Interlude 2
Putaran Pertama: Juni
Musim hujan telah
tiba, hari-hari yang diliputi curah hujan pun berlanjut.
Belakangan ini
setiap hari terasa sangat menyenangkan. Sejauh ini, bisa dibilang "debut
SMA"-ku telah sukses besar.
Namun, ada satu
hal yang mengganjal; belakangan ini Sakurada tampak murung secara aneh.
Gara-gara itu,
suasana di seluruh kelas jadi terasa kurang meriah.
"Semuanya,
selamat pagi!"
Karena itulah,
aku sengaja menyapa dengan penuh semangat.
Sebagai seorang jock
yang sok asik, aku harus menjadi penyemangat suasana kelas.
Belakangan ini,
kesempatan berinteraksi dengan seluruh teman sekelas semakin sering terjadi.
Dulu aku selalu menempel dengan Nagiura, tapi jika jumlah temanku tetap
sedikit, aku tidak bisa menyebut debut SMA-ku sukses.
Jadi, aku mulai
sadar untuk mencoba mengobrol aktif dengan siapa saja.
Aku ini orangnya
pemalu, jadi awalnya terasa menegangkan, tapi kupikir aku sudah mulai terbiasa
sedikit demi sedikit.
"Hahaha…… hei, Haihara. Semangatmu itu, agak menyebalkan tahu."
Hino tertawa
kecil sambil menggodaku yang menyapa semua orang dengan ceria.
"Eh,
benarkah?"
"Pagi hari
itu semua orang masih mengantuk. Kamu terlalu ceria sampai-sampai kami tidak
bisa mengimbanginya."
Yah, kalau mereka
menganggapku ceria, berarti tidak masalah, kan?
Aslinya aku orang
yang suram, jadi kurasa bersikap sedikit berlebihan justru pas.
"Akan aku
perhatikan. Makasih ya masukannya!"
Aku membalas Hino, menganggapnya sebagai bentuk keakraban.
Dengan cara begitu, aku sudah bisa mengobrol dengan siswa
laki-laki di kelas dengan cukup lancar.
Tapi, kalau
lawannya perempuan, rasanya sulit. Bagaimanapun juga aku pasti jadi gugup.
Kalau begini
terus, mendapatkan pacar hanyalah mimpi di siang bolong, padahal aku ingin bisa
mengobrol dengan lebih luwes.
Saat mengedarkan
pandangan ke seisi kelas, mataku menangkap sosok Sakurada yang tampak suram
seperti biasanya.
Membiarkannya
begitu saja rasanya tidak seperti sikap seorang jock, jadi aku coba
menyapanya.
"Sakurada,
ada waktu sebentar?"
"Eh……? A-ada
apa, Haihara-kun?"
"Belakangan
ini kamu terlihat agak murung, jadi aku penasaran apa terjadi sesuatu."
"Begitukah?
Tidak ada apa-apa, kok~"
Sakurada
tertawa dengan canggung sambil mengalihkan pandangannya.
"Tapi,
mungkin aku bisa membantu—tidak, aku ingin membantumu!"
"Ahaha,
Haihara-kun bisa diandalkan ya. Kalau nanti ada masalah, aku akan konsultasi
sama kamu!"
"Yah,
padahal sekarang saja kamu sedang kesulitan, kan?"
Saat kami sedang
mengobrol seperti itu, Shiratori ikut masuk ke dalam pembicaraan.
"Haihara-kun.
Uta sebenarnya sedang minder dengan tinggi badannya. Jangan dibahas ya."
"Eh,
benarkah begitu?"
"Sedikit,
Rei! Kenapa kamu asal bicara……!?"
Sakurada
protes pada Shiratori dengan gelisah. Rupanya itu benar.
"Belakangan
ini dia berusaha keras minum susu. Jadi, biarkan saja dia dalam diam."
Shiratori
tersenyum sambil berkata begitu.
Sakurada
memukul punggung Shiratori dengan pelan.
Jika
masalahnya begitu, sepertinya memang lebih baik tidak membahasnya. Aku sendiri
tidak paham perasaan orang yang menjadikan tinggi badan sebagai kompleks.
Tapi…… apa itu hal yang perlu sampai membuat sedih?
*
Saat jam
istirahat siang, aku makan bersama Nagiura di kantin.
Ketika kembali ke
kelas, mataku menangkap sosok Hoshimiya yang sedang membaca buku di bangku
dekat jendela.
"Yo, Hoshimiya. Lagi baca apa?"
Saat aku menyapanya, Hoshimiya mendongak dengan wajah
terkejut.
Apakah dia sampai
sefokus itu pada bukunya? Aku merasa tidak enak.
"Ah,
Haihara-kun. Ini,
novel misteri judulnya 'Detektif Pahlawan'."
"Heh,
kedengarannya menarik."
"Sangat
menarik! Kalau mau, silakan baca ya."
Hoshimiya
tersenyum manis. Seperti biasa, dia ekspresif dan sangat manis.
Fakta
bahwa dia suka novel juga membuatku merasa punya kedekatan, walaupun yang
kubaca biasanya Light Novel.
"Haihara-kun,
suka novel juga?"
"Eh……? Yah,
lumayanlah?"
Aku ingin
menunjukkan kesamaan hobi dengannya, tapi aku ingin menyembunyikan fakta kalau
aku ini seorang otaku.
Karena
kontradiksi itu, jawabanku jadi ambigu.
"Begitukah?
Jadi, karya seperti apa yang kamu suka?"
Hoshimiya bertanya dengan gencar.
"Heh!? E-eh, anu…… maaf. Tidak langsung terlintas di pikiranku,
tapi……"
Gawat,
judul sastra umum sama sekali tidak muncul di kepalaku.
"……Ah,
kalau banyak karya yang disukai, memang jadi bingung mau menyebut yang mana,
ya."
Melihatku
seperti itu, Hoshimiya tersenyum.
Sepertinya
dia salah paham ke arah yang positif.
"I-iya,
benar banget!"
Belakangan
ini, aku sudah bisa mengobrol sedikit demi sedikit dengan Hoshimiya.
Setiap
kali mengobrol, dia selalu tersenyum layaknya matahari, sungguh manis.
Aku sadar bahwa
aku semakin menyukainya.
"Aku juga
mau coba baca 'Detektif Pahlawan', deh."
Demi memperluas
percakapan dengan Hoshimiya, aku melontarkan kalimat itu.
"Filmnya
sebentar lagi rilis, mungkin kamu bisa tonton yang itu?"
"Eh,
benarkah?"
Ternyata karya
itu sepopuler itu ya.
"Hoshimiya
juga mau menonton?"
"Ehm…… ya,
rencananya begitu."
Artinya, ini
kesempatan emas untuk mengajak Hoshimiya menonton film bersama, kan?
Aku tidak boleh
menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku membulatkan tekad dan berkata padanya.
"Itu,
Hoshimiya, kalau tidak keberatan, bagaimana kalau denganku—"
"——Yohari,
ada waktu sebentar?"
Namun, Nanase
menyela pembicaraanku dan menyapa Hoshimiya.
Niatku yang
terputus di tengah jalan membuatku kehilangan kata-kata.
"Ah,
Yuino-chan."
Tatapan Hoshimiya
pun beralih dariku ke Nanase.
Nanase mungkin
baru menyadari keberadaanku, dia menangkupkan kedua tangan dengan wajah meminta
maaf.
"Oh,
apa kalian sedang sibuk? Maaf
ya, Haihara-kun."
"T-tidak……
tidak apa-apa kok. Kami cuma sedang mengobrol soal buku."
"Begitu ya?
Kalau begitu, aku pinjam Yohari sebentar, ya."
Aku rasa dia
tidak sengaja, tapi waktu bicara Nanase selalu buruk.
Sering kali dia
muncul tepat saat percakapanku dengan Hoshimiya sedang seru-serunya.
Bukannya aku
tidak mau mengobrol bertiga, tapi rasanya tidak bisa. Memang pernah beberapa
kali aku bertahan di sana, tapi karena Nanase hanya mau mengobrol dengan
Hoshimiya, aku jadi merasa tidak dianggap.
*
Begitu pulang
sekolah, latihan klub yang bagaikan neraka dimulai.
Meskipun begitu,
belakangan ini aku sudah mulai bisa mengimbangi latihannya dari segi stamina.
Masalahnya ada di
bagian teknis. Layup memang sudah mulai masuk, tapi middle shoot-ku
sama sekali tidak pernah masuk. Bahkan saat dimasukkan ke dalam pertandingan
internal, aku hanya sanggup melakukan rebound.
"Bagus, Haihara. Nice rebound!"
"……A-ah, terima kasih, Yanagishita-senpai."
Sambil terengah-engah, aku menjawab Yanagishita-senpai yang
menepuk punggungku.
"Perasaanmu
bagus. Kamu mulai jago sedikit demi sedikit."
Ada banyak momen
di mana aku ingin berhenti, tapi alasan aku masih bertahan adalah berkat
Yanagishita-senpai, siswa kelas tiga. Dia adalah kapten klub basket putra yang
sering membimbingku, anggota yang paling payah.
"Berusahalah.
Kamu pasti bisa jago. Aku jamin."
Berkat
Yanagishita-senpai, aku masih bisa bertahan sampai sekarang.
Sampai-sampai aku
melakukan latihan mandiri setelah klub berakhir demi mengejar ketertinggalanku
dari yang lain.
Tubuhku yang
tadinya agak gemuk pun mulai kurus. Mungkin kondisi tubuh yang sekarang sudah
pas untuk beradu di bawah ring, walaupun masalahnya aku kurang cepat.
"Dengar ya,
Haihara. Tangan kiri hanya untuk penopang. Ini kuncinya."
"Itu
Slam Dunk, kan?"
"Hahaha!
Memang kamu paham ya. Baiklah, mari kita coba."
Setelah latihan
tim selesai, masuk ke waktu latihan mandiri.
Saat sedang
diajarkan dasar-dasar tembakan oleh Yanagishita-senpai, Nagiura yang seharusnya
sudah pulang malah kembali.
Dia memperhatikan
aku dan Yanagishita-senpai yang sedang latihan dengan tatapan yang seolah ingin
mengatakan sesuatu. Ada apa ya?
Saat ada jeda
istirahat, aku menyapa Nagiura.
"Nagiura,
kamu belum pulang?"
"……Hei,
Natsuki. Jangan terlalu membebani orang lain."
Nagiura
berbisik begitu agar tidak terdengar oleh Yanagishita-senpai.
"……Apa
maksudmu?"
Aku mengernyitkan
dahi, tidak mengerti maksud kata-katanya.
Nagiura menjawab
sambil memperhatikan Yanagishita-senpai yang sedang latihan three-point.
"Kualifikasi
Inter-High akan segera dimulai. Bagi Yanagishita-senpai, musim panas ini
adalah yang terakhir, tahu? Terus terang, kupikir dia tidak punya waktu untuk
mengurusmu. Sebaiknya gunakan waktumu untuk berlatih sendiri."
"Tapi, kan
Yanagishita-senpai sendiri yang bilang mau mengajariku……"
"Ya, senpai
memang baik. Tapi sebaiknya jangan berlebihan, tahu?"
Jujur, aku merasa
kesal.
Kenapa Nagiura
mengeluh tentang hubunganku dengan Yanagishita-senpai?
Lagipula, aku
tidak terus-terusan diajari oleh Yanagishita-senpai.
Saat aku
latihan mandiri, dia juga sedang latihan mandiri. Karena biasanya tidak ada
orang lain yang bertahan sampai selarut ini kecuali aku dan dia, mungkin
Nagiura saja yang tidak tahu.
"Aku
bertahan di sini cuma karena aku ingin jago. Yanagishita-senpai juga sama. Aku
tidak terus-terusan diajari, kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan
latihan mandiri masing-masing. Apa masalahnya?"
"Yah,
mungkin kenyataannya begitu, tapi kelihatannya tetap tidak bagus. Padahal kamu
saja sudah mulai jadi pusat perhatian, kalau sampai ada kabar kamu merebut
waktu latihan Yanagishita-senpai, aku pun tidak bisa membelamu."
"——Hah? Apa
maksudmu?"
Aku sama sekali
tidak paham apa yang dibicarakan Nagiura.
Kelihatannya
tidak bagus? Kenapa? Menjadi pusat perhatian? ……Siapa?
Setidaknya itu
bukan diriku. Karena, debut SMA-ku sudah sukses.
Harusnya aku
sudah berhasil menyamar menjadi jock tanpa masalah apa pun.
Melihatku yang bingung, Nagiura bergumam, "……Terserah deh," lalu pergi begitu saja.



Post a Comment