NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 10 Epilog

Epilog

Dunia yang Mulai Berwarna


Satu minggu telah berlalu sejak Federasi Ludain menginvasi Kyokuto.

Meskipun kami sempat mewaspadai adanya serangan pengejaran dari pihak Federasi, hingga saat ini belum ada pergerakan selanjutnya yang terkonfirmasi dari mereka.

Selain itu, dari para tentara Federasi yang menjadi tawanan, kami berhasil mendapatkan beberapa informasi mengenai situasi terkini di benua luar yang sebelumnya tidak bisa kami ketahui akibat blokade informasi.

Di antara informasi tersebut, peristiwa terbesar yang terjadi adalah berhasil ditaklukkannya Labirin Besar di Timur yang berada di wilayah Federasi Ludain.

Dengan ini, Labirin Besar yang masih eksis di dunia sekarang hanya tersisa dua, yaitu di Utara dan di Selatan.

Labirin Besar adalah perangkat untuk mempertahankan dunia, sekaligus perangkat untuk menyegel Dewa Jahat.

Artinya, saat dua labirin yang tersisa itu berhasil ditaklukkan──saat itulah waktu untuk pertempuran penentuan melawan Dewa Jahat akan tiba.

Waktu tersebut kini sedang mendekat dari detik ke detik.

"Orn, wajahmu kelihatan serius lagi."

Saat sedang merenungkan apa yang terjadi selama satu minggu ini, Shion yang duduk di sebelahku tiba-tiba memanggil.

Suara yang mendadak itu seketika menarikku kembali ke realitas dari dasar pemikiran yang dalam.

Begitu mendongak, aku melihat Shion dengan latar belakang pohon-pohon yang daunnya memerah sedang mengintip ke arahku.

Menerima pancaran cahaya musim gugur, rambut peraknya tampak bergoyang dengan lembut.

"……Maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu tadi."

"Sudah kuduga. Aku bisa memahami perasaanmu, tapi setidaknya untuk saat ini, bagaimana kalau kita menikmatinya saja tanpa memikirkan hal-hal yang berat?"

Profil wajahnya yang tersenyum tipis itu benar-benar memberikan rasa tenang yang luar biasa.

"Benar juga, ya."

Aku melemaskan pundakku yang tegang, lalu mengembuskan napas.

Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling, tampak pepohonan yang telah berubah warna membentang di sepanjang sejauh mata memandang.

Setiap kali angin berembus, daun-daun musim gugur berguguran dan menari di udara, menciptakan hamparan karpet yang lembut di atas tanah.

Saat ini, atas usulan Fuuka, kami semua datang untuk menikmati pemandangan daun musim gugur (Momijigari).

Di salah satu sudut, Fuuka dan yang lainnya sedang mengumpulkan dedaunan kering untuk menyalakan api, memulai ritual memanggang ubi.

Suara kayu yang berderprik kering terdengar bersahutan, bersamaan dengan aroma manis yang mulai terbawa oleh embusan angin.

Fuuka yang mengendus aroma harum itu tampak mengorbankan matanya yang berbinar-binar.

"Haruto, belum matang ya?"

"Belum. Tunggulah sebentar lagi."

Haruto-san yang bertugas menjaga api mencoba menahan ketidaksabaran Fuuka.

"Aromanya harum sekali ya, Kak Fuuka! Tapi, hari ini Kakak benar-benar tidak boleh makan terlalu banyak, lho!"

"……? Aku tidak pernah makan terlalu banyak, kok."

Katina-san dan Huey-san tampak memandangi interaksi kedua orang itu yang kini seolah telah menjadi tradisi dengan senyuman yang hangat.

"Ini terasa mudah untuk diminum, ya."

Sembari menangkupkan kedua tangannya pada cawan ocol yang mengeluarkan uap panas, Luna tersenyum tipis.

Di tempat yang agak terpisah, tiga orang yaitu Luna, Oliver, dan Kiryu-san tampak sedang menikmati arak Jepang.

Aroma arak yang dihangatkan dengan air panas berembus samar, menyelinap di antara celah dedaunan musim gugur.

"Saya sangat senang jika ini cocok dengan selera Nona Luna."

Kiryu-san menyipitkan matanya dengan ramah, lalu memiringkan botol tokkuri di tangannya untuk menuangkan kembali arak ke cawan Luna.

"Iya. Aneh ya, rasanya jadi terasa lebih manis saat dihangatkan."

Luna menyunggingkan senyuman di bibirnya, lalu meminumnya kembali satu teguk secara perlahan.

"Tapi omong-omong, jarang sekali melihat Luna minum alkohol atas keinginannya sendiri."

Oliver tertawa dengan nada heran.

"Memang benar kalau selama ini saya hanya minum sekadar untuk menemani saja, tapi karena sekarang saya sudah menginjak usia dua puluh tahun, saya pikir saya ingin mulai menikmati alkohol."

Melihat profil wajah Luna yang berkata demikian, entah mengapa aku merasa ada kedewasaan yang tenang sedang bersemayam di dalam dirinya.

"Apakah ada hubungannya dengan usia dua puluh tahun? Lagipula alkohol sudah legal diminum sejak usia lima belas tahun setelah upacara kedewasaan, kan?"

Saat Oliver bertanya sambil memiringkan kepalanya, Luna menatap cawannya seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Iya. Bagi saya, ini adalah sebuah batasan titik balik yang besar."

Suara yang menjawab dengan perlahan itu lambat laun melebur bersama suara pletikan dari api unggun.

"Nona Shion, Tuan Orn, apakah Anda ingin saya bawakan sesuatu untuk dimakan?"

Mendengar suara yang lembut, aku berbalik dan mendapati Tershe sedang berdiri sembari memeluk sebuah nampan.

"Terima kasih, Tershe. Tapi untuk sekarang, kamu juga bebas menghabiskan waktu sesukamu, kok."

Shion melemparkan senyuman yang ramah.

Namun, Tershe hanya sedikit menyipitkan matanya lalu menggelengkan kepala.

"Saya sangat menghargai perhatian Anda. Namun, menghabiskan waktu untuk melayani Anda berdua seperti inilah yang paling menenangkan hati saya."

Mendengar kata-kata yang tenang itu, Shion mengerjapkan matanya sejenak sebelum akhirnya tersenyum.

"Begitu ya. Kalau begitu, aku yang harus berterima kasih. Aku selalu merasa terbantu oleh Tershe."

Merahnya api unggun menerangi pipi kami, dan aroma daun kering yang terbakar tercium samar-samar.

Di dalam atmosfer yang seperti itu, Tershe mendadak menyunggingkan senyum di bibirnya, persis seperti seorang anak kecil yang sedang merencanakan sebuah jahil.

"……Ah, jadi begitu rupanya. Mohon maafkan saya karena tidak bisa menangkap maksud tersirat dari ucapan Anda tadi."

"……Eh?"

Shion memiringkan kepalanya mendengar perkataan Tershe.

"Ternyata Anda hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Tuan Orn, ya."

"Eh!?"

Pundak Shion seketika tersentak kaget.

Pipinya langsung memerah dalam sekejap, dan dia mulai berbicara dengan gelagapan.

"A-Aku tidak mengatakan hal seperti itu, tahu!? Aku merasa tenang kalau ada Tershe di sini, dan aku sama sekali tidak pernah berpikir kalau kamu mengganggu!"

Melihat Shion yang berusaha keras membela diri, Tershe pun tersenyum dengan raut bahagia.

"Fufu. Mohon maafkan saya. Sepertinya saya sudah mengoda Anda sedikit kelewatan."

"A-Aduh, benar-benar deh……"

Mendengarkan interaksi mereka berdua, aku tidak bisa menahan senyum yang lolos dari bibirku.

Kemudian, dari kejauhan terdengar suara yang biasanya menggema langsung di dalam kepala.

"……Nah, sekarang 'berikan tanganmu'."

"Sudah kubilang! Aku ini bukan anjing, tahu!"

Melihat si mochi rubah berwarna merah muda pucat yang memasang telinganya tegak-tegak karena marah, gadis bergaun putih Pixie justru memiringkan kepalanya bingung.

"……Kamu ternyata suka meributkan hal-hal kecil, ya."

"Ini bukan hal kecil! Dengar ya? Aku ini adalah monster agung yang telah menelan semua monster yang terkurung di dalam bilah Shiroou──Rubah Ekor Sembilan, tahu?!"

Sakuramochi menegakkan satu ekornya yang lebat dan bulat, lalu membusungkan dadanya dengan nada yang agak bangga.

Namun Pixie, seolah sama sekali tidak peduli, hanya mengerjapkan matanya sekali.

"……Seperti ritual gu poisoning (kodoku) itu, ya? ……Saat pemilik resmi Shiroou ditentukan, para monster di dalam pedang saling bertarung satu sama lain, dan Sakuramochi yang berhasil bertahan hidup sampai akhir menjadi satu-satunya pelayan Fuuka, kan? Kamu sudah berjuang keras ya, Sakuramochi. ……Anak pintar, anak pintar."

"Jangan mengelus-elus kepalaku, Bocah!"

Di saat kepalanya dielus, bulu-bulu Sakuramochi seketika langsung berdiri tegak.

Pixie sama sekali tidak memedulikan reaksi itu dan hanya menggelengkan kepalanya.

"……Bukan bocah. Namaku 'Pixie'. Aku punya nama yang jelas."

"……Kamu juga ternyata mengatakan hal yang mirip seperti Fuuka, ya."

Sakuramochi mendengus, lalu memalingkan pandangannya.

Meski begitu, Pixie tetap melanjutkan kata-katanya dengan tenang.

"……Karena nama adalah hadiah berharga yang didapatkan dari orang tua."

Suara itu terdengar lirih, namun entah mengapa bergema jauh di lubuk dada.

Sakuramochi sempat memejamkan matanya sesaat, lalu mendecakkan lidahnya.

"……Cih!"

Dia tidak membahas masalah nama itu lebih jauh lagi.

Tepat saat keheningan yang canggung sempat mengalir, Pixie kembali mengulurkan tangannya.

"……Karena itu, 'berikan tanganmu'."

"SUDAH KUBILANG AKU INI BUKAN ANJING, TAHU SEEEEEEENG!!!!"

Suara semua orang menggema di gunung yang dipenuhi dedaunan musim gugur ini.

Fuuka yang tampak bahagia dengan kedua tangan penuh memakan ubi panggang, dan Nagisa yang menegurnya dengan wajah pasrah.

Percakapan santai antara Luna dan Oliver.

Tershe yang menjahili, dan Shion yang wajahnya memerah karena hal itu.

Suara polos Pixie, berpadu dengan teriakan marah Sakuramochi.

Semua itu mungkin hanyalah sekadar cuplikan dari keseharian biasa.

Namun, aku tahu bahwa semua ini adalah hal yang sangat tak tergantikan.

Kami pasti akan terus bertarung ke depannya.

Demi menghalau niat jahat yang mendekat, dan demi menyambung masa depan umat manusia.

──Agar suatu hari nanti, hari-hari yang tenang tanpa ada kekhawatiran seperti ini bisa kami habiskan selamanya.

Sembari berharap demikian, aku menengadah menatap langit.

Matahari yang hampir tenggelam di ujung gunung tampak menyisakan pendaran warna keemasan.

Pasti ada seseorang, yang di detik ini juga sedang menatap langit yang sama.

Daun-daun merah menari di udara, tampak berkilau setelah menerima pancaran sinar matahari.

Sembari memastikan kehangatan yang tersisa di dalam dada, aku pun memejamkan mata perlahan.

──Namun di saat yang sama, sebuah gejolak kecil mulai bernapas di lubuk hatiku yang terdalam.

Labirin Besar hanya tersisa dua.

Situasi dunia saat ini sudah bukan lagi sesuatu yang bisa menghentikan penaklukan Labirin Besar.

Dalam waktu dekat, semua Labirin Besar pasti akan berhasil ditaklukkan.

Hal itu sendiri adalah masa depan yang juga sangat kuinginkan.

Namun, penaklukan Labirin Besar hanyalah sebuah awal.

Dewa Jahat yang terbebas dari segel berbentuk Labirin Besar pasti akan bergerak untuk memusnahkan umat manusia.

Demi melindungi keseharian yang tenang ini, penaklukan Labirin Besar tidak boleh dijadikan sebagai garis finis.

Menumbangkan Dewa Jahat yang berdiri menghadang di depan sanalah yang menjadi tugas utamaku.

Demi terus mengukir sejarah umat manusia, dan menyambungkannya menuju masa depan.

Hawa pertempuran penentuan yang kian mendekat, kini secara diam-diam namun pasti, mulai memenuhi seluruh dunia──.



Previous Chapter | ToC | Next Cahpter

0

Post a Comment

close