NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V4 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Si Kembar Ingin Menjaga Punggung Kekasih yang Bertarung

Keesokan harinya──


Setelah menyelesaikan jam pelajaran di sekolah, aku pulang ke rumah sendirian, sebuah kejadian yang jarang terjadi. Yuzuki pergi bermain dengan Riina dan teman-teman gyaru-nya, sementara Fuuka sepertinya ada urusan di sekolah.


"Tapi, rasa lelahnya masih sedikit tersisa ya..."


Aku bergumam sendirian saat gedung apartemenku mulai terlihat. Wajar saja, karena semalam aku melakukannya habis-habisan dengan Fuuka dan Alice sampai hampir pagi. 


Selain karena aku sangat terobsesi dengan bokong besar Alice, Fuuka juga mendadak menjadi sangat agresif. Apakah ini pengaruh dari deklarasi "lepas dari status pelengkap" itu? 


Seolah-olah dia ingin melakukan sebanyak mungkin hal bersamaku selagi Yuzuki tidak ada. Aku pun menikmati tubuh Fuuka sepuasnya dan telah mengajarkan banyak hal tentang laki-laki kepada Alice. Memang sangat menyenangkan, tapi tentu saja melelahkan...


"Hm?"


Saat memasuki lobi apartemen, aku menyadari ada seseorang yang sudah lebih dulu di sana. Mungkin seorang wanita muda──sepertinya seumuran siswi SMA. Rambutnya pirang mencolok, bahkan lebih menonjol daripada rambut cokelat terang milik Yuzuki.


"...Serius nih?"


Gumamanku lolos begitu saja. Wanita itu bukan hanya warna rambutnya yang luar biasa, tapi proporsi tubuhnya benar-benar berbeda dari orang biasa──keindahan bentuk tubuh yang seperti berasal dari dimensi lain. 


Ia mengenakan jaket denim pendek dengan celana denim yang serasi. Meski memakai atasan, terlihat jelas bahwa seluruh perawakannya sangat ramping. Terutama kakinya yang jenjang dan bokongnya yang tergolong kecil. Mungkin karena semalam aku terus melihat dan menyentuh bokong Alice yang bervolume, milik wanita ini jadi terlihat jauh lebih kecil.


"Hm? Apa?"


"............"


Saat aku sedang membatin, wanita di depanku itu berbalik.


"Lho? Tunggu sebentar, kamu yang di sana."


"Hah?"


Wanita itu──bukan, gadis itu──menatapku dengan tatapan curiga dan melangkah mendekat dengan cepat. Rambut pirang mencoloknya diikat dua──istilahnya twin-tail, kan? Meski ia mengenakan masker hitam, aku bisa tahu dia cantik hanya dengan melihat matanya yang bulat besar. Mata itu pun sedikit tersembunyi di balik kacamata berbingkai hitam yang tebal.


Ini adalah penyamaran yang sangat mencolok.


Gadis yang memakai kacamata dan masker memang bukan hal aneh, tapi dalam kasus gadis ini, terasa sekali adanya niat untuk menyembunyikan kecantikannya.


"Kamu penghuni apartemen ini, kan?"


"Ah, iya, begitulah."


Meskipun statusku hanya menumpang, aku sudah tinggal di sini selama beberapa bulan. Tidak salah jika aku menyebut diriku penghuni.


"Aku pernah melihatmu beberapa kali sebelumnya."


"Eh? Kamu juga tinggal di apartemen ini?"


Dulu aku sempat mengobrol sedikit dengan Yuzuki tentang ini, tapi ternyata aku jarang berpapasan dengan penghuni lain. Kalaupun berpapasan di lobi, paling hanya sebatas menyapa, tidak ada yang sampai bisa disebut kenalan. Lagipula, dengan tampangku ini, mencoba berkomunikasi lebih dari sekadar sapaan malah bisa membuat orang lain waswas. Seperti: Apa ada anggota sindikat kriminal yang tinggal di apartemen ini!?


"Bisa dibilang begitu. Aku tinggal di lantai dua."


"Begitu ya. Kalau aku—"


"Kamu tinggal di lantai paling atas, kan?"


"Eh? Kok kamu tahu sampai sejauh itu..."


Seharusnya penghuni lain tidak tahu siapa tinggal di lantai berapa.


"Tsubasa Yuzuki tinggal di lantai paling atas, kan. Aku pernah melihatmu jalan bareng dia."


"Oalah... Tunggu, kamu kenal Yuzuki?"


"Yu-Yuzuki...! Si Tsubasa Yuzuki yang sombong itu membiarkan seorang laki-laki memanggil nama kecilnya begitu saja!?"


Gadis bermasker itu membelalakkan matanya di balik kacamata.


"Enggak juga, dia membiarkan cukup banyak anak laki-laki di kelas memanggil namanya begitu saja, kok."


Aku sendiri sudah memanggilnya "Yuzuki" bahkan sebelum menembaknya. Melihat pacarku dipanggil nama kecilnya oleh laki-laki lain biasanya mungkin tidak menyenangkan, tapi aku sudah terlalu terbiasa sampai tidak peduli lagi.


"Sepertinya kamu tidak terlalu mengenal Yuzuki ya."


"Apa—! A-aku kenal, tahu! Te-tentang betapa imutnya dia, dan lain-lain!"


"Kalau cuma itu, sekali lihat juga orang tahu."


"Ka-kamu mengakui kalau dia imut. Padahal wajahmu seram seperti pembunuh begitu."


"Berani juga ya kamu mengejek orang yang wajahnya seram seperti pembunuh."


"Kyaa... ja-jangan. Maaf, Sara memang mulutnya agak kasar!"


"Sara..."


Ternyata tipe yang memanggil dirinya sendiri dengan nama ya. Sebenarnya ada cukup banyak orang tipe begini... seingatku di kelas juga ada satu atau dua orang.


"I-iya, maaf aku terlambat memperkenalkan diri. Namaku Furukawa Sara. Kan-nya dari sungai kuno (Furukawa), dan Sara-nya pakai Katakana. Aku benci dipanggil dengan nama keluarga, jadi panggil Sara saja."


"Begitu ya, Sara. Aku Masaki Nakaba."


Aku pun lanjut menjelaskan penulisan kanji namaku. Karena sepertinya kami tinggal di apartemen yang sama, sebaiknya aku menjalin hubungan baik dengan Sara. Meskipun aku merasa hubungan ini sudah mulai agak tegang sejak awal.


"Begitu, Masaki ya... Jadi, kamu."


"Hm?"


"Kamu itu... pa-pacarnya Tsubasa Yuzuki?"


"............"


Apa tidak berbahaya mengakuinya di depan orang asing? Tapi, hal ini sudah jadi rahasia umum di sekolah, dan Yuzuki sendiri tidak ada niat untuk menyembunyikannya.


"Iya, aku pacaran dengan Yuzuki."


"Ber-berarti... jangan-jangan, meskipun masih SMA, kalian tinggal bersama?"


"Ah— yah, begitulah."


Sebenarnya itu bukan hal yang patut disebarluaskan, tapi karena aku sudah terlanjur mengaku sebagai penghuni sini, akan terasa aneh kalau aku berbohong dan bilang tinggal di ruangan yang berbeda. Dibanding berbohong, lebih jantan kalau aku mengakuinya secara jujur.


"A-anak itu... Tsubasa punya pacar!? Dia tidak punya kesadaran sebagai model!"


"Apa? Jadi kamu tahu sampai fakta kalau Yuzuki itu model?"


Aku juga tahu cerita tentang Yuzuki yang pernah menjadi model. Juga cerita kalau dia cepat bosan dan langsung berhenti.


"Dia kan bukan idol, kurasa tidak masalah kalau seorang model punya pacar, kan?"


Aku tidak terlalu paham dunia hiburan, tapi sepertinya memang begitu.


"Lagipula Yuzuki sudah tidak jadi model lagi, kan."


"Tepatnya dia belum pensiun! Sekarang dia cuma sedang vakum!"


"Eh? Oh, begitu ya."


Aku tidak paham detailnya, tapi bukankah model majalah biasanya dipanggil kalau ada pekerjaan? Kalau vakum berarti tidak ada panggilan—bukankah itu sama saja dengan pensiun?


"Kamu benar-benar nggak tahu apa-apa ya. Hmmm... jadi, seleranya dia pria tipe begini?"


"Kamu sendiri hebat juga, tidak gentar berhadapan denganku."


"Biasa saja. Aku tidak takut pada laki-laki."


"Hmph," Sara memalingkan wajahnya. Alice memang berkepribadian kuat, tapi Sara ini, meski sifatnya berbeda, sepertinya tipikal yang cukup ketus. Kenapa aku malah berpapasan dengan gadis yang sepertinya sulit dihadapi secara beruntun begini.


"Oya, benar juga. Sejak tadi aku tidak tahu kamu ini siapa. Kamu bukan dari sekolahku, kan?"


"Aku beda sekolah dengan Tsubasa."


Lalu Sara menyebutkan nama sekolahnya. Bukan sekolah elit seperti Shuujo, tapi SMA putri yang namanya cukup dikenal.


"Kalau tidak salah, sekolah itu peraturannya longgar dan sangat menghargai kemandirian siswa... Ah, pantas saja."


"Apa?"


Aku menatap rambut pirang kuncir duanya dengan saksama, sampai-sampai Sara melotot padaku. Sekolahku sendiri tidak terlalu rewel soal warna rambut, tapi aku belum pernah melihat rambut pirang semencolok ini. Kalau peraturannya tidak benar-benar longgar, mustahil bisa berangkat sekolah dengan rambut begini.


"Sara juga seorang model, lho."


"Model?"


Ah, pantas saja—proporsi tubuhnya yang ramping dan ramping ini mungkin sengaja dijaga demi aktivitasnya sebagai model. Jika bentuk tubuh sekurus ini bukan bawaan lahir, berarti dia sangat memperhatikan pola makan dan olahraga. Karena semalam aku terus melihat bokong dan paha Alice yang berisi, bentuk tubuh Sara jadi terlihat jauh lebih menonjol.


"Apakah kamu menjadi model di tempat yang sama dengan Yuzuki?"


"Tempat yang sama?"


Sara melotot tajam ke arahku.


"Bukan cuma 'tempat yang sama'! Dasar bodoh, bodoh! Bilang juga ke Tsubasa Yuzuki kalau dia bodoh! Dadah!"


"............"


Setelah mengatakan itu, Sara pergi sendirian menaiki lift dengan rambut pirang twin-tail-nya yang bergoyang. Padahal aku juga ingin naik lift itu...


"Lho, Masaki. Kamu juga baru pulang?"


"Oh, Yuzuki."


Seolah bertukar tempat dengan Sara, Yuzukilah yang kini masuk ke lobi.


"Yuzuki, bukannya kamu tadi sedang main dengan Riina dan yang lainnya?"


"Toko yang mau kami datangi ternyata tutup sementara. Karena semangat kami langsung drop, akhirnya kami bubar saja."


"Turut berduka ya."


"Ya sudahlah, ada kalanya hari seperti itu terjadi."


Yuzuki melangkah mendekat, lalu berjinjit dan menciumku ringan. Tentu saja saat itu sedang tidak ada orang di sekitar kami.


"Ah, liftnya sudah turun lagi."


Karena kamar Sara sepertinya ada di lantai dua, liftnya kembali dengan cepat. Aku dan Yuzuki segera masuk ke dalam lift dan menuju lantai paling atas.


"Ngh, nmumu... chup, nnn...!"


Tanpa ada yang memulai, kami saling berpelukan dan melumat bibir satu sama lain. Selama itu pula, aku meremas payudara G-cup Yuzuki dari balik blazer sekolahnya.


"Yah, ampun, mendadak sekali sih. Tidak sabar ya sampai tiba di rumah? ♡"


Yuzuki menggodaku dengan raut wajah senang.


"Bukannya tadi Yuzuki yang mencium duluan? Lagi pula tidak ada orang lain yang masuk, jadi tidak apa-apa, kan?"


"Yah, benar juga."


Meskipun ini bukan lift khusus lantai atas, karena tidak ada orang lain, liftnya tidak akan berhenti di tengah jalan. Yuzuki tertawa kecil, lalu menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku, menciumku dengan agresif sambil memelukku erat. Kami menikmati waktu singkat itu sebelum keluar dari lift, menyusuri lorong lantai atas, dan masuk ke kediaman keluarga Tsubasa.


"Ngh, lagi...! Kali ini sampai bra-nya juga... kyaa!"


Begitu masuk dan menutup pintu depan, kami kembali berpelukan dengan terburu-buru. Aku segera membuka kancing blus Yuzuki, menyingkap bra hitamnya ke atas hingga payudara G-cup-nya terekspos, lalu mulai menghisap putingnya.


"Ma-Masaki, lebih kuat lagi...! Ngh, karena hari ini aku merasa kurang puas saat main tadi, aku mau yang kasar ya ♡"


"Iya, lebih lagi..."


Aku menggigit puting Yuzuki agak kuat hingga meninggalkan bekas, lalu memasukkan tangan ke dalam rok mininya dan menggosok area sensitifnya dari balik celana dalam.


"Ha-haah, anh... ngh, omong-omong, Masaki... tadi terjadi sesuatu ya di depan lift? Ra-rasanya ada yang aneh?"


Yuzuki berpegangan padaku, sambil mencoba menggesekkan pahanya pada penisku dari balik celana.


"Sedikit, sih. Tadi aku bertemu gadis aneh di lobi."


"Gadis aneh?"


Sambil mengobrol, kami masih terus melumat bibir masing-masing.


"Di apartemen ini memang jarang sekali berpapasan dengan penghuni lain ya."


"Ah, sepertinya begitu."


"Kan... ngh, nngh, ngg... fua..."


Setelah melepas ciuman, akhirnya aku dan Yuzuki bisa sedikit tenang. Tidak, sebenarnya karena Yuzuki terlalu imut, aku selalu merasa bergairah jika tidak langsung bercumbu dengannya. Kami pun masuk ke ruang tengah dan duduk berdampingan di sofa.


"Di apartemen ini sebenarnya cukup banyak anak SMA. Tapi sepertinya hanya rumah ini yang isinya cuma anak SMA saja."


"Yah, itu sudah pasti."


Ini bukan dunia manga; biasanya tidak wajar bagi laki-laki dan perempuan usia SMA tinggal bersama tanpa orang dewasa.


"Jadi, gadis yang kamu temui di lobi itu seperti apa?"


"Sepertinya dia kenalanmu. Namanya Furukawa Sara."


"Ah, si Sa-ra ya."


"Sa-ra?"


"Itu nama panggilan. Karena dulu dia sekolah memakai seragam sailor (seifuku), jadi dipanggil Sa-ra."


"Sekolah berseragam sailor ya. Aku sempat mendengar nama sekolahnya tadi."


"Nilai akademisnya biasa saja, tapi sekolah itu terkenal karena aturannya yang sangat bebas. Cukup banyak teman dari temanku yang bersekolah di sana. Katanya banyak anak gal juga."


"Kalau aturannya bebas, pasti akan jadi seperti itu."


Di sekolahku, rambut pirang seperti itu pasti sudah dipanggil ke ruang guru.


"Yuzuki, apakah kamu dulu menjadi model bersama Sara?"


"Kami seumuran dan debut di edisi majalah yang sama, jadi bisa dibilang kami adalah 'rekan seangkatan'."


"Seangkatan ya... Tadi waktu kutanya apakah dia model bersama Yuzuki, dia tiba-tiba memakiku seperti anak kecil lalu pergi begitu saja."


"Ahaha, aku bisa membayangkan itu."


Yuzuki bertepuk tangan sambil tertawa.


"Sa-ra itu sepertinya selalu menganggapku rival saat kami masih aktif jadi model. Ternyata dia masih memikirkannya sampai sekarang ya."


"Rival, ya..."


Jika seseorang menjadi model di majalah yang sama dengan gadis secantik Yuzuki, wajar jika muncul rasa iri. Begitu ya, pantas saja Sara tadi sangat ingin membicarakan tentang Yuzuki.


"Sebenarnya baru-baru ini aku bertemu lagi dengannya setelah sekian lama. Kami sesekali mengobrol di telepon, tapi kemarin aku sedang ingin bertemu, jadi aku memaksanya turun ke lobi."


"Oh, jadi itu alasanmu turun ke lobi tengah malam kemarin?"


Ternyata dia hanya bertemu kenalannya yang tinggal di gedung yang sama.


"Sudah lama kami tidak bertatap muka, tapi dia tidak banyak berubah. Meski aku tidak pantas mengatakannya, tapi anak itu memang sangat mencolok."


"Rambut pirang kuncir dua, dan proporsi tubuhnya juga bagus."


"Si Sa-ra itu memang sudah berambut begitu sejak dulu. Terlalu mencolok, ya. Tapi cocok sih dengannya."


"Memang tidak diragukan lagi kalau itu cocok. Wajahnya juga cantik──"


"Ada apa, Masaki? Apa dia terlalu cantik sampai kamu jatuh hati?"


"Mana mungkin begitu."


Wajah itu memang bisa dibilang terlalu cantik, tapi entah kenapa memberikan kesan yang sangat membekas.


"Mungkin karena sifatnya galak dan wajahnya terlihat seperti sedang marah terus, jadi kesannya sangat kuat."


"Ahaha, benar juga ya. Sara tetap imut meski sedang marah, padahal kalau tersenyum pasti jauh lebih imut."


"Yah, tapi aku tidak benci sifat yang seperti itu, sih."


Sifatnya yang agak emosional justru terasa menarik bagiku.


"Iya, dia itu lucu kalau sedang panik dan kebingungan. Aku mengerti, aku mengerti."


"Tapi, dia terlihat terlalu kurus sampai membuatku khawatir. Apa dia makan dengan benar?"


"Dia tidak makan."


"Oi."


Melihat ekspresi serius Yuzuki, sepertinya itu adalah fakta.


"Dia berniat beralih dari model majalah menjadi model profesional sungguhan."


"Sungguhan? Maksudmu tipe yang tampil di peragaan busana seperti 'anu-collection'?"


"Iya, benar sekali. Jarang ada model majalah yang berpikir sejauh itu. Kebanyakan paling hanya mengincar peluang untuk masuk ke dunia hiburan."


"Mungkin ini cuma prasangkaku, tapi model tipe begitu rasanya sangat berdedikasi ya..."


Ini hanya pengetahuan sebatas yang kulihat di TV, tapi para wanita itu bukan hanya cantik, melainkan juga kurus secara ekstrem. Terlihat jelas bahwa mereka sangat serius dalam membentuk tubuh.


"Persaingannya ketat. Sedikit orang Jepang yang bisa menembus kancah dunia. Tapi, Sara sepertinya sangat serius. Dia bahkan terlihat seperti hanya bertahan hidup dengan makan selada saja, dan dia sangat rajin ke pusat kebugaran untuk membentuk tubuhnya."


"Se-selada saja? Dia harus makan ramen atau gyoza juga."


"Benar-benar anak pemilik kedai Tiongkok. Sara mungkin sudah sepuluh tahun tidak makan ramen."


"Dia kan seumuran dengan kita. Berarti dia tidak makan ramen sejak umur tujuh tahun?"


"Ahaha, itu cuma perumpamaan betapa ketat dia menjaga diri. Ramen di kedai Shinryu benar-benar enak, jadi aku ingin sekali dia mencobanya."


"Benar sekali."


Jika gadis sekurus itu datang sebagai pelanggan, ayahku pasti akan memberinya makan sampai perutnya hampir meledak, bahkan mungkin digratiskan. Ayahku adalah tipikal pemilik kedai di kota kecil yang sangat suka memberi makan anak muda dalam porsi besar.


"Yah, tapi kalau dia berusaha keras membentuk dan menjaga tubuh seperti itu, itu memang hebat sih."


"Sara itu terlalu ramping, ya. Tapi aku tertawa karena payudaranya malah terus membesar."


"A-apa itu lucu?"


"Karena ukuran dada kan tidak bisa diatur sendiri. Dia sampai depresi karena berat badannya bertambah gara-gara itu. Padahal banyak gadis yang ingin punya dada besar."


"Kalau soal itu, bukannya Yuzuki yang lebih besar?"


Aku menjulurkan tangan dan mencoba mengangkat payudara G-cup Yuzuki.


"Kya, ih! ♡"


Yuzuki tertawa senang, lalu mencium pipiku ringan.


"Aku sih tidak peduli kalaupun besar. Malah, ini adalah dada kebanggaanku. Lagipula, aku kan sudah bukan model lagi."


"Ah, benar juga."


Hal itu mengingatkanku pada sesuatu.


"Sara bilang, kamu bukan berhenti, tapi cuma 'sedang vakum'."


"Eh? Ah, mungkinkah kontraknya memang tertulis begitu?"


"Oi, oi. Bagaimana bisa kamu menyepelekan hal penting seperti kontrak?"


"Kalau keadaan mendesak, kontrak dengan majalah fesyen saja pasti bisa diatur dengan kekuatan keluarga Tsubasa."


"Jangan katakan hal yang membuatku takut akan sisi gelap keluarga Tsubasa."


"Cuma bercanda kok. Bisnis keluarga kami bersih. Kami tidak akan memberikan tekanan pada pihak penerbit."


"Baguslah kalau begitu."


Aku benar-benar lega karena keluarga Tsubasa, yang kini hubungannya denganku sudah tidak bisa dibilang tidak ada, ternyata tidak memiliki sisi gelap.


"Tapi ya ampun. Ternyata kalian seumuran, debut di majalah yang sama, dan sekarang tinggal di apartemen yang sama pula."


"Semuanya murni kebetulan. Ah, tapi kalau soal apartemen yang sama, mungkin bukan kebetulan."


"Eh? Sara sepertinya sangat terobsesi padamu, apakah dia pindah ke sini karena mengejarmu?"


"Mana mungkin."


"Ahaha," Yuzuki tertawa getir.


"Sepertinya ayah Sara adalah orang kepercayaan keluarga Tsubasa. Kalau tidak salah, dia direktur di salah satu perusahaan di bawah naungan kami. Atas rekomendasi keluarga Tsubasa, mereka membeli unit di apartemen ini."


“Oalah, begitu rupanya.”


Keluarga Tsubasa memiliki dua lantai di apartemen ini, termasuk unit utama dan kamar pelayan di sebelahnya. Karena properti ini sepertinya berhubungan dengan keluarga Tsubasa, bukan hal yang aneh jika ayah Sara tinggal di sini.


“Tapi ya begitu. Meski tinggal di apartemen yang sama dengan Sara, kami jarang sekali bertemu. Akhir-akhir ini aku juga sudah tidak membaca majalah fesyen tempatku dulu bekerja.“


“Aku sendiri sudah tinggal di sini beberapa bulan, tapi baru hari ini bertemu dengannya.”


"Apartemen ini memang sangat besar, tapi jumlah unitnya tidak terlalu banyak. Sara kalau tidak salah di lantai dua. Kalau lantainya berbeda, memang hampir tidak pernah bertemu."


"Begitu ya... Yah, sepertinya aku pun dianggap musuh olehnya, jadi mungkin lebih baik kalau kami tidak sering bertemu."


"Padahal aku tidak menganggapnya musuh. Bukankah bagus kalau menjadi rival sekaligus teman?"


"Yuzuki memang tipe yang seperti itu."


Aku refleks tersenyum kecut.


Yuzuki adalah tipe orang yang jarang berpikiran buruk tentang orang lain dan bisa berteman dengan siapa saja. Meski pernah bersaing dalam pekerjaan model, dia pasti tidak menganggapnya sebagai musuh.


"Tapi jujur, aku merasa Sara sepertinya sengaja menghindariku. Sebelum bertemu di lobi kemarin, kami benar-benar tidak pernah berpapasan. Kurasa Sara selalu melarikan diri agar tidak bertemu denganku di apartemen."


"............"


Kalau dipikir-pikir, meskipun tidak di dalam apartemen, pasti ada saat di mana kami berpapasan di lingkungan sekitar. Aku pun mungkin saja pernah berpapasan dengan Sara sekali atau dua kali di suatu tempat—atau lebih tepatnya, pasti pernah.


"Yah, karena aku tidak bisa sering-sering bertemu dengannya, kamu saja yang akrab dengan Sara. Dia memang terlihat ketus, tapi sebenarnya di dalam hati dia itu tipe penyayang (dere). Dia bukan orang jahat, kok."


"Sepertinya begitu."


Meski telah ditunjukkan sikap yang begitu tajam, aku tidak memiliki kesan buruk terhadap Sara. Entah bagaimana, aku malah merasa dia memiliki aura yang mudah akrab.


"Tumben juga dia tidak merasa takut padaku. Padahal Alice saja sebenarnya sempat merasa canggung denganku."


"Ngomong-ngomong, Alice belum datang ya? Apa sesi belajar bela dirinya sudah selesai?"


"Mana mungkin. Tapi Alice juga tidak bisa langsung datang ke sini setiap hari, kan. Aku juga tidak dengar dia akan datang jam berapa. Lagipula── hm?"


Sepertinya ada notifikasi masuk ke ponselku. Saat kucek, pengirimnya adalah Yuu.


"Yuu? Padahal dia di sebelah, kenapa kirim pesan... oh, apa dia sedang keluar belanja?"


"Ah, jam segini dia memang sering pergi belanja. Terus, ada apa katanya?"


"Dia mengirim foto... hh!? Apa-apaan ini!"


"Siapa orang ini?"


Yuzuki ikut mengintip layar ponselku dan memiringkan kepala. Foto yang diambil Yuu memperlihatkan Alice yang masih mengenakan seragam sekolah. Dan di depan Alice──


Berdiri seorang pria tinggi berambut pirang yang mengenakan seragam sekolah model gakuran.


"Siapa sih dia? Kelihatannya seperti orang bodoh. Ada gerombolan pengikutnya juga."


"............"


Benar, di sekitar pria berambut pirang itu ada sekitar tiga pria lain dengan seragam yang sama. Dari sisi mana pun dilihat, mereka tampak seperti berandalan sekolah yang sedang mengganggu Alice.


"『Kebetulan saya melihat Alice-sama. Tadi ada polisi yang lewat sehingga masalah tidak memanjang, tapi suasananya sangat mencekam』 ya... Syukurlah dia selamat, tapi suasananya memang terlihat berbahaya."


"Ya, berbahaya."


Aku memperbesar foto di ponsel dan memastikan wajah pria berambut pirang itu baik-baik. Benar, tidak salah lagi.


"Orang ini, Kuzuhara."


"Kuzuhara? Apa, kenalanmu?"


"Kami satu SMP dulu. Aku juga sering diganggu olehnya. Saat SMP pun dia sudah berbahaya, tapi aku dengar setelah masuk SMA dia bergaul dengan orang-orang yang lebih parah lagi."


Itu informasi dari adik perempuanku, Wakaba, yang bersekolah di SMP almamaterku. Di mata generasi Wakaba pun, Kuzuhara dikenal sebagai "senior yang berbahaya".


"Aku dengar dia langsung kena skors begitu masuk SMA."


"Skors? Dia berbuat onar?"


"Berbuat onar sih istilah yang terlalu halus... yah, intinya perkelahian."


Kuzuhara memang temperamental sejak SMP, tapi katanya saat SMA dia pernah membuat kakak kelasnya luka parah sampai harus dirawat di rumah sakit. Dia tipe orang yang tidak tahu batasan.


"Hmm. Zaman sekarang masih ada ya yang berkelahi seperti itu. Syukurlah SMA kita damai."


"Damai itu yang terbaik."


Di SMA, meski aku sering ditakuti, hampir tidak ada yang berani menggangguku. Apalagi insiden kekerasan di dalam sekolah, sejauh ini belum pernah terjadi sama sekali. Mari kita akui kalau di luar sekolah memang pernah terjadi sedikit insiden.


"Oh, masih ada kelanjutan pesannya."


"『Tampaknya dia mengenal Alice-sama, dan dia memaksa Alice-sama untuk menjadi pacarnya. Jika ada perintah, saya dan Asa bisa menggerakkan sebagian kekuatan keluarga Tsubasa』... anak-anak itu..."


"Tunggu dulu, keluarga Tsubasa tidak seanggur itu sampai harus mengurusi berandalan seperti ini."


"Sebenarnya kalau cuma urusan segitu, keluargaku bisa membereskannya dengan mudah, lho?"


"Jangan, jangan. Katanya keluarga Tsubasa tidak punya sisi gelap. Hentikan niat kekerasan itu."


Aku tidak ingin keluarga besar Yuzuki dan Fuuka mengambil cara-cara kekerasan. Namun, aku juga tidak bisa membiarkan Alice begitu saja──


"Mungkin alasan Alice ingin belajar cara berkelahi dariku adalah karena dia diganggu oleh komplotan Kuzuhara ini."


"Mungkin saja. Kalau melihat pesan Yuu, sepertinya dia sudah diganggu sejak lama. Duh, padahal Alice tinggal jelaskan saja pada kita."


"Mungkin dia pikir tidak ingin melibatkan kita. Benar-benar..."


Namun, karena aku sudah terlanjur tahu, aku tidak bisa mengambil jalan memutar dengan hanya mengajari Alice cara berkelahi. Aku tahu betul betapa berbahayanya Kuzuhara. Jika sudah begitu──



Kedai Ramen "Shinryu"──


Ini adalah kedai masakan Tionghoa pinggiran yang bisa ditemukan di mana saja, tapi rasa makanannya sangat diperhatikan, dan meski terlihat agak kusam, bagian dalamnya dibersihkan dengan sangat teliti. Diam-diam sebagai anak, aku bangga dengan kedai ini, tapi aku tidak pernah mengatakannya karena Ayah pasti akan besar kepala.


Aku membuka pintu geser Shinryu dan masuk ke dalam. Jam menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit, pelanggan masih sepi.


"Ayah."


"Selamat dat── lah, ternyata kau, Nakaba."


Ayah yang berada di balik konter menunjukkan wajah kecewa yang terang-terangan. Dia sangat ramah kepada pelanggan, tapi sangat dingin kepada anaknya sendiri. Meskipun kalau dia melayaniku dengan senyuman malah akan terasa menjijikkan, sih.


"Ada apa? Kau rindu rumah, Nakaba?"


"Mana ada orang dengan tampang sepertiku punya rasa rindu rumah yang manis begitu. Daripada itu, aku pesan ramen satu."


"Hah?"


"Sudahlah, beri aku satu ramen."


"Rekomendasi di sini itu Chashu-men."


"Jangan coba-coba memaksaku makan yang mahal."


Jangan sok berjiwa pedagang di depan anak sendiri.


"Ya sudah, tunggu sebentar."


Setelah berkata begitu, Ayah mulai menyiapkan ramen. Kehidupan sehari-harinya mungkin berantakan, tapi kemampuannya yang sudah terasah selama dua puluh tahun membuatnya bekerja dengan sangat cekatan.


"Ini dia, pesanan ramen datang."


"Terima kasih."


Aku yang duduk di kursi konter mengucapkan terima kasih secara formal dan menerima mangkuk ramen tersebut.


"Selamat makan."


Aku merapatkan kedua tangan, mencicipi kuah dengan sendok bebek, lalu mulai menyeruput ramen dengan lahap.


Suka atau tidak, rasanya tetap sama seperti dulu. Karena sudah memakannya berkali-kali sejak kecil, rasanya sangat cocok di lidahku.


"Fuu, kenyang. Terima kasih makanannya."


"Meski kita ayah dan anak, di sini statusnya pemilik toko dan pelanggan. Bayar sana."


"Iya, aku tahu."


Di Shinryu tidak bisa menggunakan kartu atau uang elektronik. Selalu pakai uang tunai dengan senyuman. Aku mengeluarkan koin dari dompet dan membayar dengan jumlah yang pas.


"Ya, uangnya pas. Terima kasih."


"Sampai jumpa, Ayah. Salam buat Ibu dan Wakaba."


"......Nakaba, tunggu."


"Hm?"


Saat aku bangkit dari kursi konter, Ayah menghentikanku.


"Wajahmu yang aslinya sudah seram sekarang terlihat jauh lebih jahat dari biasanya. Ada apa? Kau mau pergi membunuh orang?"


"Mana mungkin."


Yah, jawabannya agak mendekati, tapi tentu saja aku tidak berniat melakukan pembunuhan.


"Benarkah? Wajahmu tadi terlihat seperti Nobunaga saat melahap nasi kuah sebelum berangkat ke Perang Okehazama."


"Memangnya Ayah ikut serta dalam Perang Okehazama?"


Aku juga pernah melihat adegan di drama saat Nobunaga menarikan Atsumori "Umur manusia lima puluh tahun...", lalu makan nasi kuah dan berangkat ke medan perang.


"Yah, karena kau sudah keluar dari rumah ini, kau bukan bocah lagi. Lakukanlah sesukamu. Tapi aku tidak akan bertanggung jawab, ya."


"Orang tua macam apa yang tidak mau tanggung jawab."


Tidak, aku pun tidak berniat melemparkan tanggung jawab kepada Ayah atas apa pun yang akan kulakukan. Lagipula, apa yang akan kulakukan setelah ini tidak ada hubungannya dengan tanggung jawab orang tua. Aku hanya ingin memakan makanan kesukaanku untuk memacu semangat.


"Nii-san?"


"Oh, Wakaba."


Pintu kedai terbuka dengan kasar, dan adik perempuanku yang mengenakan seragam sekolah masuk. Seperti biasa, penampilannya terlihat sangat muda hingga tidak tampak seperti siswi kelas 2 SMP.


"Selamat datang kembali. Tapi bukankah sudah dibilang jangan masuk lewat pintu depan kedai?"


"Aku pulang. Masuk lewat sini lebih dekat. Lebih rasional."


"......Begitu ya."


Meski adik sendiri, terkadang dia terlalu santai sampai aku tidak bisa mengikutinya. Ayah yang memanjakan putrinya hanya tertawa kecil tanpa memberi teguran sedikit pun. Terlalu manja.


"Nii-san."


"Hm?"


"Nii-san, hati-hati. Jika ingin melakukan hal berbahaya, pastikan untuk menghancurkan bahayanya sampai tuntas."


"Saran yang luar biasa."


Wakaba adalah pemilik kecerdasan luar biasa, seolah memiliki dua unit CPU berperforma tinggi di kepalanya. Bagi orang biasa, mungkin tidak ada yang aneh denganku saat ini, tapi bagi dia, membaca situasi dari perbedaan sekecil apa pun adalah hal mudah.


"Selamat jalan."


"............"


Saat berpapasan, Wakaba memelukku sesaat. Dia memelukku erat, lalu masuk ke bagian dalam kedai seolah tidak terjadi apa-apa. Jarang sekali adikku yang sedingin mesin ini bersikap seperti itu...


Mungkinkah karena aku terus berada di rumah keluarga Tsubasa, dia merasa kesepian? Demi adikku yang manis ini, aku harus menyelesaikan "hal berbahaya" ini dengan selamat──



Tentang Kuzuhara, meskipun sekarang kami beda SMA, aku masih tahu sedikit tentangnya. Ada informasi yang kudapat dari Wakaba, tapi──itu karena orang-orang bodoh yang sering menggangguku terkadang menyebut nama Kuzuhara meskipun tidak kutanya.


"Ah... di sana rupanya."


Aku memastikan peta di ponsel, lalu memasukkannya ke saku. Ada sebuah gudang tua yang sudah tidak terpakai, dan sepertinya Kuzuhara beserta komplotannya menjadikan tempat itu sebagai markas.


Tentu saja, selama ini aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak mendekati gudang itu. Bukan karena takut, tapi karena malas jika harus berurusan lagi dengan Kuzuhara. Setelah masuk SMA, tidak ada gunanya mencari gara-gara dengan orang yang semakin besar kepala sepertinya──


Namun, jika dia mengganggu Alice, urusannya jadi berbeda.


Bagi sepertiku, sekarang Alice bukan lagi sekadar "tambahan" bagi Fuuka. Jika Alice diganggu oleh berandalan tak keruan, akulah yang harus menyelesaikannya. Mendapatkan kekuatan untuk mengusir laki-laki memang bagus. Tapi, aku tidak ingin orang seperti Kuzuhara mendekati Alice.


"Sudah kukatakan, jangan pernah mendekat lagi!"


"............!"


Suara yang terdengar dari dalam gudang membuatku tersentak. Waduh, jangan-jangan──


"Alice!"


"Eh? Nii-san?"


Gadis berkuncir kuda itu menoleh. Yang berada di dalam gudang itu tak salah lagi adalah Alice. Rambut hitam dikuncir kuda dengan seragam pelaut lengan panjang berwarna putih. Padahal sudah lewat jam tujuh malam dan lingkungan sekitar sudah gelap, tapi dia malah berada di gudang sesunyi ini...


"Apa yang kau lakukan di sini, Alice?"


"Nii-san sendiri, kenapa bisa di sini? Kau tidak akan tahu kalau tidak memasang GPS padaku, kan?"


"Yuu melihatmu diganggu oleh komplotan bajingan ini. Bukankah masalahnya sudah selesai karena ada polisi yang lewat?"


"Ugh, ternyata terlihat ya... Aku hanya merasa kesal, jadi kupikir aku akan menghajar mereka semua sampai tuntas. Berkat Nii-san, aku jadi punya rasa percaya diri."


"......Kau terlalu terburu-buru, ini kan baru sehari setelah latihan kemarin."


Mungkinkah aku salah mengajarinya berkelahi? Aku tidak menyangka dia akan menyerbu langsung ke markas Kuzuhara...


"Oi! Kalian ini, berani-beraninya mengabaikan kami dan asyik mengobrol sendiri!"


"Ah, benar juga. Tujuanku ke sini adalah untuk mendisiplinkan kalian agar tidak berani macam-macam lagi."


"............"


Di dalam gudang yang temaram itu, ada sekitar enam orang pria berseragam gakuran. Salah satu di antara mereka, pria dengan rambut yang dicat pirang mencolok, tak salah lagi adalah Kuzuhara. 


Sudah lama aku tidak melihatnya secara langsung, tapi dia terlihat semakin bodoh—maksudku, auranya terasa semakin berbahaya dibandingkan saat SMP dulu. Mengingat kami pernah satu sekolah, bukankah sebaiknya aku membawanya kembali ke jalan yang benar?


"Kuzuhara, kau tidak benar-benar berniat menjadi 'profesional' di dunia hitam, kan?"


"Hah? Berani sekali kau memanggil namaku seenaknya. Siapa kau, brengsek?"


"Hm?"


Ah, gudang ini remang-remang, dan cahaya dari pintu masuk membuatku membelakangi lampu sehingga wajahku tidak terlihat jelas.


"Ini aku, Masaki. Masaki Nakaba. Sudah lama ya, Kuzuhara."


"Hah? Masaki? Jangan bercanda, mana mungkin Masaki ada di tempat seperti ini—lo, ini benar-benar Masaki! Kenapa kau ada di sini!?"


"Kan sudah kubilang ini aku. Kenapa kau harus kaget lagi?"


Aku melangkah maju dengan mantap, mencengkeram bahu Alice, lalu menariknya ke belakangku.


"N-Nii-san? Apa mungkin kau datang ke sini karena mengkhawatirkanku?"


"Memangnya ada alasan lain? Yah, walau aku tidak menyangka kau akan ada di sini."


Alice juga memiliki pengetahuan tentang lingkungan berandalan, meski dalam arti yang buruk. Tidak aneh jika dia tahu markas Kuzuhara.


"Tidak mungkin... Nii-san sampai datang ke tempat orang-orang berbahaya seperti mereka demi aku..."


"Aku ini 'Nii-san'-mu, dan pelatih bela dirimu, kan? Mana mungkin aku membiarkanmu begitu saja."


"Kyaa."


Aku menepuk bokong besar Alice dari balik roknya. Ini jelas pelecehan, tapi dengan hubungan kami sekarang, kurasa hal ini bisa dimaklumi.


"N-Nii-san. Kenapa tiba-tiba... Duh, kau boleh menyentuhku sesukamu, tapi lakukanlah dengan lebih lembut..."


"Ah, maaf soal itu. Pokoknya, tetaplah di belakang. Biar aku yang bicara dengan mereka."


Aku menghantamkan tinjuku ke telapak tangan hingga berbunyi. Sudah lama aku tidak terlibat perkelahian serius, tapi saat latihan dengan Alice, aku merasa gerakanku masih sama seperti dulu. 


Enam orang mungkin agak banyak... tapi, kurasa aku bisa mengatasinya. Bukan tanpa alasan sejak kecil aku selalu diganggu oleh anak-anak nakal hanya karena "wajahku seram", dan aku selalu menyelesaikannya dengan kekuatan fisik. Sebenarnya itu masa lalu yang menyedihkan jika diucapkan sendiri.


"Oi, jangan sok jagoan—duegh!"


Tanpa menoleh, aku melepaskan tendangan samping ke arah berandalan berambut pendek yang mendekat. Dia terpental jauh dan menghantam dinding dengan dentuman keras. Berpura-pura tidak menganggap lawan sebagai ancaman dan menjatuhkannya dalam satu serangan adalah salah satu teknik untuk mengintimidasi lawan.


"Ooh... se-seperti yang diharapkan dari Nii-san. Tidak menganggap manusia sebagai manusia, dan menendang mereka seolah sedang menginjak serangga. Hebat, benar-benar hebat."


"............"


Rasanya aku baru saja dihina, tapi sepertinya muridku ini sedang merasa kagum.


"Ka-kau! Apa itu pantas dilakukan manusia!?"


"Siapa orang ini, wajahnya mengerikan sekali!"


"Matanya benar-benar mata seorang pembunuh! Oi, apa ada yang bawa pisau!?"


"............"


Padahal aku hanya menendang sekali, tapi caci maki mereka benar-benar keterlaluan. Yah, memang begitulah reaksi yang wajar terhadap diriku.


"Tunggu, kalian semua. Dia ini... Masaki Nakaba. Pernah dengar namanya, tidak?"


Yang bicara adalah Kuzuhara. Karena dia sangat mengenalku, dia tidak langsung panik hanya karena satu tendangan.


"Masaki... Ah, orang itu!"


"Ja-jadi dia si Masaki Nakaba dari Shinryu!?"


"Jangan menyebut nama kedai ramen keluargaku seolah-olah itu nama geng motor."


Karena nama "Shinryu" memang terdengar cocok untuk nama geng motor, hal itu malah membuatku kesal.


"Ah, sebaiknya kalian jangan macam-macam dengan kedai ramenku. Ayahku itu orang bodoh yang tidak tahu caranya menahan diri. Dia tidak dewasa, jadi dia tidak akan segan-segan meski lawannya anak-anak."


Ini bukan gertakan, melainkan kenyataan. Ayahku memiliki kekuatan fisik yang bahkan lebih kuat dariku, dan dia tidak akan menahan diri menghadapi anak SMA. Namun, karena dia orang dewasa, jika dia menghajar anak SMA, urusannya tidak akan selesai sebagai "perkelahian antar anak di bawah umur", jadi aku berharap mereka tidak memancingnya. Oh, dan jika ada yang berani mendekati Wakaba sedikit saja, aku dan Ayah akan menjadi duet iblis yang akan menghancurkan mereka sampai tuntas. Itu adalah hal yang paling tidak kusarankan.


"Masaki... sudah lama ya. Sejak lulus SMP?"


"Kuzuhara, akhirnya kau berniat menyapa juga. Aku tidak menyangka kau yang mengganggu Alice."


"Hmph, aku suka wanita yang terlihat tangguh. Dia kuat, bukankah itu sangat hebat?"


"Dalam artian tertentu, kau ini masokis ya."


Aku melangkah lebih maju untuk menyembunyikan Alice dari pandangan Kuzuhara. Beruntung aku bisa mengurangi satu lawan di awal, jadi sisa lima orang. Sekarang, aku harus membereskan kelima orang ini tanpa membuat mereka luka terlalu parah.


"Kuzuhara, maaf, tapi mari kita selesaikan ini dengan cepat."


Baru saja aku memutuskan untuk menghajar Kuzuhara, dan Yuzuki melepaskanku tanpa berkata apa-apa. Aku bersyukur dia memercayaiku dan tidak menggunakan kekuatan keluarga Tsubasa.


"Tunggu, Masaki."


"Apa lagi, Kuzuhara?"


"Apa hubunganmu... dengan Yuuki Alice ini?"


"Bisa dibilang, aku adalah gurunya."


"Gu-guru?"


"Aku tidak sedang bercanda. Aku hanya sedang mengajarinya sedikit cara berkelahi. Aku ikut campur karena aku tidak ingin melihat seorang gadis terlibat baku hantam, tapi Alice itu kuat. Mungkin dia bisa menghajar kalian semua sendirian."


Aku melirik Alice yang ada di belakangku. Wajahnya memerah dan dia tampak tersentuh. Sebenarnya, aku sendiri ragu apakah Alice benar-benar bisa mengalahkan lima orang berandalan sekaligus.


"Begitu ya, murid..."


"Benar, karena dia adalah muridku yang berharga, aku tidak akan membiarkan kalian menyentuhnya meski hanya seujung jari."


Aku melangkah maju dengan mantap.


Para berandalan di sekitar Kuzuhara menunjukkan wajah ketakutan, namun mereka tetap mencoba maju. Ternyata mereka punya nyali juga. Padahal kupikir mereka sudah cukup gentar melihat tampangku dan tendangan yang tadi.


"Tunggu, kalian semua!"


Kuzuhara menahan anak buahnya dan melangkah ke depan.


"Apa? Mau duel satu lawan satu? Kupikir mentalmu makin busuk setelah masuk SMA, tapi ternyata kau punya nyali juga, Kuzuhara."


"Bukan, bukan itu."


"Hm? Yah, kalau mau maju berlima sekaligus juga tidak apa-apa."


"Bukan itu juga!"


"Apa sih, dari tadi membantah terus. Jadi maumu apa, Kuzuhara?"


"Sudah jelas, kan!"


Kuzuhara melangkah maju satu langkah lagi, lalu──


"Mohon maafkan saya──!"


Dia tersungkur seperti katak dan menempelkan dahinya kuat-kuat ke tanah dalam posisi bersujud.


"Ha... hah?"


"Aku benar-benar tidak tahu kalau Yuuki Alice adalah wanita milik Masaki! Tolong ampuni aku, aku tidak akan pernah berurusan lagi dengan wanita itu! Aku juga akan memperingatkan orang-orang bodoh lainnya dengan keras agar tidak mendekati Yuuki Alice!"


"...Bukan wanita milikku, tapi muridku."


Lagipula, apa aku sebegitu ditakutinya bahkan oleh preman paling berbahaya di lingkungan ini? Oleh orang yang masuk SMA langsung terkena skors karena kasus penganiayaan? Apakah di daerah sini aku dianggap lebih mengerikan daripada Kuzuhara?


Tanpa sadar, berandalan lainnya pun ikut bersujud bersama Kuzuhara.


"Se-seperti yang diharapkan dari Nii-san...! Nii-san, aku akan mengikutimu seumur hidup! Aku akan mengikutimu sebagai 'pelengkap' dalam hidupmu!"


"............"


Akhirnya, aku pun punya orang yang menjadi "pelengkap" bagiku. Aku tidak paham apa maksudnya menjadi pelengkap dalam hidupku, tapi rasanya agak menakutkan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close