Episode 4 “Karena
Sudah Terbiasa”
“Boleh aku mengisi air bak
mandinya? Atau kamu tipe yang mandi pakai shower?”
“Tergantung suasana hatiku
hari ini, ya.”
Mendengar jawabanku,
Himori pergi mengisi bak mandi dengan gembira.
“Selama ini, kalau mau
mandi kamu bagaimana?”
Tanyaku pada Ebitani yang
sedang membongkar barang bawaannya. Setelah terdiam sejenak, ia pun menjawab.
“Untuk mandi, aku lebih
sering di hotel.”
“Kalau cuma shower,
di kafe internet juga ada, kan.”
“Tempat yang bisa dimasuki
siapa saja dari luar itu rawan kamera pengintai, pakaian dalam juga rawan
dicuri. Repot kalau harus selalu waspada setiap saat.”
“...Benar juga, ya.”
Aku tidak pernah
memusingkannya, tapi setelah dipikir-pikir benar juga. Kalau di lokasi kerja
badanku berlumuran pasir, kadang aku mandi di kafe internet sebelum pulang,
tapi bagi perempuan tentu tidak akan semudah itu.
“Kalau begitu, sepertinya
menghabiskan banyak uang setiap hari, ya...”
“...Begitulah.”
“Bisa bertahan sampai
sebulan padahal uang perpanjangan sewa saja tidak bisa bayar?”
Saat aku bertanya begitu,
Ebitani menggelengkan kepalanya pelan.
“Shuri meminta gaji
kerjanya dibayar di muka, kami berusaha mengakalinya lewat cara itu.”
“.........Begitu ya, pasti
sangat berat.”
“Iya,” Ebitani mengangguk
pelan. Ia pasti sudah mengalami banyak tekanan batin. Sejak tadi, ia terlihat
sangat bersantai. Rasanya seperti ketegangan yang mengikatnya telah putus dan
beban di pundaknya telah terangkat. Yah, lagipula kalau di sini tidak perlu
khawatir soal kamera pengintai, dan yang terpenting tidak memakan biaya.
“Reni~, sepertinya shower
dan air bak di kamar mandi ini bisa dinyalakan bersamaan lho, ayo mandi
bareng~”
“...Ayo deh.”
“Eh, kalian mandi bareng?”
“.........Memangnya aneh?”
“Tidak, itu hal yang
wajar... kan...?”
Kupikir mandi bersama
anggota keluarga sekalipun maksimal hanya sampai anak-anak berusia SD, tapi
saat aku mengingat masa laluku sendiri, aku jadi malu sehingga aku memutuskan
untuk tidak mengusutnya lebih jauh.
•••
Karena anak perempuan
kalau mandi biasanya butuh waktu lama, aku menyebarkan buku cetak di atas meja
rendah untuk melanjutkan sesi belajar yang sempat terpotong sebelum mereka
datang. Sekitar satu jam telah berlalu.
Pintu ruang tamu tiba-tiba
terbuka, jadi aku mengangkat wajahku.
—Ebitani rupanya.
Dia masuk ke ruangan
dengan gaya yang sangat santai, tubuhnya dililit handuk mandi dan kepalanya pun
dibalut handuk. Tiba-tiba ia mematung. Setelah menyipitkan matanya dan akhirnya
menyadari keberadaanku, wajahnya langsung memerah—
“A, aaaaaaaapaan kamu!?
Nya—“
“Maaf!”
Pertama-tama aku langsung
menundukkan kepala dengan kencang seolah mau membenturkan kepalaku ke lantai.
Meskipun aku tidak paham situasinya, jika lawannya perempuan, langkah pertama
adalah meminta maaf. Ini adalah aturan mutlak. Terlebih lagi, aku baru saja
berjanji untuk meminta maaf kalau tidak sengaja melihat.
Kalian pasti berpikir hal
seperti ini akan terjadi nanti-nanti, kan? Padahal baru dua jam berlalu sejak
pembicaraan itu. Tinggal satu atap di rumah yang sama ya begini inilah
maksudnya.
“Lagi pula kamu itu
perempuan, jangan terlalu lengah di rumah anak laki-laki, dong...”
“Eh?”
Menyusul kemudian, Himori
melompat masuk ke dalam ruangan. Entah karena terlalu panik, ia bahkan tidak
melilitkan handuk mandi, melainkan hanya menutupi tubuh basahnya dengan
selembar handuk kecil.
“Re, Reni!? Kenapa kamu
keluar!? Sudah jelas kan ada Nogi di luar!”
“Eh, ah, eeto... baju...”
Dengan panik dan
kebingungan, Ebitani mencoba bersembunyi di balik punggung Himori, namun ia
berhenti setelah menyadari bahwa penampilan Himori justru jauh lebih terbuka.
Eeto, kalau yang ini aku
tidak perlu minta maaf kan, ya.
“Apa kalian berdua tidak
membawa pakaian ganti?”
Saat aku bertanya begitu,
gerakan Himori langsung terhenti. Ia perlahan menundukkan pandangannya melihat
dirinya sendiri, lalu menatapku dengan wajah heran sejenak—kemudian barulah ia
membuka mulutnya.
“Hmm... ada sih, tapi
semuanya belum dicuci, jadi mumpung di sini aku mau meminjam mesin cucimu...
Boleh aku pinjam bajumu? Yang mana saja tidak apa-apa kok~”
“Ah, benar juga. Boleh
tidak mencucinya besok pagi saja? Mesin cuciku tidak punya pengering yang
bagus, jadi mau diputar sekarang atau besok pagi pun hasilnya akan sama saja,
kan.”
“O, okeey?”
“Tunggu sebentar,” ujarku
sambil bangkit dan menuju kamar tidur.
Apa aku punya baju yang
cocok dipakai oleh mereka berdua... Ebitani badannya kecil jadi pasti muat
pakai apa saja, tapi Himori lumayan tinggi.
Jelas aku tidak punya
pakaian dalam perempuan, kalau untuk urusan itu biarkan mereka menahan diri dan
memakai milik mereka sendiri saja.
“Nih, ini sudah dicuci
sih, tapi karena lama disimpan di lemari maaf ya kalau agak bau.”
Saat aku memberikan baju
itu pada mereka berdua yang entah sejak kapan sudah bersembunyi di ruang ganti,
lengan Himori terulur sambil berkata, “Maaf merepotkan, ya~.” Meski begitu,
pergi mandi tanpa membawa pakaian ganti, seberapa besarnya sih niat kalian
ingin mandi.
Apalagi dua-duanya begitu.
Setidaknya salah satu dari kalian sadar kek sebelum buka baju.
Saat aku menunggu sebentar
di ruang tamu, Himori kembali lebih dulu.
“Lihat, lihat, ini namanya
gaya boyfriend shirt lho~?”
“Tidak, bukan begitu kan
konsepnya...”
Dari ujung bawah kaus yang
dikenakan Himori, pusarnya yang sehat terlihat jelas.
Oh begitu, meskipun ukuran
tubuhku lebih tinggi, Himori memiliki dada yang tidak dimiliki laki-laki. Dada
yang ukurannya terbilang sangat besar di angkatan kami (berdasarkan obrolan
anak laki-laki di kelas) itu membuat bajunya terangkat sehingga pusarnya
menjadi terekspos.
“Tuh Reni juga, jangan
malu-malu, masuk saja.”
Dipanggil begitu, Ebitani
melangkah masuk ke ruang tamu dengan malu-malu.
Seharusnya aku meminjamkan
kaus dan celana pendek padanya, tapi karena ujung kaus yang ia kenakan
sepenuhnya menutupi celana pendek itu, ia jadi terlihat seperti hanya memakai
satu lembar kaus saja. ...Eh, dia pakainya sih. Terlihat sedikit tembus pandang.
...Tembus pandang? Hng?
“Hei, kalian berdua.”
Namun, aku tidak bisa
mengabaikan hal yang telah kusadari ini.
“...Setidaknya, pakailah
bra kalian.”
Sekali lihat saja aku bisa
langsung tahu.
—Mereka tidak pakai bra.
Hal itu terlihat sangat
jelas dan tembus pandang, sampai-sampai bisa langsung ketahuan hanya dengan
satu kedipan mata.
Apa aku salah karena
meminjamkan kaus putih berbahan tipis? Tidak, bukan itu. Dalam situasi ini,
yang salah bukan aku. Tapi mereka yang memakainya.
Pada kaus Himori yang
terangkat ke atas,
Pada kaus Ebitani yang
jatuh menjuntai ke bawah,
Sama sekali tidak terlihat
tonjolan khas penyangga dada, dan sebagai gantinya, ada sesuatu yang dengan
sangat berani menegaskan eksistensinya lewat warna serta bentuknya.
“Nih, payudara asli.”
Setelah berkata begitu,
tiba-tiba Himori menyingkap ujung kausnya ke atas.
Sesuatu berukuran raksasa
yang tidak bisa hanya dideskripsikan dengan ‘tumbuh dengan sehat’ itu tiba-tiba
melompat ke pandanganku—
Dan dengan cepat, tangan
Ebitani yang wajahnya sudah merah padam langsung menarik kaus itu ke bawah.
Selamat tinggal,
pemandangan bawah dada. Mustahil kan bagi seorang anak SMA laki-laki untuk
mengalihkan pandangan dari pemandangan barusan.
“Shu, Shuri!? Apa yang
kamu lakukan!?”
“Dengan begini kamu sudah
melupakannya, kan~? Tentang pu-ting Reni.”
“Jangan ucapkan kata
putinggg!”
“Mumpung masih sempat,
cepat pakai bramu sana.”
“Aku tidak suka memakainya
kalau sedang tidur! Kamu tahu sendiri, kan!?”
“Kalau begitu, jangan
komplain kalau dilihat lho ya~”
“Itu juga aku tidak mau!
Nogi, kamu jalani hidup pakai penutup mata sana!! Atau kalau tidak, keluar dari
rumah ini!!”
“Jangan minta yang
mustahil, dong...”
Keluar apanya, ini kan
rumahku.
“...Himori, kamu kenapa
tidak pakai, nanti kendur lho.”
“Eh, tahu banyak, ya.”
“Maksudmu punyaku tidak
akan kendur begitu!? Mati saja sana!!”
“Satu kalimatmu itu
berlebihan banget tahu!!”
Aku cuma hafal gara-gara Onee-chan
sering mengatakannya kok! Tapi aku benar-benar minta maaf karena tidak
mengkhawatirkan pihak Ebitani. Tadi aku sama sekali tidak mempertimbangkannya
jadi wajar saja aku menerima makian itu.
“Padahal ini maksudnya
sebagai servis karena sudah mengizinkan kami menginap lho~...”
“...Begitu, ya. Aku tidak
butuh, jadi cepat pakai.”
“Eh, benarkah? Sungguh?
Kalau kamu tidak menyentuhnya, aku tidak akan marah lho kalau kamu mau
menatapnya terus-terusan. Kalau difoto sih agak merepotkan, ya...”
“Cepat pakai sana.”
“Iyaaa~”
Dengan wajah yang sedikit
tidak puas, Himori dengan patuh kembali ke ruang ganti.
Mengesampingkan Ebitani
(kalau aku mengesampingkannya pasti aku bakal diamuk lagi), pada kasus Himori,
mau aku memalingkan pandangan atau tidak, hal itu tidak akan banyak
berpengaruh.
Masalahnya ukurannya
menonjol. Dan karena bajunya menempel dengan ketat, warna dan bentuknya pun
jadi terlihat jelas. Kalau masuk jarak pandang, aku pasti akan tanpa sadar
melihatnya, kan. Lagipula aku ini anak laki-laki SMA yang sehat.
“...Ebitani.”
“Apa.”
“Kamu mau bagaimana?”
“Kan sudah kubilang aku
tidak mau. Jangan melihatku, dasar mesum.”
“Iya, iya. ...Ini untuk
memastikan saja, kamu pakai celana dalam kan?”
“Mati saja sana!!”
Sepertinya aku salah
bicara ya. Padahal aku cuma khawatir. Nanti perutnya masuk angin, kan.
Dari arah ruang ganti,
terdengar suara tawa Himori yang meledak.
•••
Saat aku berendam di dalam
bak mandi sambil menatap langit-langit, terdengar bunyi plop dari
tetesan air yang jatuh.
Padahal baru satu bulan
berlalu sejak aku mulai hidup sendiri, entah kenapa masa-masa menumpang di
rumah itu kini terasa bagaikan masa lalu yang sangat jauh.
Banyak hal telah terjadi
sejak saat itu. Patah hati, kehilangan indra perasa, dan teman perempuan
sekelas tiba-tiba datang berkunjung lalu kami berakhir tinggal bersama.
Astaga, kepadatan kejadian
dalam satu bulan ini terlalu gila, kan.
Meskipun begitu, ini
pertama kalinya aku mengisi bak mandi di rumah ini, dan rasanya berendam memang
sangat menyenangkan.
Karena Onee-chan tipe yang
sangat suka berendam, dulu aku selalu mengisi bak mandinya, tapi semenjak hidup
sendiri aku merasa terlalu malas dan hanya mandi menggunakan shower
saja.
Entah kenapa, tubuhku
merasa sangat relaks. Padahal aku cuma merendam tubuh di air hangat,
kenapa ya. Apa orang Jepang memiliki semacam komponen di dalam dirinya yang
meleleh saat berendam di air hangat?
Saat aku keluar dari kamar
mandi, sosok mereka berdua tidak ada di ruang tamu.
Karena mendengar suara,
aku berjalan menuju kamar tidur dan mendapati Himori sedang memasukkan
kepalanya ke kolong tempat tidur, sementara Ebitani duduk di atas kasur sambil
memainkan ponsel.
Ebitani mengangkat
wajahnya menatapku, lalu bergumam mengutarakan rasa tidak puasnya.
“Kenapa ruangan seluas ini
tidak ada sofa satu pun?”
“Rencananya aku baru akan
pergi membelinya nanti...”
Yah, walau saat ini
partner untuk diajak pergi membelinya bersama sudah tidak ada lagi.
“Selimut atau futon
cadangan ada?”
“Tidak ada.”
“...Lalu kita harus
bagaimana?”
“Entah. Justru kalian
berdua maunya bagaimana, ...omong-omong Himori sejak tadi sedang apa?”
“Hng? Aku sedang mengecek,
siapa tahu ada majalah porno~”
“Di sekitar situ cuma ada
buku referensi pelajaran lho.”
“M-membosankan sekali...”
Kepalanya tiba-tiba
menyembul keluar dari kolong. Himori rupanya sudah memakai branya, tapi Ebitani
masih tetap sama seperti tadi. Yah, pakaian Ebitani juga sangat kedodoran, jadi
kalau aku tidak menyadarinya hal itu tidak akan masuk ke pandanganku.
“Tempat tidurnya cuma
satu, kan?”
“Seperti yang kamu lihat.”
“Mau suit
batu-gunting-kertas?” tanyaku seraya mengangkat kepalan tangan, tapi Himori
menggelengkan kepalanya. Sepertinya bukan itu maksudnya.
“...Kalau begitu, aku
tidur di lantai saja. Aku akan pakai kamar yang kosong itu, bangunkan aku kalau
ada perlu.”
“Ah~, mana mungkin kami
setega itu mengusir tuan rumahnya dong~”
“.........Lalu harus
bagaimana?”
“Kita tidur bareng saja,
kan?”
“Hah?” “Eh?”
Suaraku dan Ebitani
bertumpang tindih. Aku tidak kepikiran ide itu. Kami ini kan remaja laki-laki
dan perempuan lho.
“Eh, lagian tidak ada
pilihan lain kan?”
“Tidak, aku rasa... ada
pilihan lain lho...?”
Di lemari ada selimut
tipis untuk musim panas, jadi kalau aku membungkus diriku dengan selimut itu,
rasanya tidur di lantai bukan tidak mungkin—pikirku sambil melirik ke lantai,
tapi Himori menyangkalnya sepenuhnya dengan ucapan, “Tidak, tidak.”
“Terus soal posisinya...
pertama-tama, aku ini gampang jatuh kalau tidak ada pembatas ranjang. Boleh aku
di pinggir?”
“Kamu ini anak kecil, ya?”
“Berisik. Kalau Reni
bagaimana~?”
“Aku sungguh tidak mau di
sebelah Shuri.”
“Lho, kenapa dong~,
padahal kita kan sudah sering tidur bareng~”
“Gaya tidurmu itu
berantakan banget tahu...”
“Tidak separah itu, kan!?”
“Kamu pikir sudah berapa
kali aku nyaris mati dicekik olehmu pas tidur?”
“Ah~... hahaha...”
Gaya tidurnya parah
sekali, kan.
“Hmm, kalau gitu posisinya
cuma bisa begini, kan?”
Himori menunjuk ke tempat
tidur secara berurutan. Dinding, dirinya, diriku, lalu Ebitani.
Tapi kasur yang ada di
sini cuma kasur berukuran semi-double. Kalau untuk dua orang masih masuk
akal, tapi ini bukan ukuran yang muat untuk ditiduri tiga anak SMA berjajar ke
samping.
“Yang sudah siap kumpul ke
kasuur~”
Setelah berkata begitu,
Himori melompat ke atas tempat tidur.
“Geser,” ujar Ebitani yang
mendorong Himori merapat ke arah dinding, lalu ia juga berbaring dan kembali
memainkan ponselnya.
Mereka menyisakan celah di
tengah-tengah untuk satu orang, tapi—ini sempit sekali.
“Kenapa? Kamu tidak puas?”
“...Bukannya tidak puas,
tapi kalau dipikir pakai akal sehat ini kan aneh.”
“Oh ya?”
“Aneh... kan?”
“Ternyata Nogi memedulikan
hal-hal semacam itu, ya~?”
“.........”
Himori tersenyum
menyeringai ke arahku.
Dilihat dari reaksi santai
mereka, sepertinya mereka berdua sudah terbiasa ya.
Yah, namanya juga gyaru.
Tidur seranjang dengan laki-laki yang bukan pacar atau keluarga pastilah
merupakan pengalaman yang sudah biasa bagi mereka.
Kalau begitu, akan jadi
aneh rasanya kalau aku yang terlalu sungkan dan memikirkannya. Meskipun tadinya
aku menolak karena menurut pandangan umum hal ini tidak masuk akal, tapi kalau
mereka memang sudah terbiasa, ya sudah.
Onee-chan, yang menyukai
film horor tapi takut pada hantu, selalu menyusup ke kasurku sebelum tidur jika
film yang ia tonton terlalu menakutkan.
Kalau aku mengingat
pengalamanku tidur bersama orang yang kusukai, tidur seranjang dengan sekadar
teman sekelas bukanlah hal yang besar.
Saat aku kembali ke kamar
tidur setelah selesai bersiap-siap, bantalku sudah diambil oleh Ebitani. Aku
berniat memakai handuk mandi sebagai gantinya, tapi karena mereka berdua sudah
memakainya sampai ke cadangannya, tidak ada lagi handuk tebal yang tersisa.
Yah, kutahan saja deh
untuk sehari ini, pikirku saat menyelusup ke celah sempit di atas kasur.
Aku mengucapkan “Selamat
tidur”, mematikan lampu, dan memejamkan mata.
—Waktu yang kubutuhkan
sampai terlelap, kira-kira 1 menit. Kemampuanku untuk cepat tertidur sangat
luar biasa melebihi orang biasa.
•••
(Kalau kamu sudah
lupa, sudahlah...)
Pasti, dia sudah
melupakannya.
Bagi Nogi, hal itu pasti
hanyalah peristiwa kecil yang tidak membekas dalam ingatannya.
—Tetapi, bagiku itu
berbeda.
Nogi yang memejamkan
matanya di sebelahku, tertidur lelap dengan embusan napas yang tenang.
Sahabatku Shuri yang ada
di seberangnya, entah wajah seperti apa yang sedang ia tunjukkan saat ini.
Saat kelas 1, aku
tergabung dalam grup perempuan yang agak mencolok.
Membicarakan anak
laki-laki lah, guru lah, pacar lah—semua orang selalu saja membicarakan hal-hal
itu.
Semuanya adalah topik yang
sama sekali tidak ku minati, tapi karena aku merasa harus menyesuaikan diri
dengan mereka meski tak tertarik, aku hanya menanggapinya dengan senyum
basa-basi.
Tanpa kusadari, mereka
telah membuat grup pesan rahasia tanpa memasukkan diriku.
Aku menyadarinya saat
seorang anak yang sering bicara denganku menyebutkan rencana yang tidak
kuketahui. Saat aku bertanya “Membicarakan apa?”, anak itu terkejut dan memekik
“Ah”, lalu aku langsung mengerti semuanya.
Yah, karena aku memang
sudah mengira suatu saat hal itu akan terjadi, aku sama sekali tidak terkejut.
Sejak itu, orang yang bicara denganku berkurang perlahan-lahan, dan hari di
mana aku menghabiskan waktu tanpa bicara dengan siapa pun semakin bertambah.
Meski begitu, aku tidak
merasa kesepian. Aku sama sekali tidak berniat memaksa kembali masuk ke grup
itu.
—Lagipula, masa SMP-ku
juga seperti itu.
Suatu hari, saat
menghabiskan waktu sendirian sudah menjadi rutinitasku.
Aku, bertemu dengan Nogi.
Dia ada sedekat ini
sekarang, tapi kata-kata yang seharusnya kuucapkan tidak bisa keluar dari
mulutku.
Bahwa meskipun kau telah
melupakan kejadian di hari itu, aku tidak melupakannya.
Aku hanya ingin
menyampaikan hal itu saja, tapi...
Perlahan-lahan, aku
mengangkat tubuhku.
Dengan mata yang mulai
terbiasa pada kegelapan malam, aku menatap dari atas wajah damai Nogi yang
sedang tertidur lelap.
Diam-diam, aku menempelkan
tanganku menyusuri lengannya. Entah karena merasa geli, lengannya sedikit
terbuka, menciptakan celah yang sangat pas, namun—
(...Tidak
mungkin.)
Pemandangan yang terlintas
sejenak di benakku itu langsung kuhapus dengan menggelengkan kepalaku.
—Lalu aku sadar, Shuri
sedang menatapku lekat-lekat dari dalam kegelapan melihat tingkah anehku itu.
(.......Hk.)
Dilanda rasa malu yang
luar biasa, aku langsung menenggelamkan wajahku ke bantal. Aku menarik selimut
dengan paksa dan menyembunyikan wajahku sampai tak terlihat.
(Tidak mungkin
tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin.........!!)
Saat aku terus merapalkan
kata-kata itu di kepalaku layaknya sebuah kutukan, pikiranku menjadi buntu dan
kesadaranku akhirnya tenggelam dalam lelapnya malam.
•••
(Seriusan nih...)
Karena penglihatanku yang
cukup tajam di malam hari, aku menyadari sahabatku Reni yang tiba-tiba bangkit
memiliki ekspresi wajah yang jelas-jelas berbeda dari biasanya, sehingga aku
ragu-ragu untuk memanggilnya.
Aku melebarkan mataku
untuk menangkap cahaya yang redup, diam-diam menunggu apa yang akan dia lakukan
selanjutnya. Namun setelah sadar bahwa dia sedang kuperhatikan, Reni malah
langsung bersembunyi.
(...Apa dia mau
minta lengan Nogi untuk dijadikan bantal? Ah masa sih... apa iya Reni mau
melakukan hal seperti itu...?)
Aku pernah mendengar
cerita bahwa saat kelas 1 Reni diselamatkan oleh Nogi. Meskipun dia tidak
pernah menceritakan detail pastinya kepadaku, mungkin situasinya mirip dengan
kejadian yang kami lihat hari ini.
Namun Nogi telah melupakan
hal itu.
Bagi Nogi, dia pasti
merasa tidak melakukan hal yang istimewa. Saking naturalnya perbuatannya,
kejadian itu akhirnya terkubur dalam kesehariannya dan terlupakan begitu saja.
Tetapi, bagaimana
kenyataannya.
Bisa menginterupsi
perkelahian dengan sangat alami seperti itu berarti dia pasti sudah sering
melakukannya di masa lalu.
Dia ditinju di wajah,
tidak mengeluh kesakitan dan tidak merasa takut sama sekali. Fakta bahwa dia
bisa tetap tenang berarti sejak dulu dia memiliki banyak pengalaman dipukuli.
Akan tetapi, aku tidak
ingat pernah mendengar cerita semacam itu dari siapa pun.
(Kalau
diperlakukan seperti itu, tidak ada perempuan yang tidak akan jatuh hati
kan...)
Kalau sehari-harinya dia
selalu bersikap ksatria seperti itu, dia pasti populer. Sangat tidak masuk akal
jika dia tidak populer. Kalaupun perempuannya tidak langsung jatuh hati, rumor
itu pasti akan langsung menyebar ke seluruh perempuan di sekolah keesokan
harinya.
Meskipun begitu, dari awal
kami masuk sekolah hingga hari ini, tidak ada tanda-tanda bahwa Nogi populer di
kalangan perempuan, dan aku belum pernah mendengar cerita bahwa dia pernah adu
jotos dengan siapa pun.
Apakah karena perempuan
spesialnya sudah menghilang sehingga cintanya yang tertuju hanya pada satu
orang kini menjadi cinta yang merata untuk siapa saja? Atau mungkin, sejak awal
sifatnya memang selalu baik pada siapa saja, namun sikap itu tersegel selama
perempuan spesialnya masih ada?
Kalau dipikir-pikir,
tindakannya saat liburan musim semi pun itu sangat aneh. Karena adanya insiden
yang terlalu tak masuk akal di hari itu, aku jadi tidak merasa terlalu heran
dengan tindakannya di lorong hari ini.
Akan tetapi, jika
dipikirkan dari karakter Nogi selama ini, dari sudut mana pun itu sungguh aneh.
Apakah manusia bisa
berubah sejauh itu hanya karena ditolak cintanya?
Menolak dan ditolak,
menyukai dan membenci, jadian lalu putus—aku setiap hari selalu mendengar
cerita semacam itu di mana-mana.
Namun aku belum pernah
bertemu dengan manusia yang berubah begitu drastis hanya karena sekali
mengalami patah hati.
Meskipun hilangnya sosok
spesial itu seakan mengubah kepribadian seseorang, mereka pasti akan kembali
seperti semula jika menemukan pasangan baru. Pada akhirnya, perubahan yang
disebabkan oleh lawan jenis hanyalah bersifat sementara.
Meski begitu, entah kenapa
aku merasa dia berbeda dari orang-orang yang pernah kutemui selama ini—
Menutup mata, aku
mengingat kembali setiap ucapan dan perbuatan Nogi selama ini.
Apa yang dia lakukan, apa
yang dia rasakan, aku mencoba merenungkannya dengan saksama.
Dan karena hal itu pula,
tanpa kusadari, perasaan yang mulai bersemi di dalam diriku kini perlahan-lahan
ikut berkembang.



Post a Comment