NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heimin Shusshin no Teikoku Shoukan, Munou na Kizoku Joukan wo Juurin shite Nariagaru V3 Chapter 3

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 3

Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul

Siang hari keesokan harinya. Bekerja sama dengan beberapa pejabat dukungan logistik, Hazen menyelesaikan pasokan makanan.


"Sulit dipercaya... biasanya butuh waktu sekitar 3 hari."


Melihat kecepatan kerja itu, para pejabat dukungan logistik menatap dengan pandangan takjub.


"Karena saya sudah menyiapkan penyerahannya. Kita tidak bisa menelantarkan medan perang Lyeld gara-gara kekacauan di sini."


Saat Hazen tersenyum lebar, para pejabat dukungan logistik menunduk dengan canggung.


"Anu, kali ini kami benar-benar minta maaf atas kelakuan Wakil Menteri Gesnahit."


"Ah... orang yang menggelapkan dana itu, ya."


"......Padahal saya pikir dia orang yang serius dan bisa bekerja."


Salah seorang pejabat dukungan logistik bergumam.


"Orang seperti apa dia?"


"Dia orang kunci di departemen dukungan logistik, lho. Kenyataannya, tanpa beliau, sisi praktis pekerjaan tidak akan jalan."


"Begitu ya... jadi dia punya kemampuan."


Hazen bergumam pelan.


"Padahal kelihatannya tidak terlalu kesulitan uang."


"Tidak, menurut kabar yang kudengar, katanya dia punya utang."


"Ada juga rumor yang bilang dia butuh uang untuk main-main."


"Yah, memang kabarnya dia suka keluyuran malam dengan gila-gilaan sih."


Para pejabat dukungan logistik saling bertukar informasi dengan ramai.


"......"


"Ups, maaf. Kami jadi asyik sendiri. Perasaan menyesal karena kesalahan departemen kami itu sungguhan kok. Kami benar-benar terbantu."


Melihat Hazen yang memandangi dari samping, salah satu pejabat dukungan logistik membungkuk sekali lagi.


"Tidak masalah. Di saat susah, kita harus saling membantu. Kalau begitu, karena penyerahan sudah selesai, sisanya boleh saya serahkan pada kalian?"


"Ya."


Menyelesaikan salam dengan singkat, Hazen segera kembali ke ruangannya. Lalu, saat sedang memeriksa ulang dokumen sendirian, Mozcoal masuk ke ruangan.


"Terimakasih atas kerja kerasnya."


"Kerja bagus."


Tanpa banyak berbasa-basi, Mozcoal menyerahkan dokumen kepada Hazen.


"Tapi... laporan yang aneh ya."


Hazen mengerutkan alisnya, hal yang jarang terjadi, dan membacanya.

Kembali ke dua bulan yang lalu. Di dalam tempat yang gemerlap namun remang-remang, Gesnahit menempelkan kedua tangannya di lantai, merangkak, dan tampak terpukul.


"Astaga. Padahal sarannya luar biasa. Butuh waktu cukup lama untuk membuat si kepala batu Bigarnul itu mengerti. Padahal dia tidak tahu apa-apa soal lapangan, tapi cuma peduli hal-hal kecil... higguh."


"......Tunggu sebentar."


Mozcoal yang juga sedang merangkak dan tampak terpukul di sebelahnya, tiba-tiba berdiri dan melihat Ratu di toko itu.


"Bukankah masih terlalu dini untuk lilin?"


"Y-ya... maaf."


"......Anak baru ya?"


"Eh... kok tahu?"


"Aku tahu. Cara pakai cambuk. Kecanggungan lilinnya. Dan lagi, ikatan ini terlalu longgar. Kendor sekali."


Mozcoal merentangkan tali yang mengikat kedua tangannya lebar-lebar, sengaja memamerkan ruang kosongnya.


"Ma-maafkan aku!"


"Cih......"


"Hii."


Pria paruh baya yang hanya mengenakan celana dalam kertas itu berdecak kesal.


"Ratu tidak menundukkan kepala."


"B-baik!"


Mozcoal menghela napas panjang seolah pasrah, lalu kembali menempelkan kedua tangan di lantai dan berlutut.


"Ingatlah. Di saat seperti ini, kau harus bilang begini. 'Jangan membantah manusia, dasar babi jelek──!', begitu."


"......Kh, begitu ya."


"Itulah pekerjaan profesional."


"Saya mengerti!"


"Ratu tidak memakai bahasa sopan!"


"......Kh, me-mengerti!"


"Jangan bilang mengerti juga!"


"Be-berisik! Dasar babi sialan───! Cepat perlihatkan pantat kotormu itu!"


"Bagus. Pertahankan begitu! Oke, hajar akuuuuuuu!"


Setelah 'permainan' selesai, Mozcoal mengantar kepergian sang Ratu dengan ekspresi lega seperti seorang santo.


"Fuh... anak itu, lumayan bisa berkembang ya."


"Y-ya. Hebat sekali, Sekretaris Mozcoal. Memang pantas sebagai mantan sekretaris dari Asisten Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Atas Nyotai yang terkenal si cabu... eh, si pesolek itu."


"Beliau juga masih dalam tahap berkembang, semoga dia baik-baik saja ya."


"......"


Mungkin hanya perasaannya saja, tapi wajah Gesnahit terlihat kaku.


"Maaf ya. Jadi sedih begitu. Ayo, ganti suasana dan lanjut ke tempat berikutnya."


"Se-selanjutnya? Tidak, tapi uang saya..."


"Serahkan pada saya."


Mozcoal menepuk dadanya dengan mantap.


"Bo-bolehkah?"


"Rahasia di antara kita saja... saya baru dapat sedikit pemasukan tambahan."


"Pe-pemasukan tambahan?"


"......Haa. Yah, sudahlah. Karena Wakil Menteri Gesnahit selalu baik pada saya, saya beri tahu. Kenapa Asisten Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Atas Nyotai sangat boros... dan kenapa saya dapat cipratannya."


"To-tolong ceritakan detailnya."


"Ayo pergi. Ada toko rekomendasi saya."


Mozcoal berjalan menuju papan nama bertuliskan 'MOTHER' yang terletak di jalan belakang dari jalan belakang.


"Ups, sebelum itu."


Setelah berjalan beberapa menit, dia berhenti seolah menyadari sesuatu. Lalu, dia membungkuk dalam-dalam ke arah Gesnahit.


"Saya sudah merasakan pandangan dunia Anda."


"A-apa-apaan ini!? Hentikan."


Karena bungkukan sembilan puluh derajat yang terlalu indah itu, tatapan orang-orang di sekitar berkumpul ke arah mereka.


"Pengalaman yang bagus. Saya tidak terlalu paham toko SM itu sendiri. Bisa dibilang, saya babi yang masih amatir."


"Hah...... kh...... Anda bercanda. Bukankah tadi Anda membimbing Ratu... ah, si anak baru dengan keras."


Gesnahit memperhalus kata-katanya.


"Maaf, saya jadi lupa umur dan bersikap tidak sopan. Sebagai Wakil Menteri, pasti ada maksud lain, kan? Menikmati kealamian amatir, sebuah interpretasi tersembunyi. Saya angkat topi."


"......Kh."


"Tapi, di dunia ini, jika ada rasa sakit, ada juga penyembuhan pamungkas."


Sambil berkata begitu.


Mozcoal menyunggingkan senyum berani.


"Selanjutnya, saya harap Anda bisa merasakan pandangan dunia saya."

Hazen membaca dokumen laporan dengan ekspresi serius.


"Maaf, informasinya tidak seberapa."


"Ti-tidak seberapa? Tidak, karena kau berhasil menjebaknya sesuai rencana, ini hasil yang cukup..."


"SM pakai cambuk itu permainan yang sangat biasa, kan? Kualitasnya juga buruk. Tidak terlalu sakit, dan tidak ada 'duri'-nya. Bisa dibilang, itu barang palsu. Astaga, tokonya bahkan canggung dalam menggunakan lilin. Saya sempat goyah tapi syukurlah bisa diatasi... Tidak, tapi, dia jelas bukan Hard M."


"....... Maaf, Mozcoal."


"Hah?"


"Bu-bukan itu maksudku."

Itu adalah kebetulan yang beruntung. Di laporan Mozcoal yang katanya 'tidak seberapa', nama Gesnahit terselip di sana. Wakil Menteri Departemen Dukungan Logistik yang suka main ke tempat SM.


Itu tersangkut di ujung antena informasi yang disebar Hazen.


Namun, Mozcoal menunjukkan ekspresi heran yang sulit dijelaskan.


"Tidak, dia itu manusia yang sangat lurus kok. Saat ini, dia juga tidak punya bakat untuk dimanja layaknya bayi (babumi)."


"Be-begitukah? Tidak, mungkin menurut indramu memang begitu. Tapi anu, menurut indra orang umum, itu agak──bisa dibilang khusus."


"SM-nya maksud Anda!?"


"......"


Hazen menatap balik Mozcoal yang menunjukkan ekspresi tak percaya dengan ekspresi yang juga tak percaya, tapi mengesampingkan hal itu, dia mengangguk.


"Aku melihat sekilas riwayat dan kinerjanya, dia mumpuni. Tapi, apa dia kecanduan foya-foya di toko malam ya, utangnya banyak."


"Ya. Rumah orang tuanya tidak kaya, dan jarang-jarang dia dinas sendirian tanpa keluarga, jadi pasti mengirim uang ke keluarga."


"......Kau tahu detail sekali. Apa kalian akrab?"


"Kalau pengalaman mainnya masih dangkal, mereka gugup jadi mulutnya ember, lho. Makanya di ruang tunggu, sambil gelisah dan celingukan, dia cerita panjang lebar soal dirinya."


"Be-begitu ya."


Hazen tersenyum pahit dan mulai menulis di kertas kulit di tempat itu juga.


"Ini adalah usulan penggabungan rute ke garis depan Lyeld. Karena itu yurisdiksi yang dikontrol Departemen Dukungan Logistik, kita tidak bisa ikut campur, tapi atas nama pengurangan biaya, aku ingin mereka mempersempitnya sampai batas tertentu. Ini juga kebijakan yang diusung Departemen Keuangan, jadi Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul juga pasti akan setuju."


"Begitu ya! Ide bagus."


Mozcoal menepuk tangannya menjawab.


"......Yah, sudahlah. Kalau mungkin, aku ingin dia mempersempit rute lebih dari ini... tapi yah, mungkin sulit."


Memfasilitasi kecurangan ada risikonya. Jika salah bicara dan dicurigai akan merepotkan, dan yang paling penting, Mozcoal hanyalah sekretaris pribadi Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Menengah. Pangkatnya berbeda langit dan bumi dengan Gesnahit, jadi dia mungkin tidak bisa menyelipkan pembicaraan pekerjaan di ranah pribadi.


"Mau saya bicarakan?"


"Bi-bisakah? Lawannya sekelas Wakil Menteri lho?"


"Benar, tapi kami juga sesama 'pemain'."


"......."


"Kami para pemain memiliki hierarki khusus. Mereka yang bisa melakukan 'permainan' yang lebih luas dan dianggap lebih ekstrem oleh masyarakat umum cenderung lebih kuat. Jadi, selama permainan atau di ruang tunggu, saya rasa saya bisa berbicara dengan posisi setara atau bahkan lebih tinggi daripada Wakil Menteri Gesnahit."


"Ka-kau bisa diandalkan, ya."


Hazen menjawab sambil mundur beberapa langkah.


"Tidak, tapi saya rasa dia akan senang, lho. Jika usulan penggabungan rute lolos, dia bisa dapat uang imbalan, dan jika dia memanfaatkan kekacauan untuk mempersempit rute lebih lanjut, dia bisa mengantongi margin keuntungan. Usulan yang sangat bagus."


"He-hebat sekali."


Pembicaraan sudah berjalan dengan premis membiarkannya melakukan kecurangan. Mungkin karena dia sudah terlalu sering melakukan korupsi semacam ini, rintangan moral terhadap kejahatan sudah hampir tidak ada baginya.


"Tapi, lakukanlah dengan santai seolah tidak disengaja. Jika tidak mungkin, masih ada cara lain."


"Serahkan pada saya."


"......Ngomong-ngomong, bagaimana caramu melakukannya? Bisakah beri tahu sedikit rencananya?"


Sikap percaya diri itu justru membuat Hazen cemas.


"Pemain yang lemah cenderung ingin bergantung pada yang kuat. Saya akan memanfaatkan sifat itu. Dengan menyeretnya ke dalam permainan superior saya, baik saat permainan atau di ruang tunggu, perkataan saya akan terdengar kredibel."


"......"


"Intinya, cukup seret dia ke lapangan saya. Yah, lihat saja nanti. Saya akan membukakan pintu sensasi baru bernama 'babumi' di dalam dirinya."


"......Ka-kau bisa diandalkan, ya."


Hazen bertekad dalam hatinya untuk sebisa mungkin menghindari pertemuan antara Yan dan Mozcoal di masa depan.


"Kalau boleh berharap, aku ingin memerasnya lebih jauh setelah itu, tapi yah, mungkin itu mustahil."


Hazen bergumam sambil melihat riwayat hidupnya. Pekerjaan yang dilakukannya sendiri sebenarnya sangat baik, dan menurut rumor, dia juga dipercaya oleh bawahannya. Hazen ingin mengendalikannya bahkan setelah kecurangan terjadi, tapi mungkin sulit sampai sejauh itu.


"......Maksud Anda dia Hard M?"


"Ugh...... yah, karena dia melakukan SM, mungkin begitu, ya."


"Maaf lancang, tapi saya harus bilang pendapat itu terlalu dangkal."


"......."


Mozcoal menyatakannya dengan tegas.


"Jika dia Hard M, dia akan merasakan sakit sebagai 'hadiah', tapi saya rasa dia belum 'dikembangkan' sampai sejauh itu."


"Be-begitukah. Tidak, yah, kesampingkan itu dulu. Aku hanya ingin menjaga saluran komunikasi tetap terbuka setelah kecurangan itu terjadi. Jika memungkinkan."


"Akan saya pastikan."

"Jadi, saya sudah memastikan apakah dia Hard M atau bukan, dan sepertinya belum sampai level 'hadiah'. Mungkin level 'pelayanan'...... dia ada di level Middle yang sangat umum."


"......Bu-bukan itu maksudku, anu... aku cuma ingin tanya apakah kita bisa tetap saling menghubungi di masa depan."


"Itu mungkin."


Mozcoal menjawab dengan tegas.


"Pe-percaya diri sekali, ya. Padahal jika salah langkah, kau bisa dianggap sebagai komplotan."


Tentu saja, saat Mozcoal mengambil tindakan itu, Hazen sudah mengatur agar Gesnahit bisa disingkirkan, namun pembunuhan yang sia-sia sebaiknya dihindari sebisa mungkin.


"Ternyata, dia juga suka babumi. Sepertinya dia menemukan 'Mama' favoritnya dan sangat senang. Jika saya bilang ingin berkonsultasi tentang langkah selanjutnya di sana, saya rasa dia akan mengeluh, tapi kecuali dalam keadaan mendesak, dia pasti akan ikut. Istilahnya, memegang empengnya...... mungkin ya."


"......"


Bukannya 'memegang perutnya' (mengendalikan kebutuhan dasarnya), pikir Hazen.

Sementara itu, Bigarnul sedang panik. Alasannya karena keesokan harinya, Mayor Jenderal Marasai akan datang dari medan perang garis depan Lyeld. Tentu saja tujuannya adalah untuk menuntut penjelasan mengapa suplai tiba-tiba terputus.


Dengan mengirimkan unit suplai baru, meskipun waktunya sangat mepet, pengaturan untuk memastikan pasokan makanan dan air tetap tersambung telah selesai. Meskipun belum timbul kerugian nyata, tentu saja penjelasan akan diminta.


Para perwira eksekutif disibukkan dengan pembuatan dokumen penjelasan sambil begadang berhari-hari. Terutama Wakil Menteri Dukungan Logistik Gesnahit, entah karena merasa bersalah, dia bekerja menangani masalah ini tanpa tidur sekejap pun demi menebus kesalahannya.


Bigarnul memeriksa dokumen yang diserahkan para eksekutif, dan menyuruh revisi setiap saat agar dirinya sebisa mungkin tidak memikul tanggung jawab.


"Wakil Menteri Gesnahit, bagaimana transportasi?"


"Secara umum berjalan lancar."


"Begitu ya... kerja bagus. Oh ya, aku ulangi lagi, jika masalah kali ini berjalan lancar, aku tidak berniat membesar-besarkannya. Mengenai hukuman pun, aku akan mempertimbangkan untuk menyelesaikannya secara internal."


Bigarnul menepuk bahu Gesnahit sambil menyunggingkan senyum lembut.


"Ba-baik! Terima kasih!"


"......"


Itu bohong besar. Karena dia tenaga berbakat dan tidak ada penggantinya untuk penanganan darurat, Bigarnul membiarkannya bekerja, tapi setelah dia membereskan masalah ini, Bigarnul akan menjadi orang pertama yang melapor ke pusat dan membawanya hingga ke hukuman mati. Dia tidak akan pernah memaafkan pria yang telah menghambat kariernya ini. Dia bertekad kuat akan hal itu.


"Wakil Menteri Cleric. Apakah persiapan jamuan sudah siap?"


"Untuk sementara, karena ini perintah, saya sudah mengaturnya, tapi..."


"Tapi? Apa!?"


Bigarnul mendesak tanpa menyembunyikan rasa tidak senangnya.


"Apakah beliau mau menerima jamuan di saat darurat begini? Bagaimanapun juga saya tidak berpikir begitu."


"Kau ini... Mayor Jenderal Marasai jauh-jauh datang dari medan perang garis depan Lyeld, tahu? Jika tidak mengistirahatkan hati di tanah tanpa perang seperti ini, kapan lagi beliau bisa beristirahat!?"


"......Dimengerti. Itu hanya perasaan saya saja, jadi jangan dipikirkan."


"Kau sama sekali tidak mengerti apa-apa, ya! Karena inilah anak muda zaman sekarang tidak bisa dipakai!"


"......"


"Tidak mengerti perasaan orang di garis depan, kok bisa-bisanya jadi pejabat urusan dalam negeri!? Benar-benar tidak berguna."


"......Mohon maaf."


"Dasar bodoh."


Bigarnul meludah membuang kata-kata itu. Peran orang ini sudah selesai. Sisanya, dia akan menimpakan pekerjaan-pekerjaan merepotkan dan memerasnya sampai habis.


Dia sama sekali tidak akan memaafkannya.


Tadinya dia berniat mengangkatnya menjadi Kepala Departemen menggantikan Dagol, tapi karena terlalu kurang ajar, dia berubah pikiran. Semumpuni apa pun, dia tidak butuh orang yang membangkang.


Memang benar dia berhasil menarik bahan pangan dari Hazen yang menyebalkan itu, tapi dia sama sekali tidak berniat menjadikannya sebagai jasa Cleric. Tidak, justru dia bertekad untuk mencari-cari kesalahan mereka berdua dan menghukum mereka.


Selama berkata 'Ya' pada perintah, akan dipakai. Dia tidak butuh bawahan yang berkata 'Tidak'.


"......Sayang sekali."


Dalam artian itu, Gesnahit sangat unggul. Meski diperintah begadang berhari-hari, dia tidak pernah bilang tidak dan melaksanakan tugas dengan setia. Apalagi dia sangat dipercaya bawahan, dan Bigarnul berniat memerasnya di masa depan, sungguh disayangkan.


Kekhilafan sesaat itu benar-benar sangat disayangkan.


Lewat tengah malam, akhirnya dokumen penjelasan tersusun dan persiapan penyambutan selesai. Jika menunjukkan langkah pemulihan dan diketahui tidak ada kerugian nyata, mungkin hanya akan berakhir dengan teguran keras saja.


Saat Bigarnul menghela napas dan duduk di kursinya, selembar dokumen tergeletak di mejanya.


"Siapa yang menaruh ini!?"


"""""......"""""


"Ja, jawab saja tidak bisa, hah!"


Astaga, orang-orang tidak becus ini benar-benar tak tertolong. Ada yang korupsi. Ada yang kurang ajar. Ada yang seperti merpati pos tak berguna. Benar-benar tempat seperti tempat pembuangan sampah, pikirnya sambil berdecak kesal dan melihat dokumen itu.


!?


"Hah...... kh...... siapa!?"


Bigarnul berteriak dengan volume suara yang bergema ke seluruh ruangan. Karena suaranya yang terlalu keras itu, semua orang menoleh ke arahnya.


"Siapa yang menaruh dokumen ini!? Jawab!"


"""""......"""""


"Kenapa tidak ada yang mengaku! Apa kalian mau bilang dokumen ini berjalan sendiri ke sini!?"


Kehilangan ketenangan, wajahnya memerah padam, Bigarnul menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Melihat perubahan sikap yang drastis itu, Cleric mendekat.


"Harap tenang."


"Ka, kau ya!?"


"Bukan saya, tapi dokumen apa itu?"


"Bukan kau!? Benar-benar bukan kau!?"


Bigarnul mencengkeram kerah baju Cleric dan mengancam.


"Bu, bukan, lho. Tapi, kalau tahu dokumen apa itu, mungkin kita bisa tahu siapa pelakunya, kan?"


"......Kh, apa saja tidak masalah, kan!?"


"Hah?"


Para perwira eksekutif termasuk Cleric, semuanya kompak memasang wajah bingung.


"Ke, keluar!"


"Anu...... apa maksudnya?"


"Sudah cukup! Kalau kubilang keluar, ya keluar!"


"Ba-baik."


Para perwira eksekutif semuanya keluar.


Setelah memastikan keadaan itu, Bigarnul menggigiti kuku jempolnya dengan kasar.


"Kenapa... padahal aku sudah memerintahkan untuk dimusnahkan... kenapa kenapa kenapa kenapa..."


Sambil gemetar dan menggerak-gerakkan tubuhnya naik turun, dia terus mengulanginya berkali-kali.


"Dagol... benar, Dagol... dia. Dialah pelakunya."


Seolah teringat, Bigarnul berdiri dan berlari keluar ruangan. Dia berlari sekencang mungkin di lorong, menuruni tangga spiral seolah terbang, dan tiba di penjara bawah tanah.


Di sana, duduk Dagol yang rambutnya semakin botak dan berantakan.


"Hah... hah... ka, kau ya!?"


"Hii... mohon ma──"


"Jangan pura-pura bodoh! Kenapa ini ada!? Kau sudah memusnahkannya, kan!?"


Bigarnul mengangkat dokumen 'Langkah Pembatalan karena Bahaya Usulan Penggabungan Rute' yang telah dia tolak sendiri.


"......"


Dagol tampak bingung sesaat. Namun, saat memandangi dokumen yang diangkat itu, sikapnya yang murung berubah drastis, dan berbalik menunjukkan senyum kemenangan.


"Kukuku... hahahaha! Rasakan itu! Kenapa aku harus membiarkan kesalahanmu terkubur dalam kegelapan begitu saja!?"


"......Kh, apa maksudnya!?"


Bigarnul menatap tajam sekretaris yang menyusulnya dengan tatapan membunuh. Jika memerintahkannya secara langsung, itu akan menjadi penyembunyian fakta. Jadi, meskipun enggan, dia terpaksa menyuruh Dagol melakukannya. Namun, dia telah menyuruh sekretaris mengawasi agar perintah itu benar-benar dilaksanakan.


"Me-memang benar Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol telah menginstruksikan Asisten Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Atas Gimoina. Tidak salah lagi."


"Kuhahahahifuhaha! Pria itu sudah bersekongkol dengan Hazen Heim. Mana mungkin dia mau mendengarkan perkataanku."


"......Kh."


Bigarnul terkejut dengan fakta adanya atasan semacam itu.


"Kau, apa kau tidak merasa malu? Singkatnya, kau diremehkan Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Bawah sampai perkataanmu tidak didengar, kan?"


"Di-diam! Kau juga akan mengalami nasib yang sama."


"......"


Sikap membangkang ini. Terlalu menjengkelkan sampai-sampai dia ingin mencekik lehernya dan membunuhnya di tempat, tapi melakukan hal itu tidak akan memberinya keuntungan sepeser pun. Bigarnul berkata pada dirinya sendiri berkali-kali 'tenanglah'.


Manajemen risiko... manajemen risiko... manajemen risiko... manajemen risiko...


"Hei, bagaimana rasanyaaa? Bagaimana rasanya!? Kelemahanmu dipegang oleh pria menyebalkan itu!"


"Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol. Aku bisa memberimu kesempatan sekali lagi."


"......Kesempatan?"


"Ya. Aku menghargaimu. Berbeda dengan Cleric, kau telah melayaniku dengan setia."


"......"


"Tentu saja, aku juga manusia, jadi ada perasaan kesal. Tapi, mengingat jasamu selama ini dan kesetiaanmu, aku rasa tidak adil jika tidak memberimu kesempatan kedua."


"......"


Toh, si bodoh ini pasti akan memakan umpannya. Si bodoh ini jika diiming-imingi umpan, pasti akan langsung melahapnya dengan mudah. Selalu begitu.


Sambil menyunggingkan senyum palsu, Bigarnul berbicara lembut kepada Dagol.


"Maukah kau melayaniku sekali lagi?"


"......kin?"


"Hm? Aku tidak mendengarnya, bisa ulangi lagi?"


"Mana mungkin aku mau melayanimu, bodoohhh!"


"......Kh."


"Kupikir telingaku bakal busuk mendengarnya! Jangan bercanda! Aku yang sudah lama melayanimu tahu betul bahwa kau tidak akan pernah memaafkan orang yang pernah membangkang sekali saja!"


"......Kh."


"Justru, kalau kau jatuh kekuasaan, kemungkinan besar aku yang ditangkap olehmu akan dibebaskan karena dianggap korban tuduhan palsu... bagusss! Bagusss!"


Dagol kegirangan seperti balita. Tingkah laku itu sudah sangat jauh dari kata waras. Bigarnul tanpa sadar mencengkeram kerah baju orang tua itu melalui jeruji besi.


"Kau... aku benar-benar akan membunuhmu."


"......Kh, lepaskan! Bocah!"


!?


"Guaaaaaaaa!"


"Peh..."


Bigarnul buru-buru menarik tangannya karena rasa sakit yang luar biasa. Di sisi lain, Dagol meludahkan sesuatu dari mulutnya.


Itu adalah... potongan jari telunjuk Bigarnul.


"Haguaaaa!? Sakiit! Sakiit sakiit sakiit! A, apa yang kau lakukan bajingan!"


Dengan wajah seperti mau menangis, dia menekan bagian yang digigit putus.


"Kuku... hahaha! Karena kau meremehkanku, makanya jadi begini!"


"Guh... pecat... tidak, ma-mati! Aku pasti akan membawamu sampai hukuman mati!"


"Coba saja! Sekarang, di sini! Guhahaha, tapi sebelum itu, pria itu... Hazen Heim akan menghalangimu, lho."


"......Kh."


Dia meninggalkan penjara seolah melarikan diri. Dagol sudah tamat. Benar-benar sudah rusak.


Seketika dia memahami situasi, dan wajah Bigarnul menjadi pucat pasi dalam sekejap. Dia sudah menyingkirkan Cleric. Padahal Cleric adalah bidak yang harus dipertahankan jika ingin menyuruh Hazen melakukan sesuatu lagi.


Tidak... masih bisa diatur. Jika menyiapkan pos Kepala Departemen, masih bisa, entah bagaimana... tidak.


"Harus diatur... harus... harusss."


Sambil bergumam berkali-kali, dia berlari di lorong menuju ruang kerja Cleric.


Setelah tiba, Bigarnul membuka pintu tanpa mengetuk.


"A-ada apa dengan Anda? Jari itu."


Cleric menunjukkan ekspresi terkejut sambil melihat jari telunjuk yang berlumuran darah.


"Ja-jangan dipikirkan."


"Tidak, tidak bisa begitu. Segera pergi ke ruang medis dan──"


"Daripada itu! Ada hal yang ingin kusampaikan padamu!"


Bigarnul melontarkan kata-kata dengan kuat, berusaha agar kata-katanya didengar.


"A-apa itu? Saya akan mendengarkan ceritanya, jadi mari kita bicara sambil menuju ruang medis."


"Itu... aku berencana mengangkatmu menjadi Kepala Departemen pada promosi mendatang."


"Begitu ya."


"......Kh."


Apa-apaan sikap dingin itu.


"Se-sepertinya kau tidak senang."


"Yah, kalau Kepala Departemen Dagol sudah jadi begitu, secara alami akan jadi begitu, kan."


"Kuh... tapi, kalau aku tidak merekomendasikanmu, tidak ada harapan, lho? Bisa saja aku memanggil orang dari tempat lain."


"......Ah, begitu ya."


Ekspresi cemas Cleric berubah drastis, dan dia duduk di sofa.


"Silakan lakukan sesuka Anda."


"Apa..."


Cleric tertawa dengan ekspresi sinis.


"Anda mencoba menyuruh Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol melakukan sesuatu lagi, lalu ditolak, kan?"


"......Kh."


"Dan, Anda jadi panik. Sampai-sampai tidak peduli dengan jari yang putus itu. Dan, Anda mencoba menyuruh saya membereskannya."


"Kuh..."


"Saya tidak akan mendengarkan. Toh, Anda cuma pura-pura memberi umpan wortel di saat susah saja, lalu saat mau dimakan, Anda tarik kembali, kan?"


"Ti-tidak mungkin begitu!"


"Lagipula, soal negosiasi dengan Pejabat Urusan Dalam Negeri Hazen tempo hari, jangankan ucapan terima kasih, kata-kata apresiasi pun tidak saya terima."


"......Kh."


Dasar orang kecil yang mendendam hal-hal sepele, gumam Bigarnul dalam hati.


"I-itu... bukan murni jasamu, kan. Aku juga berkompromi."


"Kalau begitu, sebaiknya Anda lakukan sendiri. Jika Anda bisa melakukannya lebih baik, tolong tunjukkan."


"Ja, jaga mulutmu!"


Cleric menghela napas panjang seolah benar-benar kecewa.


"Bagaimana? Saya akan bertindak demi Kekaisaran, tapi saya sama sekali tidak berniat bertindak demi melindungi diri Anda. Apakah Anda masih memiliki kata-kata untuk meyakinkan saya?"


"......Kh, sudah cukup!"


Bigarnul melontarkan kata-kata itu seolah membuang ludah, lalu keluar seperti melarikan diri.


"......Dasar bajingan sok keren yang menyebalkan."


Lalu.


"......"


Langkah kaki yang didorong amarah perlahan melambat.


"......"


Tak lama kemudian.


"......Eh?"


Berhenti.


"Eh...... eh...... ini, harus bagaimana?"

Manajemen risiko. Bigarnul selalu bertindak dengan mengingat hal itu. Melakukan apa pun agar dirinya tidak terkena dampak. Kalaupun terkena dampak, agar bisa diminimalkan.

Namun, seiring naik jabatan ke atas, jumlah bawahan bertambah. Bawahan. Bawahan dari bawahan. Bawahan dari bawahan dari bawahan. Bawahan dari bawahan dari bawahan dari bawahan. Bawahan dari bawahan dari bawahan dari bawahan dari...... risiko yang harus ditanggung terus bertambah di satu sisi.


Tidak sebanding.


Mulai berpikir begitu saat naik ke jabatan Wakil Menteri, ya. Karena itu, dia menyuruh bawahan melakukan semua tindakan, bukan dirinya sendiri. Itu adalah langkah pertahanan diri agar tidak menanggung tanggung jawab lebih dari yang diperlukan.


Namun, sampai di titik ini, akhirnya dia harus melangkah melewati batas. Tidak bisa seperti sebelumnya. Bagaimanapun juga, dengan cara apa pun.


"......Hah...... hah...... ahah...... ngh."


Tanpa sadar, Bigarnul memegangi jantungnya. Detak jantungnya cepat. Dia gugup. Dia merasakan stres yang luar biasa karena harus berhadapan dan bernegosiasi dengan orang yang telah menghancurkan Dagol sampai seperti itu.


"Siapa lagi...... benar, Mordodo."


Tidak. Dia juga sama seperti Cleric. Musuh yang berpikir lebih baik dirinya hilang.


"Benar. Kepala Departemen bagian lain..."


Tidak, memerintahkan penyembunyian fakta. Tidak ada bawahan yang begitu dekat hingga bisa disuruh melakukan hal sejauh itu.


"Masa...... eh...... ja...... eh......"


Pandangan Bigarnul berdistorsi dengan aneh.


Lalu.


"Seseorang...... seseorang......"


Sambil bergumam tidak jelas, dia berjalan sempoyongan mondar-mandir.


Saat itu, tiba-tiba wajah seorang pria tua muncul di benaknya.


"Dagol..."


Benar... kalau dipikir-pikir, hanya dia satu-satunya. Apa pun yang diperintahkan, bahkan jika itu tindakan ilegal. Dia selalu berusaha melaksanakan perintahku dengan setia. Kalau itu perkataanku, pokoknya dia akan melakukan apa saja.


"Ugh... Dagol... Dagoool... Dagol-ya..."


Bigarnul merintih memanggil namanya berulang kali. Kenapa aku tidak menyadarinya? Dialah bawahan yang berharga. Dialah satu-satunya bawahan sejati.


Dagol.


"Anu... Anda tidak apa-apa?"


Di tengah situasi itu.


"Hauh..."


Hazen berjalan dari arah lorong.


Melihat keadaan Bigarnul, dia menyapa dengan ekspresi khawatir.


"Agah... gah... ke, kenapa..."


Kenapa ada di sini.


"Karena Anda terlihat sempoyongan. Saya pikir kondisi Anda sedang buruk."


"T-tidak. Aku tidak apa-apa."


"Syukurlah. Kalau begitu."


"......Kh."


Saat berpapasan dengan Bigarnul, dia membungkuk ringan lalu berlalu.


"Tu-tunggu!"


"Ya? Ada apa?"


"......Kh, i-itu. Pejabat Urusan Dalam Negeri Hazen. A-aku berterima kasih atas pasokan makanan kali ini."


"Jangan dipikirkan. Sebagai perwira Kekaisaran, sudah sewajarnya bekerja sama dalam krisis Kekaisaran."


"......Kh."


Berani-beraninya dia bicara begitu. Bigarnul mati-matian menahan dorongan untuk melompat dan mencekiknya di tempat.


"Kalau begitu, saya permisi."


"......Kh, tu-tunggu!"


"Ya?"


"Itu... ada hal yang ingin kubicarakan secara pribadi."


"Baik."


"Tu-tunggu, jangan di sini."


"Kalau begitu, mari pindah tempat."


Hazen memimpin jalan masuk ke ruang kerjanya sendiri. Meninggalkan sekretaris di luar, Bigarnul masuk menyusul.


"Jadi? Apa yang mau dibicarakan?"


"......Kh."


Hazen duduk di sofa, menyilangkan kaki dengan angkuh sambil bertanya. Sikap arogan yang berubah drastis dibanding saat bertemu di lorong tadi.


Jelas sekali dia meremehkanku.


Sikap macam apa itu! Bigarnul mati-matian menahan dorongan untuk membentaknya.


"Itu... soal dokumen ini."


"Ah, itu ya. Dokumen yang Anda tolak atas tanggung jawab Anda sendiri, kan?"


"Guh... ternyata benar, kau pelakunya?"


"Apa maksudnya?"


"Ja-jangan pura-pura bodoh!"


"......Pura-pura, bodoh?"


"Haguh..."


Mata Hazen berkilat tajam. Bigarnul mundur beberapa langkah, lalu memaksakan senyum canggung.


"Ti-ti-tidak perlu pura-pura bodoh, kan?"


"Saya ingin Anda bicara langsung pada intinya. Saya tidak suka cara bicara yang berbelit-belit."


"......Kh."


Sambil menahan rasa malu yang meluap-luap, dia membungkuk dalam-dalam.


"Itu... aku salah. Karena itu, bisakah kau serahkan dokumen asli ini padaku?"


"Saya menolak."


!?


Sedetik.


Dalam sedetik, dia menolaknya.


"Guh... tolonglah."


"Tidak mau."


"Sya-syaratnya. Aku adalah Pejabat Pelaksana Konsul. Apa pun yang bisa kulakukan, akan kulakukan."


"Tidak perlu."


"Ke-kenapa! Kenapa!?"


"Begini ya. Saya, dari dulu, sudah berpikir begini. Anda tidak punya kapasitas sebagai Pejabat Pelaksana Konsul. Karena itu, saya ingin Anda segera turun."


!?


"Ba-bajingan..."


"Bajingan? Apakah barusan Anda mengatakannya kepada saya?"


"......"


"Kalau salah paham sih, tidak apa-apa. Yang mana? Anda mengatakannya kepada saya?"


"......Guhoh...... on."


Hazen berdiri, mendekatkan wajahnya hingga kening hampir bersentuhan, lalu menatap tajam.


"A-aku salah bicara. Kau. Aku bilang 'kau', kok."


"Kalau begitu, syukurlah. Hanya saja..."


"A-ada apa?"


"Agak mengganggu pikiran saya, ya."


"A-apanya?"


"Saya rasa terlalu tinggi, lho."


"Tinggi? Anu..."


"Kepala Anda."


"......Kh."

Bigarnul kehilangan kata-kata. Barusan, orang ini bilang apa? Terhadap dirinya yang merupakan pemimpin de facto wilayah ini, seorang Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Bawah yang baru menjabat kurang dari beberapa bulan dan telah diturunkan pangkatnya ke tingkat paling bawah.


Mustahil.


Seharusnya tidak mungkin.


Tanpa sadar, seluruh tubuhnya menjadi panas. Dia merasakan penghinaan yang seolah-olah kulitnya melepuh karena mendidih. Namun, dia tidak boleh emosional. Justru itulah yang diinginkan pria ini. Dia harus tetap tenang dan membujuk pria ini.


"A-aku tidak merasa begitu, tuh."


"Begitukah? Kalau begitu, mari kita akhiri pembicaraan ini. Anda pasti sibuk melindungi diri sendiri, yah, berjuanglah."


!?


"Tu-tunggu! Baiklah. Begini sudah cukup, kan?"


Bigarnul membungkuk dalam-dalam. Mengubah sudutnya dari 90 derajat menjadi sekitar 125 derajat.


"Haa. Anda tidak mengerti, ya. Masih terlalu tinggi. Bahkan belum menyentuh lantai, kan."


"Guh... uguguguguh..."


Bunuh. Aku pasti akan membunuhnya. Setelah masalah ini selesai, pasti. Akan kubunuh secara permanen. Dia mati-matian menahan rasa benci yang meluap-luap. Bigarnul menempelkan lutut, kedua tangan, dan keningnya ke karpet.


"Aku mohon... seperti ini."


"Hmm. Rasanya masih tinggi ya."


!?


Hazen meletakkan telapak kakinya di belakang kepala Bigarnul dan menekannya dengan kuat.


"Eh? Kok tidak turun ya."


"Sakit... sakitsakitsakitsakitttt... tidak bisa turun lagi! Lebih dari ini."


Dug dug dug dug!


"Hungyaaaaaaaa!?"


Kepala itu dihantamkan berkali-kali sekuat tenaga dengan telapak kaki, hingga tulang hidungnya hancur. Bigarnul berguling telentang, menggeliat kesakitan, dan karpet pun ternoda merah oleh darah.


"Eh... cuma perasaanku saja ya. Ternyata, sudah tidak bisa turun lagi."


"Guh... fuh... kan sudah kubilang! Makanya, kan sudah kubilang tadi!?"


"Tadi, kah?"


"......Ngiiii."


Apa-apaan orang gila ini. Dia merendahkanku tanpa henti. Bahkan bicara santai pun tidak dimaafkan? Orang ini, sampai mana. Sampai mana dia akan meremehkanku.


Manajemen risiko.


Tenanglah... tenanglah tenanglah tenanglah tenanglah tenanglah tenanglah tenanglah... tahan tahan tahan tahan tahan tahan tahan tahan tahan tahan tahan tahan tahanlah.


Bigarnul menyunggingkan senyum tipis yang canggung.


"Ta-tadi, kan. Kan sudah saya bilang tadi. Maaf, saya salah bicara."


"Begitukah. Mulai sekarang, tolong perhatikan penggunaan kata-kata Anda, ya?"


"......Kh."


"Jawabannya?"


"Ba-baik."


"Bagus sekali. Astaga... mendidik Anda benar-benar melelahkan, ya."


"......Fuguuh."


Sambil dielus-elus dengan lembut. Bigarnul diserang perasaan di mana kata 'penghinaan' saja terasa terlalu lunak. Sudah berapa kali dia menikam pria ini secara membabi buta dalam imajinasinya. Namun, itu tidak pernah cukup. Dia bersumpah dalam hati akan menghabiskan waktu bertahun-tahun ke depan untuk memikirkan cara membunuhnya.


Pria yang dibenci setengah mati itu melanjutkan pembicaraan dengan senyum yang menyegarkan.


"Kalau begitu, mari kita rapikan situasinya."


"Ra-rapikan?"


"Jika melihat dokumen ini, siapa pun akan berpikir ini kesalahan penilaian Anda. Jika Mayor Jenderal Marasai bukan orang bodoh, beliau pasti akan segera mengadukannya ke pusat."


"Kuh..."


Hal itu sudah sangat jelas. Justru karena itulah, dia menahan penghinaan sebesar ini.


"Lalu, ada kebiasaan dalam promosi pejabat sipil. Kebiasaan bahwa Pejabat Pelaksana Konsul berikutnya dipilih dari Kepala Departemen, khususnya Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri. Benar begitu, kan?"


"Ja-jadi, memangnya kenapa... hauuu!"


Di sini. Bigarnul sampai pada sebuah prediksi.


Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri... Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri itu...


"Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul telah memasukkan Kepala Departemen Dagol ke penjara, kan? Kira-kira bagaimana pandangan pusat soal itu, ya?"


"......Hau."


"Jika saya perwira Kekaisaran pusat, Anda akan terlihat sebagai pendosa yang menyembunyikan kesalahan sendiri. Di sisi lain, Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol terlihat sebagai orang Nomor 2 yang punya nyali untuk melawan tanpa takut pada dosa."


"Ugh...... uguh."


Itu mungkin terjadi. Atau lebih tepatnya, pihak Pusat pasti akan menganggapnya begitu. Seorang bijak yang bersih dan suci yang berani melawan pendosa yang melakukan penyembunyian fakta. Mereka pasti akan membuat keputusan personalia yang terbuai oleh dramatisasi layaknya cerita dongeng seperti itu.


"Jika Anda jatuh, Kepala Departemen Dagol akan menjadi Pejabat Pelaksana Konsul. Itu adalah masa depan yang hampir pasti, ya. Sepertinya ini akan menjadi perkembangan yang buruk bagi Anda, kan?"


"I-itu berlaku untukmu juga... bukan?"

Pria ini juga pasti akan kesulitan. Wewenang Pejabat Pelaksana Konsul sangat besar. Sama seperti dirinya, dia juga dibenci Dagol. Pria ini juga pasti akan kerepotan. Justru, dia bisa membujuknya bahwa lebih baik membiarkan dirinya tetap di atas.


Dia harus menonjolkan poin ini sekarang.


Namun, seolah menginjak-injak harapan itu. Hazen menggelengkan kepalanya perlahan.


"Saya memiliki Wakil Menteri Cleric dan Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Atas Mordodo. Lalu, Anda mungkin sudah tahu, tapi saya juga 'disayang' oleh dua orang ini, lho."


Mengatakan itu, dia menjentikkan jarinya, lalu Gimoina dan Barairo masuk.


"Ka-kalian."


"Hei, kalian menyayangiku, kan?"


"Higuuh... ya, ya. Sa-sa-saya menyayangi Pejabat Urusan Dalam Negeri Hazen. Mohon maaf... mohon maaf... sayaaa..."


"......Kh."


Gimoina menjawab sambil berlinang air mata. Melihat sosok itu, Bigarnul tercengang. Pria ini merendahkan diri bukan kepada dirinya yang merupakan atasan dari atasan dari atasan dari atasan dari atasannya, melainkan kepada Hazen yang merupakan bawahan dari bawahannya.


Bagaimana bisa jadi begini?


Sebenarnya, bagaimana bisa jadi begini.


"Sa-sa-saya juga. Ji-ji-jika ada bahaya menimpa Pejabat Urusan Dalam Negeri Hazen-sama, saya akan dengan se-se-sepenuh tenaga... meng-meng-menghancurkan mu-mu-musuh. Meng-hancur... hancur... hancur... hancur..."


"......Kh."


Rusak.


Barairo sudah benar-benar dirusak.


Terhadap Bigarnul yang menunjukkan ekspresi takjub, Hazen menyunggingkan senyum yang menyegarkan.


"Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul. Orang lemah itu, ya. Pada akhirnya, secara naluriah akan menindas yang lebih lemah, lho."


"Hii..."


"Anda, yang pangkatnya turun, nasibnya memburuk, dan dibenci semua orang. Saya, yang disayang oleh semua atasan dari Wakil Menteri ke bawah. Siapa yang lemah, sudah jelas sekali, kan?"


"Uugh...... hiuuu..."


Lalu.


Hazen tersenyum segar dan bertanya.


"Mungkin saja sih... Anda akan mati, kan?"


"......Kh."

Kematian.


Bigarnul tidak pernah membayangkan kata itu akan jatuh menimpa dirinya. Apa yang sebenarnya dibicarakan pria ini.


"Ti-tidak mungkin begitu. I-itu mustahil. Ki-kita ini pejabat sipil, lho.... Hal seperti itu──"


Saat dia hendak mengatakannya, Hazen tersenyum tipis seolah takjub.


"Anda hidup di dunia yang damai, ya. Medan perang abadi. Saya tahu banyak negara di mana persekongkolan dan peracunan adalah hal yang biasa bahkan bagi pejabat sipil, lho?"


"......Kh."


Tidak normal.


Tidak normal tidak normal.


Tidak normal tidak normal tidak normal.


Benar-benar tidak normal. Jelas sekali pola pikirnya aneh. Gila. Benar-benar gila. Delusi macam apa yang dimilikinya hingga berpikir begitu.


Pria ini belum genap satu tahun jadi perwira. Bisa dibilang, masih anak baru yang masih hijau. Bocah seperti itu bicara soal politik negara-negara di benua.


"I-itu ber-berlebihan.... Lagipula, Dagol bukan pria yang punya nyali sebesar itu."


"Begitukah? Beliau itu cukup tidak kenal ampun pada bawahan, lho."


"......Kh."


"Setidaknya, dia mengirim Asisten Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Atas Gimoina dan Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Menengah Barairo kepada saya. Dia pasti akan melakukan gangguan selevel itu kepada Anda."


"......Kh."


Dia akan melakukannya.


Tidak, kalau dia... dia akan melakukan hal yang lebih parah dengan santai.


Bigarnul kembali menggosokkan keningnya ke lantai.


"Mohon bantuannya! Aku akan melakukan apa saja! Apa saja! Tolong... tolong berikan belas kasihan."


"Uang."


"......Hah?"


"Uang, lho, uang. Ngomong-ngomong, Anda punya berapa?"


"......Kh."


Pemerasan.


Dia terang-terangan memeras. Sambil memandang rendah Hazen dengan pikiran 'ujung-ujungnya uang ya', dia tersenyum licik karena merasa untuk pertama kalinya negosiasi berjalan.


Bigarnul menunjukkan ekspresi menyedihkan dan menjawab dengan kesal.


"Sa-saya bukan bangsawan tingkat setinggi itu, jadi aset saya tidak banyak..."


"Untuk sementara, bisakah Anda siapkan 100 keping koin emas besar?"


!?


"Ko, ko, koin emas besar... se, 100 keping!?"


Jumlah yang diajukan adalah uang yang sangat besar. Mustahil, dia tidak mungkin bisa menyiapkan jumlah sebanyak itu.


"Apakah itu terlalu murah?"


"Ja, ja, ja, jangan bercanda! Mana mung... hungyaaaaaaaa!"


Saat Bigarnul yang tersulut emosi mencoba mencengkeram kerah Hazen, Barairo memelintir lengannya sekuat tenaga dan menjatuhkannya. Lalu, dia menindih tubuhnya dan bersiap memukul.


Namun, tepat sebelum itu, Hazen menghentikan tangan Barairo.


"Terima kasih. Tapi, saya masih ingin bicara sedikit lagi dengan Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul, jadi cukup sampai di situ."


"Mo, mo, mo, mohon ma, ma, maaafkan saayaaa terima kasih. A, a, a-apakah Anda akan membe, be, berikan hu, hu, hukuman terima kasih."


"Tidak ada hukuman."


"Te, te, te, terima kasih."


Seketika, Barairo berhenti bergerak layaknya boneka. Di sisi lain, Bigarnul berguling-guling sambil memegangi lengannya.


"Higii... higgiiau..."


"Berlebihan sekali, ya. Kan cuma dipelintir sedikit... nih!"


"Higyaaaaaaaa!"


Hazen menginjak lengan Bigarnul dan menekannya kuat-kuat ke lantai.


"Jadi? Mau bayar? Atau tidak?"


"Hii... fuh, fuuuu! Hi hi fuuuuuu..."


Dia mencoba meredakan rasa sakit dengan pernapasan Lamaze, tapi sakit tetaplah sakit.


"Selanjutnya, kalau tidak menjawab, negosiasi saya hentikan."


"......Kh."


Sama sekali tidak ada belas kasihan sedikit pun. Padahal dia sedang kesakitan seperti ini, tapi tidak ada satu kata pun seperti 'apakah Anda baik-baik saja?'. Tidak, alih-alih itu, padahal sedang kesakitan, dia malah langsung menyerang lagi. Sungguh kejam. Sungguh biadab.


"Kalau begitu, saya tanya sekali lagi saja, ya. Mau bayar? Atau tidak?"


"A, aku bayar!"


"Jumlah penuh?"


"Ju, jumlah penuh mustahil! Setidaknya 20 keping koin emas besar... tidak, 30 keping benar-benar batasnyaa."


Bigarnul memohon sambil menangis. Hazen yang menatap lekat keadaan itu menghela napas kecil, lalu memiringkan kepala sambil tersenyum.


"Haa... apa boleh buat, ya."


"Ka, kalau begitu... 30 keping koin emas besar?"


"Nah, ayo kita pergi."


"Eh? Ke, ke mana..."


"Ke tempat Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol."


"......"


"......"


"......Hah?"


"Saya mau pergi menjualnya, lho. Kira-kira dia mau beli berapa, ya?"


"......Kh."

Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan pria ini. Padahal barusan, aku sudah bilang 'mau bayar'. Jangan-jangan, dia tidak mendengarnya? Pasti begitu. Pasti begitu.


"Anu... saya bilang 'saya akan bayar 30 keping koin emas besar', lho."


"Apakah telinga Anda busuk? Saya bilang 'saya akan menjual dokumen asli seharga 100 keping koin emas besar', lho. Saya tidak bisa menjualnya dengan uang receh seperti itu. Makanya, saya berpikir untuk menjualnya kepada orang yang sepertinya mau membeli."


"Hah... guh..."


Mulut Bigarnul menganga lebar. Orang ini, jangan-jangan...


"Lihat. Saya rasa ini juga dokumen penting bagi Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol. Soalnya, kalau saya jual ke Anda, Anda mungkin akan membunuhnya, kan?"


"Ti, tidak. Saya sama sekali tidak akan melakukan hal seperti itu..."


"Fakta atau bukan, itu tidak terlalu penting, lho. Yang penting adalah apa yang dipikirkan Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol. Dan, Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul. Apa yang Anda pikirkan."


"U... ngh... o... orang i... ni... kh."


Tidak salah lagi. Pria ini menimbang nyawa satu sama lain di atas neraca, dan berniat menjualnya ke pihak yang menawar lebih tinggi.


"Ada apa? Yah, kalau tidak mau ikut juga tidak apa-apa sih."


Hazen keluar ruangan dengan gagah. Bigarnul mengejarnya sambil berkata, "Tu, tung... tungg...", tapi di tengah jalan dia melihat sekretarisnya.


"......"


Hazen tidak menunjukkan tanda-tanda akan menoleh ke belakang.


"Cari di ruangan ini secara diam-diam."


Dia memerintah sekretarisnya dengan bisikan pelan.


"Eh... anu, cari apa?"


"Begitu saja tidak tahu!? Pokoknya──"


"Sikap itu tidak bisa diterima, ya."


"Hii..."


Saat sadar, tatapan tajam Hazen telah menangkapnya.


"Sepertinya Anda masih belum paham posisi Anda, ya."


"Ti, tidak. Bukan begitu..."


"Saya sudah putuskan. Saya akan menjualnya ke Kepala Departemen Dagol dengan harga lebih murah 10 keping koin emas besar."


"Hau... ma-masa begitu..."


"Apa boleh buat, ya. Jika berbuat nakal harus dihukum, kalau tidak nanti jadi kebiasaan."


"......Kh."


Orang ini. Dia memperlakukanku seolah-olah hewan peliharaan.


"Lho... tidak ada jawaban, ya?"


"Ba-ba-baiklah."


"Bagus. Kalau begitu, mari kita pergi? Ups, jika berikutnya Anda bertingkah aneh lagi, saya akan serahkan dokumen ini secara cuma-cuma kepada Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol, jadi tolong benar-benar sadari posisi Anda, ya."


"Kuh..."


"Lho? Entah kenapa, saya tidak suka... mata itu."


Hazen mendekati Bigarnul dan menatapnya lekat dengan mata tajam.


"Baiklah. Saya akan tambahkan 5 keping koin emas besar lagi."


"I-itu tidak mungkin... ke-kenapa?"


"Saya sudah bilang, kan? Saya tidak suka, lho. Tatapan mata yang membangkang itu."


"Haguh... ha-hanya karena itu..."


"Lho? Membangkang?"


"Ti-tidak. Saya mengerti."


"Begitukah. Kalau begitu, mari kita pergi."


"......Kh."


Benar-benar tidak normal. Bahkan perlawanan sekecil apa pun tidak dimaafkan. Dia belum pernah melihat pria yang seperti tiran begini.


Mereka tiba di penjara bawah tanah. Hazen melontarkan senyum yang menyegarkan kepada orang tua yang rambutnya sudah berkurang drastis dibandingkan sebelumnya.


"Lama tidak berjumpa. Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol."


"A-apa tujuanmu datang ke sini!?"


"Ini... saya sedang berpikir untuk menjualnya kepada Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul, lho."


"Apaaa!?"


Saat Hazen mengibas-ngibaskan dokumen yang diangkatnya, Dagol mulai berkeringat deras bagaikan air terjun.


"Ke-ke-ke-kenapa, melakukan hal bodoh seperti itu!?"


"Katanya sih dia mau membeli seharga 30 keping koin emas besar. Tapi, itu uang receh, kan?"


"......Kh."


Ekspresi Dagol dan Bigarnul secara mengejutkan terlihat sama persis.


"Jika tidak ada pembeli lain, saya berniat menyerahkannya padanya."


"Ha-hal seperti itu... a-aku akan mati! Aku akan dibunuh oleh Bigarnul."


"Kukuku... benar juga, ya. Anda pasti akan mati."


"......Kh."


Hazen memulai interaksi yang sama, sampai-sampai Bigarnul mengira ini déjà vu. Namun, jika dia mencoba menyela, jumlah koin emas besar akan ditambah lagi dan dia akan dirugikan.


"Ka-kalau aku, aku akan bayar 40 keping koin emas besar! Bagaimana, tawaran bagus, kan?"


"......Kh."


Di-dimulai sudah.

Lelang yang mempertaruhkan nyawa. Negosiasi harga yang benar-benar gila yang memang pantas disebut demikian. Baik Bigarnul maupun Dagol, telah sepenuhnya terperangkap di atas timbangan itu.


Lalu.


Pria berambut hitam yang seperti iblis itu menyunggingkan senyum tipis yang menyegarkan layaknya pemuda baik-baik.


"40 keping koin emas besar, ya... Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul. Bagaimana menurut Anda?"


"......Kh."


Benar-benar tidak tahu malu.


"45 keping koin emas besar."


"Tidak bisa."


!?


"Ke-kenapa... begitu!?"


"Saya sudah bilang, kan? Untuk Anda, ada tambahan 5 keping koin emas besar."


"Kuh... 55 keping koin emas besar... sudah, aku tidak bisa mengeluarkan lebih dari ini."


"......"


Hazen menoleh dan melihat ke arah Dagol.


"Begitu katanya. Bagaimana?"


"A, 70 keping koin emas besar."


"......Kh."


Si bodoh ini. Apakah dia sudah kehilangan akal sehat karena terbawa persaingan gila ini? Padahal dia tahu akan jadi begini, tapi tanpa punya rencana apa pun, dia menaikkan harga hanya demi melindungi diri sendiri? Dasar bodoh. Tidak becus. Rongsokan tolol.


Seperti biasa, Bigarnul didorong oleh hasrat untuk mencekik Dagol sampai mati. Namun, dia harus menahan emosinya.


Dia harusnya bekerja sama dengan pria ini untuk menawar dengan harga murah, tapi karena negosiasi dilakukan di bawah pengawasan langsung, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"De, de, 85 keping koin emas besar."


"90 keping! Jangan meremehkanku."


"Guh..."


Dasar otak udang.


"Se, 105 keping koin emas besar!"


Saat Bigarnul menyerukan perlawanan itu, Hazen menunjukkan gelagat sedang berpikir sejenak.


"......Mulai dari sini, bagaimana kalau kita sesuaikan dengan aset Anda sekalian?"


"A-apa maksudnya?"


"Begini, ya. Dalam perhitungan saya, saya rasa aset kalian berdua sudah hampir habis, lho."


"Kuh...... ke, kenapa kau tahu hal itu."


"Saya kan pejabat urusan dalam negeri. Saya tidak pernah melewatkan pemeriksaan fakta."


Hazen berkata demikian, lalu memperlihatkan beberapa lembar dokumen yang dipegangnya kepada kedua orang itu. Itu adalah tabel perhitungan. Uang yang mereka miliki. Gaji yang dibayarkan oleh Kekaisaran. Dan, uang yang mereka pegang saat ini.


"Hagaa...... fuh."


Kapan dia menyelidiki hal semacam ini. Lebih dari sekadar kaget, rasa takut yang luar biasa lebih mendominasi. Seolah-olah dia tahu akan jadi begini, apakah dia sudah mempersiapkannya? Apakah dia sudah menyelidikinya? Tidak, hal semacam itu... seharusnya hanya bisa dilakukan oleh dewa atau iblis.


Hal seperti itu tidak mungkin.


Seharusnya tidak mungkin.


"Uang yang kalian berdua miliki hampir sama. 100 keping koin emas besar adalah satu garis batasnya, mulai dari sini kalian harus menyerahkan sesuatu selain uang."


!?


"A, a, a, apa yang kaugh biwcarakan?"


Lidahnya tidak bisa berputar dengan benar. Soalnya, tidak masuk akal. Soalnya, tidak bisa dimengerti. Soalnya, soalnya. Soalnya, sudah...


"Sudah kubilang tidak ada lagiii! Kenapa, kenapa kau tidak ngertiiii siiih?"


"Begitukah? Lihat, masih ada banyak, kan? Halaman kedua. Properti, misalnya."


"Hah...... kh......"


Orang ini. Apa dia bilang mau menyita sampai ke tanah-tanah?


"Jangan khawatir. Saya sama sekali tidak berniat membeli dengan harga murah. Saya akan menghitungnya sesuai harga tanah."


"Harga tanah semacam itu, mana mungkin bisa langsung diketahui, kan!?"


"Bisa tahu kok. Nih, ini."


Mengatakan itu, Hazen menyerahkan dokumen baru kepada kedua orang itu.


"I, ini..."


"Ada pedagang hebat bernama Nandal, lho. Ini adalah sertifikat harga tanah untuk properti yang kalian miliki. Persiapannya sudah lengkap agar bisa dijual secara resmi, segera, dan dengan benar, jadi jangan khawatir."


"Hah...... kh...... ke, kenapwah?"


Bukan, bukan, bukan begitu.


Bagian yang dia perhatikan, jelas-jelas salah kaprah.


"Saya kan pejabat urusan dalam negeri, jadi saya tidak pernah melewatkan persiapan lobi sebelumnya."


"......Kh."


Iblis. Iblis yang mutlak.


"......Aku keluarkan tanah Gozanimst."


!?


Di tengah situasi itu, Dagol bergumam.


"Baji... bajingaaaaaaannn!?"


Bigarnul mencengkeram kerah Dagol sambil mengeluarkan suara aneh.


"Guhahahahahi! Ma, mati sana di neraka! Sampai mana pun, aku akan menyaingimu! Aku pasti, benar-benar, secara tak terelakkan akan membunuhmuuuu eh!?"


Sambil meneteskan air liur, Dagol yang matanya merah padam berteriak dengan garang. Orang ini, sudah benar-benar rusak. Sudah hancur total.


Ja... jangan bercanda.


"Jangan bercandaaaaaa! Kaulah yang nerakaaaa! Aku jual tanah Zamas! Zobenanzo jugaaaa uweeehh!"


"......Kh, bunuh bunuh bunuhhhhuuuuu! Bagaimana dengan Benuowo dan Garusta, Bokanedes! Mati sanaaaaaaaa!"


Keduanya saling melontarkan parade suara aneh dan caci maki. Sudah tidak peduli lagi. Sampai lawan diam, sampai batas maksimal, aku akan melakukannya.


Akan kulakukan.


Akan kubunuh.


"Guhasarugo, Radahandu, Zonohamon..."


"......Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol, senilai 160 keping koin emas besar."


"Ruyonna, Gashaeku, Doragohan..."


"......Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul, senilai 180 keping koin emas besar."


Tanah demi tanah disebutkan satu per satu, dan jumlah uang terus melonjak naik. Sudah tidak ada lagi rasa ragu untuk membuang semuanya. Hanya ingin memenangkan persaingan gila ini. Membunuh Dagol. Hanya itu yang bisa dipikirkan.


Tak lama kemudian.


"Uguh...... Go, Gonasu."


"216 keping koin emas besar...... sampai di sini ya."


Hazen menyatakannya.


"Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul senilai 242 keping koin emas besar. Selesai."


"Ti, tidak mungkin...... benar, Garusta bagaimana?"


"Sudah disebutkan."


"Belmona! Belmona bagaimana!?"


"Itu bukan tanah Anda, tapi tanah kerabat Anda, kan?"


"Menang...... terbeli...... menang...... kah?"


Bigarnul bergumam berkali-kali. Dia berhasil bertahan hidup. Dengan ini, dia bisa tetap berada di posisi ini. Dengan ini...


"Ti, tidak mungkin...... fuguuh......"


Dagol berlutut dan terisak.


"Kuhaa...... kuhahahahi! Rasakan! Rasakan itu! Aku pasti akan membunuhmu! Cuma kau yang pasti! Apa pun yang terjadi! Demi langit dan bumi! Atas nama Yang Mulia Kaisar!"


Bigarnul meneteskan air liur, berteriak kemenangan sambil menari-nari.


Di tengah situasi itu.


Hazen memanggil Dagol dengan lembut.


"Belum, lho. Bukankah ini baru akan dimulai?"


"Eh?"


"Eh?"


Dagol menatap Hazen seolah ingin bergantung padanya, sementara Bigarnul menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.


"Ta-tapi! Si kotoran ini, sudah kehabisan uang dan tanah..."


"Kalau tidak ada uang, tinggal berutang saja, kan?"

"......Kh."


Buwa. Seketika, air mata Bigarnul tumpah ruah. Dia sudah memeras semua aset semampunya. Sudah membuatnya hancur lebur seperti kain pel usang.


Masih mau memeras lagi sampai kering?


Bigarnul bersujud dogeza. Sujud yang tulus tanpa keraguan sedikit pun. Tanpa mempedulikan penampilan, dia menempelkan keningnya erat-erat ke lantai dalam sujud yang pasrah.


"Ini... ini terlalu kejam! Dana pensiun pun sudah diperas habis, masa harus berutang lagi... tolong ampuni saya!"


"Tidak akan."


"......Kh."


Dalam sepersekian detik.


Hazen menolak dengan tegas.


"Lagipula, kalau mau mundur, silakan mundur. Kalau begitu, saya tinggal membuat kontrak dengan Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol saja."


"Hii... hiiiiiiin."


Emosinya tidak bisa mengejar. Perasaannya goyah. Semuanya tak terkejar.


Mana mungkin dia bisa melakukannya. Kenapa pria ini mengatakan hal yang mustahil dilakukan. Padahal sudah dibuat saling membenci sampai begini. Kalau mundur sekarang, dia hanya akan dicabik-cabik.


"......"


"Dagol pun sudah tidak mungkin. Lihat tuh, dia bengong kan! Hei, Dago──"


"Te-ternyata ada cara itu..."


!?


"O-oi Dagol! Dagolyaaa! Sadarlah kau!"


"Berisik jangan ajak ngobrol sampah! Aku pasti akan membunuhmu!"


"......Kh."


Dia sudah kehilangan kewarasan sepenuhnya. Apakah aku harus bersaing dengan orang gila yang akal sehatnya sudah hancur tak bersisa ini?


"U... uoooooooehk."


Seketika, diserang rasa mual yang hebat, Bigarnul memuntahkan cairan lambung dengan deras. Beban mental telah menggerogoti fisiknya. Pasti lambungnya sudah berlubang.


Namun, Hazen tidak mempedulikan hal itu sedikit pun (sebesar kutu air), dan melanjutkan pembicaraan dengan datar.


"Nah. Mulai dari sini, saya minta kalian menulis surat. Kepada pedagang langganan. Kepada kerabat, teman, dan keluarga kalian. Cairkanlah kepercayaan kalian."


"......Kh."


Sampai tadi, ini adalah adu jotos dalam batasan aset yang ada. Tapi, kali ini dia tidak bisa membayangkan seberapa banyak yang bisa ditarik oleh Dagol.


Mau tidak mau, dia harus memohon jumlah maksimal.


"Ini isinya. Saya sudah menyelidiki seluruh hubungan pertemanan kalian. Surat akan sampai dalam satu hari, dan saya akan minta tanda tangan mereka, jadi jangan khawatir."


"......Kh."


Bukan, bukan, bukan begitu.


Bagian yang dikhawatirkan, jelas-jelas salah kaprah.


Tapi, mengirim surat kepada kerabat, teman, dan keluarga yang tersebar di seluruh pelosok benua dalam satu hari? Dipikir bagaimanapun juga itu mustahil.


"Ha-ha-hal semacam itu... bagaimana caranya?"


"Rahasia."


"......Kh."


Padahal secara fisik itu mutlak mustahil. Tapi kalau orang ini, rasanya dia pasti bisa melakukannya.


"Ugh... uooooooooooooooooh!"


Dagol menulis dengan garang di tumpukan kertas surat. Kecepatan menulis yang tak terbayangkan dari cara kerjanya yang biasa.


"Hah... guh... uooooooooooooooooh!"


Tidak boleh kalah. Pokoknya tidak boleh kalah.


"Tulis dengan sepenuh hati, ya. Pikirkan baik-baik cara membujuknya──"


"......Kh."


Dia mengatakannya sambil tersenyum-senyum, seolah sedang menjelaskan aturan permainan.


Lalu.


Setelah selesai menulis semua surat dan menyerahkan surat terakhir, keduanya ambruk seolah terbakar habis.


Segalanya.


Dalam satu jam, mereka kehilangan segalanya.


Yang tersisa hanyalah utang yang sangat besar.


"Uugh... uguuuhhhhhh, uguhiguuuauuauuuooouh!"


Bigarnul menangis. Terisak-isak di tempat itu. Kenapa bisa jadi begini. Kenapa jadi begini...


"Kenapa Anda malah jadi melankolis begitu, menjijikkan."


"......Kh."


Bunuh.


"Satu hari lagi, Mayor Jenderal Marasai akan datang, jadi tidak ada waktu untuk itu, lho. Kedatangan surat-suratnya akan sangat mepet, jadi selama waktu itu, kita harus mematangkan kontraknya."


Mengatakan itu, Hazen menyerahkan surat kontrak.


"Kalian berdua, tolong periksa apakah ada kekurangan. Sihir kontrak tidak akan berlaku kecuali ada kesepakatan bersama."


"......Kh."


Baik Bigarnul maupun Dagol, menatap pasal-pasal kontrak sampai mata mereka melotot.


"Boleh saja kalau mau menyuruh sekretaris memeriksanya. Kalau mau dipanggilkan, akan saya panggil."


"......"


Baik Bigarnul maupun Dagol tidak berbicara apa-apa, dan terus menatap surat kontrak dengan saksama. Bagaimanapun juga, sekretaris orang lain tidak bisa dipercaya sedikit pun. Hanya mata sendiri. Mereka memeriksanya dengan mata kepala sendiri.


Mengenai jumlah uang, hasil negosiasi tadi tercermin tanpa meleset sedikit pun. Sisanya, kontrak dengan jumlah penawaran yang lebih besar yang akan diberlakukan.


Surat kontrak yang sangat sempurna tanpa celah sedikit pun.


"Haa...... kh...... uuh..."


Namun, ada satu poin. Pada pasal pihak kontrak, terdapat kejanggalan yang luar biasa.


"Haguuau...... auh...... auuh......"


Ingin bertanya.


Tapi tidak ingin bertanya.


Sambil diserang perasaan baru semacam itu, Bigarnul dengan takut-takut bertanya pada Hazen.


"Anu... kenapa pihak kontraknya bukan Anda, melainkan Barairo?"


"Ah. Soalnya ini uang kotor. Harus di-laundry dulu."

"......Kh."


P-pria ini... padahal punya rambut sehitam ini. Mata sehitam ini. Hati dan perutnya busuk menghitam. Bahkan jiwanya pun diwarnai hitam pekat bagaikan jurang maut.


Tapi dia bilang 'ingin tangannya sendiri tetap putih bersih'?


"I, itu tiwdak... ityu tiwdak mungkwin."


Entah lidahnya yang kelu atau otaknya yang lambat memproses. Pokoknya, dia tidak bisa bicara dengan benar. Sulit dipercaya. Tidak, ini pasti mimpi, kan. Mimpi buruk yang cukup kuat. Benar... pasti begitu... begitulah... kumohon begitulah. Dengan harapan yang tulus itu, Bigarnul mencubit pipinya sendiri.


Ti, tidak, ternyata bukan mimpi.


Dan, pria di hadapannya melanjutkan penjelasan dengan datar sambil menyunggingkan senyum iblis.


"Lihat, transaksi ini abu-abu secara hukum Kekaisaran, kan? Menyembunyikan fakta itu merepotkan, lho. Pejabat Pelaksana Konsul Bigarnul juga selalu bilang, kan. 'Manajemen risiko'. Wah, saya benar-benar belajar banyak."


"......Kh."


Manajemen risiko yang sangat sepihak.


Padahal di sini, yang ada cuma risiko.


"I, itu beda cerita. He, hei Dagol."


"Jangan ajak ngobrol, dasar serangga kotoran! Kalau mau mundur, mundur saja sendiri! Aku tidak akan termakan tipuanmu!"


"Kuh......"


Bola matanya sudah memerah seperti kelinci karena emosi. Penilaian yang tenang sudah tidak bisa diharapkan lagi. Pria ini sudah pasti rusak.


Aku sama sekali tidak ingin menjadi seperti itu.


Tapi──selama Dagol begitu, aku terpaksa harus menari di atas papan permainan gila ini.


Dan, tanpa mempedulikan hal itu sedikit pun (sebesar mitokondria), Hazen melanjutkan penjelasan dengan datar.


"Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Menengah Barairo adalah atasan langsung saya. Jadi bentuknya adalah saya menyerahkan dokumen asli kepadanya, lalu dia dengan tanggung jawabnya sendiri, atas penilaiannya sendiri, akan menyerahkannya kepada salah satu dari kalian."


"......Kh."


"Ah, tenang saja. Saya akan pastikan kontraknya mengatur penyerahan dokumen asli dengan benar. Hanya memakai perwakilan saja. Karena berbohong dengan sihir kontrak itu ada risikonya."


"Bukaaan...... bukkaaan......"


Bukan, bukan, bukan begitu.


Malah, tidak ada satu pun poin yang bisa bikin tenang.


"Ups. Saya harus memanggil Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Menengah Barairo dulu."


"......"


Kesempatan. Bigarnul diam-diam bergembira. Jika pria ini meninggalkan tempat ini sekarang, dia bisa berunding dengan Dagol──


"Ti, ti, ti ti ti tidak perlu khaaaawaaaatiir. Saaaaayaaa aaadaaaaa."


!?


Ternyata, Barairo sudah bersiap.


"Hebat sekali. Bertindak tanpa diperintah adalah teladan atasan."


Puk puk.


Layaknya pemilik hewan peliharaan. Hazen mengelus kepala Barairo.


"Sa sa sa saya, se se se se setiap detik, memiki ki ki ki kirkan a a a a apakah a a a akan dima ra hi Pejabat Urusan Dalam Negeri Ha ha ha ha Hazen... ga ga ga ga gagagagah...... gagagagagagagah......"


"......"


Rusak. Rusak parah. Aku benar-benar tidak ingin bersaing dengan orang gila itu, dan membuat kontrak segila ini dengan orang yang rusak parah begini.


"Jadi?"


"Hii..."


"Mau buat kontrak? Atau tidak?"


"Mau! Atau lebih tepatnya, sudah kulakukaaan!"


"......Kh."


Dagol mengangkat surat kontrak dengan ekspresi penuh kemenangan. Pria ini sudah tidak melihat apa-apa lagi selain memenangkan pertarungan ini.


Ruangan ini tidak normal. Pandangan menjadi sangat sempit, membuat pikiran tenang menjadi mustahil. Dan, pria gila yang merancang sandiwara gila ini, dengan datar membaca surat kontrak gila yang ditulis oleh pria gila.


"Sudah saya konfirmasi. Memang hebat, Kepala Pejabat Urusan Dalam Negeri Dagol. Yang membedakan terang dan gelapnya kehidupan adalah kecepatan dalam mengambil keputusan, lho. Menjadi kelompok pecundang atau kelompok pemenang bergantung pada hal itu."


"Te, tentu saja."


"......Kh."


Dengan sangat gembira, Dagol membusungkan dadanya. Padahal seharusnya lawan itu adalah orang yang sangat dia benci. Entah kenapa, dia malah senang dipuji.


Menjijikkan.


Segalanya sudah terasa menjijikkan.


"Jadi?"


"Hii..."


"Wajah Anda terlihat seperti wajah orang kalah, ya? Kalau begini terus, Anda akan jadi pecundang dalam hidup, apa tidak masalah begitu?"


"Hagaoueh...... uuuu."


Tidak mau.


Aku tidak mau jadi pecundang.


Tapi... tapiii──


"Yah, karena tidak ada waktu, bagaimana kalau saya tutup 5 detik lagi?"


"Li...... gagogagogaga......"


Li.


Lima detik?


"Ke, keputusan sepepepenting ininiii, masa cuma 5 detik──"


"5


4


3"


"Aku tulis! Aku tulis sekarang jugaaa!"


Tanpa sempat berpikir, Bigarnul menandatangani surat kontrak. Tepat di detik terakhir. Tepat sebelum hitungan selesai, dia selesai menulis.


Lalu, pria di hadapannya memeriksa dokumen itu dengan cara yang sama.


"Sudah dikonfirmasi. Syukurlah, ya? Dengan ini, mungkin Anda bisa jadi pemenang. Yah, walaupun salah satunya pasti jadi pecundang, tapi mau bagaimana lagi, ya."


"......Kh."


Menambahkan kata-kata yang menyebalkan setengah mati, Hazen mengibas-ngibaskan surat kontrak itu.


"Hasilnya akan saya kirim nanti bersama dokumen aslinya. Kalau begitu."


"Eh... anu, mau ke mana?"


"Saya juga orang sibuk, lho."


Dengan sangat datar.


Hazen yang urusannya sudah selesai pergi meninggalkan tempat itu.


Bigarnul yang melihat kepergiannya...


Sudah berada dalam kondisi bengong seolah jiwanya telah dicabut.


Lalu. Dia kembali ke kamarnya dengan sempoyongan.


Hanya, tanpa memikirkan apa pun.


Melamun kosong.


Beberapa jam berlalu.


Dokumen asli sampai di tangan Bigarnul.


Dan barang-barang berharga, semuanya, lenyap dari kamarnya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close