Chapter 2
Kewajiban sebagai Pacar
Sehari setelah
aku pergi ke rumah Miori.
Saat aku mencoba
menghubungi Serika, sepertinya hari ini Miori masih izin tidak masuk sekolah.
Dengan ini, sudah
satu minggu dia absen.
……Apakah dia
berniat untuk tidak masuk sekolah lagi mulai sekarang?
Saat kami bicara
kemarin, suara Miori bergetar hebat.
Aku rasa
dia benar-benar sedang terjebak dalam pemikiran yang menghukum diri sendiri.
Aku khawatir. Aku
ingin melakukan sesuatu, tapi…… saat itu, aku tidak menemukan kata-kata yang
tepat untuk diucapkan.
"Natsuki,
bisa bicara sebentar?"
Saat aku sedang
melamun, Tatsuya memanggilku.
"Ada
apa?"
Bagi Tatsuya,
wajahnya terlihat sangat serius, tidak seperti biasanya.
"Ayo
bicara di luar sebentar."
Aku
mengikuti langkah Tatsuya yang berjalan setelah menunjuk ke arah balkon.
Karena
tadi aku terlalu tenggelam dalam pikiran, aku baru sadar sekarang bahwa aku
merasakan tatapan yang berbeda dari biasanya.
Karena itu, aku
langsung tahu apa tujuannya.
"Ada
gosip aneh yang beredar tentang Motomiya."
Di
balkon, Tatsuya memulai pembicaraan sambil menyandarkan lengannya pada pagar
pembatas.
Di balkon
yang sempit itu, Reita juga berdiri sambil melipat tangan. Jarang sekali,
ekspresinya terlihat begitu suram.
"Sepertinya
penyebar gosip itu adalah gerombolan cewek dari kelas 1…… Apa kau mendengar
sesuatu?"
Terhadap
pertanyaan Tatsuya, aku menjelaskan kejadian yang terjadi kemarin.
Mulai
dari saat aku tahu keberadaan gosip itu, mendengar cerita dari Serika dan
Hikariri, hingga perjalananku mengunjungi rumah Miori.
"Begitu rupanya…… yah, pada akhirnya itu hanyalah gosip
yang tidak berdasar, kan?"
Tatsuya berkata demikian, lalu menghela napas dengan
ekspresi yang terlihat sangat terganggu.
"Ya, seperti yang kukatakan tadi, hanya ada insiden
yang mungkin terlihat seperti itu saja."
――Meski sebenarnya, itu bukan "insiden". Tapi, aku
tidak bisa mengungkapnya sekarang.
Jika aku menjelaskan hal itu, aku juga harus menyinggung
perasaan Miori.
Terlebih
lagi, di depanku ada Reita. Aku
ragu untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin secara sembarangan.
Reita yang
mendengar ceritaku pun tidak berkata apa-apa.
Dia terus
menatap langit yang mendung.
"Uta
sedang murung."
Tatsuya
bergumam seolah merasa frustrasi.
Mengikuti
arah pandang Tatsuya, aku melihat ke dalam ruang kelas melalui jendela.
Uta, yang
biasanya ceria, kini sedang duduk di kursinya sambil menatap papan tulis.
"Kalau
gosip itu sudah sampai ke telingaku, tentu saja Uta dan yang lainnya pasti
sudah tahu."
……Yah,
gosip itu dimulai dari kelompok cewek kelas 1.
Sangat
wajar jika gosip itu tersebar di kalangan cewek lebih dulu sebelum sampai ke
cowok kelas 2.
"Benar juga…… apalagi Uta satu klub basket putri dengan
Miori."
"……Sahabatnya
di klub yang sama sudah absen selama satu minggu. Kurasa dia pasti sudah
mencari tahu sendiri apa alasannya. Hasilnya, dia jadi tidak bisa berkata
apa-apa dan sekarang berakhir murung seperti itu."
Orang yang
akhirnya membuka suara adalah Reita.
"Itu Uta.
Seharusnya, dia akan membuat keributan besar jika Miori absen selama ini.
Alasan dia tidak melakukannya adalah karena gosip yang diduga menjadi penyebab
Miori absen itu, ada hubungannya dengan kita."
"Dia pasti
khawatir, tapi karena topiknya terlalu sensitif, dia tidak bisa membahasnya
secara sembarangan. Mungkin itulah yang terjadi."
Seperti biasa, dia sangat jeli memperhatikan orang lain.
"Apakah
belum ada cara untuk menghubungi Motomiya?"
"Begitulah.
Setelah dia bilang 'Maafkan aku, aku tidak apa-apa', tidak ada respons lagi
darinya."
"Kalau
Natsuki sendiri yang pergi menemuinya dan tidak berhasil, mungkin masalahnya
cukup serius."
Tatsuya
mengerang dengan wajah yang tampak kesulitan.
"Aku sudah
bertanya pada Serika dan Uta, tapi sepertinya mereka semua tidak bisa
menghubunginya. Gosip itu justru menyebar semakin cepat karena Miori terus
absen. Aku sudah berusaha menghentikannya semampuku, tapi itu agak sulit."
Ternyata benar
begitu, ya.
Serika juga
mengatakan hal yang hampir sama.
"Apa tidak
ada yang bisa kita lakukan? Pada akhirnya, itu semua cuma bohong, kan?"
Tatsuya
memasang ekspresi tidak senang sambil menggeretakkan kepalan tangannya. Mau apa
dia sebenarnya?
"Gosip
yang disebarkan dengan niat jahat itu sulit dihentikan."
Reita
menyampaikan kesimpulannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Aku,
Natsuki, dan Hoshimiya-san bisa dibilang adalah pihak yang terlibat. Kalau kami
yang menyanggah, hal itu justru akan terlihat seolah-olah kami sedang membela
Miori. Pihak yang menyebarkan gosip itu pasti akan memanfaatkan hal tersebut.
Saat ini, gosip itu terus ditambah-tambah dengan cerita bohong. Cerita
yang hanya bertujuan untuk menjatuhkan Miori…… yang bahkan sudah tidak sanggup
untuk didengar."
"Sebenarnya
apa yang mereka inginkan? Apa mereka benci pada Motomiya?"
Menjawab
pertanyaan Tatsuya yang tampak tidak mengerti, aku menyampaikan apa yang
kudengar sebelumnya.
"Menurut
cerita Serika, sepertinya ada kelompok cewek yang berselisih dengan Miori.
Kemungkinan besar, merekalah yang menyebarkannya. Terutama, dia bilang ada
orang bernama Hasegawa yang membenci Miori."
Saat aku
menyebutkan nama Hasegawa, ekspresi Reita meredup.
"……Ternyata
benar, itu Yoko."
"Kau kenal
dia?"
"Satu SMP
denganku. Dulu, pernah ada sesuatu."
Melihat wajah
Reita yang tampak sedih, Tatsuya memasang ekspresi tampak terganggu,
"Ah……"
"Kalau itu
Hasegawa, kenapa tidak kau saja yang bicara langsung padanya?"
"Kurasa itu
tidak akan berjalan semudah itu. Mungkin di permukaan dia bisa dibujuk,
tapi……"
Reita kemudian
terdiam, tampak tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
"……Maaf,
Reita. Ini gara-gara aku."
Aku tidak bisa
menahan diri untuk tidak meminta maaf.
Akulah penyebab
masalah ini terjadi.
"Bukan
salahmu kok. Kalau ditelusuri dari awal…… ini salahku."
Reita bergumam
seolah menyesali sesuatu, lalu menggelengkan kepalanya pelan seolah sedang
mencoba untuk beralih dari pikiran itu.
……Salah dia? Apa
maksudnya itu……? Sebelum aku sempat bertanya, Reita membuat pernyataan.
"Aku akan
pergi ke rumah Miori. Untuk permulaan, aku akan mulai dari sana."
Secara kebetulan,
keputusan yang dicapai Reita sama dengan keputusanku kemarin.
Aku pulang dengan
tangan hampa karena tidak bisa melakukan apa pun, tapi mungkin jika Reita yang
pergi, dia bisa melakukan sesuatu.
……Walaupun
perasaan Miori saat ini tertuju padaku.
Karena fakta
bahwa pacarnya adalah Reita, seharusnya tidak berubah.
■(Shiratori Reita)
Saat mendengar
gosip itu, aku punya firasat buruk.
Mengetahui Miori
absen, dugaan terburuk pun bermunculan di dalam kepalaku.
Jujur saja, aku
tidak ingin dugaan itu benar. Namun, dugaanku jarang sekali meleset.
Saat aku membuat
kontrak kekasih bersyarat dengan Miori, sejak awal aku sudah sadar akan risiko
yang dikandung oleh kontrak ini.
Apapun keadaan di
dalamnya, bagi dunia luar, aku dan Miori terlihat seperti sedang berpacaran.
Hanya aku yang
tahu bahwa Miori menyukai Natsuki. Hanya aku yang bilang bahwa aku tidak akan
menyalahkannya meski dia bersama Natsuki.
Orang-orang
di sekitar kita tidak berpikir seperti itu berdasarkan norma umum.
Jika
Miori yang berpacaran denganku terlihat bersama Natsuki, tentu orang-orang
tidak akan memiliki kesan yang baik.
Jika
Miori tidak bisa menahan perasaannya dan melakukan sesuatu, wajar jika
orang-orang di sekitar menganggap itu sebagai perselingkuhan.
Karena
secara normal, tidak mungkin ada pacar yang membiarkan hal seperti itu terjadi.
――Harus kuakui,
tekanan dari orang-orang sekitar itu juga merupakan salah satu tujuanku.
Meski aku
membiarkannya, perasaan melihat orang yang kusukai bersama orang lain bukanlah
hal yang menyenangkan.
Hasil dari
pemikiran picikku inilah yang ada di sini sekarang.
Hasil dari
tindakan gegabahku yang memaksa Miori, mengikatnya dengan kontrak kekasih
bersyarat, dan berpura-pura keren dengan berpikir bahwa suatu saat nanti aku
akan membuatnya menoleh padaku.
Padahal sejak
awal aku sudah tahu bahwa kontrak ini hanya akan menyiksa Miori.
Sambil diliputi
rasa penyesalan, aku berjalan menuju arah rumah Miori.
Walaupun aku
belum pernah masuk ke rumahnya, dia pernah menunjukkanku daerah sekitar sini.
Jadi, aku tahu di mana rumahnya.
Karena kegiatan
klub sudah selesai, matahari pun sudah terbenam.
Aku menyusuri
jalanan gelap yang minim lampu jalan. Tidak ada orang, hanya ada mobil yang sesekali
lewat.
Aku tidak
perlu sampai ke rumah Miori.
Karena
aku melihat sosok Miori di taman yang terletak tidak jauh dari sana.
Aku
mendekati Miori yang duduk di bangku taman dengan tatapan kosong.
Taman itu sepi,
tidak ada siapa pun selain Miori. Hanya ada satu lampu jalan yang menyala.
Di bawah kakiku,
terdapat tumpukan daun kering. Tampaknya pohon-pohon di taman ini sudah
menggugurkan semua daunnya. Sungguh suasana yang dingin.
Mungkin menyadari
langkah kakiku, Miori yang tadinya menunduk mengangkat wajahnya. Dia mengubah
ekspresinya saat melihatku.
"……Reita-kun."
"……Miori.
Karena tidak ada balasan, aku datang untuk menemuimu."
Aku
berhenti tepat di depan Miori. Jika diperhatikan, Miori mengenakan seragam
sekolahnya.
Jangan-jangan,
dia berniat pergi ke sekolah? Tasnya pun tergeletak di sampingnya.
"Sejak kapan
kau di sini?"
Miori tidak
menjawab pertanyaanku. Napasnya terlihat putih di udara, dan tubuhnya sedikit
gemetar.
Untuk saat ini,
aku melepas jas almamaterku dan menyampirkannya ke bahu Miori.
Kemudian, aku
membeli teh hangat dari mesin penjual otomatis di dekat sana lalu duduk di
sampingnya.
Aku meraih tangan
Miori dan memaksanya untuk memegang botol teh itu.
"……Terima
kasih."
Miori menunduk
dengan perasaan bersalah, lalu meminum seteguk tehnya.
"……Hangat."
"Kalau kau
terus di tempat seperti ini, kau akan kedinginan. Sebaiknya kau pulang ke rumah, berendam di bak
mandi, lalu tidur dengan selimut tebal. Kau baru sembuh, kan? Bagaimana kalau
kau kena flu lagi?"
Tanpa sadar, nada
suaraku terdengar sedikit menyalahkan.
"Tidak
apa-apa. Lagipula, aku tidak sedang kena flu."
"……Meskipun
begitu, tetap saja."
Angin kering
mengusap rambut kami.
Harus mulai dari
mana bicaranya? Miori lah yang membuka suara lebih dulu, sebelum aku yang
sempat bimbang ini bisa memulai.
"……Aku punya
sesuatu yang harus kuakui padamu, Reita-kun."
"Soal gosip itu, aku sudah dengar. Aku juga tahu siapa
penyebarnya. Aku pasti akan
menghentikannya. Jadi――"
"――Tidak
perlu. Karena itu adalah fakta. Aku tidak punya bantalan apa pun."
Miori memotong
kata-kataku dan menegaskannya.
"Soal
kejadian yang memicu gosip itu, Natsuki bilang itu kecelakaan."
"Aku sengaja
memeluk Natsuki dengan alasan kakiku tersandung. Jadi, itu memang
disengaja."
……Aku sudah
mengantisipasinya. Aku bahkan sudah menduga kalau itu kenyataannya.
Namun, saat
mendengarnya langsung dari mulutnya sendiri, rasanya beban itu menghantam
hatiku dengan berat.
"Memeluknya,
sampai melakukan itu, semuanya adalah fakta. Hasegawa-san dan yang lainnya
hanya mengatakan yang sebenarnya, jadi mereka tidak salah apa pun. ……Yang
salah, hanya aku. Maafkan aku, karena telah mengkhianatimu."
"……Aku sudah
bilang kalau aku tidak keberatan kau terus menyukai Natsuki. Aku juga bilang
kau boleh tetap bersamanya. Jadi kau tidak perlu meminta maaf. Karena, kita
bukan sepasang kekasih dalam arti yang sesungguhnya."
"Meski
begitu, aku ingin bisa menyukaimu, Reita-kun, dan berperilaku layaknya sepasang
kekasih. Aku pikir, itulah kejujuran minimum yang harus kutunjukkan……
saat menjalin hubungan denganmu."
Tetapi, pada akhirnya, Miori bercerita bahwa dia kalah oleh
keinginannya sendiri.
"Aku ingin
bisa menyukaimu, Reita-kun…… tapi sepertinya aku tidak bisa."
"……Tidak
bisakah kau memberiku sedikit lebih banyak waktu lagi?"
Aku mengerti arah
pembicaraannya, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya seolah menolak
kenyataan.
"Daripada
wanita terburuk seperti aku, masih ada orang lain yang jauh lebih pantas
untukmu, Reita-kun."
Miori
menggelengkan kepalanya perlahan. Di sudut matanya, air mata mulai menggenang.
"Jadi,
tolong maafkan aku. Tolong, putuskan hubungan denganku."
Air mata
yang menetes di pipinya jatuh ke tanah satu per satu.
Sepertinya
tidak ada ruang untuk membujuknya. Mau bagaimana lagi. Sejak awal, seharusnya
memang begini akhirnya. Akulah yang membelokkan hubungan yang seharusnya
berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan setelah situasi menjadi seperti ini, aku
tidak sanggup untuk terus melanjutkannya.
Setelah menghela
napas panjang, aku mengangguk pelan.
"……Apakah
kau bisa masuk sekolah?"
"Besok,
aku berniat untuk masuk seperti biasa. Aku tidak bisa terus-terusan absen seperti ini."
Mungkin hari ini
pun dia berniat untuk masuk.
Namun, kakinya
tidak bisa melangkah dan dia berakhir di sini. Mungkin, kemarin pun begitu.
Miori menderita
luka mental yang cukup dalam. Aku bisa melihatnya hanya dengan menatapnya.
……Tapi,
sepertinya aku tidak bisa menyelamatkan Miori.
"Apa yang
akan kau lakukan soal gosip itu?"
"Aku tidak
akan melakukan apa pun. Aku sudah melakukan kesalahan, jadi aku rasa aku harus
menerima hukumannya. Mungkin teman-temanku akan berkurang, tapi tidak
apa-apa. ……Lagipula, aku juga harus meminta maaf pada Hikariri-chan."
Miori
menjawab dengan nada yang terdengar tegar.
Namun, bagi
mataku, tekad itu tampak rapuh bagaikan istana pasir yang akan runtuh kapan
saja.
――Jika Natsuki
yang berada di sini, apa yang akan dia katakan pada Miori saat ini?
Di dalam dadaku
yang tidak bisa berkata apa pun, pertanyaan itu terus berputar-putar.
……Meskipun
begitu, pasti masih ada hal yang bisa kulakukan.
*
Itu terjadi
sehari setelah Reita pergi ke rumah Miori.
Seperti
biasa, aku berganti kereta dan sampai di depan sekolah.
Di sudut
pandangku, kuncir kuda itu bergoyang. Punggung yang sudah lama tidak kulihat.
Miori
datang ke sekolah. Aku ingin segera berlari menghampirinya untuk menyapa, tapi
aku menghentikan langkahku.
……Sekarang
bukan saatnya aku bicara dengan Miori. Itu mungkin akan memberikan dampak buruk
pada gosip yang beredar.
Artinya,
apakah Reita berhasil membereskannya?
Aku tidak
bisa mengatakan apa-apa, tapi ternyata kata-kata Reita benar-benar sampai ke
hati Miori.
Sebagai teman
masa kecil, aku merasa sedikit frustrasi.
Namun, perasaan
lega karena Miori datang ke sekolah jauh lebih besar. Syukurlah.
Sambil sengaja
menjaga jarak dari Miori, aku mengganti sepatu di loker, menaiki tangga, dan
berjalan menyusuri koridor.
"Eh? Itu bukan Motomiya-san?"
"Wah. Gosip yang itu…… kukira dia akan terus absen
mulai sekarang."
Tatapan mata
tertuju pada Miori. Terutama tatapan penasaran yang berpusat pada para siswi.
"Hebat ya,
bisa tetap santai menampakkan diri. Bukannya dia ketahuan bermain mata dengan
banyak cowok?"
"Iya,
kan. Katanya dia bahkan menggoda pacar senior klub basket."
Bahkan,
gosip itu terus ditambah-tambah. Bukan hanya soal dia yang menggodaku, tapi
mungkin cerita saat keributan dengan Senior Wakamura terjadi juga telah
diputarbalikkan dengan niat jahat.
"Katanya
hobinya memang mencari cowok yang sudah punya pacar."
"Wah,
parah banget. Beneran ilfeel deh. Ternyata wajahnya begitu ya."
……Rasanya
mual. Meskipun aku tahu bahwa satu-satunya yang punya niat jahat adalah
orang-orang yang membuat gosip itu dan mereka yang bicara sekarang hanya
didorong oleh rasa penasaran, aku ingin segera mencengkeram mulut mereka dan
membungkamnya.
Gosip itu
terdengar sampai ke telingaku yang melihat dari kejauhan. Miori yang menjadi
targetnya pasti merasa seperti duduk di atas jarum.
Miori
yang terus berjalan sambil menunduk masuk ke dalam kelas.
"Haihara-kun,
bisa bicara sebentar?"
Saat aku sedang
melihat punggung Miori, orang yang menyapaku adalah Nanase.
Nada suaranya
dingin. Dia tidak terlihat dalam suasana hati yang baik.
"……Ah,
iya."
Setelah mengikuti
Nanase, aku berhenti di ruang sepi yang menghubungkan gedung kelas dengan
gimnasium.
Nanase yang
berbalik menatapku dengan wajah tidak puas.
"……Apakah
kau sadar bahwa kau adalah pacar Hikariri?"
Pertanyaan yang
datang secara tiba-tiba dan di luar dugaan adalah yang pertama kali
dilontarkan.
"Itu, tentu saja…… aku merasa sadar."
"Kalau
begitu, aku ingin kau lebih memedulikan perasaan Hikariri."
Nada bicaranya
seolah menyalahkanku.
"Aku tahu
soal gosip itu. Aku juga tahu itu hanya kecelakaan. Karena Hikariri sudah
menceritakannya padaku."
……Kalau begitu,
apa masalahnya?
"Aku rasa
aku sudah menjelaskan semuanya dengan baik……"
"Memang tidak salah kalau kau mengkhawatirkan
Motomiya-san. ……Tapi Hikariri juga merasa cemas, tahu? Meskipun dia tidak
berpikir kau berbohong, bukankah kau selalu berada di dekat lawan jenis yang
membuat kecelakaan seperti itu bisa terjadi? ……Lagipula, Hikariri bilang dia
tidak tahu kalau kau bertemu Motomiya-san hari itu."
Memang
benar, aku tidak memberitahu Hikariri.
Karena
pertemuanku dengan Miori hanyalah sebuah kebetulan semata.
Setelah itu,
karena kami bermain basket sampai larut malam, aku menganggapnya sebagai
kelanjutan dari kebetulan itu.
Lagipula, Miori
adalah teman masa kecil, apakah dia tidak termasuk dalam kategori cinta――?
Benarkah begitu?
Aku tidak tahu.
Setidaknya, persepsi Miori tidak seperti itu.
"Bagaimana
kalau kau membalik posisinya?"
Mendengar
kata-kata Nanase, aku mulai membayangkannya.
Bagaimana jika
Hikariri punya teman masa kecil lawan jenis yang akrab dengannya.
Bagaimana jika
meskipun dia punya pacar yaitu aku, mereka ternyata sering bertemu tanpa
sepengetahuanku.
……Memang benar,
pasti akan merasa cemas. Apakah Hikariri benar-benar menyukaiku?
"Gara-gara
gosip itu, Hikariri juga sering mendengar hal-hal yang tidak sopan. Tentang
kau, seperti sebaiknya putus saja, atau mungkin kau cowok yang tidak setia.
Padahal Hikariri selalu membantahnya setiap kali mendengar itu."
……Ternyata,
gosip buruk tentangku juga beredar, ya.
Target
Hasegawa yang menyebarkan gosip seharusnya adalah Miori, tapi gosip itu
sepertinya juga berkembang ke arahku.
"Itu
pasti menjadi beban mental yang cukup besar, tapi yang membuatku kesal adalah
sikapmu yang justru lebih mengkhawatirkan Motomiya-san yang sedang absen, tanpa
menyadari perasaan Hikariri yang seperti itu."
Tidak ada
ruang untuk menyanggah. Semua yang dikatakan Nanase benar adanya.
Aku pikir
Hikariri baik-baik saja. Tapi,
itu hanyalah asumsi sepihakku.
Aku tidak
tahu. Perasaan apa yang dia sembunyikan di balik sikap tegar itu.
"……Aku tahu
kau tidak punya niat jahat. Aku pun mengkhawatirkan Motomiya-san. Wajar
jika kau yang baik hati merasa khawatir…… tapi, tolong perhatikan juga
Hikariri."
Nanase
mengatakannya seolah sedang memohon.
"Aku
mengerti. Terima kasih,
Nanase. Karena sudah memberitahuku."
Sebagai pacar,
aku harus mengutamakan Hikariri di atas segalanya.
Itulah tanggung jawab sebagai seorang pacar. Akhirnya, aku
mulai menyadari betapa beratnya kata "pacar" itu.
■(Motomiya Miori)
――Kelas telah menjadi musuhku.
Itu adalah hukuman yang setimpal. Bahkan teman-temanku yang
tadinya akrab pun tidak ada yang menyapa.
Saat aku duduk diam di kursi, aku merasakan banyak pasang
mata tertuju padaku.
Sensasi seolah kulitku tertusuk itu sangat tidak
menyenangkan, tapi aku tidak punya pilihan selain menahannya.
Karena aku tidak
punya bantalan apa pun untuk disanggah.
"Oh,
ternyata Motomiya. Datang juga ke sekolah."
Seseorang
menyapaku dengan senyum tipis.
Tentu saja, dia
bukan pihak yang berpihak padaku. Suaranya yang terdengar mengejek menceritakan segalanya.
"……Ada apa, ya? Hasegawa-san."
"Karena kau
absen cukup lama, aku jadi khawatir, apa terjadi sesuatu padamu. Iya,
kan?"
Mendengar
kata-kata Hasegawa-san, para cewek yang mengerubunginya pun setuju.
"Kalau soal
kondisi tubuh, aku sudah tidak apa-apa."
Sebenarnya aku
tidak kena flu, tapi aku tidak punya pilihan selain mengatakan itu.
Jika aku
bilang kakiku gemetar tidak bisa bergerak…… pasti tidak ada yang akan
mempercayainya.
Lagipula,
aku tidak ingin terlalu banyak bicara karena takut dianggap sedang bersikap
seperti korban.
"Ah,
ngomong-ngomong, karena ada gosip aneh yang beredar tentang Motomiya, aku hanya
ingin mengonfirmasi faktanya. Lagipula ini cuma gosip, aku tidak percaya sih,
tapi sekadar konfirmasi ya?"
Sambil
tertawa cekikikan bersama cewek-cewek pengikutnya, Hasegawa-san bertanya
padaku.
Dengan
suara yang sengaja dibesarkan agar terdengar oleh orang-orang di sekitar yang
sedang memperhatikan kami.
"Apakah
benar cerita kalau kau berselingkuh dengan Haihara-kun padahal kau pacaran
dengan Reita-kun?"
……Bagaimana ini?
Sulit untuk menjawabnya.
Isi pertanyaan
yang diajukan sedikit berbeda dari yang kubayangkan.
Jika aku
mengangguk pada pertanyaan ini, itu akan menyusahkan Natsuki.
"Itu tidak
benar…"
"Eh? Tapi
katanya ada yang melihat langsung? Kamu memeluk Haibara-kun."
Aku tahu rumor
selalu bertambah ekornya.
Tapi arah rumor
ini harus kuingkari.
Kalau hanya aku
yang disalahkan, aku terima. Tapi aku tidak mau Natsuki ikut kena getahnya.
"Err,
aku——"
"——Miori,
boleh bicara sebentar?"
Suara yang
seharusnya tidak terdengar di kelas ini tiba-tiba terdengar.
Reita-kun dari
kelas dua membuka pintu dan mendekat ke arah kami.
Di
belakangnya, Serika berdiri. Mungkin Serika yang memanggilnya…?
Kelas langsung
ramai. Perhatian semakin tertuju ke sini.
"Aku
khawatir sekali. Katanya kamu demam tinggi dan istirahat beberapa hari."
Sepertinya dia
sengaja. Nada Reita-kun terdengar seperti sedang berakting, suaranya jelas
terdengar ke seluruh kelas. Sikapnya yang seperti itu justru sangat pas.
"Sepertinya
ada rumor tidak berdasar yang beredar tentang kamu. Meski hanya rumor biasa,
sebaiknya kita bantah sebelum semakin menyebar. Aku sendiri tahu yang
sebenarnya."
Reita-kun
berkata sambil tersenyum lembut.
Meski
tersenyum, ada kekuatan aneh di balik senyum itu.
Hasegawa-san
yang kelihatan tertekan oleh aura Reita-kun ikut menyela.
"Apa…
maksudmu? Memang ada yang melihat, tapi kamu bilang itu bohong?"
"Bukan
begitu. Yang dilihat sebagai pelukan itu sebenarnya Miori hampir jatuh, dan
Natsuki hanya menangkapnya dengan cepat. Hanya itu."
Reita-kun
menghentikan kata-katanya, lalu berbicara pada seorang gadis di belakang kelas.
"——Benar
kan, Minase-san?"
Dia
adalah orang yang mengaku melihat aku dan Natsuki berpelukan.
Minase-san
tampak tegang dan menjawab dengan ragu-ragu.
"Ya, iya… Aku hanya melihat dari jauh, jadi awalnya aku
pikir itu pelukan. Tapi kalau dipikir lagi, sepertinya dia hanya tersandung dan
hampir jatuh."
…Minase-san bukan tipe yang bisa bicara selancar ini kalau
tiba-tiba ditanya.
Ini pasti sudah
diatur Reita-kun sejak awal.
"…Kamu
percaya itu, Reita-kun? Mungkin kamu cuma dibohongi Miori?"
Hasegawa-san
menatap Reita-kun dengan ekspresi garang sambil membantah.
"Aku
lebih percaya Miori daripada sekadar rumor."
Reita-kun
tersenyum tipis sambil mengatakannya.
"Err,
Reita-kun. Aku——"
"——Kamu
tidak mau memberi masalah pada Natsuki, kan?"
Reita-kun
berbisik di telingaku saat aku mencoba menghentikan alur ini.
"Kalau
begitu, ini jalan terbaik. Jangan coba-coba menerima hukuman dengan cara
aneh."
…Dia tahu persis
bahwa dengan cara bicara seperti ini, aku tidak bisa mengatakan yang
sebenarnya.
Memang
benar, mungkin ini yang terbaik.
Sulit hanya
mengakui sebagian dari rumor.
Nanti pasti akan
bertambah ekornya. Jadi
menyangkal semuanya memang lebih efektif.
"Lagi
pula, ini cuma kejadian kecil, tapi kok rumornya malah bercampur dengan hal
lain? Katanya Miori juga main dengan cowok senior klub basket… Padahal itu
nggak benar, kan? Sungguh. Siapa sih yang nyebarin? Menurutku nggak bagus.
Nyebarin kebohongan seenaknya saat orang lagi istirahat, itu jelek."
Serika
berkata dengan nada malas seperti biasa.
Meski
bertanya siapa yang memulai, matanya terus tertuju pada Hasegawa-san.
Meski tidak
menyebut nama, jelas sekali siapa yang dimaksud.
"Mungkin
karena cemburu ya? Karena Miori pacaran sama Reita-kun."
Kata-kata Serika
yang penuh ejekan bergema di seluruh kelas.
Hasegawa-san
berkata "Na…!" sambil wajahnya memerah, tapi tidak bisa membalas.
Kalau dia
membantah, itu sama saja mengakui bahwa dialah yang menyebarkan rumor.
Aku bisa
merasakan suasana kelas mulai berubah.
"Apaan sih,
bikin orang takut aja."
"Yah, aku sih dari awal sudah menduga begitu."
"Ah, nggak adil. Kalau begitu aku juga. Pokoknya
Motomiya bukan tipe kayak gitu."
"Karena
Shirotori-kun yang membelanya, berarti memang bohong ya?"
"Iya
dong? Kalau beneran selingkuh, nggak mungkin dibela."
"Jadi
semuanya bohong? Kalau gitu jahat banget ya. Pas Motomiya-san lagi istirahat pula."
Suasana yang
tadinya memusuhiku mulai berubah.
Tepat pada saat
itu, seolah sudah dihitung, bel masuk berbunyi.
"Oops, aku
harus pergi dulu. Sampai jumpa, Miori."
Reita-kun
mengangkat bahu dengan sikap dramatis, lalu keluar dari kelas satu.
Hasegawa-san dan
teman-temannya pergi dari depanku dengan wajah tidak nyaman.
…Padahal aku
tidak keberatan kalau disalahkan. Rasanya seperti ditampar angin.
"Menyalahkan
orang yang memang ingin disalahkan itu nggak akan jadi hukuman, kan?"
Serika meletakkan
tangannya pelan di bahuku. Memang benar juga.
"Yah
begitulah," Serika menghela napas sambil berbisik.
"Terus
terang, menurutku kamu nggak perlu terlalu memikirkannya. Memeluk sedikit kan
hal biasa. Aku sendiri setelah live selesai langsung memeluk Natsuki sekuat
tenaga."
"…Nggak
bisa. Karena beda dengan kamu, aku memeluknya dengan perasaan seperti
itu."
Lagipula saat
Serika memeluk Natsuki, dia belum pacaran dengan Hikari-chan.
"Begitu ya… Kalau kamu sudah mengerti, introspeksi yang
benar. Sendiri."
Serika menepuk punggungku pelan, jadi aku mengangguk.
Kebaikan semua orang terasa hangat.
Di tengah suasana yang sudah kembali normal, pelajaran
pertama dimulai.
Sepanjang pelajaran masih agak ramai, tapi aku tidak
merasakan tatapan yang tidak enak.
Setelah pelajaran
selesai dengan pikiran melayang, teman-teman dekatku mendekat.
"Maaf ya,
Miori. Aku sempat curiga."
Tidak perlu minta
maaf. Karena itu memang benar adanya.
——Tapi aku tidak
bisa mengatakannya sekarang. Itu akan membuat usaha Reita dan Serika sia-sia.
Aku hanya bisa
menjadikan kejadian hari itu sebagai kebohongan.
"Tidak
apa-apa. Memang situasinya membuat orang mudah curiga, itu fakta."
Jadi aku
menjawab sambil tersenyum kering.
Bahkan di
antara teman dekat sekalipun, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Tapi
serius, nggak kesal? Mereka
itu asal nyebarin aja."
Salah satu
temanku melirik tajam ke arah kelompok Hasegawa-san.
"Iya. Meski
benci, tapi segitunya juga nggak masuk akal? Bahaya banget."
Teman yang lain
sengaja bicara cukup keras agar kelompok Hasegawa-san mendengar.
Aku bisa
merasakan kelas kembali ramai dengan jelas.
…Ini
bukan arah yang bagus. Aku tidak ingin menyalahkan Hasegawa-san dan yang lain.
Tapi aku
sendirian tidak bisa mengubah suasana kelas. Tatapan yang tadinya ke arahku
sekarang beralih ke mereka. Hasegawa-san bersedekap dengan sikap keras kepala,
tapi kelihatan tidak nyaman. Teman-teman pengikutnya juga tampak bingung harus
bagaimana.
"Ini karma
mereka sendiri. Mereka yang nyebarin kebohongan seenaknya, jadi nggak usah
dipikirin."
Serika berbisik
di telingaku.
…Tapi aku juga
sama-sama berbohong. Aku yang salah, tapi malah dibela.
Di tengah suasana
yang canggung itu, Uta muncul di depan kelas satu.
"Miorin!"
Dia melambai dari
luar kelas, lalu Serika memanggilnya masuk.
Uta
langsung berlari ke arahku dengan penuh semangat dan memelukku erat.
"Aku
khawatir banget! Kamu nggak bisa dihubungi sama sekali!"
Tadinya
dia kelihatan senang, tapi sekarang dia cemberut sambil marah. Ekspresinya
memang selalu kaya.
"…Maaf.
Soalnya aku… tidur terus."
Karena
lama tidak bicara dengan Uta, bibirku tanpa sadar melengkung.
"Tapi
syukurlah! Rumor buruknya juga sudah selesai, kan!?"
Uta
bertanya dengan senyum cerah. Aku mengangguk.
Entah
benar-benar selesai atau tidak, setidaknya di permukaan sudah beres.
Reita-kun telah
menyelamatkanku dengan sempurna. Begitu sempurna hingga aku tidak bisa
membantah.
"Tapi
rumornya benar-benar kejam ya!"
Uta mendengus
kesal dan menunjukkan kemarahannya dengan jelas.
Aku mendapat
firasat buruk. Aku tidak ingin mendengarnya.
Tapi sebelum aku
sempat menutup telinga, kata-kata Uta sudah terdengar.
"Miorin nggak mungkin melakukan hal seperti itu! Aku tahu itu!"
Rasanya napasku
nyaris berhenti.
Kepercayaan Uta
yang begitu polos terasa sangat menyakitkan. Hatiku seakan koyak menjadi berkeping-keping.
Aku tidak
pantas berada di sini. Aku bukanlah sosok orang baik seperti yang Uta percayai.
"Benar,
'kan? Miori tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Dia 'kan gadis yang
baik."
"Lagi pula,
tidak ada alasan sama sekali bagi dia untuk mencampakkan Reita-kun dan
berselingkuh, 'kan?"
Semua
orang di sana mengangguk setuju. ……Kecuali Serika.
"Lagipula
Miori 'kan berteman baik dengan Hoshimiya-san. Dia tidak mungkin merebut pacar
temannya sendiri."
"Betul
banget! Aku sudah tahu kalau Miorin suka sama Reita jauh sebelum mereka berdua
pacaran!"
"Natsu
selalu bilang kalau mereka cuma teman masa kecil yang kebetulan sering apes
bareng!"
Di saat
semua orang tertawa bersama, hanya aku yang membeku dalam keheningan.
Aku sama
sekali tidak tahu apakah aku sudah berhasil mengelabui mereka dengan baik atau
tidak.
*
"Kuharap
dengan begini, rumornya bisa sedikit mereda."
Reita
membuka suara dengan ekspresi yang tampak agak lega.
Saat itu jam
istahat makan siang. Kami sengaja mencari tempat yang sepi dan pergi ke atap
sekolah.
Sebab, ini bukan
jenis obrolan yang pantas didengar oleh orang lain.
Anggota yang
berkumpul adalah aku, Reita, Tatsuya, Nanase, Hikari, dan Uta. Formasi enam orang seperti
biasanya.
"Hebat
banget kamu, Shiratori-kun."
"Aku juga
dengar aksi kerenmu di koridor tadi, Reita-kun. Keren banget, lho!"
Hikari
bertepuk tangan sambil memuji Reita.
……Mendengar kata
'keren' itu, entah kenapa ada sedikit rasa mengganjal di hatiku.
Sempit sekali
pikiranku ini. Agar tidak terbaca di wajah, aku hanya mengangguk setuju.
"Sempurna
banget. Kamu sudah merencanakan itu sebelumnya, ya?"
Aku bertanya pada
Reita. Sama seperti Hikari, aku juga mendengar kejadian di koridor tadi.
Langkah
yang diambil Reita benar-benar sempurna. Bahkan tidak bisa lebih baik lagi dari
itu.
"Aku
berdiskusi dengan Serika, lalu meminta Minase-san—orang yang melihat Natsuki
dan yang lain—untuk datang."
"Tampaknya
dia sendiri tidak menyangka masalahnya bakal jadi sebesar ini, jadi dia mau
bekerja sama dengan sukarela."
Miori
sudah datang ke sekolah, dan rumor buruk tentangnya pun sudah hilang. Kurasa masalah ini sudah selesai.
……Namun, rasa
tidak nyaman yang janggal ini apa? Apakah boleh membiarkannya berakhir begitu
saja seperti ini?
Apakah ada
sesuatu yang terlewat olehku?
"Hasegawa
bukan namanya? Mereka sampai tidak bisa berkata-kata lagi tadi. Sukurin."
"Ahaha!
Setelah itu mereka juga kelihatan salah tingkah banget, rasanya agak puas
ya!"
"Karena
mereka sudah berbuat buruk, wajar saja kalau menerima hukuman setimpal."
Obrolan
mengalir dengan akrab dan menyenangkan.
Hikari
dan yang lain memakan bekal mereka, sementara aku dan Tatsuya menyantap roti
yang kami beli di kantin.
"……Natsuki-kun,
kamu kenapa?"
Hikari menatapku
dengan cemas karena sejak tadi aku hanya terdiam.
……Tidak boleh
begini. Sekarang, aku harus fokus pada obrolan di sini.
Bagaimanapun, aku
adalah kekasih Hikari.
"Ah, tidak
apa-apa kok. Aku cuma berpikir kalau telur dadar gulung itu kelihatan enak
banget."
"……Mau coba
satu suap? Tapi ini bukan buatanku, melainkan buatan Ibuku."
"Eh, boleh?
Kalau begitu, aku minta ya."
Seketika itu
juga, Hikari menjepit telur gulung tersebut dengan sumpitnya dan mengarahkannya
ke mulutku.
"Ayo, aa~n."
"Eh…… tapi ini 'kan di depan semua orang?"
Apa kamu tidak
malu? Pikirku dalam hati.
Namun, wajah
Hikari sendiri sebenarnya sudah memerah.
Semua
orang melihat kami sambil senyam-senyum sendiri.
"Sudahlah,
cepat makan saja," sahut Tatsuya.
Ah, sudahlah,
masa bodoh. Aku pun langsung menyantap telur gulung yang disodorkan itu.
Rasanya memang
enak. Ibu Hikari memang hebat.
Eh? Tunggu dulu,
bukankah ini berarti ciuman tidak langsung……
Ah,
tidak, tidak, kami 'kan sepasang kekasih. Kenapa baru sekarang aku memikirkan hal seperti
itu?
Ya, walaupun kami
memang belum pernah berciuman, sih……
"Mesra
banget ya, kalian berdua~"
Uta
menggoda kami dengan nada suara yang terdengar riang.
"Ahaha, aku
cuma ingin mencobanya sekali-kali," balas Hikari sambil tertawa malu-malu.
Nanase menatapku dengan pandangan dingin.
Aku tahu. Tanpa
perlu diberi tahu pun, aku sangat paham.
Bermesraan di
depan semua orang—apalagi di hadapan Uta yang hubungannya masih canggung
denganku—bukanlah gaya Hikari yang biasanya.
Yah, meski Uta
sendiri tampaknya sudah benar-benar melupakan masa lalu, tapi lupakan soal itu.
Kami hanya
berusaha bersikap seperti biasa di depan teman-teman yang lain.
Ini adalah
kesepakatan tidak tertulis di antara kami yang hampir menghancurkan pertemanan
kelompok ini karena masalah percintaan—seharusnya begitu.
"Natsuki-kun,
mau makan yang ini juga?"
"Tidak,
terima kasih. Perutku sudah kenyang kok."
——Saat ini Hikari
tampak normal di permukaan, tetapi dia hanya berfokus kepadaku.
Aku tahu
alasannya. Dia merasa cemas karena perhatianku teralihkan oleh masalah Miori.
Aku menggelengkan
kepala pelan, mencoba mengusir sosok Miori dari pikiranku untuk kali ini.
"……Hikari."
Demi memenuhi
kewajibanku sebagai seorang kekasih.
"Ya? Ada
apa?"
"……Hari ini
kita pulang bareng, yuk. Sambil jalan-jalan sebentar."
Aku membisikkan
kata-kata itu ke telinga Hikari agar tidak terdengar oleh yang lain.
"Iya!"
Hikari
mengangguk mantap dengan senyuman yang begitu cerah.
Senyumannya
seakan membuat suasana di sekitar terasa lebih berwarna.
——Begini
saja sudah cukup. Aku yang sekarang tidak perlu memikirkan hal lain lagi.
■(Miori Motomiya)
Glang!
Bunyi
ember yang menghantam tanah bergema nyaring.
Pandanganku
buram. Tetesan air perlahan mengalir membasahi tubuhku.
Seluruh
badanku basah kuyup. Angin musim gugur yang berembus membuat tubuhku yang
mendingin gemetar karena kedinginan.
Saat aku
mendongak, Hasegawa-san yang baru saja menyiramku dengan air sedang menatapku
dengan wajah semerah iblis.
"Kenapa…… kenapa harus aku yang disalahkan!?"
Kerah bajuku dicengkeram kuat. Tubuhku ditarik paksa
mendekat hingga napasku terasa sesak.
Wajah Hasegawa-san berada tepat di depan mataku. Aku bisa merasakan niat membunuh,
alih-alih sekadar rasa permusuhan.
Orang ini
benar-benar membenciku. Emosi yang tersalurkan lewat cengkeraman tangannya di
kerah bajuku terasa begitu mengerikan.
"Yang
berbohong itu bukan aku, tapi kamu, 'kan!?"
Suara
pekikan melengkingnya menusuk indra pendengaranku.
Apa yang
dikatakannya sama sekali tidak salah. Memang akulah yang berbohong di sini.
"……Maaf."
Hanya kata maaf
yang bisa kuucapkan.
Karena sekarang,
semuanya sudah terlambat untuk dihentikan.
Bahkan jika aku
meneriakkan kebenaran saat ini, hal itu hanya akan merepotkan Reita-kun dan
Natsuki.
Plak! Bunyi tamparan keras bergema.
Rasa sakit yang
menyengat membuatku terlempar, dan tahu-tahu aku sudah tersungkur di atas
tanah.
Pipiku terasa
berdenyut nyeri. Pandanganku berkunang-kunang, mungkin karena kepalaku
terbentur saat jatuh tadi.
"Kenapa kamu
yang berselingkuh malah dibela sama Reita-kun!?"
Tetesan air mata
mulai jatuh membasahi tanah. Air mata itu bukan milikku, melainkan milik
Hasegawa-san yang sedang menangis.
——Hari turnamen
olahraga.
Setelah Natsuki
dan timnya menyelesaikan pertandingan final, Hasegawa-san memanggilku untuk
menemuinya.
Di sana ada
Hasegawa-san, siswi-siswi yang menjadi pengikutnya, dan juga Minase-san.
Dikelilingi oleh
kelompok siswi yang tampak mencolok itu, Minase-san yang pendiam terlihat
sangat tidak nyaman.
"Anak
ini yang melihatnya langsung. Waktu kamu memeluk Haibara-kun."
Dua orang
pengikutnya menyeringai licik, tetapi Hasegawa-san justru tampak sangat marah.
"Hei,
Minase? Kamu benar-benar melihatnya, 'kan?"
Begitu
namanya dipanggil, bahu Minase-san gemetar karena terkejut. Dia pun membuka
suara dengan ketakutan.
"……B-Bagiku,
kejadiannya memang terlihat seperti itu…… Maaf."
"……Apakah
itu, jangan-jangan, di taman yang ada di sebelah selatan sekolah?"
Saat aku
bertanya, Minase-san mengangguk pelan.
……Ah,
begitu ya. Ternyata kejadian
saat itu sempat terlihat olehnya.
"Melihat
reaksimu, kabar itu memang benar, ya."
Hasegawa-san
langsung menyudutkanku dengan tajam. Aku tidak memiliki celah sedikit pun untuk
membantahnya.
"Kamu 'kan
pacaran dengan Reita-kun? Kalau begitu, bukankah ini namanya selingkuh?"
Hasegawa-san
mengarahkan pandangan matanya yang penuh amarah kepadaku.
"……Benar.
Kurasa memang begitu."
"……Apa-apan
itu? Kamu bahkan tidak berniat membela diri?"
Melihatku yang
hanya terdiam, tatapan mata Hasegawa-san menjadi semakin tajam menusuk.
"……Aku tidak
akan memaafkanmu. Kamu sudah mempermainkan perasaan Reita-kun, kamu benar-benar
menjijikkan."
Hasegawa-san
memiliki perasaan suka terhadap Reita-kun. Aku sudah mengetahui hal itu sejak
lama.
"——Aku pasti
akan membuatmu membayar semua ini."
Ekspresinya yang
campur aduk antara amarah dan tangis yang hampir pecah, menunjukkan betapa
besarnya rasa cinta gadis itu.
Hasegawa-san
mengarahkan tatapan mata yang penuh kekecewaan mendalam kepadaku, lalu pergi
meninggalkan tempat itu.
Baru pada saat
itulah aku menyadari betapa besarnya dosa yang telah kuperbuat.
"Maaf, kan aku…… Aku tidak bermaksud menyebarkannya……
Maafkan aku……"
Di hadapanku,
Minase-san terus-menerus membungkuk untuk meminta maaf.
"……Jangan
dipikirkan. Ini semua salahku. Jadi, kamu tidak perlu meminta maaf."
Aku sudah
bersikap tidak jujur pada segalanya. Apa pun yang kukatakan sekarang, hanya
akan terdengar seperti alasan belaka.
——Sejak hari
berikutnya, langkah kakiku tidak lagi tertuju ke sekolah.
Bukan karena
kondisiku sedang memburuk. Bukan juga karena aku takut pada kata-kata
Hasegawa-san.
Itu karena aku
sadar bahwa diriku adalah manusia paling bajingan. Aku merasa tidak memiliki
urusan lagi untuk hidup.
Karena itu, aku
bahkan tidak memiliki gairah untuk pergi ke sekolah. Aku berpikir mungkin akan
lebih baik bagi dunia jika aku mati saja sekalian.
Aku mengetahui
bahwa rumor buruk tentangku telah menyebar luas melalui pesan RINE dari Serika.
Beberapa pesan
RINE dari teman-teman yang mencemaskan kondisi kesehatanku berdatangan silih
berganti.
……Padahal aku
bukanlah sosok manusia yang pantas untuk dikhawatirkan oleh mereka semua.
Natsuki datang ke
rumahku. Aku juga sempat berpapasan dengan Reita-kun.
Aku sudah
membeberkan dosaku pada mereka. Dua orang yang baik hati itu memaafkanku,
padahal aku ingin mereka menghujatku.
Aku ingin mereka
memberiku hukuman. Sama seperti yang dilakukan oleh Hasegawa-san dan yang
lainnya.
Aku tidak
peduli seberapa buruk rumor yang beredar tentang diriku di sekolah.
Kurasa hal itu
jauh lebih baik daripada dimaafkan begitu saja tanpa menerima balasan apa pun.
——Namun,
sekarang.
Orang yang
menangis saat ini bukanlah aku, melainkan Hasegawa-san.
Orang yang sedang
berbohong saat ini bukanlah Hasegawa-san, melainkan aku.
Akulah yang sudah
merepotkan semua orang, tetapi aku jugalah yang dilindungi oleh mereka semua.
"Kalau
begitu, ini adalah jalan terbaik. Lebih baik kamu tidak perlu memaksakan diri
untuk menerima hukuman."
Bahkan Reita-kun
yang seharusnya menjadi pihak paling terluka akibat perbuatanku, justru memilih
untuk melindungiku.
"Karena aku
tahu kalau Miorin tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!"
Mulai sekarang,
aku harus terus membohongi teman-teman yang mempercayai diriku yang menjijikkan
ini.
Kebaikan hati
semua orang terasa jauh lebih menyiksa daripada apa pun. Rasanya aku hampir
hancur oleh rasa bersalah yang teramat sangat.
"Mati saja
sana……"
Hasegawa-san
bergumam lirih dengan suara pelan.
Sembari
mencengkeram kerah bajuku dengan tangannya yang terasa lemah.
"——Mati
saja! Dasar perempuan sampah! Perempuan sepertimu, lebih baik lenyap saja dari
dunia ini!"
Suara kutukan
yang begitu penuh dendam seakan bergema dari dasar bumi, merasuk hingga ke
dalam lubuk hatiku.
……Apa yang
dikatakan Hasegawa-san memang benar.
Manusia
sepertiku, memang lebih baik lenyap saja.
Setidaknya, aku
sudah tidak bisa lagi berada di sisi semua orang.
Diriku yang
sekarang sudah tidak memiliki hak lagi untuk bersama dengan Natsuki dan yang
lainnya.
Aku memang tidak berada di posisi yang pantas untuk
mengatakan ini, tetapi aku merasa sedikit terselamatkan.
"Iya…… Aku mengerti."
Namun, untuk saat
ini aku masih belum bisa lenyap begitu saja.
Karena ada
seseorang yang ingin kutemui untuk menyampaikan permintaan maaf terakhirku.
Sampai aku bisa
bertemu dengan orang itu, aku masih belum bisa……
"——Apa yang
sedang kalian lakukan?"
Suara yang
terdengar bagai bisikan karena saking terkejutnya, mendadak terdengar dari arah
belakang.
Saat aku langsung menoleh seketika, sosok yang berdiri di sana adalah gadis yang selama ini sedang kucari.



Post a Comment