Chapter 1
Apa Yang Harus Dilakukan Pacar?
Bulan November.
Musim gugur telah mencapai puncaknya, dan embusan angin terasa kian menusuk.
Tanda-tanda kedatangan musim dingin mulai terlihat.
Karena satu lapis
baju lengan panjang terasa kurang memadai, aku mengenakan kardigan.
Namun, hari ini
udara terasa sangat dingin; mungkin seharusnya aku memakai satu lapis luaran
lagi.
Berpakaian di
musim seperti ini memang sulit karena suhu bisa berubah panas atau dingin
secara tiba-tiba. Ya, semoga saja siang nanti udaranya sedikit menghangat.
"Natsuki-kun!"
Aku menoleh saat
mendengar namaku dipanggil dari belakang.
Pemandangan yang
menyambutku adalah seorang gadis yang sangat cantik.
Hoshimiya Hikari,
yang mengenakan pakaian kasual, mendekatiku sambil melambaikan tangan dengan
gemas.
"Maaf sudah
membuatmu menunggu. Tadi aku sempat bingung memilih baju."
Hikari, yang
meminta maaf dengan gaya seperti itu, tampak anggun dengan blus hitam dan rok
panjang berwarna krem.
Penampilannya
sangat cocok, dan kesan dewasa itu terasa sangat segar bagiku.
Ups, aku tidak boleh hanya melongo memandangnya. Aku harus
segera menjawab.
"Tidak apa-apa, aku juga baru sampai."
Sebenarnya, aku terlalu bersemangat sampai sudah menunggu di
sini sejak satu jam yang lalu, tapi itu tidak perlu kukatakan, bukan?
"Benarkah? Syukurlah."
Hikari menghela napas lega sambil memegang dadanya.
Kemudian, wajahnya berubah menjadi malu-malu, dan dia
bergumam pelan.
"A-aku…… semalam sangat bersemangat sampai tidak bisa
tidur. Akhirnya malah kesiangan."
Melihat alasannya yang seperti anak SD, aku tidak bisa
menahan tawa. Hikari pun mengerucutkan bibirnya.
"J-jangan tertawa!"
"Maaf, maaf. Soalnya lucu sekali."
……Yah,
aku sendiri sebenarnya tidak bisa tidur nyenyak. Tapi itu memalukan, jadi aku diam saja.
"Ya sudah,
ayo masuk."
Aku berkata
begitu sambil mengulurkan tangan ke arah Hikari.
Hikari
mengerjapkan mata, lalu dengan ragu-ragu, ia menggenggam tanganku.
Bagus,
strategi menggandeng tangan secara alami di awal sukses! Jika kesempatan di awal ini terlewatkan, aku
merasa akan terus kehilangan momen yang tepat. Tangan Hikari hangat dan rasanya
nyaman sekali…….
"……Natsuki-kun.
Sebenarnya, kamu sudah menunggu cukup lama, kan?"
"A-apa yang membuatmu berpikir begitu?"
Aku
bertanya balik dengan sedikit tersentak. Hikari menjawab dengan singkat.
"Tanganmu
dingin."
O-oh,
begitu ya…… itu masuk akal!
Bukan
berarti tangan Hikari yang luar biasa hangat, tapi tanganku sendiri yang memang
terasa dingin…….
"Maaf……
Sebenarnya aku sudah menunggu sejak satu jam lalu…… karena terlalu
bersemangat."
"Kenapa
harus minta maaf? Seharusnya aku yang minta maaf. Maaf ya, sudah membuatmu
menunggu selama itu."
"Tidak
apa-apa, aku pernah dengar kalau waktu menunggu itu juga bagian dari
kencan."
Ya, hari ini
adalah kencan pertama yang bersejarah dengan Hikari, yang kini telah menjadi
pacarku!
Aku sangat gugup,
tapi aku ingin menikmatinya dan membuat Hikari menikmatinya juga.
Sebenarnya, aku
sudah bahagia hanya dengan keberadaan Hikari di sampingku.
"Tempat ini
cukup ramai, ya."
Aku masuk ke
dalam pusat perbelanjaan sambil menggandeng tangan Hikari.
Tidak bisa
dibilang penuh sesak, tapi tempat ini cukup ramai oleh pengunjung.
"Yah, karena
hari ini hari Sabtu."
Rencana kencan
kami cukup standar; melihat-lihat toko, makan siang, menonton film, lalu
pulang. Kemarin, aku menyusun rencana ini bersama Hikari melalui RINE.
Karena ini kencan
pertama sebagai sepasang kekasih, aku tidak ingin melakukan hal yang terlalu
aneh, dan kebetulan ada film yang ingin ditonton Hikari. Selain itu, aku juga
ingin membeli baju musim dingin. Biasanya Miori yang memilihkan bajuku, tapi
aku tidak punya pakaian yang cukup hangat untuk musim dingin.
Saat kubicarakan
itu, Hikari langsung berkata, "Kalau begitu, biar aku yang pilihkan!"
Sejujurnya, aku
tidak percaya diri dengan seleraku, jadi tawarannya sangat membantu. Awalnya
aku berharap Miori akan terus membantu, tapi…… hubungan kerja sama kami sudah
berakhir.
Mungkin selama ini aku memang terlalu bergantung pada Miori.
Setelah hubungan itu berakhir, aku baru menyadarinya.
Aku sangat
bahagia menjalin hubungan asmara dengan Hikari. Tapi, karena aku belum pernah
berpacaran, aku tidak tahu banyak hal dan tanpa sadar selalu ingin
berkonsultasi pada Miori.
Seseorang yang
selalu mengulurkan tangan kini sudah tidak ada lagi.
Perasaan itu
hampir sama seperti berjalan sendirian di tengah kegelapan.
'Kalau begitu,
hubungan kerja sama kita sampai di sini. Kemitraan ini selesai ya.'
Tiba-tiba, suara
Miori di telepon terngiang di kepalaku.
Hari itu, sikap
Miori terasa aneh. Mungkinkah telah terjadi sesuatu?
Padahal itu
seharusnya menjadi hari yang membahagiakan karena dia mulai berpacaran dengan
Reita.
"Ada apa,
Natsuki-kun? Melamun?"
Hikari muncul di
sudut pandangku dengan raut wajah khawatir.
Sepertinya aku
tenggelam dalam pikiranku sendiri. Itu kebiasaan burukku.
Tidak ada gunanya
memikirkan Miori sekarang.
Bagaimanapun,
hari ini aku harus menikmati kencan bersama Hikari.
"Maaf, tidak
apa-apa. Hmm, kita mulai dari mana dulu?"
"Serahkan
padaku! Aku tahu toko yang menjual baju yang cocok untukmu!"
Hikari
menepuk dadanya yang besar. Dadanya bergoyang sedikit.
Pandanganku
hampir saja teralihkan, tapi aku berusaha mengarahkan mataku ke atas.
"Oh,
itu sangat membantu."
Aku
menjawab seolah tidak terjadi apa-apa.
Hikari
kemudian menuntunku dengan langkah ceria, hampir seperti sedang melompat.
"Berjalan
sambil bergandengan tangan di depan umum, sedikit memalukan ya?"
"Yah……
kurasa karena kita merasa diperhatikan. Kita juga bertemu orang dari sekolah
yang sama."
Sebenarnya banyak
sekali pasangan yang berjalan bergandengan tangan, tapi kalau tidak terlalu
percaya diri, rasanya kami seperti sedang disorot mata orang-orang. Yah,
mungkin karena Hikari sangat manis.
Dua siswi yang
sepertinya kakak kelasku di sekolah menatap kami dan berseru heboh. Aku jadi
bingung harus bereaksi bagaimana. Hikari pun terlihat kesulitan dan tertawa
getir.
"Kalau kamu
tidak suka, apa mau dilepas?"
"……Mana
mungkin aku tidak suka. Kamu mau aku marah?"
Hikari
menggembungkan pipinya dengan cemberut. Ya ampun, itu manis sekali.
Gadis semanis ini adalah pacarku. Sampai sekarang pun aku masih tidak percaya…….
"Bagaimana
kalau yang ini? Coba pakai, deh."
Di toko baju,
Hikari mengambilkan mantel chester berwarna biru tua.
Aku memakainya
sesuai arahannya dan merasa sangat hangat. Bahannya lembut dan nyaman dipakai.
Aku menatap
seluruh tubuhku di cermin dekat sana. Ternyata, baju ini cukup cocok…… kurasa.
Garis tubuhku terlihat lebih tegak, dan tampilanku jadi terlihat lebih rapi.
"O-oh……"
Hikari yang
memilihkan baju itu mengeluarkan suara gumaman misterius setelah melihatku.
"Bagaimana
menurutmu?"
"B-bagus
sekali, bukan!"
Hikari
mengangguk mantap dengan wajah yang terlihat sangat senang.
"Kamu
tidak asal memuji, kan?"
"T-tidak
kok! Kamu benar-benar terlihat keren!"
Entah
mengapa hari ini Hikari tampak lebih sibuk atau lebih gelisah dari biasanya.
Padahal biasanya dia terlihat lebih tenang…… apa mungkin dia
gugup?
Yah, Hikari yang
seperti itu pun terasa segar dan manis, jadi tidak masalah.
"Ehehe…… pacarku keren sekali……"
Hikari
bergumam pelan, tapi aku mendengarnya!
"Hahaha……"
Aku hanya bisa
tertawa getir.
Hikari menatapku
dengan kaget.
"K-kedengaran
ya!?"
"Tidak, aku
tidak dengar apa-apa. Memangnya kamu bilang apa?"
"O-oh, ya?
Syukurlah……"
"Ya. Terima
kasih sudah memujiku."
Hikari tampak
bingung mendengar kata-kataku, lalu wajahnya seketika merona merah.
Dia
memukul punggungku sambil berkata, "Kamu dengar kan!" Kekerasan itu tidak baik, lho.
Sambil terus
bercanda seperti itu, Hikari memilihkan beberapa potong baju musim dingin
untukku.
Karena tabunganku
menipis sejak membeli gitar, aku hanya membeli mantel yang kucoba tadi dan satu
kemeja lengan panjang. Ada beberapa baju lain yang direkomendasikan Hikari, dan
aku berencana membelinya nanti jika sudah punya cukup uang.
"Sudah
waktunya makan siang, ya."
"Iya. Kita
makan apa?"
Sambil berjalan
menyusuri area restoran di pusat perbelanjaan, aku dan Hikari mendiskusikan
makan siang.
"Hmm……
sejujurnya aku tidak pilih-pilih……"
Sambil
berkata begitu, aku baru teringat sesuatu. Aku pernah dengar kalau bilang
"apa saja" saat kencan itu tidak baik.
Apa aku yang
harus memimpin sebagai laki-laki?
Menyerahkan
pilihan sepenuhnya padanya rasanya kurang pas.
Seharusnya dari
awal aku sudah menyiapkan beberapa pilihan restoran, ya?
Tapi sekarang
sudah terlambat…….
"Hikari mau
makan apa?"
Pada akhirnya,
aku menyerahkan pilihannya lagi. Maafkan aku yang plin-plan ini…….
"Hmm…… ah, bagaimana kalau burger?"
"Ide
bagus," jawabku sambil mengangguk. Kami pun masuk ke restoran yang
menyajikan hamburg steak sebagai menu andalan.
Kami duduk di
kursi yang diarahkan dan memesan makanan.
"……"
"……"
Saat itulah,
suasana menjadi hening. A-apa yang harus kubicarakan……?
"Ehm, terima
kasih ya sudah memilihkan baju tadi. Sangat membantu."
"T-tidak
masalah! Sama sekali tidak! Sangat menyenangkan, aku mau melakukannya lagi! Itu
memanjakan mataku!"
……Memanjakan mata
itu maksudnya apa? Karena terlalu misterius, aku malah lupa bertanya.
"Eh,
tidak sabar ya menunggu filmnya!"
"I-iya,
benar!"
Hikari
juga terlihat tidak nyaman, matanya terus bergerak tidak menentu.
"……"
"……"
Padahal
tadi kami bisa mengobrol dengan santai, tapi saat berhadapan langsung,
kegugupanku justru meningkat.
Aku minum
air berkali-kali untuk menutupi rasa canggung, sampai airnya habis…….
Sambil terus
berusaha menyambung percakapan, akhirnya makanan kami pun datang.
"Kalau
begitu, selamat makan."
"Kelihatannya
enak. Selamat makan."
Hikari mulai
menyantap burgernya dengan mata berbinar-binar.
Sementara itu,
aku merasa lega. Karena saat makan, aku tidak perlu banyak bicara…….
"Fuh, terima
kasih atas makanannya. Enak
sekali."
"Benar
juga…… eh! Sudah hampir waktunya!"
Selesai makan, ternyata sudah sepuluh menit sebelum film
dimulai.
"Benar! Kita
terlalu santai, ya!"
Sepertinya tidak
ada waktu lagi untuk mengobrol setelah makan.
Kami bergegas
membayar tagihan dan segera menuju bioskop.
Kami berhasil
duduk tepat sebelum film dimulai, tapi kami tidak sempat membeli minuman.
Karena baru saja makan, aku rasa tidak butuh popcorn, tapi minuman tetap
diperlukan. Hikari pasti memikirkan hal yang sama meski tidak mengucapkannya.
Ini benar-benar kesalahan dalam mengatur jadwal.
Aku menghela
napas pelan.
Entah kenapa,
banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana.
Mungkin karena
kurang riset, atau karena aku yang sama sekali tidak punya pengalaman
berkencan.
Andai
saja aku bisa memberikan pendampingan yang lebih cerdas…….
Di ruang
yang remang-remang, hanya layar besar yang terlihat terang.
Film
belum dimulai, masih ada iklan film lain yang diputar.
Saat aku
melirik ke arah Hikari, entah kenapa mata kami bertemu.
Hikari
segera memalingkan wajah ke arah layar dengan panik.
Meski
ruangan gelap, wajah Hikari tampak sedikit memerah.
……Jangan-jangan
dia memperhatikanku?
Saat aku
sedang bimbang apakah harus bertanya, bisik-bisik di sekitar kami menghilang.
Di tengah
kesunyian, film pun dimulai.
Film yang
ingin ditonton Hikari adalah kisah cinta antara seorang gadis yang kehilangan
keluarganya akibat kecelakaan dan teman masa kecilnya. Gadis itu sedang melakukan perjalanan untuk
mencari tempat untuk mati, dan si anak laki-laki menemaninya.
Dalam alur yang
berjalan tenang dan penuh perasaan, perasaan karakternya tersampaikan dengan
menyakitkan hanya lewat ekspresi wajah para aktor. Itu adalah cerita yang
tenang dan menggetarkan hati.
Saat aku menatap
Hikari di sampingku lagi, ia duduk dengan tegap dan menatap layar dengan
serius.
Mungkin
dia tersentuh. Ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Tapi aku
tidak bisa berkonsentrasi pada film seperti Hikari. Sosok anak laki-laki yang
bercita-cita menjadi dokter itu terasa terlalu sempurna, seolah ia manusia yang
sangat jauh dariku.
Aku tidak
bisa merasa terhubung dengan seseorang yang bisa melakukan hal-hal pertama
dengan sangat sempurna.
Karena itulah,
meski mataku mengikuti cerita film, pikiranku justru melayang ke hal lain.
——Apakah ini
sudah benar?
Tiba-tiba,
pertanyaan itu muncul di benakku.
Sebagai kencan
sepasang kekasih, apakah ini sudah benar?
Aku tidak tahu.
Meski ini hidup keduaku, aku tetaplah seorang perawan tua.
Seharusnya aku
bisa melakukannya lebih baik. Rencana kencan, percakapan, semuanya terasa kaku
hari ini. Saat melihat-lihat toko tadi pun, Hikari yang memimpin.
Hari ini aku
hanya terus mengandalkan Hikari. Menyedihkan sekali.
Rencananya pun
hampir sama persis dengan kencan ganda saat bersama Reita dan Miori dulu.
Apakah seharusnya
aku menyusun rencana kencan yang lebih "seperti pacaran"?
……Bagaimana ya?
Aku tidak tahu. Ini kencan pertama, jadi rasanya cukup aman dengan rencana ini.
Atau lebih
tepatnya, apa sih sebenarnya rencana kencan yang "seperti pacaran"
itu?
——Apa yang
sebenarnya dilakukan pacar?
Pertanyaan tanpa
jawaban itu terus berputar-putar di kepalaku.
Meski baru
berpacaran tiga hari lalu, ini adalah rangkaian pengalaman yang tidak
kuketahui. Aku bukanlah orang yang bisa melakukan hal baru dengan lancar, jadi
aku selalu merasa cemas.
Aku ingin bersama
Hikari. Aku ingin membuat Hikari bahagia. Itu memang keinginanku, tapi niat
saja tidak cukup. Adakah seseorang yang bisa mengajariku dasar-dasar cinta?
Sambil memikirkan
hal itu, film mencapai klimaksnya, dan aku terseret dalam alur yang berubah
drastis. Aku ingin menjadi seperti tokoh utama yang keren ini…….
"Menarik
sekali ya. Aku sampai menangis……"
Hikari bergumam
sambil menyeka air mata dengan sapu tangan.
"Tak
disangka ternyata berakhir bahagia."
"Iya,
kan? Padahal aku pikir sudah tidak mungkin tertolong lagi."
Film yang
bagus. Karena aku penganut paham akhir bahagia, aku sangat puas.
Perjalanan pulang
dari pusat perbelanjaan menuju stasiun.
Meski belum jam
enam sore, langit sudah diwarnai semburat jingga.
Waktu siang hari
memang semakin pendek.
Tiba-tiba, ujung
jari kami bersentuhan. Kemudian jari Hikari menggenggam jariku. Memahami
maksudnya, aku membalas genggaman tangannya. Karena udara mulai dingin,
hangatnya kulit terasa sangat nyaman.
"……Hari
ini, menyenangkan?"
Mendengar
pertanyaanku, Hikari mengangguk dengan senyuman.
"Tentu saja!
Apa Natsuki-kun menikmati waktunya?"
"……Aku
bahagia hanya dengan bisa berada di sampingmu."
Saat aku
mengatakan kejujuran dari lubuk hatiku, wajah Hikari langsung memerah.
A-ah,
gawat……. Aku
tidak sengaja mengucapkannya. Karena sedang melamun, aku jadi…….
Aku merasa sangat
malu, dan pipiku pun mulai terasa panas.
Saat aku tidak
sanggup menatap wajahnya, lenganku merasakan hantaman keras.
Sepertinya dia
memang punya kecenderungan menggunakan kekerasan. Aku tahu dia hanya malu, tapi
tetap saja.
"Aku juga,
tahu…… dasar bodoh."
Hikari berbisik tepat di telingaku secara tiba-tiba.
Suara manjanya itu memiliki daya hancur yang luar biasa. Apa
kau mau membunuhku?
Akhir-akhir ini Hikari sering bicara sedikit kasar. Mungkin dia menunjukkan jati dirinya yang
asli padaku. Aku senang dengan sikapnya yang apa adanya, tapi terkadang dia
terlalu jujur sampai membuat jantungku tidak kuat.……Seperti sekarang.
Kalau dilihat
orang, wajah kami pasti memerah padam. Tanpa melihat pun aku tahu. Sepasang
lansia yang lewat menatap kami sambil tersenyum geli.
Kalau begini,
kami benar-benar terlihat seperti pasangan bodoh yang sedang dimabuk cinta!
Padahal aku benci
melihat pasangan yang bermesraan di depan umum, tapi kini aku sendiri sedang
melakukannya.
Aku ingin
bersikap tenang seperti pasangan lansia tadi.
"……Ne, ne,
Natsuki-kun. Hari ini aku terlihat aneh, ya?"
"T-tidak……
menurutku tidak, kok. Seperti
biasa, k-kamu manis……"
Aduh! Jangan terbata-bata di saat seperti ini!
Kelihatannya menjijikkan! ……Menjijikkan seperti biasanya? Ya.
"A-aku
gugup…… sangat gugup…… padahal sudah kusembunyikan……"
Tidak, sama sekali tidak tersembunyi, tapi aku tidak berani
mengatakannya karena takut dia marah.
Lagipula, aku pun tidak dalam posisi bisa mengkritik
Hikari…….
Bahkan sampai
saat ini, jantungku masih berdegup kencang. Aku hanya memikirkan genggaman
tangan kami.
"Aku juga
sama, kok."
Karena itu, hanya
jawaban ini yang bisa kuberikan.
Kami berdua
sama-sama pacar pertama bagi satu sama lain. Kami tidak tahu harus bersikap
bagaimana.
Saat seperti ini,
seharusnya aku yang memimpin…… tapi aku sudah payah hanya dengan berusaha
mencari cara bertindak yang aman. Aku bahkan ingin menghela napas memikirkan
betapa payahnya diriku. Aku ingin menjadi yang terkuat.
"……"
"……"
Eh? Percakapan kami terputus…….
Bagaimana ini?
Apakah ada topik pembicaraan?
Aku terus
berjalan tanpa tahu harus bicara apa. Kami tidak melepas tautan tangan kami.
Saat sadar, kami
sudah sampai di depan gerbang stasiun. Karena jalur kereta kami berbeda, kami
harus berpisah di sini…… namun, Hikari yang berhenti berjalan tidak mau melepas
tanganku.
"……Hikari?"
"S-sedikit
lagi saja……"
Aku memiringkan
kepala karena tidak mengerti maksudnya, sampai akhirnya Hikari mengangguk
mantap.
"Pengisian
daya selesai."
"Isi
daya?"
"Kalau aku tidak mengisi ulang pasokan 'Natsuki-kun', aku akan merasa kesepian."
"Ehehe."
Hikari yang
mengucapkannya sambil tersipu malu itu sangat manis. Benarkah gadis semanis ini
boleh menjadi pacarku?
Dia terus-menerus
membuatku gugup, sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungku. "Kalau
begitu, sampai jumpa lagi."
"A-ah, iya……
sampai jumpa di sekolah."
Hikari
melambaikan tangan lalu pergi meninggalkanku. Begitu aku sendirian, rasa lelah yang luar
biasa langsung menyerang.
Wajar
saja aku lelah karena jantungku terus berdegup kencang sepanjang hari. Namun,
itu adalah kelelahan yang menyenangkan karena waktu yang kuhabiskan dengannya
memang membahagiakan.
Kapan ya, kami
bisa mencapai hubungan seperti pasangan lansia tadi? Setidaknya, untuk saat
ini, hal itu benar-benar di luar imajinasiku.
*
Akhir pekan yang
menyenangkan dengan kencan bersama Hikari telah berlalu. Kini, hari Senin yang
suram pun tiba.
Meskipun ini
adalah kehidupan SMA putaran kedua yang kuinginkan, rasa malas di hari Senin
tetap tak berubah. Lagipula, bukan bagian pelajaran sekolah yang ingin
kuperbaiki dari hidupku…….
Pelajaran sekolah
tetap saja menyebalkan. Selain itu, ada faktor lain yang membuat perasaanku
sedikit berat.
"Eh, itu
Haibara-kun……"
"Benar, hari
ini dia juga bawa gitar di punggungnya~"
Pagi hari, saat
aku berjalan di koridor, bisikan dari siswi kelas sebelah samar-samar
terdengar. Sudah seminggu berlalu sejak konser di festival budaya.
Meski senang
konser kami sukses besar, jujur saja aku tidak terlalu nyaman terus-menerus
dipandangi seperti ini saat berjalan. Aku takut salah paham mengira mereka
sedang membicarakanku di belakang…….
Meski begitu,
suasana sudah jauh lebih tenang dibanding tepat setelah festival. Sepertinya
kesuksesan kami terlalu mencolok.
Aku
memang menginginkan masa muda yang penuh warna. Tapi, ternyata kelelahan karena
terlalu mencolok adalah pengalaman baru yang cukup menyegarkan.
Aku membuka pintu
kelas dan masuk ke dalam. Sepertinya separuh teman sekelas sudah datang.
Saat menuju
mejaku, anggota kelompok kami yang biasa sudah berkumpul di sana. "Selamat
pagi, Haibara-kun."
Nanase adalah
orang pertama yang menyadariku. "Yo."
"Ah,
Natsuki-kun! Pagi!"
Mendengar suara
Nanase, Reita dan Hikari pun menyapaku. Reita tetap seperti biasa, sedangkan
Hikari tampak sangat ceria dan wajahnya bersinar terang—manis sekali.
"Selamat
pagi semuanya." "Yo."
Tatsuya yang baru
saja menguap juga membalas sapaku. "Terlihat mengantuk, ya."
"Waktu
tidurku kurang gara-gara latihan pagi." "Jam berapa kamu
bangun?"
"Jam
enam, jujur saja itu berat sekali. Biasanya aku mencuri waktu tidur saat
pelajaran berlangsung."
Tatsuya
mengeluh. "Tapi akhir-akhir ini, kamu menyimak pelajaran dengan serius,
kan?"
"Benar,
setidaknya dia lebih serius daripada Hikari."
Nanase
menimpali dengan sindiran tajam kepada Hikari yang tampak kagum. "Repot
kan kalau sampai tidak lulus mata pelajaran, harus ikut remedial dan
lain-lain."
"Pendapat
Tatsuya makin lama makin dewasa ya. Apakah ini yang disebut
pertumbuhan?" "Berisik, ah……"
Percakapan itu terdengar sangat biasa, namun terasa
canggung. Entah bagaimana, suasana
kelompok kami jadi kaku.
Mungkin semua
orang merasakannya, tapi tidak ada yang berani mengatakannya. Aku tahu
penyebabnya, tapi ini bukan masalah yang bisa selesai dalam sekejap.
Meskipun begitu,
keinginan untuk memperbaiki hubungan itu tetap ada. Itulah sebabnya kami tetap
berkumpul.
"Eh, kalian
sudah lihat update Bass Drum itu?" "Ah, iya, aku jadi
bingung mau top-up atau tidak―"
Tatsuya dan Reita mulai membahas game ponsel. Di saat bersamaan, Nanase menepuk bahuku.
"Natsuki,
Hikari tidak berhenti membicarakan film yang dia tonton kemarin, berisik sekali
tahu." "Soalnya itu benar-benar bagus, Natsuki-kun juga berpikir
begitu, kan!?"
"Yah, memang film yang bagus." "Kalau Haibara-kun yang bilang begitu,
mungkin aku juga harus menontonnya."
"Jangan-jangan,
pendapatku tidak dipercaya?"
Tanpa sadar, aku
sudah terseret dalam obrolan Nanase dan Hikari. Kelompok kami beranggotakan
enam orang laki-laki dan perempuan, jadi wajar saja jika topik pembicaraan
terbagi. Namun, ada satu hal yang mengganjal di pikiranku.
'Aku, jika kau
bisa membuat dia bahagia, maka aku akan……!!'
Sejak kejadian
festival budaya itu, percakapanku dengan Tatsuya berkurang. Kami memang masih
bisa berbicara dalam kelompok, tapi tidak lagi mengobrol berdua saja.
Aku merasa dia
menghindari kesempatan untuk berduaan denganku. Kejadian saat itu, ketika kami
nyaris berkelahi, semuanya adalah kesalahanku.
Aku membuat
pilihan yang menyakitkan bagi Tatsuya setelah keraguan yang panjang. Aku sudah
bersiap bahwa hubungan kami mungkin tidak akan kembali seperti dulu.
Karena itulah,
aku bingung melihat situasi saat ini. Perasaan seperti apa yang sebenarnya
disimpan Tatsuya untukku?
Karena dia tidak
menunjukkannya, aku bingung harus bersikap bagaimana. "Ngomong-ngomong, di
mana Uta?"
Pertanyaan
tiba-tiba itu datang dari Reita. "Tumben terlambat, apa terjadi
sesuatu?"
Hikari
memiringkan kepalanya sambil melihat jam. Memang benar, sebentar lagi jam masuk kelas.
Teman-teman
yang lain pun sudah hampir lengkap. Selain itu, Uta biasanya ikut latihan pagi
klub, jadi dia harusnya sudah ada di kelas lebih awal.
"―Aduh,
bahaya, selamat!"
Saat kami
membicarakannya, Uta berlari masuk ke kelas dengan panik. Setelah menaruh
barang di mejanya, dia menghampiri kami.
"Pagi,
semuanya!" "Pagi, Uta-chan, tumben hari ini terlambat?"
Hikari menanyakan
keraguan kami semua. Uta menggaruk pipinya dengan wajah malu.
"Tadinya aku
ingin latihan mandiri sampai menit terakhir, tapi malah keasyikan……"
Benar-benar
hampir terlambat, ucap Uta. Jika
diperhatikan, ada keringat yang merembes di keningnya.
"Kamu
bekerja keras sekali ya." "Tentu saja, aku ingin jadi pemain
inti!"
Sepertinya
akhir-akhir ini Uta sedang tergila-gila dengan kegiatan klub. Setelah siswa
kelas tiga pensiun di musim panas, posisi tim inti belum ditetapkan, dan Uta
yang masih kelas satu punya kesempatan besar.
Dia bahkan rajin
latihan mandiri sampai larut malam. "Waktumu kan sedikit setelah latihan
pagi."
"A-aku tahu,
lain kali aku akan berhati-hati."
Uta
membalas Tatsuya yang terlihat bosan dengan mengerucutkan bibirnya. "Yah,
yang penting kan kamu sudah sampai."
Reita
menengahi tepat saat bel masuk kelas berbunyi. Setelah kembali ke meja dan menunggu sejenak, guru
wali kelas masuk.
Sambil
mendengarkan informasi hari ini, aku melirik ke arah tempat duduk Uta. Uta
duduk menopang dagu, menatap mimbar guru dengan tatapan kosong.
……Sejak
saat itu, aku juga jarang berbicara dengan Uta. Kami masih bisa mengobrol dalam
kelompok, tapi tidak pernah berdua saja.
Karena
akulah penyebabnya, aku bahkan tidak berhak merasa kesepian.
―Aku hanya bisa
mengikuti perasaanku sendiri dan memilih.
Aku
merasa itu adalah hal yang paling jujur, dan aku tidak menyesal. Karena itulah,
aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap hal yang tidak kupilih.
*
Sepulang
sekolah, setelah mengantar teman-teman yang pergi ke kegiatan klub, aku
mengunjungi ruang musik kedua. Saat membuka pintu, Serika sudah sedang
memainkan gitarnya.
Intro
lagu "black witch" yang kami mainkan saat konser festival budaya
menggema di seluruh ruangan. "Sudah lama tidak bertemu?"
Serika
menghentikan permainannya dan memiringkan kepala. "Yah, sekitar seminggu,
ya."
Band kami resmi
bubar tepat setelah konser di festival budaya. Karena itu, ini adalah pertama
kalinya aku kembali ke ruang musik kedua sejak latihan terakhir.
Serika dan Mei
berbeda kelas, dan Iwano-senpai berbeda angkatan, jadi kami tidak punya
kesempatan untuk bertemu. Ada rencana untuk mengadakan pesta perayaan, tapi
belum ada pembicaraan detail.
Namun, Serika
tiba-tiba memanggil kami hari ini. "Ah, selamat siang……"
Aku tidak
sadar ada yang mendekat dari belakang. Begitu berbalik dengan kaget, Mei
membungkukkan badan.
"Hei,
jangan muncul tiba-tiba begitu, bisa bikin kaget tahu." "M-maaf……
padahal aku merasa sudah muncul seperti biasa……"
"Hahaha," Mei tersenyum kikuk; kehadirannya hari
ini juga tetap tipis seperti biasa. Bagaimanapun juga, sekarang kami bertiga
sudah lengkap.
"Apa Iwano-senpai tidak dipanggil?" "Tidak,
dia sepertinya sudah mulai serius belajar."
Orang itu memang hebat. Masih jarang siswa kelas dua yang
mulai belajar untuk ujian masuk universitas, tapi dia memang tipe yang tidak
mudah terpengaruh suasana sekitar.
Bahkan
mungkin dia yang justru akan mempengaruhi orang lain. "Yah, setidaknya dia pasti datang kalau untuk
pesta perayaan, kan?"
"Nanti akan
kutanya kapan jadwal luangnya di akhir pekan, bagaimana dengan tempatnya?"
"Bagaimana kalau di Iccho?"
Sambil menjawab
nama restoran yang mengejutkanku karena ternyata hanya ada di wilayah Kanto
Utara itu, aku menyadari satu hal. ―Ternyata kami tidak akan bermain musik
bersama lagi, ya.
Meskipun sudah
tahu sejak awal, rasa sedih itu tetap muncul sedikit. Band yang kami bentuk
berempat, mishmash leftovers, sudah berakhir.
"……Jadi,
bagaimana setelah ini?"
Serika bergumam.
Pasti tujuan itulah yang membuatnya mengumpulkan kami. Bahkan tanpa
Iwano-senpai, kami bertiga masih bisa aktif.
"Kita kan
sudah sepakat kalau band ini cuma sampai festival budaya, jadi tidak
terpikirkan setelahnya." "Serika, kamu tetap akan bermusik,
kan?"
"Tentu saja,
mana mungkin berhenti. Aku akan melakukannya seumur hidup."
Tentu saja. Tanpa
perlu bertanya pun, sudah jelas Serika akan terus melanjutkannya. Jadi, yang
dipertanyakan di sini adalah kemauan aku dan Mei.
"……Aku ingin
lanjut, meskipun harus jadi band baru tanpa senior."
Mei menjawab
lebih dulu dariku. Ekspresinya
memancarkan tekad yang tenang.
"Memang
melelahkan dan berat, tapi kegiatan band itu sangat menyenangkan."
Melihat
Mei yang berkata begitu, Serika mengangguk. Kemudian dia mengalihkan pandangan padaku.
"Bagaimana
dengan Natsuki?" "Yah, menurutku―"
Setelah konser
selesai dan latihan berakhir, aku punya banyak waktu luang. Akhir pekan lalu
aku pergi berkencan dengan Hikari, latihan otot, dan membaca buku.
Sungguh hari
libur yang sudah lama tidak kurasakan. Sejujurnya, ada perasaan puas dalam
diriku.
Konser festival
budaya itu adalah sebuah keajaiban, dan aku merasa tidak akan bisa memberikan
performa yang sama untuk kedua kalinya. Jika kami berempat tidak bisa manggung
lagi, kupikir sudah cukup sampai di sini saja.
Namun, begitu
sampai di sini, aku menyadari isi hatiku yang sebenarnya. "Aku ingin
melanjutkannya."
Latihannya memang
berat, tapi itu adalah hari-hari yang penuh makna. Jujur saja, aku lelah,
terkadang merasa sedih karena kemampuanku yang payah, dan ada banyak hal yang
menyakitkan.
Namun, kesenangan
dan hal-hal menarik yang kutemukan di hari-hari itu…… kurasa itulah warna masa
muda yang kuinginkan. Karena itulah, aku ingin melanjutkannya sebisa
mungkin.
Aku memang cemas karena bentuknya akan berubah, tapi jika
bersama Serika dan Mei, aku yakin bisa. "Kalau kamu, pasti bisa, Natsuki, karena kamu adalah pria
pilihanku."
Serika
memamerkan giginya yang putih dan menepuk punggungku. "Kalau mau memulai lagi, berarti kita harus
cari anggota baru, ya?"
Jika ingin
bermusik lagi, kami harus mencari drummer pengganti Iwano-senpai. Tapi,
rasanya tidak mudah menemukan orang yang cocok.
Kami membutuhkan
orang yang punya semangat tinggi untuk mengikuti latihan dan kemampuan teknis
yang baik. Yah, meski aku sendiri bukan orang yang berhak mengatakannya.
"Aku tidak
mau kalau bukan orang yang sreg di hati. Aku tidak mau kompromi."
Serika
bicara jujur. Yah, karena Serika sendiri yang merekrut aku dan Iwano-senpai.
"Apa
aku orang yang sreg di hati?"
"Awalnya
tidak terlalu. Tapi setelah bermain musik bersama, jadi sreg."
Serika
hampir saja keceplosan bilang "Awalnya aku tidak menyadari
keberadaanmu," tapi aku segera menutup mulutnya.
Jangan
melukai hati Mei dengan jahil! Aku tahu Serika tidak bermaksud jahat, tapi
tetap saja!
"Kalau
begitu, mari cari orangnya." "……Sebelum itu, boleh aku bicara?"
Meski berat, ada
sesuatu yang harus kukatakan. Berkumpulnya kami berempat adalah hal yang sangat
ajaib.
Meski karena
karisma Serika, kebetulan saja ada orang-orang sisa yang bisa memainkan bass
dan drum. Selain itu, yang berbeda dari sebelumnya adalah band ini tidak lagi
memiliki batas waktu.
Dan kami tidak
punya tujuan yang jelas. Setidaknya, untuk saat ini belum jelas.
Sebelumnya, ada
batas waktu dan tujuan yang jelas: tampil sebaik mungkin di festival budaya.
Karena itulah kami semua punya motivasi yang sama.
Kali ini tidak
begitu, jadi tugas yang menanti akan sangat banyak. Apa targetnya, bagaimana
jadwal latihannya, dan bagaimana skala prioritas dengan sekolah?
Jika ada
perbedaan pandangan dalam hal itu, band ini pasti akan retak. Jadi, sebelum
mencari anggota baru, hal-hal tersebut harus diputuskan.
―Mendengar
penjelasanku, Mei dan Serika mengangguk tanda mengerti. "Memang benar,
ya."
"……Yah,
karena kita tidak sedang mengejar karier profesional juga."
Sebagai masalah
realistis, kami punya sekolah dan kerja paruh waktu. Aku pun tidak bisa
mengutamakan band di atas segalanya seperti waktu mendekati festival budaya.
"Ah, benar
juga ya, kalian berdua."
Serika yang
tadinya tampak ceria kini bergumam dengan ekspresi serius. Matanya tampak
sedih, tapi aku tidak bisa berbohong.
Itulah kenyataan.
Tujuanku adalah masa muda yang penuh warna.
Musik hanyalah
salah satu sarana untuk itu, bukan tujuannya. Seperti yang Mei katakan tadi, kami tidak
mengincar karier profesional.
Tapi
Serika berbeda. Bakat Serika bukanlah bakat yang bisa terkekang di band anak
SMA seperti ini.
Karena
itulah, lebih baik tunjukkan perbedaan pola pikir antara Serika dan kami
sekarang juga. ―Mendengar pemikiranku, Serika bergumam sambil melihat ke luar
jendela.
*
Apa itu masa
muda yang penuh warna?
Aku selalu memikirkannya. Sambil mengatakan pada Serika bahwa tujuan harus
diperjelas, ini malah jadi bahan tertawaan.
Konser festival
budaya itu, dan interaksi dengan Hikari tepat setelahnya, menurutku adalah masa
muda penuh warna yang selama ini kucari. Namun, kenapa sekarang aku merasa
justru menjauh dari tujuan tersebut?
Padahal aku sudah
berhasil berpacaran dengan gadis yang kucintai, Hoshimiya Hikari. Apakah karena
aku sedang menghadapi masalah realistis yang tidak ada dalam bayanganku tentang
masa muda yang ideal?
Baik masalah
kelompok maupun masalah band, tidak ada solusi yang mudah. Mungkin saja, itu
bahkan bukan sebuah masalah.
Jika hidup
seperti orang biasa, masalah seperti ini akan terus ada. Aku selalu mencari
sesuatu yang samar.
Aku mencari
sesuatu yang terbayang di lubuk hatiku. Aku ingin berteman dengan orang-orang yang
kukagumi dan berpacaran dengan gadis yang kusukai.
Aku ingin punya
sesuatu yang bisa membuatku terobsesi. Dan, aku ingin menghabiskan hari-hari yang
bermakna.
Jika hanya itu,
maka tujuanku sudah tercapai. Masalah realistis kecil yang muncul selama
proses itu adalah hal yang wajar.
Jadi, apa yang kurang? Lagipula, apa alasan awal aku
menginginkan masa muda yang penuh warna?
Sebelum masa muda
yang sia-sia dan abu-abu, saat aku pertama kali memutuskan untuk debut di SMA.
Apa yang kuinginkan adalah―
'Ayo pergi,
Natsuki! Antar aku sampai ke atas gunung itu!'
Tiba-tiba,
kenangan masa kecil muncul kembali. Miori, dengan rambut pendeknya yang seperti laki-laki, berlari
mendahuluiku.
Aku
bilang "tunggu", lalu berusaha keras mengejar punggungnya―
"―Hei, Haibara, bangun dan jawab soal ini."
Suara guru dan
rasa sakit di pipiku membawaku kembali ke kenyataan. Saat membuka mata dan
mengangkat kepala, Pak Murakami sedang melotot ke arahku.
Selain itu,
perhatian seluruh kelas tertuju padaku. Saat menoleh ke samping, rupanya Hikari
yang baru saja mencubit pipiku. Entah kenapa, dia menatapku dengan tatapan
dingin yang aneh.
"Akhirnya
bangun juga."
Pak Murakami
menghela napas dengan bosan.
"E-eh,
selamat pagi." "Apa kamu meremehkanku? Jawab saja soalnya."
Sepertinya
giliranku untuk menjawab soal di papan tulis sudah tiba. Di papan tulis sudah
tertulis beberapa soal matematika, dan teman-teman di depanku sudah berdiri di
sana.
Sepertinya aku kebagian soal terakhir. Sambil menunduk meminta maaf, aku menuliskan
jawaban di papan tulis.
Bagi siswa kelas
satu, soal itu cukup sulit. Seluruh kelas pun bergemuruh karena kagum.
"Benar-benar kamu ini…… padahal jarang menyimak
pelajaran……"
Aku minta maaf
pada Pak Murakami yang terlihat kesal. Tapi karena ini hidup kedua bagiku, aku
tidak punya pilihan lain.
Aku bisa saja
pura-pura tidak tahu, tapi aku takut akan lebih dimarahi. Saat kembali ke
tempat duduk sambil minta maaf, entah mengapa suasana hati Hikari memburuk.
Dia melirikku
dengan tatapan dingin, lalu membuang muka.
"E-eh, apa
aku melakukan kesalahan……?" "……Mimpi apa tadi?"
Hikari bertanya
dengan suara pelan. Mimpi? ……Mimpi apa ya?
Memang
terasa seperti sedang bermimpi. Tapi aku tidak bisa mengingatnya.
Lagipula, apa
hubungannya mimpiku dengan suasana hati Hikari? "……Eh, apa kamu
marah?"
"Tidak, aku
tidak marah."
Nah, itu dia! Itu khas perempuan, bilang tidak marah
padahal sebenarnya marah! Apa yang sudah kulakukan…… karena aku tidak peka, aku
tidak bisa menebaknya.
Tapi, Hikari yang menggembungkan pipinya dan secara
terang-terangan memberikan sinyal "Aku marah!" itu manis sekali…….
"……Tadi saat mengigau, kamu memanggil nama Miori-chan, kan?"
Saat aku sedang bingung dan mencoba menyimak pelajaran
dengan tenang, Hikari berbisik pelan. A-ah…… jadi begitu?
Kalau
dipikir-pikir, memang mimpi seperti itu……? Dalam mimpi yang berkelana di
ingatan masa lalu, kurasa aku memang memanggil nama Miori.
Sepertinya hal
itu terdengar oleh Hikari. Memanggil nama wanita lain saat mengigau tentu bukan
hal yang menyenangkan bagi seorang pacar.
"A-ah…… soal itu, maaf." "Tidak perlu, tidak ada alasan bagimu untuk
minta maaf, kan?"
Kata-kata Hikari
yang ketus itu memang benar secara logika, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa
selain minta maaf. Bagaimana ini?
Saat aku sedang
kebingungan, sudut bibir Hikari melunak. "……Hanya bercanda, aku tidak terlalu
marah."
Sambil
menopang dagu, dia menatapku dan tertawa kecil dengan geli. Bisakah kau
berhenti membuat lelucon yang bikin jantung tidak kuat?
Yah, ini memang
salahku sih……. "Tapi aku penasaran, mimpi apa?"
"Mimpi masa
kecil, kenangan saat bermain bersama Miori dan yang lainnya."
Dulu, kami
berempat selalu bermain bersama. Miori yang memutuskan permainan apa yang akan
dimainkan.
Aku selalu
memanggil namanya sambil mengejar punggungnya. Mimpi itu hanyalah sepotong
kejadian sehari-hari, dan bagiku, itu adalah peristiwa yang sudah lama sekali
berlalu.
"Begitu ya,
kalian kan teman masa kecil."
Hikari mengangguk
tanda mengerti. "Jadi itu cerita masa kecil Natsuki-kun…… nanti aku mau
dengar ceritanya yang detail."
"……Ceritanya
tidak terlalu menarik, lho?" "Tetap saja, Natsuki-kun jarang cerita
tentang dirimu sendiri, kan?"
Kata-kata Hikari
membuatku tertegun. Alasan aku tidak menceritakan diriku adalah karena aku
tidak menyukai diriku yang dulu.
Selain itu,
karena aku tidak bisa menceritakan fakta bahwa aku melompati waktu, ceritaku
jadi terbatas. Meskipun begitu, aku senang pacarku tertarik padaku.
Aku juga ingin
lebih mengenal gadis yang bernama Hoshimiya Hikari ini. Saat kami sedang
berbisik-bisik, aku merasakan tatapan Pak Murakami.
Jadi aku
buru-buru menjauh dari Hikari dan menatap buku pelajaran. Maafkan aku karena
menjadi siswa yang tidak serius padahal nilainya bagus……
*
Setelah sekolah
usai, aku membawa tas dan keluar kelas. Karena hari ini ada kerja paruh waktu,
tidak ada kegiatan klub (band).
Selain itu,
karena Serika masih memikirkan rencana ke depan, untuk sementara waktu kami
hanya berlatih mandiri.
"Ugh,
dinginnya."
Mungkin karena
hujan yang turun, udaranya terasa sangat dingin. Aku berpikir mungkin sudah
waktunya mengeluarkan mantel, lalu keluar dari pintu masuk dan membuka payung.
Karena tidak ada
kegiatan klub, aku sempat berpikir untuk pulang bersama Hikari sampai ke
stasiun. Namun, hari ini Hikari sepertinya ada kegiatan di klub Sastra. Sulit
sekali mengatur waktu, sungguh menyedihkan…….
"……Itu,
Haibara-kun."
Seseorang
memanggilku dari belakang, aku pun menoleh. Yang berdiri di sana adalah seorang gadis dari
kelas sebelah.
Kalau tidak salah namanya…… Miwa-san. Dia sesekali menyapaku, jadi aku ingat namanya. Dia gadis dengan pembawaan yang
tenang, dan sangat nyaman saat mengobrol dengannya.
"Oh, Miwa-san. Ada apa?"
"Emm……
Haibara-kun juga mau pulang sekarang?"
"Iya, aku
mau pergi kerja paruh waktu setelah ini."
"O-oh,
begitu ya. Kamu kerja di dekat stasiun, kan?"
Aku mengangguk
mendengar pertanyaan Miwa-san yang terdengar agak ragu-ragu.
"Betul. Di
Kedai Kopi Males. Suasananya nyaman dan kopinya enak, jadi
kurekomendasikan."
Tanpa sadar aku
jadi bisa bicara lancar seperti ini (memuji diri sendiri). Rupanya komunikasi
memang soal Experience Points. Sejak konser di festival budaya, kesempatan
untuk disapa orang lain memang meningkat drastis…….
"Bo……bolehkah
aku pulang bareng sampai ke tempat kerjamu?"
Meskipun
kami bukan orang asing, hubungan kami belum sampai di tahap bisa disebut teman.
Namun, aku sedikit paham tujuan dia menyapaku—kalau aku tidak sedang kegeeran.
Justru
itulah yang membuat situasinya sulit. Sebab, aku sudah punya pacar sekarang.
……Sepertinya
tidak baik juga pulang berduaan saja dengan seorang gadis. Kalau itu Nanase yang tempat kerjanya sama
mungkin lain cerita, tapi kami tidak punya urusan seperti itu.
Mungkin karena
menyadari keraguanku, wajah Miwa-san jadi tampak hampir menangis.
"……Itu, apa
benar kamu sedang pacaran dengan Hoshimiya-san?"
Aku tidak
bermaksud membuatnya memasang ekspresi seperti itu. Aku ingin bersikap baik
pada siapa pun yang menyukaiku, termasuk orang seperti diriku ini. Namun, ada
prioritas dalam setiap hal.
Aku tidak bisa
berbuat apa-apa. Setidaknya
untuk saat ini, aku hanya bisa mengangguk.
"……Begitu
ya. Maaf, ya. Aku jadi bertanya hal yang menyulitkanmu."
"……Tidak,
sama sekali tidak."
"Sebenarnya
aku sudah tahu. Gosipnya sudah beredar di kelas, dan judul lagu saat konser
waktu itu juga sudah jelas sekali…… tapi kalau belum mendengar langsung darimu, aku tidak bisa
menyerah."
Miwa-san
meneteskan air mata. Sosoknya mengingatkanku pada Uta hari itu.
"Kamu pasti
sudah tahu…… aku menyukaimu, Haibara-kun."
"……Terima
kasih. Aku senang mendengarnya."
Miwa-san pasti
tahu kalau hanya itu kata-kata yang bisa kubalas. Dia mengusap air mata dengan
lengan bajunya, lalu meski matanya sembab, dia menunjukkan senyuman dan
berucap.
"Selamat
tinggal."
Miwa-san berlari
ke tengah hujan. Dia punya payung lipat, tapi malah lari tanpa membukanya. Aku
khawatir dia akan masuk angin, tapi aku tidak punya hak untuk menghentikannya.
Aku menghela
napas tanpa sadar. Perasaan orang lain itu menyenangkan, tapi juga berat. Aku
sempat ingin menjadi populer, tapi rasanya aku hanya membuat banyak orang
sedih.
Mungkin karena
itu juga, aku bersyukur bisa berpacaran dengan Hikari. Berita bahwa aku
berpacaran dengannya pasti akan segera tersebar luas. Jika aku diakui sebagai
laki-laki yang sudah punya pacar, kurasa aku akan keluar dari daftar target
cinta.
―Ini sudah benar.
Satu-satunya perasaan yang bisa kubalas hanyalah perasaan untuk Hikari.
Aku membuka
payung dan mulai berjalan di tengah hujan. Pekerjaan paruh waktuku hari ini
sampai jam sembilan malam. Shift-ku bersama Kirishima-san. Karena ini
hari di mana banyak pelanggan tetap datang, aku harus berusaha keras.
*
Aku menghentikan
tangan yang sedang memasak dengan tenang, lalu menarik napas sejenak.
"Hei,
akhirnya kamu punya pacar, ya? Bagus dong, selamat!"
Saat suasana
kedai mulai tenang, Kirishima-san mengajakku bicara.
"Yah……
omong-omong, dari siapa kamu dengar?"
"Hmm?
Shinohara-kun atau Yuino-chan bicara seperti biasa, sih."
Kalau
dipikir-pikir, kemarin shift-ku memang bersama tiga orang itu termasuk
Kirishima-san……. Merepotkan sekali. Kalau dia tahu, responnya pasti merepotkan.
Dia orangnya sangat berisik.
"……Terus,
bagaimana? Sudah melakukan 'itu'?"
"Bisa
tidak berhenti bertanya hal yang tidak pantas buat perempuan?"
Ternyata
dia mendekatkan wajah ke telingaku sambil nyengir, kirain mau bicara apa.
"Aduh,
kamu terlalu banyak bermimpi ya tentang perempuan?"
Biarkan aku
bermimpi! Aku ini laki-laki yang masih perawan! Aku membatin seperti
itu, tapi karena memberi informasi berlebih pada Kirishima-san hanya akan
membuatnya makin repot, aku menanggapinya dengan tenang.
"……Kami
belum melakukan apa pun. Ini hubungan yang sehat."
"Hee~ terus,
sudah berapa lama kalian pacaran?"
"Baru
seminggu."
"Wah!
Masa-masa lagi panas-panasnya ya! Enaknya~"
Kirishima-san
memandang jauh ke masa lalu dengan tatapan sendu, mengenang masa-masanya dulu.
Dengan paras dan sifat seperti itu, dia pasti punya banyak pengalaman cinta.
Pasti sekarang pun dia punya pacar.
"Terus, mana
fotonya, tunjukkan!"
Aku kalah oleh
tekanan Kirishima-san yang terus mendesak, jadi aku menunjukkan foto selfie-ku
bersama Hikari. Itu foto saat kami baru masuk sekolah. Ngomong-ngomong,
sejak resmi pacaran kami belum foto lagi.
"Wah! Imut banget! Parah sih ini!"
Kirishima-san
menjerit kegirangan. Saking bersemangatnya, suaranya jadi keras. Yah, memang
imut sih, jadi wajar saja. Gadis ini adalah pacarku. Hahaha…….
Saat itu, pintu
di bagian belakang kedai terbuka dengan bunyi kriet. Manajer keluar dari
ruang staf, tersenyum kecil, lalu menutup pintu lagi.
……Tidak,
bisakah Anda bilang sesuatu? Anda menakutkan, tahu.
Mungkin
Kirishima-san merasakan hal yang sama, dia langsung terdiam dan mulai
membersihkan lantai dengan wajah pucat. Setelah hening sejenak, dia mendekatiku tanpa suara.
"……Terus,
sudah ciuman?"
Tidak,
dia masih belum kapok juga? Benar-benar orang ini……. Mungkin menyadari
keraguanku yang samar, dia mengejek, "Ah, berarti sudah ya."
"Enak
ya, kelihatannya bahagia."
"……Kirishima-san
sendiri bukannya punya pacar?"
Aku
mengatakannya hanya sebagai timbal balik percakapan biasa, tapi Kirishima-san
malah merintih.
"……Ugh, lusa
kemarin, aku diputusin."
Kejadiannya baru
saja, ya…….
Kirishima-san
tiba-tiba memancarkan aura suram. Sangat sulit untuk diajak bicara.
"T-tidak
apa-apa, kok. Kamu tidak perlu merasa sungkan. Lagipula, aku merasa dari awal
dia hanya menganggapku sebagai wanita yang mudah dimanfaatkan…… setelah
putus pun, aku tidak terlalu memikirkannya…… haah……"
Orang yang tidak memikirkannya tidak akan sampai
berkaca-kaca, menurutku. Tapi aku tidak mengatakannya.
"Aku juga harus mencari cinta baru seperti
Natsuki-chan~"
Kirishima-san
menopang dagu di ambang jendela sambil menatap jauh.
"……Ngomong-ngomong, apa dia pacar pertamamu?"
Saat aku mengangguk, Kirishima-san menatapku dengan mata
yang tampak iri.
"Semoga langgeng ya. Pacar pertamaku saja langsung
menghilang setelah dua minggu."
"Bisa
tidak berhenti memberikan dukungan yang bikin susah merespon begitu?"
Bahan
ejekan diri sendiri milik Kirishima-san benar-benar banyak sekali. Sepertinya
dia punya pengalaman hidup jauh lebih banyak daripada aku yang melakukan time
leap.
"Tahu
tidak! Sebagai kakak, aku akan mengajarimu tips cinta untukmu yang baru punya
pacar!"
"……Itu
sangat kuhargai. Soalnya aku benar-benar tidak paham soal cinta."
"Iya, kan!
Kalau begitu, andalkan aku!"
"Apa
Kirishima-san punya banyak pengalaman cinta?"
"Iya, dong!
Aku selalu berpacaran dengan niat untuk menikah, ini pacar keempat…… eh,
maaf, sekarang bukan pacar lagi…… lho? Apa gunanya saranku……? Jangan-jangan aku cuma diputusin empat kali……? Tips
cinta itu sebenarnya apa……?"
"Jangan
malah down sendiri padahal kamu yang mulai."
Aku menggoyangkan
bahu Kirishima-san yang sedang bergumam pada dirinya sendiri agar dia kembali
sadar.
"Maaf ya,
Natsuki-chan…… saranku mungkin tidak banyak membantu……"
"Dari sudut
pandangku yang nol pengalaman, pendapat apa pun sangat membantu."
"Benarkah?
Kalau begitu, tanya apa saja. Apa ada masalah dengan pacarmu?"
"……Yah……
entah harus mulai dari mana……"
Mungkin ini masalah yang jauh lebih mendasar daripada yang
dipikirkan Kirishima-san.
"……Seharusnya apa yang dilakukan pacar, ya?"
Saat aku berhasil
mengeluarkan pertanyaan itu, mata Kirishima-san terbelalak kaget.
"……Hah,
hah?"
Ya, wajar saja
reaksinya begitu. Tapi itu memang pertanyaan jujur.
"Apa
maksudnya, ya seperti kencan biasa? Atau bermesraan, bukan?"
"Kencan,
contohnya melakukan apa?"
"Hmm, aku
suka belanja, jadi sering aku ajak keliling. Terus nonton film, ke taman
bermain, akuarium, atau karaoke dan pergi wisata juga seru, kan?"
"Begitu
ya……"
"Biasanya,
bermalas-malasan di rumah juga seru, sih. Namanya kencan rumah? Kalau di rumah
kan bisa puas bermesraan. Lagi pula, bukankah di mana pun, yang penting asal
bersama sudah menyenangkan?"
Makanya kalian
jadi pacaran, bukan? Begitu ucap Kirishima-san.
Memang benar.
Kalau aku bisa bersama Hikari, itu saja sudah cukup.
"Kenapa?
Kamu bingung karena tidak tahu mau ajak ke mana?"
"Yah…… kurang lebih begitu. Kemarin sudah nonton film,
tapi aku bingung selanjutnya harus mengajak ke mana atau melakukan apa agar
terasa seperti pacaran……"
"Hmm,"
Kirishima-san menanggapi sambil menimbang-nimbang kata-kataku.
"……Kalau
Natsuki-chan tidak punya tempat tujuan, kenapa tidak tanya saja? Aku tidak tahu
dia gadis seperti apa, tapi kurasa dia pasti punya tempat yang ingin dia
kunjungi bersamamu."
Suaranya
terdengar sangat lembut. Nada bicaranya yang menasihati terasa lebih dewasa
dari biasanya.
"Lagipula,
tidak perlu memusingkan soal 'terasa seperti pacaran'. Karena ini hubungan satu
lawan satu, yang penting adalah kenyamanan berdua, kan? Apa yang dipikirkan
orang lain tidak penting, tahu."
Untuk pertama
kalinya, aku merasa Kirishima-san terlihat seperti orang yang lebih tua.
……Tidak,
sebenarnya aku lebih tua, tapi soal cinta aku masih setingkat anak SD.
"Begitu ya……
terima kasih banyak."
Kata-kata
Kirishima-san meresap ke dalam hatiku. Tidak ada gunanya memikirkannya
sendirian. Aku tinggal berdiskusi dengan Hikari dan memutuskannya. Karena tidak
ada gunanya bersikap sok keren padahal tidak punya pengalaman cinta.
"Ahaha, apa
saranku berguna? Tumben sekali aku bicara serius."
Kirishima-san
tertawa malu-malu. Mungkin karena malu, pipinya sedikit memerah.
"Boleh
bayar?"
"Ah, iya!
Mohon tunggu sebentar!"
Dipanggil
pelanggan tetap, Kirishima-san segera bergegas menuju kasir. Sambil melihat
punggungnya, aku berpikir. Mengapa Kirishima-san yang cantik dan baik hati bisa
sampai diputusin empat kali, ya?
Saat aku
memikirkannya, kata-katanya tadi terlintas di benakku.
'Iya, dong!
Aku selalu berpacaran dengan niat untuk menikah, ini pacar keempat…… eh,
maaf, sekarang bukan pacar lagi…… lho? Apa gunanya saranku……? Jangan-jangan aku cuma diputusin empat kali……? Tips
cinta itu sebenarnya apa……?'
Ah……
jangan-jangan, dia terlalu 'berat' ya…….
Aku bahkan sudah hampir yakin, tapi ada pepatah bilang,
jangan mencari masalah dengan hal yang tidak perlu. Yang bisa kulakukan
hanyalah berdoa agar cinta Kirishima-san yang berikutnya berjalan baik.
*
Aku berjalan
pulang dari tempat kerja. Jarak ke stasiun hanya sekitar lima menit. Pekerjaan
hari ini cukup sibuk di awal, tapi di akhir kami hanya mengobrol. Meski aku
lelah mengurus Kirishima-san yang emosinya naik turun.
Tapi, aku juga
mendapat sesuatu. Memang benar orang yang sudah banyak pengalaman hidup itu
berbeda.
Aku? Aku hanya
menambah usia tanpa melakukan apa pun…….
"……Eh?"
Saat masuk ke
stasiun dan melewati gerbang tiket, aku melihat sosok yang kukenal.
"Hei,
ini tidak imut? Katanya lagi tren akhir-akhir ini."
Kuncir
kuda rambut hitam. Mengenakan seragam yang sama denganku di tubuh yang ramping,
punggungnya membawa tas ransel, dan di bahunya tersampir tas enamel
klub. Seorang siswi yang tampak baru pulang kegiatan klub.
"Bagus.
Menurutku itu cocok buat Miori."
Berjalan
di sampingnya, seorang siswa laki-laki bertubuh ramping dengan aura yang segar.
Itu Motomiya Miori dan Shiratori Reita.
Sesaat
aku berpikir untuk menyapa, tapi mengganggu waktu mereka berdua sepertinya
kurang sopan. Miori sesekali mencolek pinggang Reita sambil mengobrol dengan
riang.
Meski
begitu, mereka pulang bersama setelah kegiatan klub, ya. Ya tentu saja, mereka kan pacaran. Sampai
melihatnya dengan mata kepala sendiri, aku tidak terlalu merasakan
kenyataannya.
'Kalau begitu,
kerja sama kita selesai di sini. Kemitraan kita berakhir.'
Tiba-tiba, aku
teringat percakapanku dengan Miori di malam kedua festival budaya. Apakah
ketidakstabilan aneh yang kurasakan pada Miori saat itu hanya perasaanku saja?
Setidaknya, di
wajah Miori yang tertawa saat berbicara dengan Reita, tidak terlihat kesedihan
apa pun.
"……Mungkin
aku terlalu memikirkannya."
Aku terkejut saat
kemitraan itu berakhir, tapi Miori hanya mengatakan hal yang wajar. Tidak ada
gunanya melanjutkan sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan. Hanya itu saja.
Aku mampir ke
mesin penjual otomatis dan membeli kopi hitam. Jika aku bertemu mereka di sini,
aku akan naik kereta yang sama dengan Miori, dan Reita harus pulang sendirian.
Kupikir itu canggung, jadi aku memutuskan untuk menghabiskan waktu.
Aku punya pacar,
teman-temanku punya pacar, dan kupikir hal-hal yang perlu kupikirkan jadi
bertambah. Baik atau buruknya, hubungan antarmanusia akan berubah seiring
berjalannya waktu. Kopi kaleng yang kuminum tidak terlalu enak, seperti
biasanya.
*
Home room hari berikutnya lebih ramai dari
biasanya. Alasannya adalah acara baru.
"Tentang
jadwal kompetisi olahraga, diputuskan hari Rabu depan. Mulai hari ini sampai
kompetisi, pelajaran olahraga akan digunakan untuk latihan masing-masing
cabang. Berusahalah agar kelas kita bisa menang."
"Siap!"
teriak Okajima dari klub sepak bola dengan semangat.
Kompetisi
olahraga, ya. Kalau tidak salah, sekolah kami memang mengadakannya di musim
ini.
"Cabang apa
saja yang ada, ya?"
"Kalau
tidak salah, basket, sepak bola, voli, dodgeball, dan tenis meja."
Hikari
yang duduk di sebelahku bertanya dengan suara pelan, jadi aku menjawabnya
sambil mengingat-ingat. Dodgeball adalah satu-satunya cabang
campuran, sisanya dipisah berdasarkan gender. Satu orang maksimal ikut dua
cabang. Karena jumlah orang, jika laki-laki memilih sepak bola maka perempuan
ikut basket, dan sebaliknya.
"Natsuki-kun,
kamu tahu banyak ya."
Ya, karena aku
melakukannya selama tiga tahun, jadi aku tahu.
"Hmm…… aku
ikut tenis meja saja, ya? Selain itu aku takut malah jadi beban……"
Ucap
Hikari yang sedang bingung. Kalau dipikir-pikir, dia pernah bilang tenis meja
adalah olahraga yang paling dia kuasai saat kami ke Spo-cha. Memikirkan kemampuan atletik Hikari yang
fatal, mungkin memang dia harus ikut tenis meja.
"Tidak
masalah, kan?"
"Natsuki-kun
ikut apa? Basket
lagi?"
"Yah,
basket adalah yang paling kubisa sih……"
Untuk
olahraga seperti basket atau sepak bola, ada aturan bahwa maksimal hanya boleh
satu orang dari klub olahraga yang bersangkutan. Terus terang, aku yang di
kehidupan pertama adalah anak klub basket, merasa sedikit curang kalau ikut
basket. Yah, tapi anak-anak yang berpengalaman dari SMP juga boleh ikut, jadi
mungkin tidak apa-apa.
"Aku ingin
lihat lagi kamu main basket."
"Oke."
Baiklah, aku akan
ikut basket! Soal aturan atau apa, aku tidak peduli. Aku harus memenuhi harapan
Hikari!
Lagipula, sebagai
pencari masa muda yang penuh warna, aku ingin berusaha sekuat tenaga di acara
seperti ini. Untuk menargetkan kemenangan, sudah jelas lebih baik ikut basket.
"Dalam
kompetisi olahraga, peringkat di setiap cabang akan diberi poin. Peringkat
kelas akan ditentukan berdasarkan total poin tersebut. Kalau menang, aku bisa
sombong di depan guru-guru saat acara minum-minum nanti, jadi
berusahalah."
Wali kelas
menambahkan sesuatu yang tidak perlu. Suara keluhan "Eeehh" terdengar
dari seluruh kelas.
"Ternyata
kompetisi antar kelas, ya. Aku juga harus berusaha."
Hikari yang
mengepalkan kedua tangannya dengan semangat itu imut sekali. Selama tiga tahun
di kehidupan pertama, aku selalu dilempar ke cabang yang kekurangan orang, jadi
aku biasanya ikut dodgeball…… apakah kali ini aku bisa ikut basket?
"Nanti,
tentukan satu orang sebagai anggota komite pelaksana kompetisi olahraga."
Wali kelas hanya
mengatakan itu lalu mengakhiri home room dan meninggalkan kelas. Aku
pikir Fujiwara yang akan melakukannya…… sambil berpikir begitu, aku melihat
sekeliling kelas.
Suasana sangat riuh, semua orang sibuk membicarakan
pemilihan cabang untuk kompetisi.
"Natsuki, kamu ikut basket?"
Yang mengajak bicara adalah Reita. Anggota kelompok kami
yang biasa mulai berkumpul di mejaku.
"Kalau
laki-laki bagian basket, ya aku ikut itu."
"Kalau
mengincar juara, sepertinya memang lebih baik begitu. Apalagi ada Tatsuya juga di kelas ini."
Secara
teknis kami punya dua orang anak klub basket. Kalau anak-anak atletis seperti Reita dan Hino
ikut serta, meski masih kelas satu, juara bukanlah sekadar mimpi. Tentu saja
itu tergantung pendapat seluruh kelas.
"Reita tidak
ikut sepak bola?"
"Aku tidak
masalah ikut yang mana saja. Kalau sepak bola, aku bisa memimpin."
Aku
mengobrol seperti itu dengan Reita. Nanase menghela napas dengan wajah
tampak suram.
"Aku tidak berminat, tapi…… aku harus bagaimana,
ya?"
"Ahaha,
Yui-yui kan tidak suka olahraga."
"Bagaimana
dengan Uta-chan? Basket?"
"Iya!
……sebenarnya ingin bilang begitu, tapi sepertinya kita lebih kuat kalau
laki-laki yang basket."
Uta melihat ke
seluruh kelas dan berkata dengan wajah bingung.
"Yah, aku
juga suka sepak bola dan dodgeball, jadi aku akan berusaha di cabang
mana pun yang diputuskan!"
"Aku ikut
cabang yang sama dengan Uta, dan bersembunyi di balik bayangannya saja……"
"Eh,
Yui-yui! Senang sih satu tim, tapi kamu harus berusaha juga!"
Saat aku sedang
merasa tenang melihat percakapan Uta dan Nanase, bahuku ditepuk dengan lembut.
Begitu menoleh, Fujiwara ada di sana. Cukup jarang Fujiwara mengajakku bicara.
"Haibara-kun,
mau jadi komite pelaksana?"
Tak disangka, itu
adalah pernyataan yang sama sekali tidak terpikirkan.
"……Eh,
aku?"
Aku menunjuk diri
sendiri dengan mata terbelalak, Fujiwara mengangguk dengan ekspresi tenangnya
yang biasa.
"Bukankah
Fujiwara yang akan melakukannya?"
"Itu niatku,
tapi sepertinya tidak boleh merangkap jabatan dengan ketua kelas."
Fujiwara
mengangkat bahu. Oh iya, dia kan ketua kelas. Memangnya ada aturan
seperti itu?
"Meskipun
begitu, kenapa aku? Ada Reita, kan."
"Aku juga
tidak keberatan, tapi bukankah Natsuki lebih tepat? Iya kan, semuanya?"
Saat Reita
meminta pendapat orang lain, entah kenapa semuanya setuju.
"……Kenapa?"
Saat aku
memiringkan kepala, Fujiwara dan Reita saling bertatapan dan berbicara
bergantian.
"Komite
pelaksana kompetisi olahraga juga punya peran sebagai pemimpin yang menyatukan
kelas, kan?"
"Kalau
Natsuki yang melakukannya, semua orang pasti setuju."
"Tidak,
tidak mungkin…… kan, semuanya?"
Saat aku bertanya
pada teman sekelas, entah kenapa aku mendapat bantahan keras.
"Tidak,
justru orang yang tepat cuma kamu."
"Kelas lain
juga menganggap kelas ini adalah kelasnya Haibara."
"Kalau
Haibara-kun yang memimpin, semuanya pasti jadi semangat, kan?"
"Terus
terang, selain kamu aku setuju saja."
Oi, yang terakhir itu jujur banget! Sial,
mereka semua mengatakannya bersamaan sampai aku tidak tahu siapa yang bicara…….
"Baiklah.
Aku yang akan melakukannya, kalau sampai segitunya."
……Yah, terlepas
dari itu, suasana sudah jadi begini jadi aku tidak punya pilihan selain
menerimanya.
M-mungkin
antusiasme festival budaya masih membekas, tapi aku senang teman-teman sampai
bilang begitu. Ini juga terasa seperti masa muda, kan?
Saat aku
sedang bersikap angkuh, Fujiwara tertawa senang dan melakukan high-five
dengan Reita.
"Ahaha,
Haibara-kun gampang sekali dikerjai."
"Natsuki itu
orangnya, sebenarnya tidak terbiasa dipuji."
"……Oi,
jangan-jangan kalian menjebakku?"
Aku memelototi
Fujiwara dengan wajah kesal, tapi dia tertawa getir dan bilang, "Aku tidak
bohong, kok."
"Haibara,
kamu dikasih pekerjaan kasar, ya."
Hino
mendekat dan menepuk bahuku. Jadi ini benar-benar pekerjaan kasar! Sebenarnya aku sudah menduga kalau tugas
komite pelaksana itu kebanyakan pekerjaan kasar, sialan!
"Kompetisi
olahraga cuma sehari, sebenarnya tidak banyak yang harus dilakukan.
Dibandingkan komite festival budaya, ini jauh lebih santai. Hanya memimpin
kelas dan membantu persiapan saja."
Fujiwara
memberikan penjelasan. Setelah menjebakku, dia malah bersikap manis……
"Jangan
memelototiku. Benar-benar,
aku hanya berpikir Haibara-kun yang paling tepat."
"……Ya sudah,
aku akan melakukannya."
Saat aku menjawab
dengan suara kesal, gelak tawa terdengar di sekelilingku.
"Semangat
ya, Natsuki-kun."
Hikari yang di
sebelahku mendukungku sambil tersenyum lebar.
"Ya, kalau
bisa kubantu, aku akan bantu."
Tepat saat Reita
berkata begitu, bel jam pelajaran pertama berbunyi, dan semua orang buru-buru
kembali ke tempat duduk. Reita memang selalu pintar merangkum situasi…….
*
Karena guru mata
pelajaran Bahasa Jepang Modern berhalangan, setengah jam pelajaran menjadi
waktu belajar mandiri, jadi aku memanfaatkannya untuk menentukan cabang
olahraga kompetisi.
Pak
Midori yang dikenal baik hati mengizinkannya dengan senang hati.
Sebagai
anggota komite, aku terpaksa berdiri di atas mimbar guru.
Tatapan seluruh
kelas tertuju padaku. Kupikir aku akan gugup, tapi ternyata tidak.
Mungkin karena
saat festival budaya aku sudah terbiasa dilihat banyak orang, jadi rasanya
sudah mati rasa.
"Ya
sudah, aku yang jadi sekretaris."
Reita
berdiri dari kursinya dan mengambil kapur di depan papan tulis.
Dia
benar-benar mau membantu? Reita
memang luar biasa. Sangat membantu…….
"Baiklah,
mari kita tentukan cabangnya."
Setelah aku
menyatakannya, terdengar jawaban panjang "Iyaa" dari teman-teman.
Tanpa diminta pun, Reita mulai menuliskan berbagai cabang kompetisi di papan
tulis.
"Pertama,
sepak bola dan basket, bagaimana pembagian laki-laki dan perempuan?"
Saat aku bertanya
begitu, pendapat kelas terpecah dengan hebat.
"Mungkin
kita putuskan lewat voting saja."
Karena ada
pendapat dari Reita yang duduk di sebelahku, kami memutuskannya melalui voting
dengan mengangkat tangan.
Hasilnya,
laki-laki ikut basket dan perempuan ikut sepak bola. Okajima dari klub sepak
bola memegangi kepalanya sambil meratap.
Entah kenapa aku
merasa ada kecurigaan bahwa mungkin ada seseorang yang sengaja mengalah karena
tahu aku ingin main basket. Yah, mungkin itu hanya kegeeranku saja.
"Natsuki.
Selanjutnya bagaimana?"
Reita mendesakku
yang sedang melamun.
Benar juga.
Karena aku yang memimpin, kalau aku sendiri malah melamun, pembicaraan tidak
akan berjalan lancar.
Karena belum
pernah berpengalaman menjadi ketua, aku tidak menyadari hal-hal yang mendasar.
Apakah Reita menawarkan diri menjadi sekretaris untuk membantuku?
"Emm, kalau
begitu, untuk sepak bola, siapa saja yang mau ikut, silakan angkat
tangan."
Aku memandu rapat
dengan nada bicara yang masih terbata-bata. Rasanya canggung dan memalukan, tapi aku tidak
mungkin bisa melarikan diri sekarang.
Kalau ada poin
yang terlewat, Reita yang ada di sampingku pasti akan menunjukkannya.
―Begitulah,
anggota untuk setiap cabang olahraga akhirnya diputuskan tanpa kendala.
Cabang
yang populer adalah dodgeball, sepak bola, basket, dan voli. Semuanya
diputuskan lewat musyawarah, saling mengalah, atau hompimpa (janken),
jadi tidak ada masalah yang berarti.
Anggota tim
basket yang kuikuti adalah Tatsuya, Reita, Hino, dan Okajima-kun.
Tak perlu
dikatakan lagi, Tatsuya adalah ace klub basket, Reita dan Okajima-kun dari klub
sepak bola, sedangkan Hino adalah satu-satunya anak yang tidak ikut klub, tapi
dia punya kemampuan atletis yang luar biasa. Tanpa diduga, kami mendapatkan
susunan tim yang ideal.
Untuk anggota
lainnya, Hikari ikut tenis meja, sementara Uta dan Nanase ikut sepak bola,
sesuai dengan keinginan mereka sendiri.
Omong-omong, Uta,
Tatsuya, dan Reita juga diputuskan ikut dodgeball.
Jika dibagi
secara merata, jumlah orangnya agak kurang, jadi ada sekitar lima sampai enam
orang yang harus ikut dua cabang sekaligus.
"Ada yang
lain? Kalau tidak ada, berarti sudah diputuskan ya."
Karena penentuan
cabang berakhir dengan lancar, waktu yang tersisa dikembalikan menjadi jam
belajar mandiri. Namun, karena guru tidak ada, semua orang malah mengobrol
dengan semangat seperti saat menentukan cabang tadi.
Mereka yang
antusias dengan kompetisi olahraga membicarakan tim yang baru saja terbentuk,
sementara yang tidak tertarik membicarakan drama atau game. Memang tidak
nyambung, tapi ya itulah yang terjadi.
Di acara seperti
ini, aku tidak suka jika harus dipaksa untuk kompak atau bersatu. Jika aku
melakukan itu, aku pasti akan merasa terasing…… ugh, ingatan masa lalu
melintas di benakku. Pergi! Menjauhlah!
Apa pun itu,
biarkan saja mereka yang ingin berusaha yang berusaha. Aku hanya perlu
menciptakan lingkungan di mana mereka bisa merasa ingin berusaha.
*
Sepulang sekolah,
suasana kelas langsung berubah menjadi sangat santai.
Di tengah
teman-teman yang bergegas pulang, mengobrol, atau pergi ke kegiatan klub, hanya
aku yang harus menghadiri acara lain. Katanya ada rapat komite pelaksana
kompetisi olahraga.
Lihat kan, masalah yang merepotkan jadi bertambah,
dasar Fujiwara……. Yah, hari ini aku tidak ada kerja paruh waktu dan toh aku
sedang senggang, jadi tidak masalah.
Dalam perjalanan
menuju kelas yang diarahkan oleh wali kelas, ada bayangan seseorang yang
berjalan di depanku.
"Miori?"
Saat aku menyapa
siswi berkuncir kuda dengan rambut hitam itu, ternyata benar dugaan sosoknya.
Miori menoleh ke
arahku dan memasang wajah kesal sambil berkata, "Hah."
Kenapa sih? Aku
ingin dia berhenti memasang ekspresi yang membangkitkan kenangan masa lalu
seperti itu.
Sebenarnya, dulu
aku bisa membuat orang membenciku hanya dengan menyapa mereka…… Akhir-akhir ini
hal itu sudah tidak terjadi lagi, jadi aku sebenarnya sangat senang.
"……Jangan-jangan,
kamu juga jadi anggota komite?"
"Iya.
Kenapa, apa kamu juga dipaksa?"
"……Dengan
terpaksa, saat rapat penentuan aku ketiduran dan malah terpilih……
sialan……"
Miori menggerutu
dengan wajah yang sangat tidak senang.
"Itu sih
salahmu sendiri."
"Aku
jadi terlambat ikut klub…… benar-benar yang terburuk……"
Aku
berjalan menyusuri koridor berdampingan dengan Miori yang terus mengomel.
Telepon itu adalah percakapan terakhir kami. Karena kelas kami berbeda, kami
tidak punya kesempatan untuk bertemu, dan karena kami bukan lagi mitra, tidak
ada alasan untuk menelepon. Itulah mengapa suasananya terasa agak canggung.
"……"
"……"
Karena
tidak tahan dengan kesunyian ini, aku mencari topik pembicaraan.
"Bagaimana
kabarmu dengan Reita?"
"……Maksudnya
bagaimana? Apa
terlihat seperti kami sedang bertengkar?"
"Bukan
begitu. Kemarin aku melihat kalian di stasiun saat pulang, kalian terlihat
baik-baik saja."
Miori
bertanya dengan wajah terkejut, "……Kamu melihat kami?"
"Kebetulan,
aku baru pulang kerja."
"……Oh,
begitu. Padahal sapa saja tidak apa-apa."
"Tidak,
tidak, aku tidak mungkin mengganggu kalian berdua saja."
"Kamu
peduli dengan hal seperti itu, ya. Padahal kamu, kamu bisa juga membaca suasana."
"Berisik.
Aku juga mengerti hal seperti itu."
Percakapan
biasa. Namun, entah mengapa jarak antara aku dan Miori yang berjalan di
sampingku terasa begitu jauh. Mungkin masalah nada bicara, ekspresi, atau
suasananya. Tidak ada lagi rasa kedekatan seperti biasanya.
Meskipun
begitu, dia juga tidak terkesan ingin mengusirku, tapi Miori sendiri tampak
sedang kesulitan.
"……"
"……"
Kami,
yang bukan lagi mitra, benar-benar kehilangan rasa untuk menentukan jarak yang
tepat.
"……Lalu,
bagaimana denganmu sendiri?"
"Maksudnya,
apa?"
"Apakah
kamu dan Hikari-chan baik-baik saja?"
"Yah…… lumayan? Mungkin, barangkali, sepertinya……"
"Kenapa kamu tidak yakin begitu?"
Itu karena ada kemungkinan bahwa aku saja yang merasa
begitu…….
"Lagipula,
kami baru pacaran seminggu. Baru kencan sekali saja."
"Aku pun
begitu. Kalau ditanya bagaimana…… aku juga bingung."
Aku
menatap lekat-lekat Miori yang bergumam dengan nada merajuk. Miori, yang biasanya menjadi mitra yang
bisa diandalkan, kali ini tampak kecil untuk pertama kalinya.
"……Apa?"
Miori merasa
risih dengan tatapanku dan bergerak gelisah dengan wajah kesal.
"Ngomong-ngomong, bukankah Reita adalah pacar
pertamamu?"
"……Iya. Kenapa? Ada keberatan?"
Miori merespons pertanyaanku dengan nada bicara yang tidak
senang.
Aku pikir dia
punya banyak pengalaman cinta, ternyata salah ya. Memang benar, meski saat SMP dia sangat
populer, aku tidak pernah mendengar rumor dia punya pacar.
Padahal
dia selalu bersikap seolah-olah mengerti soal laki-laki, apa itu cuma sikap
pura-puranya saja?
Miori memang
punya sisi seperti itu. Dia suka menjaga gengsi dan menanggung semuanya sendiri
hingga kesulitan.
"Berarti
posisi kita sama ya."
"……Aku tidak
suka cara bicaramu. Jangan samakan aku denganmu."
Miori sedikit
merona, mungkin karena malu. Dia manis sekali, anak ini…….
"Tapi, kamu
sudah paham, kan?"
"……Apa?"
"Alasan
kenapa aku bilang ingin mengakhiri kerja sama kita."
Miori terdiam
sejenak sebelum mengucapkan kata-kata itu. Apakah dia mau membahas itu?
"Karena aku
sendiri belum pernah pacaran dengan laki-laki, jadi aku tidak punya saran apa
pun untukmu. Kalau soal cara mendekati seseorang, aku mungkin bisa memberi
saran dari pengalamanku."
"……Apa itu
alasannya?"
Memang benar,
dalam kerja sama yang dijalin dengan Miori, keuntungan yang ditawarkan kepadaku
adalah 'bisa mendapatkan saran dalam menjalankan Rencana Masa Muda Penuh
Warna'.
Kalau soal cara
berhubungan baik dengan teman atau cara mendapatkan pacar, Miori pasti
memberikan saran dengan percaya diri berdasarkan pengalaman masa lalunya.
Tapi, masalah
setelah punya pacar, Miori tidak punya pengalaman jadi tidak bisa memberi
saran.
Dan keuntungan
yang kutawarkan kepada Miori, 'bekerja sama sampai pacaran dengan Reita', sudah
musnah dengan tercapainya tujuan tersebut.
Bagaimanapun aku
memikirkannya, memang tidak ada alasan lagi untuk menjadi mitra.
Aku mengerti
logikanya. Meskipun mengerti, entah kenapa aku masih memikirkannya.
"Kalau kamu
mencari orang untuk diandalkan soal kelanjutannya, ada orang yang lebih tepat
daripada aku. Lagipula, dengan kondisimu sekarang, aku rasa kamu bisa
menghadapinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain."
"Bukankah
itu terlalu melebih-lebihkan diriku?"
Padahal
aku mengira hanya dia yang tidak melebih-lebihkan diriku. Perasaanku jadi
sedikit tidak enak.
Aku tidak
ingin melepaskan Miori yang berusaha menjauhiku.
"……Meskipun
bukan sebagai mitra, tidak apa-apa kalau kamu hanya mendengarkan ceritaku saja.
Sebagai teman dengan posisi yang sama, yang sama-sama baru pacaran selama satu
minggu. Kalau sekadar konsultasi, itu hal yang wajar, kan?"
Saat aku berkata
begitu, Miori terdiam.
Entah bagaimana,
ada rasa tidak nyaman. Aku merasa penjelasan Miori hanyalah sebagian kecil dari
alasannya, tapi aku merasa dia tidak menceritakan semuanya. Miori mungkin
menyembunyikan sesuatu.
"……Kalau
kamu terlalu akrab denganku, Hikari-chan akan cemburu, lho."
"……Yah, itu
memang kenyataannya."
Aku teringat
reaksi Hikari saat aku menyebut nama Miori dalam igauanku. Saat itu dia hanya
bercanda, tapi dia pasti tidak sepenuhnya tidak peduli.
"Kan? Aku
pun akan kesulitan kalau Reita-kun mengira aku terlalu akrab denganmu."
Miori menghela
napas lega.
"Saat
liburan musim panas, kamu juga bilang, kan. Sebaiknya jangan terlalu sering
main ke rumah. Kalau kita berdua sudah punya pacar, apalagi begitu. Ini saatnya
kita memikirkan jarak antar kita."
Tidak ada ruang
untuk membantah kata-kata Miori. Namun, saat aku sedang mencari kata-kata, kami
tiba di kelas tujuan.
Wajah-wajah yang
tidak kukenal, seperti murid kelas dua atau tiga, ada di sana. Ternyata sekitar
separuhnya sudah berkumpul. Aku mencari teman kelas satu yang lain…… dan entah
mengapa, Naru sedang melambai ke arahku.
Saat aku mendekat
bersama Miori, Naru berkata dengan wajah yang hampir menangis.
"U-untunglah…… ada Natsuki. Aku takut sekali karena tidak ada satu pun orang
yang kukenal di sini."
"Apa Naru
juga dipaksa jadi anggota komite?"
"Dipaksa,
tidak juga…… aku hanya merasakan suasana di sekitarku."
"Ahaha,"
Naru tertawa dengan wajah kosong dan tatapan hampa. Ini sih pasti dipaksa…….
"Itu
anak yang berada di band yang sama denganmu, ya."
"Iya. Namanya Shinohara Naru. Tolong berteman baik
dengannya."
Naru
melihat interaksiku dengan Miori dengan ekspresi yang entah mengapa terlihat
heran.
"Aku Honmiya
Miori. Kita sama-sama komite pelaksana, salam kenal."
Miori tersenyum
segar, seolah rasa kesal tadi hanyalah kebohongan.
"I-iya!
Salam kenal!"
Naru
membungkukkan badan berkali-kali dengan perasaan gugup. Miori hanya tersenyum
dengan wajah yang tampak kesulitan menanggapinya, "Ahaha……"
"Siapa satu
orang lagi?"
"Seharusnya
ada anggota komite dari Kelas 3."
Karena Miori dari
Kelas 1-1, aku dari Kelas 1-2, dan Naru dari Kelas 1-4, seharusnya ada satu
orang lagi dari Kelas 3. Karena struktur sekolah kami terdiri dari empat kelas
per angkatan.
"……Itu."
Saat kami bertiga
sedang mengobrol, seseorang memanggil dari belakang. Saat aku menoleh, seorang
gadis yang tampak gugup berdiri di sana.
Dia mengikat
rambut hitamnya ke depan dan memakai kacamata berbingkai biru. Dengan dada yang
cukup berisi, dia memeluk buku di kedua tangannya.
Sekilas dia
terlihat polos, tapi jika diperhatikan, wajahnya cantik dan manis.
Sepertinya aku
pernah melihatnya, atau tidak……? Apakah dia murid kelas satu?
"Aku dari
Kelas 1-3…… Funayama Shizuku."
Nada bicaranya yang terbata-bata bukan karena gugup,
melainkan karena dia tidak terbiasa berbicara.
Dia cenderung menunduk, dan sesekali saat mataku bertemu
dengannya, dia langsung memalingkan wajah.
Meskipun
kami tidak terlalu akrab, aku ingat orang-orang penting di Kelas 3…… tapi dia
tidak ada dalam ingatanku di kehidupan pertama. Mungkin dia orang yang pendiam.
"Aku Haibara
Natsuki dari Kelas 2. Salam kenal."
Aku mencoba
membangun suasana yang ramah dan menyapa dengan senyuman.
"A-ah, iya…… salam kenal."
Funayama-san
menunduk sedikit sebagai balasannya.
Mungkin dia tidak
terlalu mahir berkomunikasi, tetapi berbeda dengan Naru, gerak-geriknya terasa
tenang. Jika harus dinilai, mungkin kata "anggun" dan
"sopan" adalah gambaran yang tepat untuk perilakunya.
"Aku Honmiya
Miori dari kelas 1-1. Mumpung kita sama-sama di komite, mari berteman baik
ya?"
Miori
menyapa dengan nada ceria sambil tersenyum.
"……Tentu
saja, aku tahu kalian berdua. Kalian kan terkenal."
"Eh,
benarkah? Aku juga?"
"Kalau dia
sih aku tahu karena sempat bikin heboh saat festival budaya."
"Bisa tolong
jangan pakai kata 'bikin heboh'?"
"Padahal
Serika bilang itu ungkapan yang membanggakan bagi sebuah band rock."
"Tolong
jangan samakan sensibilitas Serika dengan orang normal."
"Padahal
laki-laki, tapi kamu peduli sekali dengan hal detail. Makanya tidak laku…… ah,
kamu sudah laku ya sekarang."
"Malah membalikkan pernyataan di saat seperti ini
membuatku jadi bingung harus bereaksi bagaimana……."
Saat aku dan Miori sedang bercanda, entah mengapa
Funayama-san dan Naru saling berpandangan.
"Kelihatannya
kalian akrab sekali……."
"Inilah
wujud nyata laki-laki dan perempuan kelas atas (populer)……."
Jangan-jangan
mereka berdua saling kenal?
Saat aku berpikir
begitu, Naru memberikan jawaban atas keraguanku.
"K-kami
sudah pernah bicara beberapa kali…… ya kan……?"
"Tentu saja,
aku tidak melupakannya. Shinohara-kun."
Funayama-san
tersenyum manis ke arah Naru. Ternyata hubungan mereka cukup akrab. Setidaknya,
suasana tegang yang kurasakan dari Funayama-san saat berhadapan denganku dan
Miori tidak terasa sama sekali.
Walaupun begitu,
Naru sendiri tampak cemas apakah dia diingat atau tidak.
Ya, Naru
memang percaya diri dengan betapa "kurang terlihat" dirinya.
"Sudah
berkumpul semua, kan? Kalau begitu, ayo kita rapat cepat supaya bisa segera
pulang."
Seseorang
yang bertepuk tangan pelan untuk menarik perhatian adalah siswa laki-laki kelas
tiga.
"Untuk
sekarang, mari kita atur mejanya agar membentuk lingkaran rapat."
Kami
menghentikan obrolan dan menata meja sesuai instruksi. Setelah para anggota
komite duduk dan suasana menjadi tenang, siswa kelas tiga itu mulai bicara
lagi.
"Kalian
pasti punya kegiatan lain seperti tempat les atau klub, jadi ayo kita lakukan
dengan efisien. Kita harus memilih ketua komite untuk memimpin rapat ini,
apakah boleh kalau aku yang melakukannya? Bagaimana?"
Wajahnya rupawan.
Ekspresi dan gerak-geriknya penuh percaya diri.
Suaranya lantang
dan jelas. Dia memiliki kharisma yang secara alami membuat orang lain patuh
saat bertanya dengan ramah. ——Aku tahu orang ini.
Dia adalah kakak
kelas kelas tiga, Yanagishita Yugo.
Dia adalah ace
sekaligus mantan kapten klub basket yang baru saja pensiun.
"Dasar tidak
sabaran seperti biasanya," begitu sindiran dari sesama kelas tiga, tapi
melihat tidak ada yang menyanggah, Kak Yanagishita segera melanjutkan
pembicaraan.
"Baiklah,
aku Yanagishita Yugo yang terpilih menjadi ketua komite kompetisi olahraga. Aku
tidak suka hal yang merepotkan, tapi karena sudah dipercayakan, aku akan
melakukannya dengan benar."
"Ya, kurasa
pekerjaannya tidak akan terlalu berat."
Sambil bicara,
dia memberi isyarat mata pada siswi yang duduk di sampingnya. Siswi itu pun
mulai membagikan dokumen yang sudah disiapkan di dekatnya.
Benar-benar
sigap. Tidak ada bedanya dengan ingatan di garis waktu pertamaku.
"Tujuan
rapat ini adalah untuk memastikan aturan setiap cabang dan teknis pertandingan.
Kalian mungkin merasa sudah paham aturannya, tapi kompetisi olahraga ini
disederhanakan agar berjalan lancar dan durasinya dipersingkat."
"Contohnya
untuk basket, pertandingan akan berlangsung selama sepuluh menit babak pertama
dan sepuluh menit babak kedua. Tugas kalian sebagai komite adalah menjelaskan
aturan kompetisi ini ke kelas kalian masing-masing dengan benar."
Dia
menjelaskan dengan tenang namun tanpa informasi yang sia-sia.
Ini
sangat berbeda dengan caraku memandu rapat yang terbata-bata tadi. Inilah kemampuan orang yang ditakdirkan
untuk menjadi pemimpin di mana pun dia berada.
Dulu di klub
basket pun dia selalu seperti ini, penganut prinsip efisiensi yang membenci
pemborosan.
"Di
dokumen yang ada di tangan kalian, aku sudah merangkum aturan untuk setiap
cabang. Kalian bebas untuk menjelaskan atau membagikan dokumen itu, silakan
saja. Selain itu, poin-poin yang sering disalahpahami sudah kutandai dengan
warna merah."
Aku
membalik dokumen yang juga diberikan kepadaku.
Ini
sangat mudah dipahami. Tinggal memfotokopi dokumen ini dan membagikannya ke
kelas, masalah selesai.
"Sepertinya
aturan sudah cukup sampai di sini. Jika tidak ada pertanyaan, kita lanjut ke
agenda berikutnya——"
Rapat
hari itu berakhir dalam waktu sekitar tiga puluh menit.
Berkat cara Kak
Yanagishita yang efisien, isinya terasa sangat padat meski hanya tiga puluh
menit.
"Ketua
komite yang terpilih itu, entah bagaimana…… orangnya hebat ya."
"Maksudmu
Kak Yanagishita? Dia
memang sangat kompeten. Basketnya juga jago."
Bukan hanya itu,
dia juga pintar. Seingatku dia adalah lulusan terbaik di angkatannya.
Aku menambahkan
dalam hati, tapi karena aneh jika aku tahu soal itu, aku tetap diam.
Sebagai
gantinya, aku memberikan komentar yang aman.
"Berkat
Kak Yanagishita, rapat berjalan lancar tanpa aku harus bicara banyak, itu
sangat membantu."
Kami
murid kelas satu hanya sesekali dimintai pendapat, dan hampir tidak terlibat
dalam pengambilan keputusan.
Yah, aku
tidak keberatan karena memang tidak ingin terlibat, dan Kak Yanagishita pasti
paham soal itu. Jika ada orang kompeten yang bersemangat, dia lebih suka
menyerahkan semuanya kepada mereka.
Biasanya
rapat komite diadakan sekitar lima kali sebelum kompetisi, tapi karena prinsip
Kak Yanagishita, "daripada berkumpul berkali-kali yang merepotkan, lebih
baik segera putuskan saja," isi rapat dipadatkan dalam satu pertemuan. Dengan kecepatan seperti ini, dua kali
rapat lagi sudah cukup.
Yang memakan
waktu hanyalah pengaturan jadwal di hari-H dan teknisnya. Lalu, rincian sistem
poin untuk menentukan peringkat antar kelas. Sepertinya itu tradisi yang
berubah sedikit setiap tahunnya.
Mungkin di rapat
berikutnya, Kak Yanagishita sudah menyiapkan konsepnya.
"Kalian ikut
cabang apa untuk kompetisi nanti?"
Kami keluar ke
koridor dan empat anggota komite kelas satu mulai berjalan bersama.
Karena kami semua
akan kembali ke kelas masing-masing, arah jalan kami sama.
Aku memutuskan
untuk menjawab pertanyaan Miori terlebih dahulu.
"Basket.
Kamu sendiri?"
"Aku
sepak bola. Sebenarnya aku
ingin basket, tapi karena kelas kita kebagian sepak bola putri."
Setelah
bicara begitu, Miori menyilangkan lengannya dengan bangga.
"Yah,
tidak masalah sih karena Kak Reita sudah berjanji akan mengajariku."
"Kalian iri,
kan?"
Miori seolah
ingin mengatakan itu, tapi aku tidak merasa iri. Reita adalah tipe jenius, jadi
dia pasti buruk dalam mengajar. Yah, karena ini masalah belajar, aku tidak tahu
apakah sama saja dengan sepak bola atau tidak.
……Oh,
tunggu. Aku dan Miori tidak boleh terlalu sering mengobrol berdua.
"Bagaimana
dengan Naru?"
"……Aku
juga, entah bagaimana berakhir di basket……."
Naru
tiba-tiba memancarkan aura yang suram.
"Pokoknya
aku harus berusaha agar tidak jadi beban…… aku bisa mati dikeroyok orang-orang
populer……."
Melihat
perilakunya, sepertinya dia tidak pandai berolahraga. Dia benar-benar terlihat
tidak ingin melakukannya.
"Eh!?
Ngomong-ngomong, Natsuki jago basket, kan!? Tolong ajari aku!"
"Yah,
tidak masalah sih…… tapi apa kamu benar-benar mau latihan?"
Biasanya hanya segelintir orang yang mau melakukan latihan
mandiri untuk kompetisi sekolah.
Yah, aku sendiri berencana menjadi salah satu orang itu.
"Kalau
tidak latihan sedikit, aku benar-benar tidak akan berguna……."
Naru
menghela napas panjang.
Funayama-san
yang berjalan di sampingnya menatap Naru lekat-lekat.
"……A-ada apa?"
"Ah, tidak…… maafkan aku."
Naru tersentak
karena menyadari tatapan itu, sementara Funayama-san memalingkan wajah dan
menunduk.
Sambil berpikir
interaksi itu aneh, aku mencoba membuka topik untuk Funayama-san juga.
"Bagaimana
dengan Funayama-san?"
"……Aku
rencananya ikut voli. Soalnya aku pernah melakukannya sedikit."
"Begitu ya?
Waktu SMP atau kapan?"
"……Iya. Tapi
aku berhenti setelah setengah tahun."
Hmm, topiknya
sulit dikembangkan. Aku punya keinginan untuk menghidupkan suasana, tapi aku
tidak tahu apakah Funayama-san ingin terus mengobrol denganku. Nada bicaranya
yang datar membuatku kesulitan.
"Ngomong-ngomong,
benda yang kamu peluk terus itu apa?"
Miori bertanya
sambil melirik ke arah dada Funayama-san.
"……Ini
adalah rangkuman dataku sendiri tentang kompetisi olahraga tahun-tahun
sebelumnya. Karena aku dipercaya jadi komite, aku berpikir setidaknya harus
belajar sedikit……."
"Wah, hebat
sekali. Kamu rajin ya."
Miori berkata
dengan nada kagum, tapi Funayama-san menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"……Berbeda
dengan orang lain, aku tidak cekatan, jadi kalau tidak melakukan sejauh ini,
aku tidak akan bisa."
Hmm, itu
benar-benar kata-kata orang yang rajin…….
"Aku sih
karena malas, jadi cuma bisa berpikir kapan acara ini cepat berakhir."
"Yah,
kamu memang begitu sih."
"Apa
maksudmu? Kamu sendiri saat rapat tadi sempat ketiduran, kan."
"Hah? Aku
hanya memejamkan mata sebentar! Tolong jangan memfitnahku."
Sambil bicara
begitu, tanpa sadar posisi kami terbagi menjadi dua bagian.
Bagian depan ada
aku dan Miori, sementara bagian belakang ada Naru dan Funayama-san. Yah, karena
aku dan Miori terus mengobrol, jadinya alami seperti itu……. Maaf ya. Aku jadi
penasaran dengan kondisi Naru dan Funayama-san.
"……"
"……"
Suasananya terasa
sangat canggung.
Naru yang
terlihat gelisah seolah mengirimkan tatapan "tolong aku!" ke arahku.
Memangnya aku
bisa berbuat apa?
Aku memutuskan
untuk pura-pura tidak sadar.
Saat aku
berbalik ke depan, Miori bertanya, "Kamu dengar tidak?" jadi aku
mengangguk.
"——Jadi
aku bilang begitu. Bahwa hubungan kami cuma teman masa kecil dan tidak ada
apa-apa. Terus dia malah marah, padahal kami tidak sedekat itu. Lucu, kan? Lagipula, bukankah kamu sudah punya
Hikari-chan? Kalau dia menyerangku, apa artinya——"
Orang ini,
padahal tadi suasananya canggung, tapi begitu mulai bicara dia jadi tidak bisa
berhenti……. Walaupun aku berpikir begitu, karena dia terlihat senang bercerita,
aku jadi tidak tega untuk menyela. Mau bagaimana lagi, aku memutuskan untuk
menanggapi sekadarnya saja.
"……Um,
Shinohara-kun."
Sementara itu,
ada perkembangan di percakapan bagian belakang. Funayama-san mulai mengajak
Naru bicara.
"……Aku
menonton konser kalian saat festival budaya."
"Eh!? A-ah,
itu, terima kasih banyak."
"……Shinohara-kun
memegang bass, kan? Meskipun aku tidak terlalu paham soal alat musik."
"I-iya!
Betul sekali! Itu alat musik yang bunyinya ben-ben!"
Naru
mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat.
Tidak
bisakah dia mengobrol dengan lebih tenang sedikit?
"Emm,
itu……."
Funayama-san
sendiri sibuk mengalihkan pandangannya, seolah sedang mencari kata-kata.
Aku mengira dia
ingin melanjutkan percakapan, tapi ternyata aku salah.
"Keren…… sekali. Aku, mendukungmu."
Wajah Funayama-san memerah padam saat mengatakannya.
Mungkin karena saking terkejutnya, Naru sampai mematung
dengan mata terbelalak.
"……Sama denganku, kukira Shinohara-kun adalah tipe yang
pendiam. Melihatmu bekerja keras di tempat yang begitu mencolok, aku sungguh
merasa, kamu keren sekali……."
Funayama-san terus bicara dengan nada terbata-bata sementara
wajahnya tetap merah padam.
"E-emm, itu,
eh, terima kasih banyak……?"
"……T-tidak.
Itu, hanya perasaanku saja…… maafkan aku……."
……Tunggu,
apa-apaan ini?
Sebenarnya
apa yang sedang kudengar ini……?
Saat
melihat Miori di sampingku, dia hanya mengangkat bahu.
Saat
melirik ke belakang, mereka berdua berjalan dalam diam dengan wajah merah
padam.
Suasana
macam apa ini……? Situasinya jadi sulit sekali karena tidak sesuai dengan apa
yang kubayangkan.
Rasanya seperti
aku baru saja menyaksikan adegan pembuka dari sebuah manga romansa.
*
Begitu kembali ke
kelas, aku dipanggil oleh Naru lewat aplikasi LINE.
Entah kenapa aku
sudah merasa akan begini. Pasti sembilan puluh persen soal kejadian tadi.
Aku menuju ruang
musik kedua dan membuka pintu, lalu mendapati Naru sedang mondar-mandir di
dalam ruangan. Begitu menyadari kehadiranku, Naru berlari ke arahku dengan
panik.
Hei, jangan
bergelayut padaku!
"A-apa yang
terjadi tadi itu!?"
"Bukan
urusanku kalau kamu bertanya begitu kepadaku……."
Justru aku yang ingin bertanya…… sebenarnya apa tadi itu?
"Jangan-jangan,
dia salah mengira aku adalah kamu……?"
"Mana
mungkin. Sudah lupa kalau dia bicara soal bass tadi?"
"B-benar
juga, ya!? Berarti memang dia bilang aku keren, kan!?"
Naru
merasa kebingungan sendiri, "Tidak mungkin……." Dia terlalu tidak
percaya diri…….
"Bagus
dong kalau dipuji. Berarti ada gunanya tampil di festival budaya."
"B-benar
juga. Hehehe…… aku jarang dipuji orang lain, jadi aku senang……."
Naru tersenyum malu-malu dengan wajah yang sangat santai.
Meski terlihat agak menjijikkan, aku masih cukup baik untuk
tidak mengatakannya secara langsung.
"Tapi
kelihatannya dia memang menaruh perhatian padamu."
Wajahnya merah
padam, dia memujimu habis-habisan, bukankah aneh kalau itu bukan perasaan suka?
"M-mana mungkin…… tapi jujur, aku berharap
begitu……."
Naru
bicara sambil tersenyum malu-malu.
Karena sudah
sampai di ruang musik, sebaiknya kita latihan. Sambil mengeluarkan gitar dan menyetemnya, aku
bertanya.
"Bagaimana
menurutmu sendiri? Tentang dia."
"Aku
pernah bicara sedikit dengannya di perpustakaan. Sejak dulu, aku sudah berpikir dia manis……."
Sepertinya Naru
sendiri pun tidak keberatan.
"Kalau
begitu, coba saja tembak (dekati)? Dengan kondisi tadi, kelihatannya bisa berhasil."
"B-benarkah……
tapi, orang seperti aku apakah sepadan dengannya……?"
"Anak ini,
merepotkan sekali……."
"Eh!? Itu
barusan kedengaran lho!?"
"Yah, kalau
merasa tidak sepadan, pembicaraannya berakhir sampai di sini saja."
Saat aku
bicara begitu sambil memetik gitar, Naru memeluk kakiku.
"M-meskipun
begitu, aku ingin melakukan sesuatu! Ini kesempatan emas, lagipula jujur saja
aku sudah lama menyukainya! Tolong…… pinjamkan tanganmu,
Natsuki……!"
Aku sudah tahu,
tapi katakan dari awal dong!
"Aku
tidak bisa memberi saran yang hebat, lho."
Lagipula
aku sendiri hampir tidak punya pengalaman asmara. Tidak berlebihan jika bilang
aku tidak tahu apa-apa.
"Apa
yang kamu katakan? Kamu kan sedang berpacaran dengan Hoshimiya-san yang populer
itu. Tidak perlu merendah begitu, tidak apa-apa. Melihatnya saja, orang tahu
Natsuki punya banyak pengalaman asmara."
Naru
menepuk bahuku seolah berkata "Ah, sudahlah." Apa itu tidak
menjengkelkan?
Padahal
dia merasa tahu segala tentangku, tapi dia malah salah paham secara total…….
"Hikari
adalah pacar pertamaku."
"Kalaupun
begitu, kemampuan Natsuki-lah yang berhasil memikat idola sekolah, kan? Tolong
ajarkan padaku juga. Yah, kalau dibilang wajah kita beda, memang iya
sih……."
Melihat
Naru yang terus mendesak, aku tertawa pahit, "Baiklah, aku mengerti."
Jika Naru
yang pemalu sampai bicara sejauh ini, berarti dia memang sungguh-sungguh.
Matanya berteriak
bahwa dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini.
"Kalau
sekadar membantu, tidak masalah."
"Yes! Terima
kasih banyak!"
Naru berteriak
kegirangan dengan reaksi yang berlebihan.
Karena Naru mirip
dengan diriku yang dulu, aku jadi tidak bisa menolak untuk membantunya.
Walaupun dengan
kondisi tadi, bisa jadi tangan bantuanku sebenarnya tidak dibutuhkan.
"J-jadi, apa
yang harus aku lakukan pertama kali!?"
Naru bertanya
dengan antusias. Kenapa dia berharap terlalu banyak padaku?
"……Untuk
sementara, tunggu saja sampai rapat berikutnya, bukan? Kalau terlalu agresif,
malah bisa membuat dia takut. Lagipula, kamu bahkan belum tahu
kontak-kontakannya, kan?"
"Ah, tidak……
setelah berpisah dengan kalian tadi, dia meminta bertukar kontak……."
Bukan main, itu
sih sudah jelas dia punya perasaan, kan……?
"Kalau
begitu, tunggu saja dia menghubungimu. Sepertinya dia yang akan mendekat
duluan."
"B-benarkah?
Aku mengerti!"
Naru
mengangguk dengan lega. Meskipun dia sudah bertekad untuk memohon bantuan
padaku, ternyata dia tetap merasa gugup saat harus mendekati gadis sendiri. Aku mengerti perasaannya.
"Jangan
terlalu percaya dengan perkataanku, ya?"
"Tidak
apa-apa!"
Aku tidak tahu
apa yang "tidak apa-apa", tapi sudah percuma bicara dengannya.
Aku ingin dia
berhenti melebih-lebihkanku. Aku hanya bisa bicara hal-hal yang wajar.
Yah, setidaknya
bisa bicara hal yang wajar saja sudah cukup untuk menyelesaikan masalahnya.
*
Saat asyik
memainkan gitar di ruang musik kedua, waktu berlalu cukup lama.
Di luar sudah
gelap sekali.
Sudah waktunya
pulang, aku terlalu asyik tadi.
Naru sendiri
sudah pulang karena ada kerja paruh waktu. Aku sendirian di sini.
Saat akan pulang,
langkah kakiku menuju ke arah gedung olahraga. Saat mengintip dari lantai dua,
sepertinya latihan semua klub sudah selesai. Yah, karena sudah waktunya. Namun,
masih ada orang yang tertinggal.
Di salah satu
dari tiga lapangan, sisi yang dekat dengan gedung sekolah, siswi klub basket
putri sedang melakukan latihan mandiri.
"Empat puluh
enam……!"
Tidak mungkin
salah lagi. Dia adalah Sakura Uta.
Dia menyiapkan
keranjang penuh bola di sisinya dan terus-menerus menembakkan bola.
"Empat puluh
tujuh……!"
Dia terus
menembak dari luar garis tiga angka, dan begitu bolanya habis, dia pergi
mengambil bola-bola yang berserakan. Dia terus mengulangi hal itu tiada henti.
Yang
dihitungnya hanyalah tembakan yang masuk.
Meskipun
akurasinya belum bisa dibilang bagus, konsentrasinya memiliki aura yang
mengerikan.
Aku tidak
bisa mengalihkan pandangan. Saat aku terus memperhatikan, siswi yang latihan
mandiri itu hanya tinggal Uta seorang.
Di dalam
gedung olahraga yang sepi, hanya terdengar tiga jenis suara yang bergema secara
berkala: suara bola memantul di lantai, suara bola mengguncang ring, dan suara
bola menembus jaring. Terus-menerus menggema.
"……Apa
kamu merasa khawatir?"
Seseorang
menegurku dari belakang, aku pun berbalik.
Yang
datang mendekat sambil menyeka lehernya dengan handuk adalah Miori dengan
pakaian latihan.
"Tidak, aku
hanya merasa penasaran saat akan pulang……."
"Uta memang
selalu seperti itu. Sejak dia ditolak olehmu, selalu begitu."
Aku sudah sadar
sejak lama. Namun, saat diingatkan kembali, wajahku refleks meringis.
"Tapi, tidak
perlu terlalu dipikirkan. Menurutku itu bukan perubahan yang buruk."
"……Benarkah?"
"Ya. Dia
berusaha sangat keras, tapi bukan berarti dia memaksakan diri. Kalau dia sudah
mulai memaksakan diri, aku pasti akan menghentikannya. Karena dia tidak bisa
mengejar cinta, dia hanya fokus ke klub, jadi menurutku tidak masalah."
Miori
menatap kondisi Uta dan bergumam seperti itu.
Aku
sempat khawatir, tapi pendapat Miori, yang selalu bersama Uta di klub, pastilah
lebih akurat.
"Sebenarnya,
dengan kondisi Uta sekarang, dia mungkin bisa masuk tim utama. Ini saatnya dia
unjuk gigi."
"Benarkah?"
"Iya. Karena
Kak Miyata kelas dua di posisi yang sama sedang absen akibat cedera. Uta, meski
tubuhnya pendek jadi kelemahan, kemampuannya sudah cukup. Sisanya tinggal
memperluas pandangannya…… tapi yah, itu bukan sesuatu yang bisa tumbuh dengan
cepat sih……."
Miori bercerita
dengan tenang.
"Itu
sebabnya, dia mencoba menciptakan senjata yang mudah terlihat."
"……Tembakan
tiga angka, ya."
Di depan mata
kami, Uta terus melanjutkan latihan tembakan tiga angka tanpa henti.
"Omong-omong,
apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku? Aku
tadi di ruang latihan (training room)."
Ah, jadi dia
latihan otot. Pantas
saja dia berkeringat deras.
"Kalau
kamu sendiri? Latihan gitar?"
"……Yah,
begitu. Meski band sedang vakum, latihan mandiri harus tetap jalan."
"Rajin
juga ya. Kalau tidak sampai begitu, tidak akan bisa menampilkan permainan
seperti tadi."
Miori
berkata begitu lalu kembali masuk ke gedung olahraga.
……Dia juga penuh
semangat. Melihat punggungnya saja, aku bisa mengerti.
Entah kenapa aku
merasa senang sekali. Karena punggung yang bisa diandalkan itu tampak tumpang
tindih dengan masa lalu.
"Ah,
benar."
Seolah
baru teringat, Miori berbalik dengan sigap.
"Aku
mendapat konsultasi dari Funayama-san. Kamu tahu kan, yang komite itu?"
"……Ah,
jangan-jangan."
Pada saat
itu, aku sudah menebak isinya.
"Sepertinya
dia tertarik dengan Shinohara-kun. Karena mumpung satu komite, dia ingin akrab
dengannya…… meskipun dia datang padaku, aku tidak bisa berbuat apa-apa
sih……."
Miori sendiri
tampak kesulitan, kami berdua tertawa pahit.
"Entah
kenapa, dia salah paham. Karena aku pacaran dengan Reita, dia pikir aku sangat
ahli soal cinta, atau apa ya? Ahli asmara?"
Miori tertawa
dengan wajah bingung.
Yah, karena Reita
adalah orang paling populer di angkatan ini…….
Pemikiran bahwa
Miori yang berpacaran dengan Reita adalah ahli asmara sangat masuk akal.
Artinya, itu
alasan yang sama dengan Naru yang salah paham karena aku berpacaran dengan
Hikari.
"Aku juga
mendapat konsultasi dari Naru. Dia bilang sudah lama tertarik dengan
Funayama-san. Minta aku kerja sama untuk mendekatinya. Yah, padahal aku juga
tidak tahu harus berbuat apa……."
"……Eh? Kamu
juga? Berarti sekarang tidak perlu melakukan apa-apa lagi, kan?"
Miori
berkedip-kedip, lalu bergumam dengan terkejut.
"Yah, dengan
ini hampir dipastikan keduanya saling suka, kan……."
"Wah, kalau
begitu tinggal sorak-sorai saja, masalah selesai. Rasanya jadi lega
sekali~."
Miori menghela
napas lega. Dia memang punya sifat perhatian yang merepotkan. Meskipun dengan
orang yang tidak terlalu akrab, jika diminta konsultasi, dia akan memikirkannya
dengan sepenuh hati.
Karena
kepribadian seperti itulah, dia selalu memedulikanku, dan saat hubungan
berakhir, dia berusaha menyelesaikannya dengan rapi.
"Benar juga.
Tinggal masalah waktu saja."
Fakta bahwa
Funayama-san dipastikan menyukai Naru adalah poin besar.
Aku tidak terlalu
paham soal cinta, tapi ini pasti akan berjalan lancar.
Ya, ini sudah
menang mutlak. Lebih baik cepat pulang dan berendam di air hangat.
"Kalau
begitu, aku harus menyuruh Uta berhenti dan pulang."
"……Ya sudah,
aku pulang duluan ya."
"……Iya.
Menurutku itu yang terbaik."
Jika aku tetap
tinggal di sini, rasanya hanya akan canggung saja.
"Sampai
jumpa lagi."
Setelah melepas
punggung Miori yang melambaikan tangan, aku melangkah pulang.



Post a Comment