NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 9 Chapter 1

Chapter 1

Musim Semi yang Kedua adalah Putaran Kedua


Empat April.

Mulai hari ini, aku adalah siswa kelas dua. Waktu berjalan begitu cepat, ya.

Bunga sakura di jalan menuju sekolah yang sudah kukenal dengan baik, kini sudah berguguran hampir setengahnya.

Saat tiba di sekolah, kerumunan orang sudah memadati papan pengumuman.

Kemungkinan besar, pembagian kelas untuk tahun ajaran baru sudah diumumkan. Ini adalah pemandangan yang sama seperti tahun lalu.

Nah, bagaimana pembagian kelasnya? Ada banyak perubahan sejak putaran pertama, jadi tidak heran jika pembagian kelas kelas dua nanti jauh berbeda dari yang kuketahui, tapi……

"Natsu, di sini, di sini!"

Saat aku mendekati papan pengumuman dengan perasaan berdebar, suara Uta terdengar.

Aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Uta melambaikan tangannya dengan semangat. Dia bersemangat sekali sejak pagi.

"Pagi, Uta."

"Ya! Sudah lama tidak bertemu, ya!"

"Memang. Sekitar dua minggu, kan?"

Di sekeliling Uta, ada Tatsuya, Reita, Nanase, Hikari, Serika, dan Miori.

Selain Serika yang kutemui saat latihan band dan Hikari yang merupakan kekasihku, ini adalah pertemuan pertamaku dengan yang lain setelah dua minggu.

Semua orang sibuk dengan kegiatan ekstrakurikuler selama libur musim semi, dan aku pun memutuskan untuk fokus pada band.

Lagi pula, libur musim semi sangat singkat, dan waktu berlalu tanpa ada kesempatan untuk bermain.

"Ah, Natsuki-kun, selamat pagi!"

"Yo, selamat pagi. Bagaimana pembagian kelasnya?"

Sembari bertukar sapa dengan Hikari dan yang lainnya, aku memicingkan mata ke arah papan pengumuman.

Dari posisi ini, jaraknya sedikit terlalu jauh untuk membaca daftar nama.

"Hampir semuanya sesuai dugaan."

Miori menanggapi pertanyaanku.

Di SMA Suzunari, siswa melakukan pemilihan jurusan sastra atau sains di semester tiga kelas satu, dan saat naik ke kelas dua, jurusan sastra akan dibagi ke kelas 1 dan 2, sedangkan jurusan sains ke kelas 3 dan 4. Artinya, aku yang memilih jurusan sains akan masuk ke kelas 3 atau 4.

Dengan Miori yang juga memilih jurusan sains sepertiku, kemungkinan kami berada di kelas yang sama adalah lima puluh persen.

"Apakah kita satu kelas?"

"Sayangnya, begitu."

Miori mengangkat bahunya sambil menghela napas.

"Jangan memasang wajah seolah-olah enggan berada di kelas yang sama dengan teman masa kecilmu sendiri."

Memang benar, berada di kelas yang sama dengan orang yang pernah menolakmu pasti terasa canggung.

Namun, karena masa mudaku membutuhkan keberadaanmu, aku akan memintamu bersabar sekali lagi kali ini.

"Kita juga sama, Natsuki."

Reita menepuk bahuku.

"Karena kamu bilang 'kita', berarti……"

"Ya. Aku juga sama. Mohon bantuannya lagi selama setahun ke depan."

Tatsuya yang berada di sebelahnya tertawa lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.

Rupanya, kelompok jurusan sains beruntung karena semua berkumpul di kelas 3.

"Syukurlah~. Aku sempat khawatir kalau tidak ada siapa pun di sana."

Jujur saja, aku merasa lega. Mengingat aku masih belum sembuh dari rasa canggung saat bertemu orang baru.

Sebagai informasi, Reita dan Tatsuya di putaran pertama mengambil jurusan sastra, jadi mereka berada di kelas yang berbeda saat kelas dua.

"Lalu, bagaimana dengan kelompok jurusan sastra?"

Aku bertanya kepada Hikari yang berada di dekatku.

"Aku di kelas 1. Satu kelas dengan Serika-chan."

"Fufufu. Dengan ini, Hikari adalah milikku. Tidak akan kukembalikan kepada Natsuki."

Serika, yang berekspresi datar seperti biasa, memeluk lengan Hikari dengan manja.

"Tu-tunggu sebentar, Serika-chan?"

"Wah, lengan Hikari empuk sekali, nyaman……"

"Aku tidak gemuk! Aku tidak gemuk, tahu! Jangan sampai salah paham!"

"Yusa-yusa."

"Jangan menyentuh dadaku sembarangan!"

Hikari menjerit dengan wajah memerah, namun Serika tidak mempedulikannya sama sekali.

Meski tidak terlihat terlalu akrab, mereka berdua memiliki kemampuan komunikasi yang tinggi, jadi kurasa tidak masalah.

……Maksudku, tolong berhenti menyentuh dada Hikari di depan laki-laki. Laki-laki masa pubertas itu sensitif, tahu! Untung saja yang melihatnya adalah aku. Karena aku kekasihnya, jadi aman.

"Tunggu, Natsuki-kun?"

Meskipun seharusnya aman, entah mengapa Hikari menatapku dengan tatapan tajam.

Baiklah, mari kembali ke topik pembicaraan. Aku mengalihkan pandangan dari Hikari ke arah lain.

"Ehm, kalau di sini kelas 1, berarti……"

"Aku dan Yui-Yui di kelas 2!"

Uta menanggapi perkataanku dengan bersemangat.

"Sayangnya, kelompok sastra terbagi, ya."

Nanase menimpali setelah Uta. Entah mengapa, dia mengelus kepala Uta.

……Apakah dia mencoba melengkapi kekurangan asupan Hikari dengan Uta? Apa tidak apa-apa?

Uta tidak tampak terganggu meski kepalanya diusap oleh Nanase. ……Yah, sudahlah.

"Ya, setidaknya lebih baik daripada terbagi tiga dan satu orang!"

"Itu benar."

Sejujurnya, masa depan itulah yang paling aku takutkan saat kenaikan kelas.

Karena aku akan berakhir dengan menggigit sapu tangan sambil melihat mereka semua bersenang-senang di kelas sebelah. Aku hampir saja kembali ke masa muda yang kelabu.

"Omong-omong, bagaimana dengan teman-teman lain di kelas 3?"

"Kenapa tidak lihat sendiri saja?"

Miori menunjuk papan pengumuman dengan dagunya. Dingin sekali, ah.

"Eh~, tapi di dekat papan pengumuman itu ramai sekali."

"Seharusnya kamu lihat sendiri, untuk berjaga-jaga."

Yah, benar juga sih.

Karena tidak ada pilihan lain, aku menerobos kerumunan orang untuk mendekati papan pengumuman.

Akhirnya, aku berada di jarak yang cukup untuk melihat daftar nama dengan jelas.

"Ehm, kelas dua kelas tiga adalah……"

Daftar namanya tampaknya disusun berdasarkan urutan abjad.

Shinohara…… oh, Mei juga satu kelas denganku.

Ada juga Funayama-san, kekasih Mei. Syukurlah kalian bisa satu kelas.

Ada juga Fujiwara, Onozawa-san, dan beberapa mantan teman sekelas lainnya.

Apakah orang-orang di sekitar sini sudah berubah sejak putaran pertama? Aku tidak ingat sama sekali.

Namun, aku tahu beberapa orang yang seharusnya ada di kelas 3 tetapi tidak ada di sana.

Contohnya, Okajima-kun seharusnya satu kelas denganku tahun ini juga, tapi dia justru berada di kelas 4.

Pasti ini adalah dampak dari perubahan sejarah akibat tindakanku. Maaf ya.

Setelah dirapikan kembali, di kelas 1 ada Serika dan Hikari.

Di kelas 2 ada Uta dan Nanase.

Di kelas 3 ada aku, Tatsuya, Reita, Miori, Fujiwara, Mei, dan Funayama-san.

Okajima-kun memang sayang sekali, tapi bisa dibilang kelas ini sudah hampir ideal.

Perubahan dari putaran pertama adalah Nanase dari kelas 4 ke kelas 2, Reita dari kelas 1 ke kelas 3, Tatsuya dari kelas 2 ke kelas 3, dan Hikari dari kelas 3 ke kelas 1, ya? Keempat orang ini adalah mereka yang memilih jurusan berbeda dari putaran pertama saat pemilihan jurusan. Sisanya seharusnya sama dengan ingatanku, tapi aku tidak terlalu percaya diri.

"Yo, Haibara. Kamu kelas berapa?"

Saat aku hendak keluar dari kerumunan papan pengumuman, seseorang memanggilku.

"Kelas 3, tapi…… eh, apa, ternyata Hino."

"Apa maksudnya 'apa' itu!? Kita sekelas, kan!?"

"Mungkin."

"Kenapa kamu tidak yakin begitu!?"

"Sampai jumpa lagi."

"Tunggu sebentar! Tanyakan aku di kelas berapa!"

"Ah…… kelas berapa tadi?"

"Kelas 2! Lebih tertariklah padaku!"

Aku tidak bisa menahan tawa, dan Hino menjatuhkan bahunya dengan lelah.

"Maaf, bercanda."

Hino orang yang asyik dan mudah diajak bicara, jadi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya.

Meskipun sedih karena kami harus berpisah kelas padahal baru saja akrab, ini tidak bisa dihindari.

"Jadi kamu kelas 2, berarti satu kelas dengan Uta dan yang lainnya?"

"Ya. Karena kamu di kelas 3, berarti satu kelas dengan Kanata, kan? Mohon bantuannya."

Hino pergi sambil melambaikan tangannya.

Meski dia memintaku begitu, Fujiwara tidak perlu dikhawatirkan, bukan? Dia adalah pemimpin di kelasnya.

Mungkin dia sebenarnya tipe orang yang mudah khawatir. Padahal penampilannya terlihat seperti playboy, tapi dia memiliki kepribadian yang setia.

Bukan hanya Hino, beberapa mantan teman sekelas lainnya juga menyapaku. Setelah mengobrol sebentar untuk memastikan kelas masing-masing, aku meninggalkan area papan pengumuman dan kembali ke tempat teman-temanku.

Fufufu, memiliki tempat untuk kembali adalah kebahagiaan. Dulu, aku tidak memilikinya.

"Oi, Natsuki-kun. Sudah memastikannya?"

Lima orang, yaitu Hikari, Uta, Nanase, Tatsuya, dan Reita, sedang menungguku.

Serika dan Miori sedang mengobrol dengan anggota kelas satu tahun lalu…… Hasegawa dan yang lainnya.

Entah mengapa Hasegawa memeluk Miori sambil berkata, "Sedih sekali~".

Eh? Mengapa kalian begitu akrab? Bukankah itu orang yang menyirammu dengan air di tengah musim dingin?

Aku sulit memahami hubungan antara Miori dan Hasegawa, tapi mungkin banyak hal yang terjadi di kelas satu.

Setelah peristiwa Reita mereda, aku sering melihat mereka bersama.

"Kita pun sudah kelas dua, ya."

Tatsuya bergumam dengan emosional.

"Padahal kita baru masuk kemarin, ya."

"Itu bohong sekali, Hikari."

"Rasa waktu yang kamu miliki seperti nenek-nenek ya."

Uta melontarkan komentar tajam dengan ekspresi polos, seolah menusuk orang dengan pisau.

"Eh!? Padahal aku adalah gadis SMA yang segar bugar!"

"Sudah berapa tahun aku tidak mendengar kata 'segar bugar' itu……"

"Astaga, sampai Natsuki-kun juga!"

Di tengah obrolan santai seperti biasa, terselip rasa sepi yang berbeda dari biasanya.

Keenam orang ini tidak akan pernah menghabiskan waktu bersama di kelas yang sama lagi. Meskipun sudah mengetahuinya sejak tahap pemilihan jurusan, baru sekarang saat naik ke kelas dua, hal itu terasa nyata.

Namun, ini bukan berarti perpisahan.

Masa SMA masih tersisa dua tahun lagi. Setelah itu pun, kami masih bisa berkumpul kapan saja.

Jadi, tidak perlu sedih. Aku tersenyum dan memberikan usulan kepada semua orang.

"Meski sudah kelas dua, ayo berkumpul sesekali. Saat jam istirahat atau semacamnya."

"Setuju! ……Tapi, kumpul di mana?"

Uta mengangkat tangannya lebih dulu, lalu memiringkan kepalanya.

"Kalau jam istirahat, kantin adalah tempat yang aman."

Nanase menambahkan, "Kita juga harus makan siang."

"Karena kami para pria makan di kantin, datang saja kapan pun kalian mau."

Tatsuya mengusulkan sambil menggaruk kepalanya.

"Kami para pria kan satu kelas, jadi tidak akan berubah dari sebelumnya."

Reita mengangguk pada ucapan Tatsuya.

"Kalau begitu, aku akan bergabung dengan Uta-chan dan yang lainnya, lalu pergi ke kantin!"

Lalu Hikari berkata dengan senyum yang merekah.

Yang membuatku senang adalah karena mereka semua juga ingin berkumpul sepertiku.

Karena aku merasa hubungan yang tak tergantikan ini adalah sesuatu yang tidak bisa didapatkan oleh diriku di putaran pertama.

"Bagaimana cara menghubunginya?"

"Pakai 'Keluarga Natsuki' di RINE saja, kan."

Sambil mengobrol seperti itu, kami berjalan menuju pintu masuk.

Papan pengumuman itu panjang ke samping, dan di sebelahnya juga terpasang daftar pembagian kelas satu.

Di sekitarnya, para siswa baru yang mengenakan seragam baru berkumpul.

Melihatnya membuatku tersenyum, tapi kurasa tahun lalu kami pun terlihat seperti itu.

"Selamat siang! Senpai! Saya berhasil masuk sekolah dengan selamat!"

Dari kerumunan siswa baru itu, Yamano berlari kecil ke arahku.

"Selamat pagi, Yamano. Selamat atas penerimaanmu."

Yamano, yang bermain band bersamaku, mulai hari ini akan menjadi siswa kelas satu di Suzunari.

"Bagaimana, Senpai? Seragam Saya-chan?"

Yamano yang mengenakan seragam baru berputar di depanku.

Sedikit kebesaran, mungkin karena mereka mengantisipasi pertumbuhannya nanti.

"Cocok untukmu."

"Hehe, terima kasih banyak!"

Saat aku memujinya dengan jujur, Yamano tersenyum lebar.

Ketegangannya lebih tinggi dari biasanya. Yah, karena mulai hari ini dia sudah menjadi siswa SMA.

"Selamat pagi juga untuk kalian semua!"

Yamano juga menundukkan kepalanya kepada semua orang di belakangku.

"……Eh? Apakah Yamano kenal dengan semuanya?"

"Sebenarnya, saat Miori-senpai menghilang, saya sempat mengobrol sebentar."

Ah~, begitu ya.

Maksudnya pembicaraan saat aku dan Reita pergi mencari Miori.

Saat sedang mengobrol santai dengan Yamano, Hikari menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Ke-kenapa?"

"……Tidak ada apa-apa. Hanya berpikir kalian terlihat akrab."

Hikari memalingkan wajahnya.

Hmm, kurasa aku perlu mengambil hatinya nanti!

"Saya-chan, selamat atas penerimaanmu~!"

"Wah, terima kasih! Saya senang sekali!"

Di sisi lain, Yamano dirayakan oleh Uta.

Tanpa kusadari, dia sudah memberikan nama panggilan pada Yamano.

"Saya menantikan kehidupan SMA!"

"Tapi, tidak semua hal itu menyenangkan, tahu? Pelajarannya sangat sulit!"

"Kenapa Senpai tiba-tiba mematahkan harapan saya!?"

"Karena menurutku, menyampaikan kenyataan juga merupakan tugas seorang Senpai!"

Entah mengapa, gambaran Uta yang lebih kecil dari Yamano berbicara sebagai Senpai terlihat agak lucu.

"Natsu? Apakah kamu sedang memikirkan hal yang kasar?"

"Tidak, tidak, tidak. Apa dasarnya?"

"Wajahmu menuliskan bahwa menurutmu lucu melihatku berpura-pura menjadi Senpai!"

"Apakah kamu bisa membaca pikiran!?"

"Ternyata benar! Aku pikir begitu!"

Uta menatapku dengan tatapan tajam.

"Ahaha, Natsuki memang selalu punya ekspresi yang mudah dibaca."

Melihatku seperti itu, Reita tertawa dengan riang.

Padahal aku sama sekali tidak bisa membaca wajah orang. Dunia ini sungguh tidak adil.

Melihat kami yang sedang asyik bercanda seperti itu, Yamano tersenyum.

"……Melihat wajah Senpai sekalian, saya merasa sedikit lega."

Lega? Aku memang merasa ada sesuatu yang sedikit berbeda dari biasanya, tapi……

"Jangan-jangan, kamu sedang gugup?"

"Tentu saja saya gugup! Saya tidak punya teman di sini."

Sudah wajar kalau gugup, kan, kata Yamano sambil memajukan bibirnya.

Hikari berkedip dengan ekspresi heran.

"Eh, benarkah? Bagaimana dengan orang yang satu SMP?"

"Tidak ada. Setidaknya, tidak ada di antara siswa kelas satu."

"Yamano berasal dari SMP Mizumi yang sama denganku. Suzunari jauh dari sana."

"Ah, ngomong-ngomong, benar juga ya."

Generasiku hanya ada aku dan Miori.

Tidak aneh kalau hanya ada satu orang di generasi Yamano.

"Kalau itu Saya-chan, pasti tidak masalah!"

Uta menepuk punggung Yamano untuk memberinya kepercayaan diri.

"……Saya senang. Terima kasih banyak."

Melihat Yamano yang melunakkan sudut matanya seperti itu, aku berpikir bahwa dia benar-benar baru lima belas tahun.

Tidak, karena Yamano sering mengeluarkan pernyataan yang dewasa, terkadang aku hampir melupakannya.

"Ke-kenapa, Senpai?"

Biasanya dia bersikap bijaksana, atau mungkin agak dingin.

Namun saat ini, dia adalah siswa SMA pada umumnya. Dia merasa gugup dan cemas seperti orang lain.

Sambil berpikir seperti itu, aku menatap Yamano dengan saksama, lalu……

"Jangan-jangan, Senpai jatuh cinta pada saya?"




Yamano terkekeh pelan, lalu mulai menggodaku.

"Nggak bisa, dong. Senpai kan sudah punya Hoshimiya-senpai~"

Sifatnya yang seperti ini benar-benar tidak berubah. Manusia memang punya banyak sisi.

Aku memalingkan pandangan dari Yamano dan melihat jam di depan gedung sekolah. Waktunya sudah pas.

"Nah, saatnya masuk ke kelas."

"Eh, diabaikan!? Padahal adik kelas yang imut ini lagi godain Senpai, lho!?"

Yamano tampak terkejut, tapi tolong mengertilah perasaanku yang tidak ingin bereaksi aneh-aneh.

Karena Hikari sedang menatapku lekat-lekat. Seram. Aku bisa merasakan tekanan dari tatapannya.

Tanpa menyadari kehadiran Hikari, Yamano melihat jam dan berteriak panik.

"Gawat, upacara penerimaanku sebentar lagi dimulai!"

Kami berpisah dengan Yamano yang terburu-buru dan menuju ke ruang kelas kelas dua.

Gedung sekolah Suzunari memiliki aturan: kelas satu di lantai satu, kelas dua di lantai dua, dan kelas tiga di lantai tiga.

"Rasanya segar ya, pindah lokasi ruang kelas begini."

"Aku sampai merasa bakal jalan ke arah kelas satu sebentar lagi……"

Hikari menanggapi gumaman Uta.

Saat menaiki tangga, para siswa baru kelas dua sedang bergerombol di lorong depan kelas.

Kami menyelip di tengah kebisingan itu untuk menuju kelas masing-masing.

"Kalau begitu semuanya, sampai nanti!"

"Dah-dah!"

"Uta, kita juga berangkat, ya."

Kami berpisah secara berurutan, mulai dari Hikari di kelas 1, Uta dan Nanase di kelas 2, lalu kami masuk ke ruang kelas 3.

"Yo."

Tatsuya menyapa seluruh kelas dengan santai.

"Oh, itu Tatsuya, kan."

"Pagi. Mohon bantuannya ya~"

Teman-teman Tatsuya langsung bereaksi.

Itu adalah gerakan khas anak populer yang alami, sesuatu yang tak bisa kutiru.

Ruangan kelas memang ramai, tapi perhatian tertuju pada kami.

Yah, kalau kami bertiga berkumpul, tentu saja akan mencolok. Banyak hal yang sudah terjadi, kan.

Ada perasaan tidak enak karena kami sering menjadi pembuat masalah.

"Natsuki, di sini."

Saat aku sedang meminta maaf dalam hati, terdengar suara memanggilku dari bagian belakang kelas.

Aku menoleh dan mendapati Miori, yang sudah sampai lebih dulu, sedang melambaikan tangan.

Di samping Miori, ada Fujiwara.

Jadi mereka berdua akrab, ya. Aku tidak terlalu paham dengan komunitas para gadis.

"Pagi, tahun ini kita sekelas lagi, ya."

Melihat kami bertiga mendekat, Fujiwara mengangkat tangannya.

"Kalau ada Fujiwara-san, tahun ini pun tenang rasanya."

Ucap Reita sambil tersenyum.

"Maksudnya apa tuh?"

"Tanpa kita melakukan apa pun, kamu bakal mengurus kelas, kan?"

"Aku ini bukan pembantu, tahu!"

Sambil melirik percakapan Reita dan Fujiwara yang tampak akrab, Miori berbicara padaku.

"Bagaimana, Natsuki? Kelas barunya? Sudah bisa beradaptasi?"

"Kenapa cuma bertanya padaku? Bukankah posisinya sama saja?"

"Kami sih tidak masalah. Tapi, Natsuki kan orangnya canggung kalau sama orang baru, kan?"

"Jangan meremehkanku. Meski begitu, teman dari temanku itu jumlahnya banyak sekali."

Pada akhirnya, saat kelas satu pun hubungan pertemananku tidak terlalu meluas.

Meski begitu, banyak orang yang mengenalku secara sepihak, entah itu karena hal baik maupun buruk.

"Itu ada gunanya tidak?"

"……Nggak ada sih. Tapi, aku kan punya Tatsuya dan yang lainnya!"

Aku lebih memilih hubungan pertemanan yang dalam dan sempit daripada yang luas namun dangkal!

"Tapi Tatsuya-kun itu kan sedang bicara dengan teman yang lain."

Miori menunjuk ke arah Tatsuya yang sedang asyik berbincang dengan teman-teman dari klub basket.

"Yo, Kijima. Ternyata sekelas, ya."

"Oi. Cuma aku dan kau ya yang dari klub basket putra."

Hei Tatsuya! Jangan tinggalkan aku!

Jangan-jangan, aku saja yang merasa kami akrab, padahal bagi Tatsuya, aku hanyalah salah satu dari sekian banyak temannya? Bagaimana ini, tiba-tiba aku merasa sedih sekali.

"Ada apa, Haibara? Wajahmu seperti anjing yang ditinggal pemiliknya."

Kijima-kun yang menyadari kondisiku menegurku. Baik sekali.

Kijima-kun dulu ada di kelas 1-4, dan kami sempat mengobrol sedikit saat turnamen olahraga.

Karena dulunya aku anggota klub basket di putaran pertama, tentu saja aku kenal Kijima-kun.

"Kamu khawatir tidak bisa beradaptasi dengan kelas baru, ya?"

Tatsuya menggodaku.

"Eh? Haibara orangnya begitu?"

Kijima-kun menatapku dengan heran.

"Yah, aku memang khawatir dengan kelas baru, tapi apa seaneh itu?"

"Aku kira kamu tipe yang, 'Akulah yang terkuat! Ikuti aku!' begitu."

"Memangnya aku dianggap tipe karakter yang seperti apa!?"

Itu mah cuma ada di manga pertarungan, tahu!

Sepertinya reputasiku belakangan ini sudah jauh menyimpang dari kenyataan.

"Orang ini kan cuma 'debut SMA' yang penampilannya saja sok hebat."

Miori ikut nimbrung dan berkata sambil menyeringai.

"Lho? Tapi bukannya Motomiya suka sama Haibara?"

Kijima-kun melontarkan hal yang luar biasa seolah baru saja teringat.

Tatsuya di sebelahku menyemburkan tawanya, "Bufohh!", tak mampu menahannya.

"……I-itu kan sudah janji tidak dibahas!?"

Wajah Miori langsung memerah padam.

"Bukannya sudah dipublikasikan besar-besaran di Minsta?"

Kijima-kun menunjuk dengan polos. Itu benar sekali. Dunia sekarang adalah era keterbukaan informasi.

"Tapi kan ada kesepakatan diam-diam untuk tidak menyinggungnya di depanku!"

Miori membalas dengan mata berkaca-kaca, namun,

"Itu bukannya cuma dianggap sebagai sejarah kelammu saja?"

Kijima-kun memberikan serangan yang terlalu jujur, membuat Miori benar-benar tumbang.

"……Aku kalah. Bunuh saja aku……"

Miori menelungkupkan wajahnya di atas meja, menyatakan kekalahan.

Aku merasa kasihan, tapi kalau aku mencoba menghiburnya, kurasa itu justru akan menjadi neraka bagi Miori.

"Hei Kijima. Sudahlah, berhenti sampai di situ."

"Eh? Apa aku bicara yang aneh? Maaf, ya."

Tatsuya menghentikan Kijima-kun, tapi Kijima-kun tampak bingung.

Sepertinya Kijima-kun adalah tipe yang kurang peka. Meski aku pun tidak terlalu berhak bicara begitu.

"Ada apa, Miori? Baru masuk sekolah sudah murung begitu."

Seorang gadis bertubuh tinggi mendekat setelah melihat Miori menelungkup di meja.

Dia memiliki rambut hitam pendek dengan wajah yang terkesan netral, namun lekuk tubuhnya sangat feminin.

Terus terang saja, dadanya sangat besar.

"……Ah, Mina, ya."

Miori yang mengangkat wajahnya dengan cemberut, melirikku tajam.

"……Natsuki, kamu, lihat ke mana, hah?"

"A-aku tidak melihat ke mana-mana, kok!?"

Aku tidak sedang berpikir 'mungkin dia lebih besar dari Hikari'…… sungguh!

"Haibara-kun, kan? Aku sudah dengar banyak tentangmu~"

Tanpa mempedulikan kata-kata Miori, gadis itu melanjutkan pembicaraannya.

"Ah, ya. Salam kenal……"

Cara bicaranya cukup unik. Rasanya santai dan enak didengar.

Kami belum pernah bicara, tapi karena satu angkatan, aku pernah melihat wajahnya.

"Seingatku, kamu anggota klub basket putri yang sama dengan Miori, kan?"

"Ya. Aku Kurahashi Mina dari kelas 1-3 dulu. Salam kenal ya~"

"Anaknya memang santai, tapi mohon bantuannya, ya."

Setelah Kurahashi-san memperkenalkan diri, Miori memberikan komentar singkat.

Begitulah cara komunitas baru perlahan terbentuk.

Saat melihat ke sekeliling kelas, ada sekitar tujuh kelompok yang terbentuk dan sedang asyik mengobrol.

Pemandangan ini membuktikan bahwa langkah awal dalam hubungan manusia adalah segalanya.

Kalau aku banyak teman saat kelas satu tapi bolos di hari pertama, mungkin aku bakal tertinggal……

Saat ini, di sekelilingku ada Reita, Tatsuya, Miori, ditambah Fujiwara, Kijima-kun, dan Kurahashi-san. Apakah ini akan menjadi kelompok pertemananku sehari-hari?

"Anu, Natsuki."

Tapi tunggu, bukannya kalian malah mengobrol tanpa mengajakku?

"Oi, Natsuki."

Jangan-jangan, aku tidak dibutuhkan di kelompok baru ini?

"Natsuki, halo!"

Tiba-tiba terdengar suara keras di dekat telingaku.

"Wuaah, apa-apaan!?"

Saat aku menoleh karena terkejut, ternyata itu adalah laki-laki berkacamata bertubuh mungil. Wajah yang sangat kukenal.

"A-apa sih, Mei. Bicara dengan normal dong."

"Dari tadi aku sudah panggil, tapi karena keberadaanku samar, jadi……"

Dia menatap ke kejauhan. Begitu dia bilang begitu, aku merasa memang sempat dipanggil.

"O-omong-omong, Mei juga satu kelas denganku, ya!"

"Reaksi itu, kamu lupa ya?"

Mei menatapku dengan tajam.

"Tidak, tidak! Mana mungkin aku lupa anggota band sendiri!"

Meski berusaha membelas diri dengan putus asa, kecurigaan Mei tidak hilang.

"Tidak apa-apa. Aku kan memang keberadaannya samar……," gumamnya dengan wajah sedih.

"Percayalah! Aku cuma lupa sedikit! Sedikit saja, tahu!"

"Tidak ada konsep 'sedikit' dalam fenomena melupakan orang lain!"

Saat kami sedang berdebat, tiba-tiba pandanganku bertemu dengan gadis di sebelah Mei.

"Se-selamat pagi. Sudah lama tidak bertemu."

Itu Funayama-san, kekasih Mei.

"Funayama-san, selamat pagi. Mohon bantuannya selama setahun ini."

Aku menyapa Funayama-san yang tampak gugup dengan lembut.

Aku sempat agak akrab dengannya saat menjadi anggota panitia turnamen olahraga.

"Omong-omong, berarti semua anggota panitia turnamen olahraga tahun lalu berada di kelas yang sama?"

"Ah, benar juga. Padahal tahun lalu kita semua beda kelas…… kebetulan yang luar biasa ya."

Funayama-san berkedip terkejut, lalu tersenyum.

"Shizuki-chan, ternyata kita sekelas!"

Miori yang tadi mengobrol dengan Reita juga menyadari kehadiran Funayama-san dan mendekat.

"Syukurlah kita sekelas dengan Natsuki dan yang lain."

"Benar juga. Aku juga sempat khawatir bagaimana jadinya kalau aku masuk kelas yang tidak ada teman sama sekali."

Melihat Mei yang bersimpati padaku sesama orang yang 'muram', Miori tertawa geli.

"Lagipula, bukannya tahun ini lebih senang karena bisa sekelas dengan pacarmu?"

"Ja-jangan goda aku! Lagipula, ya jelas dong!"

"……"

Sambil tersipu malu dan mengakui perasaannya, Funayama-san di sebelah Mei juga memerah padam.

Padahal sudah pacaran lebih dari setengah tahun, mereka pasangan yang masih polos.

……Mungkin aku tidak punya hak bicara soal itu. Sebaiknya berhenti menggoda mereka.

Saat kami sedang asyik mengobrol sebagai sesama panitia turnamen olahraga, Reita dan yang lain juga ikut bergabung dalam percakapan.

"Kamu Shinohara-kun, anggota band Natsuki, kan? Aku Shiratori Reita. Salam kenal."

"Ah, ya! Sa-salam kenal!"

Mei menerima jabatan tangan Reita dengan agak panik tapi tetap membalasnya.

"Kamu Funayama-san dari kelas 3 lama, kan? Ayo bergabung bicara kalau tidak keberatan?"

Funayama-san pun masuk ke lingkaran pertemanan setelah dipandu oleh Fujiwara.

Fujiwara tetap perhatian seperti biasa. Dia bisa melihat sekeliling dengan baik. Aku ingin menirunya.

Bagaimanapun juga, kelompok kelas baru terbentuk melalui proses seperti itu.

"——Mohon bantuannya selama satu tahun ke depan."

Begitu Reita berucap, kami pun merespons dengan kata-kata kami masing-masing.

Memang sepi karena Hikari dan yang lain tidak ada di sini, tapi aku juga menantikan hubungan manusia yang baru ini.

Sempat merasa cemas, tapi entah bagaimana, sepertinya aku bisa menjalani tahun ajaran baru ini.

Pelajaran hari ini hanya hal-hal ringan seperti perkenalan guru baru dan penjelasan materi yang akan dipelajari. Dengan cuaca musim semi yang tenang, suasana kelas pun terasa santai.

Singkatnya, aku sangat mengantuk, tapi entah bagaimana aku berhasil melewatinya.

Sepulang sekolah, semua orang bubar untuk kegiatan ekstrakurikuler.

Kami juga inginnya melakukan kegiatan band, tapi hari ini Yamano tidak ada.

Siswa kelas satu sudah pulang sejak siang. Yah, wajar saja, menyuruh mereka ikut kegiatan ekskul di hari pertama sekolah rasanya kejam.

Lagi pula, masa observasi ekskul baru dimulai besok, jadi kami belum bisa mengumpulkan formulir pendaftaran.

Karena itulah, aku mengambil giliran kerja paruh waktu di kafe Mares.

"Oi, Mei. Ayo pergi kerja."

"Ya, tunggu sebentar!"

Aku memanggil Mei yang juga satu jadwal. Mei selesai bersiap-siap lalu menghampiriku.

Yah, karena kami satu band, secara alami kami sering memiliki jadwal kerja yang sama.

"Ternyata terasa segar ya, satu kelas dengan Natsuki."

"Kita berdua masih belum terbiasa ya…… ah, apa tidak apa-apa kalau tidak pulang bersama Funayama-san?"

"Ya, Shizuki ada kegiatan ekskul."

"Wah, tiba-tiba sudah panggil nama depan saja……"

"Tidak perlu disinggung soal itu, kan! Kami kan pacaran!?"

"Lagipula, aku baru tahu Funayama-san masuk ekskul."

"Klub Sastra."

"Eh, berarti sama seperti Hikari."

"Katanya mereka akrab dengan Hoshimiya-san."

Aku benar-benar tidak tahu. Dunia ini sempit ya.

"Omong-omong, hari ini Nanase-san juga ikut, kan?"

"Ya. Aku ingin bergabung dengannya sebelum pergi—— ah, dia ada di depan sana."

Saat keluar dari kelas, Tatsuya dan Nanase sedang mengobrol di lorong. Mereka akrab seperti biasa.

"Oh, Haibara-kun."

Nanase menyadari keberadaanku dan melambaikan tangan kecil di depan dadanya.

Umu, oshi-ku hari ini pun sangat imut. Tapi, ada yang kurang.

"Bukan 'Kakak'?"

"Diamlah sedikit. Bagaimana kalau didengar orang lain!?"

Nanase menghampiriku dengan panik dan mengeluh dengan suara pelan.

"Bagaimana kalau tidak ada orang lain yang melihat?"

"Aku benar-benar akan marah, ya, Haibara-kun."

"Tidak, aku tidak berniat menggodamu. Aku cuma ingin dipanggil Kakak……"

"Itu justru makin parah……!"

Sepertinya aku sudah tamat.

"Ada apa?"

Melihat kami yang tiba-tiba berbisik-bisik, Tatsuya dan Mei menatap kami dengan bingung.




“N-nggak, bukan apa-apa.”

Nanase berdeham pelan, lalu menjauh dariku.

Namun, tatapan matanya memberikan tekanan tak bersuara, "Jangan pernah katakan itu pada siapa pun."

Tentu saja aku mengerti. Lagipula, aku ini kakaknya.

"Nagiura-kun dan Nanase-san, tadi sedang membicarakan apa?"

Mei, seolah merasakan suasana canggung itu, mengalihkan pembicaraan ke topik lain.

"Hanya obrolan santai. Kami membicarakan kelas baru."

"Ah. Obrolan tentang bagaimana kami merasa bisa menjalani tahun ini dengan menyenangkan. Kau juga berpikir begitu, kan?"

"Benar juga. Ada orang-orang baru yang sudah akrab. Bagaimana denganmu, Nanase?"

"Aku juga tidak punya masalah. Uta memperkenalkanku pada banyak orang. Anak itu benar-benar punya koneksi yang luas, ya. Jujur saja, aku sedikit lelah, tapi karena ini hari pertama, mau bagaimana lagi."

Sambil berkata demikian, Nanase tersenyum pahit. Sepertinya dia benar-benar dipermainkan oleh Uta.

"Nanase juga kerja paruh waktu hari ini, kan?"

Jadwal hari ini seharusnya kami bertiga ditambah Kirishima-san. Bisa dibilang, itu adalah formasi tim yang sudah biasa.

"Ya. Kalau tidak segera berangkat, sepertinya aku akan terlambat."

"Kalau begitu, aku harus pergi ke klub sekarang."

Tatsuya melambaikan tangannya sambil berlalu menuju gedung ruang klub.

Kami menuruni tangga dan keluar melalui pintu depan.

"Omong-omong, katanya akan ada kenaikan gaji, lho."

"Eh, serius?"

Di tengah perjalanan, Nanase memberitahuku kabar gembira.

"Karena sudah hampir setahun, mereka bilang akan ada kenaikan lima puluh yen."

"Yes!"

Jika upah per jam naik lima puluh yen, jumlahnya akan cukup terasa di hitungan bulanan.

Dengan begitu, mungkin aku bisa membeli effector yang tadinya sudah kurelakan!

"A-apa aku juga begitu!?"

"Shinohara-kun bergabung setengah tahun setelah kami, jadi mungkin nanti dulu."

Kepada Mei yang menatap penuh harap, Nanase terkekeh sambil mengangkat bahunya.

"Begitukah……"

Mei menundukkan bahunya dengan ekspresi yang sangat kecewa.

Reaksinya selalu menarik untuk dilihat.

"Ternyata sudah satu tahun berlalu, ya."

"Benar juga, mengajak Haibara-kun masuk ternyata keputusan yang tepat."

"Itu seharusnya kalimatku. Aku ingin terus bekerja di lingkungan seperti ini."

Bukan hanya Nanase atau Mei, aku pun sudah akrab dengan sang Master dan staf lainnya, sehingga suasana kerjanya sangat nyaman.

Lagipula, memasak itu hal yang menyenangkan.

"Berkat bekerja di sini, aku jadi jauh lebih bisa bicara dengan orang lain. Awalnya aku tidak bisa akrab dengan siapa pun dan sempat bingung akan jadi apa aku ini…… semua ini berkat Natsuki."

Setelah mengatakan itu, Mei menatapku seolah baru menyadari sesuatu.

"Eh, berarti kehidupan SMA-ku selama ini hampir semuanya berkat Natsuki……? Bisa bergabung dengan band juga berkat Natsuki…… bahkan bisa berpacaran dengan Shizuki pun karena Natsuki……"

"Tidak, tidak, tidak mungkin begitu."

"Bisa, kok. Sampai di titik ini, aku benar-benar merasa tidak bisa membalas budi padamu……"

Di band, kami hanya mencari pemain bas yang pas, dan Funayama-san memang sudah menyukai Mei sejak awal, jadi aku tidak melakukan banyak hal. Tolong hentikan aksi memujaku seperti itu.

"Dewa, Tuhan, Tuan Natsuki……"

"Na-Nanase! Belakangan ini bagaimana perkembangan piano?"

Karena aku merasa takut dengan Mei yang mulai menganggapku seperti sosok suci, aku berusaha sekuat tenaga mengalihkan pembicaraan.

"Perkembangannya lancar. Meskipun perlahan, aku mulai berani menantang panggung yang lebih besar."

Nanase, yang telah melampaui hambatan mentalnya melalui festival musik, terus menekuni pianonya.

Aku mendengar bahwa dia tetap berhati-hati dan perlahan menambah kesempatan tampil dengan berkonsultasi pada orang tua dan dokternya, karena belum tentu traumanya sudah sembuh total. Namun belakangan, skala panggung yang dia hadapi mulai membesar. Itu artinya, dia sudah tidak punya masalah lagi meski tanpa bantuan kami.

"Perjalanan hidupku dalam dunia piano juga berkat Haibara-kun."

"Tidak, itu hasil kerja keras Nanase sendiri. Aku hanya membantu sedikit."

Akhir-akhir ini aku sering dipuji, dan jujur saja, rasanya canggung, atau mungkin lebih tepatnya, merasa tidak pantas.

Aku bertindak demi membuat masa mudaku sendiri menjadi penuh warna. Hasilnya mungkin memang berkontribusi pada hidup orang lain, tapi itu hanyalah efek samping dari tujuanku sendiri.

Sepulang sekolah keesokan harinya.

Masa observasi klub bagi siswa baru sudah dimulai, membuat koridor terasa lebih ramai dari biasanya.

Waktu setahun yang lalu, aku pun berkeliling ke klub-klub bersama Tatsuya dan yang lain. Rasanya nostalgik.

Saat aku menuju ruang klub musik bersama Mei, tempat itu sudah dipadati siswa baru yang ingin melihat-lihat.

"Oh, sudah mulai rupanya."

"Hari ini giliran 'Armadillo Tank', ya?"

Meski ruang klub memiliki peredam suara yang tinggi, pintu hari ini dibiarkan terbuka sehingga musiknya terdengar sampai ke luar.

Klub musik pada periode ini memang mengadakan konser selamat datang untuk siswa baru setelah pulang sekolah.

Hari ini giliran band kelas tiga yang dipimpin oleh sang ketua, 'Armadillo Tank'. Saat aku mengintip ke dalam ruang klub dari pintu, para anggota klub musik berada di barisan depan untuk memeriahkan suasana, sementara siswa baru menonton dari barisan belakang.

Ngomong-ngomong, 'Armadillo Tank' adalah band yang tampil tepat sebelum kami pada festival budaya tahun lalu.

Lagu 'Sakura no Ato (all quartets lead to the?)' milik Unison Square Garden sedang mengalun.

Lagu dengan tempo cepat, progresi akor yang rumit, serta banyak perpindahan akor di ketukan lemah, dibawakan dengan sangat sempurna. Terutama kemampuan menjaga ritme dari sang ketua, Kak Kano, sangat luar biasa.

"……Bukankah mereka jadi tambah jago!?"

Lagu ini menurutku sangat sulit, lho.

"Kata ketua, mereka terstimulasi oleh konser kita, jadi intensitas latihannya ditambah."

Saat aku sedang mengobrol dengan Mei sambil menonton konser, seseorang menyapaku.

"Ah, anu! Kak Haibara, kan?"

Saat menoleh, ada empat siswi yang tampak seperti siswa baru.

Salah satu dari mereka melangkah maju dan menatapku dengan wajah gugup.

"I-iya, benar……?"

"Benar! Saya melihat penampilan Kakak di festival budaya tahun lalu!"

Saat aku mengangguk, wajah gadis itu langsung berseri-seri.

"Keren sekali!"

Aku senang dipuji, tapi jaraknya…… terlalu dekat.

Saat aku mencoba mundur sedikit, entah mengapa dia justru melangkah maju. Tunggu, tenanglah!

"Hanarin, mantap!"

"Bagus, bagus, wuuu!"

Tiga orang di sekelilingnya bersorak sorai untuk menggoda gadis itu. Tolong, hentikan.

Cara orang-orang baru ini sungguh sulit dihadapi…… aku yang hanya 'anak populer palsu' ini hanya bisa tersenyum kaku.

"Saya sebenarnya tidak menonton langsung, tapi saya melihatnya di MeTube!"

Ah, video yang viral di tempat yang tidak aku sadari itu, ya. Dulu aku tidak bisa percaya hanya dengan melihat angka, tapi saat melihat langsung orang yang menontonnya seperti ini, semuanya jadi terasa nyata.

"Saya juga ingin mencoba tampil di konser seperti itu!"

Mungkin karena mereka semua sedang bersemangat, mereka mengerumuniku dan terus mendekat.

"Oi, kalian semua! Jangan malah asyik sendiri sampai mengabaikan konser!"

Kak Mabashi, vokalis 'Armadillo Tank' yang baru saja menyelesaikan satu lagu, tersenyum pahit.

Para siswa baru yang mengerumuniku menyadari ketidaksopanan mereka dan buru-buru menundukkan kepala.

Ketika 'Armadillo Tank' memulai lagu berikutnya, para siswa baru itu menjauh dariku dan memilih untuk fokus menonton konser. Mereka anak-anak yang sangat baik. Tolong, bergabunglah ke klub musik.

"Kakak populer sekali, ya."

Tanpa kusadari, Yamano sudah berdiri di sampingku.

Di tengah dentuman lagu 'Armadillo Tank', kami mengobrol dari jarak dekat.

"Aku juga tidak menyangka kalau siswa baru pun tahu tentang kita."

"Saya juga berpikir begitu, tapi sepertinya kalian cukup terkenal. Lagi pula, bukankah semua orang penasaran dengan SMA tempat mereka akan bersekolah? Ternyata alurnya seperti itu; saat mereka mencari tahu tentang sekolahnya, video festival budaya yang viral di MeTube itu muncul."

Ah, masuk akal juga.

Pantas saja aku merasa terus diperhatikan oleh siswa baru!

Aku sempat mengira diriku terlalu percaya diri, tapi ternyata itu bukan hanya perasaanku saja.

"Malahan, bukankah sebagian besar peminat klub tahun ini karena efek konser kalian?"

"Tadinya aku heran kenapa jumlah siswa yang melihat-lihat banyak sekali, ternyata itu sebabnya?"

Sekilas, ada lebih dari dua puluh siswa baru yang datang menonton konser.

Meskipun ruangannya lebih luas daripada ruang klub lain, kalau terus bertambah, ruangannya tidak akan muat.

Jumlah anggota klub musik saat ini adalah tujuh orang kelas tiga dan dua belas orang kelas dua. Aku senang peminatnya banyak, tapi kalau jumlahnya terlalu bertambah, jatah penggunaan ruang klub dan ruang musik kedua akan berkurang.

"Haibara-kun, halo. Tahun ini tampaknya ramai sekali."

Haruyama-kun, vokalis dari band kelas dua 'Clock Ups', menyapaku.

Meskipun satu klub, kami hampir tidak pernah berinteraksi. Karena kelas kami pun berbeda.

"Kerja bagus. Bukankah 'Clock Ups' tampil besok?"

"Benar. Sayang sekali Kak Haibara tidak ikut mengadakan konser selamat datang."

"Karena siswa baru itu rencananya akan bergabung dengan band kami, jadi jujur saja agak sulit."

"Sebenarnya saya tidak masalah kalau mau tampil, sih."

Yamano berbisik pelan di sebelahku, tapi sepertinya Haruyama-kun tidak mendengarnya.

"Ah, iya, benar juga ya. Apa kalian juga akan ikut rotasi latihan klub musik lagi?"

"Rencananya begitu. Mohon bantuannya."

Karena kami mengganti Kak Iwana dengan Yamano, dan karena adanya anggota luar, kami sempat berlatih terpisah di studio di luar klub musik, jadi posisi kami di sini agak canggung.

"Tapi, dengan jumlah sebanyak ini, ruangannya terasa sempit sekali."

"Yah, ruang klub juga ada batasnya. Mungkin mereka akan mengadakan audisi?"

"Bahkan tanpa sampai seperti itu, orang yang cuma ikut-ikutan pasti akan hilang dengan sendirinya."

Serika tiba-tiba masuk ke dalam percakapanku dengan Haruyama-kun.

Begitu konser 'Armadillo Tank' selesai, para siswa baru langsung mengerumuni Serika.

"Itu Kak Hondou!"

"Eh, orang dari Serika Channel!?"

"Beneran asli! Kak, boleh minta tanda tangan!"

Dia jauh lebih populer dariku. Yah, subscriber-nya saja sudah empat puluh ribu orang. Orang yang berniat masuk klub musik kita pasti sudah mengeceknya.

"Tanda tangan? Ya, boleh saja."

Serika sendiri terlihat bingung. Tapi bahkan dalam keadaan bingung pun, dia tetap terlihat keren. Itulah Serika.

"Anu, Natsuki."

Pundakku ditepuk pelan.

Saat menoleh, ada Mei. Sebenarnya dia memang sudah ada di sampingku dari tadi.

"Ada apa?"

"Tidak ada satu orang pun yang mengajakku bicara……"

Realita menyedihkan itu nyata adanya.

"Padahal aku juga anggota Mishlef……"

Di awal tahun ajaran baru, dia sudah memancarkan aura yang suram.

"……Baiklah, ayo latihan."

"Jangan abaikan aku!"

Soalnya, sulit sekali untuk menghiburnya!

"Bukankah biasanya kamu justru bangga karena keberadaanmu samar?"

"Memang begitu, tapi terkadang aku merasa sedih……"

Sambil menarik Mei yang terus menangis, aku pergi ke ruang musik kedua bersama Serika dan Yamano.

"Mulai hari ini kegiatan klub dimulai, ya!"

Yamano melompat-lompat dengan ceria.

"Nanti kita harus menyapa para Senpai juga."

"Eeeh, merepotkan sekali."

"Jangan mengeluh. Kau adalah anggota spesial, jadi bersikaplah yang benar."

Hal yang paling berubah di tahun ajaran baru ini adalah Yamano yang kini bisa beraktivitas sebagai anggota klub musik setelah masuk sekolah. Artinya, kami bisa berlatih di ruang klub atau ruang musik kedua.

Berkurangnya frekuensi menyewa studio akan meringankan beban finansial kami. Meski begitu, karena band membutuhkan uang untuk segalanya, aku harus tetap melanjutkan pekerjaan paruh waktu di kafe Mares.

"Tinggal dua minggu lagi menuju target festival musik kita."

Serika memberitahu kami setelah kami selesai mengatur peralatan di ruang musik kedua.

"Menurutku, kita sudah cukup matang, tapi……"

"Masih belum cukup. Lawan perbandingan kita bukan lagi level anak SMA."

Mendengar kata-kata keras dari Serika, Mei menghela napas, "Benar juga ya……"

"Kita bisa melakukan yang lebih baik."

Melihat Serika yang penuh semangat, kami pun mengangguk.

"——Karena aku sudah memutuskan untuk melakukannya dengan serius. Aku tidak ingin ada kompromi sama sekali."

Suasana di ruang musik kedua menjadi tegang.

Setelah festival musik berakhir, aku sudah memutuskan untuk bermain band dengan serius.

Artinya, aku akan tampil di festival musik yang ditawarkan dan mengincar level yang lebih tinggi sebagai band.

Semua orang setuju dengan arahanku, dan jumlah latihan kami meningkat drastis.

"Kalau begitu, kita mulai dari 'Black Witch'."

Berlatih dengan serius tentu saja terkadang menyakitkan.

Namun, aku ingin melihat pemandangan seperti festival budaya itu sekali lagi.

Aku percaya bahwa mendedikasikan diri sepenuhnya pada kegiatan klub seperti itu adalah masa muda yang penuh warna.

Target terdekat kami adalah festival musik yang akan berlangsung dua minggu lagi.

Meskipun kami hanya dianggap sebagai band pembuka, tidak dapat disangkal bahwa akan ada banyak orang yang datang.

Aku berharap itu akan menjadi langkah besar bagi band kami.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close