Episode 7 “Karena
Pasti Ketahuan”
“Fuh...”
Angin malam yang
dingin—yang sama sekali tidak terasa seperti angin bulan April—mendinginkan
tubuhku yang kepanasan.
Aku duduk menghempaskan
diri di tepi trotoar, mengeluarkan roti dari kantong plastik, dan melahapnya.
Aku bekerja paruh waktu di
sebuah perusahaan konstruksi. Karena statusku sebagai anak SMA, mereka
memberiku kelonggaran dalam hal jam kerja dan jenis tugas.
Namun, begitu turun ke
lapangan, aku tetap diperlakukan sama seperti ‘pekerja laki-laki muda’ lainnya.
Aku sama sekali tidak
keberatan dengan hal itu. Malahan, kalau pekerjaanku dibatasi hanya karena aku
anak SMA, itu akan berdampak pada gajiku. Jadi, aku tidak berniat
mempermasalahkannya.
Proyek kali ini adalah
perbaikan jalan yang rencananya akan berlangsung sampai besok siang.
Meski begitu, sebagai anak
SMA, tentu aku tidak bisa ikut bekerja sampai jam segitu. Aku hanya bekerja
sampai batas waktu maksimal yang diizinkan untuk anak sekolah, yaitu pukul
22.00.
“Kerja bagus. Sudah lama
kerja sambilan di sini?”
Seorang pria bertubuh
besar yang duduk di trotoar sebelahku tiba-tiba menyapa.
Dari jarak sedekat ini,
posturnya terlihat memiliki tinggi sekitar 185 cm. Ia mengenakan pakaian kerja
yang mirip denganku, tapi desainnya sedikit berbeda. Mungkin dia pekerja harian
dari subkontraktor lain.
Karena cahaya lampu proyek
tidak mengarah ke kami, wajah pria itu hanya terlihat samar-samar.
“Kerja bagus juga. Sekitar
dua tahun, mungkin. Umurku baru 17 tahun, soalnya.”
“Eh, seriusan? Bukannya
tadi kamu bawa dua karung puing puing sekaligus?”
“Yah, iya. Sudah terbiasa,
jadi kalau segitu sih gampang.”
“...Aku juga masih SMA,
lho.”
“Eh, tumben ada ya.”
“Iya, kan. Aku bilang ke
banyak perusahaan kalau aku mau kerja buat melatih otot, tapi semuanya nolak
dan bilang anak SMA cuma boleh dikasih kerjaan ringan.”
“Ah, kalau perusahaannya
taat aturan sih memang begitu.”
“...Akhirnya dapat kenalan
senior buat kerja di sini, tapi ternyata lebih berat dari dugaanku.”
Pria itu mengatakannya
sambil menenggak minuman kola dari botol plastiknya dan menyeka keringat dengan
handuk besar. Kola botol dua liter di tangannya sudah berkurang hampir
setengahnya.
Dari situ saja sudah
kelihatan kalau dia tidak terbiasa dengan kerja sambilan seperti ini. Minum
sebanyak itu sekaligus di luar musim panas sangatlah berisiko.
Dia pasti akan jadi sering
buang air kecil, padahal belum tentu ada toilet di dekat lokasi proyek. Kalau
dia sampai meminjam toilet minimarket dengan pakaian kerja yang kotor, itu bisa
memicu komplain ke pihak kontraktor utama.
Seperti yang pria itu
bilang, jika sebuah perusahaan konstruksi benar-benar mematuhi hukum, cukup
sulit untuk mempekerjakan anak SMA.
Memang sih, kalau sudah
lewat usia 18 tahun bisa dihitung sebagai pekerja dewasa pada umumnya, tapi
anak SMA baru mencapai usia 18 tahun saat masuk kelas 3.
Perusahaan dengan
kesadaran hukum yang tinggi bahkan tidak akan membiarkan anak di bawah umur
menjadi petugas pengatur lalu lintas proyek.
“Tadi pas aku mau angkat
karung puing, ternyata berat banget nggak bisa keangkat. Padahal ada
bapak-bapak yang badannya lebih kurus dariku tapi dia bisa ngangkat dengan
santai... Kira-kira kalau aku latihan, aku bisa ngangkat juga nggak, ya?”
“Itu bukan soal otot, tapi
soal kebiasaan. Kalau kamu terus melanjutkannya, nanti juga pasti bisa angkat
kok. Tapi, kalau niatmu cuma buat melatih otot, lebih baik pergi ke tempat gym
saja daripada kerja sambilan begini.”
“Ah, bukan begitu
maksudku. Aku bukannya mau bikin otot buat dipamerin. Gimana ya bilangnya?
Kayak, kelihatan lemah padahal aslinya kuat, yang begitu lho. Belum lama ini
aku lihat yang kayak gitu soalnya.”
“Haa...”
Meskipun dia bilang
begitu, pria dengan tinggi 185 cm dan berat badan yang kelihatannya sekitar 80
sampai 90 kilogram ini sama sekali tidak terlihat lemah. Namun, aku menelan
kata-kata itu dan hanya membalas, “Begitu, ya.”
—Tepat pada saat itu.
Cahaya lampu proyek tanpa
sengaja mengarah ke kami, membuatku memalingkan wajah karena silau.
Lalu, saat wajah pria di
sebelahku akhirnya tersorot cahaya—
(...Kayaknya aku
pernah lihat orang ini.)
Aku tidak bisa
memastikannya, tapi entah kenapa wajahnya terasa tidak asing. Aku pun
memiringkan kepala.
“Ah.”
Ternyata pria itu juga
merasakan hal yang sama. Saat mata kami bertemu, mulutnya sedikit terbuka
karena kaget.
Lampu proyek segera
berputar ke arah lain, menyisakan hanya penerangan remang-remang dari lampu
jalan dan cahaya gedung di kejauhan. Meski begitu, aku bisa merasakan kepanikan
pria itu.
“No, Nogi?”
“...Iya benar, tapi kamu
siapa, ya?”
Sepertinya kami saling
kenal, tapi sayangnya aku tidak ingat siapa dia.
“Eeto... Kita satu
sekolah, aku dari kelas 3-5.”
“Kelas 5?”
Berarti kelas jurusan IPS.
Kalau tidak pernah sekelas saat kelas 1 sebelum penjurusan, aku hampir tidak
pernah berinteraksi dengan anak laki-laki dari jurusan IPS.
“Watanabe. Kamu tidak
ingat?”
“Watanabe...?”
Yah, namanya memang
terdengar familier, karena itu adalah salah satu marga paling umum di Jepang.
Setidaknya, dibandingkan
dengan margaku ‘Nogi’ yang bahkan belum pernah kutemui pada orang lain selain
kerabatku sendiri, namanya jauh lebih pasaran. Ya, karena itulah aku tidak bisa
mengenalinya hanya dari nama marganya.
“...Kamu nggak ingat, ya.”
“Maaf.”
“Beberapa waktu lalu di
sekolah... eeto, agak susah ngomongnya, sih.”
“Hng?”
“Aku nonjok wajahmu.”
“............Aaah.”
Benar juga, ada kejadian
seperti itu. Dia adalah orang berbadan paling besar dari kelompok yang menggoda
Reni waktu itu, kan.
Pantas saja wajahnya
terasa familier. Aku kan ditinju olehnya.
“Ah, kamu yang waktu itu
menggoda Himori, kan.”
“...Iya, itu.”
Hanya dari ekspresinya
yang samar-samar terlihat di bawah lampu jalan, aku tahu dia tidak sedang
memasang wajah menantang untuk berkelahi lagi. Saat itu dia pasti sedang emosi
karena usahanya digagalkan.
“Maaf.”
Dia menundukkan kepala.
Namun, karena aku tidak berniat memperpanjang masalah itu, aku jadi bingung
harus bereaksi seperti apa.
“Yah, aku juga bingung
kalau kamu tiba-tiba minta maaf sekarang.”
Mungkin karena mengerti
perasaanku, Watanabe tersenyum kecut.
“Mau nonjok balik biar
impas?”
“Nggak ah... Kalau aku
tiba-tiba nonjok pekerja sambilan dari perusahaan lain, aku bisa dipecat.”
Mendengar jawaban polosku,
dia tertawa. “Bukan sekarang juga kali.”
“Syukurlah kalau kamu
nggak terlalu mikirin. Tapi ngomong-ngomong Nogi, kamu pacaran sama Ebitani,
ya?”
“............Hah?”
Peralihan topik yang
tiba-tiba itu membuat reaksiku terlambat.
“Belum lama ini, kalian
jalan berdua di depan stasiun sambil gandengan tangan, kan.”
“...Aaah.”
Mungkin pas aku bertemu
dengan Onee-chan. Pergi berdua saja dengan Reni ke luar, itu adalah yang
pertama dan terakhir kalinya.
“Waktu itu gelap, jadi
mungkin cuma aku yang sadar... Tapi dari suasananya, tebakanku kalau itu Nogi
dan Ebitani kayaknya benar, ya.”
“...Yah, memang benar.”
“Maaf, ya.”
Dia kembali menundukkan
kepala. Namun, karena tidak paham maksud permintaan maafnya, aku memiringkan
kepala kebingungan.
“Maaf buat apa?”
“Kalau pacarnya digodain
orang, cowok manapun pasti bakal marah, kan.”
“............Bukan
begitu,”
Meskipun aku menyela
perkataannya, aku bingung harus membalas apa. Lalu, dia melanjutkan ucapannya.
“Lagipula, dari gelagat
kalian, kalian lagi pacaran diam-diam, ya? Daerah stasiun itu biarpun sudah
malam masih sering dilewati teman seangkatan kita, lho. Apalagi Ebitani itu
sangat mencolok. Kalau kalian nggak mau ketahuan, lebih baik disembunyikan dengan
benar. Kalau yang lihat waktu itu bukan aku, pasti sekarang udah jadi kehebohan
besar di sekolah.”
“...Begitu, ya. Tapi
dengar, Reni memang mencolok begitu, tapi apa selama ini pernah ada rumor kalau
dia punya pacar?”
“Nggak ada sih, setidaknya
selama di SMA aku belum pernah dengar. Aku juga nggak tahu dia lulusan SMP
mana. Kalau ngomongin masa SMP, Nogi justru jauh lebih terkenal, kan.”
“Aku juga terkenal bukan
karena kemauanku sendiri tahu...”
Saat Watanabe tertawa
mendengarnya, alarm tanda waktu istirahat telah selesai berbunyi dengan
nyaring.
“...Yah, sampai ketemu
lagi nanti.”
Setelah pamit begitu,
Watanabe membalas dengan “Yo” lalu kembali ke posisinya.
(...Hubunganku
dengan Reni, enaknya dijelasin gimana, ya.)
Kami memang jarang pergi
berdua, tapi siswa yang penampilannya mencolok seperti Reni jarang ada. Dia
punya rambut pirang dan panjangnya luar biasa. Jarang ada anak SMA yang seperti
itu.
Namun, tidak mungkin Reni
tidak sadar kalau dirinya mencolok. Dengan kesadaran seperti itu, dia tetap
nekat bertindak seperti itu.
Apa dia sudah siap dengan
risikonya? Atau mungkin dia sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang
lain? Ya, sepertinya kemungkinan kedua lebih masuk akal.
Yah, lagipula kami hampir
tidak pernah keluar berdua, jadi seharusnya rumor ini tidak akan menyebar lebih
jauh lagi.
•••
Karena kami bekerja di
perusahaan yang berbeda, pada akhirnya aku tidak bertemu lagi dengan Watanabe
sampai jam kerjaku selesai.
Aku berganti dari pakaian
kerja yang penuh pasir ke pakaian kerja yang bersih, lalu berjalan menuju
stasiun sendirian—
“Kerja baguus~”
Bruk, ada benturan di
punggungku.
“...Hah?”
Saat aku menoleh, Himori
sedang bersandar padaku.
“Eh, Himori? Kok ada di
sini?”
“Memangnya aku tidak boleh
ada di mana saja?”
“...Benar juga.”
Aku langsung dibungkam
dalam waktu 1 detik. Kalau dibilang begitu aku tidak bisa membalas.
Karena hampir semua yang
kubutuhkan bisa ditemukan di area stasiun terdekat dari sekolah, aku sangat
jarang naik kereta untuk urusan selain pekerjaan sambilan. Tapi memang benar,
di mana pun Himori berada, rasanya tidak ada yang aneh.
Namun, aku tidak ingat
pernah memberitahunya di mana lokasi proyekku hari ini. Mungkin dia hanya
kebetulan melihatku di jalan dan menyapa. Saat aku berangkat dari rumah tadi,
mereka berdua juga sudah pergi kerja, jadi dia tidak mungkin tahu tujuanku.
“Meski begitu, di jam
segini... bisa-bisa kamu ditangkap patroli jam malam, lho.”
Hari Minggu lewat pukul
22.00. Waktu yang cukup rawan bagi seorang anak SMA untuk berjalan sendirian di
kota.
“Eeh, Nogi emangnya pernah
ditangkap?”
“Nggak pernah.”
“Aku juga nggak~”
“...Begitu, ya.”
Kalau Reni sih
penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki sangat mencolok, tapi kalau
Himori mengenakan pakaian kasual, mungkin dia masih bisa lolos. Aku sendiri
sengaja berganti pakaian kerja agar terlihat seperti orang dewasa.
Kalau proyeknya jauh,
sering kali aku baru sampai rumah menjelang tengah malam, padahal aku selesai
pukul 22.00. Tapi pakaian kerja itu ajaib. Meskipun wajahku terlihat
kekanak-kanakan, orang-orang akan menganggapku sebagai pekerja kasar yang baru
pulang kerja.
“Ayo pulang bareng~”
Ia berkata begitu sambil
mencoba menggandeng lenganku. Saat aku mencoba menarik tanganku—lengan itu
tertahan kuat oleh dadanya dan tidak bisa lepas. Ini bukan soal tenaganya yang
kuat, tapi apa ya, sihir mungkin? Mustahil bagi laki-laki untuk melawan ini...
“Boleh saja sih, tapi...
Reni mana? Apa dia sembunyi di sekitar sini?”
“Nggak kok, cuma aku
sendiri. Emangnya kenapa?”
“...Kukira kalian selalu
berdua.”
“Nggak sampai segitunya
kali~”
Ia membalas dengan senyum
kecut. Begitu, ya. Rasanya mereka selalu terlihat berdua ke mana-mana.
Mandi saja selalu berdua,
belanja bareng, kerja juga bareng. Aku memang tahu mereka sangat dekat karena
mereka sempat tinggal serumah, tapi ternyata kedekatan mereka lebih dari yang
kubayangkan.
“Lagian, Reni curang sih~”
“...Curang kenapa?”
“Kamu manggil Reni pakai
nama depannya, tapi kenapa dari kemarin-kemarin panggil aku pakai nama marga
terus?”
Benar juga. Waktu itu Reni
bilang dia tidak suka dipanggil dengan nama marganya.
“Memangnya kamu jadi
‘Himori’ dari sejak kapan?”
“Sekitar 8 tahun lalu?”
“Itu sih udah hampir
separuh dari umurmu! Harusnya kamu udah nggak peduli lagi sama marga, kan!?”
“Memang bener sih, tapi
ya~...”
Umurnya sekarang 17 atau
18 tahun. Kalau dihitung dari saat dia mulai mengingat sesuatu, mungkin masa
hidupnya sebagai ‘Himori’ justru lebih panjang.
Namun, ia tampak sangat
tidak puas. Ia mengerucutkan bibirnya secara sengaja dan bergumam, “Muu~”.
“Panggilan nama depan itu
kan ibarat bukti kepercayaan, kan? Masa buat aku nggak ada, sih?”
“Eh, apa itu budaya di
kalangan gyaru?”
“Aku nggak tahu soal itu
sih, tapi yang manggil Reni pakai nama depannya kayaknya cuma aku dan Nogi
deh.”
“Ternyata memang benar,
ya...”
Sudah beberapa waktu
berlalu sejak kami naik kelas 3, dan Reni benar-benar tidak berbicara atau
bermain dengan siapa pun selain Himori.
Namun, dia juga tidak
terlihat dibenci; lebih tepatnya orang-orang menjaga jarak dengannya. Walau
terkadang aku masih melihat ada beberapa siswa laki-laki yang pantang menyerah
mencoba mendekatinya.
“Shuri.”
Yah, panggilan nama sih
terserah saja. Karena aku tidak tahu dia mempermasalahkan hal ini, aku coba
memanggilnya dengan nama depannya—
“............Eh?”
Himori—bukan,
Shuri—langsung berhenti melangkah dan menatapku.
Ekspresinya seolah
bertanya, ’Kamu ngomong apa barusan?’.
“Katanya kamu minta
dipanggil begitu.”
“Eh, ya... memang benar,
sih?”
“Kenapa nadamu jadi tanya
begitu?”
“............Sekali lagi.”
“Shuri.”
“Sekali lagi.”
“Shuri. Lagian mau sampai
berapa kali nyuruh begini. Aku panggil pakai nama marga lagi, nih.”
“Tolong jangan.”
Ia membalas dengan wajah
sangat serius. Sebenci apa sih dia dipanggil marganya? Kalau memang sebenci
itu, harusnya bilang dari dulu dong.
Shuri yang kembali
berjalan, menatap ke arah langit dengan ekspresi gembira dan membuka mulutnya.
“...Nogi juga~”
“Bukannya kamu juga
memanggilku dengan margaku... Di mana letak bukti kepercayaannya...”
Atau jangan-jangan, aku
memang tidak dapat kepercayaan itu? Bukti kepercayaan... Aku juga mau...
“...Meguru.”
“Ya.”
“Maaf, batalkan saja.”
“Yang bener yang mana,
sih.”
“Pasti kamu sering
dipanggil Shuu-kun, ya~”
Tln: [ Kanji 周 bisa dibaca Meguru (めぐる) bisa juga dibaca Shuu
(しゅう)]
“......Hk.”
—Deg, jantungku
berdegup kencang.
’Shuu-kun.’
Suara itu menggema di
dalam benakku.
’Shuu-kun, apakah
kamu punya sesuatu yang ingin kamu lakukan di masa depan?’
’Ada kok, tapi aku
nggak mau kasih tahu Onee-chan.’
’Eeeh, padahal
kamu cuma Shuu-kun tapi belagak sombong ya~’
Bagai lamunan di siang
bolong, ingatan dari masa lalu itu terputar kembali—
Tiba-tiba, aku menyadari
bahwa diriku sedang berdiri sambil terus berjalan.
Tenang, tenanglah. Shuri
tidak tahu apa-apa. Ini cuma kebetulan. —Tidak apa-apa, semuanya baik-baik
saja.
Aku menghentikan langkah
dan mengatur napasku sejenak, sementara Shuri menatapku dengan wajah penuh
penyesalan.
“Maaf, ya.”
“...Bukan, bukan apa-apa,
aku tidak apa-apa kok. ...Tapi, maaf. Tolong, jangan panggil aku pakai
panggilan itu lagi.”
“Siaap~”
Aku tidak menyangka satu
panggilan saja bisa mengacaukan perasaanku sejauh ini. Shuri juga pasti tidak
menduga aku akan bereaksi sebesar ini.
•••
Suasana menjadi sedikit
canggung, dan kami sampai di stasiun nyaris tanpa percakapan lagi.
Kami membiarkan satu
kereta yang sesak oleh penumpang berlalu, lalu naik ke kereta berikutnya.
Sedikit terlambat pulang sekarang pun tidak jadi masalah. Reni pasti juga sudah
tidur.
Kereta di pusat kota
memang sering kali sangat padat bahkan sampai larut malam sehingga jarang ada
kursi kosong, tapi secara kebetulan ada dua kursi kosong yang bersebelahan.
Kami pun duduk di sana, terombang-ambing oleh goyangan kereta.
Begitu duduk, Shuri
langsung menyandarkan kepalanya ke bahuku. Mungkin dia sangat mengantuk, karena
ia tidak bergerak sedikit pun sampai kami tiba di stasiun terdekat.
Keluar dari stasiun,
berjalan melewati orang-orang yang menuju ke arah halte bus, Shuri akhirnya
kembali angkat bicara setelah sekian lama.
“...Ngomong-ngomong,”
“Hng?”
“Reni cerita, katanya
belum lama ini kamu ketemu sama orang itu di sini.”
“Aah............”
Aku tidak terlalu ingin
mengingatnya, tapi memang ada kejadian seperti itu.
“Iya, ketemu. ...Tapi, cuma
itu saja kok.”
“Reni nggak cerita apa-apa
sih, tapi apa ada sesuatu yang terjadi?”
“...Nggak ada, kok.”
“Beneran?”
Shuri menghentikan
langkahnya, melepaskan lenganku yang sedari tadi ia gandeng, lalu berdiri di
hadapanku dan menatap lurus ke mataku.
Ah, sepertinya aku tidak
bisa mengelak lagi. Tapi Reni ternyata benar-benar tidak bicara apa pun, ya.
Padahal kalaupun diceritakan juga tidak apa-apa. Anak itu ternyata setia kawan.
“...Cinta pertamaku, sudah
berakhir.”
“Bukannya emang udah tamat
dari kemarin-kemarin?”
Jleb, kata-katanya
menusuk tajam layaknya pisau.
“............Memang sudah.
Tapi di dalam diriku, sepertinya perasaannya masih berlanjut. Tapi sekarang aku
benar-benar merasa sudah rela melepaskannya... entahlah, aku juga tidak terlalu
paham.”
“Maksudnya, kamu udah bisa
menata perasaanmu?”
“Kira-kira begitu.”
Mungkin karena puas dengan
jawabanku, ia mengangguk dan berkata, “Oh begitu~” lalu kembali menggandeng
lenganku.
“Entah kenapa aku dari
kemarin udah kepikiran sih. Nogi, kamu tuh kelihatan nggak terbiasa banget sama
perempuan, ya? Padahal belum lama ini kamu masih gagal move on dari
cinta pertama.”
“Berisik, ah.”
Aku ini sudah terbiasa
dengan jarak sedekat ini gara-gara Onee-chan. Malahan, jarak dengan Onee-chan
jauh lebih dekat lagi. Jarak personal orang itu memang benar-benar nol.
“Emangnya kamu pernah
punya pacar?”
“Kan udah kubilang itu
cinta pertamaku.”
“Itu sih beda lagi. Terus,
apa kamu bisa membayangkan dirimu pacaran sama orang lain?”
“Tentu saja aku tidak bisa
membayangkannya, kan!?”
“Eh?”
“...Eh?”
Dan di sinilah kami,
terdiam selama 10 detik penuh. Waktu untuk saling mencocokkan perbedaan
nilai-nilai kami.
Setelah beberapa saat,
Shuri perlahan membuka mulutnya.
“...Enggak, misalnya niat
aslimu tuh suka sama si A, tapi karena keadaan kamu kompromi dan pacaran sama
si B... tapi karena aslinya masih suka sama si A, kamu tetap cari
kesempatan...”
“Laki-laki brengsek yang
tidak tulus begitu kalau menurut Shuri gimana?”
“Mati aja sana.”
“Kalau tadi aku setuju
sama pendapatmu, nasibku bakal gimana!?”
“Bakal kuanggap sampah
paling rendah mungkin~”
“Jangan masang jebakan di
tengah obrolan, dong!”
Melihat kepanikanku, Shuri
tertawa terbahak-bahak. Kurang ajar, mentang-mentang aku orangnya setia, dia
seenaknya saja mempermainkanku...!
“Kalau aku kelihatannya
terbiasa banget... Oh, itu karena dia memang orang yang seperti itu.”
“Kayak nempel-nempel
begini?”
“Iya, kayak nempel-nempel
begitu.”
Shuri mengangguk-angguk
sambil menggumam, “Begitu ya, begitu ya...” lalu melanjutkan,
“Kalau ukurannya sih...
kayaknya aku nggak kalah...?” Tenang saja, milikmu itu jauh lebih besar, lho.
Makanya tolong jangan ditempel-tempelkan sembarangan. Kalau aku lengah sedikit,
fokusku bisa langsung tersedot ke arah lenganku tahu.
“Kalau Shuri sendiri,
bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Kamu gandengan lengan
sama orang yang bukan pacarmu, lho.”
“Kamu takut disangka kita
pacaran?”
“............Iya.”
Buktinya, Watanabe—yang
kebetulan kutemui di tempat kerja tadi—langsung salah paham soal hubunganku
dengan Reni.
Padahal waktu itu kami
bergandengan bukan karena mesra, melainkan karena Reni berusaha melindungiku
dari Onee-chan—tapi hal serumit itu sangat sulit untuk dijelaskan kepada orang
lain.
Kalau ada laki-laki dan
perempuan jalan berdua sambil bergandengan tangan, aku juga tahu orang-orang
pasti akan berpikiran seperti itu. Sekalipun pihak yang bersangkutan sama
sekali tidak memiliki perasaan romantis apa pun, orang lain yang melihatnya pasti
akan berpikir lain.
“Lagian nggak masalah juga
sih, lagian...”
Ia sedikit tergagap seolah
ragu mengatakannya—namun beberapa saat kemudian, ia tersenyum kecut.
“Yah, kuberi tahu juga
nggak apa-apa sih. Aku itu sama sekali nggak ada niat buat pacaran selama masih
berstatus pelajar.”
“Oh, gitu, ya.”
“Aku juga nggak
nyembunyiin prinsip ini, dan teman-teman juga pada tahu kok~ Jadi kalaupun kita
dilihat orang, ya nggak masalah, kan?”
“...Begitu, ya.”
Aku tidak terlalu
mengerti, tapi tampaknya prinsipnya lebih teguh dari yang kubayangkan. Pantas
saja selama ini tidak pernah ada rumor soal dia punya pacar.
Kalau dipikir-pikir, Onee-chan
juga sangat skeptis dengan romansa anak sekolah, dia sering bilang “Toh
ujung-ujungnya juga nggak akan sampai menikah, kan~” Mungkin perempuan yang
berpikiran seperti itu memang cukup banyak.
“...Tapi, syukurlah.”
Shuri tersenyum lembut
seolah ia mengerti sesuatu.
“Meskipun agak telat, tapi
Nogi, akhirnya kamu sekarang berdiri di garis start yang sama dengan
orang lain, kan? Ayo cari cinta baru, dan mulai nikmati hidupmu ke depannya.
Yah, masa SMA kita sisa setahun lagi sih... tapi kalau kamu lanjut kuliah,
kehidupan sebagai pelajarmu masih akan berlanjut, kan.”
“............Yah, memang
sih.”
“Memangnya sekarang ada
cewek yang lagi kamu taksir?”
“Mendadak banget! Mana
mungkin secepat itu aku bisa menemukan seseorang yang baru!?”
“Eh, gampang tahu
nyarinya.”
Ah, ekspresinya sangat
serius. Berarti aku yang aneh, ya. Aku mulai mengerti polanya nih.
“...Memangnya bisa ketemu
secepat itu? Biasanya?”
“Iya, gampang kok. Malahan
bisa jatuh cinta lima detik setelah pertemuan pertama.”
“............Begitu, ya.”
Tapi, apakah benar begitu?
Diucapkan secara mendadak
seperti itu pun, aku tetap tidak percaya pasangan yang cocok bisa bermunculan
semudah itu. Apalagi, orang yang menjadi cinta pertamaku justru orang yang
tinggal serumah denganku.
Orang normal itu,
bagaimana sih cara mereka menyukai seseorang?
“Kamu dari tadi nanya
orang terus, kalau Shuri sendiri gimana? Ada cowok yang disuka?”
“...Eh, kok tiba-tiba
nanya begitu?”
“Kenapa saat ditanya
giliranmu, kamu malah bereaksi seolah ini hal yang aneh!?”
Padahal dia membalasku
dengan ekspresi yang jelas-jelas kebingungan, lho?
“Nggak ada, kok.”
“...Nggak ada, ya~”
“Nggak ada.”
Penolakannya sangat tegas,
ya.
“Pernah ada?”
“Nggak pernah.”
“Nggak pernah, ya~...”
Lho, bukannya tadi dia
ngomong hal-hal yang seolah-olah dia sangat berpengalaman soal cinta? Ah, tapi
mungkin itu cuma teori umum yang sedang ia jelaskan padaku, bukan pengalamannya
sendiri? Kayaknya tadi dia ngomongin soal pacaran karena kompromi, kan...
“Kamu pengen aku punya?”
“...Nggak juga?”
“Terus kenapa
nanya-nanya.”
“Cuma penasaran saja,
jatuh cinta pada seseorang itu sebenarnya proses yang bagaimana, sih.”
Karena aku sadar bahwa
pengalamanku sendiri tidak bisa dijadikan standar acuan dalam hal percintaan.
“Kayaknya hal itu nggak
perlu dipikirin sampai sedalam itu, deh?”
“Tadi kamu ngomong
seolah-olah kamu pakar cinta yang tahu segalanya, padahal aslinya kamu juga
belum pernah naksir cowok, kan.”
“Memangnya kenapa kalau
belum?”
“............Berarti
omonganmu tadi itu cuma asal bunyi, ya?”
“Mungkin aja, sih~”
Ia menyeringai ke arahku.
Sialan, aku sedang dipermainkan. Jangan-jangan pengakuannya kalau dia tidak
menyukai siapa pun juga cuma kebohongan.
Omongan dan kelakuan anak
ini benar-benar tidak bisa dipercaya sama sekali lho.
“Tapi, ya.”
Shuri bersandar pada
lenganku dan berkata pelan.
“Kalau memang sudah
saatnya, cinta itu bakal datang dengan sendirinya, lho.”
“...Begitu, ya.”
“Nggak butuh alasan yang
megah, bakal ada saatnya kamu bertemu seseorang yang bisa membuatmu merasa,
‘Ah, aku menyukainya’.”
“............Kira-kira
kapan bakal munculnya, ya.”
“Pasti muncul. Pasti.”
“Begitu, ya. ...Kalau
begitu, aku akan menunggu.”
“Ya... Tunggu aku, ya.”
Karena nada suaranya
terdengar sangat berbeda dari biasanya, aku menoleh menatapnya, tapi—
Tatapan Shuri menerawang
jauh, dan aku tidak bisa menebak apa yang sedang ada di pikirannya.
Di seluruh penjuru Jepang
ini, mungkin tidak ada laki-laki yang lebih lamban dan tidak paham isi hati
perempuan selain aku.
Lalu, dengan nada yang
sedikit sendu, Shuri melanjutkan kata-katanya.
“Kalau nanti kamu punya
orang yang kamu suka, dan kamu minta kami pergi... kami akan pergi tanpa
melawan kok. Jadi, kamu nggak usah khawatir, ya?”
“Bukan, itu sama ini kan
nggak ada hubungannya.”
“...Eh?”
Tiba-tiba dia ngomong apa,
sih? Urusan asmaraku dan mengusir orang yang numpang hidup di rumahku itu sama
sekali beda topik, kan.
Kalau tindakan seenaknya
seperti itu dibiarkan, aku pasti sudah diusir dari rumah Onee-chan sejak
bertahun-tahun yang lalu.
“Lagi pula, Aku sama
sekali tidak merasa terganggu.”
“Beneran?”
“...Ah, iya, sedikit
ngerepotin sih. Ayo cepat beli kasur. Tidurnya sempit tahu...”
“Eeeh, kalau itu sih
agak...”
“Agak apanya?”
Setelah merenung sejenak,
Shuri mengacungkan jari telunjuknya.
“Nanti kalau kami harus
pindah, kasurnya kan jadi barang yang menuhin tempat, kan?”
“Bawa aja ke rumah
barumu.”
“Be, berat tahu...?”
“Biar aku yang bantu
angkut. Kasur yang sekarang aja aku sendiri yang bawa ke sini.”
Memang sih, menggotong
kasur jalan kaki melewati kompleks perumahan waktu itu rasanya agak memalukan.
Saking besarnya dan bentuknya yang tidak stabil, aku bahkan tidak bisa
menaruhnya di atas kereta dorong.
“Ah, beneran? ...Kalau
gitu alasan yang tadi batal.”
“Eh, iya.”
“Karena kami nggak punya
uang buat beli, jadi nggak usah aja.”
“Mau kubelikan?”
“Nggak kok, aku nggak ada
niat memeras sampai sejauh itu...”
“Kalian aja udah numpang
seenaknya di rumahku, masa soal beginian aja langsung sungkan!? Standar moralmu
itu gimana, sih!”
“Itu ya itu, ini ya ini,
kan?”
“Itu ya itu, kah~...?”
Gagal total, aku tidak
bisa menyelaraskan standar moral kami.
“Kalau menurut Nogi,
semisal orang yang kamu suka ternyata tinggal bareng dengan lawan jenis, kamu
bakal gimana?”
“...Orang normal sih bakal
menganggap tinggal bareng sama lawan jenis itu biasa saja.”
“Mana mungkin hal seperti
itu dianggap biasa!?”
Ia terkejut sungguhan.
“...Eh, maksudku, di rumah
kan biasanya minimal ada orang tua? Walaupun aku sendiri sih nggak ada...”
“............Lawan jenis
itu, aah, bukan, ya memang benar itu juga lawan jenis, tapi maksudku itu kalau
tinggal sama keluarga.”
“Kalau tinggal serumah,
itu namanya keluarga, kan.”
“Kalau nggak ada hubungan
darah, emangnya bisa disebut keluarga?”
“...Tentu saja,”
Aku tidak akan bisa
membenarkan pertanyaan itu.
Karena jika aku
membenarkannya, kata yang mendeskripsikan hubunganku dan Onee-chan akan
menghilang dari dunia ini.
Selama tinggal serumah,
itu berarti keluarga.
Dan justru karena itulah,
aku ditolak cintanya.
“...Yah, mungkin tiap
orang beda-beda pandangannya.”
“Apakah hal ini masuk
kategori hal yang interpretasinya bisa berbeda-beda tergantung orangnya...?”
“Walaupun tidak ada
hubungan darah, keluarga tetaplah keluarga. Setidaknya itu menurutku.”
“............Keluarga.”
Shuri menggumamkan kata
itu dengan suara kecil.
Aku sama sekali tidak tahu
latar belakang keluarga Shuri. Sama halnya dengan Reni.
Kenapa dia memutuskan
keluar rumah dan tinggal sendirian? Kenapa, saat sudah kehilangan tempat
tinggal, dia enggan kembali ke rumah orang tuanya?
Sebagai anak di bawah
umur, terlepas dari apakah ada hubungan darah atau tidak, mereka pasti memiliki
orang tua yang sah secara hukum.
Lalu kenapa mereka tidak
mencoba mengandalkan orang tuanya? Meskipun mereka kehilangan tempat tinggal,
sangat tidak wajar melihat dua anak perempuan SMA pindah dari satu warnet ke
karaoke selama sebulan penuh.
“Ngo-mong-ngo-mong. Soal
uang waktu itu lho~”
Tiba-tiba topik
pembicaraannya berganti, membuatku bertanya “Soal apa?”. Mungkin pembicaraan
tadi lebih baik tidak diteruskan. Aku harus lebih berhati-hati, atau nanti aku
dikira orang yang tidak punya kepekaan.
“Itu lho, uang yang dulu
pernah kamu pinjamkan? Karena kamu nggak pernah nagih, aku jadi terlalu santai
dan terus menunda... Eh, kenapa wajahmu begitu.”
“............Aah, uang.
Iya, uang.”
Butuh beberapa saat bagiku
untuk mengingatnya. Sejujurnya, keberadaan uang itu sudah benar-benar lenyap
dari ingatanku.
Maksudnya pasti uang yang
kuberikan secara paksa pada Shuri saat liburan musim semi waktu itu, ya. Begitu
ya, jadi itu statusnya dihitung pinjaman, toh. Aku malah sudah merasa uang itu
sudah kubuang.
“Aku udah dapat gaji kerja
sambilan sih, jadi bukannya aku nggak bisa balikin sekarang, tapi boleh nggak
kalau aku minta tambahan waktu sedikit lagi?”
“Boleh-boleh saja, aku
juga nggak lagi butuh uang kok.”
Mendengar jawabanku, ia
membalas dengan nada heran, “Kok bisa sih anak sekolahan bilang begitu...?” Ya
ada lho orang kayak begitu.
“Tapi untunglah, selama
ini kamu nggak pernah bahas masalah uang itu ke Reni.”
“...Memangnya kenapa aku
harus bahas ke Reni?”
“Eh?”
“Hng?”
Tunggu, kayaknya ada
ketidakcocokan pemahaman di antara kami, deh.
Coba kuingat kembali.
Bulan Maret. Malam setelah aku gajian. Aku melihat Shuri mencoba mencari sugar
daddy dan aku memaksa memberikan uangku padanya. Sampai titik ini
kejadiannya sudah pasti benar.
Setelah tinggal bareng,
aku baru menyadari bahwa Shuri sebenarnya tidak punya sifat boros. Dia memang
sering main dengan teman-temannya (maksudnya teman sekelas yang dekat
dengannya, tidak termasuk Reni), tapi itu cuma sekadar main ala anak SMA.
Aku beberapa kali pernah
diajak, jadi aku tahu mainnya sama sekali tidak memakan uang besar. Seharusnya
hasil kerja sambilannya di akhir pekan sudah cukup menutupi semuanya.
Eh, aneh juga, ya. Kalau
begitu, satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah karena dia punya utang
atau sejenisnya...
“...Tunggu dulu Nogi, kamu
jangan-jangan salah paham?”
“Salah paham bagaimana,
aku bahkan nggak pernah mikirin uang itu dipakai buat apa. Emangnya buat apa?”
“Buat biaya hidup lah...”
“Biaya hidup buat kalian cuma
main, nggak bakal habis sebanyak itu, kan... ...Ah.”
Shuri tersenyum pahit,
seolah senyumnya mengatakan ’Kamu baru sadar, ya.’
Benar juga. Di awal bulan
Maret, mereka berdua diusir dari rumah dan menjadi gelandangan selama sebulan
penuh.
Kudengar mereka pindah
dari satu tempat karaoke ke hotel cinta lalu ke warnet. Jelas biaya nginap
harian seperti itu tidak akan lebih murah dari harga sewa rumah bulanan. Uang
mereka pasti lenyap dengan cepat seperti air yang mengalir.
Saat itu, mereka berdua
benar-benar kekurangan uang untuk bertahan hidup. Dan kemungkinan besar—
“Maksudnya kalian
kehabisan biaya buat hidup sebelum gajian kerja sambilan kalian cair... begitu,
ya!?”
“Betuuul sekali. Aku nggak
nyangka kamu bener-bener nggak sadar.”
Kupikir uangnya habis
karena, ‘namanya juga anak perempuan, wajar butuh banyak biaya’, ya standar
seperti itulah. Aku benar-benar tidak menyangka kalau mereka benar-benar
kehabisan uang untuk makan dan bertahan hidup. Dan cara yang dia pilih untuk
mendapatkan uang cepat itu... gawat juga. Pasti ada cara lain kan, masa harus
begitu.
“...Kalau itu... aku baru
pertama kali coba.”
Sambil sedikit memalingkan
wajah, ia mengatakannya. Sangat tidak biasa bagi Shuri untuk terdengar begitu
tidak percaya diri.
“Begitu, ya.”
“Kaget? Kayaknya dari
mukaku aku kelihatan sering lakuin hal kayak gitu, ya?”
“Nggak sama sekali. Malah
sebaliknya.”
“Sebaliknya?”
“Justru aku kaget banget
waktu lihat Shuri ngelakuin hal begituan. ...Syukurlah cuma sampai percobaan
dan nggak beneran kejadian.”
“Beneran deh. Kalau waktu
itu Nogi nggak datang—“
Lengan yang merangkulku
itu tiba-tiba mengetat.
Saat aku melirik ke
arahnya, Shuri yang pandangannya tertuju pada ujung kakinya sendiri, berkata,
“Gimana kalau sebagai
ganti om-om waktu itu, aku berikan... untukmu?”
“Berikan apa.”
“Di-ri-ku.”
Ia menunjuk dirinya
sendiri dan mengatakannya dengan sedikit malu.
“...Tapi aku udah cukup
tenaga kerja, lho.”
Dugh, siku tangannya
menyodokku. Sepertinya jawabanku salah. Aku sudah menduganya, sih.
“Kalau Shuri merasa
bersalah soal itu, anggap saja uang yang kuberi sudah lunas ditukar dengan
pekerjaanmu membantuku di rumah. Lagian kan kamu juga udah bayarin biaya
makanku tiap malam.”
“Hng~, beneran cukup gitu
doang?”
“Memangnya apa lagi yang
mau kamu pakai buat bayar?”
Aku sama sekali tidak
berniat menagih biaya sewa rumah dari mereka. Entah berapa biaya makan malam
yang sudah ia keluarkan sejauh ini, tapi lambat laun utangnya pasti akan lunas
dengan sendirinya lewat hal itu.
“............Ya sudahlah,
nggak apa-apa. Kalau begitu, hitung-hitungannya aku yang bereskan sendiri ya.
Tapi jangan komplain nantinya, ya?”
“Sip.”
“Waktu itu... makasih udah
nolongin aku.”
“Sama-sama.”
Kami berdua tertawa,
menertawakan fakta bahwa baru sekarang kami mengucapkan terima kasih dan
sama-sama untuk kejadian bulan lalu.
Seseorang yang bisa
tertawa selepas ini, pernah terpojok hingga berniat menjual tubuhnya sendiri
demi bertahan hidup. Terlebih lagi, ia bahkan tidak menceritakannya pada Reni,
sahabat baiknya. Yah, mungkin justru karena terlalu dekat, ada hal-hal yang tidak
bisa diceritakan.
“Sebenarnya, kalau ngomong
begini aku pasti bakal dibilang bodoh sih, tapi waktu itu perasaanku juga lagi
super kacau karena habis ditolak.”
“Oh, jadi itu sebabnya
sikapmu waktu itu begitu?”
“Memangnya sikapku separah
itu, ya?”
“Pokoknya aku ngerasa
kalau aku nggak lakuin sesuatu, rasanya nggak bakal puas. ...Itu cuma
pelampiasan saja.”
“Baru pertama kali ini aku
lihat ada orang yang ngelampiasin kekesalan dengan cara maksa ngasih uang...
Minimal mending kamu beli sesuatu kek...”
“...Waktu itu aku juga
lagi nggak pengen beli apa-apa, soalnya.”
“Yah, karena aku jadi
pihak yang terselamatkan, aku sih nggak ada hak buat komplain. Tapi, tolong
lebih hargai dirimu sendiri, ya? Kamu itu hidup nggak cuma buat dirimu sendiri,
lho.”
“Tunggu! Kalimat itu
bukannya biasanya dipakai buat bilangin ibu hamil!?”
“Masa sih~? Padahal aku
pernah dibilangin begitu sama seseorang lho~”
“Jangan-jangan, tanpa
sadar aku sedang memikul kehidupan orang lain di pundakku...!?”
“Kan emang lagi mikul.”
“Siapa!?”
Shuri mengacungkan
telunjuknya, menunjuk dirinya sendiri.
“............Yah, padahal
walau kalian keluar dari rumahku, kalian pasti bisa bertahan hidup, kok.”
“Menurutmu begitu?”
“Menurutku sih gitu,
santai saja...”
“...Yah, mungkin juga
sih.”
Dia menyetujuinya, ya.
Kupikir dia akan menyangkalnya walaupun itu bohong.
“Lagi pula untuk sementara
waktu kamu juga nggak bakal nyuruh kami pergi, kan?”
“Nggak, sih.”
“Kalau gitu~, kami nggak
akan pergii~. Lagian, lebih nguntungin kalau kita hidup bareng, kan? Kamar juga
kebetulan kosong.”
“Oh iya, karena ruangannya
kosong, mending kalian beli kasur sendiri deh.”
“Nggak mau.”
“Kenapa soal kasur aja
kamu bersikeras banget nolaknya, sih!”
Jujur saja, akhir-akhir
ini aku memang mulai terbiasa, tapi tetap saja sempit tahu.
“Kalau kamu marah-marah
terus nanti cepat botak, lho~?”
“Kamu sadar nggak kalau
kamulah penyebab aku marah-marah?”
“Eeeh, jadi kamu mau
ngusir kami, nih~?”
“Nggak gitu juga!?”
Meskipun ini hanyalah
perdebatan tanpa arah.
Rasanya, sangat
menyenangkan.
Saat mereka berdua
tiba-tiba menghilang dari hidupku nanti, apakah aku—
“Oke aku paham kalau untuk
sementara kalian belum mau keluar. Tapi Shuri, apa kamu punya sesuatu yang
ingin kamu capai di masa depan?”
“Sesuatu yang ingin
kucapai?”
“Reni kan setelah lulus
SMA rencananya mau jadi nail artist. Kalau Shuri, mau lanjut kuliah atau
bagaimana, apa kamu sudah memikirkan tujuan masa depan seperti itu?”
“Hng~...”
Shuri tidak langsung
menjawab, melainkan menatap langit malam dengan raut wajah sedikit bimbang. Aku
ikut mendongak, tetapi langit malam di perkotaan tidak pernah memperlihatkan
satu bintang pun, bahkan saat tak ada awan yang menutupi.
Kami ini sudah kelas 3
SMA. Waktu di mana kami masih bisa berstatus anak sekolahan tinggal tersisa
kurang dari setahun.
“...Kupikir masuk
universitas bareng Nogi kelihatannya bakal seru, sih.”
“Eh, ya?”
“Tapi aku kan nggak ada
uang, nggak pinter, dan kayaknya Reni bakal marah banget.”
“...Kenapa Reni harus
marah?”
Bukannya nggak ada
hubungannya dengan Reni? Toh dia sudah punya tujuan jelas mau jadi nail
artist. Dia juga bukan tipe orang yang akan memaksa ikut masuk ke kelompok
orang yang terlihat bersenang-senang.
Rasa iri karena melihat
teman yang kuliah juga tampaknya tidak ada sedikit pun pada dirinya.
“............Masa kamu
nggak paham, sih?”
Kali ini nada suaranya
sangat jelas berbeda dari biasanya.
Bahkan kalau aku tahu
tebakanku salah, aku tetap tidak tahu jawaban yang benar. Apa tidak ada buku
referensi yang menjual jawabannya?
“Jarang banget lho Reni
bisa nempel dan terbuka sama orang lain begini~? Kamu harusnya lebih sadar soal
itu.”
“Itu, dia nempel
kepadaku!?”
Sikapnya selama ini kan
lebih ke ‘berusaha tidak terlalu membenciku’...!
“Dia nempel ke kamu,
tahu~? Kayaknya dari seluruh manusia di dunia ini, tingkat kepercayaannya ke
kamu cuma setingkat di bawahku.”
“Skala perbandingannya
gede banget...”
Lalu, jaringan hubungan
pertemanan Reni berarti super sempit...! Berarti cuma ada Shuri, aku, dan
kemudian sisa populasi manusia lainnya.
“Gimana ya bilangnya, Nogi
tuh dari kata-kata sama kelakuan kelihatan banget kalau nggak punya niat
terselubung. Mungkin karena itu kali, ya?”
“...Bisa jadi aku cuma
pandai menyembunyikannya, kan.”
“Ah, nggak mungkin.”
Dia mengatakannya dengan
wajah penuh keyakinan. Tapi ya, bukan berarti niat itu sama sekali tidak ada,
tahu? Bahkan sekarang saja, aku sangat terganggu karena dadamu menempel sedekat
ini...!
“Kamu melakukan hal
seperti ini ke semua orang, ya?”
“Hah?”
Suara sedingin es yang
hampir kukira Reni itu, baru saja keluar dari mulut Shuri.
“Datang numpang ke rumah
orang, nempel-nempel menggandeng lengan.”
Kupikir jarang ada
perempuan yang kelakuannya seperti ini. Namun, Shuri hanya membalas dengan
desahan napas panjang yang dibuat-buat, “Haa~...”
“Ya jelas enggak, kan.
Emangnya aku kelihatan kayak perempuan gampangan?”
“............”
“Harusnya di saat begini
kamu refleks bilang ‘Nggak kelihatan gitu sama sekali!’ dong~”
Dia menggosok-gosokkan
kepalanya ke pipiku. Sekarang dia menempel ke sekujur tubuhku lebih rapat dari
sebelumnya, dan... perempuan itu ternyata benar-benar empuk, ya. Apakah
bahannya sama seperti bantal sofa bean bag?
“Aku, sama sekali tidak
membenci Nogi, lho. Makanya aku berani begini, mengerti?”
“Kalau sampai ada orang
yang numpang hidup ke rumah orang yang dibencinya, itu sih kelewat nekat...”
“...Jadi menurutmu begitu
pemahamannya~”
“Memangnya ada cara lain
memahaminya?”
“Iya, iyaa~, karena aku
curiga kamu nggak peka, makanya aku sedikit ngecek, ya kan? Dan ya tebakanku
benar, kamu bener-bener nggak nyadar~”
Menyadari apa, aku memiringkan
kepalaku karena tak paham, namun tidak ada penjelasan tambahan yang diberikan.
Saat kami akhirnya tiba di
rumah, waktu hampir menunjukkan pukul tengah malam. Reni sedang tidur
sendirian.
Di atas kasur itu, ia
telah menyisakan ruang tidur yang cukup untuk dua orang.



Post a Comment