NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heimin Shusshin no Teikoku Shoukan, Munou na Kizoku Joukan wo Juurin shite Nariagaru V4 Chapter 3

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 3

Bugyona

Setelah kembali ke Istana Langit, Hazen bergerak dengan sangat sibuk. Dia berusaha menjalin kontak dengan Pangeran Deriktale, pewaris takhta urutan kedua, dengan mengandalkan koneksi dari Keluarga Donaire, serta Distrik Garna Utara tempat dia pernah ditugaskan, dan Wilayah Doktrin.


Di tengah kesibukan itu, Ema datang dengan ekspresi masam.


"Bagaimana?"


"Gagal. Mereka benar-benar marah besar."


"Begitu ya......"


Koneksi Keluarga Donaire pun benar-benar tidak mempan, semua kontak dengan pihak terkait telah diputus. Laporan dari daerah juga tidak menggembirakan. Dia sudah meminta bantuan Kolonel Zilba dan Letnan Kolonel Lorenzo dari Distrik Garna Utara, Pejabat Pelaksana Wilayah Doktrin Cleric, Wakil Kepala Mordodo, dan lainnya, tapi semuanya digagalkan.


"Apa kita coba hubungi Mayor Jenderal Marasai? Dia juga non-faksi, tapi beliau pasti disegani oleh faksi lain, kan."


"......Kurasa tidak bisa. Ayah bilang beliau hanya akan bergerak untuk urusan pertempuran."


"Baiklah. Terima kasih. Tapi, tolong coba andalkan koneksi sedikit lagi. Jan, bantu dia."


"Aku tidak mau sih, tapi baiklah."


"......Uuh, aku juga mengerti. Tapi, jangan terlalu berharap ya."


"Ya."


Setelah Ema pergi membawa Jan, seorang lelaki tua masuk ke ruangan. Dagol, lelaki tua kurus kering dengan kebotakan yang sudah sangat parah. Dia adalah Pejabat Wilayah Doktrin yang sebelumnya telah diikat kontrak budak mutlak oleh siasat Hazen.


"......"


"Oi, ada apa. Mana laporannya?"


"......, ya, baik."


Sikap memandang rendah yang benar-benar mutlak. Menghadapi ketidaksopanan yang tak berubah itu, Dagol menunjukkan ekspresi seolah tak percaya. Namun, Hazen sama sekali tidak peduli. Karena kontrak budak dengan Dagol sudah selesai, rasa sungkan sama sekali tidak ada.


Laporannya dimulai dengan keluhan begitu dia membuka mulut.


"Ya, ya, sudah pasti mustahil, ingin menjalin kontak dengan Pangeran Deriktale, pewaris takhta urutan kedua. Sa, sa, saya kan tidak masuk faksi mana pun."


"Lakukan."


"......K"


Perintah mutlak. Dagol menghela napas panjang menghadapi tuannya yang tak berubah itu.


"......Saya mengerti, tapi izinkan saya mengatakan bahwa itu sulit."


"Suap."


"Eh?"


"Jika ada orang yang mau menjadi perantara dengan uang, bayarlah. Berapa pun jumlahnya, jangan ragu."


"......Kh."


Tentu saja, yang tidak ragu dikeluarkan itu bukan uang Hazen. Uang Dagol. Dia memperlakukannya seolah-olah itu sepenuhnya miliknya.


Benar-benar monster yang luar biasa.


"Ti, tidak, tapi itu mustahil. Anda mengerti, kan? Semua pergerakan sudah bocor, jika bergerak sembarangan kita akan tertangkap."


"Meski begitu, cari cara bagaimanapun juga. Menyusup lewat celah jaring agar tidak melanggar hukum, lakukan dengan hati-hati."


"I, itu......"


"Yah, kalaupun kau tidak hati-hati, aku sama sekali tidak masalah. Rencana untuk membuangmu bisa kubuat sebanyak apa pun, soalnya."


"......"


"Kenapa? Jawabannya?"


"Ba, baik!"


Menjawab dengan wajah hampir menangis, Dagol meninggalkan ruangan seolah melarikan diri.


"Tapi, respons mereka ternyata lebih kuat dari dugaan."

Jalan pulang menuju mansion. Ema menghela napas kecil. Langkah pertamanya sudah salah. Langkah pertama Hazen adalah tindakan untuk memprovokasi Bugyona. Namun setelah itu, lawan melakukan segala cara untuk memblokir kontak dengan faksi lawan.


"......"


Sebenarnya, kenapa baru sekarang dia mencoba menghubungi Pangeran Deriktale? Terhadap Ema yang bingung seperti itu, Jan yang ada di sebelahnya menepuk-nepuk bahunya dan berbisik pelan.


"Percobaan Guru berhasil, lho."


"Apa Jan-chan mengerti apa yang dipikirkan Hazen?"


"Cara berpikirnya saja sudah beda, kok. Oleh Guru, vektor Tuan Bugyona sudah diarahkan ke arah sebaliknya sejak langkah pertama."


"......."


Hazen sangat memahami psikologi orang yang menaruh dendam. Dia tahu bahwa semakin dia mencoba mencegah, Bugyona akan semakin terbakar amarah. Karena itulah, dia memperlihatkan dirinya yang sedang kebingungan mondar-mandir. Lawan senang. Dan, semakin terbakar amarah.


Menurut analisis Jan, itu adalah hasil dari kemampuan melihat tembus seketika sifat manusia yang merupakan gumpalan obsesi dan pendendam.


"Sampai memaksa Pejabat Wilayah Doktrin menyuap?"


"Dia kan budak sekali pakai. Itu langkah agar pihak lawan mengira dia serius. Kepada Anda atau orang lain, dia tidak memaksa sampai segitu, kan?"


"......."


Hanya demi akting, sampai segitu.


"Respons seperti itu tidak normal!"


"Bagi Guru, tidak ada respons yang tidak normal."


"......."


Benar juga.


"Satu lagi. Guru sedang menilai orang lewat tindakan kali ini."


"......"


"Orang yang tunduk pada kekuasaan. Yang tidak tunduk. Yang menerima suap. Yang tidak menerima. Yang menjilat. Yang tidak. Yang kompeten. Yang tidak kompeten. Bagi Guru, apakah mereka dibutuhkan atau tidak."


Dengan berusaha mencari secara putus asa, dia mendapatkan informasi lawan. Tidak diketahui kapan informasi itu akan bisa digunakan. Namun, Jan berkata bahwa Hazen yakin dengan bergerak di Istana Langit, dia akan mendapatkan lebih banyak informasi.


"Di antara mereka, dia mencari talenta yang tidak tunduk pada kekuasaan, tidak tertarik pada suap, dan tidak menjilat. Dia hanya mencari orang yang mengandalkan kemampuannya sendiri, dan sedang terpendam."


"Orang seperti itu...... tidak ada, lho."


Ema menghela napas dan menggelengkan kepala. Di zaman sekarang, tidak ada orang yang bisa menentang faksi Putra Mahkota Evildas. Istana Langit adalah tempat yang seperti itu.


"Kalau ada. Saya rasa orang itulah yang akan menjadi sekutu."


"......Kenapa, ya. Apa sih yang ingin dilakukan Hazen?"


Dia tidak mengerti. Ema mengeluh demikian. Dia tidak berusaha dipahami oleh siapa pun, hanya menempatkan orang-orang kompeten di dekatnya.


Dia tidak bisa mengikutinya.


Semakin lama waktu yang dihabiskan bersama, rasanya jarak mereka semakin jauh. Hingga dia merasa cemas apakah suaranya benar-benar tersampaikan sekarang.


Sambil menatap Ema yang seperti itu lekat-lekat, Jan menebarkan senyum dengan riang.


"Jangan khawatir, Nona Ema. Saya jauh lebih memihak Anda daripada Guru lho!"


"Haa......"


Gadis cantik berambut kuning itu memeluk erat gadis kecil berambut merah muda itu sambil menghela napas panjang.

"Jadi, saat ini, semua koneksi telah diputus."


"Dehyo...... dehyodehyodehyo."


Sambil mendengarkan laporan yang dijelaskan oleh bawahan wanita seniornya, Bugyona tersenyum lebar dengan suara yang menyeramkan. Itu karena kubu Hazen sedang berusaha mati-matian untuk menghubungi Pangeran Deriktale, pewaris takhta urutan kedua.


Dia tidak menyangka mereka akan mencoba mendekati kubu Putra Mahkota Evildas, yang membuatnya menelan penghinaan seumur hidup, tapi berkat itu persiapan di balik layarnya menjadi sempurna.


Bugyona dengan cepat mengumpulkan informasi hubungan manusia kubu Hazen, dan memangkas semua koneksi yang mungkin bisa terhubung.


Sekretaris dari faksi Putra Mahkota Evildas yang sedang berjaya saat ini. Kekuasaannya mutlak. Bawahan paling rendah pun memiliki puluhan orang. Untuk sekretaris tingkat atas sekelas Bugyona, ada sekitar ratusan bawahan di bawahnya.


Ditambah lagi, jika menggunakan koneksi dan pengaruh Keluarga Goslo, menyegel pergerakan Hazen yang merupakan bangsawan bergelar rendah adalah hal yang mudah.


Yang dikhawatirkan adalah pergerakan Keluarga Donaire, tapi terbukti bahwa ini adalah pergerakan tunggal putrinya, Ema, dan mereka tidak mendukung Hazen secara terbuka.


Penilaian yang wajar. Pemimpin keluarga, Volt, adalah pemimpin Faksi Kaisar. Apa pun perasaannya, menjadikan kubu Evildas sebagai musuh dalam situasi saat ini tidak ada untungnya bagi Kaisar.


Di tengah situasi itu. Seorang bawahan wanita muda datang melapor.


"Sesuai dugaan Tuan Bugyona, dia telah menghubungi Pejabat Dagol dari Wilayah Doktrin."


"Ah, ternyata...... dia mengandalkan koneksi itu, ya. Ah, sudah kau hancurkan?"


"Ya. Sepertinya dia menawarkan sesuatu yang mirip suap secara tersirat, tapi katanya sudah ditolak mentah-mentah."


"......."


Putus asa.


Dia putus asa demi melindungi diri, kan.


"Dehyo...... dehyodehyodehyo! Dehyodehyodehyodehyodehyodehyodehyodehyodehyodehyodehyo──────n!"


Tawanya tidak bisa berhenti.


"Hahyo...... ah, betapa hinanya. Dehyo...... hahyodehyo...... ah, padahal dengan semangat menolak ajakan faksi kami, dehyo...... dehyodehyodehyo! Dehahyodehyodehahyodehyo......"


Terlalu senang...... saking senangnya tawa dan air mata tidak bisa berhenti. Keterampilan yang cemerlang ini. Bawahan di depannya pun menatap dengan tatapan hormat.


"Ah, jadi! Ah, apakah pembicaraan soal personalia sudah berjalan?"


"Ya, ya. Jika untuk posisi yang kurang lebih setara, Tuan Bugyona bisa melakukannya sesuka hati."


"Hahhhyooo......"


Senang sekali. Persiapan di balik layar sudah ditetapkan dengan sempurna. Orang bodoh bernama Hazen itu telah meremehkan kekuasaan. Balasannya akan diterima oleh dia dan ibunya.


"Hahyo...... funfunfunfunfunfunfun! Funfunfunfunfunfunfun! Funfunfunfunfunfunfun!"


Bugyona menggoyangkan pinggulnya berkali-kali, memperkosa ibu tiri Hazen yang belum pernah dilihatnya secara pantomim . Perkosa, perkosa, perkosa, perkosa, perkosa sampai puas.


Pada dasarnya level mereka berbeda.


"......Upu." (suara menahan mual)


"Ah, ada apa? Ah, apa kau sakit?"


"Ya, ya. Sejak pagi saya agak mual...... upu...... mo, mohon maaf."


"Ah, begitu ya. Karena aku memaksamu bekerja keras, ya. Sudah boleh pulang, kok. Ah, menjaga kesehatan juga tugas atasan, kan."


"Ba, baik. Terima kasih bany...... upu, per, permisi."


Bawahan wanita muda itu pergi seolah melarikan diri sambil menahan rasa mual.


"......Kasihan sekali."


Seorang bawahan wanita senior lain bergumam pelan.


Yah, mungkin ada masalah khusus wanita. Mengenai hal itu, Bugyona sangat memahami keadaan fisiologis wanita.


"Ini kandidat jabatan untuk Hazen Heim."


"Ah, oooohyohyohyohyooi, banyak yang baguuse!"


Dalam dokumen yang diserahkan, jabatan-jabatan nganggur di daerah berjejer. Itu adalah jabatan-jabatan mengerikan di mana hanya status yang dijamin, tapi tidak akan pernah bisa menonjol sampai tujuh turunan.


"Ah, tapi, kalau begini saja aku sama sekali belum puas. Ah, aku ingin yang jauh, jauh, jauuuuh lebih kejam dan keras, yang mutlak tidak bisa bertahan hidup."


Memperkosa ibu tirinya yang menangis habis-habisan di depan mayat Hazen. Di tempat pemakaman, memperkosanya sampai puas di depan umum.


Tidak, aku akan melahapnya sampai habis.


"......Kalau begitu, bagaimana dengan ini?"


Bawahan wanita senior itu menyerahkan selembar kertas.


"......"


"......"


"Hahyoon! Funfunfunfunfunfunfun! Funfunfunfunfunfunfun! Funfunfunfunfunfunfun!"


"......Kh."


Bugyona menjadi bersemangat, menggoyangkan pinggulnya berkali-kali, dan memperkosa ibu Hazen yang belum pernah dilihatnya itu secara pantomim sampai puas. Perkosa, perkosa, perkosa sampai habis.


"A, apa Anda menyukainya?"


"Ah, haa...... ah, haa...... bagus! Ah, bagus sekali!"


Dengan ini, dia pasti akan mati. Tidak diragukan lagi, dia tidak akan pulang dalam keadaan hidup.


Bugyona mencengkeram bahu bawahan wanita senior itu dengan kuat, mendekatkan wajahnya, dan memujinya.


"Ah, kerja bagus...... kerja bagus!"


"......Kh...... upu."


"Ah, ada apa? Ah, apa kau sakit?"

Hari penyerahan surat penugasan. Bugyona sudah menunggu di depan Ruang Badan Kepegawaian Istana Langit sejak 2 jam yang lalu. Dia sudah tidak menahan ekspresi kemenangannya, menyunggingkan senyum yang menyeramkan.


Di tengah situasi itu, Hazen berjalan ke arah sini. Dia tetap mempertahankan wajah tanpa ekspresi yang tenang seperti biasanya, terlihat konyol saat dipandang.


"Hyoho."


Sebenarnya dia pasti sangat benci dan kesal, tapi wajah poker face yang seolah berkata 'saya tidak peduli tuh' itu membuat Bugyona merasakan kegembiraan yang tak tertahankan.


Hazen berhenti di depan Bugyona dan membungkuk.


"Ada urusan apa Anda hari ini?"


"Dehyo...... dehyodehyodehyo...... ah, aku berniat ikut hadir juga."


"......Begitu ya."


Pemuda berambut hitam itu menjawab tanpa mengubah ekspresinya.


"Ah, kau tidak suka?"


"Ya."


"Dehyo...... kenapaaa? Padahal hari penugasan yang berharga? Harusnya kau senang, kan? Ingin pamer, kan? Kenapaaa!?"


Bugyona mendesakkan wajahnya mendekat dan bertanya.


"Itu...... mungkin akan sedikit tidak sopan."


"Ngggapapa kok. Ah, aku saaaama sekali tidak peduli soal itu...... dehyo...... dehyodehyo."


"Menjijikkan."


!?


"......Nghhaa!?"


Simpel, kejam.


"Mohon maaf. Apakah saya bicara berlebihan?"


"Ah, i, i, itu cuma gonggongan anjing yang kalah, kan? Ah, terhadap pecundang yang menyedihkan, dikatakan apa pun aku tidak akan peduli."


"Begitu ya, syukurlah. Kalau begitu, meski tidak sopan, sekalian mumpung dianggap pecundang, izinkan saya memberi satu nasihat juga."


"Ah, apaaa? Apaaa? Silakan apa sajaaa? Tanpa sungkan, boleh bangeeet!"


Kata-kata orang seperti ini tidak akan menyentuh hati sedikit pun. Sama sekali tidak ada damage. Bugyona meyakinkan dirinya berkali-kali. Faktanya, sambil membayangkan kejadian setelah kematian Hazen, dia berkhayal tentang ibu tirinya, Helena, dan mulai menggoyangkan pinggulnya kecil-kecil.


Dengan begitu, perasaan terluka itu pulih, dan justru dia merasa terangsang. Kelak, setelah dia mati, setiap kali mengingat orang ini, dia akan memperkosa ibu tirinya sampai puas, melahapnya sampai habis.


"......"


Sambil memandang Bugyona yang seperti itu, Hazen membuka mulut dengan kata "Kalau begitu".


"Seperti anjing yang sedang birahi, sebaiknya Anda berhenti menggerak-gerakkan pinggul di depan orang. Terutama dari sudut pandang lawan jenis, rasanya menjijikkan sampai mau muntah, soalnya."


"Hyoba!?"


Bagaimanapun juga.


Terlalu tidak sopan.


Bugyona membantah sambil memerah padamkan pipinya yang sudah membengkak seperti apel.


"Ah, ti, ti, ti tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu!"


"......Begitu ya."


"Ah, ng, ngomong-ngomong kenapa kau bicara begitu."


"Saya mendengarnya."


"Ah...... dari siapa?"


Kalau dipikir-pikir pasti bawahan Bugyona, tapi dia tidak bisa memastikan siapa orangnya. Dia bertekad dalam hati, jika namanya sebutkan, dia akan segera menginterogasinya, memperkosa, memperkosa, dan memperkosanya sampai habis.


"Semua orang. Semua bawahan wanita Anda."


!?


"Ah, bohong! Ah, bohong, bohong, bohong!"


"Benar, kok."


"Ah, jangan bohong!"


"Benar kok. Saya pertaruhkan nyawa saya."


"......Fuhhyo."


Pertaruhkan nyawa!? Pikir Bugyona. Dan, saat dia sedang terguncang begitu, Hazen melanjutkan kata-katanya seolah tak memberi ampun.


"Mereka bilang begini, lho. 'Seringkali dia mencoba sok jadi atasan yang baik, dan itu malah bikin tambah menjijikkan'."


"Ah, hyoggu......"


"Selain itu, 'Waktu dia tanya "Apa kau baik-baik saja?", rasanya aku ingin bilang "Gara-gara kau aku jadi tidak baik-baik saja, jadi jangan dekatkan wajah menjijikkanmu itu".' Atau, 'Saat dikhawatirkan, rasanya benar-benar menjijikkan dan menakutkan karena aku curiga dia sebenarnya sedang mencoba mencari tahu urusan seksualku'."


"Ah, hyoobbu......"


"Jika keberadaan Anda itu sendiri sudah menjadi pelecehan seksual, saya rasa sebaiknya Anda berusaha meminimalkan interaksi dengan bawahan dalam manajemen Anda."


"Ah, hahyobaffuu......"


Kejam, terlalu kejam.


"Ah, si, si, si, siapa yang mengatakan hal seperti itu!?"


"Kan sudah saya bilang, semuanya."


"Ah, hehyobu......"


Semuanya. Apa itu berarti semua bawahannya tanpa terkecuali mengatakannya? Padahal selama ini dia bermaksud bersikap ramah agar mendapatkan kepercayaan sampai tingkat tertentu.


Meskipun begitu...... meskipun demikian, tak disangka mereka semua merasa jijik dari lubuk hati.


"Sepertinya Anda berhati-hati dalam menangani bawahan, tapi karena keberadaan Anda sendiri sudah merupakan pelecehan seksual, rasanya itu sia-sia. Saya rasa sebaiknya Anda berhenti hanya merekrut bawahan lawan jenis yang lebih mudah merasa jijik secara seksual. Rumornya, hal itu malah membuat Anda semakin menjijikkan."


"......Ah, kuhhyooooooooo."


Tanpa sadar air matanya keluar. Meskipun dia bilang boleh bicara tanpa sungkan, ini benar-benar terlalu tidak sopan. Kalaupun ini cuma ucapan pecundang, ini terlalu kejam.


Namun, dia harus mengonfirmasi sumber informasinya.


"Ah, rumor itu...... asalnya dari mana?"


"Seluruh Istana Langit. Yang tidak tahu, cuma Anda saja, lho."


"......Fuhhyo."


Dianggap orang menjijikkan oleh hampir semua orang.


"Tapi, saya juga terkejut. Ternyata orangnya tidak sadar, ya. Yah, tadi juga Anda tanpa sadar menggoyangkan pinggul, sih."


"Ah, ti, ti, tidak goyang!"


"Goyang kok. Saya pertaruhkan nyawa saya."


"Hyoba......"


Sedikit-sedikit mempertaruhkan nyawa buat memaki.


"Saya sama sekali tidak berniat menilai seseorang sepenuhnya dari penampilan, tapi mohon maaf, khusus Anda, saya rasa kejijikan batin Anda merembes keluar, jadi sebaiknya Anda memperbaiki sifat menjijikkan itu dulu."


"......Habyo."


Orang ini. Apa dia pikir boleh bicara apa saja asal pakai kata pengantar 'mohon maaf'?


"Ah, bajingan kau...... kalau tidak berhenti...... kubunuh kau."


Bugyona memelototi Hazen dengan sepenuh jiwa.


"Satu lagi, mereka juga bilang 'tatapan itu juga menjijikkan', jadi mohon maaf, saya sarankan Anda membutakan mata Anda sendiri. Kalau begitu, mari kita masuk?"


"Hyahoffubu!?"

Badan Kepegawaian Istana Langit adalah tempat yang dikuasai oleh faksi Putra Mahkota Evildas, tempat yang benar-benar pantas disebut sarang iblis.


Saat Hazen masuk ke ruangan, Kepala Ruangan Ganar Dokuman sedang berdiri di sana. Pria berkacamata bingkai hitam yang tampak neurotik, dan terlihat tidak akan menjilat siapa pun secara terang-terangan.


"......"


Ganar melirik sekilas ke arah lelaki tua gemuk di sebelahnya, lalu bertanya sambil membetulkan letak kacamata bingkai hitamnya dengan jari.


"Sekretaris Bugyona. Kenapa Anda ada di sini?"


"Dehyo...... dehyodehyodehyo. Ah, sudahlah, jangan cerewet. Ah, observasi. Ah, tidak masalah, kan?"


"......Tuan Hazen. Apakah Anda keberatan?"


"Tidak."


"Dehyohyohyo. Ah, teri-ma-ka-sih-ya."


"......Kalau begitu."


Kembali membetulkan letak kacamata bingkai hitamnya, Ganar mulai membacakan surat penugasan dengan nada datar. Kata-kata formal berderet satu per satu, dan setelah selesai, dia memberikan kata-kata apresiasi.


"Selamat atas kenaikan pangkat Anda kali ini."


"Terima kasih."


"......Kalau begitu, mari kita lanjutkan."


Ganar membetulkan letak kacamata bingkai hitamnya dan kembali mulai membacakan surat penugasan.


"Hazen Heim. Anda telah meninggalkan prestasi besar di Wilayah Doktrin. Berdasarkan hal tersebut, Anda diangkat menjadi setara Kapten."


"Siap."


Hazen memberi hormat dan menerima surat penugasan.


"Dan, mengenai gelar bangsawan, Anda juga diangkat menjadi 'Keiryaku'."


"Siap."


Kenaikan 3 tingkat. Dengan ini, meskipun bangsawan tingkat bawah, dia telah naik ke posisi ke-4 dari bawah. Jika menjadi setara Kapten, gelar bangsawan juga biasanya akan dinaikkan, jadi sampai sini tidak terlalu mengejutkan.


"Dehyo...... hyohyo."


"......"


Bugyona masih tertawa dengan ekspresi santai. Namun, tanpa memedulikan hal itu, Ganar membetulkan letak kacamata bingkai hitamnya dan melanjutkan pembicaraan.


"Dan...... mengenai misi yang akan Anda lakukan selanjutnya, saya ingin Anda berperan aktif di medan perang sebagai Mayor."


"......Siap."’


Status setara Mayor. Itu artinya menempati jabatan satu tingkat di atas Kapten. Namun, meskipun pangkatnya setara Kapten tapi menjadi Mayor itu artinya──


"Dehyodehyo...... ah, sudah paham?"


"......"


Bugyona di sebelahnya tertawa penuh kemenangan. Hazen mengabaikan total lelaki tua gemuk itu dan bertanya pada Ganar.


"Apakah ini penugasan ke negara bawahan?"


"Bukan. Saya ingin Anda berperan aktif sebagai Mayor di Negara Noctare, negara sekutu kita."


"......"


Negara Noctare. Negara sangat kecil yang wilayahnya tidak sampai seperseratus Kekaisaran. Sebutannya saja negara sekutu. Nyatanya posisinya hampir seperti negara bawahan yang terjepit di antara Kekaisaran dan Perserikatan Iris.


Negara yang memenangkan kemerdekaan dari Perserikatan Iris beberapa tahun lalu, tapi kenyataannya itu berkat rencana Kekaisaran. Sejak itu, mereka sering diserang Perserikatan Iris, dan Kekaisaran memberikan bantuan senjata.


"Ini karena kami memperhitungkan kemampuan Anda. Kami tahu situasi perangnya sulit, tapi kami percaya Anda bisa melakukannya."


"Dehyu...... ah, oi oi. Jangan berbohong dong?"


"......"


Sementara Ganar membetulkan letak kacamata bingkai hitamnya dengan jari dan terdiam, Bugyona mendekatkan wajahnya dengan penuh kemenangan.


"Menurut informasi yang kudengar, dalam waktu dekat, Kekaisaran akan menghentikan bantuan ke Negara Noctare."


"......"


Rumor itu pun sudah didengar Hazen.


"Ah, meski begitu, apa kau tahu alasan kau dikirim ke sana?"


"......Bisakah Anda beritahu saya?"


"Ah, karena kau tidak dibutuhkan oleh Kekaisaran, tahu, bodoh. Ah, matilah sana."


"......"


"Dehya...... dehyahyahyahyahya, dehyahyahyahyahya, hyahya, hyahyahyadehyahya, hyahyahya."


"......Izinkan saya menjawab satu hal saja. Sekretaris Bugyona."


"Ah, hmm? Ah, apa?"


Terhadap lelaki tua yang mendekatkan wajahnya sedekat mungkin itu, pemuda berambut hitam itu menjawab sambil menatap tajam matanya dengan sekuat tenaga.


"Saat saya kembali lagi ke Istana Langit ini. Anda akan bersujud sambil menangis meminta maaf."


"Ddehya───────! Hahyahyahya! Hahyahahya────! Ah, hal seperti itu, muuustaaahiiiil─────!"


Bugyona menganggapnya sebagai gertakan pecundang, dan menjawab dengan kegilaan.


"Hanya saja...... saya rasa Anda tidak suka bersujud, jadi saya akan memaafkan Anda."


"Hahya...... hahyahya...... ah, kenapa, kenapa kau memaafkanku────? Ah, karena kau tidak akan bisa melakukannya──?"


"Bukan. Bukan bersujud (dogeza), tapi saya akan memaafkan Anda dengan tidur tiarap (dogene)."


!?


"Ha...... hhyo."


"Lebih mending daripada bersujud, kan? Dengan gerakan pinggul menjijikkan itu, supaya nafsu seksual abnormal Anda terpuaskan, sebaiknya Anda memohon sambil tidur tiarap dan menggesek-gesekkan pinggul Anda."


"......"


"Jika Anda melakukan masturbasi keahlian Anda di depan umum, kelainan seksual tak tahu malu itu mungkin akan sedikit membaik...... kalau bacaan saya benar sih."


"......"


Bugyona diam mendengarkan kata-kata Hazen untuk beberapa saat, tapi akhirnya tak tahan dan menyembur tertawa terbahak-bahak kegilaan.


"Pugyo────! Dehyohyohyohyo! Ah, gertakan pecundang kalau sudah sampai segini hebat juga, ya. Ah, biar kukatakan satu hal juga padamu."


"......"


"Ah, kalau kau mati, di depan mayat itu aku akan memperkosa ibumu habis-habisannnnnn─────! Funfunfunfun! Funfunfunfunfunfunfunfunfunfunfunfunfunfunfunfun!"


Bugyona memperkosa dari belakang secara pantomim sambil menggoyangkan pinggulnya berkali-kali.


"Kuku...... mana yang benar. Saya jadi menantikannya."


"Hyohyo...... ah, ya. Ah, beeenaaar-beeenaaar yaaa."


Sambil saling memancarkan kilatan mata, mereka tersenyum penuh kemenangan.


"......"


Dan, sambil mengamati pertukaran itu dengan tenang, Ganar membetulkan letak kacamata bingkai hitamnya dengan jari dan menutup pertemuan.


"......Surat penugasan cukup sekian. Semoga berhasil."


"Siap. Kalau begitu, saya permisi."


Membungkuk singkat, lalu keluar dari ruangan.


"......"


Dan, sambil berjalan di lorong.


Hazen tersenyum dengan wajah menyeringai.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close