NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 5 Chapter 2

Chapter 2

Klinik Konsultasi Cinta untuk Para Pemula Romantis


"Sekarang lagi apa?" tanya Hoshimiya Hikari.

"Baru saja selesai mandi dan kembali ke kamar," jawabku.

Hoshimiya Hikari: "Begitu ya."

Hoshimiya Hikari: "Aku juga sudah mau tidur."

"Tidurnya cepat sekali," balasku.

Hoshimiya Hikari: "Tapi bangunnya selalu kesiangan, tahu."

"Orang bilang anak yang rajin tidur itu cepat tumbuh besar, kan?"

Hoshimiya Hikari: "Natsuki-kun tidurnya malam, tapi tinggi badanmu tetap saja menjulang."

"Soalnya waktu kecil dulu aku bisa tidur dua belas jam sehari."

Hoshimiya Hikari: "Eh, aku tidak bisa tidur selama itu, haha!"

Hoshimiya Hikari: "Eh, akhir pekan ini kosong tidak?"

"Kosong kok. Mau melakukan sesuatu?"

Hoshimiya Hikari: "Ayo kita lakukan sesuatu! Haha."

"Sesuatu itu maksudnya apa, haha. Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"

Hoshimiya Hikari: "Banyak banget!"

Hoshimiya Hikari: "Aku ingin bicara sebentar, boleh?"

"Mau menelepon?"

Hoshimiya Hikari: "Un! Aku telepon ya!"

"Uaahh..."

"Kelihatannya kamu mengantuk sekali, ya."

Melihatku menguap, Reita tersenyum kecut.

"Kemarin malam aku menelepon Hikari, tahu-tahu sudah larut malam saja..."

Gara-gara itu, aku jadi kurang tidur. Saat pelajaran jam pertama pun, aku harus berjuang menahan kantuk.

Hikari yang duduk di sebelahku tidur dengan nyenyak, tapi aku tidak bisa ikut tidur karena takut mencolok.

"Syukurlah kalau kalian akur, tapi jangan sampai tidur di jam pelajaran berikutnya, ya."

Pelajaran berikutnya adalah Bahasa Inggris. Mata pelajaran ini diseragamkan dan kelasnya dibagi berdasarkan nilai.

Aku dan Reita ditempatkan di Kelas A, kelas dengan kemajuan materi paling cepat.

Sampai ujian akhir semester lalu, Nanase juga berada di Kelas A yang sama. Karena payah dalam Bahasa Inggris, dia sering turun ke Kelas B.

"Iya, aku tahu kok. Lagipula ini pelajaran Pak Kato..."

Pak Kato adalah guru yang mudah dimengerti, tapi beliau orang yang terburu-buru. Kalau melamun sedikit, kita akan langsung ketinggalan.

"Memangnya apa saja yang kalian bicarakan sampai larut malam?"

"Hmm, kemarin kami membicarakan soal mau pergi ke mana saat kencan akhir pekan nanti."

Hikari mengirimkan banyak informasi tempat lewat LINE, jadi obrolan kami makin seru.

Kebanyakan tempat yang dia kirim tidak bisa dikunjungi sekarang, jadi melenceng dari topik utama. Namun, aku tidak tega menghentikan Hikari yang sangat antusias.

"Terus, akhirnya jadi pergi ke mana?"

"...Nah itu dia, akhirnya malah jadi main ke rumahku."

Reita membuka matanya lebar-lebar karena terkejut. Ya tentu saja, reaksinya pasti begitu.

"Jadi tidak jadi pergi keluar?"

"Awalnya memang niatnya begitu, tapi kondisi keuanganku sedang tidak memungkinkan..."

Meski punya pendapatan paruh waktu, tabunganku sudah ludes buat membeli gitar dan perlengkapannya. Aku harus berhemat sampai hari gajian nanti.

"Tapi, apa tidak terlalu cepat melompat ke tahap kencan di rumah?"

"Sejujurnya, aku juga sempat berpikir begitu."

Aku memang berpikir begitu, tapi mengucapkannya justru membuat suasana jadi terlalu canggung.

"Yah, tapi kalian memang tipe yang suka bersantai di rumah. Bisa menghabiskan waktu dengan tenang itu nilai plus, lho."

"Un," Reita mengangguk setelah mengubah pendapatnya sendiri.

Pria ini benar-benar jago dalam memperhatikan orang lain.

Saat aku sedang kagum, Reita menyeringai dan menepuk bahuku.

"Boleh saja bermesraan—tapi jangan sampai lepas kendali, ya?"

Aku sempat bingung, tapi tak lama kemudian aku mengerti. Yang terbayang adalah sosok Hikari yang sedang berbaring di kasur kamarku.

"Haaah...!? Lagipula, ini baru kencan kedua...!"

"Pelajaran sudah mau dimulai, Natsuki."

Sambil menertawakanku yang panik, Reita duduk di bangkunya.

Sialan, dia benar-benar mempermainkanku. Aku merasa tidak akan pernah bisa menang melawan pria ini.

Apakah karena meskipun ini hidup keduaku, aku masih payah dalam cinta? Ya, tepat sekali.

Aku berhasil melewati Bahasa Inggris, dan pelajaran berikutnya adalah olahraga. Mulai hari ini, kami berlatih berbagai cabang untuk turnamen bola.

Pelajaran olahraga dilakukan dengan menggabungkan dua kelas. Kami dari Kelas 2 akan berlatih melawan tim dari Kelas 1.

Setelah lari dan senam, kami mulai melakukan shooting bebas. Kalau dibiarkan, waktu akan habis hanya dengan menembak bola asal-asalan.

"Bagaimana ini?"

Yang mengajak bicara adalah Murakami-kun, tokoh sentral di Kelas 1. Dia mungkin mengira aku adalah tokoh sentral di Kelas 2.

"Hmm... sulit juga ya. Mau latihan pun, harus mulai dari mana?"

"Lebih cepat kalau langsung tanding saja," Tatsuya menyela.

"Meskipun kita melakukan Basic Training, tidak banyak orang yang bisa mengikutinya," tambah Tatsuya.

Tepat sekali apa yang dikatakan Tatsuya. Lagipula, secara murni, format pertandingan jauh lebih seru.

"Yah, benar juga. Jadi, bagaimana kalau format pertandingan Kelas 1 lawan Kelas 2?"

"Oke."

Murakami-kun dan Tatsuya sepakat dengan rencana itu. Reita, Hino, dan Okajima-kun berkumpul di dekat kami.

"Mau menentukan posisi juga?" tanya Reita.

"Aku yang jadi Guard untuk mengalirkan Pass. Reita jadi pendukung, dan Okajima, kau diam di bawah ring," perintah Tatsuya.

Reita yang punya pandangan luas memang paling cocok sebagai pendukung. Okajima-kun yang badannya tegap pasti kuat dalam melakukan Rebound.

Tatsuya kemudian melempar bola yang sedari tadi dia putar ke arahku.

"Terus Natsuki, kau yang buat celah pertahanan lawan."

Aku menangkap bola yang terbang itu.

"Bukankah peran kita terbalik? Bukankah lebih baik Tatsuya yang jadi Forward?"

"Tidak elok kalau aku yang anggota klub basket malah main serius. Cukup jadi pengalir Pass di belakang saja," ujar Tatsuya.

"...Lalu aku bagaimana? Hei Nagiura, jangan lupakan aku."

"Hah? Untuk Hino, main asal-asalan pun harusnya kita tetap menang."

"Kenapa cuma aku yang diperlakukan kasar sekali!?"

Melihat mereka yang bercanda, aku jadi berpikir. Tatsuya tidak ingin menghancurkan mental amatir dengan serius.

Aku mengira Tatsuya akan berusaha jadi tokoh utama jika ada kesempatan, ternyata dugaanku salah. Reita pun tampak sependapat denganku.

Namun, sebelum sempat bicara, pertandingan dimulai dengan jump ball. Okajima-kun melompat dan menepis bola ke arah Tatsuya.

"Oke, ayo kita mulai!"

Tatsuya membawa bola ke depan dan mengoper ke Reita. Aku bergerak ke arah corner untuk mencari posisi.

"Reita!"

Saat aku memanggil, Reita mengoper bola padaku. Aku menghadap ke depan dan melewati penjaga yang mengenakan nomor empat.

Saat aku melakukan layup, pemain nomor enam datang memberi bantuan. Aku menarik tangan dan mengoper ke Hino yang bebas.

"Tembak! Kau bebas!"

Sesuai instruksi, tembakan Hino masuk dengan sempurna ke dalam jaring.

"Hebat juga. Memang Natsuki," Reita tersenyum lebar dan melakukan high-five.

"Haira, kau jago juga ya!?" teriak Okajima-kun dengan kaget. Tentu saja yang lain akan kaget melihat kemampuanku.

Kami kembali ke posisi pertahanan. "Yosh, ayo bertahan!" teriak Okajima-kun dengan semangat yang besar.

"Apa kita pakai man-to-man saja?"

"Boleh saja, kan? Aku yang akan menjaga Murakami," jawab Tatsuya.

Di serangan Kelas 1, Murakami-kun membawa bola. Gerakannya terlihat sangat berpengalaman meskipun dia bukan anggota klub basket.

Namun, dia kesulitan karena lawannya adalah Tatsuya. Mereka pun melepaskan tembakan asal-asalan yang gagal.

Okajima-kun melompat untuk mengambil Rebound. Dia menangkap bola dengan kedua tangannya, lalu mengoper ke Tatsuya.

"Lompatannya luar biasa ya," kataku.

"Di klub sepak bola pun, dia kuat dalam duel udara," tambah Reita.

"Oke, satu poin lagi."

Tatsuya membawa bola dari area kami. Saat aku maju, dia mengoper bola dengan tepat.

Kali ini penjaganya berganti menjadi Murakami-kun. Dia sadar Tatsuya hanya jadi pengalir Pass dan fokus menjagaku.

"Ternyata kau dulu main basket ya, Haira," ujar Murakami-kun.

Aku sebenarnya bisa mengoper balik, tapi aku ingin menguji kemampuanku. Aku mulai melakukan tipuan dengan drive ke kanan.

Murakami-kun merespons dengan cepat. Aku melakukan legs-through dan step back untuk menjauhkan diri darinya.

"Na...!?"

Melihatnya kehilangan keseimbangan, aku melompat dan melepaskan tembakan. Bola itu masuk dengan mulus.

"Seriuslah..."

Murakami-kun terduduk dengan mulut ternganga.

"Harus sedikit lebih kuat lagi, ya..."

Ini poin kedua, tapi jariku belum cukup peka. Mungkin aku harus berlatih mandiri nanti.

"Nice Natsuki. Hebat juga kau."

"Yo."

Tatsuya memujiku, namun ada rasa janggal yang aneh. Saat bermain basket, biasanya dia akan lebih bersemangat.

"—Tatsuya, ada apa?"

"Hah? Tidak ada apa-apa kok..."

Melihatnya yang benar-benar tidak merasa ada yang aneh, aku menggelengkan kepala.

"...Tidak, tidak ada apa-apa."

Ada rasa janggal, tapi tidak terlihat nyata. Untuk saat ini, aku memutuskan untuk tidak mencampurinya.

Latihan hari itu berakhir dengan tim kami menang telak atas tim Kelas 1.

"Apa kita punya peluang ya menang turnamen bola?"

"Basket ada Nagiura dan Haira, sepak bola juga banyak yang jago. Kita punya peluang besar," ujar salah satu teman.

"Tetap saja level senior lebih tinggi," timpal yang lain.

Sepulang sekolah, aku harus menghadiri rapat komite pelaksana. Aku berpapasan dengan Miori di depan kelas.

"Hari ini kita bakal mengerjakan apa?"

"Tugas remeh seperti penyesuaian Point System atau membuat pajangan," jawabku.

"Uee... merepotkan sekali..."

Kami berjalan bersama menuju ruang rapat. Di tengah jalan, Nagi berlari kecil menghampiri kami.

"Rapat hari ini juga pasti menyenangkan!"

"Itu karena ada Funayama-san?" tanya Miori kepada Nagi. Nagi hanya bisa menjawab dengan malu-malu.

Saat kami berbelok, Funayama-san sedang berjalan di depan kami. Nagi langsung gemetar ketakutan.

"Tuh, ajak bicara sana," kataku.

"E-eh!? Kita sedang bersama-sama begini, kenapa harus aku?"

"Siapa yang menyapa duluan, kesannya akan lebih baik."

Di tengah percakapan, Funayama-san menyadari kami dan menyapa dengan sopan.

"Ha-halo! Hari ini cuacanya bagus sekali ya!"

Nagi panik dan mengucapkan kalimat yang salah. Padahal hari ini mendung.

"...Mendung, ya," gumam Funayama-san.

"I-iya ya... maafkan aku..."

Suasana menjadi sangat canggung. Nagi terus tertawa hambar dan Funayama-san kehilangan celah untuk bicara.

"Komite pelaksana memang merepotkan, tapi ya, mari kita berusaha," kataku berusaha mencairkan suasana.

"Semoga bisa cepat selesai ya," timpal Miori.

Nagi dan Funayama-san terlihat lega, namun mereka masih kaku. Aku menarik Nagi sedikit ke samping.

"Hei, Nagi. Tolong tarik perhatian Funayama-san sebentar," bisikku pada Miori agar dia bisa mengobrol dengan Funayama-san.

Setelah Miori mulai mengobrol, aku berbisik pada Nagi.

"Nagi, kuncinya adalah tunjukkan ketertarikanmu pada lawan bicara," kataku.

"I-iya, saya akan coba," jawab Nagi.

Nagi pun memberanikan diri. "Funayama-san, katanya kamu lihat konser festival budaya kemarin ya?"

"I-iya..."

"Kamu suka band rock?"

Mendengar itu, Nagi mulai bercerita dengan semangat tentang musik. Funayama-san pun merespons dengan antusias.

"Ternyata mereka bisa akrab juga ya," bisikku pada Miori.

"Iya, kamu dulu juga tidak sesusah ini," jawab Miori.

"Aku sering merepotkanmu, ya?"

"Tidak juga, aku justru dibantu olehmu," jawab Miori dengan sendu.

Kami sampai di kelas tempat rapat diadakan.

"Selamat siang," sapa kami.

Nagi masih terlihat sangat bersemangat.

"Natsuki, boleh tanya sesuatu?" tanya Nagi dengan suara kecil.

"Apa itu?"

"Motomiya-san itu mantan pacarmu ya?"

"............Haa!?"

Sial. Karena tanpa sadar aku berteriak keras, perhatian semua orang tertuju padaku.

Aku buru-buru menundukkan kepala kepada para senior yang menatapku.

"Hei, jangan bertanya hal aneh secara tiba-tiba begitu."

"E-emangnya aneh ya? Kalau melihat interaksi tadi, siapa pun pasti bakal mikir begitu."

Aku memprotes dengan suara pelan, tapi Naru mengatakannya dengan wajah bingung.

...Apakah dia bicara soal interaksi tadi? Memang benar itu bukan pembicaraan yang pantas didengar orang lain, tapi aku tidak mengerti kenapa dia menghubungkannya dengan mantan pacar.

"Dia bukan mantan pacarku. Dia cuma teman biasa."

"Istilah 'teman biasa' itu... justru makin sulit dipercaya, sih..."

Padahal aku menyatakan fakta, tapi entah kenapa Naru malah meragukanku. Di bagian mana yang sulit dipercaya?

"Halo. Perhatian. Rapat hari ini kita mulai ya."

Pada akhirnya, Senior Yanagishita memulai rapat komite pelaksana, jadi aku tidak bisa menanyakan hal itu lagi.

Rapat berjalan dengan tenang. Secara garis besar, Senior Yanagishita dan orang-orang di sekitarnya sudah memadatkan kerangka apa yang ingin diputuskan hari ini.

Jadi, tugas kami hanyalah memberikan pendapat pada detail-detail kecilnya saja.

"Kalau begitu, poin untuk tiap cabang olahraga, ini sudah diputuskan ya."

"Tidak ada keberatan. Terus, selanjutnya apa?"

"Yah, jadwal waktunya. Aku sudah buat drafnya, jadi tolong berikan pendapat kalau ada."

"Gedung olahraga kita punya tiga lapangan, jadi nyaman banget kalau situasi seperti ini."

"Benar juga. Kalau ada yang meleset sedikit pun, masih bisa disesuaikan. Begini saja, bagaimana?"

Saat semua yang diperlukan sudah diputuskan dan aku berpikir rapat hari ini sudah selesai—

"...Anu. Menurut jadwal ini, sepertinya tidak ada waktu luang di lapangan sisi gedung sekolah."

Yang mengangkat tangan dan angkat bicara ternyata adalah Funayama-san.

Karena sedari tadi pembicaraan didominasi oleh anak kelas tiga, semua orang tampak terkejut.

"...Hmm. Memang benar, kurasa lebih baik kalau kita memberi sedikit kelonggaran."

Senior Yanagishita meletakkan tangan di dagunya, mempertimbangkan pendapat Funayama-san.

"Tapi, bukannya sulit ya? Lapangan sisi gedung itu buat basket putra, kan? Berbeda dengan cabang lain, durasi pertandingannya panjang, dan kali ini jumlah pesertanya menumpuk di putra. Kalau tidak dipangkas di suatu tempat, jadwalnya tidak akan selesai."

Seorang anak kelas tiga yang berposisi sebagai pendukung Senior Yanagishita mengatakannya dengan wajah sulit.

Terus terang, aku tidak terlalu menyimak, tapi aku berusaha mengejar isi pembahasannya.

Basket dan sepak bola adalah sistem pilihan antara putra dan putri, jadi bobotnya berubah tergantung angkatan. Kali ini anak laki-laki menumpuk di basket, dan anak perempuan menumpuk di sepak bola. Karena itulah jadwal lapangan sisi gedung sekolah yang rencananya dipakai basket putra jadi tidak punya ruang, dan itu dianggap sebagai masalah.

"Apa ada usulan konkret?"

"...Iya. Tadi sudah saya tulis di kertas. Bagaimana kalau seperti ini?"

Funayama-san menyerahkan draf jadwal yang sudah dia perbaiki kepada Senior Yanagishita.

Setelah memeriksa kertas itu di sekitar anak kelas tiga untuk beberapa saat, Senior Yanagishita akhirnya mengacungkan jempol.

"Oke! Kalau begitu ini keputusannya! Namanya Funayama-chan, kan? Terima kasih ya."

"Ah, tidak... maaf. Saya sudah lancang."

"Eits! Tidak perlu sungkan begitu! Lagipula, ini sangat membantu. Anak kelas satu lainnya juga, terima kasih sudah memberi pendapat. Maaf ya, kami jadi memutuskan sendiri di sini."

Setelah berkata begitu, Senior Yanagishita mengalihkan pandangannya padaku.

"Kamu Haibara-kun, kan? Penampilan panggungmu di festival budaya keren banget. Aku sampai terharu."

"Eh? Ah, terima kasih banyak."

Rasanya aneh sekali. Dari sisiku, perasaan bahwa Senior Yanagishita adalah kapten klub basket belum hilang, tapi dia justru memperlakukanku sebagai anak kelas satu dari klub musik ringan. Ya memang kenyataannya begitu, sih.

Aku menyukai Senior Yanagishita. Mulai dari musim semi saat aku masuk klub, hingga dia pensiun di musim panas, meskipun waktunya singkat, dia selalu memedulikanku yang merupakan junior merepotkan.

"Di turnamen bola, kamu ikut apa?"

"Basket."

"Oh! Bagus tuh. Aku juga ikut basket. Kalau nanti bertemu, tolong jaga permainannya ya?"

Senior Yanagishita menepuk bahuku dengan ringan dan berkata dengan santai.

"Tapi, aku tidak akan kalah ya? Aku ini sempat jadi kapten klub basket sampai musim panas kemarin."

Senior Yanagishita tersenyum menantang. Matanya serius. Dia tidak menganggap ini sekadar turnamen bola biasa.

Tapi, itu wajar saja. Orang ini selalu bersungguh-sungguh dalam hal kompetisi.

"Aku juga tidak akan kalah. Soalnya, aku lumayan jago basket."

"Oh! Berani juga kamu! Bagus, kalau begitu baru seru!"

Senior Yanagishita tertawa dengan riang.

Setelah itu, dia menatap kami anak kelas satu satu per satu lalu memberi pesan.

"Yah, mumpung ada acara seperti ini. Jangan bersikap sinis, mari kita nikmati sepuasnya."

Jika orang lain yang mengatakannya, mungkin terasa sedikit klise, tapi ada keyakinan saat Senior Yanagishita yang mengucapkannya.

Selain itu, sebagai seseorang yang sedang mengulang masa mudaku, aku bisa memahami pemikiran itu. Meskipun tidak bisa memaksakan orang lain, menurutku akan lebih seru kalau kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Karena masa muda hanya terjadi sekali.

...Tidak, kalau aku sih ini sudah yang kedua kalinya, ya?

"Shizuki-chan, hari ini kamu hebat sekali. Aku sampai kaget."

Kami berempat anak kelas satu berjalan pulang menuju kelas. Ini sudah menjadi rutinitas untuk kedua kalinya.

"Tidak, aku tidak bicara hal yang hebat kok..."

Funayama-san merendah dengan bingung, tapi menurutku tidak begitu.

"Tidak, tidak, hebat sekali bisa bicara dengan lantang di tempat tadi!"

Miori mengatakan itu lalu melirik ke arah Naru.

Sepertinya Naru mengerti maksudnya, dia pun mengangguk kecil.

"Aku juga setuju. ...Kalau aku di tempat seperti itu, aku pasti tegang dan tidak bisa bicara apa-apa."

Naru menertawakan dirinya sendiri dengan tatapan jauh.

Itu adalah momen untuk memuji, tidak perlu merendahkan diri sendiri, lho!

Saat aku merasa gemas, Funayama-san menggelengkan kepalanya.

"...Tidak begitu. Shinohara-kun, saat festival budaya, bukankah kamu bermain di depan penonton yang begitu banyak? Bahkan saat perkenalan anggota, kamu sampai berpose mengepalkan tangan."

"T-tolong jangan bahas hal itu..."

Naru wajahnya memerah karena malu dan bergumam tidak jelas.

Funayama-san menggembungkan pipinya.

"...Aku akan bahas. Karena aku terharu. Mungkin kata-kataku terdengar buruk, tapi Shinohara-kun yang biasanya kupikir tipe pendiam dan biasa saja sepertiku... terlihat sangat bersinar... Jadi, aku berpikir mungkin aku juga bisa berubah, aku juga ingin berubah."

Naru terpaku oleh perkataan serius Funayama-san.

Mungkin sulit dipercaya, tapi musik kami sampai ke banyak tempat.

Bass-mu, keberanianmu, itulah yang menggerakkan hati orang lain.

Syukurlah. Benar-benar syukurlah.

...Entah kenapa aku juga merasa senang seolah itu pencapaianku sendiri.

"Berbeda dengan Shinohara-kun, aku memang tidak melakukan hal yang hebat, tapi karena aku berpikir aku pun bisa mengeluarkan pendapatku... meskipun tegang, akhirnya aku bisa melakukannya."

Funayama-san mengendurkan ekspresinya dengan lega.

Aku sempat mengira dia tipe yang bisa bicara di tempat seperti itu, ternyata salah ya.

Dia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengubah dirinya sendiri.

"..."

Aku menepuk punggung Naru yang mematung dengan mulut ternganga.

Naru menatapku dengan wajah linglung seolah belum merasakan kenyataan.

"Bisa ada orang yang berkata seperti ini, itu semua berkat Natsuki yang mengajakku."

"Tidak, ini hasil kerja kerasmu. Percayalah pada dirimu."

Aku menepuk punggungnya sekali lagi agar dia bisa kembali ke realita.

"...Ngomong-ngomong, Shinohara-kun suka band apa?"

"Ah, aku suka Sonic Youth... menurutku yang nomor satu tetap 'Goo'. Selain itu Red Hot Chili Peppers atau Radiohead. Lainnya, eh, cuma band yang terkenal saja sih—"

Pertanyaan Funayama-san membuat mereka beralih ke topik musik.

Aku tidak begitu paham musik barat, jadi aku tidak bisa mengikuti obrolannya.

Miori juga hanya mengangguk dengan wajah bingung. Yah, sudah bisa ditebak.

"Ah... apa kalian akan mengadakan konser lagi di suatu tempat? Aku ingin sekali menontonnya."

Tiba-tiba Funayama-san berkata begitu, aku dan Naru saling menatap dengan wajah sulit dijelaskan.

Sampai hari ini, bukan cuma Funayama-san, tapi banyak orang yang mengatakan hal itu pada kami.

Namun band kami sudah berakhir. Entah apakah kami akan memulai kembali dengan anggota baru atau tidak.

Sampai sekarang pun, aku masih menunggu jawaban Serika.

——Hari ini pun, Serika tidak menampakkan diri di ruang musik kedua.

Setelah rapat komite pelaksana selesai, aku dan Naru datang ke taman dekat sekolah.

Taman ini punya lapangan basket. Saat di kehidupan pertama dulu, aku sesekali memanfaatkannya.

Sekarang pukul enam sore. Langit diwarnai jingga senja. Hari semakin cepat gelap, tapi taman ini punya lampu sorot, jadi bermain pun tidak masalah meski gelap.

"Lagipula, tidak disangka aku benar-benar akan mengajarimu basket."

Aku mengeluarkan bola basket yang kubeli di toko olahraga terdekat lalu melemparnya ke Naru.

Naru menangkap bola itu dengan sedikit panik.

"Aku tadinya setengah bercanda sih... tapi karena Funayama-san bilang dia mendukungku. Aku memang tidak pandai olahraga, tapi aku ingin berusaha dan menunjukkan sisi kerenku padanya."

"Heh, bagus tuh. Sisanya tinggal menyatakan cinta saja."

"Ja-jangan bilang semudah itu! Dia memang sepertinya tidak membenciku, tapi aku tidak tahu apakah dia benar-benar memikirkanku, dan lagi, kami baru saja bicara lancar beberapa hari ini. Harus jadi lebih dekat lagi."

"Tidak apa-apa. Kamu pasti bisa."

"Jangan samakan aku dengan Natsuki yang bisa menyatakan cinta di panggung besar begitu dong!"

"Aku waktu itu juga tegang sekali, tahu."

Aku mengerti perasaan Naru. Kita tidak ingin menyatakan cinta meski tahu mungkin akan ditolak. Kita ingin kepastian bahwa kita akan diterima. Karena kita takut kehilangan. Butuh keberanian untuk mengubah hubungan.

Karena aku sudah dengar perasaan Funayama-san dari Miori, aku tahu dia tidak akan gagal, jadi aku merasa ini bertele-tele. Tapi kalau aku ceritakan itu, melanggar etika. Sulit sekali.

"...Aku juga sudah tukar LINE. Mulai sekarang, kami akan jadi lebih dekat lagi."

Naru mengatakannya dengan wajah penuh tekad lalu melempar bola padaku. Bentuk lemparannya seperti anak kecil yang melempar bola baseball, sangat canggung. Sepertinya harus mulai dari operan dulu.

"Pegang bola di depan dada, buat segitiga dengan ibu jari dan telunjuk. Lalu, sambil melangkahkan kaki, gunakan jentikan pergelangan tangan. Bayangkan seperti sedang mendorong beban dengan berat tubuhmu."

Sambil menjelaskan chest pass pada Naru, aku melempar bola kembali.

Naru berkata "wa, wa," sambil berusaha menangkap bola, tapi bolanya malah jatuh ke tanah.

"Saat menangkap, posisikan tangan di depan dada, jangan takut dan panggil bolanya. Cara Naru sekarang membuatmu sulit menangkap karena tanganmu sendiri yang bergerak maju. Tunggu, lalu tangkap."

Setelah aku jelaskan dengan gerakan tubuh, Naru mengangguk mantap.

"...I-iya!"

Sejak itu, kami mengulang operan berkali-kali.

Naru tidak punya bakat sedikit pun, tapi dia sangat serius.

Sepertinya dia benar-benar ingin menunjukkan sisi keren dirinya. Aku bisa memahami motivasinya. Itulah sebabnya aku jadi ingin membantu. Kalau dia bersungguh-sungguh, mengajarinya pun jadi menyenangkan.

"Nah, gitu! Mulai terasa bagus. Tapi, bayangkan untuk mendorong lebih dengan tubuhmu."

"Iya! G-gini, ya!?"

"Agak beda! Dengar, begini!"

"Gini, ya!?"




"U-uuh... tidak, tidak! Bukan begitu! Lihat, harusnya seperti ini!"

"Mengerti! Seperti ini, ya!"

"Bukan, sama sekali bukan itu."

"Eh!?"

Aku terus melakukan metode coba-coba seperti itu untuk menanamkan gerakan dasar operan pada Naru.

Berkali-kali Naru terlihat murung, tapi sebenarnya aku pun tidak punya bakat. Meskipun begitu, latihan yang konsisten akan membuat kita sedikit lebih baik. Tekad seorang orang biasa terkadang bisa melampaui kejeniusan.

—Sama seperti saat aku mengalahkan Tatsuya dulu.

"Yosh! Operanmu sudah mulai lancar. Kalau begini, pasti berguna di pertandingan nanti."

"A-ah, terima kasih...! Ini berkat Natsuki!"

"Ya sudah, sekarang giliran lemparan shoot."

"Eh...? Bukannya hari ini sudah selesai...?"

"Apa yang kamu katakan? Bukannya kamu ingin menunjukkan sisi kerenmu pada Funayama-san?"

"Ha-hahaha... benar juga ya..."

Meski seharusnya dia sangat bersemangat, entah kenapa mata Naru terlihat gelisah.

Jangan-jangan dia merasa tidak enak padaku? Padahal dia tidak perlu merasa begitu.

Karena itulah, aku memutuskan untuk mengajarinya gerakan dasar shoot.

Saat aku menyelesaikan semua penjelasannya, langit sudah berubah menjadi gelap gulita.

Meskipun lampu sorot lapangan sudah menyala, jarak pandang menjadi buruk begitu kita menjauh dari lapangan.

"A-aku sudah tidak kuat lagi..."

Naru terkapar lemas di bangku panjang.

Untuk seseorang yang biasanya tidak pernah berolahraga, usahanya sudah cukup hebat.

"Besok pasti ototmu pegal semua."

"Kenapa Natsuki bisa terlihat santai sekali...?"

"Karena aku rutin latihan otot. Latihan otot itu bagus, tahu. Latihan otot membuat dunia menjadi lebih kaya."

"Eh, kok terdengar agak menakutkan..."

Setelah Naru tumbang, aku lanjut melakukan latihan mandiri.

Untuk bisa berkontribusi di turnamen bola, aku harus mengembalikan insting permainanku.

Menghadapi kelas para senior, kekuatanku saat ini jelas masih belum cukup.

Aku melakukan dribble pelan lalu melepaskan shoot.

Ujung jariku sedikit goyah, bola mengenai ring dan memantul keluar.

"...Harus sedikit lebih tinggi lagi, ya?"

Sambil menghela napas, aku mengikuti ke mana arah bola itu pergi.

Di balik kegelapan, seseorang memungut bola yang sedang menggelinding itu.

Gadis dengan seragam yang sama mendekat dari balik kegelapan itu. Dia adalah Motomiya Miori.

"Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini?"

Miori melakukan dribble yang seolah menempel di tangannya, lalu memutar bola itu di ujung jari.

"Latihan buat turnamen bola."

"Kalau kamu sih tidak heran, tapi sampai Shinohara-kun juga?"

"Sepertinya dia ingin menunjukkan sisi keren dirinya pada Funayama-san."

"..."

"Entah kenapa, rasanya mirip sekali denganmu. Motif untuk berusaha itu, benar-benar kekanak-kanakan."

Miori terkekeh pelan. Berisik sekali dia!

Tapi, aku harus akui kalau memang ada kemiripan.

"Lagipula, bukannya kamu tidak pernah lewat sini saat pulang sekolah?"

"Hmm... entahlah, lagi pengen jalan-jalan saja. Terus, kebetulan melihatmu."

...Dia mencoba bersikap seperti biasa, tapi itu bohong. Jelas sekali ada sesuatu yang terjadi. Hanya dari suaranya saja aku tahu itu. Karena dia sendiri tidak bicara, aku jadi bingung apakah harus menegurnya atau tidak.

"Hei, Natsuki."

Miori berdiri di tengah lapangan lalu memberikan bola itu kepadaku.

"Biar kutemani latihan mandiri."

Dia berkata begitu sambil mengambil posisi bertahan.

Baiklah kalau begitu. Kalau kamu tidak mau bicara, aku juga tidak akan bertanya.

"—Satu lawan satu, siapa yang mencapai tiga poin duluan dia yang menang."

"Nah, ini kemenangan keduaku."

"I-itu curang! Kamu belum kasih aba-aba mulai! Ulangi!"

"Yah—oke, sempurna. Yang ini tidak masalah, kan?"

"Grrr... sekali lagi! Sekali lagi kubilang sekali lagi!"

"Hah, merepotkan sekali..."

"...Sial! Serius? Itu pasti cuma keberuntungan!"

"Meskipun keberuntungan, kalau masuk ya tetap menang. Yah, mengakulah kalau kalah!"

"Padahal kamu hampir kalah terus. Tidak usah sombong cuma karena menang sekali..."

Aku membeli minuman di mesin penjual otomatis dan meneguknya sampai habis.

"Puh, hidup lagi rasanya..."

Bahkan aku yang terbiasa pun merasa sangat lelah. Rasanya sudah tidak bisa bergerak lagi.

Padahal awalnya cuma main satu lawan satu sampai tiga poin, tapi karena Miori yang kalah terus merengek...

...Capek sekali. Lagipula sekarang jam berapa? Aku melihat ponsel, ternyata sudah lewat pukul sepuluh malam. Ini terlalu larut. Kalau naik kereta sekarang, aku baru sampai rumah lewat pukul sebelas.

Ngomong-ngomong, Naru yang sudah kelelahan sudah pulang sejak lama. Mungkin dia bosan menunggu kami yang terus bermain basket. Aku memang merasa tidak enak karena membiarkannya sendirian...

Aku membawa minuman yang kubeli di mesin penjual otomatis lalu kembali ke tempat Miori.

Miori sedang berbaring di rerumputan taman.

Sudah jam segini, tidak ada orang lain selain kita, tapi apa pantas melakukan itu?

"Seragammu bisa kotor, tahu."

"Sudah terlambat, kan? Lagipula besok Jumat, nanti hari Sabtu atau Minggu tinggal bawa ke laundry saja."

"Ini, aku belikan minuman."

"Beli apa?"

"Susu stroberi. Kamu suka, kan?"

"Aku mau bilang 'kamu pengertian sekali', tapi sekarang aku cuma ingin air putih."

"Sudah kuduga kamu bakal bilang begitu, jadi aku juga beli air putih."

"Eh, beneran pengertian ya. Kamu sudah dewasa, ya."

Miori mengangkat tubuhnya dan menerima botol air putih yang kuberikan.

"Ya, tapi itu bekas aku minum sedikit sih."

"Uh!? Tunggu, kamu ini..."

Mungkin karena tersedak, Miori terbatuk-batuk.

"Lagipula, kamu bukan tipe orang yang memedulikan hal seperti itu, kan?"

Melihat tingkahnya yang bodoh itu, tawaku pecah. Aku duduk di samping Miori.

"Dulu sama sekarang kan beda. Soal... perbedaan pria dan wanita, dan hal-hal lainnya, kan?"

Miori memerah padam sambil terbata-bata. Jarang sekali dia seperti ini.

Tapi, mungkin yang dibilang Miori memang benar. —Memang benar, semuanya sudah berbeda dari dulu.

Aku, Miori, dan hubungan yang mengelilingi kami, semuanya telah berubah.

Aku menatap langit malam yang bersih tanpa awan.

Bintang-bintang yang bertebaran terlihat sangat indah.

"...Hei, ingat tidak? Saat pertama kali kita bertemu."

Sampai sekarang pun, hanya momen itu yang bisa kuingat dengan sangat jelas.

"...Memangnya ada apa? Aku tidak terlalu ingat."

"Kamu pasti begitu ya."

Bagi Miori, itu mungkin hanya potongan kejadian sehari-hari yang biasa saja.

Namun bagiku, itu adalah kenangan yang sangat berharga.

Hei, sedang apa? Ayo main sama kita!

Musim semi kelas satu SD.

Miori menggenggam tanganku yang tidak bisa masuk ke dalam lingkaran pertemanan.

Itulah awal mula aku mendapatkan teman-teman yang akrab denganku.

"Aku penasaran, sekarang Takuro lagi apa ya."

"Nama yang bikin kangen. Dia anak yang lucu sekali."

Aku mengingat nama sahabat yang dulu selalu bermain bersama aku dan Miori.

Takuro agak gemuk dan mudah sekali diajak bertengkar, tapi dia anak yang menyenangkan dan tidak pernah lepas dari senyuman.

"Dia pindah ke Osaka, lalu kita tidak pernah bertemu lagi. Dulu juga tidak ada cara untuk berkomunikasi."

"Eh, itu waktu kapan ya? Kelas lima SD? Atau enam?"

"Kelas lima, kan? Waktu karyawisata pun dia sudah tidak ada."

"Ah, benar juga. Waktu itu tinggal aku, kamu, dan... Shuto ya."

"Shuto ya. Dia juga masuk SMP yang berbeda dengan kita, lalu setelah itu..."

Itu juga nama yang sangat dirindukan.

Tidak ada orang yang lebih pantas disebut bodoh selain dia.

Shuto adalah pria yang sangat ceria dan selalu dipenuhi dengan semangat.

"Ternyata benar ya. Aku sesekali bertemu dengannya. Kita masih terhubung di Minsta. Sesekali aku melihat postingannya, sepertinya dia masih lanjut bermain sepak bola di SMA Higashi."

"Begitu ya. Syukurlah kalau dia baik-baik saja."

Waktu itu, kami berempat selalu bermain bersama: aku, Miori, Shuto, dan Takuro.

Hari ini kita adakan kejuaraan lempar batu ke air! Pertama, lari ke pinggir sungai!

Oke! Aku tidak akan kalah! Waaa! Aku yang pertama sampai!

Tiba-tiba kenapa sih... Miori dan Shuto semangat sekali sampai aku tidak bisa mengikutinya.

Hahaha! Mereka bebas sekali seperti biasanya! Kita juga harus pergi, Natsuki.

Mengesampingkan kami bertiga, yang selalu memimpin adalah Miori.

Kami pernah dimarahi guru karena membuat keisengan, Miori pernah bersembunyi saat main petak umpet sampai malam hingga tidak ada yang bisa menemukannya, kami pernah menyelinap ke sekolah di malam hari, atau pernah sok-sokan ingin bersepeda sampai ke Tokyo tapi menyerah di tengah jalan karena lelah lalu kembali pulang. Keesokan harinya kami semua tumbang karena otot pegal. Dulu kami benar-benar bodoh. Memikirkannya saja membuatku malu.

"...Menyenangkan ya."

Miori berbisik pelan. Dia pasti sedang mengingat kenangan yang sama denganku.

Dulu kami memang tidak bisa diharapkan, tapi—tetap saja, itu adalah waktu yang sangat menyenangkan.

"...Kukira selamanya kita akan terus berempat seperti itu."

"Aku pun, berpikir begitu. Aku tidak bisa membayangkan berteman dengan orang lain selain mereka."

Namun, aliran waktu itu kejam. Tidak ada yang tidak berubah.

Takuro dan Shuto, keduanya menjalani jalan hidup masing-masing. Aku bisa bersama Miori sampai sekarang pun rasanya seperti keajaiban. Karena dalam sejarah yang seharusnya, tidak akan ada lagi hubungan di antara kami.

...Sama seperti itu, enam orang yang sekarang pun, perlahan akan berubah seiring berjalannya waktu.

Tempat yang dulu begitu nyaman untuk ditinggali, sekarang rasanya sedikit menyesakkan napas.

"—Aku ingin kembali ke masa itu."

Orang yang berbisik begitu adalah Miori.

"Karena waktu itu menyenangkan. Tidak ada kekhawatiran seperti sekarang."

"...Apa kamu punya kekhawatiran? Bukannya keinginanmu untuk berpacaran dengan Reita sudah terkabul?"

"...Banyak sekali. Kita bukan lagi anak-anak, tapi kita juga belum jadi orang dewasa seutuhnya. Perasaan kita bukan cuma sekadar senang atau sedih yang sederhana."

Miori menatapku.

"Kamu juga sama, kan?"

"Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Karena meskipun kamu sudah bisa berpacaran dengan Hikari, wajahmu tidak terlihat bahagia."

Miori selalu tahu segalanya.

—Aku hanya berlari dengan seluruh kekuatanku. Agar kali ini, aku tidak punya penyesalan lagi.

Di sinilah masa kini yang sudah kuubah. Jadi aku tidak punya hak untuk mengeluh.

"...Apa jangan-jangan, kamu menyesal? Dengan jalan yang kamu pilih sendiri."

Mendengar pertanyaan Miori, aku menggelengkan kepala.

Kupikir masih ada cara lain. Cara untuk mengabulkan keinginan tanpa merusak hubungan pertemanan kami.

Namun, meskipun aku tahu itu, aku rasa aku tetap akan memilih jalan ini.

Karena aku merasa ini yang paling jujur.

Jadi bagaimana pun hasilnya nanti, aku tidak akan menyesal.

"Begitu ya."

...Benarkah begitu?

Apakah perasaan ini bukan penyesalan?

Aku tidak tahu. Padahal seharusnya aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan.

"Tapi kan, tidak ada salahnya kalau tidak menyerah sekarang?"

Miori mengangkat tubuhnya lalu menusukkan jarinya ke hidungku.

"Kamu berpikir karena retaknya hubungan grup pertemanan kita itu salahmu sendiri, jadi kamu tidak punya hak untuk melakukan apa pun, kan? Kejujuran itu memang sifat baikmu, sih."

"...Faktanya, memang salahku. Aku yang membuat semua orang terombang-ambing."

"Tapi, kalau dibiarkan terus seperti ini, bukannya masa muda yang kamu impikan tidak akan tercapai?"

"Mungkin benar begitu, tapi..."

Miori mulai meminum susu stroberi milikku tanpa izin. Padahal tadi dia bilang mau air putih.

"Hei, pilih salah satu saja."

"Sayangnya, keduanya milikku."

Melihat Miori meminum susu stroberi itu dengan lahap, kemarahanku pun hilang.

"...Tidak apa-apa, kan? Cobalah untuk jadi lebih egois seperti diriku."

Kata-kata Miori perlahan menyusup ke dalam hatiku.

"—Karena, kamu tidak mau menyesal lagi, kan?"

Benar kata Miori. Bukankah aku mengulang waktu ini karena aku merasa masa mudaku dulu penuh dengan penyesalan?

Jika begitu, mendapatkan masa muda yang berwarna pelangi harus jadi prioritas utama.

"...Entahlah. Agak aneh rasanya mendengar itu dariku yang penuh penyesalan."

Setelah itu, ada keheningan sejenak.

Kami berdua duduk berdampingan, menatap langit malam dalam diam.

"...Boleh kutanya, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Aku tidak akan memberi tahu siapa pun kecuali kamu. Tapi, itu semua karena dirimu."

"Eh!?"

Karena aku!? Kalau begitu aku jadi makin penasaran!

Namun, sepertinya Miori tidak punya niat untuk cerita. Ada apa sebenarnya...

"Sebentar lagi kita harus pulang."

"Benar juga. Kalau tidak hati-hati, kita bakal ketinggalan kereta terakhir."

"Tapi, aku lelah sekali sampai tidak bisa berdiri."

Sambil berkata begitu, Miori berusaha berdiri.

"Eh...?"

Mungkin karena kakinya kesemutan, Miori tiba-tiba terhuyung.

—Tepat sebelum itu terjadi, aku berhasil menangkap dan memeluk Miori.

"Ma-maaf... kakiku, tidak bisa bergerak dengan benar..."

Lagipula, berbeda denganku, dia baru saja menjalani latihan satu lawan satu setelah menu latihan klub yang berat.

Tentu saja kakinya akan mencapai batas.

"Sudah kubilang berhenti di tengah jalan tadi, kan."

"Aku tidak mau. Mana mungkin aku mau berakhir dengan kekalahan terus."

"Kamu tetap saja tidak suka kalah ya..."

Sambil tersenyum kecut, aku melepaskan tangan dari Miori yang sudah berdiri tegak kembali.

"...Hei, Miori?"

"..."

Namun, Miori justru memelukku erat dan tidak mau melepaskannya.

Karena dia menyembunyikan wajahnya di dadaku, aku tidak bisa melihat ekspresinya.

"...Apa ada yang salah?"

Aku mencoba menepuk-nepuk kepala bagian belakangnya pelan.

"...Hei, Natsuki."

Lalu Miori, dengan suara yang terdengar sangat serius, mulai mengucapkan hal yang tidak terduga.

"Bagaimana kalau aku bilang... aku menyukaimu?"

...Karena itu adalah pernyataan yang terlalu tak terduga, pikiranku seketika menjadi kosong.

Apa yang harus kulakukan? ...Maksudku, Miori menyukaiku? Lalu, bagaimana dengan Reita?

Saat aku sedang mematung, Miori melepaskan pelukannya, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Ahahaha! Apa-apaan itu, kok serius banget? Jelas-jelas itu cuma bercanda."




"……Diamlah. Meskipun itu cuma bercanda, aku tidak tahu harus menjawab apa."

Lagipula, situasinya sama sekali tidak seperti bercanda.

Berhentilah berakting dengan kemampuan yang terlalu hebat seperti itu!

"Aku pulang! Kalau tidak cepat-cepat, kereta terakhirnya bakal habis!"

Miori berlari dengan gesit dan melambaikan tangan dari jarak yang agak jauh.

"……Ternyata kakinya baik-baik saja."

Mau tak mau, aku mengejar Miori dengan langkah cepat.

Keesokan harinya, ototku terasa pegal semua.

Bangkit dari tempat tidur saja butuh perjuangan berat.

Meskipun hari libur, aku tidak bisa bermalas-malasan tidur seharian.

Hikari akan datang ke rumah nanti, jadi aku harus melakukan persiapan.

Ya, hari ini adalah hari kencan rumah bersama Hikari!

"Natsuki? Pacarmu mau ke sini, kan? Bersihkan kamarmu sana."

"Aku tahu. Aku memang berencana melakukannya dari tadi."

"Kamu selalu bilang begitu. Lagipula..."

Sambil mengabaikan omelan Ibu, aku mulai membersihkan kamar.

Kamarku memang rutin dibersihkan dan sudah rapi, tapi tak ada salahnya berjaga-jaga.

Omong-omong, hari ini Namika pergi bermain dengan teman-temannya, tapi Ibu ada di rumah.

"Senang ya. Tidak kusangka Natsuki akhirnya punya pacar, padahal beberapa waktu lalu rasanya mustahil."

Ibu yang tampak bersemangat sedang menyedot debu di ruang tengah.

"Jujur saja, aku ingin Ibu pergi ke suatu tempat."

"Ibu cuma mau melihat sekilas saja. Setelah itu Ibu mau pergi belanja."

Kata-kata Ibu membuatku merasa lega.

Aku sempat bingung harus bagaimana kalau dia terus-terusan muncul di depan pintu.

"Ah, apa sebaiknya Ibu siapkan camilan atau sesuatu? Stoknya kebetulan habis..."

Ibu terus mondar-mandir tanpa henti. Tolong jangan lebih gugup daripada aku.

"……Yosh, segini sudah cukup."

Setelah membuat kamarku berkilau bersih, aku menyeka keringat yang menetes di dahi.

Tepat saat itu, ponselku bergetar. Ada notifikasi dari LINE.

Hoshimiya Hikari: "Aku sudah mau sampai stasiun!"

Natsuki: "Kalau begitu aku jemput ya. Tunggu sebentar."

Aku keluar rumah dan menyusuri jalan menuju stasiun.

Pemandangan dedaunan musim gugur di sepanjang jalan sangat cerah dan indah.

Daun ginkgo berguguran, dan dedaunan kering dikumpulkan di tepi jalan.

Berjalan menyusuri jalan desa yang familiar di mana mobil jarang lewat, aku sampai di tujuan dalam lima menit.

Di pintu masuk stasiun tak berawak, Hikari menyadari kehadiranku dan melambaikan tangan.

Ekspresinya langsung cerah seketika. Ekspresi yang ia tunjukkan saat melihatku sungguh curang.

Mustahil ada orang yang tidak merasa dia itu imut. Astaga, pacarku imut sekali...

"Halo! Natsuki-kun!"

Hikari berlari menghampiriku, lalu langsung menggenggam tanganku.

"Hauah."

Terlalu mendadak sampai aku mengeluarkan suara aneh yang memalukan. Tolong jangan langsung berikan serangan penuh di awal!

"Ahaha, suara apa itu?"

"Maaf karena terdengar memalukan..."

"Tidak kok. Natsuki-kun... hari ini pun terlihat keren."

...Astaga, jangan terlalu memancingku seperti itu.

Bisa-bisa ada yang mati nanti. Ya, aku orangnya.

"A-ayo jalan."

"Ah, kamu tersipu. Imutnya~"

...Gadis ini, dia benar-benar mempermainkanku!

Sebenarnya dia menganggapku keren atau imut sih!

Aku berharap yang keren saja!

"Ini kedua kalinya kita ke sini, ya."

Kami berjalan menyusuri jalan dari stasiun ke rumah.

Pemandangannya sama seperti sebelumnya, tapi kali ini ada Hikari di sampingku.

Hanya karena itu, dunia terlihat jauh lebih berwarna.

"Pertama kali itu waktu libur musim panas, ya."

Apakah sudah tiga bulan berlalu sejak kejadian itu?

Saat Hikari bertengkar dengan ayahnya, kabur dari rumah, dan meminta pertolonganku.

Rasanya baru terjadi kemarin, tapi waktu berjalan begitu cepat.

"Maaf soal waktu itu ya. Tiba-tiba datang begitu saja."

"Tidak apa-apa. Aku senang kamu mengandalkanku."

Karena kamu mengandalkanku, aku jadi bisa mengenal sosok Hoshimiya Hikari yang sebenarnya.

Aku jadi bisa lebih menyukai orang yang sudah kusukai sejak lama.

"Aku bisa sebahagia ini sekarang karena Natsuki-kun."

"Aku hanya membantu sedikit. Jadi, itu semua adalah hasil usahamu sendiri, Hikari."

"……"

"Hikari?"

Aku menatap Hikari yang tiba-tiba terdiam di sampingku.

Hikari yang entah kenapa menunduk, lalu membenturkan dahinya ke bahuku.

Belakangan ini, aku mulai memahami perasaan Hikari saat dia melampiaskannya dengan kekerasan.

"Jangan-jangan, kamu tersipu?"

"Berisik. Padahal kamu kan cuma 'debutan' anak SMA..."

Sambil menggembungkan pipinya yang memerah, Hikari menatapku tajam.

"H-hah? Apaan sih. Padahal kamu sendiri yang katanya idola sekolah..."

Saat aku reflek membela diri, Hikari diam-diam melancarkan serangan chop berkali-kali. Rasanya lumayan sakit!

"Heroin tipe kekerasan sudah tidak zaman lagi, tahu."

"Aku tidak akan menyerah."

Tidak menyerah itu bagus, tapi tolong jangan dibawa ke dunia nyata bisa tidak...?

"Hei, sekolah tempat Natsuki-kun dulu, apa dekat sini?"

Hikari tiba-tiba bergumam sambil melihat sekeliling.

"Kalau jalan sepuluh menit ke arah sana, itu sekolah menengahku. Sekolah dasar juga dekat sana."

"Boleh kita mampir sebentar? Aku penasaran dengan tempat Natsuki-kun dibesarkan."

"Itu cuma sekolah desa biasa, tidak ada yang menarik kok."

"Tidak apa-apa. Aku tetap penasaran."

Aku sudah memastikan, tapi tekad Hikari sepertinya sudah bulat.

"Ini dia, sekolah menengah tempatku dulu."

Setelah berjalan cukup jauh, sekolah itu tampak di tengah kawasan perumahan.

Sudah lama sekali aku tidak ke sini. Ada beberapa bangunan yang tidak kukenali.

"Lagi konstruksi?"

"Oh iya, aku sempat dengar kabar kalau gedung sekolahnya mau diperbarui."

"Jadi, yang tua di sana itu gedung lama?"

"Benar. Dulu aku sekolah di sana."

"Wah... begitu ya. Di sinilah Natsuki-kun dulu sekolah..."

Hikari menatap gedung lama yang tidak menarik itu dan pemandangan di sekitarnya dengan saksama.

Di lapangan, klub bisbol dan klub sepak bola sedang berlatih.

"Waktu SMP, Natsuki-kun orangnya seperti apa?"

Sambil berjalan berkeliling sekolah, Hikari bertanya padaku.

"Dulu aku tidak punya teman, cuma penyendiri yang keberadaannya tipis."

Jadi tidak ada cerita yang bisa kuceritakan pada Hikari.

Benar-benar tidak ada. Masa SMP-ku terselesaikan sendirian.

"Tapi, waktu SD kan kamu punya teman? Kamu kan teman masa kecil Miori-chan."

"Itu benar. Selain Miori, ada dua teman akrab lainnya, dan kami selalu berempat."

"……Meski begitu, bolehkah aku tanya kenapa kamu jadi penyendiri?"

Hikari bertanya sambil mencoba membaca ekspresiku.

"Satu orang pindah sekolah, satu lagi menjauh, kami jadi tidak sering kumpul lagi, dan akhirnya aku dan Miori bertengkar. Rasanya sejak itu selesai begitu saja. Lagipula aku tidak punya teman lain."

"Natsuki-kun dan Miori-chan bertengkar? Kenapa?"

"Itu salahku. Aku yang mendorongnya menjauh."

Karena rasa cemburu yang konyol dan emosi buruk semacam itu, aku melukai Miori.

……Jujur, aku tidak ingin menceritakannya terlalu dalam.

Hikari mungkin menyadari perasaanku, dia hanya bergumam "Oh begitu."

"Jadi akhirnya, saat SMP kamu tidak punya teman... karena menyesal, aku memutuskan untuk melakukan 'debut anak SMA'. Aku ingin mengubah diriku dan menghabiskan hari-hari yang menyenangkan."

Sambil berbincang seperti itu, kami sampai di depan SD.

Di sini tidak ada yang berubah. Gedung sekolah tua maupun lapangan yang luas.

"Kalau begitu, ceritakan tentang masa SD-mu dong. Aku penasaran Natsuki-kun dan Miori-chan waktu kecil seperti apa. Kamu bilang pernah jadi anak nakal, kan?"

"Ah, kalau soal itu aku bisa cerita sepuasnya. Kamu mungkin tidak percaya kalau cuma tahu Miori yang sekarang, tapi dulu dia itu orang yang tindakannya serba nekat—"

Saat aku memilih beberapa cerita menarik masa SD, Hikari tertawa terbahak-bahak dan mendengarkannya dengan senang. Yah, sebenarnya semua itu cuma cerita saat aku dipermainkan oleh Miori.

Kami melewati taman dekat SD. Taman tempatku sering bermain dengan Miori dan yang lainnya.

Hikari masuk ke taman dan duduk di bangku.

Anak-anak sedang bermain di jungle gym dan ayunan. Sedikit teringat masa lalu.

"Natsuki-kun, menurutmu mana yang lebih menyenangkan, sekarang atau saat SD?"

Menghadapi pertanyaan Hikari, aku tidak bisa langsung menjawab.

"……Maaf. Pertanyaanku aneh ya. Seharusnya tidak perlu dibandingkan."

"Tidak, bukan berarti kamu harus minta maaf tapi..."

Entahlah.

Sebenarnya, aku sendiri tidak tahu.

Masa SD bagiku sudah menjadi kenangan yang sangat jauh. Jadi, mungkin hanya ingatan tentang saat-saat menyenangkan yang tersisa. Atau mungkin, ingatannya sudah diperindah.

"Dulu kami masih anak-anak. Tidak ada masalah seperti sekarang, belajar pun tidak berat, jadi kurasa memang menyenangkan."

Namun, aku melanjutkan kata-kataku.

"Sekarang pun menyenangkan. Debut SMA-ku sukses, aku punya teman, dan Hikari ada di sisiku. Aku juga bisa melakukan kegiatan band yang kuinginkan, dan usaha keras itu membuahkan hasil."

Justru karena itu, aku ingin melanjutkan hari-hari yang menyenangkan ini.

Miori bilang jangan menyerah. Jadi, aku akan terus berjuang.

"……Masalah yang Natsuki-kun pikirkan, itu soal Uta-chan dan Tatsuya-kun?"

Mendengar pertanyaan Hikari, aku mengangguk.

"Kalau bisa, aku ingin mengembalikan hubungan seperti semula."

"……Uta-chan juga bilang begitu. Katanya dia ingin kembali berteman. Tapi, karena perasaannya belum sepenuhnya hilang, jadi butuh sedikit waktu lagi. Dia minta maaf padaku."

……Padahal bukan salahnya, lanjut Hikari.

"Untuk Uta-chan, kurasa kita hanya bisa menunggu. Karena dia minta ditunggu. Dia bilang dia akan melampiaskan perasaannya pada Natsuki-kun maupun rasa cemburunya padaku ke dalam kegiatan klub."

"……Jadi kalian bicara sampai sejauh itu? Aku tidak tahu."

Tapi, Uta dan Hikari memang akrab. Tentu saja mereka punya kesempatan bicara lebih banyak daripada denganku.

"Uta-chan itu kuat. Jauh lebih kuat dariku."

Hikari menggenggam tanganku erat. Seolah ingin menekan emosi yang tak bisa terucap.

"Kalau Tatsuya-kun aku tidak begitu tahu, tapi dia sepertinya menjaga jarak dari Natsuki-kun, kan?"

"……Apa Hikari juga melihatnya begitu?"

"Apa terjadi sesuatu?"

"Kami sempat bertengkar. Tapi aku yang salah."

Aku menjelaskan secara singkat kejadian di hari festival budaya kepada Hikari.

"Ternyata ada kejadian seperti itu."

"……Yah, kalau dia menjauh dariku karena itu, tidak apa-apa. Tidak, sebenarnya tidak baik juga, tapi karena itu salahku jadi aku tidak bisa protes. Hanya saja, yang paling membuatku penasaran adalah..."

Aku teringat keanehan Tatsuya akhir-akhir ini.

"Akhir-akhir ini, dia sepertinya tidak terlihat menikmati hidup, kan?"

Hikari mengerjapkan mata mendengar kata-kataku.

"……Kalau dipikir-pikir, benar juga. Akhir-akhir ini dia kelihatan serius banget. Belajarnya giat sekali. Tapi, aku jarang melihatnya tertawa seperti dulu."

Benar kata Hikari.

Nagiura Tatsuya adalah pria yang ceria, energik, suaranya lantang, dan sering tertawa. Dia pria yang ekspresif.

Namun belakangan ini, dia selalu memasang suasana yang terlihat seperti orang yang sudah mencapai pencerahan. Memang benar dia lebih serius belajar dan ikut klub. Tapi, apakah ini yang disebut pertumbuhan?

"……Aku kurang suka melihatnya yang sekarang."

Alasan kenapa Tatsuya menjadi seperti itu, aku sedikit tahu. Aku memang lamban, dan kurasa duniaku lebih sempit dari orang lain. Namun, aku berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

"Apa yang akan kamu lakukan?"

"—Aku akan mengembalikan dirinya yang dulu."

Tiba-tiba aku teringat. Saat musim semi berakhir, saat Tatsuya menjaga jarak dari kami.

Tatsuya saat itu cemburu padaku. Tapi sekarang berbeda. Dia berusaha melangkah maju.

Hanya saja, caranya salah. Kalau begitu, sebagai teman, bukankah harus menghentikannya?

"Wah. Kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan?"

"Kemarin aku sempat bimbang, tapi sekarang sudah mantap."

Karena Miori mendorongku. Aku jadi merasa bodoh karena terus menunduk.

Lagipula, aku tidak bisa melakukan apa pun selain maju sambil terus menatap ke depan.

"……Itu pasti gara-gara Miori-chan, kan?"

"Kenapa tahu?"

"Entahlah. Ah, sudah kuduga."

Hikari mendongak ke langit sambil berkata seolah jengah.

"Yosh!"

Hikari berdiri dengan penuh semangat.

"Jalan-jalannya sudah cukup, ayo kita pergi!"

Aku menggenggam tangan yang disodorkan Hikari dan bangkit dari bangku.

Sesampainya di rumah, aku mengantar Hikari ke kamar.

Hari ini, aku sudah membentangkan karpet di lantai, menaruh bantal, dan membuka meja lipat yang biasanya disimpan. Saat aku duduk, Hikari duduk berhadapan denganku di seberang meja.

"Rasanya jadi lebih nyaman."

"Waktu itu memang mendadak, tapi hari ini persiapannya matang kok... ah, aku ambilkan minum ya."

Tepat saat aku baru mau berdiri lagi, pintu diketuk.

"Natsuki, Ibu bawakan minuman dan camilan. Boleh masuk?"

Sebelum aku menjawab, Ibu membuka pintu. Kenapa tanya kalau sudah dibuka!

Ibu menaruh nampan berisi minuman dan camilan di meja.

Hikari menunduk sopan.

"Permisi. Eh, terima kasih banyak."

"Tidak apa-apa kok. Kamu Hoshimiya Hikari-chan, kan? Ya ampun, lebih imut dari fotonya. Tidak menyangka anakku bisa punya pacar seimut ini... ah, Ibu Natsuki. Salam kenal ya."

"I-iya. Saya Hoshimiya Hikari..."

Hikari kebingungan tidak bisa mengimbangi obrolan Ibu yang seperti peluru.

"Dia anak yang payah, tapi tolong jangan ditinggal ya. Belakangan ini dia sepertinya sedang berusaha keras."

"Aku mengerti, jadi tolong cepat keluar."

Aku mendorong punggung Ibu untuk menuntunnya keluar kamar. Kalau sudah bicara, dia tidak akan berhenti.

Kalau tidak diusir, selamanya aku tidak akan bisa berduaan dengan Hikari.

"Ah, Ibu mengganggu ya. Ya sudah, Ibu mau pergi belanja dulu. Silakan santai ya. Ibu akan kembali sebelum makan malam."

Ibu yang bersemangat pergi meninggalkan kamar setelah mengatakan itu.

Akhirnya badai berlalu... tapi tiba-tiba Ibu melambai dari luar pintu.

"Apa lagi?"

"Jangan sampai lepas gadis seimut itu ya. Kamu tidak akan bisa menemukannya lagi."

"Aku tahu, meski tidak dibilang pun."

"Dan karena kalian masih SMA, jangan lakukan hal yang tidak bisa kamu tanggung jawab."

"Hah? Tidak, aku tidak akan melakukan itu—"

Tanpa menunggu bantahanku, Ibu pergi meninggalkan rumah.

Saat kembali ke kamar, Hikari sedang memerah padam dengan wajah canggung.

Ibu itu, suaranya besar sekali padahal dia pikir dia sedang berbisik...

"Ah, ada gitar."

Entah karena mencari topik atau memang benar-benar tertarik, Hikari melihat ke arah gitar yang bersandar di stand di sudut kamar.

"Kalau aku minta mainkan sesuatu, mau mainkan untukku?"

De-degar-degar!

Ini dia! Masalah klasik gitaris: 'Masalah apa yang harus dimainkan saat orang awam minta mainkan sesuatu'!

Tak disangka hari ini tiba juga bagiku... tapi, aku sudah memikirkan jawabannya.

"Oke."

Aku menjawab dengan wajah sombong.

Karena semenjak mulai main gitar, aku sudah membayangkan situasi ini berulang kali.

Aku bahkan latihan gitar demi momen ini.

Aku menyambungkannya ke amplifier kecil di rumah, lalu sedikit mengatur suara dan melakukan tuning.

"Wah, keren!"

Hanya dengan itu, Hikari bertepuk tangan.

"Aku kan belum main apa-apa."

"Tapi, saat memegang gitar, Natsuki-kun tetap terlihat keren."

"Terima kasih. Kalau begitu, sedikit saja ya."

Sambil berkata begitu, aku mulai memetik senar gitar dengan pick.

Aku memainkan frasa ritmis yang penuh tenaga dengan alternate picking enam belas ketukan. Itu lagu Walk This Way milik Aerosmith. Itulah 'jawaban' yang kutemukan setelah memikirkannya bertahun-tahun demi 'Masalah dimintai mainkan sesuatu'. Ini yang paling keren.

Setelah berhenti di saat yang pas, aku melirik wajah Hikari.

Hikari bertepuk tangan dengan wajah agak bingung, "Wah, wow."

Eh? Loh? Aneh... padahal di bayanganku seharusnya ada sorakan meriah...

"B-bagaimana?"

"Eh, um... keren sih, tapi aku kurang paham lagunya."

Ahaha, Hikari tertawa getir dengan canggung.

'Jawaban' yang kupikirkan bertahun-tahun... hancur!

Tidak, sebenarnya aku sudah tahu sih?

Lagipula ini orang awam.

Seharusnya aku memainkan lagu populer saat ini daripada lagu klasik.

Meski begitu, aku ingin percaya bahwa riff ini bisa menyentuh seluruh umat manusia di segala zaman...

"Tapi sepertinya aku pernah dengar, deh?"

"K-kan, benar kan? Lagunya memang lama, tapi sangat terkenal."

Saat aku menjelaskan tentang Aerosmith, Hikari menimpali dengan sabar agar mudah mengobrol.

Padahal mungkin dia tidak tertarik, betapa baiknya kekasihku ini...

"Aku mau dengar lagu lain juga. Lagu yang dimainkan saat festival budaya?"

Memenuhi permintaan Hikari, aku memainkan lagu festival budaya dan lagu favorit Hikari. Kemampuan gitar-ku tidak bisa dibilang hebat, tapi Hikari terlihat sangat senang.

"Terima kasih, Natsuki-kun."

Setelah itu, kami menonton video YouTube bersama, membaca naskah baru yang sedang ditulis Hikari lalu memberikan masukan, serta memutar DVD konser band favoritku. Begitulah kami menghabiskan waktu dengan tenang. Suasana yang santai itu terasa sangat nyaman.

"……Eh, sudah sore ya."

Melihat ke luar jendela saat Hikari bicara, ternyata langit sudah berubah warna menjadi jingga.

Hal-hal yang ingin kulakukan sudah selesai, dan percakapan mulai berhenti. Namun, tidak ada rasa canggung. Di tengah keheningan yang nyaman, tiba-tiba Hikari yang duduk di depanku menepuk lantai di sampingnya.

"Ke sini."

Aku memindahkan bantal dan duduk di samping Hikari.

Hikari lalu menjatuhkan kepalanya ke bahuku.

Aku kaku karena terkejut dengan kejadian mendadak ini, lalu Hikari menyandarkan seluruh berat tubuhnya padaku.

Karena hampir kehilangan keseimbangan, aku panik lalu merangkul pinggang Hikari untuk menahannya.

"Ehehe... misi sukses."

Aku bisa mendengar suara Hikari yang terdengar bahagia dari dadaku.

Hikari merangkul pinggangku. Dia memelukku erat.

"I-ini terlalu mendadak, tidak?"

"Karena aku pikir kalau tidak begini, kamu tidak akan memelukku."

Sambil bicara begitu, Hikari justru semakin menekan tubuhnya ke arahku. Dia sangat imut, semuanya terasa lembut, wanginya enak, kalau begini terus aku bisa kehilangan kendali.

Sudahlah, terserah apa pun yang terjadi! Aku memeluk Hikari lebih erat.

"……Maaf ya, karena aku pengecut."

"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu sangat menghargaiku."

Aku selalu membuat Hikari yang harus memberanikan diri karena aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Sedikit menyedihkan, tapi aku harus berjuang mulai sekarang. Untuk saat ini, aku akan menikmati waktu bahagia ini. Matahari terbenam yang masuk dari jendela menyinari Hikari yang sedang memelukku.

"Itu... Natsuki-kun."

"Ya?"

Hikari bicara sambil tetap menekan wajahnya di dadaku.

"……Aku…… mungkin sedikit…… mesum dibanding gadis biasa……"

Ya? Barusan... bilang apa...?

Mendengar informasi yang sangat mendadak itu, aku kaku tanpa bisa menjawab.

Hikari mungkin merasa malu karena mengucapkannya sendiri, telinganya sampai merah padam.

"Begitu, ya?"

Saat aku menjawab dengan susah payah, Hikari mengangguk pelan.

"Soalnya... saat kita seperti ini pun, aku jadi ingin menyentuh Natsuki-kun lebih jauh..."

Di dalam hatiku, binatang buas bernama insting sedang mengaum!

Rantai bernama rasionalitas yang mengikatnya selama ini berbunyi nyaring!

"……Hikari."

"Natsuki-kun..."

Hikari mendongak dengan ekspresi mempesona. Pandangan kami bertemu. Aku tidak bisa memalingkan wajah.

Saat jarak kami semakin dekat—

"Kak! Aku dengar Hikari-senpai datang, benarkah, i-tu............?"

Pintu kamar terbuka dengan keras dan Namika masuk dengan penuh semangat.

Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa detik.

Sepertinya kami berdua butuh waktu untuk memahami situasi.

Entah kenapa aku merasa sangat tenang. Dengan kemunculan Namika, rasanya aku justru kembali ke realita.

Namun, situasi ini tetap saja parah. Sejujurnya, aku dan Hikari terlihat seperti baru saja akan melakukan sesuatu yang intim. Wajah Namika mulai memerah padam dengan cepat.

"A-a-anu! Namika-chan! Enggak, itu bukan...!"

Bukan apa yang tidak? Aku sempat memikirkan hal itu di sudut pikiranku yang entah kenapa masih tenang.

"M-maafkan akuuuu! Permisi!"

Namika menutup pintu dengan keras. Suara langkah kakinya menuruni tangga terdengar cepat.

Hikari menjauh dari tubuhku dan merapikan baju serta rambutnya dengan wajah malu.

Jujur bagiku, karena binatang buas bernama instingku hampir lepas kendali, perasaanku campur aduk antara lega karena Namika datang, dan rasa kecewa, sungguh situasi yang rumit.




"Ano... Natsuki-kun. Tolong jelaskan dengan benar ya. Bahwa itu salah paham. Maksudku, bukan berarti kita sedang mencoba melakukan hal seperti itu, cuma... yah, ada kejadian aneh tadi."

Ucapannya terlalu berantakan sampai aku tidak mengerti apa yang dia katakan, tapi untuk saat ini, aku mengangguk saja pada perkataan Hikari. Tanpa diminta pun, aku berniat memarahi Namika nanti.

Kalau mau membuka pintu kamar orang lain, ketuk dulu, ya.

Akhir pekan yang menyenangkan telah berlalu, dan hari kerja dimulai kembali.

Sehari sebelum turnamen bola. Bahkan di sela-sela pelajaran biasa pun, suasana terasa sedikit bersemangat.

Di sana-sini orang-orang berbisik membicarakan turnamen bola, dan tampaknya semua orang diam-diam menantikannya. Namun, Tatsuya yang biasanya paling antusias memimpin percakapan semacam itu, terus diam saja.

"Pengumuman hasil kuis singkat. Kali ini luar biasa, ada yang mendapat nilai seratus."

Di tengah pelajaran matematika, Pak Murakami mengeluarkan lembar jawaban kuis yang baru saja diadakan sebelumnya.

Kuis matematika Pak Murakami dilakukan secara berkala. Tapi, dibandingkan dengan ujian rutin, soalnya jauh lebih sulit, bahkan aku pun belum pernah mendapatkan nilai seratus. Siapa ya yang dapat nilai sempurna?

"Ambil jawaban kalian sesuai urutan nama yang kupanggil. —Nagiura Tatsuya. Akhir-akhir ini kamu berusaha keras ya."

"Eh!?" Seluruh kelas dipenuhi suara keheranan.

Tatsuya maju untuk mengambil lembar jawabannya dengan wajah lesu, tanpa terlihat sedikit pun sombong.

"Ta, Tatsu!? Ada apa denganmu!?"

"……Yah, tidak ada apa-apa, aku cuma belajar seperti biasa."

Meski Uta mengajaknya bicara dengan terkejut, Tatsuya menjawab dengan cara seperti itu.

Setelah itu, nama-nama dipanggil berdasarkan skor. Yang dipanggil kedua adalah aku dengan nilai sembilan puluh dua.

Begitu lembar jawaban dibagikan ke semua orang, Pak Murakami menatap seluruh kelas.

"Belajarlah dari Nagiura, kalian juga harus tekun belajar. Karena akumulasi harianlah yang membuahkan hasil nilai."

Dengan kata-kata itu pelajaran berakhir, dan bel selesai sekolah berbunyi.

"Tunggu, Tatsu! Bagaimana dengan 'Aliansi Orang Bodoh' kita!?"

"Betul! Apa ikatan kuat kita bertiga itu bohong!?"

Uta dan Hikari segera menghampiri kursi Tatsuya, jadi aku pun mendekat.

Tunggu, apa itu 'Aliansi Orang Bodoh'?

Kalian bertiga membentuk aliansi seperti itu?

"Aku tidak ingat pernah membentuk aliansi yang tidak jelas seperti itu."

Tatsuya menyangkalnya dengan datar. Benar juga ya. Tidak jelas sekali.

"Tega sekali... aku dikhianati! Hikarin~!"

"Iya ya, Uta-chan. Tidak bisa dimaafkan. Aku tidak akan mengkhianatimu kok."

Entah kenapa mereka berdua saling menghibur diri. Nanase menatap mereka berdua dengan tatapan lelah.

"Hikari, bukannya nilaimu tidak serendah itu? Seingatku rata-rata saja."

"Belakangan ini nilainya setingkat dengan Uta. Mungkin karena terlalu sibuk dengan novel dan dirimu."

Sementara Uta dan Hikari berteriak pada Tatsuya, aku berbisik pada Nanase.

"Jangan bilang itu salahku?"

"Separuhnya salahmu. Pastikan dia belajar dengan benar."

Nanase berkata dengan dingin. I-iya... maaf, Ibu...

"……Lagipula, di ujian tengah semester kemarin, Nagiura-kun peringkat enam puluh. Dia sendiri tidak bilang sih."

Peringkat enam puluh dari dua ratus lima puluh orang berarti bisa dibilang nilai yang cukup tinggi.

Mengingat di semester pertama dia hampir berada di peringkat terakhir, peningkatannya sangat drastis.

"……Kenapa Nanase tahu soal itu?"

"Aku dan Nagiura-kun cukup akrab kok. Sesekali aku juga mengajarinya belajar."

Begitu ya... agak mengejutkan.

Tentu saja ini hal yang wajar, tapi aku sadar kalau hubungan antarmanusia terus berubah bahkan saat aku tidak ada.

"……Kenapa kalian berbisik-bisik?"

Tatsuya bertanya padaku dan Nanase dengan wajah curiga.

"Kami sedang memujimu. Mendapat nilai seratus itu hebat sekali, tahu."

"Cuma kuis singkat, kan. Kalau ujian rutin, belum tentu bisa sesukses ini."

Tatsuya mendengus.

Bukan karena malu, tapi dia benar-benar berpikir begitu.

"Ada perubahan suasana hati atau apa?"

Menanggapi pertanyaan Hikari, Tatsuya menggaruk kepalanya.

"Yah... sedikit. Aku cuma berpikir ingin berusaha keras, baik dalam belajar maupun kegiatan klub."

Sambil menatap ke luar jendela dengan tatapan jauh, Tatsuya berdiri.

Saat Tatsuya melangkah pergi setelah bilang "ke toilet sebentar," Uta menarik ujung bajunya.

"……Tatsu, belakangan ini kamu tidak terlihat bersemangat ya?"

Uta bertanya seolah sudah membulatkan tekadnya.

"……Begitukah?"

"Biasanya kamu pasti lebih senang! Karena kamu sudah dapat seratus!"

"Yah, mungkin begitu kalau aku yang kemarin-kemarin. Bukan berarti aku tidak senang sih."

Tatsuya berkata dengan datar, lalu pergi sambil bilang "Ya sudah, kali ini benar-benar mau ke toilet."

Uta menatap punggungnya dengan ekspresi tidak puas.

Pandanganku bertemu dengan Hikari dan Nanase. Reita juga mendekat.

"Usahanya hebat, tapi dia bukan Tatsuya yang biasanya."

"Kenapa dia jadi begitu ya...?"

Nanase menatap Uta yang memiringkan kepalanya dengan ekspresi rumit.

"……Bukan tempatku untuk bicara ya."

Gumaman Nanase terdengar samar.

"Natsuki, bisa bicara sebentar?"

Reita memberi isyarat padaku, dan kami pergi ke balkon.

Angin sepoi-sepoi bertiup. Reita menyandarkan sikunya di pagar pembatas sambil melihat ke arah lapangan.

"Natsuki juga sadar, kan? Alasan kenapa Tatsuya berusaha keras sekarang."

"……Yah, aku bisa membayangkannya."

Tatsuya pernah bilang padaku kalau dia bisa mempercayakan Uta padaku. Tapi aku menolak Uta.

Kalau keinginan Uta tidak bisa tercapai, dia ingin membuatnya bahagia dengan tangannya sendiri.

Untuk itu, dia berusaha menjadi pria yang lebih unggul daripada aku, pria yang disukai Uta.

—Kurasa memang begitu keadaannya.

"Dia jadi tidak terlalu menunjukkan emosinya karena targetnya terlalu tinggi. Karena dia selalu merasa usahanya masih kurang, jadilah sikapnya seperti itu. Tatsuya itu orangnya mudah ditebak."

"Aku setuju kalau berusaha itu bagus, tapi kalau terus seperti itu, dia bakal kelelahan, kan?"

"Benar. Lagipula, dia bukan Tatsuya yang kita sukai. Tatsuya yang sekarang membosankan."

Wajah Reita yang mengatakannya dengan tegas terlihat sedikit marah.

"Jadi Natsuki. Mari kita kembalikan Tatsuya yang dulu."

"Ya. Kita ingatkan dia betapa menyenangkannya saat kita bertingkah bodoh bersama."

Aku menyatukan kepalan tanganku dengan Reita yang menyodorkan tinjunya.

Bagiku dan Reita, ini adalah alasan pribadi.

Sekalipun Tatsuya yang sekarang adalah hasil dari pertumbuhan, bagi kami itu tidak menarik.

Dia selalu bicara hal bodoh, suaranya keras, pemarah, agak keras kepala, tapi dia juga sensitif dan kadang merepotkan. Kami menyukai dirinya yang seperti itu, dan dia adalah teman kami.

—Jadi, mari kita bawa dia kembali.

Sepulang sekolah hari itu, rapat komite pelaksana ketiga diadakan.

Hari ini hanya pemeriksaan prosedur dan persiapan awal, lalu rapat segera selesai.

Besok akhirnya adalah hari turnamen bola yang sesungguhnya.

Sebagai anggota komite, aku juga punya peran sebagai wasit, penyesuai jadwal, dan koordinator kelas.

"Natsuki. Apa kita latihan sebentar lagi?"

Saat kami berempat anggota komite kelas satu berjalan di koridor, Naru bertanya.

"Oh, mau latihan? Aku juga berencana latihan mandiri. Besok kan hari-H."

"……Kalau begitu, aku ikut juga ya. Lagipula aku luang hari ini."

Tak disangka, Miori menunjukkan niat untuk ikut.

"Tidak ada kegiatan klub?"

"Hari ini libur. Seminggu sekali pasti ada libur."

"Boleh kamu gunakan hari libur itu buat main basket?"

"Soalnya aku harus membuktikan kalau aku lebih hebat darimu."

"Usaha sia-sia yang luar biasa, terima kasih."

Saat aku mengangkat bahu, Miori menatapku tajam sambil bilang, "Apa katamu!"

Saat kami sedang berdebat, Funayama-san bertanya.

"Anu, bolehkah saya ikut juga? Saya tidak ikut turnamen bola, jadi tidak akan berguna, tapi... saya ingin melihat kalian berlatih."

Funayama-san tidak mengatakannya secara terang-terangan, tapi semua orang mengerti. Dia ingin bersama Naru.

"Tidak apa-apa, kan, Naru?"

"T-tentu saja!"

Naru mengangguk berulang kali dengan penuh semangat. Tenang sedikit.

"Kalau begitu, ayo kita pergi semua."

Kami memutuskan untuk berlatih di lapangan gimnasium kota hari ini.

Kalau dipakai perorangan harganya murah, dan kalau malam hari kerja seharusnya tidak ramai.

Kami sampai di gimnasium kota yang letaknya melewati stasiun. Seperti dugaan, tidak ada pengguna lain di sana.

Aku berganti sepatu gimnasium dan menginjak lantai gimnasium kota.

Bola yang kubeli tempo hari dibawa oleh Naru, dan kita juga bisa meminjam di sini.

Karena kalau cuma satu bola tidak cukup untuk latihan, kami memutuskan untuk meminjam satu lagi.

"Besok kamu ikut basket, kan? Bagaimana kondisimu?"

"Lumayan. Aku sudah latihan mandiri beberapa kali."

Termasuk saat latihan di taman dengan Naru dan Miori, aku sudah latihan tiga kali.

Di jam olahraga juga bisa main basket, jadi instingku sudah lumayan kembali.

"Kamu serius banget ya."

"Ada orang yang bilang ini cuma turnamen bola biasa, sih."

"Berusaha maksimal di segala hal itu memang ciri khasmu. Menurutku itu juga lebih menyenangkan."

Bola yang dilemparkan Miori masuk ke dalam jaring dengan mulus.

Hebat juga. Bentuk lemparannya masih tetap cantik seperti biasa.

"Ma-masuk!"

"Wah! Nice! Hebat sekali!"

Sementara itu, Naru dan yang lainnya bermesraan sambil latihan di ring sebelah.

Funayama-san menyemangati Naru yang terus menembak berkali-kali.

"Kupikir bakal jadi bagaimana, tapi ternyata lancar sekali."

"Keduanya sama-sama sudah menyadari perasaan masing-masing. Jadi tidak mungkin gagal, kan? Ini pekerjaan yang jauh lebih mudah daripada saat mengurusi dirimu dan Hikari-chan."

Miori berkata dengan tenang. Memang benar dia adalah super advisor-ku. Meski sudah mantan.

"Lupakan mereka, ayo kita satu lawan satu."

"Padahal seharusnya aku mengajari Naru... yah, tidak apa-apa nanti saja."

Lagi-lagi satu lawan satu dengan Miori. Skor kemenanganku kurang lebih tujuh banding tiga.

Saat Miori sedang bersemangat bilang "Sekali lagi!", pintu masuk terbuka.

"Eh...?"

Miori membelalakkan matanya terkejut.

Yang masuk dari pintu adalah Reita, Okajima-kun, Hino, dan Hikari.

"Halo, Miori."

"Re-Reita-kun? Kenapa ada di sini?"

"Aku diajak Natsuki. Katanya kalau kegiatan klub selesai dan masih punya waktu, bagaimana kalau latihan bersama."

"Aku juga ikut basket, lho," lanjut Reita.

"Karena mumpung, aku juga mengajak Hino dan Okajima."

"Karena kita satu klub, kalau Reita ikut, aku juga ikut!"

Okajima-kun memamerkan giginya yang putih dan mengacungkan jempol.

"Kebetulan lagi luang. Kalau gimnasium kota, rumahku juga dekat."

Hino tertawa kecil sambil mengangkat bahu.

"Aku selesai kegiatan klub sastra, terus tidak sengaja ketemu mereka semua, jadi aku datang buat menyemangati kalian."

Hikari tersenyum. Dia terlalu malaikat. Hari ini pun dia imut sekali.

"……Ngomong-ngomong, di mana Tatsuya?"

"Katanya mau pulang dan belajar. Katanya tidak ada gunanya terlalu serius di turnamen bola."

Reita menghela napas menirukan kata-kata Tatsuya.

"Bajingan itu, tiba-tiba jadi anak baik. Belum lama ini dia dapat nilai seratus."

"Tingkahnya aneh, kan? Emangnya dia dulu orang yang begitu?"

Okajima-kun marah, dan Hino memiringkan kepalanya.

"……Yah, sudahlah. Mari kita latihan berlima saja."

Setelah itu, kami melakukan latihan praktik tiga lawan tiga termasuk Naru.

Aku, Naru, dan Okajima-kun melawan Miori, Reita, dan Hino untuk menyeimbangkan tim.

"Funayama-san ya. Aku Hoshimiya Hikari."

"I-iya... aku tahu. Akhir-akhir ini aku sering kenalan sama orang terkenal..."

"Eh, apa aku orang terkenal?"

"Tentu saja, Hoshimiya-san kan idola sekolah ini."

"Ahaha, tidak begitu kok~"

Sambil menyemangati kami, Funayama-san dan Hikari mengobrol berdua.

Sepertinya mereka sudah akrab. Memang kemampuan komunikasi Hikari luar biasa.

"Naru. Kalau sudah kasih operan, lihat sekeliling. Kalau bingung, oper balik ke aku."

"I-iya! Aku oper balik!"

Saat melakukan latihan praktik, Naru mulai bisa diandalkan.

"Kamu merasa sudah lebih baik, kan? Sekarang tinggal buktikan hasil latihanmu di hari-H nanti."

"Bi-bisakah aku melakukannya...?"

"Tidak apa-apa. Lakukan dengan percaya diri."

Aku menepuk punggung Naru. Sejujurnya, Naru sudah berusaha sangat keras.

Katanya, kelas empat juga punya Kijima-kun dari klub basket, kelihatannya cukup kuat.

"Tapi, kita bakal ketemu Natsuki dan yang lain di babak pertama, kan..."

Ya, sayangnya lawan tanding kelas satu dua sudah ditentukan akan melawan kelas satu empat.

"Itu karena keberuntungan undian sih."

"Hahaha... aku menyesali nasib burukku..."

Setelah itu kami melanjutkan latihan tiga lawan tiga, tapi kami memutuskan untuk berhenti saat dirasa cukup.

"Hari ini sampai sini saja ya."

"Sudah selesai? Aku masih bisa lanjut, lho?"

"Yah, tidak bagus kalau mengganggu performa besok. Mari kita turuti kata Natsuki."

Terlepas dari kami, Reita dan yang lainnya ikut setelah latihan klub selesai. Lebih baik berhenti daripada latihan berlebihan baik dari segi fisik maupun waktu. Akan jadi bumerang kalau sampai sakit karena terlalu memaksakan diri.

"Kalau begitu, aku mau cuci muka sebentar."

Saat keluar dari gimnasium kota, hari sudah gelap total.

Angin dingin terasa nyaman di tubuhku yang berkeringat.

Aku memutar keran air, minum banyak-banyak, lalu membasuh wajahku yang berkeringat.

"……Huh, segar sekali."

Saat hendak kembali ke tempat mereka, aku mendengar percakapan dari balik kegelapan.

Ada seseorang di dekat pintu belakang?

Saat aku mengintip, Funayama-san dan Miori sedang mengobrol.

Apa yang mereka lakukan di tempat seperti itu?

"Terima kasih banyak karena sudah banyak membantu."

"Tidak apa-apa, aku tidak melakukan hal yang istimewa kok. Aku cuma mengawasi dari jauh saja."

"Tetap saja, saya jadi mendapatkan keberanian. Besok, tinggal mengungkapkan perasaan saja."

"Semangat ya. Pasti berhasil."

Meskipun sedikit terputus-putus, mereka sedang mengobrol seperti itu.

Seperti halnya aku membantu Naru, Miori membantu Funayama-san, sepertinya itu ucapan terima kasihnya. ……Tunggu, besok dia berniat menyatakan cinta pada Naru? Perkembangannya cepat sekali.

"Anu, maaf kalau ini salah paham, ini pertanyaan sederhana saja..."

"Hm? Tanyakan saja apa pun, Shizuki-chan."

Funayama-san yang tadi ragu-ragu, bertanya dengan tekad yang bulat.

"——Miori-san, kamu suka sama Haibara-kun, kan?"

Waktu serasa berhenti.

Angin bertiup hush, dan dedaunan kering menari-nari.

……Hah? Sebesar apa pun salah pahamnya, tidak mungkin begitu, kan.

Karena terlalu tak terduga, pikiranku menjadi beku.

Yang aneh adalah, Miori yang ditanya begitu justru terdiam.

Seharusnya kalau itu Miori yang biasanya, dia akan menertawakannya... tapi kenapa, dia tidak bicara apa-apa?

Kalau begini, rasanya seperti—.

"Kalau aku bilang aku suka padamu... bagaimana?"

Miori tersenyum pahit, lalu menyangkalnya.

"Jangan gitu dong, Shizuki-chan. Bercandanya keterlaluan. Pacarku itu Reita-kun, tahu?"

……Benar juga. Itu cuma salah paham Funayama-san, kan?

Secara empiris, mungkin aku dan Miori terlihat lebih akrab daripada yang kami kira.

"Haibara-? Kamu di sana?"

Ups, Hino dan yang lainnya mencariku.

Setelah menyeka wajahku dengan handuk, aku kembali ke dekat pintu masuk gimnasium.

"Oh, itu dia."

"Maaf, maaf. Tadi cuci muka sebentar."

Di ruang yang diterangi lampu, Hino dan yang lainnya menungguku.

Dua orang itu juga pasti akan segera kembali.

"……Karena aku tahu itu, makanya aku bertanya."

"……Kalau begitu, diam saja dong."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close