NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Chapter 4

Episode 4 “Karena Sudah Terbiasa”


“Boleh aku mengisi air bak mandinya? Atau kamu tipe yang mandi pakai shower?”

 

“Tergantung suasana hatiku hari ini, ya.”

 

Mendengar jawabanku, Himori pergi mengisi bak mandi dengan gembira.

 

“Selama ini, kalau mau mandi kamu bagaimana?”

 

Tanyaku pada Ebitani yang sedang membongkar barang bawaannya. Setelah terdiam sejenak, ia pun menjawab.

 

“Untuk mandi, aku lebih sering di hotel.”

 

“Kalau cuma shower, di kafe internet juga ada, kan.”

 

“Tempat yang bisa dimasuki siapa saja dari luar itu rawan kamera pengintai, pakaian dalam juga rawan dicuri. Repot kalau harus selalu waspada setiap saat.”

 

“...Benar juga, ya.”

 

Aku tidak pernah memusingkannya, tapi setelah dipikir-pikir benar juga. Kalau di lokasi kerja badanku berlumuran pasir, kadang aku mandi di kafe internet sebelum pulang, tapi bagi perempuan tentu tidak akan semudah itu.

 

“Kalau begitu, sepertinya menghabiskan banyak uang setiap hari, ya...”

 

“...Begitulah.”

 

“Bisa bertahan sampai sebulan padahal uang perpanjangan sewa saja tidak bisa bayar?”

 

Saat aku bertanya begitu, Ebitani menggelengkan kepalanya pelan.

 

“Shuri meminta gaji kerjanya dibayar di muka, kami berusaha mengakalinya lewat cara itu.”

 

“.........Begitu ya, pasti sangat berat.”

 

“Iya,” Ebitani mengangguk pelan. Ia pasti sudah mengalami banyak tekanan batin. Sejak tadi, ia terlihat sangat bersantai. Rasanya seperti ketegangan yang mengikatnya telah putus dan beban di pundaknya telah terangkat. Yah, lagipula kalau di sini tidak perlu khawatir soal kamera pengintai, dan yang terpenting tidak memakan biaya.

 

“Reni~, sepertinya shower dan air bak di kamar mandi ini bisa dinyalakan bersamaan lho, ayo mandi bareng~”

 

“...Ayo deh.”

 

“Eh, kalian mandi bareng?”

 

“.........Memangnya aneh?”

“Tidak, itu hal yang wajar... kan...?”

 

Kupikir mandi bersama anggota keluarga sekalipun maksimal hanya sampai anak-anak berusia SD, tapi saat aku mengingat masa laluku sendiri, aku jadi malu sehingga aku memutuskan untuk tidak mengusutnya lebih jauh.

 

 

•••

 

 

Karena anak perempuan kalau mandi biasanya butuh waktu lama, aku menyebarkan buku cetak di atas meja rendah untuk melanjutkan sesi belajar yang sempat terpotong sebelum mereka datang. Sekitar satu jam telah berlalu.

 

Pintu ruang tamu tiba-tiba terbuka, jadi aku mengangkat wajahku.

 

—Ebitani rupanya.

 

Dia masuk ke ruangan dengan gaya yang sangat santai, tubuhnya dililit handuk mandi dan kepalanya pun dibalut handuk. Tiba-tiba ia mematung. Setelah menyipitkan matanya dan akhirnya menyadari keberadaanku, wajahnya langsung memerah—

 

“A, aaaaaaaapaan kamu!? Nya—“

 

“Maaf!”

 

Pertama-tama aku langsung menundukkan kepala dengan kencang seolah mau membenturkan kepalaku ke lantai. Meskipun aku tidak paham situasinya, jika lawannya perempuan, langkah pertama adalah meminta maaf. Ini adalah aturan mutlak. Terlebih lagi, aku baru saja berjanji untuk meminta maaf kalau tidak sengaja melihat.

 

Kalian pasti berpikir hal seperti ini akan terjadi nanti-nanti, kan? Padahal baru dua jam berlalu sejak pembicaraan itu. Tinggal satu atap di rumah yang sama ya begini inilah maksudnya.

 

“Lagi pula kamu itu perempuan, jangan terlalu lengah di rumah anak laki-laki, dong...”

 

“Eh?”

 

Menyusul kemudian, Himori melompat masuk ke dalam ruangan. Entah karena terlalu panik, ia bahkan tidak melilitkan handuk mandi, melainkan hanya menutupi tubuh basahnya dengan selembar handuk kecil.

 

“Re, Reni!? Kenapa kamu keluar!? Sudah jelas kan ada Nogi di luar!”

 

“Eh, ah, eeto... baju...”

 

Dengan panik dan kebingungan, Ebitani mencoba bersembunyi di balik punggung Himori, namun ia berhenti setelah menyadari bahwa penampilan Himori justru jauh lebih terbuka.

 

Eeto, kalau yang ini aku tidak perlu minta maaf kan, ya.

 

“Apa kalian berdua tidak membawa pakaian ganti?”

Saat aku bertanya begitu, gerakan Himori langsung terhenti. Ia perlahan menundukkan pandangannya melihat dirinya sendiri, lalu menatapku dengan wajah heran sejenak—kemudian barulah ia membuka mulutnya.

 

“Hmm... ada sih, tapi semuanya belum dicuci, jadi mumpung di sini aku mau meminjam mesin cucimu... Boleh aku pinjam bajumu? Yang mana saja tidak apa-apa kok~”

 

“Ah, benar juga. Boleh tidak mencucinya besok pagi saja? Mesin cuciku tidak punya pengering yang bagus, jadi mau diputar sekarang atau besok pagi pun hasilnya akan sama saja, kan.”

 

“O, okeey?”

 

“Tunggu sebentar,” ujarku sambil bangkit dan menuju kamar tidur.

 

Apa aku punya baju yang cocok dipakai oleh mereka berdua... Ebitani badannya kecil jadi pasti muat pakai apa saja, tapi Himori lumayan tinggi.

 

Jelas aku tidak punya pakaian dalam perempuan, kalau untuk urusan itu biarkan mereka menahan diri dan memakai milik mereka sendiri saja.

 

“Nih, ini sudah dicuci sih, tapi karena lama disimpan di lemari maaf ya kalau agak bau.”

 

Saat aku memberikan baju itu pada mereka berdua yang entah sejak kapan sudah bersembunyi di ruang ganti, lengan Himori terulur sambil berkata, “Maaf merepotkan, ya~.” Meski begitu, pergi mandi tanpa membawa pakaian ganti, seberapa besarnya sih niat kalian ingin mandi.

 

Apalagi dua-duanya begitu. Setidaknya salah satu dari kalian sadar kek sebelum buka baju.

 

Saat aku menunggu sebentar di ruang tamu, Himori kembali lebih dulu.

 

“Lihat, lihat, ini namanya gaya boyfriend shirt lho~?”

 

“Tidak, bukan begitu kan konsepnya...”

 

Dari ujung bawah kaus yang dikenakan Himori, pusarnya yang sehat terlihat jelas.

 

Oh begitu, meskipun ukuran tubuhku lebih tinggi, Himori memiliki dada yang tidak dimiliki laki-laki. Dada yang ukurannya terbilang sangat besar di angkatan kami (berdasarkan obrolan anak laki-laki di kelas) itu membuat bajunya terangkat sehingga pusarnya menjadi terekspos.

 

“Tuh Reni juga, jangan malu-malu, masuk saja.”

 

Dipanggil begitu, Ebitani melangkah masuk ke ruang tamu dengan malu-malu.

 

Seharusnya aku meminjamkan kaus dan celana pendek padanya, tapi karena ujung kaus yang ia kenakan sepenuhnya menutupi celana pendek itu, ia jadi terlihat seperti hanya memakai satu lembar kaus saja. ...Eh, dia pakainya sih. Terlihat sedikit tembus pandang.

 

...Tembus pandang? Hng?

 

“Hei, kalian berdua.”

 

Namun, aku tidak bisa mengabaikan hal yang telah kusadari ini.

 

“...Setidaknya, pakailah bra kalian.”

 

Sekali lihat saja aku bisa langsung tahu.

 

—Mereka tidak pakai bra.

 

Hal itu terlihat sangat jelas dan tembus pandang, sampai-sampai bisa langsung ketahuan hanya dengan satu kedipan mata.

 

Apa aku salah karena meminjamkan kaus putih berbahan tipis? Tidak, bukan itu. Dalam situasi ini, yang salah bukan aku. Tapi mereka yang memakainya.

 

Pada kaus Himori yang terangkat ke atas,

 

Pada kaus Ebitani yang jatuh menjuntai ke bawah,

 

Sama sekali tidak terlihat tonjolan khas penyangga dada, dan sebagai gantinya, ada sesuatu yang dengan sangat berani menegaskan eksistensinya lewat warna serta bentuknya.

 

“Nih, payudara asli.”

Setelah berkata begitu, tiba-tiba Himori menyingkap ujung kausnya ke atas.

 

Sesuatu berukuran raksasa yang tidak bisa hanya dideskripsikan dengan ‘tumbuh dengan sehat’ itu tiba-tiba melompat ke pandanganku—

 

Dan dengan cepat, tangan Ebitani yang wajahnya sudah merah padam langsung menarik kaus itu ke bawah.

 

Selamat tinggal, pemandangan bawah dada. Mustahil kan bagi seorang anak SMA laki-laki untuk mengalihkan pandangan dari pemandangan barusan.

 

“Shu, Shuri!? Apa yang kamu lakukan!?”

 

“Dengan begini kamu sudah melupakannya, kan~? Tentang pu-ting Reni.”

 

“Jangan ucapkan kata putinggg!”

 

“Mumpung masih sempat, cepat pakai bramu sana.”

 

“Aku tidak suka memakainya kalau sedang tidur! Kamu tahu sendiri, kan!?”

 

“Kalau begitu, jangan komplain kalau dilihat lho ya~”

 

“Itu juga aku tidak mau! Nogi, kamu jalani hidup pakai penutup mata sana!! Atau kalau tidak, keluar dari rumah ini!!”

 

“Jangan minta yang mustahil, dong...”

 

Keluar apanya, ini kan rumahku.

 

“...Himori, kamu kenapa tidak pakai, nanti kendur lho.”

 

“Eh, tahu banyak, ya.”

 

“Maksudmu punyaku tidak akan kendur begitu!? Mati saja sana!!”

 

“Satu kalimatmu itu berlebihan banget tahu!!”

 

Aku cuma hafal gara-gara Onee-chan sering mengatakannya kok! Tapi aku benar-benar minta maaf karena tidak mengkhawatirkan pihak Ebitani. Tadi aku sama sekali tidak mempertimbangkannya jadi wajar saja aku menerima makian itu.

 

“Padahal ini maksudnya sebagai servis karena sudah mengizinkan kami menginap lho~...”

 

“...Begitu, ya. Aku tidak butuh, jadi cepat pakai.”

 

“Eh, benarkah? Sungguh? Kalau kamu tidak menyentuhnya, aku tidak akan marah lho kalau kamu mau menatapnya terus-terusan. Kalau difoto sih agak merepotkan, ya...”

 

“Cepat pakai sana.”

 

“Iyaaa~”

 

Dengan wajah yang sedikit tidak puas, Himori dengan patuh kembali ke ruang ganti.

 

Mengesampingkan Ebitani (kalau aku mengesampingkannya pasti aku bakal diamuk lagi), pada kasus Himori, mau aku memalingkan pandangan atau tidak, hal itu tidak akan banyak berpengaruh.

 

Masalahnya ukurannya menonjol. Dan karena bajunya menempel dengan ketat, warna dan bentuknya pun jadi terlihat jelas. Kalau masuk jarak pandang, aku pasti akan tanpa sadar melihatnya, kan. Lagipula aku ini anak laki-laki SMA yang sehat.

 

“...Ebitani.”

 

“Apa.”

 

“Kamu mau bagaimana?”

 

“Kan sudah kubilang aku tidak mau. Jangan melihatku, dasar mesum.”

 

“Iya, iya. ...Ini untuk memastikan saja, kamu pakai celana dalam kan?”

 

“Mati saja sana!!”

 

Sepertinya aku salah bicara ya. Padahal aku cuma khawatir. Nanti perutnya masuk angin, kan.

 

Dari arah ruang ganti, terdengar suara tawa Himori yang meledak.

•••

 

 

Saat aku berendam di dalam bak mandi sambil menatap langit-langit, terdengar bunyi plop dari tetesan air yang jatuh.

 

Padahal baru satu bulan berlalu sejak aku mulai hidup sendiri, entah kenapa masa-masa menumpang di rumah itu kini terasa bagaikan masa lalu yang sangat jauh.

 

Banyak hal telah terjadi sejak saat itu. Patah hati, kehilangan indra perasa, dan teman perempuan sekelas tiba-tiba datang berkunjung lalu kami berakhir tinggal bersama.

 

Astaga, kepadatan kejadian dalam satu bulan ini terlalu gila, kan.

 

Meskipun begitu, ini pertama kalinya aku mengisi bak mandi di rumah ini, dan rasanya berendam memang sangat menyenangkan.

 

Karena Onee-chan tipe yang sangat suka berendam, dulu aku selalu mengisi bak mandinya, tapi semenjak hidup sendiri aku merasa terlalu malas dan hanya mandi menggunakan shower saja.

 

Entah kenapa, tubuhku merasa sangat relaks. Padahal aku cuma merendam tubuh di air hangat, kenapa ya. Apa orang Jepang memiliki semacam komponen di dalam dirinya yang meleleh saat berendam di air hangat?

 

Saat aku keluar dari kamar mandi, sosok mereka berdua tidak ada di ruang tamu.

Karena mendengar suara, aku berjalan menuju kamar tidur dan mendapati Himori sedang memasukkan kepalanya ke kolong tempat tidur, sementara Ebitani duduk di atas kasur sambil memainkan ponsel.

 

Ebitani mengangkat wajahnya menatapku, lalu bergumam mengutarakan rasa tidak puasnya.

 

“Kenapa ruangan seluas ini tidak ada sofa satu pun?”

 

“Rencananya aku baru akan pergi membelinya nanti...”

 

Yah, walau saat ini partner untuk diajak pergi membelinya bersama sudah tidak ada lagi.

 

“Selimut atau futon cadangan ada?”

 

“Tidak ada.”

 

“...Lalu kita harus bagaimana?”

 

“Entah. Justru kalian berdua maunya bagaimana, ...omong-omong Himori sejak tadi sedang apa?”

 

“Hng? Aku sedang mengecek, siapa tahu ada majalah porno~”

 

“Di sekitar situ cuma ada buku referensi pelajaran lho.”

 

“M-membosankan sekali...”

 

Kepalanya tiba-tiba menyembul keluar dari kolong. Himori rupanya sudah memakai branya, tapi Ebitani masih tetap sama seperti tadi. Yah, pakaian Ebitani juga sangat kedodoran, jadi kalau aku tidak menyadarinya hal itu tidak akan masuk ke pandanganku.

 

“Tempat tidurnya cuma satu, kan?”

 

“Seperti yang kamu lihat.”

 

“Mau suit batu-gunting-kertas?” tanyaku seraya mengangkat kepalan tangan, tapi Himori menggelengkan kepalanya. Sepertinya bukan itu maksudnya.

 

“...Kalau begitu, aku tidur di lantai saja. Aku akan pakai kamar yang kosong itu, bangunkan aku kalau ada perlu.”

 

“Ah~, mana mungkin kami setega itu mengusir tuan rumahnya dong~”

 

“.........Lalu harus bagaimana?”

 

“Kita tidur bareng saja, kan?”

 

“Hah?” “Eh?”

 

Suaraku dan Ebitani bertumpang tindih. Aku tidak kepikiran ide itu. Kami ini kan remaja laki-laki dan perempuan lho.

 

“Eh, lagian tidak ada pilihan lain kan?”

 

“Tidak, aku rasa... ada pilihan lain lho...?”

 

Di lemari ada selimut tipis untuk musim panas, jadi kalau aku membungkus diriku dengan selimut itu, rasanya tidur di lantai bukan tidak mungkin—pikirku sambil melirik ke lantai, tapi Himori menyangkalnya sepenuhnya dengan ucapan, “Tidak, tidak.”

 

“Terus soal posisinya... pertama-tama, aku ini gampang jatuh kalau tidak ada pembatas ranjang. Boleh aku di pinggir?”

 

“Kamu ini anak kecil, ya?”

 

“Berisik. Kalau Reni bagaimana~?”

 

“Aku sungguh tidak mau di sebelah Shuri.”

 

“Lho, kenapa dong~, padahal kita kan sudah sering tidur bareng~”

 

“Gaya tidurmu itu berantakan banget tahu...”

 

“Tidak separah itu, kan!?”

 

“Kamu pikir sudah berapa kali aku nyaris mati dicekik olehmu pas tidur?”

 

“Ah~... hahaha...”

 

Gaya tidurnya parah sekali, kan.

 

“Hmm, kalau gitu posisinya cuma bisa begini, kan?”

 

Himori menunjuk ke tempat tidur secara berurutan. Dinding, dirinya, diriku, lalu Ebitani.

 

Tapi kasur yang ada di sini cuma kasur berukuran semi-double. Kalau untuk dua orang masih masuk akal, tapi ini bukan ukuran yang muat untuk ditiduri tiga anak SMA berjajar ke samping.

 

“Yang sudah siap kumpul ke kasuur~”

 

Setelah berkata begitu, Himori melompat ke atas tempat tidur.

 

“Geser,” ujar Ebitani yang mendorong Himori merapat ke arah dinding, lalu ia juga berbaring dan kembali memainkan ponselnya.

 

Mereka menyisakan celah di tengah-tengah untuk satu orang, tapi—ini sempit sekali.

 

“Kenapa? Kamu tidak puas?”

 

“...Bukannya tidak puas, tapi kalau dipikir pakai akal sehat ini kan aneh.”

 

“Oh ya?”

 

“Aneh... kan?”

 

“Ternyata Nogi memedulikan hal-hal semacam itu, ya~?”

 

“.........”

 

Himori tersenyum menyeringai ke arahku.

Dilihat dari reaksi santai mereka, sepertinya mereka berdua sudah terbiasa ya.

 

Yah, namanya juga gyaru. Tidur seranjang dengan laki-laki yang bukan pacar atau keluarga pastilah merupakan pengalaman yang sudah biasa bagi mereka.

 

Kalau begitu, akan jadi aneh rasanya kalau aku yang terlalu sungkan dan memikirkannya. Meskipun tadinya aku menolak karena menurut pandangan umum hal ini tidak masuk akal, tapi kalau mereka memang sudah terbiasa, ya sudah.

 

Onee-chan, yang menyukai film horor tapi takut pada hantu, selalu menyusup ke kasurku sebelum tidur jika film yang ia tonton terlalu menakutkan.

 

Kalau aku mengingat pengalamanku tidur bersama orang yang kusukai, tidur seranjang dengan sekadar teman sekelas bukanlah hal yang besar.

 

Saat aku kembali ke kamar tidur setelah selesai bersiap-siap, bantalku sudah diambil oleh Ebitani. Aku berniat memakai handuk mandi sebagai gantinya, tapi karena mereka berdua sudah memakainya sampai ke cadangannya, tidak ada lagi handuk tebal yang tersisa.




Yah, kutahan saja deh untuk sehari ini, pikirku saat menyelusup ke celah sempit di atas kasur.

 

Aku mengucapkan “Selamat tidur”, mematikan lampu, dan memejamkan mata.

 

—Waktu yang kubutuhkan sampai terlelap, kira-kira 1 menit. Kemampuanku untuk cepat tertidur sangat luar biasa melebihi orang biasa.

 

 

•••

 

 

(Kalau kamu sudah lupa, sudahlah...)

 

Pasti, dia sudah melupakannya.

 

Bagi Nogi, hal itu pasti hanyalah peristiwa kecil yang tidak membekas dalam ingatannya.

 

—Tetapi, bagiku itu berbeda.

 

Nogi yang memejamkan matanya di sebelahku, tertidur lelap dengan embusan napas yang tenang.

 

Sahabatku Shuri yang ada di seberangnya, entah wajah seperti apa yang sedang ia tunjukkan saat ini.

 

Saat kelas 1, aku tergabung dalam grup perempuan yang agak mencolok.

Membicarakan anak laki-laki lah, guru lah, pacar lah—semua orang selalu saja membicarakan hal-hal itu.

 

Semuanya adalah topik yang sama sekali tidak ku minati, tapi karena aku merasa harus menyesuaikan diri dengan mereka meski tak tertarik, aku hanya menanggapinya dengan senyum basa-basi.

 

Tanpa kusadari, mereka telah membuat grup pesan rahasia tanpa memasukkan diriku.

 

Aku menyadarinya saat seorang anak yang sering bicara denganku menyebutkan rencana yang tidak kuketahui. Saat aku bertanya “Membicarakan apa?”, anak itu terkejut dan memekik “Ah”, lalu aku langsung mengerti semuanya.

 

Yah, karena aku memang sudah mengira suatu saat hal itu akan terjadi, aku sama sekali tidak terkejut. Sejak itu, orang yang bicara denganku berkurang perlahan-lahan, dan hari di mana aku menghabiskan waktu tanpa bicara dengan siapa pun semakin bertambah.

 

Meski begitu, aku tidak merasa kesepian. Aku sama sekali tidak berniat memaksa kembali masuk ke grup itu.

 

—Lagipula, masa SMP-ku juga seperti itu.

 

Suatu hari, saat menghabiskan waktu sendirian sudah menjadi rutinitasku.

 

Aku, bertemu dengan Nogi.

 

Dia ada sedekat ini sekarang, tapi kata-kata yang seharusnya kuucapkan tidak bisa keluar dari mulutku.

 

Bahwa meskipun kau telah melupakan kejadian di hari itu, aku tidak melupakannya.

 

Aku hanya ingin menyampaikan hal itu saja, tapi...

 

Perlahan-lahan, aku mengangkat tubuhku.

 

Dengan mata yang mulai terbiasa pada kegelapan malam, aku menatap dari atas wajah damai Nogi yang sedang tertidur lelap.

 

Diam-diam, aku menempelkan tanganku menyusuri lengannya. Entah karena merasa geli, lengannya sedikit terbuka, menciptakan celah yang sangat pas, namun—

 

(...Tidak mungkin.)

 

Pemandangan yang terlintas sejenak di benakku itu langsung kuhapus dengan menggelengkan kepalaku.

 

—Lalu aku sadar, Shuri sedang menatapku lekat-lekat dari dalam kegelapan melihat tingkah anehku itu.

 

(.......Hk.)

 

Dilanda rasa malu yang luar biasa, aku langsung menenggelamkan wajahku ke bantal. Aku menarik selimut dengan paksa dan menyembunyikan wajahku sampai tak terlihat.

 

(Tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin.........!!)

 

Saat aku terus merapalkan kata-kata itu di kepalaku layaknya sebuah kutukan, pikiranku menjadi buntu dan kesadaranku akhirnya tenggelam dalam lelapnya malam.

 

 

•••

 

 

(Seriusan nih...)

 

Karena penglihatanku yang cukup tajam di malam hari, aku menyadari sahabatku Reni yang tiba-tiba bangkit memiliki ekspresi wajah yang jelas-jelas berbeda dari biasanya, sehingga aku ragu-ragu untuk memanggilnya.

 

Aku melebarkan mataku untuk menangkap cahaya yang redup, diam-diam menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Namun setelah sadar bahwa dia sedang kuperhatikan, Reni malah langsung bersembunyi.

 

(...Apa dia mau minta lengan Nogi untuk dijadikan bantal? Ah masa sih... apa iya Reni mau melakukan hal seperti itu...?)

 

Aku pernah mendengar cerita bahwa saat kelas 1 Reni diselamatkan oleh Nogi. Meskipun dia tidak pernah menceritakan detail pastinya kepadaku, mungkin situasinya mirip dengan kejadian yang kami lihat hari ini.

 

Namun Nogi telah melupakan hal itu.

Bagi Nogi, dia pasti merasa tidak melakukan hal yang istimewa. Saking naturalnya perbuatannya, kejadian itu akhirnya terkubur dalam kesehariannya dan terlupakan begitu saja.

 

Tetapi, bagaimana kenyataannya.

 

Bisa menginterupsi perkelahian dengan sangat alami seperti itu berarti dia pasti sudah sering melakukannya di masa lalu.

 

Dia ditinju di wajah, tidak mengeluh kesakitan dan tidak merasa takut sama sekali. Fakta bahwa dia bisa tetap tenang berarti sejak dulu dia memiliki banyak pengalaman dipukuli.

 

Akan tetapi, aku tidak ingat pernah mendengar cerita semacam itu dari siapa pun.

 

(Kalau diperlakukan seperti itu, tidak ada perempuan yang tidak akan jatuh hati kan...)

 

Kalau sehari-harinya dia selalu bersikap ksatria seperti itu, dia pasti populer. Sangat tidak masuk akal jika dia tidak populer. Kalaupun perempuannya tidak langsung jatuh hati, rumor itu pasti akan langsung menyebar ke seluruh perempuan di sekolah keesokan harinya.

 

Meskipun begitu, dari awal kami masuk sekolah hingga hari ini, tidak ada tanda-tanda bahwa Nogi populer di kalangan perempuan, dan aku belum pernah mendengar cerita bahwa dia pernah adu jotos dengan siapa pun.

 

Apakah karena perempuan spesialnya sudah menghilang sehingga cintanya yang tertuju hanya pada satu orang kini menjadi cinta yang merata untuk siapa saja? Atau mungkin, sejak awal sifatnya memang selalu baik pada siapa saja, namun sikap itu tersegel selama perempuan spesialnya masih ada?

 

Kalau dipikir-pikir, tindakannya saat liburan musim semi pun itu sangat aneh. Karena adanya insiden yang terlalu tak masuk akal di hari itu, aku jadi tidak merasa terlalu heran dengan tindakannya di lorong hari ini.

 

Akan tetapi, jika dipikirkan dari karakter Nogi selama ini, dari sudut mana pun itu sungguh aneh.

 

Apakah manusia bisa berubah sejauh itu hanya karena ditolak cintanya?

 

Menolak dan ditolak, menyukai dan membenci, jadian lalu putus—aku setiap hari selalu mendengar cerita semacam itu di mana-mana.

 

Namun aku belum pernah bertemu dengan manusia yang berubah begitu drastis hanya karena sekali mengalami patah hati.

 

Meskipun hilangnya sosok spesial itu seakan mengubah kepribadian seseorang, mereka pasti akan kembali seperti semula jika menemukan pasangan baru. Pada akhirnya, perubahan yang disebabkan oleh lawan jenis hanyalah bersifat sementara.

 

Meski begitu, entah kenapa aku merasa dia berbeda dari orang-orang yang pernah kutemui selama ini—

Menutup mata, aku mengingat kembali setiap ucapan dan perbuatan Nogi selama ini.

 

Apa yang dia lakukan, apa yang dia rasakan, aku mencoba merenungkannya dengan saksama.

 

Dan karena hal itu pula, tanpa kusadari, perasaan yang mulai bersemi di dalam diriku kini perlahan-lahan ikut berkembang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close