NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 9 Interlude II

Interlude 2

Putaran Pertama: Juni


Musim hujan telah tiba, hari-hari yang diliputi curah hujan pun berlanjut.

Belakangan ini setiap hari terasa sangat menyenangkan. Sejauh ini, bisa dibilang "debut SMA"-ku telah sukses besar.

Namun, ada satu hal yang mengganjal; belakangan ini Sakurada tampak murung secara aneh.

Gara-gara itu, suasana di seluruh kelas jadi terasa kurang meriah.

"Semuanya, selamat pagi!"

Karena itulah, aku sengaja menyapa dengan penuh semangat.

Sebagai seorang jock yang sok asik, aku harus menjadi penyemangat suasana kelas.

Belakangan ini, kesempatan berinteraksi dengan seluruh teman sekelas semakin sering terjadi. Dulu aku selalu menempel dengan Nagiura, tapi jika jumlah temanku tetap sedikit, aku tidak bisa menyebut debut SMA-ku sukses.

Jadi, aku mulai sadar untuk mencoba mengobrol aktif dengan siapa saja.

Aku ini orangnya pemalu, jadi awalnya terasa menegangkan, tapi kupikir aku sudah mulai terbiasa sedikit demi sedikit.

"Hahaha…… hei, Haihara. Semangatmu itu, agak menyebalkan tahu."

Hino tertawa kecil sambil menggodaku yang menyapa semua orang dengan ceria.

"Eh, benarkah?"

"Pagi hari itu semua orang masih mengantuk. Kamu terlalu ceria sampai-sampai kami tidak bisa mengimbanginya."

Yah, kalau mereka menganggapku ceria, berarti tidak masalah, kan?

Aslinya aku orang yang suram, jadi kurasa bersikap sedikit berlebihan justru pas.

"Akan aku perhatikan. Makasih ya masukannya!"

Aku membalas Hino, menganggapnya sebagai bentuk keakraban.

Dengan cara begitu, aku sudah bisa mengobrol dengan siswa laki-laki di kelas dengan cukup lancar.

Tapi, kalau lawannya perempuan, rasanya sulit. Bagaimanapun juga aku pasti jadi gugup.

Kalau begini terus, mendapatkan pacar hanyalah mimpi di siang bolong, padahal aku ingin bisa mengobrol dengan lebih luwes.

Saat mengedarkan pandangan ke seisi kelas, mataku menangkap sosok Sakurada yang tampak suram seperti biasanya.

Membiarkannya begitu saja rasanya tidak seperti sikap seorang jock, jadi aku coba menyapanya.

"Sakurada, ada waktu sebentar?"

"Eh……? A-ada apa, Haihara-kun?"

"Belakangan ini kamu terlihat agak murung, jadi aku penasaran apa terjadi sesuatu."

"Begitukah? Tidak ada apa-apa, kok~"

Sakurada tertawa dengan canggung sambil mengalihkan pandangannya.

"Tapi, mungkin aku bisa membantu—tidak, aku ingin membantumu!"

"Ahaha, Haihara-kun bisa diandalkan ya. Kalau nanti ada masalah, aku akan konsultasi sama kamu!"

"Yah, padahal sekarang saja kamu sedang kesulitan, kan?"

Saat kami sedang mengobrol seperti itu, Shiratori ikut masuk ke dalam pembicaraan.

"Haihara-kun. Uta sebenarnya sedang minder dengan tinggi badannya. Jangan dibahas ya."

"Eh, benarkah begitu?"

"Sedikit, Rei! Kenapa kamu asal bicara……!?"

Sakurada protes pada Shiratori dengan gelisah. Rupanya itu benar.

"Belakangan ini dia berusaha keras minum susu. Jadi, biarkan saja dia dalam diam."

Shiratori tersenyum sambil berkata begitu.

Sakurada memukul punggung Shiratori dengan pelan.

Jika masalahnya begitu, sepertinya memang lebih baik tidak membahasnya. Aku sendiri tidak paham perasaan orang yang menjadikan tinggi badan sebagai kompleks.

Tapi…… apa itu hal yang perlu sampai membuat sedih?

Saat jam istirahat siang, aku makan bersama Nagiura di kantin.

Ketika kembali ke kelas, mataku menangkap sosok Hoshimiya yang sedang membaca buku di bangku dekat jendela.

"Yo, Hoshimiya. Lagi baca apa?"

Saat aku menyapanya, Hoshimiya mendongak dengan wajah terkejut.

Apakah dia sampai sefokus itu pada bukunya? Aku merasa tidak enak.

"Ah, Haihara-kun. Ini, novel misteri judulnya 'Detektif Pahlawan'."

"Heh, kedengarannya menarik."

"Sangat menarik! Kalau mau, silakan baca ya."

Hoshimiya tersenyum manis. Seperti biasa, dia ekspresif dan sangat manis.

Fakta bahwa dia suka novel juga membuatku merasa punya kedekatan, walaupun yang kubaca biasanya Light Novel.

"Haihara-kun, suka novel juga?"

"Eh……? Yah, lumayanlah?"

Aku ingin menunjukkan kesamaan hobi dengannya, tapi aku ingin menyembunyikan fakta kalau aku ini seorang otaku.

Karena kontradiksi itu, jawabanku jadi ambigu.

"Begitukah? Jadi, karya seperti apa yang kamu suka?"

Hoshimiya bertanya dengan gencar.

"Heh!? E-eh, anu…… maaf. Tidak langsung terlintas di pikiranku, tapi……"

Gawat, judul sastra umum sama sekali tidak muncul di kepalaku.

"……Ah, kalau banyak karya yang disukai, memang jadi bingung mau menyebut yang mana, ya."

Melihatku seperti itu, Hoshimiya tersenyum.

Sepertinya dia salah paham ke arah yang positif.

"I-iya, benar banget!"

Belakangan ini, aku sudah bisa mengobrol sedikit demi sedikit dengan Hoshimiya.

Setiap kali mengobrol, dia selalu tersenyum layaknya matahari, sungguh manis.

Aku sadar bahwa aku semakin menyukainya.

"Aku juga mau coba baca 'Detektif Pahlawan', deh."

Demi memperluas percakapan dengan Hoshimiya, aku melontarkan kalimat itu.

"Filmnya sebentar lagi rilis, mungkin kamu bisa tonton yang itu?"

"Eh, benarkah?"

Ternyata karya itu sepopuler itu ya.

"Hoshimiya juga mau menonton?"

"Ehm…… ya, rencananya begitu."

Artinya, ini kesempatan emas untuk mengajak Hoshimiya menonton film bersama, kan?

Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku membulatkan tekad dan berkata padanya.

"Itu, Hoshimiya, kalau tidak keberatan, bagaimana kalau denganku—"

"——Yohari, ada waktu sebentar?"

Namun, Nanase menyela pembicaraanku dan menyapa Hoshimiya.

Niatku yang terputus di tengah jalan membuatku kehilangan kata-kata.

"Ah, Yuino-chan."

Tatapan Hoshimiya pun beralih dariku ke Nanase.

Nanase mungkin baru menyadari keberadaanku, dia menangkupkan kedua tangan dengan wajah meminta maaf.

"Oh, apa kalian sedang sibuk? Maaf ya, Haihara-kun."

"T-tidak…… tidak apa-apa kok. Kami cuma sedang mengobrol soal buku."

"Begitu ya? Kalau begitu, aku pinjam Yohari sebentar, ya."

Aku rasa dia tidak sengaja, tapi waktu bicara Nanase selalu buruk.

Sering kali dia muncul tepat saat percakapanku dengan Hoshimiya sedang seru-serunya.

Bukannya aku tidak mau mengobrol bertiga, tapi rasanya tidak bisa. Memang pernah beberapa kali aku bertahan di sana, tapi karena Nanase hanya mau mengobrol dengan Hoshimiya, aku jadi merasa tidak dianggap.

Begitu pulang sekolah, latihan klub yang bagaikan neraka dimulai.

Meskipun begitu, belakangan ini aku sudah mulai bisa mengimbangi latihannya dari segi stamina.

Masalahnya ada di bagian teknis. Layup memang sudah mulai masuk, tapi middle shoot-ku sama sekali tidak pernah masuk. Bahkan saat dimasukkan ke dalam pertandingan internal, aku hanya sanggup melakukan rebound.

"Bagus, Haihara. Nice rebound!"

"……A-ah, terima kasih, Yanagishita-senpai."

Sambil terengah-engah, aku menjawab Yanagishita-senpai yang menepuk punggungku.

"Perasaanmu bagus. Kamu mulai jago sedikit demi sedikit."

Ada banyak momen di mana aku ingin berhenti, tapi alasan aku masih bertahan adalah berkat Yanagishita-senpai, siswa kelas tiga. Dia adalah kapten klub basket putra yang sering membimbingku, anggota yang paling payah.

"Berusahalah. Kamu pasti bisa jago. Aku jamin."

Berkat Yanagishita-senpai, aku masih bisa bertahan sampai sekarang.

Sampai-sampai aku melakukan latihan mandiri setelah klub berakhir demi mengejar ketertinggalanku dari yang lain.

Tubuhku yang tadinya agak gemuk pun mulai kurus. Mungkin kondisi tubuh yang sekarang sudah pas untuk beradu di bawah ring, walaupun masalahnya aku kurang cepat.

"Dengar ya, Haihara. Tangan kiri hanya untuk penopang. Ini kuncinya."

"Itu Slam Dunk, kan?"

"Hahaha! Memang kamu paham ya. Baiklah, mari kita coba."

Setelah latihan tim selesai, masuk ke waktu latihan mandiri.

Saat sedang diajarkan dasar-dasar tembakan oleh Yanagishita-senpai, Nagiura yang seharusnya sudah pulang malah kembali.

Dia memperhatikan aku dan Yanagishita-senpai yang sedang latihan dengan tatapan yang seolah ingin mengatakan sesuatu. Ada apa ya?

Saat ada jeda istirahat, aku menyapa Nagiura.

"Nagiura, kamu belum pulang?"

"……Hei, Natsuki. Jangan terlalu membebani orang lain."

Nagiura berbisik begitu agar tidak terdengar oleh Yanagishita-senpai.

"……Apa maksudmu?"

Aku mengernyitkan dahi, tidak mengerti maksud kata-katanya.

Nagiura menjawab sambil memperhatikan Yanagishita-senpai yang sedang latihan three-point.

"Kualifikasi Inter-High akan segera dimulai. Bagi Yanagishita-senpai, musim panas ini adalah yang terakhir, tahu? Terus terang, kupikir dia tidak punya waktu untuk mengurusmu. Sebaiknya gunakan waktumu untuk berlatih sendiri."

"Tapi, kan Yanagishita-senpai sendiri yang bilang mau mengajariku……"

"Ya, senpai memang baik. Tapi sebaiknya jangan berlebihan, tahu?"

Jujur, aku merasa kesal.

Kenapa Nagiura mengeluh tentang hubunganku dengan Yanagishita-senpai?

Lagipula, aku tidak terus-terusan diajari oleh Yanagishita-senpai.

Saat aku latihan mandiri, dia juga sedang latihan mandiri. Karena biasanya tidak ada orang lain yang bertahan sampai selarut ini kecuali aku dan dia, mungkin Nagiura saja yang tidak tahu.

"Aku bertahan di sini cuma karena aku ingin jago. Yanagishita-senpai juga sama. Aku tidak terus-terusan diajari, kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan latihan mandiri masing-masing. Apa masalahnya?"

"Yah, mungkin kenyataannya begitu, tapi kelihatannya tetap tidak bagus. Padahal kamu saja sudah mulai jadi pusat perhatian, kalau sampai ada kabar kamu merebut waktu latihan Yanagishita-senpai, aku pun tidak bisa membelamu."

"——Hah? Apa maksudmu?"

Aku sama sekali tidak paham apa yang dibicarakan Nagiura.

Kelihatannya tidak bagus? Kenapa? Menjadi pusat perhatian? ……Siapa?

Setidaknya itu bukan diriku. Karena, debut SMA-ku sudah sukses.

Harusnya aku sudah berhasil menyamar menjadi jock tanpa masalah apa pun.

Melihatku yang bingung, Nagiura bergumam, "……Terserah deh," lalu pergi begitu saja.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close