Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan
Perihal Adik Kelas yang Selalu Mengejekku, tapi
Entah Kenapa Dia Sangat Lengket Padaku
"Se-n-pa-i!"
Duk.
Tiba-tiba saja
punggungku mendapat hantaman.
"Uoh!?"
Aku terhuyung ke
depan, lalu dengan panik menoleh ke belakang. Di sana, Yamano berdiri.
"Hehe, kaget
ya?"
"Kau ini
ya……"
Melihat Yamano
yang tertawa dengan riang, aku menjentikkan dahi sebagai hukuman.
"Sakit!? Apa
yang Senpai lakukan!?"
"Itu
harusnya kalimatku. Jangan membuatku kaget pagi-pagi begini."
Aku hampir saja
jatuh dan terluka tadi.
"Iya, iya.
Aku introspeksi, nih~"
Tanpa rasa
bersalah sedikit pun, Yamano mulai berjalan beriringan di sampingku.
"Cuaca
hari ini bagus banget ya!"
……Entah
bagaimana caranya, dia benar-benar lengket padaku.
Meskipun
aku ini orangnya tidak peka, aku bisa merasakan hal itu. Soalnya, jarak kami
terlalu dekat. Secara fisik.
"Wah,
Haibara-kun bersama gadis baru lagi……"
"Harus lapor ke Hoshimiya-san nih……"
Orang-orang
yang sedang berangkat sekolah menatap kami dengan sangat terang-terangan!
Menurutku
kalian tidak perlu melapor ke Hoshimiya-san! Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!
"Hei,
gara-gara kau, rumor aneh jadi tersebar, tahu!"
"Ya, ya,
tenang saja. Hoshimiya-senpai pasti percaya pada Senpai kok."
……Apakah benar
begitu?
Jujurnya, aku
tidak ingat pernah melakukan tindakan yang bisa membuat Hikari percaya padaku
sepenuhnya.
Bukan
berarti aku tidak berusaha, ya? Tapi hasilnya selalu berujung seperti ini……
"Pokoknya,
jaga jarak sedikit. Aku sudah punya pacar, tahu."
"Iya, iya. Haa~, aku juga mau punya pacar~"
Yamano menggerutu
sambil sedikit menjauh dariku.
Pandangannya
tertuju pada pasangan yang juga sedang berangkat sekolah.
Itu Hino dan
Fujiwara. Senang rasanya melihat mereka tetap akrab meski sudah beda kelas.
"Kau kan
sudah baikan dengan temanmu, puas-puaskan saja dulu dengan itu."
Saat aku
mengatakannya sambil menghela napas, Yamano mengayunkan jari telunjuknya di
depan wajah.
"Cih, cih, Senpai.
Hasrat manusia itu tidak ada batasnya, lho. Aku ingin mencari pacar yang tampan
dan menikmati masa mudaku. Lagipula, kalau bicara soal masa muda, bukankah yang
pertama terlintas itu cinta?"
"Pola pikir
yang simpel sekali ya."
"Senpai
tidak berhak bilang begitu padaku."
Itu benar juga.
Aku tidak punya hak untuk menyangkal Yamano……
"……Hei,
kalau Sakata-kun bagaimana?"
"Sakata-kun?
Oh, yang di klub musik itu? Memangnya kenapa dengan Sakata-kun?"
"Yah,
maksudku, dia tampan, kan?"
"Eh, apa ya,
hm…… tidak buruk sih, tapi……"
Sepertinya
standar ideal Yamano sangat tinggi.
Padahal menurutku
Sakata-kun itu sangat tampan……
"Lalu kalau
secara spesifik? Reita misalnya?"
"Hmm,
Shiratori-senpai ya……"
"Kalau Reita
saja kau tolak, berarti sembilan puluh sembilan persen laki-laki di dunia ini
tidak tampan dong……?"
"Itu sih
memang iya, tapi……"
Yamano
bergumam sambil mengerang, lalu melirikku sekilas.
"……Aku
ingin orang yang lebih keren dari Senpai."
Gadis ini pasti
sangat menyukaiku!
Lagipula, tidak
banyak orang di dunia ini yang berani bilang kalau aku lebih keren daripada
Reita!
Lagipula,
Sakata-kun harusnya lebih keren dariku!
……Menekan
perasaan itu, aku memilih kata-kata.
"……Standar
nilaimu itu, bukankah terlalu condong ke seleramu sendiri?"
Mendengar
ucapanku, Yamano tampak terkejut dan mengalihkan pandangannya.
"A-ah,
selain itu kepribadian juga penting kok!"
"I-iya kan!
Kepribadian yang seperti apa yang kau sukai?"
"Ehm, orang
yang bisa nyambung kalau diajak bicara, yang mengerti kekurangan diriku……"
Yamano melirikku
sekilas, lalu menunduk.
"……Maaf.
Lupakan saja, lupakan……"
Suasana jadi
canggung.
"……Hei, di
lirik lagu itu, kau tidak menyisipkan makna romantis, kan?"
"Ya iyalah!
Apa-apaan sih, Senpai!"
"Iya kan!
Maaf-maaf! Aku terlalu percaya diri!"
Hahaha, kami
tertawa bersama.
Setelah itu,
entah kenapa kami terdiam cukup lama.
Padahal sekolah
sudah dekat, tapi entah kenapa jarak kami terasa sangat jauh.
"Aku tidak
bohong, kok."
Akhirnya, Yamano
bergumam pelan.
"Soalnya,
aku tidak merasa cemburu sama sekali pada Hoshimiya-senpai."
Yamano
mengatakannya dengan ekspresi serius.
Maka, itu pasti
adalah perasaan jujurnya.
"……Begitu
ya."
"Perasaan
ini bukan cinta…… kurasa
yang paling mendekati adalah rasa hormat."
Yamano
berkata begitu sambil tersenyum padaku.
Mungkin
saja, ada sedikit warna cinta yang tercampur di dalamnya.
Namun,
karena Yamano sendiri yang mengatakannya, aku memilih untuk mempercayainya.
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment