu banyak kata-kata yang muncul di kepala, lalu menghilang lagi.

 

Aku tidak punya keberanian untuk menyatakan cinta.

 

Tapi aku juga tidak bisa bilang "tolong lihat aku sebagai seorang perempuan". Itu sih sudah hampir sama saja dengan menyatakan cinta.

 

Bukannya aku benci diperlakukan seperti adik.

 

Aku senang saat dia mengelus kepalaku atau memujiku.

 

Tapi aku ingin hubungan yang selangkah lebih maju.

 

"……Nggak, nggak ada apa-apa."

 

"……? Begitu ya? Kalau begitu, sampai ketemu lagi ya. Aku bakal temani latihan kapan saja kok."

 

Dasar aku pengecut.

 

Di dalam hati, aku memaki diriku sendiri.

 

Tapi, di depan Kak Masato, aku tetap memberikan senyuman.

 

"Iya. Lain kali, aku ingin kita latihan berdua saja."

 

"Hahaha, benar juga ya. Kalau mau mengajarimu, memang lebih enak kalau berduaan saja."

 

Berduaan saja──.

 

Kata-kata itu membuat jantungku berdegup kencang.

 

Apa Kak Masato juga berpikir kalau lebih enak kalau cuma berdua?

 

……Suatu saat nanti, pasti. Aku akan membuat Kak Masato makin sadar akan keberadaanku.

 

Berbeda dengan yang lain, cintaku ini──.

 

"Iya!! Mohon bantuannya lagi ya!"

 

Karena aku beneran serius.

 

Malam harinya.

 

Aku sudah berganti pakaian tidur dan berbaring di tempat tidur, memikirkan semuanya sendirian.

 

Yang terngiang di kepalaku adalah kata-kata Kak Masato tadi siang.

 

*Bagiku, dia itu sudah seperti sosok adik perempuan sendiri.*

 

Adik ya, adik. Gimana caranya supaya aku bisa "lulus" jadi seorang adik?

 

"Pokoknya, aku harus bikin dia sadar dulu kalau aku ini perempuan, kan."

 

Cara membuat orang yang disukai berbalik melihat kita…… meski sudah kucari di internet pun, jujur aku tetap tidak paham. Sedikit sekali pola yang membahas soal cowok yang lebih tua, jadi tidak terlalu bisa dijadikan referensi.

 

Tapi, pokoknya yang penting adalah membuatnya sadar.

 

Sadar…… lewat apa ya?

 

Memeluknya? Nggak, jangan. Kemarin aku sudah melakukannya karena terbawa suasana, tapi ujung-ujungnya cuma dielus-elus kepalaku.

 

Hanya berakhir sebagai kontak fisik antar kakak-adik.

 

Pegangan tangan? Hmm, pelukan saja kastanya lebih tinggi kan?

 

Kalau begitu, yang lebih tinggi dari pelukan itu……

 

"Ciuman…… gitu."

 

Seketika wajahku terasa sangat panas.

 

Aku menenggelamkan wajahku dalam-dalam ke bantal.

 

Nggak nggak nggak! Mana boleh begitu.

 

Tapi, memang sepertinya itu ide bagus. Kalau sampai melakukan itu, dia pasti bakal sadar.

 

Yang terbayang di kepalaku adalah wajah Kak Masato yang tampan.

 

Di wajah itu…… di bibir itu……

 

"……-!!"

 

Ke-kepalaku jadi pening.

 

A-apa aku bisa ya? Tapi kalau seandainya aku bisa melakukannya, betapa indahnya hal itu.

 

Ciuman pertama yang kuberikan untuk cinta pertamaku, kira-kira betapa manis rasanya ya?




"Haaah……"

 

Gantian bantal yang sekarang kudekap erat-erat.

 

Sensasi saat aku menghambur memeluk Kak Masato waktu itu...

 

Tak pernah sekalipun kulupakan. Aku masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas.

 

Kalau seandainya aku sampai menciumnya...

 

Makin aku memikirkannya, kepalaku makin pening saja.

 

Bahkan, mungkin saja bakal berlanjut ke hal yang lebih dari itu...

 

Aaah.

 

……Sepertinya, malam ini aku nggak bakal bisa tidur.


───● Gadis Sastra SMA Ingin Membantu ●○●

 

Hari Sabtu.

 

Bagiku, Sabtu telah menjadi hari penentuan seminggu sekali.

 

"Harus cepat pulang...!"

 

Aku baru saja menyelesaikan pelajaran pagi dan sedang berlari kencang menuju rumah.

 

Cepat pulang, mandi, pakai baju yang imut, lalu bersiap untuk *event* kedatangan Tuan Masato.

 

"...Hm?"

 

Saat itu, ponsel di saku bergetar. Notifikasi media sosial.

 

Apa sudah ada kabar dari Kak Masato?

 

Perkumpulan Para Orang Suci

 

Miyaki》『Shiori, lu pulang kecepetan woy

 

Tugas cetak lu ketinggalan nih

 

Mana》『wkwkwkwk

 

Shiori pasti itu kan? Karena hari ini "Hari Pangeran"

 

Hatsumi》『Oalah pantesan, fotoin ya ntar

 

Gue masih nggak percaya soalnya

 

Ternyata grup chat. Mereka kok ngomong seenaknya sendiri sih???

 

Memang Tuan Masato itu seorang pangeran, tapi kalau mau ambil foto kan harus minta izin...

 

Curi-curi foto? Duh, nggak enak juga kalau sampai begitu...

 

Shinomiya Shiori》『Sori sori wkwk

 

Tolong fotoin tugasnya ntar malem ya, tengkyu banget

 

Pasti bukan tugas yang mendesak. Sambil berterima kasih pada teman-teman baruku itu... tadinya aku mau mengabaikan notifikasi selanjutnya sampai di rumah.

 

Tapi──notifikasinya bunyi terus-terusan tanpa henti.

 

Apaan sih!

 

Karena merasa terganggu, terpaksa aku membuka ponsel sekali lagi.

 

Miyaki》『Eh? Wkwk bentar-bentar? Wkwkwk』『Shiori, sejak kapan ava lu ganti begitu?? Wkwk

 

Hatsumi》『Wkwkwk bentar wkwk namanya juga ganti jadi nama lengkap gitu wkwk

 

Woyyy wkwk kemaren-kemaren kan masih "Shioricchi" wkwk

 

Miyaki》『Fix ini mah, abis tukeran kontak sama si pangeran wkwk

 

Mana》『Bentar wkwk statusnya juga ganti wkwkwk

 

Pake pasang BGM segala woy wkwkwkwk

 

Miyaki》『Huhu wkwkwk perut gue sakit wkwkwk

 

Woy. Balikin ke "Pengen nempel foto bias di kamar" ganti buruan

 

Hatsumi》『Ava lu juga tadinya ava anime kan??? Lu lagi ngapain sih. Balikin

 

Berhenti pake ava "foto dari belakang di pantai antah-berantah" gitu

 

Lagian itu pasti bukan lu kan

 

Mana》『Aduh perut gue wkwkwkwk

 

Kalo bukan dia, terus ini siapa wkwkwkwk

 

Miyaki》『Jangan sok-sokan pasang BGM lagu band yang lagi hits deh. Lu paling juga nggak pernah denger

 

Status "Suka musim gugur" apaan wkwk nggak nanya wkwk

 

...

 

Huft.

 

Aku menutup ponsel pelan-pelan.

 

Oke.

 

Meskipun hanya sebentar──

 

Aku mau berhenti berteman sama mereka.

 

Tiba-tiba, aku menutup novel yang sedang kubaca dan melihat jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Biasanya sepuluh sampai lima menit sebelumnya bel rumah sudah bunyi, tapi Tuan Masato belum datang juga.

 

"...Tumben ya?"

 

Bagiku... nggak, mungkin bagi siapa pun, Tuan Masato itu manusia sempurna yang jarang sekali terlambat.

 

Apalagi 30 menit yang lalu dia sudah mengirim pesan seperti biasa, "Bentar lagi sampai stasiun ya~". Kalau begitu, harusnya dia sudah sampai sekarang.

 

Aku keluar kamar dan turun tangga. Tentu saja Kak Masato tidak ada di sana.

 

"Bu, Kak Masato belum datang ya?"

 

"Hm? Iya ya. Tumben sekali. Padahal biasanya jam segini sudah sampai."

 

Aku melihat jam di ruang tamu. Tepat pukul 15.00. Di ponsel pun belum ada notifikasi masuk. Kalau dia sampai di stasiun di jam tadi, harusnya dia sudah sampai...

 

Aku punya firasat buruk.

 

"Bu, aku ke stasiun sebentar ya."

 

"Eh?"

 

"Jalannya cuma satu arah kok, pasti nanti papasan. Aku pergi dulu ya."

 

Dadaku berdebar kencang, aku buru-buru memakai sepatu. Kalau tidak ada apa-apa ya syukurlah. Tapi dia itu laki-laki yang sangat tampan.

Bukan hal aneh kalau dia diganggu orang asing. Aku langsung berlari keluar dari pintu depan.

 

Sambil menggenggam ponsel, aku terus melangkah. Seperti yang kubilang pada Ibu, jalan dari rumahku ke stasiun ada beberapa, tapi kalau mau lewat jalan yang paling mudah ya cuma satu. Kak Masato pasti lewat jalan ini.

 

Saat aku hampir sampai di stasiun...

 

Aku melihat sosok yang kukenal di kejauhan.

 

Hari ini dia juga terlihat segar dengan gaya rompi warna gandum di atas kaus putih polos. Tidak mungkin salah lagi. Itu Kak Masato!

 

Dia sedang dikelilingi oleh dua wanita bersetelan jas.

 

Eh, digoda!?

 

"Tolong pertimbangkan dulu! Kami tidak akan menyuruh Anda melakukan hal yang tidak masuk akal kok!"

 

"A-anu... seperti yang saya bilang dari tadi, saya tidak bisa, apalagi sekarang saya sedang buru-buru..."

 

Aku mendekat. Dari percakapannya... sepertinya bukan sedang digoda. Apa mereka sedang menawarinya jadi model atau semacamnya...?

Memang sih, Kak Masato itu sangat tampan jadi wajar saja hal itu terjadi, tapi...

 

Kenapa dia tidak punya pertahanan diri sama sekali sih!? Terobos saja harusnya kalau diganggu begitu!?

 

Ah, dasar Kak Masato yang terlalu baik hati. Dia pasti mendengarkan mereka dengan serius. Dan sekarang dia kesulitan untuk menolak... pasti begitu.

 

Tunggu dulu...

 

Sebuah kemungkinan melintas di benakku. Kalau aku membantunya di sini, apa mungkin tingkat kesukaannya padaku bakal langsung melonjak drastis!?!? *Event* kenaikan *affection level* secara drastis akhirnya datang juga... kalau aku bisa menyelamatkannya dengan keren...!

 

Fufufu. Anda tidak apa-apa, Tuan Masato...?

 

Shi-Shiori-chan... Aku menyukaimu (Deg-degan)

 

Sudah dataaaang!!!!

 

Kemenangan besar. Gue menang telak nih.

 

Oke, mari kita mulai──

 

...Eh, bentar dulu.

 

Gimana caranya menyelamatkan dia dengan keren?

 

Maaf, bisa tolong menjauh dari pacar saya?

 

Levelnya terlalu tinggi!

 

Terlalu berlebihan kalau tiba-tiba bersikap kayak pacar!! Yang lain apa?

 

Sori ya Ka-kak, nunggunya lama ya?? Yuk, buruan pulang ke rumah? (Kedip sebelah mata)

 

Karakternya berat banget. Aku nggak bisa akting kayak adik begitu.

 

Gimana ya, apa ada ide bagus yang lain!?

 

"Kalau begitu, setidaknya kontaknya saja! Boleh kita tukaran kontak!"

 

"Duh, anu..."

 

"Nomor telepon saja cukup kok. Nanti kami hubungi lagi..."

 

Gawat!

 

Aku tidak bisa diam saja. Sebelum Kak Masato beneran tukaran kontak!!

Meskipun aku belum menentukan gaya penyelamatannya, aku harus menolongnya!!

 

Aku berlari sekencang mungkin menuju tempat Kak Masato berada.

 

Apa pun jadinya terserah! Yang penting lakukan saja!

 

​[ Mode: Cewek Gaul Genit (Gyarurun) — AKTIF! ]

 

"A-anuuuuuu!!"

 

"...?"

 

Mungkin suaraku terlalu keras, kedua wanita bersetelan jas itu menoleh ke arahku.

 

Aduh, tekanannya kuat banget.

 

Kalian pikir aku ini cuma bekicot apa??

 

Ta-tapi aku nggak bakal kalah!

 

Aku menghela napas berat, tanganku bertumpu pada lutut yang gemetar.

 

"Hah... hah...!"

 

Benar juga. Fisikku ini kan selemah siput tak berdaya. Belum juga sampai rumah, aku sudah kehabisan napas dan tepar di pinggir jalan.

 

Aku melirik ke arah Kak Masato yang masih kugandeng tangannya. Dia tampak tidak berkeringat sedikit pun, malah menatapku dengan tatapan campur aduk—antara bingung, heran, dan mungkin sedikit kasihan.

 

"Shi... Shiori-chan? Tadi itu... ninja Iga?"

 

Mati aku. Wajahku rasanya lebih panas daripada aspal musim panas ini.

Ingin rasanya aku tenggelam ke dalam bayangan dan menghilang seperti ninja sungguhan.

 

Niatnya ingin jadi ksatria yang menyelamatkan pangeran dengan keren, tapi kenapa malah jadi komedi absurd begini!?

 

"Ma-maaf... hah... itu... akting! Iya, akting untuk klub sastra!" aku mencoba berkelit sambil mengatur napas yang tersenggal.

 

Kak Masato terdiam sejenak, lalu tiba-tiba dia tertawa kecil. Tawa yang sangat lembut dan menenangkan.

 

"Terima kasih ya. Tadi itu sebenarnya aku bingung sekali cara menolaknya. Berkat 'ninja Iga' yang tiba-tiba muncul, aku jadi bisa kabur."

 

Dia tersenyum tulus ke arahku.

 

*DEG.*

 

Tunggu sebentar. Meskipun cara menolongku jauh dari kata keren, tapi barusan dia bilang terima kasih kan? Dia bilang aku membantunya kan?

Ini... apakah ini tetap terhitung sebagai *event* kenaikan *affection level*!?

 

"Fufu... fufufu. Te-tentu saja! Serahkan saja pada saya, Tuan Masato!"

 

Sambil menahan rasa malu yang masih tersisa, aku mencoba menegakkan punggungku kembali. Meskipun aku lemas dan hampir pingsan, kemenangan tetap ada di tanganku!




Tapi, sepertinya mereka nggak mengejar.

 

Syukurlah, sepertinya aku berhasil mengecoh mereka...

 

"Tuan... Masato... Anda tidak apa-apa...?"

 

Aduh, beneran deh, ini yang terburuk.

 

Rencanaku hancur total.

 

Padahal harusnya aku menolong dengan lebih keren supaya dia makin jatuh cinta padaku...

 

Tapi kalau diingat-ingat lagi, tadi itu aku memalukan banget.

 

Dia pasti *ilfeel*... ya kan... gimana cara menutupinya ya.

 

Itu bukan hal yang pantas dilakukan oleh seorang "Gadis Anggun"...

 

"……Fufu…… Ahahahaha!!"

 

"Kak Masato?"

 

Saat aku menoleh, Kak Masato sedang tertawa sampai air mata keluar dari sudut matanya.

 

Di saat aku sedang melongo keheranan, Kak Masato yang sudah selesai tertawa pun menghapus air matanya dan berkata begini:

 

"Terima kasih... terima kasih ya, Shiori-chan! Lagipula... ternyata Shiori-chan bisa bicara seperti itu ya!"

 

"A-ah, tidak, anu, tolong lupakan saja... beneran deh, tadi itu aku cuma terlalu tegang saja..."

 

M-mampus... dia dengar semuanya dengan jelas... ya iyalah, kan dia ada di situ.

 

Parah banget... padahal aku sudah berusaha keras memerankan sosok nona muda yang anggun dengan sempurna... (menurut versiku sendiri).

 

"Beneran deh, maaf ya. Nggak seharusnya aku tertawa. Terima kasih sudah menolongku. Aku sangat terbantu. Terus, maaf ya aku jadi telat. Mereka tadi lumayan gigih... aku sampai nggak bisa lepas."

 

"E-eh. Iya, benar. Mereka kelihatannya memang sangat gigih ya..."

 

"Tapi, entah kenapa ya."

 

"……?"

 

……Ah, kalau dipikir-pikir, tanganku masih menggenggam tangannya...

 

"Aku jadi ingin melihat sisi Shiori-chan yang seperti itu lebih banyak lagi."

 

"……Eh?"

 

"Habisnya, Shiori-chan itu selalu terlihat seperti... sedang membangun tembok di antara kita. Tadi itu, meski memang kelihatannya kamu lagi panik banget... tapi kamu kelihatan sedang bersenang-senang, tahu? Makanya... aku ingin melihat berbagai macam ekspresimu yang lain, bukan cuma wajah yang biasa kamu perlihatkan padaku saja."

 

"……"

 

Aku reflek menggenggam tangannya lebih kuat.

 

Aku ingin menyembunyikan detak jantungku yang rasanya hampir tersalurkan padanya.

 

Nggak boleh. Pasti nggak boleh.

 

Kalau aku memperlihatkan sisi dalamku yang seperti ini, dia pasti bakal

membenciku.

 

Tapi.

 

Ada sisi lain dalam diriku yang ingin mencoba bersikap apa adanya di depannya.

 

Bukan sebagai gadis yang seperti *heroine* di dalam cerita.

 

Keinginan egois agar dia menyukai diriku yang aslinya cuma "Penduduk Desa B" ini mulai muncul ke permukaan.

 

"……Bakal aku... pikirkan."

 

"Sip."

 

Aku melepaskan tangan kami yang bertautan.

 

Jantungku yang masih berdegup kencang ini, pasti bukan cuma karena aku baru saja lari sekencang tenaga.

 

Saat ini aku memang belum punya keberanian.

 

Tapi kalau orangnya adalah dia.

 

Mungkinkah dia bakal... menerimaku apa adanya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close