Chapter 2
Adik Kelas yang Menggemaskan dan Retakan
Setelah
kegiatan klub selesai, langit di luar sudah gelap gulita.
Aku
pulang langsung ke rumah, makan malam, lalu mandi.
Begitu
saja, sudah waktunya tidur. Hari yang padat memang berlalu dengan cepat.
Masalahnya,
sudah empat hari sejak semester baru dimulai, tapi aku hampir tidak sempat
bicara dengan Hikari.
Kelas
kami berbeda, dan setelah pulang sekolah selalu ada klub atau pekerjaan paruh
waktu. Sedikit kesepian.
Sudah malam, tapi
mungkin aku bisa mencoba RINE.
Kalau aku jujur
bilang ingin bicara, apa terdengar norak? Kalau pacar sih pasti boleh, kan?
Natsuki: 「Hikari, masih bangun?」
Hoshimiya Hikari:
「Iya. Masih bangun kok.」
Begitu
aku mengirim RINE, balasan langsung datang dengan cepat.
Natsuki: 「Mau telepon sebentar? Aku ingin bicara.」
Hoshimiya Hikari: 「Boleh!」
Hoshimiya Hikari: 「Tunggu sebentar ya, aku mau
selesaikan sampai bagian yang pas dulu. Sepuluh menit!」
Sudah jam sebelas malam, tapi dia masih menulis novel.
Sejak musim panas
tahun lalu, Hikari memang serius mengejar mimpi menjadi novelis.
……Apakah aku
mengganggunya? Sambil merasa bersalah, aku mengetik balasan.
Natsuki: 「Ah, kalau sedang menulis, tidak usah
dipaksakan. Nanti saja juga boleh.」
Hoshimiya Hikari:
「Tidak apa-apa. Aku memang sudah mau
berhenti untuk hari ini.」
Hoshimiya Hikari:
「Lagipula, aku juga ingin bicara dengan
Natsuki-kun.」
Natsuki: 「Kalau sudah siap, bilang ya.」
Fufufu. Senang
sekali tahu Hikari juga ingin bicara denganku.
Setelah
menunggu sebentar, dia mengirim stempel “OK!”, maka aku langsung menelepon.
“Halo,
bisa dengar?”
『Iya.
Jarang sekali Natsuki-kun yang bilang mau bicara duluan.』
“Benarkah?”
『Benar!
Biasanya selalu aku yang duluan!』
Kalau
dipikir-pikir, memang begitu.
“Aku takut
mengganggu waktu menulismu.”
『Tidak perlu
mikir seperti itu. Aku bisa menulis sambil bicara kok.』
Hikari berkata
seolah itu hal biasa, tapi bukankah itu luar biasa? Aku sendiri tidak bisa
multitasking.
“Bagaimana
kemajuan novelmu?”
『Ehm, novel baru
yang mulai kutulis sejak Februari sebentar lagi selesai.』
“Eh, sudah? Cepat
sekali?”
『Tidak juga.
Penulis pro kadang bisa menyelesaikan satu buku dalam sepuluh hari lho.』
Menurut
firasatku, itu pasti termasuk penulis pro yang super manusiawi.
Menulis satu buku
dalam sepuluh hari itu gila. Kalau begitu, berarti bisa tiga buku dalam sebulan.
『Kalau sudah
selesai, aku ingin Natsuki-kun membacanya.』
“Baiklah, aku
tunggu. Oh ya, ceritanya tentang apa?”
『Tentang
empat gadis yang bisa terbang! Di dunia yang ada sihirnya, tapi sihir yang
diizinkan hanya yang sedikit berguna untuk kehidupan sehari-hari. Sihir terbang
dilarang——』
Hikari
menceritakan dunia ciptaannya dengan penuh semangat.
Suara
Hikari yang melompat-lompat saat membayangkan dunia fantasinya terdengar sangat
menyenangkan didengar.
『——Begitulah,
mereka menghancurkan aturan lama yang dibuat orang dewasa, lalu terbang bersama
di langit!』
“Ya,
kedengarannya menarik.”
『Kan! Aku juga
senang menulisnya!』
“……Tapi pasti
tidak semudah itu, kan?”
Sudah sekitar
satu bulan sejak kami mulai serius berband. Kami sudah berkali-kali menabrak
tembok.
Bukan seperti
saat festival budaya dulu yang bisa ditutupi dengan power chord. Untuk bisa
memainkan chord yang sulit, bahkan di hari tanpa latihan band, aku tetap
mengikuti les privat dari Serika.
Jalan yang
ditempuh Hikari pasti juga punya banyak tembok yang belum aku ketahui.
『Waktu menulis
bagian sulit, aku sampai gelisah di atas tempat tidur lho.』
“Hee, agak ingin
lihat itu.”
『Pasti tidak
mau! Itu bukan sesuatu yang bisa dilihat orang, aku sampai mendengus sendiri!』
Hikari menolak
keras kata-kataku.
Wajar sih, aku
juga tidak mau Hikari melihat sisi burukku.
Tolong
jangan ingatkan fakta bahwa dia sudah sering melihatnya.
Sambil aku
memberi peringatan pada diriku sendiri, Hikari tiba-tiba berkata pelan.
『——Tapi,
termasuk hal-hal seperti itu, saat ini aku sedang bahagia.』
Memiliki sesuatu
yang bisa dikejar dengan serius memang membuat hari-hari terasa lebih berarti.
『Bagaimana dengan band Natsuki-kun?』
“Kami sedang
latihan keras untuk festival dua minggu lagi.”
Sejak melakukan
time leap, aku terus berusaha mewujudkan masa muda penuh warna.
Itulah Rainbow
Youth Plan.
Tahap pertama
adalah ‘membuat teman’, tahap kedua adalah ‘membuat pacar’.
Tahap kedua sudah
tercapai sejak musim gugur tahun lalu, tapi masalah hubungan antarmanusia
membuat masa mudaku kehilangan warnanya. Makanya di musim dingin, aku berlari
kencang untuk memulihkannya.
Sekarang setelah
itu teratasi, tujuanku adalah membuat masa muda yang penuh warna semakin cerah
dan berkilau.
Artinya, tahap
akhir dari Rainbow Youth Plan: ‘menjalani hari-hari yang memuaskan’!
Aku percaya bahwa
kegiatan band serius ini akan semakin memperindah masa mudaku.
『Aku
ingin bilang mau datang, tapi…… batas pendaftaran tiket sudah dekat.』
“Tidak usah dipaksakan. Kami kan hanya pembuka, penampilan
kami cuma sebentar di awal.”
Karena kuota
tiket kami sebagai pembuka sedikit, tiket sudah habis terjual. Tiket band lain
sedang laris, jadi belum tahu bisa dapat atau tidak. Mungkin sudah penuh.
『Aku ada
kompetisi penghargaan pemula, Natsuki-kun ada festival. Tujuannya berbeda, tapi
yuk kita sama-sama berusaha.』
“Benar. Meski
sama-sama sibuk agak sedih sih……”
『Kelas kita juga
terpisah. Tapi kalau kangen suaramu, aku telepon ya.』
Hanya bicara
sebentar seperti hari ini saja sudah membuatku semangat.
Meski waktu
bertemu berkurang, asal kami bisa saling mendukung sebagai pacar, itu sudah
cukup.
“Bagaimana kelas
barumu?”
『Menyenangkan.
Aku juga sudah dapat teman baru.』
Sepertinya aku
tidak perlu khawatir tentang Hikari.
Mana boleh, dia
kan (klaim sendiri) idol sekolah.
“Serika juga satu
kelas kan?”
『Iya. Hari ini
Serika-chan cerita tentang Natsuki-kun yang sedang latihan klub.』
“Eh, dia bilang
apa?”
『Katanya Natsuki
sudah tumbuh dengan baik.』
“Ooh!”
Dipuji Serika itu
menyenangkan.
『Tapi katanya
dasarnya rendah jadi tidak ada artinya.』
“……Aku tahu kok!”
Makanya aku
sedang berusaha keras!
Mendengar suaraku
yang kecewa, Hikari tertawa riang.
“Bisa tidak sih,
puji dulu baru jatuhkan?”
『Memberi
naik-turun itu dasar cerita lho.』
Hikari berkata
dengan nada penuh goda.
Tolong jangan
jadikan sikapku bahan cerita.
*
Sudah satu minggu
sejak semester baru dimulai.
Rasanya hanya
sekejap. Pergi ke sekolah, klub atau kerja paruh waktu, pulang, tidur.
Hari-hari
sibuk memang membuat waktu seperti meleleh.
Hubungan
antarmanusia di kelas baru juga sudah cukup terbentuk.
Aku sudah
cukup dekat dengan Kimijima-kun dan Kurahashi-san.
Fujiwara masih
menjadi penengah kelas seperti tahun lalu. Meski di saat penting dia masih
sering melempar tugas padaku. Tolong maklumi.
Ngomong-ngomong,
jumlah calon anggota yang datang ke klub musik ternyata berkurang sekitar tujuh
orang setelah tahu Yamano bergabung dengan Mishlef. Itu berkurang terlalu
banyak!
Pada akhirnya,
lima belas siswa baru bergabung dengan klub musik. Meski begitu, itu masih
cukup banyak.
Menurut Serika,
dalam enam bulan ke depan jumlahnya akan berkurang setengah.
Wajar sih. Meski
sudah memegang alat musik, banyak yang menyerah karena terlalu sulit.
Apapun itu, saat
ini koridor di depan ruang klub musik ramai dengan siswa baru yang sedang
latihan dasar.
Kami juga harus
membuat jadwal bergiliran untuk mengajari dasar-dasar pada siswa baru yang
belum berpengalaman.
Jujur,
kemampuanku belum cukup untuk mengajar, tapi sebagai kakak kelas ya tidak bisa
apa-apa.
“Shinohara-senpai.
Bagian ini masih belum benar.”
“Ugh…… apa tidak bisa disederhanakan? Ini agak terlalu
sulit.”
“Ini biar nadanya lebih tebal. Kalau mau musik yang bagus,
tolong usaha di bagian ini.”
Latihan berjalan dengan penuh semangat.
Baru-baru ini, aku sering melihat Yamano dan Mei dari rhythm
section saling berdebat.
Ini adalah
perubahan setelah mereka memutuskan untuk serius. Agak menyeramkan, tapi kurasa
percakapan seperti itu memang diperlukan.
“……Baiklah,
sampai sini dulu untuk hari ini.”
Jam delapan
malam. Serika melihat jam dan mengakhiri latihan.
Hari ini juga
melelahkan. Tapi banyak hal yang masih harus diperbaiki. Aku harus latihan lagi
di rumah.
Setelah menyeka
keringat, kami membereskan gitar, ampli, efek, dan lain-lain.
“Oh ya, nama band
kita gimana nih?”
Yang bertanya
sambil membersihkan drum set adalah Yamano.
“Sekarang masih
pakai Mishlef, kan?”
“Ah, benar. Kita
harus memikirkan nama baru.”
Kami sudah bukan
lagi band sementara sisa-sisa ‘mishmash leftovers’.
Makanya kami sudah membahas untuk mengganti nama band.
“Memang begitu, tapi…… belum ada ide bagus yang muncul.”
Serika
mengerutkan alis dengan wajah kesulitan.
“Yang
keren dan stylish gitu!”
“Kalau mudah
dapat ide seperti itu, pasti tidak akan susah.”
“Aku juga
tidak punya bakat menamai.”
Suara
dengusan empat orang bergema di ruang musik kedua.
“Tenang
saja, tidak perlu terburu-buru.”
“Eh, tapi pihak
live house kan repot kalau kita belum punya nama?”
“Sementara kita
pakai Mishlef (sementara). Karena video festival budaya Mishlef yang meledak di
MeTube, mereka sepertinya lebih senang kalau kami tidak ganti nama.”
Kalau ganti nama,
kami jadi band misterius tiba-tiba.
Meski
begitu, kami memang band baru yang mengandalkan koneksi Serika dan viral di
internet.
“Jadi untuk
festival kita pakai yang lama?”
“Kalau
belum ada ide bagus ya. Anggap saja ini PR masing-masing.”
Serika
menepuk tangan, menandakan topik ditutup.
*
“Latihan hari ini
melelahkan ya.”
Dalam perjalanan
pulang, aku sering menghabiskan waktu bersama Yamano.
Karena kami dari
daerah yang sama, wajar saja. Tapi jujur, agak canggung.
Pacarku mengantar
adik kelas perempuan pulang berdua saja, gambarannya kurang bagus kan?
Meski begitu, aku
sudah dapat izin dari Hikari.
Tapi
bukan berarti dengan izin saja semuanya beres.
……Ada
teori yang bilang ini karena aku yang membuat sifat Hikari agak menyimpang.
Soal itu ada banyak pendapat. Anggap saja begitu.
“Apa yang sedang dipikirkan Senpai, boleh aku tebak?”
Tapi kalau kami sengaja mengubah waktu pulang hanya karena
ini, juga canggung.
Aku ingin tahu, cowok yang sudah punya pacar lain bagaimana
menghadapi situasi seperti ini.
“Kamu sedang merasa bersalah ke Hoshimiya-senpai, kan?”
Yamano menyeringai sambil menggodaku. Aku membalas dengan
wajah datar.
“Kalau sudah tahu, menjauhlah sedikit.”
“Wah, Senpai dingin sekali! Padahal adik kelasnya secantik
ini!”
Yamano mengerucutkan bibir.
Justru karena menggemaskan makanya jadi masalah. (Tidak kukatakan keras.)
“Eh, kamu memang
berkepribadian seperti ini?”
Sejak masuk SMA,
dia selalu bersemangat tinggi.
Sebelum masuk,
dia terasa lebih tenang dan cuek.
“Eh, aku aneh
ya?”
“……Tidak juga,
tidak sampai aneh sih.”
Memang,
lingkungan di sekitar Yamano berubah drastis setelah masuk SMA.
Tidak aneh kalau
kepribadiannya jadi lebih cerah karena pengaruh orang sekitar.
“Bagaimana?
Menikmati kehidupan SMA?”
“Kamu bicara
seperti om-om keluarga ya.”
Saat aku bertanya
sambil mengobrol ringan, dia membalas dengan pukulan telak.
Memang,
secara usia mental, aku seperti om-om keluarga.
“……Menyenangkan
kok. Benar-benar.”
Yamano
bergumam sambil menggigit kata-katanya.
“Kehidupan
SMA dan band, semuanya memuaskan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku.”
Dari ekspresinya,
aku tahu itu kata-kata dari hati.
“Awalnya aku
khawatir, tapi teman-teman sekelas baik sekali.”
Biasanya dia
sombong, tapi melihat sisi seperti ini, dia memang adik kelas yang manis.
“Syukurlah.”
Aku tidak tahu
detailnya, tapi kehidupan SMP Yamano seharusnya tidak terlalu baik.
Karena
dulu dia sering makan siang di atap bersama orang sepertiku. Saat itu, meski
dia tersenyum, matanya terlihat kosong. Tapi sekarang, matanya tampak berbinar.
“Memilih
Suzume itu keputusan yang benar. Semua berkat para Senpai.”
Aku
berharap masa muda Yamano yang tersenyum seperti ini menjadi sesuatu yang
indah.
Karena kalau
salah memilih, dia bisa jadi seperti diriku di putaran pertama.
*
Namun begitu…… nama band ya.
Sambil makan kari
malam di rumah, aku melamun.
Seperti saat
Mishlef dulu, sebaiknya tentukan tema dulu?
Mishlef adalah
kumpulan orang-orang sisa. Lalu kali ini apa?
“U~n.”
“Kakak, berisik.”
Saat aku
mendengus, Namika yang duduk di sebelah sambil main HP menusukku dengan
kata-kata.
Namika sudah
selesai makan kari. Kalau begitu kembali ke kamar saja……
“Dari tadi
memikirkan apa sih?”
Namika bertanya
sambil tetap memainkan HP-nya.
“Aku harus
memikirkan nama band baru.”
“Hmm.”
“Dengar
tapi tidak tertarik ya.”
“Band
baru itu kan yang ditambah Yamano-senpai, kan?”
Dari mana dia tahu…… ah, iya, aku pernah bilang ke dia.
Tidak aneh kalau Namika tahu Yamano karena satu SMP, tapi
saat mendengar Yamano bergabung dengan band kami, reaksinya agak aneh.
“Ada apa dengan
itu?”
“Yamano-senpai di
SMA itu seperti apa?”
“Seperti apa…… biasa saja, kurasa?”
Karena beda kelas, aku tidak terlalu tahu detailnya.
Namika mendengar jawabanku sambil berpikir dengan ekspresi sangat serius.
"Sebenarnya aku ragu untuk mengatakannya, tapi ada
rumor buruk tentang Yamano-senpai."
……Rumor buruk, ya.
Setelah kejadian yang menimpa Miori, mau tidak mau aku
merasa muak dengan hal-hal seperti itu.
"Aku satu tingkat di bawahnya, dan karena tidak pernah
terlibat langsung, aku tidak tahu kebenarannya. Tapi... kalau kalian akan membentuk band bersama, kupikir Kakak perlu
tahu."
Bagi Namika,
pembukaannya terasa cukup panjang.
Lalu, apa yang ia
katakan kemudian adalah sesuatu yang mengejutkan.
"——Kabarnya,
Yamano-senpai adalah pelaku utama perundungan yang terjadi di kelasnya."
Itu sama sekali
tidak mencerminkan sosok Yamano yang aku kenal.
Yamano, pelaku
perundungan? Aku tidak percaya. Dia tidak terlihat seperti orang yang sanggup melakukan hal itu.
"Lagipula,
aku belum pernah dengar rumor seperti itu."
"Ya
jelas saja, waktu SMP Kakak tidak punya teman, kan?"
Namika
menyambungnya dengan nada datar sambil melukai perasaanku.
"Itu
sebabnya, orang-orang seangkatan membencimu. Kalau dipikir-pikir, itu namanya juga kualat
sendiri."
Bagian
tentang dibenci teman seangkatan terdengar sangat nyata.
Alasannya makan
siang di atap sekolah jadi masuk akal sekarang.
"Aku tetap
tidak bisa percaya kalau dia pelaku utama perundungannya."
Yamano bukan
orang seperti itu... kurasa.
Tapi, apakah aku
mengenal Yamano dengan cukup baik untuk bisa memastikannya?
"Apa yang
kuketahui hanyalah rumor. Kalau Kakak merasa dia bukan orang seperti itu,
bukankah instingmu itu yang lebih benar? Makanya, aku sempat ragu untuk
bilang..."
Namika pun
mungkin tidak ingin ikut menyebarkan rumor yang belum jelas kebenarannya.
Namun, dia tetap
mengatakannya demi aku. Meskipun sikapnya begitu, Namika sangat peduli pada
keluarga.
"Terima
kasih sudah memberitahuku."
Aku mengusap
kepala Namika, sesuatu yang sudah lama tidak kulakukan.
"Menjijikkan."
Tanganku ditepis
begitu saja.
Fufufu, apa itu hanya untuk menutupi rasa
malunya? Saat aku berpikir begitu, mata Namika justru terlihat sedingin es.
"Menyebalkan.
Mengganggu. Jangan mendekat. Mati saja sana."
"Ya, tidak
perlu sampai bilang begitu juga, kan……"
Maaf karena sudah
besar kepala.
*
Sepulang sekolah
keesokan harinya, kami berlatih di ruang klub musik ringan.
Di tengah intro
lagu Monokuro, tiba-tiba Yamano menghentikan permainan drumnya.
"Shinohara-senpai.
Kamu salah lagi."
"Ah,
maaf."
Ini adalah
interaksi yang sudah sering kulihat, tapi hari ini terasa berbeda.
"Aku tidak
masalah kalau kamu minta maaf, tapi... ini sudah keberapa kalinya kamu
melakukan kesalahan yang sama?"
Suasana ruang
klub seketika menjadi berat.
Yamano menatap
Mei dengan tatapan dingin.
"Kita akan
tampil di festival live house, kan? Bukankah kita sepakat untuk
melakukan band ini dengan serius? Kalau begitu, seharusnya kesalahan seperti
ini diperbaiki saat latihan pribadi."
"Ya, tidak
perlu sampai bicara seperti itu juga kali..."
Mei membalas
dengan nada kesal.
Bukankah tidak
perlu sampai sebegitu marahnya hanya karena kesalahan kecil?
Namun,
memang benar Mei sering ditegur untuk hal yang sama belakangan ini. Bahwa ia
belum memperbaikinya adalah fakta.
"Saya,
sudah keterlaluan."
Serika
menegur seolah ingin menenangkan suasana.
"Serika-senpai
terlalu baik. Kalau begitu, band ini tidak akan berkembang."
Namun,
Yamano membantah dengan nada yang tajam.
Matanya seolah
menegaskan bahwa ia merasa benar dengan apa yang dikatakannya.
"I-itu..."
Mungkin karena
merasa tersindir, Serika pun terdiam.
……Yah, aku tahu
Serika memang sangat berhati-hati saat membimbing kami. Kurasa itu karena
pengalaman band-nya di masa lalu.
"Festival
tinggal empat hari lagi, lho? Kita tidak punya waktu untuk santai-santai."
Mei tidak
mengatakan apa-apa, tapi wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang jelas.
Meskipun begitu,
aku tidak merasa kata-kata Yamano salah. Memang benar, aku tidak ingin naik panggung
dengan kemampuan seperti ini. Tapi karena waktunya sudah tidak ada, tentu saja kami jadi panik.
"……Lanjutkan."
Latihan hari itu
diliputi suasana yang tegang dari awal sampai akhir. Sejujurnya, sangat sulit
untuk bernapas.
"Emm...
semuanya, sudah memikirkan nama band?"
Serika yang
biasanya santai mencoba mengalihkan pembicaraan dengan berusaha sangat keras.
Itu menunjukkan
betapa buruknya atmosfer band saat ini. Percikan api seolah memercik di antara
Mei dan Yamano.
"Kalau aku,
jujur saja tidak terpikirkan ide apa pun..."
"Aku juga,
sudah coba memikirkannya tapi..."
"Aku
juga tidak punya ide..."
"Saya juga
sama sekali tidak dapat ide, maaf..."
Sayangnya, tak
seorang pun dari kami memikirkan kandidat nama band.
Bukan berarti aku
tidak memikirkannya, ya! Tapi memang tidak ada ide yang muncul....
Lagipula, dulu
saat Mishmash, yang memikirkannya adalah Iwana-senpai.
Jangan-jangan,
kami memang tidak punya selera untuk menamai sesuatu.
Hening, suasana penuh kesunyian yang tidak
pantas ada di ruang klub musik ringan.
Suasana menjadi
semakin berat, membuat Serika buru-buru bicara.
"Y-yah! Kali
ini kita pakai Mishmash (sementara) juga tidak apa-apa, kan!"
Serika bertepuk
tangan, mencoba membubarkan latihan hari ini.
Ada yang terasa
sangat aneh dengan Serika.
Dia terlalu
memperhatikan suasana sampai-sampai bersikap seperti orang normal pada umumnya.
Padahal harusnya
Hondo Serika adalah sosok yang bebas dan suka mempermainkan semua orang.
"Serika, kau
tidak apa-apa?"
"……U-un. Aku
tidak apa-apa, kok."
Aku
bertanya dengan suara pelan. Serika sampai tersentak kaget.
Lalu, dia
melirik ke arah Mei dan Yamano yang sedang membereskan peralatan dalam diam.
"Sepertinya
kita harus melakukan sesuatu."
"……Un. Kalau
dibiarkan, bisa gawat."
"Serika.
Kau juga bersikap aneh, lho."
"Aku
tahu. Tapi aku baik-baik saja, jadi jangan khawatirkan aku."
……Biasanya,
orang yang bersikeras bilang "baik-baik saja" justru tidak sedang
baik-baik saja.
Tapi yang
pasti, Serika memang sangat mengkhawatirkan suasana band.
Kalau
begitu, sepertinya lebih baik jika kita memprioritaskan perbaikan hubungan
mereka berdua.
"Biar
aku yang ajak bicara Yamano."
Dulu pun dia
memang tipe yang blak-blakan, tapi belakangan ini sikap itu semakin menonjol.
Mungkin itu wajar
karena dia bilang ingin serius.
Bisa jadi
perubahan mental Yamano setelah masuk SMA juga berpengaruh.
"Un...
tolong ya, Natsuki."
Jawaban Serika
terdengar begitu lemah, baru kali ini aku mendengarnya.
*
Di kereta pulang,
aku hanya berdua dengan Yamano seperti biasanya.
Yamano diam
membisu dengan wajah kesal, tapi akhirnya ia bergumam.
"Awalnya aku
juga merasa sudah bicara dengan baik-baik."
"Tapi kalau
sudah berkali-kali dibilang dan tidak berubah, ya tentu saja caraku bicara jadi
keras."
"Yah, Mei
juga sudah berusaha, kok."
Aku mencoba
menenangkan Yamano, tapi dia justru makin kesal.
"Berusaha?
Memangnya ada orang yang sudah berusaha tapi melakukan kesalahan yang sama
berkali-kali?"
"Aku sih
pernah."
"Kenapa
Kakak malah bangga begitu...?"
Melihatku
membusungkan dada, Yamano menghela napas seolah jengah.
"……Aku
tidak habis pikir. Jujur saja, dia tidak terlihat seperti sedang
berusaha."
"Kau
sebegitu tidak puasnya dengan Mei?"
"Masalah
teknik yang belum matang itu wajar. Kalau mau bicara soal itu, Senpai justru
lebih payah."
Yamano
menusuk hatiku.
Aku tahu
aku yang paling payah di sini!
"Tapi Senpai
kan berusaha mati-matian. Buktinya, Senpai semakin lama semakin jago."
"Yah... itu
karena aku sendiri yang memutuskan untuk serius."
Aku harus bertanggung jawab atas kata-kataku sendiri.
Terlepas dari itu…… dipuji seperti ini, rasanya senang
sekali!
Berhasil karena
sudah latihan mati-matian setelah sampai di rumah ternyata sepadan juga ya……
"Dibandingkan
itu, Shinohara-senpai tidak ada kemajuan. Padahal sebentar lagi tampil, tapi
kesalahannya masih banyak."
"……Yah,
memang begitu."
Sejujurnya, aku
tidak bisa menyangkalnya.
Karena memang
benar, kesalahan Mei itu nyata.
"Kalau
memang mau serius di band, seharusnya Senpai lebih marah padanya, lho."
Kata-kata Yamano
ada benarnya.
Karena itulah,
aku tidak bisa membalas apa pun.
*
Tinggal tiga hari
lagi menuju festival.
Jatah waktu
tampil kami lebih sedikit dibanding band lain.
Jadi, kami hanya
akan membawakan tiga lagu di festival nanti.
Rencananya adalah lagu yang sama seperti saat festival
budaya: Black Witch, Monokuro, dan Hoshi e.
Sebenarnya, kami memang cuma punya tiga lagu orisinal itu
saja.
Meski statusnya hanya sebagai band pembuka, ini tetaplah
panggung besar bagi kami.
Penampilan kami di festival sudah jadi perbincangan di klub,
dan banyak yang mendukung kami.
Tiga hari sebelum hari-H, ketua klub memberikan izin agar
kami bisa menggunakan ruang musik kedua sepenuhnya untuk latihan.
Hanya
band kami yang mulai beraktivitas di luar batas kegiatan klub. Kami memikul
tanggung jawab sebagai perwakilan klub musik ringan SMA Suzunari. Karena
tekanan itulah, latihan menjadi semakin intens.
"Tunggu
sebentar."
Saat
bagian B lagu Black Witch selesai, Yamano mengangkat tangannya.
Tatapan tajamnya
tertuju padaku.
"Senpai.
Tolong sesuaikan ritmenya dengan benar. Kalau begini, aku jadi tidak tahu untuk
apa aku main drum. Kalau di latihan saja sudah meleset, di hari-H nanti pasti
temponya jadi makin cepat."
Nada bicaranya datar, tapi alisnya bertaut.
"……Maaf."
Ini bukan saatnya
mengkhawatirkan keadaan Yamano. Aku sendiri saja sudah kewalahan dengan diriku
sendiri.
"Aku
mau ulangi bagian B lagi. Tolong konsentrasi."
Yamano
bicara dengan nada jengkel. Maafkan
aku, karena tidak bisa mengikuti ritmenya……
"Ano."
Saat aku sedang
merenung, Mei tiba-tiba bicara.
"Apa perlu
bicara sampai sebegitu kerasnya?"
Suaranya
terdengar sangat kaku.
Mendengar
kata-kata Mei, Yamano pun membalas.
"Soalnya
festival tinggal tiga hari lagi, kan? Kalau belum matang, gawat dong."
"Aku
mengerti logikanya, tapi Natsuki itu Senpai-mu, lho?"
"Memangnya
kenapa kalau Senpai? Kalau kita tidak saling bicara jujur, mana bisa kita
menghasilkan suara yang bagus."
Debat makin
memanas karena mereka saling membalas satu sama lain.
"Aku bilang,
perhatikan caramu bicara!"
Ruangan seketika
hening.
Jarang sekali
melihat Mei sampai semarah itu.
Padahal kemarin
saat dia sendiri yang dikritik, dia mengakuinya dengan jujur.
"Aku tidak
masalah kalau soal aku, tapi aku tidak suka cara bicaramu kepada Natsuki."
Serika
berdiri mematung dengan ekspresi cemas.
"Kalau
ini yang kau sebut keseriusan band, aku tidak mau ikut."
Meski dikatakan
begitu oleh Mei, Yamano tetap tidak mundur.
"Menurutku,
Shinohara-senpai sendiri tidak terlihat serius."
Mei dan Yamano
saling tatap dengan aura yang sangat buruk.
……Keadaan yang
kukhawatirkan dari beberapa waktu lalu akhirnya terjadi juga.
*
"Hari ini
cukup sampai di sini."
Begitu aku
memutuskannya, Serika pun mengangguk. Tidak ada gunanya melanjutkan latihan
dalam suasana seperti ini.
"Natsuki,
apa kamu bisa bicara sebentar setelah ini?"
Setelah latihan
usai, Mei memanggilku.
"Baiklah."
Aku memang merasa
perlu mendengar apa yang ingin dikatakan Mei. Setelah meminta Yamano dan Serika
pulang lebih dulu, kami berdua menuju mesin penjual otomatis di gedung klub.
Area di depan mesin tersebut adalah tempat istirahat kecil bagi kami.
"Jadi, apa
yang ingin kamu bicarakan?"
Tanyaku sambil
membeli kopi dari mesin.
"Yamano-san akhir-akhir ini agak aneh, ya."
Mei sepertinya
membeli minuman energi. Sambil membuka tutup kalengnya, dia mengeluh.
"Dulu dia
tidak seperti itu. Memang cara bicaranya lugas, tapi dia tidak pernah memilih
kata-kata yang menyakitkan orang lain. Tapi belakangan ini, dia jelas-jelas
memandang rendah kami."
……Yah, masalahnya
memang mengarah ke situ, ya.
"Memang,
kalau dibandingkan dengan Hondo-san yang berpengalaman atau Yamano-san,
kemampuan teknis kami memang tertinggal. Tapi, kalau Mei saja mungkin aku tidak
masalah, tapi aku tidak terima Natsuki diperlakukan seperti itu."
Ternyata benar,
Mei marah demi membelaku.
"Aku senang
dengan perhatianmu, tapi hari ini aku memang tidak bisa konsentrasi."
"Sekalipun
begitu, kan ada caranya untuk bicara."
"Yah, memang
benar sih……"
Haruskah aku
memihak salah satu? Sementara aku memegang kopi, Mei meneguk minuman energinya
sampai habis dalam satu kali teguk.
"……Natsuki
mungkin membelanya karena kalian satu SMP, tapi bagiku dia hanyalah adik kelas
biasa. Aku tidak bisa menganggapnya sebagai teman sekarang."
Kata-kata Mei
terasa lebih kuat dari yang kubayangkan. Sepertinya dia benar-benar marah.
Situasi band saat ini adalah hasil dari keputusanku. Seandainya kami tetap
beraktivitas dengan santai seperti biasa, mungkin tidak akan terjadi masalah
apa pun.
"……Yah, aku
akan bersabar sampai festival selesai. Karena sekarang sudah tidak mungkin
untuk mundur."
Kling. Mei membuang kaleng minuman
energinya ke tempat sampah. Dia berjalan melewatiku—yang bahkan belum sempat
membuka kopi—lalu melangkah menuju gerbang sekolah.
"Seandainya
ada Iwana-senpai……"
Saat dia
pergi, samar-samar aku mendengar gumaman Mei.
*
Aku
berjalan pulang sambil merenungkan pembicaraan dengan Mei. Aku turun di stasiun
tak berawak yang paling dekat dengan rumah. Karena sudah larut malam, tidak ada
orang di sana. Namun, saat kulihat lebih dekat, ada seorang gadis yang berdiri
diam di tengah kegelapan.
"……Yamano.
Bahaya kalau kamu berdiri sendirian di tempat seperti ini."
Saat aku
memanggilnya, Yamano yang menyadari kehadiranku pun mendekat. Meskipun lampu jalan minim dan suasananya
remang-remang, aku bisa melihat matanya sedikit bengkak.
"Aku
menunggu Senpai."
"……Baiklah.
Aku antar sampai rumah."
Bagaimanapun
juga, tidak mungkin aku membiarkan adik kelas yang baru masuk SMA pulang
sendirian selarut ini. Aku mulai berjalan beriringan dengan Yamano. Aku hanya
tahu lokasi rumahnya samar-samar, tapi kurasa tidak terlalu jauh dari rumahku.
Biasanya, kami berpisah di persimpangan jalan setelah berjalan dari stasiun.
"……Maafkan
aku, Senpai."
Yamano tampak
murung. Kalau saja dia selalu bersikap seperti ini, dia pasti imut.
"Kenapa kamu
minta maaf?"
"……Karena
aku merusak suasananya."
"Kalau kamu
tidak mengatakan hal yang salah, kamu tidak perlu minta maaf."
"Tapi……"
Yamano
menggelengkan kepalanya pelan.
"……Apa yang
dikatakan Shinohara-senpai?"
Sejujurnya aku
ragu apa yang harus kukatakan, tapi berbohong pun tidak ada gunanya bagi
Yamano.
"Katanya,
ada caranya untuk menyampaikan sesuatu."
"Begitu, ya…… memang aku terlalu berlebihan, ya."
Yamano menunduk dalam-dalam.
"Karena suaranya tidak sesuai dengan yang kubayangkan,
aku jadi terlalu emosional."
"Apa memang
kemampuan teknis aku dan Mei masih kurang menurutmu?"
Yamano sempat
terdiam, tampak sulit menjawab, tapi diamnya itu sudah menjadi jawaban
tersendiri.
"……Kalau
memang ingin mengincar puncak, kalian memang masih kurang."
"Kalau
begitu, pertama-tama kami harus jadi lebih baik lagi."
Cara bicaranya
menjadi keras karena kami memang belum bisa mengejar standar ideal Yamano.
Sebenarnya, kata-kata keras Yamano tidak ditujukan pada Serika karena dia sudah
mahir.
"Bukan,
sebenarnya aku sendiri pun…… aku tidak sejago Serika-senpai, jadi kenapa aku
sok berani memberi komentar begini. Lagipula, pemimpin bandnya adalah
Serika-senpai, jadi tidak ada alasan bagiku sebagai adik kelas untuk bicara
macam-macam, kan. ……Mulai besok, aku tidak akan bicara yang tidak perlu
lagi."
Mungkin karena
benar-benar menyesal, Yamano mengatakannya sambil terus menunduk.
"……Yah,
mungkin ada baiknya kalau kamu fokus pada drum saja."
Itu keputusan
yang sulit, tapi menurutku jauh lebih baik daripada band ini hancur begitu
saja. Hanya saja, aku sadar kalau aku sendiri masih kurang dalam hal teknik.
Aku harus lebih giat lagi.
"……Kurasa
begitu."
Yamano menatap
langit malam sambil menarik napas dalam-dalam.
*
Tinggal dua hari
lagi menuju festival. Hari ini pun kami berkumpul di ruang musik kedua. Karena
pertengkaran kemarin, suasananya terasa menyesakkan sejak awal.
"……"
Serika yang
sedang menyiapkan peralatan menatapku dengan tatapan meminta pertolongan. Lho,
kenapa melihat ke arahku? Aku tidak bisa memberikan kata-kata bijak apa pun,
tahu!
"……"
Yamano fokus pada
drumnya. Sepertinya dia benar-benar menepati janjinya kemarin. Dia tidak bicara yang tidak perlu
dan memeriksa feel drumnya seperti seorang pengrajin.
"……"
Mei melirik ke
arah Yamano. Karena mereka baru saja bertengkar kemarin, dia pasti merasa tidak
tenang. Ugh, situasi ini benar-benar parah. Aku berdehem untuk memancing
perhatian semua orang.
"Karena
tinggal dua hari lagi, ayo kita lakukan dengan penuh semangat!"
Aku mengatakannya
dengan senyuman untuk mengusir suasana kelam itu.
"Un."
"Siap!"
"Mengerti!"
Ketiganya
menjawab dengan ceria di permukaan. Apa pun perasaan mereka di dalam, lebih
baik suasana latihan tetap ceria. Hari-H sudah dekat. Aku yakin mereka pun
sadar bahwa sekarang bukan waktunya untuk bertengkar. Hal pertama adalah
menyempurnakan lagu. Hal lainnya bisa dibicarakan setelah itu.
"Ah……"
Namun, kesalahan
Mei terus berulang. Bagian itu adalah bagian yang sebelumnya sudah diingatkan
oleh Yamano. Apakah dia masih memikirkan kejadian kemarin? Kesalahannya bahkan
lebih sering dari biasanya.
"Maaf……"
Namun, Yamano
tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap drumnya dan tetap fokus. Jujur
saja, rasanya tidak enak, tapi bukankah ini lebih baik daripada mengeluh
seperti biasanya?
"Sebentar,
Shinohara-kun."
Berbeda dari
biasanya, Serika yang menegur kesalahan Mei.
"Ritme setelah bagian break terasa lambat. Kamu harus menyesuaikan dengan tempo
Saya."
"……Iya.
Maaf."
"Yah, semua
orang pasti pernah melakukan kesalahan."
Kali ini, Yamano
yang justru membela Mei.
"Tidak
apa-apa kok. Ayo
ulangi lagi dan latihan."
Yamano
mengatakannya sambil tertawa renyah. Itu benar-benar jauh berbeda dari
kritikannya yang dingin sampai kemarin.
"Eh…… ada apa, tiba-tiba begini?"
Mei
bertanya balik dengan ekspresi bingung.
"Belakangan
ini, aku terlalu keras bicara. Aku menyesal."
Mei
tersenyum lega mendengar kata-kata itu. ……Tuh kan, kalau mau, dia pasti bisa. Hanya dengan
sedikit mengubah pola pikir Yamano, suasana seketika membaik. Latihan setelah
itu terasa begitu harmonis, seolah apa yang terjadi kemarin tidak pernah ada.
——Suasana latihan
yang menyenangkan, seolah segalanya telah kembali seperti semula.
*
Perjalanan pulang
diiringi hembusan angin musim semi yang nyaman.
"Ini semua
berkat saran Senpai!"
Yamano yang
sedang dalam suasana hati yang sangat baik terus menabrakkan bahunya ke bahuku.
Sakit tahu.
"Aku tidak
bilang apa-apa yang istimewa, tapi suasana hari ini memang bagus."
"Benar juga
ya~ Padahal kalau tidak bicara yang aneh-aneh kan aman, kenapa kemarin aku
sampai stres sendiri ya?"
Yamano tertawa
cekikikan sambil mengolok-olok dirinya sendiri.
"Yah, kalau
suasananya seperti hari ini, pasti aman!"
"Benar juga.
Tadinya aku sempat berpikir bagaimana nasib kita……"
Apa pun itu,
suasana band sudah kembali normal.
"Kalau
begini, kita bisa menampilkan pertunjukan yang layak."
Aku merasa lega
karena kami bisa menghadapi hari-H dengan suasana yang baik.
"——Hei
Senpai. Kalau begini, sudah tidak apa-apa, kan?"
Kami sampai di
persimpangan jalan tempat jalan pulangku dan Yamano berpisah. Saat berpisah,
Yamano bertanya dengan suara pelan. Ekspresi seriusnya itu seolah
menyembunyikan rasa cemas.
"Ya. Tentu
saja. Bukankah latihan hari ini menyenangkan?"
Aku tersenyum
supaya bisa menghilangkan rasa cemas Yamano. Sudah begini saja cukup. Karena
Yamano dan Mei sudah bisa berbaikan.
"……Benar
juga! Baiklah, sampai jumpa besok!"
Mendengar
kata-kataku, Yamano tersenyum manis. Lalu, dia menghilang ke dalam kegelapan malam sambil melambaikan tangan
dengan penuh semangat.
*
Tinggal satu hari
menuju hari-H.
Hari ini, kami
memainkan ketiga lagu tersebut berkali-kali dari awal sampai akhir untuk
memastikan semuanya sudah mantap.
"Bagus,
rasanya sudah enak."
Sejauh ini,
kesalahan Mei juga sudah sangat minim.
Dengan performa
seperti ini, setidaknya kami bisa melewati peran sebagai band pembuka tanpa
masalah.
Yamano dan Mei,
seperti hari kemarin, masih berbincang dengan suasana yang hangat.
"Ano,
Hondo-senpai? Ada apa?"
Yang bertanya
adalah Yamano.
Aku pun sejak
tadi memperhatikan gerak-gerik Serika.
"……Maaf."
Hari ini, Serika
sangat irit bicara, dan raut wajahnya pun tampak muram.
Bukannya dia
melakukan kesalahan, tapi melihatnya seperti itu tentu saja membuatku cemas.
"Apa
jangan-jangan, kamu masuk angin?"
"Bukan
begitu, sih..."
Lebih tepatnya,
anehnya sikap Serika bukan hanya terjadi hari ini saja.
Saat
Yamano dan Mei bersitegang, Serika pun selalu bersikap tidak biasa.
Namun,
sekarang setelah suasana band kembali ceria, ekspresi Serika justru terlihat
semakin gelap.
"……Mungkin
karena besok hari-H, jadi aku agak gugup."
Serika
tersenyum seolah sedang kesulitan.
Itu
adalah ekspresi yang tidak cocok dengan Serika yang biasanya selalu memasang
wajah datar.
Aku
sempat berpikiran begitu, tapi sepertinya Mei dan Yamano tidak terlalu
memperhatikannya.
"Ternyata
Serika-senpai adalah tipe orang yang bisa merasa gugup, ya."
"Sebentar,
Yamano-san. Itu pernyataan yang tidak sopan secara natural, lho."
"……Yah,
situasinya kan berbeda dengan saat festival budaya."
Hahaha, ketiganya tertawa bersama.
Namun,
melihat pemandangan itu, aku justru merasakan kejanggalan yang sangat kuat.
……Ada
apa? Apa yang aneh?
Suasana
sudah jauh lebih baik dibandingkan dua hari lalu saat kami bertengkar.
Band ini
seharusnya sedang berjalan dengan lancar. Lalu, kenapa hatiku merasa tidak
tenang seperti ini?
*
Setelah
kegiatan klub selesai, kami pulang sambil terus membicarakan tentang hari esok.
"Kalau
begitu, sampai jumpa besok."
Kami
berpisah dengan Mei di dekat Stasiun Maebashi.
Setelah itu, kami
bertiga menaiki Jalur Ryomo menuju Stasiun Takasaki.
Aku dan Yamano
harus berganti kereta, tapi karena Stasiun Takasaki adalah yang terdekat dengan
rumah Serika, di sinilah kami berpisah.
"Oke, besok
kita kumpul di live house setelah makan siang ya."
Hari ini,
Serika tetap tidak bersemangat sampai akhir.
……Apa dia
benar-benar hanya merasa gugup?
Apakah aku
melewatkan sesuatu?
"Ayo, kita
pulang. Perjalanan dari sini lumayan jauh, ya~"
Tepat saat Yamano
hendak menuju pintu tiket kereta listrik Joshin, aku pun bersuara.
"……Maaf,
Yamano. Aku ada urusan sebentar. Kamu pulang duluan saja."
Aku merasa tidak
boleh melewatkan momen ini.
Diriku sendiri
merasakan kejanggalan pada situasi saat ini.
Untuk memahami
apa yang sebenarnya terjadi, mungkin aku harus berbicara dengan Serika.
"Eh,
Senpai!?"
"Maaf!
Sampai jumpa besok!"
Sambil meminta
maaf kepada Yamano yang terkejut, aku berlari sambil menghindari orang-orang
yang berlalu-lalang.
Punggung
Serika yang tadi menghilang di tengah kerumunan orang sudah tidak terlihat
lagi.
Tapi, aku tahu
kira-kira ke arah mana rumah Serika. Dia pernah memberitahuku sebelumnya.
Aku menuruni
tangga stasiun, melewati area rotary, dan sampai di jalan besar di depan
stasiun.
Area depan
Stasiun Takasaki adalah pusat kota terbesar di Prefektur Gunma. Meski malam
sudah larut, lampu jalan masih terang benderang dan lampu gedung-gedung belum
dipadamkan. Di tengah kerumunan orang dan kendaraan, aku berlari mencari
Serika.
Tak lama, aku
melewati kawasan perkantoran dan memasuki area perumahan.
"Hah,
hah..."
Aku berhenti
sejenak untuk mengatur napas.
Berlari
sambil menggendong gitar ternyata sangat melelahkan.
Seharusnya
arahnya ke sini, tapi punggung Serika tetap tidak ditemukan.
……Mungkin ini
adalah kesalahan, nekat mengejarnya tanpa rencana yang jelas.
Saat aku berjalan
melewati area perumahan yang sepi sambil berpikir begitu, aku melewati sebuah
taman kecil.
Di jam segini,
tentu saja taman itu sepi... tapi ternyata, ayunan yang menjadi satu-satunya
alat permainan di sana tampak bergoyang bersama seseorang berambut pirang. Saat mendekat, terlihat seorang
gadis mengenakan seragam yang kukenal duduk di sana.
"……Serika."
"Eh……?
Natsuki?"
Serika
meletakkan tas dan case gitarnya di samping ayunan, lalu duduk bergoyang
pelan.
Seiring dengan
ayunan itu, air mata jatuh dari sudut mata Serika.
*
Dari pohon sakura
yang tumbuh di samping ayunan, kelopak-kelopak bunga berguguran sedikit demi
sedikit.
Musim sakura pun
sudah hampir berakhir. Padahal, belum lama ini bunga-bunga itu sedang mekar
penuh.
"Kenapa kamu
ada di sini?"
Meski aku duduk
di ayunan sebelah Serika, dia tetap diam untuk beberapa saat.
Setelah mengusap
sudut matanya dengan lengan baju, barulah dia membuka suara.
"……Aku
mencarimu."
"Kenapa? Apa
ada urusan mendesak?"
"Tidak...
tidak juga, sih."
"Apa kamu
merindukanku? Jangan bilang kamu sudah jatuh cinta padaku?"
Serika mencoba
melucu, dan mata kami bertemu. Serika langsung memalingkan wajah.
"Boleh aku
tanya juga?"
"Tidak
boleh."
"Kenapa kamu
menangis?"
"Sudah kubilang jangan tanya..." Serika
memanyunkan bibirnya.
Dilihat dari jarak sedekat ini, sudut matanya tampak bengkak
kemerahan meski di tengah kegelapan malam.
"……Aku
sendiri pun, tidak tahu."
Serika
menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa ya,
aku menangis?"
"……Apakah
ada masalah dengan latihan hari ini?"
"Tidak kok.
Natsuki-kun dan Saya sudah berbaikan, dan suasananya juga menyenangkan,
kan?"
"Kalau
begitu, kenapa? Akhir-akhir ini, aku memang merasa perilakumu aneh..."
"Iya, ya.
Akhir-akhir ini aku memang selalu aneh."
Serika
mengakuinya dengan nada mencela diri sendiri.
"Sudah
pernah kubilang ke Natsuki sebelumnya, kan. Sejak SMP, aku terus-menerus
mengalami band yang bubar. Karena
itulah, aku takut hal yang sama akan terjadi lagi kali ini... aku merasa
takut."
"……Ternyata
benar, ya."
Saat Serika
mencoba menjaga perasaan Yamano dan yang lain, dia memang tampak ketakutan.
Apa yang
diceritakan Serika sesuai dengan dugaanku. Justru karena itulah, aku tidak
mengerti alasan dia menangis sekarang.
"Tapi, dua
hari terakhir ini suasananya sudah baik, kan?"
"Iya,
itu memang benar. Tapi..."
Aku
merasa kejanggalan yang kurasakan juga ada hubungannya dengan air mata Serika.
"Tidak
ada satu pun yang benar-benar terselesaikan, bukan?"
"……Apa
maksudmu?"
Namun, pernyataan
Serika di luar pemahamanku.
"Yamano dan
Mei bukankah sudah berbaikan dengan baik?"
"Tapi Saya
jadi tidak mengatakan apa-apa lagi soal kesalahan Natsuki-kun, kan?"
Memang
benar, Yamano tidak lagi memberikan masukan soal permainan orang lain.
Itu karena dia
sekarang hanya fokus pada bagiannya sendiri.
——Karena aku yang
memberikan saran agar dia melakukan itu.
"Natsuki,
apa kamu bilang sesuatu pada Saya?"
"Ah, iya...
aku menyarankannya untuk mencoba fokus pada bagiannya sendiri."
Hasilnya, suasana
band yang tadinya buruk menjadi membaik.
Yamano
dan Mei pun berbaikan, dan sekarang latihan berjalan dengan harmonis.
"Itu bukan
tujuannya."
Namun, Serika
menggelengkan kepalanya.
Dia
menatapku dengan ekspresi sedih.
"Tujuan kita
adalah mengubah dunia ini dengan musik, bukan?"
Akhirnya aku
mengerti apa yang ingin disampaikan Serika.
Apakah selama aku
merasa gelisah, aku justru kehilangan tujuan utamaku?
"Apa yang
dikatakan Saya itu benar."
"……Tapi,
bukan berarti harus dengan cara mengkritik sekasar itu, kan?"
"Kalau kita
hanya melakukan kegiatan klub biasa, mungkin memang begitu, tapi—"
Serika menatap
langit malam.
Aku pun ikut
menatap ke arah yang sama. Di langit tanpa awan sedikit pun, bintang-bintang tampak
berkelap-kelip.
"――Kamu
tidak benar-benar ingin serius nge-band, kan?"
Begitulah.
Memang benar adanya.
Aku
sendiri yang mengatakannya kepada semua orang.
"Itu... apa
maksudnya cuma menunda masalah dan membiarkan semuanya berjalan
setengah-setengah?"
Serika
melanjutkan ucapannya dengan perlahan. Mungkin dia sedang merangkai kata-kata
untuk perasaan yang tadinya masih samar.
"Sikap
kerasmu ke Shinohara-kun itu karena kamu peduli sebagai sesama pemain ritme,
kan? Di sana tidak ada hubungan Senpai atau junior. Kalau memang ingin
menciptakan musik yang bagus, kamu tidak boleh berkompromi."
"……Apakah
aku sudah bicara yang tidak-tidak pada Yamano?"
"Malam
kemarin lusa, aku sudah bilang ke Saya—bahwa tidak apa-apa jika Saya tetap
seperti itu."
……Itu adalah hari
ketika Yamano menungguku di stasiun terdekat. Saat aku berbicara dengan Naru, Yamano pulang
bersama Serika. Apakah Serika memberikan saran yang justru bertolak belakang
denganku kepada Yamano?
"Tapi,
Saya berubah. Dia mulai berkompromi. Dia lebih mengutamakan suasana latihan
yang enak daripada membuat musik yang bagus. Karena Natsuki yang bilang
begitu."
Secara
gamblang, Serika menyalahkanku.
"Saya
percaya pada kata-kata Natsuki, bukan padaku."
Tidak ada
ruang untuk membantah. Aku sempat jumawa, mengira diriku bisa membimbing junior
sebagai seorang Senpai.
"Aku juga
benci kalau suasana jadi buruk. Ketakutan kalau band ini bubar itu nyata."
Aku tidak
memahami betapa beratnya kata-kataku yang bisa mengubah seseorang.
"Tapi—bukan
berarti kamu jadi tidak bicara apa yang seharusnya dikatakan. Itu namanya
menjungkirbalikkan prioritas."
Aku terlalu
terobsesi dengan masalah di depan mata sampai kehilangan tujuan awal. Serika
menangis karenaku.
"……Maaf."
Yang salah adalah
aku dan Naru. Kita yang kemampuan teknisnya kurang ini harus memiliki kesadaran
yang lebih tinggi lagi.
"Kalau cuma
seperti sekarang, kita memang bisa melakukan live yang lumayan."
Selama ini Serika
tidak pernah menegur pernyataan Yamano.
"Tapi, kita
tidak bisa mengubah dunia. Kita tidak akan bisa menciptakan keajaiban seperti
saat festival budaya."
Dulu kupikir dia
hanya takut suasana menjadi canggung.
"Tentu saja
lebih menyenangkan kalau semuanya akur dan santai."
Serika diam saja
karena dia menganggap perkataan Yamano itu benar.
"Aku takut
kalau suasananya buruk. Aku takut kalau kita bertengkar dan akhirnya bubar.
Tapi, bukankah serius berarti berani mengambil risiko itu?"
"Natsuki,
bukankah kamu memilih untuk serius dengan pemikiran seperti itu? Bisakah kamu benar-benar bilang
'serius' di lingkungan seperti ini?"
Kata-kata Serika
tepat sekali. Aku tadinya berpikir dengan santai, bahwa suasananya sudah
kembali seperti semula. Tapi kalau kembali seperti semula, itu sama saja dengan
aktivitas kita yang asal-asalan beberapa bulan lalu.
Kalau memang
tidak ada niat untuk mengubah dunia lewat musik, maka tidak ada masalah sama
sekali. Namun, karena aku bilang ingin serius, Serika pun akhirnya membulatkan
tekadnya. Meski begitu, dia merasa sedih karena kesadaran diriku sendiri justru
kurang.
"Apa arti
'serius' bagimu, Natsuki?"
Alasan ucapan
Yamano jadi ketus juga karena aku yang menuntut keseriusan. Aku tidak bisa
berkata apa-apa. Serika melepas tatapannya dariku, lalu kembali menyandang tas
dan case gitarnya.
"……Besok
kita berjuang ya, Natsuki."
Serika
meninggalkanku sendirian di taman. Untuk beberapa saat, aku tidak bisa bergerak
dari tempatku. Sambil berayun di kursi taman, aku tenggelam dalam lautan
pikiran. Apa itu serius? Apa yang harus kulakukan sebagai bukti keseriusan?
Aku tidak tahu.
Tapi, setidaknya satu hal yang kusadari. Bagaimanapun juga, kata-kataku selama
ini hanya bualan belaka.
*
Lalu, hari H pun
tiba di hari Sabtu. Sebagai penanggung jawab humas band, aku kembali memberikan
pengumuman di Twister.
Memang tidak
sebanding dengan band lain, tapi ada puluhan respons yang masuk. Meski mungkin
yang datang secara fisik tidak sampai sepuluh persen dari total penonton,
setidaknya sudah pasti ada penonton kita sendiri. Walaupun tiket yang
dijatahkan untuk kami sedikit, kami berhasil menjual habis kuota tersebut.
"Emm, kalau
tidak salah di sekitar sini, ya?"
Sekitar sepuluh
menit berjalan kaki dari Stasiun Takasaki, live house itu berada.
Sekilas, bangunannya tampak seperti bar yang elegan. Terpampang papan nama
bertuliskan Club Jaguars.
Di dekat pintu
masuk, ketiga orang lainnya sudah berkumpul.
"Selamat pagi…… eh, sudah bukan waktunya bilang pagi
lagi ya."
Karena Live Fes baru akan dimulai dari sore hari,
kita janjian berkumpul setelah jam makan siang.
"Halo,
Natsuki."
"Hari ini
kita berjuang, ya!"
"Makan
siangku tadi gyudon. Enak."
Serika
bersikap seperti biasa. Setidaknya, dia berusaha agar terlihat begitu. Tanpa
membahas kejadian kemarin, kami berempat mengobrol sambil memasuki live
house.
Di meja
kasir lounge, berdiri seseorang yang sepertinya staf. Serika berjalan dengan santai menuju
kasir, jadi kami mengikutinya dari belakang.
"Kami dari
Mishulef (Dummy). Mohon bantuannya hari ini."
"Ya, ya. Aku
catat ya. Eh, kenapa namanya (Dummy)?"
"Anggotanya
berubah dan kami berencana mengganti nama, tapi belum terpikirkan."
"Haha, gitu
ya. Ya sudah, ruang tunggunya di sebelah sana, mohon kerja samanya~"
Setelah
menyelesaikan registrasi, kami menyerahkan Setlist dan lembar pengaturan
panggung. Ini adalah live house tempat Serika biasanya bekerja paruh
waktu. Tentu saja, karena Serika kenal dengan stafnya, prosedurnya berjalan
lancar.
"Selanjutnya
kita harus keliling untuk menyapa band lain."
"I-ini menegangkan ya…… dari sudut pandang kita, mereka
semua adalah band yang luar biasa."
"Bener
banget. Gimana kalau nanti kita dibilang, 'Tempat ini bukan buat anak
kecil'?"
Itu
prasangka yang berlebihan. Tidak mungkin ada orang yang bertingkah seperti di
anime, kan? ……Eh, tidak ada, kan?
"Tidak
perlu khawatir. Semuanya kenalanku."
Meski
sibuk karena segalanya adalah hal pertama bagiku, Serika sangat bisa
diandalkan.
"Oh,
Serika-chan! Mohon kerja samanya ya hari ini~"
"Mohon
bantuannya, Paman."
"Aku belum
paman, tahu!?"
Tampaknya, Serika
memang disayangi oleh kakak-kakak dari band lain. Kami juga diakui sebagai
"teman Serika" dan disapa dengan semangat, "Mari kita berjuang
bersama."
"Kita
beneran menyapa Kusabi……"
Naru gemetar
ketakutan di depan band Indie papan atas yang baru saja kami sapa.
"Tidak
percaya ya, kita akan tampil di panggung yang sama dengan band level itu,"
ujar Yamano sambil menatap Naru.
"Bagiku,
justru Maruide yang lebih mengejutkan sih……"
"Eh? Band itu terkenal ya? Aku tidak tahu."
Mendengar
kata-kataku, mata Yamano membelalak.
"Bukan, aku
cuma suka saja secara pribadi."
Aku mengelak
begitu, padahal Maruide adalah band yang nantinya akan terkenal. Saat ini, di
festival ini mereka memang masih pendatang baru tepat setelah kami, tapi hanya
aku yang melakukan Time Leap ini yang tahu bahwa di masa depan merekalah
yang paling bersinar. Rasanya seperti sedang mengalami pengalaman yang
berharga.
"Permainan
Maruide memang kelasnya beda. Aku tidak mengerti kenapa fans mereka masih
sedikit."
Serika, yang
kenal dengan anggotanya, juga ikut bingung. Tenang saja, penggemar mereka akan meledak di
masa depan.
*
Setelah
selesai bersapa-sapa, gladi resik pun dimulai.
"Urutannya
sesuai jadwal, jadi kita yang pertama ya."
Tampaknya kita
melakukan gladi resik dengan urutan yang sama seperti penampilan asli. Katanya,
terkadang dilakukan urutan terbalik yang disebut Gyaku-ri.
"Ya, silakan
tes tiga titik."
PA-san…… penanggung jawab tata suara, memandu kami
untuk mengatur keseimbangan volume. Yamano memukul Bass, Snare,
dan Hi-hat. Ternyata tiga titik itu merujuk pada ketiga drum ini.
Yamano, yang pernah punya pengalaman nge-band saat SMP, menanganinya tanpa
kegugupan berarti.
"Selanjutnya, pemain bas yang pakai kacamata~"
"I-iya!"
Naru
memukul senar basnya dengan kaku. Aku paham. Memang menegangkan. Aku dan Naru
belum pernah nge-band, jadi ini pertama kalinya kami tampil di tempat
profesional seperti ini. Karena
penonton belum ada, ruangan terasa sangat luas.
"Keluarin
suara gitarnya, Serika."
"Iya…… segini cukup, ya?"
Serika tampak
akrab dengan PA-san, mereka mengobrol santai sambil melakukan cek suara.
"Ya, oke.
Selanjutnya giliranmu, keluarkan suara gitarnya."
Ups, aku tidak
bisa terus-terusan memperhatikan orang lain. Aku buru-buru memainkan beberapa Riff
dan mengeluarkan suara sebagai vokalis. Setelah itu, kami melakukan cek suara
keseluruhan dan memainkan korus lagu 'Monochrome' untuk verifikasi akhir.
Jujur, karena
terlalu gugup, aku bahkan tidak tahu apakah suaraku keluar dengan benar.
"Ya,
selesai. Selanjutnya giliran Maruide~"
Saat aku
sedang melamun, pekerjaan bongkar muat dimulai.
"Natsuki,
pastikan foto pengaturannya, ya."
"O-oh iya,
benar. Kita harus mereplikasi pengaturan ini nantinya."
Sebelum
membereskan, aku memotret skala pada Amplifier. Setelah itu kami
buru-buru membereskan alat musik dan menyerahkan tempat kepada band berikutnya.
Dulu saat festival budaya kami juga melakukan gladi resik, tapi tempat ini
benar-benar beda dari panggung sekolah.
Peralatan
akustik yang profesional. Staf yang mengoperasikannya. Ketegangan yang terasa
dari band-band Indie yang aktif. Aku baru sadar kembali, bahwa kami
benar-benar tampil "di luar" batasan klub musik sekolah.
Karena
ruang tunggu berubah menjadi tempat penyimpanan barang bersama untuk semua
band, kami menghabiskan waktu tunggu di lounge. Sambil sesekali melirik
band lain yang sedang gladi resik, kami menarik napas sejenak.
"Sisanya
tinggal menunggu penampilan kita."
Tidak banyak
bicara. Bagaimanapun juga, saat sudah hari H, ketegangan mulai terlihat di
wajah semua orang. Setelah menunggu di lounge beberapa saat, penonton
umum mulai masuk. Mereka datang berbondong-bondong, membeli minuman,
lalu berkumpul di depan panggung.
"Penontonnya banyak ya~"
"Cuacanya bagus, kurasa jumlah yang datang sesuai
rencana."
"Sudah
saatnya kita ke ruang ganti. Karena kita yang pertama, kita harus segera
bersiap."
Naru entah karena
terlalu gugup, tidak mengucapkan sepatah kata pun.
*
Sudah hampir
waktunya. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah ke panggung.
Gorden panggung
masih tertutup, dan lantai penonton belum terlihat. Meski begitu, dari balik
gorden yang tebal, terdengar kebisingan dari kerumunan penonton. Kami menata
ulang instrumen dan peralatan, lalu membunyikan alat musik perlahan untuk
pengecekan terakhir.
"Ya, baiklah
kita mulai ya~"
Sesuai isyarat PA-san,
gorden mulai terbuka. Sosok orang-orang yang memenuhi lantai penonton perlahan
terlihat di pandanganku.
Banyak
orang sedang memperhatikan kami. Terdengar suara ekspektasi, "Ohh."
"Kami
Mishmash Leftovers! Mohon bantuannya!"
Meskipun
begitu, suasana tidak terasa meriah seperti banyaknya jumlah orang yang ada.
Karena kami adalah band pendatang baru dengan sedikit penggemar, itu hal yang
wajar. Kupikir 90 persen orang di sini tidak tahu siapa kami.
Di tengah
perkenalan anggota, tepuk tangan formal pun terdengar. Ekspresi "Siapa sih
mereka?" terbaca jelas di wajah setiap orang. Tatapan mereka yang seolah
sedang menilai membuatku takut.
Berbeda
dengan saat festival budaya di mana banyak orang yang mendukung kami. Ini bukan
tempat kami. Padahal aku seharusnya sudah tahu, tapi saat merasakannya secara
langsung, aku seolah hampir tertelan oleh suasana.
Sambil
berkeringat dingin, aku terus melakukan MC. Untuk lelucon kecil yang
kulemparkan, tidak ada yang tertawa.
"Tenang,
Natsuki. Kita cuma harus melakukannya."
Aku mengangguk
pada Serika yang membisikkan kata-kata itu padaku. Benar, suasananya terlalu away,
aku benar-benar tertekan.
Tapi, aku hanya
perlu mengubah orang-orang ini menjadi fans kami. Dengan pemikiran
itulah kami berlatih. Seharusnya begitu. ……Setidaknya, awalnya begitu.
"Lagu pertama, mulai. ——'black witch'"
Namun, kenyataan
tidak semanis itu. Kalau harus meringkas kejadian setelahnya, aku belajar bahwa
keajaiban tidak bisa diciptakan semudah itu.
*
Tiga lagu itu
berlalu dalam sekejap mata. Diiringi tepuk tangan, kami pun turun panggung.
……Sejujurnya,
penampilannya tidak seburuk yang kubayangkan. Beberapa kali melakukan
kesalahan, tapi kami berhasil menyelesaikannya sampai akhir. Penonton di lantai
juga, saat lagu dimulai, cukup meriah.
"Yah, karena
band pembuka, wajar lah ya."
"Masih anak
SMA ya? Lumayan juga."
"Nggak
buruk. Kayaknya menjanjikan ke depannya."
——Ya, lumayan.
Keluar dari
panggung, kami kembali ke ruang ganti. Secara bergantian, Maruide menuju
panggung. Suasananya sulit digambarkan, terasa sangat canggung.
Bukan berarti
kami melakukan kesalahan fatal. Tapi, tidak bisa dibilang penampilan terbaik
juga. Sebab, dunia tidak berubah sedikit pun.
"Ya
sudah, kerja bagus."
Serika,
yang menyeka keringat dengan handuk, berkata dengan datar.
"……Maaf,
ini salahku."
Naru
menundukkan kepala dengan wajah yang tampak putus asa. Yamano terlihat ingin
mengatakan sesuatu pada Naru, tapi akhirnya memalingkan wajah.
"Saya."
Serika
memanggil Yamano.
"Kalau
ada yang mau disampaikan, bilang saja."
Sepertinya
setelah percakapan kemarin, pemikiran Serika sudah bulat.
"Eh,
sekarang? Kan baru saja selesai, nanti saja tidak apa-apa……"
Yamano
tampak bingung, namun Serika terus mendesak.
"Evaluasi
harus dilakukan selagi masih terasa segar."
Yamano bingung
dengan kata-kata Serika, lalu menatapku seolah meminta petunjuk. Tindakannya
itu sudah cukup menjelaskan. Yamano saat ini memang masih menyerahkan pedoman
tindakannya padaku.
"Maaf,
Yamano. Aku yang salah."
"Eh……?"
Maka,
pertama-tama aku menundukkan kepala pada Yamano. Kesalahan harus dikoreksi dengan benar.
Setelah itu, aku menatap Yamano yang sedang terkejut dan mengatakan hal yang
berkebalikan dari sebelumnya.
"Perkataan
yang perlu disampaikan, sebaiknya disampaikan dengan benar."
Itulah
kesimpulan yang kudapat setelah berbicara dengan Serika kemarin.
"……Apa
maksud kalian?"
Naru
mendengar percakapan kami dan mengerutkan dahi dengan curiga. Yamano terdiam
sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Naru yang tampak bingung.
"……Wajar
kalau gugup, tapi kamu tidak boleh melakukan hal yang berbeda dari
latihan."
Ngomong-ngomong,
aku tadi panik, jadi aku tidak tahu apa-apa. Tapi sepertinya ada pemahaman yang sama antara
Yamano dan Serika, mereka menatap Naru dengan tajam.
"'black witch' di bagian C-melody…… kamu
menyederhanakannya, kan?"
Serika berkata menyambung ucapan Yamano. Kalau
dipikir-pikir, mungkin memang benar begitu.
"Itu…… karena saat festival budaya bagiannya seperti
itu. Aku tidak mau melakukan
kesalahan."
Naru kehilangan
kata-kata dan matanya mengembara, tertangkap basah.
"Kalau kamu
tidak mengeluarkan hasil latihan di hari H, apa gunanya latihan itu
semua?"
Masalah
menyederhanakan Bassline adalah suara jadi monoton. Suaranya jadi kosong dan groove-nya
melemah. Dengan kata lain, tenaganya hilang.
Jujur,
itu memang masalah kecil. Tapi, menghargai hal-hal kecil seperti itu adalah
arti dari kata 'serius'. Padahal dengan kekuatan penuh pun sulit, tidak mungkin
kita bisa mengubah dunia dengan berkompromi.
"Kamu
berlatih supaya tidak salah, kan?"
Kemarahan
tersirat dalam kata-kata Yamano. Mungkin karena aku sudah memberikan izin,
emosi yang selama ini tertahan akhirnya keluar.
"Karena kita
bilang ingin serius, Serika-senpai sampai menyesuaikan lagunya, tahu! Walaupun
setiap part jadi lebih sulit, tapi ini supaya suaranya lebih tebal dan
meriah!"
Apa yang
dikatakan Yamano benar. Part gitarku yang saat festival budaya tahun lalu hanya
terdiri dari Power Chord sederhana, sekarang jadi sangat sulit. Karena
itulah aku berlatih mati-matian sampai hari ini, dan akhirnya bisa
memainkannya.
Yamano berbicara
sangat keras, tapi Serika tidak menegurnya, malah menyetujuinya.
"Aku juga
merasakan hal yang sama. Aku tahu ini menuntut hal yang sulit. Tapi, bukankah
Saya sudah berkali-kali menunjukkan bagian itu padamu? Kurasa ada banyak
kesempatan untuk memperbaikinya."
Naru, yang
diserang secara sepihak, mundur satu langkah.
"Kalau cuma
salah, tidak apa-apa kok. Tapi, bukankah aneh kalau kamu tidak mencoba?"
Kata-kata Yamano
selalu berdasarkan logika yang benar. Aku yang tidak menyadari apa-apa, tidak
bisa berdiri di posisi mana pun. Aku hanya seperti pajangan. Naru hanya bisa
menunduk tanpa bisa menjawab. Memang kasihan, tapi sulit untuk membela Naru
saat ini. Sebab, dia memang melakukan hal yang wajar jika dimarahi.
"……Maaf. Aku
mau keluar cari udara segar dulu."
Naru yang terdiam
cukup lama, akhirnya membelakangi kami seolah ingin melarikan diri.
"Kamu tidak
percaya diri karena kurang latihan, kan?"
Saat Naru
berjalan terhuyung-huyung, Yamano menambahkan kata-kata terakhir seolah
menusuknya tepat di hati.
"――Keseriusan
Shinohara-senpai itu cuma di mulut saja, ya."
Ugh, uhhh…… tunggu sebentar. Itu benar. Memang benar, tapi…… tetap saja,
cara penyampaiannya ada batasnya, kan?
Saat
kulihat ke samping, Serika juga tampak melipat tangan dengan ekspresi yang
cukup gelisah. Tapi, karena aku yang memprovokasi Yamano, tanggung jawabnya
tetap ada padaku. Saat sedang memikirkan hal itu, tatapan Yamano beralih
padaku.
"Senpai
juga payah banget. Tempo sempat lari, suaranya juga tidak stabil."
Yamano menunjuk
kekurangan itu dengan mata yang tajam.
"Ugh…… iya.
Aku sadar."
Aku sudah
melakukannya dengan kekuatan penuh, tapi bukan berarti itu akan menghasilkan
hasil yang baik.
"Serika-senpai
bisa diandalkan."
"Iya. Saya
juga bagus. Drumnya bertenaga."
"……Terima
kasih. Soalnya aku sudah berlatih mati-matian. Berulang kali."
Seperti
kata Serika, drum Yamano yang memandu kami. Terhadap aku dan Naru yang
langkahnya tidak seirama, Serika dan Yamano tetap tenang.
"Inilah
kemampuan kita yang sekarang."
Serika tidak
mengubah ekspresinya sama sekali, mungkin karena dia sudah menerimanya.
"Saat
festival budaya, itu hanya kebetulan sedang on-fire, keajaiban tidak
bisa diciptakan berkali-kali."
Aku pikir
aku sudah mengerti. Namun, secara tidak sadar, aku masih berpikir kalau di hari
H kita bisa tampil lebih baik. Serika menunjukkan realita yang seharusnya sudah jelas itu di depan mataku.
"Mustahil
menghasilkan hasil yang lebih dari latihan. Kalau kita tidak berlatih dengan
lebih serius, mengubah dunia dengan musik adalah hal yang mustahil. Saat ini,
kita hanya bisa melakukan pertunjukan yang seadanya."
*
Suara yang
menggelegar menggetarkan udara. Sambil menyandarkan punggung di dinding paling belakang lantai
penonton, aku menatap pertunjukan itu dengan samar-samar.
Sekitar
250 orang berdiri. Sorak-sorai penonton seperti ombak. Mengikuti musik, seluruh
venue berayun seolah sedang berguncang.
Pencahayaan
berkedip dengan liar, vocal high-tone menaiki suara yang memiliki rasa
kecepatan dan bobot, bergema dengan jernih.
Di balik
penonton yang sedang bersemangat, panggung terlihat. Band yang sedang
tampil saat ini adalah 'Maruide'.
Kemampuan mereka
dibuktikan oleh penonton yang sedang keranjingan. Levelnya berbeda dengan kami.
Mendengarnya dari kejauhan saja sudah membuat tubuhku gemetar.
"Dengan lagu
ini, aku berharap bisa mengubah hidup kalian jadi sedikit lebih baik!"
Teknik
yang disusun dengan hati-hati. Suara nyanyian yang penuh perasaan. Inilah band yang sebenarnya.
"Lagu
keempat—ayo, semuanya! Ikuti aku!"
Bersama MC
vokal yang panas, gitar menyebarkan riff seperti percikan api. Snare
membelah udara dengan tajam, dan simbal meledak terbang. Bass rendah
bergema sampai ke dasar perut.
Sorak-sorai
kembali naik. Penonton melambaikan tangan, berteriak, dan mengguncang lantai.
Panas yang diciptakan musik menjadi satu, berputar-putar.
Melihat
pemandangan itu, aku berdiri terpaku. Tidak akan ada orang yang mengingat kami
lagi. Musik ini memiliki
kekuatan untuk mengubah dunia. Itu adalah sosok yang kami tuju.
Aku tahu
band ini akan debut Major dan terbang tinggi di masa depan. Sebaliknya,
kami hanyalah band SMA yang cuma sempat viral sebentar. Bisa berdiri di
panggung yang sama saja sudah keajaiban. Membandingkan diri dengannya saja
sudah lancang.
――Itu,
hanyalah alasan.
Serius
itu artinya, melakukan sesuatu dengan niat untuk mengalahkan orang-orang ini.
Akhirnya, aku mengerti itu. Untuk pertama kalinya, aku memahami beratnya kata
'serius' dengan kulitku sendiri.
"Hebat,
ya."
Serika
yang berada di sampingku menatap panggung dengan tatapan silau.
"Ya,
sungguh."
Kalau mau
mewujudkan pemandangan ini di tangan kita sendiri, kita harus mengubah
kesadaran.
"Aku
mau bicara sebentar dengan Naru."
"……Iya,
tolong ya. Saya agak keterlaluan."
Bukan
hanya menyalahkan, tapi kita harus bicara dengan baik, kan? Aku meninggalkan
lantai dan keluar sebentar. Namun, Naru tidak ditemukan di sekitar live
house.
……Eh?
Bukannya dia bilang mau cari udara segar? Apa kami berpapasan?
Aku
kembali ke dalam live house, dari lounge menuju ruang ganti. Lalu aku bertemu dengan Yamano.
"Emm, apa
kalian melihat Shinohara-senpai?"
"Tidak, aku
juga baru saja mencarinya."
"Tadi saat
aku kembali ke ruang ganti, barang-barang Shinohara-senpai sudah tidak
ada……"
"……Dia
pulang duluan meninggalkan kita?"
"Aku merasa
itu karena aku terlalu terbawa emosi dan bicara berlebihan……"
Yamano
menunduk dengan ekspresi cemas. Tepat saat itu, ponsel di sakuku bergetar. Itu
pesan di RINE. Naru sedang mengirim pesan di grup band. Dengan perasaan
firasat buruk, aku membuka RINE.
Shinohara@SukaAnime:
'Maaf sudah menyusahkan kalian.'
Shinohara@SukaAnime:
'Aku berhenti dari band. Terima
kasih untuk semuanya sampai saat ini.'
Di sana tertulis sebuah pesan yang mengejutkan.



Post a Comment