Epilog
Dunia yang Mulai Berwarna
Satu minggu telah berlalu sejak Federasi Ludain menginvasi Kyokuto.
Meskipun kami
sempat mewaspadai adanya serangan pengejaran dari pihak Federasi, hingga saat
ini belum ada pergerakan selanjutnya yang terkonfirmasi dari mereka.
Selain itu,
dari para tentara Federasi yang menjadi tawanan, kami berhasil mendapatkan
beberapa informasi mengenai situasi terkini di benua luar yang sebelumnya tidak
bisa kami ketahui akibat blokade informasi.
Di antara
informasi tersebut, peristiwa terbesar yang terjadi adalah berhasil
ditaklukkannya Labirin Besar di Timur yang berada di wilayah Federasi Ludain.
Dengan ini,
Labirin Besar yang masih eksis di dunia sekarang hanya tersisa dua, yaitu di
Utara dan di Selatan.
Labirin Besar
adalah perangkat untuk mempertahankan dunia, sekaligus perangkat untuk menyegel
Dewa Jahat.
Artinya, saat
dua labirin yang tersisa itu berhasil ditaklukkan──saat itulah waktu untuk
pertempuran penentuan melawan Dewa Jahat akan tiba.
Waktu
tersebut kini sedang mendekat dari detik ke detik.
"Orn,
wajahmu kelihatan serius lagi."
Saat sedang
merenungkan apa yang terjadi selama satu minggu ini, Shion yang duduk di
sebelahku tiba-tiba memanggil.
Suara yang
mendadak itu seketika menarikku kembali ke realitas dari dasar pemikiran yang
dalam.
Begitu
mendongak, aku melihat Shion dengan latar belakang pohon-pohon yang daunnya
memerah sedang mengintip ke arahku.
Menerima
pancaran cahaya musim gugur, rambut peraknya tampak bergoyang dengan lembut.
"……Maaf.
Aku sedang memikirkan sesuatu tadi."
"Sudah
kuduga. Aku bisa memahami perasaanmu, tapi setidaknya untuk saat ini, bagaimana
kalau kita menikmatinya saja tanpa memikirkan hal-hal yang berat?"
Profil
wajahnya yang tersenyum tipis itu benar-benar memberikan rasa tenang yang luar
biasa.
"Benar
juga, ya."
Aku
melemaskan pundakku yang tegang, lalu mengembuskan napas.
Saat
mengedarkan pandangan ke sekeliling, tampak pepohonan yang telah berubah warna
membentang di sepanjang sejauh mata memandang.
Setiap
kali angin berembus, daun-daun musim gugur berguguran dan menari di udara,
menciptakan hamparan karpet yang lembut di atas tanah.
Saat
ini, atas usulan Fuuka, kami semua datang untuk menikmati pemandangan daun
musim gugur (Momijigari).
Di
salah satu sudut, Fuuka dan yang lainnya sedang mengumpulkan dedaunan kering
untuk menyalakan api, memulai ritual memanggang ubi.
Suara
kayu yang berderprik kering terdengar bersahutan, bersamaan dengan aroma manis
yang mulai terbawa oleh embusan angin.
Fuuka
yang mengendus aroma harum itu tampak mengorbankan matanya yang berbinar-binar.
"Haruto,
belum matang ya?"
"Belum.
Tunggulah sebentar lagi."
Haruto-san
yang bertugas menjaga api mencoba menahan ketidaksabaran Fuuka.
"Aromanya
harum sekali ya, Kak Fuuka! Tapi, hari ini Kakak benar-benar tidak boleh makan
terlalu banyak, lho!"
"……?
Aku tidak pernah makan terlalu banyak, kok."
Katina-san
dan Huey-san tampak memandangi interaksi kedua orang itu yang kini seolah telah
menjadi tradisi dengan senyuman yang hangat.
"Ini
terasa mudah untuk diminum, ya."
Sembari
menangkupkan kedua tangannya pada cawan ocol yang mengeluarkan uap panas, Luna
tersenyum tipis.
Di tempat
yang agak terpisah, tiga orang yaitu Luna, Oliver, dan Kiryu-san tampak sedang
menikmati arak Jepang.
Aroma arak
yang dihangatkan dengan air panas berembus samar, menyelinap di antara celah
dedaunan musim gugur.
"Saya
sangat senang jika ini cocok dengan selera Nona Luna."
Kiryu-san
menyipitkan matanya dengan ramah, lalu memiringkan botol tokkuri di tangannya
untuk menuangkan kembali arak ke cawan Luna.
"Iya.
Aneh ya, rasanya jadi terasa lebih manis saat dihangatkan."
Luna
menyunggingkan senyuman di bibirnya, lalu meminumnya kembali satu teguk secara
perlahan.
"Tapi
omong-omong, jarang sekali melihat Luna minum alkohol atas keinginannya
sendiri."
Oliver
tertawa dengan nada heran.
"Memang
benar kalau selama ini saya hanya minum sekadar untuk menemani saja, tapi
karena sekarang saya sudah menginjak usia dua puluh tahun, saya pikir saya
ingin mulai menikmati alkohol."
Melihat
profil wajah Luna yang berkata demikian, entah mengapa aku merasa ada
kedewasaan yang tenang sedang bersemayam di dalam dirinya.
"Apakah
ada hubungannya dengan usia dua puluh tahun? Lagipula alkohol sudah legal
diminum sejak usia lima belas tahun setelah upacara kedewasaan, kan?"
Saat Oliver
bertanya sambil memiringkan kepalanya, Luna menatap cawannya seolah sedang
memikirkan sesuatu.
"Iya.
Bagi saya, ini adalah sebuah batasan titik balik yang besar."
Suara yang
menjawab dengan perlahan itu lambat laun melebur bersama suara pletikan dari
api unggun.
"Nona
Shion, Tuan Orn, apakah Anda ingin saya bawakan sesuatu untuk dimakan?"
Mendengar
suara yang lembut, aku berbalik dan mendapati Tershe sedang berdiri sembari
memeluk sebuah nampan.
"Terima
kasih, Tershe. Tapi untuk sekarang, kamu juga bebas menghabiskan waktu
sesukamu, kok."
Shion
melemparkan senyuman yang ramah.
Namun, Tershe
hanya sedikit menyipitkan matanya lalu menggelengkan kepala.
"Saya
sangat menghargai perhatian Anda. Namun, menghabiskan waktu untuk melayani Anda
berdua seperti inilah yang paling menenangkan hati saya."
Mendengar
kata-kata yang tenang itu, Shion mengerjapkan matanya sejenak sebelum akhirnya
tersenyum.
"Begitu
ya. Kalau begitu, aku yang harus berterima kasih. Aku selalu merasa terbantu oleh Tershe."
Merahnya api
unggun menerangi pipi kami, dan aroma daun kering yang terbakar tercium
samar-samar.
Di dalam
atmosfer yang seperti itu, Tershe mendadak menyunggingkan senyum di bibirnya,
persis seperti seorang anak kecil yang sedang merencanakan sebuah jahil.
"……Ah,
jadi begitu rupanya. Mohon maafkan saya karena tidak bisa menangkap maksud
tersirat dari ucapan Anda tadi."
"……Eh?"
Shion
memiringkan kepalanya mendengar perkataan Tershe.
"Ternyata
Anda hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Tuan Orn, ya."
"Eh!?"
Pundak
Shion seketika tersentak kaget.
Pipinya
langsung memerah dalam sekejap, dan dia mulai berbicara dengan gelagapan.
"A-Aku
tidak mengatakan hal seperti itu, tahu!? Aku merasa tenang kalau ada Tershe di
sini, dan aku sama sekali tidak pernah berpikir kalau kamu mengganggu!"
Melihat
Shion yang berusaha keras membela diri, Tershe pun tersenyum dengan raut
bahagia.
"Fufu.
Mohon maafkan saya. Sepertinya saya sudah mengoda Anda sedikit kelewatan."
"A-Aduh, benar-benar deh……"
Mendengarkan interaksi mereka berdua,
aku tidak bisa menahan senyum yang lolos dari bibirku.
Kemudian, dari kejauhan terdengar suara
yang biasanya menggema langsung di dalam kepala.
"……Nah,
sekarang 'berikan tanganmu'."
"Sudah
kubilang! Aku ini bukan anjing, tahu!"
Melihat
si mochi rubah berwarna merah muda pucat yang memasang telinganya tegak-tegak
karena marah, gadis bergaun putih Pixie justru memiringkan kepalanya bingung.
"……Kamu
ternyata suka meributkan hal-hal kecil, ya."
"Ini
bukan hal kecil! Dengar ya? Aku ini adalah monster agung yang telah menelan
semua monster yang terkurung di dalam bilah Shiroou──Rubah Ekor Sembilan,
tahu?!"
Sakuramochi
menegakkan satu ekornya yang lebat dan bulat, lalu membusungkan dadanya dengan
nada yang agak bangga.
Namun Pixie,
seolah sama sekali tidak peduli, hanya mengerjapkan matanya sekali.
"……Seperti
ritual gu poisoning (kodoku) itu, ya? ……Saat pemilik resmi Shiroou ditentukan,
para monster di dalam pedang saling bertarung satu sama lain, dan Sakuramochi
yang berhasil bertahan hidup sampai akhir menjadi satu-satunya pelayan Fuuka,
kan? Kamu sudah berjuang keras ya, Sakuramochi. ……Anak pintar,
anak pintar."
"Jangan
mengelus-elus kepalaku, Bocah!"
Di saat
kepalanya dielus, bulu-bulu Sakuramochi seketika langsung berdiri tegak.
Pixie sama
sekali tidak memedulikan reaksi itu dan hanya menggelengkan kepalanya.
"……Bukan
bocah. Namaku 'Pixie'. Aku punya nama yang jelas."
"……Kamu
juga ternyata mengatakan hal yang mirip seperti Fuuka, ya."
Sakuramochi
mendengus, lalu memalingkan pandangannya.
Meski begitu,
Pixie tetap melanjutkan kata-katanya dengan tenang.
"……Karena
nama adalah hadiah berharga yang didapatkan dari orang tua."
Suara itu
terdengar lirih, namun entah mengapa bergema jauh di lubuk dada.
Sakuramochi
sempat memejamkan matanya sesaat, lalu mendecakkan lidahnya.
"……Cih!"
Dia tidak
membahas masalah nama itu lebih jauh lagi.
Tepat saat
keheningan yang canggung sempat mengalir, Pixie kembali mengulurkan tangannya.
"……Karena
itu, 'berikan tanganmu'."
"SUDAH
KUBILANG AKU INI BUKAN ANJING, TAHU SEEEEEEENG!!!!"
Suara semua
orang menggema di gunung yang dipenuhi dedaunan musim gugur ini.
Fuuka yang
tampak bahagia dengan kedua tangan penuh memakan ubi panggang, dan Nagisa yang
menegurnya dengan wajah pasrah.
Percakapan
santai antara Luna dan Oliver.
Tershe yang
menjahili, dan Shion yang wajahnya memerah karena hal itu.
Suara polos
Pixie, berpadu dengan teriakan marah Sakuramochi.
Semua itu
mungkin hanyalah sekadar cuplikan dari keseharian biasa.
Namun, aku
tahu bahwa semua ini adalah hal yang sangat tak tergantikan.
Kami pasti
akan terus bertarung ke depannya.
Demi
menghalau niat jahat yang mendekat, dan demi menyambung masa depan umat
manusia.
──Agar suatu
hari nanti, hari-hari yang tenang tanpa ada kekhawatiran seperti ini bisa kami
habiskan selamanya.
Sembari
berharap demikian, aku menengadah menatap langit.
Matahari yang
hampir tenggelam di ujung gunung tampak menyisakan pendaran warna keemasan.
Pasti
ada seseorang, yang di detik ini juga sedang menatap langit yang sama.
Daun-daun
merah menari di udara, tampak berkilau setelah menerima pancaran sinar
matahari.
Sembari
memastikan kehangatan yang tersisa di dalam dada, aku pun memejamkan mata
perlahan.
──Namun di
saat yang sama, sebuah gejolak kecil mulai bernapas di lubuk hatiku yang
terdalam.
Labirin Besar
hanya tersisa dua.
Situasi dunia
saat ini sudah bukan lagi sesuatu yang bisa menghentikan penaklukan Labirin
Besar.
Dalam waktu
dekat, semua Labirin Besar pasti akan berhasil ditaklukkan.
Hal itu
sendiri adalah masa depan yang juga sangat kuinginkan.
Namun,
penaklukan Labirin Besar hanyalah sebuah awal.
Dewa Jahat
yang terbebas dari segel berbentuk Labirin Besar pasti akan bergerak untuk
memusnahkan umat manusia.
Demi
melindungi keseharian yang tenang ini, penaklukan Labirin Besar tidak boleh
dijadikan sebagai garis finis.
Menumbangkan
Dewa Jahat yang berdiri menghadang di depan sanalah yang menjadi tugas utamaku.
Demi terus
mengukir sejarah umat manusia, dan menyambungkannya menuju masa depan.
Hawa pertempuran penentuan yang kian mendekat, kini secara diam-diam namun pasti, mulai memenuhi seluruh dunia──.



Post a Comment