NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Osananajimi ni Kareshi ga Dekita Tame, Betsu no Ko ni Obento o Tsukutte Agetara, Osananajimi no Yousu ga Okashiku Natta V1 Chapter 5

 Penerjemah: Noire

Proffreader: Noire


Chapter 5

Kumpul Keluarga dan Penyesalan yang Terlambat

Kapan terakhir kali aku melihat lampu di papan nama Kedai Shioda menyala?  


Dadaku berdegup kencang melihat pemandangan yang telah lama kunantikan sejak kedai ini ditutup.  


Begitu menyibak tirai noren, interior kedai yang sama seperti dulu terhampar di depan mataku.  


Ada kursi konter yang terhubung ke dapur, dan tiga meja untuk empat orang. Meski mungil, interior berbahan kayu dengan dominasi warna cokelat ini mengingatkan pada kafe yang modis. Kedai ini tertata begitu rapi hingga tidak terlihat seperti tempat yang sudah tutup selama bertahun-tahun. Persiapannya pasti sangat berat. Dalam hati, aku berterima kasih kepada Takeru dan yang lainnya.  


Tanpa mengetahui perasaan itu, orang tuaku masuk ke kedai. Setelah memastikan tidak ada orang di dalam, mereka membuka suara dengan wajah heran.  


"Chise, kamu tidak perlu repot-repot datang ke kedai sekecil ini, kita bisa pergi ke tempat yang lebih bagus, kan?"  


"Benar... sepertinya di sini juga tidak menyediakan wine."  


Ternyata Ayah dan Ibu sama sekali tidak ingat pernah datang ke sini.  

Aku merasa kesal karena kedai indah yang disiapkan Takeru dan teman-temannya dihina, tapi aku berusaha keras untuk tidak menunjukkannya di wajah.  


"Tidak, aku mau di sini. Masakan di sini sangat enak lho."  


Aku menjawab dengan tegas, namun Ibu mengernyitkan dahi.  


"Chise, kamu pasti sungkan lagi, kan? Kamu tidak perlu merasa begitu lagi."  


"Sungkan? Apa maksudnya itu?"  


Ayah memiringkan kepala bertanya, dan Ibu menjawab sambil menghela napas.  


"Anak ini, sampai sekarang masih membawa perasaan saat kita tidak punya uang dulu. Bahkan soal baju, kalau tidak pergi bersamaku, dia pasti membeli barang-barang murah. Aku sampai malu sendiri."  


Mendengar kata-kata Ibu, aku menunduk sambil membuka suara.  


"Kan sudah berkali-kali kubilang, itu bukan karena aku sungkan... Aku hanya membeli barang yang menurutku bagus."  


"Hah... Chise memang begitu dari dulu. Selalu memaksakan senyum dan menahan diri... Kedai ini juga, kamu pasti memilihnya karena mencari tempat yang murah, kan?" 


Ibu berkata begitu lalu membalikkan tubuh ke arah pintu keluar. 


"Ayo, mumpung belum memesan, kita masih sempat. Mari cari restoran lain. Ini hari ulang tahunmu, kamu tidak perlu menahan diri."  


Mendengar ucapan Ibu, Ayah pun ikut melangkah menuju pintu keluar.  


"Oalah, ternyata kamu memikirkan hal itu. Kita sudah berbeda dengan masa lalu, kita bisa pergi ke mana saja. Oh iya, restoran yang kukunjungi bersama klien bulan lalu saja. Roast beef-nya luar biasa."  


"Tapi, aku bilang aku tidak sedang menahan diri..."  


"Sudahlah, ayo cepat pergi."  


Aku mencoba membantah, tapi Ibu menarik lenganku dan menyeretku dengan paksa menuju pintu keluar.  


Baik Ayah maupun Ibu tidak ada yang mau mendengarkan bicaraku.  


Selalu saja begini. Bagi Ibu, ingatan masa lalu saat kami miskin terus membayangi seperti hantu. Baginya, harga murah sama dengan menyedihkan. Itulah sebabnya dia selalu membelikanku barang mahal dan membuang barang yang murah. Apa pun yang kukatakan, dia hanya akan bilang "tidak usah sungkan" dan tidak mau mendengarkan.  


Ayah pun sama, mungkin karena merasa bersalah telah membuat Ibu menderita di masa miskin dulu, dia tidak pernah menentang dan selalu menuruti kata-kata Ibu.  


Tepat saat Ibu menyentuh tirai *noren*, dia bergumam lirih.  


"Makan di kedai murahan begini hanya akan membuatku merasa menyedihkan seperti dulu."  


Mendengar kata-kata itu, aku menghempaskan tangan Ibu sekuat tenaga.  


"Dengarkan kata-kataku!!"  


Untuk pertama kalinya seumur hidup, aku berteriak kencang di depan orang tuaku.  


Selama ini, baik saat masih miskin maupun saat merasa kesepian, aku selalu menahan diri dan berniat untuk terus begitu.  


Tapi aku tidak bisa membiarkan tempat yang disiapkan oleh teman-temanku... oleh Takeru yang telah memikirkanku ini, dihina begitu saja.  


"Selalu, selalu, selalu, selaluuuu! Berhenti memutuskan segala sesuatu tentangku sendirian! Ini adalah kedai makan yang paling aku sukai di seluruh dunia! Harganya sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu!"  


Aku melotot ke arah Ibu yang terdiam mematung karena terkejut.  


"Ibu selalu bilang demi aku, demi aku, tapi akhirnya Ibu hanya menganggapku sebagai barang hiasan Ibu saja!"  


"Mana mungkin..."  


"Lalu apa maksud kata 'malu' tadi?! Kenapa Ibu harus malu kalau aku memakai baju murah?! Ibu cuma tidak mau dianggap sebagai orang tua yang memakaikan baju murah ke anaknya, kan?! Akhirnya itu semua demi diri Ibu sendiri!"  


Wajah Ibu mengerut seolah rahasianya baru saja dibongkar secara menyakitkan.  


Melihat Ibu tidak bisa membalas, aku mengalihkan sasaran ke Ayah.  

"Ayah juga setiap hari cuma kerja, kerja, kerja! Kapan terakhir kali Ayah pulang saat aku masih bangun?! Sekarang sih tidak apa-apa, tapi apa Ayah pernah berpikir betapa kesepiannya aku saat masih kecil dulu?!"  


Ayah hanya menunduk dengan rasa bersalah tanpa berkata apa-apa. Aku terus melanjutkan.  


"Ibu selalu membicarakan masa lalu seolah itu kenangan pahit, tapi aku tidak berpikir begitu! Memang mungkin kita tidak bisa makan enak seperti sekarang, tapi Ibu dulu memasakkan apa yang aku suka, dan Ayah selalu pulang tepat waktu untuk makan malam bersama! Saat-saat aku benar-benar menahan diri bukan saat kita miskin, tapi justru sejak kita jadi kaya!"  


Emosiku sudah tidak terbendung lagi. Segala hal yang kupendam selama ini meluncur keluar satu per satu.  


"Ibu dan Ayah pulang terlambat karena kerja... Kapan terakhir kali kita makan bersama sebagai keluarga? Mungkin saat aku masih SD? Saat aku membuat rencana liburan keluarga, kalian bilang tidak bisa pergi karena kerja, lalu sebagai permintaan maaf kalian membelikanku kalung seperti ini... Aku tidak menginginkan barang seperti ini!!"  


Aku melepas kalung itu dan membantingnya ke lantai.  


"Kita yang sekarang tidak bisa disebut keluarga... kita hanyalah orang-orang yang tinggal di rumah yang sama...!"  


Setelah melihat keluarga Takeru... melihat keluarga yang sebenarnya, itulah yang kupikirkan.  


Dari celah pintu geser yang menghubungkan lantai dua dan dapur sekaligus area pelanggan, aku mengintip pertengkaran anak dan orang tua itu.  


Dapur di lantai satu sudah tidak bisa digunakan karena aliran gasnya mati, jadi rencananya aku akan memasak di dapur lantai dua dan membawanya turun ke meja makan di lantai satu. Namun...  


(S-susah banget mau masuknyaaaaa!!)  


Suasana macam apa ini... rasanya seperti neraka.  


Padahal aku membayangkan situasi menyentuh di mana mereka bernostalgia dengan suasana kedai yang lama lalu masakan yang sama seperti dulu dihidangkan... Kenapa malah jadi begini...!!  


Mungkin saling mencurahkan isi hati adalah tahap yang memang diperlukan bagi keluarga Chise. Itulah yang kurasakan saat mendengar percakapan Chise dan ibunya.  


Tapi, bukan ini tujuannya.  


Aku menyiapkan tempat ini bukan untuk membuat ajang saling bentak.  


Aku ingin mereka makan dari periuk yang sama dengan rukun, hangat, seperti saat mereka datang ke sini dulu.  


Aku menarik napas dalam-dalam untuk mengatur napas, lalu menepuk pipiku untuk memantapkan hati.  


Saat aku membuka pintu geser dengan bunyi graaatt, tatapan mereka bertiga serentak tertuju padaku.  


(Mau pulang, mau pulang, mau pulang, mau pulang, mau pulang)  

Ini pertama kalinya aku merasa ingin pulang padahal sedang berada di rumah sendiri.  


Kata-kata yang sudah kusiapkan mendadak hilang, pikiranku kosong. Setelah hening sejenak, Ayah Chise membuka suara dengan terburu-buru.  


"M-mohon maaf. Kami sudah berisik di kedai ini dan mengganggu Anda. Kami akan segera pergi."  


Tepat saat Ayah Chise melangkah menuju pintu keluar, akhirnya aku bisa bersuara. 


"T-tunggu sebentar!"  


Ayah Chise menghentikan langkahnya. Aku menarik napas sejenak, lalu mengucapkan kata-kata yang sudah kusiapkan.  


"Pesanan sudah kami terima saat Anda melakukan reservasi, jadi masakannya sudah matang. Jangan hiraukan kejadian tadi, silakan dinikmati."  


Mendengar ucapanku, orang tua Chise saling berpandangan dengan bimbang.  


Aku harus memaksa mereka duduk. Berpikir begitu, aku menarik kursi meja makan dan berkata, "Silakan duduk," lalu aku memberikan kontak mata sambil tersenyum pada Chise.  


Chise seolah tersadar, tubuhnya sedikit tersentak, lalu dia menyeka air matanya dan duduk di kursi yang kutarik.  


"Karena sudah matang, mau bagaimana lagi. Mari kita makan? Ayah, Ibu, silakan duduk."  


Mendengar kata-kata Chise, orang tuanya saling berpandangan lalu dengan berat hati duduk di hadapan Chise.  


Setelah memastikan semuanya sudah duduk, aku melongokkan kepala ke tangga menuju lantai dua dan memberikan tanda kepada Akari yang sudah bersiap di atas.  


Tak lama, Akari dan Mayu datang membawa nampan berisi set menu shogayaki, mapo tofu, dan ayam goreng. Tentu saja set menu mapo tofu dan ayam gorengnya juga dilengkapi dengan piring kecil berisi shogayaki.  


"Piring kecil berisi shogayaki ini adalah menu paling populer di kedai kami. Silakan dinikmati."  


Mendengar ucapanku, orang tua Chise memiringkan kepala heran, namun tetap memasukkan shogayaki ke mulut mereka.  


Seketika, mereka mengernyitkan dahi dan memejamkan mata.  


Melihat reaksi yang berbeda dari bayanganku, jantungku berdegup kencang karena takut gagal.  


"...Hmm, rasa shogayaki yang manis ini... rasanya aku pernah memakannya dulu..."  


"...Iya, benar sekali..."  


Mendengar kata-kata mereka, aku merasa lega. Ternyata bukan karena tidak enak, tapi mereka hanya merasa ganjil karena teringat akan rasa yang pernah mereka makan.  


Chise juga, setelah mencicipi shogayaki, dia menatapku dengan wajah terkejut.  

Saat aku memiringkan kepala, Chise mengangguk berkali-kali sambil berkaca-kaca, seolah ingin bilang, "Rasa ini!".  


Sepertinya aku berhasil mereproduksi rasa masakan Nenek.  


Saat aku memberikan tanda "OK" kecil dengan satu tangan, Chise membalas dengan senyuman terbaiknya.  


Aku tidak melakukan hal yang spesial. Aku hanya menyesuaikan bumbunya dengan selera Chise, sama seperti saat aku membuatkan bekal untuknya.  


Jika orang yang memakannya sama, maka rasa yang dituju pun sama. Ternyata sangat sederhana.  


Pasti Nenek dulu juga sama sepertiku. Sambil melihat ekspresi Chise yang berubah-ubah tiap kali makan dan menghitung jumlah "bunga" yang terbang di atas kepalanya, Nenek menyesuaikan rasa yang pas untuk Chise.  


"Eh, apa kita pernah ke kedai ini dulu...? Shogayaki ini, ayam goreng ini, rasanya sangat akrab."  


"Iya, aku pun memikirkan hal yang sama."  


Mendengar ucapan orang tuanya, Chise membalas dengan senyum tipis.  


"Fufu, sebenarnya ini adalah kedai yang kita datangi saat ulang tahunku waktu SD dulu."  


Seketika, Ayah Chise berseru seolah teringat sesuatu.  


"Ah, benar, benar! Chise waktu itu berlagak sok tahu bilang kalau dia pelanggan tetap, lalu menyuruh pemiliknya memberikan bonus piring kecil shogayaki."  


"Ah, benar juga, waktu itu aku benar-benar malu..."  


Chise buru-buru membantah ucapan mereka.  


"Eh, bukan begitu! Itu diberikan secara cuma-cuma karena kebaikan pemiliknya! Aku tidak mengatakannya dengan nada menyebalkan begitu!"  


"Masa sih?"  


"Tidak, aku pun punya ingatan yang sama dengan Ayahmu. Untung saja pemiliknya wanita tua yang baik hati..."  


Meski ada sedikit perbedaan dalam ingatan mereka bertiga, mereka mulai asyik mengobrol sambil sesekali tertawa.  


Aku pun meninggalkan tempat itu perlahan agar tidak mengganggu nostalgia mereka.  


Saat aku menaiki tangga menuju lantai dua, Akari sedang duduk di anak tangga teratas menungguku.  


Dari wajahnya yang cemas, terlihat kalau dia juga sangat khawatir. Begitu menyadari kedatanganku, Akari langsung bertanya.  


"Gimana?"  


"Sepertinya berhasil. Mereka bertiga mengobrol dengan asyik seolah pertengkaran tadi tidak pernah terjadi."  


Mendengar itu, Akari tersenyum lebar.  

"Syukurlah! Memang masakan Ken luar biasa!"  


"...Akari juga, terima kasih ya. Tanpa kata-katamu, aku tidak akan bisa mereproduksi rasa masakan Nenek."  


"Tidak kok, aku tidak melakukan hal besar. Kemampuan masak Ken saja yang hebat!"  


"Yah, kalau itu sih memang benar."  


Saat aku bercanda begitu, Akari menyentil dahi aku.  


"Heh, rendah hati dikit napa."  


"Ahaha."  


Saat aku tertawa membalasnya, entah apa yang dipikirkan Akari, dia membuka kepalan tangan yang tadi menyentilku dan menaruh telapak tangannya di atas kepalaku.  


"Sudut pandang ini, rasanya kangen ya. ...Yah, Ken dulu juga sekecil dan seimut ini padahal."  


Posisiku berada satu tingkat di bawah Akari. Melihat wajahnya dari sudut ini memang terasa familiar.  


Itu karena saat kelas 5 atau 6 SD, tinggi badanku memang lebih pendek dari Akari.  


Merasa kesal karena diperlakukan seperti anak kecil, aku naik ke anak tangga yang sama dengan Akari, mendekat dengan tiba-tiba, dan membalas mengelus kepalanya.  


"Sekarang yang kecil dan imut itu Akari lho."  


Akari yang terkejut mengeluarkan teriakan pendek "Hyak!", lalu mencoba mundur namun kakinya tersangkut dan dia kehilangan keseimbangan.  


Refleks, aku menaruh tanganku di pinggang dan bagian belakang kepalanya untuk menopangnya. Kami berakhir dalam posisi seperti sedang berpelukan erat, tubuh kami menempel, namun setidaknya dia tidak sampai terjatuh.


"Akari, kamu tidak apa-apa?"


Aku bertanya, tapi Akari tidak menjawab. Dengan ekspresi terkejut, dia menatap lekat mataku yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Seolah suaraku tidak terdengar, dia tidak menunjukkan reaksi sama sekali.


"Kalau sudah tidak apa-apa, bisa lepaskan tanganmu..."


Baru saja aku hendak bertanya lagi, tiba-tiba Akari berteriak "Unyaaaa!" dan mulai berontak, lalu melepaskan diri dari lenganku. Dia menjauh dariku dengan gerakan hampir merangkak.


Padahal aku hanya menolongnya, tapi diperlakukan seperti orang berbahaya begini membuatku sedikit sakit hati.


"Tidak usah sekaget itu, aku tidak akan macam-macam kok. Tadi kakimu tersangkut, jadi aku cuma membantumu saja."


"Jangan bicara seolah-olah aku ini nenek-nenek! Yang tadi itu... umm... ya, aku cuma limbung karena lapar!"


Akari berseru dengan suara keras seolah sedang marah.


Kalau dipikir-pikir, sejak pagi aku memang terlalu asyik menyiapkan kedai sampai lupa makan siang. Akari sudah susah payah membantu persiapan, tapi aku malah mengabaikannya; aku merasa bersalah padanya.


"Maaf, maaf, aku lupa sudah menyiapkan makan siang. Mau makan?"


Karena ini Akari, kupikir kalau disodori makanan suasana hatinya pasti akan langsung membaik, tapi dia justru menunduk dengan wajah cemberut.

Lalu, seolah sedang bergulat dengan pikirannya sendiri, dia memegangi kepala sambil mengerang "Ugh!", sebelum akhirnya mendongak dengan cepat dan melotot ke arahku.


"...Mau makan."


Ujung-ujungnya makan juga toh.


Aku tersenyum kecut dan mengulurkan tangan pada Akari yang masih terduduk, tapi dia sempat bimbang sejenak apakah harus menyambut tanganku atau tidak. Akhirnya, dia memilih berdiri sendiri tanpa bantuan, lalu berlari kecil menuju ruang tamu.


Sambil merasa heran dengan sikap aneh Akari, aku melangkah ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Saat aku sedang memanaskan masakan di dalam *microwave*, suara Akari yang sudah duduk di kursi biasanya di meja ruang tamu terdengar.


"Ken, kenapa sih kamu sampai kepikiran ingin membantu Chise-chan?"


Aku melongokkan kepala dari konter dapur dan menjawab sambil menatap Akari.


"Bukankah itu karena kami berteman?"


Mendengar jawaban asalku, Akari memasang wajah curiga.


"Masa sih? Apa kamu bakal melakukan sampai sejauh ini kalau cuma teman biasa? Memangnya kalau Sako-kun yang minta, kamu bakal melakukan hal yang sama?"


"Tidak, kalau itu sih pasti tidak akan."

Itu sudah pasti. Jika Sako menceritakan masalah berat seperti konflik dengan orang tuanya padaku, aku paling hanya akan bersimpati dan bilang 'berat juga ya' lalu selesai.


Aku menghela napas, lalu memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya.


"Chise-san pernah menemaniku di saat aku sedang terpuruk, jadi aku ingin membalas budi padanya."


"...Menemanimu... cuma itu? Bukan karena dia membantu menyelesaikan masalahmu?"


"Iya, cuma itu. Tapi hasilnya, hal itu membantuku menemukan solusi."


Karena kehadiran Chise, aku bisa melupakan rasa patah hatiku pada Akari dan bangkit kembali. Jika dia tidak ada, mungkin saat ini aku tidak akan bisa mengobrol dengan Akari seperti ini. Memikirkan hal itu, aku benar-benar berutang budi pada Chise.


Akari sepertinya tidak puas dengan jawabanku. Dia memonyongkan bibirnya dan lanjut bicara dengan nada merajuk.


"...Memangnya, kalau aku saja tidak bisa? Kalau kamu cerita padaku, aku pun pasti akan membantumu...!"


Mana mungkin aku bisa curhat pada orang yang membuatku patah hati. Aku membatin begitu, tapi karena Akari tidak tahu apa yang membuatku galau, wajar saja kalau dia berpikiran demikian.


"...Iya, tapi karena itu Chise-san dan bukan Akari, makanya aku bisa tertolong."


Mendengar perkataanku, Akari langsung menundukkan pandangannya.


Melihat reaksinya, aku sadar bahwa cara bicaraku tadi bisa dianggap seolah-olah Akari tidak cukup mampu membantuku, jadi aku buru-buru menambahkan penjelasan.


"E-eh, bukan begitu maksudku. Kamu tahu kan, ada hal-hal yang justru tidak bisa kita ceritakan karena hubungan kita terlalu dekat? Nah, masalah itu termasuk jenis yang seperti itu."


Meskipun aku sudah mencoba memberi alasan, Akari tetap tidak menunjukkan reaksi apa pun.


Seandainya aku bisa mengungkap isi curhatanku pada Chise, dia pasti akan paham kenapa aku tidak bisa bercerita padanya. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya pada orang yang aku sukai.


Di tengah kesunyian yang mencekam itu, hanya suara mesin microwave yang terdengar menggema di dalam ruangan.


Beberapa saat kemudian, alarm berbunyi menandakan proses pemanasan selesai.


"Nah Akari, sudah hangat nih—"


Aku sengaja berbicara dengan nada ceria sambil meletakkan makanan yang sudah dipanaskan dan semangkuk nasi porsi besar di depan Akari.


Akari mengucapkan "terima kasih", lalu mulai memakan telur gulungnya.


Seketika, dia mulai menangis tersedu-sedu.


"Ada apa Akari?! Kenapa tiba-tiba menangis?!"


"Tidak apa-apa, beneran tidak apa-apa..."


Akari menjawab sambil menyeka matanya dengan lengan baju, tapi air matanya terus mengalir deras tanpa henti.


Aku menyerahkan sapu tangan padanya, lalu berbicara dengan nada selembut mungkin.


"Tidak perlu sungkan padaku sekarang. Kalau ada yang mengganjal di pikiranmu, ceritakan saja ya?"


"Beneran tidak apa-apa kok..."


Akari berkata demikian sambil memaksakan senyum di tengah tangisnya. Kemudian, dia melanjutkan dengan suara yang hampir berupa bisikan.


"Cuma, aku berpikir... ternyata inilah... sihir... cinta itu..."


Akari terus menyuap telur gulung ke dalam mulutnya, bersama dengan aliran air mata yang begitu banyak hingga mungkin membuat rasa masakanku menjadi asin.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close