Episode 8 “Karena
Tidak Ada Apa-apa”
Saat aku masuk ke ruang
kelas, tatapan seluruh siswa serentak tertuju padaku, namun mereka segera
memalingkan wajah. Sepertinya orang yang mereka tunggu bukanlah aku.
Saat aku duduk di kursiku,
siswa laki-laki yang duduk di belakangku menusuk punggungku, jadi aku menoleh
ke belakang.
“Nogi~”
“Hm?”
Padahal dia yang
memanggil, tapi tanpa mengatakan apa-apa dia mengotak-atik ponselnya lalu
menunjukkan layarnya padaku.
Di luar ruangan yang
gelap. Di bawah lampu jalan. Sebuah foto dengan pencahayaan yang nyaris tidak
cukup untuk memperlihatkan wajah orang yang tertangkap di dalamnya.
“Tengah malam kemarin foto
ini beredar, kamu sudah lihat?”
“Eh, nggak tahu tuh.”
“Kalau dilihat dari
arahnya, sepertinya mereka baru keluar dari stasiun, ya.”
“Kelihatannya begitu.”
“Jangan-jangan ini
pacarnya, ya...”
Foto itu menangkap momen
di mana Shuri tertawa gembira sambil berjalan menggandeng lengan seorang pria
berpakaian kerja.
Sudut fotonya buruk, dan
karena gelap, wajah pria itu tidak terlihat. Namun, sosok perempuannya
tertangkap cukup jelas sehingga aku yakin seratus persen kalau itu adalah
Shuri.
“Kapan foto ini menyebar?”
“Mungkin sekitar sebelum
jam 12 malam.”
“Hmm... Apa orangnya
sendiri sudah tahu?”
“...Yah, masa kita berani
tanya langsung?”
“Tanya saja lah.”
“Kalau gitu tolong
tanyakan dong...”
“.........Aku sih nggak
mau, ya.”
Habisnya, pria berpakaian
kerja itu kan aku.
•••
Tepat sebelum bel masuk
berbunyi, Shuri dan Reni tiba di sekolah.
Tatapan seisi kelas
tertuju pada mereka. Sementara semua orang saling melempar pandangan untuk
menentukan siapa yang akan bertanya, wali kelas keburu masuk, sehingga tidak
ada yang bisa bergerak.
Waktu berlalu tanpa ada
satu pun siswa yang berani bertindak terang-terangan, hingga akhirnya jam
istirahat makan siang pun tiba.
Saat aku sedang duduk
mengunyah roti sendirian di bangku samping gimnasium—tempat yang selalu
kugunakan di hari cerah sejak diberi tahu sebelumnya—terdengar sapaan, “Yoo~”,
yang membuatku mengangkat wajah.
Itu Shuri dan Reni,
masing-masing membawa kantong belanjaan dari kantin.
Mereka berdua sebenarnya
jarang menggunakan bangku ini meski mereka sendiri yang memberitahukannya
padaku. Biasanya mereka makan bersama teman-teman di kelas atau di tempat lain
di sekitar sekolah, jadi sebenarnya cukup langka melihat mereka di sini.
“Hari ini makan di sini?”
“Soalnya entah kenapa kami
terus dikerumuni orang-orang, jadi kami kabur~”
“...Mau bagaimana lagi.”
“Nogi, kamu tahu sesuatu?
Entah kenapa hari ini semua orang kelihatan gelisah, ya?”
Dilihat dari reaksinya,
sepertinya belum ada yang bertanya langsung padanya. Aku membuka foto yang
dikirimkan kepadaku pagi tadi di ponsel, lalu memperlihatkannya. Dia tampak
sedikit terkejut, tapi tidak terlihat panik.
“Ini yang kemarin, kan?”
“Sepertinya begitu.”
Karena kami berdua
sama-sama tahu kejadiannya, kami sedang berpikir ke arah “Kira-kira siapa yang
memfotonya ya?”, namun Reni yang ikut mengintip layar ponsel dari samping
menyuarakan sebuah keraguan.
“Kalau fotonya begini,
orang nggak bakal tahu kalau itu Nogi, kan?”
Keraguannya itu sangat
masuk akal.
Dari apa yang kudengar
saat teman-teman sekelas membicarakan identitas pria itu, mereka hanya bisa
berasumsi sampai pada tahap ‘pakaian kerja = pekerja kasar’. Mereka menganggap
sudah pasti kalau pria itu orang dewasa, padahal sayangnya, pria itu cuma anak
SMA biasa dan merupakan teman sekelas kalian sendiri.
“Mau bagaimana?”
Shuri bertanya kepadaku,
tapi bukannya mau bagaimana—
“Bagaimana apanya, itu kan
bukan hal yang bisa kuputuskan.”
“Tapi, kalau aku bilang
pria itu Nogi...”
“...Lalu kenapa kalau kamu
bilang begitu?”
“Kayaknya nanti
orang-orang bakal nanya kenapa kita berdua jalan bareng tengah malam.”
“...Yah, pasti jadinya
begitu, sih.”
Mana gandengan tangan
segala, lagi.
Karena aku pernah
mendengar langsung darinya bahwa ia tidak berniat mencari pacar selama masih
sekolah, aku tahu ia melakukannya bukan karena ada niat terselubung.
Tapi apakah orang banyak
akan percaya atau tidak, itu perkara lain. Aku sendiri percaya hanya karena
tidak ada alasan baginya untuk berbohong di situasi seperti itu.
“Bi-bilang saja kalau
kalian pacaran, selesai kan.”
Reni memalingkan wajah dan
mengatakannya. Namun anehnya, Shuri malah bertanya kepada Reni, “Boleh, nih?”.
Eh, bukannya tanya kepadaku? Kenapa tanya ke Reni?
“...Nggak tahu.”
“Hmm...? Seriusan boleh
nih~?”
Tapi, Reni tidak membantah
dan justru gemetar. Karena ia menunduk, aku tidak bisa melihat ekspresi
wajahnya, tapi aku tahu wajahnya pasti memerah. Soalnya telinganya merah padam.
“.........Ah, nggak jadi
deh.”
“Tuh, kan~”
Ada apa dengan percakapan
barusan. Jelas sekali ada ketidakseimbangan antara jumlah kata yang diucapkan
dengan jumlah informasi yang tersampaikan.
Apa maksudnya mereka sudah
saling paham tanpa harus dijelaskan panjang lebar? Apa bersahabat dekat memang
seperti ini? ...Sedikit membuatku iri.
“Bilang saja kalau kita
ini keluarga, gampang kan.”
Pulang bareng sambil
menggandeng lengan keluarga—menurutku ini adalah alasan yang sangat masuk akal
dan cukup meyakinkan tanpa perlu dicurigai.
Tapi, entah kenapa reaksi
mereka berdua agak aneh. Apa kata-kataku tidak nyambung? Kalau dengan keluarga
yang akrab, bergandengan lengan itu wajar, kan?
“...Memangnya orang-orang
bakal percaya~?”
“Kenapa nggak? Entah itu
bilang kakak, orang tua, atau kerabat, alasannya sangat meyakinkan, kan.”
Namun sepertinya tidak
puas dengan penjelasanku, Shuri menoleh ke arah Reni dan bertanya,
“Meyakinkan?”. Reni menjawab dengan wajah sedikit bingung, “Yah, nggak
sepenuhnya mustahil sih, tapi...”
Kenapa begitu? Harusnya
sangat meyakinkan, kan. Tingkat keyakinannya setara dengan alasan pacar, lho.
Kalau dibilang keluarga, aku sih bakal langsung percaya. Kalian malah
kebalikannya, nggak bakal percaya?
“...Keluarga, ya.”
Entah kenapa, gumaman
Shuri barusan...
...Terasa seolah
mengandung makna yang sedikit berbeda dari kata ‘keluarga’ yang kugunakan.
•••
“Dari dulu aku perhatiin,
Reni, makan siangmu itu sedikit banget, nggak sih?”
“...Nggak juga.”
“Padahal paginya juga
nggak sarapan lho~”
“Seriusan?”
Memang benar Reni selalu
berangkat ke sekolah sebelum makan pagi, tapi aku kira dia memakannya setelah
sampai di sekolah.
“Lho, tapi pas hari Sabtu
dan Minggu kamu sarapan dari pagi, kan?”
“Kan ada kerja sambilan.”
“...Benar juga.”
Soalnya aku memang pernah
melihatnya makan.
“Terus, makan siangnya cuma
itu?”
Reni sedang memakan sandwich
buah yang sepertinya dibeli di kantin. Kalori dan harganya pasti lumayan
tinggi.
Dari satu bungkus yang
berisi tiga potong, dia makan satu potong utuh, lalu menggigit sepotong lagi
sedikit saja. Entah karena sudah puas atau apa, dia malah membiarkan sisanya
tergeletak begitu saja di atas bangku lengkap dengan bungkusnya, lalu kembali
asyik bermain ponsel.
“Mau?”
“...Nggak usah, aku ada
bagianku sendiri, nggak perlu dikasih juga—“
“Lagi pula paling-paling
yang makan ujungnya Shuri.”
“Paling-paling apanya~”
Shuri protes, tapi karena
Reni bersikeras menjejalkan sisa sandwich buah itu padaku, aku pun
dengan enggan menerimanya.
Di sana ada bekas gigitan,
dan juga sedikit noda kemerahan dari lip balm berwarnanya yang menempel.
“...Yah, kalau boleh sih
kuambil.”
“Minta setengahnya, dong~”
Ucap Shuri sambil
mengambil satu potong sisanya. Potongan yang berisi jeruk mandarin, yang belum
digigit sama sekali.
Yah, karena sayang kalau
disisakan, aku pun melahap sandwich buah berisi stroberi itu. Mungkin
ukurannya lebih kecil dari sandwich di minimarket, karena bisa habis
dalam dua gigitan saja.
“Hm, eh ini enak, ya.”
Karena harga sandwich
buah biasanya 1,5 kali lebih mahal dari sandwich biasa, aku belum pernah
membelinya sendiri.
Bukannya sejajar dengan katsu
sandwich yang merupakan puncak rantai makanan di dunia sandwich, di
beberapa minimarket harganya bahkan bisa lebih mahal dari katsu sandwich.
Anak SMA laki-laki mana mungkin membelinya.
Tapi, setelah mencobanya
begini, aku merasa agak rugi karena selama ini menghindarinya.
Mungkin karena roti
tawarnya biasa dan tidak manis, rasanya tidak terlalu enek meskipun
krimnya banyak. Kalau sedang tidak mau makan kue tapi juga sedang tidak ingin cream
puff—biasanya aku akan beli puding ukuran besar untuk saat-saat seperti
itu, tapi rasanya makanan ini adalah pilihan yang paling pas.
“Nih.”
Reni, yang dari tadi
menatap lurus ke mulutku, menyodorkan air berkarbonasinya. Aku memang punya
minumanku sendiri, tapi itu kopi susu yang manis. Karena tidak bisa
menetralisir rasa manis di mulutku, aku menerimanya dengan penuh rasa terima
kasih.
Kubuka tutup botolnya dan
meneguk air berkarbonasi itu. Berbeda dengan minuman bersoda yang manis seperti
kola, karbonasinya yang kuat menyapu bersih semua sisa rasa di mulutku.
Berhati-hati agar tidak
meminumnya terlalu banyak, aku mengembalikannya. Reni dengan wajah sedikit
memerah, ikut meminum air berkarbonasi tersebut. Dia meminumnya sedikit demi
sedikit, seolah sedang menikmatinya.
“Ngomong-ngomong, kamu
selalu minum itu setiap siang, kamu suka ya?”
“...Biasa aja.”
“Bukannya itu bukan tipe
minuman yang biasa diminum kalau nggak suka-suka amat?”
Aku memang pernah dengar
kalau di luar negeri ada orang yang minum air berkarbonasi tanpa gula layaknya
air putih biasa, tapi ini kan Jepang.
“...Soalnya bikin perut
kenyang.”
“............Aah.”
Begitu, begitu. Ini
maksudnya... semacam diet, ya?
Alasan tidak makan pagi
mungkin hanya karena terlalu banyak tidur sehingga kehabisan waktu. Kalau di
sini aku kasih respons pura-pura nggak ngerti, dia pasti bakal menjauh. Aku
tahu kok hal semacam itu.
Yaah, biarpun begitu,
kadang-kadang pas pulang sekolah dia tetap minum yang manis-manis dari
minimarket. Mungkin dia mengurangi porsi pagi dan siangnya untuk menyeimbangkan
kalori itu, mungkin perasaannya seperti itu.
Sebenarnya tubuh Reni itu
kecil dan ramping. Sama sekali tidak terlihat seperti butuh diet. Tapi kalau
aku sampai menegurnya begitu, dia pasti bakal jawab, “Aku mengurangi makan
justru untuk mempertahankan bentuk tubuh yang sekarang,” atau semacamnya.
“Menahan rasa lapar, ya...
Nggak bisa kupercaya...”
“Lama-lama juga terbiasa,
kok.”
“Menurutku Nogi saja yang
makannya terlalu banyak, sih...”
“...Masa, sih?”
Di kalangan pekerja kasar,
banyak orang yang makannya brutal seperti food fighter, lho. Kalau
dibandingkan dengan mereka, aku ini masih mendingan.
“...Kamu mau?”
Saat aku sedang mengunyah
roti kari, Reni menatapku tanpa berkedip.
“Satu gigitan saja.”
“Nih.”
Karena tidak enak
memberinya bagian yang sudah kugigit, aku bermaksud memutar rotinya dari dalam
bungkus. Tapi Reni menahan tanganku sambil bilang “Sudah nggak usah,” jadi
kuberikan saja begitu.
Setelah menerima
bungkusnya dan menggigit roti kari itu, Reni mengunyahnya sejenak—wajahnya
memerah dan dia bergumam “Pedas”.
Benar, roti kari dari
tempat ini memang sedikit pedas. Karena itulah aku membelinya.
“Aku juga minta gigit
dong~”
Shuri membuka mulutnya.
Reni lalu dengan sigap memutar rotinya dari dalam bungkus, memastikan bagian
yang belum digigit menghadap ke depan, baru mendekatkannya ke mulut Shuri.
Sudah kayak ngasih makan
hewan peliharaan saja.
“Aah, beneran agak pedas,
ya? Nogi suka makanan pedas, ya?”
“Nggak juga sih... cuma
karena kari di rumah selalu pakai bumbu yang tidak pedas.”
“Oh, semacam selingan,
gitu?”
“Begitulah.”
“Ooh begitu~, eh Reni~”
“...Apa.”
Reni, yang sedang menyesap
air berkarbonasinya, mengangkat wajah.
“Padahal aslinya kamu
lebih kuat makanan pedas daripada aku, kan?”
“............”
Oh, begitu ya. Tapi aku
pernah dengar, orang yang suka makanan pedas itu terbagi jadi dua tipe: tipe
yang nggak ngerasa pedas sampai level tertentu, dan tipe yang ngerasa kepedasan
tapi tetap suka. Reni ini pasti tipe yang kedua, ya.
Setelah itu pun, setiap
kali aku membuka bungkus roti baru, Reni selalu mengambil satu gigitan. Tuh
kan, aslinya kamu lapar, kan. Habiskan saja makananmu sendiri, dong. Biarpun
rotinya jadi lebih enak sih...
•••
Sepulang sekolah. Melewati
siswa-siswa yang sedang menuju kegiatan klub ekstrakurikuler, aku keluar dari
gedung sekolah.
Di depan sana ada beberapa
siswa laki-laki yang sedang berkumpul. Salah satu dari mereka—siswa yang
posturnya paling besar, Watanabe—menyadariku dan mengangkat tangan sambil
menyapa, “Yoo.”
Siswa laki-laki lainnya
menatap kami berdua dengan ekspresi kaget, tapi Watanabe tidak peduli. Ia
mendekat dan berkata dengan suara pelan yang tidak bisa didengar orang lain di
sekitarnya.
“...Aku udah lihat
fotonya.”
“...Udah lihat, ya.”
“Sialan, ternyata bukan
Ebitani, tapi sama Himori...!”
Dia menggertakkan giginya
dengan raut wajah sangat kesal. Begitu ya, Watanabe langsung mengenali pria
berpakaian kerja di foto itu adalah aku. Ya wajar saja, dia kan satu proyek
bersamaku tepat sebelum foto itu diambil.
“Benar juga... Himori,
badannya memang bagus, sih...”
“Be, begitu, ya.”
“Pantas saja dari kemarin
reaksimu kayak aneh pas kusinggung soal disembunyikan, rupanya gara-gara
ini...”
“Gara-gara ini... ya...?”
Aku memalingkan wajah dan
menggaruk pipi, menghindari tatapan Watanabe yang seolah bertanya, “Kenapa kamu
malah kedengaran ragu, sih?”.
“Tapi, ternyata Himori
punya niat buat pacaran, ya.”
“Hng?”
Ah, maksudnya soal
perkataan Shuri sendiri yang bilang bahwa dia tidak berniat mencari pacar.
“Kamu udah dengar soal
orang tuanya Himori?”
“Eh, nggak, aku nggak tahu
apa-apa.”
Tanggapanku itu rupanya
sangat tidak terduga, Watanabe pun terlihat kaget.
“Ibunya Himori katanya
hamil pas kelas 1 SMA dan akhirnya dikeluarkan. Makanya, dia bilang ke setiap
cowok yang nembak dia, kalau dia nggak mau mengulangi kesalahan yang sama dan
memutuskan buat nggak mau pacaran selama masih SMA.”
“Hoo...”
Jadi ada cerita seperti
itu di baliknya. Tentu saja, kalau sudah dibilangi begitu, kebanyakan cowok
pasti bakal menyerah untuk mendekatinya.
“...Kamu bener-bener nggak
tahu rupanya.”
“Yah, begitulah.”
“Kalau gitu... siapa yang
nembak duluan?”
“Eeto... dari dia,
mungkin...?”
Secara tak sadar aku
menjawabnya dengan nada bertanya. Tapi, nggak enak juga berlagak sok jadi pacar
pas orangnya nggak ada. Setidaknya memang dia duluan yang menggandeng lenganku,
jadi kujawab saja dengan fakta yang hampir mendekati kebenaran.
Sepertinya cuma Watanabe
yang sadar kalau pria di foto itu adalah aku. Ditambah dari bagaimana dia
menangani urusan soal Reni sebelumnya, sepertinya dia bukan tipe ember yang
suka membocorkan rahasia.
Mungkin aku nggak perlu
repot-repot meluruskan kesalahpahaman ini, tapi entah kenapa aku merasa sedikit
bersalah karena seolah sedang menggiring opininya.
“Curang banget...! Padahal
kamu bisa akrab sama Ebitani aja udah bikin iri, ditambah lagi sama Himori,
badannya kan bagus banget...”
“Be, begitu, ya...”
Dia kelihatan jauh lebih
kesal daripada waktu nanya, “Kamu pacaran sama Ebitani?”. Oh, aku ngerti,
berarti sebenarnya dari awal incaran utamanya itu Himori, toh. Begitu rupanya.
Ini semua cuma salah paham kok, maaf ya.
“Kalian lagi ngapain di
sini~”
Ada benturan dari
belakang, dan sosok yang sedang menyender di punggungku sudah bisa ditebak, itu
Shuri.
Watanabe langsung mundur
selangkah sambil berseru, “Uwoh...!?”.
Begitu menyadari bahwa
orang yang sedang mengobrol denganku adalah Watanabe, Shuri memiringkan
kepalanya dengan ekspresi keheranan seolah bertanya, ‘Kenapa kamu ngobrol sama
cowok ini?’.
Wajar saja sih, dari sudut
pandang Shuri, interaksiku dengan Watanabe cuma terbatas pada kejadian di mana
aku ditinju olehnya tempo hari.
Waktu itu pun kami nggak
saling kenal, makanya dia merasa aneh melihat kami mengobrol santai seperti
sekarang.
“Kami cuma ngobrol biasa
kok. Kamu mau pergi main?”
“Cuma mau pulang doang~ Ya
udah, duluan ya~”
Ucap Shuri sembari segera
menjauhiku dan menuju gerbang sekolah. Entah apa yang dia katakan kepada
teman-temannya soal foto itu, tapi setidaknya dia sama sekali tidak berniat
bersikap seolah kami pacaran di depan umum.
Satu-satunya yang tahu
identitasku cuma Watanabe yang masih salah paham, tapi yah, kalau cuma satu
orang sih nggak masalah—“Aduh, sakit!”
Reni, yang kebetulan
lewat, sengaja menancapkan kukunya ke punggung tanganku.
Woy, kamu lupa ya kalau
kukumu itu bisa jadi senjata tajam? Tapi, Reni hanya lewat begitu saja di
sampingku dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah berkata, ’Aku nggak
ngelakuin apa-apa lho?’.
“...Hei.”
Setelah sosok kedua gadis
itu menjauh hingga suaranya tidak terdengar lagi, Watanabe kembali angkat
bicara.
Sepertinya dari posisinya,
Watanabe bisa melihat saat Reni mencakar tanganku tadi, karena pandangannya
sempat sekilas melirik ke arah tanganku.
“Ada apa.”
“Jangan-jangan kamu lagi
diperebutkan sama mereka berdua, ya? Kayak gitu, kan?”
“...Kelihatannya begitu,
ya.”
Kalau kelihatannya begitu,
berarti itu murni 100% salah paham.
Watanabe mengangguk dengan
ekspresi seseorang yang telah membulatkan tekad.
“Tiba-tiba aku pengen
banget nonjok kamu, boleh nggak, nih?”
“Kamu mau lanjut kuliah?
Atau langsung kerja?”
“Balesan macam apa itu,
curang banget tahu nggak!?”
“Makanya jangan gampang
main tangan sembarangan...”
Bagaimanapun juga kami
sudah kelas 3. Kalau sampai bikin kasus kekerasan di sekolah, rencana masa
depan bisa berantakan.
Nggak ada perusahaan yang
mau nerima karyawan yang hobi gebukin teman sekelas, dan nggak ada universitas
yang mau nerima mahasiswa berandalan yang pernah di-skors karena kasus
kekerasan.
Ancaman ini sangat ampuh,
terutama buat siswa kelas 3.
“...Padahal biasanya aku
bisa nahan diri, lho.”
“Tapi kenyataannya waktu
itu aku beneran kena tonjok tuh.”
“Habisnya Nogi jago banget
kalau bikin orang kepancing emosi...”
“Terserah lah.”
Ya, maklum saja sih kalau
dia nggak punya pertahanan yang bagus buat nahan emosi kalau dipancing.
Mengingat postur tubuh
Watanabe yang besar dan terlihat jago berantem, nggak banyak orang yang punya
nyali mancing emosinya karena takut babak belur.
•••
Setelah berpisah dengan
Watanabe, aku meneruskan perjalanan pulang. Di depan sebuah minimarket, kulihat
dua gadis yang sedang meminum frappe mengangkat tangannya setelah menyadari
kedatanganku.
Minimarket ini terletak di
arah yang berlawanan dari stasiun dan cukup jauh dari halte bus. Meskipun hanya
butuh waktu 10 menit jalan kaki dari sekolah, hampir tidak ada siswa yang
singgah ke sini kecuali mereka yang tinggal di sekitar area ini.
Untuk menghindari rumor
bahwa kami tinggal serumah, kami tidak pernah berangkat atau pulang sekolah
bersama-sama. Namun, kami sering ketemuan di titik ini. Sepertinya mereka
mampir ke sini setiap hari.
“Ayo pulaang~”
Shuri langsung
menghabiskan sisa frappe-nya dalam sekali sedot. Mungkin kepalanya tiba-tiba
pening efek minum es terlalu cepat, ia mengerang pelan, “Auh...” sambil
memegangi kepalanya sejenak, lalu membuang gelas kosongnya ke tempat sampah.
Sedangkan Reni, yang di
gelasnya masih menyisakan lebih dari setengah frappe warna pink—yang
kemungkinan besar rasa stroberi—
“...Nih.”
Menyodorkan minumannya itu
padaku secara paksa.
“Makasih.”
Kuterima dan langsung
kuminum. Rasanya seperti susu stroberi yang mewah. Kalau diminum pas musim
panas pasti segar banget.
Berhubung cuaca sekarang
ini belum bisa dibilang gerah—walaupun juga tidak sedingin itu—aku tidak
kepikiran buat beli sendiri. Tapi karena Reni sering memaksakan sisa minumannya
padaku, sepertinya aku sudah mencicipi semua varian rasa yang ada.
“Ternyata, beneran ada ya
konsep ‘baikan setelah saling pukul’ itu...”
Gumamnya pelan. Tunggu
sebentar.
“Kami nggak saling pukul
lho...?”
Aku cuma dipukul sepihak
tahu?
“Ada urusan apa kamu sama
cowok tadi?”
“Oh, cuma kebetulan satu
lokasi kerja kemarin, makanya kami agak ngobrol sedikit.”
“Terus tiba-tiba langsung
baikan... cowok kok bisa sesimpel itu sih...”
Berisik amat.
“Perasaan cowok itu nggak
seawet cewek tahu. Kejadian yang sudah berlalu bisa langsung kami relakan
begitu saja.”
“Jadi cowok itu organisme
bersel satu?”
“Nggak sampai seprimitif
itu juga kali!?”
“Makanya kamu gampang
lupa, ya?”
“...Yah, tapi ingatanku
lumayan bagus kok.”
“Masa?”
“Eh, iya.”
Kalau soal hafalan, aku
masih lumayan pede lho.
“Tanggal 7 Juni dua tahun
yang lalu.”
“...Ada, apa?”
“Tuh kan kamu nggak
ingat...”
Dia menghela napas sangat
panjang, seolah seluruh udara di paru-parunya keluar tanpa sisa.
“Eh, tunggu bentar, kalau
tiba-tiba cuma disebutin tanggalnya doang mana aku bisa ingat...!? Memangnya
itu hari apa? Coba kasih bocoran sedikit, aku pasti bakal ingat.”
“Nggak ada apa-apa.”
“Kok nggak ada apa-apa
sih!!”
Saat aku balik berteriak,
ia kembali menghela napas panjang.
Nggak salah lagi, pasti
ada kejadian sesuatu di tanggal itu. Tapi sepertinya Reni nggak berniat buat
membicarakannya.
Kalau dipikir-pikir, belum
lama ini aku juga pernah ditanya apakah ada kejadian saat aku masih kelas 1.
Berkaitan dengan pertemuan
antara Reni dan Shuri, kalau tidak salah. Tapi, meskipun aku sudah mencoba
mengingatnya setelah itu, sama sekali tak ada satu pun cerita yang terlintas
yang menghubungkanku dengan mereka berdua.
Aku mencoba menoleh ke
arah Shuri untuk minta tolong, tapi ia hanya mendengus tertawa. Sialan, aku
janji bakal mengingatnya suatu saat nanti.
Tapi kan aku nggak nulis
diari dan nggak main medsos juga... kegiatanku hari itu... apa aku kerja
sambilan ya...? Bahkan pas kulihat kalender di ponselku, aku cuma tahu kalau
hari itu adalah hari kerja biasa. Aku nggak pernah mencatat jadwal kerjaku,
jadi ini beneran game over sedari awal.
Ingatanku ini memang
benar-benar ampas.
“...Nggak ingat.”
“Oh.”
“Kalau aku udah lakuin
suatu kesalahan, maafin, ya.”
“Kan tadi udah kubilang,
nggak ada apa-apa.”
Reni membalas dengan ketus
tanpa sedikit pun menyembunyikan kekesalannya, lalu berjalan melenggang pergi
sendirian. Aku pun dengan panik bergegas mengejarnya. Sedih tahu ditinggalin
begini...
•••
“Ah, omong-omong Shuri,”
Sambil berjalan aku
teringat akan sesuatu, jadi aku mencoba mengajak Shuri yang berjalan sedikit di
depanku untuk ngobrol.
“Hm?”
“Setiap kali ada yang
nembak kamu, alasan penolakanmu ekstrem banget, ya.”
Hanya dengan kalimat itu
saja sepertinya Shuri sudah mengerti apa yang kumaksud. Ia menggaruk pipinya
dengan sedikit malu.
Melihat reaksinya,
sepertinya rumor bahwa dia selalu menggunakan alasan itu kepada semua orang
benar adanya.
“Ya habisnya~ Kalau
alasannya dibikin lumayan canggung begitu, pihak cowok juga bakal susah buat
mendesak lagi, kan?”
“Ya memang benar sih,
tapi...”
Ebitani memutar kepalanya
ke arah kami, lalu berbicara.
“Entah kamu percaya atau
nggak, tapi cerita itu memang benar, lho.”
“...Eh, serius?”
Tampaknya apa yang
kupikirkan telah terbaca olehnya. Shuri sedikit kaget dengan jawaban Reni,
namun ia tersenyum pahit sambil berkata, “Memang bukan kebohongan kok~.”
“...Maaf.”
“Lho kok Nogi yang minta
maaf sih, kecuali kalau kamu udah nembak terus kutolak. Eh, jangan-jangan kamu
mau nembak aku ya? Mau kita ulang lagi dari awal?”
“Jangan bercanda, dong.
...Alasan kalian nggak mau ngebahas soal keluarga, salah satunya karena itu
juga?”
“Hng~?”
Merasa bimbang sejenak,
bukannya menjawab, Shuri melompat mundur selangkah lalu merangkul lenganku.
Ia memeluk lenganku
erat-erat, kemudian menyandarkan sedikit tubuhnya. —Aaah, aku bisa menangkap
maksudnya, ia pasti mau mengalihkan pembicaraan, pikirku hanya dengan melihat
gerakan tubuhnya itu.
“...Maaf ya, aku belum
bisa cerita apa-apa.”
“Nggak usah minta maaf.
Setiap orang pasti punya hal yang nggak ingin diceritakan, kan.”
“Memang sih, tapi kayaknya
aku terlalu terlena dengan kenyataan bahwa kamu nggak pernah mendesak buat
bertanya~”
“Jangan dipikirkan.”
“...Reni juga tuh.”
Terdorong oleh perkataan
Shuri, aku melihat ke depan. Reni terlihat sedikit tidak puas, namun ia tidak
mengeluarkan komentar pedas maupun memalingkan wajah, melainkan menatap lurus
ke arahku.
“Biarpun begitu, kalau
kalian memang nggak mau cerita, aku juga nggak bakal maksa nanya.”
“Kamu nggak pengen tahu?
Kayak kenapa kami nggak pulang ke rumah orang tua, kenapa kami tinggal
sendirian, atau hubungan kami sama keluarga.”
“Biasa aja, sih.”
“Kenapa?”
“Itu karena...”
Ditanya seperti itu,
bagaimana ya perasaanku?
Kalau aku bilang tidak
ingin tahu, itu kebohongan. Tapi, kalaupun aku tahu, apa bedanya? Memangnya apa
lagi yang bisa kulakukan.
Aku sendiri sadar kalau
aku dibesarkan dalam lingkungan yang cukup spesial, tapi aku tidak pernah
merasa kalau diriku ini menyedihkan.
Di rumah yang hanya dihuni
oleh bibi dan Onee-chan itu, aku benar-benar diperlakukan layaknya keluarga
kandung.
Alasan utamaku ingin
pindah dari sana adalah karena aku merasa tidak enak merepotkan mereka lagi,
selain tentu saja karena aku punya impian untuk bisa hidup berdua bersama Onee-chan.
Bukan karena aku tidak
merasa nyaman tinggal di sana. Kenyataannya, aku sangat nyaman di sana.
—Namun, bagaimana jadinya
kalau suasana di rumah itu tidak nyaman?
Bagaimana jadinya diriku
jika Onee-chan tidak pernah menganggapku sebagai adik kandungnya sendiri,
melainkan murni hanya sebagai sepupu yang kebetulan numpang di rumahnya?
Sejak aku mulai hidup
sendiri, pikiran semacam itu sesekali terlintas di kepalaku.
Sayangnya, aku tidak
pernah menemukan jawabannya. Karena, aku tidak pernah berada di posisi itu.
—Tapi, di dunia ini, ada
begitu banyak orang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan seperti itu.
Himori Shuri dan Ebitani
Reni. Mereka berdua, kemungkinan besar adalah golongan orang-orang di posisi
itu.
Kalau begitu, jika
aku—seseorang yang cukup beruntung mendapatkan tempat numpang yang begitu baik
sehingga tidak jatuh ke dalam posisi itu—bersimpati pada mereka berdua, itu
sama halnya seperti mengasihani karakter fiksi yang punya latar belakang
menyedihkan di dalam sebuah cerita. Simpatiku itu tidak akan pernah bisa
diartikan sebagai empati yang nyata bagi mereka yang benar-benar menjalani
kehidupan tersebut.
—Itulah sebabnya, aku
tidak akan bertanya.
Kalau aku tidak bertanya.
Kalau aku tidak tahu. Dengan begitu, seberat apa pun latar belakang mereka, aku
tidak akan jatuh ke dalam rasa simpati sempit yang merendahkan.
“Kalian cerita tujuannya
buat dikasihani, kan? ...Bukan begitu, kan.”
Tumben-tumbenan Shuri
membalasnya dengan berdiam diri. Reaksi Reni sih, nggak dilihat juga aku sudah
tahu.
“Kalau cerita bisa bikin
beban kalian berkurang, ceritakanlah. Aku bakal dengerin. Kalau masih ada
masalah yang belum terselesaikan, aku bakal bantu sebisa mungkin.”
“.........”
Tapi, jika bukan itu
tujuannya.
“Kalau seumpama kalian cuma
bakal ingat masa-masa kelam kalian tanpa ada ujung cerahnya sama sekali—“
Aku sudah siap jika
dikatai dingin. Karena memang begitulah caraku bertindak.
“Aku nggak akan nanya, dan
aku juga nggak mau peduli dengan urusan pribadi kalian. Kalau kalian berdua mau
pergi dan hidup berdua lagi, aku nggak akan ngelarang. Tapi kalau masih mau
tinggal di rumahku, aku juga nggak punya niat buat ngusir kalian.”
Setelah merangkum semuanya
ke dalam pernyataan tegas, aku menunggu reaksi mereka berdua.
—Senyap. Eh, apa nggak
kedengaran? Padahal itu ungkapan isi hati yang butuh keberanian gede, lho...
•••
Kami berjalan dalam diam
cukup lama, lalu sampailah di depan rumah.
Shuri, yang akhirnya
melepaskan lenganku, menyandarkan punggungnya ke pintu masuk dan berdiri tepat
di hadapanku saat aku berniat membuka kunci.
“Biarpun kami bilang masih
mau lanjut numpang di rumah ini, kamu beneran nggak bakal nolak?”
“Ya, aku nggak punya
alasan buat menolak.”
“Kalaupun sisa satu orang
di antara kami doang?”
“Ya wajar dong.”
“...Kenapa?”
“Nggak ada
karena-karenaan—“
“Maaf ya, tapi aku beda
dari Nogi. Aku nggak bisa cuma milih diam atau asal nebak perasaan orang.
Makanya, tolong kasih tahu alasannya. Aku mau dengar penjelasanmu di sini,
sekarang juga.”
Wajahnya saat ini
benar-benar berbeda dengan raut ceria Shuri yang selalu ramah pada siapa pun.
“Kenapa Nogi bisa berkata
begitu padaku?”
“............”
Dia tidak mau bercerita
tentang kehidupannya sendiri. Namun dia memintaku untuk menceritakan isi
hatiku. Itulah maksud perkataan Shuri.
Mungkin ada yang akan
menganggap permintaannya itu terlalu arogan dan seenaknya sendiri. Tetapi, aku
tidak berpikir demikian.
—Aah, memang beginilah
seharusnya.
Itulah titik keseimbangan
yang paling tepat antara orang yang pernah diselamatkan dan orang yang belum
pernah merasakannya, kan.
“Karena, aku pernah
ditolong oleh orang lain.”
Bukannya aku diselamatkan
dari belenggu kesengsaraan hidup, bukan.
Berkat Onee-chan, aku
mulai bisa mempercayai bahwa latar belakang keluargaku bukanlah sebuah
kemalangan hidup.
Berkat Onee-chan, aku sama
sekali tak pernah tahu rasanya hidup menderita.
Karena itulah, setidaknya.
Jika aku punya keinginan
untuk membantu orang-orang di sekitarku, apakah pemikiran tersebut bisa
dibilang egois dan sok pahlawan?
“...Itu ulah dari orang
yang jadi cinta pertamamu itu?”
“Iya.”
“Karena itu, kamu berniat
menolong orang lain juga?”
“Benar.”
“Kalau begitu, misal yang
minta tolong bukan aku atau Reni, apa Nogi juga bakal tetep ngebantu?”
“Kira-kira begitu.”
“.........Gitu, ya.”
Ya, ini murni suara
hatiku.
Aku tidak berbohong. Jadi,
sangat wajar kalau aku dianggap tak berperasaan.
Bukan berarti, karena
mereka adalah Himori Shuri dan Ebitani Reni—bukan karena itu.
Jika dengan sisa
kemampuanku aku bisa memberikan tempat bernaung bagi seseorang, siapa pun tidak
masalah.
Kebetulan saja,
orang-orang itu adalah mereka berdua. —Tapi.
Tapi, kalau sekarang—
Entah sejak kapan, hatiku
merasa nyaman bila berada di dekat mereka.
Padahal niat awalku, siapa
pun tidak masalah.
Lewat celah hatiku yang
berlubang akibat patah hati, mereka berdua diam-diam menyelinap masuk.
Celah tersebut, sekarang
pasti sudah terbentuk menyesuaikan sosok mereka berdua.
Kalau mereka berdua
menghilang, celah itu mungkin akan menganga kembali.
Meski aku merasakan hal
itu, aku malah melontarkan kata-kata yang seakan-akan mendorong mereka menjauh.
Karena, aku tahu mereka
sama sekali tidak mengharapkan kalimat manis berbasa-basi dariku.
—Mereka pasti bakal benci
padaku.
Aku sangat menyadari
seberapa tajam makna perkataanku barusan. Sebaliknya, mungkin akan jauh lebih
mudah bagi mereka berdua kalau aku bilang kalau aku punya niat terselubung
terhadap mereka. Karena kalau ada niat seperti itu, mereka akan langsung
mengerti kenapa aku tidak mau mengusir mereka.
Tapi, kalau pakai alasan
yang membingungkan dan logikanya tidak masuk akal begini—
Shuri yang menunduk
akhirnya membuka mulutnya, dan berucap dengan lirih.
“...Hei.”
“Ada apa.”
“Bolehkah aku, tinggal di
sini sedikit lebih lama lagi?”
“Tentu.”
Mendengar jawabanku, Shuri
mendongak dan tersenyum.
Senyumannya kali ini,
sangat jauh berbeda dengan gaya senyum Himori Shuri yang biasanya selalu ramah
dan ceria—
Ada kesan pasrah di
dalamnya,
Namun, tak terlihat ada
kepalsuan di sana,
—Sebuah senyuman yang
sangat tenang.
“Untuk ke depannya juga,
mohon bantuannya, ya.”
“Ya.”
Aku mengangguk ke arah
Shuri yang sedikit menundukkan kepalanya, namun tiba-tiba lengan bajuku ditarik
pelan. Aku pun menoleh.
Reni sedang menatapku
lekat-lekat dalam diam. Oh, gantian sekarang.
“Nogi.”
“Ada apa.”
“.........Mohon bantuannya
juga.”
“Sip.”
Tak ada kata lain yang
terucap setelah itu.
Raut wajah Reni tetap
datar tanpa ekspresi seperti biasa.
Meski begitu, kata-kata
yang diucapkannya barusan entah kenapa terasa sedikit lebih hangat dari
biasanya.



Post a Comment