NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 6 Epilog

Epilog

Musim Dingin Berwarna Abu-abu


Keesokan harinya, kehangatan kemarin terasa seperti kebohongan. Suhu tiba-tiba turun drastis.

Ramalan cuaca sudah mengumumkan kedatangan musim dingin. Mulai hari ini, suhu udara akan menyentuh satu digit.

Aku tiba di sekolah dengan perlengkapan lengkap — mantel tebal dan syal.

Dalam perjalanan menuju kelas, aku melihat sesuatu yang jarang terjadi. Banyak siswa berkumpul di koridor.

"Oi, Natsuki."

Tatsuya melihatku dan memanggil.

Di tengah kerumunan, Miori berdiri dengan wajah tertunduk, tampak tidak nyaman.

"Apa yang sedang kalian lakukan?"

Nanase yang terlihat sangat ceria menjawab dengan antusias.

"Sekarang kami sedang mendengar penjelasan lengkap dari Motomiya-san tentang apa yang sebenarnya terjadi. Benar kan?"

"…Ya, karena aku sudah merepotkan semua orang, jadi setidaknya aku harus menjelaskan…"

"Kamu ini karakternya aneh banget sih. Lagi pakai nada yang mana ini?"

Miori terlihat sangat rendah diri.

"Memang agak kasar bilangnya, tapi ini jelas-jelas black history, kan?"

Serika berkata dengan nada langsung. Hei, meski dibilang kasar, tetap ada batasnya!

Kalau sudah kasih kata pengantar "memang kasar sih", bukan berarti boleh seenaknya!

Lihat, Miori kayaknya mau pingsan saja! Mentalnya lemah banget, tahu!

"Miorin, mulai hari ini kamu balik ke klub basket lagi, kan?"

"Ya, iya… setidaknya itu niatku… maaf ya…"

Uta tersenyum lebar, tapi matanya tidak ikut tersenyum, sementara Miori terlihat gugup.

Entah bagaimana, pemandangan ini terasa sangat aneh.

"Menurutku, sebaiknya kamu juga jelaskan ke semua anggota klub basket perempuan apa yang sebenarnya terjadi. Gimana? Aku yakin para senpai seperti Wakamura pasti senang mendengarnya!"

Uta berkata dengan senyum lebar.

Ya, aku bisa membayangkannya… Para senpai itu pasti akan dengan senang hati menggoda Miori habis-habisan.

Lagipula, sejak telepon kemarin, aku merasa Uta masih marah.

"Pochi-chan, sudah saatnya kamu maafin dia deh."

Hikari tersenyum pahit sambil mencoba menenangkan Uta.

"Soalnya Miorin nggak cerita apa-apa ke aku. Padahal aku selalu cerita segala hal ke dia, dan aku pikir kami paling dekat. Tapi dia malah menyelesaikan semuanya sendirian!"

Uta manyun sambil mengeluh.

"Yah, sekarang aku agak ngerti sih kenapa kamu nggak bisa cerita ke aku."

Uta menghela napas panjang. Lalu tiba-tiba memeluk Miori dengan kuat.

"Tapi aku khawatir banget, tahu! Sungguh!"

Miori tersenyum lembut dan mengelus rambut Uta yang tenggelam di dadanya.

"…Maaf ya, Uta. Aku sudah menyesal."

Saat itu, "Aku juga!" seru Hikari dari belakang, lalu memeluk Miori.

Mereka bertiga jadi seperti sandwich. Enak sekali. Eh, itu keluar begitu saja. Pasti sesak napas ya, hehe.

Aku berdiri sedikit menjauh, hanya mengamati pemandangan itu.

Aku sadar bahwa orang-orang di sekitar sedang memperhatikan kami.

Wajar saja. Pagi-pagi sekali sudah ribut begini.

" Itu Motomiya-san."

"Syukurlah, dia selamat."

Aku mendengar suara dua siswi perempuan.

Sepertinya kabar tentang Miori yang sempat hilang juga sempat tersebar.

Setelah ditemukan, kami berusaha menjaga agar cerita ini hanya di antara kami demi Miori. Tapi karena polisi sudah menghubungi wali kelas dan pembimbing klub basket perempuan, mustahil untuk menekannya sepenuhnya.

Untungnya masalah ini sudah selesai, jadi rumor seharusnya cepat mereda.

Aku sedang berpikir optimis seperti itu ketika—

Tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang membuatku tidak percaya.

"Kasihan ya, Motomiya-san."

"Iya. Katanya Shirotori-kun memaksanya pacaran dengan ancaman, kan?"

Aku tidak langsung memahami arti kata-kata itu.

"Padahal sebenarnya dia suka orang lain, tapi dipaksa pacaran."

"Memang dia nggak kelihatan senang waktu itu."

Mereka berbisik-bisik sambil melirik Miori.

Hampir semua orang memberikan simpati kepada Miori. Dan menyalahkan Shirotori Reita.

"Aku sih dari dulu merasa ada yang aneh sama cowok itu."

"Ngerti. Terlalu bersih reputasinya, malah mencurigakan. Sekarang jadi masuk akal."

Sekelompok cowok tertawa sambil bercanda.

Tidak banyak, tapi jelas ada yang membicarakan hal serupa.

"Benarkah ya? Aku nggak bisa bayangin dia seperti itu…"

"Coba lihat ini. Kemarin malam beredar, gila banget."

——Ada sesuatu yang beredar di SNS? Begitu aku menyadarinya, ponselku bergetar.

Chat pribadi dari Yamano.

Yamano: Tolong segera lihat. Ada postingan tentang Shirotori-senpai yang lagi viral.

Aku membuka URL yang dikirimkan dan langsung menuju Mynsta.

Itu sebuah video. Dan Reita memang terlihat di dalamnya.

Sepertinya direkam diam-diam dari tempat tersembunyi. Mungkin di gang sempit. Sekelompok yankee berkumpul, dan Reita duduk di tengah-tengah mereka.

Reita-san, gimana kabar pacar lo akhir-akhir ini?

Kami putus. Dari awal kan aku memaksanya dengan ancaman. Nggak ada rasa rindu.

Percakapan itu terekam, dan video berhenti beberapa detik kemudian.

Keganggu deh, kejepret yang bahaya tulis si pengunggah di komentar.

Postingan itu sudah banjir komentar yang mengkritik Reita.

Hanya dalam semalam, rumor menyebar sangat cepat. Aku bisa merasakan ada tangan seseorang di balik ini.

"Dasar dia…"

Aku teringat percakapan dengan Reita dua hari lalu.

Reita saat itu jelas tidak seperti biasanya.

Makanya hari ini aku juga khawatir. Hubungan kami berakhir dengan suasana seperti pertengkaran, dan aku sempat memikirkan cara untuk berdamai. Tapi aku masih optimis bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Suasananya agak aneh ya…?"

"Memang. Kok kita kayaknya dilihatin terus? Kita kan nggak ngapa-ngapain."

Hikari memandang sekeliling. Tatsuya mengerutkan kening curiga.

"…Begitu rupanya."

Serika yang sedang melihat ponselnya mengernyitkan wajah.

Pasti Yamano juga mengirimkan chat ke dia.

"Ada apa? Kalian semua?"

Miori bertanya dengan wajah bingung. Tapi aku tidak tahu harus menjawab apa.

Saat itu, bel masuk berbunyi. Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Orang-orang di koridor mulai masuk ke kelas. Kami pun terbawa arus itu.

Aku duduk di bangku.

Suasana kelas terasa gaduh.

Reita — tidak ada di tempatnya.

Semua perhatian tertuju pada bangku kosong itu.

Guru wali kelas masuk ke ruangan.

"Ada pengumuman sebelum upacara pagi hari ini."

Guru berdiri di depan kelas dan berkata dengan suara datar.

"——Shirotori-kun melakukan tindak kekerasan, sehingga dijatuhi skorsing selama satu minggu."

Berita terburuk yang seolah membenarkan postingan itu.

Hawa dingin semakin menusuk. Musim dingin telah tiba.

Napas terlihat putih, angin menusuk tulang. Daun-daun kering berguguran, hanya tinggal ranting-ranting telanjang.

Musim dingin menghapus segala warna, dan tanpa terasa, dunia berubah menjadi pemandangan yang abu-abu.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close