Kata Penutup
Musim panas
adalah musimnya masa muda, jadi saya memasukkan semuanya mulai dari laut, baju
renang, kembang api, hingga barbeku, ditambah dengan sedikit bumbu kabur dari
rumah.
Kabur dari rumah
lalu menginap bersama, itu benar-benar puncak dari masa muda, bukan?
Iya, kan?
Lama tidak jumpa.
Saya Amamiya Kazuki.
Nah, volume
ketiga ini adalah kisah tentang musim panas. Fokus utamanya adalah Hoshimiya
Hikari.
Saya rasa tingkat
"kejelasan" akan sosok Hoshimiya—yang selama ini menunjukkan sisi
imutnya namun sulit ditebak isi hatinya—sudah sedikit meningkat di volume ini.
Mohon terus
dukung sosok yang (mengaku) idola sekolah ini, Hoshimiya Hikari.
Tema kali ini
adalah "Impian Masa Depan" dan "Keluarga". Sama seperti
volume kedua, posisi Natsuki terasa cukup sulit karena dia sendiri tidak
menghadapi masalah tersebut secara langsung.
Terutama di
bagian tengah cerita, saat saya sedang pusing memikirkan bagaimana cara
melibatkan Natsuki, tiba-tiba Hoshimiya muncul karena kabur dari rumah. Saya
pun terkejut.
Jadi, bagaimana
menurut Anda dengan volume ketiga ini?
Karena sudah
waktunya liburan musim panas, saya sengaja mencoba menggeser fokus cerita
menjauh dari lingkungan sekolah. Meski begitu, saya tetap ingin menggambarkan
tema yang bisa dirasakan oleh siapa saja dengan selembut mungkin.
Sebenarnya,
mungkin jarang ada siswa SMA yang memiliki impian masa depan yang jelas. Tapi,
saya punya beberapa teman yang seperti itu.
Saya pribadi,
yang saat itu hanya berpikir "mungkin masuk universitas saja lah"
tanpa tujuan yang jelas, ingat betul betapa saya menghormati orang-orang yang
sudah menatap masa depan mereka.
Kali ini, saat
menulis kisah Hoshimiya, saya jadi merenungkan diri saya sendiri.
Tiba-tiba saya
sadar, ternyata saya tidak pernah berpikir ingin menjadi seorang novelis sejak
dulu.
Namun, sejak
menjadi novelis, saya selalu berharap untuk bisa terus menjadi seorang novelis.
Pertama kali saya
menulis novel adalah saat kelas satu SMA. Tidak ada alasan khusus.
Saya membaca
novel yang sangat menarik, lalu berpikir, "Saya juga ingin menulis novel
menarik seperti ini."
Sejak dulu, di
kepala saya ada banyak imajinasi yang ingin saya ekspresikan, dan saya
menyadari betapa menyenangkannya proses menuangkan imajinasi itu ke dalam
tulisan.
Di saat yang
sama, saya sadar itu adalah hal yang sangat sulit dan mendalam.
Konsep
seperti apa yang harus ada? Karakter seperti apa yang harus hadir? Struktur
cerita yang bagaimana, serta ekspresi seperti apa yang bisa membuat pembaca
tertarik pada ceritanya?
Persis
seperti hari itu, saat saya membaca novel yang sangat menarik dan ingin
menulisnya sendiri.
Saya pun
ingin menulis novel yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati seseorang.
Alasan
saya—yang cepat bosan ini—bisa terus menulis novel sampai hari ini adalah
karena saya benar-benar menikmati proses mengejar kata "menarik"
tersebut.
Kabar
mengenai penerbitan novel pertama saya datang pada musim gugur tahun pertama
kuliah.
Waktu itu
saya hanya menulis novel web sebagai hobi, jadi meski sempat terpikir
samar-samar "kapan ya bisa terbit jadi buku?", saya tidak pernah
menyangka akan benar-benar bisa terbit.
Hidup
memang tak terduga. Saya sendiri hidup dengan cara yang spontan tanpa
memikirkan masa depan…….
Namun,
saya rasa keinginan untuk menulis karya yang menarik tidak berubah sejak dulu.
Jadi,
esensi dari Hoshimiya Hikari yang bercita-cita menjadi novelis, mungkin juga
ada di sana.
Beralih ke ucapan
terima kasih. Kepada editor saya, N-san, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya
karena progres pengerjaan kali ini benar-benar seolah-olah saya berkata,
"Tenggat waktu? Apa itu……?".
Kepada
ilustrator, Gin-san, terima kasih banyak atas ilustrasi yang luar biasa sekali
lagi. Ilustrasi baju renangnya, semuanya imut sekali…….
Dan kepada semua
pihak yang terlibat, serta para pembaca, saya ucapkan terima kasih. Terima
kasih selalu.
Nah, selanjutnya adalah bab Festival Budaya. Akankah musik mereka bisa sampai ke hati seseorang?
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Bersama Hondou Serika di Tepi Sungai
Semester
dua dimulai, dan aku dalam perjalanan pulang setelah sekolah berakhir.
Entah
kenapa, aku memutuskan untuk turun di stasiun yang acak dan duduk di tangga
tepi sungai.
Tidak ada alasan
khusus. Kalau harus dipaksa menjawab, itu karena tempat ini terasa seperti
"masa muda".
Tepi sungai
bukankah punya konsentrasi "masa muda" yang cukup tinggi? Yah,
mungkin sedikit di bawah atap sekolah, tapi aku merasa begitu. Kalau ada yang
bilang itu cuma pengaruh anime bertema masa muda, aku tidak bisa membantah.
Aku juga melihat
beberapa kelompok siswa yang sama sepertiku di sini. Yah, cuma aku saja yang
sendirian.
Ditiup angin
sepoi-sepoi yang hangat, aku memandangi sungai. Panas sekali. Aku jadi ingin
segera pulang.
Sisa musim panas
ini masih terlalu terik untuk sekadar bermain peran menjadi "anak
muda" di luar ruangan. Mungkin lebih baik pulang ke kamar dan
menyalakan AC…… tepat saat aku berdiri karena berpikiran begitu, seseorang
memanggilku dari belakang.
"Kenapa kau
ada di tempat seperti ini?"
Sosok yang
memiringkan kepalanya dengan ekspresi tanpa ekspresi itu adalah Serika.
Dia
mengenakan seragam yang agak berantakan, dan seperti biasa, sebuah tas gitar
tersampir di punggungnya.
"……Cuma
merasa ingin saja."
Aku tidak
mungkin menjawab kalau aku sedang bermain peran menjadi "anak muda",
jadi itulah jawaban yang kuberikan.
"Cuma merasa
ingin saja, lalu datang ke tempat seperti ini? Ini bukan stasiun terdekatmu, kan?"
"Yah…… kalau kau sendiri bagaimana, Serika?"
"Aku
sedang dalam perjalanan pulang. Hari ini tidak ada latihan klub musik
ringan."
"Hee,
rumahmu di sekitar sini?"
"Iya. Lima
menit lagi sampai."
Entah apa yang
dipikirkannya, Serika duduk di sebelah tempatku tadi duduk.
……E-eh, ada apa?
Apa dia ingin bicara denganku? Dia benar-benar misterius seperti biasanya.
Meski
bingung, aku kembali duduk dan melirik Serika yang ada di sampingku.
Serika
sedang menatap sungai dengan lekat. Profil samping wajahnya begitu cantik
sampai-sampai aku nyaris terpana.
"……Kau, suka
sungai?"
"Tidak
juga."
"Begitu ya.
Kalau aku cukup suka. Duduk
melamun seperti ini sambil memandangi sungai."
Yah,
Serika memang terlihat tipe yang suka begitu. Belakangan ini, aku mulai sedikit
paham tentang dirinya.
"Kalau
sedang melamun, kadang-kadang aku bisa menemukan frase musik yang
bagus."
Setelah
berkata begitu, Serika menoleh ke arahku.
Tepatnya,
dia sedang menatap earphone yang sejak tadi kupasang sebelum kami
bertemu.
"Lagi
dengar apa?"
"Hm?
Sekarang lagi dengar Aruべき Katachi dari UVERworld."
"Keren,"
katanya sambil seenaknya melepas salah satu earphone-ku.
T-tunggu
sebentar!? Jangan menyentuh telinga orang lain dengan santainya begitu dong!?
Padahal
aku sedang gugup setengah mati…… Serika memasang earphone itu ke telinganya tanpa memedulikan
perasaanku sama sekali. Begitu musik mulai terdengar, sudut bibir Serika
sedikit melunak.
"Memang
benar, musik itu hebat. Bisa memberi energi."
Aku merasa
kata-kata itu diucapkan dengan ketulusan yang lebih dalam dari biasanya.
Waktu berlalu
saat kami berdua duduk di tangga tepi sungai.
Lagu-lagu
kesukaanku yang sudah kumasukkan ke dalam playlist diputar secara acak.
Tepat saat lagu Guild
milik BUMP OF CHICKEN berakhir, Serika mengembalikan earphone-ku lalu
berdiri. TN: Lagunya lumayan enak di denger
"Semangatku
sudah naik. Aku mau pulang dan berlatih."
"Tadi
bukannya kau bilang tidak ada latihan klub?"
"Latihan
mandiri itu wajib. Aku akan mengubah dunia dengan gitar ini."
Serika
menyatakan hal itu dengan nada yang sangat serius, lalu memunggungiku dan
menaiki tangga.
Punggungnya
terlihat sangat keren. Memang benar, punya sesuatu yang bisa digeluti dengan
serius itu hal yang hebat.
Karena itulah…… aku terlambat menyadarinya.
Saat Serika
menaiki tangga, pemandangan di depannya mulai terlihat.
Serika memang
sudah sering memakai rok yang cukup pendek.
Ditambah lagi,
aku sedang duduk di tangga, sementara Serika sedang menaiki tangga tersebut.
Singkatnya, hal
itu mustahil untuk tidak terlihat.
Secara tidak
sengaja, aku melihat sepotong kain segitiga berwarna hitam dengan hiasan renda
mengintip di antara kakinya yang ramping dan indah.
Aku buru-buru
memalingkan muka dan menatap aliran sungai. Namun, pemandangan itu sudah
terlanjur terbakar di ingatanku dan tidak mau hilang.
"Kalau
begitu, sampai jumpa lagi."
"……Ah.
Sampai jumpa di sekolah."
Aku membalas
sapaan Serika yang sama sekali tidak menyadari apa pun.
Serika mulai
berjalan pergi, namun di tengah jalan dia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"……Jangan-jangan,
kau tadi melihatnya?"
Aku terus
menatap aliran sungai dan pura-pura tidak mendengar.



Post a Comment