NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 6 afterword + Bonus Story

Kata Penutup


Akhirnya periode cerita di dalam novel sesuai dengan waktu rilis di dunia nyata.

Begitulah, lama tak jumpa. Aku Amamiya Kazuki.

Volume kali ini adalah cerita Motomiya Miori. Sejujurnya, aku belum menentukan arah penggambaran karakternya sejak awal, tapi setelah menulis volume empat, arahnya sudah jelas.

Bagaimana dengan volume enam yang menggambarkan penyesalan dan cinta?

Seorang pemuda yang ingin mengulang masa lalu yang kelabu, dan seorang gadis yang ingin kembali ke masa lalu yang berwarna pelangi. Keinginan mereka terlihat mirip, tapi sebenarnya berbeda.

Selain itu, ada perbedaan suhu yang tak terjembatani antara Miori yang hidup di masa kini yang terhubung dengan masa lalu, dan Natsuki yang melompat waktu dari masa depan. Meski Natsuki juga menganggap kenangan masa kecilnya bersama Miori berwarna pelangi, dia tidak mengingatnya secara detail.

Yang mendorong Natsuki adalah penyesalan masa lalu.

Ketika aku mengusulkan "Sampul dengan hujan dan Miori pasti paling keren!", lahirlah sampul yang luar biasa (mengerikan). Miori basah kuyup oleh hujan… sungguh indah… luar biasa…

Kali ini aku diberi tiga halaman untuk kata penutup. Sejujurnya, aku sudah mulai kehabisan topik, jadi boleh aku ceritakan sedikit kabar terkini.

Aku memang selalu berpikir ingin hidup dengan membuat cerita. Aku punya pekerjaan utama yang sama sekali tidak berhubungan dengan menulis, dan menjalani hari sebagai penulis sambilan. Artinya, delapan puluh persen waktuku diambil oleh pekerjaan utama. Padahal banyak cerita yang ingin aku tulis, tapi waktu selalu kurang. Belum lagi aku ingin main game, baca komik, baca novel, dan nonton anime… pokoknya waktu tidak pernah cukup.

Akhir-akhir ini, aku merasa agak takut dengan "waktu yang sia-sia".

Karena waktu memang terbatas, aku hanya bisa memaksimalkan waktu yang ada untuk melakukan hal-hal yang kuinginkan seefisien mungkin. Hari-hariku terasa padat, tapi juga terasa kurang ruang kosong.

Aku percaya bahwa waktu yang kelihatan sia-sia justru memberi warna pada tulisan novel. Tapi efisiensi yang berlebihan seolah mengikis sensitivitas. Itu agak sedih.

Terus terang, sebagai penulis sambilan, penghasilanku cukup stabil. Kalau terus seperti ini, aku mungkin tidak akan khawatir soal uang di masa depan.

Tapi kalau ditanya apakah aku puas dengan keadaan ini selamanya, aku jadi bingung.

Akhir-akhir ini aku sering bertanya pada diri sendiri: bukankah sudah saatnya memutuskan arah hidup?

Apa pun yang kupilih, aku ingin menjalani hidup tanpa penyesalan.

Mari masuk ke ucapan terima kasih. Untuk editor N-san, sekali lagi maaf atas progres yang seolah deadRINE tidak pernah ada… Setiap kali selalu merepotkan.

Untuk ilustrator Gin-san, terima kasih atas ilustrasi yang luar biasa lagi kali ini. Sampulnya benar-benar sempurna. Terutama kontrasnya dengan sampul volume satu sangat bagus.

Dan untuk semua pihak yang terlibat dalam buku ini, terima kasih banyak.

Jika cerita ini sedikit saja menyentuh hati Anda, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar bagi penulis.

Sekian untuk kali ini.

Aku menantikan bisa bertemu lagi di volume berikutnya atau seri lainnya.




Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Momen Bersama Motomiya Miori di Musim Panas

Musim panas sudah hampir berakhir.

Akhir-akhir ini Miori sering sekali datang ke rumahku. Mungkin karena dia sedang bosan.

Orang tuaku yang tahu kami dulu dekat menyambutnya dengan senang hati.

Nami juga kelihatan senang setiap kali Miori datang, tapi karena dia tahu Hikari pernah menginap sebelumnya, kadang dia melirikku dengan tatapan curiga.

Padahal aku sudah berulang kali bilang bahwa hubunganku dengan Miori bukan seperti itu…

Aku menuang barley tea ke dalam gelas dan kembali ke kamar.

Miori duduk di atas bantal lantai sambil menyandarkan punggung ke tempat tidur.

Hari ini pun dia lagi asyik membaca komik battle panjang yang diambil dari rak bukuku.

"Menarik?"

"Ya. Memang battle begini yang paling seru, tegangannya naik terus."

Miori sudah tenggelam dalam komik itu sejak kemarin. Dalam dua hari saja dia sudah menghabiskan sekitar dua puluh volume.

"Kamu mulai baca ini sejak kapan?"

"Hmm, mungkin waktu SMP kelas dua. Waktu itu aku mulai ketagihan komik dan mulai mengoleksinya."

"Pantas. Jadi kamu jadi otaku sejak saat itu ya."

"Ya, begitulah. Dari komik ke light novel, lalu ke anime… begitu terus."

Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Menyenangkan.

"Seandainya aku bisa ngobrol sama kamu waktu itu, pasti seru banget ya."

Mendengar Miori berkata demikian dengan ringan, aku merasa sedikit bersalah. Maaf ya…

"Entahlah. Mungkin kamu malah bilang 'Wah, otaku banget' sambil menjauh."

Karena takut suasana jadi gelap, aku bercanda. Miori tertawa kecil.

"Memang sih. Dulu aku sama sekali nggak punya hobi indoor."

"Pasti. Kamu kan dulu anak yang selalu main di luar, kayak gembong anak kecil."

"…Bisa nggak sih panggilan 'gembong anak kecil' itu dihapus? Panggil cewek secantik ini kok begitu."

"Yah, orang yang nggak kenal kepribadianmu pasti bilang aku bohong."

"Kamu cerita masa lalu aku ke orang yang nggak kenal aku?! Hey, jangan ya!"

"Soalnya aku sering ditanya. Tentang kamu. Sama cowok-cowok di sekitar."

Miori memiringkan kepala dengan wajah bingung, "Kenapa?"

Kamu memang payah di bagian ini ya. Padahal kamu sadar banget kalau kamu cantik.

"…Ya pasti karena mereka ingin lebih mengenal kamu, dong?"

Miori berkedip-kedip, lalu bergumam, "Be… begitu ya."

"Eh, tapi kamu ditanya sama Natsuki ya?"

"Ya, soalnya info bahwa kamu teman masa kecilku sudah tersebar luas. Banyak yang iri. 'Punya teman masa kecil yang cantik, kayak di komik aja, sialan lu…' gitu."

Padahal kenyataannya nggak semanis komedi romantis.

"Teman masa kecil yang cantik, ya… Kamu juga berpikir begitu?"

"…Ya, secara umum sih, penampilannya memang bagus."

"…Bukan secara umum. Aku mau tahu pendapatmu sendiri."

Miori mendekatkan wajahnya ke arahku. Jangan dekat-dekat. Berhenti.

Begitu dekat, aku jadi sadar betapa cantiknya dia. Benar-benar seorang gadis yang menawan.

Apalagi dia sedang memasang wajah sedikit tidak puas, jadi aku hampir salah paham. Hampir saja aku berfantasi yang tidak-tidak. Jantungku berdegup kencang.

"…Kalau aku berpikir begitu, ada masalah?"

Aku memalingkan muka sambil menjawab. Entah kenapa, Miori langsung menjauh dengan cepat.

Dia lalu merebahkan diri di atas tempat tidurku. Kenapa diam saja sih! Aku yang malu ini!

Aku memandang Miori dengan tatapan kesal. Karena dia membelakangi dinding, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi telinganya memerah. …Sepertinya Miori juga merasa malu.

"Kalau malu, ya nggak usah tanya."

"…Berisik. Sok tahu, padahal cuma Natsuki."



Previous Chapter | ToC

Post a Comment

Post a Comment

close