Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 4
Si Kembar Tampaknya Mengetahui Situasiku
Keluarga Masaki adalah keluarga yang sangat biasa, atau bisa disebut rakyat jelata. Usaha keluarga kami adalah sebuah kedai ramen bernama "Shinryu", yang terletak di sudut pusat perbelanjaan kuno.
Mungkin ada banyak kedai ramen dengan nama serupa di seluruh negeri, tetapi nama kedai kami murni gabungan dari satu karakter marga kami dan nama ayahku, "Ryuji".
Kedai itu dimulai oleh Ayah saat ia masih muda, jadi tidak ada tradisi khusus di dalamnya. Ini adalah jenis restoran masakan Tionghoa kelas rakyat yang murah dan enak, yang bisa ditemukan di kota mana pun.
『Ya, aku sudah dengar ceritanya. Katanya kamu bakal tinggal di sebuah tower mansion, kan?』
"Kenapa beritanya sudah sampai ke telingamu, sih!"
Aku masih berada di ruang tamu kediaman Tsubasa. Duduk di sofa empuk sambil berbicara di telepon dengan Ayah.
『Pas sekali. Begini, Wakaba kan sudah kelas satu SMP. Sejak dulu dia sudah bilang kalau dia tidak mau satu kamar lagi dengan kakaknya. Mungkin dia merasa kamu bau.』
"Jangan bercanda. Lagipula, apa kau tahu kalau Wakaba sampai memohon pada Ibu agar celana dalammu dicuci terpisah?"
『A-apa!? Sejak kapan! Lalu kamu sendiri bagaimana? Bagaimana dengan celana dalammu!?』
"Sayang sekali, celana dalamku masih dicuci bersamaan dengan milik Wakaba."
『Itu justru yang keterlaluan! Siapa yang tahu apa yang menempel di celana dalam anak SMA yang sedang puber!』
"Cucianku bersih, tahu! Lagipula, itu sama sekali tidak penting sekarang!"
Aku tidak sedang dalam masa pemberontakan, tetapi karena Ayah adalah pria yang suka bercanda, percakapan kami selalu menjadi kasar. Keyakinanku tentang "kejantanan" yang sering kali tipis batasnya dengan "kekasaran" ini mungkin adalah pengaruh dari Ayah.
『Tidak penting, katamu!? Bagiku, Wakaba itu sama pentingnya dengan kaldu ramen!』
"Jangan samakan dia dengan kuah kaldu."
Wakaba adalah adik perempuanku yang tahun ini masuk SMP. Dia menjuluki dirinya sendiri sebagai "Gadis Maskot Shinryu" dan giat melayani pelanggan dengan mengenakan cheongsam yang entah dia dapat dari mana. Kenyataannya, memang benar tidak sedikit pelanggan yang datang hanya demi melihat Wakaba.
Apakah kota ini sarang para lolicon?
Sungguh, orang-orang di kota ini tidak mengerti... adikku itu bukan makhluk imut yang cocok disebut "gadis maskot". Dia hanya pintar menjaga citra di depan orang lain...
Tapi, seperti yang kukatakan tadi, untuk saat ini mari kita kesampingkan soal Wakaba.
"Membiarkan anak laki-lakimu tinggal di rumah orang yang bahkan belum pernah kau temui itu terlalu sembrono."
『Kalau anak perempuan mungkin beda cerita, tapi aku tidak peduli pada anak laki-laki yang sudah SMA. Bukankah ini bagus? Menetaplah di sana dan jadilah anak keluarga Tsubasa saja.』
"Tega sekali ucapanmu sebagai orang tua kandung. Biarpun kau setuju, aku mungkin saja merepotkan pihak sana."
『Kalau keluarga Tsubasa, kurasa tidak apa-apa.』
"Jangan bicara seolah kau tahu segalanya. Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentang keluarga Tsubasa, kan?"
『Hah? Dari tadi aku merasa percakapan kita tidak nyambung. Kamu... tidak tahu tentang Keluarga Tsubasa?』
"Hah...? Tunggu, apa aku punya hubungan tertentu dengan keluarga Tsubasa...?"
Setelah mendengar cerita si kembar, aku mengerti bahwa mereka memiliki pola pikir yang unik. Namun tetap saja, memulai hidup bersama secara tiba-tiba di hari yang sama saat kami mulai berpacaran terasa sangat mendadak.
"Hei, Ayah. Kalau memang ada sesuatu dengan keluarga Tsubasa, cepat katakan!"
『Eh, tidak ada apa-apa, tuh. Mana mungkin keluarga pemilik kedai ramen rendahan seperti kita berteman dengan orang-orang yang tinggal di tower mansion.』
"Kalau begitu jangan bicara yang penuh teka-teki! Mati sana!"
『Ah, kalau kamu bilang "mati sana" pada orang tuamu, puluhan tahun kemudian saat aku terbaring lemah di ranjang rumah sakit, kamu bakal menyesal dan berpikir, "Aduh, kenapa waktu itu aku menyuruhnya mati ya..."』
"Jangan membuat ramalan yang suram begitu..."
Namun, itu memang bukan kalimat yang pantas diucapkan, meski bukan kepada orang tua sendiri. Aku menyesal.
『Pokoknya, kamu sudah SMA, jangan merengek soal hal-hal kecil. Dalam hidup yang panjang, sesekali menumpang di rumah orang yang sama sekali tidak dikenal itu wajar saja.』
"Tidak wajar sama sekali."
Menjadi penumpang gelap di rumah orang lain mungkin sering ada di manga atau drama, tetapi saat terjebak sendiri di lingkungan seperti itu, aku hanya merasa bingung.
『Yah, aku tidak akan bilang kalau kamu boleh pulang kapan saja, sih.』
"Bilanglah begitu. Itu kan rumahku sendiri."
『Kalau kedai sedang sibuk aku akan telepon, jadi cepatlah datang.』
"Itu kan cuma demi kepentinganmu!"
Kedai ramen kami bukan tipe tempat yang mendapatkan bintang di aplikasi ulasan makanan, tetapi cukup ramai dikunjungi. Selain Ayah dan Ibu, saat jam sibuk bukan hanya Wakaba, aku pun dikerahkan sebagai tenaga bantuan. Meskipun dibandingkan adikku yang populer sebagai gadis maskot, aku hanya berguna sebagai pencuci piring. Aku memang tidak pandai memasak. Memotong daun bawang saja berantakan, benar-benar tidak bisa diandalkan.
『Waduh, kedai mulai ramai, aku tutup ya. Jaga dirimu baik-baik, Anakku.』
"Ya, aku harap Ibu dan Wakaba selalu sehat."
Aku langsung memutus sambungan telepon.
Ayah yang satu itu sebaiknya dibuat sedikit kurang bertenaga. Namun, aku benar-benar terkejut...
"Ah, teleponnya sudah selesai? Aku sempat dengar sedikit, ternyata Masaki bicaranya cukup kasar ya kalau dengan Papa-mu."
"Dia bukan jenis makhluk yang cukup imut untuk dipanggil 'Papa'..."
Yuzuki muncul di ruang tamu, berjalan mendekat, lalu duduk dengan santai di sebelahku.
"Jangan-jangan, pembicaraan antara orang tua kita sudah selesai... Apa kamu sudah tahu, Yuzuki?"
Yang mengejutkan, keluarga Tsubasa ternyata sudah menghubungi keluarga Masaki. Padahal aku baru saja diajak masuk ke rumah ini, tapi perkembangan alurnya benar-benar secepat kilat.
"Begitulah. Keluarga Tsubasa selalu cepat dalam menangani segala hal. Baik orang tua kami, maupun kami sendiri."
"Orang tua kalian tidak akan pulang ke sini, kan?"
"Lagipula, di sini tidak ada kamar untuk orang tua. Kalau mereka pulang, terpaksa mereka harus tidur di lorong."
"Setidaknya biarkan mereka tidur di sofa, dong."
Aku tidak tahu apartemen ini statusnya milik sendiri atau sewa, tapi yang mengeluarkan uang kan orang tua mereka. Apa jangan-jangan di keluarga Tsubasa anak-anak menyiksa orang tuanya? Aku merasa baru saja mengintip sisi gelap keluarga kaya... sungguh mengerikan. Kita tidak pernah tahu apa yang dilakukan kelas atas di balik layar.
"Apa kamu sedang memikirkan hal yang tidak-tidak?"
"Jangan dipedulikan. Justru orang yang bisa berpikir jernih dalam situasi seperti ini yang otaknya agak geser."
"Wah, pedas sekali bicaranya. Tapi Masaki, kamu tidak terlihat begitu panik, lho."
"Aku memang tipe yang wajahnya sulit dibaca. Kalau aku terlalu banyak berekspresi, orang-orang akan ketakutan."
"Tapi aku sama sekali tidak takut padamu."
"............"
Yuzuki menatap tajam ke arah mataku. Rasanya ini pertama kalinya ada seorang gadis yang menatap wajahku sedalam ini. Jika gadis itu baru pertama kali bertemu denganku, biasanya dia akan memalingkan wajah sambil gemetar... jujur saja, itu cukup menyakitkan.
"Anu, Masaki..."
"Hm?"
"Apa jangan-jangan, kamu tertarik padaku karena aku tidak takut padamu?"
"Y-yah, kurang lebih begitu..."
Ditembak langsung seperti itu membuatku merasa malu. Ternyata alasanku menyukai Yuzuki sudah ketahuan. Meski alasannya sederhana, aku tidak menyangka akan terbongkar semudah ini.
"Hmm, ternyata benar ya. Sepertinya bukan hanya kami bersaudara saja yang mudah ditebak."
"............"
Padahal seharusnya apa yang kupikirkan tidak mudah terlihat. Yuzuki tampak senang karena berhasil menebaknya, dia melihatku sambil tersenyum menyeringai. Ekspresi yang sedikit menyebalkan itu pun terlihat sangat manis.
"......Hm? Yuzuki, kamu sudah ganti baju?"
"Baru sadar? Mana mungkin aku pakai seragam terus di dalam rumah."
Sambil tetap menyeringai, Yuzuki menyilangkan kakinya yang jenjang seolah ingin memamerkannya padaku. Dia mengenakan kaus putih dengan tulisan bahasa Inggris dan kerah yang cukup rendah. Bawahannya hanya celana pendek yang memperlihatkan pahanya, pakaian yang terlihat sangat santai.
"......Di rumah kamu berpakaian kasual, ya."
"Ini kan bukan drama, aku tidak akan pakai rok di dalam rumah. Terasa mengganggu dan mudah kusut."
"O-oh, begitu rupanya."
Aku menjawab sambil berusaha memalingkan mata dari kaki jenjangnya. Adikku sendiri saking malasnya sering kali tetap memakai seragam sekolah meski sudah pulang ke rumah.
"Ah, teleponnya sudah selesai ya. Karena urusan di tingkat atas sudah beres dan sudah ada kesepakatan, seharusnya tidak ada masalah lagi, kan?"
"Kenapa istilahmu seperti bahasa sindikat kriminal begitu, sih?"
Kali ini, Fuuka pun muncul. Dia mengenakan terusan putih tanpa lengan. Panjangnya mencapai mata kaki, dengan bagian bawah yang melambai lembut.
"Sepertinya si adik punya selera yang berbeda dengan Yuzuki."
"Fuuka itu memakai baju begitu hanya untuk menarik perhatian laki-laki. Padahal biasanya dia cuma mengalungkan handuk di leher dan hanya memakai celana dalam saja."
"Apa dia berpenampilan seperti Ossan sehabis mandi begitu!?"
"Bo-bohong! Aku merasa lebih nyaman memakai rok bahkan di dalam rumah!"
Ah, syukurlah kalau itu bohong...
Berpakaian apa pun di rumah adalah kebebasan pribadi, tapi aku akan kesulitan jika pakaian gadis cantik terlalu santai. Maksudku, dalam arti bisa menghancurkan impian laki-laki.
"Yuzu-nee, jangan bicara sembarangan... Ah, tidak. Karena teleponnya sudah selesai, mari kuantar ke kamarmu."
"Kamar? Maksudnya kamarku?"
"Tentu saja. Itulah gunanya unit 3LDK ini. Aku, Fuuka, dan Masaki; tiga orang, tiga kamar. Perhitungannya pas, kan?"
"Perhitungannya memang pas, tapi secara akal sehat rasanya ada yang salah..."
"Ayo, cepat. Yah, meskipun isinya belum lengkap."
Yuzuki mengabaikan protesku, bangkit berdiri, lalu menarik tanganku. Aku membiarkan diriku ditarik keluar dari ruang tamu, melewati lorong, hingga Yuzuki membuka salah satu pintu.
"Di sini. Luasnya kurang lebih sama dengan kamarku dan Fuuka."
"Cahaya mataharinya juga bagus. Tapi karena sekarang sudah gelap, jadi tidak terlihat."
"............"
Kamar yang ditunjukkan kepadaku setidaknya memiliki luas sekitar lima belas tikar tatami. Lantainya berlapis kayu yang ditutupi karpet, dengan dinding putih tanpa noda sedikit pun. Ada meja, rak buku, TV, meja kecil, dan tentu saja tempat tidur. Meskipun simpel, semua furniturnya terlihat sangat kokoh dan berkualitas.
"Baiklah, aku tidur di lorong saja."
"Mana boleh begitu!?"
"Tidak boleh! Kami akan kesulitan kalau kamu tinggal di lorong!"
"......Tubuhku tidak terbiasa dengan kamar semewah ini. Rasanya sejuk padahal tidak ada AC..."
"Ini pakai sistem pengaturan suhu seluruh gedung. Lihat, di dinding ada lubang ventilasi seperti saluran udara AC, kan?"
Jadi pipa-pipanya tertanam di dalam dinding dan udara berembus dari sana? Hampir tidak ada suaranya sama sekali... Padahal AC di kamarku dan adikku mengeluarkan suara gemuruh seperti beruang yang sedang mendengkur.
"Tetap saja ini tidak pantas untukku... Aku tidur di lobi depan saja."
"Kamu bakal diusir oleh petugas keamanan. Aku juga nanti yang kena marah."
"Benar, Yuzu-nee yang akan dimarahi."
"Fuuka, kamu benar-benar berniat melarikan diri dan menjadikanku tameng, ya..."
Katanya mereka benar-benar sama, tapi si adik ternyata cukup licik menggunakan kakaknya sebagai pelindung.
"Sudahlah, pakai saja kamar ini dengan normal. Fuh, akhirnya masalah ini selesai juga."
"Jika ada barang lain yang dibutuhkan, katakan saja. Ah, barang-barang dari rumahmu sudah dijadwalkan untuk dikirim ke sini. Aku sudah mengatur jasa pindahannya."
"Semuanya berjalan begitu lancar... di luar sepengetahuanku."
"Habisnya, kami pun tidak menyangka hari ini akan jadi seperti ini. Kami harus cepat-cepat menyiapkan lingkungannya. Ini semua terjadi karena Masaki tiba-tiba menembakku, tahu?"
"Apakah ini tanggung jawabku...?"
Yah, tentu saja ini lebih baik daripada ditolak mentah-mentah.
Sejujurnya, aku sempat berpikir kemungkinan besar aku akan gagal, jadi berada di rumah Yuzuki sekarang dan mendengar dia bilang suka padaku rasanya seperti mimpi. Tapi, situasi ini rasanya bukan lagi sekadar di luar dugaan, melainkan sudah menembus langit-langit...
"Untuk saat ini, tidak ada gunanya jika kita hanya bicara saja. Sudah hampir jam tujuh."
"Hm? Sudah jam segini ya."
Aku baru menyadarinya setelah diberi tahu oleh Fuuka. Ternyata sudah sekitar tiga jam berlalu sejak aku menyatakan cinta pada Yuzuki sepulang sekolah. Mulai dari diuntit, diculik ke hotel, dan akhirnya dibawa ke apartemen tempat tinggal gadis SMA bersaudara untuk mulai hidup bersama. Sepertinya tidak pernah ada tiga jam yang sepadat ini dalam hidupku.
"Mari kita makan malam dulu. Masaki-san sepertinya masih bingung, jadi kurasa sebaiknya makan dulu agar bisa lebih tenang."
"Benar juga, aku pun sudah lapar sekali. Masaki, tunggu sebentar ya."
"Hm...?"
Yuzuki dan Fuuka keluar dari kamarku dan berjalan menyusuri lorong. Perutku memang lapar, tapi apakah mereka akan memesan makanan pesan antar?
Dapur di kediaman Tsubasa dilengkapi dengan peralatan yang sangat lengkap. Meja dapur berbahan marmer, kompor dengan tiga tungku yang tampak memiliki daya api besar, serta kompor tipe tanam untuk membakar daging atau ikan dengan api langsung. Kulkasnya tipe besar dengan kapasitas tampung yang luas, dan tentu saja dilengkapi dengan pemurni air serta mesin pencuci piring otomatis. Jangan-jangan peralatan di sini lebih mahal daripada peralatan di Shinryu, yang notabene adalah sebuah kedai makan?
"Nah, Fuuka. Saat melumuri tepung harus cepat, ya. Suhu minyaknya juga sepertinya sudah pas."
"Baik, Yuzu-nee. Kalau begitu, aku akan segera menggorengnya."
"Hati-hati dengan letupan minyaknya. Urusan penggorengan kuserahkan padamu, Fuuka. Sementara itu, aku akan menyiapkan saus dan mengiris kubis."
"Tolong ya, kubisnya sudah kusiapkan di sana."
"............"
Kombinasi yang benar-benar selaras. Si kembar membagi tugas seperti memotong daging dan menyiapkan tepung, lalu bekerja dengan sangat cekatan. Tampaknya, menu utama makan malam di kediaman Tsubasa hari ini adalah Tonkatsu. Mungkin mereka menyesuaikan menunya untukku yang sedang dalam masa pertumbuhan.
"Anu... hei, kalian berdua."
"Ada apa? Maaf, tangan kami sedang tidak bisa diganggu sekarang."
"Saus di rumah kami adalah buatan sendiri. Perlu takaran yang sangat presisi, tahu."
Keduanya tampak sangat serius. Bahkan di sekolah pun, aku belum pernah melihat Yuzuki seserius ini.
"Biarkan aku membantu sesuatu. Kalau cuma pekerjaan remeh, kurasa aku bisa."
"Tidak apa-apa, akan lebih cepat jika kami hanya melakukannya berdua. Kalau ada 'gangguan', malah akan jadi lambat."
"Gan... gangguan...?"
"Malah akan merusak ritme dan menurunkan efisiensi. Silakan duduk saja, Masaki-san."
"............"
Mereka mengatakannya seolah aku ini murni pengganggu. Tapi memang benar, aku tidak punya kepercayaan diri untuk menyelinap di antara kombinasi mereka berdua.
Orang tuaku yang sudah lama mengelola kedai ramen memang memiliki pembagian tugas yang baik, tapi ini mungkin lebih dari itu. Apakah saudara kembar bisa lebih kompak daripada pasangan suami istri yang sudah bersama selama dua puluh tahun?
Yah, ada kemungkinan besar juga kalau si kembar ini memang terlalu unik. Karena faktanya aku hanya akan menghalangi, aku pun kembali ke ruang tamu dengan patuh.
Aku menyalakan TV yang ukurannya sepertinya mencapai 80 inci, lalu menonton acara varietas yang sebenarnya tidak terlalu menarik minatku. Bersantai sendirian di ruang tamu sambil membiarkan para gadis memasak... Apa-apaan ini, aku merasa seperti pria simpanan saja.
"Masaki, maaf membuatmu menunggu!"
"Mohon maaf telah membuat Anda menunggu."
Setelah menunggu beberapa saat, berbagai hidangan mulai ditata di atas meja makan. Menu utama Tonkatsu, dua jenis saus, tumpukan irisan kubis yang melimpah, salad kentang, sup miso, dan nasi. Acar yang disajikan di mangkuk kecil sepertinya juga buatan sendiri. Benar-benar niat sekali.
"Silakan, Masaki, ayo makan selagi hangat."
"Silakan dinikmati, Masaki-san."
Didorong oleh senyuman si kembar, aku mengucapkan "Selamat makan" dan mencicipi satu potong Tonkatsu.
"...Enak."
"Tentu saja."
"Sudah sewajarnya."
Sepertinya kata rendah hati tidak ada dalam kamus Yuzuki dan Fuuka. Tapi tanpa bermaksud memuji pun, ini memang enak sekali.
"Gawat, aku tidak bisa berhenti menggerakkan sumpit...!"
"Ooh."
"Wah."
Si kembar tampak kagum melihat sesuatu, tapi aku tidak sempat memedulikan itu. Tepung rotinya renyah, dagingnya tebal namun empuk sehingga mudah digigit, dan yang terpenting, sangat juicy. Sausnya pun ada dua jenis; satu dengan wijen dan satu lagi ditambahkan miso, keduanya sangat cocok. Padahal rasanya sudah enak, tapi dengan dua jenis saus untuk mengganti cita rasa, aku merasa bisa makan tanpa henti.
Menggigit Tonkatsu yang gurih lalu segera menyuapkan nasi putih hangat benar-benar kenikmatan yang luar biasa. Tentu saja, tumpukan irisan kubis yang wajib ada sebagai pendamping Tonkatsu juga melimpah, membuat gerakan sumpitku semakin cepat. Salad kentang, sup miso, hingga acar sebagai penetral rasa—semuanya sempurna.
"...Fuh. Terima kasih, makanannya sangat enak."
"Ka-kamu makan banyak sekali ya. Padahal aku sempat berpikir kalau kami membuatnya terlalu banyak..."
"Bukankah kamu baru saja menghabiskan porsi makan kami untuk tiga hari...?"
Si kembar tampak terperangah. Aku memang bukan tipe pria yang berotot besar, tapi aku tinggi dan yang paling penting, aku sedang dalam masa pertumbuhan. Meskipun tidak sehebat atlet profesional, porsi makanku memang tergolong banyak.
"I-ini... aku jadi semakin bersemangat, Yuzu-nee! Kita harus lebih giat lagi meneliti resep daripada sebelumnya!"
"Kita biasanya tidak makan terlalu banyak, sih. Jadi selama ini tidak terlalu memikirkan soal porsi, tapi kita harus mulai melakukan pendekatan dari sisi itu juga!"
Kira aku mereka akan merasa aneh, ternyata si kembar justru terlihat sangat bersemangat. Tidakkah saudari Tsubasa ini terlalu positif dalam menghadapi segala hal?
"Yah... aku memang ingin Masaki punya stamina yang kuat. Nafsu makan yang besar adalah sesuatu yang sangat kami harapkan."
"Katanya belut dan labi-labi itu manjur. Mari kita cari jalur pemasoknya."
"............"
Terlebih lagi, sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu. Meski mereka berbisik, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Yah, selama aku bisa makan enak, aku tidak akan protes.
Yuzuki dan Fuuka juga telah selesai makan dengan rapi, dan makan malam pun berakhir. Sebagai tambahan, aku kembali tidak mendapat giliran untuk bersih-bersih. Selagi aku bersandar di sofa dan bersantai, semua peralatan makan telah dicuci bersih oleh mereka.
Entah kenapa, apa aku benar-benar sedang melangkah di jalan untuk menjadi pria simpanan...?



Post a Comment