NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V4 Chapter 8

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 8

Si Kembar Sedang Diincar

Ternyata, kami benar-benar berakhir melakukan sesi pemotretan.


Karena Fuuka bilang ingin kembali ke rumah sebentar, aku dan Sara saja yang keluar dari apartemen. Sara masih mengenakan pakaian seksi yang ia pakai saat pemotretan tadi, tanpa kacamata maupun masker.


"Aku tidak pandai memotret, lho."


"Objek fotonya bagus, jadi tidak akan masalah."


"............"


Sara ini tipe yang rumit; terkadang ia suka merendah, tapi di saat lain ia sangat percaya diri. Kami berjalan keluar dari apartemen, dan aku mulai mengambil beberapa foto Sara menggunakan ponselku.


"Ah, yang ini..."


"Apa? Wah, hasilnya lumayan bagus, kan?"


"Iya, aku pun merasa begitu."


Kami berhenti di pinggir jalan dan mengintip layar ponselku bersama-sama. Aku tidak pernah berfoto selfie, bahkan jarang sekali memotret adikku, Wakaba. Aku pun merasa sungkan memotret Yuzuki dan yang lainnya, tapi foto Sara yang ini harus kuakui hasilnya bagus.


"Entah kenapa, Sara kelihatan imut! Eh, apa benar-benar karena aku baru saja melakukan itu dengan Nakaba...?"


"I-itu sepertinya tidak ada hubungannya. Aku tidak merasakan aura mesum... ah, mungkin sedikit."


Di foto itu, Sara tampak sedang mengangkat kedua tangan dan merenggangkan tubuhnya, dan dari sana memang terpancar semacam daya tarik sensual. Padahal itu hanya pose biasa.


"Dalam hal aura sensual, mungkin kau sudah mendekati Yuzuki."


"Baru 'mendekati'!? Nakaba, kau terlalu memanjakan Yuzuki-chan ya!?"


"Bukan urusanmu kalau aku memanjakan pacarku sendiri, kan?"


"Ugh! I-itu benar, sih..."


Sambil berbincang seperti itu, kami berjalan santai di sekitar apartemen.


Setelah agak menjauh dari area gedung, kami berjalan menuju arah stasiun. Lingkungan di sekitar apartemenku tergolong tenang, tapi begitu mendekati stasiun yang berjarak dua menit berjalan kaki, kerumunan orang tiba-tiba meningkat.


"Di sekitar sini, orang-orang mungkin akan menganggap aneh jika aku memotretmu. Apalagi dengan tampangku yang seperti ini."


"Daripada dikira fotografer ilegal, mungkin orang bakal mengira kau sedang mengancam Sara untuk berpose."


Sara terkekeh, dan aku pun hanya bisa tersenyum kecut. Benar-benar tepat sekali.


"Ah, kalau begitu gantian Sara yang memotret Nakaba."


"Hah? Untuk apa..."


"Hei, wajahmu ini sangat layak untuk difoto. Dalam arti tertentu, wajahmu bahkan lebih mencolok daripada Sara, tahu?"


"Kau pintar sekali bicara..."


Hampir tidak ada gadis yang ingin memotret wajahku selama ini, jadi ini pendapat yang segar bagiku. Sara benar-benar menyiapkan ponselnya dan mulai memotretku berkali-kali. Tentu saja aku tidak bisa berpose seperti Sara; aku hanya berdiri kaku dengan ekspresi datar.


"Wah, sudah jadi. Lihat ini."


"Oh."


Sara merapat ke sampingku dan menunjukkan layar ponselnya. Anak ini, apa dia lupa kalau dia itu model populer?


"Sara, dengar... eh? Ternyata hasilnya bagus."


Bahkan bagi mata orang awam sekalipun, komposisi dan cara ia menangkap ekspresi sesaat itu sangatlah hebat. Aku yang seharusnya hanya berdiri kaku dan tanpa ekspresi, entah kenapa terlihat keren karena komposisi fotonya, bahkan wajahku tampak lebih maskulin.


"Kau benar-benar ahli, Sara."


"Hehe, terima kasih."


Wajah Sara memerah karena malu.


"Sebenarnya, cita-cita asli Sara itu ingin berada di sisi yang memotret."


"Sisi yang memotret? Maksudmu kau ingin jadi fotografer?"


Sara mengangguk mantap sambil tetap tersipu malu.


"Alasanku jadi model pembaca pun karena aku ingin mencoba dunia kamera, jadi aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang dipotret."


"Begitu ya. Kau sangat rajin belajar ya."


Memulai pekerjaan berat sebagai model hanya untuk tujuan itu, tidak mungkin bisa dilakukan jika tidak benar-benar serius. Impian Riina sebagai penari memang sangat mempesona bagiku, tapi tujuan Sara pun tidak kalah hebatnya...


"Zaman sekarang semua orang bisa memotret dengan mudah. Kalau ingin serius di bidang fotografi, aku harus memotret berkali-kali lipat lebih banyak dari orang lain, dan harus punya pengalaman sebagai model juga. Tapi ternyata jadi model juga menyenangkan."


"Kau sepertinya bisa jadi profesional di bidang mana pun. Sara, kau— hmm?"


Aku mendekatkan mataku ke ponsel Sara.


"Apa yang kau lakukan? Kalau mau lihat lebih jelas, tinggal diperbesar saja."


"Ah, benar juga. Aku pinjam sebentar ya."


"Lucu ya, kau sudah meraba-raba tubuh Sara sampai seperti itu, tapi sekarang baru minta izin hanya untuk menyentuh ponsel."


"Itu urusan lain, ini urusan beda lagi. Bukan itu masalahnya, lihat ini—"


"Eh, apa?"


Aku tidak peduli dengan sosok diriku di foto itu. Namun, di latar belakang yang memperlihatkan stasiun—di balik bayang-bayang, ada seseorang mengenakan hoodie yang berdiri di sana. Tudungnya ditarik dalam sehingga wajahnya tidak terlihat, tapi dari perawakannya, kemungkinan besar dia laki-laki.


"Tunggu, aku mau lihat foto yang lain."


Aku mengoperasikan ponsel Sara tanpa izin dan kembali ke beberapa foto sebelumnya.


Latar belakang foto tadi memperlihatkan minimarket yang baru saja kami lewati, dan di balik bayangan mobil yang parkir di depan minimarket itu, ada juga sosok orang ber-hoodie. Jelas sekali dia sedang mengintai ke arah kami.


"Kau sadar ada orang ber-hoodie ini?"


"...Sara tidak tahu. Nakaba, kau jeli sekali."


"Sepertinya aku tidak hanya melihat diriku sendiri, tapi juga latar belakangnya secara bersamaan."


Double Mind—dengan dua kepribadian, sepertinya aku melihat sosok diriku dan latar belakang secara terpisah. Mungkin, kepribadianku yang satu lagi merasa cemas karena ada seseorang yang menguntit Sara, sehingga ia terus menyelidiki latar belakangnya. 


Karakteristikku yang biasanya hampir tidak berguna ini, ternyata bisa bermanfaat di situasi yang aneh.


"Tunggu, orang ini... jangan-jangan."


Aku mengalihkan ponsel ke kamera depan untuk memperlihatkan apa yang ada di belakangku. Di sana──


"Gawat!"


"Menjauh dari Sara-chan!!!"


Suara seorang pria bergema. Refleks aku berbalik dan mengangkat kaki tinggi-tinggi ke arah pria ber-hoodie yang sedang mendekat. Jurus andalan Alice──bukan, aku tidak pernah diajari olehnya, tapi tanpa sadar aku meniru tendangan high kick Alice yang kulihat saat festival budaya di Akademi Shuujo. Sebuah tendangan tinggi dengan lintasan ringkas sambil menekuk lutut──


"Guakh!?"


Tendanganku telak mengenai kepala pria itu hingga ia terpental. Ah, berbahaya sekali... kalau aku terlambat sadar sesaat saja, entah apa yang akan terjadi.


"Oi! Siapa kau!"


Aku berjongkok di depan pria ber-hoodie yang tumbang itu, lalu mencengkeram kerah bajunya. Orang ini bukan penggemar Sara, dia penguntit...!


"Kau menguntit Sara, kan? Apa, kau pikir aku sudah merebut Sara darimu?"


"Sa-Sara-chan itu calon model papan atas! Orang sepertimu yang tampangnya seperti preman tidak pantas mendekatinya!"


"Siapa yang kau sebut preman! Sara bebas menentukan ingin bersama siapa!"


Bukan aku, melainkan Sara yang membalas ucapan pria itu. Kemudian, ia menendang kepala si pria yang mencoba bangkit dengan paksa. Ooh, boleh juga. Rasanya ia pantas mendapatkan lebih dari itu. Tentu saja, aku masih mencengkeram kerah bajunya.


"Nngh...!?"


Karena tendangan Sara di kepalanya, tudung hoodie-nya tersingkap dan wajahnya terlihat. Wajah itu──adalah wajah yang aku kenal.


"Ku-Kuzuhara...?"


"Ba-bagaimana kau tahu namaku... cih, dia lagi! Wajahnya sama persis dengan kakak bodoh itu!"


"Kuzuhara punya adik...? Apalagi kembar."


Kalau diperhatikan baik-baik, berbeda dengan Kuzuhara si berandalan yang rambutnya pirang bergaya sok keren, Kuzuhara si penguntit ini berambut hitam dan panjang.


"Aku satu SMP dengan Kuzuhara. Kau juga? Tapi aku tidak pernah dengar dia punya kembaran."


"Jangan samakan aku dengan kakak bodoh itu. Aku sekolah di swasta sejak SMP."


"Oh, jadi kau anak pintar ya. Kenapa anak pintar dari keluarga terpandang sepertimu jadi penguntit?"


"Aku bukan penguntit. Aku hanya merasakan takdir dengan Sara-chan! Aku tidak sengaja melihatnya di kanal video majalah, dan aku merasa terpana seperti tersambar petir──"


"Masa bodoh."


Kemarin kakaknya mengganggu Alice tanpa henti, sekarang adiknya menguntit Sara. Aku tidak tahu kenapa ada benang merah takdir yang menyebalkan begini, tapi aku harus segera memutusnya.


"Oi, Kuzuhara muda. Berjanjilah untuk tidak mendekati Sara lagi."


"Tidak akan pernah."


"............"


Ternyata dia punya nyali juga karena tidak gentar melihat tampangku. Si kerempeng ini punya keberanian lebih dibanding kakaknya. Tapi──


"Keberanianmu salah tempat. Punya tekad itu bagus, tapi kau tidak butuh mentalitas yang tidak tahu malu untuk menguntit seorang gadis. Dasar bodoh."


Rasanya aku ingin memukulnya sekali, tapi di sini depan stasiun dan banyak orang. Pejalan kaki di sekitar sudah mulai berkerumun.


"Bagaimana, Sara? Kita serahkan ke polisi?"


"Menangkap penguntit itu sulit. Editor sudah mengajariku saat aku jadi model pembaca kalau hal seperti ini mungkin saja terjadi."


"Begitu ya... kalau begitu,"


"Uwoh!?"


Aku menarik Kuzuhara muda berdiri sambil tetap mencengkeram kerahnya. Tentu saja, membiarkannya bebas tanpa hukuman bukanlah pilihan.


"Kalau begitu, aku akan mengajarimu agar kau tidak mau mendekat lagi. Akhir-akhir ini aku sering mengajari orang, tapi kalau yang ini aku jauh lebih ahli."


"He-hentikan! Aku benci kekerasan!"


"Aku juga benci. Kalau saja tidak ada orang bodoh yang baru paham setelah dipukul, aku tidak perlu melakukan ini."


"Aku juga tidak ingin menggunakan ini."


"Hah? Apa... guakh!"


Kuzuhara muda mengeluarkan sesuatu dari saku hoodie-nya dan menekannya ke perutku. Suara berderik aneh bergema, seluruh tubuhku tersengat listrik dengan hebat hingga aku berlutut di tanah.


"St-stun gun...! Keparat, jangan main-main...!"


"Tampangmu menakutkan sekali, dasar brengsek! Sara-chan, ayo pergi bersamaku! Tubuh ramping ini, sekali saja aku ingin memelukmu!"


"Kyaa...!"


Kuzuhara muda melepaskan diri dariku dan menerjang Sara. Sialan, benar-benar jangan main-main! Hanya gara-gara stun gun seperti ini! Aku mencoba bangkit, tapi tubuhku lemas karena sengatan listrik──ayo kumpulkan semangatmu, Nakaba!


"Lepaskan, jangan sentuh aku! Yang boleh menyentuh Sara cuma──"


Pundak Sara dicengkeram oleh Kuzuhara muda, dan ia meronta dengan hebat. Bagus Sara, teruslah meronta. Aku akan segera menolongmu──


"Menjauh darinya, dasar bodoh!"


Tiba-tiba sebuah suara menggelegar, dan sebuah tendangan terbang meledak ke arah Kuzuhara muda. Rambut hitam dikuncir kuda dengan seragam pelaut putih. Roknya berkibar saat seorang gadis melompat tinggi dan melayangkan tendangan telak ke kepala Kuzuhara muda. Kuzuhara muda terpental lagi, menabrak dinding di dekatnya──dan tampaknya ia pingsan.


"Ni-nice, Alice... waktumu tepat sekali."


"Nii-san, apa kau baik-baik saja? Aku tidak terlalu paham situasinya... tapi, tidak apa-apa kan kalau aku menendang orang ini?"


"Malah rasanya masih kurang. Tapi, kau sudah melakukannya dengan baik."


Yang muncul adalah Alice. Tempat ini dekat dengan apartemenku. Alice pasti datang lagi untuk berlatih. Tidak aneh kalau dia lewat sini, tapi waktunya benar-benar pas.


"Aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi, tapi syukurlah aku selamat... ah, sudahlah! Kuncir duaku sampai lepas. Padahal susah sekali mengikatnya agar seimbang."


Syukurlah Sara juga baik-baik saja. Sepertinya rambut kuncir duanya terlepas saat dia meronta tadi.


"Untuk sementara, aku ikat ponytail saja dulu. Bagaimana, Nakaba? Sara tidak terlihat aneh, kan?"


"............!"


Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?


Tidak, berkali-kali aku teringat pada "dia" saat melihat sosok Sara. Aku melirik sekilas ke arah Alice.


Sara dengan ponytail pirangnya, Alice dengan ponytail hitamnya. Sara yang ramping dan mungil, Alice yang berisi dengan bokong besar dan paha yang montok. Memang ada banyak bagian yang sangat berbeda, tapi──


Saat mereka memiliki gaya rambut yang sama dan berdiri berdampingan, semuanya menjadi jelas.


"Alice, Sara. Kalian berdua... apa kalian anak kembar?"


"...Kalau dipikir-pikir, nama adikku memang Sara."


"Nama kakakku... Alice, ya kalau tidak salah."


"............"


Alice dan Sara saling pandang dengan wajah bengong.


Mereka sama sekali tidak terlihat sangat terkejut. Rasanya lebih seperti—aku sempat lupa, tapi kalau diingat-ingat memang ada orang seperti itu—begitulah suasananya. Tidak terasa seperti pertemuan kembali kakak-beradik yang mengharukan.


"Lalu, ada satu hal lagi yang ingin kupastikan pada kalian berdua."


"Apa?"


"Apa?"


Keduanya merespons secara bersamaan.


"Kalian berdua──jangan-jangan, kalian adalah Dual Twin?"



Untuk sementara, kami memutuskan untuk kembali ke kediaman Tsubasa. Mengenai urusan penguntit di depan stasiun, aku menelepon Yuu dan dia menjawab, "Serahkan pada saya." Polisi segera datang dan membawa Kuzuhara muda. Karena pihak keluarga Tsubasa yang menggerakkan polisi, kabarnya akan dilakukan tindakan hukum agar penguntit ini tidak bisa lagi mendekati Sara selamanya.


Benar-benar pelayan yang bisa diandalkan... apakah memanjakannya lagi bisa menjadi tanda terima kasih yang pas?


"Ke mana perginya Fuuka, ya?"


Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu, di kamar Fuuka, maupun di kamar Yuzuki. Sepertinya si pelayan kembar sedang berada di kamar pelayan. Akhirnya, aku mengajak Alice dan Sara ke kamarku. Meski sudah pindah beberapa bulan, hampir tidak ada barang pribadiku di sini, jadi aku tidak keberatan jika mereka melihat isi kamarku yang minim kesan "ditinggali" ini.


"Daripada itu, apa Nakaba baik-baik saja? Kau kan terkena stun gun tadi."


Sara menatapku dengan cemas saat aku duduk di tempat tidur. Ia sedang bersusah payah mengikat kembali rambutnya menjadi kuncir dua.


"Ah, aku sudah benar-benar tidak apa-apa. Aku tidak selemah itu sampai tumbang hanya karena hal kecil begitu."


"Luar biasa, Nii-san... memang tidak salah kau jadi guruku."


Sejak kapan aku jadi gurunya──ah, benar juga, aku sendiri yang menyebut diriku gurunya.


"Syukurlah kalau kau selamat... tapi, situasinya jadi aneh ya."


"Benar-benar perkembangan yang tidak terduga."


Sara dan Alice saling pandang sejenak, lalu segera membuang muka. Sepertinya si kembar ini terpisah saat masih kecil karena orang tua mereka bercerai; masing-masing diasuh oleh ayah dan ibu, dan sejak itu mereka tidak pernah bertemu lagi. Kurasa itu kejadian yang cukup langka, pasti ada alasan mendalam di balik perceraian orang tua mereka. Aku pun tidak bisa bertanya lebih jauh. Mungkin itu sesuatu yang tidak perlu kuketahui, dan jika itu mengganggu Alice serta Sara, biarlah hanya mereka yang mengetahuinya.


"Lagipula, itu tadi apa namanya... Dual Twin? Di mana anak kembar memiliki perasaan yang sama... apa benar hal seperti itu ada?"


"Aku pun tidak tahu. Padahal kami kembar... tapi, kalau diingat kembali, ada beberapa hal yang masuk akal. Terkadang, tiba-tiba aku merasa senang atau sedih tanpa alasan. Itu berarti──"


"Sara juga sering merasakannya..."


Alice dan Sara kembali bertukar pandang sesaat. Aku sudah menjelaskan tentang Dual Twin kepada mereka. Sepertinya ini pertama kalinya mereka mendengar istilah itu, tapi mereka merasa ada bagian yang sesuai dengan pengalaman mereka.


Kalau aku kilas balik, ada beberapa hal yang terpikirkan. Sara yang sejak awal entah kenapa sangat ramah padaku, atau dia yang tiba-tiba merasa akrab dengan Fuuka──itu pasti karena pengaruh dari Alice, kakak kembarnya. Kalau diingat-ingat, Sara pernah bilang kalau ada aku, bokongnya terasa "gelisah". Apakah itu pengaruh dari saat aku menggoda dan menyiksa bokong Alice habis-habisan? Sampai-sampai Dual Twin berbagi hal semacam itu?


Fakta bahwa mereka diincar oleh Kuzuhara bersaudara yang sama──jangan-jangan, ini memang kembar takdir? Tidak, aku tidak merasa tindakan atau ucapan Alice dan Sara selalu sinkron. Justru mungkin Kuzuhara bersaudara yang terobsesi pada kakak-beradik inilah yang memiliki sinkronisasi aneh.


"Dual Twin, ya──"

"Dual Twin, huh..."


Alice dan Sara sama-sama bergumam pelan.


"Tapi, biarpun begitu, memangnya kenapa?"


"Benar, bagi Sara itu bukan masalah besar."


"Eh? Tidak, ini kan masalah yang cukup serius."


Kalian berbagi perasaan satu sama lain──dengan kata lain, perasaan kalian bisa dipengaruhi oleh orang lain selain diri kalian sendiri.


"Mungkin, itu bukan masalah besar. Lagipula, membiarkan Nakaba melakukan hal seperti itu dengan mudah... adalah keinginanku sendiri. Sara tidak akan membiarkan orang yang tidak ia sukai melakukan hal semacam itu padanya."


"Aku pun begitu, jika Sara berniat merebut Masaki-san dari Kak Fuuka, aku tidak akan pernah berpikiran seperti itu. Bagiku, Kakak adalah prioritas utama."


"............"


Apakah tingkat sinkronisasi perasaan pada Dual Twin berbeda-beda pada setiap pasangan kembar? Yuzuki dan Fuuka jatuh cinta padaku dengan kadar yang sama, tapi apakah itu berarti Alice dan Sara memiliki perasaan yang mereka bagi bersama, namun di sisi lain tetap memiliki perasaan pribadi yang sepenuhnya unik? Mengingat mereka adalah kembar dengan kekuatan misterius, rasanya lebih alami jika tidak semuanya harus sama persis.


"Sara ingin menang melawan Yuzuki-chan atas kemauan Sara sendiri, tahu."


"............!"


Tiba-tiba, Sara mengecup bibirku. Kemudian, dia memasukkan lidahnya──lalu segera menjauh.


"Karena Sara suka Yuzuki-chan, Sara ingin jadi lebih imut darinya. Yuzuki-chan adalah targetku. Karena itu, aku ingin kau, pacarnya, membandingkan kami. Bandingkanlah, dan aku ingin kau merasa kalau aku ini imut."


"I-itu... tidak mungkin. Bagiku Yuzuki dan Fuuka adalah yang utama."


"Aku tahu. Tapi, aku ingin mencoba menantangnya."


Sara dengan lincah melepas pakaiannya, kembali hanya mengenakan bra merah muda dan celana dalam.


"Lihatlah, Nakaba... dan juga Alice. Sara hidup sebagai Sara, dan membentuk tubuh ini sendiri. Meski kembar, kami adalah orang yang berbeda."


"...Aku juga, lihatlah aku."


Mengikuti kata-kata Sara, Alice juga melepas seragam pelaut putih lengan panjangnya, menyisakan bra putih dan celana dalam saja.


"Alice, Sara, kalian tidak perlu melakukan hal seperti ini..."


"Aku masih merasa seperti mimpi kalau wanita ini adalah kembaranku. Apalagi soal Dual Twin itu."


"Benar, cara tercepat untuk memahami kalau kami ini kembar adalah dengan melakukan sesuatu bersama-sama. Dan Sara masih berniat merebutmu dari Yuzuki-chan, lho."


"Kalau kau sungguh merencanakan itu, maka aku yang akan menghalangimu. Kak, lihatlah aku yang sudah tidak takut lagi pada laki-laki."


"............"


""Kyaaa!""


Sambil tetap duduk di tempat tidur, aku menarik pinggang kedua gadis kembar yang berdiri di depanku itu mendekat. Ya, pinggang Alice terasa lembut, sementara Sara benar-benar sangat ramping.


"Ternyata meski kembar identik, lingkungan tempat tumbuh besar bisa mengubah banyak hal ya."


Setelah memastikan sensasi di pinggang mereka, aku melepaskan keduanya.


"Memang kalau dilihat begini, aku dan Sara sangat berbeda. Hmm, tapi ukuran payudara kita hampir sama ya."


"Be-benar juga... bagian yang mirip malah di tempat yang aneh."


Alice dan Sara berdiri berhadapan, lalu secara bersamaan saling merapatkan tubuh. Mereka saling menempelkan payudara yang terlihat berukuran persis sama, hingga payudara itu terhimpit dan memenyet. Ujung puting mereka bertemu dengan pas, dan pemandangan itu terasa sangat erotis.


"Kalau begitu... cobalah pastikan berbagai perbedaannya, Nakaba."


"Sadarilah bahwa aku dan dia berbeda, Kak."


Kali ini Alice dan Sara mendekatkan dada mereka ke depan wajahku. Pertama-tama aku menjilat puting Alice, lalu beralih mengisap puting Sara.


"Nnh ♡ Ku-kutuil! ♡"


"Kyaa, jangan tiba-tiba mengisap putingku sekuat itu! ♡"


Sekarang aku mengisap puting Alice sambil mencubit dan menggesek puting Sara. Rasa dan sensasinya sedikit berbeda──ternyata bahkan pada anak kembar, bagian seperti itu bisa berbeda juga.


"Hyah, ahh, ini lebih hebat dari sebelumnya, Kak... nnh, kalau putingku diisap sekuat itu...! ♡"


"Se-seberapa sering kau diisap seperti ini, sih... kyaa, Sara belum terbiasa... ahh ♡"


Karena puting mereka diisap, dijilat, dicubit, dan ditarik, kedua saudari kembar itu menggeliat hebat. Suara manis mereka bergema──dan jika didengarkan baik-baik, suara mereka terdengar mirip. Untuk saat ini, wajah, dada, dan suara mereka memang serupa.


"Sebaliknya, maukah kalian memperlihatkan bagian yang paling berbeda...?"


"I-itu jangan-jangan... milik kami... bo-boleh saja ♡"


"Nakaba, kau berniat menyuruh kami melakukan apa... a-aku akan melakukannya, sih ♡"


Sesuai instruksiku, Alice dan Sara berbaring telungkup di tempat tidur. Mereka menumpu pada siku dan lutut sambil mengangkat pinggang, berpose menonjolkan bokong ke arahku.


"Ma-malu sekali. Kak, kau selalu terlalu banyak menyiksa bokongku..."


"Hei Nakaba, apa yang sudah kau lakukan pada kakak Sara... ah sudahlah, lihat saja sesukamu!"


Tanpa perlu diminta pun, aku tidak bisa berpaling. Meski kembar identik, bagaimana bisa berbeda sejauh ini....


Bokong Alice montok dan besar, sedangkan bokong Sara mungil dan kecil; benar-benar berbeda. Paha Alice juga berisi, sementara Sara sangat ramping. Dengan pose menonjol seperti ini, perbedaannya terlihat sangat jelas.


"Luar biasa... fakta bahwa kalian ini kembar malah terasa makin hebat."


"Kyaa ♡"


"He-heh, Alice, jangan mengeluarkan suara imut seperti itu... kyaun ♡"


Aku mengelus bokong Alice dari balik celana dalam putihnya, dan di saat yang sama, aku meremas bokong Sara dari balik celana dalam merah mudanya. Saat menyentuhnya, sensasinya memang benar-benar berbeda.


"Bokong Alice besar dan lembut. Bokong Sara kecil dan punya sensitivitas yang bagus ya."


"I-itu... hauu, nnh ♡"


"Jangan remas bokongku kuat-kuat... hah, nnh ♡"


Alice dan Sara menggeliatkan tubuh mereka dengan cara yang sama, semakin menonjolkan bokong mereka seolah memohon dan mencari tanganku. Saat aku mengelus dan meraba bokong mereka dengan liar, Alice dan Sara menggetarkan tubuh mereka berkali-kali dan──


""Hah, aaaahh! ♡""


Si kembar mengeluarkan suara manis secara bersamaan sambil melengkungkan punggung mereka ke belakang dengan kuat.


"Ha, haah... nnh... tunggu, Alice..."


"A-apa yang kau lakukan, Sara..."


Sara ambruk ke arah berlawanan, mendekatkan wajahnya ke arah bokong kakaknya.


"Alice, bukankah bokongmu ini terlalu besar? Kau terlalu banyak makan ya..."


"A-aku tidak makan banyak! Sara sendiri, kau itu terlalu kurus!"


Alice dan Sara berbaring dengan posisi saling berlawanan, membuat mereka bisa saling menatap bokong dan paha satu sama lain dari jarak yang sangat dekat.


"Dengar ya, Alice, Sara. Ini kan pertemuan kembali yang berharga, jangan meributkan hal seperti itu."


Tidak, aku mengerti. Kedua orang ini pasti merasa malu. Karena merasa sungkan, mereka pasti berpura-pura bertengkar dengan mempermasalahkan hal-hal sepele.


"Alice dan Sara, kalian kembar identik, kan?"


"A-ah, iya, benar."


"Begitulah yang Sara dengar."


"Ternyata lingkungan tempat tumbuh besar bisa mengubah bentuk tubuh dan sensitivitas sampai sejauh ini, ya..."


Yuzuki dan Fuuka memang bersekolah di SMA yang berbeda, tapi mereka tumbuh besar bersama. Asa dan Yuu bahkan menjalani hidup dan pekerjaan yang sepenuhnya sama. Sementara Riina dan Naraka memiliki wajah, bentuk tubuh, dan kepribadian yang sangat berbeda, tapi itu karena mereka memang kembar fraternal.


"Aku ingin merasakan bokong ini lebih banyak lagi."


"Bo-boleh saja, Nii-san... ♡"


"Sa-Sara juga... boleh ♡"


"Bisa kalian jepit dan gesek milikku dengan bokong kalian?"


Dulu aku pernah meminta si pelayan kembar, Asa dan Yuu, melakukannya, dan rasanya seperti di surga. Aku penasaran bagaimana sensasinya jika dijepit di antara bokong yang montok dan bokong yang mungil ini.


"Ha-hal seperti ini... ma-malu sekali tahu."


"A-apa yang sebenarnya kita lakukan sebagai saudara, sih."


Meski mengeluh, Alice dan Sara tetap melakukannya──


Mereka menjepit milikku dengan bokong masing-masing saat aku sedang berbaring, lalu menggeseknya naik-turun. Sensasi lembut dan kenyal yang berbeda satu sama lain tersalurkan dengan jelas ke milikku.


"Uwoh, aku bisa merasakan perbedaan tekstur bokong kalian dengan sangat jelas...!"


"Ka-kau konyol sekali... Tunggu, Alice, bokongmu serius terlalu besar! Menghalangi tahu!"


"Sa-Sara sendiri, dengan bokong sekecil itu mana mungkin bisa menggesek milik Kakak dengan benar!"


Di depanku, sepasang gadis cantik kembar sedang bertengkar sambil menjepit dan menggesek milikku dengan bokong mereka masing-masing. Pemandangan macam apa ini?


Alice menekan bokong besarnya dengan kuat dan menggesek milikku dengan bertenaga, sementara Sara menggeseknya dengan lembut seolah sedang membelai dengan bokong mungilnya yang lucu. 


Alice dan Sara terus menggoyangkan pinggang mereka dengan liar untuk menggesek dengan bokong, membuat payudara 87 cm mereka bergoyang-goyang dengan hebat. Rasa nikmat yang menyengat tersalurkan ke milikku, benar-benar luar biasa.


"Kyaunn! Sara, ini tidak boleh! ♡"


"Su-sudah kubilang jangan mengeluarkan suara imut begitu... kyaaann! ♡"


Aku meletakkan tanganku di bokong Alice dan Sara, lalu sambil membelainya, aku melakukan gerakan menusuk dari bawah. Bisa menikmati bokong gadis kembar cantik dengan tangan dan milikku secara bersamaan benar-benar terasa paling hebat. Saking hebatnya, aku sudah──


"Alice, Sara, aku sudah tidak tahan lagi──"


"Ke-keluarkan saja, untuk penutupnya...!"


"Be-benar, keluarkan saja, tapi...!"


Alice dan Sara melepaskan jepitan mereka pada milikku secara bersamaan dan──


"Te-terakhir, dengan payudara kami yang sama ♡"


"De-dengan payudara Sara dan Alice yang sama ♡"


"Ugh...!"


Alice dan Sara melepas bra putih dan merah muda mereka, membiarkan payudara dengan ukuran yang persis sama membal keluar. Si kembar menekan payudara mereka yang berukuran sama itu ke milikku, lalu menggeseknya dengan kuat dari pangkal hingga ke ujung──


""Kyaa!""


Cairan yang memancar dari milikku membasahi wajah mereka, dan pada saat yang bersamaan, mereka mengeluarkan suara yang persis sama. Setelah digesek habis-habisan oleh bokong, lalu dibalut oleh kelembutan payudara kembar, mustahil bagiku untuk menahannya. Cairan dalam jumlah banyak menyembur keluar dari milikku, mengotori dada dan wajah si kembar──


"Aaahh... ke-keluar banyak sekali... ♡"


"Sa-sampai mengenai rambut juga... ♡"


Cairan yang menyembur dengan deras itu diterima oleh Alice dan Sara masing-masing. Mereka menjilat dan menyesap milikku, melakukan proses pembersihan dengan sangat teliti.


"Ha, haah... tidak disangka hal pertama yang kita lakukan bersama setelah bertemu kembali adalah seperti ini..."


"Be-benar-benar konyol ya kita ini... tapi, tadi itu luar biasa..."


Alice dan Sara menunjukkan ekspresi puas—dan mereka saling melempar senyum. Sepertinya, setelah terpisah selama beberapa tahun—atau mungkin lebih dari sepuluh tahun—pertemuan kembali mereka yang melompati waktu itu berhasil terjalin melalui aktivitas denganku.


"Sampai kena rambut juga... duh..."


"Benar, kalau dibiarkan begini agak..."


Alice dan Sara masing-masing melepaskan ikatan ponytail dan twin-tail mereka. Rambut hitam dan rambut emas mereka terurai jatuh. Keduanya duduk bersimpuh di atas tempat tidur; dari sudut pandangku, posisi mereka benar-benar simetris. Meski warnanya hitam dan emas, panjang rambut mereka pun mungkin sama persis.


"Kalian berdua benar-benar mirip, Alice, Sara."


"Be-begitukah?"


"Be-benarkah?"


Alice dan Sara tersenyum, tampak tidak keberatan dengan pujian itu. Keduanya memang Dual Twin yang berbagi emosi. Namun, lebih dari itu—fakta bahwa mereka adalah saudari kembar yang lahir bersama dan sangat mirip adalah hal yang lebih penting.


"Fuu... tapi, aku sudah sampai batasnya."


"Sa-Sara juga... Nakaba, kau terlalu hebat..."


Keduanya ambruk ke tempat tidur secara bersamaan. Tak lama kemudian, suara deru napas saat tidur mulai terdengar. Meski kepribadian, warna rambut, dan postur tubuh mereka berbeda, bagian lainnya bisa dibilang hampir identik.


"............ Kalian akrab juga ya."


Mungkin tanpa sadar, Alice dan Sara saling menggenggam tangan—tangan kiri dan tangan kanan—sambil terlelap. Kubiarkan saja mereka tidur sejenak....


"Hm?"


Aku menyadari ada sosok orang di ambang pintu.


"Yuzuki..."


"Masaki, bukan cuma dengan Alice-chan... tapi dengan Sa-ra juga?"


"A, aa, ternyata mereka berdua ini juga kembar dan—"


"Kembar?"


Yuzuki masuk ke dalam kamar dan mengintip wajah kedua orang yang sedang tertidur di tempat tidur itu.


"Benar. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Ternyata mereka semirip ini."


"Ternyata kalau kesan yang mereka berikan berbeda, kita jadi sulit menyadarinya. Aku juga sama sekali—"


"Masaki, aku mengizinkanmu melakukannya dengan Alice. Tapi—"


"Hm?"


Tiba-tiba, Yuzuki mencengkeram kerah bajuku. Tenaga yang ia gunakan sangat mengejutkan, hingga aku merasa leherku tercekik.


"Aku tidak pernah memberikan izin kepadamu untuk berhubungan intim dengan Sara."


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close