NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 9 Part 2


"──Begitulah, jadi aku datang ke sini untuk mencari rahasia panjang umur yang diwariskan ras Elf."

"Hou hou, ternyata tujuan akhir nafsu manusia itu selalu sama ya. Panjang umur, awet muda, dan sehat walafiat. Setelah mendapatkan harta dan kekuasaan, hal berikutnya yang dilirik manusia di zaman mana pun adalah 'itu'. Tapi kamu 'kan masih belum di usia untuk mengkhawatirkan hal seperti itu?"

"Bukan untukku, tapi untuk keluargaku. Semuanya terlalu gila kerja. Aku akan repot kalau mereka tidak hidup sedikit lebih sehat."

"Bwahaha! Menggunakan teknik rahasia Elf supaya mereka bisa hidup sehat sehari-hari? Kamu benar-benar orang yang menarik seperti biasanya!"

Sang Suci menyemburkan tawa, padahal kesehatan itu penting, lho.

Kalau sedang tidak enak badan, kita tidak bisa bergerak dengan benar, jadi seberapa lama kita bisa menjaga kondisi kesehatan dalam seumur hidup itu sangat penting jika dilihat secara total.

Di kehidupan sebelumnya, aku sering tumbang karena makan sembarangan atau begadang, dan itu merepotkan sekali. Waktu jadi terbuang sia-sia. Umu, umu.

"Ah, kalau ada tempat menarik lainnya, tolong dipandu ya."

"Tentu saja. Tenang saja, aku akan memandumu ke tempat yang sesuai dengan seleramu."

Sang Suci mengedipkan sebelah matanya padaku.

Ooh, dia mengerti juga ya. Seleraku tentu saja berkaitan dengan sihir. Malahan itu tujuan utamaku.

Mumpung sudah sampai di negara Elf, pasti ada satu atau dua sihir yang belum kuketahui. Wah, bersemangatnya.

"Pertama-tama adalah di sini. Taman Pusat."

Kami sampai di sebuah alun-alun. Di sana, para Elf sedang melakukan semacam senam.

"Para Elf melakukan senam seperti ini setiap pagi untuk mengatur kondisi tubuh mereka. Berkat itu, konon jumlah orang yang jatuh sakit di negara ini dua puluh persen lebih sedikit dibandingkan rata-rata negara manusia."

"Aku tahu ini. Dengan mengalirkan 'Ki' ke seluruh sudut tubuh, badan jadi tidak mudah sakit. Kudengar teknik Ki yang kami gunakan berasal dari gerakan ini."

Kalau tidak salah, Tao dan orang-orang dari negeri asing pernah bilang punya hubungan dengan para Elf.

Asal-usul dari Ki, benar-benar menarik. Coba kupraktekkan juga. Satu dua, tiga empat.

"Bahkan Sang Ratu pun kabarnya melakukan senam ini setiap hari. Aku juga terus melakukannya sejak datang ke sini, dan berkat itu, buang air besarku lancar setiap hari."

Dia melontarkan lawakan jorok begitu saja, tapi diabaikan oleh semuanya, membuat Sang Suci memasang wajah sedih.

Lagipula, tubuh orang ini kaku sekali. Dia bahkan tidak bisa menyentuh ujung kaki saat membungkuk.

"Aduh duh duh…… tapi ini rasanya lumayan enak."

"Nfufu♪ Pelayan, tubuhmu masih kaku sekali ya."

"Apa katamu. Ini tadi saya belum serius."

Tao dan Sylpha sedang asyik bersenam dengan pose yang luar biasa ekstrem.

Entah bagaimana kelenturan tubuh mereka berdua itu. Menurutku tubuh manusia normal tidak seharusnya menekuk seperti itu.

Melupakan tujuan awal dan malah semakin memanas, para Elf di sekitar pun memberikan sorakan yang meriah bagi mereka berdua.

"Hei Fiona, katanya ada senam yang dilakukan berpasangan juga, lho. Ayo kita coba."

"……Baik."

Ren dan Fiona bersenam berdua dengan rukun. Kuharap mereka bisa menjadi contoh bagi yang lain. ……Tapi ini tidak ada hubungannya dengan sihir, ya.

Sambil menghela napas, aku pun ikut bersenam seadanya.

"Berikutnya soal makanan. Para Elf memakan ini setiap pagi…… apa kalian sanggup memakannya?"

Di kantin, kami disuguhi kacang yang terasa lengket-lengket.

"Aku pernah lihat ini di buku! Ini namanya Natto, 'kan! Kacang yang dibusukkan dengan pas."

"Kamu tahu banyak ya, gadis berkulit cokelat. Benar sekali, ini makanan yang aromanya cukup tajam, tapi sangat baik untuk tubuh. Awalnya aku pun ragu, tapi setelah dicoba ternyata enak sekali. Malah aku sendiri jadi ketagihan."

Sang Suci memakan Natto itu dengan lahap. Terserah dia sih, tapi melihat orang suci makan Natto terus-terusan…… rasanya kok tidak enak dilihat.

Sylpha terpaku menatap pemandangan mengerikan itu.

"Aku juga tahu ini. Ini namanya makanan fermentasi. Aku suka sekali ini♪ ……Oya? Pelayan, apa kamu tidak bisa memakannya?"

"……Saya tidak punya pantangan makanan. Hanya saja, apakah benda busuk bisa disebut sebagai makanan……"

Meski berkata begitu, Sylpha sama sekali tidak mau menyentuh Natto-nya.

Aku memakannya karena ditawari. ……Hmm, teksturnya memang begitu sih, tapi rasanya sendiri meski punya ciri khas yang kuat, ada rasa gurih dan aroma yang mendalam.

"Ternyata enak lho, Sylpha."

"Aaah!? Lloyd-sama, mulut Anda jadi lengket-lengket begitu, sungguh tidak sopan!"

Melihatku makan Natto, Sylpha sepertinya hampir pingsan. Jangan sampai syok begitu, dong.

Memang ini makanan dengan rasa yang tidak mungkin ada di istana kerajaan, tapi bagiku yang di kehidupan sebelumnya terbiasa makan hal-hal yang lebih parah, ini mah gampang. Malah mungkin aku termasuk yang suka.

"Enak ya, Fiona."

"……Baik."

Ren dan Fiona sepertinya sangat menyukai Natto dan memakannya dengan lahap.

Terutama Fiona, apa dia sesuka itu ya? Meski wajahnya tanpa ekspresi, dia melahapnya dengan kecepatan luar biasa.

Katanya kenangan soal makanan itu yang paling mudah membekas, apa mungkin itu alasannya? ……Tapi ini pun tidak ada hubungannya dengan sihir, ya.

Ya ampun, kapan sih kita masuk ke pembahasan utamanya.

"……Hei, sampai kapan kita mau lanjut wisata begini?"

Kesabaranku akhirnya mencapai batas setelah terus-menerus digoda.

Aku berbicara sambil memelototi Sang Suci yang berjalan santai tanpa beban.

"……Habis gimana ya, sebagai orang yang ditugasi memandu wisata, aku merasa sudah memilihkan seleksi tempat yang bagus, lho?"

"Katanya mau memandu ke tempat yang sesuai seleraku? Itu artinya hal-hal yang berkaitan dengan sihir, 'kan?"

"Habis kamu bilang datang ke sini untuk menjaga kesehatan keluarga. Jadi kupikir kamu ingin tahu kebiasaan hidup sehat yang bisa dilakukan siapa saja."

Aku hampir jatuh terjungkal mendengar alasannya.

Hei, hei, itu 'kan cuma alasan formal saja. Fakta kalau aku suka sihir itu sudah jadi rahasia umum yang tidak perlu dikatakan lagi.

Padahal dengan wajah bangga kamu bilang sudah paham seleraku, makanya aku menyerahkannya padamu, tapi ternyata kamu tidak paham sama sekali.

"Makanya sudah kubilang, Tuan. Jangan percaya sama orang semacam ini."

"Lagipula, pengetahuan yang diberikan juga tidak seberapa ya. Di dunia manusia pun pengetahuan selevel ini sepertinya sudah ada."

Benar. Hal-hal yang dilakukan para Elf yang kulihat lewat panduan Sang Suci hanyalah mandi hutan, tidur siang, pemandian air panas, dan lain-lain…… pada dasarnya hanya kebiasaan sehat normal seperti makan secukupnya, olahraga, dan istirahat. Hal yang biasa dilakukan oleh kakek-kakek pengangguran di luar sana.

Pada umumnya hal-hal ini meski sudah diketahui pun, orang yang sibuk sehari-hari akan sulit melanjutkannya, dan seandainya dilakukan pun, umur tidak akan bertambah dua atau tiga kali lipat juga, 'kan.

Ugh, sepertinya aku benar-benar tidak seharusnya percaya padanya…… tepat saat aku mulai berpikir begitu.

"Hehe, bohong deng. Aku tahu kok apa yang ingin kamu katakan, Lloyd-kun. Aku cuma sedikit menggodamu saja. Yang tadi itu cuma sekadar lewat saja, mumpung di jalan jadi kuperlihatkan macam-macam. Di tempat yang akan kita tuju inilah, jawaban yang kamu cari berada──"

Sambil bersandar di tebing dengan wajah tenang, Sang Suci berkata:

"Karena itulah, akhir dari panduan Elfrieden adalah di sana."

Di ujung pandangan kami, yang menjulang di kaki gunung adalah World Tree.

Tepatnya adalah sisi sebaliknya. Kupikir dia bercanda lagi, tapi kesannya memang berbeda dibandingkan saat dilihat dari depan.

"Itu sisi seberang istana, ya. Memangnya ada apa di sana?"

"Di akarnya terlihat ada semacam lubang. Jangan-jangan itu──"

"Pintu masuk dungeon, ya."

Rongga yang tercipta dari kekuatan sihir bumi, tempat tinggal para monster, itulah dungeon.

Tempat-tempat itu memancarkan panjang gelombang sihir yang khas, dan aku sudah merasakannya sejak sampai di sini, tapi begitu memutar ke belakang, semuanya jadi jelas.

World Tree itu sudah hidup sangat lama. Tidak aneh kalau dia berubah menjadi dungeon.

"Inilah rahasia panjang umur sekaligus fenomena unik di sini. Para Elf telah hidup selama beberapa generasi di bawah pengaruh World Tree yang memiliki kekuatan sihir besar hingga menjadi dungeon. Itulah faktor yang membuat mereka berumur panjang."

"Kalau gitu apa kami juga bisa panjang umur kalau tinggal di sini? Apa artinya aku bisa jadi gadis cantik selamanya?"

"Tidak, kabarnya ada beberapa manusia yang dulu pernah berkunjung ke negeri ini, tapi tidak ada satu pun yang umurnya bertambah panjang."

"Yah, membosankan."

Melihat Tao yang menghela napas, Sang Suci menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan seolah berkata 'kamu masih naif'.

"Dengarkan ceritanya sampai selesai. Sebenarnya, di inti dungeon yang berada di bagian terdalam World Tree, tersimpan kekuatan yang bisa dibilang sumber kehidupan yang membuat para Elf panjang umur…… Coba lihat ini?"

Dia mengeluarkan sebuah botol. Di situ tertulis 'Cairan Kehidupan World Tree'.

"Ini yang tadi dijual di jalan, 'kan."

"Kukira ini cuma oleh-oleh atau semacamnya."

"Ini adalah getah yang diambil dari World Tree lalu disaring. Coba diminum deh. Ayo, sekali tenggak! Sekali tenggak!"

"Kalau dibilang begitu malah jadi agak susah diminum sih…… wa, hebat! Kekuatanku meluap-luap!"

Ren yang mengajukan diri jadi pencicip racun meminumnya sedikit, dan saat itu juga seluruh tubuhnya mulai memancarkan cahaya.

"Lho!? Kulit Ren jadi makin mulus!"

"Rambutnya juga jadi halus…… cairan luar biasa apa ini!"

Sylpha dan yang lainnya mendadak heboh.

Lupakan soal rambut atau kulit, sepertinya energi sihir di dalam tubuh Ren menjadi aktif.

Bisa dibilang energi sihir itu adalah kekuatan hidup itu sendiri. Karena itulah terjadi pengaruh pada tubuhnya.

Begitu ya, inti dari World Tree…… sepertinya sebutan sumber kehidupan itu tidak salah-salah amat.

"Fufufu, terkejut, 'kan? Tapi sepertinya level segini belum cukup untuk memperpanjang umur. ……Hm, kenapa aku tahu? Yah, di Tahta Suci kami menangani barang-barang okultisme semacam ini sebagai Relik Suci, jadi ya tahulah sedikit?"

Di dunia ini ada benda-benda misterius yang tidak bisa dijelaskan dengan pengetahuan modern.

Benda-benda itu disebut Relik Suci atau Alat Sihir Kuno, dan ditangani dengan sangat ketat. Seingatku Kak Birgit punya beberapa koleksi, ya.

Dulu aku merasakan panjang gelombang sihir yang aneh dari biola aneh yang dipakai Sang Suci, mungkin itu juga salah satunya. Apa dia menjadikannya milik pribadi ya…… agak iri juga.

"Yah, untuk saat ini bagi umat manusia ini hanyalah minuman penambah tenaga yang sangat manjur, tapi kabarnya inti World Tree yang merupakan sumbernya punya kekuatan untuk membuat manusia sekalipun awet muda dan panjang umur."

"Artinya itu adalah inti dungeon, ya…… Tapi kalau kita mengambil inti yang ada di bagian terdalam itu, bukankah World Tree yang menjadi sumber dungeon-nya akan lenyap? Aku yang seperti ini pun akan merasa tidak enak jika melakukan hal itu."

"Ooh! Ternyata kamu juga punya hati nurani ya. Tapi tenang saja. Di negeri ini, memasuki dungeon tidak dilarang…… malah lebih tepatnya disarankan."

"Maksudnya?"

"Dungeon itu makhluk hidup. Kamu tahu 'kan kalau seiring waktu mereka akan tumbuh dan tingkat ancamannya semakin tinggi?"

Aku mengangguk. Dungeon yang sudah tumbuh akan memuntahkan monster dari dalamnya dan menyerang kota-kota sekitar.

Insiden Stampede besar yang dulu menyerang Saloum juga karena alasan itu.

"Yah, bukan itu satu-satunya alasannya sih……"

"Lagipula kalau mau diusut, itu 'kan salah Lloyd-sama juga……"

Grim dan Jiriel menggumamkan sesuatu tapi aku pura-pura tidak dengar.

Itu adalah insiden yang menyedihkan. Itu adalah hal yang tidak terelakkan.

"Tapi World Tree sudah berakar di benua ini sejak zaman yang sangat kuno sekali. Umurnya konon mencapai puluhan ribu tahun, jadi tidak ada yang bisa memprediksi seberapa besar dia sudah tumbuh. Jika terjadi Stampede besar di sini, akan jadi bencana yang belum pernah ada tandingannya. Terlebih lagi belakangan ini, mulai terasa denyut energi sihir yang mengerikan dari dalam bawah tanah World Tree. Semangat untuk melakukan investigasi pun sedang tinggi-tingginya."

"……Begitu ya, memang terasa ada yang aneh dari dalam World Tree."

Saat kucoba menyelidiki dengan Magic Detection, aku merasakan panjang gelombang sihir yang mencurigakan.

Rasanya agak beda dengan monster…… tapi yang jelas ada sesuatu yang sedang terjadi.

Bukan hal yang aneh jika diputuskan bahwa investigasi darurat sangat diperlukan.

"Tapi para Elf sama sekali tidak terlihat menunjukkan gelagat seperti itu?"

"Kalau hal seperti itu sampai diketahui masyarakat umum, pasti akan terjadi kepanikan, 'kan? Jadi sementara ini dibiarkan saja sampai ada kepastian. ……Sebenarnya investigasi sudah dilakukan pada malam hari dan semacamnya, tapi sepertinya menemui jalan buntu. Dinding pepohonan dengan kepadatan super tinggi menghalangi dan memantulkan segala serangan. Aku pun pernah mencoba masuk sekali tapi langsung menyerah. Ya ampun, susah sekali."

Sang Suci menggeleng-gelengkan kepalanya. Meski orangnya begini, hal-hal yang bisa dia lakukan dengan lagu sihir itu cukup serba bisa.

Padahal dia mahir dalam serangan frontal maupun metode lainnya, tapi tetap tidak bisa masuk juga?

Pantas saja para Elf tidak berdaya. Hmm, benda asing yang bersembunyi di dalam dungeon, dan juga harta karun ya. Aku jadi sedikit bersemangat.

"Firasatku sih buruk ya, Tuan. Kalau soal menaklukkannya sih bagi Lloyd-sama pasti gampang, tapi bukankah gawat kalau intinya sampai hancur?"

"Kenapa berasumsi bakal hancur sih. Mana mungkin aku melakukan hal itu."

"Karena kalau itu Lloyd-sama, sangat mungkin terjadi…… Lagipula pintu yang tertutup serapat itu kalau dibuka paksa, belum tentu dungeon-nya sendiri bakal selamat."

Hei, hei. Tidak sopan sekali menyebut orang seperti senjata penghancur tanpa pandang bulu.

Asal tahu saja, aku ini percaya diri dengan kemampuanku dalam mengontrol kekuatan, lho.

"Meski sudah dikontrol pun, sudah sering ada yang hancur juga, 'kan……"

"Daya serangnya sejak awal sudah tidak masuk akal. Meski sudah menahan diri pun, ada bagian yang tetap saja berlebihan……"

Yah, m—mungkin pernah ada kejadian seperti itu sih. Iya.

Kali ini aku akan benar-benar menahan diri, jadi jangan menatapku dengan cemas begitu.

"Apapun itu, kalau kita meneliti inti World Tree, mungkin kita bisa membuat obat untuk menjaga kesehatan semua orang. Perjalanannya pun sepertinya bakal seru, jadi ya tidak ada pilihan lain selain berangkat."

"……Yah, aku tahu percuma juga kalau mau melarang."

"……Lagipula kami hanya akan mengikuti ke mana pun Anda pergi."

Grim dan Jiriel tampak tidak puas, tapi sejak awal tidak ada pilihan untuk tidak pergi setelah sampai sejauh ini.

Ayo kita berangkat ke Dungeon World Tree, untuk melihat inti yang tersohor itu.

"……Fuffuffu—, kamu masih tetap gumpalan rasa ingin tahu ya, Lloyd-kun. Harus begitu dong. Dengan kekuatanmu, menyusup ke dalam World Tree harusnya mungkin dilakukan. Aku tidak tahu apa masih tersisa, tapi mungkin saja petunjuk soal 'itu' bisa ditemukan……! Ayo, menarilah di atas telapak tanganku, Lloyd-kun! Fuhahahahaha!"

Sang Suci menggumamkan sesuatu, tapi tidak terdengar oleh telingaku yang sudah mulai berlari.

Nah, ayo segera kita taklukkan Dungeon World Tree.

Di lubang yang ada di pangkal World Tree, terdapat tangga lebar yang dibuat sedemikian rupa dan banyak orang yang lalu lalang.

Di pintu masuk hanya ada beberapa penjaga yang berdiri, bahkan anak-anak pun bebas keluar masuk sendirian.

Sambil merasa aneh dengan pemandangan itu, kami masuk ke dalam dan yang kami lihat adalah sosok keluarga yang sedang menikmati berbagai wahana dan mainan.

"……E-Eto, ini beneran dungeon?"

Wajar saja jika mata Ren membelalak.

Padahal sudah ditakut-takuti begitu rupa, ternyata yang terbentang di hadapan kami hanyalah taman bermain.

"Wah…… ada kuda kayu putar, bak pasir yang besar, kolam renang, sampai meja untuk bermain kartu."

"Dilihat dari mana pun ini tempat hiburan, ya. Jadi itu alasan kenapa anak-anak bebas keluar masuk."

"Wao, permainan judinya juga lengkap ya. Benar-benar negeri impian di mana orang dewasa dan anak-anak bisa bermain bersama."

Di lantai itu terdapat berbagai mainan anak-anak, bahkan ada mesin permainan seperti rolet dan slot.

Semuanya terbuat dari kayu. Apa semua ini dibuat oleh World Tree?

"Begitu ya. Ini yang disebut dungeon tipe bersahabat."

Sang Suci mengangguk mendengar ucapanku.

Dungeon itu ada yang tipe bermusuhan yang memancing penyusup dengan harta lalu membunuh mereka untuk mendapatkan energi sihir dalam jumlah besar, dan ada tipe bersahabat yang mendapatkan energi sihir jangka panjang dengan membiarkan orang dalam jumlah banyak tinggal lama di dalamnya. World Tree termasuk tipe yang kedua.

"Benar-benar Lloyd-sama. Pengetahuan Anda luas sekali."

"Asli, kamu tahu banyak ya. Dari mana sih dapat pengetahuan begini?"

"I—Iya— secara kebetulan aku pernah membacanya di buku…… hahaha."

Aku tertawa sambil mengelak dari cecaran Sylpha dan yang lainnya.

Bahaya, bahaya. Kalau tidak salah, dungeon tipe bersahabat itu sendiri sangat langka.

Agak tidak wajar jika seorang pencinta sihir biasa sampai tahu hal itu. Mari kita ganti topiknya.

"Tapi sepertinya dindingnya sangat kokoh ya."

"Ya, dungeon tipe ini memang tidak ada bahaya langsung, tapi sebagai gantinya mereka mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencegah penyusupan ke bagian dalam."

Dungeon tipe bersahabat itu hanya bersahabat kepada mereka yang bersedia dihisap energi sihirnya saja.

Untuk area yang lebih dalam dari tempat hiburan, mereka tentu menyiapkan sarana pertahanan terhadap musuh yang mencoba menghancurkan inti mereka.

"Konsepnya 'simpel adalah yang terbaik', ya? Justru yang begini ini yang paling merepotkan."

Sang Suci mengetuk-ngetuk dinding. Mendengar suaranya, Sylpha dan Tao menahan napas.

"Dari suaranya, bisa terasa kepadatan dan ketebalannya…… pohon yang sudah hidup puluhan ribu tahun memang luar biasa ya."

"Bukan cuma keras. Tapi juga sangat elastis…… elastis artinya tidak akan hancur. Benar-benar dinding yang ideal."

Sampai membuat Sylpha dan yang lainnya berkata begitu. Tapi mereka berdua yang bisa tahu hanya dari suara juga hebat, sih.

Karena sudah melewati waktu yang sangat lama, dinding Dungeon World Tree ini pasti sangat keras.

"Di lantai ini hanya ada pintu masuk dan tempat hiburan saja, sisanya semuanya tertutup oleh dinding 'ini'. Artinya kalau mau maju, kita harus menghancurkan dindingnya. Oh, tapi jangan mendadak menyerang dindingnya, ya. Tunggu sebentar. ……Halo, apa hari ini ramai?"

Sang Suci menyapa prajurit yang berdiri di dekat dinding.

Begitu ya, artinya kita harus meminta izin dulu.

Kalau tiba-tiba menyerang dinding, orang-orang di sekitar pasti akan terkejut.

"Ooh, bukannya ini Pak Seio! Anda datang lagi tanpa rasa kapok untuk bermain?"

"Tunjukkan lagi kekalahan telakmu yang luar biasa seperti biasa! Gahahaha!"

"Ha, haha…… hahahaha—……"

Ditertawakan oleh para prajurit, Sang Suci hanya membalas dengan tawa hambar.

Sepertinya orang ini sering sekali datang ke sini untuk bermain.

Malahan dia dijadikan 'mangsa' empuk. Sedang apa sih dia sebenarnya.

"I—Itu urusan nanti saja—…… bergembiralah. Hari ini aku membawa banyak pelanggan yang mau mencoba 'itu'."

"Hou…… itu bagus. Akhir-akhir ini penantang benar-benar berkurang. Kukira semuanya sudah menyerah. Kami sangat menyambut tantangan dari wajah baru."

"Tapi, dengan anggota seperti itu kelihatannya bakal mustahil sih. Cewek-cewek dan bocah bisa apa. Heheh."

Para prajurit menatap kami dengan remeh sambil menyeringai.

Begitu ya, menghancurkan dinding itu sendiri dijadikan salah satu atraksi. Pantas saja kalau Sang Ratu dan yang lainnya melakukan sesuatu, itu tidak dianggap aneh.

Dan jika beruntung ada orang kuat yang datang, kalau dindingnya bisa dihancurkan ya itu keuntungan bagi mereka.

Yah, karena aku tidak mau mencolok, aku tidak akan melakukannya.

"Tolong ya, Sylpha."

"Dimengerti."

Mendengar ucapanku, Sylpha maju satu langkah. Dia mencabut pedang yang dibawanya dengan perlahan.

"Ho—, kakak cantik juga ya. Mau mencoba menebas dengan pedang? Heheh, kurasa itu sia-sia saja."

"Benar sekali, aku sudah jadi prajurit di sini selama lebih dari seratus tahun, tapi siapapun di negara ini tidak ada yang bisa meninggalkan goresan sedikit pun di dinding ini, tahu?"

Para prajurit mengejek, namun Sylpha mengabaikannya dan bertanya.

"Apa ada jaminan bahwa ada jalan di balik dinding yang hancur ini?"

"Sebenarnya sekitar sepuluh tahun lalu, ada monster yang sangat kuat masuk ke sini. Waktu itu, dia membuat lubang besar di dinding."

"Benar, benar, jangan khawatir, di baliknya memang ada jalan yang menyambung. Walaupun langsung diperbaiki sendiri sih. Aku melihatnya dengan mataku sendiri jadi tidak salah lagi."

"……Hmm, baiklah saya percaya untuk saat ini."

Sylpha maju ke depan dinding dan memasang kuda-kuda pedang. Melihat hal itu, prajurit tadi tertawa terpingkal-pingkal.

"Bwahaha! Dia benar-benar serius mau melakukannya! Padahal sudah dibilang mustahil!"

"Ini tontonan menarik. Kalau kamu bisa menggoresnya saja, aku bakal menari perut cuma pakai celana dalam!"

"Kalau begitu──"

Saat pedang di tangannya dicabut dengan cepat, kilatan pedang yang tak terhitung jumlahnya mengiris dinding.

Di dinding itu, mengikuti lintasan tebasan, terciptalah retakan yang sangat dalam.

"N-Ngg...!? T—Tidak mungkin... dia benar-benar berhasil menebas dindingnya...!?"

"Mustahil...! Cih, tapi janji tetaplah janji. Kami juga harus mempertanggungjawabkan ucapan kami."

Para prajurit mulai sibuk melepas zirah mereka, tapi sebenarnya kalian tidak perlu sampai melakukan tari perut juga, lho.

Namun, pelaku utamanya sendiri justru masih memasang wajah serius.

Pasalnya, meski sudah menebas sedalam itu, sisi seberang dinding masih belum terlihat sama sekali.

Tebal sekali, ya. Sepertinya ketebalannya mencapai puluhan meter.

"……Muu, benar-benar keras ya. Jika menggunakan pedang pemberian Lloyd-sama, mungkin bisa tertebas, tapi kalau hanya dengan pedang biasa sepertinya akan memakan waktu."

"Ah, maksudmu Magic Formula Blade, ya."

Benar juga, aku pernah membuat benda seperti itu.

Itu adalah salah satu warisan William Bordeaux yang kudapatkan di akademi dulu. Bilahnya sendiri tersusun dari rangkaian formula sihir untuk memotong, sehingga memiliki ketajaman yang tidak masuk akal.

Pedang itu dikhususkan hanya untuk menebas, dan saking hebatnya, senjatanya sanggup membelah Iblis tingkat tinggi sekalipun. Karena aku tidak terlalu butuh, jadi kuberikan saja pada Sylpha.

"Ngomong-ngomong, ke mana pedang itu?"

"Saya memajangnya dengan saksama sebagai pusaka keluarga. Karena jika sampai patah, saya harus menebusnya dengan nyawa."

"Eh, tidak perlu sampai sejauh itu juga, sih..."

Sifat dasar Magic Formula Blade itu sangat rapuh. Saking halusnya, salah sedikit saja dalam menyalurkan tenaga bisa membuatnya hancur berkeping-keping.

Tapi aku tidak menyangka kalau cuma dipajang. Padahal itu 'kan pedang, harusnya dipakai sebagai senjata saja.

"Mungkin karena itu pemberian dari Lloyd-sama, makanya dia sangat menghargainya. Pelayan iblis itu punya sisi imut juga ya."

"Bagi Lloyd-sama mungkin itu bukan apa-apa, tapi bagi Sylpha-tan, itu adalah harta karun yang tidak ada tandingannya."

Begitu ya. Yah, fakta kalau Magic Formula Blade itu barang langka memang benar, sih.

Kalau dia bersedia menjaganya, aku malah bersyukur. Kalau aku yang simpan, mungkin bakal hilang entah ke mana.

Di tengah obrolan kami, dinding itu perlahan-lahan mulai beregenerasi.

"Rasanya seperti melihat pertumbuhan pohon dalam mode dipercepat. ……Menjijikkan."

"Kemampuan regenerasi yang gila ya. Baiklah, sekarang giliranku! Haaaaah!"

Kali ini tinju Tao menghantam dinding.

Duuum! Bersamaan dengan pukulan penuh tenaga Ki yang menghujam, dinding itu meledak.

Sepertinya dia menghancurkan bagian dalam dinding dengan ledakan Ki. Tujuannya adalah merusak struktur internal agar pemulihannya melambat.

Namun, itu pun sepertinya tidak memberikan efek yang berarti. Kulit kayu yang terkelupas mulai menutup kembali dengan perlahan.

"Nugugu…… selain keras, kemampuan pemulihannya juga di luar dugaan. Ini bakal jadi pertarungan yang berat."

"Sepertinya begitu. Mau tidak mau saya harus serius. Karena Anda hanya akan menghalangi, silakan duduk saja di pojokan sana."

"Haaa? Asal kamu tahu ya, tenagaku masih sisa banyak! Mau taruhan siapa yang duluan melubangi dinding ini?"

"Fu— saya rasa itu sia-sia, tapi…… baiklah, mari perlihatkan pada saya. Hasil dari latihanmu itu."

"Sombong sekali! Bakal kubuat kamu tarik ucapanmu itu!"

Seperti biasa, Sylpha dan Tao mulai memercikkan api persaingan. Melihat mereka berdua, orang-orang di sekitar pun mulai berkerumun.

"Astaga. Mereka berdua benar-benar melubangi dindingnya. Luar biasa……"

"Ini gila! Kalau mereka berdua, mungkin dinding ini bisa diruntuhkan!?"

"Uooooo! Hebat banget! Jangan cuma main-main saja! Semuanya kumpul ke sini!"

Tiba-tiba saja penonton berdatangan. Suasananya jadi sangat ramai. Eh, oi, jangan dorong-dorong begitu……

Terdorong oleh gelombang kerumunan orang, kami pun terlempar keluar.

Sekarang bagian dalam sudah dikepung lautan manusia, sehingga situasi di dalam tidak terlihat lagi sama sekali.

"Aduh duh…… mereka berdua selalu saja mencolok ya."

"Tapi berkat itu, perhatian kepada kita jadi berkurang. Selagi mereka fokus ke sana, ayo kita selidiki juga. Shiro, tolong ya."

"Onn!"

Karena itu, kami mulai berjalan menyusuri dinding sambil mengandalkan hidung Shiro.

Meski dari luar terlihat seperti dinding biasa yang tidak ada habisnya, mungkin indra penciuman Shiro bisa menemukan sesuatu.

"Luas lantainya sekitar dua ratus sampai tiga ratus meter persegi, ya. Dibandingkan batang World Tree dari luar, ini terasa cukup kecil."

"Meski begitu, bagian dalam dungeon biasanya memiliki kekhasan penghalang spasial. Berbahaya kalau kita hanya terpaku pada tampilan luarnya, Tuan."

"Lagipula, dinding sekokoh apa pun akan jadi seperti kertas di hadapan Lloyd-sama. Tapi mohon berhati-hati, jika memberikan dampak yang terlalu kuat, ada kemungkinan dungeon-nya sendiri bisa lenyap."

Dungeon itu seperti makhluk hidup, ternyata cukup sensitif juga.

Kerusakan kecil bisa langsung sembuh, tapi kalau keterlaluan, ada risiko seluruh dungeon akan musnah.

Dulu aku pernah salah menakar tenaga dan malah menghancurkan sebuah dungeon sampai tidak bisa bangkit lagi, jadi aku harus waspada.

"On! On on!"

"Oh, kamu menemukan sesuatu?"

Shiro menggonggong ke arah dinding. Sepertinya dia mendeteksi sesuatu di baliknya.

"Lloyd-sama. Salah sedikit saja dalam menakar tenaga, semuanya akan hancur berantakan."

"Tapi jika terlalu lemah, lubangnya tidak akan terbuka. Apa yang akan Anda lakukan?"

"Lihat saja. Dalam situasi begini, kita hanya perlu membuat lubang kecil yang tidak akan disadari oleh dungeon."

Dungeon memang makhluk hidup dan akan langsung pulih jika terluka, tapi kita bisa menghambat pemulihannya dengan terus-menerus memberikan tekanan.

Akhir-akhir ini aku sering masuk ke dungeon saat bertarung melawan Beals, jadi aku sempat memverifikasi banyak hal.

Aku mengumpulkan energi sihir di ujung jari membentuk bilah sihir, lalu menekannya ke dinding. Bilah itu berputar dengan kecepatan tinggi dan mulai mengikis kayu.

"Ooh, lubangnya mulai terbuka. Karena berfokus pada satu titik, dungeon-nya tidak akan hancur!"

"Bisa melubangi dinding luar sekeras ini hanya dengan sihir tingkat rendah…… Luar biasa, Lloyd-sama."

"Wind Magic tingkat menengah, Wind Drill—dengan ini harusnya bisa membuat jalan…… Hmm."

Setelah maju beberapa saat, kekerasan dindingnya meningkat drastis…… tapi ini masih dalam perkiraanku.

Aku meredam suara di sekitar dengan sihir, lalu beralih ke Wind Magic tingkat tinggi, Spiral Void Drill.

Bilah angin dengan daya rusak lebih tinggi mulai mengikis dinding sambil menimbulkan suara bising yang diredam.

"Sihir tingkat tinggi…… ditambah lagi menggunakan Sound Isolation dan Hiding secara bersamaan dengan standar setinggi itu…… Benar-benar gila."

"Namun dindingnya semakin mengeras seiring kita masuk lebih dalam. Kekerasannya sudah setara dengan dungeon buatan Lloyd-sama."

Memang sangat keras. Jadi ini yang namanya World Tree, ya. Cukup tangguh juga.

Lagi-lagi kecepatan melubanginya melambat. Seolah memiliki kehendak sendiri, World Tree sepertinya memusatkan seluruh kekuatannya di titik ini. ……Mau bagaimana lagi, kutingkatkan sedikit kekuatannya.

"■■■"

Sambil membiarkan Grim bersemayam di salah satu tangan, aku menggunakan Dual Casting untuk merapalkan Incinerating Drill.

Gouuu! Dinding itu seolah menjerit saat percikan api mulai berhamburan.

Daya rusaknya memang luar biasa. Bilah yang mencampurkan elemen api dan angin mengikis dinding dengan lancar. Karena agak bau gosong, ayo buat ventilasi udara sedikit.

"Sampai membuat Lloyd-sama menggunakan Dual Casting, pohon ini boleh juga."

"Benar sekali. Kalau dungeon biasa, pasti sudah hancur berkeping-keping."

Aku membatasi area dampaknya agar tidak berakibat fatal, tapi konsekuensinya aku jadi kesulitan untuk menerobos.

Wajar saja kalau Sylpha dan yang lainnya sampai kewalahan.

Andai aku bisa menggunakan sihir yang lebih kuat mungkin akan lebih mudah, tapi kalau kulakukan, bisa-bisa World Tree ini lenyap tak berbekas, jadi aku harus mengikisnya pelan-pelan. Padahal aku tidak terlalu suka pekerjaan telaten begini.

"Eh, gawat Lloyd-sama! Lubang yang sudah susah payah dibuka mulai menutup kembali!"

"Kemampuan regenerasinya meningkat! Apa dindingnya masih belum bisa ditembus!?"

Sayangnya, jarak menuju sisi seberang masih jauh. Dengan kecepatan ini, lubang yang sudah dibuka akan tertutup lagi. ……Tapi, tidak masalah.

──Earth Magic, Adamantine Ceiling…… kugunakan untuk melapisi bagian dalam lubang. Lapisan logam tipis ini akan menghalangi regenerasi.

Mungkin tidak akan tahan selamanya, tapi untuk waktu singkat sampai lubangnya tembus, ini sudah lebih dari cukup.

"Uooooooo! Melapisi permukaan galian dengan logam untuk mencegah regenerasi! Ada trik seperti itu ya!"

"Sambil melakukan itu pun beliau tetap terus menggali, sebenarnya berapa banyak sihir yang beliau gunakan secara bersamaan……"

Nah, mumpung ada kesempatan, mari kita tembus sekaligus. Kukerahkan tenaga dalam satu hentakan.

Zubok! Terdengar suara seperti udara yang keluar, dan lubang pun tembus ke sisi seberang. Bagus, sepertinya berhasil.

"Yosshaaaa! Akhirnya lubangnya terbuka!"

"Tapi, apa yang akan Anda lakukan dengan lubang sekecil ini?"

"Asalkan titik tujuannya terlihat, aku bisa menggunakan Teleportation."

Di dalam dungeon terdapat penghalang spasial sehingga Teleportation tidak bisa digunakan, tapi ceritanya berbeda jika sisi seberangnya sudah terlihat.

Sekecil apa pun lubangnya, aku bisa berpindah tanpa masalah.

"Karena itu, Ren dan yang lain tetaplah di sini. Kalau Sylpha dan yang lainnya sadar, tolong dikelabui ya."

"Paham. Hati-hati ya. Walaupun mungkin percuma dibilangin, tapi jangan berlebihan."

"Iya, aku pergi dulu."

"Onn!"

Tepat saat aku melambaikan tangan dan hendak mengaktifkan Teleportation.

"……Ngh."

Aku menyadari Fiona sedang mencengkeram ujung bajuku.

Karena formulanya sudah terlanjur aktif, aku dan Fiona pun berpindah ke sisi seberang dinding.

"Eeeeh!? Hei, apa yang kamu lakukan, Fiona! Kamu juga tidak boleh ikut ke sana dong—!"

"On! On on!"

Ren berteriak dari balik dinding. Repot juga ya. Tentu saja aku bisa memulangkannya sekarang, tapi……

"Fiona, kenapa kamu ikut?"

"……Aku sendiri tidak tahu. Tapi, aku merasa harus ikut apa pun yang terjadi. Tolong, bawalah aku bersama Anda……!"

Wajahnya tetap datar seperti biasa, tapi Fiona menatapku dengan sorot mata yang lurus.

Dia tidak memberikan jawaban yang pasti, tapi mungkin saja jawaban dari ingatannya yang hilang ada di depan sana.

Setelah berpikir sejenak, aku pun menghela napas.

"……Baiklah. Ikutlah. Tapi benar-benar hati-hati, ya."

"! Terima, kasih."

Saat dia memohon padaku, untuk pertama kalinya aku melihat ada binar tekad di matanya.

Aku tidak sekejam itu untuk mengabaikannya.

……Lagipula, mungkin keberadaan Fiona bisa membantuku memahami sesuatu di depan nanti. Membawanya ikut juga ada gunanya.

"Begitulah. Aku akan membawa Fiona. Sisanya kuserahkan padamu, Ren. ……Ah benar, pakai ini."

Kulempar sebutir biji ek dari saku ke arah Ren yang tampak protes.

Menggunakan biji ek yang menggelinding di balik dinding itu sebagai media, aku mengaktifkan Wood Magic, Wood Substitute.

Maka terciptalah boneka kayu yang sangat mirip denganku dan Fiona.

"Dengan ini setidaknya bisa menipu mereka sebentar, 'kan?"

"……Kok perasaanku belakangan ini tugasku cuma bagian begini saja ya."

Maaf ya, Ren. Habisnya kamu yang paling mudah disuruh-suruh.

"Apa bakal aman ya cuma pakai boneka seperti itu setiap saat……"

"Yah, anehnya jarang ketahuan sih……"

"……Yah, kita lihat saja perjuangannya."

Ini sudah biasa terjadi, jadi Ren pasti bisa menanganinya. Intinya berjuanglah.

Sambil merasakan tatapan dingin dari Ren, aku pun melangkah masuk ke dalam kegelapan.

"Wah— sangat membantu, Pak Gerigi. Teleportation milikmu benar-benar berguna ya."

"Cih, enak sekali kamu memanfaatkanku……"

Guisarme berdecak kesal.

Meski ditekan dengan aura yang sangat mengintimidasi, Sang Suci tetap memasang wajah tanpa beban.

Tadi, mereka berdua melihat Lloyd melubangi dinding dan berteleportasi dari kejauhan. Begitu hawa keberadaan Lloyd menghilang, mereka pun segera menyusul.

"……Hmph, baiklah. Lalu, rencana jahat apa lagi yang sedang kamu susun? Apa ada sesuatu yang menarik terkubur di bawah pohon tua ini?"

"Aa—…… aku ingin sekali cerita, tapi aku sendiri pun belum punya bukti yang pasti. Masih sekadar petunjuk, tapi kurasa mustahil kalau tidak ada apa-apa di sini."

"Kamu benar-benar orang yang tidak terencana. ……Yah, aku yang bergerak bersama orang bodoh sepertimu pun tidak berhak berkomentar sih."

"Benar juga ya. Apa boleh sosok iblis sepertimu berteman baik dengan manusia? Ataukah jangan-jangan, kamu ini sebenarnya orang baik?"

"Hahahahahaha……"

Tepat setelah tertawa terbahak-bahak, Zann!

Sebuah gelombang kejut yang dahsyat menghantam tepat di samping Sang Suci.

Di tempat yang terkena gelombang kejut itu, terukir bekas tebasan yang jauh melampaui serangan Sylpha dan yang lainnya.

"……Jangan banyak bicaranya, Dasar Anjing Dewa. Jika kamu pikir bisa memperalatku hanya dengan ikatan selevel ini…… nyawamu tidak akan bertahan lama."

Ikatan pada Guisarme yang dibangkitkan lewat lagu sihir adalah 'dilarang menyerang siapa pun kecuali Lloyd', sebuah syarat yang relatif ringan.

Sebenarnya, ikatan yang diberikan pada orang lain bisa melemah drastis tergantung pada persepsi sang kontraktor.

Misalnya saat menitip belanjaan, jika komunikasi tidak lancar, bisa saja terjadi kesalahan.

Toko, harga, barang…… karena semua keputusan ada di tangan penerima titipan, maka syarat kontrak mau tidak mau menjadi longgar.

Bahkan antarmanusia saja bisa begitu.

Apalagi jika rasnya berbeda, hal itu akan semakin kentara.

Terlebih lagi persepsi kaum iblis yang merupakan musuh manusia sudah pasti berbeda total.

Larangan menyerang lewat ikatan tidak selalu aktif sesuai keinginan sang pengguna sihir, dan jika perbedaan kekuatannya terlalu besar, efek ikatan itu sendiri akan melemah.

Dalam contoh ekstrem, iblis bisa saja melancarkan serangan skala besar yang membuat manusia lain ikut terluka sebagai imbasnya.

Tindakan menahan iblis sekuat Guisarme dengan sebuah ikatan itu ibarat mengikat binatang buas dengan tali tuntun anak anjing.

Meski taring binatang buas itu sudah diperlihatkan di depan matanya, Sang Suci tetap tersenyum santai.

"……Fufu, memang harus begitu."

Dia menjilat darah yang menetes dari pipinya yang tergores.

"Kalau aku tidak bisa menjinakkan kuda liar sepertimu, aku tidak akan bisa menjadi Dewa. Silakan saja kalau mau menunjukkan taringmu kapan saja. Aku memang seorang pasifis, tapi aku bisa memikirkan enam puluh enam cara dalam sekejap untuk menaklukkanmu tanpa harus bertarung."

"……Menarik. Mau coba?"

"Kalau itu maumu, akan kuladeni. ──♪"

Dia bersiul, dan getaran yang tercipta darinya membuat rambut Guisarme terbang tertiup angin dengan kencang.

Guisarme sempat terkejut sesaat, namun dia segera melepaskan energi sihir hitam dari dalam tubuhnya, memicu badai yang dahsyat di sekitar mereka.

Di tengah badai itu, mereka berdua saling menatap tajam untuk beberapa lama.

"Bercanda, kok. Hahaha, mari kita keliling dengan santai saja. Jarang-jarang 'kan ada kesempatan melihat bagian dalam pohon penciptaan?"

"……Baiklah. Akan kubiarkan kamu hidup sedikit lebih lama. Selama kamu masih bisa menghiburku. Kukukukuku……"

Seketika, mereka berdua mulai berjalan dengan akrab seolah sedang bersenang-senang.

Sepertinya mereka berdua masih belum berniat untuk saling menunjukkan isi hati yang sebenarnya.

Setelah mereka pergi, dinding yang terluka akibat badai sihir tadi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan beregenerasi.

"Hm?"

Tiba-tiba aku menoleh ke belakang.

"Ada apa, Lloyd-sama?"

"Tidak, rasanya aku mendengar suatu suara……"

"Mungkin suara serangan dari Sylpha-tan dan yang lainnya."

Kalau dibilang begitu, masuk akal juga sih.

Saat aku mencoba menajamkan pendengaran, memang terdengar suara benturan yang terus-menerus dari dinding sebelah kiri. Tapi di sisi seberangnya…… apa ini. Bekas luka raksasa?




Seingatku, prajurit tadi memang sempat bilang kalau ada monster atau sesuatu yang melubangi dinding ini dengan lubang raksasa. Jadi, bekas lukanya masih ada, ya?

Luka yang bahkan tidak bisa sembuh meski dengan kemampuan regenerasi World Tree...

Sejujurnya aku sangat penasaran, tapi Sylpha dan yang lainnya bisa saja menjebol dinding dan sampai ke sini kapan saja.

Sepertinya aku tidak punya waktu untuk santai. Sayang sekali, tapi sebaiknya aku bergegas.

"Kamu masih mengikuti, 'kan? Fiona."

Fiona mengangguk kecil sambil berlari kecil tepat di belakangku.

……Entahlah. Aku merasa atmosfernya sedikit berbeda dibandingkan saat pertama kali kami bertemu.

Diam-diam, Grim dan Jiriel berbisik di telingaku.

"Tapi apa ini benar-benar tidak apa-apa, Lloyd-sama? Perempuan ini nekat mengikuti sampai ke tempat seperti ini, mau dipikir bagaimana pun dia itu mencurigakan, lho."

"Benar. Terlebih lagi, sejak sampai di sini gelagatnya terasa aneh. Apa mungkin dia mulai mendapatkan kembali serpihan ingatannya yang hilang……? Kita tidak boleh lengah."

Mereka berdua terlalu pencemas. Kalau terjadi apa-apa, aku tinggal membereskannya, 'kan? Lagipula biasanya memang selalu begitu, dan bagiku, masalah justru sangat disambut baik.

Apa pun itu, lebih baik aku fokus menuju bagian terdalam. ……Sudah berapa jauh kami berjalan? Tiba-tiba Grim berteriak.

"Lloyd-sama! L—Lihat ke atas, Tuan!"

Begitu aku memunculkan cahaya sihir di udara, langit-langit langsung terang benderang.

Di sana ada manusia yang jumlahnya tak terhitung…… bukan, boneka? Puluhan boneka tergantung dan terlilit di pepohonan.

"Benar-benar pemandangan yang menyeramkan ya……"

"Mari kita periksa."

Aku menjentikkan jari dan mengaktifkan Levitation. Aku melayang naik untuk mengamati dari dekat di sekitar langit-langit.

Yang tergantung di sana adalah boneka yang dibuat sangat mirip dengan manusia.

Tidak ada napas, jantungnya pun tidak berdetak. Kulitnya keras, ini dipastikan adalah boneka.

Saking detailnya, hanya hal-hal itulah yang bisa membedakannya dengan manusia asli.

"……Cih, seleranya buruk sekali. Tapi untuk apa mereka menggantung boneka sebanyak ini di tempat begini?"

"Apalagi semuanya punya wajah yang sama…… maksudku, boneka ini mirip seseorang……"

Aku pun memikirkan hal yang sama.

Kami semua mengalihkan pandangan ke arah 'orang aslinya'.

Ya, mereka mirip dengan Fiona.

Ras Elf memang rata-rata punya wajah yang mirip, tapi terlepas dari itu, boneka-boneka ini benar-benar pinang dibelah dua dengan Fiona.

"Umumu…… semakin dilihat, semakin mirip saja. Tekstur rambut, kehalusan kulit, kekencangan, sampai kilau kukunya benar-benar identik──"

"Heh! Jangan curi-curi kesempatan buat pegang-pegang begitu, dong!"

"Gebuak!?"

Melihat Grim memukul Jiriel sampai terpental, Fiona bergumam pelan.

"……Kalau dipikir-pikir, memang mirip."

Mendengar komentar santainya, kami semua hampir jatuh terjungkal.

"Sekali lihat juga ketahuan, tahu! Duh, jangan bengong terus kenapa sih, kamu ini."

"Gadis Elf polos yang berdada besar…… sebenarnya saya ingin sekali mendukungnya, tapi rasanya masih ada yang kurang ya."

"Sudahlah, yang penting kita lanjut dulu."

Meski begitu, kami kembali mulai melangkah.

Beberapa saat kemudian, di ujung kegelapan mulai terlihat cahaya samar.

"Oh, apa itu jalan keluarnya?"

"Mari kita ke sana."

Di balik jalan itu, terbentang sebuah aula besar yang luasnya mungkin sekitar seratus meter persegi.

Lantai dan dinding ruangan itu terbentuk dari sulur-sulur yang saling melilit, rasanya seperti berada di dalam perut makhluk raksasa.

"Apa ini titik akhirnya? Ternyata lumayan antiklimaks ya."

"Sampai di sini sama sekali tidak ada sarana pertahanan untuk melawan penyusup ya……"

Seharusnya, sebuah dungeon punya monster atau perangkap untuk melindungi intinya.

Meski tipe bersahabat pun harusnya tetap sama. Sulit dipercaya jika mereka hanya fokus pada dinding penghalang penyusup saja.

Namun kenyataannya, ini adalah jalan lurus yang seolah-olah mengundang kami masuk…… alih-alih merasa lega, ini malah terasa sedikit mengerikan.

"Mungkin karena sihir Magic Barrier yang Lloyd-sama aktifkan secara otomatis sudah menghapus semuanya? Dulu Tuan pernah begitu bersemangat masuk ke dungeon sampai-sampai dungeon-nya langsung lenyap seketika, 'kan."

"Itu insiden menyedihkan di mana guncangan dari Magic Barrier melenyapkan musuh buatan dungeon beserta intinya sekaligus. Mengingat belakangan ini kekuatan Lloyd-sama semakin di luar nalar, ada kemungkinan besar Tuan sudah menggilas perangkapnya tanpa sadar."

"Kalian tidak sopan sekali. Khusus kali ini, aku sudah benar-benar menahan diri agar hal itu tidak terjadi."

Mumpung sedang berada di dungeon yang menarik seperti World Tree.

Agar tidak merusaknya, aku menekan Magic Barrier sampai ke tingkat minimum.

Mungkin terdengar mengejutkan, tapi aku cukup perhatian dalam hal ini, lho. Meski yah, kadang-kadang memang suka lepas kendali.

Karena itulah, khusus kali ini benar-benar tidak terjadi apa-apa.

Namun, kalau sudah sampai di sini, seharusnya ada sesuatu──

"……Mohon berhati-hati. Sesuatu akan datang."

Tiba-tiba, Fiona membuka mulutnya.

Bersamaan dengan itu, lantai bergejolak hebat dan kami terlempar ke udara.

"A-Apa-apaan ini!? Tanahnya berguncang hebat!"

"A—Apa yang sebenarnya terjadi!?"

Grim dan Jiriel tampak panik. Ooh, akhirnya datang juga ya.

Sepertinya ruangan ini adalah area perburuan. Begitu masuk tadi, aku merasakan panjang gelombang sihir yang kuat.

Wush wush wush! Sulur yang tak terhitung jumlahnya menyerangku yang sedang melayang di udara. Namun, semuanya melesat melewatiku tanpa menyentuh sama sekali.

──Wind Magic, Breeze Barrier. Ini adalah pelindung terlemah yang berfungsi untuk menghalau kotoran dengan menciptakan dinding udara di sekitar.

Untuk serangan ringan, pelindung ini bisa menangkisnya seperti gelembung sabun yang melayang.

Kalau aku nekat memasang Magic Barrier, benturan yang dihasilkan bisa-bisa melenyapkan seluruh dungeon ini.

"Serangan tadi sama sekali tidak ringan, tahu! Itu level serangan yang bisa membuat manusia normal pingsan dalam satu hantaman!"

"Bisa-bisanya pelindung lemah seperti ini menahannya…… Ha! Jangan-jangan ini yang Tuan maksud dengan menahan diri tadi!?"

Tepat sekali. Dengan begini pergerakanku tetap ringan, dan menangkap sulur-sulur itu pun jadi mudah.

Aku memanipulasi aliran udara dan menangkap salah satu sulur.

"!!"

Sulur itu meronta-ronta mencoba kabur, tapi aku mengubah bentuk pelindungku dan menjepit seluruh bagian sulurnya.

"……Hmm, benda ini sendiri hanyalah akar pohon biasa. Sepertinya ada seseorang yang menggerakkannya dengan menyalurkan energi sihir. Kalau aku mengikuti jalur aliran sihirnya…… di sana, ya."

Jauh di bawah lantai, puluhan meter di kedalaman, aku menemukan reaksi sihir yang kuat.

Kekuatan sebesar ini, sudah pasti adalah inti dari dungeon-nya. Ternyata dia sendiri yang langsung melancarkan serangan.

"!!!!"

Sepertinya dia menyadari kalau aku sudah menemukannya, lalu mencoba memutus sulurnya──tapi tentu saja tidak akan kubiarkan.

Earth Magic, Adamantine Ceiling. Aku membentangkan pelindung untuk menutupi seluruh sulur itu, mengubahnya menjadi satu tali logam panjang.

Baiklah, penangkapan selesai. Sisanya tinggal ditarik saja. Aku memanipulasi aliran udara untuk berputar cepat, lalu menggulungnya seolah sedang menggunakan alat pancing.

"Gu…… ga…… OOOOOOOO!?"

Suara yang menggema dari dasar bumi terdengar di sekeliling saat aku menggulung sulur itu dengan penuh semangat.

"Hmm…… lumayan berat juga."

Lawanku adalah inti dari dungeon raksasa sekelas World Tree. Kekuatannya cukup besar.

Melihatku sedikit kesulitan, Grim dan Jiriel ikut membantu.

"Anda mau menarik tubuh aslinya ke atas ya! Kami juga akan membantu, Tuan!"

"Ayo kerahkan seluruh tenaga, Iblis! Tarik sekuat tenagaaaaa!"

Berkat bantuan mereka berdua, keseimbangan kekuatan berpihak padaku, dan sulur itu pun perlahan-lahan terseret keluar.

Dan kemudian──zupong! Sesuatu yang melompat keluar dari lantai adalah sosok berwarna hijau yang menyerupai manusia.

"Nuuuu…… kalian, beraninya melakukan hal seperti ini……!"

Dia melotot dengan wajah yang sangat masam.

Penampilannya mirip dengan Elf, tapi jika dilihat lebih dekat, dia sama sekali tidak bisa disebut manusia.

Rambutnya terbuat dari dedaunan, dan tubuhnya yang tampak seperti kayu yang berubah bentuk memiliki buku-buku di sana-sini.

Treant, mungkin itu kesan yang paling tepat. Sosoknya benar-benar seperti perpaduan antara manusia dan pohon.

"Gege, pohonnya bergerak dan bicara. Menjijikkan……"

"Benar-benar menyeramkan…… sepertinya bakal terbawa sampai ke mimpi……"

Saat Grim dan Jiriel merasa jijik, si Treant berteriak dengan penuh amarah.

"Menyeramkan katamu? Kurang ajar! Aku adalah World Tree, pohon raksasa yang sudah ada sejak dunia ini tercipta!"

Sepertinya tidak salah lagi kalau dialah inti dari dungeon ini.

Omong-omong, biasanya sebuah inti mengambil berbagai macam wujud untuk melindungi dirinya, tapi wujud manusia begini termasuk langka.

"Hah! Pamer umur panjang ya. Aku ini sudah hidup seribu tahun, tahu. Jangan remehkan aku!"

"Yah, kalau saya sih sudah hidup dua ribu tahun."

Mereka berdua malah bertengkar sendiri, padahal sejujurnya bagiku umur itu tidak penting.

Saat aku sedang jengah, World Tree mulai tertawa dengan suara yang tertahan.

"……Sudahlah. Meski ada sedikit di luar perhitungan, tapi secara garis besar semuanya berjalan sesuai rencana. Kamu sudah bekerja dengan baik. ──Fiona."

Mendengar ucapan World Tree, pandangan semua orang tertuju pada Fiona.

"A-Apa-apaan!? Apa maksudnya ini!? Jelaskan sekarang!"

"Huh, Fiona adalah boneka yang aku ciptakan. Lloyd de Saloum, dia dikirim untuk memancingmu yang memiliki energi sihir luar biasa ke tempat ini!"

"Jadi targetmu adalah aku?"

"Benar. Aku selalu membutuhkan energi sihir dalam jumlah besar. Karena itulah aku menemukanmu yang memiliki energi sihir di luar nalar, lalu aku mengirim Fiona."

Hmm, belakangan ini aku memang sering bertarung heboh dengan berbagai lawan, sih.

Sebenarnya aku berniat hidup rendah hati, tapi mungkin belakangan ini aku sedikit terlalu mencolok.

"Kalian sudah melihat banyak boneka di jalan tadi, 'kan? Itu adalah produk gagal dari Fiona. Dengan kekuatanku, menciptakan manusia pun adalah hal yang mudah."

"Menciptakan manusia…… kau berani menyentuh tabu! Dasar sesat!"

Aku berpura-pura tidak mendengar ucapan Jiriel.

Duh, maaf ya. Aku juga pernah melakukan hal yang mirip-mirip.

Senyum ceria Ido, homunculus yang dulu kubuat dengan alkimia, tiba-tiba terlintas di pikiranku.

"Katakan sesuka hatimu! Selama aku bisa mendapatkan energi sihirmu yang melimpah, segalanya hanyalah hal sepele. Sekarang Fiona, tugasmu sudah selesai. Kembali ke sisiku!"

World Tree mengangkat kedua tangannya seolah memberi isyarat memanggil──tapi Fiona tetap bersembunyi di belakangku.

"Ada apa? Apa yang kamu lakukan. Cepat kembali ke sini!"

"……Aku, tidak mau."

"……Hah?"

Melihat World Tree yang melongo, Fiona melanjutkan ucapannya dengan nada penuh sesal.

"Maaf. Aku tidak ingat siapa Anda dengan jelas. Sekarang aku adalah pengikut Lloyd-sama, jadi aku tidak bisa pergi ke sana. Maafkan aku."

"A—Apa yang kau katakan!? Hei!"

World Tree tampak terpana. Sepertinya Fiona benar-benar tidak ingat apa pun soal pohon itu.

"Aku tidak tahu jelasnya, tapi sepertinya dia tidak berbohong. Artinya dia masih kehilangan ingatannya ya?"

"Kalau diingat-ingat kembali, keinginan untuk datang ke sini hampir sepenuhnya adalah kemauan Lloyd-sama, keterlibatan dia bisa dibilang nol."

Mungkin memang benar bahwa World Tree menciptakan Fiona dan memerintahkannya untuk membawaku.

Ada banyak dasar untuk berpikir demikian, tapi pada akhirnya Fiona kehilangan ingatan dan terus melupakannya.

"T—Tidak mungkin……!"

Grim dan Jiriel menertawakan World Tree yang sedang terpana.

"Hehe, rasakan itu! Sayang sekali ya, Wahai Pohon. Hal-hal yang tidak penting itu memang biasanya tidak membekas dalam ingatan!"

"Benar sekali. Dan di dunia ini, tidak ada yang lebih tidak penting daripada bualan orang tua. Menyerahlah dengan tenang!"

"Ugugu…… Pantas saja lama sekali tidak kembali, ternyata dia hilang ingatan dan malah berkhianat. Benar-benar boneka tidak berguna! ……Tapi ya sudahlah, saat kamu berhasil membawa pria itu ke sini, kegunaanmu sudah berakhir! Akan kutelan kalian semua sekaligus!"

Tiba-tiba, ruangan bergejolak hebat. Guncangan yang lebih besar dari sebelumnya melanda area sekitar.

Akar-akar di sekeliling berkumpul menutupi tubuh World Tree, mengubahnya menjadi raksasa yang tingginya mencapai beberapa meter.

"Mundur, Fiona."

"Baik……! Lloyd-sama, mohon berhati-hati."

"Hm."

Aku menjawab singkat lalu mengurung Fiona di dalam Magic Barrier.

Dengan begini aku bisa fokus bertarung.

"Dosamu karena telah mempermainkanku sangatlah berat. Energi sihirmu, akan kuhisap semuanya sampai habis!"

Sambil mengangkat tinju yang terbuat dari kayu padat, World Tree melancarkan pukulan.

Dia merangsek masuk ke dalam jangkauanku dalam sekejap.

Ooh, padahal kupikir dia cuma pohon biasa, tapi ternyata gerakannya lumayan cepat juga. Apalagi tinju itu sepertinya tersusun dari sulur-sulur bermuatan sihir yang melilit berlapis-lapis dan dikompresi.

Mana yang lebih kuat, tinjunya atau pelindungku? Jadi ingin coba menahannya. Tepat di saat aku memikirkan hal itu.

Duuuum!

Suara dentuman keras menggema, dan World Tree terpental hingga menghantam dinding.

"Gu…… A-Apa yang terjadi……!?"

Saat World Tree yang menabrak dinding itu mendongak, yang dia lihat adalah Grim dan Jiriel yang melesat dari tanganku.

"Oi, oi, pohon ini beneran mau melawan Lloyd-sama, ya? Tapi dengar ya, segala sesuatu itu ada urutannya."

"Benar sekali. Jika makhluk selevel tumbuhan ingin menantang Lloyd-sama, sebaiknya kalahkan kami dulu baru bicara."

Grim yang sudah kembali ke wujud aslinya sebagai kambing hitam raksasa memegang api yang berkobar di kedua tangannya, sementara di tangan Jiriel yang berwujud malaikat terdapat dua bilah pedang yang bersinar dingin.

Kedua famili itu berdiri menghalangi jalan World Tree.

"Jika kalian menghalangi, aku hanya perlu membunuh kalian duluan!"

"Coba saja kalau bisa! Blazing Dark Flash Cannon! Rasakan iniiiii!"

Kilatan cahaya hitam pekat yang dilepaskan dari kedua tangan, ditambah dengan serangan api yang berkobar, menembus tubuh World Tree.




World Tree mencoba bangkit segera setelah lubang raksasa tercipta di tubuhnya, namun api hitam telah menjalar ke seluruh tubuh dan mulai membakar dirinya.

Ooh, api energi sihir, ya. Sepertinya dia mengubah sebagian tubuh energinya sendiri menjadi api.

Grim benar-benar sudah jauh lebih mahir dalam mengendalikan energi sihir dibandingkan sebelumnya.

"Guoooo! C-Cuma api selevel ini...!"

World Tree mencoba menepis dan memadamkan api itu, namun alih-alih padam, api tersebut justru semakin melilitnya.

Bisa dibilang api itu adalah bagian dari diri Grim. Tidak akan semudah itu untuk dilepaskan.

"Kurang ajar! Kalau begitu, akan kuhancurkan sekalian dengan apinya!"

Menyerah untuk memadamkan api, World Tree mengeraskan kulit kayunya dan menghentikan gerakan.

Kemudian, dia memanipulasi sulur-sulur di bawah kaki Grim dan melancarkan serangan serentak.

Namun, tidak ada raut kecemasan di mata Grim.

Itu karena sulur yang tak terhitung jumlahnya itu terhenti tepat di depan matanya.

Pedang cahaya telah menebas habis semuanya.

"Heh, kerja bagus melindungiku. Malaikat sialan."

"Hun, dasar Iblis bodoh yang merepotkan."

Sesaat setelah mereka bertukar kata, kilatan cahaya yang lebih terang melesat.

"Wahai sepasang sayapku, berkediplah bersama cahaya— Shining Cross."

Jejak kilatan cahaya itu mengukir seluruh tubuh World Tree dan menghentikan gerakannya. Itu juga bukan senjata cahaya biasa.

Sepertinya dia menyisipkan kata 'Berhenti' dari bahasa surga langsung ke pedang cahayanya.

Memang belum sehebat Sang Suci yang bisa menyegel lawan hanya dengan berbicara, tapi penambahan kata melalui serangan langsung sepertinya cukup efektif.

"Hehehe, kalau sudah menghabiskan waktu selama ini di sisi Lloyd-sama, tentu saja kami jadi kuat. Kami sudah kenyang memakan sisa energi sihir dari musuh-musuh yang telah dikalahkan. Sesekali kami harus bekerja keras begini!"

"Sebagai makhluk energi, kami menjadi lebih kuat dengan menyerap residu energi sihir dari bangsa Iblis yang telah mati. Meski rasanya sedikit seperti ikan remora yang memakan sisa makanan... sekaranglah saatnya menunjukkan kekuatan kami!"

Hanya dari jual beli serangan sesaat tadi aku sudah tahu. Mereka berdua sudah menjadi jauh lebih kuat.

Lagi pula, teknik ini tidak akan bisa dilakukan hanya dengan menyerap energi sihir saja.

Ini adalah bukti bahwa mereka berdua telah melatih diri dengan cara masing-masing.

"Guoooo! H—Hanya pelayan rendahan beraninyaaaaa!"

Pertempuran berlangsung dengan keunggulan mutlak di pihak Grim dan Jiriel, sementara World Tree hanya bisa bertahan total.

"Lihat itu! Kami juga tumbuh besar, tahu! Jangan remehkan kami terus!"

"Apa Anda melihatnya, Lloyd-sama! Ini adalah kekuatan yang kami peroleh dari hasil latihan kami—!"

Sambil menyerang World Tree, Grim dan Jiriel sibuk tebar pesona kepadaku.

Sejujurnya, menurutku perbedaan kekuatan kalian tidak sejauh itu sampai bisa lengah menoleh ke arah lain.

Tuh 'kan, hampir kena serangan balik. Makanya, dengarkan kataku.

"Hebat……!"

"Yah, biar terlihat begitu, mereka itu tetaplah Malaikat dan Iblis."

Karena mereka selalu mengecilkan diri menjadi seperti maskot, aku sering lupa kalau Grim dan Jiriel adalah entitas yang luar biasa.

World Tree sepertinya cukup kuat, tapi menghadapi mereka berdua secara bersamaan terlihat sangat berat baginya.

"Kata 'biar terlihat begitu' itu berlebihan, Tuan!"

"Kata 'tetaplah' itu jahat sekali!"

"Maaf, maaf."

Apa pun itu, sepertinya aku tidak perlu turun tangan. Aku bisa mengobservasi dengan santai. Benar-benar deh, hal yang paling berharga adalah memiliki pelayan yang hebat. Um-um.

"Nah, pertempuran biarlah menjadi urusan mereka berdua, kita tonton saja. Tolong siapkan kursi dan teh."

"Baik."

Aku duduk di kursi yang dibuat Fiona dengan memanipulasi pohon, lalu menonton pertempuran sambil minum teh.

"Oh, ini jadi lebih enak dari sebelumnya."

"Kemarin, saya diajari oleh Nona Sylpha. Kalau pijatan, dari Nona Tao."

"Heh, hebat juga."

Seingatku beberapa hari lalu, Sylpha dan yang lainnya memang terlihat mengajari Fiona berbagai hal. "Untuk menjadi pendamping Lloyd-sama, setidaknya harus bisa melakukan ini," begitu kata mereka.

Aku sama sekali tidak berniat menjadikan dia pendamping, tapi ini terasa cukup nyaman.

"……Hm, Fiona, apa kamu baru saja tersenyum?"

"Eh…… Benarkah?"

Hanya perasaanku saja?

Tidak, dibandingkan saat pertama kali bertemu, raut wajahnya pasti terasa lebih hidup.

Fiona yang sedang melayaniku terlihat entah bagaimana tampak senang.

……Yah, sudahlah. Daripada itu, lebih penting soal World Tree.

"Makhluk ini adalah inti dungeon... bukan, bos penjaganya? Apa pun itu, kemampuan tempur sebesar ini jauh lebih kuat dari bangsa Iblis biasa……! Memang pantas disebut World Tree yang ada sejak zaman purba. Mumpung ada kesempatan, akan kuanalisis sepuasnya selagi ada celah ini— Appraisal."

──Hmm, gumpalan energi sihir yang terlihat di bagian pusat itu pasti intinya.

Kemungkinan besar tipe menyatu, di mana bos dan intinya menjadi satu kesatuan.

Sepertinya dia membentuk tubuh dengan mengalirkan energi sihir melalui pepohonan, tapi densitas energinya sangat luar biasa.

Sampai-sampai Appraisal-ku pun sedikit kabur, ini benar-benar hebat.

Tapi dengan energi sihir sebanyak ini, untuk apa dia masih menginginkan energi sihirku…… ini perlu diselidiki secara mendalam.

"Akan kubuat kamu telanjang bulat. ──■"

Dengan penuh antusias, aku merapalkan mantra berantai yang lagi-lagi adalah Appraisal.

Namun, ini adalah versi aransemen dari lagu sihir yang memicu aktivasi berantai beberapa sihir dengan mengubah formula menjadi sumber bunyi.

Satu nada yang mengandung formula akan menciptakan formula-formula baru dalam Appraisal yang tak terbatas.

Dengan ini, aku bisa meneliti setiap jengkal World Tree, bahkan sampai ke tiap helai garis energi sihir yang mengalir di seluruh tubuhnya.

"Informasinya benar-benar melimpah. Hmm, semakin dilihat semakin dalam."

Jalur energi sihir dari tubuh raksasa yang tumbuh selama puluhan ribu tahun ini sangatlah luas, jumlah informasinya melampaui level yang bisa ditampung otak manusia.

Seandainya aku menerima pemrosesan data itu langsung dengan tubuh fisik, kepalaku mungkin akan meledak karena kelebihan informasi, tapi aku memasukkannya ke dalam 'Buku Musik' yang kubuat sebelumnya dalam bentuk lagu sihir.

Buku yang terbuat dari tubuh energi ini bisa menuliskan informasi yang hampir tak terbatas dengan syarat diubah menjadi lembaran musik.

Wah, berkat bisa membuat tubuh energi, banyak hal jadi berjalan lancar.

"……Hmm, begitu rupanya, memang benar di dalam World Tree secara keseluruhan sedang kekurangan energi sihir. Energi sihir yang diserap sebagai dungeon tipe bersahabat tidak cukup untuk menopangnya."

Bagian dalam World Tree secara umum mengalami kekeringan energi sihir, dan semakin ke dalam, bentuknya semakin berubah aneh.

Seolah-olah sedang mendekap 'sesuatu', energi sihir terlihat mengalir ke sana.

Apa sebenarnya ini? Aku harus melakukan Appraisal lebih detail lagi—

"GUAAAAAAAAA!?"

──Tepat saat aku hendak melakukannya, World Tree menjerit histeris dan tumbang.

Oh, apa sudah selesai? Ternyata lebih cepat dari dugaan.

"Hehe, gampang banget. Makhluk ini tidak ada apa-apanya."

"Fuh, sepertinya kamilah yang sudah menjadi terlalu kuat."

Grim dan Jiriel menatap rendah ke arah World Tree dengan wajah bangga, tapi menurutku akan bahaya kalau mereka bertarung satu lawan satu.

Kalian sendiri juga sudah babak belur, 'kan. Berani sekali sesumbar begitu.

"Sialan! Seandainya ada energi sihir, seandainya saja ada energi sihirrrrr!"

World Tree menghantamkan tinjunya ke tanah dengan penuh penyesalan. Yah, kecocokan kalian memang buruk.

Dengan serangan fisik langsung pada wujud nyata, mereka berdua yang merupakan makhluk energi tidak akan menerima kerusakan berarti.

Lain ceritanya jika ada perbedaan energi sihir yang mutlak, tapi kenyataannya tidak ada.

Itu cuma alasan orang kalah. Namun, mereka berdua bereaksi terhadap kata-kata itu.

"Hah? Aku tidak bisa membiarkan ucapan itu lewat begitu saja. Biar punya energi sihir sedikit pun, kami tidak akan kalah dari makhluk sepertimu."

"Benar. Mengatakan bualan yang tidak bermutu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri, tahu!? Fuhahahahaha!"

"Guuu…… Cuma selevel Iblis dan Malaikat rendahan beraninyaaa! Jika saja energi sihirku cukup, aku tidak akan kalah dari kalian……!"

Sambil menatap rendah ke arah World Tree yang meraung, Grim perlahan turun melayang.

"Hoho? Jadi kamu bilang kalau punya energi sihir kamu bisa menang? Melawan kami?"

"Tentu saja. Akan kuhancurkan kalian sampai tak bersisa……!"

"Fuh, tidak mungkin. Itu hanyalah dusta tanpa dasar. Tidak perlu mendengarkan ucapannya."

"……Hun, mungkin saja. Tapi apa pun alasannya, kenyataannya kamu sudah kalah. Cepat berikan serangan terakhir. ……Ah, seandainya saja ada energi sihir, aku tidak akan kalah dari orang-orang ini…… ini jugalah takdir. Fuh, hahahahah! Kalian beruntung."

"……"

Wah, wah, dia benar-benar memprovokasi. Provokasi habis-habisan.

Grim dan Jiriel saling bertatapan dalam diam, namun kemudian mereka membalas.

"Heh, dasar bodoh! Mana mungkin kami terpancing provokasi murahan begitu! Lloyd-sama, tidak perlu repot-repot meladeni pancingan seperti ini!"

"Benar sekali. Memang ada sedikit rasa kurang puas, tapi tidak mungkin kami melakukan tindakan bodoh seperti memberikan kekuatan pada musuh! Jangan remehkan kami!"

Ooh, meskipun diprovokasi seperti itu mereka tidak terpancing, mereka berdua ternyata cukup serius ya.

Padahal bagiku, sangat disayangkan mengalahkan musuh dengan potensi sebesar itu tanpa membiarkannya mengeluarkan kekuatan penuh.

Kenyataannya, ucapannya bukan sekadar gertakan belaka.

Garis energi sihir yang mengalir di dalam World Tree tersebar ke seluruh pelosok tubuh raksasanya, namun di bagian dalam hampir kosong melompong, sehingga jelas dia tidak bisa mengeluarkan kekuatannya.

Aku tidak keberatan memberikan kekuatan untuk melihat apa yang bisa dilakukan dalam kondisi sempurna, asalkan Grim dan yang lain setuju—

"Kyaaaaaa!"

Tepat saat aku sedang merencanakan niat jahat itu. Sulur-sulur melilit seluruh tubuh Fiona.

Luar biasa. Apa dia menyerap dan melenyapkan Magic Barrier yang terbentang di sekitar Fiona?

Sihir yang sudah terlepas dariku akan lenyap jika energi sihir yang mempertahankannya habis.

Penyerapan energi sihir, ya, dia menunjukkan kemampuan yang menarik.

"Waduh, ini bukan waktunya untuk kagum. Harus segera menolongnya."

Sambil mendekap Fiona, aku membentangkan Magic Barrier.

Sulur-sulur yang melilit terpental jauh.

Namun saat dibentangkan, sulur-sulur tersebut justru menyelimuti seluruh permukaan Magic Barrier.

"Fuhahahahahaha! Akhirnya kamu menunjukkan celah! Energi sihirmu, akan kuambil semuanyaaaaa!"

Bersamaan dengan itu, dia mulai menghisap energi sihirku dengan ganas.

Begitu rupanya. Dia berpura-pura mengincar Fiona untuk menjebakku yang akan menolongnya.

Tapi, menganggap aku tidak bisa menyerang saat membentangkan Magic Barrier itu terlalu naif.

Aku hendak melepaskan Fireball seketika, namun aku berhenti. ……Tidak, aku memikirkan sesuatu yang lebih menarik.

"……Aduh-aduh, kalau kamu memang sangat menginginkan energi sihirku, baiklah. ──Akan kuberikan."

Bergumam begitu, aku langsung meledakkan seluruh cadangan energi sihir di dalam tubuhku.

Seketika, energi sihir densitas tinggi bersemayam di dalam Magic Barrier, dan sulur-sulur yang mencoba menghisap energi sihir itu pun putus berkeping-keping.

"Nu…… guoooooo……!?"

"Nah, nah, ada apa? Aku bahkan belum mengeluarkan satu persen pun dari kekuatan penuhku, lho."

Menghisap energi sihir milik orang lain itu sangatlah sulit.

Setiap pemilik energi sihir memiliki panjang gelombang energi yang unik, dan saat proses transfer, gelombang itu harus diselaraskan.

Lain ceritanya jika lawan dalam kondisi lemah atau kooperatif sehingga gelombangnya datar, tapi untuk menyerap dari musuh, dibutuhkan bantuan dari berbagai formula sihir.

Contohnya adalah Magic Absorption atau 'Buku Musik' yang kugunakan.

World Tree tidak begitu, dia menyerap energi sihirku seperti akar tumbuhan yang menyedot air dari tanah.

Itu adalah cara kasar khas tumbuhan, tapi seharusnya butuh waktu lama untuk menjadikan energi sihir orang lain menjadi miliknya sendiri.

Apa yang terjadi jika energi sihir dikirimkan secara masif hingga dia tidak sempat memprosesnya……

Paaaang! Aliran energi sihir mengamuk dahsyat, dan sulur-sulur yang menutupi diriku terpental hebat.

"Uooo! Dengan mengalirkan energi sihir dalam jumlah besar sekaligus, sulur-sulurnya jadi hancur berantakan!"

"Menghancurkan sulur milik makhluk yang sekuat itu hanya dengan mengalirkan energi sihir…… Benar-benar Lloyd-sama!"

Yah, jadinya bakal seperti ini. Sulur yang jatuh ke tanah hancur berkeping-keping karena dihantam energi sihir berlebih secara instan.

"……Fuu, kamu tidak apa-apa? Fiona."

"Saya, baik-baik saja……"

Sambil menatap reruntuhan sulur yang hancur berantakan, aku mendarat sambil tetap mendekap Fiona.

"Tapi Lloyd-sama sendiri apa tidak apa-apa!?"

"Sepertinya Anda baru saja melepaskan energi sihir dalam jumlah yang cukup besar……"

"Tidak, cuma sekitar sepuluh persen. Akan segera pulih secara alami, kok."

"Cuma…… sepuluh persen……!? S-Seperti biasa, ini sama sekali bukan bahan bercanda ya……"

"Lloyd-sama terus memperbarui efisiensi energi sihirnya dengan berbagai pengetahuan…… tetap saja sepuluh persen itu mengerikan."

Berkat koneksi dengan sihir militer dan Digarda, kebijaksanaan Raja Iblis, serta hal-hal lainnya, efisiensi energi sihirku meningkat beberapa kali lipat dari sebelumnya.

Hasilnya, sihir yang kugunakan sehari-hari hampir tanpa biaya, dan jika melepaskan sedikit energi sihir, itu akan segera pulih.

"──Kuk."

Tiba-tiba, tawa tertahan bergema. Itu adalah World Tree.

Jumlah energi sihir yang dipancarkan oleh wujud manusia pohon baru yang muncul dari tanah jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Hoho, sepertinya pada saat tadi, dia sempat menyerap sedikit energi sihirku.

Padahal aku sudah mencincang sulurnya, tapi…… dasar tumbuhan, dia benar-benar ahli dalam hal menyerap. Boleh juga.

"Luar biasa…… Bisa mendapatkan kekuatan sebesar ini hanya dalam sekejap……! Dengan ini aku bisa mengeluarkan seluruh kekuatanku! Fuhahahaha!"

"──Tidak akan kubiarkan."

Grim dan Jiriel berdiri menghalangi di depan World Tree yang tertawa terbahak-bahak.

"Cih, pada dasarnya ini salah kami karena tidak memberikan serangan terakhir tadi. Lloyd-sama, kami yang akan bertanggung jawab untuk menghabisi makhluk ini, jadi tenanglah."

"Benar. Asal Anda tahu, sampai sekarang kami sama sekali belum serius. Dengan kata lain, pertarungan yang sesungguhnya baru dimulai dari sini."

Ooh, mereka bersemangat sekali.

Sepertinya provokasi tadi benar-benar membekas. World Tree melirik mereka berdua sekilas, lalu tertawa.

"Hm…… kalian masih ada di sini? Kuk, baiklah. Kalau mau mati akan kubunuh, maju saja sini."

"Tanpa dibilang pun kami akan maju!"

Grim melesat maju bersamaan dengan teriakannya. World Tree menahan tinju yang diselimuti api itu dengan tangan kosong.

"Gu…… oooooo!"

Tanpa membuang waktu, Grim melancarkan rentetan pukulan ke arah tubuhnya dengan tangan satunya lagi.

Api berpindah secara perlahan ke tubuh World Tree seiring dengan pukulan beruntun itu, dan perlahan mulai menyelimuti serta membakar tubuhnya.

Ditambah dengan serangan susulan berupa tendangan tajam, World Tree terpental hingga menghantam dinding.

"Rasakan iniiii! Abyssal Dark Flash Cannon!"

Sebagai serangan penutup, sebuah hantaman energi sihir yang diselimuti api hitam dilepaskan.

Daya rusaknya meningkat lebih besar dari sebelumnya, dan ledakan dahsyat terjadi bersamaan dengan benturan tersebut.

Sepertinya ucapan kalau mereka belum serius tadi bukan sekadar bualan belaka, tapi──sama sekali tidak mempan.

Sesosok bayangan bergerak perlahan di dalam asap putih yang membumbung tinggi.

Begitu asap menghilang, World Tree muncul dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ti—Tidak mungkin…… Itu serangan terkuatku, lho……?"

"Fufufu……"

Dengan senyum tertahan, World Tree mengangkat ujung jarinya perlahan, lalu sebuah kilatan cahaya melesat.

Tepat saat kilatan itu hendak menembus Grim yang sedang terpana,

"Hei, jangan melamun!"

Jiriel melompat masuk melindungi Grim dan menghindar.

"Ma-Maaf……! Kamu…… tidak apa-apa!?"

"……Hun, aku juga tidak bisa menertawakanmu, tapi……"

Terdapat lubang besar di sayapnya, dan Jiriel memasang wajah menahan sakit.

Sayap Malaikat milik Jiriel adalah bagian di mana energi sihir paling terkonsentrasi di dalam tubuh.

Tentu saja sayap itu sangat keras dan berfungsi sebagai perisai.

Bisa menembusnya dengan semudah itu membuktikan bahwa World Tree sekarang sudah benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Wah, sepertinya ini terlalu berat buat mereka berdua.

Karena aku juga penyebabnya, apa sebaiknya aku membantu?

Saat aku sedang berpikir, Grim dan Jiriel mulai menggumamkan sesuatu.

"……Hei, kita memalukan banget ya. Sudah sesumbar begitu tapi malah berakhir begini. Padahal Lloyd-sama sedang menonton."

"Ya, aku benar-benar lengah. Bukan pada dia, tapi pada jumlah energi sihir Lloyd-sama. Tapi, kamu tidak berniat kalah begitu saja, 'kan?"

"Tentu saja. ……Akan kugunakan teknik itu, yang kita ciptakan untuk mengejutkan Lloyd-sama."

"Hou, jadi kamu berniat menggunakan itu. ……Baiklah. Dengan teknik itu, pasti kita bisa menghabisinya dengan telak. Agak sayang sih menggunakannya pada kayu begini, tapi mau bagaimana lagi."

"Benar juga ya. Kita tidak boleh memperlihatkan penampilan memalukan lebih dari ini!"

Gou!

Energi sihir mereka berdua meledak sekaligus.

Energi sihir hitam dan putih berpusar, membuat udara bergetar.

Aliran energi sihir itu berkumpul di tengah mereka berdua dan terkondensasi.

Kekuatan yang saling bertolak belakang menciptakan efek sinergi, menghasilkan kekuatan yang sangat dahsyat.

"Hei, dasar Kayu Rongsokan! Serangan yang akan kami lepaskan sekarang adalah keseriusan dari yang paling serius! Asal tahu saja, serangan ini tidak akan bisa ditahan oleh makhluk sepertimu! Kalau kena, kamu pasti akan mampus!"

"Yah, pengecut sepertimu tidak mungkin punya nyali untuk menerimanya langsung dari depan, sih! Kalau takut, silakan lari saja!"

"Heh, itu ide bagus. Kalau tidak mau mati, mending lari sambil menekuk ekormu sana. Gya-ha-ha!"

Melihat mereka berdua berpidato panjang lebar, Fiona bertanya.

"Kenapa mereka melakukan hal itu? Padahal mereka bisa langsung menembak tanpa berkata apa pun……"

"Itu provokasi. Kemungkinan teknik itu masih dalam tahap latihan dan tingkat kemahirannya masih rendah. Kalau ditembak biasa akan mudah dihindari, jadi mereka mencoba menggelitik harga diri lawan agar dia mau menahannya."

Dilihat dari percakapan sebelumnya, World Tree sepertinya punya harga diri yang cukup tinggi.

Makhluk seperti itu tidak akan memilih pilihan untuk lari dari lawan yang pernah dia kalahkan telak sebelumnya.

Justru dia pasti berpikir ingin menahan serangan itu dan meraih kemenangan sempurna.

Mereka berdua memanfaatkan psikologi tersebut. Nah, kira-kira bagaimana dia akan merespons?

"……"

World Tree melirik ke arahku sebentar. Mungkin dia berpikir aku akan ikut campur, tapi tentu saja aku tidak berniat begitu.

Setelah menyerahkan tugas pada bawahan lalu datang belakangan untuk merebutnya adalah hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang atasan, Albert sudah berulang kali menceramahi hal itu padaku sampai telingaku panas. Jadi aku berniat menghargai keinginan mereka berdua.

Terlebih lagi mereka sedang melakukan hal yang menarik begini, kalaupun aku mau turun tangan, nanti saja belakangan juga boleh. "Silakan," aku memberikan isyarat dengan telapak tanganku.

Setelah berpikir sejenak, World Tree menancapkan akarnya ke tanah.

"──Baiklah. Akan kuterima serangan itu."

Sepertinya dia berniat menahannya. Grim dan Jiriel mengangguk seolah rencana mereka berhasil.

"Hah! Terpancing juga kau, Dasar Patung Kayu! Mampuslah!"

"Dengarkanlah simfoni yang kami mainkan. ──Dual Fang of Heaven and Demon—!"

Hitam dan putih, dua energi sihir membentuk taring dan menerjang World Tree. Ini…… mirip sekali dengan sihir orisinal yang kubuat dulu, Ash Demon Fang. Meski tidak sebanding dengan milikku, sihir Triple Casting ini sanggup membantai Iblis tingkat tinggi dalam satu serangan──dan itu menembus World Tree.

"UUOOOOOOOOOO!?"

Kilatan cahaya meledak, dan World Tree menjerit histeris.

Duuuum!

Guncangan tanah terjadi, dan sebuah lubang besar tercipta di dinding.

Di dalam asap putih, World Tree berdiri dengan sisi kiri tubuhnya lenyap hancur, dan lengan kanannya juga patah berantakan.

Melihat kondisi World Tree, Grim dan Jiriel saling bertatapan.

"Hah, hah, ……k—kita berhasil! Hyah-ha! Rasakan itu!"

"Fu, fufun, tentu saja! Itu adalah teknik terhebat kami! Ini hasil yang wajar!"

Sambil terengah-engah, mereka berdua berpelukan gembira. World Tree yang mendongak melihat mereka tiba-tiba menunjukkan senyum di sudut bibirnya.

"……Begitu ya."

Bersamaan dengan itu, tubuhnya yang hancur pulih dalam sekejap.

Energi sihir di dalamnya tidak berkurang sedikit pun.

"Aku mencoba menerimanya, tapi ternyata tidak ada apa-apanya. Dinding luarku memang sedikit rusak, tapi masih dalam jangkauan regenerasi…… kuk, apa yang kalian senangi tanpa menyadari hal itu. Dasar bodoh. Mau kulihatkan sedikit keseriusanku? ……Kaa!"

Bersamaan dengan teriakan semangat, badai energi sihir mengamuk.

Jumlahnya, kekuatannya, dan densitasnya jauh melampaui serangan tadi.

Terkena intimidasi yang luar biasa, wajah mereka berdua seketika menjadi pucat.

"T—Tidak mungkin…… Setelah menerima serangan itu dia sama sekali tidak bergeming……?"

"T—Tidak bisa dipercaya…… Padahal dia masih melepaskan energi sihir sebanyak itu……?"

Keduanya terpana. World Tree menendang tanah dan berpindah secara instan ke depan mata mereka.

Aliran energi sihir yang dilepaskan dari kedua lengannya yang diayunkan jauh lebih tinggi daripada serangan mereka berdua tadi.

"Mampuslah kalian! Dasar sampah!"

Tepat saat tinju itu hendak diayunkan, aku berdiri di depan mereka menggunakan Teleportation.

Lalu aku menahannya dengan Magic Barrier yang kubentangkan dengan cepat.

Dun!

Suara berat bergema, dan beberapa lapis pelindung hancur berkeping-keping.

"……Sudah selesai menontonnya? Melindungi pelayan, kamu cukup baik juga ya. Tapi aku terkejut. Bisa menahan serangan ini dengan begitu mudah."

"Kamu sendiri jadi lumayan kuat, ya. Aku tidak menyangka kamu bisa menembus Magic Barrier-ku."

"Fuh, jangan membual. Kamu sengaja membiarkan pelindung itu hancur agar bisa menangkapku, 'kan?"

……Ketahuan ya. Aku membiarkan Magic Barrier hancur lalu meningkatkan kekuatannya agar lengannya terjepit dan tidak bisa ditarik.

"Maaf, tapi sepertinya bertarung denganmu sekarang masih terlalu berbahaya. Aku akan undur diri dari sini."

"Mau lari? Kamu pikir aku akan membiarkannya?"

"Aku tidak lari. Aku yang akan mengusir kalian!"

Degun, seluruh ruangan berdenyut hebat, dan kami terlempar ke udara.

Bagian dalam ruangan berputar-putar sampai aku tidak tahu lagi mana atas dan bawah, ruangan itu berdenyut seolah-olah sebuah makhluk hidup.

"Gyaaaaa—!?"

"Mataku pusingggg—!?"

Aku menangkap Grim, Jiriel, dan Fiona yang terpental ke sana kemari. Duh, kalian berdua 'kan bisa melayang.

"Ma—Maafkan saya, Lloyd-sama……"

"Karena syok dikalahkan. Saya jadi panik……"

"Yah sudahlah…… tapi ke mana dia pergi?"

Di saat yang sama ruangan terus berubah bentuk, dan saat aku sadar, World Tree sudah menghilang hanya dengan meninggalkan lengan yang terputus.

Dia menyembunyikan keberadaannya, ya. Saat aku sedang memikirkan cara melacaknya, langit-langit mulai runtuh.

Tidak hanya itu. Dungeon──World Tree itu sendiri sedang runtuh.

Dinding dan langit-langit hancur hingga langit terlihat, dan dari sana terlihat 'sesuatu' yang raksasa terbang membumbung ke angkasa.

"Apa-apaan!? Ada kelabang raksasa terbang di langit!?"

"Terlebih lagi, dia menelan inti makhluk itu!"

Bajingan itu, apa dia berniat membiarkan monster ciptaannya membawanya pergi entah ke mana?

Kelabang itu terbang seolah merayap di langit, lalu menghilang di balik awan.

Aku tidak tahu apa rencananya, tapi targetku adalah inti dari World Tree. Tidak akan kubiarkan dia kabur.

"Kita akan segera mengejarnya. Berbahaya, jadi Fiona turunlah."

"Ah, Lloyd-sama……!"

Aku menurunkan Fiona ke tanah, lalu aku melesat dari permukaan menggunakan Flight. Dan dalam sekejap, aku sudah sampai di depan mata kelabang itu.

"Cih... kau masih mengejarku, ya...!"

"Aku bersyukur kau naik ke langit. Di sini tidak akan ada orang lain yang terkena dampaknya."

Sihir kuno di tangan kiri, sihir suci di tangan kanan.

Aku menyatukan keduanya dengan sihir penyegelan lalu membidiknya.

──Sihir orisinal dengan pelafalan rangkap tiga, Ash Demon Fang.

Kilatan cahaya yang bercampur antara hitam dan putih melesat ke arah kelabang raksasa itu.

"Nu!? Gwaaaaaaaah!!"

Sepertinya dia mencoba bertahan dengan membentangkan pelindung mana, tapi sihirku tidak cukup murah untuk bisa dihentikan oleh pertahanan sekelas itu.

Kilatan cahaya itu menembus pelindung mana sekaligus kepala sihir kelabang tersebut.

Serangan itu terus mengikis tubuhnya, bahkan hingga melenyapkan ujung ekor yang tersisa.

Setelah menghapus segalanya, kilatan cahaya itu menembus awan dan menghilang ke kejauhan.

"Uwooh! Memang Ash Demon Fang yang asli itu beda kelas! Kekuatannya berkali-kali lipat, tidak, puluhan kali lipat dari milik kita!"

"Ya, kalau itu yang digunakan, pohon sebesar apa pun pasti tidak akan berkutik! Sungguh luar biasa, Lloyd-sama!"

"……?"

Melihat mereka berdua melompat kegirangan, aku justru merasa ada yang mengganjal.

Alasanku menggunakan Ash Demon Fang adalah untuk menangkap inti dari World Tree.

Sihir orisinal yang bahkan bisa membantai iblis tingkat tinggi ini diciptakan khusus untuk menghadapi entitas mana berpertahanan tinggi.

Selain kekuatannya, nilai asli sihir ini terletak pada kemampuannya untuk mengejar dan melahap entitas mana yang terurai akibat kerusakan.

Inti dari sebuah dungeon adalah kristal mana konsentrasi tinggi, yang memiliki sifat mirip dengan entitas mana.

Harusnya, aku sudah mengubah rumusnya agar sihir itu membawa pulang intinya, tapi Ash Demon Fang justru menghancurkan World Tree dan menghilang entah ke mana.

"Hmm, aneh sekali... ada yang salah."

Ke mana hilangnya? Jangankan terlihat, aku bahkan tidak bisa mendeteksi keberadaannya... Padahal kurasa aku tidak sampai melenyapkannya secara total.

Sambil merasakan kejanggalan itu, aku turun perlahan dan mulai mendengar suara-suara.

"Lloyd-sama—! Anda di mana—!?"

"Ooi, Lloyd! Kau sembunyi di mana, aru—!?"

"……Gawat."

Dari atas, aku bisa melihat Sylpha dan yang lainnya sedang mencariku ke sana kemari.

Wajar saja kalau mereka muncul, mengingat guncangan tadi membuat dungeon itu sendiri runtuh.

"Sial. Aku benar-benar melupakan Sylpha dan yang lainnya."

Meski kejanggalan yang ditinggalkan World Tree membuatku penasaran, sekarang bukan saatnya untuk itu.

Aku mendarat diam-diam di tanah, lalu menampakkan diri seolah tidak terjadi apa-apa.

"Y-Ya, semuanya. Apa ada yang terluka...?"

Hampir di saat bersamaan, Sylpha menerjang dan memelukku dengan sangat erat.

"Lloyd-sama!"

Dia terus menenggelamkan wajahku ke dadanya. Ugugu, aku tidak bisa bernapas.

"Aaah, syukurlah Anda selamat... Sylpha sangat bahagia!"

"Heit, Pelayan, dia kelihatan kesakitan, aru. Lagipula Lloyd tidak mungkin mati cuma karena hal begini, aru."

"Dia cuma memanfaatkan kesempatan agar bisa memeluk Lloyd secara legal, tahu..."

"Kyuu~n."

Tao dan yang lainnya menatap dengan pandangan dingin, tapi aku ingin mereka segera menolongku alih-alih hanya menonton. Ini benar-benar sesak.

"……Hah, m-mohon maafkan saya. Tadi saya refleks..."

Akhirnya Sylpha melepaskanku. Uhuk, uhuk, kupikir aku bakal mati tadi.

……Pokoknya, syukurlah tidak ketahuan. Benar-benar nyaris.

"Ngomong-ngomong Lloyd-sama, apa Anda tidak melupakan seseorang?"

"Ah! Benar juga, Fiona tidak kelihatan di mana pun!"

Kalau dipikir-pikir, Fiona yang harusnya kuturunkan di sekitar sini tidak terlihat.

Jangan-jangan dia terjebak dalam reruntuhan bangunan. ……Aku mencoba mencarinya dengan deteksi mana, tapi hawa keberadaan Fiona tidak terasa di sekitar sini.

"Lloyd, bantu aku! Kita harus menolong para Elf!"

"……Kau benar."

Aku mengangguk menanggapi perkataan Ren.

Pertarungan tadi menghancurkan area sekeliling, dan para Elf yang terjebak mulai merintih kesakitan.

Sayangnya, sekarang bukan waktunya hanya memedulikan Fiona. Yah, kalau dicari sambil lalu, mungkin dia akan muncul sendiri nanti.

……Atau lebih tepatnya, aku merasa ada satu orang lagi yang kulupakan... yah, kalau sampai terlupa, berarti dia bukan orang yang penting-penting amat.

Kami pun mulai melakukan penyelamatan terhadap para Elf.

Istana dan rumah-rumah yang terkena dampak runtuhnya World Tree hancur berantakan, kota ini benar-benar kacau.

Meski aku sempat menyelimuti seluruh kota dengan pelindung mana untuk meredam guncangan di saat-saat terakhir, tetap saja kerusakannya cukup parah.

Aku segera bergabung dengan Sylpha dan yang lainnya dalam kegiatan penyelamatan, mengangkat para Elf yang tertimbun reruntuhan satu demi satu.

Kalau mau, aku bisa melenyapkan reruntuhan itu dalam sekejap, tapi karena ada Sylpha dan Tao, aku tidak bisa melakukan tindakan yang terlalu mencolok.

Aku membentangkan sihir tipe pohon Tree Castle Canopy ke seluruh negeri agar para korban luka tidak tertimpa lebih jauh, lalu baru mulai bekerja, jadi prosesnya memakan waktu.

Ya ampun, bertindak tanpa menarik perhatian itu ternyata cukup merepotkan.

"Bisa membentangkan sihir sebanyak ini dengan tingkat akurasi tinggi dalam sekejap, Anda memang tetap tidak masuk akal seperti biasanya."

"Benar, meski memakan waktu, tapi tidak adanya korban jiwa di tengah kerusakan sebesar ini benar-benar sebuah keajaiban."

Sambil mendengarkan gerutuan Grim dan Jiriel, aku menyingkirkan reruntuhan besar dengan Levitation dan menumpuknya rapi.

Saat aku mengangkat beban, Sylpha, Tao, dan para Elf yang masih bisa bergerak segera menyelamatkan korban yang tertimbun.

Kami menggunakan penciuman Shiro untuk mencari orang yang tertimbun, sementara Ren bertugas mengobati luka-luka. Sudah hampir seratus orang berhasil diselamatkan.

"Lloyd-sama memang hebat. Menyingkirkan tumpukan reruntuhan sebesar itu semudah bermain balok susun... kekuatan Anda sepertinya bertambah lagi dari sebelumnya."

"Bahkan reruntuhan yang butuh tenaga penuh bagi kami bisa diangkatnya dengan santai. Sihir memang luar biasa, aru. Tidak, Lloyd-lah yang luar biasa, aru."

"Padahal itu dia sudah menahan diri, lho... Biasanya dia melempar reruntuhan yang lebih besar dari itu dengan entengnya."

"On! On!"

Entah kenapa aku merasa Sylpha dan yang lainnya terus memerhatikanku.

Apa aku melakukannya secara berlebihan?

Padahal aku sudah sangat menahan diri.

Mungkin aku harus menurunkan sedikit lagi keluarannya... Apa segini cukup? Hmm, aku tidak tahu pastinya.

Saat aku sedang mencoba-coba, Grim yang kusuruh mencari Fiona pun kembali.

"Aku sudah mencari ke sekeliling sini, tapi si Fiona itu tidak ada di mana pun. Cih, dasar anak itu, ke mana dia pergi...!"

Grim mendesis cemas.

Bahkan deteksi manaku saja tidak bisa menemukannya, jadi wajar saja kalau tidak mudah ketemu.

"Ngomong-ngomong, Fiona itu pernah bilang kalau dia cuma boneka buatan World Tree, kan? Apa dia tidak ikut lenyap karena pohon itu tumbang?"

"Tidak, tidak mungkin. Fiona sudah sepenuhnya independen sebagai satu individu. Runtuhnya World Tree tidak akan memengaruhi keberadaannya sekarang."

Sama seperti jika aku mati, golem atau alat sihir buatanku tidak akan ikut lenyap.

Jadi, dia pasti ada di suatu tempat.

Satu-satunya kemungkinan adalah dia pergi meninggalkan kami atas kehendaknya sendiri...? Tapi apa alasannya... tidak, jika ingatannya kembali, itu mungkin saja terjadi.

Tak lama kemudian, Jiriel kembali dengan wajah pucat pasi.

"Lloyd-sama! T-Tolong lihat ini!"

Yang dibawa Jiriel adalah selembar kertas.

Itu adalah surat. Di sana terukir nama Fiona.

"Surat ini menempel di batang pohon yang terguling di sana!"

"Apa isinya? ──'Lloyd-sama, mohon maafkan saya. Saya teringat suatu urusan penting. Oleh karena itu, izinkan saya berpamitan untuk sementara waktu. Mohon maklum'... Begitu ya."

"Tulisan tangan ini pasti milik Fiona. Apa mungkin ingatannya sudah kembali? ...Meski begitu, ini terlalu mendadak. Sialan!"

Grim dan Jiriel tampak kesal sampai menggertakkan gigi, tapi—

"……Yah, kalau dia sendiri merasa tidak apa-apa, bukankah itu bagus?"

Aku berkata begitu sambil memasukkan surat itu ke dalam saku.

Aku tidak tahu situasinya, tapi sejak awal aku hanya berniat menjadikannya pemandu ke sini.

Dia tidak bekerja untukku, dan sekarang tujuanku sudah tercapai, aku tidak punya hak untuk melarangnya.

"Hah, yah, kalau Lloyd-sama bilang begitu, kami tidak keberatan, tapi..."

"Anda dingin sekali, ya. Rasanya benar-benar mengganjal bagi kami..."

"Tenang saja, suatu saat dia pasti akan muncul secara tiba-tiba."

Aku menjawab dengan santai.

Mungkin ada sesuatu yang harus dilakukan Fiona. Begitu urusannya selesai, dia pasti akan kembali.

Itulah alasan dia meninggalkan surat. Hal yang bisa kulakukan hanyalah memercayainya dan menunggu.

"Lagipula, sekarang kita harus melakukan sesuatu terhadap situasi ini, kan?"

"Oh, benar juga!"

Sambil berbicara, penyelamatan terus berlanjut.

Tanpa sadar, tempat pengungsian sudah dipenuhi banyak korban luka.

Karena aku membentangkan penghalang, tidak banyak yang menderita luka fatal, tapi kondisinya tetap saja mengenaskan.

Jika dibiarkan, korban jiwa akan terus berjatuhan.

"Lloyd! Tanaman obatku ada batasnya. Apa tidak bisa dilakukan sesuatu dengan sihir penyembuhan?"

"Sayangnya, aku sudah melakukannya."

Sejak aku tiba di sini, aku sudah membentangkan sihir penyembuhan dalam radius satu kilometer.

Seperti yang sudah kujelaskan, sihir penyembuhan hanya meningkatkan kemampuan pemulihan alami seseorang.

Jika sihir penyembuhan kuat diberikan sembarangan kepada orang yang terluka parah, lukanya bisa sembuh dengan buruk dan berisiko meninggalkan cacat permanen.

Hal seperti ini membutuhkan penanganan yang teliti dan tepat.

"Setidaknya kalau ada seseorang yang punya pengetahuan medis... Ah."

Kalau dipikir-pikir, ada satu orang di dekat sini. Kenalanku yang memiliki pengetahuan medis.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close