NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 6 Chapter 1

Chapter 1

Hari-Hari Seperti Biasa


Sehari setelah turnamen olahraga.

Malam sudah larut. Angin musim gugur yang dingin berhembus kencang melewati pintu keluar selatan Stasiun Maebashi.

Di sini hanya ada aku, Serika, dan satu orang lagi.

Seorang gadis berambut bob dengan ujung rambut yang sedikit melengkung.

"――Sudah lama tidak bertemu, Haibara-senpai! Aku Yamano Saya. Mohon bantuannya!"

Kandidat anggota baru band yang diperkenalkan oleh Serika ternyata adalah kenalanku.

"Eh? Karena bilang sudah lama tidak bertemu, berarti kalian saling kenal?"

Serika bergumam dengan nada terkejut. Sepertinya dia tidak tahu kalau kami saling kenal.

Aku pun sama terkejutnya. Tidak mungkin rasanya kenalan lamaku yang jumlahnya bisa dihitung jari muncul dalam situasi seperti ini! Ternyata dunia ini sempit juga. Yah, aku sendiri tidak tahu apakah kami bisa disebut teman atau bukan. Lebih tepatnya, kami memang bukan teman…… ah, entah kenapa aku jadi sedih.

"Betul sekali! Aku satu SMP dengan Haibara-senpai!"

Berbeda denganku yang diam-diam merasa sedih, Yamano menjawab dengan penuh semangat.

"Ah, begitu ya," Serika mengangguk seolah mengerti, lalu melanjutkan ucapannya.

"Itu kebetulan yang luar biasa."

"Tidak juga, dari sejak melihat konser saat festival budaya, aku sudah tahu kalau Haibara-senpai yang jadi vokalisnya, jadi ini bukan kebetulan kok. Maaf ya, aku tidak bilang sebelumnya…… Justru sepuluh persen alasan aku ingin bergabung dengan band ini adalah karena ada Haibara-senpai."

"……Hah, cuma sepuluh persen?"

Setelah pulih dari keterkejutan, aku mencoba ikut masuk dalam percakapan mereka berdua.

Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Yamano di sini.

Dalam kehidupanku yang pertama, seharusnya kami tidak pernah bertemu lagi setelah lulus SMP. Walaupun sekarang Yamano mengajakku bicara dengan santai, dia memang tipe orang yang bersikap seperti ini kepada siapa pun.

Kami tidak terlalu dekat, dan tidak ada alasan khusus bagi kami untuk bertemu.

Kurasa dia tidak melanjutkan ke SMA yang sama denganku. Atau mungkin hanya aku saja yang tidak tahu.

……Apakah karena konser festival budaya kita, jalan hidup Yamano jadi berbeda dari kehidupan pertamaku?

Masa depan pendidikan Yamano memang masih panjang, tapi kemungkinan itu ada.

Yah, memikirkannya juga tidak ada gunanya.

Karena aku melakukan time leap, wajar saja jika tindakanku mengubah sejarah yang seharusnya terjadi.

Kalau aku terus memikirkan hal itu, tidak akan ada habisnya, dan tujuan utamaku untuk mengubah warna masa mudaku pun tidak akan tercapai.

"Ahaha, sembilan puluh persen sisanya karena ada Serika-senpai! Tentu saja!"

Yamano mengakui ledekanku tadi tanpa rasa bersalah sama sekali. Dia masih sama seperti dulu.

Dia memang orang seperti itu sejak dulu. Kepada siapa pun, dalam situasi apa pun, dia tidak pernah berbohong.

"Lagipula Haibara-senpai, saat melihatmu di festival budaya, aku hampir tidak percaya mata dan telingaku sendiri. Soalnya, orang yang terlihat sama sekali bukan Haibara-senpai memperkenalkan diri sebagai vokalis bernama Haibara Natsuki. Bukankah perubahan imej-mu keterlaluan? Apalagi nyanyianmu sangat bagus. Aku benar-benar terkejut."

Yamano menepuk punggungku dengan penuh semangat. Sakit tahu.

"Apa aku benar-benar berbeda dengan yang dulu?"

Menanggapi pertanyaan Serika yang kebingungan, Yamano mengangguk.

"Dulu dia lebih ke arah, suram…… bukan, lebih tepatnya memancarkan aura kegelapan."

Hei, bukankah kau mencoba memilih kata tapi malah gagal? Apa maksudmu dengan kegelapan? Apa aku ini penderita chuunibyou?

"Aku kan melakukan debut SMA."

Aku menghela napas sambil melengkapi perkataan Yamano.

Jujur saja, aku malas harus menjelaskan hal itu sendiri, jadi tolong hentikan.

"Ngomong-ngomong, aku merasa pernah mendengar cerita itu dari Miori juga."

Serika bergumam seolah tidak peduli, lalu mengganti topik pembicaraan.

"Yah, sudahlah. Bagaimanapun, kalau kalian sudah saling kenal itu lebih bagus. Jadi aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan."

Kalau tidak tertarik, tidak perlu dijelaskan pun tidak apa-apa! Sepertinya keluh kesah dalam hatiku tidak sampai ke telinga Serika. Serika melanjutkan kalimatnya dengan tenang seperti biasa.

"Rencananya dia akan ikut latihan sebentar lagi untuk tryout. Tidak masalah, kan?"

"Ah, tentu saja," jawabku sambil mengangguk.

Meskipun sangat terkejut, aku tidak punya keberatan.

Lagipula, memiliki kenalan jauh lebih baik daripada orang asing.

Meski temanku sudah bertambah sedikit demi sedikit, sifat asliku yang canggung dalam bersosialisasi tetap tidak berubah……

"Lagipula kalau Serika sudah suka, aku tidak punya alasan untuk menolak."

Penilaian Serika jauh lebih akurat dibandingkan penilaianku atau Mei.

"Ya, setidaknya begitu. Sebaliknya, menurutku lebih baik jika Saya juga mencoba sekali sebelum memutuskan."

"Itu benar juga. Bisa saja kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan."

Sekarang dia bilang ingin bergabung, tapi bisa saja dia kecewa setelah mencoba latihan.

Terutama saat mendengar gitarku. Penampilanku di festival budaya itu hanyalah sebuah keajaiban, lho. Fufufu.

"――Ah, maaf! Aku harus mengejar kereta sekarang!"

Yamano yang baru saja melihat ponselnya berteriak panik.

Saat kulihat jam tangan, ternyata tiga menit lagi kereta yang kuincar akan datang. Yah, Yamano berasal dari SMP yang sama denganku, jadi arah pulang kami sama, dan kereta yang dinaiki pun pasti sama.

"Baiklah, cukup sampai di sini dulu untuk hari ini. Sampai jumpa, kalian berdua."

Bye-bye, Serika melambaikan tangannya.

"Ya, sampai jumpa lagi."

"Senpai, kita naik kereta yang sama, kan? Ayo pergi!"

Kami membelakangi Serika dan bergegas menuju peron stasiun.

Saat turun tangga, kereta yang kami tuju baru saja tiba. Kami masuk bersama Yamano, dan saat pintu menutup, aku menghela napas "huft" sambil menyeka keringat di dahiku.

Karena ini sudah lewat jam sibuk, kereta tidak terlalu penuh. Yah, kereta swasta yang kami naiki dari Stasiun Takasaki memang tidak terlalu padat meski di jam sibuk…… Makanya, saat kuliah nanti aku baru mengerti apa itu kepadatan yang sebenarnya saat naik kereta di Tokyo.

"Eh, umm. Jadi, kita duduk saja?"

Aku mengangguk mendengar ucapan Yamano dan kami duduk bersebelahan di kursi kereta.

……Setelah menarik napas lega, suasananya terasa agak canggung. Yah, kami memang tidak terlalu dekat.

Namun, tidak ada alasan bagiku untuk menjaga jarak saat pulang dengan kereta yang sama. Lagi pula, jika tidak ada halangan, mulai sekarang kami akan berada di band yang sama. Sepertinya kami memang perlu mengakrabkan diri.

Apakah ada topik pembicaraan? Mungkin cerita masa lalu adalah pilihan yang paling aman.

Saat aku melirik sekilas ke arah Yamano yang duduk di sebelahku, dia terlihat sedikit lebih dewasa dibandingkan saat itu.

Mungkin hanya ingatanku yang samar karena sudah lama sekali sejak terakhir kali melihatnya.

"Senpai, tadi bilang melakukan debut SMA, ya?"

Saat aku sedang mencari bahan pembicaraan, Yamano mengajakku bicara lebih dulu.

"……Ah, iya. Aku ingin menikmati kehidupan SMA yang menyenangkan, jadi aku mengubah diriku."

"Tidak terduga, ya. Senpai saat SMP tidak terlihat seperti orang yang punya pikiran seperti itu."

Saat SMP, aku memang sengaja menjaga jarak dari orang lain.

"……Saat itu aku hanya merasa iri. Sebenarnya aku iri dengan orang lain."

Aku menyembunyikan perasaan itu. Yah, menyembunyikan pun tidak ada gunanya, lagipula tidak ada orang yang bisa diajak bicara.

Singkatnya, aku menyadari diriku bukan seorang loner (penyendiri), melainkan seorang soliter.

Aku terus membohongi diriku sendiri dengan berkata: Aku tidak punya teman bukan karena tidak bisa, tapi karena aku lebih suka sendirian! Kalau mau dibuat, aku bisa saja punya teman!

Namun, pertahanan diri itu tidak bertahan lama.

"Artinya, Senpai benci masa SMP yang dihabiskan bersamaku?"

Yamano menatapku dengan wajah tidak puas.

"Lagipula, aku tidak punya banyak ingatan menghabiskan waktu bersama Yamano……"

Karena kami satu SD, aku tahu eksistensinya. Gadis kecil imut yang satu tingkat di bawahku.

Hanya itu pengenalanku akan Yamano.

Tapi, aku lulus SD tanpa pernah berinteraksi banyak dengannya.

Kami baru mulai mengobrol dengan benar saat aku kelas dua SMP.

Karena tidak punya tempat di kelas, aku biasanya makan siang di atap sekolah.

Di landing tangga menuju atap, ada banyak meja dan kursi yang tidak terpakai. Jika melewatinya, pintu atap tidak dikunci. Tapi karena merepotkan, biasanya orang tidak mendekat ke sana.

"――Eh, ternyata ada orang…… eh, Haibara-senpai?"

Satu-satunya tempat milikku itu tiba-tiba kedatangan tamu asing, yaitu Yamano.

"Aku cuma mencari tempat untuk menyendiri…… tapi, kalau dengan Senpai sih tidak masalah."

Aku masih ingat kalimat itu. Singkatnya, keberadaanku terlalu tidak terasa sampai-sampai dianggap sendirian. Benar-benar sebuah kejadian yang mempertegas kesadaranku bahwa keberadaanku ada atau tidak pun tidak akan berpengaruh (?).

"Halo, Senpai. Hari ini pun Senpai terlihat tidak bersemangat."

"……Bising sekali kau."

Apa pun itu, sejak saat itu kami terkadang makan siang bersama di atap.

……Apakah tepat menggunakan kata "bersama"? Jarak kami seperti orang asing yang hanya kebetulan makan di tempat yang sama. Jarak fisik kami bahkan cukup luas untuk menampung satu orang berbaring.

Kami hanya sesekali mengobrol, selebihnya kami makan dengan tenang.

Aku tidak tahu apakah itu bisa disebut teman. Hanya kenalan. Hubungan sebatas itu.

"……Yamano, ternyata kau main drum ya."

"Aku sudah di klub musik ringan sejak SMP, kok. Yah, meski akhirnya berhenti di tengah jalan."

Sama sekali tidak tahu.

Mungkin karena sudah lama tidak bertemu, banyak sekali informasi baru yang muncul begitu saja……

Penyebabnya adalah karena aku yang dulu tidak pernah menanyakan apa pun kepada Yamano. Yah, saat SMP aku memang menghindari interaksi dengan manusia sebisa mungkin…… Hubunganku dengan Yamano pun sangat dangkal.

Yamano tidak akan menceritakan tentang dirinya kalau tidak ditanya, dan itu juga berlaku untukku.

Sesekali kami hanya membicarakan hal-hal sepele seperti cuaca hari ini, pelajaran yang membosankan, atau guru yang menyebalkan, dan hubungan yang aneh itu terasa nyaman.

Karena itulah, kurasa hubungan kami bertahan sampai aku lulus.

"Senpai sendiri, baru mulai main gitar sejak SMA? Padahal sudah sangat mahir."

"Berhenti memujiku…… Tanpa support dari Serika, permainanku pasti tidak bisa didengar."

"Itu terlalu merendah. Itu sudah sangat mahir, jadi percayalah pada diri sendiri."

"Bagaimana bisa percaya diri kalau Serika yang memetik gitar di sebelahku……?"

Karena gitar yang dimainkan Serika membuatku ingin menganggapnya sebagai instrumen yang berbeda dari gitarku.

Sudah tidak terhitung berapa kali aku merasa putus asa.

"Ahaha! Itu memang benar juga!"

Yamano tertawa terbahak-bahak. Dibandingkan dulu, ekspresinya terlihat lebih ceria.

Siapa sangka aku bisa bertemu kembali dengan Yamano, orang yang dulu hanya kutemui di atap sekolah……

"Bagaimana kabar Miori-senpai belakangan ini? Kalian di SMA yang sama, kan?"

Aku tidak menyangka dia akan menyinggung soal Miori. Aku refleks berkedip.

"Ngomong-ngomong, bukannya kalian dekat?"

"Ya. Rumah kami berdekatan. Karena orang tua kami saling kenal, kami sudah lama berhubungan."

"Begitu ya. Tapi ditanya bagaimana kabar belakangan ini, aku juga……"

Aku merasa Miori akhir-akhir ini lebih sering memasang wajah suram.

Aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu, tapi aku tidak menanyakan detailnya. Aku khawatir, tapi aku takut ikut campur terlalu jauh karena aku bukan lagi orang yang bisa membantunya.

"……Jangan-jangan, kalian sedang bertengkar?"

Yamano menatapku dengan wajah serius lalu bertanya sekali lagi.

"Tidak, tidak juga…… lagipula, belakangan ini kami jarang bicara."

Terakhir kali kami bicara dengan benar adalah saat bermain basket di taman beberapa hari sebelum turnamen olahraga.

Aku merasa dia menghindariku.

"Padahal saat SD kalian begitu dekat. Selalu berempat."

……Berempat, ya. Dua orang sisanya pasti Takuro dan Shuto.

Saat SD, aku, Miori, Takuro, dan Shuto memang selalu bersama.

Miori adalah pemimpinnya, dan kami bertiga selalu mengejar punggungnya.

"Kau ingat dengan baik ya, hal selamam itu."

Yah, bagi Yamano mungkin itu kejadian empat atau lima tahun lalu.

Sedangkan bagiku, ingatanku sudah ditambah tujuh tahun, jadi ingatanku agak samar.

Yang kuingat dengan jelas hanyalah masa SMA di kehidupan pertamaku.

Sebelum itu, aku hanya ingat momen-momen yang berkesan.

"Tentu saja aku ingat. Kalian berempat sangat menonjol."

"Tapi bukankah kau juga tahu kalau saat SMP aku hampir tidak pernah bicara dengan Miori?"

"Miori-senpai bilang kalian sudah berbaikan saat SMA, kan?"

Yah…… begitu. Walaupun belakangan ini hubungan kami kembali menjadi canggung.

Aku pun menceritakan garis besar bagaimana aku dan Miori kembali akrab di SMA kepada Yamano.

Singkatnya, itu adalah cerita tentang bagaimana Miori membantuku melakukan debut SMA.

"――Karena itulah kerja sama kami berakhir. Kalau belakangan ini jarang bicara, ya karena itu. Kelas kami berbeda, masing-masing sudah punya pacar, dan tidak ada alasan untuk sengaja bicara."

Yamano mendengarkan ceritaku dengan wajah yang terlihat rumit.

"Begitu ya. Ternyata seperti itu. Begitu rupanya……"

Yamano bergumam seolah paham, lalu menatapku lekat-lekat.

"……Agak mengejutkan, ya."

"Apanya?"

"Aku kira Haibara-senpai menyukai Miori-senpai."

Yamano mengatakannya dengan enteng. ……Aku, menyukai Miori? Saat hendak menertawakannya, entah mengapa suaraku tidak keluar. Tiba-tiba yang terlintas di pikiranku adalah momen saat aku memeluk Miori di malam itu.

"Dilihat dari reaksimu, sepertinya tidak sepenuhnya salah ya."

"……Sebagai teman aku menyukainya, tentu saja. Tapi, aku tidak jatuh cinta."

Aku menggelengkan kepala. ……Apakah itu benar? Aku sendiri tidak yakin dengan perkataanku.

Aku merasa perasaanku sedikit berbeda dibandingkan perasaan pada teman lainnya. Tapi, itu mungkin karena dia teman masa kecilku, seseorang yang tahu sifat asliku, dan aku sangat mempercayainya. ――Pasti hanya itu.

"Tapi, setidaknya dulu kau menyukainya, kan?"

Mendengar pertanyaan Yamano, aku mencoba menggali ingatan masa lalu yang hampir hilang.

……Memang, jika dipikir sekarang, mungkin ada saatnya aku jatuh cinta pada Miori.

Coba pikirkan secara normal. Meskipun sifatnya tomboi, pada dasarnya wajahnya imut.

Wajar saja kalau gadis seperti itu ada di dekatmu, sesekali pasti akan jatuh cinta.

Mungkin itu hanya perasaan cinta yang samar, yang akan hilang dengan sendirinya.

"Itu cerita waktu kecil. Aku bahkan tidak menyadarinya."

"Ah, kau mengakuinya ya. Hehe, ternyata benar begitu, ya~"

Yamano tersenyum jahil sambil menyenggol bahuku. Wajahnya menyebalkan sekali.

"Aku kasih tahu rahasianya, cinta pertama Miori-senpai sepertinya juga Haibara-senpai, lho?"

Yamano berbisik.

Kalau aku yang dulu mendengarnya, pasti aku akan membantahnya, tapi sekarang aku bisa mempercayainya entah mengapa.

Lagi pula, itu sudah cerita masa lalu.

Mau itu benar atau bohong, itu tidak akan mempengaruhi masa kini.

"Tidak penting. Karena sekarang kami sudah berbeda."

Apa pun masa lalunya, yang kusukai sekarang adalah Hikari, dan yang disukai Miori adalah Reita.

Jadi, tidak ada alasan untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

Tidak perlu lagi mengingat hal-hal masa lalu seperti itu.

"……Yah, memang benar juga sih."

Di tengah perbincangan itu, kereta sampai di stasiun tak berpenghuni di daerah kami.

Meski kami turun bersama, ternyata arah rumah kami berbeda.

"Ya sudah, Senpai. Aku ke arah sini."

"Ah. Kalau begitu, sampai jumpa. Meski kita pasti akan segera bertemu lagi."

"Betul juga! Aku akan menunjukkan kemampuan drumku yang memukau kepada Senpai!"

Yamano tertawa kecil, lalu tiba-tiba wajahnya berubah serius.

"――Ngomong-ngomong Senpai, kau sudah berubah ya."

"Hm? Ah…… karena saat SMP aku sangat gemuk."

"Bukan penampilannya, yah, itu juga sih…… maksudku isi di dalamnya."

Yah, bagi Yamano yang tahu masa laluku, mungkin dia akan berpendapat begitu.

"Saat SMP, kau jauh lebih menutup diri dari orang lain, kan? Kau tidak tertarik pada apa pun. Dibandingkan saat itu, kau jauh lebih mudah didekati sekarang. Meski kalau mau bicara buruk, ketahanan manusiamu jadi menurun."

"Kenapa kau malah mengatakannya dengan buruk……"

Saat aku mengeluh, Yamano tertawa terbahak-bahak.

Seperti kata Yamano, aku rasa aku memang orang yang sulit didekati saat SMP.

Setelah menjadi penyendiri di SMP, aku mulai tidak percaya pada orang lain dan sengaja menutup diri.

Aku sempat percaya bahwa kalau punya hobi otaku, aku bisa hidup tanpa teman.

Tapi, itu hanya bualan. Yang sebenarnya kuinginkan adalah masa muda di mana aku bisa tertawa bersama teman.

Itulah sebabnya aku masuk ke sekolah yang jauh dari rumah dan merencanakan debut SMA.

"Yah, Senpai yang saat itu terasa nyaman bagi aku yang saat itu. Makanya aku menemanimu di atap, kan? Karena Senpai tidak tertarik padaku sama sekali."

Yamano menatap kejauhan seolah merindukan masa lalu.

……Meski aku yang sekarang, aku tahu kalau Yamano saat itu memiliki permasalahannya sendiri.

Tanpa alasan, dia tidak mungkin mau melewati tumpukan meja berdebu untuk pergi ke atap, lalu duduk di sebelah senior yang tidak terlalu dekat dengannya untuk menghabiskan waktu istirahat.

Aku sempat mendengar rumor bahwa ada siswi yang terasing di kelas satu.

Aku tidak tahu apakah itu Yamano atau bukan.

"Karena Senpai lulus tanpa bicara, aku jadi tidak sempat mengatakannya――"

Tak disangka, Yamano membungkukkan badannya dalam-dalam.

"Terima kasih untuk waktu itu. Mulai sekarang pun, mohon bantuannya."

Aku tidak melakukan apa-apa sampai dia perlu berterima kasih dengan sikap yang begitu tulus. Lebih tepatnya, aku tidak melakukan apa-apa. Meskipun bagi Yamano saat itu, hal tersebut sangat berkesan.

"……Tidak yakin juga kita akan berhubungan baik mulai sekarang, kan?"

"Ahaha! Benar juga! Pertama-tama aku harus lulus tryout-nya dulu!"

Yamano tertawa ceria seolah mencoba mencairkan suasana.

"Kalau begitu, aku benar-benar pulang sekarang! Sampai jumpa lagi!"

Aku mengangkat tangan sedikit sebagai jawaban, lalu Yamano melambai-lambaikan tangannya sebelum berbalik arah.

"……Yamano, ya. Benar-benar membuat nostalgia."

Aku bergumam sambil menatap punggungnya yang menjauh.

Di kehidupan pertama, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Yamano setelah lulus SMP.

Jika mengubah tindakan sendiri, hubungan yang tak terduga pun bisa terjalin kembali.

……Itu juga yang terjadi pada Miori.

Jika saat itu aku tidak sengaja lari pagi, mungkin kita tidak akan bertemu kembali sebelum masuk SMA, dan jika aku tidak masuk grup yang sama dengan Reita, mungkin kita tidak akan bekerja sama.

Aku yang sekarang ada karena Miori.

Jika sendirian, masa mudaku mungkin akan tetap kelabu.

Kalau dipikir-pikir, aku memang tidak ingin menjaga jarak dengan Miori seperti ini.

Karena aku sudah menerima begitu banyak hal darinya, dan aku belum membalasnya sama sekali.

Hari ini ada shift kerja paruh waktu.

Aku berhasil melewati pelajaran yang membuat mengantuk dengan bersusah payah menjaga mata agar tetap terbuka.

"Ayo pergi, Haibara-kun."

"Tentu."

Aku mengikuti ajakan Nanase yang kebetulan memiliki jadwal shift yang sama, lalu melangkah keluar kelas.

"Sampai jumpa! Sampai jumpa nanti!"

Hikari melambaikan tangan ke arah kami dengan senyuman cerah. Pacarku hari ini pun tetap terlihat sangat manis.

Omong-omong, hari ini Hikari ada kegiatan klub sastra. Katanya, belakangan ini mereka sedang sibuk membuat majalah sastra.

Meski fokus utama Hikari adalah mengirimkan naskah ke penghargaan novel, dia bilang kegiatan klub seperti ini juga jadi sarana pelepas penat. Tadi saat istirahat siang, dia menceritakannya dengan begitu antusias. Aku sungguh berharap dia bisa hidup dengan bahagia.

"Apa tidak apa-apa? Hikari, maksudku. Membiarkanku pulang berdua saja dengan Haibara-kun?"

Nanase tertawa kecil, bertanya dengan nada menggoda.

Yah... sejujurnya, itu memang poin yang sempat kupikirkan juga.

Walaupun kami berada di kelompok yang sama, bukankah aneh jika aku pulang hanya berduaan saja dengan lawan jenis?

Tapi, karena kami menuju ke tempat kerja paruh waktu yang sama, tidak ada alasan khusus untuk sengaja memisahkan diri.

Lagipula, kalau tiba-tiba aku bilang, "Aku kan sudah pacaran dengan Hikari, jadi aku tidak mau lagi pergi ke tempat kerja berdua saja," bukankah itu terkesan menyebalkan? Atau malah terkesan terlalu percaya diri?

Yah, pada akhirnya semua tergantung bagaimana perasaan Hikari saja.

"Kalau dengan orang lain mungkin aku sedikit tidak suka, tapi kalau dengan Yuino-chan sih tidak apa-apa. Lagipula kita kan bekerja di tempat yang sama, jadi mau bagaimana lagi? ...Dan juga, aku tidak mau terlalu mengekangmu."

Hikari menjelaskan alasannya sambil sedikit tersipu, suaranya mengecil di akhir kalimat.

Melihat sikapnya yang seperti itu, aku pun jadi ikut malu. Hehe.

"Begitu? Kalau begitu, aku tidak akan sungkan ya."

Entah kenapa, Nanase langsung meraih tanganku dan mulai berjalan.

Ditarik oleh Nanase, aku pun buru-buru menyusul langkahnya.

"Ti-tidak boleh!" Hikari tiba-tiba menyela di antara kami yang sedang berpegangan tangan.

"Oh? Bukannya tadi katanya tidak mau mengekang?"

"Sentuhan fisik itu dilarang! Bahkan untuk Yuino-chan sekalipun!"

"Apa maksudmu hanya dirimu saja yang boleh menyentuh Haibara-kun?"

"...Ya, m-memangnya kenapa? Ada masalah? Aku kan pacarnya."

Hikari membantah Nanase, tapi karena wajahnya sudah semerah tomat, ancamannya sama sekali tidak terasa mengintimidasi.

"Hei Nanase, jangan terlalu menggoda Hikari."

"Maaf, maaf. Belakangan ini reaksi Hikari sangat menarik untuk diperhatikan."

"Yah, aku tidak menyangkalnya sih..."

"Kenapa malah tidak menyangkal!? Natsuki-kun!?"

Hikari terlihat terkejut karena dikhianati oleh pacarnya sendiri, sungguh menggemaskan.

"Canda, kok. Aku tidak akan merebut Haibara-kun darimu, jadi tenanglah."

Nanase mengusap rambut Hikari yang sedang merajuk.

"Aku jadi terpikir, apa aku sebaiknya melamar kerja di Cafe Mares juga ya..."

Aku terkejut mendengar celetukan tak terduga itu.

Bekerja paruh waktu bersama Hikari, ya? Kedengarannya menarik juga.

"Apa Tadashi-san akan memberikan izin?"

"Nah, soal itu... aku hanya bisa berusaha semampuku."

Berbanding terbalik dengan ucapannya, Hikari terdengar pesimis.

Meskipun belakangan ini dia sudah lebih berani menyuarakan pendapatnya, ternyata tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dia lakukan seenaknya.

"Sayangnya, saat ini kami tidak sedang membuka lowongan pekerjaan."

"Ya, jumlah staf di bagian hall kan sudah cukup..."

"Kenapa Natsuki-kun tidak mempertimbangkan kemungkinan aku melamar di bagian dapur?"

Hikari mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Meskipun dia tersenyum, rasanya malah jadi menakutkan!

"Yah, soalnya... bagaimana ya?"

"Aku rasa tidak ada informasi yang mengatakan Hikari bisa memasak."

Saat aku bertukar pandang dengan Nanase dan berusaha mengalihkan pembicaraan, Hikari langsung menggembungkan pipinya.

"Ya sudah, terserah. Padahal tadinya aku berencana membuatkan bekal untuk Natsuki-kun lain kali, tapi batal deh."

"Eh!?"

Bekal buatan tangan pacar tercinta!?

Apakah event penuh nuansa masa muda seperti itu akan terjadi padaku!?

Aku sangat ingin mencobanya. Dan kalau bisa, aku ingin bermesraan dengan Hikari.

Untuk saat ini, rasanya tidak penting.

Mau rasanya tidak enak, enak, atau biasa saja, aku tidak peduli.

Yang terpenting adalah Hikari membuatkannya untukku.

Aku harus memastikan kesempatan ini tidak terlewatkan.

"Ma-maaf! Tolong! Dengan sangat! Kumohon! Berikan aku belas kasihan!"

Saking besarnya keinginanku terhadap bekal buatan Hikari, permohonanku terdengar sangat mendalam.

"Ke-kenapa kamu sampai se-seserius itu...?"

Hikari terlihat benar-benar ilfeel melihat perubahan sikapku yang mendadak. Damage telak tepat di hatiku! Sisi otaku dalam diriku tidak sengaja muncul ke permukaan. Padahal biasanya selalu kutahan...

"Ya, karena... aku sangat ingin mencicipinya..."

"...Habislah sudah, Natsuki-kun ini. Baiklah, nanti akan aku buatkan, ya."

Hikari terkekeh dan memberikan janjinya. Uwooooo! Aku menang!

"Maaf mengganggu momen mesra kalian, tapi kalau tidak segera pergi, kita akan terlambat."

Kata-katanya seperti menyiramkan air dingin.

Gawat, aku benar-benar hanya fokus pada Hikari sampai lupa segalanya...

Apakah ini yang dinamakan dunia hanya milik berdua? Bukankah kami jadi terlihat seperti pasangan yang terlalu bucin?

Aku harus lebih memperhatikan situasi dan kondisi saat ingin bermesraan...

"Be-benar juga! Ayo Nanase, kita berangkat kerja!"

"I-iya! Aku juga harus pergi ke kegiatan klub! Sampai jumpa minggu depan, kalian berdua!"

Setelah percakapan yang terasa canggung, kami berpisah dengan Hikari.

Wajah Hikari memerah padam, dan kurasa wajahku pun sama merahnya.

"Sampai jumpa minggu depan... apa itu artinya kalian tidak akan main akhir pekan ini?"

"Ya. Akhir pekan ini ada kegiatan band, dan Hikari bilang dia ingin menulis lanjutan novelnya di rumah."

Lagipula, uang kami tidak cukup untuk bisa bermain setiap minggu. Realita memang selalu kejam.

"Itu istirahat yang bagus untuk Hikari. Sepertinya jantungnya tidak akan kuat jika harus terus bersamamu."

"...Aku juga bingung harus bagaimana supaya jantungnya kuat."

Yah, aku sendiri juga tidak bisa banyak bicara.

Sebenarnya, berada di dekat orang yang kita sukai... pacar sendiri, memang ada kalanya membuat lelah.

Sangat bahagia, memang.

Tapi justru karena orang itu begitu berharga, aku jadi tegang dan harus sangat berhati-hati.

Terlebih lagi, karena kami baru saja mulai berpacaran, kami masih belum benar-benar mengerti batasan jarak di antara kami.

Aku hanya terus memikirkan sampai sejauh mana kami diperbolehkan melangkah.

"Kau sangat dicintai, kau tahu itu. Sadarilah hal itu dengan baik."

"...Aku tahu."

"Jangan sampai membuat Hikari sedih, ya?"

Menanggapi peringatan Nanase, aku mengangguk mantap.

"Tentu saja, aku akan membahagiakannya."

"Ya, aku percaya Haibara-kun pasti bisa."

Nanase tertawa kecil dengan suasana hati yang sangat baik.

Sepertinya hobi Nanase belakangan ini memang mengamati gerak-gerik kami.

Jadwal kerjaku hari ini adalah dari jam enam sore sampai jam sepuluh malam.

Ada empat orang yang masuk shift hari ini. Di dapur ada aku dan sang manajer, sementara di bagian hall ada Naru dan Nanase.

Setelah fokus menyelesaikan pekerjaan, waktu sudah menunjukkan lewat jam sembilan.

Waktu makan malam sudah usai, dan saat pelanggan mulai sepi, kami akhirnya bisa bernapas lega.

Saat aku sedang mencuci piring, Naru melongok dari balik konter.

"Ngomong-ngomong, besok kita ada latihan band lagi, ya."

Pembicaraanku dengan Serika kemarin tentu saja sudah kubagikan kepada Naru di grup chat RINE.

Termasuk fakta bahwa aku dan Yamano saling kenal, sudah kusampaikan secara singkat.

"Lebih tepatnya bukan latihan, tapi agenda utamanya adalah tryout untuk Yamano."

Yah, mengingat Serika sudah memberikan restunya, bergabungnya dia hampir bisa dipastikan.

Naru pun pasti sudah paham, makanya dia berbicara dengan asumsi Yamano sudah bergabung.

"Yamano-san itu, orangnya seperti apa ya?"

"...Yah, tipe yang ceria, kurasa? Orangnya cukup mudah diajak bergaul."

Yah, sebenarnya aku sendiri tidak tahu banyak soal Yamano sampai bisa menjelaskannya dengan detail.

Sekilas dia terlihat sangat terbuka, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak ingin dia tunjukkan di dalam dirinya.

"Ce-ceria ya... itu malah sedikit menakutkan..."

Padahal aku memperkenalkannya dengan cara yang aman, Naru malah mendadak ketakutan.

"Apa kau lebih suka orang yang pendiam?"

"Tidak juga... itu pun sulit diajak bergaul..."

Lalu tipe orang seperti apa yang kau inginkan?

Yah, mungkin dia hanya sekadar merasa canggung karena orang baru.

"Siapa pun yang datang, selama tidak seperti Iwano-senpai, kesan pertamanya pasti lebih baik."

Saat aku mengangkat bahu seraya berkata begitu, Naru langsung menyemburkan tawanya.

"Itu jahat sekali, Natsuki! Bagaimana bisa kau berkata begitu!"

"Kalau kau tertawa, berarti kau juga berpikir begitu, kan?"

"Ti-tidak, tidak begitu kok~"

Naru pura-pura tidak mendengar, bersiul dengan asal-asalan, dan mengalihkan pandangannya.

"Apa kalian membicarakan soal band?"

Nanase yang mendengar percakapan kami pun bertanya.

"Iya. Serika baru saja menemukan drummer baru. Orangnya baru kelas tiga SMP."

"Begitu. Kalau Hondou-san yang mencarinya, berarti kemampuan permainannya bisa diandalkan, ya."

"Masalahnya adalah apakah dia bisa akrab dengan kita... eh, maksudku, dengan aku. Bagaimana kalau nanti dia bilang bass-ku menjijikkan dan tidak mau bermain bersamaku... apa aku sebaiknya mundur saja..."

Naru bergumam dengan delusi negatifnya seperti biasa.

Yamano bukan tipe orang yang akan mengatakan hal seperti itu, tapi karena lucu, aku biarkan saja dia berpikir begitu.

"Shinohara-kun tetap tidak berubah ya. Padahal kupikir setelah punya pacar, kepercayaan dirimu akan sedikit meningkat."

"Sama sekali tidak... bahkan untuk sekadar berpegangan tangan saja aku sudah sampai titik maksimal... mengirim satu pesan RINE saja aku tegang setengah mati... dan aku bahkan tidak tahu apakah caraku ini benar atau tidak..."

"Hahaha..." Naru tertawa hambar dengan aura yang tampak suram.

Aku mengerti perasaanmu, Naru. Aku pun sama. Saat aku mengangguk-angguk setuju, Nanase menatapku dengan tatapan tajam.

"Kau juga harus segera terbiasa, kan?"

"I-iya..."

Sepertinya, aku tidak bisa terus-menerus memasang wajah pemula dalam hal cinta...

"Yah, karena kau bisa mengerjakan apa pun dengan baik, akan sangat menyebalkan jika dalam hal cinta saja kau tidak becus. Tapi, Hikari sendiri pun sebenarnya adalah gadis otaku yang suka berkhayal, kan..."

Ucapannya sangat pedas. Baik padaku maupun Hikari.

Satu-satunya orang yang berani melabeli Hikari—si idola sekolah—sebagai "gadis otaku yang suka berkhayal" hanyalah Nanase.

Yah, sebenarnya ada juga teori yang mengatakan bahwa julukan itu berasal dari pengakuan Hikari sendiri, sih...

Saat kami bertiga sedang mengobrol, bel di pintu berbunyi. Suara pintu toko yang dibuka oleh pelanggan.

Saat aku menoleh, seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah kami masuk.

"Eh...? Naru, itu pacarmu."

Gadis berambut hitam dengan kacamata itu membungkukkan badan.

Itu Funayama-san.

"E-eh!?"

"Jangan bengong, sana antar ke mejanya."

Aku mendorong punggung Naru yang sedang terbelalak, memaksanya menghampiri Funayama-san.

"Ke-kenapa kamu ada di sini...?"

"Emm, aku hanya... ingin melihat tempatmu bekerja..."

Percakapan yang mengharukan itu terdengar samar-samar.

Mereka berdua masih terlihat kaku karena gugup, tapi senang rasanya melihat mereka tampak akrab.

Namun, entah kenapa melihatnya malah membuatku merasa malu sendiri...

"Sekarang kau paham bagaimana perasaanku saat melihat kalian berdua?"

"Berisik. Tanpa perlu kau katakan pun, aku sadar kok..."

Jadi seperti itu ya rasanya kalau dilihat oleh orang lain dari sisi luar... agak memalukan juga, ya...

"Kalian berdua tampak bahagia, ya. Kau yang membantunya, kan?"

"Tidak banyak yang kulakukan, kok. Mereka memang sudah saling suka sejak awal."

Katanya mereka baru mulai berpacaran sejak hari turnamen olahraga, jadi baru dua hari berlalu. Masih masa-masa hangat. Yah, kami pun baru berpacaran sekitar dua minggu, jadi aku sendiri tidak bisa banyak berkomentar.

"...Bagaimana denganmu, Nanase? Apa kau tidak punya orang yang kau sukai?"

Aku mencoba bertanya pada Nanase yang sedari tadi menatap mereka dengan tatapan iri.

Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah mendengar Nanase bercerita soal orang yang disukainya atau keinginannya punya pacar.

"Hmm... tidak sampai taraf menyukai, tapi dulu memang ada orang yang membuatku tertarik."

Cerita tak terduga itu muncul, membuatku terkejut.

Nada bicara Nanase yang datar membuatku merasa itu bukanlah sebuah candaan.

"...Berarti karena kau bilang 'dulu', itu artinya sudah masa lampau?"

"Sayangnya begitu. Karena tidak seperti yang lain, aku tidak pernah tahu rasanya mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh."

Begitu, ya... meski aku mengerti, rasanya sulit untuk memberikan respon.

Aku tidak tahu sampai sejauh mana aku boleh membahas topik ini...

Aku yang memulai pembicaraannya, tapi kini aku sendiri yang malah mati kutu.

"Semoga suatu hari nanti kau bisa menemukannya. Cinta yang sungguh-sungguh itu."

Pada akhirnya, hanya kalimat itu yang bisa kukatakan. Terdengar klise dan polos sekali.

Entah kenapa, Nanase menyentil dahiku dengan kencang.

"Aw!"

"Daripada memikirkan aku, sebaiknya kau lebih menghargai Hikari."

Nanase tersenyum setelah mengatakan itu.




"……Tidak perlu kau katakan, aku juga berniat begitu."

Sambil memandangi pemandangan Naru dan yang lainnya yang begitu menghangatkan hati, tekadku semakin menguat. Di tengah obrolan santai itu, malam di Cafe Mares pun semakin larut.

Hari berikutnya adalah hari Sabtu.

Karena terbangun terlalu pagi, aku menghabiskan waktu dengan lari pagi dan latihan otot. Kenapa ya, justru saat hari libur dan aku ingin sekali bermalas-malasan, aku malah terbangun lebih cepat?

"Kak, sarapannya mana?"

"Bakar saja roti tawarmu sendiri."

Aku mengabaikan rengekan Namika begitu saja lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk bersiap. Saat kembali ke ruang tengah, Ibu dan Namika sudah ada di sana. Ternyata pada akhirnya Ibu yang menyiapkan sarapan untuk Namika.

"Natsuki, kau mau makan juga? Meski cuma yang sederhana."

Ibu menyadari kehadiranku dan bertanya. Aku pun mengangguk setuju.

"Kakak tidak mau menyiapkan, jadi Mama yang menyiapkan untukku!"

"Memangnya kau tidak punya inisiatif untuk melakukannya sendiri?"

"Aku kan tidak bisa masak!"

Namika menyatakan hal itu dengan bangga sambil menyantap roti tawar, sosis, telur mata sapi, dan salad. Sebenarnya itu pun tidak bisa disebut "masak", karena selain salad, semuanya cuma dipanggang.

"Kak, hari ini mau ke mana?"

"Ada kegiatan band, jadi aku akan segera berangkat."

Agenda hari ini adalah tryout sekaligus latihan band bersama Yamano. Waktu kumpulnya jam sepuluh.

"Loh? Bukannya band kalian sudah bubar?"

"Sempat vakum sebentar, tapi akhirnya diputuskan untuk mulai lagi."

"Setahuku, si pemain drum keluar karena mau fokus ujian, kan?"

"Ya. Makanya, kami mencari drummer baru. Meski belum pasti juga, sih."

"Hmm... baguslah? Yah, meski aku tidak terlalu tertarik."

Namika berkata dengan acuh tak acuh sambil menatap ponselnya. Cara bicaranya tidak mencerminkan orang yang tidak tertarik, tapi kalau kukomentari, dia pasti akan marah.

Lagipula, apa dia ingin melupakan fakta bahwa dulu dia pernah mengayunkan penlight di kursi penonton?

"Drummer baru ini satu tingkat di bawahku, dan dia seniormu di sekolah."

"Maksudmu satu SMP denganku? Oh iya, katanya ada klub musik ringan di sana, ya."

"Kau tahu Yamano Saya?"

"Ah, ya... namanya sih, pernah dengar."

Cara bicaranya terdengar ragu, seolah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.

"Karena kau bilang cuma namanya, apa itu artinya kau belum pernah bicara dengannya?"

"Ya. Kami tidak punya hubungan apa pun. Dia kakak kelasku dan klub kami juga berbeda."

Setelah menghabiskan sarapannya, Namika mengatupkan kedua tangan dan berkata, "Terima kasih atas makanannya."

"Tapi, begitu ya. Orang itu akan nge-band bareng Kakak."

Namika bergumam pelan sambil menatap ke luar jendela.

"Ada yang mengganggumu?"

Karena ekspresinya tampak seperti sedang memikirkan sesuatu, aku pun bertanya.

"...Hmm, tidak ada apa-apa. Ya sudah, selamat berlatih ya."

Namun, Namika hanya menjawab begitu lalu masuk ke kamarnya. Hei, bereskan piringmu!

"Bu, biar aku saja yang bereskan."

Mau bagaimana lagi, aku menawarkan diri untuk membantu pekerjaan rumah.

"Iya, iya. Terima kasih, bantuannya."

Di kehidupan pertama, aku benar-benar bergantung pada Ibu, jadi sebisa mungkin aku membantu pekerjaan rumah sekarang.

Sebaliknya, kurasa Namika malah jadi makin malas... aneh sekali. Di kehidupan pertama dia adik yang jauh lebih bisa diandalkan dariku, tapi belakangan ini dia tampak agak ceroboh.

...Jangan-jangan, ini salahku?

Apakah aku yang membuat Namika jadi ceroboh?

Sambil memikirkan pertanyaan tanpa jawaban itu, aku menyelesaikan cucian piring tepat waktu. Aku segera bersiap-siap lalu pergi meninggalkan rumah.

Suhu udara mencapai 15 derajat. Agak dingin, tapi belum perlu memakai mantel. Aku naik kereta menuju studio musik yang telah dipesan Serika. Lokasinya tidak jauh dari Stasiun Takasaki. Sepertinya Serika sering menggunakannya.

"Ah, Natsuki! Selamat pagi!"

Naru melihatku dan matanya langsung berbinar cerah.

Di dalam ruangan, Naru dan Serika sudah tiba. Mereka sibuk menyiapkan instrumen masing-masing. Serika tidak bereaksi, mungkin dia sedang fokus dengan gitarnya.

"Cepat juga kalian berdua."

"Ini latihan pertama kita setelah sekian lama, lho! Aku jadi semangat sekali!"

Naru memetik bass-nya dengan asal sambil berkata dengan riang.

"Yamano sepertinya belum datang."

"Tadi saat aku kirim RINE, katanya dia akan segera sampai."

Serika menunjukkan layar ponselnya padaku. Itu adalah riwayat chat dengan Yamano.

Serika terus-menerus mengirim stiker karakter anime yang marah dengan tulisan "Belum datang?". Hei, hentikan itu!

"Senior! Selamat pagi! Maaf! Aku terlambat!"

BRAK! Yamano muncul dengan mendobrak pintu.

Dia terengah-engah. Sepertinya dia panik karena stiker dari Serika tadi.

"Yo."

"Pagi."

Aku dan Serika menanggapinya dengan biasa, tapi Naru tampak bingung.

"...Se-selamat pagi..."

"Salam kenal! Shinohara-senpai, kan!? Aku Yamano Saya!"

Yamano menggenggam tangan Naru dan mengocoknya dengan kuat ke atas dan ke bawah. Sepertinya dia berniat menjabat tangan.

"Ya, salam kenal...?"

"Iya, mohon bantuannya! Bass milik Shinohara-senpai keren banget! Aku sampai terharu!"

Yamano mendekat dengan senyuman lebar, sementara Naru tampak kewalahan. Benar-benar pemandangan yang membuat bingung siapa senior dan siapa junior.

"Iya, iya. Waktu kita sempit, ayo mulai. Cepat bersiap."

Serika bertepuk tangan menengahi. Aku pun segera menyiapkan gitar dan mikrofon.

"Wa-wajahnya ceria sekali... aura positifnya terasa... tapi aku senang..."

Naru bergumam pelan. Entah senang karena dipuji Yamano atau bagaimana, dia memasang senyum yang kalau dilihat dari sudut pandang objektif terasa agak menyeramkan, tapi aku putuskan untuk tidak mengomentarinya.

"Hmm, kira-kira begini ya..."

Di sisi lain, Yamano yang telah selesai mengatur set drum studio, memutar stik drumnya dengan luwes. Lalu tiba-tiba, dia memukul crash cymbal.

Suara dentuman yang nyaring bergema, menjadi aba-aba bagi dirinya untuk memulai solo drum.

Dia memainkan lagu yang tidak kukenal, tapi hanya dengan mendengarnya saja aku sudah tahu kalau dia punya rasa ritme yang luar biasa. Dia memang mahir. Dan dia tampak sangat menikmati saat memukul drumnya.

...Aku tidak khawatir sejak Serika merekomendasikannya, tapi ternyata dia benar-benar hebat.

"Kalau semua sudah siap, ayo mulai dari black witch. Saya, kau bisa, kan?"

Setelah solo drum Yamano selesai, Serika memberi saran.

"Tentu saja! Lagu-lagu Mischef sudah kuhafal semua!"

Yamano merespons dengan penuh semangat.

"Lama tidak berlatih, aku takut jari-jariku tidak bisa bergerak lancar..."

Naru bergumam kurang percaya diri sambil memegang bass-nya.

"Kalau begitu, mari mulai dengan hitungan tiga. Tidak apa-apa, kan, Senior?"

Menanggapi konfirmasi Yamano, aku mengangguk. Sepertinya mereka ingin langsung memainkannya secara penuh. Lagu pun dimulai, dan dentuman musik rock yang intens bergema di dalam studio.

Sudah lama sekali. Sensasi di mana suaraku dan melodi gitarku menyatu dalam lagu.

――Permainan drum Yamano terasa sangat agresif. Penuh ekspresi, dentuman yang menyerang itu membuat dinamika lagu terasa jauh lebih intens.

Berbeda sekali dengan senior Iwan, yang cenderung presisi dan mekanis. Drum Yamano mengamuk seperti angin yang mendorong punggung kami, namun ia tidak pernah merusak ritme lagu itu sendiri.

Ini terasa berbeda dari masa senior Iwan. Rasanya seperti aku tidak sedang memainkan lagu yang sudah ada.

Ini adalah black witch yang baru.

Istilah "mendobrak pakem" sangat cocok untuknya. Meski begitu, saat ini aku belum bisa menyelaraskan ritme dengannya secara sempurna. Jika dibandingkan dengan saat bersama senior Iwan, kualitas lagunya memang belum sebaik itu.

Namun, aku bisa merasakan potensinya. Aku yakin kami bisa memainkan lagu ini dengan jauh lebih baik lagi.

"...Ba-bagaimana? Meski tadi ada bagian yang salah sedikit..."

Tepat setelah lagu selesai, Yamano bertanya dengan nada cemas yang tak biasa. Padahal tadi saat lagu berlangsung dia tampak sangat menikmatinya, kesenjangan itu terasa lucu.

"Ah! Ke-kenapa kalian tertawa!? Aku serius, lho! Aku sudah latihan mati-matian untuk tryout ini! Apa permainanku tadi buruk!?"

Yamano tampak panik. Serika menatap kami.

"...Menurut kalian bagaimana? Naru, Natsuki. Aku pribadi suka sekali dengan drum anak ini."

Aku menatap Naru. Naru menatapku. Kami berdua terdiam.

"..."

"..."

Yamano menatap kami seolah sedang menunggu vonis takdir.

"Yah, itu... tidak perlu ditanya lagi, kan..."

"Yah, begitulah..."

Aku dan Naru mengangguk seraya mengucapkannya. Yamano tertunduk lemas dengan ekspresi yang sangat pas jika diberi efek suara "GAAAN!".

"Ti-tidak mungkin..."

"Hei, kenapa pasang wajah bodoh begitu? Tentu saja kau lulus."

"Bahkan rasanya aneh sekali kalau kau sampai tidak lulus."

Yamano terbelalak, lalu berteriak, "Eh!?"

"Kalian berdua, tidak baik terlalu sering menggoda junior."

Serika menyunggingkan senyum tipis sambil mengangkat bahu. Lagipula, karena Yamano menatap kami dengan wajah seserius itu, kami jadi tidak tahan untuk tidak menggodanya...

"Ja-jangan buat aku kaget, dong~"

Yamano duduk kembali di kursinya dengan perasaan lega.

Sebenarnya, aku sendiri bukanlah posisi yang pantas untuk menilai kelulusan orang lain, bahkan mungkin akulah yang seharusnya tidak lulus?

Begitulah keraguanku. Aku masih ingin gitar yang lebih baik lagi...

"Baiklah, dengan bergabungnya Saya, band ini akan memulai kembali perjalanannya dengan empat anggota."

"Apa nama bandnya tetap Mischef? Atau mau diganti?"

"Hmm, karena band ini berbeda dari saat ada senior Iwan, mungkin aku akan memikirkan nama baru."

Sekarang, kami bukan lagi band pelarian yang hanya berkumpul sementara. Menurutku, itu adalah keputusan yang bagus.




"Tujuan kita saat ini adalah tampil di live house tempat aku bekerja paruh waktu."

"Li-live house... kedengarannya agak menakutkan, ya..."

"Tapi, memang itu tujuan yang seharusnya, kan? Festival budaya juga sudah lewat."

Lagipula, jika tidak ada tujuan yang jelas, aku jadi tidak tahu untuk apa kami terus berlatih.

Bermusik bersama memang sudah menyenangkan, tapi sensasi tampil di panggung langsung benar-benar berbeda levelnya.

Aku ingin merasakan sekali lagi sensasi menjadi satu dengan penonton seperti saat festival budaya kemarin.

"Tidak, tidak, mimpi kalian terlalu kecil, Senior! Ayo kita tampil di Rockin! Kita harus ke Rockin!"

Yamano berseru dengan ceria, mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Dia memang orang yang selalu semangat.

"Bagus sih punya mimpi besar, tapi pertama-tama, kalian harus mengasah kemampuan dulu."

Serika menegur Yamano dengan tenang.

Festival budaya memang meriah, tapi band kami masih belum cukup matang. Serika mungkin pengecualian, tapi gitarisnya—yaitu aku—masih payah sekali sampai tidak bisa ditertawakan. Bisa memainkan semuanya dengan lancar saat festival budaya kemarin kurasa hanyalah sebuah keajaiban. Keajaiban tidak akan terjadi berkali-kali, kan?

"Yamano, bagaimana dengan ujianmu? Tidak apa-apa?"

"Aku rasa aku bisa masuk lewat jalur rekomendasi!"

"Wah, ternyata kau pintar, ya."

Nilai rata-rata di sekolah kami cukup tinggi, dan banyak siswa yang ingin melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Jika bisa masuk lewat jalur rekomendasi, itu artinya dia mempertahankan nilai di jajaran teratas angkatan.

"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."

Yamano menanggapinya dengan memberikan tanda peace.

"Baiklah, mulai minggu depan kita akan berlatih dengan serius bersama Saya."

"Siap, mengerti!"

"Baik!"

"……Ya. Ayo kita berjuang lagi."

Kami semua mengangguk sepakat. Dengan begitu, aktivitas band kami diputuskan untuk dimulai kembali.

Satu lagi kegembiraan masa muda bertambah. Masa mudaku memang sudah bersinar seperti pelangi, tapi kini ia semakin bercahaya. Band baru ini pasti akan memberikan warna yang baru dalam masa mudaku.

"Ngomong-ngomong... Natsuki."

Serika bertanya seolah baru saja teringat sesuatu.

"Kemarin Miori izin sekolah, apa kau dengar sesuatu?"

"Eh? Tidak, tidak ada... apa dia sakit flu?"

"Guru bilang begitu, tapi Miori tidak membalas pesanku sama sekali."

Serika memiringkan kepalanya sambil menatap layar ponsel.

"Ternyata dia bisa kena flu juga, ya."

Sejak kecil, dia punya citra tubuh yang kuat. Lagipula, orang bodoh tidak akan kena flu. Setahuku, selama ini Miori belum pernah sampai terbaring sakit karena flu. Meski aku tidak tahu detailnya saat kami di SMP.

"……Kalau hanya flu biasa sih, tidak masalah, ya."

"Sekarang kan sudah masuk musim flu juga."

Memang, aku jadi sedikit khawatir. Menanggapi perkataanku, Serika hanya mengangguk samar, "Ya, benar juga."

Serika tidak menyinggung Miori lebih jauh dan kami pun melanjutkan latihan.

...Yah, dia baru izin satu hari, kurasa tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Untuk saat ini, daripada memikirkan Miori, aku harus fokus latihan. Aku yang paling payah di sini, jadi harus terus berkembang agar tidak diremehkan oleh Yamano. Yah, mungkin itu sudah terlambat, sih...

Setelah latihan yang diselingi jam istirahat siang, hari pun mulai beranjak sore. Aku berpisah dengan Serika dan yang lainnya di Stasiun Takasaki, lalu pulang menaiki kereta bersama Yamano. Mungkin karena lelah di hari latihan pertama, Yamano hanya menatap kosong ke luar jendela.

"……Ngomong-ngomong, Senior, kau pacaran dengan Hoshimiya-senpai, kan?"

"Ya. Kau kenal Yangari?"

"Dia terkenal di Minsta. Kukira temanmu itu seorang model. Cantik sekali, modis, ceria, dan terlihat lembut... Wah, aku iri sekali dengan Senior!"

Yamano menghentakkan kakinya, merasa iri. Namika juga pernah bilang hal yang sama; ternyata Yangari memang populer di daerah sini.

"Kenapa ya dia mau memilih Senior?"

"Hei, hentikan. Justru itu hal yang paling membuatku bingung."

"Yah, memang sih, dibandingkan dulu, sekarang kau terlihat lebih keren."

Baik Miori maupun Yamano, orang-orang yang mengenalku sejak dulu selalu bereaksi seperti ini. Belakangan ini aku sering dilebih-lebihkan, jadi rasanya cukup melegakan.

"Miori banyak membantu agar aku bisa mendekati Yangari, lho."

Yamano bergumam "Yah, itu juga sih..." sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Ngomong-ngomong, bagaimana hubungan Miori-senpai dengan orang bernama Shiratori itu?"

"Sepertinya biasa saja, mereka terlihat akrab. Aku sering melihat mereka pulang bersama."

"Begitu, ya..." Yamano mengerutkan kening, seolah curiga.

"Apa kau tidak bertanya langsung pada Miori?"

"Hmm, kami memang saling berkirim pesan, sih..."

Dia menjawab dengan nada yang tidak jelas. Yah, kalau sekolahnya sudah berbeda, kesempatan untuk mengobrol pasti berkurang.

"Apa kau punya foto Shiratori-senpai? Aku ingin lihat."

Karena diminta, aku pun mencoba mencari di folder foto ponselku. Yang kumiliki hanyalah foto bersama saat liburan musim panas. Para gadis biasanya selalu memotret setiap ada kesempatan, tapi para lelaki tidak punya kebiasaan itu.

Padahal, aku sudah mendapatkan masa muda yang penuh warna. Mungkin mulai sekarang aku harus lebih sering mengambil foto untuk mengabadikan kenangan ini.

"Wah, ganteng sekali. Levelnya beda jauh sama Haihara-senpai."

"Apa kau tidak akan puas kalau tidak terus-terusan merendahkanku?"

"Habisnya, Miori-senpai kan mengaku sebagai orang yang pilih-pilih soal penampilan... meski itu cuma pengakuannya sendiri, sih..."

Yamano terus menggumamkan sesuatu sambil menatap foto di ponselku.

"Ada yang aneh?"

Saat kutanya, Yamano menggeleng pelan.

"Tidak, Senior tidak aneh sama sekali. Abaikan saja."

Meski dia bilang begitu, aku tetap merasa ada yang janggal... baru saja aku hendak bertanya lagi, kereta berhenti. Sepertinya kami sudah sampai di stasiun daerah kami.

"Ada alasan tertentu kenapa kau sangat mengkhawatirkan Miori?"

Sambil turun dari kereta, aku bertanya pada Yamano karena tiba-tiba merasa penasaran. Aku tahu mereka akrab, tapi dia tampak terlalu antusias membahas Miori.

"……Yah, saat ini aku sedang dimintai konsultasi olehnya."

Yamano mengalihkan pembicaraan. Dia secara tidak langsung memberi tahu bahwa dia tidak bisa bicara lebih banyak lagi.

"...Konsultasi, ya. Ternyata orang yang dipilih Miori untuk curhat sekarang bukan aku lagi."

Aku sadar kalau Miori sedang memendam sesuatu. Bahwa dia menceritakannya pada Yamano, entah kenapa membuatku merasa sedikit iri.

"Baiklah, Senior. Kita berjuang bareng di band ini, ya!"

Yamano mengucapkan salam perpisahan seolah ingin mengakhiri topik pembicaraan tadi, lalu pergi sambil melambaikan tangan.

Minggu setelah band kami dimulai kembali berjalan dengan lancar. Senin kerja paruh waktu, Selasa latihan band, lalu hari Rabu tiba saat istirahat siang. Sudah tepat seminggu sejak turnamen olahraga.

"Eh, Miori izin?"

"Iya. Sepertinya sejak setelah turnamen olahraga, dia terus izin."

Di dekat jendela kelas, enam orang dari kelompok kami berkumpul dan saling bertatap muka.

"Reita, apa kau dengar sesuatu?"

"……Aku sudah kirim RINE, tapi tidak ada respon sama sekali."

Reita menatap ponselnya dengan wajah khawatir.

"Tadi aku dengar dari guru pembimbing katanya dia flu."

"Tapi kalau cuma flu biasa, kurasa tidak mungkin sampai selama ini."

Uta dan Nanase juga ikut berkomentar. Semua orang khawatir dengan kondisi Miori.

...Kalau Serika yang sekelas dengannya, mungkin dia tahu sesuatu.

"Coba aku tanyakan pada Serika."

Saat aku sedang mencari Serika, aku melewati depan toilet wanita.

――Terdengar suara seseorang.

"Rumor soal Motomiya itu benar, ya? Katanya dia main dua kaki dengan Shiratori dan Haihara?"

"Katanya ada yang lihat. Mereka lihat Miori memeluk Haihara di taman."

"Wah, murah sekali, ya? Dia sombong cuma karena wajahnya agak lumayan?"

"Padahal kemarin dia bersikeras kalau hubungannya dengan Haihara cuma teman masa kecil. Dulu kupikir dia cuma pamer, tapi ternyata dia benar-benar jalang. Kasihan sekali Shiratori dan Hoshimiya-san."

Langkahku terhenti seketika.

...Apa yang mereka bicarakan?

Aku tidak bisa memahami maksud ucapan mereka. Namun, karena ada tanda-tanda mereka akan keluar dari toilet, aku buru-buru pergi. Setelah berjalan agak jauh seolah tidak mendengar apa-apa, aku menoleh ke belakang.

Grup gadis yang membicarakan gosip itu adalah siswi dari kelas 1. Yang berada di tengah-tengah kelompok itu bernama Hasegawa. Dia cukup menonjol di kelas 1. Aku ingat namanya karena dia sering disebut-sebut oleh anak laki-laki saat membahas siswi kelas 1 yang manis bersama Yangari dan Miori. Meski katanya, sifatnya cukup tajam.

"……Apa yang harus kulakukan?"

Pikiranku berantakan. Apa yang harus kulakukan?

...Tenang. Pertama, mari rapikan situasinya. Jika ini hanya kebohongan, aku tinggal menyangkalnya, tapi sialnya, ada kejadian nyata yang bisa disalahartikan.

Tentu saja, gosip kalau Miori main dua kaki dengan aku dan Reita itu bohong. Tapi, aku teringat kejadian beberapa hari sebelum turnamen olahraga. Jika ada seseorang yang melihat kejadian di taman malam itu saat aku menahan Miori yang hampir jatuh, salah paham itu mungkin saja terjadi.

Dari sudut pandang orang lain, mungkin terlihat seolah Miori-lah yang memelukku. Jadi gosipnya meluas bukan "aku yang melakukan sesuatu pada Miori", tapi "Miori yang menggoda aku"?

Jika begitu, langkah apa yang harus kuambil agar kesalahpahaman ini selesai?

...Keringat dingin mengalir. Berdasarkan pengalamanku, mengatasi gosip seperti ini sangat sulit. Apa pun itu, pertama-tama aku harus mengumpulkan informasi. Aku harus tahu sejauh mana gosip ini menyebar dan siapa yang menyebarkannya.

Alasan Miori izin sekolah mungkin ada hubungannya dengan gosip ini.

"Oi, Natsuki, istirahat siang mau habis, tuh."

Aku mendongak saat dipanggil dari kejauhan. Tatsuya dan yang lainnya memberi kode padaku.

"Ya, mengerti."

Masih banyak yang mengganjal di hatiku, tapi aku tidak bisa bolos kelas. Baiklah, kembali ke kelas. Sepanjang koridor menuju kelas, aku merasa banyak tatapan tertuju padaku. Saat kuamati, sepertinya siswi kelas 1-lah yang terus menatapku.

...Sepertinya aman untuk menyimpulkan bahwa gosip itu sudah menyebar di kalangan siswi kelas 1.

Entah itu baik atau buruk, kami memang mencolok. Aku dan Yangari, Reita dan Miori, disebut-sebut sebagai dua pasangan besar di angkatan ini. Jika ada skandal di antara salah satu dari kami, tentu saja rasa ingin tahu semua orang akan terarah ke sana. Tatapan yang menusuk itu membuktikan kenyataan tersebut.

Aku masuk ke kelas dan duduk di kursiku. Guru masuk dan pelajaran dimulai. Setelah mengamati sekeliling untuk sementara waktu, aku tidak merasakan tatapan tidak menyenangkan dari siswa kelas 2. Sepertinya gosip itu belum menyebar ke kelas kami. Tapi itu hanya masalah waktu.

Gosip semacam ini akan menyebar ke seluruh sekolah sebelum kita menyadarinya, dan akan ditambah dengan bumbu-bumbu yang tidak perlu. Ini semua tidak berdasar. Aku ingin menanganinya secepat mungkin sebelum hal itu terjadi.

"……Natsuki-kun, ada apa?"

Yangari yang duduk di sebelahku berbisik. Wajahnya tampak khawatir. Sepertinya dia sadar aku terus memasang wajah serius.

Aku bingung harus menjawab apa. Haruskah aku memberi tahu, atau diam saja? Jika memberi tahu, apa yang harus kukatakan? Padahal diriku sendiri pun belum benar-benar paham situasinya.

"……Ada sedikit masalah. Nanti kuceritakan."

Setelah berpikir sejenak, aku menjawab begitu. Yangari adalah kekasihku. Meskipun aku belum paham sepenuhnya, mungkin lebih baik berbagi situasi saat ini. Jika gosip itu sampai ke telinga Yangari, dia mungkin akan merasa tidak tenang. Tapi, sekarang sedang pelajaran, dan ini bukan pembicaraan yang selesai dalam waktu singkat. Aku harus menciptakan ruang agar bisa bicara dengan tenang.

Sepulang sekolah.

Tatsuya dan yang lainnya pergi ke klub, Nanase juga latihan piano, jadi hanya aku dan Yangari yang tertinggal di kelas.

"Boleh aku tanya soal yang tadi?"

Yangari bertanya. Di kelas, anak-anak klub yang pulang masih mengobrol.

"Ya. Bisakah kita pindah tempat sebentar?"

Aku tidak ingin didengar orang lain. Aku membawa Yangari ke bordes tangga yang sepi. Saat menoleh, Yangari memasang wajah cemas. Yah, memang aku belum menjelaskan apa-apa.

"……Jadi, apa yang terjadi?"

"Sepertinya ada gosip buruk yang beredar. Terutama di antara siswi kelas 1."

Mendengar ucapanku, Yangari mengerjapkan matanya.

"Gosip apa?"

"Isinya... Miori pacaran dengan Reita, tapi juga menggoda aku."

Sulit untuk menjelaskannya, tapi aku harus mengatakannya agar pembicaraan berlanjut. Yangari merespon dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.

"Begitu... ya."

"Tentu saja, itu tidak benar."

Pertama, aku harus menegaskan itu untuk menghilangkan kecemasan Yangari.

"Aku tidak meragukan itu, tapi... kenapa ada gosip seperti itu?"

Pertanyaan Yangari sangat wajar. Jika seseorang menyebarkan gosip tak berdasar karena niat jahat, itu mudah, tapi yang menyulitkan adalah ada kejadian nyata yang menjadi akarnya. Sejujurnya, aku takut Yangari salah paham. Waktu itu, aku benar-benar hanya menahan Miori agar tidak jatuh, tapi bagi Yangari yang mendengar hal itu setelahnya, itu cerita yang berbeda.

Aku jadi kehilangan kata-kata saat melihat Yangari yang menunggu jawaban.

"――Itu karena ada orang yang melihat Miori memeluk Natsuki."

Bukan aku yang menjawab. Suara itu datang dari belakang. Saat menoleh, Serika berdiri di sana.

"……Kenapa kau ada di sini?"

Sebelum sempat bertanya apakah dia mendengar semuanya, pertanyaan itu meluncur begitu saja.

"Aku mencari Natsuki. Bukankah kita sudah janji untuk menentukan jadwal latihan berikutnya sepulang sekolah?"

Ah... benar juga. Itu benar-benar luput dari ingatanku.

"Yah, mungkin ini bukan saatnya melakukan hal itu."

Serika menghela napas dengan melankolis. Jarang sekali Serika yang biasanya tanpa ekspresi menunjukkan emosi di luar urusan musik.

"Emm... maksudnya bagaimana?"

Yangari bertanya lagi, jadi aku harus menjawab dengan benar.

"……Mungkin ini soal beberapa hari sebelum turnamen olahraga."

Saat ini, aku sedang membuat Yangari cemas. Karena itulah, aku harus menceritakan semuanya dengan jujur.

"Sepulang sekolah hari itu, aku latihan basket dengan Naru di taman. Karena Naru juga ikut basket di turnamen, aku mengajarinya. Lalu, Miori yang kebetulan lewat ikut latihan bersama. Setelah selesai, kami istirahat sambil mengobrol, dan saat hendak pulang, Miori hampir jatuh, jadi aku refleks memeluknya."

Yangari dan Serika mendengarkan ceritaku dalam diam.

"Kalau ada yang melihat kejadian itu, tidak aneh jika terlihat seolah Miori yang memelukku. Kalau gosip yang beredar sekarang punya dasar, kurasa itulah akarnya."

"……Begitu rupanya," Serika mengangguk seolah mengerti.

"Jangan-jangan, alasan Miori izin karena gosip itu?"

"Aku tidak tahu. Aku sendiri baru saja mendengar gosip itu dan hendak menyelidikinya."

Aku menggelengkan kepala. "Begitu, ya," Yangari ikut menimpali.

"……Untuk sekarang, aku akan memberitahu apa yang aku ketahui."

Melihat kondisiku dan Yangari, Serika angkat bicara.

"Memang benar gosip yang baru Natsuki katakan sedang beredar di antara siswi kelas 1. Menurutku hanya masalah waktu sampai gosip itu sampai ke kelas kalian. Lagipula, mereka semua suka membicarakan hal seperti ini."

Serika mengonfirmasi dugaanku yang sebenarnya tidak ingin kuharapkan.

"Orang yang bilang melihat kejadian itu secara langsung adalah Mizuse dari kelas 1."

Yangari menanggapi ucapan Serika, "Ah, orang yang pakai kacamata dan pendiam itu, ya?"

Aku tidak punya firasat apa-apa. Sepertinya dia bukan tipe orang yang mencolok di kelas.

"Ya. Tapi yang menyebarkannya bukan Mizuse, melainkan grup Hasegawa."

"……Benar, kan. Saat aku tidak sengaja mendengar gosip itu, Hasegawa yang sedang bicara pada semua orang."

"Yah... bukankah Hasegawa-san tidak akrab dengan Miori?"

Apa begitu? Aku sama sekali tidak tahu, tapi Serika mengangguk seolah itu sudah jelas. Rupanya itu sudah jadi pengetahuan umum di kalangan para gadis. Hubungan antar gadis, aku sama sekali tidak paham...

"Miori itu manis, ace basket putri, pintar, pacaran dengan Reita yang populer di angkatan, dan teman masa kecilku yang juga cukup populer. Jadi dia punya banyak musuh. Meski dia juga punya teman, Miori itu keras kepala. Dia bukan tipe yang bisa akur dengan siapa saja seperti Yangari-chan, jadi orang yang tidak suka padanya ya benar-benar membencinya. Yah... mungkin itu hanya sekadar rasa cemburu, sih."

Yah, meski di permukaan bersikap manis, esensinya tidak berubah sejak SD. Dia punya sifat yang cukup egois, jadi wajar jika ada orang yang tidak cocok dengannya.

"Kelas 1 awalnya memang cenderung berkonfrontasi antara grup pusatnya Hasegawa dan grup pusatnya Miori."

Serika melanjutkan, meski bukan berarti mereka bertengkar secara terang-terangan.

"Be-begitu, ya... aku sama sekali tidak tahu."

"Yah, banyak hal terjadi di antara para gadis. Kurasa anak laki-laki tidak tahu apa-apa."

Yangari menambahkan. Dunia para gadis, rasanya menakutkan...

"Kalau Hasegawa-san menemukan kelemahan Miori-chan, tentu dia akan senang menyebarkannya."

"Sebenarnya saat kutanya Mizuse, dia bilang dia sedang mengobrol dengan temannya bahwa dia melihat 'sepertinya Miori yang memeluk Natsuki', lalu dia diinterogasi oleh Hasegawa yang mencuri dengar. Dia bingung karena dia sendiri tidak tahu kebenarannya dan tidak menyangka akan jadi seperti ini."

Berkat Serika, keseluruhan gambaran situasi sudah terlihat.

...Ini salahku.

Seandainya saat itu aku segera melepaskan Miori, mungkin tidak akan ada salah paham. Tapi kenyataannya, aku memeluknya selama beberapa detik. Karena Miori tidak bergerak.

“Kalau aku bilang aku suka padamu... apa yang akan kau lakukan?”

Pemandangan saat itu terlintas di pikiranku. Suaranya terdengar seperti akan menangis.

"……Natsuki-kun?"

Tanpa sadar, Yangari sedang menatapku lekat-lekat.

"Ah, maaf. Tidak apa-apa."

Sepertinya aku melamun. Aku buru-buru menggeleng.

"……Benarkah, tidak ada apa-apa?"

Yangari bertanya untuk memastikan.

"……Kalau memang tidak berdasar, kupikir Miori akan menyangkalnya."

"Aku juga berpikir begitu. Dia tipe anak yang akan mengajak berkelahi jika dia merasa kesal."

Kami berdua mengangguk. Aku setuju. Miori bukanlah orang lemah yang akan menyerah karena gosip murahan.

"Kalau soal ada kejadian yang mendasari, ya cuma yang kuceritakan tadi."

Meski masih ada beberapa hal yang mengganjal, hanya itu yang bisa kukatakan. Sisanya hanyalah spekulasi. Karena aku tidak tahu perasaan Miori yang sebenarnya. Serika bicara seolah merapikan situasi.

"……Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Miori. Dia sudah izin sejak hari setelah turnamen olahraga, dan tidak ada kesempatan untuk bertanya. Karena itulah gosip itu terasa makin nyata."

Yangari mengangguk serius dan mendesak Serika melanjutkan.

"Grup kami juga ingin melindungi Miori, tapi karena orangnya izin dan tidak bisa dihubungi, kami tidak bisa bertindak tegas terhadap gosip itu... Bahkan ada teman-teman yang mulai meragukan Miori."

"Merepotkan sekali," Serika menghela napas. Bagi Serika yang tidak tertarik pada hal selain musik, situasi ini pastinya sangat mengganggu.

"Tapi, aku tidak bisa membiarkan Miori. Dia temanku."

"Benar juga..." Yangari mengangguk dan melanjutkan ucapannya.

"Masalah utamanya adalah kita tidak bisa menghubungi Miori-chan, kan?"

"Ya. Kalau cuma flu biasa, seharusnya dia bisa membalas pesan. Miori memang bukan orang yang rajin membalas pesan, tapi menurutku aneh jika dia tidak membalas pesan bukan hanya dari kami, tapi juga dari pacarnya, Reita."

Mendengarnya kembali, situasi terasa lebih serius.

"Natsuki-kun, rumahmu dekat, kan?"

"Yah... sekitar 15 menit berjalan kaki."

"Aku khawatir pada Miori-chan, bisakah kau menjenguknya?"

Yangari menyatukan kedua tangannya, memohon.

"……Apa tidak apa-apa kalau aku yang pergi?"

"Aku percaya pada Natsuki-kun."

Yangari menatap mataku dan mengangguk pelan.

"Yah, kita harus memastikan apakah dia benar-benar sakit atau ada penyebab lain..."

Serika bergumam. Memang itu langkah yang perlu dilakukan. Saat ini, kejadian ini menimpa Miori. Sulit bagi kami untuk menangani gosip ini tanpa tahu pendapat Miori sendiri.

"Mengerti. Aku akan coba melihat kondisinya."

...Sejujurnya, aku punya firasat buruk. Jika memang hanya flu, pasti dia bisa membalas RINE. Jadi, tidak salah lagi pasti terjadi sesuatu.

Sebelum naik kereta pulang, aku mencoba mengirim pesan pada Miori. Namun, setelah satu jam berlalu, pesannya bahkan tidak dibaca. Benar saja, tidak ada cara lain selain mengunjunginya langsung. Tapi, tubuhku terasa sangat berat. Firasat buruk itu semakin kuat. Mungkin karena aku bisa menebak apa yang terjadi. Aku hanya berharap tebakanku salah.

Setelah turun dari kereta, aku membeli buah tangan di minimarket. Berjalan sekitar dua puluh menit, aku sampai di rumah Miori.

Itu adalah rumah tua yang besar di tengah kawasan perumahan. Di taman yang luas dan terawat, terdapat ring basket yang merusak pemandangan. Di tempat parkir di sampingnya, terparkir Alphard putih. Tidak ada yang berubah sejak terakhir aku datang ke sini bertahun-tahun lalu.

Seorang wanita tua dengan rambut putih dan punggung bungkuk sedang duduk di teras (engawa). Dia menyadari kehadiranku di depan gerbang dan perlahan berdiri.

"Oh, mungkinkah ini Natsuki-kun? Sudah besar sekali, ya."

"Halo, Nek. Sudah lama tidak bertemu."

Nenek Miori mendekat sambil bertumpu pada tongkatnya. Aku tidak menyangka dia masih mengingatku padahal sudah empat atau lima tahun aku tidak berkunjung.

"Aku sering mendengar cerita tentangmu dari Miori. Benar kata anak itu, kau sudah jadi lelaki yang tampan, ya."

Dengan senyum ramah, nenek menatapku.

"……Apa Miori membicarakan aku?"

"Tentu saja. Dia sering membicarakanmu apa saja. Bilang kau suka bergaya, bilang kau bodoh, bilang kau payah—semuanya hanya keluhan. Tapi, dia bicara dengan sangat senang."

"Hahaha..." Aku tertawa getir sambil menanggapi. Itu memang Miori sekali.

"Pasti dia senang sekali bisa akrab lagi denganmu, kan?"

"……Kalau memang begitu, aku senang. Dia memang orang yang tidak jujur."

Ngomong-ngomong, aku memotong pembicaraan untuk masuk ke inti masalah.

"Apa Miori baik-baik saja? Sepertinya dia sudah lama izin sekolah..."

"Jangan-jangan, kau datang menjenguknya?"

Karena Nenek bertanya balik, aku mengangguk. Nenek kemudian memasang raut wajah muram.

"Sepertinya kondisinya sedang tidak baik. Dia mengurung diri di kamar dan tidak keluar."

"……Begitu, ya. Boleh aku mengganggunya sebentar? Ada yang ingin kubicarakan."

"Silakan, silakan. Miori pasti senang. Sekalian minum teh di sini."

Aku melepas sepatuku dan masuk ke dalam. Aku diarahkan ke ruang keluarga.

Di atas lantai tatami, sebuah meja panjang diletakkan, dikelilingi oleh banyak zabuton yang berjajar. Di atas piring meja itu terdapat jeruk dan wagashi, dan di ujungnya tampak teh yang sepertinya milik sang nenek.

"Tunggu sebentar di sini, ya."

Sesuai kata-katanya, aku duduk di atas zabuton menunggu. Nenek menyuguhkan teh untukku. Aku merasa tidak enak hati karena merepotkan beliau. Aku sudah menyerahkan buah tangan, tapi kehadiranku yang tiba-tiba ini pasti membuat beliau bingung...

Dalam manga atau anime, adegan menjenguk orang sakit adalah hal yang lumrah, tapi di dunia nyata, rasanya jarang dilakukan.

Itu hanya akan menyusahkan si pasien, dan kalau tertular flu, jadinya malah bumerang bagi diri sendiri.

Yah, mungkin kalau untuk orang yang tinggal sendiri, menjenguk berguna untuk membawakan bahan makanan atau semacamnya.

...Tapi kali ini situasinya agak khusus, jadi aku berharap beliau memakluminya.

Sambil meminum teh yang disuguhkan, aku mengamati sekeliling. Di samping meja tempat televisi yang menayangkan acara travel, terdapat foto Miori saat masih kecil bersama kedua orang tuanya.

Orang tua Miori adalah pasangan yang bekerja. Kemungkinan besar, keduanya belum pulang. Saat ini di rumah hanya ada Miori dan sang nenek. Aku mendengar bahwa kakeknya sudah meninggal dunia.

Setelah menunggu beberapa lama, nenek kembali lagi.

"Maaf ya, Natsuki-kun. Sepertinya anak itu sekarang tidak mau bertemu siapa pun... padahal kondisi fisiknya seharusnya sudah jauh membaik. Tapi, aku heran juga kenapa dia sampai kena flu..."

"……Begitu, ya."

Ternyata benar, ini bukan sekadar flu.

"Apa jangan-jangan, terjadi sesuatu di sekolah? Apa kau tahu sesuatu, Natsuki-kun?"

"……Sedikit. Tapi, apakah itu penyebab dia izin sekolah, aku harus menanyakannya langsung pada Miori."

Pandanganku bertemu dengan nenek. Tanpa memalingkan wajah, aku berkata, "Bolehkah saya pergi ke depan pintu kamar Miori?"

Aku sudah mengerti kalau dia tidak ingin menemuiku.

Tapi, jika aku pulang begitu saja, tidak akan ada perubahan apa pun.

Nenek melunakkan ekspresinya, lalu berkata dengan suara lembut, "Tolong jaga dia, ya."

Aku berdiri di depan kamar Miori.

Terdengar langkah kaki kecil mendekat; anjing yang dirawat Miori menghampiriku. Kalau tidak salah namanya Ku, ya? Ku mengendus ujung sepatuku, lalu menggosokkan tubuhnya ke kakiku. Setelah itu, dia menatap lekat ke pintu kamar yang tertutup rapat.

"……Kau juga khawatir, ya."

Setelah mengusap kepala Ku, aku mengetuk pintu kamar Miori.

"Miori, ini aku. Kau tidak apa-apa?"

Terdengar suara selimut yang bergerak, basa. Namun, tidak ada jawaban.

"Semua orang khawatir. Setidaknya balaslah pesan RINE-ku."

Meski tidak ada reaksi, aku terus berbicara.

"Apa kondisimu sudah membaik? Aku membawa buah tangan, apa kita tidak bisa bertemu sebentar? Ah, aku juga membawa tugas dari Serika. Katanya ini soal pekerjaan rumah dan pengumuman selama kau izin."

Aku berusaha mengatakannya seceria mungkin, tapi hanya keheningan yang dingin yang menyambutku. Aku ragu, apakah harus membahas soal gosip itu atau tidak. Saat sedang bimbang, sebuah suara terdengar.

"……Maaf. Tolong sampaikan permintaan maafku pada semuanya."

Pintu masih belum terbuka. Tapi ada tanda-tanda keberadaan orang di sana.

Miori berdiri tepat di balik pintu dan berbicara kepadaku.

"Sekarang, aku tidak ingin bertemu siapa pun... termasuk dirimu. ...Jadi, pulanglah."

Suaranya nyaris menghilang.

Bagaimanapun juga, jelas sekali keadaannya tidak normal.

"Kalau tidak mau bertemu, begini saja tidak apa-apa. Tapi, setidaknya biarkan aku mendengar ceritamu."

Aku duduk bersila di depan pintu kamar. Itu adalah pernyataan bahwa aku tidak akan pulang sampai aku mendengar ceritanya.

"Kau tidak sekadar kena flu, kan? Apa yang terjadi?"

"……Bukankah kau datang ke sini karena sudah tahu semuanya?"

Jawaban itu keluar seperti gumaman yang lirih.

"Kalau soal gosip yang beredar di kelas 1, aku sudah mendengarnya."

Hyu, terdengar suara Miori yang menahan napas. Reaksi itu memastikan bahwa penyebab Miori izin sekolah memang ada hubungannya dengan gosip tersebut.

"Memang ada perilaku yang terlihat seperti itu. Tapi, itu murni kecelakaan. Kalau begitu, seharusnya kau membantah dengan tegas. Aku pun akan menyangkalnya. Kau bukan karakter yang akan diam saja dan menangis, kan?"

"……Mungkin begitu."

"Gadis bernama Hasegawa yang menyebarkan gosip itu sepertinya tidak menyukaimu. Mungkin karena itu, ada bagian dari ceritanya yang diputarbalikkan. Kalau dibiarkan terus, gosip itu akan semakin meluas."

"……Ceritanya tidak diputarbalikkan, kok."

Aku mengerutkan kening mendengar jawaban Miori. Karena aku tidak mengerti apa yang ingin dia katakan.

"Grup Hasegawa-san sudah mengonfirmasinya langsung kepadaku. Gosip yang beredar itu, semuanya adalah fakta."

"Fakta? Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang mereka katakan—"

"——Bukankah kau sudah tidak cukup naif untuk bersikeras bilang tidak mengerti?"

Miori memotong kata-kataku, membuatku kehilangan kata-kata untuk membantah.

Aku punya sedikit firasat. Satu hal yang aku harap tidak akan menjadi kenyataan.

Hari itu. Setelah aku menahan Miori, apa yang kupikirkan?

“Ma-maaf... kakiku, tidak bisa digerakkan dengan benar...”

“Kalau aku bilang aku suka padamu... apa yang akan kau lakukan?”

“Aku pulang! Kalau tidak cepat, kereta terakhir akan habis!”

Miori tersandung karena kelelahan. Itulah kenapa aku menahannya. Aku pikir dia tidak langsung melepaskan pelukan karena menunggu kakinya pulih. Namun sesaat kemudian, Miori malah memikirkan waktu kereta terakhir dan lari lebih dulu.

“...Kakinya, sama sekali tidak apa-apa.”

Saat itu, aku—sempat berpikiran macam-macam.

Bayangan yang melintas di benakku adalah delusi konyol yang terlalu menguntungkan bagiku.

"——Semuanya, itu disengaja."

Namun, seolah mengonfirmasi delusi itu, Miori melanjutkan.

"Jadi, tidak ada ruang untuk alasan. Meskipun aku berpacaran dengan Reita-kun, aku memelukmu. Aku pikir kalau aku beralasan kakiku tersandung, mungkin tidak apa-apa. Padahal itu hal yang mustahil. ...Bodoh, ya? Aku sudah kalah. Kalah dari perasaan cinta yang seharusnya aku segel."

Suara Miori diselingi isak tangis.

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Karena aku tidak tahu harus berkata apa.

Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi bolehkah aku melangkah sejauh itu?

Karena kalau cerita itu benar, berarti Miori... menyukaiku.

"Tolong sampaikan pada semuanya. Maaf sudah membuat kalian khawatir. Tapi, karena gosip itu adalah fakta, jangan coba-coba menghentikannya atau menyangkalnya, ya. ...Dan jangan salahkan Hasegawa-san dan yang lainnya."

Aku tidak ingat kejadian setelahnya.

Karena tidak menemukan kata-kata yang tepat, aku meninggalkan tempat itu seolah melarikan diri.

(Motomiya Miori)

"……Apa kau yakin melakukan itu?"

Setelah memastikan Natsuki sudah pergi, Saya bertanya.

"Hanya ini yang bisa kulakukan. Semuanya, ini salahku."

Sambil duduk bersimpuh di atas tempat tidur, aku berbicara pada Saya yang berdiri di dekat jendela.

Alasannya sederhana; dia menyusup masuk lewat jendela tanpa izin.

Saya adalah teman masa kecilku yang tinggal dua rumah dari sini.

Meski usianya setahun di bawahku, kami sudah akrab sejak lama, dan sering kali dia menyelinap masuk lewat jendela seperti hari ini, dan aku pun menerimanya.

"Kenapa tidak pura-pura saja kalau kau tersandung? Sebenarnya itu bukan masalah besar. Sedikit berpelukan, kalau kau memanipulasinya sedikit, tidak akan ada yang menyalahkanmu, tahu?"

Saya mengusulkan dengan santai. Sejujurnya, aku berbohong kalau bilang pikiran itu tidak melintas di kepalaku.

"……Tidak boleh. Kalau begitu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."

Aku sudah melakukan kesalahan yang cukup buruk, aku tidak mungkin melakukan hal seperti melindungi diri dengan kebohongan.

"Ternyata kau orang yang menjunjung tinggi kebersihan diri secara tak terduga, ya."

Saya mengedikkan bahu dan menghela napas.

"Maafkan aku. Padahal aku yang meminta saran, malah jadi begini."

"Aku tidak masalah, sih... tapi jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, ya?"

Sejak sebelum turnamen olahraga, aku sering berkonsultasi dengan Saya.

Tentang aku yang punya pacar.

Tentang aku yang punya orang lain yang kusukai.

Tentang orang itu adalah teman masa kecilku.

Tentang betapa menderitanya aku karena ingin menyukai pacarku yang sekarang, tapi tidak bisa.

Karena curhatanku adalah sesuatu yang tidak bisa kusampaikan kepada orang-orang dalam lingkaran pergaulanku sehari-hari.

Meski akrab dengan Saya sejak dulu, pergaulan kami berbeda, jadi itu terasa pas.

"Lagipula, ada bagian di mana Haihara-senpai yang tidak menolak itu juga salah, sih."

"……Hentikan. Natsuki, dia mempercayaiku."

Aku telah mengkhianati kepercayaan itu. Karena itu pula, aku menyusahkan Natsuki.

"……Kurasa bukan cuma itu saja alasannya. Alasan kenapa Haihara-senpai tidak segera melepaskanmu."

Saya bergumam sambil menatap ke luar jendela. Aku tidak paham arti kata-katanya. Saat aku mengernyitkan dahi, Saya tersenyum getir.

"Yah, apa pun itu, tidak ada gunanya terus murung, kan?"

"……Ya, benar juga. Aku tahu. Sebentar lagi, aku harus pergi ke sekolah."

Logikanya aku tahu. Aku tidak bisa terus mengurung diri selamanya.

Jadi, aku harus pergi ke sekolah. Tapi, entah mengapa, langkahku selalu menjauh dari sekolah.

Bukan karena gosip buruk dari Hasegawa dan teman-temannya. Tapi karena aku tidak sanggup menatap wajah Natsuki dan teman-temannya.

"……Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?"

Saat kutanya, Saya mengerang "Hmm," lalu berkata.

"Karena aku tidak sesensitif Senpai, aku akan langsung minta maaf dan selesai."

...Benar juga. Seperti kata Saya. Ujung-ujungnya, terus seperti ini hanya berarti aku sedang melarikan diri.

Apa pun yang terjadi, pertama-tama aku harus meminta maaf kepada orang-orang yang telah kususahkan.



Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close