Chapter 2
Klinik Konsultasi Cinta untuk Para Pemula Romantis
"Sekarang
lagi apa?" tanya Hoshimiya Hikari.
"Baru saja
selesai mandi dan kembali ke kamar," jawabku.
Hoshimiya Hikari:
"Begitu ya."
Hoshimiya Hikari:
"Aku juga sudah mau tidur."
"Tidurnya
cepat sekali," balasku.
Hoshimiya Hikari:
"Tapi bangunnya selalu kesiangan, tahu."
"Orang
bilang anak yang rajin tidur itu cepat tumbuh besar, kan?"
Hoshimiya Hikari:
"Natsuki-kun tidurnya malam, tapi tinggi badanmu tetap saja
menjulang."
"Soalnya
waktu kecil dulu aku bisa tidur dua belas jam sehari."
Hoshimiya Hikari:
"Eh, aku tidak bisa tidur selama itu, haha!"
Hoshimiya
Hikari: "Eh, akhir pekan ini kosong tidak?"
"Kosong
kok. Mau melakukan
sesuatu?"
Hoshimiya Hikari:
"Ayo kita lakukan sesuatu! Haha."
"Sesuatu itu
maksudnya apa, haha. Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"
Hoshimiya Hikari:
"Banyak banget!"
Hoshimiya Hikari:
"Aku ingin bicara sebentar, boleh?"
"Mau
menelepon?"
Hoshimiya Hikari:
"Un! Aku telepon ya!"
*
"Uaahh..."
"Kelihatannya
kamu mengantuk sekali, ya."
Melihatku
menguap, Reita tersenyum kecut.
"Kemarin
malam aku menelepon Hikari, tahu-tahu sudah larut malam saja..."
Gara-gara
itu, aku jadi kurang tidur. Saat
pelajaran jam pertama pun, aku harus berjuang menahan kantuk.
Hikari yang duduk
di sebelahku tidur dengan nyenyak, tapi aku tidak bisa ikut tidur karena takut
mencolok.
"Syukurlah
kalau kalian akur, tapi jangan sampai tidur di jam pelajaran berikutnya,
ya."
Pelajaran
berikutnya adalah Bahasa Inggris. Mata pelajaran ini diseragamkan dan kelasnya
dibagi berdasarkan nilai.
Aku dan Reita
ditempatkan di Kelas A, kelas dengan kemajuan materi paling cepat.
Sampai ujian
akhir semester lalu, Nanase juga berada di Kelas A yang sama. Karena payah
dalam Bahasa Inggris, dia sering turun ke Kelas B.
"Iya, aku
tahu kok. Lagipula ini pelajaran Pak Kato..."
Pak Kato adalah
guru yang mudah dimengerti, tapi beliau orang yang terburu-buru. Kalau melamun
sedikit, kita akan langsung ketinggalan.
"Memangnya
apa saja yang kalian bicarakan sampai larut malam?"
"Hmm,
kemarin kami membicarakan soal mau pergi ke mana saat kencan akhir pekan
nanti."
Hikari
mengirimkan banyak informasi tempat lewat LINE, jadi obrolan kami makin
seru.
Kebanyakan tempat
yang dia kirim tidak bisa dikunjungi sekarang, jadi melenceng dari topik utama.
Namun, aku tidak tega menghentikan Hikari yang sangat antusias.
"Terus,
akhirnya jadi pergi ke mana?"
"...Nah itu
dia, akhirnya malah jadi main ke rumahku."
Reita membuka
matanya lebar-lebar karena terkejut. Ya tentu saja, reaksinya pasti begitu.
"Jadi tidak
jadi pergi keluar?"
"Awalnya
memang niatnya begitu, tapi kondisi keuanganku sedang tidak
memungkinkan..."
Meski punya
pendapatan paruh waktu, tabunganku sudah ludes buat membeli gitar dan
perlengkapannya. Aku harus berhemat sampai hari gajian nanti.
"Tapi, apa
tidak terlalu cepat melompat ke tahap kencan di rumah?"
"Sejujurnya,
aku juga sempat berpikir begitu."
Aku
memang berpikir begitu, tapi mengucapkannya justru membuat suasana jadi terlalu
canggung.
"Yah,
tapi kalian memang tipe yang suka bersantai di rumah. Bisa menghabiskan waktu
dengan tenang itu nilai plus, lho."
"Un,"
Reita mengangguk setelah mengubah pendapatnya sendiri.
Pria ini
benar-benar jago dalam memperhatikan orang lain.
Saat aku
sedang kagum, Reita menyeringai dan menepuk bahuku.
"Boleh saja
bermesraan—tapi jangan sampai lepas kendali, ya?"
Aku sempat
bingung, tapi tak lama kemudian aku mengerti. Yang terbayang adalah sosok
Hikari yang sedang berbaring di kasur kamarku.
"Haaah...!?
Lagipula, ini baru kencan kedua...!"
"Pelajaran
sudah mau dimulai, Natsuki."
Sambil
menertawakanku yang panik, Reita duduk di bangkunya.
Sialan,
dia benar-benar mempermainkanku. Aku merasa tidak akan pernah bisa menang
melawan pria ini.
Apakah
karena meskipun ini hidup keduaku, aku masih payah dalam cinta? Ya, tepat
sekali.
*
Aku
berhasil melewati Bahasa Inggris, dan pelajaran berikutnya adalah olahraga.
Mulai hari ini, kami berlatih berbagai cabang untuk turnamen bola.
Pelajaran
olahraga dilakukan dengan menggabungkan dua kelas. Kami dari Kelas 2 akan berlatih melawan tim dari
Kelas 1.
Setelah lari dan
senam, kami mulai melakukan shooting bebas. Kalau dibiarkan, waktu akan
habis hanya dengan menembak bola asal-asalan.
"Bagaimana
ini?"
Yang mengajak
bicara adalah Murakami-kun, tokoh sentral di Kelas 1. Dia mungkin mengira aku
adalah tokoh sentral di Kelas 2.
"Hmm...
sulit juga ya. Mau latihan pun, harus mulai dari mana?"
"Lebih
cepat kalau langsung tanding saja," Tatsuya menyela.
"Meskipun
kita melakukan Basic Training, tidak banyak orang yang bisa
mengikutinya," tambah Tatsuya.
Tepat sekali apa
yang dikatakan Tatsuya. Lagipula, secara murni, format pertandingan jauh
lebih seru.
"Yah, benar
juga. Jadi, bagaimana kalau format pertandingan Kelas 1 lawan Kelas 2?"
"Oke."
Murakami-kun dan
Tatsuya sepakat dengan rencana itu. Reita, Hino, dan Okajima-kun berkumpul di
dekat kami.
"Mau
menentukan posisi juga?" tanya Reita.
"Aku
yang jadi Guard untuk mengalirkan Pass. Reita jadi pendukung, dan
Okajima, kau diam di bawah ring," perintah Tatsuya.
Reita yang punya pandangan luas memang paling cocok sebagai
pendukung. Okajima-kun yang badannya tegap pasti kuat dalam melakukan Rebound.
Tatsuya kemudian melempar bola yang sedari tadi dia putar ke
arahku.
"Terus Natsuki, kau yang buat celah pertahanan
lawan."
Aku
menangkap bola yang terbang itu.
"Bukankah
peran kita terbalik? Bukankah lebih baik Tatsuya yang jadi Forward?"
"Tidak
elok kalau aku yang anggota klub basket malah main serius. Cukup jadi pengalir Pass
di belakang saja," ujar Tatsuya.
"...Lalu
aku bagaimana? Hei Nagiura,
jangan lupakan aku."
"Hah? Untuk
Hino, main asal-asalan pun harusnya kita tetap menang."
"Kenapa cuma
aku yang diperlakukan kasar sekali!?"
Melihat
mereka yang bercanda, aku jadi berpikir. Tatsuya tidak ingin menghancurkan
mental amatir dengan serius.
Aku mengira
Tatsuya akan berusaha jadi tokoh utama jika ada kesempatan, ternyata dugaanku
salah. Reita pun tampak sependapat denganku.
Namun, sebelum
sempat bicara, pertandingan dimulai dengan jump ball. Okajima-kun
melompat dan menepis bola ke arah Tatsuya.
"Oke, ayo
kita mulai!"
Tatsuya
membawa bola ke depan dan mengoper ke Reita. Aku bergerak ke arah corner
untuk mencari posisi.
"Reita!"
Saat aku
memanggil, Reita mengoper bola padaku. Aku menghadap ke depan dan melewati
penjaga yang mengenakan nomor empat.
Saat aku
melakukan layup, pemain nomor enam datang memberi bantuan. Aku menarik
tangan dan mengoper ke Hino yang bebas.
"Tembak!
Kau bebas!"
Sesuai
instruksi, tembakan Hino masuk dengan sempurna ke dalam jaring.
"Hebat
juga. Memang Natsuki," Reita tersenyum lebar dan melakukan high-five.
"Haira,
kau jago juga ya!?" teriak Okajima-kun dengan kaget. Tentu saja yang lain akan kaget melihat
kemampuanku.
Kami kembali ke
posisi pertahanan. "Yosh, ayo bertahan!" teriak Okajima-kun dengan
semangat yang besar.
"Apa kita
pakai man-to-man saja?"
"Boleh saja,
kan? Aku yang akan menjaga Murakami," jawab Tatsuya.
Di serangan Kelas
1, Murakami-kun membawa bola. Gerakannya terlihat sangat berpengalaman meskipun
dia bukan anggota klub basket.
Namun, dia
kesulitan karena lawannya adalah Tatsuya. Mereka pun melepaskan tembakan
asal-asalan yang gagal.
Okajima-kun
melompat untuk mengambil Rebound. Dia menangkap bola dengan kedua
tangannya, lalu mengoper ke Tatsuya.
"Lompatannya
luar biasa ya," kataku.
"Di
klub sepak bola pun, dia kuat dalam duel udara," tambah Reita.
"Oke, satu
poin lagi."
Tatsuya membawa
bola dari area kami. Saat aku maju, dia mengoper bola dengan tepat.
Kali ini
penjaganya berganti menjadi Murakami-kun. Dia sadar Tatsuya hanya jadi pengalir Pass
dan fokus menjagaku.
"Ternyata
kau dulu main basket ya, Haira," ujar Murakami-kun.
Aku sebenarnya
bisa mengoper balik, tapi aku ingin menguji kemampuanku. Aku mulai melakukan
tipuan dengan drive ke kanan.
Murakami-kun
merespons dengan cepat. Aku melakukan legs-through dan step back
untuk menjauhkan diri darinya.
"Na...!?"
Melihatnya
kehilangan keseimbangan, aku melompat dan melepaskan tembakan. Bola itu masuk
dengan mulus.
"Seriuslah..."
Murakami-kun
terduduk dengan mulut ternganga.
"Harus
sedikit lebih kuat lagi, ya..."
Ini poin kedua,
tapi jariku belum cukup peka. Mungkin aku harus berlatih mandiri nanti.
"Nice
Natsuki. Hebat juga kau."
"Yo."
Tatsuya memujiku,
namun ada rasa janggal yang aneh. Saat bermain basket, biasanya dia akan lebih
bersemangat.
"—Tatsuya,
ada apa?"
"Hah? Tidak
ada apa-apa kok..."
Melihatnya
yang benar-benar tidak merasa ada yang aneh, aku menggelengkan kepala.
"...Tidak,
tidak ada apa-apa."
Ada rasa
janggal, tapi tidak terlihat nyata. Untuk saat ini, aku memutuskan untuk tidak mencampurinya.
Latihan
hari itu berakhir dengan tim kami menang telak atas tim Kelas 1.
*
"Apa kita
punya peluang ya menang turnamen bola?"
"Basket ada
Nagiura dan Haira, sepak bola juga banyak yang jago. Kita punya peluang
besar," ujar salah satu teman.
"Tetap saja
level senior lebih tinggi," timpal yang lain.
Sepulang sekolah,
aku harus menghadiri rapat komite pelaksana. Aku berpapasan dengan Miori di
depan kelas.
"Hari ini
kita bakal mengerjakan apa?"
"Tugas remeh seperti penyesuaian Point System
atau membuat pajangan," jawabku.
"Uee...
merepotkan sekali..."
Kami berjalan
bersama menuju ruang rapat. Di tengah jalan, Nagi berlari kecil menghampiri
kami.
"Rapat hari
ini juga pasti menyenangkan!"
"Itu karena
ada Funayama-san?" tanya Miori kepada Nagi. Nagi hanya bisa menjawab
dengan malu-malu.
Saat kami
berbelok, Funayama-san sedang berjalan di depan kami. Nagi langsung gemetar
ketakutan.
"Tuh, ajak
bicara sana," kataku.
"E-eh!? Kita
sedang bersama-sama begini, kenapa harus aku?"
"Siapa yang
menyapa duluan, kesannya akan lebih baik."
Di tengah
percakapan, Funayama-san menyadari kami dan menyapa dengan sopan.
"Ha-halo!
Hari ini cuacanya bagus sekali ya!"
Nagi panik dan
mengucapkan kalimat yang salah. Padahal hari ini mendung.
"...Mendung,
ya," gumam Funayama-san.
"I-iya ya...
maafkan aku..."
Suasana menjadi
sangat canggung. Nagi terus tertawa hambar dan Funayama-san kehilangan celah
untuk bicara.
"Komite
pelaksana memang merepotkan, tapi ya, mari kita berusaha," kataku berusaha
mencairkan suasana.
"Semoga bisa
cepat selesai ya," timpal Miori.
Nagi dan
Funayama-san terlihat lega, namun mereka masih kaku. Aku menarik Nagi sedikit
ke samping.
"Hei, Nagi.
Tolong tarik perhatian Funayama-san sebentar," bisikku pada Miori agar dia
bisa mengobrol dengan Funayama-san.
Setelah Miori
mulai mengobrol, aku berbisik pada Nagi.
"Nagi,
kuncinya adalah tunjukkan ketertarikanmu pada lawan bicara," kataku.
"I-iya, saya akan coba," jawab Nagi.
Nagi pun
memberanikan diri. "Funayama-san, katanya kamu lihat konser festival
budaya kemarin ya?"
"I-iya..."
"Kamu suka band rock?"
Mendengar
itu, Nagi mulai bercerita dengan semangat tentang musik. Funayama-san pun merespons dengan antusias.
"Ternyata
mereka bisa akrab juga ya," bisikku pada Miori.
"Iya, kamu
dulu juga tidak sesusah ini," jawab Miori.
"Aku sering
merepotkanmu, ya?"
"Tidak juga,
aku justru dibantu olehmu," jawab Miori dengan sendu.
Kami sampai di
kelas tempat rapat diadakan.
"Selamat
siang," sapa kami.
Nagi masih
terlihat sangat bersemangat.
"Natsuki,
boleh tanya sesuatu?" tanya Nagi dengan suara kecil.
"Apa
itu?"
"Motomiya-san
itu mantan pacarmu ya?"
"............Haa!?"
Sial. Karena
tanpa sadar aku berteriak keras, perhatian semua orang tertuju padaku.
Aku buru-buru
menundukkan kepala kepada para senior yang menatapku.
"Hei, jangan
bertanya hal aneh secara tiba-tiba begitu."
"E-emangnya
aneh ya? Kalau melihat interaksi tadi, siapa pun pasti bakal mikir
begitu."
Aku memprotes
dengan suara pelan, tapi Naru mengatakannya dengan wajah bingung.
...Apakah dia
bicara soal interaksi tadi? Memang benar itu bukan pembicaraan yang pantas
didengar orang lain, tapi aku tidak mengerti kenapa dia menghubungkannya dengan
mantan pacar.
"Dia bukan
mantan pacarku. Dia cuma teman biasa."
"Istilah
'teman biasa' itu... justru makin sulit dipercaya, sih..."
Padahal aku
menyatakan fakta, tapi entah kenapa Naru malah meragukanku. Di bagian mana yang
sulit dipercaya?
"Halo.
Perhatian. Rapat hari ini kita mulai ya."
Pada akhirnya,
Senior Yanagishita memulai rapat komite pelaksana, jadi aku tidak bisa
menanyakan hal itu lagi.
Rapat berjalan
dengan tenang. Secara garis besar, Senior Yanagishita dan orang-orang di
sekitarnya sudah memadatkan kerangka apa yang ingin diputuskan hari ini.
Jadi, tugas kami
hanyalah memberikan pendapat pada detail-detail kecilnya saja.
"Kalau
begitu, poin untuk tiap cabang olahraga, ini sudah diputuskan ya."
"Tidak ada
keberatan. Terus, selanjutnya apa?"
"Yah, jadwal
waktunya. Aku sudah buat drafnya, jadi tolong berikan pendapat kalau ada."
"Gedung
olahraga kita punya tiga lapangan, jadi nyaman banget kalau situasi seperti
ini."
"Benar juga.
Kalau ada yang meleset sedikit pun, masih bisa disesuaikan. Begini saja,
bagaimana?"
Saat semua yang
diperlukan sudah diputuskan dan aku berpikir rapat hari ini sudah selesai—
"...Anu.
Menurut jadwal ini, sepertinya tidak ada waktu luang di lapangan sisi gedung
sekolah."
Yang
mengangkat tangan dan angkat bicara ternyata adalah Funayama-san.
Karena sedari
tadi pembicaraan didominasi oleh anak kelas tiga, semua orang tampak terkejut.
"...Hmm.
Memang benar, kurasa lebih baik kalau kita memberi sedikit kelonggaran."
Senior
Yanagishita meletakkan tangan di dagunya, mempertimbangkan pendapat
Funayama-san.
"Tapi,
bukannya sulit ya? Lapangan sisi gedung itu buat basket putra, kan? Berbeda
dengan cabang lain, durasi pertandingannya panjang, dan kali ini jumlah
pesertanya menumpuk di putra. Kalau tidak dipangkas di suatu tempat, jadwalnya
tidak akan selesai."
Seorang anak
kelas tiga yang berposisi sebagai pendukung Senior Yanagishita mengatakannya
dengan wajah sulit.
Terus terang, aku
tidak terlalu menyimak, tapi aku berusaha mengejar isi pembahasannya.
Basket dan sepak
bola adalah sistem pilihan antara putra dan putri, jadi bobotnya berubah
tergantung angkatan. Kali ini anak laki-laki menumpuk di basket, dan anak
perempuan menumpuk di sepak bola. Karena itulah jadwal lapangan sisi gedung
sekolah yang rencananya dipakai basket putra jadi tidak punya ruang, dan itu
dianggap sebagai masalah.
"Apa ada
usulan konkret?"
"...Iya.
Tadi sudah saya tulis di kertas. Bagaimana kalau seperti ini?"
Funayama-san
menyerahkan draf jadwal yang sudah dia perbaiki kepada Senior Yanagishita.
Setelah memeriksa
kertas itu di sekitar anak kelas tiga untuk beberapa saat, Senior Yanagishita
akhirnya mengacungkan jempol.
"Oke! Kalau
begitu ini keputusannya! Namanya Funayama-chan, kan? Terima kasih ya."
"Ah, tidak... maaf. Saya sudah lancang."
"Eits!
Tidak perlu sungkan begitu! Lagipula,
ini sangat membantu. Anak kelas satu lainnya juga, terima kasih sudah memberi
pendapat. Maaf ya, kami jadi memutuskan sendiri di sini."
Setelah berkata
begitu, Senior Yanagishita mengalihkan pandangannya padaku.
"Kamu
Haibara-kun, kan? Penampilan panggungmu di festival budaya keren banget. Aku
sampai terharu."
"Eh? Ah,
terima kasih banyak."
Rasanya aneh
sekali. Dari sisiku, perasaan bahwa Senior Yanagishita adalah kapten klub
basket belum hilang, tapi dia justru memperlakukanku sebagai anak kelas satu
dari klub musik ringan. Ya memang kenyataannya begitu, sih.
Aku menyukai
Senior Yanagishita. Mulai dari musim semi saat aku masuk klub, hingga dia
pensiun di musim panas, meskipun waktunya singkat, dia selalu memedulikanku
yang merupakan junior merepotkan.
"Di turnamen
bola, kamu ikut apa?"
"Basket."
"Oh! Bagus
tuh. Aku juga ikut basket. Kalau nanti bertemu, tolong jaga permainannya
ya?"
Senior
Yanagishita menepuk bahuku dengan ringan dan berkata dengan santai.
"Tapi, aku
tidak akan kalah ya? Aku ini sempat jadi kapten klub basket sampai musim panas
kemarin."
Senior
Yanagishita tersenyum menantang. Matanya serius. Dia tidak menganggap ini
sekadar turnamen bola biasa.
Tapi, itu wajar
saja. Orang ini selalu bersungguh-sungguh dalam hal kompetisi.
"Aku juga
tidak akan kalah. Soalnya, aku lumayan jago basket."
"Oh! Berani
juga kamu! Bagus, kalau begitu baru seru!"
Senior Yanagishita tertawa dengan riang.
Setelah itu, dia
menatap kami anak kelas satu satu per satu lalu memberi pesan.
"Yah,
mumpung ada acara seperti ini. Jangan bersikap sinis, mari kita nikmati
sepuasnya."
Jika orang lain
yang mengatakannya, mungkin terasa sedikit klise, tapi ada keyakinan saat
Senior Yanagishita yang mengucapkannya.
Selain itu,
sebagai seseorang yang sedang mengulang masa mudaku, aku bisa memahami
pemikiran itu. Meskipun tidak bisa memaksakan orang lain, menurutku akan lebih
seru kalau kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Karena masa muda hanya
terjadi sekali.
...Tidak, kalau
aku sih ini sudah yang kedua kalinya, ya?
*
"Shizuki-chan,
hari ini kamu hebat sekali. Aku sampai kaget."
Kami berempat
anak kelas satu berjalan pulang menuju kelas. Ini sudah menjadi rutinitas untuk
kedua kalinya.
"Tidak,
aku tidak bicara hal yang hebat kok..."
Funayama-san
merendah dengan bingung, tapi menurutku tidak begitu.
"Tidak,
tidak, hebat sekali bisa bicara dengan lantang di tempat tadi!"
Miori mengatakan
itu lalu melirik ke arah Naru.
Sepertinya Naru
mengerti maksudnya, dia pun mengangguk kecil.
"Aku juga
setuju. ...Kalau aku di tempat seperti itu, aku pasti tegang dan tidak bisa
bicara apa-apa."
Naru menertawakan dirinya sendiri dengan tatapan jauh.
Itu adalah momen untuk memuji, tidak perlu merendahkan diri
sendiri, lho!
Saat aku merasa
gemas, Funayama-san menggelengkan kepalanya.
"...Tidak
begitu. Shinohara-kun, saat festival budaya, bukankah kamu bermain di depan
penonton yang begitu banyak? Bahkan saat perkenalan anggota, kamu sampai
berpose mengepalkan tangan."
"T-tolong
jangan bahas hal itu..."
Naru wajahnya
memerah karena malu dan bergumam tidak jelas.
Funayama-san
menggembungkan pipinya.
"...Aku akan
bahas. Karena aku terharu. Mungkin kata-kataku terdengar buruk, tapi
Shinohara-kun yang biasanya kupikir tipe pendiam dan biasa saja sepertiku...
terlihat sangat bersinar... Jadi, aku berpikir mungkin aku juga bisa berubah,
aku juga ingin berubah."
Naru terpaku oleh
perkataan serius Funayama-san.
Mungkin sulit
dipercaya, tapi musik kami sampai ke banyak tempat.
Bass-mu,
keberanianmu, itulah yang menggerakkan hati orang lain.
Syukurlah.
Benar-benar syukurlah.
...Entah
kenapa aku juga merasa senang seolah itu pencapaianku sendiri.
"Berbeda
dengan Shinohara-kun, aku memang tidak melakukan hal yang hebat, tapi karena
aku berpikir aku pun bisa mengeluarkan pendapatku... meskipun tegang, akhirnya
aku bisa melakukannya."
Funayama-san
mengendurkan ekspresinya dengan lega.
Aku sempat
mengira dia tipe yang bisa bicara di tempat seperti itu, ternyata salah ya.
Dia sedang
mengumpulkan keberanian untuk mengubah dirinya sendiri.
"..."
Aku
menepuk punggung Naru yang mematung dengan mulut ternganga.
Naru
menatapku dengan wajah linglung seolah belum merasakan kenyataan.
"Bisa
ada orang yang berkata seperti ini, itu semua berkat Natsuki yang
mengajakku."
"Tidak,
ini hasil kerja kerasmu. Percayalah pada dirimu."
Aku
menepuk punggungnya sekali lagi agar dia bisa kembali ke realita.
"...Ngomong-ngomong,
Shinohara-kun suka band apa?"
"Ah,
aku suka Sonic Youth... menurutku yang nomor satu tetap 'Goo'. Selain
itu Red Hot Chili Peppers atau Radiohead. Lainnya, eh, cuma band yang terkenal
saja sih—"
Pertanyaan Funayama-san membuat mereka beralih ke topik
musik.
Aku tidak
begitu paham musik barat, jadi aku tidak bisa mengikuti obrolannya.
Miori
juga hanya mengangguk dengan wajah bingung. Yah, sudah bisa ditebak.
"Ah...
apa kalian akan mengadakan konser lagi di suatu tempat? Aku ingin sekali
menontonnya."
Tiba-tiba
Funayama-san berkata begitu, aku dan Naru saling menatap dengan wajah sulit
dijelaskan.
Sampai
hari ini, bukan cuma Funayama-san, tapi banyak orang yang mengatakan hal itu
pada kami.
Namun band kami sudah berakhir. Entah apakah kami akan
memulai kembali dengan anggota baru atau tidak.
Sampai sekarang
pun, aku masih menunggu jawaban Serika.
——Hari ini pun,
Serika tidak menampakkan diri di ruang musik kedua.
*
Setelah rapat
komite pelaksana selesai, aku dan Naru datang ke taman dekat sekolah.
Taman ini punya
lapangan basket. Saat di kehidupan pertama dulu, aku sesekali memanfaatkannya.
Sekarang
pukul enam sore. Langit diwarnai jingga senja. Hari semakin cepat gelap, tapi taman ini punya
lampu sorot, jadi bermain pun tidak masalah meski gelap.
"Lagipula,
tidak disangka aku benar-benar akan mengajarimu basket."
Aku
mengeluarkan bola basket yang kubeli di toko olahraga terdekat lalu melemparnya
ke Naru.
Naru
menangkap bola itu dengan sedikit panik.
"Aku
tadinya setengah bercanda sih... tapi karena Funayama-san bilang dia
mendukungku. Aku memang tidak pandai olahraga, tapi aku ingin berusaha dan
menunjukkan sisi kerenku padanya."
"Heh, bagus
tuh. Sisanya tinggal menyatakan cinta saja."
"Ja-jangan
bilang semudah itu! Dia memang sepertinya tidak membenciku, tapi aku tidak tahu
apakah dia benar-benar memikirkanku, dan lagi, kami baru saja bicara lancar
beberapa hari ini. Harus jadi lebih dekat lagi."
"Tidak
apa-apa. Kamu pasti bisa."
"Jangan
samakan aku dengan Natsuki yang bisa menyatakan cinta di panggung besar begitu
dong!"
"Aku waktu
itu juga tegang sekali, tahu."
Aku mengerti
perasaan Naru. Kita tidak ingin menyatakan cinta meski tahu mungkin akan
ditolak. Kita ingin kepastian bahwa kita akan diterima. Karena kita takut
kehilangan. Butuh keberanian untuk mengubah hubungan.
Karena aku sudah
dengar perasaan Funayama-san dari Miori, aku tahu dia tidak akan gagal, jadi
aku merasa ini bertele-tele. Tapi kalau aku ceritakan itu, melanggar etika.
Sulit sekali.
"...Aku juga
sudah tukar LINE. Mulai sekarang, kami akan jadi lebih dekat lagi."
Naru
mengatakannya dengan wajah penuh tekad lalu melempar bola padaku. Bentuk
lemparannya seperti anak kecil yang melempar bola baseball, sangat canggung.
Sepertinya harus mulai dari operan dulu.
"Pegang bola
di depan dada, buat segitiga dengan ibu jari dan telunjuk. Lalu, sambil melangkahkan kaki,
gunakan jentikan pergelangan tangan. Bayangkan seperti sedang mendorong beban
dengan berat tubuhmu."
Sambil
menjelaskan chest pass pada Naru, aku melempar bola kembali.
Naru
berkata "wa, wa," sambil berusaha menangkap bola, tapi bolanya malah
jatuh ke tanah.
"Saat
menangkap, posisikan tangan di depan dada, jangan takut dan panggil bolanya.
Cara Naru sekarang membuatmu sulit menangkap karena tanganmu sendiri yang
bergerak maju. Tunggu, lalu tangkap."
Setelah
aku jelaskan dengan gerakan tubuh, Naru mengangguk mantap.
"...I-iya!"
Sejak
itu, kami mengulang operan berkali-kali.
Naru tidak punya
bakat sedikit pun, tapi dia sangat serius.
Sepertinya dia
benar-benar ingin menunjukkan sisi keren dirinya. Aku bisa memahami
motivasinya. Itulah sebabnya aku jadi ingin membantu. Kalau dia
bersungguh-sungguh, mengajarinya pun jadi menyenangkan.
"Nah, gitu!
Mulai terasa bagus. Tapi, bayangkan untuk mendorong lebih dengan tubuhmu."
"Iya!
G-gini, ya!?"
"Agak beda!
Dengar, begini!"
"Gini,
ya!?"
"U-uuh...
tidak, tidak! Bukan
begitu! Lihat, harusnya seperti ini!"
"Mengerti!
Seperti ini, ya!"
"Bukan, sama
sekali bukan itu."
"Eh!?"
Aku terus
melakukan metode coba-coba seperti itu untuk menanamkan gerakan dasar operan
pada Naru.
Berkali-kali Naru
terlihat murung, tapi sebenarnya aku pun tidak punya bakat. Meskipun begitu,
latihan yang konsisten akan membuat kita sedikit lebih baik. Tekad seorang
orang biasa terkadang bisa melampaui kejeniusan.
—Sama seperti
saat aku mengalahkan Tatsuya dulu.
"Yosh!
Operanmu sudah mulai lancar. Kalau begini, pasti berguna di pertandingan
nanti."
"A-ah,
terima kasih...! Ini berkat Natsuki!"
"Ya sudah,
sekarang giliran lemparan shoot."
"Eh...?
Bukannya hari ini sudah selesai...?"
"Apa yang
kamu katakan? Bukannya kamu ingin menunjukkan sisi kerenmu pada
Funayama-san?"
"Ha-hahaha...
benar juga ya..."
Meski seharusnya
dia sangat bersemangat, entah kenapa mata Naru terlihat gelisah.
Jangan-jangan dia
merasa tidak enak padaku? Padahal dia tidak perlu merasa begitu.
Karena itulah,
aku memutuskan untuk mengajarinya gerakan dasar shoot.
*
Saat aku
menyelesaikan semua penjelasannya, langit sudah berubah menjadi gelap gulita.
Meskipun lampu
sorot lapangan sudah menyala, jarak pandang menjadi buruk begitu kita menjauh
dari lapangan.
"A-aku sudah tidak kuat lagi..."
Naru terkapar
lemas di bangku panjang.
Untuk seseorang
yang biasanya tidak pernah berolahraga, usahanya sudah cukup hebat.
"Besok pasti
ototmu pegal semua."
"Kenapa
Natsuki bisa terlihat santai sekali...?"
"Karena aku
rutin latihan otot. Latihan otot itu bagus, tahu. Latihan otot membuat dunia
menjadi lebih kaya."
"Eh,
kok terdengar agak menakutkan..."
Setelah
Naru tumbang, aku lanjut melakukan latihan mandiri.
Untuk
bisa berkontribusi di turnamen bola, aku harus mengembalikan insting
permainanku.
Menghadapi kelas
para senior, kekuatanku saat ini jelas masih belum cukup.
Aku melakukan dribble
pelan lalu melepaskan shoot.
Ujung jariku
sedikit goyah, bola mengenai ring dan memantul keluar.
"...Harus
sedikit lebih tinggi lagi, ya?"
Sambil menghela
napas, aku mengikuti ke mana arah bola itu pergi.
Di balik
kegelapan, seseorang memungut bola yang sedang menggelinding itu.
Gadis
dengan seragam yang sama mendekat dari balik kegelapan itu. Dia adalah Motomiya Miori.
"Apa yang
kamu lakukan di tempat seperti ini?"
Miori melakukan dribble
yang seolah menempel di tangannya, lalu memutar bola itu di ujung jari.
"Latihan
buat turnamen bola."
"Kalau kamu
sih tidak heran, tapi sampai Shinohara-kun juga?"
"Sepertinya
dia ingin menunjukkan sisi keren dirinya pada Funayama-san."
"..."
"Entah
kenapa, rasanya mirip sekali denganmu. Motif untuk berusaha itu, benar-benar
kekanak-kanakan."
Miori
terkekeh pelan. Berisik sekali dia!
Tapi, aku harus
akui kalau memang ada kemiripan.
"Lagipula,
bukannya kamu tidak pernah lewat sini saat pulang sekolah?"
"Hmm...
entahlah, lagi pengen jalan-jalan saja. Terus, kebetulan melihatmu."
...Dia mencoba
bersikap seperti biasa, tapi itu bohong. Jelas sekali ada sesuatu yang terjadi.
Hanya dari suaranya saja aku tahu itu. Karena dia sendiri tidak bicara, aku
jadi bingung apakah harus menegurnya atau tidak.
"Hei,
Natsuki."
Miori berdiri di
tengah lapangan lalu memberikan bola itu kepadaku.
"Biar
kutemani latihan mandiri."
Dia
berkata begitu sambil mengambil posisi bertahan.
Baiklah
kalau begitu. Kalau kamu tidak mau bicara, aku juga tidak akan bertanya.
"—Satu lawan
satu, siapa yang mencapai tiga poin duluan dia yang menang."
*
"Nah, ini
kemenangan keduaku."
"I-itu
curang! Kamu belum kasih aba-aba mulai! Ulangi!"
"Yah—oke,
sempurna. Yang ini tidak masalah, kan?"
"Grrr...
sekali lagi! Sekali lagi kubilang sekali lagi!"
"Hah,
merepotkan sekali..."
"...Sial!
Serius? Itu pasti cuma keberuntungan!"
"Meskipun
keberuntungan, kalau masuk ya tetap menang. Yah, mengakulah kalau kalah!"
"Padahal
kamu hampir kalah terus. Tidak usah sombong cuma karena menang sekali..."
Aku
membeli minuman di mesin penjual otomatis dan meneguknya sampai habis.
"Puh,
hidup lagi rasanya..."
Bahkan aku yang
terbiasa pun merasa sangat lelah. Rasanya sudah tidak bisa bergerak lagi.
Padahal awalnya
cuma main satu lawan satu sampai tiga poin, tapi karena Miori yang kalah terus
merengek...
...Capek sekali.
Lagipula sekarang jam berapa? Aku melihat ponsel, ternyata sudah lewat pukul
sepuluh malam. Ini terlalu larut. Kalau naik kereta sekarang, aku baru sampai
rumah lewat pukul sebelas.
Ngomong-ngomong,
Naru yang sudah kelelahan sudah pulang sejak lama. Mungkin dia bosan menunggu
kami yang terus bermain basket. Aku memang merasa tidak enak karena
membiarkannya sendirian...
Aku membawa
minuman yang kubeli di mesin penjual otomatis lalu kembali ke tempat Miori.
Miori
sedang berbaring di rerumputan taman.
Sudah jam segini,
tidak ada orang lain selain kita, tapi apa pantas melakukan itu?
"Seragammu
bisa kotor, tahu."
"Sudah
terlambat, kan? Lagipula besok Jumat, nanti hari Sabtu atau Minggu tinggal bawa
ke laundry saja."
"Ini, aku
belikan minuman."
"Beli
apa?"
"Susu
stroberi. Kamu suka, kan?"
"Aku mau
bilang 'kamu pengertian sekali', tapi sekarang aku cuma ingin air putih."
"Sudah
kuduga kamu bakal bilang begitu, jadi aku juga beli air putih."
"Eh, beneran
pengertian ya. Kamu sudah dewasa, ya."
Miori
mengangkat tubuhnya dan menerima botol air putih yang kuberikan.
"Ya, tapi
itu bekas aku minum sedikit sih."
"Uh!?
Tunggu, kamu ini..."
Mungkin karena
tersedak, Miori terbatuk-batuk.
"Lagipula,
kamu bukan tipe orang yang memedulikan hal seperti itu, kan?"
Melihat
tingkahnya yang bodoh itu, tawaku pecah. Aku duduk di samping Miori.
"Dulu
sama sekarang kan beda. Soal... perbedaan pria dan wanita, dan hal-hal lainnya,
kan?"
Miori
memerah padam sambil terbata-bata. Jarang sekali dia seperti ini.
Tapi,
mungkin yang dibilang Miori memang benar. —Memang benar, semuanya sudah berbeda
dari dulu.
Aku,
Miori, dan hubungan yang mengelilingi kami, semuanya telah berubah.
Aku
menatap langit malam yang bersih tanpa awan.
Bintang-bintang
yang bertebaran terlihat sangat indah.
"...Hei,
ingat tidak? Saat pertama kali kita bertemu."
Sampai sekarang
pun, hanya momen itu yang bisa kuingat dengan sangat jelas.
"...Memangnya
ada apa? Aku tidak terlalu ingat."
"Kamu pasti
begitu ya."
Bagi Miori, itu
mungkin hanya potongan kejadian sehari-hari yang biasa saja.
Namun bagiku, itu
adalah kenangan yang sangat berharga.
『Hei, sedang
apa? Ayo main sama kita!』
Musim semi kelas
satu SD.
Miori
menggenggam tanganku yang tidak bisa masuk ke dalam lingkaran pertemanan.
Itulah
awal mula aku mendapatkan teman-teman yang akrab denganku.
"Aku
penasaran, sekarang Takuro lagi apa ya."
"Nama
yang bikin kangen. Dia anak yang lucu sekali."
Aku
mengingat nama sahabat yang dulu selalu bermain bersama aku dan Miori.
Takuro
agak gemuk dan mudah sekali diajak bertengkar, tapi dia anak yang menyenangkan
dan tidak pernah lepas dari senyuman.
"Dia pindah
ke Osaka, lalu kita tidak pernah bertemu lagi. Dulu juga tidak ada cara untuk
berkomunikasi."
"Eh, itu
waktu kapan ya? Kelas lima SD? Atau enam?"
"Kelas lima,
kan? Waktu karyawisata pun dia sudah tidak ada."
"Ah, benar
juga. Waktu itu tinggal aku, kamu, dan... Shuto ya."
"Shuto ya.
Dia juga masuk SMP yang berbeda dengan kita, lalu setelah itu..."
Itu juga
nama yang sangat dirindukan.
Tidak ada
orang yang lebih pantas disebut bodoh selain dia.
Shuto
adalah pria yang sangat ceria dan selalu dipenuhi dengan semangat.
"Ternyata
benar ya. Aku sesekali bertemu dengannya. Kita masih terhubung di Minsta.
Sesekali aku melihat postingannya, sepertinya dia masih lanjut bermain sepak
bola di SMA Higashi."
"Begitu
ya. Syukurlah kalau dia baik-baik saja."
Waktu
itu, kami berempat selalu bermain bersama: aku, Miori, Shuto, dan Takuro.
『Hari ini kita
adakan kejuaraan lempar batu ke air! Pertama, lari ke pinggir sungai!』
『Oke! Aku tidak
akan kalah! Waaa! Aku yang pertama sampai!』
『Tiba-tiba
kenapa sih... Miori dan Shuto semangat sekali sampai aku tidak bisa
mengikutinya.』
『Hahaha! Mereka
bebas sekali seperti biasanya! Kita juga harus pergi, Natsuki.』
Mengesampingkan
kami bertiga, yang selalu memimpin adalah Miori.
Kami pernah
dimarahi guru karena membuat keisengan, Miori pernah bersembunyi saat main
petak umpet sampai malam hingga tidak ada yang bisa menemukannya, kami pernah
menyelinap ke sekolah di malam hari, atau pernah sok-sokan ingin bersepeda
sampai ke Tokyo tapi menyerah di tengah jalan karena lelah lalu kembali pulang.
Keesokan harinya kami semua tumbang karena otot pegal. Dulu kami benar-benar
bodoh. Memikirkannya saja membuatku malu.
"...Menyenangkan
ya."
Miori berbisik
pelan. Dia pasti sedang mengingat kenangan yang sama denganku.
Dulu kami memang
tidak bisa diharapkan, tapi—tetap saja, itu adalah waktu yang sangat
menyenangkan.
"...Kukira
selamanya kita akan terus berempat seperti itu."
"Aku
pun, berpikir begitu. Aku tidak bisa membayangkan berteman dengan orang lain
selain mereka."
Namun, aliran
waktu itu kejam. Tidak
ada yang tidak berubah.
Takuro dan Shuto,
keduanya menjalani jalan hidup masing-masing. Aku bisa bersama Miori sampai
sekarang pun rasanya seperti keajaiban. Karena dalam sejarah yang seharusnya,
tidak akan ada lagi hubungan di antara kami.
...Sama seperti
itu, enam orang yang sekarang pun, perlahan akan berubah seiring berjalannya
waktu.
Tempat yang dulu
begitu nyaman untuk ditinggali, sekarang rasanya sedikit menyesakkan napas.
"—Aku ingin
kembali ke masa itu."
Orang
yang berbisik begitu adalah Miori.
"Karena
waktu itu menyenangkan. Tidak ada kekhawatiran seperti sekarang."
"...Apa
kamu punya kekhawatiran? Bukannya keinginanmu untuk berpacaran dengan Reita
sudah terkabul?"
"...Banyak
sekali. Kita bukan lagi anak-anak, tapi kita juga belum jadi orang dewasa
seutuhnya. Perasaan kita bukan cuma sekadar senang atau sedih yang
sederhana."
Miori menatapku.
"Kamu juga
sama, kan?"
"Kenapa kamu
berpikir begitu?"
"Karena
meskipun kamu sudah bisa berpacaran dengan Hikari, wajahmu tidak terlihat
bahagia."
Miori selalu tahu
segalanya.
—Aku hanya
berlari dengan seluruh kekuatanku. Agar kali ini, aku tidak punya penyesalan lagi.
Di sinilah masa
kini yang sudah kuubah. Jadi
aku tidak punya hak untuk mengeluh.
"...Apa
jangan-jangan, kamu menyesal? Dengan jalan yang kamu pilih sendiri."
Mendengar
pertanyaan Miori, aku menggelengkan kepala.
Kupikir masih ada
cara lain. Cara untuk mengabulkan keinginan tanpa merusak hubungan pertemanan
kami.
Namun, meskipun
aku tahu itu, aku rasa aku tetap akan memilih jalan ini.
Karena aku merasa
ini yang paling jujur.
Jadi bagaimana
pun hasilnya nanti, aku tidak akan menyesal.
"Begitu
ya."
...Benarkah
begitu?
Apakah perasaan
ini bukan penyesalan?
Aku tidak tahu.
Padahal seharusnya aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan.
"Tapi kan,
tidak ada salahnya kalau tidak menyerah sekarang?"
Miori mengangkat
tubuhnya lalu menusukkan jarinya ke hidungku.
"Kamu
berpikir karena retaknya hubungan grup pertemanan kita itu salahmu sendiri,
jadi kamu tidak punya hak untuk melakukan apa pun, kan? Kejujuran itu memang
sifat baikmu, sih."
"...Faktanya,
memang salahku. Aku yang membuat semua orang terombang-ambing."
"Tapi, kalau
dibiarkan terus seperti ini, bukannya masa muda yang kamu impikan tidak akan
tercapai?"
"Mungkin
benar begitu, tapi..."
Miori mulai
meminum susu stroberi milikku tanpa izin. Padahal tadi dia bilang mau air
putih.
"Hei, pilih
salah satu saja."
"Sayangnya,
keduanya milikku."
Melihat Miori
meminum susu stroberi itu dengan lahap, kemarahanku pun hilang.
"...Tidak
apa-apa, kan? Cobalah untuk jadi lebih egois seperti diriku."
Kata-kata Miori
perlahan menyusup ke dalam hatiku.
"—Karena,
kamu tidak mau menyesal lagi, kan?"
Benar
kata Miori. Bukankah aku mengulang waktu ini karena aku merasa masa mudaku dulu
penuh dengan penyesalan?
Jika
begitu, mendapatkan masa muda yang berwarna pelangi harus jadi prioritas utama.
"...Entahlah.
Agak aneh rasanya mendengar itu dariku yang penuh penyesalan."
Setelah itu, ada
keheningan sejenak.
Kami berdua duduk
berdampingan, menatap langit malam dalam diam.
"...Boleh
kutanya, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku tidak
akan memberi tahu siapa pun kecuali kamu. Tapi, itu semua karena dirimu."
"Eh!?"
Karena aku!?
Kalau begitu aku jadi makin penasaran!
Namun, sepertinya
Miori tidak punya niat untuk cerita. Ada apa sebenarnya...
"Sebentar
lagi kita harus pulang."
"Benar juga.
Kalau tidak hati-hati, kita bakal ketinggalan kereta terakhir."
"Tapi, aku
lelah sekali sampai tidak bisa berdiri."
Sambil berkata
begitu, Miori berusaha berdiri.
"Eh...?"
Mungkin karena
kakinya kesemutan, Miori tiba-tiba terhuyung.
—Tepat sebelum
itu terjadi, aku berhasil menangkap dan memeluk Miori.
"Ma-maaf...
kakiku, tidak bisa bergerak dengan benar..."
Lagipula,
berbeda denganku, dia baru saja menjalani latihan satu lawan satu setelah menu
latihan klub yang berat.
Tentu saja
kakinya akan mencapai batas.
"Sudah
kubilang berhenti di tengah jalan tadi, kan."
"Aku tidak
mau. Mana mungkin aku mau berakhir dengan kekalahan terus."
"Kamu tetap
saja tidak suka kalah ya..."
Sambil tersenyum
kecut, aku melepaskan tangan dari Miori yang sudah berdiri tegak kembali.
"...Hei,
Miori?"
"..."
Namun, Miori
justru memelukku erat dan tidak mau melepaskannya.
Karena dia
menyembunyikan wajahnya di dadaku, aku tidak bisa melihat ekspresinya.
"...Apa ada
yang salah?"
Aku mencoba
menepuk-nepuk kepala bagian belakangnya pelan.
"...Hei,
Natsuki."
Lalu Miori,
dengan suara yang terdengar sangat serius, mulai mengucapkan hal yang tidak
terduga.
"Bagaimana
kalau aku bilang... aku menyukaimu?"
...Karena itu
adalah pernyataan yang terlalu tak terduga, pikiranku seketika menjadi kosong.
Apa yang harus
kulakukan? ...Maksudku, Miori menyukaiku? Lalu, bagaimana dengan Reita?
Saat aku sedang mematung, Miori melepaskan pelukannya, lalu
tertawa terbahak-bahak.
"Ahahaha!
Apa-apaan itu, kok serius banget? Jelas-jelas itu cuma bercanda."
"……Diamlah. Meskipun itu cuma bercanda, aku tidak tahu
harus menjawab apa."
Lagipula, situasinya sama sekali tidak seperti bercanda.
Berhentilah berakting dengan kemampuan yang terlalu hebat
seperti itu!
"Aku pulang! Kalau tidak cepat-cepat, kereta
terakhirnya bakal habis!"
Miori
berlari dengan gesit dan melambaikan tangan dari jarak yang agak jauh.
"……Ternyata
kakinya baik-baik saja."
Mau tak
mau, aku mengejar Miori dengan langkah cepat.
*
Keesokan harinya,
ototku terasa pegal semua.
Bangkit
dari tempat tidur saja butuh perjuangan berat.
Meskipun hari
libur, aku tidak bisa bermalas-malasan tidur seharian.
Hikari akan
datang ke rumah nanti, jadi aku harus melakukan persiapan.
Ya, hari ini
adalah hari kencan rumah bersama Hikari!
"Natsuki?
Pacarmu mau ke sini, kan? Bersihkan kamarmu sana."
"Aku tahu.
Aku memang berencana melakukannya dari tadi."
"Kamu selalu
bilang begitu. Lagipula..."
Sambil
mengabaikan omelan Ibu, aku mulai membersihkan kamar.
Kamarku memang
rutin dibersihkan dan sudah rapi, tapi tak ada salahnya berjaga-jaga.
Omong-omong, hari
ini Namika pergi bermain dengan teman-temannya, tapi Ibu ada di rumah.
"Senang ya.
Tidak kusangka Natsuki akhirnya punya pacar, padahal beberapa waktu lalu
rasanya mustahil."
Ibu yang
tampak bersemangat sedang menyedot debu di ruang tengah.
"Jujur saja,
aku ingin Ibu pergi ke suatu tempat."
"Ibu cuma
mau melihat sekilas saja. Setelah itu Ibu mau pergi belanja."
Kata-kata Ibu
membuatku merasa lega.
Aku sempat
bingung harus bagaimana kalau dia terus-terusan muncul di depan pintu.
"Ah, apa
sebaiknya Ibu siapkan camilan atau sesuatu? Stoknya kebetulan habis..."
Ibu terus
mondar-mandir tanpa henti. Tolong jangan lebih gugup daripada aku.
"……Yosh,
segini sudah cukup."
Setelah
membuat kamarku berkilau bersih, aku menyeka keringat yang menetes di dahi.
Tepat
saat itu, ponselku bergetar. Ada notifikasi dari LINE.
Hoshimiya
Hikari: "Aku sudah mau sampai stasiun!"
Natsuki:
"Kalau begitu aku jemput ya. Tunggu sebentar."
Aku keluar rumah
dan menyusuri jalan menuju stasiun.
Pemandangan
dedaunan musim gugur di sepanjang jalan sangat cerah dan indah.
Daun ginkgo
berguguran, dan dedaunan kering dikumpulkan di tepi jalan.
Berjalan
menyusuri jalan desa yang familiar di mana mobil jarang lewat, aku sampai di
tujuan dalam lima menit.
Di pintu masuk
stasiun tak berawak, Hikari menyadari kehadiranku dan melambaikan tangan.
Ekspresinya
langsung cerah seketika. Ekspresi yang ia tunjukkan saat melihatku sungguh
curang.
Mustahil ada
orang yang tidak merasa dia itu imut. Astaga, pacarku imut sekali...
"Halo!
Natsuki-kun!"
Hikari berlari
menghampiriku, lalu langsung menggenggam tanganku.
"Hauah."
Terlalu mendadak
sampai aku mengeluarkan suara aneh yang memalukan. Tolong jangan langsung
berikan serangan penuh di awal!
"Ahaha,
suara apa itu?"
"Maaf karena
terdengar memalukan..."
"Tidak kok.
Natsuki-kun... hari ini pun terlihat keren."
...Astaga, jangan
terlalu memancingku seperti itu.
Bisa-bisa ada
yang mati nanti. Ya, aku orangnya.
"A-ayo
jalan."
"Ah, kamu
tersipu. Imutnya~"
...Gadis ini, dia
benar-benar mempermainkanku!
Sebenarnya dia
menganggapku keren atau imut sih!
Aku berharap yang
keren saja!
"Ini kedua
kalinya kita ke sini, ya."
Kami berjalan
menyusuri jalan dari stasiun ke rumah.
Pemandangannya
sama seperti sebelumnya, tapi kali ini ada Hikari di sampingku.
Hanya karena itu,
dunia terlihat jauh lebih berwarna.
"Pertama
kali itu waktu libur musim panas, ya."
Apakah sudah tiga
bulan berlalu sejak kejadian itu?
Saat Hikari
bertengkar dengan ayahnya, kabur dari rumah, dan meminta pertolonganku.
Rasanya baru
terjadi kemarin, tapi waktu berjalan begitu cepat.
"Maaf soal waktu itu ya. Tiba-tiba datang begitu
saja."
"Tidak apa-apa. Aku senang kamu mengandalkanku."
Karena kamu mengandalkanku, aku jadi bisa mengenal sosok
Hoshimiya Hikari yang sebenarnya.
Aku jadi bisa lebih menyukai orang yang sudah kusukai sejak
lama.
"Aku bisa
sebahagia ini sekarang karena Natsuki-kun."
"Aku hanya
membantu sedikit. Jadi, itu semua adalah hasil usahamu sendiri, Hikari."
"……"
"Hikari?"
Aku menatap
Hikari yang tiba-tiba terdiam di sampingku.
Hikari yang entah
kenapa menunduk, lalu membenturkan dahinya ke bahuku.
Belakangan ini,
aku mulai memahami perasaan Hikari saat dia melampiaskannya dengan kekerasan.
"Jangan-jangan,
kamu tersipu?"
"Berisik. Padahal kamu kan cuma 'debutan'
anak SMA..."
Sambil
menggembungkan pipinya yang memerah, Hikari menatapku tajam.
"H-hah?
Apaan sih. Padahal kamu sendiri yang katanya idola sekolah..."
Saat aku reflek
membela diri, Hikari diam-diam melancarkan serangan chop berkali-kali.
Rasanya lumayan sakit!
"Heroin tipe
kekerasan sudah tidak zaman lagi, tahu."
"Aku tidak
akan menyerah."
Tidak menyerah
itu bagus, tapi tolong jangan dibawa ke dunia nyata bisa tidak...?
"Hei,
sekolah tempat Natsuki-kun dulu, apa dekat sini?"
Hikari
tiba-tiba bergumam sambil melihat sekeliling.
"Kalau jalan
sepuluh menit ke arah sana, itu sekolah menengahku. Sekolah dasar juga dekat
sana."
"Boleh kita
mampir sebentar? Aku penasaran dengan tempat Natsuki-kun dibesarkan."
"Itu cuma
sekolah desa biasa, tidak ada yang menarik kok."
"Tidak
apa-apa. Aku tetap penasaran."
Aku sudah
memastikan, tapi tekad Hikari sepertinya sudah bulat.
"Ini dia,
sekolah menengah tempatku dulu."
Setelah berjalan
cukup jauh, sekolah itu tampak di tengah kawasan perumahan.
Sudah lama sekali
aku tidak ke sini. Ada
beberapa bangunan yang tidak kukenali.
"Lagi
konstruksi?"
"Oh
iya, aku sempat dengar kabar kalau gedung sekolahnya mau diperbarui."
"Jadi, yang
tua di sana itu gedung lama?"
"Benar. Dulu
aku sekolah di sana."
"Wah...
begitu ya. Di sinilah Natsuki-kun dulu sekolah..."
Hikari menatap
gedung lama yang tidak menarik itu dan pemandangan di sekitarnya dengan
saksama.
Di
lapangan, klub bisbol dan klub sepak bola sedang berlatih.
"Waktu SMP,
Natsuki-kun orangnya seperti apa?"
Sambil
berjalan berkeliling sekolah, Hikari bertanya padaku.
"Dulu
aku tidak punya teman, cuma penyendiri yang keberadaannya tipis."
Jadi tidak ada
cerita yang bisa kuceritakan pada Hikari.
Benar-benar
tidak ada. Masa SMP-ku terselesaikan sendirian.
"Tapi,
waktu SD kan kamu punya teman? Kamu kan teman masa kecil Miori-chan."
"Itu
benar. Selain Miori, ada dua teman akrab lainnya, dan kami selalu
berempat."
"……Meski
begitu, bolehkah aku tanya kenapa kamu jadi penyendiri?"
Hikari
bertanya sambil mencoba membaca ekspresiku.
"Satu
orang pindah sekolah, satu lagi menjauh, kami jadi tidak sering kumpul lagi,
dan akhirnya aku dan Miori bertengkar. Rasanya sejak itu selesai begitu saja. Lagipula aku tidak punya teman
lain."
"Natsuki-kun
dan Miori-chan bertengkar? Kenapa?"
"Itu
salahku. Aku yang mendorongnya menjauh."
Karena rasa
cemburu yang konyol dan emosi buruk semacam itu, aku melukai Miori.
……Jujur, aku
tidak ingin menceritakannya terlalu dalam.
Hikari mungkin
menyadari perasaanku, dia hanya bergumam "Oh begitu."
"Jadi
akhirnya, saat SMP kamu tidak punya teman... karena menyesal, aku memutuskan
untuk melakukan 'debut anak SMA'. Aku ingin mengubah diriku dan menghabiskan hari-hari yang
menyenangkan."
Sambil
berbincang seperti itu, kami sampai di depan SD.
Di sini
tidak ada yang berubah. Gedung
sekolah tua maupun lapangan yang luas.
"Kalau
begitu, ceritakan tentang masa SD-mu dong. Aku penasaran Natsuki-kun dan
Miori-chan waktu kecil seperti apa. Kamu bilang pernah jadi anak nakal,
kan?"
"Ah, kalau
soal itu aku bisa cerita sepuasnya. Kamu mungkin tidak percaya kalau cuma tahu
Miori yang sekarang, tapi dulu dia itu orang yang tindakannya serba
nekat—"
Saat aku memilih
beberapa cerita menarik masa SD, Hikari tertawa terbahak-bahak dan
mendengarkannya dengan senang. Yah, sebenarnya semua itu cuma cerita saat aku
dipermainkan oleh Miori.
Kami
melewati taman dekat SD. Taman tempatku sering bermain dengan Miori dan yang
lainnya.
Hikari
masuk ke taman dan duduk di bangku.
Anak-anak
sedang bermain di jungle gym dan ayunan. Sedikit teringat masa lalu.
"Natsuki-kun,
menurutmu mana yang lebih menyenangkan, sekarang atau saat SD?"
Menghadapi
pertanyaan Hikari, aku tidak bisa langsung menjawab.
"……Maaf.
Pertanyaanku aneh ya. Seharusnya tidak perlu dibandingkan."
"Tidak,
bukan berarti kamu harus minta maaf tapi..."
Entahlah.
Sebenarnya, aku
sendiri tidak tahu.
Masa SD bagiku
sudah menjadi kenangan yang sangat jauh. Jadi, mungkin hanya ingatan tentang
saat-saat menyenangkan yang tersisa. Atau mungkin, ingatannya sudah diperindah.
"Dulu kami
masih anak-anak. Tidak
ada masalah seperti sekarang, belajar pun tidak berat, jadi kurasa memang
menyenangkan."
Namun, aku
melanjutkan kata-kataku.
"Sekarang
pun menyenangkan. Debut SMA-ku sukses, aku punya teman, dan Hikari ada di
sisiku. Aku juga bisa melakukan kegiatan band yang kuinginkan, dan usaha keras
itu membuahkan hasil."
Justru karena
itu, aku ingin melanjutkan hari-hari yang menyenangkan ini.
Miori bilang
jangan menyerah. Jadi,
aku akan terus berjuang.
"……Masalah
yang Natsuki-kun pikirkan, itu soal Uta-chan dan Tatsuya-kun?"
Mendengar
pertanyaan Hikari, aku mengangguk.
"Kalau bisa,
aku ingin mengembalikan hubungan seperti semula."
"……Uta-chan
juga bilang begitu. Katanya
dia ingin kembali berteman. Tapi, karena perasaannya belum sepenuhnya hilang,
jadi butuh sedikit waktu lagi. Dia minta maaf padaku."
……Padahal bukan
salahnya, lanjut Hikari.
"Untuk
Uta-chan, kurasa kita hanya bisa menunggu. Karena dia minta ditunggu. Dia
bilang dia akan melampiaskan perasaannya pada Natsuki-kun maupun rasa
cemburunya padaku ke dalam kegiatan klub."
"……Jadi
kalian bicara sampai sejauh itu? Aku tidak tahu."
Tapi, Uta dan
Hikari memang akrab. Tentu saja mereka punya kesempatan bicara lebih banyak
daripada denganku.
"Uta-chan
itu kuat. Jauh lebih kuat dariku."
Hikari
menggenggam tanganku erat. Seolah ingin menekan emosi yang tak bisa terucap.
"Kalau
Tatsuya-kun aku tidak begitu tahu, tapi dia sepertinya menjaga jarak dari
Natsuki-kun, kan?"
"……Apa
Hikari juga melihatnya begitu?"
"Apa terjadi
sesuatu?"
"Kami sempat
bertengkar. Tapi aku yang salah."
Aku menjelaskan
secara singkat kejadian di hari festival budaya kepada Hikari.
"Ternyata
ada kejadian seperti itu."
"……Yah,
kalau dia menjauh dariku karena itu, tidak apa-apa. Tidak, sebenarnya tidak
baik juga, tapi karena itu salahku jadi aku tidak bisa protes. Hanya saja, yang
paling membuatku penasaran adalah..."
Aku teringat
keanehan Tatsuya akhir-akhir ini.
"Akhir-akhir
ini, dia sepertinya tidak terlihat menikmati hidup, kan?"
Hikari
mengerjapkan mata mendengar kata-kataku.
"……Kalau
dipikir-pikir, benar juga. Akhir-akhir ini dia kelihatan serius banget.
Belajarnya giat sekali. Tapi, aku jarang melihatnya tertawa seperti dulu."
Benar kata
Hikari.
Nagiura
Tatsuya adalah pria yang ceria, energik, suaranya lantang, dan sering tertawa.
Dia pria yang ekspresif.
Namun
belakangan ini, dia selalu memasang suasana yang terlihat seperti orang yang
sudah mencapai pencerahan. Memang benar dia lebih serius belajar dan ikut klub.
Tapi, apakah ini yang disebut pertumbuhan?
"……Aku
kurang suka melihatnya yang sekarang."
Alasan kenapa
Tatsuya menjadi seperti itu, aku sedikit tahu. Aku memang lamban, dan kurasa duniaku lebih
sempit dari orang lain. Namun, aku berusaha agar tidak mengulangi kesalahan
yang sama.
"Apa
yang akan kamu lakukan?"
"—Aku
akan mengembalikan dirinya yang dulu."
Tiba-tiba aku
teringat. Saat musim semi berakhir, saat Tatsuya menjaga jarak dari kami.
Tatsuya saat itu
cemburu padaku. Tapi
sekarang berbeda. Dia berusaha melangkah maju.
Hanya
saja, caranya salah. Kalau begitu, sebagai teman, bukankah harus
menghentikannya?
"Wah.
Kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan?"
"Kemarin
aku sempat bimbang, tapi sekarang sudah mantap."
Karena
Miori mendorongku. Aku jadi merasa bodoh karena terus menunduk.
Lagipula, aku
tidak bisa melakukan apa pun selain maju sambil terus menatap ke depan.
"……Itu
pasti gara-gara Miori-chan, kan?"
"Kenapa
tahu?"
"Entahlah.
Ah, sudah kuduga."
Hikari mendongak
ke langit sambil berkata seolah jengah.
"Yosh!"
Hikari berdiri
dengan penuh semangat.
"Jalan-jalannya
sudah cukup, ayo kita pergi!"
Aku
menggenggam tangan yang disodorkan Hikari dan bangkit dari bangku.
*
Sesampainya
di rumah, aku mengantar Hikari ke kamar.
Hari ini,
aku sudah membentangkan karpet di lantai, menaruh bantal, dan membuka meja
lipat yang biasanya disimpan. Saat aku duduk, Hikari duduk berhadapan denganku
di seberang meja.
"Rasanya
jadi lebih nyaman."
"Waktu
itu memang mendadak, tapi hari ini persiapannya matang kok... ah, aku ambilkan
minum ya."
Tepat saat aku
baru mau berdiri lagi, pintu diketuk.
"Natsuki,
Ibu bawakan minuman dan camilan. Boleh masuk?"
Sebelum aku
menjawab, Ibu membuka pintu. Kenapa tanya kalau sudah dibuka!
Ibu menaruh
nampan berisi minuman dan camilan di meja.
Hikari menunduk
sopan.
"Permisi.
Eh, terima kasih banyak."
"Tidak
apa-apa kok. Kamu Hoshimiya Hikari-chan, kan? Ya ampun, lebih imut dari
fotonya. Tidak menyangka anakku bisa punya pacar seimut ini... ah, Ibu Natsuki.
Salam kenal ya."
"I-iya. Saya
Hoshimiya Hikari..."
Hikari
kebingungan tidak bisa mengimbangi obrolan Ibu yang seperti peluru.
"Dia anak yang payah, tapi tolong jangan ditinggal ya. Belakangan ini dia sepertinya sedang
berusaha keras."
"Aku
mengerti, jadi tolong cepat keluar."
Aku mendorong
punggung Ibu untuk menuntunnya keluar kamar. Kalau sudah bicara, dia tidak akan
berhenti.
Kalau tidak
diusir, selamanya aku tidak akan bisa berduaan dengan Hikari.
"Ah, Ibu
mengganggu ya. Ya sudah, Ibu mau pergi belanja dulu. Silakan santai ya. Ibu
akan kembali sebelum makan malam."
Ibu yang
bersemangat pergi meninggalkan kamar setelah mengatakan itu.
Akhirnya badai
berlalu... tapi tiba-tiba Ibu melambai dari luar pintu.
"Apa
lagi?"
"Jangan
sampai lepas gadis seimut itu ya. Kamu tidak akan bisa menemukannya lagi."
"Aku tahu,
meski tidak dibilang pun."
"Dan karena
kalian masih SMA, jangan lakukan hal yang tidak bisa kamu tanggung jawab."
"Hah? Tidak,
aku tidak akan melakukan itu—"
Tanpa menunggu
bantahanku, Ibu pergi meninggalkan rumah.
Saat kembali ke
kamar, Hikari sedang memerah padam dengan wajah canggung.
Ibu itu, suaranya
besar sekali padahal dia pikir dia sedang berbisik...
"Ah, ada
gitar."
Entah karena
mencari topik atau memang benar-benar tertarik, Hikari melihat ke arah gitar
yang bersandar di stand di sudut kamar.
"Kalau aku
minta mainkan sesuatu, mau mainkan untukku?"
De-degar-degar!
Ini dia! Masalah klasik gitaris: 'Masalah apa yang
harus dimainkan saat orang awam minta mainkan sesuatu'!
Tak disangka hari
ini tiba juga bagiku... tapi, aku sudah memikirkan jawabannya.
"Oke."
Aku menjawab
dengan wajah sombong.
Karena semenjak
mulai main gitar, aku sudah membayangkan situasi ini berulang kali.
Aku
bahkan latihan gitar demi momen ini.
Aku
menyambungkannya ke amplifier kecil di rumah, lalu sedikit mengatur
suara dan melakukan tuning.
"Wah,
keren!"
Hanya
dengan itu, Hikari bertepuk tangan.
"Aku kan
belum main apa-apa."
"Tapi, saat
memegang gitar, Natsuki-kun tetap terlihat keren."
"Terima
kasih. Kalau begitu, sedikit saja ya."
Sambil
berkata begitu, aku mulai memetik senar gitar dengan pick.
Aku memainkan frasa ritmis yang penuh tenaga dengan alternate
picking enam belas ketukan. Itu lagu Walk This Way milik Aerosmith.
Itulah 'jawaban' yang kutemukan setelah memikirkannya bertahun-tahun demi
'Masalah dimintai mainkan sesuatu'. Ini yang paling keren.
Setelah berhenti di saat yang pas, aku melirik wajah Hikari.
Hikari bertepuk tangan dengan wajah agak bingung, "Wah,
wow."
Eh? Loh? Aneh... padahal di bayanganku seharusnya ada
sorakan meriah...
"B-bagaimana?"
"Eh, um... keren sih, tapi aku kurang paham
lagunya."
Ahaha, Hikari tertawa getir dengan canggung.
'Jawaban' yang kupikirkan bertahun-tahun... hancur!
Tidak, sebenarnya aku sudah tahu sih?
Lagipula ini orang awam.
Seharusnya aku memainkan lagu populer saat ini daripada lagu
klasik.
Meski begitu, aku ingin percaya bahwa riff ini bisa
menyentuh seluruh umat manusia di segala zaman...
"Tapi
sepertinya aku pernah dengar, deh?"
"K-kan,
benar kan? Lagunya memang lama, tapi sangat terkenal."
Saat aku
menjelaskan tentang Aerosmith, Hikari menimpali dengan sabar agar mudah
mengobrol.
Padahal
mungkin dia tidak tertarik, betapa baiknya kekasihku ini...
"Aku
mau dengar lagu lain juga. Lagu yang dimainkan saat festival budaya?"
Memenuhi
permintaan Hikari, aku memainkan lagu festival budaya dan lagu favorit Hikari.
Kemampuan gitar-ku tidak bisa dibilang hebat, tapi Hikari terlihat sangat
senang.
"Terima
kasih, Natsuki-kun."
Setelah
itu, kami menonton video YouTube bersama, membaca naskah baru yang sedang
ditulis Hikari lalu memberikan masukan, serta memutar DVD konser band
favoritku. Begitulah kami menghabiskan waktu dengan tenang. Suasana yang santai
itu terasa sangat nyaman.
"……Eh,
sudah sore ya."
Melihat
ke luar jendela saat Hikari bicara, ternyata langit sudah berubah warna menjadi
jingga.
Hal-hal yang
ingin kulakukan sudah selesai, dan percakapan mulai berhenti. Namun, tidak ada
rasa canggung. Di tengah keheningan yang nyaman, tiba-tiba Hikari yang duduk di
depanku menepuk lantai di sampingnya.
"Ke
sini."
Aku
memindahkan bantal dan duduk di samping Hikari.
Hikari lalu
menjatuhkan kepalanya ke bahuku.
Aku kaku karena
terkejut dengan kejadian mendadak ini, lalu Hikari menyandarkan seluruh berat
tubuhnya padaku.
Karena hampir
kehilangan keseimbangan, aku panik lalu merangkul pinggang Hikari untuk
menahannya.
"Ehehe...
misi sukses."
Aku bisa
mendengar suara Hikari yang terdengar bahagia dari dadaku.
Hikari
merangkul pinggangku. Dia memelukku erat.
"I-ini
terlalu mendadak, tidak?"
"Karena aku
pikir kalau tidak begini, kamu tidak akan memelukku."
Sambil bicara
begitu, Hikari justru semakin menekan tubuhnya ke arahku. Dia sangat imut,
semuanya terasa lembut, wanginya enak, kalau begini terus aku bisa kehilangan
kendali.
Sudahlah,
terserah apa pun yang terjadi! Aku memeluk Hikari lebih erat.
"……Maaf ya,
karena aku pengecut."
"Tidak
apa-apa. Aku tahu kamu sangat menghargaiku."
Aku selalu
membuat Hikari yang harus memberanikan diri karena aku tidak bisa melakukan
apa-apa.
Sedikit
menyedihkan, tapi aku harus berjuang mulai sekarang. Untuk saat ini, aku akan
menikmati waktu bahagia ini. Matahari terbenam yang masuk dari jendela
menyinari Hikari yang sedang memelukku.
"Itu...
Natsuki-kun."
"Ya?"
Hikari bicara
sambil tetap menekan wajahnya di dadaku.
"……Aku……
mungkin sedikit…… mesum dibanding gadis biasa……"
Ya? Barusan... bilang apa...?
Mendengar informasi yang sangat mendadak itu, aku kaku tanpa
bisa menjawab.
Hikari mungkin
merasa malu karena mengucapkannya sendiri, telinganya sampai merah padam.
"Begitu,
ya?"
Saat aku menjawab
dengan susah payah, Hikari mengangguk pelan.
"Soalnya...
saat kita seperti ini pun, aku jadi ingin menyentuh Natsuki-kun lebih
jauh..."
Di dalam
hatiku, binatang buas bernama insting sedang mengaum!
Rantai
bernama rasionalitas yang mengikatnya selama ini berbunyi nyaring!
"……Hikari."
"Natsuki-kun..."
Hikari mendongak
dengan ekspresi mempesona. Pandangan kami bertemu. Aku tidak bisa memalingkan
wajah.
Saat jarak kami
semakin dekat—
"Kak!
Aku dengar Hikari-senpai datang, benarkah, i-tu............?"
Pintu
kamar terbuka dengan keras dan Namika masuk dengan penuh semangat.
Keheningan
menyelimuti ruangan selama beberapa detik.
Sepertinya
kami berdua butuh waktu untuk memahami situasi.
Entah kenapa aku
merasa sangat tenang. Dengan kemunculan Namika, rasanya aku justru kembali ke
realita.
Namun, situasi
ini tetap saja parah. Sejujurnya, aku dan Hikari terlihat seperti baru saja
akan melakukan sesuatu yang intim. Wajah Namika mulai memerah padam
dengan cepat.
"A-a-anu! Namika-chan! Enggak, itu bukan...!"
Bukan apa
yang tidak? Aku sempat
memikirkan hal itu di sudut pikiranku yang entah kenapa masih tenang.
"M-maafkan
akuuuu! Permisi!"
Namika menutup
pintu dengan keras. Suara langkah kakinya menuruni tangga terdengar cepat.
Hikari menjauh
dari tubuhku dan merapikan baju serta rambutnya dengan wajah malu.
Jujur bagiku, karena binatang buas bernama instingku hampir lepas kendali, perasaanku campur aduk antara lega karena Namika datang, dan rasa kecewa, sungguh situasi yang rumit.
"Ano...
Natsuki-kun. Tolong jelaskan dengan benar ya. Bahwa itu salah paham. Maksudku,
bukan berarti kita sedang mencoba melakukan hal seperti itu, cuma... yah, ada
kejadian aneh tadi."
Ucapannya terlalu
berantakan sampai aku tidak mengerti apa yang dia katakan, tapi untuk saat ini,
aku mengangguk saja pada perkataan Hikari. Tanpa diminta pun, aku berniat
memarahi Namika nanti.
Kalau mau membuka
pintu kamar orang lain, ketuk dulu, ya.
*
Akhir pekan yang
menyenangkan telah berlalu, dan hari kerja dimulai kembali.
Sehari sebelum
turnamen bola. Bahkan di sela-sela pelajaran biasa pun, suasana terasa sedikit
bersemangat.
Di sana-sini
orang-orang berbisik membicarakan turnamen bola, dan tampaknya semua orang
diam-diam menantikannya. Namun, Tatsuya yang biasanya paling antusias memimpin
percakapan semacam itu, terus diam saja.
"Pengumuman
hasil kuis singkat. Kali ini luar biasa, ada yang mendapat nilai seratus."
Di tengah
pelajaran matematika, Pak Murakami mengeluarkan lembar jawaban kuis yang baru
saja diadakan sebelumnya.
Kuis matematika
Pak Murakami dilakukan secara berkala. Tapi, dibandingkan dengan ujian rutin,
soalnya jauh lebih sulit, bahkan aku pun belum pernah mendapatkan nilai
seratus. Siapa ya yang dapat nilai sempurna?
"Ambil
jawaban kalian sesuai urutan nama yang kupanggil. —Nagiura Tatsuya. Akhir-akhir
ini kamu berusaha keras ya."
"Eh!?"
Seluruh kelas dipenuhi suara keheranan.
Tatsuya maju
untuk mengambil lembar jawabannya dengan wajah lesu, tanpa terlihat sedikit pun
sombong.
"Ta,
Tatsu!? Ada apa denganmu!?"
"……Yah,
tidak ada apa-apa, aku cuma belajar seperti biasa."
Meski Uta
mengajaknya bicara dengan terkejut, Tatsuya menjawab dengan cara seperti itu.
Setelah itu,
nama-nama dipanggil berdasarkan skor. Yang dipanggil kedua adalah aku dengan
nilai sembilan puluh dua.
Begitu lembar
jawaban dibagikan ke semua orang, Pak Murakami menatap seluruh kelas.
"Belajarlah
dari Nagiura, kalian juga harus tekun belajar. Karena akumulasi harianlah yang
membuahkan hasil nilai."
Dengan kata-kata
itu pelajaran berakhir, dan bel selesai sekolah berbunyi.
"Tunggu,
Tatsu! Bagaimana dengan 'Aliansi Orang Bodoh' kita!?"
"Betul! Apa
ikatan kuat kita bertiga itu bohong!?"
Uta dan Hikari
segera menghampiri kursi Tatsuya, jadi aku pun mendekat.
Tunggu, apa itu
'Aliansi Orang Bodoh'?
Kalian bertiga
membentuk aliansi seperti itu?
"Aku tidak
ingat pernah membentuk aliansi yang tidak jelas seperti itu."
Tatsuya
menyangkalnya dengan datar. Benar juga ya. Tidak jelas sekali.
"Tega
sekali... aku dikhianati! Hikarin~!"
"Iya ya,
Uta-chan. Tidak bisa dimaafkan. Aku tidak akan mengkhianatimu kok."
Entah kenapa mereka berdua saling menghibur diri. Nanase
menatap mereka berdua dengan tatapan lelah.
"Hikari, bukannya nilaimu tidak serendah itu? Seingatku rata-rata saja."
"Belakangan
ini nilainya setingkat dengan Uta. Mungkin karena terlalu sibuk dengan novel dan dirimu."
Sementara
Uta dan Hikari berteriak pada Tatsuya, aku berbisik pada Nanase.
"Jangan
bilang itu salahku?"
"Separuhnya
salahmu. Pastikan dia belajar dengan benar."
Nanase
berkata dengan dingin. I-iya... maaf, Ibu...
"……Lagipula,
di ujian tengah semester kemarin, Nagiura-kun peringkat enam puluh. Dia sendiri
tidak bilang sih."
Peringkat enam
puluh dari dua ratus lima puluh orang berarti bisa dibilang nilai yang cukup
tinggi.
Mengingat
di semester pertama dia hampir berada di peringkat terakhir, peningkatannya
sangat drastis.
"……Kenapa
Nanase tahu soal itu?"
"Aku dan
Nagiura-kun cukup akrab kok. Sesekali aku juga mengajarinya belajar."
Begitu
ya... agak mengejutkan.
Tentu
saja ini hal yang wajar, tapi aku sadar kalau hubungan antarmanusia terus
berubah bahkan saat aku tidak ada.
"……Kenapa
kalian berbisik-bisik?"
Tatsuya
bertanya padaku dan Nanase dengan wajah curiga.
"Kami sedang
memujimu. Mendapat nilai seratus itu hebat sekali, tahu."
"Cuma kuis
singkat, kan. Kalau ujian rutin, belum tentu bisa sesukses ini."
Tatsuya
mendengus.
Bukan karena
malu, tapi dia benar-benar berpikir begitu.
"Ada
perubahan suasana hati atau apa?"
Menanggapi
pertanyaan Hikari, Tatsuya menggaruk kepalanya.
"Yah...
sedikit. Aku cuma berpikir ingin berusaha keras, baik dalam belajar maupun
kegiatan klub."
Sambil
menatap ke luar jendela dengan tatapan jauh, Tatsuya berdiri.
Saat
Tatsuya melangkah pergi setelah bilang "ke toilet sebentar," Uta
menarik ujung bajunya.
"……Tatsu,
belakangan ini kamu tidak terlihat bersemangat ya?"
Uta
bertanya seolah sudah membulatkan tekadnya.
"……Begitukah?"
"Biasanya
kamu pasti lebih senang! Karena kamu sudah dapat seratus!"
"Yah,
mungkin begitu kalau aku yang kemarin-kemarin. Bukan berarti aku tidak senang sih."
Tatsuya
berkata dengan datar, lalu pergi sambil bilang "Ya sudah, kali ini
benar-benar mau ke toilet."
Uta
menatap punggungnya dengan ekspresi tidak puas.
Pandanganku
bertemu dengan Hikari dan Nanase. Reita juga mendekat.
"Usahanya
hebat, tapi dia bukan Tatsuya yang biasanya."
"Kenapa dia
jadi begitu ya...?"
Nanase menatap
Uta yang memiringkan kepalanya dengan ekspresi rumit.
"……Bukan
tempatku untuk bicara ya."
Gumaman
Nanase terdengar samar.
"Natsuki,
bisa bicara sebentar?"
Reita memberi
isyarat padaku, dan kami pergi ke balkon.
Angin sepoi-sepoi
bertiup. Reita menyandarkan sikunya di pagar pembatas sambil melihat ke arah
lapangan.
"Natsuki
juga sadar, kan? Alasan kenapa Tatsuya berusaha keras sekarang."
"……Yah, aku
bisa membayangkannya."
Tatsuya pernah
bilang padaku kalau dia bisa mempercayakan Uta padaku. Tapi aku menolak Uta.
Kalau keinginan
Uta tidak bisa tercapai, dia ingin membuatnya bahagia dengan tangannya sendiri.
Untuk itu, dia
berusaha menjadi pria yang lebih unggul daripada aku, pria yang disukai Uta.
—Kurasa memang
begitu keadaannya.
"Dia jadi
tidak terlalu menunjukkan emosinya karena targetnya terlalu tinggi. Karena dia
selalu merasa usahanya masih kurang, jadilah sikapnya seperti itu. Tatsuya itu
orangnya mudah ditebak."
"Aku setuju
kalau berusaha itu bagus, tapi kalau terus seperti itu, dia bakal kelelahan,
kan?"
"Benar.
Lagipula, dia bukan Tatsuya yang kita sukai. Tatsuya yang sekarang
membosankan."
Wajah Reita yang
mengatakannya dengan tegas terlihat sedikit marah.
"Jadi
Natsuki. Mari kita kembalikan Tatsuya yang dulu."
"Ya. Kita
ingatkan dia betapa menyenangkannya saat kita bertingkah bodoh bersama."
Aku menyatukan
kepalan tanganku dengan Reita yang menyodorkan tinjunya.
Bagiku dan Reita,
ini adalah alasan pribadi.
Sekalipun Tatsuya
yang sekarang adalah hasil dari pertumbuhan, bagi kami itu tidak menarik.
Dia selalu bicara
hal bodoh, suaranya keras, pemarah, agak keras kepala, tapi dia juga sensitif
dan kadang merepotkan. Kami menyukai dirinya yang seperti itu, dan dia adalah
teman kami.
—Jadi, mari kita
bawa dia kembali.
*
Sepulang sekolah
hari itu, rapat komite pelaksana ketiga diadakan.
Hari ini hanya
pemeriksaan prosedur dan persiapan awal, lalu rapat segera selesai.
Besok akhirnya
adalah hari turnamen bola yang sesungguhnya.
Sebagai anggota
komite, aku juga punya peran sebagai wasit, penyesuai jadwal, dan koordinator
kelas.
"Natsuki.
Apa kita latihan sebentar lagi?"
Saat kami
berempat anggota komite kelas satu berjalan di koridor, Naru bertanya.
"Oh, mau
latihan? Aku juga berencana latihan mandiri. Besok kan hari-H."
"……Kalau
begitu, aku ikut juga ya. Lagipula aku luang hari ini."
Tak disangka,
Miori menunjukkan niat untuk ikut.
"Tidak ada
kegiatan klub?"
"Hari ini
libur. Seminggu sekali pasti ada libur."
"Boleh kamu
gunakan hari libur itu buat main basket?"
"Soalnya aku
harus membuktikan kalau aku lebih hebat darimu."
"Usaha
sia-sia yang luar biasa, terima kasih."
Saat aku
mengangkat bahu, Miori menatapku tajam sambil bilang, "Apa katamu!"
Saat kami sedang
berdebat, Funayama-san bertanya.
"Anu,
bolehkah saya ikut juga? Saya tidak ikut turnamen bola, jadi tidak akan
berguna, tapi... saya ingin melihat kalian berlatih."
Funayama-san
tidak mengatakannya secara terang-terangan, tapi semua orang mengerti. Dia ingin bersama Naru.
"Tidak
apa-apa, kan, Naru?"
"T-tentu
saja!"
Naru
mengangguk berulang kali dengan penuh semangat. Tenang sedikit.
"Kalau
begitu, ayo kita pergi semua."
Kami memutuskan
untuk berlatih di lapangan gimnasium kota hari ini.
Kalau dipakai
perorangan harganya murah, dan kalau malam hari kerja seharusnya tidak ramai.
Kami sampai di
gimnasium kota yang letaknya melewati stasiun. Seperti dugaan, tidak ada
pengguna lain di sana.
Aku
berganti sepatu gimnasium dan menginjak lantai gimnasium kota.
Bola yang
kubeli tempo hari dibawa oleh Naru, dan kita juga bisa meminjam di sini.
Karena kalau cuma
satu bola tidak cukup untuk latihan, kami memutuskan untuk meminjam satu lagi.
"Besok
kamu ikut basket, kan? Bagaimana kondisimu?"
"Lumayan.
Aku sudah latihan mandiri beberapa kali."
Termasuk
saat latihan di taman dengan Naru dan Miori, aku sudah latihan tiga kali.
Di jam
olahraga juga bisa main basket, jadi instingku sudah lumayan kembali.
"Kamu
serius banget ya."
"Ada
orang yang bilang ini cuma turnamen bola biasa, sih."
"Berusaha
maksimal di segala hal itu memang ciri khasmu. Menurutku itu juga lebih
menyenangkan."
Bola yang
dilemparkan Miori masuk ke dalam jaring dengan mulus.
Hebat
juga. Bentuk lemparannya masih tetap cantik seperti biasa.
"Ma-masuk!"
"Wah! Nice!
Hebat sekali!"
Sementara
itu, Naru dan yang lainnya bermesraan sambil latihan di ring sebelah.
Funayama-san
menyemangati Naru yang terus menembak berkali-kali.
"Kupikir
bakal jadi bagaimana, tapi ternyata lancar sekali."
"Keduanya
sama-sama sudah menyadari perasaan masing-masing. Jadi tidak mungkin gagal, kan? Ini pekerjaan
yang jauh lebih mudah daripada saat mengurusi dirimu dan Hikari-chan."
Miori
berkata dengan tenang. Memang benar dia adalah super advisor-ku. Meski sudah mantan.
"Lupakan
mereka, ayo kita satu lawan satu."
"Padahal
seharusnya aku mengajari Naru... yah, tidak apa-apa nanti saja."
Lagi-lagi
satu lawan satu dengan Miori. Skor kemenanganku kurang lebih tujuh banding
tiga.
Saat
Miori sedang bersemangat bilang "Sekali lagi!", pintu masuk terbuka.
"Eh...?"
Miori
membelalakkan matanya terkejut.
Yang masuk dari
pintu adalah Reita, Okajima-kun, Hino, dan Hikari.
"Halo,
Miori."
"Re-Reita-kun?
Kenapa ada di sini?"
"Aku diajak
Natsuki. Katanya kalau kegiatan klub selesai dan masih punya waktu, bagaimana
kalau latihan bersama."
"Aku juga
ikut basket, lho," lanjut Reita.
"Karena
mumpung, aku juga mengajak Hino dan Okajima."
"Karena kita
satu klub, kalau Reita ikut, aku juga ikut!"
Okajima-kun
memamerkan giginya yang putih dan mengacungkan jempol.
"Kebetulan
lagi luang. Kalau gimnasium kota, rumahku juga dekat."
Hino
tertawa kecil sambil mengangkat bahu.
"Aku
selesai kegiatan klub sastra, terus tidak sengaja ketemu mereka semua, jadi aku
datang buat menyemangati kalian."
Hikari tersenyum.
Dia terlalu malaikat. Hari ini pun dia imut sekali.
"……Ngomong-ngomong, di mana Tatsuya?"
"Katanya
mau pulang dan belajar. Katanya tidak ada gunanya terlalu serius di turnamen
bola."
Reita menghela
napas menirukan kata-kata Tatsuya.
"Bajingan
itu, tiba-tiba jadi anak baik. Belum lama ini dia dapat nilai seratus."
"Tingkahnya
aneh, kan? Emangnya dia dulu orang yang begitu?"
Okajima-kun
marah, dan Hino memiringkan kepalanya.
"……Yah,
sudahlah. Mari kita latihan berlima saja."
Setelah itu, kami
melakukan latihan praktik tiga lawan tiga termasuk Naru.
Aku, Naru, dan
Okajima-kun melawan Miori, Reita, dan Hino untuk menyeimbangkan tim.
"Funayama-san
ya. Aku Hoshimiya Hikari."
"I-iya...
aku tahu. Akhir-akhir ini aku sering kenalan sama orang terkenal..."
"Eh,
apa aku orang terkenal?"
"Tentu saja,
Hoshimiya-san kan idola sekolah ini."
"Ahaha,
tidak begitu kok~"
Sambil
menyemangati kami, Funayama-san dan Hikari mengobrol berdua.
Sepertinya mereka
sudah akrab. Memang kemampuan komunikasi Hikari luar biasa.
"Naru. Kalau
sudah kasih operan, lihat sekeliling. Kalau bingung, oper balik ke aku."
"I-iya!
Aku oper balik!"
Saat melakukan
latihan praktik, Naru mulai bisa diandalkan.
"Kamu merasa
sudah lebih baik, kan? Sekarang tinggal buktikan hasil latihanmu di hari-H
nanti."
"Bi-bisakah
aku melakukannya...?"
"Tidak
apa-apa. Lakukan
dengan percaya diri."
Aku
menepuk punggung Naru. Sejujurnya,
Naru sudah berusaha sangat keras.
Katanya, kelas
empat juga punya Kijima-kun dari klub basket, kelihatannya cukup kuat.
"Tapi, kita
bakal ketemu Natsuki dan yang lain di babak pertama, kan..."
Ya, sayangnya
lawan tanding kelas satu dua sudah ditentukan akan melawan kelas satu empat.
"Itu karena
keberuntungan undian sih."
"Hahaha...
aku menyesali nasib burukku..."
Setelah itu kami
melanjutkan latihan tiga lawan tiga, tapi kami memutuskan untuk berhenti saat
dirasa cukup.
"Hari ini
sampai sini saja ya."
"Sudah
selesai? Aku masih bisa lanjut, lho?"
"Yah,
tidak bagus kalau mengganggu performa besok. Mari kita turuti kata Natsuki."
Terlepas dari
kami, Reita dan yang lainnya ikut setelah latihan klub selesai. Lebih baik
berhenti daripada latihan berlebihan baik dari segi fisik maupun waktu. Akan
jadi bumerang kalau sampai sakit karena terlalu memaksakan diri.
"Kalau
begitu, aku mau cuci muka sebentar."
Saat keluar dari
gimnasium kota, hari sudah gelap total.
Angin dingin
terasa nyaman di tubuhku yang berkeringat.
Aku memutar keran
air, minum banyak-banyak, lalu membasuh wajahku yang berkeringat.
"……Huh,
segar sekali."
Saat hendak
kembali ke tempat mereka, aku mendengar percakapan dari balik kegelapan.
Ada
seseorang di dekat pintu belakang?
Saat aku
mengintip, Funayama-san dan Miori sedang mengobrol.
Apa yang mereka
lakukan di tempat seperti itu?
"Terima
kasih banyak karena sudah banyak membantu."
"Tidak
apa-apa, aku tidak melakukan hal yang istimewa kok. Aku cuma mengawasi dari
jauh saja."
"Tetap saja,
saya jadi mendapatkan keberanian. Besok, tinggal mengungkapkan perasaan saja."
"Semangat
ya. Pasti berhasil."
Meskipun sedikit
terputus-putus, mereka sedang mengobrol seperti itu.
Seperti halnya
aku membantu Naru, Miori membantu Funayama-san, sepertinya itu ucapan terima
kasihnya. ……Tunggu, besok dia berniat menyatakan cinta pada Naru?
Perkembangannya cepat sekali.
"Anu, maaf
kalau ini salah paham, ini pertanyaan sederhana saja..."
"Hm?
Tanyakan saja apa pun, Shizuki-chan."
Funayama-san yang
tadi ragu-ragu, bertanya dengan tekad yang bulat.
"——Miori-san,
kamu suka sama Haibara-kun, kan?"
Waktu serasa
berhenti.
Angin bertiup hush,
dan dedaunan kering menari-nari.
……Hah? Sebesar
apa pun salah pahamnya, tidak mungkin begitu, kan.
Karena terlalu
tak terduga, pikiranku menjadi beku.
Yang aneh adalah,
Miori yang ditanya begitu justru terdiam.
Seharusnya kalau
itu Miori yang biasanya, dia akan menertawakannya... tapi kenapa, dia tidak
bicara apa-apa?
Kalau begini,
rasanya seperti—.
"Kalau aku
bilang aku suka padamu... bagaimana?"
Miori tersenyum
pahit, lalu menyangkalnya.
"Jangan gitu
dong, Shizuki-chan. Bercandanya keterlaluan. Pacarku itu Reita-kun, tahu?"
……Benar juga. Itu
cuma salah paham Funayama-san, kan?
Secara empiris,
mungkin aku dan Miori terlihat lebih akrab daripada yang kami kira.
"Haibara-?
Kamu di sana?"
Ups, Hino dan
yang lainnya mencariku.
Setelah menyeka
wajahku dengan handuk, aku kembali ke dekat pintu masuk gimnasium.
"Oh, itu
dia."
"Maaf, maaf.
Tadi cuci muka sebentar."
Di ruang yang
diterangi lampu, Hino dan yang lainnya menungguku.
Dua orang itu
juga pasti akan segera kembali.
*
"……Karena
aku tahu itu, makanya aku bertanya."
"……Kalau begitu, diam saja dong."
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment