NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 9 Epilog + Afterword

Epilog

Masa Depan yang Benar


——Setelah menjadi anggota masyarakat selama lima tahun, aku kini menginjak usia dua puluh delapan tahun.

Pekerjaanku berjalan lancar, dan ada pembicaraan mengenai promosi.

Entah karena aku menetapkan aturan untuk tidak pernah menolak ajakan minum, aku ternyata cukup piawai dalam bergaul.

Aku tidak merasa diriku orang yang menarik saat diajak bicara, tapi entah mengapa, atasan-atasanku menyukaiku.

Penyesalan masa muda mungkin tidak pernah benar-benar hilang, tapi aku menjalani hari-hari yang cukup memuaskan.

Pekerjaan ini memang berat, tapi juga penuh tantangan. Aku bekerja di perusahaan konstruksi umum, menangani manajemen proyek untuk instalasi air bersih dan limbah.

Lemburnya luar biasa banyak, tapi bagiku yang tidak punya kegiatan apa pun saat pulang ke rumah, pekerjaan ini justru cocok.

Namun entah kenapa, rekan seangkatanku satu per satu mengundurkan diri.

"Haibara, mau pergi ke suatu tempat?"

"Soal urusan itu, rencana konstruksinya sudah selesai, jadi akan saya bawa ke kantor pemerintahan."

"Kalau begitu, sekalian tolong tengok lokasi kerjanya Kudou? Kabarnya dia hampir menangis karena didesak oleh para pekerja di lapangan. Dia baru tahun kedua, jadi kita harus membimbingnya."

"……Baik, saya mengerti."

'Kenapa tidak Anda saja yang pergi, bukankah Anda terlihat santai di kantor?' pikirku dalam hati.

Namun, karena posisiku hanyalah karyawan tingkat menengah tahun keenam, aku tidak bisa membantah atasan. Lagipula, jauh di lubuk hati, aku memang ingin membantu junior.

Apa pun itu, sepertinya hari ini pun akan berakhir dengan lembur.

Saat aku mendatangi Departemen Pemeliharaan Saluran Air di kantor kecamatan, Maruyama-san, orang yang bertanggung jawab atas proyek, menyapaku.

"Oh, Haibara-kun. Terima kasih kerja kerasnya."

"Terima kasih atas bantuannya. Hari ini saya datang untuk menyerahkan rencana konstruksinya……"

"Oh, sebelum itu, ada seseorang yang baru saja pindah ke departemen kami. Biar kuperkenalkan."

"Omong-omong, sekarang memang musimnya ya."

Setiap bulan April, staf pemerintahan memang sering berganti posisi.

Membangun hubungan dari nol lagi memang agak merepotkan, tapi tidak bisa dihindari.

Seharusnya ini adalah pekerjaan bagian penjualan, tapi garis batas antara penjualan dan konstruksi di perusahaanku memang agak kabur.

"Motomiya, kemari sebentar!"

"Ah, iya!"

Seseorang yang berlari kecil ke arahku adalah sosok yang familiar.

Rambutnya yang dulu dikuncir kuda kini terurai, dengan sedikit sentuhan perm.

Kurasa bentuk wajahnya pun terlihat lebih dewasa dibandingkan saat itu.

"Saya Motomiya, yang pindah ke Departemen Pemeliharaan Saluran Air mulai bulan April ini. Mohon kerjasamanya."

Miori menyerahkan kartu namanya tanpa menyadari keberadaanku.

"……Saya Haibara dari Tsukida Construction."

Miori bertukar kartu nama, lalu membeku sejenak saat menatap kartu namaku.

Setelah itu, ia mengangkat pandangannya dan mata kami bertemu.

"……Eh? Natsuki?"

"……Yo, sudah lama ya."

Miori berkedip berulang kali.

Pasti karena riasannya sehingga ia terlihat sangat cantik.

"Hm? Jangan-jangan kalian saling kenal?"

Maruyama-san bertanya dengan heran, jadi aku menjelaskan bahwa kami adalah teman masa kecil.

"Ho, dunia ini sempit ya. Pas sekali! Motomiya, ini adalah takdir. Kamu yang harus bertanggung jawab atas proyek pembaruan fasilitas pompa ini. Aku sedang sibuk soalnya!"

"Eh……!?"

Maruyama-san tertawa terbahak-bahak sambil berjalan kembali ke mejanya.

Orang itu memang tidak serius dalam bekerja. Meski begitu, dia bukan orang jahat.

Lagipula, kalaupun mau menyerahkan tugas, bisakah dia memberikan penjelasan sedikit?

Eh? Jangan-jangan, aku juga yang harus memberikan penjelasan serah terima tugasnya? Sungguh konyol (tapi sering terjadi).

"……"

Miori menatapku tajam tanpa kata.

"Yah, jangan menatapku begitu juga."

"Gara-gara kamu, pekerjaanku jadi bertambah, tahu."

Miori menghela napas panjang.

"Tidak kusangka kita akan bertemu di tempat seperti ini."

"Jadi, kamu benar-benar jadi PNS, ya."

"Kamu sendiri, di perusahaan konstruksi? Tempat yang terlihat berat, ya."

"Gajinya bagus, kok."

"Sudah pasti begitu, sih."

Sudah berapa tahun sejak terakhir kami bicara? Rasanya sudah sepuluh tahun berlalu.

Meski begitu, ternyata kami masih bisa mengobrol seperti dulu.

"Masih banyak yang ingin dibicarakan, tapi aku harus pergi membantu junior dulu."

"Begitu ya. Kamu terlihat sibuk."

"Belakangan ini aturan lembur sangat ketat, aku jadi repot."

"……Bagaimana dengan malam ini?"

"Tidak tahu. Tergantung situasi junior nanti."

"Kalau kamu bisa pulang, temani aku minum sebentar."

Sungguh mengejutkan dia mengajakku minum.

Aku pikir dia sudah tidak ingin berurusan denganku lagi.

"Baiklah."

……Tapi, aku tidak berniat menolaknya.

Karena aku merasa senang bisa bertemu kembali dengan Miori.

Setelah menyelesaikan pekerjaan junior dengan kecepatan tinggi, aku masuk ke kedai minum yang ditentukan Miori.

Itu adalah kedai rakyat biasa tanpa dekorasi mewah. Suara kebisingan terdengar di mana-mana.

"Natsuki, di sini."

Miori sudah duduk di kursinya.

"Mau pesan apa?"

"Bir dulu, deh."

"Kalau begitu, aku juga itu saja."

Sambil memegang gelas bir yang dingin, kami pun bersulang.

"Oke, kerja bagus."

"Iya. Bersulang."

Miori meneguk birnya dengan semangat, lalu menghabiskannya dalam sekali minum.

"Cara minum seperti anak kuliahan itu……"

"Berisik, tahu. Aku sedang kesal sekarang. Pekerjaanku bertambah gara-gara kamu……"

Miori yang mulai mabuk mulai mengeluh satu demi satu.

"Orang itu sama sekali tidak punya niat kerja, lho!"

Di gelas ketiga, wajah Miori sudah memerah dan bicaranya mulai tidak jelas.

"Kamu lemah sekali minum, ya……"

"Tidak lemah! Aku tidak mabuk!"

Orang yang lemah minum justru biasanya yang paling keras bersikeras kalau mereka tidak mabuk.

"Lagipula, Natsuki itu……"

Kali ini giliran keluhan tentang masa laluku yang dimulai.

Setelah itu, kami pun asyik bernostalgia.

Aku ditertawakan karena kegagalan debut SMA-ku.

Aku tahu bahwa Miori dibenci di klub basket putri.

Aku tahu dia mengalami yips, gejala di mana dia tidak bisa mengoper bola, dan akhirnya tidak pernah bisa mengatasinya.

Dan…… aku tahu kalau dia sempat berpacaran dengan Shiratori.

Tapi aku juga tahu kalau mereka putus karena Shiratori terlibat dengan kelompok orang-orang yang tidak benar.

"Aku…… mungkin, dulu suka sama kamu."

Kata-kata itu terucap begitu saja.

Wajah Miori sudah tidak merah lagi.

Karena setelah gelas ketiga, dia hanya minum teh oolong.

"Begitu ya…… mungkin, aku juga dulu suka sama kamu."

Kami tertawa bersama setelah saling melontarkan pernyataan yang belum pasti itu.

Masa lalu tidak bisa diulang, tapi kita bisa melihat ke masa depan.

Penyesalan memang tidak hilang, tapi kita bisa bertindak agar tidak menyesal lagi.

"……Kita pacaran, yuk? Untuk percobaan dulu."

Aku menatap mata Miori.

Bagaimanapun juga, dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

"Terus, kalau nanti kita sudah umur tiga puluh dan belum putus…… kita menikah, ya?"

"Baik."

"Ce, cepat sekali jawabnya."

Saat aku mengangguk, Miori membelalakkan matanya karena terkejut.

"……Karena setelah bertemu kembali, aku jadi tahu."

"Tahu apa?"

"——Aku mencintaimu."

Begitu kukatakan dengan singkat, Miori tersenyum.

"Aku juga."

Di usia dua puluh delapan tahun, aku akhirnya mendapatkan kekasih pertama.

Dia adalah cinta pertamaku, teman masa kecil yang kupikir tidak akan pernah kutemui lagi.




Kata Penutup

Benar, bukan berarti kita boleh mengatakan apa saja hanya karena kita berada di pihak yang benar, kan? Karena kita hanyalah manusia.

Mungkin saja, saat kita mencoba memaksakan kebenaran itu kepada orang lain, kita justru merusak esensi dari diri kita sendiri.

Sambil mencoba mengatakan hal-hal yang terdengar keren, saya menyapa kembali. Saya Amamiya Kazuki.

Kali ini adalah kisah tentang Yamano Saya. Karena ini adalah karakter adik kelas pertama dalam cerita, kisahnya menjadi tentang Natsuki yang membimbing sisi Yamano yang masih belum matang sebagai seorang Senpai. Natsuki sendiri pun telah tumbuh cukup dewasa (bukan begitu?) selama satu tahun ini.

Saya akan sangat senang jika hari-hari yang telah mereka lewati bisa tersampaikan melalui tulisannya.

Sekarang, saya akan beralih ke ucapan terima kasih. Kepada editor saya, N-san, saya selalu merepotkan Anda setiap saat. Mohon jangan tinggalkan saya.

Kemudian, kepada Gin-san yang menangani ilustrasinya, terima kasih atas ilustrasi yang luar biasa sekali lagi. Saya sangat terharu bisa melihat berbagai ekspresi dari adik kelas yang lucu ini.

Dan kepada semua pihak yang telah terlibat dalam buku ini, terima kasih yang sebesar-besarnya.

Berkat dukungan kalian semua, proyek adaptasi anime saat ini sedang berjalan! Terima kasih banyak!



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close