Epilog
Akhir Musim Panas yang Bagaikan Sebuah Keajaiban
Paruh kedua
liburan musim panas berlalu dalam sekejap mata.
Kami menghabiskan
hari dengan mengerjakan tugas liburan bersama, mengunjungi Festival Kembang Api
Maebashi, dan menjalani hari-hari seperti biasa sambil bekerja paruh waktu
bersama Nanase.
Namun, kami juga
sering bergabung dengan Uta dan kawan-kawan setelah latihan klub usai untuk
bersenang-senang, serta mampir ke rumah Tatsuya untuk bertarung di game Smash
Bros.
Pokoknya,
hari-hari kami diisi dengan kegiatan yang sangat memuaskan.
Pada tanggal dua
puluh delapan Agustus, aku menerima hadiah ulang tahun dari Uta.
Itu adalah sebuah
kalung yang sederhana. Desainnya
tidak berlebihan, dan aku bisa merasakan selera yang bagus dari dekorasi
minimalisnya. Itu benar-benar seleraku. Pasti harganya lumayan mahal.
Hoshimiya
menuliskan sebuah cerita pendek untukku.
Hebatnya,
dia menulisnya langsung di tempat sambil mendengarkan apa yang kusukai dan
kuharapkan.
Hanya itu
saja sebenarnya sudah cukup membuatku senang, tapi Hoshimiya merasa belum cukup
dan membawakanku kue buatan sendiri.
Permukaannya
memang agak berantakan, tapi fakta bahwa dia membuatnya khusus untukku sudah
cukup membuatku bahagia. Terlepas dari bentuknya, kuenya pun sangat lezat.
Selain
itu, cerita pendek yang ditulisnya untukku juga sangat menarik. Sebagai seorang
otaku, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada memiliki penulis
favorit yang menulis cerita khusus untuk dirimu sendiri.
Tak lama
kemudian, hari terakhir liburan musim panas pun tiba.
Entah kenapa,
akhir-akhir ini Miori terus saja bertamu ke rumahku. Hari ini, dia sedang berbaring di tempat
tidurku sambil membaca komik komedi romantis yang sedang populer. Komik itu
memang seru.
"……Ngomong-ngomong,
Miori. Apa kau tidak masalah terus-terusan ada di rumahku?"
"Apa
maksudmu? Ini kan masih sore."
Miori menatapku
dengan wajah bingung. Apa anak ini benar-benar tidak memikirkan apa pun?
"Bukan soal waktunya…… maksudku, ya, ini mencakup
hal-hal yang akan terjadi ke depannya. Kalau kau terlalu sering berada di
rumahku, bukankah itu tidak baik untuk impresi Reita?"
Yah, aku mengerti
kalau rumahku memang nyaman.
Lagipula, di sini
ada pesuruh yang bisa diandalkan. Yaitu aku sendiri. Hahaha.
"……Iya, juga
ya."
Miori bergumam
seolah baru saja disadarkan oleh sesuatu.
"……Kalau
begitu, mungkin hari ini aku pulang saja."
Punggungnya
terlihat begitu kecil dan tampak menyedihkan.
"Bukan
berarti aku menyuruhmu untuk tidak datang lagi, tahu? Hanya saja, aku――"
"Aku tahu,
kok."
Miori memotong
ucapanku.
"Kau
mengatakannya karena mengkhawatirkanku, kan? Kurasa kau benar. Meskipun
kita belum pacaran, akulah yang kurang pertimbangan. ……Hal ini juga
menyusahkanmu, ya."
Aku tidak
sanggup menegaskan kalau "bukan begitu".
Bersama
Miori memang menyenangkan. Aku juga senang saat Miori datang ke rumah.
Namun,
aku merasa tidak benar jika terus berduaan dengan Miori sementara aku masih
menggantung perasaan kedua gadis itu. Aku tidak bisa menyangkal kalau pikiran
itu terselip dalam ucapanku tadi.
"……Lagipula,
kenapa kalian berdua belum pacaran juga?"
Jadi, aku
tidak menanggapi kalimat terakhir Miori.
"Bukankah
situasinya sudah siap untuk pacaran kalau kalian memberanikan diri sedikit
lagi?"
Jika itu Miori,
dia pasti sudah sadar kalau Reita juga punya perasaan yang sama.
Selama liburan di
pantai pun, mereka sering terlihat mengobrol dengan akrab.
Baik Reita maupun
Miori bukanlah tipe orang yang pemalu, jadi aku heran kenapa mereka belum juga
menjalin hubungan dengan jarak sedekat itu.
Miori
menunduk dan bergumam pelan.
"……Iya,
ya. Aneh, ya."
Keheningan
yang janggal menyelimuti kami.
Entah kenapa,
suasana di ruangan itu terasa berat.
……Apa aku salah
bicara? Perasaan itu muncul begitu saja.
"Oke, aku
sudah memutuskan."
Miori berdiri di
atas tempat tidur dan mendeklarasikan keputusannya.
Dia menunjukkan
senyumnya yang biasa, seolah keheningan berat tadi hanyalah ilusi.
"Aku akan
menyatakan perasaanku pada Reita-kun. Belakangan ini aku jadi terlalu
berhati-hati, tapi itu bukan diriku yang sebenarnya…… aku akan segera
menyelesaikan urusan ini dan meraih kebahagiaanku!"
Miori mengangkat
tinjunya ke langit sembari berseru, "Semangat!" seolah sedang
menyemangati dirinya sendiri.
Melihat keadaan
Miori, aku pun mengarahkan tinjuku ke arahnya.
"――Semangat,
Miori. Aku juga akan mendukungmu."
Aku juga berdoa
demi kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.
Karena aku
benar-benar menganggapmu berharga, dirimu yang selalu membantuku.
Semoga keinginan
Miori terkabul.
"――Ya."
Tok.
Miori menempelkan
tinjunya ke tinjuku.
"……Kau
sendiri, kapan mau segera memutuskan perasaanmu?"
Tapi, kenapa ya?
Meskipun dia
seharusnya tertawa.
Ekspresi Miori
seolah-olah terlihat ingin menangis untuk sesaat――.
*
Liburan
musim panas berakhir, dan bulan September tiba.
Awal
musim gugur yang masih menyisakan hawa panas. Sekolah dimulai, dan rutinitas
sehari-hari kembali seperti sediakala.
"Natsuki,
ada waktu sebentar?"
Saat aku sedang berjalan di lorong sekolah pada jam istirahat siang, orang yang memanggilku adalah Serika.
Dengan
ekspresi datar seperti biasanya, Serika bertanya dengan tenang.
"Maukah kamu, membentuk band bersamaku?"
"H-ha, hah……?"
Musim panas yang menyenangkan telah menjadi kenangan yang
tak terlupakan.
Lalu, saat dedaunan hijau mulai berubah warna menjadi
kekuningan, masa muda yang baru pun dimulai.
Waktu pelaksanaan festival budaya yang dikenal sebagai acara
masa muda paling penting (menurut risetku) sudah semakin dekat.
"――Aku
serius. Dengan musik kita, ayo kita ubah dunia ini?"
VOLUME 3 END



Post a Comment