Chapter 1
Hari-Hari Seperti Biasa
Sehari setelah
turnamen olahraga.
Malam sudah
larut. Angin musim gugur yang dingin berhembus kencang melewati pintu keluar
selatan Stasiun Maebashi.
Di sini hanya ada
aku, Serika, dan satu orang lagi.
Seorang gadis
berambut bob dengan ujung rambut yang sedikit melengkung.
"――Sudah
lama tidak bertemu, Haibara-senpai! Aku Yamano Saya. Mohon bantuannya!"
Kandidat anggota
baru band yang diperkenalkan oleh Serika ternyata adalah kenalanku.
"Eh?
Karena bilang sudah lama tidak bertemu, berarti kalian saling kenal?"
Serika
bergumam dengan nada terkejut. Sepertinya dia tidak tahu kalau kami saling kenal.
Aku pun sama
terkejutnya. Tidak mungkin rasanya kenalan lamaku yang jumlahnya bisa dihitung
jari muncul dalam situasi seperti ini! Ternyata dunia ini sempit juga. Yah, aku
sendiri tidak tahu apakah kami bisa disebut teman atau bukan. Lebih
tepatnya, kami memang bukan teman…… ah, entah kenapa aku jadi sedih.
"Betul sekali! Aku satu SMP dengan
Haibara-senpai!"
Berbeda denganku yang diam-diam merasa sedih, Yamano
menjawab dengan penuh semangat.
"Ah, begitu ya," Serika mengangguk seolah
mengerti, lalu melanjutkan ucapannya.
"Itu
kebetulan yang luar biasa."
"Tidak
juga, dari sejak melihat konser saat festival budaya, aku sudah tahu kalau
Haibara-senpai yang jadi vokalisnya, jadi ini bukan kebetulan kok. Maaf
ya, aku tidak bilang sebelumnya…… Justru sepuluh persen alasan aku ingin
bergabung dengan band ini adalah karena ada Haibara-senpai."
"……Hah, cuma sepuluh persen?"
Setelah pulih dari keterkejutan, aku mencoba ikut masuk
dalam percakapan mereka berdua.
Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu kembali dengan
Yamano di sini.
Dalam kehidupanku yang pertama, seharusnya kami tidak pernah
bertemu lagi setelah lulus SMP. Walaupun sekarang Yamano mengajakku bicara
dengan santai, dia memang tipe orang yang bersikap seperti ini kepada siapa
pun.
Kami tidak terlalu dekat, dan tidak ada alasan khusus bagi
kami untuk bertemu.
Kurasa dia tidak melanjutkan ke SMA yang sama denganku. Atau
mungkin hanya aku saja yang tidak tahu.
……Apakah karena
konser festival budaya kita, jalan hidup Yamano jadi berbeda dari kehidupan
pertamaku?
Masa depan
pendidikan Yamano memang masih panjang, tapi kemungkinan itu ada.
Yah,
memikirkannya juga tidak ada gunanya.
Karena aku
melakukan time leap, wajar saja jika tindakanku mengubah sejarah yang
seharusnya terjadi.
Kalau aku terus
memikirkan hal itu, tidak akan ada habisnya, dan tujuan utamaku untuk mengubah
warna masa mudaku pun tidak akan tercapai.
"Ahaha,
sembilan puluh persen sisanya karena ada Serika-senpai! Tentu saja!"
Yamano mengakui
ledekanku tadi tanpa rasa bersalah sama sekali. Dia masih sama seperti dulu.
Dia memang orang
seperti itu sejak dulu. Kepada siapa pun, dalam situasi apa pun, dia tidak
pernah berbohong.
"Lagipula
Haibara-senpai, saat melihatmu di festival budaya, aku hampir tidak percaya
mata dan telingaku sendiri. Soalnya, orang yang terlihat sama sekali bukan
Haibara-senpai memperkenalkan diri sebagai vokalis bernama Haibara Natsuki.
Bukankah perubahan imej-mu keterlaluan? Apalagi nyanyianmu sangat bagus. Aku
benar-benar terkejut."
Yamano menepuk
punggungku dengan penuh semangat. Sakit tahu.
"Apa
aku benar-benar berbeda dengan yang dulu?"
Menanggapi
pertanyaan Serika yang kebingungan, Yamano mengangguk.
"Dulu dia lebih ke arah, suram…… bukan, lebih
tepatnya memancarkan aura kegelapan."
Hei, bukankah kau
mencoba memilih kata tapi malah gagal? Apa maksudmu dengan kegelapan? Apa aku
ini penderita chuunibyou?
"Aku
kan melakukan debut SMA."
Aku menghela
napas sambil melengkapi perkataan Yamano.
Jujur saja, aku
malas harus menjelaskan hal itu sendiri, jadi tolong hentikan.
"Ngomong-ngomong,
aku merasa pernah mendengar cerita itu dari Miori juga."
Serika bergumam
seolah tidak peduli, lalu mengganti topik pembicaraan.
"Yah,
sudahlah. Bagaimanapun, kalau kalian sudah saling kenal itu lebih bagus. Jadi
aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan."
Kalau tidak
tertarik, tidak perlu dijelaskan pun tidak apa-apa! Sepertinya keluh kesah
dalam hatiku tidak sampai ke telinga Serika. Serika melanjutkan kalimatnya
dengan tenang seperti biasa.
"Rencananya
dia akan ikut latihan sebentar lagi untuk tryout. Tidak masalah,
kan?"
"Ah,
tentu saja," jawabku sambil mengangguk.
Meskipun
sangat terkejut, aku tidak punya keberatan.
Lagipula,
memiliki kenalan jauh lebih baik daripada orang asing.
Meski
temanku sudah bertambah sedikit demi sedikit, sifat asliku yang canggung dalam
bersosialisasi tetap tidak berubah……
"Lagipula
kalau Serika sudah suka, aku tidak punya alasan untuk menolak."
Penilaian Serika
jauh lebih akurat dibandingkan penilaianku atau Mei.
"Ya,
setidaknya begitu. Sebaliknya, menurutku lebih baik jika Saya juga mencoba
sekali sebelum memutuskan."
"Itu benar
juga. Bisa saja kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan."
Sekarang dia
bilang ingin bergabung, tapi bisa saja dia kecewa setelah mencoba latihan.
Terutama saat
mendengar gitarku. Penampilanku di festival budaya itu hanyalah sebuah
keajaiban, lho. Fufufu.
"――Ah, maaf!
Aku harus mengejar kereta sekarang!"
Yamano yang baru
saja melihat ponselnya berteriak panik.
Saat kulihat jam
tangan, ternyata tiga menit lagi kereta yang kuincar akan datang. Yah, Yamano
berasal dari SMP yang sama denganku, jadi arah pulang kami sama, dan kereta
yang dinaiki pun pasti sama.
"Baiklah,
cukup sampai di sini dulu untuk hari ini. Sampai jumpa, kalian berdua."
Bye-bye, Serika melambaikan tangannya.
"Ya, sampai
jumpa lagi."
"Senpai,
kita naik kereta yang sama, kan? Ayo pergi!"
Kami membelakangi
Serika dan bergegas menuju peron stasiun.
Saat turun
tangga, kereta yang kami tuju baru saja tiba. Kami masuk bersama Yamano, dan
saat pintu menutup, aku menghela napas "huft" sambil menyeka keringat
di dahiku.
Karena ini sudah
lewat jam sibuk, kereta tidak terlalu penuh. Yah, kereta swasta yang kami naiki
dari Stasiun Takasaki memang tidak terlalu padat meski di jam sibuk…… Makanya,
saat kuliah nanti aku baru mengerti apa itu kepadatan yang sebenarnya saat naik
kereta di Tokyo.
"Eh, umm.
Jadi, kita duduk saja?"
Aku mengangguk
mendengar ucapan Yamano dan kami duduk bersebelahan di kursi kereta.
……Setelah menarik
napas lega, suasananya terasa agak canggung. Yah, kami memang tidak terlalu dekat.
Namun,
tidak ada alasan bagiku untuk menjaga jarak saat pulang dengan kereta yang
sama. Lagi pula, jika tidak ada halangan, mulai sekarang kami akan berada di
band yang sama. Sepertinya kami memang perlu mengakrabkan diri.
Apakah
ada topik pembicaraan? Mungkin
cerita masa lalu adalah pilihan yang paling aman.
Saat aku melirik
sekilas ke arah Yamano yang duduk di sebelahku, dia terlihat sedikit lebih
dewasa dibandingkan saat itu.
Mungkin hanya
ingatanku yang samar karena sudah lama sekali sejak terakhir kali melihatnya.
"Senpai,
tadi bilang melakukan debut SMA, ya?"
Saat aku
sedang mencari bahan pembicaraan, Yamano mengajakku bicara lebih dulu.
"……Ah,
iya. Aku ingin menikmati kehidupan SMA yang menyenangkan, jadi aku mengubah
diriku."
"Tidak
terduga, ya. Senpai saat SMP tidak terlihat seperti orang yang punya pikiran
seperti itu."
Saat SMP,
aku memang sengaja menjaga jarak dari orang lain.
"……Saat itu
aku hanya merasa iri. Sebenarnya
aku iri dengan orang lain."
Aku
menyembunyikan perasaan itu. Yah, menyembunyikan pun tidak ada gunanya,
lagipula tidak ada orang yang bisa diajak bicara.
Singkatnya,
aku menyadari diriku bukan seorang loner (penyendiri), melainkan seorang
soliter.
Aku terus
membohongi diriku sendiri dengan berkata: Aku tidak punya teman bukan karena
tidak bisa, tapi karena aku lebih suka sendirian! Kalau mau dibuat, aku bisa saja punya teman!
Namun, pertahanan
diri itu tidak bertahan lama.
"Artinya,
Senpai benci masa SMP yang dihabiskan bersamaku?"
Yamano menatapku
dengan wajah tidak puas.
"Lagipula,
aku tidak punya banyak ingatan menghabiskan waktu bersama Yamano……"
Karena kami satu
SD, aku tahu eksistensinya. Gadis kecil imut yang satu tingkat di bawahku.
Hanya itu
pengenalanku akan Yamano.
Tapi, aku lulus
SD tanpa pernah berinteraksi banyak dengannya.
Kami baru mulai
mengobrol dengan benar saat aku kelas dua SMP.
Karena tidak
punya tempat di kelas, aku biasanya makan siang di atap sekolah.
Di landing
tangga menuju atap, ada banyak meja dan kursi yang tidak terpakai. Jika
melewatinya, pintu atap tidak dikunci. Tapi karena merepotkan, biasanya orang
tidak mendekat ke sana.
"――Eh, ternyata ada orang…… eh, Haibara-senpai?"
Satu-satunya
tempat milikku itu tiba-tiba kedatangan tamu asing, yaitu Yamano.
"Aku cuma mencari tempat untuk menyendiri…… tapi, kalau
dengan Senpai sih tidak masalah."
Aku masih ingat
kalimat itu. Singkatnya, keberadaanku terlalu tidak terasa sampai-sampai
dianggap sendirian. Benar-benar sebuah kejadian yang mempertegas kesadaranku
bahwa keberadaanku ada atau tidak pun tidak akan berpengaruh (?).
"Halo,
Senpai. Hari ini pun Senpai terlihat tidak bersemangat."
"……Bising
sekali kau."
Apa pun itu,
sejak saat itu kami terkadang makan siang bersama di atap.
……Apakah tepat
menggunakan kata "bersama"? Jarak kami seperti orang asing yang hanya
kebetulan makan di tempat yang sama. Jarak fisik kami bahkan cukup luas untuk
menampung satu orang berbaring.
Kami
hanya sesekali mengobrol, selebihnya kami makan dengan tenang.
Aku tidak tahu
apakah itu bisa disebut teman. Hanya kenalan. Hubungan sebatas itu.
"……Yamano,
ternyata kau main drum ya."
"Aku sudah
di klub musik ringan sejak SMP, kok. Yah, meski akhirnya berhenti di tengah
jalan."
Sama sekali tidak
tahu.
Mungkin karena
sudah lama tidak bertemu, banyak sekali informasi baru yang muncul begitu
saja……
Penyebabnya
adalah karena aku yang dulu tidak pernah menanyakan apa pun kepada Yamano. Yah,
saat SMP aku memang menghindari interaksi dengan manusia sebisa mungkin……
Hubunganku dengan Yamano pun sangat dangkal.
Yamano tidak akan
menceritakan tentang dirinya kalau tidak ditanya, dan itu juga berlaku untukku.
Sesekali kami
hanya membicarakan hal-hal sepele seperti cuaca hari ini, pelajaran yang
membosankan, atau guru yang menyebalkan, dan hubungan yang aneh itu terasa
nyaman.
Karena itulah,
kurasa hubungan kami bertahan sampai aku lulus.
"Senpai
sendiri, baru mulai main gitar sejak SMA? Padahal sudah sangat mahir."
"Berhenti
memujiku…… Tanpa support dari Serika, permainanku pasti tidak bisa
didengar."
"Itu terlalu
merendah. Itu sudah sangat mahir, jadi percayalah pada diri sendiri."
"Bagaimana
bisa percaya diri kalau Serika yang memetik gitar di sebelahku……?"
Karena gitar yang
dimainkan Serika membuatku ingin menganggapnya sebagai instrumen yang berbeda
dari gitarku.
Sudah tidak
terhitung berapa kali aku merasa putus asa.
"Ahaha! Itu
memang benar juga!"
Yamano tertawa
terbahak-bahak. Dibandingkan dulu, ekspresinya terlihat lebih ceria.
Siapa sangka aku
bisa bertemu kembali dengan Yamano, orang yang dulu hanya kutemui di atap
sekolah……
"Bagaimana
kabar Miori-senpai belakangan ini? Kalian di SMA yang sama, kan?"
Aku tidak
menyangka dia akan menyinggung soal Miori. Aku refleks berkedip.
"Ngomong-ngomong,
bukannya kalian dekat?"
"Ya.
Rumah kami berdekatan. Karena orang tua kami saling kenal, kami sudah lama
berhubungan."
"Begitu
ya. Tapi ditanya bagaimana kabar belakangan ini, aku juga……"
Aku
merasa Miori akhir-akhir ini lebih sering memasang wajah suram.
Aku tahu
dia sedang memikirkan sesuatu, tapi aku tidak menanyakan detailnya. Aku
khawatir, tapi aku takut ikut campur terlalu jauh karena aku bukan lagi orang
yang bisa membantunya.
"……Jangan-jangan,
kalian sedang bertengkar?"
Yamano
menatapku dengan wajah serius lalu bertanya sekali lagi.
"Tidak, tidak juga…… lagipula, belakangan ini kami
jarang bicara."
Terakhir kali kami bicara dengan benar adalah saat bermain
basket di taman beberapa hari sebelum turnamen olahraga.
Aku merasa dia menghindariku.
"Padahal saat SD kalian begitu dekat. Selalu
berempat."
……Berempat, ya. Dua orang sisanya pasti Takuro dan Shuto.
Saat SD, aku, Miori, Takuro, dan Shuto memang selalu
bersama.
Miori adalah pemimpinnya, dan kami bertiga selalu mengejar
punggungnya.
"Kau
ingat dengan baik ya, hal selamam itu."
Yah, bagi Yamano
mungkin itu kejadian empat atau lima tahun lalu.
Sedangkan bagiku,
ingatanku sudah ditambah tujuh tahun, jadi ingatanku agak samar.
Yang kuingat
dengan jelas hanyalah masa SMA di kehidupan pertamaku.
Sebelum itu, aku
hanya ingat momen-momen yang berkesan.
"Tentu saja
aku ingat. Kalian berempat sangat menonjol."
"Tapi
bukankah kau juga tahu kalau saat SMP aku hampir tidak pernah bicara dengan
Miori?"
"Miori-senpai bilang kalian sudah berbaikan saat SMA,
kan?"
Yah…… begitu. Walaupun belakangan ini hubungan kami kembali
menjadi canggung.
Aku pun menceritakan garis besar bagaimana aku dan Miori
kembali akrab di SMA kepada Yamano.
Singkatnya, itu adalah cerita tentang bagaimana Miori
membantuku melakukan debut SMA.
"――Karena
itulah kerja sama kami berakhir. Kalau belakangan ini jarang bicara, ya karena
itu. Kelas kami berbeda, masing-masing sudah punya pacar, dan tidak ada alasan
untuk sengaja bicara."
Yamano mendengarkan ceritaku dengan wajah yang terlihat
rumit.
"Begitu ya.
Ternyata seperti itu. Begitu rupanya……"
Yamano bergumam
seolah paham, lalu menatapku lekat-lekat.
"……Agak
mengejutkan, ya."
"Apanya?"
"Aku kira
Haibara-senpai menyukai Miori-senpai."
Yamano mengatakannya dengan enteng. ……Aku, menyukai Miori?
Saat hendak menertawakannya, entah mengapa suaraku tidak keluar. Tiba-tiba yang
terlintas di pikiranku adalah momen saat aku memeluk Miori di malam itu.
"Dilihat dari reaksimu, sepertinya tidak sepenuhnya
salah ya."
"……Sebagai
teman aku menyukainya, tentu saja. Tapi, aku tidak jatuh cinta."
Aku menggelengkan kepala. ……Apakah itu benar? Aku sendiri tidak yakin dengan perkataanku.
Aku merasa
perasaanku sedikit berbeda dibandingkan perasaan pada teman lainnya. Tapi, itu
mungkin karena dia teman masa kecilku, seseorang yang tahu sifat asliku, dan
aku sangat mempercayainya. ――Pasti hanya itu.
"Tapi,
setidaknya dulu kau menyukainya, kan?"
Mendengar
pertanyaan Yamano, aku mencoba menggali ingatan masa lalu yang hampir hilang.
……Memang, jika
dipikir sekarang, mungkin ada saatnya aku jatuh cinta pada Miori.
Coba pikirkan
secara normal. Meskipun sifatnya tomboi, pada dasarnya wajahnya imut.
Wajar saja kalau
gadis seperti itu ada di dekatmu, sesekali pasti akan jatuh cinta.
Mungkin itu hanya
perasaan cinta yang samar, yang akan hilang dengan sendirinya.
"Itu cerita
waktu kecil. Aku bahkan tidak menyadarinya."
"Ah, kau
mengakuinya ya. Hehe, ternyata benar begitu, ya~"
Yamano tersenyum
jahil sambil menyenggol bahuku. Wajahnya menyebalkan sekali.
"Aku kasih
tahu rahasianya, cinta pertama Miori-senpai sepertinya juga Haibara-senpai,
lho?"
Yamano berbisik.
Kalau aku yang
dulu mendengarnya, pasti aku akan membantahnya, tapi sekarang aku bisa
mempercayainya entah mengapa.
Lagi pula, itu
sudah cerita masa lalu.
Mau itu benar
atau bohong, itu tidak akan mempengaruhi masa kini.
"Tidak
penting. Karena sekarang kami sudah berbeda."
Apa pun masa
lalunya, yang kusukai sekarang adalah Hikari, dan yang disukai Miori adalah
Reita.
Jadi, tidak ada
alasan untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu.
Tidak perlu lagi
mengingat hal-hal masa lalu seperti itu.
"……Yah,
memang benar juga sih."
Di tengah
perbincangan itu, kereta sampai di stasiun tak berpenghuni di daerah kami.
Meski kami turun
bersama, ternyata arah rumah kami berbeda.
"Ya sudah,
Senpai. Aku ke arah sini."
"Ah. Kalau
begitu, sampai jumpa. Meski kita pasti akan segera bertemu lagi."
"Betul juga!
Aku akan menunjukkan kemampuan drumku yang memukau kepada Senpai!"
Yamano tertawa
kecil, lalu tiba-tiba wajahnya berubah serius.
"――Ngomong-ngomong Senpai, kau sudah berubah ya."
"Hm? Ah…… karena saat SMP aku sangat gemuk."
"Bukan
penampilannya, yah, itu juga sih…… maksudku isi di dalamnya."
Yah, bagi Yamano
yang tahu masa laluku, mungkin dia akan berpendapat begitu.
"Saat SMP,
kau jauh lebih menutup diri dari orang lain, kan? Kau tidak tertarik pada apa
pun. Dibandingkan saat itu, kau jauh lebih mudah didekati sekarang. Meski kalau
mau bicara buruk, ketahanan manusiamu jadi menurun."
"Kenapa kau
malah mengatakannya dengan buruk……"
Saat aku
mengeluh, Yamano tertawa terbahak-bahak.
Seperti kata
Yamano, aku rasa aku memang orang yang sulit didekati saat SMP.
Setelah menjadi
penyendiri di SMP, aku mulai tidak percaya pada orang lain dan sengaja menutup
diri.
Aku sempat
percaya bahwa kalau punya hobi otaku, aku bisa hidup tanpa teman.
Tapi, itu hanya
bualan. Yang sebenarnya kuinginkan adalah masa muda di mana aku bisa tertawa
bersama teman.
Itulah sebabnya
aku masuk ke sekolah yang jauh dari rumah dan merencanakan debut SMA.
"Yah, Senpai
yang saat itu terasa nyaman bagi aku yang saat itu. Makanya aku menemanimu di
atap, kan? Karena Senpai tidak tertarik padaku sama sekali."
Yamano menatap
kejauhan seolah merindukan masa lalu.
……Meski aku yang
sekarang, aku tahu kalau Yamano saat itu memiliki permasalahannya sendiri.
Tanpa alasan, dia
tidak mungkin mau melewati tumpukan meja berdebu untuk pergi ke atap, lalu
duduk di sebelah senior yang tidak terlalu dekat dengannya untuk menghabiskan
waktu istirahat.
Aku
sempat mendengar rumor bahwa ada siswi yang terasing di kelas satu.
Aku tidak
tahu apakah itu Yamano atau bukan.
"Karena
Senpai lulus tanpa bicara, aku jadi tidak sempat mengatakannya――"
Tak disangka,
Yamano membungkukkan badannya dalam-dalam.
"Terima
kasih untuk waktu itu. Mulai sekarang pun, mohon bantuannya."
Aku tidak
melakukan apa-apa sampai dia perlu berterima kasih dengan sikap yang begitu
tulus. Lebih tepatnya, aku tidak melakukan apa-apa. Meskipun bagi Yamano saat
itu, hal tersebut sangat berkesan.
"……Tidak
yakin juga kita akan berhubungan baik mulai sekarang, kan?"
"Ahaha!
Benar juga! Pertama-tama aku harus lulus tryout-nya dulu!"
Yamano tertawa
ceria seolah mencoba mencairkan suasana.
"Kalau
begitu, aku benar-benar pulang sekarang! Sampai jumpa lagi!"
Aku
mengangkat tangan sedikit sebagai jawaban, lalu Yamano melambai-lambaikan
tangannya sebelum berbalik arah.
"……Yamano, ya. Benar-benar membuat nostalgia."
Aku
bergumam sambil menatap punggungnya yang menjauh.
Di
kehidupan pertama, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Yamano setelah lulus
SMP.
Jika
mengubah tindakan sendiri, hubungan yang tak terduga pun bisa terjalin kembali.
……Itu juga yang
terjadi pada Miori.
Jika saat itu aku
tidak sengaja lari pagi, mungkin kita tidak akan bertemu kembali sebelum masuk
SMA, dan jika aku tidak masuk grup yang sama dengan Reita, mungkin kita tidak
akan bekerja sama.
Aku yang sekarang
ada karena Miori.
Jika sendirian,
masa mudaku mungkin akan tetap kelabu.
Kalau
dipikir-pikir, aku memang tidak ingin menjaga jarak dengan Miori seperti ini.
Karena
aku sudah menerima begitu banyak hal darinya, dan aku belum membalasnya sama
sekali.
*
Hari ini ada shift
kerja paruh waktu.
Aku berhasil
melewati pelajaran yang membuat mengantuk dengan bersusah payah menjaga mata
agar tetap terbuka.
"Ayo pergi,
Haibara-kun."
"Tentu."
Aku mengikuti
ajakan Nanase yang kebetulan memiliki jadwal shift yang sama, lalu
melangkah keluar kelas.
"Sampai
jumpa! Sampai jumpa nanti!"
Hikari
melambaikan tangan ke arah kami dengan senyuman cerah. Pacarku hari ini pun
tetap terlihat sangat manis.
Omong-omong, hari
ini Hikari ada kegiatan klub sastra. Katanya, belakangan ini mereka sedang
sibuk membuat majalah sastra.
Meski fokus utama
Hikari adalah mengirimkan naskah ke penghargaan novel, dia bilang kegiatan klub
seperti ini juga jadi sarana pelepas penat. Tadi saat istirahat siang, dia
menceritakannya dengan begitu antusias. Aku sungguh berharap dia bisa hidup
dengan bahagia.
"Apa tidak
apa-apa? Hikari, maksudku. Membiarkanku pulang berdua saja dengan
Haibara-kun?"
Nanase tertawa
kecil, bertanya dengan nada menggoda.
Yah...
sejujurnya, itu memang poin yang sempat kupikirkan juga.
Walaupun kami
berada di kelompok yang sama, bukankah aneh jika aku pulang hanya berduaan saja
dengan lawan jenis?
Tapi, karena kami
menuju ke tempat kerja paruh waktu yang sama, tidak ada alasan khusus untuk
sengaja memisahkan diri.
Lagipula, kalau
tiba-tiba aku bilang, "Aku kan sudah pacaran dengan Hikari, jadi aku tidak
mau lagi pergi ke tempat kerja berdua saja," bukankah itu terkesan
menyebalkan? Atau malah terkesan terlalu percaya diri?
Yah, pada
akhirnya semua tergantung bagaimana perasaan Hikari saja.
"Kalau
dengan orang lain mungkin aku sedikit tidak suka, tapi kalau dengan Yuino-chan
sih tidak apa-apa. Lagipula kita kan bekerja di tempat yang sama, jadi mau
bagaimana lagi? ...Dan juga, aku tidak mau terlalu mengekangmu."
Hikari
menjelaskan alasannya sambil sedikit tersipu, suaranya mengecil di akhir
kalimat.
Melihat sikapnya
yang seperti itu, aku pun jadi ikut malu. Hehe.
"Begitu?
Kalau begitu, aku tidak akan sungkan ya."
Entah
kenapa, Nanase langsung meraih tanganku dan mulai berjalan.
Ditarik
oleh Nanase, aku pun buru-buru menyusul langkahnya.
"Ti-tidak
boleh!" Hikari tiba-tiba menyela di antara kami yang sedang berpegangan
tangan.
"Oh?
Bukannya tadi katanya tidak mau mengekang?"
"Sentuhan
fisik itu dilarang! Bahkan untuk Yuino-chan sekalipun!"
"Apa
maksudmu hanya dirimu saja yang boleh menyentuh Haibara-kun?"
"...Ya,
m-memangnya kenapa? Ada masalah? Aku kan pacarnya."
Hikari membantah
Nanase, tapi karena wajahnya sudah semerah tomat, ancamannya sama sekali tidak
terasa mengintimidasi.
"Hei Nanase,
jangan terlalu menggoda Hikari."
"Maaf, maaf.
Belakangan ini reaksi Hikari sangat menarik untuk diperhatikan."
"Yah,
aku tidak menyangkalnya sih..."
"Kenapa
malah tidak menyangkal!? Natsuki-kun!?"
Hikari terlihat
terkejut karena dikhianati oleh pacarnya sendiri, sungguh menggemaskan.
"Canda, kok.
Aku tidak akan merebut Haibara-kun darimu, jadi tenanglah."
Nanase mengusap
rambut Hikari yang sedang merajuk.
"Aku jadi
terpikir, apa aku sebaiknya melamar kerja di Cafe Mares juga ya..."
Aku terkejut
mendengar celetukan tak terduga itu.
Bekerja paruh
waktu bersama Hikari, ya? Kedengarannya menarik juga.
"Apa
Tadashi-san akan memberikan izin?"
"Nah, soal
itu... aku hanya bisa berusaha semampuku."
Berbanding
terbalik dengan ucapannya, Hikari terdengar pesimis.
Meskipun
belakangan ini dia sudah lebih berani menyuarakan pendapatnya, ternyata tetap
saja ada hal-hal yang tidak bisa dia lakukan seenaknya.
"Sayangnya,
saat ini kami tidak sedang membuka lowongan pekerjaan."
"Ya, jumlah staf di bagian hall kan sudah
cukup..."
"Kenapa
Natsuki-kun tidak mempertimbangkan kemungkinan aku melamar di bagian
dapur?"
Hikari
mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Meskipun dia tersenyum, rasanya malah
jadi menakutkan!
"Yah,
soalnya... bagaimana ya?"
"Aku rasa
tidak ada informasi yang mengatakan Hikari bisa memasak."
Saat aku bertukar
pandang dengan Nanase dan berusaha mengalihkan pembicaraan, Hikari langsung
menggembungkan pipinya.
"Ya sudah,
terserah. Padahal tadinya aku berencana membuatkan bekal untuk Natsuki-kun lain
kali, tapi batal deh."
"Eh!?"
Bekal buatan tangan pacar tercinta!?
Apakah event
penuh nuansa masa muda seperti itu akan terjadi padaku!?
Aku sangat ingin
mencobanya. Dan kalau bisa, aku ingin bermesraan dengan Hikari.
Untuk saat ini,
rasanya tidak penting.
Mau rasanya tidak
enak, enak, atau biasa saja, aku tidak peduli.
Yang terpenting
adalah Hikari membuatkannya untukku.
Aku harus
memastikan kesempatan ini tidak terlewatkan.
"Ma-maaf!
Tolong! Dengan sangat! Kumohon! Berikan aku belas kasihan!"
Saking besarnya
keinginanku terhadap bekal buatan Hikari, permohonanku terdengar sangat
mendalam.
"Ke-kenapa
kamu sampai se-seserius itu...?"
Hikari terlihat
benar-benar ilfeel melihat perubahan sikapku yang mendadak. Damage
telak tepat di hatiku! Sisi otaku dalam diriku tidak sengaja muncul ke
permukaan. Padahal biasanya selalu kutahan...
"Ya,
karena... aku sangat ingin mencicipinya..."
"...Habislah
sudah, Natsuki-kun ini. Baiklah, nanti akan aku buatkan, ya."
Hikari terkekeh
dan memberikan janjinya. Uwooooo! Aku menang!
"Maaf
mengganggu momen mesra kalian, tapi kalau tidak segera pergi, kita akan
terlambat."
Kata-katanya
seperti menyiramkan air dingin.
Gawat, aku
benar-benar hanya fokus pada Hikari sampai lupa segalanya...
Apakah ini yang
dinamakan dunia hanya milik berdua? Bukankah kami jadi terlihat seperti
pasangan yang terlalu bucin?
Aku harus lebih
memperhatikan situasi dan kondisi saat ingin bermesraan...
"Be-benar
juga! Ayo Nanase, kita berangkat kerja!"
"I-iya! Aku
juga harus pergi ke kegiatan klub! Sampai jumpa minggu depan, kalian
berdua!"
Setelah
percakapan yang terasa canggung, kami berpisah dengan Hikari.
Wajah Hikari
memerah padam, dan kurasa wajahku pun sama merahnya.
"Sampai
jumpa minggu depan... apa itu artinya kalian tidak akan main akhir pekan
ini?"
"Ya. Akhir
pekan ini ada kegiatan band, dan Hikari bilang dia ingin menulis lanjutan
novelnya di rumah."
Lagipula, uang
kami tidak cukup untuk bisa bermain setiap minggu. Realita memang selalu kejam.
"Itu
istirahat yang bagus untuk Hikari. Sepertinya jantungnya tidak akan kuat jika
harus terus bersamamu."
"...Aku juga
bingung harus bagaimana supaya jantungnya kuat."
Yah, aku sendiri
juga tidak bisa banyak bicara.
Sebenarnya,
berada di dekat orang yang kita sukai... pacar sendiri, memang ada kalanya
membuat lelah.
Sangat bahagia,
memang.
Tapi justru
karena orang itu begitu berharga, aku jadi tegang dan harus sangat
berhati-hati.
Terlebih lagi,
karena kami baru saja mulai berpacaran, kami masih belum benar-benar mengerti
batasan jarak di antara kami.
Aku hanya terus
memikirkan sampai sejauh mana kami diperbolehkan melangkah.
"Kau sangat
dicintai, kau tahu itu. Sadarilah hal itu dengan baik."
"...Aku
tahu."
"Jangan
sampai membuat Hikari sedih, ya?"
Menanggapi
peringatan Nanase, aku mengangguk mantap.
"Tentu saja,
aku akan membahagiakannya."
"Ya, aku
percaya Haibara-kun pasti bisa."
Nanase tertawa
kecil dengan suasana hati yang sangat baik.
Sepertinya
hobi Nanase belakangan ini memang mengamati gerak-gerik kami.
*
Jadwal
kerjaku hari ini adalah dari jam enam sore sampai jam sepuluh malam.
Ada empat
orang yang masuk shift hari ini. Di dapur ada aku dan sang manajer,
sementara di bagian hall ada Naru dan Nanase.
Setelah
fokus menyelesaikan pekerjaan, waktu sudah menunjukkan lewat jam sembilan.
Waktu makan malam
sudah usai, dan saat pelanggan mulai sepi, kami akhirnya bisa bernapas lega.
Saat aku sedang
mencuci piring, Naru melongok dari balik konter.
"Ngomong-ngomong, besok kita ada latihan band lagi,
ya."
Pembicaraanku dengan Serika kemarin tentu saja sudah
kubagikan kepada Naru di grup chat RINE.
Termasuk fakta bahwa aku dan Yamano saling kenal, sudah
kusampaikan secara singkat.
"Lebih tepatnya bukan latihan, tapi agenda utamanya
adalah tryout untuk Yamano."
Yah, mengingat Serika sudah memberikan restunya,
bergabungnya dia hampir bisa dipastikan.
Naru pun pasti sudah paham, makanya dia berbicara dengan
asumsi Yamano sudah bergabung.
"Yamano-san
itu, orangnya seperti apa ya?"
"...Yah,
tipe yang ceria, kurasa? Orangnya cukup mudah diajak bergaul."
Yah, sebenarnya aku sendiri tidak tahu banyak soal Yamano
sampai bisa menjelaskannya dengan detail.
Sekilas dia terlihat sangat terbuka, tapi entah kenapa aku
merasa ada sesuatu yang tidak ingin dia tunjukkan di dalam dirinya.
"Ce-ceria
ya... itu malah sedikit menakutkan..."
Padahal aku
memperkenalkannya dengan cara yang aman, Naru malah mendadak ketakutan.
"Apa kau lebih suka orang yang pendiam?"
"Tidak juga... itu pun sulit diajak bergaul..."
Lalu tipe orang seperti apa yang kau inginkan?
Yah,
mungkin dia hanya sekadar merasa canggung karena orang baru.
"Siapa pun
yang datang, selama tidak seperti Iwano-senpai, kesan pertamanya pasti lebih
baik."
Saat aku
mengangkat bahu seraya berkata begitu, Naru langsung menyemburkan tawanya.
"Itu jahat
sekali, Natsuki! Bagaimana bisa kau berkata begitu!"
"Kalau
kau tertawa, berarti kau juga berpikir begitu, kan?"
"Ti-tidak,
tidak begitu kok~"
Naru
pura-pura tidak mendengar, bersiul dengan asal-asalan, dan mengalihkan
pandangannya.
"Apa
kalian membicarakan soal band?"
Nanase
yang mendengar percakapan kami pun bertanya.
"Iya.
Serika baru saja menemukan drummer baru. Orangnya baru kelas tiga
SMP."
"Begitu. Kalau Hondou-san yang mencarinya, berarti
kemampuan permainannya bisa diandalkan, ya."
"Masalahnya adalah apakah dia bisa akrab dengan kita...
eh, maksudku, dengan aku. Bagaimana kalau nanti dia bilang bass-ku menjijikkan
dan tidak mau bermain bersamaku... apa aku sebaiknya mundur saja..."
Naru
bergumam dengan delusi negatifnya seperti biasa.
Yamano
bukan tipe orang yang akan mengatakan hal seperti itu, tapi karena lucu, aku
biarkan saja dia berpikir begitu.
"Shinohara-kun
tetap tidak berubah ya. Padahal kupikir setelah punya pacar, kepercayaan dirimu
akan sedikit meningkat."
"Sama sekali
tidak... bahkan untuk sekadar berpegangan tangan saja aku sudah sampai titik
maksimal... mengirim satu pesan RINE saja aku tegang setengah mati... dan aku
bahkan tidak tahu apakah caraku ini benar atau tidak..."
"Hahaha..." Naru tertawa hambar dengan aura yang
tampak suram.
Aku mengerti
perasaanmu, Naru. Aku pun sama. Saat aku mengangguk-angguk setuju, Nanase
menatapku dengan tatapan tajam.
"Kau
juga harus segera terbiasa, kan?"
"I-iya..."
Sepertinya,
aku tidak bisa terus-menerus memasang wajah pemula dalam hal cinta...
"Yah,
karena kau bisa mengerjakan apa pun dengan baik, akan sangat menyebalkan jika
dalam hal cinta saja kau tidak becus. Tapi, Hikari sendiri pun sebenarnya
adalah gadis otaku yang suka berkhayal, kan..."
Ucapannya sangat
pedas. Baik padaku maupun Hikari.
Satu-satunya
orang yang berani melabeli Hikari—si idola sekolah—sebagai "gadis otaku
yang suka berkhayal" hanyalah Nanase.
Yah, sebenarnya
ada juga teori yang mengatakan bahwa julukan itu berasal dari pengakuan Hikari
sendiri, sih...
Saat kami
bertiga sedang mengobrol, bel di pintu berbunyi. Suara pintu toko yang dibuka oleh pelanggan.
Saat aku menoleh,
seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah kami masuk.
"Eh...?
Naru, itu pacarmu."
Gadis berambut
hitam dengan kacamata itu membungkukkan badan.
Itu Funayama-san.
"E-eh!?"
"Jangan bengong, sana antar ke mejanya."
Aku mendorong punggung Naru yang sedang terbelalak,
memaksanya menghampiri Funayama-san.
"Ke-kenapa
kamu ada di sini...?"
"Emm, aku
hanya... ingin melihat tempatmu bekerja..."
Percakapan yang
mengharukan itu terdengar samar-samar.
Mereka berdua
masih terlihat kaku karena gugup, tapi senang rasanya melihat mereka tampak
akrab.
Namun, entah
kenapa melihatnya malah membuatku merasa malu sendiri...
"Sekarang
kau paham bagaimana perasaanku saat melihat kalian berdua?"
"Berisik.
Tanpa perlu kau katakan pun, aku sadar kok..."
Jadi seperti itu
ya rasanya kalau dilihat oleh orang lain dari sisi luar... agak memalukan juga,
ya...
"Kalian
berdua tampak bahagia, ya. Kau yang membantunya, kan?"
"Tidak
banyak yang kulakukan, kok. Mereka
memang sudah saling suka sejak awal."
Katanya mereka
baru mulai berpacaran sejak hari turnamen olahraga, jadi baru dua hari berlalu.
Masih masa-masa hangat. Yah, kami pun baru berpacaran sekitar dua minggu, jadi
aku sendiri tidak bisa banyak berkomentar.
"...Bagaimana
denganmu, Nanase? Apa kau tidak punya orang yang kau sukai?"
Aku mencoba
bertanya pada Nanase yang sedari tadi menatap mereka dengan tatapan iri.
Kalau
dipikir-pikir, aku belum pernah mendengar Nanase bercerita soal orang yang
disukainya atau keinginannya punya pacar.
"Hmm...
tidak sampai taraf menyukai, tapi dulu memang ada orang yang membuatku
tertarik."
Cerita tak
terduga itu muncul, membuatku terkejut.
Nada bicara
Nanase yang datar membuatku merasa itu bukanlah sebuah candaan.
"...Berarti
karena kau bilang 'dulu', itu artinya sudah masa lampau?"
"Sayangnya
begitu. Karena tidak seperti yang lain, aku tidak pernah tahu rasanya mencintai
seseorang dengan sungguh-sungguh."
Begitu, ya...
meski aku mengerti, rasanya sulit untuk memberikan respon.
Aku tidak tahu
sampai sejauh mana aku boleh membahas topik ini...
Aku yang memulai
pembicaraannya, tapi kini aku sendiri yang malah mati kutu.
"Semoga
suatu hari nanti kau bisa menemukannya. Cinta yang sungguh-sungguh itu."
Pada akhirnya,
hanya kalimat itu yang bisa kukatakan. Terdengar klise dan polos sekali.
Entah
kenapa, Nanase menyentil dahiku dengan kencang.
"Aw!"
"Daripada
memikirkan aku, sebaiknya kau lebih menghargai Hikari."
Nanase tersenyum setelah mengatakan itu.
"……Tidak
perlu kau katakan, aku juga berniat begitu."
Sambil
memandangi pemandangan Naru dan yang lainnya yang begitu menghangatkan hati,
tekadku semakin menguat. Di
tengah obrolan santai itu, malam di Cafe Mares pun semakin larut.
*
Hari berikutnya
adalah hari Sabtu.
Karena terbangun
terlalu pagi, aku menghabiskan waktu dengan lari pagi dan latihan otot. Kenapa
ya, justru saat hari libur dan aku ingin sekali bermalas-malasan, aku malah
terbangun lebih cepat?
"Kak,
sarapannya mana?"
"Bakar saja
roti tawarmu sendiri."
Aku mengabaikan
rengekan Namika begitu saja lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk bersiap.
Saat kembali ke ruang tengah, Ibu dan Namika sudah ada di sana. Ternyata pada
akhirnya Ibu yang menyiapkan sarapan untuk Namika.
"Natsuki,
kau mau makan juga? Meski cuma yang sederhana."
Ibu menyadari
kehadiranku dan bertanya. Aku pun mengangguk setuju.
"Kakak tidak
mau menyiapkan, jadi Mama yang menyiapkan untukku!"
"Memangnya
kau tidak punya inisiatif untuk melakukannya sendiri?"
"Aku
kan tidak bisa masak!"
Namika
menyatakan hal itu dengan bangga sambil menyantap roti tawar, sosis, telur mata
sapi, dan salad. Sebenarnya itu pun tidak bisa disebut "masak",
karena selain salad, semuanya cuma dipanggang.
"Kak, hari
ini mau ke mana?"
"Ada
kegiatan band, jadi aku akan segera berangkat."
Agenda
hari ini adalah tryout sekaligus latihan band bersama Yamano. Waktu
kumpulnya jam sepuluh.
"Loh? Bukannya band kalian sudah bubar?"
"Sempat vakum sebentar, tapi akhirnya diputuskan untuk
mulai lagi."
"Setahuku, si pemain drum keluar karena mau fokus
ujian, kan?"
"Ya. Makanya, kami mencari drummer baru. Meski
belum pasti juga, sih."
"Hmm... baguslah? Yah, meski aku tidak terlalu
tertarik."
Namika
berkata dengan acuh tak acuh sambil menatap ponselnya. Cara bicaranya tidak
mencerminkan orang yang tidak tertarik, tapi kalau kukomentari, dia pasti akan
marah.
Lagipula, apa dia
ingin melupakan fakta bahwa dulu dia pernah mengayunkan penlight di
kursi penonton?
"Drummer
baru ini satu tingkat di bawahku, dan dia seniormu di sekolah."
"Maksudmu
satu SMP denganku? Oh iya, katanya ada klub musik ringan di sana, ya."
"Kau tahu
Yamano Saya?"
"Ah, ya...
namanya sih, pernah dengar."
Cara bicaranya
terdengar ragu, seolah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
"Karena kau
bilang cuma namanya, apa itu artinya kau belum pernah bicara dengannya?"
"Ya. Kami
tidak punya hubungan apa pun. Dia kakak kelasku dan klub kami juga
berbeda."
Setelah
menghabiskan sarapannya, Namika mengatupkan kedua tangan dan berkata,
"Terima kasih atas makanannya."
"Tapi,
begitu ya. Orang itu akan nge-band bareng Kakak."
Namika
bergumam pelan sambil menatap ke luar jendela.
"Ada
yang mengganggumu?"
Karena
ekspresinya tampak seperti sedang memikirkan sesuatu, aku pun bertanya.
"...Hmm,
tidak ada apa-apa. Ya sudah, selamat berlatih ya."
Namun, Namika
hanya menjawab begitu lalu masuk ke kamarnya. Hei, bereskan piringmu!
"Bu,
biar aku saja yang bereskan."
Mau bagaimana
lagi, aku menawarkan diri untuk membantu pekerjaan rumah.
"Iya, iya.
Terima kasih, bantuannya."
Di kehidupan
pertama, aku benar-benar bergantung pada Ibu, jadi sebisa mungkin aku membantu
pekerjaan rumah sekarang.
Sebaliknya,
kurasa Namika malah jadi makin malas... aneh sekali. Di kehidupan pertama dia
adik yang jauh lebih bisa diandalkan dariku, tapi belakangan ini dia tampak
agak ceroboh.
...Jangan-jangan,
ini salahku?
Apakah aku yang
membuat Namika jadi ceroboh?
Sambil memikirkan
pertanyaan tanpa jawaban itu, aku menyelesaikan cucian piring tepat waktu. Aku
segera bersiap-siap lalu pergi meninggalkan rumah.
Suhu udara
mencapai 15 derajat. Agak dingin, tapi belum perlu memakai mantel. Aku naik
kereta menuju studio musik yang telah dipesan Serika. Lokasinya tidak jauh dari
Stasiun Takasaki. Sepertinya Serika sering menggunakannya.
"Ah,
Natsuki! Selamat pagi!"
Naru melihatku
dan matanya langsung berbinar cerah.
Di dalam
ruangan, Naru dan Serika sudah tiba. Mereka sibuk menyiapkan instrumen
masing-masing. Serika tidak bereaksi, mungkin dia sedang fokus dengan gitarnya.
"Cepat
juga kalian berdua."
"Ini latihan
pertama kita setelah sekian lama, lho! Aku jadi semangat sekali!"
Naru
memetik bass-nya dengan asal sambil berkata dengan riang.
"Yamano
sepertinya belum datang."
"Tadi
saat aku kirim RINE, katanya dia akan segera sampai."
Serika
menunjukkan layar ponselnya padaku. Itu adalah riwayat chat
dengan Yamano.
Serika
terus-menerus mengirim stiker karakter anime yang marah dengan tulisan
"Belum datang?". Hei, hentikan itu!
"Senior!
Selamat pagi! Maaf! Aku terlambat!"
BRAK! Yamano muncul dengan mendobrak
pintu.
Dia
terengah-engah. Sepertinya dia panik karena stiker dari Serika tadi.
"Yo."
"Pagi."
Aku dan
Serika menanggapinya dengan biasa, tapi Naru tampak bingung.
"...Se-selamat
pagi..."
"Salam
kenal! Shinohara-senpai, kan!? Aku Yamano Saya!"
Yamano
menggenggam tangan Naru dan mengocoknya dengan kuat ke atas dan ke bawah.
Sepertinya dia berniat menjabat tangan.
"Ya, salam
kenal...?"
"Iya, mohon
bantuannya! Bass
milik Shinohara-senpai keren banget! Aku sampai terharu!"
Yamano
mendekat dengan senyuman lebar, sementara Naru tampak kewalahan. Benar-benar
pemandangan yang membuat bingung siapa senior dan siapa junior.
"Iya, iya.
Waktu kita sempit, ayo mulai. Cepat bersiap."
Serika
bertepuk tangan menengahi. Aku pun segera menyiapkan gitar dan mikrofon.
"Wa-wajahnya
ceria sekali... aura positifnya terasa... tapi aku senang..."
Naru bergumam
pelan. Entah senang karena dipuji Yamano atau bagaimana, dia memasang senyum
yang kalau dilihat dari sudut pandang objektif terasa agak menyeramkan, tapi
aku putuskan untuk tidak mengomentarinya.
"Hmm,
kira-kira begini ya..."
Di sisi lain,
Yamano yang telah selesai mengatur set drum studio, memutar stik drumnya dengan
luwes. Lalu tiba-tiba, dia memukul crash cymbal.
Suara dentuman
yang nyaring bergema, menjadi aba-aba bagi dirinya untuk memulai solo drum.
Dia memainkan
lagu yang tidak kukenal, tapi hanya dengan mendengarnya saja aku sudah tahu
kalau dia punya rasa ritme yang luar biasa. Dia memang mahir. Dan dia tampak
sangat menikmati saat memukul drumnya.
...Aku tidak
khawatir sejak Serika merekomendasikannya, tapi ternyata dia benar-benar hebat.
"Kalau semua
sudah siap, ayo mulai dari black witch. Saya, kau bisa, kan?"
Setelah solo drum
Yamano selesai, Serika memberi saran.
"Tentu saja!
Lagu-lagu Mischef sudah kuhafal semua!"
Yamano merespons
dengan penuh semangat.
"Lama tidak
berlatih, aku takut jari-jariku tidak bisa bergerak lancar..."
Naru
bergumam kurang percaya diri sambil memegang bass-nya.
"Kalau
begitu, mari mulai dengan hitungan tiga. Tidak apa-apa, kan, Senior?"
Menanggapi
konfirmasi Yamano, aku mengangguk. Sepertinya mereka ingin langsung memainkannya secara penuh. Lagu pun dimulai, dan dentuman
musik rock yang intens bergema di dalam studio.
Sudah lama
sekali. Sensasi di mana suaraku dan melodi gitarku menyatu dalam lagu.
――Permainan drum
Yamano terasa sangat agresif. Penuh ekspresi, dentuman yang menyerang itu
membuat dinamika lagu terasa jauh lebih intens.
Berbeda
sekali dengan senior Iwan, yang cenderung presisi dan mekanis. Drum Yamano
mengamuk seperti angin yang mendorong punggung kami, namun ia tidak pernah
merusak ritme lagu itu sendiri.
Ini terasa
berbeda dari masa senior Iwan. Rasanya seperti aku tidak sedang memainkan lagu
yang sudah ada.
Ini adalah black witch yang baru.
Istilah "mendobrak pakem" sangat cocok untuknya.
Meski begitu, saat ini aku belum bisa menyelaraskan ritme dengannya secara
sempurna. Jika dibandingkan dengan saat bersama senior Iwan, kualitas lagunya
memang belum sebaik itu.
Namun, aku bisa
merasakan potensinya. Aku yakin kami bisa memainkan lagu ini dengan jauh lebih
baik lagi.
"...Ba-bagaimana?
Meski tadi ada bagian yang salah sedikit..."
Tepat setelah
lagu selesai, Yamano bertanya dengan nada cemas yang tak biasa. Padahal tadi
saat lagu berlangsung dia tampak sangat menikmatinya, kesenjangan itu terasa
lucu.
"Ah!
Ke-kenapa kalian tertawa!? Aku serius, lho! Aku sudah latihan mati-matian untuk
tryout ini! Apa permainanku tadi buruk!?"
Yamano tampak
panik. Serika menatap kami.
"...Menurut
kalian bagaimana? Naru, Natsuki. Aku pribadi suka sekali dengan drum anak ini."
Aku menatap Naru.
Naru menatapku. Kami berdua terdiam.
"..."
"..."
Yamano menatap
kami seolah sedang menunggu vonis takdir.
"Yah, itu...
tidak perlu ditanya lagi, kan..."
"Yah,
begitulah..."
Aku dan Naru
mengangguk seraya mengucapkannya. Yamano tertunduk lemas dengan ekspresi yang
sangat pas jika diberi efek suara "GAAAN!".
"Ti-tidak
mungkin..."
"Hei, kenapa
pasang wajah bodoh begitu? Tentu saja kau lulus."
"Bahkan
rasanya aneh sekali kalau kau sampai tidak lulus."
Yamano
terbelalak, lalu berteriak, "Eh!?"
"Kalian
berdua, tidak baik terlalu sering menggoda junior."
Serika
menyunggingkan senyum tipis sambil mengangkat bahu. Lagipula, karena Yamano
menatap kami dengan wajah seserius itu, kami jadi tidak tahan untuk tidak
menggodanya...
"Ja-jangan
buat aku kaget, dong~"
Yamano
duduk kembali di kursinya dengan perasaan lega.
Sebenarnya,
aku sendiri bukanlah posisi yang pantas untuk menilai kelulusan orang lain,
bahkan mungkin akulah yang seharusnya tidak lulus?
Begitulah
keraguanku. Aku masih ingin gitar yang lebih baik lagi...
"Baiklah,
dengan bergabungnya Saya, band ini akan memulai kembali perjalanannya dengan
empat anggota."
"Apa nama bandnya tetap Mischef? Atau mau
diganti?"
"Hmm, karena band ini berbeda dari saat ada senior
Iwan, mungkin aku akan memikirkan nama baru."
Sekarang, kami bukan lagi band pelarian yang hanya berkumpul sementara. Menurutku, itu adalah keputusan yang bagus.
"Tujuan
kita saat ini adalah tampil di live house tempat aku bekerja paruh
waktu."
"Li-live
house... kedengarannya agak menakutkan, ya..."
"Tapi,
memang itu tujuan yang seharusnya, kan? Festival budaya juga sudah
lewat."
Lagipula, jika tidak ada tujuan yang jelas, aku jadi tidak
tahu untuk apa kami terus berlatih.
Bermusik bersama memang sudah menyenangkan, tapi sensasi
tampil di panggung langsung benar-benar berbeda levelnya.
Aku ingin
merasakan sekali lagi sensasi menjadi satu dengan penonton seperti saat
festival budaya kemarin.
"Tidak,
tidak, mimpi kalian terlalu kecil, Senior! Ayo kita tampil di Rockin!
Kita harus ke Rockin!"
Yamano berseru
dengan ceria, mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Dia memang orang yang
selalu semangat.
"Bagus sih
punya mimpi besar, tapi pertama-tama, kalian harus mengasah kemampuan
dulu."
Serika
menegur Yamano dengan tenang.
Festival budaya memang meriah, tapi band kami masih belum
cukup matang. Serika mungkin pengecualian, tapi gitarisnya—yaitu aku—masih
payah sekali sampai tidak bisa ditertawakan. Bisa memainkan semuanya dengan
lancar saat festival budaya kemarin kurasa hanyalah sebuah keajaiban. Keajaiban
tidak akan terjadi berkali-kali, kan?
"Yamano, bagaimana dengan ujianmu? Tidak apa-apa?"
"Aku rasa
aku bisa masuk lewat jalur rekomendasi!"
"Wah,
ternyata kau pintar, ya."
Nilai rata-rata
di sekolah kami cukup tinggi, dan banyak siswa yang ingin melanjutkan ke
jenjang lebih tinggi. Jika bisa masuk lewat jalur rekomendasi, itu artinya dia
mempertahankan nilai di jajaran teratas angkatan.
"Kalau
begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
Yamano
menanggapinya dengan memberikan tanda peace.
"Baiklah,
mulai minggu depan kita akan berlatih dengan serius bersama Saya."
"Siap,
mengerti!"
"Baik!"
"……Ya.
Ayo kita berjuang lagi."
Kami
semua mengangguk sepakat. Dengan begitu, aktivitas band kami diputuskan untuk
dimulai kembali.
Satu lagi
kegembiraan masa muda bertambah. Masa mudaku memang sudah bersinar seperti
pelangi, tapi kini ia semakin bercahaya. Band baru ini pasti akan memberikan
warna yang baru dalam masa mudaku.
"Ngomong-ngomong... Natsuki."
Serika bertanya
seolah baru saja teringat sesuatu.
"Kemarin
Miori izin sekolah, apa kau dengar sesuatu?"
"Eh? Tidak,
tidak ada... apa dia sakit flu?"
"Guru bilang
begitu, tapi Miori tidak membalas pesanku sama sekali."
Serika
memiringkan kepalanya sambil menatap layar ponsel.
"Ternyata
dia bisa kena flu juga, ya."
Sejak kecil, dia
punya citra tubuh yang kuat. Lagipula, orang bodoh tidak akan kena flu. Setahuku, selama ini Miori
belum pernah sampai terbaring sakit karena flu. Meski aku tidak tahu detailnya
saat kami di SMP.
"……Kalau
hanya flu biasa sih, tidak masalah, ya."
"Sekarang
kan sudah masuk musim flu juga."
Memang,
aku jadi sedikit khawatir. Menanggapi perkataanku, Serika hanya mengangguk
samar, "Ya, benar juga."
Serika
tidak menyinggung Miori lebih jauh dan kami pun melanjutkan latihan.
...Yah,
dia baru izin satu hari, kurasa tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Untuk saat ini,
daripada memikirkan Miori, aku harus fokus latihan. Aku yang paling payah di
sini, jadi harus terus berkembang agar tidak diremehkan oleh Yamano. Yah,
mungkin itu sudah terlambat, sih...
*
Setelah latihan
yang diselingi jam istirahat siang, hari pun mulai beranjak sore. Aku berpisah
dengan Serika dan yang lainnya di Stasiun Takasaki, lalu pulang menaiki kereta
bersama Yamano. Mungkin karena lelah di hari latihan pertama, Yamano hanya
menatap kosong ke luar jendela.
"……Ngomong-ngomong,
Senior, kau pacaran dengan Hoshimiya-senpai, kan?"
"Ya. Kau
kenal Yangari?"
"Dia
terkenal di Minsta. Kukira temanmu itu seorang model. Cantik
sekali, modis, ceria, dan terlihat lembut... Wah, aku iri sekali dengan
Senior!"
Yamano
menghentakkan kakinya, merasa iri. Namika juga pernah bilang hal yang sama;
ternyata Yangari memang populer di daerah sini.
"Kenapa ya
dia mau memilih Senior?"
"Hei,
hentikan. Justru itu hal yang paling membuatku bingung."
"Yah,
memang sih, dibandingkan dulu, sekarang kau terlihat lebih keren."
Baik
Miori maupun Yamano, orang-orang yang mengenalku sejak dulu selalu bereaksi
seperti ini. Belakangan ini aku sering dilebih-lebihkan, jadi rasanya cukup
melegakan.
"Miori
banyak membantu agar aku bisa mendekati Yangari, lho."
Yamano
bergumam "Yah, itu juga sih..." sambil menutupi wajahnya dengan kedua
tangan.
"Ngomong-ngomong,
bagaimana hubungan Miori-senpai dengan orang bernama Shiratori itu?"
"Sepertinya
biasa saja, mereka terlihat akrab. Aku sering melihat mereka pulang bersama."
"Begitu, ya..." Yamano mengerutkan kening, seolah
curiga.
"Apa
kau tidak bertanya langsung pada Miori?"
"Hmm,
kami memang saling berkirim pesan, sih..."
Dia
menjawab dengan nada yang tidak jelas. Yah, kalau sekolahnya sudah berbeda,
kesempatan untuk mengobrol pasti berkurang.
"Apa kau
punya foto Shiratori-senpai? Aku ingin lihat."
Karena diminta,
aku pun mencoba mencari di folder foto ponselku. Yang kumiliki hanyalah foto
bersama saat liburan musim panas. Para gadis biasanya selalu memotret setiap
ada kesempatan, tapi para lelaki tidak punya kebiasaan itu.
Padahal, aku
sudah mendapatkan masa muda yang penuh warna. Mungkin mulai sekarang aku harus lebih sering
mengambil foto untuk mengabadikan kenangan ini.
"Wah,
ganteng sekali. Levelnya beda jauh sama Haihara-senpai."
"Apa kau
tidak akan puas kalau tidak terus-terusan merendahkanku?"
"Habisnya,
Miori-senpai kan mengaku sebagai orang yang pilih-pilih soal penampilan...
meski itu cuma pengakuannya sendiri, sih..."
Yamano terus
menggumamkan sesuatu sambil menatap foto di ponselku.
"Ada yang
aneh?"
Saat kutanya,
Yamano menggeleng pelan.
"Tidak,
Senior tidak aneh sama sekali. Abaikan saja."
Meski dia
bilang begitu, aku tetap merasa ada yang janggal... baru saja aku hendak
bertanya lagi, kereta berhenti. Sepertinya kami sudah sampai di stasiun daerah
kami.
"Ada
alasan tertentu kenapa kau sangat mengkhawatirkan Miori?"
Sambil turun dari
kereta, aku bertanya pada Yamano karena tiba-tiba merasa penasaran. Aku tahu
mereka akrab, tapi dia tampak terlalu antusias membahas Miori.
"……Yah, saat
ini aku sedang dimintai konsultasi olehnya."
Yamano
mengalihkan pembicaraan. Dia secara tidak langsung memberi tahu bahwa dia tidak
bisa bicara lebih banyak lagi.
"...Konsultasi,
ya. Ternyata orang yang dipilih Miori untuk curhat sekarang bukan aku
lagi."
Aku sadar kalau
Miori sedang memendam sesuatu. Bahwa dia menceritakannya pada Yamano, entah
kenapa membuatku merasa sedikit iri.
"Baiklah,
Senior. Kita berjuang bareng di band ini, ya!"
Yamano
mengucapkan salam perpisahan seolah ingin mengakhiri topik pembicaraan tadi,
lalu pergi sambil melambaikan tangan.
*
Minggu setelah
band kami dimulai kembali berjalan dengan lancar. Senin kerja paruh waktu,
Selasa latihan band, lalu hari Rabu tiba saat istirahat siang. Sudah tepat
seminggu sejak turnamen olahraga.
"Eh, Miori
izin?"
"Iya.
Sepertinya sejak setelah turnamen olahraga, dia terus izin."
Di dekat jendela
kelas, enam orang dari kelompok kami berkumpul dan saling bertatap muka.
"Reita, apa
kau dengar sesuatu?"
"……Aku sudah
kirim RINE, tapi tidak ada respon sama sekali."
Reita menatap ponselnya dengan wajah khawatir.
"Tadi
aku dengar dari guru pembimbing katanya dia flu."
"Tapi kalau
cuma flu biasa, kurasa tidak mungkin sampai selama ini."
Uta dan
Nanase juga ikut berkomentar. Semua orang khawatir dengan kondisi Miori.
...Kalau Serika
yang sekelas dengannya, mungkin dia tahu sesuatu.
"Coba aku
tanyakan pada Serika."
Saat aku sedang
mencari Serika, aku melewati depan toilet wanita.
――Terdengar suara
seseorang.
"Rumor soal
Motomiya itu benar, ya? Katanya dia main dua kaki dengan Shiratori dan
Haihara?"
"Katanya ada
yang lihat. Mereka lihat Miori memeluk Haihara di taman."
"Wah, murah
sekali, ya? Dia sombong cuma karena wajahnya agak lumayan?"
"Padahal
kemarin dia bersikeras kalau hubungannya dengan Haihara cuma teman masa kecil.
Dulu kupikir dia cuma pamer, tapi ternyata dia benar-benar jalang. Kasihan
sekali Shiratori dan Hoshimiya-san."
Langkahku
terhenti seketika.
...Apa yang
mereka bicarakan?
Aku tidak bisa
memahami maksud ucapan mereka. Namun, karena ada tanda-tanda mereka akan keluar
dari toilet, aku buru-buru pergi. Setelah berjalan agak jauh seolah tidak
mendengar apa-apa, aku menoleh ke belakang.
Grup gadis yang
membicarakan gosip itu adalah siswi dari kelas 1. Yang berada di tengah-tengah
kelompok itu bernama Hasegawa. Dia cukup menonjol di kelas 1. Aku ingat namanya
karena dia sering disebut-sebut oleh anak laki-laki saat membahas siswi kelas 1
yang manis bersama Yangari dan Miori. Meski katanya, sifatnya cukup tajam.
"……Apa yang
harus kulakukan?"
Pikiranku
berantakan. Apa yang harus kulakukan?
...Tenang.
Pertama, mari rapikan situasinya. Jika ini hanya kebohongan, aku tinggal
menyangkalnya, tapi sialnya, ada kejadian nyata yang bisa disalahartikan.
Tentu saja, gosip
kalau Miori main dua kaki dengan aku dan Reita itu bohong. Tapi, aku teringat
kejadian beberapa hari sebelum turnamen olahraga. Jika ada seseorang yang
melihat kejadian di taman malam itu saat aku menahan Miori yang hampir jatuh,
salah paham itu mungkin saja terjadi.
Dari sudut
pandang orang lain, mungkin terlihat seolah Miori-lah yang memelukku. Jadi
gosipnya meluas bukan "aku yang melakukan sesuatu pada Miori", tapi
"Miori yang menggoda aku"?
Jika begitu,
langkah apa yang harus kuambil agar kesalahpahaman ini selesai?
...Keringat
dingin mengalir. Berdasarkan pengalamanku, mengatasi gosip seperti ini sangat
sulit. Apa pun itu, pertama-tama aku harus mengumpulkan informasi. Aku harus
tahu sejauh mana gosip ini menyebar dan siapa yang menyebarkannya.
Alasan Miori izin
sekolah mungkin ada hubungannya dengan gosip ini.
"Oi,
Natsuki, istirahat siang mau habis, tuh."
Aku mendongak
saat dipanggil dari kejauhan. Tatsuya dan yang lainnya memberi kode padaku.
"Ya,
mengerti."
Masih
banyak yang mengganjal di hatiku, tapi aku tidak bisa bolos kelas. Baiklah,
kembali ke kelas. Sepanjang koridor menuju kelas, aku merasa banyak tatapan
tertuju padaku. Saat kuamati, sepertinya siswi kelas 1-lah yang terus
menatapku.
...Sepertinya
aman untuk menyimpulkan bahwa gosip itu sudah menyebar di kalangan siswi kelas
1.
Entah itu
baik atau buruk, kami memang mencolok. Aku dan Yangari, Reita dan Miori,
disebut-sebut sebagai dua pasangan besar di angkatan ini. Jika ada skandal di antara salah satu dari kami,
tentu saja rasa ingin tahu semua orang akan terarah ke sana. Tatapan yang
menusuk itu membuktikan kenyataan tersebut.
Aku masuk ke
kelas dan duduk di kursiku. Guru masuk dan pelajaran dimulai. Setelah mengamati
sekeliling untuk sementara waktu, aku tidak merasakan tatapan tidak
menyenangkan dari siswa kelas 2. Sepertinya gosip itu belum menyebar ke kelas
kami. Tapi itu hanya masalah waktu.
Gosip semacam ini
akan menyebar ke seluruh sekolah sebelum kita menyadarinya, dan akan ditambah
dengan bumbu-bumbu yang tidak perlu. Ini semua tidak berdasar. Aku ingin
menanganinya secepat mungkin sebelum hal itu terjadi.
"……Natsuki-kun,
ada apa?"
Yangari yang
duduk di sebelahku berbisik. Wajahnya tampak khawatir. Sepertinya dia sadar aku
terus memasang wajah serius.
Aku bingung harus
menjawab apa. Haruskah aku memberi tahu, atau diam saja? Jika memberi tahu, apa
yang harus kukatakan? Padahal diriku sendiri pun belum benar-benar paham
situasinya.
"……Ada
sedikit masalah. Nanti kuceritakan."
Setelah berpikir
sejenak, aku menjawab begitu. Yangari adalah kekasihku. Meskipun aku belum
paham sepenuhnya, mungkin lebih baik berbagi situasi saat ini. Jika gosip itu
sampai ke telinga Yangari, dia mungkin akan merasa tidak tenang. Tapi, sekarang
sedang pelajaran, dan ini bukan pembicaraan yang selesai dalam waktu singkat.
Aku harus menciptakan ruang agar bisa bicara dengan tenang.
*
Sepulang sekolah.
Tatsuya dan yang
lainnya pergi ke klub, Nanase juga latihan piano, jadi hanya aku dan Yangari
yang tertinggal di kelas.
"Boleh aku
tanya soal yang tadi?"
Yangari bertanya.
Di kelas, anak-anak klub yang pulang masih mengobrol.
"Ya. Bisakah
kita pindah tempat sebentar?"
Aku tidak
ingin didengar orang lain. Aku membawa Yangari ke bordes tangga yang sepi. Saat
menoleh, Yangari memasang wajah cemas. Yah, memang aku belum menjelaskan
apa-apa.
"……Jadi,
apa yang terjadi?"
"Sepertinya
ada gosip buruk yang beredar. Terutama di antara siswi kelas 1."
Mendengar
ucapanku, Yangari mengerjapkan matanya.
"Gosip
apa?"
"Isinya... Miori pacaran dengan Reita, tapi juga
menggoda aku."
Sulit untuk menjelaskannya, tapi aku harus mengatakannya
agar pembicaraan berlanjut. Yangari
merespon dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
"Begitu...
ya."
"Tentu saja,
itu tidak benar."
Pertama, aku
harus menegaskan itu untuk menghilangkan kecemasan Yangari.
"Aku tidak
meragukan itu, tapi... kenapa ada gosip seperti itu?"
Pertanyaan
Yangari sangat wajar. Jika seseorang menyebarkan gosip tak berdasar karena niat
jahat, itu mudah, tapi yang menyulitkan adalah ada kejadian nyata yang menjadi
akarnya. Sejujurnya, aku takut Yangari salah paham. Waktu itu, aku benar-benar
hanya menahan Miori agar tidak jatuh, tapi bagi Yangari yang mendengar hal itu
setelahnya, itu cerita yang berbeda.
Aku jadi
kehilangan kata-kata saat melihat Yangari yang menunggu jawaban.
"――Itu
karena ada orang yang melihat Miori memeluk Natsuki."
Bukan aku yang
menjawab. Suara itu
datang dari belakang. Saat
menoleh, Serika berdiri di sana.
"……Kenapa
kau ada di sini?"
Sebelum sempat bertanya apakah dia mendengar semuanya,
pertanyaan itu meluncur begitu saja.
"Aku mencari Natsuki. Bukankah kita sudah janji untuk
menentukan jadwal latihan berikutnya sepulang sekolah?"
Ah... benar juga. Itu benar-benar luput dari ingatanku.
"Yah,
mungkin ini bukan saatnya melakukan hal itu."
Serika menghela
napas dengan melankolis. Jarang sekali Serika yang biasanya tanpa ekspresi
menunjukkan emosi di luar urusan musik.
"Emm...
maksudnya bagaimana?"
Yangari bertanya
lagi, jadi aku harus menjawab dengan benar.
"……Mungkin
ini soal beberapa hari sebelum turnamen olahraga."
Saat ini, aku
sedang membuat Yangari cemas. Karena itulah, aku harus menceritakan semuanya
dengan jujur.
"Sepulang
sekolah hari itu, aku latihan basket dengan Naru di taman. Karena Naru juga
ikut basket di turnamen, aku mengajarinya. Lalu, Miori yang kebetulan lewat
ikut latihan bersama. Setelah selesai, kami istirahat sambil mengobrol, dan
saat hendak pulang, Miori hampir jatuh, jadi aku refleks memeluknya."
Yangari
dan Serika mendengarkan ceritaku dalam diam.
"Kalau
ada yang melihat kejadian itu, tidak aneh jika terlihat seolah Miori yang
memelukku. Kalau gosip yang beredar sekarang punya dasar, kurasa itulah
akarnya."
"……Begitu
rupanya," Serika mengangguk seolah mengerti.
"Jangan-jangan,
alasan Miori izin karena gosip itu?"
"Aku tidak
tahu. Aku sendiri baru saja mendengar gosip itu dan hendak
menyelidikinya."
Aku menggelengkan
kepala. "Begitu, ya," Yangari ikut menimpali.
"……Untuk
sekarang, aku akan memberitahu apa yang aku ketahui."
Melihat kondisiku
dan Yangari, Serika angkat bicara.
"Memang
benar gosip yang baru Natsuki katakan sedang beredar di antara siswi kelas 1.
Menurutku hanya masalah waktu sampai gosip itu sampai ke kelas kalian.
Lagipula, mereka semua suka membicarakan hal seperti ini."
Serika
mengonfirmasi dugaanku yang sebenarnya tidak ingin kuharapkan.
"Orang yang
bilang melihat kejadian itu secara langsung adalah Mizuse dari kelas 1."
Yangari
menanggapi ucapan Serika, "Ah, orang yang pakai kacamata dan pendiam itu,
ya?"
Aku tidak punya
firasat apa-apa. Sepertinya
dia bukan tipe orang yang mencolok di kelas.
"Ya.
Tapi yang menyebarkannya bukan Mizuse, melainkan grup Hasegawa."
"……Benar,
kan. Saat aku tidak sengaja mendengar gosip itu, Hasegawa yang sedang bicara
pada semua orang."
"Yah...
bukankah Hasegawa-san tidak akrab dengan Miori?"
Apa
begitu? Aku sama sekali tidak
tahu, tapi Serika mengangguk seolah itu sudah jelas. Rupanya itu sudah jadi
pengetahuan umum di kalangan para gadis. Hubungan antar gadis, aku sama sekali
tidak paham...
"Miori itu
manis, ace basket putri, pintar, pacaran dengan Reita yang populer di angkatan,
dan teman masa kecilku yang juga cukup populer. Jadi dia punya banyak musuh.
Meski dia juga punya teman, Miori itu keras kepala. Dia bukan tipe yang bisa
akur dengan siapa saja seperti Yangari-chan, jadi orang yang tidak suka padanya
ya benar-benar membencinya. Yah... mungkin itu hanya sekadar rasa cemburu,
sih."
Yah, meski di
permukaan bersikap manis, esensinya tidak berubah sejak SD. Dia punya sifat
yang cukup egois, jadi wajar jika ada orang yang tidak cocok dengannya.
"Kelas 1
awalnya memang cenderung berkonfrontasi antara grup pusatnya Hasegawa dan grup
pusatnya Miori."
Serika
melanjutkan, meski bukan berarti mereka bertengkar secara terang-terangan.
"Be-begitu,
ya... aku sama sekali tidak tahu."
"Yah,
banyak hal terjadi di antara para gadis. Kurasa anak laki-laki tidak tahu apa-apa."
Yangari
menambahkan. Dunia para gadis, rasanya menakutkan...
"Kalau
Hasegawa-san menemukan kelemahan Miori-chan, tentu dia akan senang
menyebarkannya."
"Sebenarnya
saat kutanya Mizuse, dia bilang dia sedang mengobrol dengan temannya bahwa dia
melihat 'sepertinya Miori yang memeluk Natsuki', lalu dia diinterogasi oleh
Hasegawa yang mencuri dengar. Dia bingung karena dia sendiri tidak tahu
kebenarannya dan tidak menyangka akan jadi seperti ini."
Berkat Serika,
keseluruhan gambaran situasi sudah terlihat.
...Ini salahku.
Seandainya saat
itu aku segera melepaskan Miori, mungkin tidak akan ada salah paham. Tapi
kenyataannya, aku memeluknya selama beberapa detik. Karena Miori tidak
bergerak.
“Kalau aku
bilang aku suka padamu... apa yang akan kau lakukan?”
Pemandangan saat
itu terlintas di pikiranku. Suaranya terdengar seperti akan menangis.
"……Natsuki-kun?"
Tanpa sadar,
Yangari sedang menatapku lekat-lekat.
"Ah, maaf.
Tidak apa-apa."
Sepertinya
aku melamun. Aku buru-buru menggeleng.
"……Benarkah,
tidak ada apa-apa?"
Yangari bertanya
untuk memastikan.
"……Kalau
memang tidak berdasar, kupikir Miori akan menyangkalnya."
"Aku juga
berpikir begitu. Dia tipe anak yang akan mengajak berkelahi jika dia merasa
kesal."
Kami
berdua mengangguk. Aku setuju. Miori bukanlah orang lemah yang akan menyerah
karena gosip murahan.
"Kalau
soal ada kejadian yang mendasari, ya cuma yang kuceritakan tadi."
Meski
masih ada beberapa hal yang mengganjal, hanya itu yang bisa kukatakan. Sisanya
hanyalah spekulasi. Karena aku tidak tahu perasaan Miori yang sebenarnya.
Serika bicara seolah merapikan situasi.
"……Aku
tidak tahu apa yang dipikirkan Miori. Dia sudah izin sejak hari setelah
turnamen olahraga, dan tidak ada kesempatan untuk bertanya. Karena itulah gosip
itu terasa makin nyata."
Yangari
mengangguk serius dan mendesak Serika melanjutkan.
"Grup
kami juga ingin melindungi Miori, tapi karena orangnya izin dan tidak bisa
dihubungi, kami tidak bisa bertindak tegas terhadap gosip itu... Bahkan ada teman-teman yang mulai
meragukan Miori."
"Merepotkan
sekali," Serika menghela napas. Bagi Serika yang tidak tertarik pada hal
selain musik, situasi ini pastinya sangat mengganggu.
"Tapi, aku
tidak bisa membiarkan Miori. Dia temanku."
"Benar juga..." Yangari mengangguk dan melanjutkan
ucapannya.
"Masalah utamanya adalah kita tidak bisa menghubungi
Miori-chan, kan?"
"Ya. Kalau
cuma flu biasa, seharusnya dia bisa membalas pesan. Miori memang bukan orang
yang rajin membalas pesan, tapi menurutku aneh jika dia tidak membalas pesan
bukan hanya dari kami, tapi juga dari pacarnya, Reita."
Mendengarnya
kembali, situasi terasa lebih serius.
"Natsuki-kun,
rumahmu dekat, kan?"
"Yah...
sekitar 15 menit berjalan kaki."
"Aku
khawatir pada Miori-chan, bisakah kau menjenguknya?"
Yangari
menyatukan kedua tangannya, memohon.
"……Apa tidak
apa-apa kalau aku yang pergi?"
"Aku percaya
pada Natsuki-kun."
Yangari menatap
mataku dan mengangguk pelan.
"Yah, kita
harus memastikan apakah dia benar-benar sakit atau ada penyebab lain..."
Serika
bergumam. Memang itu langkah yang perlu dilakukan. Saat ini, kejadian ini menimpa Miori. Sulit bagi
kami untuk menangani gosip ini tanpa tahu pendapat Miori sendiri.
"Mengerti.
Aku akan coba melihat kondisinya."
...Sejujurnya,
aku punya firasat buruk. Jika
memang hanya flu, pasti dia bisa membalas RINE. Jadi, tidak salah lagi pasti
terjadi sesuatu.
*
Sebelum naik
kereta pulang, aku mencoba mengirim pesan pada Miori. Namun, setelah satu jam
berlalu, pesannya bahkan tidak dibaca. Benar saja, tidak ada cara lain selain
mengunjunginya langsung. Tapi, tubuhku terasa sangat berat. Firasat buruk itu
semakin kuat. Mungkin karena aku bisa menebak apa yang terjadi. Aku hanya
berharap tebakanku salah.
Setelah turun
dari kereta, aku membeli buah tangan di minimarket. Berjalan sekitar dua puluh
menit, aku sampai di rumah Miori.
Itu adalah rumah
tua yang besar di tengah kawasan perumahan. Di taman yang luas dan terawat, terdapat ring
basket yang merusak pemandangan. Di tempat parkir di sampingnya, terparkir
Alphard putih. Tidak ada yang berubah sejak terakhir aku datang ke sini
bertahun-tahun lalu.
Seorang
wanita tua dengan rambut putih dan punggung bungkuk sedang duduk di teras (engawa).
Dia menyadari kehadiranku di depan gerbang dan perlahan berdiri.
"Oh,
mungkinkah ini Natsuki-kun? Sudah
besar sekali, ya."
"Halo, Nek.
Sudah lama tidak bertemu."
Nenek Miori
mendekat sambil bertumpu pada tongkatnya. Aku tidak menyangka dia masih
mengingatku padahal sudah empat atau lima tahun aku tidak berkunjung.
"Aku
sering mendengar cerita tentangmu dari Miori. Benar kata anak itu, kau sudah jadi lelaki yang
tampan, ya."
Dengan
senyum ramah, nenek menatapku.
"……Apa Miori
membicarakan aku?"
"Tentu saja.
Dia sering membicarakanmu apa saja. Bilang kau suka bergaya, bilang kau bodoh,
bilang kau payah—semuanya hanya keluhan. Tapi, dia bicara dengan sangat
senang."
"Hahaha..." Aku tertawa getir sambil menanggapi.
Itu memang Miori sekali.
"Pasti dia senang sekali bisa akrab lagi denganmu,
kan?"
"……Kalau memang begitu, aku senang. Dia memang orang yang tidak jujur."
Ngomong-ngomong,
aku memotong pembicaraan untuk masuk ke inti masalah.
"Apa Miori
baik-baik saja? Sepertinya dia sudah lama izin sekolah..."
"Jangan-jangan,
kau datang menjenguknya?"
Karena
Nenek bertanya balik, aku mengangguk. Nenek kemudian memasang raut wajah muram.
"Sepertinya
kondisinya sedang tidak baik. Dia mengurung diri di kamar dan tidak
keluar."
"……Begitu,
ya. Boleh aku mengganggunya sebentar? Ada yang ingin kubicarakan."
"Silakan,
silakan. Miori pasti senang. Sekalian minum teh di sini."
Aku melepas
sepatuku dan masuk ke dalam. Aku diarahkan ke ruang keluarga.
Di atas lantai
tatami, sebuah meja panjang diletakkan, dikelilingi oleh banyak zabuton
yang berjajar. Di atas piring meja itu terdapat jeruk dan wagashi, dan
di ujungnya tampak teh yang sepertinya milik sang nenek.
"Tunggu
sebentar di sini, ya."
Sesuai
kata-katanya, aku duduk di atas zabuton menunggu. Nenek menyuguhkan teh
untukku. Aku merasa tidak enak hati karena merepotkan beliau. Aku sudah
menyerahkan buah tangan, tapi kehadiranku yang tiba-tiba ini pasti membuat
beliau bingung...
Dalam manga atau
anime, adegan menjenguk orang sakit adalah hal yang lumrah, tapi di dunia
nyata, rasanya jarang dilakukan.
Itu hanya akan
menyusahkan si pasien, dan kalau tertular flu, jadinya malah bumerang
bagi diri sendiri.
Yah, mungkin
kalau untuk orang yang tinggal sendiri, menjenguk berguna untuk membawakan
bahan makanan atau semacamnya.
...Tapi kali ini
situasinya agak khusus, jadi aku berharap beliau memakluminya.
Sambil
meminum teh yang disuguhkan, aku mengamati sekeliling. Di samping meja tempat
televisi yang menayangkan acara travel, terdapat foto Miori saat masih kecil
bersama kedua orang tuanya.
Orang tua
Miori adalah pasangan yang bekerja. Kemungkinan besar, keduanya belum pulang.
Saat ini di rumah hanya ada Miori dan sang nenek. Aku mendengar bahwa kakeknya
sudah meninggal dunia.
Setelah
menunggu beberapa lama, nenek kembali lagi.
"Maaf
ya, Natsuki-kun. Sepertinya anak itu sekarang tidak mau bertemu siapa pun...
padahal kondisi fisiknya seharusnya sudah jauh membaik. Tapi, aku heran juga kenapa dia sampai kena
flu..."
"……Begitu,
ya."
Ternyata
benar, ini bukan sekadar flu.
"Apa
jangan-jangan, terjadi sesuatu di sekolah? Apa kau tahu sesuatu,
Natsuki-kun?"
"……Sedikit.
Tapi, apakah itu penyebab dia izin sekolah, aku harus menanyakannya langsung
pada Miori."
Pandanganku
bertemu dengan nenek. Tanpa memalingkan wajah, aku berkata, "Bolehkah saya
pergi ke depan pintu kamar Miori?"
Aku sudah
mengerti kalau dia tidak ingin menemuiku.
Tapi, jika aku
pulang begitu saja, tidak akan ada perubahan apa pun.
Nenek melunakkan
ekspresinya, lalu berkata dengan suara lembut, "Tolong jaga dia, ya."
*
Aku
berdiri di depan kamar Miori.
Terdengar
langkah kaki kecil mendekat; anjing yang dirawat Miori menghampiriku. Kalau
tidak salah namanya Ku, ya? Ku mengendus ujung sepatuku, lalu menggosokkan
tubuhnya ke kakiku. Setelah
itu, dia menatap lekat ke pintu kamar yang tertutup rapat.
"……Kau juga
khawatir, ya."
Setelah mengusap
kepala Ku, aku mengetuk pintu kamar Miori.
"Miori, ini
aku. Kau tidak apa-apa?"
Terdengar
suara selimut yang bergerak, basa. Namun, tidak ada jawaban.
"Semua
orang khawatir. Setidaknya balaslah pesan RINE-ku."
Meski
tidak ada reaksi, aku terus berbicara.
"Apa
kondisimu sudah membaik? Aku membawa buah tangan, apa kita tidak bisa bertemu
sebentar? Ah, aku juga membawa tugas dari Serika. Katanya ini soal pekerjaan
rumah dan pengumuman selama kau izin."
Aku
berusaha mengatakannya seceria mungkin, tapi hanya keheningan yang dingin yang
menyambutku. Aku ragu, apakah harus membahas soal gosip itu atau tidak. Saat
sedang bimbang, sebuah suara terdengar.
"……Maaf.
Tolong sampaikan permintaan maafku pada semuanya."
Pintu masih belum
terbuka. Tapi ada tanda-tanda keberadaan orang di sana.
Miori
berdiri tepat di balik pintu dan berbicara kepadaku.
"Sekarang,
aku tidak ingin bertemu siapa pun... termasuk dirimu. ...Jadi, pulanglah."
Suaranya
nyaris menghilang.
Bagaimanapun
juga, jelas sekali keadaannya tidak normal.
"Kalau tidak
mau bertemu, begini saja tidak apa-apa. Tapi, setidaknya biarkan aku mendengar
ceritamu."
Aku duduk bersila
di depan pintu kamar. Itu adalah pernyataan bahwa aku tidak akan pulang sampai
aku mendengar ceritanya.
"Kau
tidak sekadar kena flu, kan? Apa yang terjadi?"
"……Bukankah
kau datang ke sini karena sudah tahu semuanya?"
Jawaban itu
keluar seperti gumaman yang lirih.
"Kalau soal
gosip yang beredar di kelas 1, aku sudah mendengarnya."
Hyu, terdengar suara Miori yang menahan
napas. Reaksi itu memastikan bahwa penyebab Miori izin sekolah memang ada
hubungannya dengan gosip tersebut.
"Memang ada
perilaku yang terlihat seperti itu. Tapi, itu murni kecelakaan. Kalau begitu,
seharusnya kau membantah dengan tegas. Aku pun akan menyangkalnya. Kau bukan karakter yang akan diam
saja dan menangis, kan?"
"……Mungkin
begitu."
"Gadis
bernama Hasegawa yang menyebarkan gosip itu sepertinya tidak menyukaimu. Mungkin karena itu, ada bagian dari
ceritanya yang diputarbalikkan. Kalau dibiarkan terus, gosip itu akan semakin
meluas."
"……Ceritanya
tidak diputarbalikkan, kok."
Aku mengerutkan
kening mendengar jawaban Miori. Karena aku tidak mengerti apa yang ingin dia
katakan.
"Grup
Hasegawa-san sudah mengonfirmasinya langsung kepadaku. Gosip yang beredar itu, semuanya
adalah fakta."
"Fakta? Apa
maksudmu? Sebenarnya apa yang mereka katakan—"
"——Bukankah
kau sudah tidak cukup naif untuk bersikeras bilang tidak mengerti?"
Miori memotong
kata-kataku, membuatku kehilangan kata-kata untuk membantah.
Aku punya sedikit
firasat. Satu hal yang aku harap tidak akan menjadi kenyataan.
Hari itu. Setelah
aku menahan Miori, apa yang kupikirkan?
“Ma-maaf...
kakiku, tidak bisa digerakkan dengan benar...”
“Kalau aku
bilang aku suka padamu... apa yang akan kau lakukan?”
“Aku
pulang! Kalau tidak cepat, kereta terakhir akan habis!”
Miori tersandung
karena kelelahan. Itulah kenapa aku menahannya. Aku pikir dia tidak langsung
melepaskan pelukan karena menunggu kakinya pulih. Namun sesaat kemudian, Miori
malah memikirkan waktu kereta terakhir dan lari lebih dulu.
“...Kakinya,
sama sekali tidak apa-apa.”
Saat itu,
aku—sempat berpikiran macam-macam.
Bayangan yang
melintas di benakku adalah delusi konyol yang terlalu menguntungkan bagiku.
"——Semuanya,
itu disengaja."
Namun, seolah
mengonfirmasi delusi itu, Miori melanjutkan.
"Jadi, tidak
ada ruang untuk alasan. Meskipun aku berpacaran dengan Reita-kun, aku
memelukmu. Aku pikir kalau aku beralasan kakiku tersandung, mungkin tidak
apa-apa. Padahal itu hal yang mustahil. ...Bodoh, ya? Aku sudah kalah.
Kalah dari perasaan cinta yang seharusnya aku segel."
Suara
Miori diselingi isak tangis.
Aku tidak bisa
berkata apa-apa.
Karena aku tidak
tahu harus berkata apa.
Ada banyak hal
yang ingin kutanyakan, tapi bolehkah aku melangkah sejauh itu?
Karena kalau
cerita itu benar, berarti Miori... menyukaiku.
"Tolong
sampaikan pada semuanya. Maaf sudah membuat kalian khawatir. Tapi, karena gosip
itu adalah fakta, jangan coba-coba menghentikannya atau menyangkalnya, ya.
...Dan jangan salahkan Hasegawa-san dan yang lainnya."
Aku tidak ingat
kejadian setelahnya.
Karena tidak
menemukan kata-kata yang tepat, aku meninggalkan tempat itu seolah melarikan
diri.
* (Motomiya Miori)
"……Apa kau
yakin melakukan itu?"
Setelah
memastikan Natsuki sudah pergi, Saya bertanya.
"Hanya ini
yang bisa kulakukan. Semuanya, ini salahku."
Sambil duduk
bersimpuh di atas tempat tidur, aku berbicara pada Saya yang berdiri di dekat
jendela.
Alasannya
sederhana; dia menyusup masuk lewat jendela tanpa izin.
Saya adalah teman
masa kecilku yang tinggal dua rumah dari sini.
Meski usianya
setahun di bawahku, kami sudah akrab sejak lama, dan sering kali dia menyelinap
masuk lewat jendela seperti hari ini, dan aku pun menerimanya.
"Kenapa
tidak pura-pura saja kalau kau tersandung? Sebenarnya itu bukan masalah besar.
Sedikit berpelukan, kalau kau memanipulasinya sedikit, tidak akan ada yang
menyalahkanmu, tahu?"
Saya mengusulkan
dengan santai. Sejujurnya, aku berbohong kalau bilang pikiran itu tidak
melintas di kepalaku.
"……Tidak
boleh. Kalau begitu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."
Aku sudah
melakukan kesalahan yang cukup buruk, aku tidak mungkin melakukan hal seperti
melindungi diri dengan kebohongan.
"Ternyata
kau orang yang menjunjung tinggi kebersihan diri secara tak terduga, ya."
Saya mengedikkan
bahu dan menghela napas.
"Maafkan
aku. Padahal aku yang meminta saran, malah jadi begini."
"Aku tidak
masalah, sih... tapi jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, ya?"
Sejak
sebelum turnamen olahraga, aku sering berkonsultasi dengan Saya.
Tentang
aku yang punya pacar.
Tentang
aku yang punya orang lain yang kusukai.
Tentang
orang itu adalah teman masa kecilku.
Tentang
betapa menderitanya aku karena ingin menyukai pacarku yang sekarang, tapi tidak
bisa.
Karena
curhatanku adalah sesuatu yang tidak bisa kusampaikan kepada orang-orang dalam
lingkaran pergaulanku sehari-hari.
Meski akrab
dengan Saya sejak dulu, pergaulan kami berbeda, jadi itu terasa pas.
"Lagipula,
ada bagian di mana Haihara-senpai yang tidak menolak itu juga salah, sih."
"……Hentikan.
Natsuki, dia mempercayaiku."
Aku telah
mengkhianati kepercayaan itu. Karena itu pula, aku menyusahkan Natsuki.
"……Kurasa
bukan cuma itu saja alasannya. Alasan kenapa Haihara-senpai tidak segera
melepaskanmu."
Saya
bergumam sambil menatap ke luar jendela. Aku tidak paham arti kata-katanya. Saat aku mengernyitkan dahi, Saya
tersenyum getir.
"Yah, apa
pun itu, tidak ada gunanya terus murung, kan?"
"……Ya, benar
juga. Aku tahu. Sebentar lagi, aku harus pergi ke sekolah."
Logikanya aku
tahu. Aku tidak bisa terus mengurung diri selamanya.
Jadi, aku harus
pergi ke sekolah. Tapi, entah mengapa, langkahku selalu menjauh dari sekolah.
Bukan karena
gosip buruk dari Hasegawa dan teman-temannya. Tapi karena aku tidak sanggup
menatap wajah Natsuki dan teman-temannya.
"……Kalau kau
jadi aku, apa yang akan kau lakukan?"
Saat kutanya,
Saya mengerang "Hmm," lalu berkata.
"Karena aku
tidak sesensitif Senpai, aku akan langsung minta maaf dan selesai."
...Benar juga. Seperti kata Saya. Ujung-ujungnya,
terus seperti ini hanya berarti aku sedang melarikan diri.
Apa pun yang terjadi, pertama-tama aku harus meminta maaf kepada orang-orang yang telah kususahkan.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment