NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Mimpi Kamu dan Hubungan Rahasia


Liburan musim panas yang penuh dengan mimpi dan harapan telah tiba.

……Seharusnya begitu, tapi satu minggu pertama ini tidak ada rencana apa pun.

Tentu saja aku memasukkan jadwal kerja paruh waktu hampir setiap hari, tapi itu saja tidak cukup untuk menghabiskan waktu luang.

Seharusnya aku membuat lebih banyak janji untuk bermain, ya.

Yah, karena pada dasarnya aku adalah seorang loner otaku, aku punya kemampuan untuk menghabiskan waktu dengan nyaman meski sendirian.

Meski berbeda dari gambaran masa muda yang kuinginkan, aku menjalani hari-hari yang cukup memuaskan.

Hari ini pun, seperti biasanya, pagi datang. Setelah sarapan, aku melakukan menu latihan otot yang berfokus pada Strength sebagai persiapan ke laut, lalu berlari.

Meski suhunya lebih rendah daripada siang hari, tetap saja ini pertengahan musim panas. Aku membatasi jarak lari agar tidak terkena heatstroke, lalu pulang ke rumah dan membilas keringat dengan mandi.

Setelah itu adalah waktu bebas.

Aku menghabiskan sisa pagi dengan membaca novel yang direkomendasikan Hoshimiya, menonton film yang dipinjam dari tempat penyewaan video, atau sekadar mencari video yang menarik perhatian di YouTube.

Makan siang kumasak sendiri. Orang tuaku bekerja, dan ayahku sedang tugas di luar kota, jadi yang ada di rumah hanya aku dan Namika yang sedang libur sekolah.

Karena kalau diserahkan ke Namika dia hanya bisa membuat mi instan, mau tidak mau aku yang harus memasaknya. Yah, bisa saja beli bento di supermarket, tapi kalau begitu mending masak sendiri karena lebih murah dan enak.

Keluar rumah hanya untuk belanja di cuaca panas begini juga merepotkan.

"Makasih ya, Kak. Kelihatannya enak."

"Siapa yang bilang boleh dimakan, hah?"

"Tapi ini kan porsi untuk dua orang."

"Kamu tidak punya rasa terima kasih pada koki, ya."

"Makanya, tadi kan aku sudah bilang terima kasih di awal?"

Aku melayangkan protes pada Namika yang mulai makan masakan buatanku tanpa izin, tapi dia tidak menggubrisku sama sekali. Setiap hari selalu begini.

Begitu selesai makan, Namika langsung pergi bermain.

"Adikku tidak mau meladeni kakaknya ini……"

Aku meratap pilu sambil menyiapkan perlengkapan kerja.

Sore harinya, biasanya aku bekerja paruh waktu.

Di tengah cuaca yang sangat panas, aku naik kereta menuju Kafe Mares.

Biasanya tidak masalah karena ini jalan pulang sekolah, tapi sejujurnya aku merasa jauh jika harus berangkat dari rumah saat libur. Apa aku salah pilih tempat kerja, ya……?

"Selamat siang, Haibara-kun."

――Pemikiran negatifku itu dibantah sepenuhnya oleh kemunculan Nanase.

"Ada apa?"

"Tidak apa-apa. Nanase juga dapat shift hari ini, ya."

Nanase ada di tempat kerjaku. Hanya dengan itu saja, rasanya aku bisa bertahan untuk hari ini.

"――Ya. Hari ini juga mohon bantuannya, ya."

Nanase menatapku sambil tersenyum tipis. Tolong jangan menatapku dengan senyuman seperti itu dengan santai. Nanti aku bisa jatuh cinta, tahu?

Hmm, memang Nanase adalah penyembuhku. Hanya Nanase yang bisa menyelamatkanku. Terima kasih untuk hari ini.

Saat aku sedang memanjatkan doa pada Nanase untuk meningkatkan "kekuatan oshi" (dukungan)-ku, telingaku dijewer oleh Kirishima-san.

"Jangan melamun, bisa tidak kamu cepat bersiap-siap?"

"Maaf……"

Aku tidak mungkin bilang kalau aku sedang memanjatkan doa yang tidak jelas, jadi aku meminta maaf dengan patuh, berganti seragam, dan menempelkan kartu absensi.

Untuk kehidupan sekolah ke depannya, punya uang sebanyak apa pun tidak akan merugikan.

Aku tidak boleh melewatkan kesempatan masa muda hanya karena tidak punya uang.

Artinya, kerja paruh waktu adalah sarana untuk menciptakan masa muda terbaik!

Aku bekerja bukan karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Memang begitu adanya.

"Haibara-kun, boleh bicara sebentar?"

Saat aku sedang mencuci piring sambil mati-matian meyakinkan diriku sendiri, Nanase memanggilku.

Sepertinya pekerjaan di ruang depan sudah agak tenang.

Nanase meminum segelas air, lalu mengembuskan napas lega.

Yah, sebenarnya meski mengesampingkan fakta ada Nanase, pekerjaan ini cukup menyenangkan.

Aku suka pekerjaan di dapur, dan aku juga mulai akrab dengan Kirishima-san serta rekan kerja lainnya.

Jadi, sebenarnya aku tidak punya banyak keluhan dengan situasinya saat ini.

Kalau harus dipaksakan, mungkin rasa sepi karena tidak bisa bertemu Hoshimiya adalah hal yang wajar.

Tidak, ini bahkan belum seminggu berlalu.

Mungkin karena saat sekolah aku bisa bertemu dia setiap hari, makanya aku merasa begini.

……Wajah Uta juga terlintas di benakku.

Aku juga ingin bertemu Uta.

Tanpa sadar, aku mulai berpikiran begitu.

Aku merasa tidak tulus jika mendekati Hoshimiya atau berpacaran dengan Uta—yang sudah menyatakan akan membuatku berpaling padanya—dengan perasaan setengah hati seperti ini. Aku tahu itu.

"Kamu dengar, tidak?"

Nanase mencolek pipiku dengan jarinya.

Tolong jangan menyentuhku sembarangan begitu. Gadis iblis ini…… bisa jatuh cinta, tahu?

Tidak, tidak, kalau sampai jatuh cinta pada Nanase juga, batinku akan kacau.

Beban pikiranku sudah cukup banyak, jadi tolong hentikan.

Bercanda dikesampingkan, sepertinya aku terlalu banyak berpikir sampai mengabaikan omongan Nanase.

"Salahku, salahku, aku tadi melamun. Kita tadi bahas apa?"

"Bukan apa-apa, bukan hal yang penting kok."

Nanase berkata begitu sebagai pembuka, lalu bertanya.

"Setelah selesai kerja, apa Haibara-kun ada waktu?"

Kalau tidak salah, hari ini selesainya jam tujuh malam.

Nanase juga seharusnya punya shift yang sama denganku, jadi seharusnya tidak masalah.

"Ah. Hari ini aku tidak ada acara."

Saat kujawab begitu, ekspresi Nanase sedikit lega.

"Aku berencana pergi ke mal di dekat sini, bagaimana kalau kita pergi bersama?"

"Mal? Tentu, tidak masalah kok."

Sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari Kafe Mares, ada mal perbelanjaan terbesar di daerah ini.

Tempat itu sangat membantu kalau bingung mau bermain di mana, dan nyaman untuk digunakan sehari-hari, tapi ini pertama kalinya Nanase mengajak pergi ke mal.

Sebelumnya, sebelum berangkat kerja dari sekolah atau saat pulang kerja, aku memang pernah diajak ke toko crepe atau toko CD.

"Apa ada sesuatu yang ingin kamu beli?"

"Nanti kan kita akan pergi ke laut, ya? Aku berpikir ingin menyiapkan barang-barang yang diperlukan."

"Ah, benar juga. Sudah saatnya kita bersiap-siap."

Karena tanggalnya masih agak jauh, aku belum memikirkannya, tapi karena aku juga harus membeli barang yang diperlukan, ini pas sekali. Selain itu, bisa berbelanja bersama Nanase adalah hal yang sangat menarik.

"Oke, ayo kita pergi!"

Saat aku menjawab dengan santai, Nanase tersenyum tipis.

"Kalau begitu, sampai nanti ya."

Langkah kaki Nanase saat kembali bekerja ke ruang depan terlihat lebih ringan dari biasanya.

Saat kami keluar, serangga musim panas (higurashi) sedang bernyanyi. Meski sudah lewat jam tujuh malam, hari belum sepenuhnya gelap.

Awan terbakar warna senja. Langit seolah akan segera jatuh ke dalam kegelapan.

"Mulai terasa sejuk ya."

Nanase yang berjalan di sampingku bergumam dengan suara yang terdengar senang.

"Kalau suhunya terus begini, rasanya jadi nyaman, ya."

"Iya, ya. Siang tadi rasanya aku hampir mati hanya karena berangkat kerja."

Mungkin teringat panasnya siang tadi, Nanase memasang ekspresi jengah sambil menunduk.

Nanase mengenakan kaus putih polos dan rok lipit hitam.

Seragam kerjanya memang cocok untuknya, tapi pakaian pribadinya tetap saja manis.

Kalau bukan liburan musim panas, aku tidak akan bisa melihat pakaian pribadinya. Benar-benar memanjakan mata.

"Secara spesifik, ada yang ingin kamu beli?"

"Hmm, tabir surya, topi, tas pantai, dan lain-lain……"

Aku menyesuaikan langkah, berjalan di sampingnya.

Saat berjalan sendirian, langkahku lebih cepat dari orang lain.

Karena itu, saat berjalan dengan teman, aku harus sadar untuk memperlambat langkah.

Di antara keenam orang itu, aku paling lama menghabiskan waktu bersama Nanase.

Jadi, aku mulai bisa melakukan perhatian kecil seperti ini dan bisa bicara tanpa perlu merasa terlalu gugup.

"Selain itu, aku juga ingin melihat pakaian musim panas untuk pribadiku."

Diriku di masa lalu pasti tidak akan percaya bahwa aku bisa tidak merasa gugup saat bersama seorang gadis.

"Terus…… mungkin baju renang."

Nanase bergumam seolah baru teringat.

Ba…… baju renang Nanase!?

Apa kamu mau memilih itu sekarang!?

E-eh…… begitu ya, ya sudahlah.

Entah kenapa aku jadi mendadak gugup. Tanganku bahkan sampai gemetar (?).

"……Aku memang berpikir ingin memilih baju renang juga…… tapi jangan menatapku dengan tatapan aneh, ya?"

"Ti-tentu saja. Tidak, aku juga sebenarnya berpikir ingin memilih-milih."

Mendengar suaraku yang agak meninggi, Nanase menatapku dengan wajah yang tampak tidak puas, lalu menyenggol bahuku dengan bahunya sendiri. Ini, apa jangan-jangan aku tidak dipercaya?

Begitu masuk mal, kesejukan terasa meningkat drastis.

AC-nya menyala terlalu kencang sampai-sampai aku merasa agak kedinginan.

Mungkin karena jam makan malam, banyak orang berkumpul di jalan yang dipenuhi restoran.

Mungkin karena masa liburan musim panas, aku merasa banyak keluarga yang membawa anak-anak.

Pria dan wanita yang mengenakan pakaian pribadi seperti kami pun sesekali berpapasan.

"Ayo mampir ke supermarket di sana."

Aku patuh mengikuti Nanase yang terlihat bersemangat.

Tidak ada gunanya melawan gadis yang sedang berbelanja.

Sama sekali tidak boleh bilang "Bukankah ini terlalu lama?" atau "Sudah saatnya pulang, belum?".

Aku mempelajari hal itu dari Namika dan Ibu.

Di supermarket, aku membeli berbagai barang bersama Nanase, lalu Nanase masuk ke toko pakaian untuk memilih topi, sandal, baju musim panas, dan tas pantai.

Dalam perjalanannya, aku merasa dia juga memilih barang-barang yang sepertinya tidak ada hubungannya dengan laut…… tapi yah, karena Nanase terlihat senang, tidak apa-apa lah.

"Lho, tidak jadi beli itu?"

Karena Nanase keluar dari toko tanpa membeli baju musim panas yang tadi dia sukai, aku bertanya begitu.

"Uangku kan tidak tak terbatas. Hari ini prioritasku adalah barang-barang yang diperlukan untuk ke laut…… jadi untuk sekarang, ditunda dulu deh. Ya."

"Ternyata kalau jalan-jalan tanpa tujuan malah jadi ingin beli banyak hal, ya…… itu tidak baik."

Nanase tampak berat hati saat mengunjungi tempat terakhir, yaitu pojok baju renang.

Di saat aku merasa sangat gugup, Nanase justru memilih baju renang dengan sangat wajar.

Apa aku ini aneh karena merasa gugup hanya karena melihat baju renang gadis cantik teman sekelasku……?

"Bagaimana dengan yang ini?"

Nanase mengambil satu baju renang dari deretan yang ada, lalu mencocokkannya ke tubuhnya untuk mencoba.

Itu adalah bikini segitiga dengan desain simpel.

Sekarang dia masih memakainya di luar baju, tapi…… saat membayangkan Nanase mengenakannya secara langsung……

"…………"

Saat aku terdiam, Nanase memiringkan kepalanya dengan bingung.

Lalu dia melihat kembali baju renang miliknya, dan wajahnya berangsur-angsur memerah.

"Ja-jangan menatap dengan tatapan aneh, sudah kubilang kan……?"

"Ti-tidak melihat! Aku tidak melihat!"

"Be-begitu……"

Sepertinya baru menyadari rasa malu itu sekarang, Nanase berkata dengan gelisah.

"Ka-kalau begitu, biar aku pilih sendiri saja…… Haibara-kun juga, pilihlah baju renangmu sendiri……"

"Ya, yah…… itu lebih aman, ya……?"




"E-eh, ya. Kalau dipikir-pikir dengan kepala dingin, rasanya aku juga merasa bersalah pada Uta……"

Nanase mengatakan hal itu, lalu bergegas pergi menuju area pakaian wanita di pojok baju renang.

Syukurlah kami berakhir dengan kesimpulan paling aman, yaitu mencari masing-masing.

Aku sama sekali tidak merasa kecewa.

Tentu saja. Tidak mungkin aku merasa seperti itu.

Setelah membeli baju renang masing-masing, kami bertemu kembali di depan toko.

"Kamu beli yang seperti apa?"

Setelah bertanya secara wajar, aku baru sadar, apa aku terlihat menjijikkan karena tampak penasaran sekali?

Tidak, tapi bukankah ini percakapan yang wajar setelah membeli baju renang……?

"Biasa saja, baju renang yang normal kok."

"Yah, kalau baju renang yang tidak normal, malah aku yang terkejut."

"Toh, nanti juga akan tahu saat kita pergi ke laut, kan?"

"Itu memang benar, sih."

"Kalau kamu?"

"Nanti kalau sudah sampai di laut, juga pasti tahu, kan?"

Saat aku membalas dengan kalimat yang sama seperti Nanase, dia memanyunkan bibirnya karena tampak tidak puas.

"Maaf, maaf. Tapi memang benar, bentuk baju renang pria kan sudah pasti, tidak ada bedanya."

Saat aku menunjukkan isi kantong belanjaan yang berisi baju renang yang kubeli, Nanase menatapnya sekilas, lalu bergumam "Fuun," sambil memalingkan muka. Yah, ternyata dia tidak tertarik.

"Eh?"

Tiba-tiba, Nanase membelalakkan mata karena terkejut.

Terbawa suasana, aku pun menoleh ke arah pandangan Nanase, dan di sana ada――

"Eh? Yuino-chan dan Natsuki-kun?"

――Hoshimiya Hikari yang sedang mengenakan gaun bermotif bunga.

"Wah, sudah lama tidak bertemu, ya."

Hoshimiya tersenyum dengan ekspresi lembut, lalu berjalan cepat ke arah kami.

Melihatnya setelah sekian lama, Hoshimiya terlihat sangat manis, apalagi dengan pakaian pribadi yang jarang kulihat.

Namun, entah kenapa ada sesuatu yang terasa ganjil.

Karena saat pertama kali kulihat, wajah Hoshimiya tampak sangat muram.

Tapi sejak dia menyadari keberadaan kami, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi senyuman seperti biasanya.

"Kalian sedang apa? Ah, habis kerja paruh waktu?"

"Iya. Kami berniat membeli beberapa barang yang diperlukan untuk ke laut."

"Wah, asyik sekali! Barang apa saja yang kalian beli?"

Hoshimiya menatap barang-barang perawatan kulit yang dibeli Nanase dengan gembira.

"Hoshimiya, kenapa kamu ada di sini?"

Saat aku bertanya di waktu yang tepat, Hoshimiya tampak kesulitan dan bergumam tidak jelas.

"Eh, sebenarnya aku sedang pergi bersama Papa……"

Saat Hoshimiya berkata begitu, aku menyadari ada suara langkah kaki yang mendekat dari belakang.

"――Hikari, apakah ini temanmu?"

Suara yang lembut menyapa telingaku.

Saat menoleh, di sana ada seorang pria bertubuh tinggi.

Dengan wajah rupawan dan setelan jas yang dikenakannya, ia memberikan kesan yang cerdas.

"Selamat malam, saya ayah Hikari, Hoshimiya Sei. Sudah lama tidak bertemu, Yuino-chan."

Mengingat dia ayah Hoshimiya, seharusnya dia sudah berumur, tapi dia terlihat sangat muda.

Dia menyunggingkan senyum ramah di bibirnya, penampilannya benar-benar terlihat seperti orang sukses.

Atau lebih tepatnya, entah kenapa, seperti pernah kulihat di suatu tempat……?

"Sudah lama tidak bertemu, Sei-san."

Nanase menundukkan kepala. Ah benar, dia pernah bilang sudah kenal dengan ayah Hoshimiya.

Karena ayah Hoshimiya menatap ke arahku, aku pun panik dan memperkenalkan diri sambil menunduk.

"Eh, saya Haibara Natsuki, saya banyak dibantu oleh Hikari-san."

Ayah Hoshimiya—Sei-san—mengerjapkan mata karena terkejut.

"Oh, jadi kamu Natsuki-kun? Aku sering mendengar tentangmu dari Hikari."

"Eh, benarkah itu?"

Hoshimiya membicarakan tentangku di rumah……!?

"Aku memang ingin bertemu denganmu sekali. Kebetulan sekali, bagaimana kalau sekarang kita bicara seba――"

"――Tu, tunggu dulu! Tidak usah seperti itu!"

Hoshimiya yang berwajah merah menarik lengan Sei-san, mencoba menghentikan pembicaraan.

"Ada apa, Hikari? Aku hanya penasaran sedikit――"

"Ja, kalau begitu sampai jumpa kalian berdua! Mari main lagi nanti! Aku mau pulang dulu!"

Hoshimiya mendorong punggung Sei-san dan membawanya pergi dengan paksa sambil mengucapkan salam perpisahan.

Jarang sekali melihat Hoshimiya yang segelisah ini. Rasanya cukup segar.

"O, oke…… sampai jumpa lagi."

Saat aku menyapa Hoshimiya, Sei-san menghentikan langkahnya. Hoshimiya yang tadinya mendorong punggungnya tampak bingung, memiringkan kepala, dan mengintip ke depan.

"――Benar, ada satu hal yang ingin aku pastikan."

Sei-san berbalik arah.

Hoshimiya bisa membawanya pergi tadi hanya karena Sei-san memang tidak berniat melawan.

Kekuatan pria dewasa memang berbeda.

Jika Sei-san ingin melanjutkan pembicaraan, tidak ada cara bagi Hoshimiya untuk menghentikannya.

"Hikari bilang dia ingin pergi liburan. Yuino-chan juga ikut, kan?"

Mendengar pertanyaan Sei-san, Nanase mengangguk.

"Iya, benar."

"Begitu ya. Tentu saja itu tidak masalah, tapi――"

Selanjutnya, tatapan Sei-san beralih padaku.

Aku sempat lupa karena kesan pertamanya yang ramah, tapi aku baru ingat kalau ayah Hoshimiya adalah orang yang sangat ketat soal jam malam dan aturan.

"――Apakah kamu juga ikut?"

Seketika, aku tidak bisa menjawab.

Dari reaksinya, jawabannya sudah sangat jelas.

"……Ya. Memang benar begitu."

Hanya itu jawaban yang tersisa.

Apa ada masalah? Aku sama sekali belum mendengar apa-apa.

Jangan-jangan, Hoshimiya tidak memberitahu Sei-san kalau liburan ini campur antara laki-laki dan perempuan?

"Ternyata benar begitu, ya."

Sei-san bergumam datar dengan suara rendah.

Baik Hoshimiya maupun Nanase hanya bisa menunduk diam.

Suasana yang tadinya ramah seketika membeku.

"Hikari."

"……Ya."

"Tidak baik untuk berbohong. Bukankah aku dengar ini liburan khusus perempuan?"

"……Karena kalau aku bilang ada laki-laki, aku tahu Ayah tidak akan mengizinkannya."

Hoshimiya menjawab dengan tatapan menantang.

"……Hmm. Yah, aku sudah menduga akan jadi seperti ini."

Sei-san menatap Hoshimiya, lalu menatapku. Tatapan itu memiliki tekanan khas orang dewasa.

Aku merasakan déjà vu dengan tatapan yang seolah sedang menilaiku itu.

Aku mendadak ingat. Benar, aku tahu orang ini. Aku pernah bicara dengannya.

"Apakah Anda…… Presiden dari Star Flat Co., Ltd.?"

Mendengar itu, Sei-san membelalakkan mata karena terkejut.

"Ini mengejutkan. Kamu tahu tentang aku…… tepatnya, aku masih Wakil Presiden."

……Ternyata benar.

Dia masih Wakil Presiden karena ini tujuh tahun yang lalu.

Di dunia tujuh tahun kemudian, Hoshimiya Sei adalah Presidennya. Dan Star Flat adalah perusahaan yang menjadi pilihan pertamaku saat melamar pekerjaan. Karena itulah aku mengenal wajahnya.

Aku pernah bicara sekali dengannya saat wawancara final.

Sebelumnya, aku juga pernah melihat foto dan profilnya di situs perusahaan. Aku sempat berpikir marganya sama dengan Hoshimiya, tapi aku tidak pernah membayangkan dia adalah ayahnya.

Di dunia tujuh tahun kemudian, Star Flat adalah perusahaan kelas atas berskala ribuan karyawan.

Sekarang memang masih perusahaan menengah yang belum dikenal, tapi setelah ini mereka akan tumbuh dengan sangat pesat.

Singkatnya, ini adalah perusahaan manufaktur peralatan mesin. Karena ada beberapa bidang yang cocok dengan penelitianku di universitas, dan gajinya pun bagus, aku memilih posisi desain dan pengembangan di sini sebagai pilihan utama.

Keberuntungan membawaku lolos seleksi tahap pertama, kedua, dan ketiga, tapi aku gagal di wawancara final dengan Presiden karena tidak bisa bicara dengan baik, lalu mendapatkan surat penolakan. Setelah itu, aku gagal di tiga puluh perusahaan lainnya.

Jadi, aku sebenarnya membenci Presiden ini. Ini bukan dendam buta.

"Apa kamu melihatnya di situs perusahaan?"

"Yah, kurang lebih begitu. Saya agak tertarik dengan bidang perusahaan Anda."

Apa yang kubicarakan? Tenang, Natsuki. Ini bukan wawancara kerja.

"Heh, begitu ya. Mahasiswa berbakat yang sudah memikirkan masa depan sejak sekarang. Aku dengar dari Hikari kalau nilaimu bagus. Setelah lulus kuliah, datanglah ke perusahaan kami. Aku akan menyambutmu."

Tidak, bukankah Bapak yang menolak saya dulu?

Tolong jangan memicu trauma saya.

"Yah…… iya. Maaf, saya jadi melantur."

"Tidak, maafkan aku. Aku terlalu bersemangat jika sudah bicara soal pekerjaan……"

Saat aku memasang wajah bingung, Sei-san berdeham canggung.

"Terlepas dari itu, mari kembali ke topik utama."

Suasananya jadi aneh.

Sei-san mengubah suasana dengan berkata,

"――Maaf, tapi aku tidak mengizinkan Hikari pergi liburan."

Ekspresi Hoshimiya yang sedari tadi diam berubah.

Tubuhnya yang kecil sedikit gemetar.

……Sejujurnya, aku sudah punya firasat ini akan terjadi.

"Apakah itu karena ada saya?"

"Seperti yang dikatakan Hikari, kalau ada laki-laki, aku pasti tidak akan mengizinkannya. Tapi, masalah utamanya bukan di situ. Seperti yang kukatakan tadi, tidak baik untuk berbohong."

Sei-san menatap Hoshimiya dengan mata dingin sambil berbicara dengan nada datar.

Apa yang dikatakannya adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Tidak ada celah untuk protes.

"Aku tidak bisa membiarkan kebohongan dibenarkan begitu saja saat berhadapan denganku."

Pada dasarnya ini urusan keluarga orang lain. Aku tidak punya hak untuk ikut campur.

Karena itu, aku tidak bisa berkata apa-apa.

"Maaf merepotkan kalian, tapi tolong batalkan saja bagian Hikari."

Sei-san menunduk secara formal pada kami, lalu berbalik dan pergi.

Aku bertatapan dengan Hoshimiya yang masih terpaku.

Ekspresi Hoshimiya tampak begitu rapuh, seolah bisa menangis kapan saja.

"Apa tidak apa-apa?"

Saat aku bertanya tanpa sadar, Hoshimiya bergumam dengan suara gemetar.

"Aku……"

"Hikari, ayo."

Tubuh Hoshimiya tersentak.

Hoshimiya hanya menunduk dan mengikuti langkah Sei-san.

Dia tidak sekalipun menoleh ke belakang.

Itu terjadi di sebuah restoran hamburger di dalam mal.

Aku sudah menghubungi Ibu kalau aku akan makan malam di luar, dan kini duduk berhadapan dengan Nanase.

Meski ini situasi yang seharusnya luar biasa karena makan malam berdua dengan Nanase, udara yang menyelimuti kami terasa sangat berat.

Ekspresi Nanase terus terlihat muram.

Situasi yang merepotkan akhirnya benar-benar terjadi.

Hoshimiya pasti juga akan dimarahi oleh Sei-san.

Seandainya saja aku langsung menjawab dengan kebohongan saat ditanya pria tadi, mungkin masalahnya tidak akan jadi begini.

"Ini bukan salahmu."

Seolah bisa membaca pikiranku, Nanase bergumam pelan.

"Lagipula mustahil untuk tidak berbohong saat kita sendiri tidak tahu apa-apa."

"……Apa Nanase sudah tahu?"

Saat kutanya, Nanase mengangguk dan menunduk sambil berkata, "Maaf."

"Hikari sudah berkonsultasi denganku sejak beberapa waktu lalu, dan aku juga yang menyarankan kalau kita harus berbohong."

Nanase merasa bertanggung jawab atas hal itu. Dia tampak sangat terpukul.

"……Begitu ya."

"Karena kupikir ayah tidak akan mungkin mengizinkan dia menginap bersama laki-laki……"

"Bukankah Nanase bilang kamu kenal dengan ayah Hoshimiya?"

"Kami memang sudah lama dekat. Aku beberapa kali bermain ke rumah Hikari. Aku diizinkan, tapi dia sangat pilih-pilih teman Hikari. Aku sering diajak bicara."

……Dia memilih teman-teman putrinya, ya?

Orang seperti dia pasti melakukan hal seperti itu dengan mudah.

Ingatan saat wawancara final semakin terasa jelas sekarang.

――Kamu punya tujuan yang jelas, ya.

Ya! Saya ingin memanfaatkan penelitian masa kuliah saya di perusahaan Anda――

Dalam hal itu, mungkin perusahaan kami tidak cocok untukmu.

……Ya?

Jangan berpikir kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan di perusahaan ini. Kalau kamu masuk, aku yang akan menentukan tugasmu. Aku tidak akan mendengar pendapatmu. Kamu mengerti? Kita tidak butuh pion yang punya keinginan sendiri.

Aku ingat betul betapa terkejutnya aku dengan kata-kata itu.

Hoshimiya Sei mungkin terlihat ramah dan mudah akrab, tapi semakin bicara dengannya, semakin terasa betapa keras kepalanya dia. Dia pada dasarnya tidak pernah mengubah pendapatnya. Dan dia selalu menganggap orang lain sebagai pion miliknya.

Hoshimiya pun tidak terkecuali, dia tampak terikat dengan aturan yang sangat ketat.

Aku pernah dengar dia khawatir soal jam malam dan keluarganya yang sangat ketat, tapi……

"Masalah yang sulit. Apalagi kali ini, dia tidak salah bicara."

"……Ya. Memang benar, aku bisa mengerti alasan dia khawatir."

"Ya…… mau bagaimana lagi. Aku pun ingin pergi bersama Hoshimiya, tapi kalau sudah dikatakan begitu, tidak mungkin aku memaksa membawanya. Memikirkan rencana lain pun…… sekarang sudah terlanjur pesan penginapan, dan semua orang sudah meluangkan waktu, rasanya sulit."

Aku ingin pergi bersama Hoshimiya. Aku ingin bermain di laut bersama Hoshimiya.

Tapi kalau dipikir secara realistis, kami mungkin akan berakhir dengan pembicaraan untuk bermain di lain kesempatan.

Meski hatiku terasa sesak, sebagian dari kepalaku tetap tenang.

Seandainya diriku tujuh tahun lalu ada di sini, mungkin aku akan menyerbu Sei-san untuk membujuknya.

Tapi diriku yang sekarang tidak bisa melakukan tindakan gegabah seperti itu.

Aku sudah menjadi orang dewasa yang jauh lebih tenang dibanding saat itu.

"Tapi Hikari…… dia bilang ingin ikut bersama kalian."

Nanase menunduk dan membiarkan kata-kata itu lolos.

"Meski Ayah bilang tidak boleh, dia tetap ingin ikut……"

Tampaknya dia jauh lebih memikirkan hal ini daripada aku.

"Ini pertama kalinya Hikari begitu bersikeras untuk pergi. Biasanya kalau sudah dibujuk Ayahnya, dia akan menyerah. Tapi kali ini, dia benar-benar ingin pergi."

"……Jadi maksudmu, dia tidak pernah membantah ayahnya sebelumnya?"

"Dulu pernah sih. Tapi tidak ada gunanya…… sejak pertengahan, dia menyerah. Dia berpikir percuma membantah orang itu, jadi dia selalu mengikuti kata orang tuanya."

……Sejujurnya, ini dunia yang tidak bisa kubayangkan.

Orang tuaku dulu sangat baik. Mereka membesarkanku tanpa kekurangan apa pun. Kalau aku melakukan kesalahan, mereka akan memarahiku dengan benar. Tapi biasanya, mereka selalu menghargai keinginanku.

"Jadi itulah alasan mengapa aku ingin mewujudkan keinginan Hikari yang ingin ikut."

Apakah itu alasan mengapa mereka memilih untuk berbohong?

Karena Hoshimiya tidak bisa lagi membantah Sei-san secara langsung.

"……Makananmu dingin, lho."

Aku menunjuk set menu hamburger yang masih utuh di depan Nanase.

Aku sudah mulai makan sejak tadi. Meski sedih, aku harus makan untuk bertahan hidup.

Nanase mulai makan dengan gerakan yang lamban. Dia benar-benar terpuruk. Itu terlihat jelas. Tapi sayangnya, aku tidak tahu kata-kata apa yang bisa menghibur Nanase.

Aku tidak punya pengalaman menghibur gadis yang sedih, dan aku pun tidak punya solusi untuk masalah ini.

Setidaknya dalam kasus ini, perkataan Sei-san adalah kebenaran.

Keinginan kami, tindakan yang kami lakukan, tidak lebih dari sekadar keegoisan anak-anak.

"……Aku mulai bicara dengan Hikari sekitar kelas tiga SD."

Tiba-tiba, Nanase mulai bercerita seolah sedang mengingat masa lalu.

"……Aku tahu kalian satu SMP, tapi kalian juga satu SD?"

"Iya. Hikari tidak suka membicarakan masa kecilnya, jadi aku merahasiakannya dari semua orang."

Kalau diingat-ingat, memang benar aku tidak pernah mendengar cerita masa lalu dari Hoshimiya maupun Nanase.

"……Kenapa dia tidak suka?"

"Haibara-kun juga tidak menceritakan masa lalumu sebelum ketahuan kalau kamu 'debut SMA', kan?"

"Tidak, yah, aku juga tidak mau menceritakannya sih…… karena aku tidak ingin mengingatnya……"

Lagipula, bagiku itu sudah lebih dari tujuh tahun lalu, jadi banyak yang sudah tidak kuingat.

"……Alasan Hikari tidak mau bicara, hampir sama dengan alasanmu."

"Apa maksudmu Hoshimiya juga 'debut SMA'? Tidak terlihat seperti itu, sih."

"Kalau Hikari, dia sudah menjadi seperti sekarang sejak SMP. Gadis paling manis, ceria, dan terang seolah idola di sekolah. Itulah Hoshimiya Hikari. Tapi, saat SD, dia tidak seperti itu."

"Seharusnya aku tidak menceritakan ini," lanjut Nanase.

"Saat aku mulai bicara dengan Hikari, dia tidak punya satu pun teman."

Itu adalah kalimat yang tak terbayangkan.

Jika bukan Nanase yang mengatakannya, mungkin aku tidak akan percaya.

"Gadis yang sederhana, pendiam, selalu murung, canggung dalam bicara, dan hanya membaca buku sambil meringkuk di pojok kelas. Kami selalu satu kelas, tapi sampai kelas tiga SD, kami hampir tidak pernah bicara. Saat itu aku jauh lebih ceria dari sekarang, dan selalu berada di pusat keramaian kelas."

Awalnya adalah perpustakaan, kata Nanase.

Kebetulan Nanase membaca novel yang disukainya, dan Hikari juga sedang membacanya, jadi dia menyapa Hikari.

――Novel itu menarik, ya.

Hikari tersentak, bahunya gemetar, tapi dia bertanya, "Kamu tahu novel ini?"

Setelah Nanase mengangguk, Hikari mulai bercerita dengan antusias.

Dengan bahasa yang kaku dan tersendat-sendat, Hikari berusaha keras menceritakan apa yang membuatnya merasa cerita itu menarik, luar biasa, dan betapa dalam maknanya bagi hatinya.

Melihat hal itu, Nanase merasa Hikari manis dan mulai tertarik padanya. Sejak itu, Nanase makin sering ke perpustakaan, dan perlahan-lahan Hikari mulai dekat dengan Nanase.

Bagi Nanase, Hikari hanyalah tambahan dalam daftar panjang temannya.

Bagi Hikari, Nanase adalah satu-satunya teman yang ia miliki.

Seiring berjalannya waktu, mereka makin sering bermain dan menjadi sahabat sejati satu-satunya.

"Tapi semakin sering bersama, aku semakin mengerti betapa Hikari terikat oleh orang tuanya."

――Maaf. Katanya aku tidak boleh main dengan teman untuk sementara waktu.

――Sampai dapat nilai terbaik di ujian, aku disuruh belajar terus sepulang sekolah.

――Aku senang diajak, tapi aku dilarang main game.

――Dilarang bicara dengan laki-laki lebih dari yang diperlukan. Jadi aku tidak boleh berteman.

"Suatu hari. Hikari mengajakku ke rumahnya."

Nanase mengira itu sesuatu yang langka. Namun, tanpa berpikir panjang, dia pergi ke rumah Hikari. Rumah itu cukup luas dan besar, meski tidak bisa dibilang rumah mewah.

Setelah bermain, ada kesempatan di mana mereka bertiga bicara, termasuk Sei-san.

"Dulu aku merasa aneh, tapi sekarang aku mengerti. Aku sedang diuji. Apakah aku pantas menjadi teman Hikari atau tidak. Tatapan meremehkan itu, kalau dipikir sekarang, terasa sangat menjijikkan."

Setelah bicara dengan Nanase, Sei-san berkata pada Hikari.

――Hikari. Jadilah seperti anak ini. Bukan hal yang sulit, kan? Kamu kan anakku. Jadilah anak yang rajin, disiplin, namun tetap ceria, terang, dan ramah.

"……Perubahan sikap Hikari di sekolah dimulai sejak saat itu."

Perlahan, sedikit demi sedikit, kepribadian Hoshimiya berubah.

Dia memotong poni panjang yang tadinya menutupi wajahnya, melembutkan ekspresinya, tidak lagi gagap saat bicara, menaikkan nada suaranya, dan mulai bicara kepada orang lain lebih dulu.

Tanpa disadari, jumlah temannya lebih banyak daripada Nanase, dan dia berdiri lebih di pusat keramaian kelas daripada Nanase.

"Aku tidak bilang kepribadian Hikari yang sekarang itu bohong. Hanya saja, dulu dia memang seperti itu. Kalau disuruh kembali ke kepribadian lamanya sekarang, mungkin justru itu hal yang sulit."

Faktanya, dalam keseharian Hoshimiya, hampir tidak ada kesan kalau dia sedang berakting.

Namun, terkadang aku merasa dia merespons dengan cara yang seperti mesin.

"Dia mungkin lebih pandai menyembunyikan emosi daripada yang kita kira…… dan dia menderita karena beban pikiran lebih dari yang kita bayangkan. Makanya, aku ingin menolongnya sedikit saja."

Nanase menghentikan makannya dan akhirnya mengangkat wajah.

"……Hei, Haibara-kun."

Mata jernih itu menatapku.

"Apakah kamu――menyukai Hikari?"

Aku tidak berniat bertanya apa maksud pertanyaan itu.

Karena apa pun maksudnya, jawabanku sudah ditentukan.

"Tentu saja, aku sangat menyukainya."

Melihatku berkata begitu, Nanase tersenyum dengan rasa sedih.

Nanase mengeluarkan buku catatan dan pulpen dari tasnya, lalu mulai menulis sesuatu.

Kemudian, dia menyerahkan selembar memo padaku.

"Temani dia."

Tertulis di atasnya dengan tulisan tangan yang cantik, nama dan alamat sebuah kafe di Takasaki.

"Pasti kamu lebih berguna daripada aku."

Aku tidak mengerti apa maksud kata-katanya, tapi aku mengangguk mantap.

Agar aku bisa sedikit saja menghilangkan kecemasan di hati Nanase.

Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.

Keesokan harinya.

Aku mendatangi kafe yang ditulis Nanase di memo itu.

Itu adalah kafe yang tidak mencolok di gang sempit yang jauh dari Stasiun Takasaki.

Apa ada pelanggan yang datang ke tempat seperti ini?

Sejujurnya, agak sulit untuk masuk. Aku merasakan suasana seolah pelanggan baru tidak diterima. Tapi karena sudah sampai sejauh ini, tidak mungkin aku pulang begitu saja.

Saat aku membuka pintu, lonceng berbunyi tring.

Berbeda dengan eksteriornya yang usang, suasana di dalam kafe ternyata sangat elegan. Meski secara keseluruhan tampak tua, tempat itu terjaga dengan sangat bersih.




"Silakan. Silakan duduk di mana saja."

Pemilik kedai paruh baya itu menyapa tanpa menoleh ke arahku.

Entah bagaimana, suasana kedai kopi milik pribadi ini terasa nyaman dan membuatku tenang.

Kedai itu sedang sepi. Hanya ada dua pelanggan. Sepasang lansia yang sedang asyik mengobrol di kursi dekat pintu masuk, dan seorang gadis berkacamata di kursi dekat jendela di pojok, yang sedang membuka laptop dan sibuk mengerjakan sesuatu.

Aku melangkah masuk dan mendekati kursi di dekat jendela.

Gadis berkacamata itu tampak begitu tenggelam dalam pekerjaannya.

Karena itulah dia tidak menyadari kehadiranku meski aku sudah berdiri tepat di sampingnya, dan terus mengetik di papan ketik.

"……Hoshimiya."

Saat aku memanggilnya, gerakan Hoshimiya terhenti seketika.

Kemudian, dengan gerakan kaku seperti robot, dia menoleh ke arahku.

"……Na, Natsuki-kun!?"

Jeritan kagetnya menggema di dalam kedai yang sunyi.

Aku meletakkan jari telunjuk di depan bibir sebagai isyarat diam, dan Hoshimiya buru-buru menutup mulutnya.

Setelah meminta maaf dengan membungkuk kepada pasangan lansia yang menoleh penasaran ke arah kami, aku duduk di hadapan Hoshimiya.

Sambil melirik Hoshimiya yang sepertinya masih belum bisa menenangkan diri, aku memanggil pemilik kedai dan memesan kopi.

Begitu pemilik kedai kembali ke meja kasir, Hoshimiya mulai membuka suara.

"Ke, ke, ke, kenapa kamu ada di sini?"

Dia benar-benar sangat terkejut.

Matanya bahkan tampak gelisah saat berbicara.

Aku sempat berpikir dia akan sedikit lebih tenang selama aku memesan kopi tadi.

"Nanase yang memberitahuku alamat tempat ini. Dia bilang aku harus menemuimu."

"A, aku tidak mendengar apa-apa soal itu!?"

"Melihat reaksimu, sepertinya memang begitu."

……Bagaimanapun juga, Hoshimiya hari ini terlihat sangat segar.

Dia mengenakan kacamata berbingkai hitam yang agak besar, dengan rambutnya yang diikat satu.

Itu adalah penampilan yang tidak pernah kulihat di sekolah. Kesan kasual yang segar ini membuat dirinya tampak sangat manis.

"Aduh, dasar Yuino-chan……"

Hoshimiya menatap ke luar jendela dengan tatapan tidak puas.

Aku pun ikut menoleh ke arah yang sama, dan terhampar langit biru yang sangat cerah. Suara tonggeret terdengar dari balik jendela. Hari ini pun suhu udara terasa seperti puncak musim panas. Syukurlah penyejuk ruangan di dalam kedai ini berfungsi dengan baik.

"……Maaf ya, soal kemarin."

Hoshimiya bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Aku jadi tidak bisa pergi ke laut."

"……Oh, begitu. Sayang sekali, tapi ya mau bagaimana lagi."

"Benar-benar maaf ya. Padahal aku yang bilang kalau ingin pergi ke laut."

Hoshimiya mengubah ekspresinya yang muram menjadi senyuman tipis.

"Kalian bersenang-senanglah ya. Jangan memikirkanku."

Mendengar kata-kata itu, aku bingung harus membalas apa.

Saat aku sedang mencari kata-kata yang tepat, pemilik kedai datang mengantarkan kopi ke mejaku.

Aku menyesap kopi itu, seolah mencari alasan untuk tetap diam. Rasa pahit dari kopi hitam terasa nyaman di hatiku saat ini. Kopi panas yang diminum di kedai yang sejuk memang terasa nikmat.

"……Apa yang sedang kamu tulis itu novel?"

Aku bertanya. Kata-kata itu meluncur begitu saja untuk mengalihkan pembicaraan.

Meski begitu, aku memang penasaran. Di layar laptop Hoshimiya yang tadi sangat ia fokuskan hingga tak menyadari kehadiranku, terpampang perangkat lunak pengolah kata dengan format tulisan vertikal.

"E, eh…… ternyata kamu tahu?"

Hoshimiya tersenyum canggung. Mungkin dia tidak ingin orang lain tahu.

Yah, karena aku sendiri baru mengetahuinya hari ini, mungkin lebih tepat jika dikatakan dia memang menyembunyikannya.

"Aku tadi sempat lihat layarnya. Maaf, aku lihat tanpa izin."

"……Itu rahasia."

Hoshimiya mengatakannya dengan wajah yang tampak malu.

Apa itu hal yang harus disembunyikan sampai sebegitunya? Meski aku tahu Hoshimiya dari klub sastra menulis novel, aku tidak merasa ada yang aneh. Lagipula, aku sudah tahu kalau dia sebenarnya seorang kutu buku novel yang cukup fanatik.

Selain itu…… kata-kata yang Nanase ucapkan kemarin terlintas di benakku.

'Gadis yang sederhana, pendiam, selalu murung, canggung dalam bicara, dan hanya membaca buku sambil meringkuk di pojok kelas. Kami selalu satu kelas, tapi sampai kelas tiga SD, kami hampir tidak pernah bicara. Saat itu aku jauh lebih ceria dari sekarang, dan selalu berada di pusat keramaian kelas.'

Saat mendengar cerita itu, aku bahkan tidak bisa membayangkan Hoshimiya yang seperti itu.

Namun, melihat Hoshimiya yang sekarang, bayangan itu tiba-tiba terasa nyata.

"Jangan bilang siapa-siapa ya?"

"Tidak masalah, tapi apa ada alasan tertentu kamu menyembunyikannya?"

"Karena…… ini memalukan. Aku tidak suka kalau ada orang yang tiba-tiba memintaku menunjukkannya…… lagipula, menulis novel bukan hobi yang umum, jadi aku takut orang lain berpikir yang aneh-aneh."

Yah, aku bisa memahami maksudnya.

Aku sendiri adalah seorang otaku sejak dulu, jadi aku tidak punya prasangka buruk. Tapi, orang yang tidak mengerti hobi seperti ini mungkin akan mengubah pandangan mereka terhadap Hoshimiya. Kami berlima yang sering berkumpul tahu kalau Hoshimiya sebenarnya adalah tipe otaku yang suka novel, tapi orang-orang di sekitar kami tidak berpikir demikian.

Dia adalah gadis cantik yang ceria, baik pada siapa pun, dan merupakan idola yang paling manis di angkatan.

Kebanyakan orang pasti menganggapnya seperti itu.

Hoshimiya sendiri tampaknya memang sengaja bersikap seperti itu kepada orang-orang selain teman dekatnya.

"Aku mengerti. Aku tidak akan memberitahu siapa pun. Apakah hanya Nanase yang tahu?"

"Iya. Yuino-chan sudah sering membaca tulisanku sejak dulu."

"Begitu ya…… sejak kapan kamu menulis novel?"

"Mungkin sejak SD. Aku terobsesi dengan dunia novel, jadi aku ingin mencoba menulisnya sendiri. Kupikir, kalau aku bisa melukiskan dunia yang ada di dalam kepalaku, mungkin hasilnya akan menarik."

Itu adalah pemikiran seorang otaku tipe produser. Kebetulan, aku adalah otaku tipe konsumen, jadi aku puas hanya dengan mengonsumsinya. Aku bahkan tidak pernah terpikir untuk mencoba membuat sesuatu sendiri. Itulah sebabnya aku sangat menghormati otaku tipe produser.

Karena seorang otaku tipe konsumen tidak bisa hidup tanpa otaku tipe produser.

"Jadi, kamu sudah menjadikannya hobi selama bertahun-tahun?"

"Iya. Meskipun aku sama sekali tidak merasa menjadi lebih baik dalam menulis."

"Ahaha," Hoshimiya tertawa kecil sambil mencela diri sendiri.

Pandangannya tertuju pada layar laptop di depannya.

"Novel seperti apa yang kamu tulis? ……Ah, apa aku sebaiknya tidak bertanya?"

Ada kemungkinan dia sudah menceritakannya pada Nanase, tapi tidak ingin menceritakannya padaku.

Sejujurnya, aku sangat penasaran dengan novel Hoshimiya, tapi mungkin lebih baik tidak mengorek terlalu dalam.

Saat aku sedang memikirkan berbagai hal, Hoshimiya menggelengkan kepala.

"Tidak, kalau itu Natsuki-kun, tidak apa-apa. Kurasa Yuino-chan juga memintamu datang dengan maksud tersebut."

"……Maksud tersebut?"

"Kurasa dia ingin kamu bekerja sama membantuku, bukan dia."

Aku memiringkan kepala mendengar kata-kata Hoshimiya yang sulit dimengerti.

Bekerja sama? Membantu apa……?

Melihatku yang bingung, entah kenapa ekspresi Hoshimiya melunak.

"Awalnya, Yuino-chan yang membaca novelku dan memberikan saran."

Agar novelnya menjadi lebih menarik, lanjut Hoshimiya.

"……Lalu, peran itu sekarang digantikan olehku?"

Saat aku menebak begitu, Hoshimiya mengangguk.

"……Tidak, kenapa harus aku?"

Aku hanyalah otaku biasa, dan tentu saja aku belum pernah menulis novel.

"Selera cerita kita cocok, dan Natsuki-kun juga banyak membaca novel, kan?"

"Yah, lumayan lah……"

"Selain itu, saat kita bicara tentang kesan novel, Natsuki-kun sering memberikan sudut pandang yang analitis dan sangat membantu. Aku juga sering menceritakan hal itu pada Yuino-chan. Jadi…… kupikir itulah alasannya."

Aku senang dipuji, tapi apakah benar begitu?

Yah, karena aku tipe otaku yang sering menulis analisis panjang lebar tentang anime atau manga di Twitter atau blog, mungkin kemampuan verbalisasiku memang terasah, tapi…… aku tidak terlalu merasakannya.

"Tentu saja, kalau tidak merepotkanmu……"

Hoshimiya bertanya dengan wajah penuh penyesalan, menunduk sambil melirik ke arahku.

……Apa ini tidak terlalu manipulatif?

Dulu aku mengira dia melakukannya secara alami, tapi setelah mendengar cerita Nanase, aku jadi sedikit curiga.

Bukan berarti aku kalah oleh wajah manisnya itu. Tentu saja aku tidak kalah, tapi agar Hoshimiya segera merasa tenang, aku menjawab dengan nada yang sengaja kubuat ceria.

"Tidak, tidak, tentu saja itu tidak masalah!"

Aku penasaran dengan novel yang ditulis Hoshimiya, aku juga suka membaca, dan lagi, kalau teman meminta bantuan, aku ingin sekali menjawabnya.

"Benarkah? Terima kasih. Natsuki-kun memang baik ya."

"……Yah, tapi aku tidak tahu apakah aku benar-benar bisa berguna atau tidak."

Reaksiku yang setengah hati itu semata-mata karena aku kurang percaya diri.

Bagaimanapun, aku belum pernah memberikan kritik langsung kepada pembuat cerita.

"Kalau kamu bisa menyampaikan kesan jujurmu, itu saja sudah cukup. Aku akan memikirkan cara memperbaikinya sendiri."

Hoshimiya berkata begitu, lalu mengobrak-abrik tas yang diletakkan di sampingnya.

Tak lama kemudian, dia memberikan tumpukan kertas tebal kepadaku. Itu adalah naskah novel yang sudah dicetak.

"Sebenarnya sudah selesai, tapi…… aku bingung dengan alurnya."

Judulnya tertulis "Kisah Laut di Musim Panas (Draft)".

Sepertinya itu hanya judul sementara dan belum diputuskan.

Aku menatap bagian pembukanya. Deskripsi pemandangannya sudah sangat mahir. Tidak ada rasa canggung saat membacanya. Singkatnya, tulisannya mudah dibaca. Tidak kalah dengan karya profesional. Hoshimiya yang menulis ini?

"Boleh aku baca di sini?"

"E, boleh saja…… tapi jumlahnya seukuran satu buku, lho?"

"Aku cukup cepat dalam membaca. Mumpung ada di sini, siapa tahu aku bisa memberikan masukan."

Selain itu, kedai kopi ini suasananya sangat nyaman. Menurutku tempat ini sangat cocok untuk membaca.

Ini sama sekali bukan karena aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Hoshimiya. Tentu saja tidak.

"Kalau begitu…… aku akan menunggu sambil mengerjakan hal lain, ya."

Meski berkata begitu, Hoshimiya terus melirik ke arahku.

Aku menyadari pandangannya, tapi saat aku mulai membaca kata demi kata, aku segera tenggelam ke dalam dunia cerita.

――Ceritanya dimulai dari adegan di mana seorang anak laki-laki dan perempuan bertemu di tepi pantai.

Isinya sepertinya bergenre misteri remaja.

Latar ceritanya adalah sebuah SMA di pinggir laut.

Seorang gadis cerdas dan anak laki-laki yang cekatan memecahkan misteri kecil sehari-hari.

Percakapan komikal yang terasa seperti light novel juga sangat menarik.

Meskipun ada beberapa hal yang mengganjal, seperti penjelasan misteri yang agak sulit dimengerti atau penyelesaian masalah yang terasa terlalu mudah, ceritanya cukup menarik untuk dibaca sampai tuntas.

Pada akhirnya, gadis itu jatuh cinta pada anak laki-laki tersebut.

Gadis yang seharusnya cerdas itu panik karena cinta pertamanya, lalu berusaha melakukan pendekatan dan menyatakan perasaan padanya. Namun, anak laki-laki itu memiliki rahasia di masa lalunya――.

"……Begitu ya."

Sambil bergumam, cerita pun berakhir.

Kesadaranku kembali ke dunia nyata.

Saat aku mengangkat wajah dari tumpukan kertas itu, Hoshimiya sedang menatapku dengan lekat.

Menyadari kami bertatapan, Hoshimiya tersentak dan memalingkan wajah. Dia mulai bersiul dengan asal-asalan, tapi sudah terlambat. Lagi pula, dia bahkan tidak benar-benar bersiul.

Mengabaikan Hoshimiya yang sedang sok sibuk, aku memijat bahu dan memutar leherku.

Bahu terasa kaku karena posisi duduk yang lama. Saat kulihat jam, tanpa terasa dua jam sudah berlalu. Karena haus dan juga sebagai biaya sewa kursi, aku memesan es teh.

"Ba, bagaimana……?"

Hoshimiya bertanya dengan nada yang sangat berhati-hati.

"Menarik sekali. Hoshimiya, kamu hebat."

Saat aku menyampaikan kesanku secara langsung, Hoshimiya tertawa bahagia, "Benarkah?"

Sejujurnya, hasilnya jauh lebih menarik dari yang kubayangkan.

Aku sempat meremehkannya. Aku tidak menyangka Hoshimiya bisa menulis cerita seperti ini.

"Aku senang Natsuki-kun memujiku."

……Terlepas dari itu, ada satu pertanyaan yang muncul setelah membaca karya ini.

"Apa jangan-jangan, alasan Hoshimiya bilang ingin pergi ke laut adalah demi karya ini?"

――Kisah laut di musim panas. Meski hanya judul sementara, itu adalah elemen penting dalam cerita ini. Namun, Hoshimiya menggelengkan kepala dengan ekspresi rumit menanggapi pertanyaanku.

"……Aku tidak bisa bilang elemen itu tidak ada, tapi kurasa bukan itu. Aku hanya sekadar ingin pergi ke laut…… karena aku sangat menyukai laut, makanya aku menulis cerita ini."

Hoshimiya menatap ke balik jendela dengan tatapan kesepian, lalu berkata sambil menumpu dagunya.

"……Kalau saja kita bisa bermain di laut bersama-sama, pasti seru ya."

Melihat ekspresi itu, aku sadar telah melakukan kesalahan.

Itu adalah pertanyaan yang polos, tapi bagi Hoshimiya, itu bukanlah perasaan yang menyenangkan.

Aku baru saja mengungkit kembali tentang liburan yang seharusnya dia ikuti.

"……Maaf. Aku bertanya hal yang tidak perlu."

"Ah, e, tidak apa-apa, maaf aku bereaksi aneh. Tidak apa-apa, sungguh. Wajar saja kalau kamu berpikiran begitu setelah membaca ini. Lagipula, kalau benar-benar pergi ke sana, aku pikir aku akan menggunakannya untuk riset cerita."

Hoshimiya menjawab dengan panik.

Rasanya seperti dia tidak bermaksud memberikan reaksi seperti itu.

Kami berdua saling merasa bersalah. Ada keheningan sejenak, dan seolah waktu itu sudah diperhitungkan, pemilik kedai datang dan meletakkan es teh di meja dengan gerakan yang anggun, lalu pergi.

"Ja, jadi…… apa pendapatmu? Aku akan senang kalau bisa mendengar kesanmu yang lebih detail……"

Hoshimiya bertanya meski tampak malu-malu.

"Begitu ya. Pertama, tulisannya bagus. Mudah dibaca dan langsung bisa dipahami. Karakter dua tokoh utamanya juga bagus, bagian misterinya juga oke. Hanya saja, yang agak mengganjal adalah…… bagian akhirnya, mungkin?"

"Benar, kan…… Natsuki-kun juga merasa begitu?"

Sepertinya Hoshimiya juga menyadarinya. Aku mengangguk untuk mengiyakan.

"Ya. Aku pikir ini adalah cerita tentang mengejar rahasia masa lalu anak laki-laki itu sambil dibumbui kisah cinta……"

……Entah bagaimana, tiba-tiba ada perasaan seolah realitasnya hilang. Karakter anak laki-laki itu tiba-tiba berubah sehingga terasa ganjil, dan metode penyelesaian masalahnya pun terasa terlalu dipaksakan.

Saat aku menyampaikan pendapat itu dengan bahasa yang lebih halus, Hoshimiya mengangguk.

"Aku pun bingung dengan bagian itu……"

Hoshimiya menatap layar laptopnya, tampak sedang berpikir keras.

……Apakah aku harus memberikan pendapat?

Ada banyak hal yang ingin kutanyakan dan kukatakan.

Tapi, apakah aku benar-benar harus mengatakannya?

Sejauh mana Hoshimiya menginginkannya?

"Hei, boleh aku pastikan premisnya terlebih dahulu?"

Karena itulah aku bertanya padanya.

Tergantung apa yang ingin dia capai, pendapat yang harus kuberikan pun akan berubah.

"Apa rencana Hoshimiya dengan novel ini?"

"Apa rencananya……?"

Melihat Hoshimiya yang tampak bingung, aku menjelaskan sambil menegakkan beberapa jari.

"Apakah kamu ingin membuat sesuatu yang memuaskan dirimu sendiri, atau ingin membuat seseorang merasa tertarik, atau ingin mengirimkannya ke penghargaan novel, atau ingin menjadi penulis novel profesional…… Karena pendapatku akan berubah tergantung pada tujuanmu."

Sejujurnya, sebagai karya amatir, menurutku ini sudah cukup menarik.

Bahkan pujian pun layak diberikan. Aku terkejut saat tahu teman SMA-ku yang menulis ini.

……Aku ragu apakah aku bisa mendefinisikan diriku sendiri sebagai anak SMA yang sama, tapi itu tidak penting.

Sambil membolak-balik novel Hoshimiya dan memikirkannya kembali,

"――Semuanya."

Kata-kata dengan intonasi yang kuat sampai ke telingaku.

Saat aku mengangkat wajah, Hoshimiya menatapku dengan wajah serius.

Aku bahkan tidak bisa mengira bahwa dia adalah orang yang sama dengan Hoshimiya yang biasanya lembut dan tersenyum ramah.

"Aku ingin membuat karya yang memuaskan diriku sendiri, ingin membuat orang yang membacanya, seperti Natsuki-kun dan Yuino-chan, merasa puas, dan kalau itu berhasil, aku ingin mengirimkannya ke penghargaan novel……"

Lalu, dia menyatakan tekadnya. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

"……Suatu saat nanti, aku ingin menjadi penulis novel."

Aku merasakan tekad yang kuat.

Namun di sisi lain, dia juga tampak seperti orang yang sedang berada dalam tekanan besar.

Belakangan ini, Hoshimiya terasa sangat tidak stabil, terutama sebelum liburan musim panas. Kadang dia tertawa lalu tiba-tiba wajahnya menjadi muram…… aku merasa emosinya sering sekali berubah-ubah.

"Tentu saja aku mendukungmu, dan aku akan bekerja sama kalau memang aku dibutuhkan."

Namun, aku tidak merasa ada yang akan berubah jika aku menunjukkannya begitu saja.

Jadi, aku memilih kata-kata yang aman.

Tentu saja aku tidak bohong tentang keinginanku untuk membantu mimpi temanku.

Aku juga senang bisa menyentuh rahasia Hoshimiya yang dia sembunyikan dari orang lain.

"……Ini pertama kalinya aku mengucapkannya dengan kata-kata. Sedikit membuatku berdebar."

Hoshimiya memegang dadanya sendiri dan berkata seperti itu.

"……Ya. Aku ingin menjadi penulis novel. Karena itu, aku ingin mendengar pendapat Natsuki-kun."

"Baik. Kalau begitu, aku akan menunjukkan bagian yang mengganjal. Pertama, dari pembukanya――"

Aku menunjukkan poin-poin yang kupikirkan sebisa mungkin, dan Hoshimiya mencatatnya.

Kami memikirkan cara memperbaiki masalah bersama-sama, dan jika sudah sepakat, kami melanjutkan ke bagian berikutnya.

"Di sini, penjelasannya kurang. Aku tidak mengerti apa yang terjadi."

"Hmm…… bagian penjelasan yang lain terlalu panjang, jadi aku ingin memangkasnya. Harus bagaimana ya?"

"Mungkin bisa dijelaskan lewat dialog saja. Itu akan lebih mudah dibaca daripada narasi biasa."

"Ah, benar juga! Itu ide bagus. Kalau begitu――"

Kami mengulangi proses tersebut berulang kali.

Itu sangat menyenangkan.

Melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh secara tulus memang menarik.

Aku merasa terinspirasi oleh Hoshimiya yang dengan serius memikirkan cara membuat ceritanya menjadi lebih baik.

"Kalau begitu di sini…… begini……"

Hoshimiya bergumam pelan sambil melihat layar.

Saat kami berdua beristirahat sejenak dan menatap ke luar jendela, langit telah diwarnai warna jingga.

Es batu di gelas es teh yang sudah kuminum habis telah mencair, menciptakan genangan air di dalamnya.

"Wah…… sudah jam segini?"

Aku bergumam sambil melihat jam, dan Hoshimiya memiringkan kepalanya, "Eh?"

Lalu dia melihat jam tangannya, dan mulutnya terbuka lebar, "Ah!"

"Ma, maaf! Natsuki-kun! Aku……"

"Apa karena jam malam? Maaf, aku sendiri tidak sadar waktu sudah berjalan sejauh ini."

"Iya! Padahal aku baru saja dimarahi gara-gara masalah liburan, aku malah akan dimarahi lagi……!"

Wajah Hoshimiya menjadi pucat. Dia pasti sangat takut pada Sei-san.

"Jangan pikirkan aku, segeralah pulang."

"Iya, itu, benar-benar maaf ya? Padahal kamu sudah menemaniku, tapi tiba-tiba jadi begini……"

"Tidak apa-apa, santai saja. Kalau liburan musim panas, aku selalu punya waktu luang. Ajak aku lagi kapan-kapan."

Aku mengatakannya dengan tulus, lalu Hoshimiya yang sedang terburu-buru menyiapkan kepulangannya meraih tanganku.

……Dia meraih tanganku?

Eh? Hm? Kenapa Hoshimiya menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya?

"Terima kasih untuk hari ini, Natsuki-kun. Aku benar-benar merasa senang."

Hoshimiya berkata dengan jarak yang sangat dekat.

Dilihat dari dekat, wajahnya terlihat jauh lebih cantik.

Kulitnya yang seputih porselen tidak memiliki noda sedikit pun, dan matanya yang besar menatapku dengan jujur.

"――Aku, akan berusaha."

Hoshimiya menyapa pemilik kedai, "Terima kasih atas hidangannya!" dan berlari meninggalkan kedai.

Pemilik kedai hanya membalas dengan anggukan tanpa bicara.

Mungkin ini adalah kedai langganan Hoshimiya. Terasa ada kedekatan di antara mereka.

……Ngomong-ngomong, Hoshimiya, bagaimana dengan pembayarannya???

Malam harinya.

Sesampainya di rumah, aku mendapat telepon dari Hoshimiya.

"Halo, halo."

Aku menyapanya dengan nada santai, tapi tidak ada balasan.

"……Hoshimiya? Bisa dengar suaraku?"

Saat kutanya begitu, Hoshimiya menjawab dengan nada yang lebih muram dari biasanya.

"……Iya. Natsuki-kun, maaf ya untuk hari ini. Aku lupa membayar tagihannya……"

"Hal seperti itu tidak perlu dipikirkan. Aku kan punya uang hasil kerja paruh waktu, sesekali biarkan aku yang mentraktirmu."

"Tidak. Aku akan mengembalikannya. Lagi pula, karena kamu sudah membantuku dengan novelku, seharusnya aku yang mentraktirmu. Benar-benar minta maaf, aku tadi sangat panik……"

"Kalau Hoshimiya bilang begitu, aku akan menerima bagian punyaku, tapi bagianmu biarlah kamu yang bayar sendiri. Lagi pula aku yang tiba-tiba datang ke tempatmu tanpa pemberitahuan, jadi benar-benar jangan dipikirkan."

Setelah perdebatan itu, akhirnya diputuskan bahwa Hoshimiya akan mengembalikan bagiannya saja padaku.

"Kalau begitu, lain kali kita bertemu――"

"――Tidak. Hei, apa boleh aku datang untuk mengembalikannya sekarang?"

"Sekarang……?"

Aku melihat jam di kamarku.

Sudah lewat pukul sepuluh malam.

Bagaimanapun juga, ini bukan waktu bagi Hoshimiya yang punya jam malam untuk keluar rumah.

"Stasiun terdekat dengan rumah Natsuki-kun adalah stasiun ini, kan?"

Bersamaan dengan kata-kata itu, sebuah foto dikirimkan oleh Hoshimiya.

Itu adalah foto papan petunjuk nama stasiun di dekat rumahku yang sedang gelap.

Langit terlihat gelap. Artinya foto itu diambil di malam hari.

Aku tidak berpikir Hoshimiya punya pengalaman datang ke stasiun tak berpenghuni di daerah terpencil ini.

Jika dia hanya ingin menyebutkan nama stasiun, dia bisa melakukannya lewat teks, tapi dia mengirimkan foto sebagai bukti bahwa dia memang ada di sana sekarang.

"――Aku, pergi dari rumah. Jadi, aku tidak punya jam malam lagi."

Mendengar deklarasi Hoshimiya yang datar itu, pikiranku seketika berhenti.

A, apa yang harus kulakukan?

Tenang, tenanglah, Haibara Natsuki. Masalahnya bisa dibicarakan nanti. Yang penting, Hoshimiya sendirian di stasiun tak berpenghuni di pedesaan pada tengah malam seperti ini sangat berbahaya. Pertama, aku harus menemuinya dan mendengarkan ceritanya.

"Tunggu, tunggu sebentar di sana!"

Aku bergegas lari keluar rumah sambil tetap memegang telepon.

Meskipun suhu udara sudah turun di malam hari, tentu saja aku akan berkeringat jika berlari.

Sambil bercucuran keringat, aku berhasil sampai di stasiun lokal. Mungkin tidak perlu secepat ini, tapi karena aku panik, aku tidak punya ketenangan untuk hanya sekadar berjalan.

Lampu jalan di stasiun pedesaan itu hanya menyala satu. Hoshimiya sedang duduk di tangga batu.

Wajahnya muram, tapi setidaknya aku lega dia selamat.

Hoshimiya menyadari kedatanganku dan berdiri.

"……Natsuki-kun. Maaf ya, tiba-tiba datang."

"Tidak, tidak, itu tidak masalah, tapi…… apa benar kamu pergi dari rumah?"

"Iya. Ada berbagai hal terjadi dengan Papa, dan aku merasa sudah tidak sanggup lagi, jadi aku keluar."

"Ahaha," Hoshimiya tertawa.

Bagaimanapun juga, itu adalah tawa yang dipaksakan.

"Ngomong-ngomong, aku kembalikan uang kafe tadi dulu ya?"

Hoshimiya menyodorkan selembar uang seribu yen, dan aku menerimanya.

"……Apa kamu jauh-jauh datang ke sini hanya untuk itu?"

"……Kalau aku bilang iya, apa kamu akan percaya?"

"Aku bisa saja berpura-pura percaya."

"……Maaf, aku berbohong. Sebenarnya, karena aku ingin bertemu Natsuki-kun. Menggunakan kesalahanku sendiri sebagai alasan untuk itu benar-benar hal yang buruk ya. Maafkan aku, aku…… aku memang payah. Apa pun yang kulakukan."

Tidak diragukan lagi, kondisi mental Hoshimiya tidak stabil.

Ini bukan saat yang tepat untuk memberikan argumen logis bahwa dia sebaiknya pulang ke rumah.

Yang terpenting sekarang adalah menemaninya.

Setelah dia tenang, aku akan mendengarkan ceritanya dan memikirkan jalan keluarnya.

Namun, aku tidak mungkin terus berdiam diri di stasiun tak berpenghuni ini selamanya.

"Tidak apa-apa, Hoshimiya. Semuanya akan baik-baik saja."

Meski begitu, apa yang harus kulakukan?

Kereta terakhir pun sudah hampir tiba.

Jika ingin naik kereta, hanya tersisa jadwal yang sekarang.

Tetapi, kalaupun naik kereta, aku harus membawanya ke mana?

Karena dia sudah tidak bisa pulang ke rumah.

"……Bagaimana kalau ikut ke rumahku dulu?"

Di kota pedesaan ini, hanya itulah satu-satunya pilihan yang tersisa.

Kebetulan, hari ini Ibu sedang menginap di rumah Nenek, jadi dia tidak ada di rumah. Meski ada adikku di sana.

Hoshimiya memasang ekspresi penuh rasa tidak enak, tetapi setelah ragu sejenak, dia mengangguk pelan.

Sepertinya dia memang tidak punya tujuan lain. Aku sedikit penasaran kenapa dia tidak mengandalkan Nanase.

Jika dia menganggapku lebih prioritas daripada Nanase, sebagai laki-laki aku merasa senang, tapi secara realistis kurasa bukan itu alasannya.

"……"

"……"

Kami berjalan beriringan menyusuri jalanan malam musim panas.

Bersama Hoshimiya, aku menuju ke rumahku.

Situasi ini terasa seperti mimpi, tapi ini bukanlah keadaan yang bisa kusyukuri.

Aku benar-benar mengkhawatirkan Hoshimiya. Bahkan sekarang pun dia terus menunduk.

Dia bahkan tidak memikirkan apa yang harus dilakukan setelah ini, dan kondisi mentalnya jelas tidak stabil.

Selain itu, ada masalah yang sangat nyata.

Meski aku menyebutnya "pergi dari rumah" dengan gampang, Hoshimiya adalah seorang gadis, dan lagi ini sudah malam.

Bukan hal aneh jika ini menjadi urusan polisi. Membawanya ke rumahku dalam situasi seperti ini, sejujurnya aku menanggung risiko yang cukup besar.

"Hoshimiya, itu……"

Dia mungkin menyadari keraguanku dari caraku bicara yang terputus-putus.

"……Kurasa tidak akan ada yang melapor ke polisi."

Hoshimiya bergumam pelan.

"Kalau sampai hal itu terjadi, reputasi keluargaku akan terganggu."

"……Begitu ya."

"Sekarang mungkin mereka sedang mencariku. Awalnya mereka pasti mengira aku pergi ke rumah Yuino-chan, jadi mereka tidak terlalu khawatir. Tapi setelah tahu aku tidak ada di sana, kurasa mereka sedang panik mencariku ke mana-mana."

"……Itu alasan kenapa Hoshimiya datang kepadaku?"

" Ayah mengira orang yang bisa kuhubungi hanyalah Yuino-chan. Maaf karena menyeretmu ke dalam masalah ini. Sebenarnya, aku bisa saja pergi dari rumah sendirian. Awalnya aku berniat begitu, berencana kabur naik kereta ke tempat yang jauh. Tapi, aku teringat padamu, lalu teringat aku belum membayar uang kafe, dan menggunakan itu sebagai alasan untuk mengandalkanmu……"

Suaranya bergetar.

Nada suaranya terdengar seolah dia sedang menahan tangis.

"Tidak apa-apa, mengandalkan orang lain itu wajar. Temanku sedang dalam kesulitan, tentu saja aku harus menolong, kan?"

Setelah mengucapkannya, aku merasa itu adalah kalimat klise. Tapi itu adalah ketulusanku.

Lagipula, kalau Hoshimiya memang bersalah pun, penyebab utamanya kemungkinan besar ada pada Sei-san.

Yah, aku tidak akan tahu sebelum mendengar ceritanya sendiri.

"……Aku takut."

Sambil terus berjalan, Hoshimiya mendekap lengannya sendiri yang gemetar.

"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melawan Ayah seperti ini."

"……Hoshimiya."

"Setiap kali aku melawan Ayah saat aku masih kecil, aku selalu dimarahi habis-habisan. Sejak saat itu, aku selalu hidup sesuai dengan perkataan Papa. Tahu tidak? Selama ini…… aku hanyalah boneka bagi Papa."

Ini adalah urusan keluarga orang lain, tapi entah kenapa aku bisa membayangkannya.

Mungkin karena aku pernah melihat interaksi Hoshimiya dan Sei-san di mal.

"Natsuki-kun juga melihatnya, kan? Dia memang orang seperti itu."

"……Ah."

Mungkin aku tahu lebih banyak daripada yang dia bayangkan.

Aku tidak bisa membayangkan pria itu menghargai keinginan putrinya sendiri.

"Selama ini, aku selalu memerankan sosok putri idealnya. Karena melawan pun tidak ada gunanya. Aku tidak melakukan apa pun yang dia benci, merelakan hal-hal yang kuinginkan, dan mengubah kepribadianku menjadi seperti yang dia sukai."

Hoshimiya berjalan sedikit mendahuluiku, lalu menatap langit sambil bercerita.

"……Padahal dulu, aku adalah gadis yang murung, pendiam, dan sederhana, tahu?"

Kemudian, dia berbalik dan tersenyum cerah.

"Aku berhenti menjadi diriku sendiri karena dia membencinya. Aku mengubah kepribadianku menjadi ceria. Selalu ceria, penuh semangat, manis, dan menjadi populer di sekolah yang menebar senyum pada semua orang…… itulah sosok yang aku tetapkan sebagai diriku sendiri."

Meski aku tahu itu hanya semangat palsu, aku tidak bisa membedakannya dengan cara tersenyumnya yang biasa.

Setelah itu, Hoshimiya menghilangkan ekspresinya seketika.

"Mungkin berkat sering menulis novel sejak dulu? Memerankan kepribadian yang kubuat sendiri tidak terasa terlalu menyiksa. Meski aku sudah berusaha keras belajar dan berolahraga, hasilnya tidak terlalu bagus. Tapi karena aku sudah menjadi pribadi dan memiliki penampilan yang disukai Papa, aku jadi tidak pernah dimarahi lagi."

Itu adalah cerita yang juga kudengar dari Nanase, tapi mendengar langsung dari mulut orangnya terasa jauh lebih berat.

Sosok yang ada di depanku saat ini adalah Hoshimiya Hikari yang tidak kukenal.

"Hei, Natsuki-kun. ……Aku manis, kan?"

Hoshimiya yang berdiri di depanku tersenyum tipis.

Aku menghentikan langkahku dan mengangguk menanggapi pertanyaannya.

"Aku berusaha keras untuk bisa menjadi manis. Kalau tidak manis, aku akan dibenci oleh Papa. Sebenarnya aku ingin menjadi orang yang keren dan elegan, tapi sosok seperti inilah yang disukai Papa."

Tiba-tiba, ingatan masa lalu melintas di benakku.

"Ahaha, bercanda. Sebenarnya aku lebih suka fesyen yang netral. Kalau aku suka, aku juga membeli pakaian pria. Aku senang kamu bilang aku keren."

"……Tapi, aku juga berusaha keras untuk ini, dan aku ingin dianggap cantik."

"Karena…… itu memalukan. Aku tidak suka kalau ada orang yang tiba-tiba memintaku menunjukkannya…… lagipula, menulis novel bukan hobi yang umum, jadi aku takut orang lain berpikir yang aneh-aneh."

Entah mengapa, aku merasa ada ketidakselarasan.

Antara perilaku sehari-harinya dengan hal-hal yang ia sukai atau hobinya.

Sebenarnya itu bukan masalah besar. Hanya sekadar berpikir bahwa dia adalah orang dengan kesenjangan karakter yang unik. Namun, setelah mendengar cerita ini, semua kepingan teka-teki itu terasa pas.

"……Hei, Natsuki-kun. Apa kamu kecewa?"

Aku menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Hoshimiya.

"……Tidak mungkin. Bagiku, Hoshimiya tetaplah Hoshimiya."

"……Bagaimana kalau aku berkata bahwa aku sudah memperhitungkan jawabanmu itu sebelum bertanya?"

"Memang benar, itu adalah sisi Hoshimiya Hikari yang tidak kukenal."

Namun, lanjutku.

"Sebagai manusia, siapa pun pasti punya rahasia, atau wajah yang tidak ditunjukkan pada orang lain. Aku pun begitu. Jadi, hanya karena rahasiamu sedikit lebih besar dari orang lain, aku sama sekali tidak peduli."

Aku pun memiliki bagian yang tidak kutunjukkan pada siapa pun.

Meski aku sempat membukanya sedikit saat kejadian Tatsuya, ada hal-hal yang tentu saja tetap kusimpan rapat.

Bahkan fakta bahwa aku melakukan Time Leap dari dunia tujuh tahun kemudian pun, tidak pernah kuceritakan pada siapa pun.

Dan aku tidak merasa itu adalah hal yang buruk. Karena kurasa tidak semua hal harus diceritakan pada orang lain.

"Natsuki-kun……"

Aku melewati Hoshimiya yang berdiri terpaku, lalu melanjutkan langkah.

"Ayo pergi. Sebentar lagi kita sampai di rumah."

Meski jalanan sepi, ini bukan tempat untuk membicarakan hal sepenting ini di tengah jalan perumahan.

Aku sempat bingung bagaimana harus bersikap.

Kurasa ada kata-kata yang lebih lembut yang bisa kuucapkan.

Namun, aku memilih untuk menyampaikan kejujuranku.

Jadi, mungkin terdengar sedikit dingin.

Tetapi, aku tidak merasa kata-kataku salah.

Begitu sampai di rumah, aku membuka pintu depan.

Tidak ada yang menyambut. Namika mungkin sedang membaca komik di ruang tengah.

Baguslah. Aku akan segera membawa Hoshimiya masuk ke kamarku selagi bisa.

"Permisi……"

Hoshimiya berkata dengan suara berbisik, tampak gugup.

Aku meletakkan jari telunjuk di depan bibir, dan kami berdua naik ke lantai dua dengan tenang.

Aku mengantar Hoshimiya ke kamarku dan menyuruhnya duduk di kursi. Aku sendiri duduk di atas tempat tidur. Hoshimiya meringkuk di kursinya sambil melirik ke sekeliling ruangan dengan penasaran.

"Jadi ini kamar Natsuki-kun."

……Syukurlah aku sudah membersihkan kamar ini.

Karena sedang libur musim panas dan punya banyak waktu luang, aku baru saja melakukan bersih-bersih besar.

"Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar anak laki-laki. Ternyata cukup bersih ya."

"Te, tentu saja. Ya. Memang begitu."

Larut malam, di kamarku sendiri.

Berdua saja dengan gadis yang kusukai.

Aku jadi merasa gugup dan mengangguk-angguk kaku, lalu Hoshimiya tertawa kecil, "Apa-apaan nada bicaramu itu."

Meja belajar dan kursi. Lemari pakaian, tempat tidur, dan rak buku. Kurasa tidak ada yang aneh di sini.

Jika harus memilih satu hal, mungkin hanya koleksi novel dan komik di rak bukuku yang terlalu banyak.

"Wah, seri ini menarik ya~"

Hoshimiya mengambil salah satu light novel populer dari rak buku dan membolak-baliknya.

Meski Hoshimiya pada dasarnya menyukai genre misteri, rupanya dia membaca apa saja seperti diriku yang tipe segala-suka.

"Melihat rak buku orang lain itu menarik ya. Kita jadi bisa tahu apa hobinya."

"……Agak memalukan kalau diperhatikan sedetail itu."

"Fufu, ternyata Natsuki-kun benar-benar seorang otaku ya. Aku tahu itu secara teori, tapi baru sekarang aku merasa yakin. Oh, 'Shino no Tabi' juga lengkap semua serinya. Ini juga sangat menarik, lho."

Hoshimiya tampak sangat senang mengobrak-abrik rak buku orang lain.

Mungkin hanya untuk saat ini, dia mencoba untuk tidak memikirkan hal lain.

Sementara itu, aku sendiri masih membutuhkan sedikit waktu lagi untuk terbiasa dengan situasi di mana Hoshimiya berada di sini.

Baru saja aku berpikir untuk sedikit menenangkan diri――pintu kamar pun terbuka.

"Ah."

"Kak, pinjam lanjutan 'Maruto' dong――"

Namika yang sedang memeluk tumpukan komik ninja paling populer di negeri ini, mengerjapkan matanya berulang kali.

Sambil menatap Hoshimiya yang berdiri di depan rak buku, Namika membeku sepenuhnya.

"……Se, selamat malam?"

Hoshimiya menundukkan kepala dengan canggung.

"……Ah. E, ya. Anu, selamat malam……"

Meski Namika juga tampak kehilangan fokus, dia berhasil menjawab dengan susah payah.

"……Anu, maaf mengganggu……"

Namika menutup pintu kamar sambil tetap memeluk tumpukan komik ninja tersebut.

Aku bertatapan dengan Hoshimiya, dan kami berdua tertawa getir.

……Yah, aku sadar tidak mungkin bisa menyembunyikannya selamanya dan aku memang berencana untuk menjelaskannya.

Hasilnya, penundaan itu membuat situasiku jadi sedikit rumit.

Mau tidak mau aku berdiri, lalu Hoshimiya menunduk dengan rasa penuh penyesalan.

"……Maaf ya, merepotkanmu."

"Tidak apa-apa kok. Kalau dijelaskan sedikit, dia pasti mengerti."

Sebenarnya tidak mungkin semudah itu, tapi setidaknya aku harus mengatakannya agar Hoshimiya merasa tenang.

Begitu turun ke ruang tengah, Namika mencengkeram kerah bajuku.

"Si, si, siapa wanita itu!? Pacarmu!?"

"Bukan. Ada alasan tertentu sampai kubawa ke sini. Mungkin dia akan menginap."

"Bukannya pacar, bukannya itu malah lebih gawat!?"

"Banyak hal yang terjadi. Intinya, dia teman sekolahku."

"Kakak membawa pulang seorang gadis, dan dia secantik itu……"

"He-hei, dengarkan aku tidak?"

"Terus bagaimana? Apa perlu kuberi tahu Ibu?"

"Tidak…… malas sekali kalau harus menjelaskan semuanya. Lagipula mereka tidak akan pulang sampai besok sore, kan?"

Secara teknis, alasannya adalah karena aku ingin menghindari Ibu memberi tahu orang tua Hoshimiya.

"Ba, baiklah. Serahkan padaku, Kak!"

Entah kenapa Namika mengangkat jempol dengan antusias. Apa dia sedang syok?

"……Anu, apa sebaiknya malam ini aku tidur di ruang tengah?"

Aku mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan aneh itu, tapi segera menyadari maksudnya.




Kamarku dan kamar adikku berada di lantai dua, sedangkan ruang tengah ada di lantai satu.

"……Soal suara dan semacamnya, kalau nanti……"

Aku mengetuk kepala Namika yang wajahnya memerah padam dan bergumam tidak jelas.

"Sudah kubilang, dia bukan pacarku."

"Kalau begitu…… kalian hubungan 'itu' saja!?"

"Tenanglah, bodoh. Tidak akan terjadi apa-apa, jadi jangan khawatir."

Aku mencoba mengusap kepalanya, dan tampaknya Namika perlahan mulai tenang.

Namun, seolah baru tersadar sepenuhnya, dia menepis tanganku dan berteriak, "Menjijikkan!" dengan wajah yang kembali memerah. Kakakmu ini sedih tahu, diperlakukan seperti itu……

"……Ngomong-ngomong, orang itu, Hoshimiya Hikari-san, kan?"

Namika yang akhirnya tenang bertanya begitu, membuatku terkejut.

"Kamu kenal dia?"

"Tentu saja tahu. Aku cuma pernah lihat di Minsta. Dia kan terkenal sebagai gadis tercantik di Suzunari. Anak laki-laki di kelasku bahkan sering melihat akun Minsta-nya Hoshimiya-san."

Hoshimiya ternyata seterkenal itu, ya……

Padahal jarak dari SMP tempat Namika sekolah ke Suzunari jauh dan tidak ada hubungannya sama sekali.

Memang, aku pernah berpikir kalau jumlah pengikut dan Like di setiap unggahannya di Minsta sangat luar biasa.

"Lagipula, aslinya benar-benar manis, ya…… Boleh aku lihat sekali lagi?"

Namika bertanya dengan ragu-ragu, tapi aku menyuruhnya untuk "Cepat tidur sana," lalu aku kembali ke kamar.

Saat kembali ke kamar, Hoshimiya sedang menatap langit-langit dengan tatapan kosong.

Dia duduk di atas karpet yang digelar di lantai, bersandar pada tempat tidur.

"……Apa kamu sudah berhasil membujuk adikmu?"

"Yah, begitulah."

Aku menjawab begitu sambil duduk di samping Hoshimiya.

Keheningan menyelimuti ruangan, dan rasa nyata akan situasi ini mulai merasuk.

Karena gerah, aku menyalakan AC. Keringat yang muncul akibat berlari ke stasiun tadi terasa tidak nyaman. Aku harus mandi. ……Bukan cuma aku, Hoshimiya juga. Aku mencoba untuk tidak memikirkannya, tapi pergi ke tempat lain sekarang juga tidak realistis. Artinya, Hoshimiya tidak punya pilihan selain menginap di sini.

"……Kamu mau menginap?"

Menanggapi pertanyaanku yang terasa terlambat, Hoshimiya mengangguk, "……Un."

"Kamu pasti mau mandi, kan? Nanti kusiapkan handuk dan pakaian ganti."

"Ah, aku sudah bawa baju ganti. Karena niat awalnya kabur dari rumah dan berencana menginap di hotel."

Hoshimiya berkata begitu sambil menepuk ransel yang ada di sampingnya.

Aku memang merasa ranselnya lebih besar dari tas yang dia bawa siang tadi, jadi rupanya dia sudah bersiap.

Tampaknya, dia tidak kabur hanya karena terbawa emosi sesaat.

"Kamar mandinya ada di lantai satu."

"Un."

Entah mengapa, kurasa pembicaraan kami jadi sangat minim.

Tentu saja aku gugup. Apakah Hoshimiya juga merasa gugup?

Kami menuruni tangga, dan aku mengantarnya ke kamar mandi.

Lampu ruang tengah sudah padam. Namika mungkin sudah kembali ke kamarnya.

Hoshimiya meletakkan tas berisi pakaian ganti yang dia bawa dari kamar di samping mesin cuci.

"Handuknya ada di sana. Silakan pakai sampo atau apa pun yang ada sepuasnya."

Hoshimiya mengangguk pelan.

"Kalau begitu…… aku akan menunggu di ruang tengah."

Aku berkata begitu lalu melarikan diri dari kamar mandi.

Memikirkan bahwa Hoshimiya akan menggunakan kamar mandi rumahku membuat pikiranku melantur ke mana-mana.

Untuk mengusir bayang-bayang itu, aku menyalakan lampu ruang tengah dan televisi.

Aku mengoperasikan remote untuk menampilkan acara musik acak, tapi aku sama sekali tidak bisa fokus.

Sayup-sayup terdengar suara pancuran air dari arah kamar mandi. Begitu pintu ruang tengah kututup, aku berhasil meredam suaranya. Aku menarik napas dalam-dalam perlahan, mencoba mengalihkan pikiranku.

Hoshimiya sedang lemah saat ini. Itulah sebabnya dia mengandalkanku. Aku yang diandalkan tidak boleh memikirkan hal-hal kotor seperti itu. Akulah yang harus menjadi tempat bersandar bagi hatinya.

Sambil memegang tekad yang kuat itu, aku terus menonton acara musik tersebut.

Waktu berlalu tanpa aku menyadari lagu apa yang sedang diputar.

……Sudah berapa lama, ya?

Terdengar suara ketukan, kon-kon. Aku membuka pintu ruang tengah.

"……Terima kasih sudah meminjamkan kamar mandinya."

Hoshimiya masuk ke ruang tengah dengan rambut yang masih basah.

Pakaiannya tidak seperti piyama pada umumnya. Dia mengenakan kaus putih yang agak kebesaran dan celana pendek berbahan katun. Karena celananya sangat pendek, sesaat dia terlihat seperti hanya mengenakan kaus saja. Dari batas kedua pakaian itu, paha mulusnya mengintip keluar.

Tanpa sadar, aku menelan ludah.

"Hei, ada stopkontak di mana?"

Entah dia tahu isi hatiku atau tidak, Hoshimiya melihat ke sekeliling.

Di tangannya ada hairdryer. Itu bukan milik rumah kami. Pasti dia membawanya sendiri.

"Ada di sana."

Saat aku menunjuk ke samping sofa tempatku duduk, Hoshimiya secara alami duduk di sebelahku.

Lalu, dia mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.

"Natsuki-kun, kamu tidak mandi?"

"A, ah…… benar juga. Baiklah, aku mandi dulu."

Aku menjawab begitu dan berhasil kabur dari ruang tengah, tapi kamar mandi pun jadi masalah.

……Maksudku, mengetahui bahwa Hoshimiya baru saja mandi di sana membuat situasinya sangat aneh. Aroma manis seperti sisa wangi tubuhnya samar-samar masih tercium. Ga, gawat!

Jangan pikirkan apa-apa!

Kosong. Sekarang, aku harus mengosongkan pikiranku――.

Sambil melakukan pelatihan mental sekelas petarung di manga, aku akhirnya berhasil keluar dari kamar mandi.

Aku kembali ke kamarku bersama Hoshimiya yang sudah selesai mengeringkan rambutnya di ruang tengah.

"Kalau kasur untuk tamu, sih, ada... tapi mau dipasang di mana?"

Aku bertanya pada Hoshimiya sembari membuka lemari untuk memastikan keberadaan kasur lipat itu.

Hoshimiya adalah seorang gadis. Mungkin dia merasa tidak nyaman jika harus tidur di kamar yang sama denganku.

Lagipula, orang tuaku sedang tidak pulang hari ini, jadi dia bisa saja tidur dengan membentangkan kasur di ruang tamu.

Begitu kusampaikan penjelasan itu, Hoshimiya menggelengkan kepalanya pelan.

"......Aku ingin kamu tetap di sini."

Mendengar suaranya yang sedikit bergetar, aku tidak berkata apa-apa dan hanya mengangguk.

Aku membentangkan kasur di atas karpet di samping tempat tidur. Hoshimiya duduk bersila di atasnya.

Aku menuangkan teh gandum yang tadi kuambil dari kulkas ke dalam gelas.

Saat kuberikan padanya, dia meminumnya sedikit demi sedikit sembari bergumam, "......Dingin."

Karena aku duduk di atas tempat tidur, posisiku jadi menatap Hoshimiya yang bersandar pada pinggiran ranjang. Aku sempat melirik layar ponsel yang sedang ia tatap. Di sana, deretan panggilan tak terjawab muncul memenuhi layar.

"......Aku harus menelepon balik."

"......Kurasa begitu. Paling tidak, kau harus memberi tahu kalau kau baik-baik saja."

Di saat yang bersamaan, panggilan masuk kembali muncul. Nama yang tertera di layar tentu saja Hoshimiya Sei. Karena Hoshimiya telah mematikan nada dering dan getarnya, ponsel itu hanya menampilkan notifikasi tanpa mengeluarkan suara.

Harus kuangkat, ucap Hoshimiya. Wajahnya pucat dan tangannya gemetar. Aku turun dari tempat tidur ke sampingnya, lalu memberanikan diri untuk menggenggam tangannya yang tidak memegang ponsel.

Hoshimiya menatapku dengan ekspresi terkejut.

Kemudian, dia menggenggam tanganku balik dengan erat.

"......Halo."

Hoshimiya!? Kamu di mana sekarang!? Ayah khawatir sekali!

Terdengar nada suara yang sangat panik.

Setidaknya, kurasa kata-kata itu bukan sebuah kebohongan.

"......Maafkan aku."

Jangan melakukan hal konyol seperti kabur dari rumah, cepat pulang! Pokoknya, beri tahu Ayah di mana kamu sekarang! Ayah akan segera menjemputmu!

Suara yang terdengar seperti bentakan itu menggelegar.

Terlepas dari apa yang dikatakannya, sama sekali tidak ada kelembutan dalam nada suaranya.

Grep. Jemari Hoshimiya yang ramping meremas telapak tanganku dengan kuat.

"......Ayah. Aku tidak akan pulang."

Meski suaranya bergetar, Hoshimiya tetap menyatakan pendiriannya dengan tegas.

Hoshimiya? Ada apa denganmu? Apa ini karena Ayah menyuruhmu berhenti menulis novel hari ini? Ayah melakukan ini demi kebaikanmu. Kamu bisa menjalani kehidupan yang lebih berarti. Bukankah kamu gadis yang cukup pengertian untuk memahami itu? Dulu kamu bukan anak yang keras kepala seperti ini.

......Berhenti menulis novel, katanya?

Hal semacam itu yang dia katakan padanya?

Kehidupan yang lebih berarti? ......Apa maksudnya itu?

Menyangkal hobi yang sudah ditekuni Hoshimiya sejak kecil dengan alasan konyol seperti itu?

"Tidak, Ayah. Aku memang anak yang seperti ini. Selama ini, aku hanya memendam semuanya."

Apa yang kamu katakan? Ayah tidak ingat pernah membesarkanmu menjadi anak yang berani bicara seperti itu.

"Iya, kan. Sebenarnya aku pun tidak berniat mengatakan hal ini. Karena aku sudah menyerah pada segalanya. Aku pikir lebih baik melakukan semua yang Ayah katakan. Kalau aku tidak membantah, aku tidak akan dimarahi. Meskipun aku tidak punya kebebasan seperti anak-anak lain, aku pikir itu hal yang wajar."

Seperti jeritan kecil, Hoshimiya terus menumpahkan isi hatinya.

"......Tapi, tetap saja tidak bisa. Aku tidak bisa menyerah pada segalanya. Meskipun Ayah bilang tidak boleh, ada hal-hal yang tetap ingin kulakukan. Aku tidak bisa berhenti menulis novel yang sudah aku tekuni selama ini. Aku tidak bisa menyerah pada impianku untuk menjadi seorang novelis."

Hoshimiya, Ayah sudah bilang berkali-kali, Ayah melakukan ini demi dirimu—

"Lagipula! Aku juga ingin bermain bersama teman-temanku! Aku ingin pergi ke laut bersama mereka. Ini pertama kalinya aku punya teman yang sangat berharga...... Aku tidak mungkin menjaga jarak dengan mereka."

......Menjaga jarak? Apa maksudnya?

Apa yang...... kamu pikir tindakan egois seperti itu bisa dibenarkan!?

"Kenapa, kalau aku egois itu salah? ......Tolong, biarkan aku sedikit lebih bebas."

Meninggalkan gumaman itu, Hoshimiya memutus sambungan telepon.

Dalam kesunyian yang mencekam, suara serangga berbunyi di luar jendela menyelinap masuk.

Meski tangan kami masih bertautan, Hoshimiya tidak berusaha melepaskannya.

Dia terus menatap layar ponselnya.

Seolah baru teringat, dia mengirim pesan melalui RINE yang berisi, "Aku sedang berada di rumah teman, jadi jangan khawatir." Pesan itu ditujukan kepada ibu Hoshimiya, bukan kepada Sei.

Aku tidak bisa memikirkan kata-kata yang menenangkan atau canggih.

Jadi, aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku hanya duduk di sampingnya, terus menggenggam tangannya.

Menunjukkan padanya bahwa dia tidak sendirian.

"......Aku sengaja tidak ingin membuat sesuatu yang berharga."

Tak lama kemudian, Hoshimiya membisikkan kata-kata itu.

"Kalau begitu, akan lebih mudah untuk menyerah. Faktanya, aku bisa menyerah pada sebagian besar hal. Rasanya seperti aku memang tidak pernah menginginkan apa pun sejak awal...... tapi, pada akhirnya aku tetap tidak bisa menjadi boneka."

"......Karena ada hal-hal yang memang tidak bisa kita lepaskan, bukan?"

Sama seperti masa mudaku yang seperti itu.

Saat Hoshimiya melepaskan tanganku, dia mengeluarkan tumpukan kertas dari dalam tas punggungnya.

"Dulu aku tidak punya teman. Dunia novel adalah satu-satunya penyelamatku."

Itu adalah naskah novel Hoshimiya yang kubaca di siang hari.

"Secara alami, aku jadi suka membaca novel, mulai berimajinasi, mulai menulis, lalu aku juga jadi suka menulis. Aku ingin membuat orang yang membacanya terhibur, aku ingin menyampaikannya kepada banyak orang...... sampai akhirnya aku berpikir, aku ingin menjadi seorang novelis."

Hoshimiya menyentuh naskahnya sendiri, menelusuri deretan kata yang ia tulis dengan jemarinya.

"Tadi, setelah itu...... aku pulang ke rumah dan sempat sampai sebelum jam malam."

Perlahan-lahan, Hoshimiya mulai menceritakan apa yang terjadi.

Alasan mengapa dia memutuskan untuk menentang Sei, bahkan sampai kabur dari rumah.

"Tapi, entah kenapa Ayah marah. Dia memang sudah dalam suasana hati yang buruk karena masalah rencana perjalanan kami......"

――Meski tidak melanggar jam malam, waktunya memang sangat mepet.

Melihat hal itu, Sei tampaknya menginterogasi apa saja yang dilakukan Hoshimiya hari ini.

Hoshimiya menjawab bahwa dia menulis novel di kafe. Bersama teman-temannya.

Sei, yang sejak awal memang tidak terlalu menyukai hobi putrinya itu, mungkin merasa ini adalah kesempatan yang pas. Dia langsung memerintahkan Hoshimiya untuk berhenti menulis novel. Seperti yang dia katakan di telepon, dia berargumen bahwa Hoshimiya seharusnya menghabiskan waktu dengan hal yang lebih berguna, seperti belajar, berolahraga, atau menambah wawasan.

Menanggapi hal itu, Hoshimiya menggelengkan kepala. Sei terlihat sangat terkejut. Mungkin karena Hoshimiya, yang biasanya selalu menuruti perkataannya, tiba-tiba melawan. Sei mencoba membujuknya, tapi Hoshimiya bersikeras menolaknya. Bahkan, dia sampai berani mengatakan ingin menjadi seorang novelis.

"Ekspresinya benar-benar terlihat konyol. Mungkin seperti perasaan disambar petir di siang bolong? Karena aku tidak pernah mengatakan pada siapa pun kalau aku ingin menjadi novelis, bahkan pada Yuno-chan...... baru pada Natsuki-kun hari ini aku mengatakannya."

Tentu saja Sei marah. Dia bilang tidak pernah mendengar hal semacam itu.

Dia bilang tidak perlu menjadi profesi yang tidak stabil dan belum tentu bisa diraih.

"Aku berterima kasih pada Natsuki-kun. Selama ini, aku terus membohongi diriku sendiri. Saat aku menyatakannya pada Natsuki-kun, aku akhirnya jadi percaya diri bahwa ini adalah impian masa depanku."

Meski ketakutan, Hoshimiya tampak berusaha keras untuk mempertahankan keinginannya.

Melihat hal itu, alih-alih mengakuinya, Sei justru berusaha semakin mengekang Hoshimiya.

――Jaga jarak dengan teman-temanmu yang sekarang, perintahnya.

"Mungkin karena masalah perjalanan itu juga, dia pikir aku mendapat pengaruh buruk dari teman-temanku."

Tentu saja aku bilang tidak mau, lanjut Hoshimiya.

Jika begitu, setidaknya pilih salah satu, kata Sei.

Mungkin dia mencoba mengendalikan Hoshimiya dengan memberikan pilihan seperti itu.

"Aku sempat berpikir sejenak. ......Kalau diriku yang dulu, mungkin aku sudah memilih untuk menjaga jarak dengan teman-temanku. Karena dulu, aku hanya menjalin hubungan di permukaan saja dan selalu membangun tembok dengan orang lain."

Tapi, Hoshimiya bilang dia ingin menghargai keduanya.

"......Sejak Yuno-chan berada di sisiku, lalu aku bertemu Natsuki-kun, Shi-chan, Reita-kun, dan Tatsuya-kun, tiba-tiba saja aku jadi akrab dengan kalian semua, dan aku jadi menyayangi kalian."

Benar, kan? Ucapnya sambil menatapku dan tersenyum tipis.

"Mustahil kalau harus menjaga jarak sekarang. Aku juga ingin terus bersama kalian."

Namun, Sei tidak mau mengubah pendiriannya.

Hoshimiya pun tidak punya rasa percaya diri untuk bisa berargumen langsung dan meyakinkan Sei.

Itulah sebabnya dia kabur dari rumah dan berada di sini sekarang.

Setidaknya untuk menunjukkan lewat sikapnya bahwa dia sedang melawan.

"......Begitu, ya. Aku pun tidak bisa menerimanya. Aku sudah tidak bisa membayangkan hidup tanpa Hoshimiya."

"......Natsuki-kun curang. Selalu mengatakan hal-hal keren seperti itu."

"Bukan begitu, ini benar-benar isi hatiku, lho? Sebagai teman."

"......Ya, aku tahu. Terima kasih, aku senang."

Tanpa disadari, jarum jam sudah melewati angka dua belas.

Karena asyik mengobrol, kami tidak sadar hari sudah beranjak dini hari.

"......Tidurlah."

"......Iya."

Aku beranjak dari samping Hoshimiya dan naik ke tempat tidur.

Terdengar suara gesekan dari kasur di bawah. Hoshimiya pasti sedang menyelimuti dirinya.

"AC-nya dibiarkan menyala saja, ya?"

"......Iya. Tapi, boleh tolong naikkan suhu pengaturannya?"

"Kamu tipe yang tidur pakai lampu tidur?"

"Aku lebih suka gelap gulita."

"Mengerti. ......Kalau begitu, selamat malam, Hoshimiya."

"......Selamat malam, Natsuki-kun."

Aku mematikan lampu dan menutupi tubuh dengan selimut tipis.

Meski biasanya ini adalah jam tidur, rasa kantuk sama sekali tidak datang saat aku memejamkan mata.

Tentu saja, karena ada keberadaan orang lain di kamar ini. Terdengar suara gesekan pakaian. Terdengar pula helaan napas yang tipis.

Gadis yang kusukai sedang tidur di kamarku.

"......Natsuki-kun, masih bangun?"

"......Ada apa?"

Tiba-tiba Hoshimiya bergumam. Apa dia juga tidak bisa tidur?

"Aku, suka Natsuki-kun."

Begitu, ya. Suka Natsuki-kun, ya. ......Suka Natsuki-kun? Suka Natsuki-kun? Hoshimiya!? What!? Apa yang terjadi!? Apa yang baru saja terjadi!?

"......Aku juga sangat menyukai kalian semua."

......Ah, begitu ya. Maksudnya yang seperti itu, ya. Tipe teman-teman gitu, kan? Iya. Aku sudah tahu itu sejak awal. Jadi, aku sama sekali tidak terguncang. Tentu saja.

"Sebenarnya, awalnya aku tidak suka Natsuki-kun."

"Uh...... b-begitu, ya."

Pisau kata-kata yang mendadak itu menusukku.

"Kamu sok keren, agak mencurigakan, tapi meski begitu selalu mendekat, dan aku kesal melihat wajahmu yang seolah bisa melakukan segalanya baik belajar maupun olahraga padahal tidak berusaha."

"Tunggu, tunggu, tunggu...... bisa berhenti sampai di situ? Mentalku ini terbuat dari kaca, lho."

Saat aku mengatakannya dengan suara lemas, Hoshimiya tertawa kecil.

Jadi begitu ya penilaiannya tentang diriku...... begitu, ya......

Padahal, berkat menjaga penampilan, sejujurnya aku merasa kesan orang terhadapku tidak buruk-buruk amat......

Memang benar, hati manusia itu sulit ditebak......

"......Tapi, sejak aku melihatmu bertengkar di atap dengan Tatsuya-kun, tiba-tiba saja aku merasa dekat. Ah, mungkin orang ini mirip denganku, pikirku."

"......Entahlah. Aku hanya sedang bersikap keras kepala saja saat itu."

Intinya, aku hanya melakukan segala sesuatu dengan hati-hati dan teliti. Berkat pengalaman tujuh tahun yang tidak diketahui orang lain, aku bisa melakukannya dengan baik, bukan berarti aku mengubah kepribadianku.

"Tapi, lihatlah. Awalnya aku juga gadis yang suram dan membosankan. Itu hanya empatiku secara sepihak saja sih. Mungkin kamu tidak akan memahaminya."

"......Yah, meski dibilang Hoshimiya dulu adalah gadis yang suram dan pendiam, aku tidak bisa membayangkannya."

Sekarang dia adalah gadis yang ceria, terang, sedikit ceroboh, dan gadis cantik idola yang populer di kalangan semua orang.

"Lihat ini. Agak memalukan sih."

Terdengar suara Hoshimiya bergerak di bawah, jadi aku mengalihkan pandangan ke sana.

Dari kasur, Hoshimiya mengangkat ponselnya. Di tengah kegelapan, layarnya bersinar.

Di sana terpampang foto seorang gadis yang mungkin masih duduk di sekolah dasar.

Rambutnya panjang sampai menutupi mata dan dia memakai kacamata yang terlihat norak.

"......Eh? Ini, jangan-jangan Hoshimiya?"

"Iya. Dulu aku tidak punya satu pun teman."

"Heh...... Hoshimiya...... entah bagaimana, ini benar-benar tak terduga."

"Itu karena kemampuan penyamaranku hebat. Kamu boleh memujiku, lho?"

Fufun, Hoshimiya berkata dengan suasana hati yang baik.

Apakah sikap seperti itu juga bagian dari penyamarannya?

"Itu, apa tidak melelahkan?"

Alasan aku menanyakan itu adalah karena pengalamanku sendiri.

Saat aku sedang bersikap sok keren di awal, sejujurnya aku merasa sedikit lelah. Aku terlalu sadar untuk melakukan segalanya dengan sempurna, dan aku takut menunjukkan jati diriku yang asli. Masalah itu terselesaikan berkat Miori, sih.

"......Entahlah. Karena aku sudah terbiasa, aku tidak lagi merasa janggal dengan diriku yang seperti ini."

Siapa diriku yang sebenarnya, ya? gumam Hoshimiya seperti tetesan embun.

Nada bicaranya yang datar itu adalah Hoshimiya yang tidak kukenal. Hoshimiya yang selalu ceria dengan nada bicara yang lembut dan senyum manis tidak ada di sini sekarang. Hari ini, aku melihat banyak sisi lain dari Hoshimiya.

"Setelah itu, sedikit demi sedikit Natsuki-kun mulai menunjukkan jati dirimu, dan aku jadi ingin lebih mengenal Natsuki-kun yang asli...... lalu kamu mengajakku bicara tentang novel dan film yang aku sukai...... ah, ternyata orang ini benar-benar seorang otaku kalau bicara, dan itu jadi menarik......"

"......Berisik. Kalau bicara soal itu, Hoshimiya juga otaku banget kalau lagi bahas cerita. Sama sekali tidak bisa menyembunyikannya, tahu. Kamu itu gadis otaku biasa."

"U-berisik ah. Biarin aja, kenapa sih. Kalau idola sekolah punya satu hobi kayak gitu, justru jadi lebih terasa ramah, kan? Jadi, sama sekali bukan karena aku ingin bercerita—"

"......Hoshimiya, apa kamu menganggap dirimu sendiri idola sekolah?"

Yah, faktanya memang begitu, tapi cara dia mengatakannya seolah-olah dia mengakui status itu sendiri.

Terdengar suara gerak-gerik di samping. Saat kulihat, Hoshimiya sedang berguling-guling dibalut selimut.

"......Natsuki-kun, kamu menjebakku, ya?"

Terdengar suara yang penuh kebencian, tapi itu benar-benar tuduhan palsu.

"Tidak, bukannya kamu yang terjebak sendiri?"

Entah kenapa, aku jadi bisa merespons Hoshimiya dengan dingin seperti ini.

Apa ini artinya aku sudah jadi lebih akrab dengannya?

Apapun itu, keteganganku perlahan mulai mencair.

"Bukan karena aku menganggap diriku idola, hanya saja...... aku hanya menjalankan diriku dengan pengaturan seperti itu......"

Hoshimiya berkata dengan suara yang nyaris hilang. Sepertinya dia merasa sangat malu.

Dia masih berguling-guling dengan selimut, wajahnya kini ia benamkan ke bantal.

"Itu, tidak panas?"

"......Panas. Berisik ah."

Mendengar kata-kata yang seolah sedang merajuk itu, aku tanpa sadar tertawa.

"......Aku tidur. Jangan ajak aku bicara."

Padahal yang mengajak bicara dari tadi itu Hoshimiya, tapi aku hanya mengangguk "Ya, ya" lalu memejamkan mata.

Setelah beberapa saat memejamkan mata, rasa kantuk yang sesungguhnya mulai datang.

Saat aku membiarkan diriku hanyut dalam sensasi seolah kesadaranku tenggelam ke dasar air, tiba-tiba entah dari mana, sebuah suara terdengar samar.

"......Terima kasih, sudah menyelamatkanku."

Saat aku membuka mata, Hoshimiya yang memakai kacamata sedang menatapku.

"......Ah, sudah bangun? Selamat pagi."

Apa ini mimpi? Ini pasti mimpi, kan. Selamat tidur lagi.

"......Ah, tidur lagi."

Aku mencoba berpura-pura tidur, tapi sepertinya ini bukan mimpi.

Sudah saatnya menghadapi kenyataan, pikirku sambil membuka mata sekali lagi.

Mataku bertemu dengan mata Hoshimiya. Jaraknya dekat. Dekat sekali sampai helaan napas kami hampir bersentuhan.

"......Selamat pagi."

Saat aku berusaha membalas kata-katanya, Hoshimiya menutup mulutnya dengan tangan dan tersenyum kecil.

Apakah dia malaikat? Wajahnya terlalu bagus sampai membuatku curang. Kekuatan penghancur ini terlalu berat untukku yang baru bangun tidur.

Aku perlahan bangun dan melihat jam. Mungkin karena kami mengobrol sampai larut malam kemarin, waktunya lebih siang dari biasanya. Jika hari biasa, seharusnya sekarang waktunya menyiapkan sarapan.

"Wajah tidur Natsuki-kun, lucu ya."

Hoshimiya sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Dia menusuk-nusuk pipiku.

Hei, itu curang!

Tapi, sekarang aku tahu bahwa Hoshimiya melakukan ini dengan cukup sadar.

Bagaimanapun, Hoshimiya adalah idola sekolah (mengaku sendiri). Iya, dia mengaku sendiri.

Jadi, aku tidak akan...... tidak akan jatuh hati hanya dengan hal seperti ini...... kuh, sial! Dia terlalu lucu!

"Ada apa? Wajahmu merah, lho?"

Karena aku mulai kesal karena terus dipermainkan sesuai keinginannya, aku memutuskan untuk membalasnya.

Saat aku menusuk balik pipinya, Hoshimiya gemetar terkejut.

"......H-Hoshimiya, hari ini juga lucu, ya?"

Entah kenapa aku malah salah bicara, suaraku bergetar, dan terdengar sangat menjijikkan.

"......"

"......"

Suasana canggung apa ini. Sial, seharusnya aku tidak melakukannya......

Hoshimiya membeku dengan wajah memerah. Ini...... dia pasti merasa tidak enak karena ucapanku barusan terlalu memalukan...... Benar-benar minta maaf, aku terbawa suasana......

"......K-Kak?"

Karena mendengar suara dari arah pintu, aku dan Hoshimiya buru-buru menjaga jarak.

Ternyata Namika sudah membuka pintu sedikit dan mengintip. Hei, ketuk pintu dulu kek!

Namika bergantian menatap kami dengan wajah memerah, lalu bertanya.

"Itu, sarapannya......?"

Adikku sayang, sesekali buatlah sendiri.

Aku menuju dapur untuk membuat sarapan ala kadarnya.

"Apa aku boleh membantu sesuatu?"

"Kalau begitu, boleh tolong tuangkan teh gandum saja?"

Hoshimiya menjawab "Iya!", tapi Namika memotong pembicaraan, "Tidak, tidak!"

"Natsuki-niisan, biar aku saja yang melakukannya! Nii-san yang masak saja!"

"Setidaknya lakukanlah sendiri."

Saat aku menyindirnya, Namika mencoba menenangkanku dengan, "Ya, ya, ya." Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan dengan begitu. Aku tidak keberatan melakukannya, tapi berusahalah sedikit.

Melihat interaksiku dengan adikku, Hoshimiya tampak senang dan terus tersenyum.

"Entah kenapa, Natsuki-kun kalau di rumah terlihat segar, ya."

"Begitukah?"

"Bukankah Natsuki-kun biasanya bersikap lebih sopan pada semua orang?"

"Hmm, akhir-akhir ini tidak juga sih, tapi ya...... tentu saja, kalau dibandingkan dengan keluarga."

"Eh, apa itu? Kalau gitu, bersikap sopan padaku juga dong."

Mengabaikan Namika yang mengeluh dengan tidak puas, aku memasukkan telur ke penggorengan.

Saat aku membuat sarapan sederhana, Hoshimiya dan Namika mulai mengobrol.

Namika yang mengajak bicara dengan kikuk, ditanggapi oleh Hoshimiya dengan senyuman lembut.

"......Ngomong-ngomong, apa kalian berpacaran? Aku tidak menyarankannya, lho?"

"Benarkah? Natsuki-kun orang yang baik, kok."

"Tidak, tidak, sebenarnya dia punya sifat asli seperti bos kejahatan...... eh, kalian benaran pacaran!?"

"Jangan bicara yang tidak-tidak, Namika. Hoshimiya, jangan main-main sama Namika, tolong sangkal saja."

"Ahaha, maaf, maaf."

Sambil berdebat seperti itu, sarapan pun selesai.

Penyajian dilakukan oleh Hoshimiya dan Namika berdua. Gadis-gadis memang cepat sekali akrab, ya.

"Yey, masakan tangan Natsuki-kun."

"Bukan apa-apa, aku cuma asal memanggang telur, ham, dan sosis saja."

Sup misonya sisa kemarin, dan nasinya adalah sisa kemarin yang dibekukan.

Itu sama sekali tidak bisa disebut masakan. Meski aku sudah mengatakannya, Hoshimiya tetap terlihat senang.

"Soalnya saat semua orang pergi ke tempat Natsuki-kun bekerja paruh waktu, aku tidak bisa ikut."

Aku sempat berpikir sesaat, kapan itu?

Saat aku dan Nanase sedang bekerja, Tatsuya dan yang lainnya datang bertiga untuk minta masakan.

Aku ingat Hoshimiya mengirim pesan di grup RINE bilang, "Curang!".

......Mungkin sejak saat itu, Hoshimiya sudah banyak menahan diri.

Hal-hal kecil seperti itu menumpuk, dan ditambah lagi impian masa depannya serta teman-temannya hendak direnggut.

Apalagi, oleh keluarganya sendiri. Oleh ayah yang seharusnya sudah membesarkannya sampai sejauh ini.

"......Natsuki-kun?"

Hoshimiya memiringkan kepalanya dengan bingung.

"......Tidak apa-apa."

Aku menggelengkan kepala dan mulai menyantap sarapanku.

Aku senang Hoshimiya ada di sini.

Tapi masalah nyatanya adalah, dia tidak bisa terus-menerus berada di sini.

Sekarang setelah satu hari berlalu dan suasana sudah tenang, kami harus memikirkan cara penyelesaiannya.

Sambil memikirkan hal itu, aku kembali ke kamar dan membuka pintu.

"――Ah. Tu-tunggu sebentar――"

Saat suara Hoshimiya terdengar, sudah terlambat.

"…………Hae?"

Hal pertama yang tertangkap oleh mataku adalah bra putih. Dia segera menutupinya dengan lengan yang menyilang.

Namun, ukurannya jelas tidak bisa disembunyikan oleh kedua lengan. Kesadaranku tersedot ke belahan dadanya yang dalam. Saat aku panik dan menurunkan pandangan, garis pinggang yang melebar dari perutnya yang ramping terlihat indah, dan dari bagian yang tertutup kain segitiga putih itu, paha mulusnya menjulur keluar――

"......Itu. Tolong jangan melihat terlalu dalam."

Mendengar suara Hoshimiya yang hampir hilang dengan wajah yang memerah padam, aku kembali sadar.

"M-maaf!"

Aku buru-buru berbalik dan lari keluar kamar lalu menutup pintu.

Deg-deg, jantungku berdetak kencang. Di dalam kamar, terdengar suara gesekan pakaian.

Penampilan Hoshimiya dengan pakaian dalamnya terpatri di mataku dan tidak bisa hilang.

Lagipula, dia ternyata lebih berisi dari yang kubayangkan...... bahkan lebih dari yang kupikirkan......

"......Boleh masuk."

Karena suara terdengar dari dalam kamar, aku menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu.

Hoshimiya sudah berganti pakaian untuk keluar. Terusan berwarna dasar putih itu terlihat manis.

"......Soal tadi, maaf ya."

"Aku juga, maaf ya. Aku pikir aku bisa segera berganti baju saat kamu tidak ada."

Karena dia tidak terlihat marah, aku merasa lega.

Namun, Hoshimiya sedikit memanyunkan bibirnya dengan tidak puas dan berkata.

"......Kurasa tidak perlu melihat setajam itu."




Ya, memang benar begitu....... Aku tidak punya alasan untuk membela diri.......

Hoshimiya bergumam pelan, "......Mesum." Aku pura-pura tidak mendengarnya.

"Jadi, bagaimana rencanamu hari ini?"

Saat aku bertanya sembari mengalihkan pembicaraan, ekspresi Hoshimiya berubah menjadi serius.

"......Semalam, aku sudah banyak berpikir."

Hoshimiya duduk di tepi tempat tidur. Aku pun duduk di sampingnya.

"Kalau terus melarikan diri seperti ini, tidak akan ada yang berubah."

"......Benar juga. Dia tidak akan mengubah pemikirannya semudah itu."

Tentu saja, soal Sei, Hoshimiya pasti lebih paham daripada aku. Dia mengangguk mantap.

"Makanya, aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membujuknya. Aku harus berjuang dan menang."

"Kalau bisa melakukannya, kurasa itu yang terbaik...... tapi apakah kamu punya rencana konkret?"

Saat aku bertanya, Hoshimiya mengerang dengan wajah yang tampak kesulitan.

"Mari kita rangkum situasinya."

Aku berkata begitu sembari mengangkat satu jariku.

"Sekarang kamu sedang kabur dari rumah untuk melawan Sei. Alasannya karena hobimu dan impian masa depanmu disangkal, serta disuruh menjaga jarak dengan teman-temanmu. Sejauh ini, aku tidak salah, kan?"

Hoshimiya mengangguk kecil.

Ada empat masalah yang harus kita pecahkan.

Pertama, larangan melakukan hobi yang sudah ditekuni sejak lama, yaitu menulis novel.

Kedua, desakan untuk menyerah pada impian masa depan sebagai seorang penulis novel.

Ketiga, perintah untuk menjaga jarak dengan teman-temanmu sekarang.

Terakhir, pengendalian diri yang terlalu ketat dari Ayahmu sendiri.

Setelah aku memperjelas masalahnya dengan mengangkat empat jari, Hoshimiya mengangguk sekali lagi.

Alasan Sei melarangmu menulis novel adalah karena dia merasa ada kehidupan yang lebih bermanfaat. Dia berpikir sebaiknya kamu menggunakan waktumu untuk hal lain, seperti belajar atau berolahraga.

Alasannya melarangmu menjadi novelis mungkin karena dia sudah memiliki gambaran masa depan ideal untuk putrinya. Profesi tidak stabil seperti novelis tidak ada dalam daftar idealnya, dan belum tentu kamu bisa meraihnya.

"......Kurasa kita perlu menyiapkan jawaban yang realistis untuk poin ini."

Mungkin tidak terlalu paham maksud perkataanku, Hoshimiya mengerjapkan matanya.

"Misalnya, kamu tetap mengejar impian sebagai novelis tapi tidak mengabaikan pilihan lain. Seperti tetap lanjut sekolah dan mencari pekerjaan secara normal sembari mencoba debut...... begitu?"

Intinya, kita harus menunjukkan bahwa kamu tidak sedang berangan-angan, tapi punya rencana yang realistis.

Sei memang keras kepala, tapi dia adalah sosok yang berhasil membangun perusahaan besar hingga posisinya sekarang. Kurasa bicara dengan emosi tidak akan mempan, tapi jika bisa dijelaskan secara logis, mungkin ada kemungkinan dia akan mengerti.

"Kalau begitu, sebenarnya aku memang berniat begitu. Cukup dengan mencari tahu sedikit saja, aku paham kalau profesi ini sulit untuk menghidupi diri sendiri kalau tidak laku. Bahkan kalaupun berhasil, aku tetap berniat mencari pekerjaan lain."

"......Artinya kamu akan menjalaninya sebagai pekerjaan sampingan. Apakah hal itu sudah kamu sampaikan pada Sei?"

"......Belum pernah. Lagipula, baru kemarin aku menceritakan impianku menjadi novelis. Dia tahu aku menulis novel, tapi sepertinya dia menganggapnya hanya sebagai hobi semata."

"Kalau begitu, mungkin dia akan mempertimbangkannya jika kamu menjelaskan hal itu."

Sei adalah orang yang memperlakukan orang lain seperti bidak catur, tapi itu karena dia percaya kalau mengikuti arahannya akan membuahkan hasil terbaik—begitu katanya saat wawancara kerja dulu. Yah, menurutku bos yang bicara seperti itu kepada pelamar kerja itu sudah gawat, tapi lupakan itu. Intinya, dia percaya diri dengan kemampuannya sendiri.

Alasan dia mengekang Hoshimiya secara ketat dan menjadikannya seperti boneka pun pasti sama.

Dia percaya bahwa penilaiannya lebih benar daripada penilaian putrinya sendiri.

Kalau begitu, kita tinggal mematahkan keyakinannya itu.

Buktikan bahwa Hoshimiya adalah manusia yang bisa memikirkan jalan hidupnya sendiri.

Tanpa perlu membahas soal wawancara kerja di kehidupan sebelumnya, aku menjelaskan hal itu. Hoshimiya tampak memasang wajah khawatir.

"......Apa aku bisa melakukannya?"

Sei pasti punya kasih sayang untuk putrinya. Meskipun terdistorsi, dia memberikan perintah karena dia peduli. Kalau dia tidak peduli, seharusnya dia tidak akan berkata apa-apa.

Jika Hoshimiya ingin berjuang, di sanalah peluang kemenangannya.

"......Aku mengerti. Jadi, aku harus membuat Ayah memercayaiku, ya."

Hoshimiya berucap seolah sedang menyimpulkan pembicaraan.

Singkatnya, memang itulah yang harus dilakukan.

"Kalau itu berhasil, mungkin masalah ketiga dan keempat juga akan terselesaikan."

Jika dia mulai percaya pada pemikiran putrinya, dia tidak akan terlalu ikut campur dalam hubungan pertemananmu lagi.

Kukira kekangan itu pun akan sedikit melonggar.

Yah, kalau soal jam malam, aku agak ragu sih.

"Natsuki-kun, kamu pintar juga, ya. Pantas saja kamu peringkat satu di angkatan."

"Bukan begitu, aku hanya merapikan situasinya saja. Kalau dibiarkan samar, tidak akan ada jawaban yang keluar."

Mengidentifikasi masalah dan memikirkan tindakan pencegahan adalah hal yang sudah berulang kali kulakukan saat meneliti di masa kuliah.

Hanya dengan perasaan "aku benci" saja tidak akan mengubah apa pun.

Segala sesuatu harus diselesaikan secara logis.

......Tapi, menyuruh anak kecil menggunakan logika orang dewasa seperti ini, apakah pantas sebagai orang tua?

"Iya. Baiklah, aku akan memikirkannya baik-baik. Supaya Ayah bisa memercayaiku."

Sembari mengepalkan kedua tangannya di depan dada, Hoshimiya menyatakan tekadnya dengan kuat.

Soal itu, biarlah Hoshimiya sendiri yang memikirkannya.

Aku bisa memberi saran, tapi tidak baik kalau terlalu banyak campur tangan sampai idenya menjadi milikku.

"Hmm......."

Hoshimiya langsung bersedekap, mengerang dengan wajah serius saat mulai berpikir.

"Memikirkannya sih boleh saja, tapi bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang tenang?"

Ada Namika di rumah, akan jadi masalah kalau dia mulai ikut campur. Apa dia tidak punya pekerjaan lain ya?

"Ah, iya. Kamu benar. Ayo lakukan itu."

Begitulah, aku pun mulai bersiap-siap untuk pergi.

Saat membuka lemari, Hoshimiya bergumam kagum, "Ohh, pakaian anak laki-laki."

Jangan dilihat terlalu teliti dong...... soalnya selain yang baru kubeli, bajuku cuma baju-baju norak.

"Lagipula, aku juga mau ganti baju......"

"Natsuki-kun tadi juga menatap tajam saat aku ganti baju, kan?"

"Soal itu, apa belum dimaafkan juga......?"

Saat aku ketakutan, Hoshimiya tertawa kecil lalu keluar dari kamar.

Tolong berhenti dengan candaan yang susah dimengerti itu. Tentu saja, penampilan pakaian dalammu sudah terpatri di ingatanku.

Terlepas dari itu, aku segera berganti baju, berpamitan pada Namika, dan keluar rumah.

Matahari tertutup awan, tapi udara panas masih terasa menyengat. Hari ini pun terasa panas.

Tiba-tiba, Hoshimiya bertanya seolah baru teringat sesuatu.

"......Lagipula, kamu tahu banyak tentang Ayahku, ya?"

"......Karena ada di situs web perusahaan."

Itu alasan yang sangat dipaksakan, tapi Hoshimiya hanya menjawab "Begitu ya," dan langsung memercayainya.

Karena di lingkunganku tidak ada kafe atau restoran keluarga, kami naik kereta menuju Takasaki.

Kami memutuskan untuk pergi ke kafe favorit Hoshimiya yang kami kunjungi kemarin.

"Selamat datang."

Pemilik kafe yang pendiam hanya berkata begitu lalu mengantar kami ke tempat duduk.

Kami duduk di tempat yang sama kemarin, di meja dekat jendela di sudut kafe.

Hoshimiya membuka laptop yang dibawanya, lalu mulai mengerang dengan wajah serius.

Sembari melihatnya, aku mulai mengerjakan tugas musim panas. Aku tidak mau bengong saja.

"......Sebenarnya, Ayah itu suka membaca novel, lho."

Hoshimiya, yang tadi sibuk mengetik di papan ketik, menghentikan tangannya dan meminum kopinya.

"Lagipula, alasanku mulai membaca novel dulu itu karena ada di ruang kerja Ayah."

"......Kalau begitu, sepertinya ada peluang untuk membuatnya mengakui impianmu."

"Iya. Aku sudah memikirkannya...... kupikir kita butuh senjata untuk bertarung."

"Senjata?"

"Karena kalau diajak bicara baik-baik pun, kupikir Ayah tidak akan mau mendengarku. Jadi, aku akan membuktikannya. Bahwa aku punya bakat menulis novel. Aku akan membuatnya mengakui kalau novel buatanku itu menarik."

Iya, Hoshimiya mengangguk mantap.

Memang benar, salah satu alasan Sei menentangmu adalah keraguannya apakah kamu benar-benar bisa menjadi novelis atau tidak. Dia bahkan mungkin berpikir kalau itu mustahil.

Untuk poin itu, senjata yang dipikirkan Hoshimiya pasti berguna.

Jika dia menyadari bahwa putrinya memiliki bakat menulis, ada kemungkinan dia akan mengubah pemikirannya.

"Kalau hal itu berhasil, barulah kita bisa duduk di meja perundingan."

Mengetahui putrinya memiliki bakat bisa menjadi langkah awal bagi Sei untuk memercayai pemikiran dan kemampuan putrinya.

"Rencana yang bagus."

Saat aku mengangguk, Hoshimiya mengeluarkan tumpukan kertas putih dari tasnya.

Itu adalah naskah novel Hoshimiya yang kulihat kemarin. Hoshimiya mengetuk tumpukan kertas itu pelan.

"Aku akan memperlihatkan novel ini pada Ayah. Ini adalah karya terbaikku. Jika aku merevisi bagian yang ditunjuk Natsuki-kun, pasti dia akan menganggapnya menarik. Soalnya selera Ayah soal cerita mirip denganku."

Bukankah itu tandanya Hoshimiya mirip dengan Sei?

Aku berpikir begitu tapi memilih untuk diam.

"Aku juga akan bantu. Yah, aku hanya bisa membaca dan memberi kesan saja sih."

"......Terima kasih. Aku senang, tapi apa boleh? Aku terus-terusan mengandalkan Natsuki-kun."

"Aku hanya melakukan ini untuk diriku sendiri kok. Jadi, tidak perlu dipikirkan."

Aku tidak bohong. Aku membantu karena aku ingin membantu Hoshimiya. Aku di sini karena ingin tahu lebih banyak tentang Hoshimiya. Aku ingin melihat versi yang lebih sempurna karena menurutku novel tulisannya menarik. Semuanya hanya untuk diriku sendiri.

Lagipula, aku hanya ingin membungkam Sei karena dia menyebalkan. Ini bukan dendam pribadi kok. Sama sekali bukan.

"......Orang baik selalu berkata seperti itu, ya."

Hoshimiya bergumam dengan sorot mata yang seolah menatap sesuatu yang indah.

Kemudian, dia mengepalkan kedua tangannya di depan dada untuk menyemangati diri.

"Oke, semangat!"

Dan begitulah, proses revisi novel pun dimulai.

Aku menghentikan tugasku dan memutuskan untuk membaca ulang novel Hoshimiya sekali lagi.

Agar aku bisa menjadi sedikit saja kekuatan bagi Hoshimiya yang akan melangkah menuju pertarungan.

Setelah itu, waktu benar-benar dihabiskan untuk bekerja.

Hoshimiya merevisi bagian yang kutunjuk, dan ketika dia bingung soal cara mengubahnya, kami berdua mengerang bersama, berdiskusi, dan mencari saran perbaikan, lalu Hoshimiya merevisinya dengan ide yang disepakatinya.

......Entah kenapa, kupikir para pencipta karya itu hebat sekali.

Aku ahli dalam menjabarkan masalah. Aku bisa menganalisis struktur cerita atau alur, lalu menjelaskan apa yang menurutku kurang baik. Tapi, aku tidak tahu harus bagaimana cara menyelesaikannya.

Namun, Hoshimiya bisa mengeluarkan ide demi ide dengan cepat—baik atau buruknya urusan belakangan. Hoshimiya bilang, "Aku membangun panggung di dalam kepalaku dan menggerakkan karakternya," tapi aku tidak bisa melakukan itu.

Aku merasa Hoshimiya yang mengetik dengan wajah serius itu keren sekali.

......Apa aku minta tanda tangannya sekarang saja, ya?

"Ya?"

Saat aku sedang berpikir begitu, ponsel di saku berbunyi nyaring.

Nama yang tertera di layar adalah Nanase Yuno.

Aku memberi tahu Hoshimiya yang menoleh, "Aku angkat telepon dulu," lalu menjawab telepon di luar kafe.

Halo, Haibara-kun.

"Ya. Apa ini soal Hoshimiya?"

"Apa ini", katamu? Tentu saja soal itu, kan.

"......Kamu marah?"

Aku tidak marah, kok. Kemarin orang tua Yuno bertanya padaku di mana keberadaannya, dan meskipun aku sudah khawatir, aku marah karena tidak ada kabar apa pun darimu, Haibara-kun. Jadi, aku sama sekali tidak marah.

Sudah jelas dia marah.

"......Maaf."

Sejujurnya aku sedang tidak punya ruang untuk berpikir dan tidak memikirkan hal lain.

Yah, karena Yuno sudah mengirim pesan balasan, ya sudah lah. Tapi, aku tidak percaya saat baca kalau dia menginap di rumahmu. Padahal dia tidak seceroboh itu dalam memercayai anak laki-laki.

"......Yah, mungkin karena ada banyak hal yang terjadi, Hoshimiya merasa terpojok."

Aku sudah dengar situasinya secara garis besar, dan aku bisa menebaknya. Tapi, apa rencanamu ke depannya?

"Sejauh ini, aku sedang menyusun strategi untuk menyelesaikannya."

Saat kuceritakan rencana yang kupikirkan bersama Hoshimiya tadi, Nanase bergumam, ......Begitu ya.

Di mana kalian sekarang? Kafe itu?

"Ya. Di kafe Ruby Mare yang pernah kamu tunjukkan padaku."

Tunggu di sana bersama Yuno. Aku akan pergi ke sana sekarang.

Nanase menutup telepon dengan nada datar.

Dia lebih menyeramkan dari biasanya. Ke mana perginya Nanase sang malaikat...?

Memang benar, aku salah karena tidak menghubungi Nanase. Tidak, sebenarnya aku sempat berpikir untuk berkonsultasi dengan Nanase atau Miori, tapi sejujurnya aku tidak punya waktu atau kelonggaran untuk itu. Lagipula hari sudah larut malam.

"Nanase akan ke sini."

Saat kukatakan itu pada Hoshimiya, dia terlonjak kaget.

"Y-Yuno-chan...... apa dia marah?"

"......Dia marah. Benar-benar marah."

"Hie...... karena Ayah menyebalkan, aku mematikan notifikasi telepon, dan aku baru sadar kalau Yuno-chan juga meneleponku...... aku buru-buru membalas pesan RINE-nya sih......"

Saat kami berdua menunggu dengan perasaan takut, bunyi lonceng pintu terdengar.

Pintu masuk terbuka dan Nanase muncul dengan pakaian kasual.

Dia memakai baret kecil di kepala, kaus bermotif santai, dan rok mini. Kaki jenjangnya yang mulus terlihat cantik. Wajahnya tampak kesal saat mengeluh, "Panaas banget......"

"H-hai......"

"S-sini......"

Saat aku dan Hoshimiya menyapa dengan perasaan sedikit ngeri, Nanase mendekat tanpa suara.

Mungkin karena meja Hoshimiya sempit karena laptop dan lainnya, Nanase duduk di sebelahku dan memanggil pemilik kafe untuk memesan es kafe latte. Setelah selesai, barulah Nanase menatap kami.

"Yuno."

"I-iya!"

Hoshimiya tersentak kaget.

"Kenapa kamu tidak konsultasi denganku?"

"Itu, karena setiap ada masalah aku selalu bergantung pada Yuno-chan...... aku merasa tidak enak kalau terus-terusan, jadi aku ingin berusaha sendiri......"

"Itu bukan merepotkan, kok. Lagipula, kalau akhirnya kamu bergantung pada Haibara-kun, kan sama saja."

"Uh...... m-maafkan aku......"

Hoshimiya terlihat lemas dengan wajah yang tampak terpukul.

"Lagi pula, menginap di rumah anak laki-laki yang bahkan belum jadi pacarmu, apa-apaan itu? Yuno? Kamu tidak punya rasa waspada sedikit pun? Untungnya Haibara-kun itu payah jadi kamu aman."

"Hei."

Jangan sesuka hati menyebut orang lain payah.

Saat aku melayangkan protes, Nanase melotot ke arahku.

Sepertinya sekarang target kemarahannya berpindah padaku.

"Dan kamu sendiri, apa tidak ada cara lain?"

"Ya mau bagaimana lagi, hari sudah larut, situasinya mendesak, dan aku sendiri juga sedang panik jadi tidak punya banyak pilihan...... eh, tapi aku tidak melakukan apa-apa lho?"

"Aku tahu kamu tidak melakukan apa-apa."

Hoshimiya bergumam pelan sembari menatap jendela.

"......Tapi, dia melihat pakaian dalamku, sih."

Soal itu, apa belum dimaafkan juga???

"Haibara-kun?"

"Itu keadaan darurat, tahu!"

Karena telingaku ditarik oleh Nanase yang tersenyum menyeramkan, aku buru-buru mencari alasan. Lagipula itu salah Hoshimiya!

Aku tidak bersalah! Meskipun memang terpatri di ingatanku, sih!

"......Maafkan aku. Sudah membuat kalian khawatir."

Hoshimiya menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Melihat Hoshimiya begitu, Nanase menghela napas panjang.

"......Yah, sudahlah. Syukurlah kalian aman."

Saat suasana mencair, es kafe latte diletakkan di atas meja.

Nanase meminumnya untuk membasahi tenggorokan, lalu melanjutkan pembicaraan.

"Aku sudah dengar dari Haibara-kun tadi. Kamu mau melawan Sei?"

Hoshimiya mengangguk dengan ekspresi tegang.

"......Apa kamu bisa? Padahal selama ini kamu tidak pernah berani melawan, apa sekarang kamu bisa melakukannya?"

Mungkin dia terdengar dingin karena sedang menguji Hoshimiya.

Nanase pasti lebih memahami sejarah antara Hoshimiya dan Sei daripada aku.

Karena itulah dia bertanya apakah Hoshimiya benar-benar punya tekad yang kuat.

"Karena ada hal yang tidak bisa kulepaskan, aku punya tekad."

Hoshimiya menegaskan dengan nada bicara yang kuat.

Nanase menatap Hoshimiya lekat-lekat.

"......Aku mengerti. Kalau begitu, aku juga akan membantu. Apa sekarang kalian sedang melakukan revisi novel?"

"Iya. Kupikir sudah jauh lebih baik, aku ingin Yuno-chan membacanya juga."

Hoshimiya berkata begitu, lalu panik, "Ah, tapi bagaimana ya." Memang revisinya sudah selesai, tapi kalau tidak dicetak di kertas, akan sulit kalau dibaca orang lain. Membacanya di laptop Hoshimiya memang gampang, tapi Hoshimiya jadi tidak bisa bekerja. Efisiensinya buruk.

"......Kalau mesin cetak, ada di sana. Silakan gunakan sesuka hati."

Pemilik kafe yang sedang mengelap gelas di konter bergumam tanpa melihat ke arah kami.

Di arah pandangan pemilik kafe, ada mesin cetak tua.

"Ah, terima kasih banyak!"

Setelah mengucap terima kasih, Hoshimiya mulai mencetak naskah revisinya.

"......Yah, aku yang bilang padamu untuk menemani anak itu, kan."

Nanase berkata begitu sembari melihat Hoshimiya.

"Bagaimana? Apa kamu bisa membantu anak itu?"

"......Tidak, aku tidak melakukan apa-apa. Soal novel pun, aku cuma memberi kesan sedikit."

"......Begitu ya. Baiklah, aku akan menganggapnya begitu."

Setelah itu, Nanase mulai membaca naskah penuh semangat milik Hoshimiya yang sudah direvisi berkali-kali.

Hoshimiya memeriksa naskahnya lagi sambil gelisah. Dia memastikan tidak ada salah ketik atau ungkapan yang aneh, memeriksa kalimat demi kalimat. Aku pun memutuskan untuk membantu proses proofing Hoshimiya.

Tak terasa langit sudah berubah menjadi jingga, dan saat Nanase selesai membaca, hari sudah malam.

"......Ini, memang menarik."

Nanase berkata dengan nada seolah sedang meresapi isinya.

Hoshimiya yang tadinya tegang, merasa lega dan melemaskan bahunya mendengar kata-kata Nanase.

"......Syukurlah. Benar-benar jadi menarik, ya."

"Habisnya aku dan Hoshimiya sudah membacanya berulang kali sampai tidak tahu lagi mana yang bagus."

"Benar! Tadi sempat merasa, eh? Apa benar sudah oke begini? gitu terus......"

Melihat kami yang berbicara dengan semangat, Nanase memasang wajah serius.

"Aku tidak tahu banyak soal detailnya, tapi ceritanya menarik. Hanya saja......"

Apakah ada poin yang mengganjal? Ekspresi Hoshimiya menegang.

"Tokoh utama ini, yah, hampir mirip seperti Yuno, kan?"

Hoshimiya terdiam, "Eh," gumamnya. Bagaimana ya?

Tokoh utamanya, Mamika, adalah gadis pendiam dan polos, tapi punya kemampuan deduksi. Tidak mirip dengan Hoshimiya sekarang, tapi kalau dengar cerita Hoshimiya dulu, mungkin memang begitu. Soal kemampuan deduksi, toh dia memang menulis novel misteri.

"Bagiku itu tidak masalah sih, tapi......"

Nanase membalik-balik naskah dan menatapku serta Hoshimiya bergantian.

"Anak laki-laki yang menjadi rekannya ini, modelnya Haibara-kun, kan?"

......Eh? Begitukah!? Kali ini aku yang membelalakkan mata karena kaget.

Rekannya Mamika, anak laki-laki bernama Shintaro. Populer di kelas, punya inisiatif tinggi, biasanya tertawa santai, tapi aslinya bijaksana dan tenang. Tidak, di mananya yang mirip denganku???

"Kurasa sama sekali tidak mirip, kok?"

Saat aku benar-benar mengatakannya pada Nanase, Nanase menunjuk Hoshimiya dengan wajah gemas.

Wajah Hoshimiya merah padam seperti tomat rebus, dan saat mata kami bertemu, dia langsung membuang muka.

"Ada apa? Apa mungkin, jangan-jangan benar?"

"T-t-tidak...... bukan!? Itu, sama sekali, tidak sedikit pun, mirip!"

"Tidak perlu menyangkal sekuat itu......"

Kenapa dia sampai segugup itu?

Saat aku berpikir, seandainya memang modelnya adalah aku, apa masalahnya......, aku baru teringat.

——Di tengah cerita, Mamika sang tokoh utama jatuh cinta pada Shintaro sang rekan.

Sampai-sampai dia tidak bisa memikirkan hal lain selain Shintaro.

"......"

"......"

Aku merasa pipiku memanas.

Aku tidak bisa menatap wajah Hoshimiya lagi. Keheningan yang menyesakkan menyelimuti tempat itu.

Tidak, tenanglah. Ini hanya cerita dalam novel. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kenyataan.

"Yah, entah itu benar atau tidak, tidak masalah sih."

......Kalau tidak masalah, bisakah berhenti menjatuhkan bom begitu saja?

"Aku hanya merasa karakter anak laki-laki ini sedikit samar dan tidak konsisten. Kalau memang menjadikan seseorang sebagai model, kupikir akan lebih menarik kalau detailnya lebih diperdalam."

Nanase menutup pembicaraan dengan berkata, "Hanya itu saja yang mengganjal."

Aku senang Nanase merasa naskah ini menarik. Poin yang mengganjal pun cuma satu.

Lagipula, itu bukan masalah yang sulit diperbaiki, dan dia bahkan sudah memberi solusi.

Memang benar poin itu mengganjal, tapi aku tidak sampai berpikiran untuk menunjukkannya.

Seandainya aku memang modelnya, jelas itu terlalu dibesar-besarkan.

Kalau direvisi bagian itu saja, pasti naskahnya akan sempurna.

Aku tahu itu, tapi...... suasana ini, harus bagaimana!?

"......Jadi, Natsuki-kun. Bolehkah, itu...... bolehkah aku tanya banyak hal?"

"......Tentu saja, yah, menjawabnya tidak masalah, tapi......"

Nanase melihat kelakuan kami dengan wajah lelah, lalu mengalihkan pandangan ke jam tangannya.

"Hari ini sampai sini saja. Sudah waktunya, lho. Jam malam Yuno sudah lama lewat."

"......Benar juga. Karena asyik fokus, sampai tidak sadar."

Saat melihat keluar jendela, hari sudah gelap gulita.

"......Tapi, bagaimana ini? Padahal belum selesai......"

Kalau pulang ke rumah, mau tidak mau dia harus melawan Sei.

Dia belum siap untuk itu. Setidaknya butuh satu hari lagi.

Namun, menginap di rumahku satu hari lagi agak sulit. Hari ini Ibu sudah pulang.

Kalau aku membujuk Ibu, mungkin bisa, tapi entahlah. Kalau Ibu yang dengar, mungkin dia akan berkata, Kita harus menghubungi orang tua pihak sana dengan benar!

Itu bisa saja terjadi.

"Yuno, hari ini menginap di rumahku saja."

"......Apa boleh? Yuno-chan."

"Hanya satu hari saja. Besok kamu harus pulang dengan benar. Kalau Ibu tahu aku bekerja sama dengan pelarian rumahmu, Ibu akan marah. Kita harus sembunyikan ini."

Kukira itu yang terbaik.

Jauh lebih sehat daripada menginap di rumahku.

"......Terima kasih, Yuno-chan. Aku sayang kamu."

Hoshimiya memeluk Nanase dengan penuh haru.

Nanase yang panik berkata, "T-tunggu, Yuno, lepaskan," pun terlihat imut.

Dengan begitu, hari ini kami memutuskan untuk bubar.

Saat aku pulang ke rumah, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru.

Namika yang sengaja menyambutku berjinjit sedikit untuk mengintip ke belakang punggungku.

"......Mana Hoshimiya-san?"

"Sudah pulang."

Secara teknis dia belum pulang, tapi demi kemudahan, aku menjawab begitu.

"Yah, padahal aku ingin bertemu dengannya," gumam Namika sambil memanyunkan bibir dengan tidak puas. Aku melewatinya begitu saja dan kembali ke kamar.

Aku mandi, menyantap makan malam yang dibuat Ibu, lalu setelah kenyang, aku merebahkan diri di atas tempat tidur.

......Yang terbayang di benakku adalah wajah Hoshimiya yang merah padam.

Tokoh utamanya hampir sama dengan Hoshimiya, dan model anak laki-laki yang disukai tokoh utama itu adalah aku.

Dengan kata lain...... apakah maksudnya seperti itu??? Bukankah lebih baik jika memang begitu saja?

Bahkan, aku lebih suka jika itu memang artinya seperti itu. Kumohon, biarkan itu memang artinya seperti itu.

Saat aku sedang membatin di atas tempat tidur, ponselku bergetar karena ada panggilan masuk.

Nama yang tertera di layar adalah Hoshimiya Hiyari.

Se-selamat malam.

O-oh. Selamat malam.

Suaranya jelas-jelas tegang, dan itu membuatku ikut merasa tegang juga.

Apa sekarang kamu ada waktu?

Ya. Aku cuma lagi bengong saja.

Apaan itu?

Terdengar suara tawa kecilnya di seberang sana.

Hei, boleh tidak aku bertanya banyak hal tentangmu, Natsuki-kun?

Tanya saja apa pun.

Selain soal time leap, aku bisa menjawab apa saja.

Ayo, tanyakanlah sesukamu! Sekarang, setelah rahasia high school debut-ku terbongkar, aku tak terkalahkan!

Kalau begitu, Natsuki-kun...... apa pendapatmu tentang aku?

............Apa maksudnya......?

Rasanya seperti pertahanan yang sudah kubangun dihancurkan oleh pedang hanya dalam sekali serang.

Pendapat tentang kamu itu...... itu, maksudnya dalam konteks apa?

......

Bisa tidak, jangan diam di saat seperti ini!?

Maksudku, itu...... seperti, apa kesanmu tentang diriku?

Ya, yah, kamu itu baik, ceria...... meski mungkin aslinya sedikit berbeda, setidaknya di depanku kamu selalu tampak bersemangat dan ceria, terus, kamu imut, dan rasanya kamu gadis yang baik, mungkin seperti itu......?

Saat mengucapkannya, rasanya makin lama makin mirip pengakuan cinta, jadi aku buru-buru menyudahinya.

Be-begitu, ya...... ya. Terima kasih.

Apa jawaban seperti ini benar-benar tidak apa-apa?

Saat aku sedang merasa ragu, Hoshimiya terus melemparku dengan pertanyaan.

Satu per satu, seolah hujan yang tidak mau berhenti.

Natsuki-kun sangat menghargai teman-temanmu, ya. Kenapa begitu?

Kenapa Natsuki-kun berpikir untuk melakukan high school debut?

Keluarga Natsuki-kun orang seperti apa? Adikmu sudah kulihat kemarin sih.

Natsuki-kun biasanya melakukan apa? Maksudku, hobimu......

Bagaimana perasaan Natsuki-kun saat masa SMP?

Apa makanan kesukaan Natsuki-kun? Ramen atau apa?

Apa Natsuki-kun ingin punya kekasih?

Tipe gadis seperti apa yang disukai Natsuki-kun?

Natsuki-kun...... apa saat ini, kamu punya gadis yang kamu sukai?

etelah aku menjawab semua pertanyaannya, keheningan yang panjang datang seolah kami sedang mengatur napas.

......Begitu, ya.

Aku tidak tahu itu kata-kata untuk menanggapi apa.

Tiba-tiba, suara denting piano terdengar dari ponsel.

Sempat kupikir Hoshimiya tidak sengaja membuka video, tapi ternyata suara itu datang dari ujung telepon.

Suara piano ini……

Ah, dengar ya? Yuino-chan mulai main piano.

Meski lewat telepon, aku bisa tahu dia sangat mahir. Lagu yang dia mainkan adalah Summer karya Joe Hisaishi.

Aku yang minta dia mainkan lagu yang terasa seperti musim panas.

Pilihan lagu yang bagus. Pekerjaanmu sepertinya bakal lancar.

Begitu ya. Karena aku sudah menanyakan apa yang ingin kutahu, kurasa aku akan kembali bekerja.

Hoshimiya.

Setelah memanggilnya, aku malah tidak tahu harus berkata apa.

Aku……

Karena ditanya habis-habisan, itu jadi kesempatan yang baik bagiku untuk memikirkan diriku sendiri.

Aku berniat menjawab semuanya dengan jujur. Namun, hanya pertanyaan terakhir yang tak bisa kukatakan jujur sepenuhnya.

Aku mengiyakan. Di situ tidak ada yang salah. Tapi, ada sesuatu yang belum kukatakan.

Yaitu tentang keberadaan dua orang. Aku menyukai keduanya dengan kadar yang sama, dan aku belum bisa memutuskan.

……Mungkin, aku sudah tahu garis besarnya?

Saat Hoshimiya menjawab begitu, napasku sempat terhenti sejenak.

Mengulik makna kata-kata itu sepertinya bukan langkah yang bagus.

Tidak apa-apa. Itu tidak ada hubungannya dengan cerita. Mungkin resolusi karakternya jadi sedikit naik.

Setelah itu, kami bertukar salam singkat dan aku memutus sambungan telepon dengan Hoshimiya.

……Itu bukan hal yang aneh. Aku cukup gencar melakukan pendekatan pada Hoshimiya.

Namun, fakta bahwa aku pergi ke festival Tanabata bersama Uta juga benar. Dan bagi siapa pun yang melihat, jelas sekali kalau Uta menyukaiku.

Tapi, aku dan Uta tidak berpacaran. Hoshimiya mungkin orang yang paling menyadari alasannya.

Kenyataannya, meski terlihat begitu, Hoshimiya sangat memperhatikan orang lain.

……Pada akhirnya, apa yang sebenarnya dipikirkan Hoshimiya tentangku?

Kurasa dia tidak membenciku, malah mungkin dia menyukaiku, tapi…… apakah itu cinta?

Orang yang tidak mengerti apa-apa, selalu saja aku.

Keesokan harinya. Aku mendapat giliran kerja paruh waktu di pagi hari yang langka.

Setelah selesai bekerja dan makan, aku bergegas menuju kedai kopi kemarin.

Di kursi dekat jendela di sudut kedai yang sudah menjadi tempat langganan kami, Nanase dan Hoshimiya sudah duduk di sana.

"Natsuki-kun!"

Begitu menemukanku, Hoshimiya memasang senyum yang merekah.

"Revisinya baru saja selesai! Kalau begini pasti tidak masalah! Aku jadi lebih percaya diri!"

Dia sedang sangat bersemangat.

Aku mengalihkan pandangan dari Hoshimiya yang sedang dalam suasana hati yang baik ke arah Nanase, dia hanya mengangkat bahu.

"Aku juga sudah memeriksanya, sudah tidak ada yang perlu dikeluhkan lagi. Dari awal pun ceritanya sudah menarik."

"Kalau begitu, coba aku periksa juga ya. Bisa beri tahu bagian mana saja yang direvisi?"

"Un! Di sini dan sini—lalu percakapan di adegan ini juga secara keseluruhan—"

Saat membaca bagian yang direvisi, memang jadi lebih baik. Atau lebih tepatnya…… ini jadinya seperti aku.

Dialognya menggunakan jawaban yang kuberikan kemarin, sampai-sampai aku merasa malu.

"……Apa tidak apa-apa? Ini, hampir semuanya jadi aku, bukan?"

"……Memang jadi begitu, tapi apa tetap tidak boleh?"

"Bukan tidak boleh, tapi karena anak laki-laki yang disukai protagonis, bukankah sebaiknya dialognya lebih keren—"

"—Sudah. Cukup keren dengan begini."

Hoshimiya memalingkan wajah dan memotong ucapanku.

Cukup, keren……?

Apa iya? Padahal isinya hampir semuanya adalah aku……?

Tapi memang, hasil akhirnya jauh lebih baik. Masalahnya hanya aku yang merasa malu.

"—Ya. Jadi lebih menarik. Ini menarik! Kita bisa!"

Aku menegaskan dengan kuat agar Hoshimiya merasa percaya diri.

Tanpa disadari, judulnya yang tadinya cuma draf Kisah Laut Musim Panas telah berubah menjadi Gadis Pemecah Teka-Teki Tidak Tahu Cinta. Kurasa itu bagus, suasananya cocok dengan literatur ringan zaman sekarang.

Senjata sudah siap. Sisanya tinggal pulang ke rumah dan bertarung.

Saat aku memikirkan hal itu, sebuah kejadian terjadi. Lonceng pintu kedai berbunyi.

Entah kenapa aku punya firasat buruk. Langkah kaki terdengar mendekat tanpa ragu.

Saat menoleh, di sana ada ayah Hoshimiya—Sei-san.

"……Kau ada di sini, Hikarino."

Nada suaranya dingin, datar, dan menggema.

Di bawah meja, aku bisa melihat tangan Hoshimiya gemetar.

Jadi, aku menggenggam tangan itu. Lalu, aku menyapa dengan sikap yang sengaja dibuat berani.

"……Halo, Ayah Hoshimiya. Ada urusan apa?"

"……Aku tidak ada urusan denganmu. Jangan memancing keributan yang aneh-aneh. Lagi pula anakku pasti mengandalkan kalian, bukan? Aku minta maaf karena sudah merepotkan. Tapi, mulai sekarang ini urusan keluarga."

Sei-san menangkis kata-kataku dengan tenang.

Karena sudah beberapa hari berlalu, kepalanya sepertinya sudah dingin.

"Ayo pulang, Hikarino. Jangan merepotkan orang lain lebih dari ini."

"……Bukankah seharusnya, jangan merepotkan aku?"

Dengan wajah pucat dan suara gemetar, Hoshimiya membalas dengan berani.

"……Apa katamu?"

Sei-san mengerutkan kening.

"Sekadar info, kami tidak merasa direpotkan sama sekali. Teman kami sedang meminta bantuan. Menjawab permintaan itu adalah hal yang wajar."

Aku sengaja berbicara datar tanpa emosi.

Yang bisa kulakukan hanyalah memberikan dukungan. Yang bertarung bukan aku.

"……Aku akan pulang, tidak apa-apa. Memang sejak awal aku berencana pulang hari ini."

"Begitu ya. Kalau begitu—"

"—Sebagai gantinya, aku ingin Ayah mendengarkan ceritaku."

Hoshimiya mengangkat wajahnya.

Dia menatap mata Sei-san yang tanpa ekspresi.

Sei-san melirik sekilas ke atas meja.

Setelah melihat komputer dan naskah, dia membuka mulut.

"……Tadi kau bilang ingin jadi novelis, bukan? Soal itu?"

"Bukan cuma itu, tapi itu juga salah satunya. Aku…… akan menjadi novelis."

"Apa kau tidak mendengarkan perkataanku yang menyuruhmu menjalani hidup yang lebih berguna? Sudah berapa banyak hari yang terbuang karena ini? Padahal nilaimu pun tidak terlalu bagus."

"Nilai akan kuperbaiki. Aku akan belajar dengan benar. Aku memang menargetkan jadi novelis, tapi aku akan mencari pilihan lain juga. Meski berhasil pun, kupikir awalnya aku akan melakukannya sambil bekerja di bidang lain."

"……Sepertinya kau tidak sekadar bermimpi. Kalau kau bisa menjanjikan itu, aku bisa mengizinkanmu melanjutkannya sebagai hobi. Tapi, soal masa depan itu cerita yang berbeda. Tadi kau bilang dengan mudahnya akan melakukan dua pekerjaan, apa kau yang kurang cekatan itu bisa melakukannya? Sebagai masalah mendasar, apa kau punya bakat untuk menjadi novelis? Aku tidak berpikiran begitu."

Sei-san berkata dengan datar.

Seolah-olah sedang menasihati anak yang tidak penurut.

"Lebih baik kau patuh saja padaku, dengan begitu kau pasti bisa menjalani kehidupan yang kaya dan bahagia."

"……Itu, salah. Hidupku, aku yang menentukan."

"Apa kau masih belum mengerti? Aku bicara demi kebaikanmu. Jangan egois."

"Yang egois itu Ayah. Berhentilah memaksakan perasaan Ayah sendiri."

"……Hikarino. Aku mengerti perasaanmu. Dulu waktu kecil, aku juga menghabiskan waktu sesuai perkataan mendiang kakekmu. Itu pendidikan yang keras. Tidak sekali dua kali aku ingin memberontak. Ada banyak hal yang terpaksa kurelakan. Tapi pada akhirnya, berkat itu aku sukses."

Sei-san yang berkata begitu terlihat tidak ragu sedikit pun bahwa dirinya benar.

"Ini kehidupan yang makmur. Perusahaan pun sedang berkembang. Sekarang aku mengerti bahwa Ayah bersikap keras demi kebahagiaanku. Jadi, kali ini aku pun ingin melakukan hal yang sama untuk membuatmu bahagia."

Dia pasti mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Dia benar-benar mendoakan kebahagiaan putrinya.

Justru karena itulah aku merasa ngeri. Orang yang berniat jahat masih lebih baik.

"Setiap orang itu berbeda, Yah. Meski cara itu berhasil membuat Ayah bahagia, belum tentu hal yang sama berlaku untukku. Aku tidak menganggap hidup yang dikendalikan oleh orang lain sebagai kebahagiaan."

"Sudah cukup! Aku—"

"—Memangnya, Ayah sendiri benar-benar bahagia?"

Saat Hoshimiya bertanya begitu, Sei-san terdiam seolah tersambar petir.

"Mungkin kondisi perusahaan baik, tapi Ayah tidak pernah akur dengan Ibu, selalu bertengkar. Meski punya uang, keluarga itu tidak ada. Aku pun benci pada Ayah. Dalam kondisi seperti itu, apa Ayah benar-benar bahagia? Apa Ayah cuma membohongi diri sendiri?"

Di sana, untuk pertama kalinya Sei-san merusak ekspresinya.

"Bukankah Ayah cuma tidak mau mengakui kalau selama ini Ayah salah?"

Hoshimiya terus mencecarnya.

"Kau……!"

Sei-san hampir membentak, tapi dia menarik napas seolah berusaha menenangkan diri.

Dia punya ketenangan seperti ini, tapi kenapa dia bisa sekeras kepala itu?

Lama-kelamaan, Sei-san mengangkat bahu dengan ekspresi yang masih masam.

"……Kalau begitu, harus bagaimana? Aku sudah hidup seperti ini sejak dulu. Meniru cara mendiang kakekmu, menggerakkan orang lain sesuai kemauanku. Aku tidak tahu cara hidup selain ini."

Mendengar kata-kata putus asa Sei-san, Hoshimiya berseru.

"Kalau tidak tahu, pelajari saja! Ayah sebenarnya takut akan hal itu! Meski Ayah jauh lebih dewasa dariku, Ayah pengecut! Ayah memaksakan cara hidup itu kepadaku juga!"

Menumpahkan seluruh perasaan selama enam belas tahun hidupnya ke dalam kata-kata.

Hikarino Hoshimiya yang berdiri dari kursinya menatap lurus ke arah Sei-san dan menyatakan.

"—Aku berbeda dengan Ayah! Mimpi dan teman-temanku, aku yang memutuskan sendiri! Meskipun pada akhirnya aku harus menderita, meskipun aku tidak bisa bahagia, jika aku yang memilihnya sendiri, aku tidak akan menyesal!"

Keheningan melanda kedai.

Hanya musik latar ceria yang tidak pas yang terus mengalun.

Ini sudah jadi pertengkaran yang mengganggu kedai, tapi pemilik kedai tidak ikut campur.

Mungkin karena kebetulan tidak ada pelanggan lain. Biasanya ada lima atau enam kelompok pelanggan di sini.

"Begitu, ya……"

Setelah saling menatap sejenak dengan Hoshimiya, Sei-san menghela napas panjang.

"Baca ini."

Kepada Sei-san yang seperti itu, Hoshimiya menyodorkan naskah novel di tangannya.

"……Apa ini?"

"Novel yang kutulis. Sebelum Ayah menegaskan bahwa aku tidak punya bakat, bacalah dulu dengan benar dan pastikan sendiri."




"Hmph," Sei-san mendengus.

Meskipun wajahnya tampak enggan, dia menerima naskah itu.

"……Baiklah. Kalau kau sampai bicara begitu, aku tidak keberatan membacanya."

"Setelah membacanya, kalau menurut Ayah itu menarik, akui aku!"

Seolah-olah sudah menyiapkan kalimat itu sejak lama, Hoshimiya mengucapkannya.

Sei-san tanpa mengubah ekspresinya melontarkan keraguan, "……Mengakui apa?"

Hoshimiya menarik napas dalam-dalam, lalu menggenggam tanganku yang sedari tadi ia pegang dengan erat.

"Aku bukan lagi boneka yang bisa Ayah kendalikan. ——Akui itu."

Sei-san terdiam cukup lama, menatap wajah Hoshimiya dengan lekat.

"Boneka, ya."

Tak lama kemudian, dia mendengus dengan nada malas.

"Jika aku tidak mengabulkan permintaanmu, apakah kau akan terus kabur dari rumah?"

"I-itu…… memang sulit. Karena aku tidak bisa terus-menerus merepotkan teman-temanku."

"Kalau begitu, pada akhirnya kau juga tidak punya pilihan selain pulang ke rumah, kan?"

Mendengar kata-kata Sei-san yang datar, Hoshimiya hanya bisa terdiam tanpa mampu membantah, "……Ugh."

"……Ya sudahlah. Permintaanmu sudah kutahu."

Setelah itu, dengan naskah yang dijepit di samping tubuhnya, dia berbalik dengan gerakan yang tangkas.

"Ayo pergi. Permintaanmu akan kudengarkan. Tentu saja, itu tidak menjamin aku akan menilai novel itu dengan baik."

Hoshimiya yang tadinya berwajah pucat, mengerjapkan mata melihat punggung Sei-san.

Karena itulah aku melepaskan genggaman tangan kami dan mendorong punggung Hoshimiya yang masih tampak linglung.

"Pergilah."

"Pasti akan baik-baik saja, Hikarino."

Setelah aku dan Nanase mengangguk mantap padanya, Hoshimiya pun menjawab, "Un!" lalu berdiri.

Sei-san membungkuk pada pemilik kedai, "Maaf sudah membuat keributan," lalu keluar dari kedai.

Hoshimiya melangkah terburu-buru, menyusul Sei-san.

"……Apakah semua ini akan berjalan lancar?"

"……Entahlah. Yah, kurasa tidak mungkin permintaan Hoshimiya langsung dikabulkan begitu saja."

Namun, melihat sikapnya tadi, dia tidak akan langsung menolak mentah-mentah seperti sebelumnya.

Lagipula, Hoshimiya yang sekarang memiliki kemauan untuk melawan ketidakadilan.

"……Ya, mungkin, akan baik-baik saja."

Lagipula, Sei-san memang tipe orang yang menggerakkan orang lain seperti bidak catur, tapi dia juga pernah berkata begini.

——Orang yang bisa bergerak dengan pemikirannya sendiri itu berharga.

Itu adalah kalimat yang hanya bisa diucapkan oleh seseorang seperti Sei-san yang mahir memberikan instruksi kepada orang lain.

Sebagai orang tua, menurutku dia agak payah, dan sebagai manusia pun entahlah, tapi dia memang punya kemampuan dalam pekerjaan.

Terlepas dari itu, aku masih belum memaafkannya karena menjatuhkanku di seleksi akhir.

Meskipun kalau dipikir-pikir, kalau pada akhirnya aku melakukan Time Leap, apa itu masih relevan?

Dasar bodoh! Bukan itu masalahnya, tahu!



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close