Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 7
Si Kembar Ingin Kembali ke Medan Perang
"Ah— serius, rasanya sudah lama sekali tidak ikut pemotretan—"
Tiga hari setelah kejadian panas di mana aku, Yuzuki, dan Riina bermesraan dengan liar. Pada hari Minggu, aku sedang mendampingi pemotretan pertama Yuzuki untuk menandai kembalinya dia ke dunia model. Aku sendiri belum tahu apakah akan ada proyek kedua atau tidak.
Hari ini pemotretan dilakukan di luar ruangan, bukan di studio, dengan sebuah taman alam sebagai latarnya.
"Syukurlah ukuran bajuku tidak berubah. Bagaimana, Masaki?"
"Ah, iya. Ka... kau terlihat cantik, kok."
Hari ini Yuzuki mengenakan kaos putih model crop top yang memamerkan pusar, rok mini denim, dan jaket hitam yang tampak kebesaran. Sesuai dengan rencana pemotretan bertema "seksi", dia memamerkan pusar dan pahanya tanpa ragu. Bahkan bagiku yang sudah sering melihat Yuzuki tanpa busana, penampilannya ini sangat menggoda sampai membuat jantungku berdebar....
Sebagai pacar, aku merasa sedikit dilema karena foto-foto erotis ini akan tersebar luas di masyarakat... tapi toh ini untuk majalah wanita, dan yang terpenting, Yuzuki terlihat sangat menikmati proses pemotretannya.
"Hehe, Masaki sekarang sudah bisa jujur memuji ya."
"...Meski kalimat itu sebenarnya tidak cocok diucapkan oleh orang berwajah preman sepertiku."
"Wajah tidak ada hubungannya. Aku senang jika kau yang mengatakannya."
"Hei, jangan bicara begitu di depan umum..."
Staf yang hadir hanya sedikit—tiga orang kru foto dan dua editor—tapi tetap saja ini di depan orang lain.
"Aku sudah menjelaskan kepada mereka kalau kau adalah pacarku. Model itu bukan idol, jadi punya pacar pun sama sekali tidak masalah."
"Ti-tidak boleh begitu! Model Teen Girl dilarang pacaran! Kau kurang profesional! Kalau sibuk urusan laki-laki, pekerjaanmu bisa terganggu, tahu!"
Tentu saja, yang sedang ribut di samping Yuzuki adalah si pirang kuncir dua, Sara.
Sara juga mengenakan pakaian yang mirip dengan Yuzuki—tanktop merah muda dengan jaket denim pendek, serta hot pants yang memamerkan paha. Penampilannya ini memang benar-benar seksi. Mungkin karena dia memang seorang model, hanya berdiri biasa saja sudah memancarkan aura sensual.
"Ups, giliranku dipanggil. Masaki, aku pergi sebentar ya, tunggu di sini baik-baik."
"Kau pikir kau ibuku, ya?"
Yuzuki tertawa mendengar celotehku lalu berjalan menuju kru. Hanya berjalan biasa saja dia terlihat sangat keren... maksudku, cara berjalannya terasa berbeda dari biasanya. Mungkin dia sudah masuk ke "mode model".
"Ugh, Yuzuki-chan... kya-kyawawa..."
"Kyawawa?"
"Bu-bukan apa-apa! Awas ya, kau jangan berani-berani mengambil foto tanpa izin!?"
"Lalu ponsel yang sedang kau arahkan ke Yuzuki itu apa?"
Tanpa kusadari, Sara sudah mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya ke Yuzuki yang sedang berbicara dengan staf.
"Ini tidak apa-apa karena pemotretan belum dimulai! Nilai seorang model itu ditentukan dari seberapa banyak orang mengambil fotonya secara diam-diam!"
"Yah, kau sendiri juga hati-hatilah terhadap kamera tersembunyi. Atau ada hal lain yang perlu diwaspadai?"
"...Apa maksudmu?"
Sara memalingkan wajah dengan kesal. Aku hampir yakin—Sara sedang waspada terhadap sekelilingnya. Entah itu penggemar fanatik, atau stalker yang tingkatannya sudah tidak lucu lagi.
"Mulai dari urusan Alice sampai sekarang, belakangan ini duniamu sepertinya berbahaya ya."
"Alice?"
"Lupakan saja. Kalau ada bahaya, aku bisa membantu. Lagipula, aku punya pengalaman soal itu."
"Pengalaman? Benar juga, kau sepertinya cocok jadi polisi atau tentara. Tapi tenang saja, dalam bisnis seperti ini, wajar jika merasa diperhatikan orang-orang."
"Kalau benar-benar berbahaya, katakan padaku. Kalau kau adalah 'bonus'—maksudku, temannya Yuzuki, berarti kau bukan orang asing bagiku."
"Ka-kami bukan teman, tapi rival! Bahkan disebut 'bonus' pun masih mending daripada disebut teman!"
"Bagaimana bisa kau berpikir disebut 'bonus' itu lebih baik?"
Kenapa di dunia ini banyak sekali gadis yang menganggap dirinya sebagai "barang tambahan"?
"Eh, pemotretannya sudah dimulai. Apa mereka mengambil foto tes satu per satu dulu?"
Seorang fotografer berdiri di depan Yuzuki dan mulai mengambil foto dengan kamera besar.
"Ooh, hebat juga... pose-posenya terlihat sangat pas."
"Sial, padahal dia sudah lama libur, tapi kenapa masih sejago itu...!"
Sara menggigit bibirnya dengan perasaan iri.
"Memangnya dalam hal seperti itu ada kategori 'jago' atau 'payah' juga ya?"
"Tentu saja ada. Dunia ini bukan hanya soal wajah cantik atau tubuh bagus untuk menjadi kelas satu. Bahkan untuk model pembaca sekalipun."
"Tapi kau sendiri tidak menganggap dirimu hanya sekadar model pembaca, kan?"
"...Entahlah. Lihat saja rambutku ini, aku ini monster yang haus pengakuan dan ingin selalu menonjol."
"............"
Gadis yang benar-benar tidak jujur pada perasaannya. Tapi kurasa dia bukan gadis dangkal yang menjadi model hanya karena ingin pamer.
"Tapi tetap saja, cuacanya terasa agak dingin. Kau tidak apa-apa, Sara? Kau boleh menjadikanku tameng angin."
"Kau ini, ternyata lebih baik daripada tampangmu ya?"
"Jangan pedulikan tampangku... yah, mustahil sih. Tapi paling tidak aku tidak berbahaya, jadi aku akan sangat terbantu kalau kau tidak takut padaku."
"Aku tidak takut kok. Hanya saja..."
"Hmm?"
Sara tampak gelisah di sampingku. Dia terlihat seperti tidak tenang....
"A-aku harap kau tidak menganggapku aneh."
"Ada apa?"
"Setiap kali berbicara denganmu, entah kenapa... bokongku terasa agak geli."
"Bokong? Apa kau sakit?"
"Tidak sopan!"
Waduh, meskipun belakangan ini aku makin sering bergaul dengan gadis-gadis, terkadang aku masih keceplosan bicara tanpa perasaan.
"Ka-kau... apa kau terlalu sering memperhatikan bokongku?"
"Aku tidak pernah menatap bokongmu lekat-lekat. Tidak sesering itu."
"Tidak usah pakai kata 'tidak sesering itu'! Ya-yah, benar juga... laki-laki mana mungkin tertarik dengan bokong kecil sepertiku. Ah, tentu saja kau tidak tertarik!"
"Jangan tiba-tiba marah begitu."
Mana mungkin aku tidak tertarik dengan bokong Sara. Laki-laki mana pun pasti akan tertarik dengan bokong gadis secantik dia. Hanya saja, aku tidak menatapnya terus-menerus, dan tentu saja aku tidak melakukan apa pun pada bokongnya.
"M-mungkin itu cuma perasaanku saja. Maaf, aku benar-benar bicara hal yang aneh tadi."
"Jangan dipikirkan. Belakangan ini di sekelilingku memang banyak hal aneh—"
"Masaki-san, selamat siang."
"Eh?"
Aku menoleh ke arah suara di belakangku, dan di sana berdirilah Fuuka.
Dia mengenakan sweter tipis berwarna krem dengan rok panjang hitam, serta tas kecil yang tersampir di bahunya. Pakaiannya benar-benar mencerminkan gaya nona muda yang anggun.
"Fuuka? Kau juga datang untuk melihat?"
"Iya, aku diantar sampai ke sini dengan mobil keluarga Tsubasa."
Fuuka tersenyum manis dan berjalan semakin mendekat ke arahku.
"Eh, siapa... lho? Kok, wajahnya mirip dengan Yuzuki-chan—maksudku, bukankah mereka sangat mirip?"
"Oh, kau hebat juga bisa langsung menyadarinya dalam sekali lihat, Sara."
Yuzuki adalah gyaru dengan rambut cokelat yang mencolok, sementara Fuuka adalah gadis anggun dengan rambut hitam, jadi bagi orang yang baru pertama kali melihat, biasanya sulit menyadari kalau wajah mereka bak pinang dibelah dua. Ternyata penglihatan Sara cukup tajam terhadap wajah perempuan, mungkin karena dia seorang model.
"Ah, salam kenal. Nama saya Tsubasa Fuuka. Terima kasih sudah menjaga kakak saya selama ini."
"Eeeeh! Jangan-jangan kalian kembar! Sara sama sekali tidak tahu kalau Yuzuki-chan punya adik kembar! Kenapa dia tidak pernah bilang-bilang sih!"
"Fufu, kakak memang suka mengejutkan orang lain. Mungkin dia sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi wajahmu yang sekarang ini."
"...Sepertinya si Tsubasa itu melewatkan momen ini ya. Rasakan itu," gumam Sara sambil melirik sekilas ke arah Yuzuki.
Pemotretan tes sepertinya sudah selesai, dan Yuzuki sedang melihat ke arah tablet bersama para staf. Mungkin mereka sedang memeriksa hasil foto tadi.
"Ah, namaku Furukawa Sara. Aku teman satu angkatan Yuzuki Tsubasa saat memulai debut model, dulu kami sering beraktivitas bersama."
"Saya tahu. Kakak pernah menceritakannya kepada saya. Katanya Anda orang yang sangat manis dan sangat berdedikasi pada pekerjaan."
"Eh! Yu-Yuzuki-chan bilang begitu? Duh, memang semua itu benar sih, tapi kalau diucapkan langsung oleh adiknya begini, aku jadi malu!"
"Aduh!"
Entah kenapa, Sara malah memukul punggungku. Kalau malu ya malu saja, tidak perlu memukul orang sebagai pelampiasan, dong. Saking bingungnya, dia sampai mencampur panggilan "Tsubasa" dan "Yuzuki-chan".
"Eh?"
"Eh? Ada apa? Anu... Fuuka-san...?"
"Panggil saja sesukamu. Tidak, saya hanya merasa sepertinya kita pernah bertemu di suatu tempat."
"Di suatu tempat? Apa kau pernah datang ke lokasi pemotretan?"
"Tidak, hari ini adalah yang pertama kalinya. Saat kakak masih aktif sebagai model, sekolah kami berbeda, dan sepulang sekolah pun kami lebih sering berkegiatan sendiri-sendiri."
"Begitu ya. Kalau begitu kurasa tidak pernah. Ah, benar juga, alasannya simpel saja. Kau pasti membaca majalah yang memuat foto Yuzuki-chan, kan? Nah, Sara biasanya selalu ada di foto bersamanya."
"Begitu ya, masuk akal juga."
"...Lagi pula, aku kan cuma 'bonusnya Yuzuki'. Hahaha..."
Tawa kering keluar dari mulut Sara. Dia mulai bersikap mencela diri sendiri karena dianggap sebagai barang tambahan.
"Hei! Sara, ke sini sebentar!"
"Ah, iya aku tahu! Tidak usah teriak keras-keras begitu, aku juga dengar kok! Aku ke sana sekarang!"
Yuzuki yang sedang bersama staf melambaikan tangannya dengan semangat ke arah Sara. Meski mengeluh, sudut bibir Sara tampak sedikit terangkat. Apa dia sesenang itu hanya karena dipanggil Yuzuki? Sepertinya Sara ini, alih-alih teman angkatan atau rival, sebenarnya dia adalah penggemar berat Yuzuki.
"Fuuka, aku tidak menyangka kau akan datang. Ada apa?"
"Saya pikir, kakak hidup di dunia yang sangat gemerlap. Saya hanya ingin memastikannya sekali lagi."
"...Begini, Fuuka."
Aku melangkah satu kaki mendekati Fuuka.
"Soal menjadi 'bonus' atau semacamnya, jangan terlalu dipikirkan. Yah, meski sebenarnya tidak pantas aku bicara begini setelah selama ini ikut menganggapmu sebagai 'bonusnya Yuzuki'..."
"Itu adalah sebutan yang saya buat sendiri, dan Yuzu-nee pun mengakuinya, jadi Masaki-san tidak salah sama sekali."
Fuuka kembali tersenyum manis.
"Lagi pula, dianggap sebagai bonus kakak pun tidak terasa buruk kok. Fakta bahwa saya adalah adik yang biasa saja dibandingkan kakak yang sangat bersinar itu memang benar adanya."
"Hei, hei, serius, Fuuka itu sama sekali tidak biasa saja, tahu?"
Meski dia terlihat pendiam dan anggun, tidak mungkin gadis secantik ini disebut "biasa saja".
"Ngomong-ngomong, Fuuka... aku ingin tanya, katanya kau ingin lepas dari status 'bonus', tapi kau terlihat cukup pasif ya. Sejauh ini kau cuma mengajakku ke festival budaya sekolah Shujo, kan?"
"Karena karakter saya adalah gadis yang sopan. Kalau saya terlalu agresif, nanti tidak sesuai dengan interpretasi karakter, kan?"
"Tidak, kau itu sejak awal sebenarnya sudah cukup agresif, tahu."
Saat pertama kali kami melakukan hal mesum, setidaknya aku dan Yuzuki sudah saling mengenal sebagai teman sekelas, tapi dengan Fuuka, saat itu kami hampir seperti orang yang baru pertama kali bertemu. Jauh dari kata sopan.
"Alasan kenapa belakangan ini saya tenang-tenang saja sebenarnya tidak ada yang spesial. Kalau boleh jujur, itu karena Masaki-san sudah menolong Alice-chan. Saya merasa tidak enak jika terus menyerang dengan agresif dan merepotkan Masaki-san bahkan sebelum sempat berterima kasih."
"Aku tidak merasa benar-benar menolong Alice kok, dan kalaupun iya, itu bukan sesuatu yang harus kau pusingkan. Tentu saja aku tidak butuh ucapan terima kasih."
"Alice-chan adalah teman berharga bagi saya."
Kalau mendengar itu, Alice pasti akan menangis bahagia.
"Dan juga... kurasa sudah saatnya saya mulai menyerang lagi. Kalau bisa, sekarang juga."
"Ke-kenapa rasanya menyeramkan ya."
Saat aku refleks mundur selangkah──
"Haaah... Yuzuki-chan kalau dilihat dari dekat memang sangat imut (kyawawa). Rasanya ingin kujadikan model pribadi Sara saja, biar Sara bisa memotretnya sepuas hati... kamera mirrorless Sara bakal bekerja keras hari ini!"
"Apa yang kau bicarakan, Sara?"
"Hah!? Ka-kau masih di sini!?"
"Aku sudah di sini dari tadi, sebenarnya apa yang kau bicarakan sih."
Sara yang entah kapan kembalinya, sedang bergumam hal-hal aneh dengan wajah yang tampak lunglai karena terlalu gemas.
"Ternyata Sara-san adalah seorang fangirl Yuzu-nee ya."
"A-aku bukan fangirl! Aku ini teman seangkatannya, sesama model!"
Mungkin yang dimaksud fangirl adalah penggemar perempuan.
"Bagi Sara, Tsubasa adalah rival! Aku tidak akan kalah dalam pemotretan ini! Aku yang akan menjadi bintang utamanya!"
Sara mengacungkan jari telunjuknya dengan tegas ke arah Fuuka──
"Tapi, tadi aku sempat melihat hasil foto tesnya, dan Yuzuki-chan benar-benar jadi pusat perhatian. Dia berdiri di depan, dan ukurannya di foto jauh lebih besar... Aku senang Yuzuki-chan jadi pemeran utamanya, tapi aku kesal karena aku jadi seperti bonus!"
"Kepribadianmu merepotkan sekali ya, Sara."
Sepertinya perasaan ingin menang melawan Yuzuki dan perasaan memujanya sebagai penggemar sedang bertarung sengit di dalam dirinya.
"Haaah, jadi Sara-san ingin menang melawan Yuzu-nee?"
"I-iya. Dalam pekerjaan sebagai model mungkin aku belum bisa menang, tapi..."
"Sebagai perempuan pun Anda kalah. Seperti yang Anda lihat, Yuzu-nee sudah punya pacar."
"Ugh...!"
Sara tampak sangat syok hingga melangkah mundur.
Hei, si kuncir dua pirang ini ternyata punya mental yang cukup lemah, jadi jangan terlalu memojokkannya.
"Ah, maaf... orang biasa sepertiku sudah berkata lancang pada model populer seperti Sara-san..."
"Entah kenapa, karena wajahmu sama dengan Tsubasa, kelancanganmu itu terasa tidak asing... Tapi, bolehkah aku bertanya sedikit? Anu, Fuuka-chan."
"Iya, silakan apa saja."
Fuuka tersenyum dan mengangguk.
"Tsu-Tsubasa... ah, panggil Yuzuki-chan saja tidak apa-apa! Yuzuki-chan, rasanya dia jadi lebih ero—maksudku, lebih seksi dari sebelumnya! Apa yang terjadi?"
"Tentu saja karena dia sudah punya kekasih. Yuzu-nee sudah menjalin hubungan yang sangat dewasa dengan Masaki-san."
"Dewasa!?"
"Karena itulah, Sara-san. Anda tidak akan bisa menang melawan Yuzu-nee jika hanya setengah-setengah. Sampai kapan pun—Anda akan tetap menjadi bonusnya Yuzu-nee."
"............"
Kalimat itu sebenarnya ditujukan untuk siapa? Apa memang untuk Sara, atau untuk dirinya sendiri—
"Yah, sebenarnya aku juga berpacaran dengan Masaki-san di sini."
"Haaah!?"
"Masaki-san adalah orang yang berlapang dada, jadi dia menerima kami berdua, si kembar ini, sekaligus."
"Tu-tunggu, informasi ini terlalu banyak... aku tidak bisa mengejarnya."
"Bukan masalah besar, kok. Karena aku dan Yuzu-nee adalah satu paket. Jadi, laki-laki yang mendampingi kami pun harus orang yang sama."
"............"
Sara menatapku, jadi mau tidak mau aku mengangguk.
Hubunganku dengan si kembar Tsubasa memang sudah terbuka di sekolah, jadi tidak masalah memberitahu Sara, tapi sepertinya dia benar-benar dibuat bingung. Aku mungkin sudah melakukan hal buruk tepat sebelum pemotretan penting dimulai....
"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini—!"
Suara Yuzuki menggema di taman.
Aku dan Fuuka hanya melihat pemotretan dari kejauhan agar tidak mengganggu, tapi ternyata cukup menarik. Hanya melihat Yuzuki dan Sara berpose dan berfoto di berbagai sudut taman saja sudah menyenangkan untuk ditonton.
Tadi mereka juga mengambil video; katanya itu akan ditayangkan sebagai "video di balik layar" (making-of video) di situs streaming. Malah, sesi videonya terasa lebih lama karena ada sesi wawancara dan lain-lain.
"Zaman sekarang benar-benar eranya video ya—"
"Jangan bicara seperti orang tua begitu."
Aku hanya bisa tersenyum kecut melihat Fuuka yang tampak merenung di sampingku.
"Tapi Yuzu-nee memang luar biasa ya. Dilihat dari jauh pun, pose-posenya terlihat sangat pas."
"Dia terlihat sangat percaya diri. Tidak kelihatan seperti orang yang baru kembali setelah sempat vakum."
"Kakak memang begitu sejak dulu. Dia selalu percaya diri di depan siapa pun, makanya dia disayangi banyak orang."
"Kau juga sama percaya dirinya, kan, Fuuka?"
Fuuka terlihat anggun dan sopan, tapi sebenarnya dia tipe yang punya pendirian kuat. Yuzuki dan Fuuka memang punya kepribadian yang bertolak belakang, tapi di dasarnya mereka berdua sangat mirip.
"Tu-tunggu sebentar... kau, Fuuka-chan..."
"Oh, Sara. Kerja bagus ya hari ini. Apa sudah selesai?"
Sara berjalan ke arah kami dengan gontai, wajahnya tampak seperti orang yang hampir mati. Karena ada bangku di dekat situ, aku menyuruhnya duduk dulu—
"Hah— akhirnya selesai. Yuzuki-chan sedang bicara dengan staf soal tata letak foto dan hal-hal yang dia tidak sukai."
"Apa model sampai melakukan hal sejauh itu?"
Kupikir setelah foto diambil ya sudah selesai, dan urusan penyesuaian saat dimuat di majalah adalah tugas fotografer atau editor.
"Tentu saja biasanya tidak. Aku juga tidak melakukannya. Kami menyerahkan itu semua pada staf. Sebenarnya aku juga ingin melakukannya, tapi..."
"Lakukan saja kalau begitu."
"Hal seperti itu hanya boleh dilakukan oleh orang yang diperlakukan spesial. Aku belum jadi bintang utama di Teen Girl."
"Kalau kau punya idealisme sendiri, kurasa tidak ada salahnya meminta..."
Meski begitu, mungkin ini hanya pendapat tidak bertanggung jawab dari orang luar.
"Tapi lihat ini, Fuuka-chan, kau!"
"Bisa tidak kau ingat namaku sekarang?"
Kurasa sudah saatnya aku memprotes soal itu.
"Tadi aku sempat memotretnya di sela-sela sesi! Bukankah ini benar-benar sempurna!?"
"Aku tidak terlalu paham tapi... oh, kau memotret Yuzuki ya."
"Wah, Yuzu-nee terlihat seperti orang yang berbeda ya."
Di layar ponsel yang dipegang Sara, terpampang foto Yuzuki. Dia tersenyum sambil bersandar pada pohon di taman dengan kedua tangan terangkat. Di balik jaket hitam besarnya, ujung kaos putihnya terangkat tinggi, memperlihatkan pusar bahkan hampir memperlihatkan branya. Rok mini denimnya entah kenapa sedikit tersingkap, memamerkan pahanya. Tidak hanya itu, seluruh tubuhnya seolah memancarkan aura sensual yang kental—
"Yuzuki-chan benar-benar hebat! Serius, ini benar-benar se-ks-iiiiii sekali!"
"Jeda bicaranya terlalu lama."
Aku mengerti kenapa dia ingin mengatakannya dengan penuh penekanan seperti itu.
Tapi sungguh, Yuzuki di foto ini benar-benar seksi.... padahal posenya ceria dan penuh semangat, bahkan terkesan sehat, tapi kenapa aura sensualnya bisa begitu meluap-luap?
"A-aku tidak akan bisa menandingi Yuzuki-chan dalam urusan seksi... padahal pemotretan berikutnya sudah diputuskan bertema seksi juga! Karena memang ada permintaannya, jadi tidak bisa dilewatkan!"
"Siswi SMP dan SMA zaman sekarang sepertinya terlalu mengejar penampilan seksi, ya."
Yah, gadis-gadis di sekelilingku juga tipenya punya daya tarik sensual yang luar biasa, sih.
Tapi, pemotretan berikutnya ternyata sudah diputuskan.
"Ba-bagaimana caranya bisa jadi se-erotis itu!? Tubuh Sara memang kurus, tapi aku punya payudara, tahu! Ukurannya 87 sentimeter, lho, payudaraku!"
"Jangan menyebutkan angka spesifik di depanku."
Sara sepertinya tipe orang yang kalau sudah asyik sendiri jadi tidak mempedulikan sekitarnya. Mirip seperti Alice yang tiba-tiba saja minta menjadi muridku.
"Anu, Sara-san. Sara-san sendiri tidak sedang menjalin hubungan dengan laki-laki, kan?"
"Ya, ya begitulah. Sara kan seorang model. Aku bukan milik siapa-siapa, tapi milik semua penggemar."
Bukankah itu aturan untuk seorang idol?
"Tapi, karena Anda seangkatan dengan kakak, berarti Anda mulai jadi model sejak kelas satu SMA, kan. Sebelum itu, apa Anda pernah berpacaran dengan seseorang?"
"Ugh..."
Sara tampak gentar sejenak, lalu menjawab.
"Tentu saja Sara pernah pacaran dengan laki-laki! Sudah tidak terhitung berapa banyak cowok tampan yang aku gonta-ganti!"
"Zaman sekarang orang sudah jarang pakai istilah 'gonta-ganti'..."
"Berisik! Aku cuma sedang menahan diri untuk tidak punya pacar sejak jadi model! Ya, benar, aku sudah lama tidak melakukannya!"
"............"
Aku mendekatkan wajahku ke arah Fuuka dan berbisik di telinganya.
"Bagaimana menurutmu? Kelihatannya dia jelas-jelas bohong."
"Bersikap seolah tidak menyadarinya adalah sebuah kebaikan, Masaki-san."
Entah apa yang sedang dipikirkan Fuuka.
"Kalau begitu, akan sulit bagi Anda untuk menang melawan Yuzu-nee dalam hal aura sensual. Karena setiap hari Yuzu-nee bermesraan dengan liar bersamaku dan Masaki-san."
"Ber-bermesraan dengan liar... ma-maksudnya bagaimana?"
"Sini telinganya."
Fuuka perlahan mendekati Sara dan membisikkan sesuatu tepat di telinganya.
"Eh? Eeeh? Ha-hal seperti itu... mm? Tunggu, itu maksudnya apa? Untuk apa melakukan hal semacam itu... eeeh! Tidak mungkin, kan!?"
Fuuka membisikkan sesuatu, dan mata Sara membelalak lebar sambil mengeluarkan suara yang melengking kaget. Kalau ini di komik, mungkin kuncir dua pirangnya sudah mencuat saking terkejutnya.
Fuuka, apa sebenarnya yang kau bisikkan padanya...?
"He-hei, kau... tadi kau bilang namamu Nakaba, kan!"
"Akhirnya kau memanggil namaku juga."
Padahal pacar-pacarku saja memanggilku dengan nama keluarga, tapi Sara malah memanggilku dengan nama depan. Yah, Naraka pun memanggilku "Nakaba-san", jadi aku tidak terlalu keberatan.
"Yu-Yuzuki-chan curang! Sara juga... a-ajari hal-hal mesum juga, dong!"
"Hah!?"
Aku sudah beberapa kali mendengar kalimat serupa sebelumnya──
Tapi sepertinya, meski aku mendengarnya seratus kali pun, aku akan tetap terkejut dengan cara yang sama.
"Sara, kau sadar tidak? Apa kau sedang kelelahan?"
"Aku sadar dan aku sangat bersemangat! Kalau begini terus, persaingannya jadi tidak adil!"
"Salah satu dari sekian banyak mantan pacarmu yang kau gonta-ganti itu, bukankah mereka mau membantu kalau kau minta?"
Balasku tanpa merasa terkejut lagi. Aku tidak bisa berkali-kali melakukan hal aneh kepada gadis yang bahkan bukan pacarku.
"It-itu tidak ada! Baiklah, Furukawa Sara mengaku belum pernah punya pacar sekalipun seumur hidup! Laki-laki yang mendekatiku selalu orang-orang aneh!"
"Tidak perlu bicara formal begitu."
"Masaki-san, jangan terlalu merundungnya, kasihan."
"Apa aku yang salah di sini...?"
Tapi memang benar, jawabanku tadi agak jahat. Aku harus introspeksi diri.
"Pokoknya tenanglah, Sara. Ini baru ketiga kalinya kita bertemu muka. Apa pun yang kau lakukan itu kebebasanmu, tapi tidak perlu menjadikanku sebagai lawan bicaramu soal itu."
"Fu... fufufu... Aku akan merebut pacar Yuzuki-chan... Sara akan menjadi wanita nakal..."
"............"
Begitu dia mengatakannya dengan lantang, aku yakin dia tidak akan pernah bisa menjadi wanita nakal.
"Kau bebas saja kalau mau mencoba merebutku, tapi aku sama sekali tidak berniat pacaran dengan siapa pun selain Yuzuki dan Fuuka."
"...Begitu ya."
Tiba-tiba Sara menatapku dengan ekspresi serius.
"Tapi ya, Nakaba."
"Hmm?"
"Entah kenapa... kalau itu kau, sepertinya tidak apa-apa."
"Tidak, serius, kenapa bisa begitu?"
Seharusnya, orang dengan tampang sepertiku ini biasanya akan membuat orang takut hanya dengan berada di sampingnya saja. Kenapa dia malah ingin melakukan hal mesum denganku....
"Lagipula, Yuzuki tidak mungkin mengizinkannya, kan? Secara teknis kau bilang ingin merebutku darinya."
"Kalau saya sih mengizinkan, lho."
"Meski Fuuka mengizinkan pun..."
"Apa Masaki-san lupa?"
Fuuka menunjuk ke arah Yuzuki yang sedang berbicara dengan staf di kejauhan.
"Kami adalah Dual Twin──kami berdua berbagi perasaan yang sama sebagai satu kesatuan."
"...Maksudmu kalau Fuuka mengizinkan, berarti Yuzuki juga mengizinkannya?"
Fuuka mengangguk mantap menjawab pertanyaanku.
Sejauh ini, memang begitulah kenyataannya. Yuzuki dan Fuuka selalu memiliki pemikiran yang sama, mereka jatuh cinta padaku di saat yang bersamaan, dan masih mencintaiku hingga sekarang.
Apa benar tidak apa-apa jika aku sampai bersentuhan fisik dengan Sara juga...?
Double Mind—aku memiliki dua kepribadian yang sama persis, dan kedua kepribadian itu berpikir secara bersamaan di dalam otakku.
Jawaban untuk tawaran Sara adalah—ya.
Jika Fuuka mengizinkan, maka Sara yang merupakan "bonus" dari Yuzuki pun bisa kuterima bersamaan dengan Yuzuki. Padahal aku benar-benar seharusnya hanya menyukai Yuzuki dan Fuuka, tapi kenapa bisa jadi begini? Aku sendiri pun merasa heran.
Kami telah kembali ke Grand Liversia Yomihama.
Yuzuki belum pulang karena harus mendiskusikan foto-foto tadi dengan staf di kantor agensinya. Jadi, aku, Fuuka, dan Sara pulang bertiga. Karena sepertinya ada orang-orang berniat buruk yang menguntit Sara, aku merasa tidak bisa membiarkannya pulang sendirian. Sampai di sini sih masih normal, tapi—
"Heh, ini pertama kalinya aku datang ke lantai dua."
"Aku juga. Rasanya interior lorongnya sedikit berbeda ya..."
"Berisik. Lagi pula, lantai ini tidak menghabiskan biaya sebanyak lantai paling atas, kok. Sudahlah, lewat sini."
Sara berjalan cepat di lorong lantai dua dan membuka pintu ruangan di ujung jalan. Masuk ke rumah seorang gadis masih terasa agak canggung bagiku... tapi karena Sara bersikeras ingin di kamarnya saja, mau tidak mau aku mengikutinya.
"Tenang saja, di rumah Sara cuma ada ayah, dan Papa juga hampir tidak pernah pulang ke rumah."
"Ayahmu itu kalau tidak salah presiden direktur perusahaan yang berhubungan dengan keluarga Tsubasa, kan?"
"Apa, kau tahu? Iya benar, dia itu pelayan di rumah Yuzuki-chan."
"Pelayan, katamu..."
Sara ini punya kepribadian yang rumit; sikapnya angkuh tapi sifat rendah dirinya parah sekali.
Singkat kata, aku dan Fuuka dipersilakan masuk ke kediaman Furukawa. Bagian dalam kamarnya terlihat mirip dengan kediaman Tsubasa atau kamar pelayan, tapi mungkin ada sedikit perbedaan. Apa benar kata Sara kalau lantai paling atas memang lebih mahal biaya interiornya?
"Di ruang tamu saja tidak apa-apa, kan? Setidaknya aku akan buatkan teh—"
"Wah, Sara-san, apa itu?"
"Apa maksudmu... kyaaaaa! Gawat, aku lupa menutup pintunya!"
Saat berjalan di lorong, Fuuka menghentikan langkahnya dan mengintip ke salah satu ruangan. Meskipun tidak sopan, tapi karena pintunya terbuka, ya mau bagaimana lagi kalau terlihat. Ruangan itu sepertinya kamar Sara.
Kamarnya didominasi warna merah muda, mulai dari gorden sampai tempat tidur, benar-benar terasa seperti kamar gadis yang manis. Namun, ada satu hal—
"Itu Yuzu-nee, kan?"
"Ka-kau melihatnya...! Padahal belum pernah ada orang yang melihatnya!"
Sara panik dan langsung melompat masuk ke kamar, menutupi sesuatu yang tampak seperti poster yang tertempel di dinding dengan tubuhnya. Poster di belakang Sara itu tak salah lagi adalah foto Yuzuki.
"Yah, aku sudah melihatnya dengan jelas, jadi percuma saja kau sembunyikan sekarang..."
"Benar. Lagipula, bukankah itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan?"
"Ta-tapi...!"
Sara menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat sampai kuncir dua pirangnya ikut bergoyang. Entah bagaimana, aku dan Fuuka akhirnya ikut masuk ke kamar Sara.
"Habisnya, nanti aku dikira penggemar berat Yuzuki-chan!"
"Kau memang penggemar fanatiknya, kan, Sara?"
"Uuuu... tamatlah riwayatku."
"Kau pikir kau panglima perang zaman Sengoku, apa?"
Sara terduduk lemas di depanku. Dengan begitu, posternya sekarang terlihat jelas. Di poster itu, Yuzuki memakai topi cap, jaket pendek dengan tanktop, dan mengenakan jins slim fit.
"Jarang-jarang dia terlihat agak boyish begini."
"Dulu ada masa di mana Yuzu-nee sering berpakaian seperti ini. Meski belakangan ini dia lebih sering bergaya manis atau seksi."
"Begitu ya... tapi poster ini lumayan besar. Apa majalah fesyen remaja memberikan bonus poster sebesar ini?"
"Entahlah, setahu saya Teen Girl tidak pernah memberikan bonus poster. Sara-san, Anda dapat ini dari mana?"
"...Aku minta data fotonya dari bagian editorial, lalu mencetaknya di toko khusus."
"Berarti kau memang penggemar fanatik, kan?"
Normalnya orang akan minta fotonya lalu cukup dilihat lewat ponsel saja.
"Aku ingin memandangi Yuzuki-chan lewat poster besar setiap hari... aku ingin sekali memandanginya...!"
"Tidak perlu bicara seperti sedang memberikan pengakuan dosa yang berat begitu. Yah, punya poster saja kan tidak apa-apa."
Kenyataannya, itu bukan hal yang perlu disembunyikan atau dipermalukan.
"A-anu, tolong rahasiakan ini dari Yuzuki-chan ya? Karena rasanya menjijikkan kalau dia tahu aku sefanatik ini."
"Karena saya sudah tahu, itu sama saja dengan Yuzu-nee tahu, lho."
"Eeeh! Ka-kalian bersaudara terhubung lewat telepati, ya!?"
"Tidak sampai sejauh itu, sih. Hanya saja, saya tidak ingin punya rahasia dengan Yuzu-nee."
"Tapi privasi orang lain kan beda urusannya! Tolonglah, aku akan lakukan apa saja!"
"Ah, maaf, saya cuma bercanda. Saya juga tahu kok mana yang boleh dikatakan dan mana yang tidak. Tapi kurasa Yuzu-nee malah akan senang. Saya bisa merasakannya."
"Be-benarkah? Kalau adiknya yang bilang begitu mungkin benar... tapi kalau sampai Yuzuki-chan merasa jijik padaku, aku tidak punya pilihan selain mengakhiri hidup..."
Sara terus bergumam hal-hal yang menyeramkan. Bukankah lebih tepat disebut penggemar yang merepotkan daripada penggemar fanatik?
"Lupakan soal itu, mumpung ada tempat tidur di sini, di sini saja tidak apa-apa, kan?"
"Eh! A-apa yang ingin kau lakukan pada Sara!?"
"Bukankah kau ingin merebut Masaki-san dari Yuzu-nee?"
"Ah, benar juga... lalu, sekalian saja aku menjadi Sara yang seksi agar bisa melampaui Yuzuki-chan di pemotretan bertema seksi berikutnya."
"Jadi itu cuma 'sekalian' saja, ya?"
Kalau dipikir-pikir, dulu aku juga pernah melakukan hal mesum kepada Riina agar dia bisa mendapatkan aura sensual dalam dirinya. Apakah karena majalah fesyen sedang marak dengan edisi khusus seksi, sehingga jumlah siswi SMA yang ingin tampil menggoda jadi meningkat?
"Kalau dipikir-pikir, Sara mungkin sudah cukup menggoda. Hanya saja kurang berisi; kalau ditambah sedikit lemak, tubuhnya akan jadi erotis, melampaui Yuzuki-chan, dan impian untuk go international pun bukan sekadar mimpi lagi."
"Tiba-tiba saja muncul impian yang besar ya."
Tapi, memang benar kalau dia kurang berisi. Sara itu sangat mungil... atau lebih tepatnya, terlalu kurus. Mungkin karena aku baru saja melihat setiap sudut tubuh Alice yang montok, makanya dia terasa jauh lebih kurus.
"Benar juga, laki-laki cenderung menyukai tubuh yang agak berisi, empuk, dan lembut. Omong-omong, tubuhku ini sedikit berlemak tapi tetap ramping."
"Kau sedang pamer, ya!? Sara sudah mati-matian diet untuk membentuk tubuh ini! Banyak pembaca Teen Girl yang mengagumi tubuh ramping Sara, tahu!"
"Kalau begitu, bukankah begini saja sudah cukup?"
"En-entahlah..."
Sara memegang pinggangnya sendiri sambil memiringkan kepala.
"Be-benar juga! Nakaba, lihat tubuh Sara!"
"Aku sedang melihatnya, kok."
"Bukan begitu, tapi di balik baju! Garis tubuhku! Akan kuperlihatkan tubuh ramping ini! Anggap dirimu beruntung, jadi bersyukurlah!"
"Tunggu, tunggu, jangan-jangan kau, Sara...!"
Di depanku, Sara melepas jaket denim yang dikenakannya. Kini dia hanya mengenakan tanktop dan hot pants.
"A-aku sama sekali tidak malu. Model profesional itu sudah biasa berganti baju di depan staf laki-laki saat peragaan busana!"
"Kau kan model pembaca."
"Ti-tidak apa-apa! Se-segini saja... tidak masalah!"
Sara memejamkan kedua matanya seolah sudah memantapkan hati, lalu dengan lincah melepas hot pants yang dikenakannya. Di balik tanktop itu, dia mengenakan celana dalam merah muda yang lucu.
"I-ini juga... yang ini juga boleh!"
Setelah meneriakkan sesuatu yang tidak jelas, Sara melepas tanktopnya dengan penuh semangat. Isinya adalah bra berwarna merah muda lucu yang senada. Tayun, payudaranya yang besar bergoyang pelan karena efek gerakan saat melepas tanktop tadi.
"Wah, Sara-san... bentuk tubuhmu luar biasa ya."
Fuuka menutup mulut dengan kedua tangannya, tampak terkesan. Entah hanya perasaanku saja, tapi pipinya tampak merona merah.
"Be-begitulah. Seorang model harus selalu menahan diri dan menjaga bentuk tubuhnya. Bagaimana menurutmu, Nakaba?"
"...Kau benar-benar tidak makan ya. Biasanya kau makan apa?"
"Apa itu kalimat pertama yang keluar saat melihat siswi SMA hanya mengenakan pakaian dalam!?"
"Yah, maksudku... aku memang merasa ini hebat, sih."
Sara adalah gadis yang sangat cantik dengan rambut pirang kuncir dua. Saat gadis secantik itu hanya mengenakan bra dan celana dalam, normalnya orang akan merasa bergairah. Hanya saja—
"Bagaimana ya mengatakannya, kau lebih terlihat seperti boneka daripada manusia sungguhan."
"Aku mengerti maksudmu. Rasanya seperti melihat action figure gadis cantik skala 1:1 ya."
"Bo-boneka... fi-figure, katamu!"
Mungkin karena kurang berisi, dia jadi tampak seperti buatan. Ah, rasanya tidak sopan kalau aku mengatakannya begitu....
"Mungkin karena proporsi tubuhmu yang tidak seperti manusia biasa, makanya kami berpikir begitu."
"Itu bukan pujian, kan!"
Sara tampak geram sambil tetap setengah telanjang.
Hmm, jadi begini ya tubuh seorang model.... pinggangnya sangat ramping, dan pahanya jenjang serta kecil. Tanpa melebih-lebihkan, sepertinya tidak ada lemak berlebih barang satu gram pun di tubuhnya.
"Mungkin benar kata Fuuka, laki-laki mungkin lebih suka yang sedikit berisi..."
"A-apa benar begitu!?"
"Sara, bisa kau berbalik ke belakang?"
"Be-belakang? Be-begini saja sudah cukup?"
Sara yang ternyata sangat penurut itu membalikkan punggungnya ke arahku. Punggungnya pun sangat kurus hingga tulang belikatnya terlihat jelas. Dan juga, bokong putih yang dibalut celana dalam merah muda itu....
"Beda sekali dengan bokong Alice ya."
"Iya, perbedaannya terlalu jauh dengan Alice-chan."
"Alice? Kau menyebut nama itu lagi, kan? Nama itu sebenarnya—"
"Ah, jangan dipikirkan. Dia teman aku dan Fuuka."
Rasanya tidak enak jika membandingkannya dengan bokong Alice yang luar biasa montok.
"Pasti berat sekali membuang lemak sampai sejauh ini... jangan-jangan, kau benar-benar tidak makan ramen?"
"Ra-ramen...?"
Sara menoleh sambil bergumam, dan dari mulutnya menetes sedikit air liur.
"Ah! Ang-anggap kau tidak melihat yang tadi!"
Dengan panik, Sara segera mengusap mulutnya dengan punggung tangan.
"Ra-ramen... Tantanmen, gyoza, nasi goreng selada... aguuuuh...!"
"Tantanmen, gyoza, dan nasi goreng selada ya. 650 yen, 380 yen, 720 yen, totalnya jadi 1.750 yen."
"Kau ini penjual ramen, ya!?"
"Ups, aku refleks menghitungnya. Aku memang tukang ramen. Lebih tepatnya anak pemilik kedai ramen. Kedai kami murah dan enak, lho."
"A-aku... tidak mau makan! Model profesional tidak makan ramen!"
"Menahan diri itu tidak baik bagi kesehatan. Sesekali kau harus mengisi asupan makanan Tionghoa. Mau datang ke kedaiku? Nanti aku traktir."
"Sudah kubilang, jangan mengajak makan ramen saat ada gadis setengah telanjang di depan matamu! Da-daripada itu... bukankah ada hal lain yang harus dilakukan!?"
"Benar juga. Omong-omong, Sara-san, bentuk tubuhku ini sama persis dengan Yuzu-nee."
"Apa... lho, Fuuka-chan, sejak kapan kau juga melepas baju!?"
"Fu-Fuuka!?"
Tanpa kusadari, Fuuka sudah melepas pakaian anggun ala nona mudanya dan kini hanya mengenakan pakaian dalam. Dia mengenakan bra sutra putih yang elegan dan stocking hitam. Di balik stocking itu, pakaian dalam putihnya terlihat samar-samar—
"Kalau ingin menang melawan Yuzu-nee, paling mudah adalah dengan membandingkannya denganku. Kau tidak mau kan kalau harus membandingkannya langsung dengan Yuzu-nee?"
"Be-benar juga. Kalau aku melihat Yuzuki-chan memakai pakaian dalam, aku bisa mati kehabisan darah karena mimisan..."
Bukannya penggemar fanatik, sepertinya ada kemungkinan dia ini hanya orang aneh yang mesum.
"Eh, tapi tunggu! Kalau bentuk tubuhmu sama dengan Yuzuki-chan... bukankah itu sama saja dengan melihat Yuzuki-chan memakai pakaian dalam!?"
"Aku dan Yuzu-nee adalah orang yang berbeda, lho?"
"............"
Fuuka tersenyum manis, tapi nada bicaranya tidak menerima bantahan. Ia menegaskan bahwa dirinya adalah bonus dari kakaknya, wajah dan tubuh mereka sangat mirip, mereka adalah saudara kembar takdir sekaligus Dual Twin—keluarga Tsubasa ini...
Apakah masing-masing dari mereka mulai memisahkan diri menjadi individu yang berbeda...? Atau jangan-jangan, memang begitulah keadaan yang alami bagi mereka.
"Yah, kalau aku mewarnai rambutku jadi cokelat, orang tidak akan bisa membedakanku dengan Yuzu-nee lagi. Mau aku warnai sekarang?"
"Ti-tidak perlu sampai sejauh itu."
Sara menggelengkan kepalanya dengan kuat.
Aku baru ingat lagi setelah sekian lama, rambut asli Yuzuki dan Fuuka memang berwarna cokelat, dan Fuukalah yang mewarnainya menjadi hitam.
"Kalau begitu, meski agak terlambat, mari kita mulai, Sara-san."
"Mu-mulai apa..."
"Aku akan mengajarimu apa saja yang dilakukan Yuzu-nee bersama Masaki-san. Kalau kau ingin menang melawan Yuzu-nee, kau harus tahu segalanya tentang dia."
"He-hei, Fuuka...!"
Apa dia benar-benar berniat memulainya dengan Sara?
"Ba-baiklah."
"Kau setuju begitu saja!?"
"Entah kenapa, aku merasa kalau itu Nakaba tidak apa-apa... dan entah mengapa keberadaan Fuuka-chan di sini membuatku merasa tenang, tahu."
"Apa maksudnya itu...?"
"Sara juga tidak tahu. Tapi mungkin paling mudah menjelaskannya karena dia adiknya Yuzuki-chan. Kalau adiknya Yuzuki-chan, aku bisa percaya padanya."
"Iya, meski kembar, aku tetaplah sang adik. Terutama di keluarga kami, meski kembar, perbedaan antara kakak dan adik sangatlah jelas."
"Begitu ya... Ngomong-ngomong, Sara juga statusnya seorang adik, kan."
"Apa maksudmu dengan 'statusnya'?"
Aku refleks ikut menimpali percakapan antara Fuuka dan Sara.
"Ah, bukan apa-apa. Aku hampir melupakannya sampai detik ini. Daripada itu... Nakaba, Fuuka-chan, ajari Sara apa yang kalian lakukan pada Yuzuki-chan!"
"............"
Sepertinya hal ini benar-benar akan terjadi.
Meski begitu, aku bohong jika bilang tidak tertarik pada tubuh Sara yang memiliki proporsi luar biasa itu....
"A-apa yang harus kulakukan? Sara akan melakukan apa saja demi menang melawan Yuzuki-chan!"
"Sikap itu adalah sesuatu yang harus kupelajari juga ya."
"Begini ya, Fuuka. Kau pun ikut-ikutan..."
Upaya Fuuka untuk lepas dari status "bonus"—apakah itu berarti Fuuka ingin menang melawan Yuzuki? Apa yang harus dilakukan agar bisa menang... mungkinkah itu berarti aku dan Fuuka harus melewati batas itu lebih dulu daripada Yuzuki?
"Pertama-tama, serahkan tubuhmu pada Masaki-san. Tenang saja, Masaki-san sudah banyak latihan untuk bisa memanjakan kami."
"Be-begitu ya. Bi-bisa diandalkan juga ya."
"............"
Seharusnya di bagian "latihan" itu kau melayangkan protes, dong.
Yah, memang benar aku disuruh latihan oleh si pelayan kembar itu, sih. Karena aku sudah mendapat izin dari Fuuka—dan juga dari Yuzuki—kurasa aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya.
"A-apakah pose seperti ini terasa seksi?"
"Hmm..."
Sara meliukkan tubuhnya di atas tempat tidur, mencoba berpose semaksimal mungkin sesuai kemampuannya. Memang terlihat erotis, tapi rasanya ada yang kurang....
"Begitu ya, berbeda dengan saat aku berlatih memunculkan aura sensual bersama Riina dulu, kali ini tujuannya sudah jelas, yaitu untuk menang melawan Yuzuki."
"Ri-riina?"
"Jangan dipikirkan. Hanya saja, ini bukan sekadar soal berpose."
"Benar... Yuzu-nee terlihat paling mesum saat sedang disiksa oleh Masaki-san. Dengan penampilan mesum, dia mengeluarkan suara yang mesum juga."
Fuuka duduk di pinggir tempat tidur, ikut mengamati Sara.
"Aku mau itu! Nakaba, siksa Sara juga agar jadi mesum... agar lebih mesum dari Yuzuki-chan!"
"Kalimat macam apa itu... ah, sudahlah."
Untuk saat ini, aku ikut naik ke tempat tidur dan perlahan meremas dada Sara dari balik bra merah mudanya.
"Kyaa..."
"Hmm?"
"A-ada apa? Apa ada yang aneh dengan dadaku?"
"Bukan begitu..."
Ada sensasi yang terasa familiar di tanganku.
"Hanya saja, karena payudaramu besar sementara tubuhmu kecil, rasanya agak unik."
Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya dan mulai menikmati payudara ini agar Sara mulai mendesah.
"Ternyata aneh ya—ah, nngh, a-apa ini, rasanya luaaar biasaaa ♡"
"Eh, baru mulai sudah langsung merasa... Sa-Sara-san, jangan-jangan kau aslinya memang gadis yang mesum?"
"Bu-bukan! Aku kan tidak gonta-ganti pacar!"
Wajah Sara memerah padam sambil meliukkan tubuhnya. Tidak diragukan lagi, ini pasti pertama kalinya bagi dia.
Hanya saja aku merasa, baik diriku maupun Sara, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari biasanya...?
"Aku harus menyiksamu lebih banyak lagi..."
"Yann! Ka-kau mau melihatnya tiba-tiba!?"
Aku menurunkan bra Sara ke bawah, membiarkan payudaranya membal keluar. Meskipun tubuhnya ramping, volume payudaranya sangat melimpah, kencang, dan kenyal seperti puding. Ukuran areolanya yang pas dengan ukuran payudaranya juga sangat bagus.
"Sepertinya aku harus menggunakan mulut juga..."
"M-mulut... yaann! ♡"
Begitu aku menjilat payudaranya, Sara langsung bereaksi.
Sambil seolah mengulum seluruh payudaranya, aku memainkan ujung putingnya dengan ujung lidah dan menjilat-jilat area sekitarnya.
Ooh, entah kenapa rasanya seperti pernah kurasakan sebelumnya... padahal tidak mungkin aku pernah mencicipi puting seorang model yang sedang naik daun begini.
"Yaa, jangan begitu, kalau dijilat-jilat... pu-putingku, yann, jadi mengeras tahu! ♡"
"Sara-san, kau benar-benar berantakan ya. Kami pun punya sensitivitas tinggi dan selalu cepat mencapai puncak, tapi kau terlalu sensitif..."
"Benar juga."
Aku menegakkan tubuh, lalu sambil meraba bokong Fuuka dari balik stocking-nya, aku menyatukan bibir kami.
"Hah, nnh, mmmu... kau melakukannya untukku juga ya, Masaki-san ♡"
"Tentu saja, bagaimanapun juga pacarku itu kau, Fuuka."
"Benar... hamu, nnh, mmmu... tapi, buatlah Sara-san lebih menikmati ini lagi. Aku juga senang melihatnya."
"Ja-jangan menjadikanku tontonan... padahal kau gadis yang cantik, tapi ternyata cukup jahil ya... hah, ahh, putingku, digigit! ♡ Ba-bahkan kalau kau melakukannya lebih kuat lagi... se-sepertinya tidak apa-apa! ♡"
"Uwoo."
Saat aku kembali merunduk dan menjilat putingnya, Sara memegang kepalaku dan menariknya seolah ingin membenamkan wajahku ke dadanya. Meski ini perkembangan yang tiba-tiba, dia benar-benar agresif secara mengejutkan.
"Ha-hanya dadaku yang besar... jadi mungkin aku punya percaya diri di sini. Meski aku malu karena pu-putingku juga besar..."
"Tidak, ukuran sebesar ini justru erotis. Aku ingin merasakannya lebih banyak lagi."
Aku membenamkan wajah di antara payudara Sara, meremasnya sambil terus menjilat putingnya yang menonjol. Dan kemudian──
"Kyaa, di sini juga... ah, aaah...!"
Aku mengulurkan salah satu tangan, menyentuh area intim Fuuka dari balik celana dalam yang transparan di balik stocking-nya. Aku mengelusnya seolah sedang menelusuri permukaannya, membuatnya mengeluarkan suara rintihan yang manis.
"Ma-Masaki-san, tiba-tiba di situ... ah, haahh ♡"
"Ke-kenapa ya... mendengar suara Fuuka-chan membuatku merinding dan bergairah..."
Kau mengatakan hal yang cukup menyeramkan, Sara. Apa gadis sependiam Fuuka ini merasa bergairah saat sedang "disiksa"? Apa dia seorang sadist?
"Ha-haah... Sa-Sara kan tidak punya bagian lain yang bisa disiksa selain payudara..."
"Kenapa tiba-tiba begitu. Tapi, pinggang ramping ini... kalau dilihat langsung justru terasa erotis."
"Eh."
"Pinggangmu benar-benar ramping ya...!"
Aku mencoba mencengkeram pinggang Sara yang sedang berbaring telentang dengan kedua tanganku. Begitu menyentuhnya secara langsung, aku terkejut betapa kecilnya pinggang ini. Ternyata terasa cukup lembut dan tidak terlalu terasa menonjol tulangnya... tapi tetap saja, ini terlalu ramping.
"Sara, seriuslah, datanglah ke rumahku... aku akan mentraktirmu ramen."
"Ja-jadi, lain kali ya... hari ini sebelum itu... Sa-Sara punya bagian situ juga... boleh, kok."
"Ooh..."
Aku mengeluarkan milikku, lalu menggesekkan ujungnya berkali-kali ke arah area intim Sara dari balik celana dalam merah mudanya.
"Kyaa, sesuatu yang sebesar itu... ah, a-aku bisa merasakan betapa kerasnya... ♡"
"Bagian Sara yang ini sudah terasa panas, lho."
"Ja-jangan, jangan dikatakan... Sa-Sara juga berpikir apa yang sedang kulakukan, tapi entah kenapa ini tidak bisa berhenti!"
Sara terus mengeluarkan suara rintihan yang manis dan melengking saat area intimnya digesek oleh milikku.
"Masaki-san... untukku juga... nnh, mmu..."
Selagi aku mencengkeram pinggang ramping Sara dan menggesekkan milikku ke area intimnya, Fuuka menegakkan tubuh dan memelukku. Aku menoleh ke arahnya, lalu menyatukan bibir kami sejenak sebelum berlanjut.
"Hah, ahh... pa-payudaraku juga... si-silakan... ♡"
"Aku akan mengisap yang ini juga."
Sambil terus menyiksa Sara, aku mendekatkan wajah ke payudara Fuuka, mengulum putingnya ringan dan menyesapnya pelan.
"Lu-luar biasa... Sara, sambil digesek di situ, annh, aku melihat pemandangan payudara Fuuka-chan sedang diisap... ♡"
"Sara, bisa angkat pinggangmu lebih tinggi lagi?"
"U-um... ah, aaahh ♡"
Aku menggerakkan pinggangku dengan lebih bertenaga, menggesek area intim Sara lebih dalam lagi. Bagian itu sudah basah kuyup, dan sesuatu seolah mulai meluap keluar.
"Kyaa, ahh, sudah, tidak boleh, diperlakukan begitu, tidak sangguup! ♡"
Sara menggeliat, dan kali ini dia berganti posisi menjadi telungkup. Posisi ini membuat bokongnya yang kecil namun tampak empuk menonjol ke arahku.
"Po-posisi mesum seperti ini... pa-padahal tidak akan pernah kulakukan saat pemotretan."
"Tentu saja..."
Mungkin hanya model majalah dewasa yang berpose seperti ini. Bokong Sara benar-benar kecil dan menggemaskan──aku menekan milikku ke sana, dan mulai menggeseknya di antara bokong yang lembut itu.
"Ah, yann, di sini juga... ahh, padahal aku sudah tidak kuat, tapi di bokongku, di bokong Sara yang kecil ini, kalau ditekan sekuat itu...!"
Sara menggoyangkan bokong kecilnya, seolah mencoba menekannya ke milikku. Aku menahan bokong Sara dengan satu tangan seolah meremasnya, lalu menggesekkannya dengan keras ke daging bokongnya.
"Aaahh, sudah, tidak boleh, Nakaba, di bokong sudah tidak kuat lagi... ti-tidak apa-apa begini saja, keluarkan saja di bokong Sara ♡"
"A, aa..."
Aku mengangguk dan mempercepat gerakan pinggangku. Tubuh Sara bergetar hebat, ia mendorong bokongnya ke arahku dan──
"Ma-Masaki-san, denganku juga untuk penutupnya... hamu, nnh ♡"
Sambil sekali lagi berciuman dengan Fuuka yang mendekatkan tubuhnya. Aku melepaskan milikku yang tadi menempel di bokong Sara, lalu cairan yang memancar dari ujungnya membanjiri bokong mungil itu dengan deras.
"Ha-haah... di bokong Sara, ada sesuatu yang panas... Sara, baru pertama kali merasakan sesuatu yang sepanas dan sehebat ini ♡"
"............!"
A-ada apa ini!?
Melihat sosok Sara yang sedang menggetarkan bokongnya yang banjir cairan panas──
Untuk sesaat, entah kenapa terbayang bayangan Alice yang mengambil posisi serupa, mengarahkan bokongnya yang besar dan montok ke arahku. Padahal ukuran bokong mereka sangat berbeda, tapi kenapa aku jadi teringat Alice...?
"Ke-kenapa, Nakaba...? Apa mau lagi...?"
"Ti-tidak, ronde kedua secara tiba-tiba itu agak berat."
"Kalau begitu, mari kita bersihkan dengan benar."
Fuuka merunduk di depanku yang terduduk di tempat tidur. Kemudian, dia mulai menjilati ujung milikku.
"Be-bersih-bersih... ka-kalian melakukan sampai sejauh itu?"
"Ah, Sara-san tidak perlu memaksakan diri, kok."
"Sa-Sara juga mau melakukannya! Ha-hanya perlu menjilat yang ini, kan!"
"Lalu, karena biasanya masih banyak yang tersisa di dalam, mari kita isap keluar."
"Ugh... ba-baiklah, aku mengerti!"
Dia jadi mengerti, ya....
"Be-begini... nchuu ♡"
Sara ikut merunduk di samping Fuuka... ia memejamkan kedua mata dan memberanikan diri mencium ujungnya.
"Nnh, jilat, mmu, nnh... rasanya aneh... ini yang tadi dikeluarkan di bokong Sara ya."
"Benar, kau harus menjilatnya sampai lebih bersih lagi... begini caranya."
Fuuka menekan lidahnya yang mungil ke ujung milikku, lalu menjilat-jilatnya. Sara tidak mau kalah, ia menjulurkan lidahnya untuk menjilat ujungnya──lalu saat Fuuka memberi ruang, Sara mengulum milikku ke dalam mulutnya dan menyesapnya kuat-kuat.
"Nnh, mmu, nnnnh... mmu, mmuu... a-apa begini sudah terisap?"
"A, aa, Sara, rasanya enak sekali..."
Aku refleks mencengkeram salah satu kuncir dua Sara.
"Aduh, jangan tarik kuncirku... nnh, mmu, nnnnh... se-semuanya sudah kuisap habis. Apa sudah selesai?"
"Terakhir, mari kita berdua memberinya ciuman."
"Be-benar juga. Nnh... chu ♡"
Fuuka dan Sara secara bersamaan mengecup ujung milikku berkali-kali.
Ooooo... ciuman ganda di akhir tadi bahkan terasa paling nikmat.
"Hah... kalian luar biasa, Fuuka, Sara."
Aku meletakkan tanganku di atas kepala Fuuka dan Sara, mengusapnya pelan.
"Terima kasih, Masaki-san. Sara-san, apa Anda merasa sudah bisa menang melawan Yuzu-nee?"
"Ka-kalau hanya ini saja belum cukup, kan. Ini kan pertama kalinya bagi Sara... jadi, aku harus berusaha lebih keras lagi. Boleh kan aku berusaha lebih keras?"
Hamu, Sara kembali mengulum ujung milikku dengan ringan, menyesapnya, lalu menatapku dengan tatapan memohon dari bawah.
Benar-benar seorang model pembaca yang populer... wajahnya luar biasa cantik. Terlebih lagi, dia merayu sambil mengulum milikku... benar-benar terlalu imut.
"Kalau Fuuka dan Yuzuki mengizinkan, ya..."
"Bagaimana menurutmu?"
Fuuka tertawa jahil, lalu dia pun ikut mengecup milikku. Sara tampak sedikit bingung, tapi dia tetap menjilati milikku dari pangkal hingga ke ujung. Benar-benar cepat sekali dia terbiasa melakukan hal seperti ini tanpa penolakan....
"Ah, tapi entah kenapa, aku merasa bisa melakukannya!"
"Bisa apa?"
Saat aku bertanya balik, Sara mengecup milikku sekali lagi lalu berdiri.
"Aku ingin pemotretan sekali lagi! Sara merasa sekarang bisa difoto dengan jauh lebih seksi dan imut! Hei, Nakaba, potretlah Sara!"
Sara segera berjalan menuju pintu kamar dan melambaikan tangan padaku.
"Boleh saja, tapi pakailah bajumu dulu. Aku tidak ingin ada orang lain selain aku yang melihat bokong kecil itu."
"Eh? Kyaa!"
Sara menjerit kecil, menutupi dada dan bokongnya dengan kedua lengannya.
"Ja-jangan melihat, dasar mesum!"
"Setelah puas memperlihatkannya padaku, baru sekarang kau bicara begitu..."
Yah, memiliki rasa malu itu hal yang bagus. Untuk saat ini, sebelum Sara mengenakan bajunya, biarkan aku memandangi bokongnya yang kecil dan imut itu sedikit lebih lama lagi.




Post a Comment