NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Henkyou Kizoku ni Tensei shita Akuyaku Reijō Suki ga Volume 1 Interlude I

Interlude

Rena Hyacinth


Keluarga Hyacinth, rumah tempat Rena lahir dan dibesarkan, adalah keluarga terpandang yang menduduki posisi puncak di antara para Marquis yang ada di Kerajaan Suci Protea.

 

Itu berarti, selain keluarga kerajaan dan keluarga Duke yang mewarisi darah kerajaan, mereka adalah keluarga dengan status tertinggi di Kerajaan Suci.

 

Oleh karena itu, sejak kecil Rena selalu berpikir:

 

(Aku harus menjadi wanita terhormat yang pantas menyandang nama Keluarga Hyacinth—)

 

Namun, menjelang usianya yang kesepuluh, pemikiran yang murni itu telah sirna.

 

Berbagai kejahatan telah dilakukan oleh Keluarga Hyacinth demi mempertahankan kekuasaan tertinggi mereka.

 

Kenyataan bahwa kehidupan mewahnya saat ini dibangun di atas fondasi tersebut, membuat Rena menjalani hari-harinya dengan perasaan seperti disiksa karena rasa bersalah.

 

Sampai kapan perasaan ini akan terus berlanjut?

 

Mengingat ini adalah takdir bagi mereka yang terlahir di keluarga berpangkat tinggi, Rena mungkin tidak akan pernah bisa melarikan diri dari kenyataan ini seumur hidupnya.

 

Rena terus meyakinkan dirinya sendiri dengan cara seperti itu agar tidak tenggelam pada rasa bersalah yang terlalu kuat.

 

Di tengah situasi tersebut, pertunangannya dengan Alphonse telah ditetapkan.

 

Normalnya, memilih tunangan dari Faksi Bangsawan adalah hal yang mustahil.

 

Ketika pertunangan itu ditetapkan, segala kemampuan yang telah diasahnya selama ini, yang sama sekali tak tertandingi oleh gadis-gadis seumurannya, justru menjadi bumerang baginya.

 

“Apa kau paham arti dari pertunangan ini?”

 

Pada hari pertunangannya ditetapkan, kakak laki-lakinya yang merupakan calon kepala keluarga berikutnya, mengatakan hal itu padanya.

 

Bahkan tanpa perlu diberi tahu, niat Keluarga Hyacinth sudah sangat jelas.

 

Dengan memanfaatkan pertunangan dengan Alphonse, mereka berniat meraih kekuasaan yang lebih besar, dan pada akhirnya, mengambil alih posisi keluarga kerajaan.

(Mereka bahkan berniat mengambil alih keluarga kerajaan demi kekuasaan. Hal semacam ini... tidak mungkin bisa dimaafkan...!)

 

Keluarga Hyacinth telah melewati batas yang tidak seharusnya dilewati.

 

Setelah menyimpulkan hal tersebut, Rena pun mengikrarkan satu sumpah di dalam hatinya.

 

(Akulah yang akan mengakhiri sejarah kelam Keluarga Hyacinth ini.)

 

Inilah saat di mana Nona Villainess palsu lahir.

 

※※※

 

Apa yang bisa dilakukan untuk mengakhiri Keluarga Hyacinth?

 

Ada satu cara mutlak yang terpikirkan oleh Rena.

 

Cara itu adalah membuat Alphonse membatalkan pertunangan mereka.

 

Pertunangan dengan keluarga kerajaan memang akan membawa keuntungan yang luar biasa jika berjalan lancar.

 

Namun di sisi lain, jika hubungan itu berakhir gagal, mereka tidak akan bisa bertahan hidup di dalam lingkaran masyarakat bangsawan.

Jika pertunangan dengan Alphonse berujung pada kegagalan, Keluarga Hyacinth sudah pasti tidak akan bisa menghindari keruntuhannya.

 

Masalahnya adalah bagaimana caranya menggiring situasi menuju pembatalan pertunangan tersebut.

 

(Hari ini pun tidak membuahkan hasil...)

 

Mulai dari bersikap menindas kepada para pelayan, menyombongkan diri, hingga melontarkan hinaan terhadap rakyat jelata.

 

Setiap kali bertemu Alphonse, Rena memainkan peran sebagai putri Marquis yang arogan dan sombong. Akan tetapi, Alphonse hanya meresponsnya dengan senyuman canggung.

 

Rena juga telah mencari tahu apakah Alphonse menjelek-jelekkannya di belakang, tetapi tidak ada tanda-tanda seperti itu.

 

Dibenci oleh Alphonse adalah syarat mutlak agar pertunangannya bisa dibatalkan.

 

Alasan mengapa hal itu tidak terjadi sudah sangat jelas.

 

Pertama, Rena tidak mampu memerankan sosok Nona Villainess dengan sempurna.

 

Jika Rena bertingkah terlalu ekstrem, niat aslinya bisa saja diketahui oleh keluarganya. Jika itu terjadi, mereka pasti akan menggagalkan rencananya, dan itu adalah sesuatu yang harus ia hindari bagaimanapun caranya.

 

Kedua, sifat Alphonse yang terlalu baik hati.

 

Sebagai seorang pangeran, Alphonse sangat pandai membaca perasaan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, tentu saja ia menyadari bahwa Rena tidak sepenuhnya setuju dengan pertunangan mereka, dan ia bahkan mungkin sudah menebak alasannya.

 

Hanya saja, mengingat nasib yang menanti Rena setelah pertunangannya dibatalkan, Alphonse tidak tega bersikap dingin padanya.

 

Dalam situasi seperti ini, mustahil rencananya akan berjalan lancar.

 

(Apa yang harus kulakukan...)

 

Waktu terus berjalan tanpa henti. Di tengah situasi saat hari masuk ke Akademi Bangsawan sudah di depan mata, Rena mulai merasa cemas.

 

Biasanya, anggota keluarga kerajaan akan segera melangsungkan upacara pernikahan setelah lulus dari Akademi Bangsawan.

 

Itu artinya, sisa waktu yang dimiliki Rena hanyalah tiga tahun selama ia berada di akademi. Ia harus segera memecahkan kebuntuan ini selagi masih bersekolah.

 

Dalam kondisi penuh tekanan seperti itulah, di Akademi Bangsawan tempat ia akan menimba ilmu, Rena akhirnya menemukan sebuah peluang emas.

 

※※※

 

Setiap tahunnya, ada beberapa anak-anak dari keluarga Ksatria atau Baronet yang masuk ke Akademi Bangsawan.

 

Tetapi, pada angkatan Rena, satu-satunya yang masuk ke akademi hanyalah Mary.

 

Baik Alphonse maupun Rena telah mengetahui informasi tersebut bahkan sebelum hari pertama masuk akademi tiba.

 

Saat mengetahui tentang Mary, Alphonse berkata:

 

“Aku harus memastikan tidak ada perundungan akibat perbedaan status sosial.”

 

Setelah menyadari niat Alphonse, Rena berpikir:

 

(Ini adalah kesempatan emas.)

 

Alphonse yang membela Mary, dan Rena yang menentang hal tersebut.

 

Jika berpegang pada prinsip kesetaraan yang dijunjung oleh Akademi Bangsawan, tindakan Alphonse sudah benar.

 

Di sisi lain, jika berpegang pada norma umum masyarakat bangsawan yang mengutamakan status sosial, argumen Rena juga benar.

 

Dalam kasus ini, Keluarga Hyacinth tidak diragukan lagi akan mendukung argumen Rena.

 

Sebagai cara untuk menurunkan pandangan Alphonse terhadapnya tanpa memicu kecurigaan Keluarga Hyacinth, ini adalah skenario yang paling menguntungkan.

 

Kemudian, Rena segera melancarkan aksinya.

 

—Hei. Kau itu hanya bangsawan kelas bawah, tolong jangan bersikap terlalu akrab dengan Yang Mulia!

 

—Kau ini. Meskipun hanya bangsawan kelas bawah, Lagi-lagi berani bersikap sok-akrab pada Yang Mulia...!

 

—Jika Anda bersikap akrab dengan orang yang memiliki status sosial rendah sepertinya, hal itu hanya akan menodai martabat keluarga Kerajaan!

 

Setiap kali melihat Alphonse menghabiskan waktu bersama Mary walau hanya sebentar, Rena selalu memainkan peran sebagai Nona Villainess pencemburu yang terkekang oleh nilai-nilai kebangsawanan.

 

Menghadapi Rena yang seperti itu, sikap Alphonse yang awalnya mencoba menasihati sambil menjelaskan pandangannya, lambat laun mulai berubah.

 

—Rena. Sudah berulang kali kukatakan, kita ini di sekolah. Selama kita belajar di bawah atap yang sama, status sosial itu tidak ada hubungannya.

 

—Rena, kau masih saja meributkan hal itu...

 

Melalui perubahan sikap tersebut, Rena merasakan dengan jelas bahwa hati Alphonse secara bertahap mulai menjauh darinya.

 

Namun, seiring dengan perubahan sikap Alphonse, orang-orang di sekitar Rena juga mulai menjauh dan menghilang satu per satu.

 

Saat para pengikutnya perlahan menghilang satu per satu, Rena meyakinkan dirinya sendiri:

 

Ini adalah keinginanku sendiri. Ini sama sekali tidak menyakitkan.

 

Hanya saja, meskipun Rena sadar bahwa ini adalah jalan yang ia pilih sendiri, hati Rena tetap saja retak dan terkikis sedikit demi sedikit.

 

Lahir sebagai putri pemimpin Faksi Bangsawan, Keluarga Hyacinth, sekaligus tunangan Alphonse, dan juga dibekali dengan kemampuan yang mumpuni.

Dengan latar belakang seperti itu, hampir tidak ada orang yang berani bersikap kasar pada Rena, maka sangat wajar jika ia tidak memiliki daya tahan untuk menghadapi kata-kata penolakan.

 

”Yang Mulia, sampai kapan Anda akan terus bersama dengannya?”

 

Sudah setengah bulan berlalu sejak Rena masuk ke Akademi Bangsawan.

 

Seperti biasa, Rena melontarkan kritikan kepada Alphonse yang sedang bersama Mary. Namun, tanggapan yang diberikan Alphonse hanyalah respons yang dingin.

 

Dari berbagai sudut kelas, tatapan yang bercampur antara rasa kasihan dan cemoohan tertuju padanya. Ditambah lagi, kali ini ada Valeria di samping Mary.

 

”Rena-san. Bisakah kamu segera menghentikan ini?”

 

Keluarga Marigold, keluarga asal Valeria, adalah pemimpin Faksi Kerajaan yang menjadi lawan politik utama Keluarga Hyacinth.

 

Tindakan Valeria yang melindungi Mary memiliki arti yang sangat besar.

 

Tergantung bagaimana orang melihatnya, tindakan tersebut bisa dianggap sebagai pesan bahwa Faksi Kerajaan tidak akan memaafkan siapa pun yang menghina Mary.

Oleh karena itu, para pengikut yang selama ini berada di pihak Rena mungkin berpikir bahwa mereka tidak sanggup jika harus berurusan dengan Faksi Kerajaan, sehingga mereka mulai mengambil jarak dari Rena.

 

Rena merasa, untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendirian.

 

”Rena-san, sebenarnya apa yang membuatmu begitu tidak menyukai Mary-san?”

 

”Tentu saja status sosialnya.”

 

”Status sosial? Yang Mulia selalu berkata bahwa status sosial tidak ada hubungannya di tempat ini.”

 

”I-Itu...”

 

Kegoyahan hatinya tergambar dari kata-katanya yang terbata-bata. Dan tentu saja, Valeria tidak membiarkan celah itu lolos.

 

”Ara, apakah kamu berniat mengatakan sesuatu? Tindakan yang menyangkal kehendak Yang Mulia... itu adalah sebuah ketidaksopanan, lho.”

 

”—Ghk, t-tidak mungkin. Saya hanya—“

 

Hanya... hanya apa?

 

Kata-kata ’demi kebaikan Kerajaan Suci’ tidak mampu langsung meluncur dari mulutnya.

 

Keputusannya untuk mengakhiri Keluarga Hyacinth seharusnya dilandasi oleh kepeduliannya terhadap masa depan negara ini.

 

Namun, tekadnya kini terguncang hebat. Apakah ada artinya mencapai tujuan tersebut jika ia harus menderita seperti ini?

 

Tepat ketika hatinya hampir hancur berkeping-keping, Rena mendengar suara seseorang yang hendak berdiri. Karena sejak awal ia telah menolak segala bentuk kecaman dari sekitarnya, telinganya justru berhasil menangkap suara tersebut.

 

Saat Rena melirik ke arah sumber suara, ia melihat seorang siswa laki-laki yang nyaris berdiri sepenuhnya.

 

Nama siswa laki-laki itu adalah Arl Clover. Putra sulung dari keluarga yang sering diejek sebagai ‘Margrave Hanya sebatas Gelar'.

 

Pemuda yang seperti itu, kini terlihat sedang mengepalkan tangannya dengan begitu erat.

 

Awalnya, Rena mengira bahwa pemuda itu memendam amarah yang besar terhadapnya. Tetapi, tatapan Arl tidak tertuju padanya.

 

Tatapannya tertuju pada Alphonse, serta murid-murid lain yang memihaknya sambil menatap Rena dengan penuh permusuhan. Dan kemudian—

 

”Kalian berdua, hentikan...!”

 

Hampir bersamaan dengan saat Rena menyadari keberadaan Arl, Alphonse meninggikan suaranya. Dilihat dari sudut pandangnya, Alphonse jelas telah menangkap sosok Arl.

 

Untuk mencegah agar masalah tidak bertambah besar akibat tindakan Arl, Alphonse sengaja membentak untuk menenangkan situasi.

 

Karena Alphonse telah mengangkat suaranya, tidak ada satu orang pun yang berani membantah.

 

Rena menuruti perintah tersebut dan kembali ke tempat duduknya.

 

Ketika Rena menyadarinya, emosi dingin dan menyakitkan yang sejak tadi menyelimutinya kini telah lenyap begitu saja. Bahkan sebaliknya, ada suatu perasaan hangat yang mengembang di dalam dadanya.

 

Rena hanya mengarahkan tatapan matanya ke arah Arl.

 

Arl tampak merasa gugup setelah bertatapan langsung dengan Alphonse. Bisa dibilang, ia sedang berkeringat dingin akibat ulah kecerobohannya sendiri.

 

Jika dilihat dari sudut pandang objektif, tindakannya pasti akan dicemooh karena dianggap terlalu gegabah.

 

Namun, pandangan Rena berbeda.

 

Arl, hanya demi Rena—demi keadilan yang ia yakini—Arl rela mengorbankan dirinya sendiri untuk mencoba bersuara.

 

Rena hanya bisa merasakan rasa syukur pada Arl, tidak ada sedikit pun niat untuk menertawakannya. Dan yang paling penting, tindakan Arl memberinya dorongan semangat baru.

 

Rena tidak akan pernah membiarkan tekadnya goyah lagi. Dirinyalah yang akan memastikan akhir dari Keluarga Hyacinth.

 

Pada hari itu, Rena berubah menjadi sosok wanita yang benar-benar tangguh dalam arti yang sesungguhnya.

 

※※※

 

Keesokan harinya, Rena melihat sebuah pemandangan yang sulit dipercaya.

 

Di dalam kelas, Alphonse dan Mary tampak menghabiskan waktu secara terpisah. Tidak hanya itu, Mary kini tampak ditemani oleh Arl, temannya yang bernama Ralph, dan Valeria.

 

Kalau Valeria masih bisa dimaklumi, tapi sejauh yang diingat Rena, Arl dan Ralph tidak pernah terlihat akrab dengan Mary.

 

Rena melirik ke arah Alphonse karena merasa penasaran.

 

Sesekali, pangeran itu mencuri pandang ke arah kelompok Arl, seolah sedang memantau keadaan mereka. Ini membuktikan bahwa pasti ada kesepakatan yang terjadi antara Alphonse dan Arl.

 

Mungkin mereka sepakat bahwa Arl harus melindungi Mary, sebagai ganti agar tindakan Arl kemarin bisa dimaafkan.

 

Begitulah dugaannya mengenai kesepakatan tersebut.

 

Jika memang demikian, maka hal ini menjadi masalah besar bagi Rena. Karena, jika permasalahan Mary teratasi, Alphonse akan secara otomatis menjaga jarak dari gadis itu.

 

Jika itu terjadi, Rena tidak akan lagi memiliki alasan untuk bertingkah buruk dan membuat Alphonse membencinya.

 

Namun, kekhawatiran itu nyatanya tidak beralasan.

 

Memang benar bahwa frekuensi Alphonse berbicara dengan Mary berkurang drastis, dan sebagai gantinya, waktunya bersama Rena justru bertambah.

 

Tetapi, bersamaan dengan itu, sikap Alphonse terhadap Rena juga berubah.

Sikap segan yang selama ini ditunjukkan Alphonse pada Rena lenyap begitu saja. Kapan pun Rena bertingkah layaknya Nona Villainess, Alphonse pasti akan membalasnya dengan kata-kata yang tajam dan menusuk.

 

Melalui perubahan itu, Rena akhirnya menyadari satu hal.

 

Hanya dengan selesainya masalah Mary saja, perubahannya tidak mungkin menjadi sampai seperti ini.

 

Satu-satunya alasan yang masuk akal mengapa Alphonse kini tidak ragu bersikap tegas padanya adalah karena permasalahan terkait nasib Rena pasca-pembatalan pertunangan telah diselesaikan.

 

Dengan kata lain, percakapan antara Alphonse dan Arl telah menuntaskan masalah tersebut.

 

(Jadi begitu rupanya. Kalau begitu, aku...)

 

Pada titik ini, Rena sudah bisa memprediksi masa depan yang akan menantinya.

 

Dan masa depan tersebut sama sekali bukanlah masa depan yang buruk bagi Rena—bahkan, itu adalah masa depan yang sangat membahagiakan baginya.

 

※※※

 

Tiga tahun berlalu sejak Rena masuk ke Akademi Bangsawan, dan hari kelulusan pun tiba.

”Mulai hari ini, aku membatalkan pertunanganku denganmu!”

 

Sesuai dugaannya, Alphonse mengumumkan pembatalan pertunangan mereka. Dengan ini, Rena tidak perlu lagi berpura-pura menjadi sosok Nona Villainess.

 

Beberapa hari kemudian, keputusan pengasingan Rena ke Wilayah Clover telah ditetapkan.

 

Bagi mereka yang tidak mengenal Arl, ini tidak lebih dari sekadar hukuman yang menyiksa. Tetapi bagi Rena yang sudah mengetahui bahwa hal ini akan terjadi, ia sama sekali tidak merasa keberatan.

 

Selama tiga tahun bersekolah di Akademi Bangsawan, setiap hari Rena diam-diam memperhatikan Arl, dan kesan yang ia miliki tentang pemuda itu tidak pernah berubah.

 

Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Rena bersedia menyerahkan seluruh sisa hidupnya hanya untuk Arl.

 

Dan nyatanya, insting Rena terbukti sangat tepat.

 

Bahkan setelah mengetahui segala rahasia tentang dirinya, Arl sama sekali tidak menyalahkannya. Lebih dari itu, pemuda itu menyatakan bahwa ia mencintainya.

 

Sesuatu yang di luar nalar.

 

Rena tidak pernah merasa begitu diberkati dan seberuntung ini, selain pada hari bersejarah tersebut.

“Rena, selamat tidur.”

 

“Selamat tidur, Arl.”

 

“Rena, aku mencintaimu.”

 

“Aku juga, aku sangat mencintaimu, Arl.”

 

Setelah saling mengungkapkan perasaan dengan jelas, mereka pun kembali ke kamar masing-masing.

 

Entah sudah ke berapa kalinya mereka bertukar sapaan seperti itu sebelum tidur. Ini adalah keseharian yang kini menjadi rutinitas Rena di Keluarga Clover.

 

Setiap hari, Rena selalu merasa sangat menyayangi dan tidak ingin melewatkan momen ini. Hanya saja, hingga saat ini Rena masih belum mampu menyampaikannya. Alasan mengapa ia sangat mencintai Arl.

 

Untuk saat ini, Rena masih terlalu malu untuk mengungkapkan isi hatinya dengan jujur.

 

(Tapi, suatu hari nanti—)

 

Rena ingin mengungkapkan seberapa besar perasaannya kepada Arl. Dan mungkin, saat hari itu tiba, rasa cintanya pada Arl pasti sudah jauh lebih besar dari yang ada saat ini.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close