NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heimin Shusshin no Teikoku Shoukan, Munou na Kizoku Joukan wo Juurin shite Nariagaru V4 Chapter 2

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 2

Ibu Tiri Helena

Wilayah Zerukusan Kekaisaran, Distrik Monago. Yomei, seorang bangsawan tingkat bawah yang baru saja menginjak usia 70 tahun beberapa hari lalu, sedang berbaring di tempat tidur.


"Helena...... Helena......"


"Ya. Saya ada di sini."


Dia menggenggam balik telapak tangan itu dengan erat. Wanita itu menatap pria tua tersebut dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih. Berkatmu...... di akhir hayatku, aku bisa menjalani hidup yang baik."


"Jangan berkata begitu. Anda harus tetap sehat. Tanpa Anda...... saya......"


"Dengarkan aku, ya? Kau...... masih muda...... tolong, temukan pasangan lain──"


"Tidak. Tidak. Bagi saya hanya ada Anda. Kumohon, kumohon......"


Helena menggelengkan kepalanya sambil menggumamkan itu berkali-kali.


"......Teri...... ma...... kasih......"


"Tuan Yomei!? Tuan...... Yomei!"


Pria tua itu mengembuskan napas terakhirnya.


"......Uuuuuh. Uuuuuuuuuuuuu. Hiuuuuuuuuuuuuuuu. Hiuuuuuuuuuuuuuuuuuuu......"


"Nyonya Helena......"


Seorang pelayan wanita mencoba menghiburnya saat dia menangis sambil menelungkup di atas tubuh itu. Namun, Helena menggelengkan kepala dan menolaknya.


Pelayan itu terpaksa meninggalkan kamar, masuk ke ruang tunggu, dan menghela napas panjang.


"Kasihan sekali Nyonya Helena."


"Mulai sekarang, bagaimana beliau akan hidup sendirian, ya."


"Padahal berstatus janda, tapi harus memerintah Distrik Monago."


"Hmph...... apa kalian bodoh?"


Di saat para pelayan saling melontarkan kata-kata simpati, seorang pelayan senior yang agak gemuk mendengus.


"Sudah pasti dia tertawa terbahak-bahak sambil pura-pura menangis, kan. Dia akan mewarisi semua tanah dan harta Tuan Yomei yang tidak memiliki anak, tahu?"


"Cara bicaramu itu. Padahal beliau melayani Tuan Yomei dengan begitu berbakti. Beliau pasti sangat mencintainya."


Pelayan muda membantah demikian, tapi pelayan senior yang agak gemuk itu meludah seolah mengejek.


"Sudah pasti itu cuma akting. Datang demi warisan, cuma merawat beberapa bulan lalu dapat uang yang sangat banyak, ya jelas dia bakal merawat dengan berbakti dong."


"Kau dipecat."


"Eh?"


Saat menoleh, seorang pemuda berambut hitam sedang bersandar di pintu.


"Si, siapa kau!?"


"Haa...... benar-benar pelayan berkualitas buruk. Bahkan tidak tahu keberadaan putra ibu tiriku yang merupakan tuanmu. Namaku Hazen Heim."


"......Agu...... aguu."


Pelayan senior yang agak gemuk itu tanpa sadar membuka-tutup mulutnya.


"Tidak tahu sopan santun. Bodoh. Dangkal, dan sifatnya pun buruk. Tuan Yomei adalah orang yang sangat baik hati, dan seharusnya beliau juga ramah pada kalian para pelayan. Saat kematian menjemput beliau, kata-kata yang kau lontarkan malah gunjingan murahan?"


"Hagu...... mo, mo, mo mohon ma──"


"Tidak perlu minta maaf. Segera kemasi barangmu dan pulanglah ke kampung halamanmu."


Hazen melontarkannya dengan ekspresi dingin.


"Ti, tidak mungkin! Saya sebatang kara, dan tidak punya tujuan lain."


"Kalau begitu, cepatlah mati di jalanan sana."


"Higu...... tidak mungkin...... mo, mohon belas kasihan...... belas kasihan......"


"......"


Beberapa detik berlalu. Hazen menghela napas kecil.


"Karena persiapan pemakaman juga pasti repot, kali ini saja aku maafkan. Tapi, coba saja kau merendahkan ibu tiriku lagi di masa depan. Saat itu, kau akan kupecat tanpa ampun."


"Ba, ba, ba, baik! Terima kasih! Terima kasih!"


"Kalian semua juga, paham?"


""""""Ya, paham!""""""


Para pelayan yang ada di sana pun berdiri dan menjawab.


"......Bagus. Kalau begitu, serahkan urusan ibu tiri padaku, kalian siapkanlah pemakamannya."


"Ba, baik!"


Setelah meninggalkan ruang tunggu, Hazen segera menuju ke tempat persemayaman di mana Yomei tertidur.


Tok tok tok.


"......"


Dia mengetuk dengan pelan, tapi tidak ada jawaban.


"Ibu? Aku masuk, ya."


Dengan suara lembut, Hazen masuk ke dalam kamar. Di sana, Helena masih menelungkup di atas jenazah yang tertidur sambil gemetar.


"......Ibu."


"Pada saya yang seperti ini...... pada saya yang seperti ini pun Tuan Yomei...... memperlakukan saya dengan baik."


"......"


"Pada saya...... yang seperti ini pun."


"......"


"......Kh, uuuuh, uuuuuuuuuuuuuuuuuh, uuuuuuuuuuuuuuuuh."


"Ibu."


Hazen meletakkan tangannya dengan lembut di bahu wanita itu.


"Sudah cukup aktingnya. Kerja bagus."


"......."

Helena Dali. 32 tahun.


Kembali ke beberapa tahun yang lalu, sementara bekerja di loket Guild Pusat di ibukota Kekaisaran, dia diam-diam menjalankan bisnis perantara ke guild budak. Dia mendekati orang-orang kampung bodoh yang memimpikan kehidupan kota dengan iming-iming 'ada pekerjaan bagus', lalu mengepung dan menangkap mereka dengan bantuan orang-orang dunia bawah. Sebuah 'pekerjaan' yang mudah.


Guild Pusat adalah markas besar yang membawahi berbagai guild yang tersebar di seluruh Kekaisaran.


Mereka menilai kecocokan sumber daya manusia dan menempatkannya ke berbagai guild seperti sihir, pejuang, petualang, pandai besi, perdagangan, dan lain-lain. Di sana juga terdapat loket untuk masyarakat umum, dan bagi mereka yang tidak memiliki koneksi atau kenalan, pengajuan di sini tidak bisa dihindari.


Sebagai pelayan senior loket yang sudah bekerja selama 15 tahun. Bagi veteran yang telah mencapai usia 30 tahun, menipu orang kampung bodoh yang tidak tahu dunia luar adalah hal yang sangat mudah.


Uang yang didapat dari bisnis perantara lenyap untuk bermain laki-laki di distrik hiburan. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun. Demi melihat host muda senang dengan menara sampanye, dia dengan putus asa mempersembahkan uangnya agar bisa menghabiskan satu malam bersama.


Jika diingat kembali, masa-masa itu adalah puncak kebahagiaannya.


Suatu pagi saat dia sedang mabuk setelah begadang semalaman, Hazen Heim datang berkunjung ke Guild Pusat. Seorang pemuda berambut hitam. Kulitnya terlihat muda, belum lewat 20 tahun. Wajahnya tampan dan bertubuh tinggi, tetapi badannya kurus ramping. Tiba-tiba, dia menjadi target tatapan seksual Helena, tapi sayang kepalanya sedang sakit berdenyut-denyut jadi tidak sempat memikirkan itu. Ditambah lagi, dia tidak punya kewarganegaraan Kekaisaran. Tidak bisa menggunakan sihir. Sampah yang tipikal.


Dengan rasa permusuhan, penghinaan, dan stres akibat mabuk, dia meludahinya. Dia menolaknya mentah-mentah dengan berkata, 'Kau tidak pantas berada di Guild Pusat ini'.


Dia membalas, "Bicara denganmu tidak akan ada habisnya, bisakah kau panggilkan orang yang mengerti?"


Ganti.


Veteran yang sudah bekerja 15 tahun di Guild Pusat, diminta ganti.


Tentu saja, dia membalas makiannya 10 kali lipat. Wajar saja. Helena adalah Master Senior yang memegang kekuasaan di balik layar Guild Pusat. Dia melemparkan segala caci maki. Dia melontarkan keluhan yang cukup untuk menghancurkan hati lawan.


Hasilnya, dia didebat habis sampai kalah telak dengan balasan 100 kali lipat.


"Kalau sudah bekerja 15 tahun tapi levelnya cuma segitu, berarti bakatmu kurang. Yah, aku tidak akan menyuruhmu ganti pekerjaan, tapi setidaknya sebaiknya jangan bersikap angkuh begitu pada orang lain. Kau mencari nafkah dengan kemampuan menilai orang, tapi kalau kau tidak punya mata untuk melihat orang, kau tak lebih berharga dari parasit tak berguna."


Belum pernah seumur hidupnya dia dilempari kata-kata sekejam itu.


Sampai sekarang pun dia tidak bisa melupakannya.


Namun, dia memutuskan. Khusus orang ini, dia sama sekali tidak akan menyalurkannya ke guild mana pun. Dia bersumpah demi jiwanya, bahkan jika harus berhenti kerja sekalipun, dia tidak akan melakukannya. Justru sebaliknya, dia memutuskan untuk bekerja sekuat tenaga agar markas besar mengeluarkan pemberitahuan untuk melarangnya bergabung dengan guild mana pun selamanya.


Ditambah lagi.


"Kiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!"


Helena mengamuk dan mencoba memukulnya.


Baki!


Seketika dia diserang balik dan dipukul. Dia dipukul habis-habisan tanpa ragu, tanpa ampun.


Sampai sekarang, rasa sakit waktu itu tidak bisa dia lupakan. Dia memegangi pipi kirinya yang bengkak dan berdenyut-denyut. Tak lama kemudian, rasa sakit di dalam rongga mulut menyerang dengan perih. Saat dia menekan bibirnya dengan telapak tangan, darah merembes keluar.


Tempat itu menjadi sunyi senyap.


"A, apa-apaan kau! Berani-beraninya mengangkat tangan pada wanita."


Seorang staf pria lain yang berlari mendekat melontarkan kata-kata itu.


"Ini pembelaan diri. Aku tidak akan memberi ampun pada siapa pun yang menyerangku. Aku bukan pejuang hak asasi palsu yang meneriakkan kesetaraan gender tapi membela wanita secara berlebihan. Baik laki-laki maupun perempuan, musuh akan kusingkirkan tanpa ampun."


"......."


Dia pikir pria itu benar-benar gila.


"......Egu, egu, eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee, eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee."


Helena menangis. Dia memanfaatkan momen itu untuk menangis sejadi-jadinya, menggunakan senjata wanita semaksimal mungkin.


"Haa...... apa kau pikir dengan menangis kau akan jadi korban? Atau kau pikir jika memposisikan diri sebagai orang lemah, akan ada seseorang yang mengulurkan tangan? Orang yang berniat menyakiti orang lain, masa tidak punya kesiapan untuk disakiti balik?"


"Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen! Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen!"


Namun, terhadap Helena yang menangis tersedu-sedu, Hazen bukannya minta maaf, malah terus mendesaknya tanpa henti dan menyudutkannya tanpa ampun. Pria ini sama sekali, sedikit pun, tidak berniat memaafkan pelaku yang berpura-pura jadi korban setelah diserang balik.


Aku tidak akan pernah memaafkannya...... Helena memahat tekad itu hingga ke level jiwanya.


Dia segera pulang cepat dan mengirim guild budak untuk menangkap Hazen Heim. Dia tidak bisa sihir. Orang tidak becus yang kelihatannya juga tidak punya kemampuan bertarung. Kepung dia, hajar habis-habisan, paksa dia bersujud, jadikan anjing peliharaan, dan injak-injak hak asasinya sampai hancur.


Singkat cerita, hasilnya Helena lah yang dijadikan budak.


Kelemahannya dipegang sepenuhnya, tempat tinggalnya diambil, dan karena masalah pencatatan sipil muncul, dia dipaksa melakukan adopsi secara paksa.


Selama Hazen bersekolah di Akademi Tena pun, dia terus diperas. Sambil bekerja di Guild Pusat, 70% gajinya diambil setiap bulan, dipaksa ikut setiap acara akademi, dan disuruh berakting sebagai pasangan orang tua dan anak bodoh yang saling menyayangi. Pada upacara kelulusan, pidato perpisahan yang dibacakan berbunyi "Untuk ibu tiri yang paling kucintai di benua ini", dan air mata pun mengalir karena rasa takut yang mendalam (orang-orang di sekitar salah paham mengira itu air mata haru).


Namun, akhirnya dia lulus juga, pikirnya.


Dengan ini, dia pikir dia akan terbebas dari dominasi pria itu.


Namun, setelah lulus Hazen datang.


Dia dipaksa putus dengan kekasihnya, dan demi tujuan strategis semata, dia dipaksa menikah dengan Yomei Wazuka (usia 69 tahun, awal masa tua), penguasa Distrik Monago yang bersebelahan dengan Distrik Kurado milik Hazen.


Ah...... dia putus asa, berpikir bahwa dia bahkan tidak bisa memilih pasangan hidupnya sendiri.


Namun, Yomei orangnya baik. Selalu memperhatikannya...... membungkusnya dengan kehangatan bagaikan matahari.


Selama menghabiskan waktu bersama......


Ternyata ada cinta seperti ini, Helena merasakan kebahagiaan dari lubuk hatinya.

Dan, saat ini. Helena tanpa sadar kehilangan kata-kata. Akting sudah cukup? Ini bukan akting. Dia benar-benar sedih. Yomei telah memberikan kedamaian pada dirinya yang seperti ini. Pada dirinya yang seperti ini. Karena itu, dia merawatnya dengan penuh pengabdian, dan mempersembahkan apa yang dia bisa semampunya.


Ini pertama kalinya dia merasakan perasaan sehangat ini.


Hanya itu, entah bagaimana, ingin dia sampaikan.


"Anu...... Anda mungkin salah paham, tapi saya benar-benar sedih."


"Kau tidak punya hak untuk bersedih, lho."


"......Kh."


Simpel, kejam.


Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu dengan senyum lebar. Helena menyesal dari lubuk hatinya karena telah bernasib menjadi ibu dari iblis ini.


"Ti, tidak. Bukan soal hak atau apa, tapi ini masalah perasaan. Beliau benar-benar memperlakukan saya dengan baik, dan saya benar-benar sedih──"


"Dasar pembohong."


"......."


Simpel, terlalu kejam.


"Ibu 'kan istri kedua yang sepenuhnya mengincar harta. Lagipula, di belakang kau sibuk melakukan perselingkuhan sampah, bukan?"


"Kuh......"


Memang begitu, sih.


Tapi itu karena dia dipaksa menjadi istri kedua. Makanya, dia terpaksa mengambil jalan perselingkuhan dengan mantan kekasihnya (mantan petinggi guild budak).


Jadi, itu sama sekali bukan perselingkuhan sampah. Itu juga cinta murni.


"Salah."


"......."


Kumohon, jangan membaca pikiran.


"Yah, setidaknya aku sudah memberi peringatan keras pada pelayan senior yang sadar itu. Untung saja akting Ibu bagus dan bisa menipu banyak pelayan, itu berhasil."


"Te, terima kasih."


Meski bingung, Helena menundukkan kepalanya.


"Hebat memang, padahal mengelola guild budak di belakang layar, tapi bisa berjalan santai dengan angkuh di bawah matahari siang bolong. Muka tebal tak tahu malu itu patut dikagumi."


"Kuh......"


Memang benar, sih.


"Lalu, mengenai perkembangan selanjutnya──"


"Anda akan menyita hartanya, kan?"


Dia sudah tahu. Awalnya memang begitu ceritanya. Dirinya menikah sebagai istri kedua, lalu mengalihkan aset kepada putranya, Hazen. Helena sangat suka uang. Kehidupan mewah ini pun jujur dia sukai, jadi bukannya tidak ada rasa keberatan.


Namun, dia tahu dengan sangat jelas bahwa dia tidak bisa melawan.


"Tidak. Harta tidak akan kusita."


"Eh?"


"Atas nama Ibu, warisilah tanah dan harta Yomei."


"Bo, bolehkah?"


"Ya. Aku berencana membiarkanmu mandiri sebagai seorang bangsawan."


Jawaban ini tak terduga. Padahal dia ketakutan memikirkan segalanya akan dirampas saat ini dan entah apa yang akan disuruh lakukan selanjutnya.


"Artinya, bolehkah saya menjalani hidup seperti biasa?"


"Ya. Berperilakulah sebagai janda bangsawan untuk sementara waktu."


"Te, terima kasih!"


Helena membungkuk dalam-dalam. Yomei meninggal memang membuatnya kesepian, tapi kehidupan ini bisa berlanjut. Hal itu tidak dia duga, jadi jujur dia merasa senang. Tidak, justru sekarang karena suaminya sudah tiada, dia bisa bertemu kekasih lamanya yang menjadi selingkuhannya itu tanpa rasa sungkan.


"......Niat terselubungmu tertulis jelas di wajahmu, tapi lakukan pertemuan rahasia itu dengan sangat tertutup. Kalau kau membawanya ke mansion secara terang-terangan, kau akan dianggap wanita tidak senonoh. Jagalah martabatmu sebagai ibu tiriku."


"A, aku mengerti."


Meskipun kesal, dia bisa menahan hal itu sebanyak apa pun. Justru, bertemu diam-diam akan menambah rasa berdebar, jadi mungkin itu stimulasi yang bagus. Sampai sekarang, rasa bersalahnya justru lebih kuat sehingga dia tidak bisa menikmatinya dari lubuk hati.


"Anu, terima kasih ban──"


"Selanjutnya, sebagai janda sedih yang kelebihan harta, menikahlah dengan bangsawan lain."


!?


"......Kh."


Sejak bertemu iblis tingkat tinggi ini, sudah berapa kali, ya? Helena sekali lagi meragukan telinganya sendiri.


"Anu...... saya agak tidak mengerti."


"Yah, mau bagaimana lagi dengan otak Ibu, ya."


"......Kh."


Sungguh pria yang sangat tidak sopan.


"Ini langkah naik yang sederhana. Selama ini, karena bangsawan tingkat paling bawah yang miskin, kau hanya bisa menikah dengan bangsawan tingkat bawah yang posisinya rendah. Tapi, Ibu akan mewarisi harta dan juga mengambil alih gelar, jadi naik satu tingkat. Tidak ada celah dalam prosedur di bagian itu."


"Hah...... kuh......"


Orang ini. Benar-benar tidak memperlakukannya seperti manusia. Dia memperlakukannya seolah-olah dia adalah barang buangan.


"Tidak, tapi, anu...... itu...... melayani di malam hari juga?"


"Tentu saja. Soalnya kan menikah."


"......."


Dia menjawab dengan senyum ramah dan tegas.


Seorang anak memerintahkan ibunya untuk 'tidur dengan orang lain'.


Padahal dia punya kekasih. Padahal dia saling mencintai dengan kekasihnya. Harus berbagi tempat tidur dengan pria tak dikenal, apalagi sebagai istri kedua, dia tidak mau.


Tidak mau. Dia benar-benar tidak mau.


Harus melakukan sesuatu. Entah bagaimana caranya, harus menolak dengan halus. Helena mencoba menjajaki Hazen yang sedang tersenyum itu secara hati-hati.


"Tapi...... anu, apa aku bisa melakukan hal...... seperti itu?"


"......"


Tiba-tiba, Hazen mencengkeram rambut Helena dengan kasar. Lalu, dia menghempaskannya dengan keras ke dinding, dan menatapnya dengan mata tajam yang terlalu dingin.


"Hii...... higii!?"


"Apa aku bisa melakukannya? Bukan begitu, kan? Kau akan melakukannya."


"Hii...... hiii."


"Apa kau salah paham? Aku membiarkanmu memerankan peran ini hanya karena Ibu masih ada gunanya. Kalau sudah tidak dibutuhkan, aku tinggal mengembalikanmu ke posisi semula."


"Ma, maafkan saya, maafkan saya."


Helena meminta maaf berkali-kali dengan mata berkaca-kaca.


"Bisa kau bayangkan? Orang-orang yang kau jual sebagai budak itu, mungkin saja menjadi pelampiasan nafsu para pecinta seksual dengan selera gila. Mereka bahkan tidak diperlakukan sebagai barang, melainkan diperlakukan lebih buruk dari ternak."


"Fuh...... fuuuuuuh."


Dia sudah tahu. Meskipun dia tahu, pria ini terus menyudutkannya berkali-kali. Dia menyesal. Dia menyesal. Dia merasa bersalah. Padahal dia merasa bersalah.


Namun, kenapa dia sama sekali tidak mau memaafkannya?


"Entah wanita atau anak-anak, pendosa tetaplah pendosa. Aku tidak membeda-bedakan sampah. Apa kau mau kujual ke pedagang budak dan menghabiskan sisa hidup sebagai budak? Ibu."


"......Kh."


Menyaksikan kengerian yang terlalu mengejutkan itu, Helena ketakutan.


Bukan 'bisakah kau tidur dengannya?'.


Melainkan 'tiduri dia'.


Dia menerima tekanan yang cukup untuk membuatnya memutuskan demikian.


"Sa, saya mengerti! Apa pun akan saya lakukan."


"Begitu? Baguslah kau jadi berniat melakukannya."


"......."


Menakutkan.


Pemuda berambut hitam itu menyunggingkan senyum polos dengan lebar.


Perbedaan drastis antara saat menurut dan saat tidak menurut membuat telinganya berdengung. Sepertinya, pria ini sudah benar-benar berhenti menjadi manusia. Helena memutuskan untuk berpikir demikian. Dengan berpikir demikian, dia memutuskan untuk bersumpah setia sepenuhnya dan menyerah total.


"Kalau begitu, mari lanjutkan pembicaraan. Kali ini hambatannya agak tinggi. Sebelumnya kita yang memilih dari kondisi yang memungkinkan, tapi kali ini kita yang dipilih."


Hazen berkata begitu sambil meletakkan kertas kulit domba di tempat tidur.


"Ini daftar kandidatnya. Mungkin ada bangsawan yang belum pernah kau temui, tapi hafalkan tanpa salah satu kata pun."


"Ba, banyak sekali......"


"Meskipun pemanah yang buruk, kalau menembak banyak panah, satu pasti akan kena."


"......Kh."


Siapa yang pemanah buruk, hal itu tidak akan berani dia ucapkan sampai mulut robek sekalipun.


"Kandidat pertama adalah Gesrich Dote. Dia punya hubungan akrab dengan Yomei, posisinya nomor 3 dari atas di kalangan bangsawan tingkat bawah. Dia punya 5 istri, jadi posisimu adalah istri ke-6."


"I, istri ke-6."


Dari posisi seperti itu...... tak perlu dikatakan lagi ini misi yang sulit.


Tapi, dia harus melakukannya.


Kalau tidak, dia akan dibunuh.


"Ini adalah pernikahan politik murni. Janda bangsawan tingkat bawah yang memiliki harta berlimpah ruah. Syarat yang sangat pas untuk disambut sebagai selir. Ibu juga masih muda, kan."


"Ti, tidak, saya ini sudah lebih dari 30 tahun, lho."


Secara penampilan terlihat begitu memang sedikit membahagiakan sebagai wanita, tapi di mata masyarakat umum, ini bukanlah usia yang bisa dibilang muda tanpa syarat──


"Muda, kok. Karena pasangannya berusia 70 tahun."


"......."


Lagi-lagi, kakek-kakek tua bangka.


Segera, Helena memindai daftar kandidat dengan kecepatan tinggi. Apakah tidak ada pria tampan... tidak, dia tidak akan muluk-muluk. Apakah tidak ada orang yang sedikit lebih mendingan?


Dia membuka matanya lebar-lebar dan mencari ke sana kemari.


"......."


Isinya kakek-kakek bau tanah semua.


"Karena aku mengumpulkannya dari orang-orang yang mengidap penyakit kronis atau yang tampak akan segera mati. Usia rata-ratanya adalah 75 tahun."


"......."


"Pihak sana juga bertujuan harta. Mereka tidak merasakan daya tarik seksual atau semacamnya pada Ibu, jadi kurasa tidak perlu terlalu waspada begitu."


"Guh......"


Ketidaksopanan yang bahkan terasa menyegarkan. Setiap ucapannya menghancurkan harga diri sebagai wanita hingga berkeping-keping.


"Apakah mereka punya vitalitas atau tidak juga masih meragukan. Yah, karena semua pasangannya adalah penyihir, kemungkinannya bukan tidak ada, sih."


"......"


Secara umum dikatakan bahwa semakin kuat sihirnya, semakin tahan terhadap penuaan dan tampak awet muda. Memang tidak ada kasus yang melampaui 200 tahun, tapi penyihir tingkat tinggi terkadang masih segar bugar meski usianya sudah lebih dari 100 tahun.


"Yah, tapi bersiaplah saja. 'Jika saatnya tiba, lakukanlah dengan sekuat tenaga'. Keahlianmu, kan? Wanita seperti Ibu."


"......."


Putranya memperlakukan ibunya seperti wanita murahan.

Saat Jan sedang menunggu di kereta kuda, Hazen naik ke dalam.


"Bagaimana?"


"Apanya?"


"Apanya itu maksudnya...... anu, Guru pergi melihat keadaannya karena khawatir, kan?"


"Ya. Orang itu berkemauan keras dan sifatnya licik, soalnya. Sesekali aku harus pergi melihat keadaannya untuk melakukan pemeliharaan rutin. Ibu tiri yang merepotkan."


!?


"Hah............"


Pergi melihat keadaannya karena khawatir. Faktanya tidak berbeda, tapi nuansanya sama sekali beda, malah terdengar sebaliknya.


"La, lalu? Ibu tiri. Apakah beliau terlihat baik-baik saja?"


Tidak mungkin begitu. Selama masih manusia, hal itu tidak mungkin terjadi. Jan berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri akan hal itu, lalu bertanya lagi.


"Baik-baik saja? Ah, tidak ada masalah."


"......"


Jan merasa agak cemas. Apakah makna 'baik-baik saja' tersampaikan dengan benar kepada pria ini.


"Ngomong-ngomong, bagaimana baik-baik sajanya itu?"


"Hm? Tidak, tubuhnya terlihat sehat, dan aku memutuskan dia masih bisa melaksanakan tugas tanpa perlu dibuang."


"......."


Ternyata, sama sekali tidak baik-baik saja.


"Yang kutanyakan itu hati Ibu tiri, lho! Apakah beliau tidak menangis?"


"Ah, dia menangis, sih."


"Kalau begitu, sama sekali tidak baik-baik saja, dong!?"


"Itu tangisan palsu. Jadi, tidak apa-apa."


"......."


Yang tidak baik-baik saja adalah kepala pria ini, Jan sangat yakin akan hal itu.


"Apa air matanya tidak mengalir!?"


"Mengalir, kok."


"Kalau begitu, itu tangisan sungguhan, kan!"


"Air mata saja sih bisa dikeluarkan dengan latihan."


"Kuh......"


Tanpa ampun, tanpa keraguan sedikit pun, dia melontarkan argumen logis yang tidak masuk akal.


Apakah dia benar-benar orang gila sejati?


Di saat yang sama dia berpikir ingin 'kabur dari hadapan pria ini' secepat mungkin, rasa perlawanan bahwa 'tidak boleh kabur' juga menguat. Jika dia tidak bisa membuat pria ini mendapatkan kembali hati manusianya, dia terpaksa merasakan kewajiban yang penuh keputusasaan bahwa 'benua ini akan tamat'.


Ah──pikirannya kacau balau.


Berbanding lurus dengan emosi Jan, pikirannya pun berputar-putar dan kacau balau, namun dia berusaha menarik napas dalam-dalam, dan bertanya pada Hazen tanpa kapok.


"Guru. Saat ada orang di sekitarmu meninggal. Apa yang kau pikirkan?"


"Hm? Ah, aku berpikir 'dia mati, ya'."


"......."


Emosi yang rusak.


Dari kata pertama saja sudah tidak layak.


Psikopat yang mutlak.


"Kebanyakan orang itu, saat ada orang di sekitarnya meninggal, mereka akan merasa sedih! Makanya, mereka menjaga perasaan orang itu, atau mengkhawatirkannya!"


"Hmm...... aku sih tidak terlalu mempedulikannya."


"Bi, biasanya, semua orang mempedulikan hal itu, tahu! Apalagi kematian suami, kan? Sudah pasti sedih, kan!?"


"Begitu, ya? Padahal cuma seperti pernikahan palsu."


"Kalau hidup bersama, pasti akan muncul perasaan, kan!"


"Hmm, maaf, aku tak begitu paham."


"......."


Orang ini benar-benar tidak bisa diharapkan, pikir Jan dengan sangat yakin.


"Daripada itu, apakah persiapan pemakaman sudah berjalan?"


"......."


Upaya persuasi yang putus asa diabaikan begitu saja. Tentu saja, Jan merasa terguncang gabiin, tapi karena ini sudah terlalu sering terjadi, dia segera mengubah suasana hati dan menjawab pertanyaan.


"Sudah diatur, kok. Tapi, apa tidak apa-apa? Mengundang orang sebanyak ini?"


Daftar tamunya pun sangat mewah, dipilih dari yang bergelar bangsawan tertinggi sebisa mungkin. Anggarannya tentu saja sangat besar sepadan dengan itu, skalanya hampir seperti acara bangsawan tingkat atas.


"Ya. Aku berniat mengadakannya semegah mungkin. Karena Ibu adalah umpan."


"U, umpan?"


"Ya. Di sana, aku akan menjebak bangsawan yang berani menggoda Ibu dengan strategi moralitas."


"Tipu muslihat yang belum pernah kudengar!?"


Jan tanpa sadar merasa terguncang gabiin.


"Tapi, mana ada orang yang terpikir untuk menggoda di acara pemakaman, kan?"


"Biasanya begitu. Tapi, berdasarkan selera seksual dan rendahnya moralitas, katanya kemungkinan mereka benar-benar akan melakukannya cukup tinggi."


"......Katanya?"


Dia merasa sedikit janggal dengan cara bicara yang seolah-olah berdasarkan kabar dari orang lain itu.


"Ya. Aku sudah memperingatkan Ibu agar tidak salah paham, tapi pandangan ahli mengatakan bahwa 'dia mungkin akan populer di kalangan sebagian penggemar fanatik (penikmat selera khusus)'."


"A, ahli?"


"Mozcoal."


"......Kh."


Mozcoal Vennis. Sekretaris mesum sejati yang saat ini dengan semangat misterius berkoar-koar akan 'tobat dan membangun distrik prostitusi (SM) yang sehat'. Dia adalah penanggung jawab 'dunia itu' yang direkrut paksa setelah diancam dengan kelemahannya, yaitu memaksa pegawai wanita di toko sehat sungguhan untuk melakukan baby play ilegal.


Demi pertimbangan Hazen, kesempatan untuk dipertemukan dengan Jan sangat sedikit, tapi namanya sering muncul dalam pembicaraan. Sebagai sesama sekretaris, disejajarkan dengannya memang agak mengganjal, tapi karena Hazen sendiri adalah puncak dari orang gila, dia sudah pasrah dan menerimanya.


"Aku sama sekali tidak bisa memahaminya, tapi katanya 'situasi janda yang tenggelam dalam kesedihan adalah makanan favorit'."


"......K"


Bagi Jan, itu adalah pandangan dunia yang bisa dibilang sama sekali tidak bisa dipahami.

Keesokan harinya. Setelah memacu kuda secepat mungkin, Mozcoal tiba di lokasi pemakaman. Sampai beberapa hari yang lalu, dia sibuk merekrut wanita di Ibukota Kekaisaran untuk rencana pembangunan distrik prostitusi di wilayahnya sendiri, tapi begitu kabar itu masuk, dia langsung melesat keluar dari Ibukota.


Saat itu, Hazen sedang memimpin persiapan lokasi. Di tengah kesibukan itu, Mozcoal berlari mendekat dengan napas terengah-engah.


"Haa...... haa...... maaf membuat Anda menunggu."


"Ti, tidak. Aku tidak menunggu kok. Malah, cepat juga kau sampai."


"Haa...... haa...... saya jadi bersemangat setelah menerima surat itu. Tak disangka saya bisa memimpin pla...... pemakaman semegah ini...... haa...... nghaa......"


"......"


Barusan dia hampir bilang 'play', kan, pikir Hazen diam-diam.


"Kalau begitu, bisa perlihatkan lokasinya sekarang?"


"Sebelum itu. Apakah ruang tertutup sudah Anda siapkan?"


Mozcoal bertanya sambil melihat sekeliling.


"Setidaknya, sudah kusiapkan sesuai instruksi, sih."


Dia menjawab sambil memandu, tapi jujur dia agak ragu. Mozcoal adalah mesum di antara para mesum. Karena itu, ada kemungkinan permintaannya menjadi agak aneh.


Sejak awal, Hazen menganggap tempat pemakaman hanya sebagai ajang untuk memamerkan wajah Helena. Bagaimanapun juga, sulit membayangkan akan terjadi hubungan intim di tempat sesakral tempat pemakaman.


"Apa perlu ruang tertutup?"


"Bicara apa Anda ini? Untuk menjebak (melakukan hubungan intim) itu perlu, kan? Ruang tertutup."


"B, begitu, ya."


Hazen menafsirkannya sebagai menjebak dalam suatu perangkap. Namun, karena dia tidak bisa membayangkan dalam bentuk apa hal itu akan dilakukan, dia merasa cemas.


"Anu...... aku akan senang kalau ada dokumen rencananya."


"Ada, kok. Di sini saya."


"......."


Mozcoal menunjuk kepalanya sendiri dengan bangga.


"B, begitu. Kalau begitu, kuserahkan padamu."


"Ya. Lalu...... apakah pemeran utamanya ada?"


"Pe...... ah, aku panggilkan. Ibu!"


Saat dia memanggil dengan suara keras, Helena mendekat. Mozcoal menatap wanita itu lekat-lekat seolah menjilatinya.


"A, anu......"


"Hmm. Bokong yang erotis."


!?


"E, ehem."


"Ups, maaf tidak sopan."


"......."


Kepada Helena yang berdeham, Mozcoal buru-buru meminta maaf.


Tapi, sesuai kata-katanya, sungguh terlalu tidak sopan.


Perlu diketahui, bola mata dan leher Mozcoal bergerak dengan kecepatan tinggi, tangannya bergerak liar ke sana kemari, dan dalam sekejap mata dia berubah menjadi dalam kondisi sangat bersemangat.


"Bagus...... ini bagus sekali! Bokong yang matang dan sedikit kendor yang pas ini, benar-benar bagus sekali!"


"......Kh."


Benar-benar terlalu tidak sopan. Ekspresi Helena menceritakan bahwa seandainya orang ini bukan sekretaris Hazen, dia pasti sudah memukulnya sampai mati.


"B, begitu, ya."


Di sisi lain, menghadapi mesum yang terlalu bersemangat itu, Hazen mundur beberapa langkah.


"......Anu, saya ingin berdiskusi berdua saja dengannya sebentar."


"B, begitu, baiklah. Ibu, sisanya kuserahkan padamu."


"......."


Dalam hitungan detik.


Seolah melarikan diri, Hazen pergi meninggalkan tempat itu.

Helena yang ditinggalkan tidak menyembunyikan ekspresi cemasnya. Dia khawatir mesum ini akan melakukan sesuatu padanya. Namun, Mozcoal malah membungkuk ke depan dan menatap seluruh tubuhnya lekat-lekat seolah menikmati rasa jijik itu.


"Untuk menonjolkan bokong yang kendor itu, pakaian yang mempertegas garis tubuh sepertinya bagus. Saya harus berdiskusi sedikit dengan penjahit."


"Kuh......"


Pelecehan seksual yang mutlak. Sampai batas tertentu, dia menerima budaya patriarki, tapi pelecehan seksual seterang-terangan ini pun jarang terjadi di zaman sekarang.


Namun, saat berikutnya. Mozcoal memasang ekspresi sangat serius dan berbicara pada Helena.


"Sebelum itu, ada satu hal. Yang ingin saya tanyakan pada Anda."


"A, ada apa?"


"Ini pertanyaan penting. Apakah Anda benar-benar bersedih?"


"Eh?"


"Tatap mata saya baik-baik. Apakah Anda benar-benar mencintainya, dan bersedih atas kematiannya dari lubuk hati Anda?"


"......"


Menghadapi pertanyaan yang terlalu lurus dan berbeda dari sebelumnya, Helena pun merenungkan dirinya dengan sungguh-sungguh. Memang awalnya, rasanya penuh paksaan. Dia punya seseorang yang diidamkan dalam hatinya, dan dia pikir hanya perlu bersabar selama beberapa bulan.


Tapi. Menghabiskan waktu...... yang damai bersama. Dia jadi tahu bahwa mantan suaminya Yomei adalah orang yang benar-benar baik. Melihat hal yang sama, memakan masakan yang sama, merasakan hal yang sama, tertawa karena hal yang sama. Kehidupan sehari-hari yang biasa, tapi bahagia, ada di sana.


Helena menjawab dengan tegas dan ekspresi lurus.


"Ya. Saya...... mencintai Tuan Yomei."


"......Saya mengerti. Sisanya, serahkan pada saya."


Mozcoal menjawab dengan mata yang jernih tanpa keraguan.


"Te, terima kasih."


Dia mengerti. Orang ini memahami cinta saya.


"Tapi, saya diperlakukan sebagai pembohong oleh ib...... putra saya."


"Serahkan pada saya. Saya akan meluruskan kesalahpahaman itu. Jelas sekali bahwa Anda benar-benar mencintai suami Anda."


"Te, terima kasih."


Helena membungkuk dari lubuk hatinya. Dia mengerti. Di saat yang sama, cahaya harapan mulai terlihat. Mungkinkah, jika Sekretaris Mozcoal membujuknya, rencana seburuk ini pun bisa ditinjau ulang──


"Mari kita perlihatkan pada mereka. NTR terbaik, yang berguncang dalam rasa amoral."


"......."

Hari pemakaman. Distrik Monago menunjukkan keramaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Alasannya ada pada Yomei, penguasa yang cakap. Banyak rakyat yang menjadi makmur berkat kepemimpinannya, sehingga pelayat yang datang pun banyak.


Di tengah situasi itu, seorang bangsawan bernama Gesrich Dote datang melayat. Usianya 70 tahun. Meskipun bangsawan tingkat bawah, gelar bangsawannya termasuk yang tertinggi di kalangan itu. Dia adalah teman masa kecil Yomei, dan juga sahabat yang tiada duanya. Mendengar kabar duka kali ini, dia bergegas datang dengan kuda tercepat.


"......"


Kehilangan seseorang yang seusia, apalagi bisa disebut sahabat, membuatnya merasakan kehilangan yang besar.


Di tengah kerumunan pelayat, dia dikejutkan oleh skala tempat pemakaman. Meskipun dia memiliki kekayaan sebesar ini, dia mungkin tidak akan mengadakan acara semegah ini. Tak disangka Yomei bisa melaksanakannya dengan gelar bangsawan kedua dari bawah.


"Kau hebat, Yomei."


Dia menggumamkan prestasi sahabatnya dengan bangga, lalu menyelesaikan pendaftaran dan masuk ke dalam.


Bagian dalam tempat pemakaman pun mewah dan megah. Bangsawan yang melayat juga setingkat dengan Yomei, atau yang posisinya sedikit lebih tinggi. Meskipun sudah lama tidak bertemu, dia kembali mengenang kematiannya sambil meyakini bahwa Yomei pasti menjalani kehidupan yang memuaskan.


Yang sedang menyapa tamu itu pasti istrinya yang menjadi kepala pelayat.


"......"


Selama ini dia belum pernah bertemu, tapi kalau tidak salah di surat dia pernah menyombongkan diri dengan berkata 'aku menikahi istri muda'.


Di tengah ditinggal suami, sebagai kepala keluarga, dia bersikap tegar dan melayani tamu dengan rajin. Sementara dia benar-benar kagum 'wanita itu kuat', di sisi lain dia juga ingin membantu apa pun yang dia bisa.


Gesrich mendekatinya dan membungkuk dalam-dalam.


"Saya turut berduka cita atas musibah ini."


"Ya...... terima kasih. Maaf saya terlambat memperkenalkan diri. Saya istrinya, Helena. Anu, maaf sebelumnya, tapi......"


"Nama saya Gesrich."


"Wah, Anda Tuan Gesrich? Suami saya pernah bercerita. Bahwa Anda satu-satunya orang yang bisa disebut sahabat. Katanya Anda orang yang sangat jujur, bisa dipercaya, dan luar biasa."


"Dia melakukan hal seperti itu..."


Dia merasa bangga sekaligus sedih.


"Jika ada yang bisa saya bantu, silakan hubungi saya kapan saja. Saya tidak bisa membiarkan anak tiri Yomei mengalami kesulitan."


"Kata-kata Anda saja sudah... benar-benar membuat saya bahagia."


"..."


Dengan mata berkaca-kaca, dia menatapnya dengan pandangan basah. Meskipun berusaha tegar, dia pasti merasa cemas sendirian ke depannya. Seperti yang dikatakannya tadi, Gesrich bersumpah pada dirinya sendiri untuk membantu jika ada masalah.


Saat itu, seorang bangsawan muda mendekat. Wajahnya memiliki garis yang tajam dan sempurna, dengan mata yang tajam sebagai ciri khasnya. Yomei seharusnya tidak punya anak laki-laki, mungkin ini kerabat dekatnya.


"Ibu, siapa orang ini?"


"Ah, Hazen. Ini Tuan Gesrich."


"Anda!? Saya Hazen, putra Helena."


"Senang berkenalan dengan Anda."


Saat menjawab demikian, pemuda berambut hitam itu menggenggam tangannya erat dan tersenyum lembut.


"Saya mendengarnya dari ayah tiri saya. Bahwa Anda adalah sahabat karibnya yang tak tergantikan, seseorang yang berani dan berbudi luhur."


"Tidak, saya tidak seperti itu..."


Dia rendah hati sekaligus terkejut. Tidak menyangka dia berbicara tentangnya seperti itu.


Begitu ya... Yomei benar-benar menganggapnya sebagai sahabat karib.


"..."


Di sisi lain, dia sendiri tidak pernah menceritakan tentang Yomei kepada keluarganya. Terhadap orang yang begitu bangga padanya, dia merasa agak bersalah.


Namun, tanpa mempedulikan hal itu, Hazen melanjutkan dengan senang hati.


"Saya juga mendengar kisah kepahlawanan Anda di masa muda. Seperti saat Anda berusia 15 tahun, dikelilingi oleh kawanan besar Harimau Nanki Nakudogu dan berhasil mengusir mereka."


"...Haha. Ah, itu memalukan."


Sambil menggaruk kepalanya, dia merasa malu.


Sebenarnya, bukan Harimau Nanki Nakudogu, melainkan Kucing Nanki Nabikuna. Harimau Nanki Nakudogu adalah binatang sihir raksasa dengan panjang tubuh lebih dari 3 meter, sedangkan Kucing Nanki Nabikuna hanya sedikit lebih besar dari kucing biasa.


Lagipula, bukan kawanan besar, hanya sekitar 3 ekor.


"Bertemu langsung dengan Anda, kepribadian Anda benar-benar tulus. Ayah tiri saya pasti bahagia bisa memiliki teman seperti Anda."


"Perasaan saya juga sama. Saya benar-benar bersyukur bisa memiliki Yomei sebagai teman. Dialah kebanggaan saya."


"...Terima kasih. Saya yakin suami saya senang mendengar Anda berkata demikian."


Helena di sampingnya semakin berkaca-kaca menatapnya.


"Ibu benar-benar mudah menangis. Dengan begini, ayah tidak bisa tenang di surga."


Hazen menepuk bahunya dengan khawatir.


"...Benar. Saya ini istri yang tidak sempurna."


"Tidak seperti itu... Saya bahkan sedikit cemburu bahwa Yomei bisa bertemu dengan pasangan yang luar biasa seperti Anda."


"Astaga."


Dia berkata demikian dan tertawa dengan jenaka. Gestur itu membuatnya merasa simpati.


Namun, meskipun mendengar dia masih muda. Menikahi wanita yang bahkan belum setengah dari usianya sendiri. Gesrich berpikir demikian.


"Um, saya turut berduka..."


"Ah, permisi."


Ketika peserta pemakaman berikutnya menyapanya, Helena membungkuk dengan terburu-buru dan berbalik.


Saat itu.


Aroma menggoda yang melayang.


"...!"


Pantat matangnya yang terlihat sekilas melalui siluet gaun ketatnya entah kenapa menarik perhatiannya.


"Kuh..."


Gesrich dengan terburu-buru menekan emosi yang sekilas muncul itu. Di tempat pemakaman seperti ini. Apalagi terhadap istri sahabatnya, dia memikirkan perasaan rendah seperti apa.


"..."


Bahkan, akhir-akhir ini dia menjalani hari-hari tanpa dorongan nafsu seperti itu.


Sebenarnya, dia memiliki 5 istri, tapi semuanya seusia, dan tidak ada keintiman malam sama sekali. Karena gairah seperti itu juga berkurang seiring usia, Gesrich berpikir, ya sudahlah.


"...Guh."


Namun, entah kenapa, pantat matang Helena sangat menarik perhatiannya. Bukan berarti itu pantat yang istimewa. Meskipun dia mungkin dihina karena mengatakan ini, ada banyak wanita cantik lainnya.


Meski begitu, Gesrich tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pantatnya yang sibuk mondar-mandir dengan penuh perhatian.


Sementara itu, dari tepat di belakang peserta pemakaman, terdengar percakapan beberapa pemuda.


"Hei, rupanya penyebab kematiannya adalah kematian saat berhubungan intim."


!?


Kematian saat berhubungan intim. Yaitu, penyebab kematian ketika meninggal saat berhubungan seksual. Gesrich menatap pantat Helena dengan perasaan tidak percaya.


"Kematian saat berhubungan intim!? Istri itu, luar biasa sekali?"


"Ya, menurut rumor."


"Wah, itu dalam artian tertentu patut iri."


"Menurut rumor dari pelayan, setiap malam terdengar suara desahan."


"Hah... hah..."


Sambil mendengarkan percakapan itu, napasnya tersengal karena tidak bisa menahan nafsu. Ada yang aneh. Emosi panas yang membara ini apa. Keinginan yang berkilau seperti bocah perawan berusia 14 tahun, yang sudah hampir dilupakan seiring bertambahnya usia, seakan akan meledak.


"Oi oi...... Istrinya pasti kesepian, tuh. Malam-malam, bagaimana, ya?"


"Kau saja yang menemaninya, gimana?"


"......Kalian ini. Tidak sopan sekali."


Gesrich tidak tahan lagi mendengar pembicaraan seperti itu. Dia memelototi orang-orang yang sedang bergosip itu.


"Mo, mohon maaf."


"Jaga sikap kalian. Ini tempat pemakaman, tahu."


Setelah memperingatkan mereka, dia mengingatkan dirinya sendiri berkali-kali. Benar. Di tempat yang khidmat seperti ini, apalagi di hadapan kematian sahabat satu-satunya, hal seperti itu tidak mungkin terjadi.


Dia harus mengenang Yomei. Bukankah dia datang hari ini untuk itu? Ya, benar. Sambil mengenang masa-masa muda yang dihabiskan bersamanya, dia kembali mengarahkan pandangannya ke Helena.


"......Kh."


──Betapa matangnya bokong itu.


Dan.


Mungkin dia menyadari tatapan itu. Mata mereka bertemu.


"Anu...... ada apa?"


"Ti, tidak. Maafkan saya."


Gesrich menyesal karena refleks meminta maaf. Padahal dia tidak melakukan apa-apa, tapi meminta maaf malah membuatnya terlihat seperti menyembunyikan sesuatu yang buruk.


Mati di atas perut (fukujoushi)...... kah.


"Eh?"


"Ti, tidak. Tidak apa-apa. Haha."


"......Begitu ya. Ah, benar juga."


Seolah teringat sesuatu. Sambil menggoyangkan bokong montoknya, Helena mendekat.


"Mengenai makan malam setelah pemakaman, jika berkenan bagaimana kalau Anda bergabung bersama kami? Hari ini, saya ingin mendengar cerita masa lalu tentang suami saya dan Tuan Gesrich."


"......Kh, te, tentu saja."


Sambil menjawab begitu, diam-diam pikiran 'jangan-jangan dia menggoda' berlarian di dalam otaknya. Tapi, tidak mungkin begitu. Dia adalah janda yang ditinggal mati suaminya......


Janda.


"Guh......"


"A, ada apa?"


"Se...... sedikit sakit perut."


Gesrich membungkuk sambil memegangi perutnya.


"A, apa Anda baik-baik saja?"


"Ya. Jangan khawatir. Pokoknya, saya mengerti. Sampai jumpa di makan malam."


Gesrich buru-buru kembali ke tempat duduknya dengan posisi membungkuk.


Setelah pemakaman. Gesrich, yang entah bagaimana berhasil menenangkan diri, tiba di kastil Yomei.


"Selamat datang. Saya kepala pelayan Mozcoal Vennis."


"Saya Gesrich. Terima kasih sudah mengundang saya hari ini."


"Kalau begitu, mari saya antar ke kamar Anda."


Mozcoal memandu dengan anggun dan mengantarnya ke kamar.


"Masih ada sedikit waktu sampai makan malam. Silakan berjalan-jalan sesuka hati, dan mengenang mendiang Tuan Yomei."


"Terima kasih."


Kepala pelayan itu membungkuk dengan indah, lalu pergi.


Setelah itu, beberapa puluh menit berlalu dan dia merasa bosan, jadi dia mencoba keluar dari kamar. Karena tuannya sudah tidak ada, suasana di dalam kastil yang anehnya sepi terasa menyedihkan. Sekali lagi, Gesrich berjalan di dalam kastil sambil tenggelam dalam rasa kehilangan sahabatnya.


Saat itu.


"Sayang...... kenapa kau pergi meninggalkanku."


Terdengar suara dari ruang arsip.


Suara Helena.


"......"


Dokun. 


Rasa semangat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya menguasai Gesrich. Saat dia membuka pintu itu dengan takut-takut, Helena sedang menangis seorang diri tanpa diketahui orang lain.


"......"


Dia tidak pernah memperlihatkan air mata di depan orang lain.


Betapa malangnya wanita itu.


Gesrich menepis perasaan kotornya, dan hendak menutup pintu begitu saja.


Namun.


Saat itu, Helena menggeser rak buku sambil memperhatikan sekitar, lalu membuka pintu yang muncul di baliknya.


Ruangan rahasia.


Gesrich, sekali lagi, merasa terangsang. Kenapa ada ruangan rahasia yang tidak diketahui orang di tempat seperti ini.


Sebenarnya, apa yang...... apa yang sedang dia lakukan.


Tanpa sadar.


Gesrich sudah menempel di pintu ruangan rahasia itu.


"Haa...... haa...... ngh...... haa......"


Dia sangat bingung dengan tindakannya sendiri. Kenapa dia menempel di pintu?


Kenapa dia menempelkan telinganya sekuat tenaga sampai hampir gepeng, berusaha agar tidak melewatkan satu kata pun dari suara wanita itu?


Sebanyak apa pun dia berpikir, dia tidak tahu alasan tindakannya itu.


Hanya saja...... perasaan 'ingin tahu' menembus otaknya, dan dia terpaksa bertindak mengikuti naluri itu.


"Haa...... haa...... haa...... ngh...... haa...... haa......"


Napas memburu...... air liur yang menempel lengket di pintu. Suara deru napas yang terngiang di telinga. Rasa benci pada diri sendiri yang hebat menyerang segala hal itu. Tindakan yang sangat tidak pantas bagi bangsawan ini, jika dilihat orang lain, tak ada kata lain selain aib.


Kenapa dirinya bisa sebegitu terangsangnya? Padahal penampilannya tidak terlalu cantik. Juga tidak muda.


Apalagi bokong itu, sudah cukup matang──


Bokong itu.


"Haa...... haa...... uguh...... ngh."


Sambil menelan ludah dengan bunyi gluk, tanpa sadar Gesrich telah membuka pintu rahasia itu. Secara naluriah sampai dia sendiri terkejut.


Saat itu, Helena sedang memeluk potret Yomei sambil menangis. Dia terkejut melihat Gesrich yang tiba-tiba masuk.


"Si, siapa!?"


"......Ah, ma, maaf."


"Tuan Gesrich."


"......."


Sosoknya yang menempelkan tangan di bibir sungguh memikat. Dorongan untuk mendekat demi mencium aromanya lagi menyerang entah bagaimana caranya.


Namun, begitu berhadapan langsung, pengendalian dirinya juga menyerang dengan kuat.


Tenanglah, tenanglah, Gesrich menasihati dirinya berkali-kali.


Coba lihat wajahnya baik-baik. Penampilan yang sangat umum. Tidak terlalu jelek, tapi juga tidak cantik. Proporsi tubuhnya pun tidak terlalu istimewa──


Bokongnya mantap sekali.


Gokuri.


Gesrich kembali menelan ludah.


"Kenapa beliau meninggal, ya."


Mengatakan itu. Gesrich menahan nafsunya yang membara, dan berusaha keras memikirkan mendiang sahabatnya. Dia meletakkan tangan di dinding, berpose sekeren mungkin.


Sedikit membungkuk ke depan, memasang gaya.


"Saya...... mencintai suami saya."


"Begitu ya."


"Saya, suka pria yang lebih tua."


"......."


Mata berkaca-kaca yang membuat jantung berdegup kencang. Dan, kata-kata maut 'suka pria yang lebih tua'. Mungkinkah dia mengatakannya pada dirinya? Mungkinkah dia sedang menebar pesona padanya? Mungkinkah dia sedang mengajaknya?


Tidak, tidak mungkin begitu.


Tenanglah. Dia hanya sedang tenggelam dalam kenangan bersama Yomei. Jangan salah paham. Sebagai sahabat, kau hanya perlu menjadi pendengar yang baik.


Gesrich meyakinkan dirinya berkali-kali, dan entah bagaimana berhasil menimpali, "Lalu?"


"Saat memutuskan pernikahan ini, saya ditentang oleh kerabat keluarga saya maupun kerabat suami. Mereka bilang, 'Paling juga mengincar warisan, kan?'."


"......"


Betapa malangnya wanita ini, pikirnya. Padahal dia bersedih dengan begitu tulus, tapi sama sekali tidak dipahami.


Seseorang harus melindunginya. Dengan tubuh yang begitu ramping (padahal bokongnya montok), dia terlihat seolah akan patah sewaktu-waktu (padahal bokongnya sepertinya kenyal).


"Tetapi, Suami menerima saya yang tidak sempurna ini. Memeluk saya dengan lembut...... terkadang dengan gairah yang hebat."


"......Kh."


Hebat? Apa maksudnya dengan hebat? Di sini, kata 'mati di atas perut' (fukujoushi) muncul di otak Gesrich.


Jangan-jangan, rumor itu benar. Mungkinkah dia benar-benar meninggal saat berhubungan seksual.


Apa dia mencapai 'puncak', lalu 'berpulang'?


Sehebat apa sampai bisa mati di atas perut? Posisi seperti apa itu? Gaya normal...... tidak, dari belakang...... gaya menunggang kuda...... ataukah...... Khayalan kotor dan cabul berlarian di dalam otak Gesrich.


Tidak, tapi...... tidak boleh.


Dia sahabatku. Dia istri sahabatku. Gesrich melihat potret Yomei yang terpajang. Potret yang sedang menatap ke arah sini dengan sangat tajam.


"Boleh saya...... meminjam dada Anda sebentar?"


"......."


Helena menyandarkan kepalanya di dada Gesrich dan mulai menangis.


"Uuh...... uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh."


"......."


Dia hanya murni bersedih. Karena tidak bisa menerima kematian orang yang dicintainya, dia sampai begini (wanginya enak).


Ingin melindunginya (Ingin menyetubuhinya).


Secara sederhana Gesrich berpikir begitu.


Namun.


Berlawanan dengan perasaan itu.


Hembusan napas menyentuh leher Gesrich (betapa kasihannya orang ini). Sensasi dada yang tersandar terasa (aku harus melindunginya). Tengkuknya yang ramping sungguh erotis (aku harus menopangnya).


Bokong yang pas kendornya ini (bokong yang tak senonoh ini).


"......Nghuu."


Gesrich perlahan melepaskan Helena, lalu menepuk-nepuk bahunya.


Dia menahannya.


Dia berhasil menahannya.


Dengan pengendalian diri sekuat baja, Gesrich berhasil menahannya.


"Semangatlah. Ada saya di sini."


Mengatakan itu, dia tersenyum ramah, dan berusaha keras memalingkan pandangan dari Helena.


"......."


Cambuk yang sudah usang terpakai.

Kenapa.


Kenapa.


Kenapa.


Kenapa. Kenapa. Kenapa.


Perasaan 'kenapa' berlarian di dalam kepala Gesrich.


Kenapa ada cambuk yang sudah meresap dengan minyak tangan di ruangan ini?


"......."


Kenapa ada lilin yang sudah memendek di sebelahnya?


"......."


Kenapa di sebelah sebelahnya lagi ada tali yang terasa sudah sering dipakai?


Benar-benar satu set. Barang-barang yang dirumorkan orang-orang digunakan untuk play khusus itu, kenapa ada di tempat seperti ini? Kenapa, kenapa...... Sejak tadi, analisis faktor penyebab terhadap 'kenapa, kenapa' ini sama sekali tidak berjalan lancar.


"Haa...... haa......"


Gesrich yang semakin membungkuk ke depan menekan jantungnya sambil terengah-engah. Jangan-jangan...... kamar ini adalah.


"A, apa Anda baik-baik saja, Tuan Gesrich?"


"......Haaguh."


Helena berlari mendekat dan menempelkan tubuhnya. Mungkin dia tidak bermaksud apa-apa, tapi Gesrich sudah tidak bisa lagi menegakkan tubuhnya secara vertikal.


"Ma, maafkan saya. Se, sedikit...... kondisi perut saya...... haha."


"......Kalau Anda berkenan, maukah istirahat sebentar?"


"Fuguu......"


Di arah pandangan Helena ada kasur ukuran double, seolah-olah berkata, 'Silakan lakukan play'.


Dan, saat mencoba menopang tubuhnya, dadanya menyentuh siku. Siku yang terkena dada ini, sebagai laki-laki dia terpaksa bereaksi.


Bukan cuma bokong, dadanya pun lembut, kah?


"......Kh."


Jangan-jangan, dia sedang menggoda? Tidak, tidak mungkin. Dia bukan orang seperti itu. Menggoda setelah pemakaman, dia sama sekali bukan orang yang tidak tahu aturan seperti itu. Dia hanya murni mengkhawatirkan kondisi tubuhku.


"Anu, karena Anda terlihat kesakitan, cepatlah."


"......Kuu."


Meskipun begitu.


Tidak, justru karena dia bukan orang seperti itu.


Nafsu Gesrich yang mendidih kembali menerjang bagaikan magma. Justru karena dia istri orang yang berbudi luhur. Justru karena dia tak diragukan lagi mencintai sahabatnya. Justru karena dia istri dari sahabat satu-satunya.


"......"


Tanpa sadar. Gesrich sudah tidak membutuhkan kata-kata lagi. Hanya diam, dia melangkah perlahan, perlahan menuju tempat tidur bersama janda yang menemaninya, lalu membelitkan kakinya ke kaki wanita itu, dan mendorongnya hingga jatuh.


"Ah......"


Dia berada dalam posisi menindih di atas Helena yang terbaring di tempat tidur.


"......"


"......"


Keheningan berlanjut saat mereka saling menatap mata satu sama lain untuk beberapa saat. Gesrich perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Helena.


"Jangan...... Suami...... sedang melihat."


"......."


Di sana, ada potret yang melukiskan Yomei. Seolah-olah hidup, dia sedang menatap Gesrich ke bawah.


Di situ, dia tiba-tiba tersadar. Apa yang sedang dilakukannya? Mencoba melakukan NTR terhadap istri sahabat di depan mata sahabat itu sendiri. Apalagi, setelah pemakaman sahabatnya.


Itu sudah merupakan perbuatan iblis.


"......Uguh...... haa...... haa......"


Namun.


Apa ini, perasaan ini? Seharusnya ini mutlak tidak boleh. Di depan mata sahabat...... Seharusnya itu menjadi faktor yang menghentikan, dan memang seharusnya begitu. Dia seharusnya sudah tersadar. Seharusnya dia sudah memahami situasi ini dengan tenang dan jelas.


Seharusnya begitu.


Tapi justru, karena sahabatnya sedang melihat. Dia ingin bersatu dengan wanita ini di depan matanya. Perasaan superioritas yang amoral itu, godaan iblis itu menerjangnya.


Aku ingin melakukan NTR.


"Jangan......"


"......"


Dan.


Seolah menutupi rasa bersalah itu. Tidak, justru sambil menikmati rasa sakit yang berasal dari rasa bersalah itu di lubuk hatinya yang terdalam.


Gesrich menjawab kepada lukisan Yomei.


"Tenanglah. Aku akan...... bertanggung jawab."


"Ja, jangan...... ah......"


Dan...... setelah kejadian.


"Nyonya~, Nyonya~, ini Mozcoal~. Anda ada di mana?"


"......."

"Hawa...... hawawawawa!"


Gesrich segera menegakkan tubuh bagian atasnya dan mencoba mengenakan pakaiannya. Namun, jari-jarinya tidak bergerak dengan baik, sehingga hal itu pun menjadi sulit baginya.


"Gugugu......"


Celana dalamnya.


Karena panik, dia tidak bisa memakai celana dalamnya.


Namun, tanpa memedulikan keadaan itu, kepala pelayan Mozcoal mendekat dengan langkah kaki yang ringan.


Dan.


Dia berhenti dan mengeluarkan suara yang penuh perasaan.


"Ternyata, Anda ada di sini, ya? Di tempat penuh kenangan bersama Tuan Yomei ini."


"......Kh."


"Namun, Nyonya Helena. Mungkin ini hal yang kejam, tapi Anda harus melaluinya."


Sungguh suara yang tegas dan gagah. Di sisi lain, ada pria yang kesulitan memasukkan 'barang'-nya ke dalam celana dalam. Sungguh kontras yang luar biasa. Seketika, kegembiraannya mendingin dan dia kembali waras sepenuhnya.


"Tentu saja, saya akan mendukung Anda sekuat tenaga. Apa pun yang terjadi, pasti."


Setelah menyatakan tekadnya, Mozcoal memutar gagang pintu untuk membukanya.


"Permisi......"


"......"


"......"


"Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"


"Waaaaaaaaaaaaaaaaaa!"


Mozcoal berteriak dengan suara yang luar biasa keras. Tidak mau kalah, Gesrich juga berteriak keras.


"......A, apa-apaan ini."


"S, salah paham! Te, te, tenanglah!"


"Salah paham? Sudah sampai tahap ini...... to, tolong pakai dulu celana dalamnya...... po, pokoknya tolong masukkan barang itu!"


"Kuh......"


Tidak bisa masuk.


Karena panik, dia tidak bisa memasukkannya ke dalam celana dalam.


Hasilnya, setelah bergulat dengan celana dalam selama beberapa menit, akhirnya Gesrich selesai memakainya. Selama itu, Mozcoal dengan tangan gemetar menyelimuti tubuh telanjang Helena dengan seprai.


"Tuan Gesrich...... Tuanku, Tuan Yomei...... selalu berkata, 'Dia adalah sahabat sejati'. Bahwa Anda adalah orang yang benar-benar tulus, dan tidak akan pernah mengkhianati orang lain. Padahal begitu......"


"......Kh."


Argumen logis yang membuatnya tak bisa berkutik. Namun, jika dibiarkan begini, hal ini akan dilaporkan kepada putranya, Hazen, dan berkembang menjadi masalah besar.


Dia harus menutupinya bagaimanapun caranya.


"S, salah paham, ini salah paham."


"Kalau begitu! Kenapa beliau diikat dengan tali!?"


Mozcoal menuduh sambil memeluk Helena yang terbungkus seprai.


"......Kh."


Dia sakit hati dibilang begitu.


"Itu...... bagaimana bilangnya, ya."


"Kenapa ada banyak bekas cambukan di tubuhnya!?"


"......Kh."


Semakin sakit hati.


"Itu, tidak, anu...... bagaimana, ya."


"Dan...... kenapa di seluruh tubuhnya berlumuran lilin yang mengeras!?"


"......Kh."


Mustahil membuat alasan.


Mozcoal menatapnya dengan tatapan merendahkan, dan semakin erat memeluk Helena untuk menenangkannya.


"Itu...... karena ada di sini! Ya, karena barang-barang itu ada di sini! Ada di sini! Makanya...... aku jadi tidak sengaja menggunakannya...... atau lebih tepatnya dipaksa menggunakannya."


"Tentu saja ada! Tuan Yomei sering menggunakan lilin untuk aromaterapi, sedangkan cambuk dan tali itu untuk melatih anjing peliharaannya."


"......Kh."


Ternyata begitu. Tidak, yah, dia pikir penggunaan itu memang wajar, tapi sungguh membingungkan.


"Menggunakan barang-barang itu, tak disangka...... berani-beraninya...... betapa bejatnya Anda ini!?"


"Ku, kumohon! Jangan bilang siapa pun soal ini! Kalau soal uang, akan kubayar berapa pun."


Hanya mengenakan celana dalam.


Gesrich bersujud sekuat tenaga. Dia tidak peduli meski di depan Helena yang sedang linglung. Jika hal ini terbongkar, dia akan menjadi bahan tertawaan yang bagus di kalangan sosialita. Bagi bangsawan, gengsi adalah nyawa.


Ini benar-benar akan menjadi noda seumur hidup.


"Nyonya...... cepatlah menjauh dari orang yang seperti binatang buas ini, mari kita ke tempat Tuan Hazen."


Mozcoal memapah Helena yang terbungkus seprai dan hendak meninggalkan tempat itu.


"Tung...... tunggu! Tungguuuu!"


Teriakan itu bergema di seluruh kastil.

30 menit kemudian. Di kamarnya, Hazen memelototi Gesrich yang sudah berpakaian dan duduk seiza.


"Bahkan setelah mendengar laporan dari Mozcoal, saya masih tidak bisa mempercayainya. Sebenarnya, bagaimana situasi ini bisa terjadi?"


"......Kh."


Menakutkan. Dia hanya berpikir sesederhana itu.


"Tidak, itu...... soal laki-laki dan perempuan, jadi, anu, situasinya sangat aneh, tapi...... ya."


"......"


Kata 'ya' yang sama sekali tidak jelas 'ya' untuk apa itu, diucapkan Gesrich dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.


Namun, tentu saja Hazen tidak akan puas dengan jawaban seperti itu.


"......Meskipun soal laki-laki dan perempuan, paksaan adalah kejahatan, lho?"


Desakan Hazen terus berlanjut.


"Tidak, anu, kalau dibilang paksaan yang kasar, rasanya tidak sekasar itu juga, atau mungkin...... ya."


"Meskipun begitu, kalau cambuk rasanya keterlaluan......"


"Hauuuuuu...... a, a, a, itu cambuk cinta!"


"......"


Alasan yang terlalu dipaksakan. Hazen maupun Mozcoal saling pandang dengan wajah takjub.


"Itu...... kalau disebut cinta, berarti atas dasar suka sama suka? Begitu, Ibu?"


"......Ya."


Helena yang juga sudah berpakaian mengangguk sambil menunduk. Kemudian, Hazen melemparkan tatapan yang lebih tajam daripada yang dia arahkan ke Gesrich.


"Aku takjub. Setelah pemakaman Ayah, Ibu langsung menggoda pria lain?"


"Maafkan aku."


"......Memalukan, Ibu. Ibu benar-benar manusia yang tidak senonoh."


"......Kh."


Bukan bukan, bukan begitu, bukan begitu.


"Hazen-kun! Bukan begitu! Saya yang melakukan pendekatan secara agresif! Sama sekali bukan...... itu bukan paksaan juga rasanya...... ya."


Sungguh sulit untuk dijelaskan. Apakah dia merebut bibirnya dengan paksa, tidak juga. Mereka saling menatap, dan meskipun belum sampai tahap kesepakatan bersama, situasinya mengalir begitu saja.


Soal cambuk, tali, dan lilin, memang sudah tidak bisa dibilang apa-apa lagi.


"......Tapi Ibu bilang dia yang menggoda?"


"Itu...... Nyonya Helena melindungi saya. Sebenarnya sayalah yang...... saya benar-benar minta maaf."


"......Haa."


Hazen menghela napas panjang. Seketika, suasana 'mau bagaimana lagi' menyebar. Gesrich memanfaatkan momen ini untuk melipatgandakan permintaan maafnya.


"Saya sendiri menyesal telah melakukan perbuatan tidak senonoh. Namun, fakta bahwa saya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Nyonya Helena adalah benar."


"......Anda punya perasaan padanya?"


"Tentu saja! Kalau tidak, tidak mungkin saya melakukan perbuatan tidak bermoral seperti ini pada janda sahabat saya Yomei."


Bagian itu dia tegaskan dengan kuat. Dia adalah wanita yang luar biasa.


"Ibu...... bagaimana dengan Ibu?"


"......Mungkin saya merasa kesepian karena ditinggal suami. Lalu, di dalam diri sahabatnya Tuan Gesrich...... saya melihat nostalgia mendiang suami saya."


"......Kh."


Betapa luar biasanya wanita ini. Gesrich berpikir harus melindunginya apa pun yang terjadi.


"Tentu saja saya akan bertanggung jawab. Saya tidak akan segan memberikan bantuan apa pun yang saya bisa."


Hazen terdiam beberapa saat, tapi akhirnya dia menghela napas kecil.


"......Saya mengkhawatirkan Ibu di masa depan. Apakah seorang bangsawan wanita yang hidup sendiri, benar-benar bisa melindungi wilayah Tuan Yomei yang cakap itu."


"Sa, saya akan meminjamkan kekuatan saya sekuat tenaga."


"Itu, dalam arti apa?"


"Da, dalam arti apa?"


Ditanya begitu. Dia kembali bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang bisa dia lakukan semampunya. Ganti rugi kerusakan? Tidak, bukan. Lebih, secara mental.


Melihat ekspresi cemas Helena, tekadnya bulat.


"Saya akan...... memperistri wanita ini sebagai selir."

Beberapa jam kemudian, Hazen melihat ke bawah dari jendela saat Gesrich naik ke kereta kuda. Di tengah situasi itu, Mozcoal mengetuk pintu dengan ringan dan masuk ke ruangan.


"Kerja bagus. Aku terkejut ternyata bisa berjalan selancar ini."


Hazen memuji dengan kagum. Dia memang telah memasang sihir yang meningkatkan gairah mental di lokasi pemakaman dan kastil. Namun, karena pada akhirnya itu tergantung pada keinginan orang yang bersangkutan, jujur dia sempat ragu.


"Banyak orang yang menyukai play dengan nuansa amoral. Semakin mereka berpikir 'tidak boleh dilakukan', semakin kuat keinginan itu."


"......."


Hazen tanpa sadar mundur.


"A, aku jadi belajar sesuatu. Tapi, soal cambuk dan lainnya...... itu, bukankah berlebihan?"


Rasa sakit fisik yang terlalu kuat akan membawa beban mental yang signifikan. Dia tidak mengkhawatirkan perasaan wanita itu sedikit pun, tapi kalau dia rusak dan tidak bisa dipakai lagi, itu juga masalah.


Namun, Mozcoal menggelengkan kepala dengan wajah heran.


"Saya rasa tidak ada masalah khusus. Sebenarnya, saya sudah memeriksa lokasi kejadian, dan kesannya itu hanyalah permainan seksual atas dasar suka sama suka."


"......Tapi, dipukul cambuk, diikat, dan diserang dengan lilin, rasanya terlalu mes...... bukankah itu beban berat kecuali bagi ahli sekelas Mozcoal? Apalagi, karena dia wanita lemah, kemungkinan paksaan tanpa persetujuan tidak bisa dibuang──"


"Kebalikannya kok, jadi tidak masalah."


"Eh?"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close