Epilog
Musim Dingin
Berwarna Abu-abu
Keesokan harinya,
kehangatan kemarin terasa seperti kebohongan. Suhu tiba-tiba turun drastis.
Ramalan cuaca
sudah mengumumkan kedatangan musim dingin. Mulai hari ini, suhu udara akan
menyentuh satu digit.
Aku tiba
di sekolah dengan perlengkapan lengkap — mantel tebal dan syal.
Dalam perjalanan
menuju kelas, aku melihat sesuatu yang jarang terjadi. Banyak siswa berkumpul
di koridor.
"Oi,
Natsuki."
Tatsuya melihatku
dan memanggil.
Di tengah
kerumunan, Miori berdiri dengan wajah tertunduk, tampak tidak nyaman.
"Apa yang
sedang kalian lakukan?"
Nanase yang
terlihat sangat ceria menjawab dengan antusias.
"Sekarang
kami sedang mendengar penjelasan lengkap dari Motomiya-san tentang apa yang
sebenarnya terjadi. Benar kan?"
"…Ya, karena
aku sudah merepotkan semua orang, jadi setidaknya aku harus menjelaskan…"
"Kamu ini
karakternya aneh banget sih. Lagi pakai nada yang mana ini?"
Miori
terlihat sangat rendah diri.
"Memang
agak kasar bilangnya, tapi ini jelas-jelas black history, kan?"
Serika
berkata dengan nada langsung. Hei, meski dibilang kasar, tetap ada batasnya!
Kalau
sudah kasih kata pengantar "memang kasar sih", bukan berarti boleh
seenaknya!
Lihat, Miori
kayaknya mau pingsan saja! Mentalnya lemah banget, tahu!
"Miorin,
mulai hari ini kamu balik ke klub basket lagi, kan?"
"Ya, iya…
setidaknya itu niatku… maaf ya…"
Uta
tersenyum lebar, tapi matanya tidak ikut tersenyum, sementara Miori terlihat
gugup.
Entah bagaimana,
pemandangan ini terasa sangat aneh.
"Menurutku,
sebaiknya kamu juga jelaskan ke semua anggota klub basket perempuan apa yang
sebenarnya terjadi. Gimana? Aku yakin para senpai seperti Wakamura pasti senang
mendengarnya!"
Uta
berkata dengan senyum lebar.
Ya, aku bisa membayangkannya… Para senpai itu pasti akan
dengan senang hati menggoda Miori habis-habisan.
Lagipula, sejak
telepon kemarin, aku merasa Uta masih marah.
"Pochi-chan,
sudah saatnya kamu maafin dia deh."
Hikari
tersenyum pahit sambil mencoba menenangkan Uta.
"Soalnya
Miorin nggak cerita apa-apa ke aku. Padahal aku selalu cerita segala hal ke
dia, dan aku pikir kami paling dekat. Tapi dia malah menyelesaikan semuanya
sendirian!"
Uta manyun sambil
mengeluh.
"Yah,
sekarang aku agak ngerti sih kenapa kamu nggak bisa cerita ke aku."
Uta menghela
napas panjang. Lalu tiba-tiba memeluk Miori dengan kuat.
"Tapi
aku khawatir banget, tahu! Sungguh!"
Miori
tersenyum lembut dan mengelus rambut Uta yang tenggelam di dadanya.
"…Maaf
ya, Uta. Aku sudah menyesal."
Saat itu,
"Aku juga!" seru Hikari dari belakang, lalu memeluk Miori.
Mereka
bertiga jadi seperti sandwich. Enak sekali. Eh, itu keluar begitu saja. Pasti sesak napas ya, hehe.
Aku berdiri
sedikit menjauh, hanya mengamati pemandangan itu.
Aku sadar
bahwa orang-orang di sekitar sedang memperhatikan kami.
Wajar
saja. Pagi-pagi sekali sudah ribut begini.
"
Itu Motomiya-san."
"Syukurlah,
dia selamat."
Aku
mendengar suara dua siswi perempuan.
Sepertinya
kabar tentang Miori yang sempat hilang juga sempat tersebar.
Setelah
ditemukan, kami berusaha menjaga agar cerita ini hanya di antara kami demi
Miori. Tapi karena polisi sudah menghubungi wali kelas dan pembimbing klub
basket perempuan, mustahil untuk menekannya sepenuhnya.
Untungnya masalah
ini sudah selesai, jadi rumor seharusnya cepat mereda.
Aku sedang
berpikir optimis seperti itu ketika—
Tiba-tiba aku
mendengar sesuatu yang membuatku tidak percaya.
"Kasihan ya,
Motomiya-san."
"Iya.
Katanya Shirotori-kun memaksanya pacaran dengan ancaman, kan?"
Aku tidak
langsung memahami arti kata-kata itu.
"Padahal
sebenarnya dia suka orang lain, tapi dipaksa pacaran."
"Memang dia
nggak kelihatan senang waktu itu."
Mereka
berbisik-bisik sambil melirik Miori.
Hampir
semua orang memberikan simpati kepada Miori. Dan menyalahkan Shirotori Reita.
"Aku
sih dari dulu merasa ada yang aneh sama cowok itu."
"Ngerti.
Terlalu bersih reputasinya, malah mencurigakan. Sekarang jadi masuk akal."
Sekelompok
cowok tertawa sambil bercanda.
Tidak
banyak, tapi jelas ada yang membicarakan hal serupa.
"Benarkah
ya? Aku nggak bisa bayangin dia seperti itu…"
"Coba
lihat ini. Kemarin malam beredar, gila banget."
——Ada
sesuatu yang beredar di SNS? Begitu aku menyadarinya, ponselku bergetar.
Chat
pribadi dari Yamano.
Yamano: 『Tolong segera lihat. Ada postingan tentang
Shirotori-senpai yang lagi viral.』
Aku
membuka URL yang dikirimkan dan langsung menuju Mynsta.
Itu
sebuah video. Dan Reita memang terlihat di dalamnya.
Sepertinya
direkam diam-diam dari tempat tersembunyi. Mungkin di gang sempit. Sekelompok
yankee berkumpul, dan Reita duduk di tengah-tengah mereka.
『Reita-san, gimana kabar pacar lo akhir-akhir ini?』
『Kami putus. Dari awal kan aku memaksanya dengan ancaman.
Nggak ada rasa rindu.』
Percakapan itu terekam, dan video berhenti beberapa detik
kemudian.
『Keganggu deh, kejepret yang bahaya』 tulis si pengunggah di
komentar.
Postingan
itu sudah banjir komentar yang mengkritik Reita.
Hanya dalam semalam, rumor menyebar sangat cepat. Aku bisa merasakan ada tangan
seseorang di balik ini.
"Dasar
dia…"
Aku teringat
percakapan dengan Reita dua hari lalu.
Reita saat itu
jelas tidak seperti biasanya.
Makanya hari ini
aku juga khawatir. Hubungan kami berakhir dengan suasana seperti pertengkaran,
dan aku sempat memikirkan cara untuk berdamai. Tapi aku masih optimis bahwa
semuanya akan baik-baik saja.
"Suasananya
agak aneh ya…?"
"Memang. Kok
kita kayaknya dilihatin terus? Kita kan nggak ngapa-ngapain."
Hikari
memandang sekeliling. Tatsuya mengerutkan kening curiga.
"…Begitu
rupanya."
Serika
yang sedang melihat ponselnya mengernyitkan wajah.
Pasti Yamano juga
mengirimkan chat ke dia.
"Ada apa?
Kalian semua?"
Miori bertanya
dengan wajah bingung. Tapi aku tidak tahu harus menjawab apa.
Saat itu,
bel masuk berbunyi. Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Orang-orang di koridor
mulai masuk ke kelas. Kami
pun terbawa arus itu.
Aku duduk di
bangku.
Suasana kelas
terasa gaduh.
Reita — tidak ada
di tempatnya.
Semua perhatian
tertuju pada bangku kosong itu.
Guru wali kelas
masuk ke ruangan.
"Ada
pengumuman sebelum upacara pagi hari ini."
Guru berdiri di
depan kelas dan berkata dengan suara datar.
"——Shirotori-kun
melakukan tindak kekerasan, sehingga dijatuhi skorsing selama satu
minggu."
Berita terburuk
yang seolah membenarkan postingan itu.
Hawa dingin
semakin menusuk. Musim dingin telah tiba.
Napas terlihat
putih, angin menusuk tulang. Daun-daun kering berguguran, hanya tinggal
ranting-ranting telanjang.
Musim dingin
menghapus segala warna, dan tanpa terasa, dunia berubah menjadi pemandangan
yang abu-abu.



Post a Comment