NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 3 Epilog

Epilog

Akhir Musim Panas yang Bagaikan Sebuah Keajaiban


Paruh kedua liburan musim panas berlalu dalam sekejap mata.

Kami menghabiskan hari dengan mengerjakan tugas liburan bersama, mengunjungi Festival Kembang Api Maebashi, dan menjalani hari-hari seperti biasa sambil bekerja paruh waktu bersama Nanase.

Namun, kami juga sering bergabung dengan Uta dan kawan-kawan setelah latihan klub usai untuk bersenang-senang, serta mampir ke rumah Tatsuya untuk bertarung di game Smash Bros.

Pokoknya, hari-hari kami diisi dengan kegiatan yang sangat memuaskan.

Pada tanggal dua puluh delapan Agustus, aku menerima hadiah ulang tahun dari Uta.

Itu adalah sebuah kalung yang sederhana. Desainnya tidak berlebihan, dan aku bisa merasakan selera yang bagus dari dekorasi minimalisnya. Itu benar-benar seleraku. Pasti harganya lumayan mahal.

Hoshimiya menuliskan sebuah cerita pendek untukku.

Hebatnya, dia menulisnya langsung di tempat sambil mendengarkan apa yang kusukai dan kuharapkan.

Hanya itu saja sebenarnya sudah cukup membuatku senang, tapi Hoshimiya merasa belum cukup dan membawakanku kue buatan sendiri.

Permukaannya memang agak berantakan, tapi fakta bahwa dia membuatnya khusus untukku sudah cukup membuatku bahagia. Terlepas dari bentuknya, kuenya pun sangat lezat.

Selain itu, cerita pendek yang ditulisnya untukku juga sangat menarik. Sebagai seorang otaku, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada memiliki penulis favorit yang menulis cerita khusus untuk dirimu sendiri.

Tak lama kemudian, hari terakhir liburan musim panas pun tiba.

Entah kenapa, akhir-akhir ini Miori terus saja bertamu ke rumahku. Hari ini, dia sedang berbaring di tempat tidurku sambil membaca komik komedi romantis yang sedang populer. Komik itu memang seru.

"……Ngomong-ngomong, Miori. Apa kau tidak masalah terus-terusan ada di rumahku?"

"Apa maksudmu? Ini kan masih sore."

Miori menatapku dengan wajah bingung. Apa anak ini benar-benar tidak memikirkan apa pun?

"Bukan soal waktunya…… maksudku, ya, ini mencakup hal-hal yang akan terjadi ke depannya. Kalau kau terlalu sering berada di rumahku, bukankah itu tidak baik untuk impresi Reita?"

Yah, aku mengerti kalau rumahku memang nyaman.

Lagipula, di sini ada pesuruh yang bisa diandalkan. Yaitu aku sendiri. Hahaha.

"……Iya, juga ya."

Miori bergumam seolah baru saja disadarkan oleh sesuatu.

"……Kalau begitu, mungkin hari ini aku pulang saja."

Punggungnya terlihat begitu kecil dan tampak menyedihkan.

"Bukan berarti aku menyuruhmu untuk tidak datang lagi, tahu? Hanya saja, aku――"

"Aku tahu, kok."

Miori memotong ucapanku.

"Kau mengatakannya karena mengkhawatirkanku, kan? Kurasa kau benar. Meskipun kita belum pacaran, akulah yang kurang pertimbangan. ……Hal ini juga menyusahkanmu, ya."

Aku tidak sanggup menegaskan kalau "bukan begitu".

Bersama Miori memang menyenangkan. Aku juga senang saat Miori datang ke rumah.

Namun, aku merasa tidak benar jika terus berduaan dengan Miori sementara aku masih menggantung perasaan kedua gadis itu. Aku tidak bisa menyangkal kalau pikiran itu terselip dalam ucapanku tadi.

"……Lagipula, kenapa kalian berdua belum pacaran juga?"

Jadi, aku tidak menanggapi kalimat terakhir Miori.

"Bukankah situasinya sudah siap untuk pacaran kalau kalian memberanikan diri sedikit lagi?"

Jika itu Miori, dia pasti sudah sadar kalau Reita juga punya perasaan yang sama.

Selama liburan di pantai pun, mereka sering terlihat mengobrol dengan akrab.

Baik Reita maupun Miori bukanlah tipe orang yang pemalu, jadi aku heran kenapa mereka belum juga menjalin hubungan dengan jarak sedekat itu.

Miori menunduk dan bergumam pelan.

"……Iya, ya. Aneh, ya."

Keheningan yang janggal menyelimuti kami.

Entah kenapa, suasana di ruangan itu terasa berat.

……Apa aku salah bicara? Perasaan itu muncul begitu saja.

"Oke, aku sudah memutuskan."

Miori berdiri di atas tempat tidur dan mendeklarasikan keputusannya.

Dia menunjukkan senyumnya yang biasa, seolah keheningan berat tadi hanyalah ilusi.

"Aku akan menyatakan perasaanku pada Reita-kun. Belakangan ini aku jadi terlalu berhati-hati, tapi itu bukan diriku yang sebenarnya…… aku akan segera menyelesaikan urusan ini dan meraih kebahagiaanku!"

Miori mengangkat tinjunya ke langit sembari berseru, "Semangat!" seolah sedang menyemangati dirinya sendiri.

Melihat keadaan Miori, aku pun mengarahkan tinjuku ke arahnya.

"――Semangat, Miori. Aku juga akan mendukungmu."

Aku juga berdoa demi kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.

Karena aku benar-benar menganggapmu berharga, dirimu yang selalu membantuku.

Semoga keinginan Miori terkabul.

"――Ya."

Tok.

Miori menempelkan tinjunya ke tinjuku.

"……Kau sendiri, kapan mau segera memutuskan perasaanmu?"

Tapi, kenapa ya?

Meskipun dia seharusnya tertawa.

Ekspresi Miori seolah-olah terlihat ingin menangis untuk sesaat――.

Liburan musim panas berakhir, dan bulan September tiba.

Awal musim gugur yang masih menyisakan hawa panas. Sekolah dimulai, dan rutinitas sehari-hari kembali seperti sediakala.

"Natsuki, ada waktu sebentar?"

Saat aku sedang berjalan di lorong sekolah pada jam istirahat siang, orang yang memanggilku adalah Serika.




Dengan ekspresi datar seperti biasanya, Serika bertanya dengan tenang.

"Maukah kamu, membentuk band bersamaku?"

"H-ha, hah……?"

Musim panas yang menyenangkan telah menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Lalu, saat dedaunan hijau mulai berubah warna menjadi kekuningan, masa muda yang baru pun dimulai.

Waktu pelaksanaan festival budaya yang dikenal sebagai acara masa muda paling penting (menurut risetku) sudah semakin dekat.

"――Aku serius. Dengan musik kita, ayo kita ubah dunia ini?"

VOLUME 3 END



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close