Interlude
Rena Hyacinth
Keluarga Hyacinth, rumah tempat Rena lahir dan dibesarkan, adalah keluarga terpandang yang menduduki posisi puncak di antara para Marquis yang ada di Kerajaan Suci Protea.
Itu berarti, selain
keluarga kerajaan dan keluarga Duke yang mewarisi darah kerajaan, mereka adalah
keluarga dengan status tertinggi di Kerajaan Suci.
Oleh karena itu, sejak
kecil Rena selalu berpikir:
(Aku harus menjadi
wanita terhormat yang pantas menyandang nama Keluarga Hyacinth—)
Namun, menjelang usianya
yang kesepuluh, pemikiran yang murni itu telah sirna.
Berbagai kejahatan telah
dilakukan oleh Keluarga Hyacinth demi mempertahankan kekuasaan tertinggi
mereka.
Kenyataan bahwa kehidupan
mewahnya saat ini dibangun di atas fondasi tersebut, membuat Rena menjalani
hari-harinya dengan perasaan seperti disiksa karena rasa bersalah.
Sampai kapan perasaan ini
akan terus berlanjut?
Mengingat ini adalah
takdir bagi mereka yang terlahir di keluarga berpangkat tinggi, Rena mungkin
tidak akan pernah bisa melarikan diri dari kenyataan ini seumur hidupnya.
Rena terus meyakinkan
dirinya sendiri dengan cara seperti itu agar tidak tenggelam pada rasa bersalah
yang terlalu kuat.
Di tengah situasi
tersebut, pertunangannya dengan Alphonse telah ditetapkan.
Normalnya, memilih
tunangan dari Faksi Bangsawan adalah hal yang mustahil.
Ketika pertunangan itu
ditetapkan, segala kemampuan yang telah diasahnya selama ini, yang sama sekali
tak tertandingi oleh gadis-gadis seumurannya, justru menjadi bumerang baginya.
“Apa kau paham
arti dari pertunangan ini?”
Pada hari pertunangannya
ditetapkan, kakak laki-lakinya yang merupakan calon kepala keluarga berikutnya,
mengatakan hal itu padanya.
Bahkan tanpa perlu diberi
tahu, niat Keluarga Hyacinth sudah sangat jelas.
Dengan memanfaatkan
pertunangan dengan Alphonse, mereka berniat meraih kekuasaan yang lebih besar,
dan pada akhirnya, mengambil alih posisi keluarga kerajaan.
(Mereka bahkan
berniat mengambil alih keluarga kerajaan demi kekuasaan. Hal semacam ini... tidak
mungkin bisa dimaafkan...!)
Keluarga Hyacinth telah
melewati batas yang tidak seharusnya dilewati.
Setelah menyimpulkan hal
tersebut, Rena pun mengikrarkan satu sumpah di dalam hatinya.
(Akulah yang akan
mengakhiri sejarah kelam Keluarga Hyacinth ini.)
Inilah saat di mana Nona Villainess
palsu lahir.
※※※
Apa yang bisa dilakukan
untuk mengakhiri Keluarga Hyacinth?
Ada satu cara mutlak yang terpikirkan
oleh Rena.
Cara itu adalah membuat
Alphonse membatalkan pertunangan mereka.
Pertunangan dengan
keluarga kerajaan memang akan membawa keuntungan yang luar biasa jika berjalan
lancar.
Namun di sisi lain, jika
hubungan itu berakhir gagal, mereka tidak akan bisa bertahan hidup di dalam
lingkaran masyarakat bangsawan.
Jika pertunangan dengan
Alphonse berujung pada kegagalan, Keluarga Hyacinth sudah pasti tidak akan bisa
menghindari keruntuhannya.
Masalahnya adalah
bagaimana caranya menggiring situasi menuju pembatalan pertunangan tersebut.
(Hari ini pun
tidak membuahkan hasil...)
Mulai dari bersikap
menindas kepada para pelayan, menyombongkan diri, hingga melontarkan hinaan
terhadap rakyat jelata.
Setiap kali bertemu
Alphonse, Rena memainkan peran sebagai putri Marquis yang arogan dan sombong. Akan
tetapi, Alphonse hanya meresponsnya dengan senyuman canggung.
Rena juga telah mencari
tahu apakah Alphonse menjelek-jelekkannya di belakang, tetapi tidak ada
tanda-tanda seperti itu.
Dibenci oleh Alphonse
adalah syarat mutlak agar pertunangannya bisa dibatalkan.
Alasan mengapa hal itu
tidak terjadi sudah sangat jelas.
Pertama, Rena tidak mampu
memerankan sosok Nona Villainess dengan sempurna.
Jika Rena bertingkah
terlalu ekstrem, niat aslinya bisa saja diketahui oleh keluarganya. Jika itu
terjadi, mereka pasti akan menggagalkan rencananya, dan itu adalah sesuatu yang
harus ia hindari bagaimanapun caranya.
Kedua, sifat Alphonse yang
terlalu baik hati.
Sebagai seorang pangeran,
Alphonse sangat pandai membaca perasaan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena
itu, tentu saja ia menyadari bahwa Rena tidak sepenuhnya setuju dengan
pertunangan mereka, dan ia bahkan mungkin sudah menebak alasannya.
Hanya saja, mengingat
nasib yang menanti Rena setelah pertunangannya dibatalkan, Alphonse tidak tega
bersikap dingin padanya.
Dalam situasi seperti ini,
mustahil rencananya akan berjalan lancar.
(Apa yang harus
kulakukan...)
Waktu terus berjalan tanpa
henti. Di tengah situasi saat hari masuk ke Akademi Bangsawan sudah di depan
mata, Rena mulai merasa cemas.
Biasanya, anggota keluarga
kerajaan akan segera melangsungkan upacara pernikahan setelah lulus dari
Akademi Bangsawan.
Itu artinya, sisa waktu
yang dimiliki Rena hanyalah tiga tahun selama ia berada di akademi. Ia harus
segera memecahkan kebuntuan ini selagi masih bersekolah.
Dalam kondisi penuh
tekanan seperti itulah, di Akademi Bangsawan tempat ia akan menimba ilmu, Rena
akhirnya menemukan sebuah peluang emas.
※※※
Setiap tahunnya, ada
beberapa anak-anak dari keluarga Ksatria atau Baronet yang masuk ke Akademi
Bangsawan.
Tetapi, pada angkatan Rena,
satu-satunya yang masuk ke akademi hanyalah Mary.
Baik Alphonse maupun Rena
telah mengetahui informasi tersebut bahkan sebelum hari pertama masuk akademi
tiba.
Saat mengetahui tentang Mary,
Alphonse berkata:
“Aku harus
memastikan tidak ada perundungan akibat perbedaan status sosial.”
Setelah menyadari niat
Alphonse, Rena berpikir:
(Ini adalah
kesempatan emas.)
Alphonse yang membela Mary,
dan Rena yang menentang hal tersebut.
Jika berpegang pada
prinsip kesetaraan yang dijunjung oleh Akademi Bangsawan, tindakan Alphonse
sudah benar.
Di sisi lain, jika
berpegang pada norma umum masyarakat bangsawan yang mengutamakan status sosial,
argumen Rena juga benar.
Dalam kasus ini, Keluarga
Hyacinth tidak diragukan lagi akan mendukung argumen Rena.
Sebagai cara untuk
menurunkan pandangan Alphonse terhadapnya tanpa memicu kecurigaan Keluarga
Hyacinth, ini adalah skenario yang paling menguntungkan.
Kemudian, Rena segera melancarkan
aksinya.
—Hei. Kau itu
hanya bangsawan kelas bawah, tolong jangan bersikap terlalu akrab dengan Yang
Mulia!
—Kau ini. Meskipun
hanya bangsawan kelas bawah, Lagi-lagi berani bersikap sok-akrab pada Yang
Mulia...!
—Jika Anda
bersikap akrab dengan orang yang memiliki status sosial rendah sepertinya, hal
itu hanya akan menodai martabat keluarga Kerajaan!
Setiap kali melihat
Alphonse menghabiskan waktu bersama Mary walau hanya sebentar, Rena selalu
memainkan peran sebagai Nona Villainess pencemburu yang terkekang oleh
nilai-nilai kebangsawanan.
Menghadapi Rena yang
seperti itu, sikap Alphonse yang awalnya mencoba menasihati sambil menjelaskan
pandangannya, lambat laun mulai berubah.
—Rena. Sudah
berulang kali kukatakan, kita ini di sekolah. Selama kita belajar di bawah atap
yang sama, status sosial itu tidak ada hubungannya.
—Rena, kau masih
saja meributkan hal itu...
Melalui perubahan sikap
tersebut, Rena merasakan dengan jelas bahwa hati Alphonse secara bertahap mulai
menjauh darinya.
Namun, seiring dengan perubahan
sikap Alphonse, orang-orang di sekitar Rena juga mulai menjauh dan menghilang
satu per satu.
Saat para pengikutnya
perlahan menghilang satu per satu, Rena meyakinkan dirinya sendiri:
Ini adalah keinginanku
sendiri. Ini sama sekali tidak menyakitkan.
Hanya saja, meskipun Rena
sadar bahwa ini adalah jalan yang ia pilih sendiri, hati Rena tetap saja retak
dan terkikis sedikit demi sedikit.
Lahir sebagai putri
pemimpin Faksi Bangsawan, Keluarga Hyacinth, sekaligus tunangan Alphonse, dan
juga dibekali dengan kemampuan yang mumpuni.
Dengan latar belakang
seperti itu, hampir tidak ada orang yang berani bersikap kasar pada Rena, maka
sangat wajar jika ia tidak memiliki daya tahan untuk menghadapi kata-kata
penolakan.
”Yang Mulia,
sampai kapan Anda akan terus bersama dengannya?”
Sudah setengah bulan berlalu
sejak Rena masuk ke Akademi Bangsawan.
Seperti biasa, Rena
melontarkan kritikan kepada Alphonse yang sedang bersama Mary. Namun, tanggapan
yang diberikan Alphonse hanyalah respons yang dingin.
Dari berbagai sudut kelas,
tatapan yang bercampur antara rasa kasihan dan cemoohan tertuju padanya. Ditambah
lagi, kali ini ada Valeria di samping Mary.
”Rena-san. Bisakah
kamu segera menghentikan ini?”
Keluarga Marigold,
keluarga asal Valeria, adalah pemimpin Faksi Kerajaan yang menjadi lawan
politik utama Keluarga Hyacinth.
Tindakan Valeria yang
melindungi Mary memiliki arti yang sangat besar.
Tergantung bagaimana orang
melihatnya, tindakan tersebut bisa dianggap sebagai pesan bahwa Faksi Kerajaan tidak
akan memaafkan siapa pun yang menghina Mary.
Oleh karena itu, para
pengikut yang selama ini berada di pihak Rena mungkin berpikir bahwa mereka
tidak sanggup jika harus berurusan dengan Faksi Kerajaan, sehingga mereka mulai
mengambil jarak dari Rena.
Rena merasa, untuk pertama
kalinya, ia benar-benar sendirian.
”Rena-san,
sebenarnya apa yang membuatmu begitu tidak menyukai Mary-san?”
”Tentu saja status
sosialnya.”
”Status sosial?
Yang Mulia selalu berkata bahwa status sosial tidak ada hubungannya di tempat
ini.”
”I-Itu...”
Kegoyahan hatinya
tergambar dari kata-katanya yang terbata-bata. Dan tentu saja, Valeria tidak
membiarkan celah itu lolos.
”Ara, apakah kamu berniat
mengatakan sesuatu? Tindakan yang menyangkal kehendak Yang Mulia... itu adalah
sebuah ketidaksopanan, lho.”
”—Ghk, t-tidak
mungkin. Saya hanya—“
Hanya... hanya apa?
Kata-kata ’demi kebaikan Kerajaan
Suci’ tidak mampu langsung meluncur dari mulutnya.
Keputusannya untuk
mengakhiri Keluarga Hyacinth seharusnya dilandasi oleh kepeduliannya terhadap
masa depan negara ini.
Namun, tekadnya kini terguncang
hebat. Apakah ada artinya mencapai tujuan tersebut jika ia harus menderita
seperti ini?
Tepat ketika hatinya
hampir hancur berkeping-keping, Rena mendengar suara seseorang yang hendak
berdiri. Karena sejak awal ia telah menolak segala bentuk kecaman dari
sekitarnya, telinganya justru berhasil menangkap suara tersebut.
Saat Rena melirik ke arah
sumber suara, ia melihat seorang siswa laki-laki yang nyaris berdiri
sepenuhnya.
Nama siswa laki-laki itu
adalah Arl Clover. Putra sulung dari keluarga yang sering diejek sebagai ‘Margrave
Hanya sebatas Gelar'.
Pemuda yang seperti itu,
kini terlihat sedang mengepalkan tangannya dengan begitu erat.
Awalnya, Rena mengira
bahwa pemuda itu memendam amarah yang besar terhadapnya. Tetapi, tatapan Arl
tidak tertuju padanya.
Tatapannya tertuju pada
Alphonse, serta murid-murid lain yang memihaknya sambil menatap Rena dengan
penuh permusuhan. Dan kemudian—
”Kalian berdua,
hentikan...!”
Hampir bersamaan dengan
saat Rena menyadari keberadaan Arl, Alphonse meninggikan suaranya. Dilihat dari
sudut pandangnya, Alphonse jelas telah menangkap sosok Arl.
Untuk mencegah agar
masalah tidak bertambah besar akibat tindakan Arl, Alphonse sengaja membentak untuk
menenangkan situasi.
Karena Alphonse telah
mengangkat suaranya, tidak ada satu orang pun yang berani membantah.
Rena menuruti perintah
tersebut dan kembali ke tempat duduknya.
Ketika Rena menyadarinya,
emosi dingin dan menyakitkan yang sejak tadi menyelimutinya kini telah lenyap
begitu saja. Bahkan sebaliknya, ada suatu perasaan hangat yang mengembang di
dalam dadanya.
Rena hanya mengarahkan tatapan
matanya ke arah Arl.
Arl tampak merasa gugup
setelah bertatapan langsung dengan Alphonse. Bisa dibilang, ia sedang
berkeringat dingin akibat ulah kecerobohannya sendiri.
Jika dilihat dari sudut
pandang objektif, tindakannya pasti akan dicemooh karena dianggap terlalu
gegabah.
Namun, pandangan Rena
berbeda.
Arl, hanya demi Rena—demi
keadilan yang ia yakini—Arl rela mengorbankan dirinya sendiri untuk mencoba bersuara.
Rena hanya bisa merasakan
rasa syukur pada Arl, tidak ada sedikit pun niat untuk menertawakannya. Dan
yang paling penting, tindakan Arl memberinya dorongan semangat baru.
Rena tidak akan pernah
membiarkan tekadnya goyah lagi. Dirinyalah yang akan memastikan akhir dari
Keluarga Hyacinth.
Pada hari itu, Rena
berubah menjadi sosok wanita yang benar-benar tangguh dalam arti yang
sesungguhnya.
※※※
Keesokan harinya, Rena melihat
sebuah pemandangan yang sulit dipercaya.
Di dalam kelas, Alphonse
dan Mary tampak menghabiskan waktu secara terpisah. Tidak hanya itu, Mary kini
tampak ditemani oleh Arl, temannya yang bernama Ralph, dan Valeria.
Kalau Valeria masih bisa
dimaklumi, tapi sejauh yang diingat Rena, Arl dan Ralph tidak pernah terlihat
akrab dengan Mary.
Rena melirik ke arah
Alphonse karena merasa penasaran.
Sesekali, pangeran itu
mencuri pandang ke arah kelompok Arl, seolah sedang memantau keadaan mereka. Ini
membuktikan bahwa pasti ada kesepakatan yang terjadi antara Alphonse dan Arl.
Mungkin mereka sepakat
bahwa Arl harus melindungi Mary, sebagai ganti agar tindakan Arl kemarin bisa dimaafkan.
Begitulah dugaannya
mengenai kesepakatan tersebut.
Jika memang demikian, maka
hal ini menjadi masalah besar bagi Rena. Karena, jika permasalahan Mary
teratasi, Alphonse akan secara otomatis menjaga jarak dari gadis itu.
Jika itu terjadi, Rena tidak
akan lagi memiliki alasan untuk bertingkah buruk dan membuat Alphonse
membencinya.
Namun, kekhawatiran itu
nyatanya tidak beralasan.
Memang benar bahwa
frekuensi Alphonse berbicara dengan Mary berkurang drastis, dan sebagai
gantinya, waktunya bersama Rena justru bertambah.
Tetapi, bersamaan dengan
itu, sikap Alphonse terhadap Rena juga berubah.
Sikap segan yang selama
ini ditunjukkan Alphonse pada Rena lenyap begitu saja. Kapan pun Rena
bertingkah layaknya Nona Villainess, Alphonse pasti akan membalasnya dengan
kata-kata yang tajam dan menusuk.
Melalui perubahan itu, Rena
akhirnya menyadari satu hal.
Hanya dengan selesainya
masalah Mary saja, perubahannya tidak mungkin menjadi sampai seperti ini.
Satu-satunya alasan yang
masuk akal mengapa Alphonse kini tidak ragu bersikap tegas padanya adalah
karena permasalahan terkait nasib Rena pasca-pembatalan pertunangan telah
diselesaikan.
Dengan kata lain,
percakapan antara Alphonse dan Arl telah menuntaskan masalah tersebut.
(Jadi begitu
rupanya. Kalau begitu, aku...)
Pada titik ini, Rena sudah
bisa memprediksi masa depan yang akan menantinya.
Dan masa depan tersebut
sama sekali bukanlah masa depan yang buruk bagi Rena—bahkan, itu adalah masa
depan yang sangat membahagiakan baginya.
※※※
Tiga tahun berlalu sejak Rena
masuk ke Akademi Bangsawan, dan hari kelulusan pun tiba.
”Mulai hari ini,
aku membatalkan pertunanganku denganmu!”
Sesuai dugaannya, Alphonse
mengumumkan pembatalan pertunangan mereka. Dengan ini, Rena tidak perlu lagi
berpura-pura menjadi sosok Nona Villainess.
Beberapa hari kemudian,
keputusan pengasingan Rena ke Wilayah Clover telah ditetapkan.
Bagi mereka yang tidak
mengenal Arl, ini tidak lebih dari sekadar hukuman yang menyiksa. Tetapi bagi Rena
yang sudah mengetahui bahwa hal ini akan terjadi, ia sama sekali tidak merasa
keberatan.
Selama tiga tahun
bersekolah di Akademi Bangsawan, setiap hari Rena diam-diam memperhatikan Arl,
dan kesan yang ia miliki tentang pemuda itu tidak pernah berubah.
Dari lubuk hatinya yang
paling dalam, Rena bersedia menyerahkan seluruh sisa hidupnya hanya untuk Arl.
Dan nyatanya, insting Rena
terbukti sangat tepat.
Bahkan setelah mengetahui
segala rahasia tentang dirinya, Arl sama sekali tidak menyalahkannya. Lebih
dari itu, pemuda itu menyatakan bahwa ia mencintainya.
Sesuatu yang di luar
nalar.
Rena tidak pernah merasa
begitu diberkati dan seberuntung ini, selain pada hari bersejarah tersebut.
“Rena, selamat tidur.”
“Selamat tidur, Arl.”
“Rena, aku mencintaimu.”
“Aku juga, aku sangat
mencintaimu, Arl.”
Setelah saling
mengungkapkan perasaan dengan jelas, mereka pun kembali ke kamar masing-masing.
Entah sudah ke berapa
kalinya mereka bertukar sapaan seperti itu sebelum tidur. Ini adalah keseharian
yang kini menjadi rutinitas Rena di Keluarga Clover.
Setiap hari, Rena selalu
merasa sangat menyayangi dan tidak ingin melewatkan momen ini. Hanya saja,
hingga saat ini Rena masih belum mampu menyampaikannya. Alasan mengapa ia
sangat mencintai Arl.
Untuk saat ini, Rena masih
terlalu malu untuk mengungkapkan isi hatinya dengan jujur.
(Tapi, suatu hari
nanti—)
Rena ingin mengungkapkan
seberapa besar perasaannya kepada Arl. Dan mungkin, saat hari itu tiba, rasa
cintanya pada Arl pasti sudah jauh lebih besar dari yang ada saat ini.



Post a Comment