NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 6 Chapter 2

Chapter 2

Kewajiban sebagai Pacar


Sehari setelah aku pergi ke rumah Miori.

Saat aku mencoba menghubungi Serika, sepertinya hari ini Miori masih izin tidak masuk sekolah.

Dengan ini, sudah satu minggu dia absen.

……Apakah dia berniat untuk tidak masuk sekolah lagi mulai sekarang?

Saat kami bicara kemarin, suara Miori bergetar hebat.

Aku rasa dia benar-benar sedang terjebak dalam pemikiran yang menghukum diri sendiri.

Aku khawatir. Aku ingin melakukan sesuatu, tapi…… saat itu, aku tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

"Natsuki, bisa bicara sebentar?"

Saat aku sedang melamun, Tatsuya memanggilku.

"Ada apa?"

Bagi Tatsuya, wajahnya terlihat sangat serius, tidak seperti biasanya.

"Ayo bicara di luar sebentar."

Aku mengikuti langkah Tatsuya yang berjalan setelah menunjuk ke arah balkon.

Karena tadi aku terlalu tenggelam dalam pikiran, aku baru sadar sekarang bahwa aku merasakan tatapan yang berbeda dari biasanya.

Karena itu, aku langsung tahu apa tujuannya.

"Ada gosip aneh yang beredar tentang Motomiya."

Di balkon, Tatsuya memulai pembicaraan sambil menyandarkan lengannya pada pagar pembatas.

Di balkon yang sempit itu, Reita juga berdiri sambil melipat tangan. Jarang sekali, ekspresinya terlihat begitu suram.

"Sepertinya penyebar gosip itu adalah gerombolan cewek dari kelas 1…… Apa kau mendengar sesuatu?"

Terhadap pertanyaan Tatsuya, aku menjelaskan kejadian yang terjadi kemarin.

Mulai dari saat aku tahu keberadaan gosip itu, mendengar cerita dari Serika dan Hikariri, hingga perjalananku mengunjungi rumah Miori.

"Begitu rupanya…… yah, pada akhirnya itu hanyalah gosip yang tidak berdasar, kan?"

Tatsuya berkata demikian, lalu menghela napas dengan ekspresi yang terlihat sangat terganggu.

"Ya, seperti yang kukatakan tadi, hanya ada insiden yang mungkin terlihat seperti itu saja."

――Meski sebenarnya, itu bukan "insiden". Tapi, aku tidak bisa mengungkapnya sekarang.

Jika aku menjelaskan hal itu, aku juga harus menyinggung perasaan Miori.

Terlebih lagi, di depanku ada Reita. Aku ragu untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin secara sembarangan.

Reita yang mendengar ceritaku pun tidak berkata apa-apa.

Dia terus menatap langit yang mendung.

"Uta sedang murung."

Tatsuya bergumam seolah merasa frustrasi.

Mengikuti arah pandang Tatsuya, aku melihat ke dalam ruang kelas melalui jendela.

Uta, yang biasanya ceria, kini sedang duduk di kursinya sambil menatap papan tulis.

"Kalau gosip itu sudah sampai ke telingaku, tentu saja Uta dan yang lainnya pasti sudah tahu."

……Yah, gosip itu dimulai dari kelompok cewek kelas 1.

Sangat wajar jika gosip itu tersebar di kalangan cewek lebih dulu sebelum sampai ke cowok kelas 2.

"Benar juga…… apalagi Uta satu klub basket putri dengan Miori."

"……Sahabatnya di klub yang sama sudah absen selama satu minggu. Kurasa dia pasti sudah mencari tahu sendiri apa alasannya. Hasilnya, dia jadi tidak bisa berkata apa-apa dan sekarang berakhir murung seperti itu."

Orang yang akhirnya membuka suara adalah Reita.

"Itu Uta. Seharusnya, dia akan membuat keributan besar jika Miori absen selama ini. Alasan dia tidak melakukannya adalah karena gosip yang diduga menjadi penyebab Miori absen itu, ada hubungannya dengan kita."

"Dia pasti khawatir, tapi karena topiknya terlalu sensitif, dia tidak bisa membahasnya secara sembarangan. Mungkin itulah yang terjadi."

Seperti biasa, dia sangat jeli memperhatikan orang lain.




"Apakah belum ada cara untuk menghubungi Motomiya?"

"Begitulah. Setelah dia bilang 'Maafkan aku, aku tidak apa-apa', tidak ada respons lagi darinya."

"Kalau Natsuki sendiri yang pergi menemuinya dan tidak berhasil, mungkin masalahnya cukup serius."

Tatsuya mengerang dengan wajah yang tampak kesulitan.

"Aku sudah bertanya pada Serika dan Uta, tapi sepertinya mereka semua tidak bisa menghubunginya. Gosip itu justru menyebar semakin cepat karena Miori terus absen. Aku sudah berusaha menghentikannya semampuku, tapi itu agak sulit."

Ternyata benar begitu, ya.

Serika juga mengatakan hal yang hampir sama.

"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan? Pada akhirnya, itu semua cuma bohong, kan?"

Tatsuya memasang ekspresi tidak senang sambil menggeretakkan kepalan tangannya. Mau apa dia sebenarnya?

"Gosip yang disebarkan dengan niat jahat itu sulit dihentikan."

Reita menyampaikan kesimpulannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan penjelasannya.

"Aku, Natsuki, dan Hoshimiya-san bisa dibilang adalah pihak yang terlibat. Kalau kami yang menyanggah, hal itu justru akan terlihat seolah-olah kami sedang membela Miori. Pihak yang menyebarkan gosip itu pasti akan memanfaatkan hal tersebut. Saat ini, gosip itu terus ditambah-tambah dengan cerita bohong. Cerita yang hanya bertujuan untuk menjatuhkan Miori…… yang bahkan sudah tidak sanggup untuk didengar."

"Sebenarnya apa yang mereka inginkan? Apa mereka benci pada Motomiya?"

Menjawab pertanyaan Tatsuya yang tampak tidak mengerti, aku menyampaikan apa yang kudengar sebelumnya.

"Menurut cerita Serika, sepertinya ada kelompok cewek yang berselisih dengan Miori. Kemungkinan besar, merekalah yang menyebarkannya. Terutama, dia bilang ada orang bernama Hasegawa yang membenci Miori."

Saat aku menyebutkan nama Hasegawa, ekspresi Reita meredup.

"……Ternyata benar, itu Yoko."

"Kau kenal dia?"

"Satu SMP denganku. Dulu, pernah ada sesuatu."

Melihat wajah Reita yang tampak sedih, Tatsuya memasang ekspresi tampak terganggu, "Ah……"

"Kalau itu Hasegawa, kenapa tidak kau saja yang bicara langsung padanya?"

"Kurasa itu tidak akan berjalan semudah itu. Mungkin di permukaan dia bisa dibujuk, tapi……"

Reita kemudian terdiam, tampak tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

"……Maaf, Reita. Ini gara-gara aku."

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak meminta maaf.

Akulah penyebab masalah ini terjadi.

"Bukan salahmu kok. Kalau ditelusuri dari awal…… ini salahku."

Reita bergumam seolah menyesali sesuatu, lalu menggelengkan kepalanya pelan seolah sedang mencoba untuk beralih dari pikiran itu.

……Salah dia? Apa maksudnya itu……? Sebelum aku sempat bertanya, Reita membuat pernyataan.

"Aku akan pergi ke rumah Miori. Untuk permulaan, aku akan mulai dari sana."

Secara kebetulan, keputusan yang dicapai Reita sama dengan keputusanku kemarin.

Aku pulang dengan tangan hampa karena tidak bisa melakukan apa pun, tapi mungkin jika Reita yang pergi, dia bisa melakukan sesuatu.

……Walaupun perasaan Miori saat ini tertuju padaku.

Karena fakta bahwa pacarnya adalah Reita, seharusnya tidak berubah.

Shiratori Reita

Saat mendengar gosip itu, aku punya firasat buruk.

Mengetahui Miori absen, dugaan terburuk pun bermunculan di dalam kepalaku.

Jujur saja, aku tidak ingin dugaan itu benar. Namun, dugaanku jarang sekali meleset.

Saat aku membuat kontrak kekasih bersyarat dengan Miori, sejak awal aku sudah sadar akan risiko yang dikandung oleh kontrak ini.

Apapun keadaan di dalamnya, bagi dunia luar, aku dan Miori terlihat seperti sedang berpacaran.

Hanya aku yang tahu bahwa Miori menyukai Natsuki. Hanya aku yang bilang bahwa aku tidak akan menyalahkannya meski dia bersama Natsuki.

Orang-orang di sekitar kita tidak berpikir seperti itu berdasarkan norma umum.

Jika Miori yang berpacaran denganku terlihat bersama Natsuki, tentu orang-orang tidak akan memiliki kesan yang baik.

Jika Miori tidak bisa menahan perasaannya dan melakukan sesuatu, wajar jika orang-orang di sekitar menganggap itu sebagai perselingkuhan.

Karena secara normal, tidak mungkin ada pacar yang membiarkan hal seperti itu terjadi.

――Harus kuakui, tekanan dari orang-orang sekitar itu juga merupakan salah satu tujuanku.

Meski aku membiarkannya, perasaan melihat orang yang kusukai bersama orang lain bukanlah hal yang menyenangkan.

Hasil dari pemikiran picikku inilah yang ada di sini sekarang.

Hasil dari tindakan gegabahku yang memaksa Miori, mengikatnya dengan kontrak kekasih bersyarat, dan berpura-pura keren dengan berpikir bahwa suatu saat nanti aku akan membuatnya menoleh padaku.

Padahal sejak awal aku sudah tahu bahwa kontrak ini hanya akan menyiksa Miori.

Sambil diliputi rasa penyesalan, aku berjalan menuju arah rumah Miori.

Walaupun aku belum pernah masuk ke rumahnya, dia pernah menunjukkanku daerah sekitar sini. Jadi, aku tahu di mana rumahnya.

Karena kegiatan klub sudah selesai, matahari pun sudah terbenam.

Aku menyusuri jalanan gelap yang minim lampu jalan. Tidak ada orang, hanya ada mobil yang sesekali lewat.

Aku tidak perlu sampai ke rumah Miori.

Karena aku melihat sosok Miori di taman yang terletak tidak jauh dari sana.

Aku mendekati Miori yang duduk di bangku taman dengan tatapan kosong.

Taman itu sepi, tidak ada siapa pun selain Miori. Hanya ada satu lampu jalan yang menyala.

Di bawah kakiku, terdapat tumpukan daun kering. Tampaknya pohon-pohon di taman ini sudah menggugurkan semua daunnya. Sungguh suasana yang dingin.

Mungkin menyadari langkah kakiku, Miori yang tadinya menunduk mengangkat wajahnya. Dia mengubah ekspresinya saat melihatku.

"……Reita-kun."

"……Miori. Karena tidak ada balasan, aku datang untuk menemuimu."

Aku berhenti tepat di depan Miori. Jika diperhatikan, Miori mengenakan seragam sekolahnya.

Jangan-jangan, dia berniat pergi ke sekolah? Tasnya pun tergeletak di sampingnya.

"Sejak kapan kau di sini?"

Miori tidak menjawab pertanyaanku. Napasnya terlihat putih di udara, dan tubuhnya sedikit gemetar.

Untuk saat ini, aku melepas jas almamaterku dan menyampirkannya ke bahu Miori.

Kemudian, aku membeli teh hangat dari mesin penjual otomatis di dekat sana lalu duduk di sampingnya.

Aku meraih tangan Miori dan memaksanya untuk memegang botol teh itu.

"……Terima kasih."

Miori menunduk dengan perasaan bersalah, lalu meminum seteguk tehnya.

"……Hangat."

"Kalau kau terus di tempat seperti ini, kau akan kedinginan. Sebaiknya kau pulang ke rumah, berendam di bak mandi, lalu tidur dengan selimut tebal. Kau baru sembuh, kan? Bagaimana kalau kau kena flu lagi?"

Tanpa sadar, nada suaraku terdengar sedikit menyalahkan.

"Tidak apa-apa. Lagipula, aku tidak sedang kena flu."

"……Meskipun begitu, tetap saja."

Angin kering mengusap rambut kami.

Harus mulai dari mana bicaranya? Miori lah yang membuka suara lebih dulu, sebelum aku yang sempat bimbang ini bisa memulai.

"……Aku punya sesuatu yang harus kuakui padamu, Reita-kun."

"Soal gosip itu, aku sudah dengar. Aku juga tahu siapa penyebarnya. Aku pasti akan menghentikannya. Jadi――"

"――Tidak perlu. Karena itu adalah fakta. Aku tidak punya bantalan apa pun."

Miori memotong kata-kataku dan menegaskannya.

"Soal kejadian yang memicu gosip itu, Natsuki bilang itu kecelakaan."

"Aku sengaja memeluk Natsuki dengan alasan kakiku tersandung. Jadi, itu memang disengaja."

……Aku sudah mengantisipasinya. Aku bahkan sudah menduga kalau itu kenyataannya.

Namun, saat mendengarnya langsung dari mulutnya sendiri, rasanya beban itu menghantam hatiku dengan berat.

"Memeluknya, sampai melakukan itu, semuanya adalah fakta. Hasegawa-san dan yang lainnya hanya mengatakan yang sebenarnya, jadi mereka tidak salah apa pun. ……Yang salah, hanya aku. Maafkan aku, karena telah mengkhianatimu."

"……Aku sudah bilang kalau aku tidak keberatan kau terus menyukai Natsuki. Aku juga bilang kau boleh tetap bersamanya. Jadi kau tidak perlu meminta maaf. Karena, kita bukan sepasang kekasih dalam arti yang sesungguhnya."

"Meski begitu, aku ingin bisa menyukaimu, Reita-kun, dan berperilaku layaknya sepasang kekasih. Aku pikir, itulah kejujuran minimum yang harus kutunjukkan…… saat menjalin hubungan denganmu."

Tetapi, pada akhirnya, Miori bercerita bahwa dia kalah oleh keinginannya sendiri.

"Aku ingin bisa menyukaimu, Reita-kun…… tapi sepertinya aku tidak bisa."

"……Tidak bisakah kau memberiku sedikit lebih banyak waktu lagi?"

Aku mengerti arah pembicaraannya, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya seolah menolak kenyataan.

"Daripada wanita terburuk seperti aku, masih ada orang lain yang jauh lebih pantas untukmu, Reita-kun."

Miori menggelengkan kepalanya perlahan. Di sudut matanya, air mata mulai menggenang.

"Jadi, tolong maafkan aku. Tolong, putuskan hubungan denganku."

Air mata yang menetes di pipinya jatuh ke tanah satu per satu.

Sepertinya tidak ada ruang untuk membujuknya. Mau bagaimana lagi. Sejak awal, seharusnya memang begini akhirnya. Akulah yang membelokkan hubungan yang seharusnya berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan setelah situasi menjadi seperti ini, aku tidak sanggup untuk terus melanjutkannya.

Setelah menghela napas panjang, aku mengangguk pelan.

"……Apakah kau bisa masuk sekolah?"

"Besok, aku berniat untuk masuk seperti biasa. Aku tidak bisa terus-terusan absen seperti ini."

Mungkin hari ini pun dia berniat untuk masuk.

Namun, kakinya tidak bisa melangkah dan dia berakhir di sini. Mungkin, kemarin pun begitu.

Miori menderita luka mental yang cukup dalam. Aku bisa melihatnya hanya dengan menatapnya.

……Tapi, sepertinya aku tidak bisa menyelamatkan Miori.

"Apa yang akan kau lakukan soal gosip itu?"

"Aku tidak akan melakukan apa pun. Aku sudah melakukan kesalahan, jadi aku rasa aku harus menerima hukumannya. Mungkin teman-temanku akan berkurang, tapi tidak apa-apa. ……Lagipula, aku juga harus meminta maaf pada Hikariri-chan."

Miori menjawab dengan nada yang terdengar tegar.

Namun, bagi mataku, tekad itu tampak rapuh bagaikan istana pasir yang akan runtuh kapan saja.

――Jika Natsuki yang berada di sini, apa yang akan dia katakan pada Miori saat ini?

Di dalam dadaku yang tidak bisa berkata apa pun, pertanyaan itu terus berputar-putar.

……Meskipun begitu, pasti masih ada hal yang bisa kulakukan.

Itu terjadi sehari setelah Reita pergi ke rumah Miori.

Seperti biasa, aku berganti kereta dan sampai di depan sekolah.

Di sudut pandangku, kuncir kuda itu bergoyang. Punggung yang sudah lama tidak kulihat.

Miori datang ke sekolah. Aku ingin segera berlari menghampirinya untuk menyapa, tapi aku menghentikan langkahku.

……Sekarang bukan saatnya aku bicara dengan Miori. Itu mungkin akan memberikan dampak buruk pada gosip yang beredar.

Artinya, apakah Reita berhasil membereskannya?

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, tapi ternyata kata-kata Reita benar-benar sampai ke hati Miori.

Sebagai teman masa kecil, aku merasa sedikit frustrasi.

Namun, perasaan lega karena Miori datang ke sekolah jauh lebih besar. Syukurlah.

Sambil sengaja menjaga jarak dari Miori, aku mengganti sepatu di loker, menaiki tangga, dan berjalan menyusuri koridor.

"Eh? Itu bukan Motomiya-san?"

"Wah. Gosip yang itu…… kukira dia akan terus absen mulai sekarang."

Tatapan mata tertuju pada Miori. Terutama tatapan penasaran yang berpusat pada para siswi.

"Hebat ya, bisa tetap santai menampakkan diri. Bukannya dia ketahuan bermain mata dengan banyak cowok?"

"Iya, kan. Katanya dia bahkan menggoda pacar senior klub basket."

Bahkan, gosip itu terus ditambah-tambah. Bukan hanya soal dia yang menggodaku, tapi mungkin cerita saat keributan dengan Senior Wakamura terjadi juga telah diputarbalikkan dengan niat jahat.

"Katanya hobinya memang mencari cowok yang sudah punya pacar."

"Wah, parah banget. Beneran ilfeel deh. Ternyata wajahnya begitu ya."

……Rasanya mual. Meskipun aku tahu bahwa satu-satunya yang punya niat jahat adalah orang-orang yang membuat gosip itu dan mereka yang bicara sekarang hanya didorong oleh rasa penasaran, aku ingin segera mencengkeram mulut mereka dan membungkamnya.

Gosip itu terdengar sampai ke telingaku yang melihat dari kejauhan. Miori yang menjadi targetnya pasti merasa seperti duduk di atas jarum.

Miori yang terus berjalan sambil menunduk masuk ke dalam kelas.

"Haihara-kun, bisa bicara sebentar?"

Saat aku sedang melihat punggung Miori, orang yang menyapaku adalah Nanase.

Nada suaranya dingin. Dia tidak terlihat dalam suasana hati yang baik.

"……Ah, iya."

Setelah mengikuti Nanase, aku berhenti di ruang sepi yang menghubungkan gedung kelas dengan gimnasium.

Nanase yang berbalik menatapku dengan wajah tidak puas.

"……Apakah kau sadar bahwa kau adalah pacar Hikariri?"

Pertanyaan yang datang secara tiba-tiba dan di luar dugaan adalah yang pertama kali dilontarkan.

"Itu, tentu saja…… aku merasa sadar."

"Kalau begitu, aku ingin kau lebih memedulikan perasaan Hikariri."

Nada bicaranya seolah menyalahkanku.

"Aku tahu soal gosip itu. Aku juga tahu itu hanya kecelakaan. Karena Hikariri sudah menceritakannya padaku."

……Kalau begitu, apa masalahnya?

"Aku rasa aku sudah menjelaskan semuanya dengan baik……"

"Memang tidak salah kalau kau mengkhawatirkan Motomiya-san. ……Tapi Hikariri juga merasa cemas, tahu? Meskipun dia tidak berpikir kau berbohong, bukankah kau selalu berada di dekat lawan jenis yang membuat kecelakaan seperti itu bisa terjadi? ……Lagipula, Hikariri bilang dia tidak tahu kalau kau bertemu Motomiya-san hari itu."

Memang benar, aku tidak memberitahu Hikariri.

Karena pertemuanku dengan Miori hanyalah sebuah kebetulan semata.

Setelah itu, karena kami bermain basket sampai larut malam, aku menganggapnya sebagai kelanjutan dari kebetulan itu.

Lagipula, Miori adalah teman masa kecil, apakah dia tidak termasuk dalam kategori cinta――? Benarkah begitu?

Aku tidak tahu. Setidaknya, persepsi Miori tidak seperti itu.

"Bagaimana kalau kau membalik posisinya?"

Mendengar kata-kata Nanase, aku mulai membayangkannya.

Bagaimana jika Hikariri punya teman masa kecil lawan jenis yang akrab dengannya.

Bagaimana jika meskipun dia punya pacar yaitu aku, mereka ternyata sering bertemu tanpa sepengetahuanku.

……Memang benar, pasti akan merasa cemas. Apakah Hikariri benar-benar menyukaiku?

"Gara-gara gosip itu, Hikariri juga sering mendengar hal-hal yang tidak sopan. Tentang kau, seperti sebaiknya putus saja, atau mungkin kau cowok yang tidak setia. Padahal Hikariri selalu membantahnya setiap kali mendengar itu."

……Ternyata, gosip buruk tentangku juga beredar, ya.

Target Hasegawa yang menyebarkan gosip seharusnya adalah Miori, tapi gosip itu sepertinya juga berkembang ke arahku.

"Itu pasti menjadi beban mental yang cukup besar, tapi yang membuatku kesal adalah sikapmu yang justru lebih mengkhawatirkan Motomiya-san yang sedang absen, tanpa menyadari perasaan Hikariri yang seperti itu."

Tidak ada ruang untuk menyanggah. Semua yang dikatakan Nanase benar adanya.

Aku pikir Hikariri baik-baik saja. Tapi, itu hanyalah asumsi sepihakku.

Aku tidak tahu. Perasaan apa yang dia sembunyikan di balik sikap tegar itu.

"……Aku tahu kau tidak punya niat jahat. Aku pun mengkhawatirkan Motomiya-san. Wajar jika kau yang baik hati merasa khawatir…… tapi, tolong perhatikan juga Hikariri."

Nanase mengatakannya seolah sedang memohon.

"Aku mengerti. Terima kasih, Nanase. Karena sudah memberitahuku."

Sebagai pacar, aku harus mengutamakan Hikariri di atas segalanya.

Itulah tanggung jawab sebagai seorang pacar. Akhirnya, aku mulai menyadari betapa beratnya kata "pacar" itu.

■(Motomiya Miori

――Kelas telah menjadi musuhku.

Itu adalah hukuman yang setimpal. Bahkan teman-temanku yang tadinya akrab pun tidak ada yang menyapa.

Saat aku duduk diam di kursi, aku merasakan banyak pasang mata tertuju padaku.

Sensasi seolah kulitku tertusuk itu sangat tidak menyenangkan, tapi aku tidak punya pilihan selain menahannya.

Karena aku tidak punya bantalan apa pun untuk disanggah.

"Oh, ternyata Motomiya. Datang juga ke sekolah."

Seseorang menyapaku dengan senyum tipis.

Tentu saja, dia bukan pihak yang berpihak padaku. Suaranya yang terdengar mengejek menceritakan segalanya.

"……Ada apa, ya? Hasegawa-san."

"Karena kau absen cukup lama, aku jadi khawatir, apa terjadi sesuatu padamu. Iya, kan?"

Mendengar kata-kata Hasegawa-san, para cewek yang mengerubunginya pun setuju.

"Kalau soal kondisi tubuh, aku sudah tidak apa-apa."

Sebenarnya aku tidak kena flu, tapi aku tidak punya pilihan selain mengatakan itu.

Jika aku bilang kakiku gemetar tidak bisa bergerak…… pasti tidak ada yang akan mempercayainya.

Lagipula, aku tidak ingin terlalu banyak bicara karena takut dianggap sedang bersikap seperti korban.

"Ah, ngomong-ngomong, karena ada gosip aneh yang beredar tentang Motomiya, aku hanya ingin mengonfirmasi faktanya. Lagipula ini cuma gosip, aku tidak percaya sih, tapi sekadar konfirmasi ya?"

Sambil tertawa cekikikan bersama cewek-cewek pengikutnya, Hasegawa-san bertanya padaku.

Dengan suara yang sengaja dibesarkan agar terdengar oleh orang-orang di sekitar yang sedang memperhatikan kami.

"Apakah benar cerita kalau kau berselingkuh dengan Haihara-kun padahal kau pacaran dengan Reita-kun?"

……Bagaimana ini? Sulit untuk menjawabnya.

Isi pertanyaan yang diajukan sedikit berbeda dari yang kubayangkan.

Jika aku mengangguk pada pertanyaan ini, itu akan menyusahkan Natsuki.

"Itu tidak benar…"

"Eh? Tapi katanya ada yang melihat langsung? Kamu memeluk Haibara-kun."

Aku tahu rumor selalu bertambah ekornya.

Tapi arah rumor ini harus kuingkari.

Kalau hanya aku yang disalahkan, aku terima. Tapi aku tidak mau Natsuki ikut kena getahnya.

"Err, aku——"

"——Miori, boleh bicara sebentar?"

Suara yang seharusnya tidak terdengar di kelas ini tiba-tiba terdengar.

Reita-kun dari kelas dua membuka pintu dan mendekat ke arah kami.

Di belakangnya, Serika berdiri. Mungkin Serika yang memanggilnya…?

Kelas langsung ramai. Perhatian semakin tertuju ke sini.

"Aku khawatir sekali. Katanya kamu demam tinggi dan istirahat beberapa hari."

Sepertinya dia sengaja. Nada Reita-kun terdengar seperti sedang berakting, suaranya jelas terdengar ke seluruh kelas. Sikapnya yang seperti itu justru sangat pas.

"Sepertinya ada rumor tidak berdasar yang beredar tentang kamu. Meski hanya rumor biasa, sebaiknya kita bantah sebelum semakin menyebar. Aku sendiri tahu yang sebenarnya."

Reita-kun berkata sambil tersenyum lembut.

Meski tersenyum, ada kekuatan aneh di balik senyum itu.

Hasegawa-san yang kelihatan tertekan oleh aura Reita-kun ikut menyela.

"Apa… maksudmu? Memang ada yang melihat, tapi kamu bilang itu bohong?"

"Bukan begitu. Yang dilihat sebagai pelukan itu sebenarnya Miori hampir jatuh, dan Natsuki hanya menangkapnya dengan cepat. Hanya itu."

Reita-kun menghentikan kata-katanya, lalu berbicara pada seorang gadis di belakang kelas.

"——Benar kan, Minase-san?"

Dia adalah orang yang mengaku melihat aku dan Natsuki berpelukan.

Minase-san tampak tegang dan menjawab dengan ragu-ragu.

"Ya, iya… Aku hanya melihat dari jauh, jadi awalnya aku pikir itu pelukan. Tapi kalau dipikir lagi, sepertinya dia hanya tersandung dan hampir jatuh."

…Minase-san bukan tipe yang bisa bicara selancar ini kalau tiba-tiba ditanya.

Ini pasti sudah diatur Reita-kun sejak awal.

"…Kamu percaya itu, Reita-kun? Mungkin kamu cuma dibohongi Miori?"

Hasegawa-san menatap Reita-kun dengan ekspresi garang sambil membantah.

"Aku lebih percaya Miori daripada sekadar rumor."

Reita-kun tersenyum tipis sambil mengatakannya.

"Err, Reita-kun. Aku——"

"——Kamu tidak mau memberi masalah pada Natsuki, kan?"

Reita-kun berbisik di telingaku saat aku mencoba menghentikan alur ini.

"Kalau begitu, ini jalan terbaik. Jangan coba-coba menerima hukuman dengan cara aneh."

…Dia tahu persis bahwa dengan cara bicara seperti ini, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

Memang benar, mungkin ini yang terbaik.

Sulit hanya mengakui sebagian dari rumor.

Nanti pasti akan bertambah ekornya. Jadi menyangkal semuanya memang lebih efektif.

"Lagi pula, ini cuma kejadian kecil, tapi kok rumornya malah bercampur dengan hal lain? Katanya Miori juga main dengan cowok senior klub basket… Padahal itu nggak benar, kan? Sungguh. Siapa sih yang nyebarin? Menurutku nggak bagus. Nyebarin kebohongan seenaknya saat orang lagi istirahat, itu jelek."

Serika berkata dengan nada malas seperti biasa.

Meski bertanya siapa yang memulai, matanya terus tertuju pada Hasegawa-san.

Meski tidak menyebut nama, jelas sekali siapa yang dimaksud.

"Mungkin karena cemburu ya? Karena Miori pacaran sama Reita-kun."

Kata-kata Serika yang penuh ejekan bergema di seluruh kelas.

Hasegawa-san berkata "Na…!" sambil wajahnya memerah, tapi tidak bisa membalas.

Kalau dia membantah, itu sama saja mengakui bahwa dialah yang menyebarkan rumor.

Aku bisa merasakan suasana kelas mulai berubah.

"Apaan sih, bikin orang takut aja."

"Yah, aku sih dari awal sudah menduga begitu."

"Ah, nggak adil. Kalau begitu aku juga. Pokoknya Motomiya bukan tipe kayak gitu."

"Karena Shirotori-kun yang membelanya, berarti memang bohong ya?"

"Iya dong? Kalau beneran selingkuh, nggak mungkin dibela."

"Jadi semuanya bohong? Kalau gitu jahat banget ya. Pas Motomiya-san lagi istirahat pula."

Suasana yang tadinya memusuhiku mulai berubah.

Tepat pada saat itu, seolah sudah dihitung, bel masuk berbunyi.

"Oops, aku harus pergi dulu. Sampai jumpa, Miori."

Reita-kun mengangkat bahu dengan sikap dramatis, lalu keluar dari kelas satu.

Hasegawa-san dan teman-temannya pergi dari depanku dengan wajah tidak nyaman.

…Padahal aku tidak keberatan kalau disalahkan. Rasanya seperti ditampar angin.

"Menyalahkan orang yang memang ingin disalahkan itu nggak akan jadi hukuman, kan?"

Serika meletakkan tangannya pelan di bahuku. Memang benar juga.

"Yah begitulah," Serika menghela napas sambil berbisik.

"Terus terang, menurutku kamu nggak perlu terlalu memikirkannya. Memeluk sedikit kan hal biasa. Aku sendiri setelah live selesai langsung memeluk Natsuki sekuat tenaga."

"…Nggak bisa. Karena beda dengan kamu, aku memeluknya dengan perasaan seperti itu."

Lagipula saat Serika memeluk Natsuki, dia belum pacaran dengan Hikari-chan.

"Begitu ya… Kalau kamu sudah mengerti, introspeksi yang benar. Sendiri."

Serika menepuk punggungku pelan, jadi aku mengangguk. Kebaikan semua orang terasa hangat.

Di tengah suasana yang sudah kembali normal, pelajaran pertama dimulai.

Sepanjang pelajaran masih agak ramai, tapi aku tidak merasakan tatapan yang tidak enak.

Setelah pelajaran selesai dengan pikiran melayang, teman-teman dekatku mendekat.

"Maaf ya, Miori. Aku sempat curiga."

Tidak perlu minta maaf. Karena itu memang benar adanya.

——Tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Itu akan membuat usaha Reita dan Serika sia-sia.

Aku hanya bisa menjadikan kejadian hari itu sebagai kebohongan.

"Tidak apa-apa. Memang situasinya membuat orang mudah curiga, itu fakta."

Jadi aku menjawab sambil tersenyum kering.

Bahkan di antara teman dekat sekalipun, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

"Tapi serius, nggak kesal? Mereka itu asal nyebarin aja."

Salah satu temanku melirik tajam ke arah kelompok Hasegawa-san.

"Iya. Meski benci, tapi segitunya juga nggak masuk akal? Bahaya banget."

Teman yang lain sengaja bicara cukup keras agar kelompok Hasegawa-san mendengar.

Aku bisa merasakan kelas kembali ramai dengan jelas.

…Ini bukan arah yang bagus. Aku tidak ingin menyalahkan Hasegawa-san dan yang lain.

Tapi aku sendirian tidak bisa mengubah suasana kelas. Tatapan yang tadinya ke arahku sekarang beralih ke mereka. Hasegawa-san bersedekap dengan sikap keras kepala, tapi kelihatan tidak nyaman. Teman-teman pengikutnya juga tampak bingung harus bagaimana.

"Ini karma mereka sendiri. Mereka yang nyebarin kebohongan seenaknya, jadi nggak usah dipikirin."

Serika berbisik di telingaku.

…Tapi aku juga sama-sama berbohong. Aku yang salah, tapi malah dibela.

Di tengah suasana yang canggung itu, Uta muncul di depan kelas satu.

"Miorin!"

Dia melambai dari luar kelas, lalu Serika memanggilnya masuk.

Uta langsung berlari ke arahku dengan penuh semangat dan memelukku erat.

"Aku khawatir banget! Kamu nggak bisa dihubungi sama sekali!"

Tadinya dia kelihatan senang, tapi sekarang dia cemberut sambil marah. Ekspresinya memang selalu kaya.

"…Maaf. Soalnya aku… tidur terus."

Karena lama tidak bicara dengan Uta, bibirku tanpa sadar melengkung.

"Tapi syukurlah! Rumor buruknya juga sudah selesai, kan!?"

Uta bertanya dengan senyum cerah. Aku mengangguk.

Entah benar-benar selesai atau tidak, setidaknya di permukaan sudah beres.

Reita-kun telah menyelamatkanku dengan sempurna. Begitu sempurna hingga aku tidak bisa membantah.

"Tapi rumornya benar-benar kejam ya!"

Uta mendengus kesal dan menunjukkan kemarahannya dengan jelas.

Aku mendapat firasat buruk. Aku tidak ingin mendengarnya.

Tapi sebelum aku sempat menutup telinga, kata-kata Uta sudah terdengar.

"Miorin nggak mungkin melakukan hal seperti itu! Aku tahu itu!"




Rasanya napasku nyaris berhenti.

Kepercayaan Uta yang begitu polos terasa sangat menyakitkan. Hatiku seakan koyak menjadi berkeping-keping.

Aku tidak pantas berada di sini. Aku bukanlah sosok orang baik seperti yang Uta percayai.

"Benar, 'kan? Miori tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Dia 'kan gadis yang baik."

"Lagi pula, tidak ada alasan sama sekali bagi dia untuk mencampakkan Reita-kun dan berselingkuh, 'kan?"

Semua orang di sana mengangguk setuju. ……Kecuali Serika.

"Lagipula Miori 'kan berteman baik dengan Hoshimiya-san. Dia tidak mungkin merebut pacar temannya sendiri."

"Betul banget! Aku sudah tahu kalau Miorin suka sama Reita jauh sebelum mereka berdua pacaran!"

"Natsu selalu bilang kalau mereka cuma teman masa kecil yang kebetulan sering apes bareng!"

Di saat semua orang tertawa bersama, hanya aku yang membeku dalam keheningan.

Aku sama sekali tidak tahu apakah aku sudah berhasil mengelabui mereka dengan baik atau tidak.

"Kuharap dengan begini, rumornya bisa sedikit mereda."

Reita membuka suara dengan ekspresi yang tampak agak lega.

Saat itu jam istahat makan siang. Kami sengaja mencari tempat yang sepi dan pergi ke atap sekolah.

Sebab, ini bukan jenis obrolan yang pantas didengar oleh orang lain.

Anggota yang berkumpul adalah aku, Reita, Tatsuya, Nanase, Hikari, dan Uta. Formasi enam orang seperti biasanya.

"Hebat banget kamu, Shiratori-kun."

"Aku juga dengar aksi kerenmu di koridor tadi, Reita-kun. Keren banget, lho!"

Hikari bertepuk tangan sambil memuji Reita.

……Mendengar kata 'keren' itu, entah kenapa ada sedikit rasa mengganjal di hatiku.

Sempit sekali pikiranku ini. Agar tidak terbaca di wajah, aku hanya mengangguk setuju.

"Sempurna banget. Kamu sudah merencanakan itu sebelumnya, ya?"

Aku bertanya pada Reita. Sama seperti Hikari, aku juga mendengar kejadian di koridor tadi.

Langkah yang diambil Reita benar-benar sempurna. Bahkan tidak bisa lebih baik lagi dari itu.

"Aku berdiskusi dengan Serika, lalu meminta Minase-san—orang yang melihat Natsuki dan yang lain—untuk datang."

"Tampaknya dia sendiri tidak menyangka masalahnya bakal jadi sebesar ini, jadi dia mau bekerja sama dengan sukarela."

Miori sudah datang ke sekolah, dan rumor buruk tentangnya pun sudah hilang. Kurasa masalah ini sudah selesai.

……Namun, rasa tidak nyaman yang janggal ini apa? Apakah boleh membiarkannya berakhir begitu saja seperti ini?

Apakah ada sesuatu yang terlewat olehku?

"Hasegawa bukan namanya? Mereka sampai tidak bisa berkata-kata lagi tadi. Sukurin."

"Ahaha! Setelah itu mereka juga kelihatan salah tingkah banget, rasanya agak puas ya!"

"Karena mereka sudah berbuat buruk, wajar saja kalau menerima hukuman setimpal."

Obrolan mengalir dengan akrab dan menyenangkan.

Hikari dan yang lain memakan bekal mereka, sementara aku dan Tatsuya menyantap roti yang kami beli di kantin.

"……Natsuki-kun, kamu kenapa?"

Hikari menatapku dengan cemas karena sejak tadi aku hanya terdiam.

……Tidak boleh begini. Sekarang, aku harus fokus pada obrolan di sini.

Bagaimanapun, aku adalah kekasih Hikari.

"Ah, tidak apa-apa kok. Aku cuma berpikir kalau telur dadar gulung itu kelihatan enak banget."

"……Mau coba satu suap? Tapi ini bukan buatanku, melainkan buatan Ibuku."

"Eh, boleh? Kalau begitu, aku minta ya."

Seketika itu juga, Hikari menjepit telur gulung tersebut dengan sumpitnya dan mengarahkannya ke mulutku.

"Ayo, aa~n."

"Eh…… tapi ini 'kan di depan semua orang?"

Apa kamu tidak malu? Pikirku dalam hati.

Namun, wajah Hikari sendiri sebenarnya sudah memerah.

Semua orang melihat kami sambil senyam-senyum sendiri.

"Sudahlah, cepat makan saja," sahut Tatsuya.

Ah, sudahlah, masa bodoh. Aku pun langsung menyantap telur gulung yang disodorkan itu.

Rasanya memang enak. Ibu Hikari memang hebat.

Eh? Tunggu dulu, bukankah ini berarti ciuman tidak langsung……

Ah, tidak, tidak, kami 'kan sepasang kekasih. Kenapa baru sekarang aku memikirkan hal seperti itu?

Ya, walaupun kami memang belum pernah berciuman, sih……

"Mesra banget ya, kalian berdua~"

Uta menggoda kami dengan nada suara yang terdengar riang.

"Ahaha, aku cuma ingin mencobanya sekali-kali," balas Hikari sambil tertawa malu-malu.

Nanase menatapku dengan pandangan dingin.

Aku tahu. Tanpa perlu diberi tahu pun, aku sangat paham.

Bermesraan di depan semua orang—apalagi di hadapan Uta yang hubungannya masih canggung denganku—bukanlah gaya Hikari yang biasanya.

Yah, meski Uta sendiri tampaknya sudah benar-benar melupakan masa lalu, tapi lupakan soal itu.

Kami hanya berusaha bersikap seperti biasa di depan teman-teman yang lain.

Ini adalah kesepakatan tidak tertulis di antara kami yang hampir menghancurkan pertemanan kelompok ini karena masalah percintaan—seharusnya begitu.

"Natsuki-kun, mau makan yang ini juga?"

"Tidak, terima kasih. Perutku sudah kenyang kok."

——Saat ini Hikari tampak normal di permukaan, tetapi dia hanya berfokus kepadaku.

Aku tahu alasannya. Dia merasa cemas karena perhatianku teralihkan oleh masalah Miori.

Aku menggelengkan kepala pelan, mencoba mengusir sosok Miori dari pikiranku untuk kali ini.

"……Hikari."

Demi memenuhi kewajibanku sebagai seorang kekasih.

"Ya? Ada apa?"

"……Hari ini kita pulang bareng, yuk. Sambil jalan-jalan sebentar."

Aku membisikkan kata-kata itu ke telinga Hikari agar tidak terdengar oleh yang lain.

"Iya!"

Hikari mengangguk mantap dengan senyuman yang begitu cerah.

Senyumannya seakan membuat suasana di sekitar terasa lebih berwarna.

——Begini saja sudah cukup. Aku yang sekarang tidak perlu memikirkan hal lain lagi.

Miori Motomiya

Glang!

Bunyi ember yang menghantam tanah bergema nyaring.

Pandanganku buram. Tetesan air perlahan mengalir membasahi tubuhku.

Seluruh badanku basah kuyup. Angin musim gugur yang berembus membuat tubuhku yang mendingin gemetar karena kedinginan.

Saat aku mendongak, Hasegawa-san yang baru saja menyiramku dengan air sedang menatapku dengan wajah semerah iblis.

"Kenapa…… kenapa harus aku yang disalahkan!?"

Kerah bajuku dicengkeram kuat. Tubuhku ditarik paksa mendekat hingga napasku terasa sesak.

Wajah Hasegawa-san berada tepat di depan mataku. Aku bisa merasakan niat membunuh, alih-alih sekadar rasa permusuhan.

Orang ini benar-benar membenciku. Emosi yang tersalurkan lewat cengkeraman tangannya di kerah bajuku terasa begitu mengerikan.

"Yang berbohong itu bukan aku, tapi kamu, 'kan!?"

Suara pekikan melengkingnya menusuk indra pendengaranku.

Apa yang dikatakannya sama sekali tidak salah. Memang akulah yang berbohong di sini.

"……Maaf."

Hanya kata maaf yang bisa kuucapkan.

Karena sekarang, semuanya sudah terlambat untuk dihentikan.

Bahkan jika aku meneriakkan kebenaran saat ini, hal itu hanya akan merepotkan Reita-kun dan Natsuki.

Plak! Bunyi tamparan keras bergema.

Rasa sakit yang menyengat membuatku terlempar, dan tahu-tahu aku sudah tersungkur di atas tanah.

Pipiku terasa berdenyut nyeri. Pandanganku berkunang-kunang, mungkin karena kepalaku terbentur saat jatuh tadi.

"Kenapa kamu yang berselingkuh malah dibela sama Reita-kun!?"

Tetesan air mata mulai jatuh membasahi tanah. Air mata itu bukan milikku, melainkan milik Hasegawa-san yang sedang menangis.

——Hari turnamen olahraga.

Setelah Natsuki dan timnya menyelesaikan pertandingan final, Hasegawa-san memanggilku untuk menemuinya.




Di sana ada Hasegawa-san, siswi-siswi yang menjadi pengikutnya, dan juga Minase-san.

Dikelilingi oleh kelompok siswi yang tampak mencolok itu, Minase-san yang pendiam terlihat sangat tidak nyaman.

"Anak ini yang melihatnya langsung. Waktu kamu memeluk Haibara-kun."

Dua orang pengikutnya menyeringai licik, tetapi Hasegawa-san justru tampak sangat marah.

"Hei, Minase? Kamu benar-benar melihatnya, 'kan?"

Begitu namanya dipanggil, bahu Minase-san gemetar karena terkejut. Dia pun membuka suara dengan ketakutan.

"……B-Bagiku, kejadiannya memang terlihat seperti itu…… Maaf."

"……Apakah itu, jangan-jangan, di taman yang ada di sebelah selatan sekolah?"

Saat aku bertanya, Minase-san mengangguk pelan.

……Ah, begitu ya. Ternyata kejadian saat itu sempat terlihat olehnya.

"Melihat reaksimu, kabar itu memang benar, ya."

Hasegawa-san langsung menyudutkanku dengan tajam. Aku tidak memiliki celah sedikit pun untuk membantahnya.

"Kamu 'kan pacaran dengan Reita-kun? Kalau begitu, bukankah ini namanya selingkuh?"

Hasegawa-san mengarahkan pandangan matanya yang penuh amarah kepadaku.

"……Benar. Kurasa memang begitu."

"……Apa-apan itu? Kamu bahkan tidak berniat membela diri?"

Melihatku yang hanya terdiam, tatapan mata Hasegawa-san menjadi semakin tajam menusuk.

"……Aku tidak akan memaafkanmu. Kamu sudah mempermainkan perasaan Reita-kun, kamu benar-benar menjijikkan."

Hasegawa-san memiliki perasaan suka terhadap Reita-kun. Aku sudah mengetahui hal itu sejak lama.

"——Aku pasti akan membuatmu membayar semua ini."

Ekspresinya yang campur aduk antara amarah dan tangis yang hampir pecah, menunjukkan betapa besarnya rasa cinta gadis itu.

Hasegawa-san mengarahkan tatapan mata yang penuh kekecewaan mendalam kepadaku, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Baru pada saat itulah aku menyadari betapa besarnya dosa yang telah kuperbuat.

"Maaf, kan aku…… Aku tidak bermaksud menyebarkannya…… Maafkan aku……"

Di hadapanku, Minase-san terus-menerus membungkuk untuk meminta maaf.

"……Jangan dipikirkan. Ini semua salahku. Jadi, kamu tidak perlu meminta maaf."

Aku sudah bersikap tidak jujur pada segalanya. Apa pun yang kukatakan sekarang, hanya akan terdengar seperti alasan belaka.

——Sejak hari berikutnya, langkah kakiku tidak lagi tertuju ke sekolah.

Bukan karena kondisiku sedang memburuk. Bukan juga karena aku takut pada kata-kata Hasegawa-san.

Itu karena aku sadar bahwa diriku adalah manusia paling bajingan. Aku merasa tidak memiliki urusan lagi untuk hidup.

Karena itu, aku bahkan tidak memiliki gairah untuk pergi ke sekolah. Aku berpikir mungkin akan lebih baik bagi dunia jika aku mati saja sekalian.

Aku mengetahui bahwa rumor buruk tentangku telah menyebar luas melalui pesan RINE dari Serika.

Beberapa pesan RINE dari teman-teman yang mencemaskan kondisi kesehatanku berdatangan silih berganti.

……Padahal aku bukanlah sosok manusia yang pantas untuk dikhawatirkan oleh mereka semua.

Natsuki datang ke rumahku. Aku juga sempat berpapasan dengan Reita-kun.

Aku sudah membeberkan dosaku pada mereka. Dua orang yang baik hati itu memaafkanku, padahal aku ingin mereka menghujatku.

Aku ingin mereka memberiku hukuman. Sama seperti yang dilakukan oleh Hasegawa-san dan yang lainnya.

Aku tidak peduli seberapa buruk rumor yang beredar tentang diriku di sekolah.

Kurasa hal itu jauh lebih baik daripada dimaafkan begitu saja tanpa menerima balasan apa pun.

——Namun, sekarang.

Orang yang menangis saat ini bukanlah aku, melainkan Hasegawa-san.

Orang yang sedang berbohong saat ini bukanlah Hasegawa-san, melainkan aku.

Akulah yang sudah merepotkan semua orang, tetapi aku jugalah yang dilindungi oleh mereka semua.

"Kalau begitu, ini adalah jalan terbaik. Lebih baik kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menerima hukuman."

Bahkan Reita-kun yang seharusnya menjadi pihak paling terluka akibat perbuatanku, justru memilih untuk melindungiku.

"Karena aku tahu kalau Miorin tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!"

Mulai sekarang, aku harus terus membohongi teman-teman yang mempercayai diriku yang menjijikkan ini.

Kebaikan hati semua orang terasa jauh lebih menyiksa daripada apa pun. Rasanya aku hampir hancur oleh rasa bersalah yang teramat sangat.

"Mati saja sana……"

Hasegawa-san bergumam lirih dengan suara pelan.

Sembari mencengkeram kerah bajuku dengan tangannya yang terasa lemah.

"——Mati saja! Dasar perempuan sampah! Perempuan sepertimu, lebih baik lenyap saja dari dunia ini!"

Suara kutukan yang begitu penuh dendam seakan bergema dari dasar bumi, merasuk hingga ke dalam lubuk hatiku.

……Apa yang dikatakan Hasegawa-san memang benar.

Manusia sepertiku, memang lebih baik lenyap saja.

Setidaknya, aku sudah tidak bisa lagi berada di sisi semua orang.

Diriku yang sekarang sudah tidak memiliki hak lagi untuk bersama dengan Natsuki dan yang lainnya.

Aku memang tidak berada di posisi yang pantas untuk mengatakan ini, tetapi aku merasa sedikit terselamatkan.

"Iya…… Aku mengerti."

Namun, untuk saat ini aku masih belum bisa lenyap begitu saja.

Karena ada seseorang yang ingin kutemui untuk menyampaikan permintaan maaf terakhirku.

Sampai aku bisa bertemu dengan orang itu, aku masih belum bisa……

"——Apa yang sedang kalian lakukan?"

Suara yang terdengar bagai bisikan karena saking terkejutnya, mendadak terdengar dari arah belakang.

Saat aku langsung menoleh seketika, sosok yang berdiri di sana adalah gadis yang selama ini sedang kucari.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close