NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V4 Chapter 6

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 6

Kakak Si Kembar Punya Banyak Teman yang Unik

Yuzuki dan Fuuka akhirnya tidak kunjung pulang selama tiga hari sejak saat itu. Menurut penjelasan Yuu, sekali mereka kembali ke kediaman utama, akan muncul berbagai tugas yang harus diselesaikan.


"Nona-nona sudah mulai mengambil alih sebagian tugas operasional keluarga Tsubasa," katanya.


Meskipun sebagian besar masih berupa formalitas, tampaknya mereka sudah memiliki "pekerjaan". Padahal anak tukang ramen saja bahkan belum boleh mengiris daun bawang, tapi orang kaya sepertinya sangat cepat dalam mendelegasikan kekuasaan kepada anak-anak mereka. Meski begitu, aku sempat bertemu Yuzuki dan yang lainnya di sekolah, dan kabarnya mereka akan kembali malam ini. Namun, karena Yuzuki sepertinya ada urusan lain, hanya Fuuka yang akan pulang lebih awal.


Selama tiga hari ini, aku sudah bersenang-senang dengan Asa dan Yuu... jujur saja, aku merasa sedikit bersalah. Terutama Yuu, dia luar biasa... dia mengulum milikku sejak pagi, dan begitu aku pulang ke rumah, dia langsung menjepitnya dengan dadanya dan membuatku keluar berkali-kali... Rasanya pasangan pengantin baru yang paling mesra sekalipun tidak akan melakukannya sesering itu.


Intinya, jika berada di rumah, aku pasti akan tenggelam dalam kemolekan tubuh Yuu dan Asa.


Hari ini, setibanya di rumah sepulang sekolah, sepertinya Asa dan Yuu sedang pergi berbelanja berdua. Ada rasa sedikit kecewa, tapi sekaligus lega....


Karena tidak ada gunanya berdiam diri di rumah, aku memutuskan untuk pergi menengok rumah orang tuaku. Terlepas dari Ayah dan Ibu, aku mengkhawatirkan adik perempuanku, Wakaba, yang dalam banyak hal tidak seperti orang normal. Sepertinya kemarin aku sempat membuatnya cemas.


"Hm?"


Begitu aku keluar dari lift apartemen, sebuah pesan LINE masuk ke ponselku. Aku berhenti sejenak di lobi untuk memeriksa isinya.


"Dari Fuuka ya... uwoh!?"


Itu adalah foto selfie Fuuka. Latar belakangnya adalah ruangan dengan interior mewah, langsung terlihat bahwa foto itu diambil di kediaman utama keluarga Tsubasa.


Terlepas dari itu, fotonya memperlihatkan Fuuka dengan seragam yang terbuka di bagian depan dan rok yang tersingkap ke atas. Terlebih lagi, tidak seperti biasanya, dia mengenakan pakaian dalam merah menyala yang sangat mencolok. Selain itu, bra-nya sedikit bergeser, memperlihatkan sekilas area sensitifnya dengan sangat berisiko.


"A-apa yang dikirimkan Fuuka ini?"


Padahal aku sudah terbiasa melihatnya memakai pakaian dalam secara langsung, tapi melihatnya lewat foto di ponsel seperti ini memberikan sensasi erotis yang berbeda....


Tanpa sadar aku menelan ludah.


Ugh, ini karena hari ini aku tidak disambut oleh Yuu yang langsung mengulum milikku begitu aku melangkah masuk ke pintu rumah. Nafsu mulai bergejolak... gawat, aku tidak bisa menemui adikku dalam kondisi bergairah seperti ini.


Wakaba itu kelihatannya saja melamun, tapi sebenarnya dia sangat tajam. Dia bahkan bisa tahu hanya dengan sekali lihat saat aku hendak pergi berkelahi, jadi dia pasti akan dengan mudah menyadari kalau aku sedang dipenuhi nafsu.


Ada apa denganku?


Seharusnya aku bukan budak seks seperti ini. Seharusnya aku orang yang cukup tabah. Kalau diingat-ingat, aku juga sempat menggoda bokong Alice dengan sangat gigih... hm. Mungkin sudah waktunya aku mengevaluasi diri sendiri.


"Po-pokoknya, aku harus keluar dulu. Aku perlu mendinginkan kepala."


Aku membatalkan niat ke rumah orang tua dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar sini. Untungnya, hari ini angin bertiup cukup dingin—setelah berjalan sebentar, mungkin kepalaku bisa sedikit dingin.


"Ugh, anginnya benar-benar kencang. Harusnya aku pakai jaket tebal... eh?"


Begitu melangkah keluar dari lobi apartemen, aku menyadari ada sosok yang berjalan di depanku. Sepertinya dia mendahuluiku saat aku sedang termangu di lobi—rambut pirang twintail, seragam pelaut berwarna biru tua dengan rok pendek. Kaki yang jenjang dari balik rok itu terlihat cukup ramping—namun anehnya pahanya terasa sangat menarik.


Maksudku, kaki ini, sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya....


"Kyaa!"


"............!"


Tepat saat itu, angin kencang kembali bertiup, dan rok gadis berseragam pelaut yang berjalan di depan itu tersingkap sangat lebar. Terlihat bokong kecil yang putih bersih dan kencang. Serta, celana dalam yang hanya seperti seutas tali—celana dalam tali!?


"Aaah!"


"............"


Pemilik celana dalam tali itu segera berbalik. Rambut pirang kuncir dua—tak perlu dikatakan lagi, dia adalah Furukawa Sara. Dengan mata berkaca-kaca, dia melotot ke arahku.


"Ka-kamu melihatnya, kan!?"


"Ya, aku lihat. Kamu pakai T-back yang cukup ekstrem ya..."


"Ja-jangan dikatakan!"


Aku mengakuinya dengan jantan, tapi sepertinya Sara tidak menyukai kejujuranku.


"Ah, begitu ya. Apa itu yang namanya 'pakaian dalam tempur'? Maaf ya, aku melihatnya sebelum kamu pamerkan ke pria incaranmu."


"I-ini bukan pakaian dalam tempur! Tadi pagi aku ada pekerjaan model dan memakai celana ketat—maksudku celana panjang, tahu! Karena memakai celana panjang, aku memilih pakaian dalam yang garisnya tidak terlihat!"


"Bukankah lebih baik kalau ganti di lokasi saja...?"


"Aku tidak mau sampai harus melepas celana dalam di lokasi!"


Sifatnya merepotkan sekali. Tapi, itu tadi bokong yang indah. Benar-benar kualitas model.... dan entah kenapa, bokong itu rasanya tidak asing. Padahal jelas berbeda dengan milik Yuzuki, Fuuka, Asa, Yuu, Riina, Naraka, ataupun Alice.


"A-apa? Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Bukan apa-apa. Lupakan saja, maafkan aku."


"...Yah, tidak ada yang perlu dimaafkan. Itu kan salah angin."


"Begitu ya. Syukurlah."


Sara memang keras kepala dan sedikit menakutkan, tapi sepertinya dia bukan tipe orang yang tidak masuk akal.


"............"


"A-ada apa?"


Baru saja berpikir begitu, Sara kembali melotot ke arahku.


"Sara, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Bukannya kita baru saja bertemu di depan lift kemarin?"


Makanya dia mengajakku bicara. Kalau ini pertemuan pertama, dia tidak mungkin meledak-ledak begini hanya karena celana dalamnya terlihat.


"Bukan itu... maksudku, rasanya seperti pernah bertemu di tempat lain... tidak ya?"


"Kurasa tidak pernah."


"Iya juga ya... Sara bicara apa sih."


Sara menggeleng-gelengkan kepalanya hingga kuncir duanya bergoyang.


"Ah, benar juga. Hei, kamu... sedang senggang tidak?"


"Senggang."


Karena batal ke rumah orang tua, aku memang sedang tidak ada kerjaan.


"Kalau begitu, ikut aku sebentar."


"Hah?"


"Ka-kamu kan sudah melihat celana dalam Sara, jadi turuti permintaan ini!"


"Baiklah."


Memang benar, meski itu salah angin, aku sudah melihat pakaian dalam seorang gadis. Rasanya tidak enak jika tidak melakukan sesuatu sebagai permohonan maaf.


Melihatku setuju, entah kenapa wajah Sara malah jadi penuh curiga.


"Kenapa?"


"He-hei, kenapa kamu langsung mengangguk tanpa tanya alasannya? Bisa saja Sara membawamu ke tempat yang aneh, kan? Tampangmu kan seperti tipe orang yang gampang dijebak sindikat penipuan asmara atau semacamnya?"


"Orang yang mengatakannya sendiri biasanya tidak akan melakukan hal itu."


"Ugh..."


Sepertinya dia paham. Lagipula, aku sudah sering mengalami banyak masalah, dan dengan tampang serta kekuatan fisik ini, aku punya kepercayaan diri untuk melewati situasi apa pun.


"Selain itu, Yuzuki bilang kalau Sara bukan orang jahat. Aku percaya pada kata-kata Yuzuki."


"Yu-Yuzuki? Serius... Serius Yuzuki-chan bilang begitu!?"


Sara menangkup kedua pipinya dan menggeliat kegirangan. Sepertinya Sara tidak hanya menganggap Yuzuki sebagai rival. Tadi dia memanggilnya "Yuzuki-chan"....


"Kyaa!"


"............!"


Tiba-tiba angin kencang bertiup lagi, dan kali ini roknya tersingkap tinggi dari depan. Dari depan pun, potongan celana dalam hitam itu terlihat sangat dalam hingga menampakkan bagian yang cukup pribadi. T-back ekstrem itu ternyata juga terlihat erotis dari depan....


"Tidak disangka dapat bonus 'tampilan celana dalam' lagi..."


"Ja-jangan bilang bonus! Sudah, ayo cepat jalan!"


Sara berjalan sambil memegangi roknya erat-erat. Sepertinya aku tidak akan bisa melihat tampilan ketiga kalinya. Ya, memang lebih baik begitu.


Aku tidak tahu Sara mau ke mana, tapi aku mengikutinya saja. Kami pergi ke stasiun yang berjarak dua menit jalan kaki dari apartemen, lalu naik kereta sekitar dua puluh menit. Sara turun di stasiun yang tidak kukenal, lalu mulai berjalan lagi.


Selama perjalanan kami hampir tidak bicara, tapi aku tidak merasa keberatan. Sejak dulu aku memang pendiam karena tampang sangarku ini sering membuat orang takut hanya dengan bicara.


"............?"


Cara Sara berjalan terlihat agak aneh. Bukannya dia memperhatikanku, tapi dia seperti terlalu waspada dengan keadaan di sekitarnya.


"...Begitu ya."


Aku mempercepat langkah dan berjalan di sampingnya.


"A-apa?"


"Kau tidak apa-apa?" tanyaku dengan suara berbisik.


"A-apa? Apa maksudmu?"


"Kau terlihat seperti pencuri yang sedang mengendap-endap."


"Pencuri!?"


"Hanya bercanda. Habisnya kau terlihat sangat memperhatikan sekitar."


"...Jangan dipikirkan. Tapi, terima kasih sudah berjalan di sampingku. Sangat membantu."


"............"


Aku mengangguk tanpa berkata-kata. Sepertinya aku mulai mengerti alasan kenapa dia tiba-tiba memintaku menemaninya. Sepertinya dia sedang menghadapi suatu masalah dengan orang di sekitarnya──


"Ah, di sini tempatnya. Sudah aman."


"Di sini?"


Itu adalah gedung perkantoran biasa di tengah kota. Gedungnya berlantai lima, terlihat sangat sederhana jika dibandingkan dengan Grand Riversia Yomihama tempatku tinggal.


"Kantor redaksi majalah tempat Sara jadi model ada di sini. Sara datang karena ada urusan pekerjaan."


"Begitu ya, sibuk juga."


Pagi ada pemotretan, lalu setelah sekolah harus ke kantor redaksi.


"Berarti tugasku sampai di sini. Kalau begitu──"


"Tunggu dulu."


Saat aku hendak berbalik di depan pintu masuk gedung, Sara mencengkeram lengan bajuku dengan kuat.


"Antarkan aku pulang juga."


"Yang benar saja."


"Tenang saja, hari ini cuma konfirmasi jadwal, jadi akan cepat selesai. Sekitar dua puluh menit. Kalau sudah selesai, aku traktir minum, deh."


"Ha... baiklah."


Bolehkah aku pergi minum dengan gadis yang bukan pacarku? Sara seharusnya tahu kalau aku pacar Yuzuki, tapi apa dia tidak keberatan? Namun, karena aku sudah mulai paham alasan kenapa Sara ingin aku mengantarnya, rasanya tidak enak juga jika meninggalkannya begitu saja.


Mau tidak mau, aku masuk ke dalam gedung bersama Sara dan tiba di lantai lima menggunakan lift.


"Nanti aku akan jelaskan ke pihak redaksi. Tenang saja—"


"Lho? Masaki dan Sara?"


Di seberang lift, tepat di dekat pintu masuk ruangan yang berisi jajaran meja kerja, ada wajah yang sangat kukenal.


"Yu-Yuzuki?"


"Tsu-Tsubasa ada di sini!?"


Yuzuki masih mengenakan seragam dan membawa tas sekolah, jelas sekali dia baru pulang sekolah. Kalau tidak salah, dia tadi bilang ada urusan sebelum pergi ke kediaman utama....


"Masaki sama Sara sedang apa?"


Tanda tanya seolah muncul di atas kepala Yuzuki. Kami memang terkejut, tapi bagi Yuzuki, kombinasi kami berdua pasti terasa lebih membingungkan.


"Anu, begini. Kami tadi tidak sengaja bertemu di depan apartemen, dan karena dia bilang mau ke kantor redaksi, aku menemaninya. Kebetulan aku sedang senggang."


"Heh, begitu ya."


Yuzuki sepertinya percaya tanpa curiga sedikit pun. Aku merasa bersalah karena berbohong, tapi kurasa alasan Sara memintaku menemaninya bukan sesuatu yang boleh diumbar ke orang lain dengan mudah.


"Te-terima kasih..." bisik Sara pelan sambil melirikku sekilas.


Sepertinya keputusanku untuk berbohong adalah langkah yang tepat.


"Aku cuma penasaran karena belum pernah melihat kantor redaksi. Makanya ikut melihat sebentar. Yuzuki sendiri sedang apa?"


"Cuma mampir main setelah sekian lama. Kan kemarin ada pembicaraan kalau aku belum benar-benar pensiun, jadi aku ingin memastikan bagaimana kelanjutannya."


"Begitu ya."


Rupanya Yuzuki tidak menyerahkan segalanya pada keluarga Tsubasa dan memilih memastikannya sendiri.


"Aku tidak tahu kalau Masaki tertarik dengan kantor redaksi."


"Ah, itu, soal kasus Naraka kemarin juga, kan. Aku jadi sedikit tertarik dengan dunia penerbitan."


Ini bukan bohong. Meski hanya sekadar hobi, aku memang suka membaca novel.


"Yah, tempat ini lebih terasa seperti agensi artis daripada kantor redaksi sih. Lihat-lihat saja sesukamu."


"Ini kan kantormu," ucapku sambil tertawa kecut.


Aku sering lupa belakangan ini, tapi Yuzuki memang seorang pemimpin gyaru dan bertipe ratu.


"Ngomong-ngomong, aku benar-benar buta soal majalah fesyen seperti ini."


"Bukan cuma Masaki, hampir semua cowok pasti tidak tahu. Kamu juga pasti tidak paham soal model pembaca (dokumo), kan?"


"Tepat sekali."


Namanya sering kudengar, tapi aku tidak tahu sistem aslinya seperti apa.


"Ah, coba ke sini sebentar. Sara juga."


Setelah berkata begitu, Yuzuki masuk ke kantor redaksi seolah tempat itu miliknya sendiri, menuju ke ruang kecil yang tampak seperti area diskusi. Ruangannya sempit, hanya ada sebuah meja dan dua kursi. Di atas meja itu bertumpuk majalah-majalah fesyen.


"Karena editor penanggung jawabku sedang tidak ada, aku tadi menunggu sambil melihat majalah lama yang memuat fotoku. Sara, sampul yang ini tidak membuatmu bernostalgia?"


"...Tidak juga."


Sara memalingkan wajahnya. Aku tidak tahu apakah dia menyukai Yuzuki atau menganggapnya rival. Yah, bagi Sara yang masih aktif sebagai model, mungkin melihat majalah lama tidak memberinya kesan emosional yang spesial.


"Hmm, jadi ini majalah yang benar-benar hanya memperkenalkan fesyen wanita ya."


Aku mengambil satu majalah dan membolak-baliknya. Benar saja, ada beberapa halaman yang menampilkan Yuzuki dan Sara. Karena Yuzuki memang selalu modis setiap hari, melihatnya dengan gaya berpakaian yang tertata tidak terlalu mengejutkanku. Foto-fotonya pun terlihat diambil dengan kesan yang cukup alami.


"Jadi, model pembaca itu dipilih dari kalangan pembaca majalah untuk menjadi model ya?"


"Masaki benar-benar belajar dari nol ya. Yah, proses terpilihnya model pembaca itu macam-macam. Kalau model profesional sungguhan, batasan tinggi dan berat badannya sangat ketat, sedangkan model pembaca lebih longgar... tapi belakangan ini sebenarnya cukup ketat juga. Majalah ini, Teen Girl, nomor satu adalah wajah. Terkenal karena seleksi wajahnya sangat ketat."


"Pantas saja kau dan Sara terpilih."


Yuzuki tidak perlu diragukan lagi adalah gadis cantik, dan Sara pun punya kecantikan yang sulit dilupakan sekali lihat.


"He-hei, Tsubasa. Jangan bicara soal majalah kami seolah-olah itu tempat yang kejam begitu dong."


Sara melotot ke arah Yuzuki.


"Majalah kami itu intinya menonjolkan gadis-gadis yang terlihat nyata (life-sized). Memang benar wajah dan proporsi tubuh sedikit berpengaruh, tapi tidak seketat itu. Yang terpenting adalah membuat pembaca berpikir, 'Kalau aku memakai baju ini, mungkin aku juga bisa secantik ini'. Itulah yang ingin kami sampaikan."


"Begitu ya..."


Sara sepertinya punya kebanggaan dalam pekerjaannya. Dia tidak hanya ingin dirinya terlihat cantik di majalah, tapi dia tulus berharap gadis-gadis lain juga bisa menjadi cantik. 


Aku menyukai orang yang punya profesionalisme tinggi seperti itu. Mungkin karena aku tumbuh di kedai ramen keluarga yang meski terlihat berantakan, tetap sangat memperhatikan rasa dan pelayanan.


"Tapi, memilih model dari kalangan pembaca itu sistem yang cukup unik ya."


"Tentu saja, dari dulu sampai sekarang kami masih membuka lowongan di majalah. Tapi belakangan ini, sepertinya lebih banyak editor yang menemukan gadis-gadis cantik lewat media sosial lalu menghubungi mereka. Dulu ada pemandu bakat yang mencari di jalanan, tapi di Teen Girl hal itu sudah tidak dilakukan lagi."


"Yah, mungkin karena sering dianggap mencurigakan."


Wajar saja jika orang mengira itu adalah tawaran pekerjaan paruh waktu yang berbahaya.


"Ngomong-ngomong, aku tipe yang mendaftar sendiri. Dulu ada masa di mana aku sangat terobsesi dengan padu padan baju yang lucu, lalu karena punya foto yang bagus, aku mengirimkannya ke redaksi. Yah, aku masih suka fesyen sampai sekarang, tapi karena semangatnya sudah tidak sebesar dulu, aku berhenti jadi model."


"Keuntungan jadi model pembaca adalah aturannya tidak terlalu mengekang, tapi kau ini terlalu gampang menyerah, Tsubasa!"


Sepertinya Yuzuki dan Sara memang tidak pernah sejalan.


"Ah, lalu bagaimana hasilnya? Yuzuki, apa kontrakmu masih berlanjut?"


"Sepertinya begitu. Dan juga..."


Yuzuki melirik sekilas ke arah deretan meja di kantor redaksi.


"Kau sudah dengar kan, Tsubasa? Benar, akhir-akhir ini Teen Girl sedang turun dan situasinya sulit. Soalnya sekarang semua orang bisa menemukan fesyen lucu lewat media sosial."


"............"


Begitu ya, aku mulai paham ke mana arah pembicaraan ini.


"Tadi aku sempat bicara sebentar dengan Pemimpin Redaksi. Katanya aku dulu cukup populer, dan sampai sekarang pun masih ada permintaan dari pembaca agar aku muncul lagi."


"Benar, itu kenyataannya. Foto-foto Tsubasa memang sangat populer. Pembaca masih menunggumu."


Sara mengatakannya dengan nada sedikit kesal.


Mengingat Sara masih aktif di majalah itu, ini berarti kehadirannya saja tidak cukup untuk menghentikan penurunan jumlah pembaca. Mengakui hal itu pasti terasa menyakitkan baginya.


"Baiklah! Serahkan padaku! Aku akan kembali ke Teen Girl!"


"Horeee! ...Bukan begitu maksudnya!"


Sara sempat mengangkat kedua tangannya sejenak sebelum bersikap tenang lagi──


"He-henh, kau sudah lama meninggalkan lapangan, apa kau yakin masih bisa berpose dan mengatur ekspresi wajah dengan benar? Kalau kau kembali dan hasilnya payah, itu malah bisa membuat jumlah pembaca semakin anjlok, tahu?"


"Aku tahu, aku tahu. Sekarang Sara adalah seniorku, jadi aku akan mengandalkanmu. Kita akan bekerja sama lagi, kan?"


"Be-begitulah."


"Kalau begitu, aku akan bicara pada Pemimpin Redaksi. Masaki, tunggu sebentar ya."


Setelah berkata begitu, Yuzuki berjalan ke arah bagian dalam ruangan.


Keputusan yang cepat dan tegas, pacarku ini benar-benar... bisa dibilang "jantan" ya.


"...Hei."


"Eh?"


Tiba-tiba Sara mendekat ke arahku.


"Dulu Sara sering melakukan pemotretan bersama Tsubasa."


"Hmm? Oh, makanya kalian jadi rival, kan?"


"Bukan sekadar rival... apa kau tahu aku disebut apa dulu?"


"............?"


Aku menggelengkan kepala dalam diam. Mana mungkin aku tahu.


"Pemeran pendamping (barter) Tsubasa Yuzuki."


"Apa itu barter?"


"Secara harfiah artinya pertukaran, tapi dalam dunia hiburan, itu berarti 'paket penjualan'. Maksudnya, memasukkan artis baru yang ingin dipromosikan sebagai satu paket dengan artis yang sudah terkenal."


"Ah..."


Maksudnya seperti: "Kami akan memberikan Artis A yang populer untuk acara Anda, tapi tolong Artis B yang baru ini juga ikut tampil," begitu ya?


"Soal barter itu hal biasa. Sara satu angkatan dengan Tsubasa, jadi kami sering muncul bersama di halaman majalah. Tapi..."


"Masih ada lagi?"


"Kalau disebut barter sih masih mending. Ada sebutan lain yang lebih kejam."


"...Ngomong-ngomong, apa itu?"


Sebenarnya aku tidak ingin dengar, tapi sepertinya dia ingin mengatakannya....


Sara menoleh ke arahku──dan entah kenapa, dia tersenyum manis.


"Furukawa Sara hanyalah bonus dari Tsubasa Yuzuki."



"Haaah, keringat ini rasanya segar sekali!"


"Yuzu, kau memang hebat ya... staminamu tidak ada habisnya?"


Keesokan harinya setelah kunjungan ke kantor redaksi Teen Girl.


Di hadapanku sekarang ada Yuzuki dan Riina Takaya.


"Serius, staminamu luar biasa, Yuzuki. Padahal aku sudah cukup percaya diri dengan staminaku sendiri."


"Kalau soal tenaga, tetap Masaki yang menang, kan?"


Yuzuki tertawa kecil.


Hari ini sepulang sekolah, kami bertiga—Yuzuki, Riina, dan aku—pergi lari sore. Garis finisnya adalah apartemen keluarga Tsubasa, dan kami bertiga baru saja selesai mandi satu per satu.


Meskipun cuaca sedang dingin, kami berlari sekitar sepuluh kilometer sehingga semuanya bersimbah keringat. Riina bersikeras ingin mandi sendiri, jadi kami masuk bergantian. Kalau hanya sekadar mandi biasa, mungkin kami bertiga sudah masuk bersama-sama.


Saat aku yang terakhir selesai mandi masuk ke ruang tengah, mereka berdua sedang meminum minuman dingin.


"Padahal aku rutin lari, tapi tadi aku sudah mengerahkan segalanya hanya untuk mengimbangi Yuzu."


"Ahaha, Rii dan Masaki kalau serius pasti bisa lari lebih kencang dariku. Tapi terima kasih sudah menemaniku ya."


Yuzuki berdiri dari sofa tempatnya duduk. Dia memakai baju santai berupa tanktop hitam dan celana pendek. Sementara itu, Riina memakai kaus dan celana pendek selutut.


"Yah, kalau mau kembali jadi model, aku harus mengencangkan tubuh. Pemotretannya sebentar lagi, jadi harus buru-buru."


"Memangnya Yuzuki perlu mengencangkan tubuh lagi?"


Di mataku, dia sama sekali tidak terlihat punya lemak berlebih. Lemak di bagian dada tentu saja sangat diperlukan, jadi itu bukan lemak berlebih sama sekali.


"Berat badanku naik sedikit dibandingkan saat masih jadi model dulu. Terus, rasanya penampilanku terlihat sedikit lebih berisi... Nih, coba bandingkan dengan Rii."


"Kyaa!"


Yuzuki tiba-tiba menyingkap kaus yang dipakai Riina hingga perutnya terlihat jelas.


"A-apa yang kau lakukan, Yuzu!"


"Masih malu juga memperlihatkan perut di depan Masaki?"


"I-itu urusan lain! Aku masih butuh persiapan mental!"


Riina tampaknya benar-benar malu; wajahnya memerah padam saat ia memelototi Yuzuki. Padahal, pakaian latihan menarinya saja model crop top yang memamerkan pusar. Tentu saja, jangankan pusar, aku bahkan sudah melihat payudara Riina dan bagian-bagian yang jauh lebih memalukan lagi.


"Iya, maaf. Tapi serius, aku memang merasa ingin sedikit lebih mengencangkan tubuh sejak dulu. Kau lihat sendiri kan, kalau dibandingkan dengan Rii, aku ini gemuk sekali."


"Wajar saja, aku kan latihan menari dan rutin menjaga bentuk tubuh setiap hari."


Riina pun berdiri dan bertolak pinggang. Kaosnya melekat erat di area pinggang, menonjolkan lekukan pinggangnya yang ramping.


"Memang benar Riina itu langsing. Maklum, hasil latihan menari."


"Tapi, mungkin Sara jauh lebih langsing? Dia itu punya lekukan pinggang yang gila banget."


"Sara itu, ah... Furukawa Sara? Gadis yang ada di majalah yang sama dengan Yuzu itu, kan?"


"Lho, Riina juga kenal Sara?"


"Masaki-kun juga kenal ya. Gadis itu langsingnya tidak masuk akal, kan?"


Riina menempelkan kedua tangannya di pinggang sendiri. Sepertinya dia merasa bersaing dengan Sara yang punya pinggang lebih ramping darinya.


"Yah, tipe langsing Rii dan Sara itu beda. Rii itu langsing yang kencang karena terlatih, sedangkan Sara itu tipenya yang benar-benar memangkas habis lemaknya."


"Penampilannya sih hampir mirip. Ah, tapi Sara itu payudaranya besar ya. Sial, di sekelilingku kenapa isinya gadis-gadis berdada besar semua sih."


"Bicara soal itu, aku jadi ingat, bagaimana kabar Naraka?"


Mungkin agak aneh teringat dia gara-gara kata "payudara", tapi adik Riina, Naraka, memang punya dada yang sangat besar. Mengingat dia punya H-cup yang luar biasa... membayangkan ukuran dan kelembutannya saja sudah cukup membuatku bergairah.


"Naraka sedang tidak baik-baik saja."


"Tidak baik-baik saja!? A-apa dia baik-baik saja?"


"Tunggu, Rii! Ada apa dengan Nyara!?"


Aku dan Yuzuki sontak mendekat ke arah Riina dengan cemas.


"Ah, maaf. Cara bicaraku salah. Maksudku bukan sakit, tapi Naraka sepertinya sedang 'sekarat' karena pekerjaannya sangat berat."


"Terlepas dari cara bicaramu, faktanya dia memang sedang tidak baik-baik saja ya..."


"Haruskah kita membawakan makanan enak untuk Nyara...?"


Naraka adalah penulis yang sudah memulai debut profesionalnya setelah novelnya diterbitkan dari situs web. Sekarang dia memang hikikomori, tapi sepertinya dia terus melanjutkan menulis novel.


"Pantas saja beberapa hari ini Naraka sama sekali tidak datang..."


"Sepertinya dia sedang dikejar tenggat waktu, atau lebih tepatnya sudah lewat batas dan terus diteror oleh editornya. Tapi katanya kalau novel itu selesai, dia akan masuk sekolah lagi dan main ke sini."


"Begitu ya... syukurlah kalau begitu."


Jika memikirkan masa depannya, dia memang harus sekolah. Dan aku juga sangat senang jika dia mau main ke sini lagi. Pesona "agresif" dari H-cup milik Naraka benar-benar sulit dilupakan....


"Oh iya, kembali ke soal proporsi tubuh Yuzuki. Jangan terlalu memaksakan diri menurunkan berat badan ya."


"Aku tahu kok. Apalagi Asa dan Yuu memasakkan makanan dengan perhitungan nutrisi yang tepat, jadi tidak mungkin turun drastis juga. Tapi, katanya konsep pemotretan besok itu tipe yang seksi."


"Tipe seksi?"


"Iya, katanya tren berikutnya adalah gaya seksi."


"Bukankah itu majalah fesyen untuk anak SMP dan SMA?"


Apa tidak apa-apa bergaya seksi?


"Masaki-kun, jangankan anak SMA, anak SMP pun sekarang banyak yang memakai baju yang berani, lho. Sampai-sampai kau akan berpikir, 'Bukankah itu sudah seperti pakaian dalam?'"


"Yang benar saja."


Tanpa sadar aku menatap wajah Riina dalam-dalam. Apa karena di luar aku selalu menjaga pandangan agar tidak menakuti orang, sampai-sampai aku tidak menyadari hal itu?


"Apa Wakaba juga memakai baju seperti itu...?"


"Wakaba-chan lebih cocok pakai baju yang anggun dan sopan, tahu. Aku yang akan melindungi Wakaba-chan!"


"Kau ini menganggap dirimu siapanya Wakaba, Yuzuki?"


Dia itu adikku... meski agak aneh, dia tetap adikku yang manis.


"Tapi, gaya seksi itu sebenarnya yang seperti apa?"


"Simpelnya sih seperti memamerkan belahan dada, memperlihatkan pusar, pakai rok mini, atau hot pants, kan?"


"Tunggu dulu, Riina. Ini kan mulai masuk musim dingin. Kalian mau berpakaian seperti itu?"


""Mau.""


Yuzuki dan Riina menjawab serempak dengan waktu yang sangat sempurna layaknya anak kembar.


"Masaki, kau pikir gyaru itu apa? Mau musim dingin sekalipun, kami tetap akan pamer pusar dan paha."


"Benar, bagiku pamer pusar itu sudah seperti aturan dasar."


"Riina, bukannya tadi kau marah hanya karena kaosmu disingkap...?"


"Makanya kubilang, serangan mendadak itu beda cerita. Aku akan tetap pamer pusar dan paha meski musim dingin. Yah, paling tidak pakai mantel sih."


"Uu-mugh..."


Kalau dipikir-pikir, para gadis memang biasa memakai rok mini dengan kaki telanjang meski di musim dingin. Ada yang pakai legging atau terkadang celana olahraga, tapi itu minoritas.


"Fesyen gyaru itu soal tekad, Masaki."


"...Penjelasan yang mudah dimengerti."


Aku pernah dengar dari Ayah... dulu sekali, ada sekumpulan berandalan pria bodoh yang tetap memakai seragam sekolah formal berlengan panjang (gakuran) bahkan di musim panas. Kalau memakai itu di tengah teriknya musim panas, pasti akan pingsan karena heatstroke.


Musim panas atau musim dingin, pria atau wanita, meskipun ada perbedaan, sepertinya prinsip bahwa fesyen adalah soal "tekad" tetaplah sama.


"Aku ini Yuzuki-chan, idola para siswi SMP dan SMA, tahu. Aku tidak sudi melakukan hal memalukan seperti memakai baju seksi dengan tubuh yang kendor. Aku harus berjuang menurunkan berat badan, meski hanya sedikit."


"Aku juga harus meringankan tubuh untuk audisi berikutnya."


Yuzuki dan Riina saling bertatapan dengan tekad baru yang membara.


Hari ini aku iseng menemani mereka lari sore, tapi kalau aku terus mengikuti latihan mereka berdua, mungkin fisikku yang tidak akan kuat....apalagi aku juga masih berencana melanjutkan latihan dengan Alice.


"Ah, benar juga. Mumpung ada Masaki di sini, bagaimana kalau minta dia yang memastikannya?"


"Hah? Memastikan apa?"


"Tentu saja... Tu-buh-ku ♡"


"O-oi!"


Yuzuki melepas tanktop yang ia kenakan, lalu membiarkan celana pendeknya merosot lepas begitu saja. Ia mengenakan bra renda hitam yang benar-benar memberikan kesan seksi, dengan celana dalam hitam bermotif senada. Kulitnya putih bersih, payudara ukuran G-cup miliknya menyembul besar, pinggangnya ramping, dan pahanya memiliki proporsi lemak yang pas.


Padahal aku hampir setiap hari melihatnya dalam kondisi setengah telanjang... tapi tetap saja, melihatnya kembali hanya dengan pakaian dalam seperti ini, proporsi tubuhnya memang luar biasa indah.


"Bagaimana? Kalau begini, apa aku sudah pantas menjadi Yuzuki-chan idola para siswi SMP dan SMA?"


"Ku-kurasa sudah lebih dari cukup."


"Masa sih? Kau kan selalu memanjakanku, Masaki... Rii, kau juga coba buka bajumu."


"Ke-kenapa aku juga harus ikut... Duh, tahu tidak, berdiri bersandingan dengan gadis berdada besar sepertimu itu memalukan sekali, tahu?"


Meskipun mengeluh begitu, Riina tetap melepas kaos dan celana pendeknya.


Ia mengenakan sports bra abu-abu dengan celana dalam berwarna senada. Kulitnya yang sedikit kecokelatan karena terbakar matahari, payudara C-cup yang mungil dan manis, pinggang yang bahkan lebih ramping dari Yuzuki, serta kaki yang jenjang. Karena terlatih menari, tubuhnya memang terlihat sangat kencang. Selain erotis, ia memancarkan pesona yang sehat....


"Tu-tunggu sebentar, Masaki-kun? Meski ini sudah terlambat, tapi diperhatikan dengan saksama begitu membuatku malu..."


"Ma-maaf. Tapi... Yuzuki maupun Riina, proporsi tubuh kalian benar-benar bagus. Bahkan kurasa Riina pun sudah pantas jadi model."


"Aku hanya fokus pada menari. Tapi, menari juga sering mengharuskan memakai kostum yang ketat, jadi aku harus menjaga bentuk tubuh. Bagaimana... menurutmu?"


Riina bertolak pinggang, mengambil pose yang menonjolkan lekukan pinggangnya.


"Lalu, kalau aku bagaimana? Akhir-akhir ini kau sering melihat bokong Alice yang luar biasa itu, tapi bokongku juga tidak kalah, kan?"


Yuzuki membelakangiku dan mengambil pose erotis dengan menunggingkan bokongnya. Bokongnya terlihat sangat empuk sampai seolah terdengar bunyi kenyal; meski lebih kecil dari milik Alice, tapi kelembutan dan elastisitasnya kurasa tidak akan kalah.


"Ya-yah, bokong Yuzuki memang yang terbaik. Pinggang Riina juga sangat ramping sampai rasanya bisa patah."


"Eeh, tapi pinggang Rii masih lebih berisi dibanding Sara, lho."


"Jangan bilang berisi! Jangan bandingkan aku dengan model sungguhan!"


Riina ribut memprotes sementara Yuzuki tertawa riang.


Yuzuki dengan pakaian dalam hitamnya, dan Riina dengan bra serta celana dalam yang sporty. Melihat dua gadis seksi ini bercanda dengan riangnya tepat di depan mataku...!


"Aku harus menunjukkan lebih banyak sisi seksi... Hei, Masaki. Ayo... kita lakukan sesuatu yang mesum ♡"


"A-aku juga... masih perlu memunculkan aura sensual dalam tarianku..."


"............"


Seolah bisa mendeteksi hasratku, dua gadis gyaru cantik itu mulai mendekat. Belahan dada yang dalam dari payudara G-cup dan payudara C-cup yang manis mendekat ke arahku──


"Kalau begini, siapa pun tidak akan bisa menahannya..."


"Benar, kan ♡"


"Tentu saja ♡"


Yuzuki dan Riina menyeringai nakal, lalu masing-masing menempelkan payudara mereka ke wajahku. Aku segera merengkuh payudara itu dengan tanganku dan mulai meremasnya──


"Kalian berdua, kalau begitu kita mulai..."


Aku sedikit menggeser bra hitam Yuzuki hingga sebelah puting merah mudanya terekspos, lalu mulai menjilati dan menyesapnya dengan lidahku.


"Kyaa, ahh ♡ Pu-putingnya geli sekali ♡"


Kemudian, aku memasukkan tanganku ke dalam sports bra Riina dan meremas payudaranya secara langsung.


"Haunnn♡ Di dalam... di dalam bra... ah, putingku tergesek! ♡"


Gawat, puting Yuzuki terasa sangat nikmat... payudara Riina yang berukuran imut pun terasa sangat mantap di tangan; payudaranya yang kencang benar-benar tak tertahankan.


Kali ini aku menarik sports bra Riina ke atas, membiarkan payudaranya yang mungil dan menggemaskan itu terekspos, lalu mulai menjilati area sekitar putingnya seolah sedang menelusurinya.


Selama itu pula, tentu saja aku terus meremas-remas payudara G-cup milik Yuzuki dengan kuat.


"Hari ini sepertinya aku ingin fokus ke payudara saja..."


"Si-silakan lakukan sesukamu, Masaki..."


"A-aku harus masuk ke suasana mesum... ka-kalau tidak, aura sensualnya tidak akan keluar, kan? ♡"


Aku menyuruh Yuzuki dan Riina duduk berdampingan di sofa, lalu aku duduk di antara mereka berdua.


Aku merangkul pinggang ramping mereka dengan kuat untuk mendekat, lalu mulai meremas payudara masing-masing.


"Kyaa, annh, sentuhanmu kasar sekali... ♡"


"Nnh, Masaki-kun, maaf ya payudaraku kecil... tapi, ahh, ini terasa terlalu nikmat! ♡"


Tangan kananku memegang G-cup, tangan kiriku memegang C-cup; keduanya memiliki ukuran dan kelembutan yang berbeda, dan keduanya sama-sama hebat.


Payudara Yuzuki besar dan lembut hingga tanganku seolah tenggelam di dalamnya, sementara payudara Riina terasa kencang dan kenyal, seolah membalas tekanan tanganku.


"Aah, Masaki... ah, kau boleh menyiksa putingku lebih banyak lagi ♡"


"Kyaa, kau menyiksa putingku duluan... ah, jangan dicubit, rasanya terlalu nikmat! ♡"


Aku menjepit dan memutar puting mereka berdua, dan untuk puting Riina, aku sedikit menariknya.


Ooh, puting keduanya mulai menegang keras dan meruncing....


"Hah, aa... se-sekarang giliran kami yang melayanimu, Rii."


"Be-benar juga, Yuzu... a-aku masih belum terbiasa, tapi... aku akan berusaha."


"Kalian berdua... tolong ya."


Aku bersandar dalam-dalam di sofa, sementara Yuzuki dan Riina duduk bersimpuh di lantai di bawahku.


Ooh, hanya dengan posisi ini saja... meski kedengarannya buruk, tapi ada rasa kepuasan tersendiri, seperti sebuah penaklukan.


Yuzuki, dengan bra hitam yang melorot sebelah hingga payudara G-cup-nya terekspos.


Riina, dengan sports bra yang tersingkap ke atas hingga payudara C-cup-nya terlihat jelas.


Dua gadis gyaru cantik—si rambut cokelat panjang dan si rambut hitam pendek dengan highlight merah—berada di bawah kakiku. Rasanya aku mulai membangkitkan sebuah kesenangan yang berbahaya....


"Kalau begitu, aku akan menjilatnya... Ayo, Rii."


"I-iya, aku tahu... nnh, reroo ♡"


Dua gyaru yang terlalu cantik ini mulai menjulurkan lidah dan menjilati milikku.


Yuzuki menjilat area sekitar ujungnya, sementara Riina menjilatnya dari pangkal hingga ke atas.


Ooh, dua jenis rangsangan sekaligus... kalau diperlakukan seperti ini...!


"Kyaa, masih bertambah besar saja... milik Masaki luar biasa! ♡"


"Benar-benar keras ya... menjilati yang seperti ini bisa membuatku merasa aneh ♡"


Yuzuki mengecup ujungnya, dan Riina menyentuhkan lidahnya sedikit ke ujung sebelum kemudian ikut mengecupnya.


Sambil mereka berdua mencicipi milikku secara bersamaan, bibir mereka pun saling bersentuhan.


"Kyaa, Yuzu, bibirmu kena tahu. Ini aneh... ♡"


"Duh, aku jadi ciuman sama Rii ♡ Mungkin ini ciuman pertama kita ♡"


"Ya a-aneh lah kalau aku pernah ciuman sama Yuzu... nnh, nnh, nmumu... aku akan mengulumnya lebih dalam... hamu, nnh ♡"


"Ah, curang! Rii mengulumnya sendirian... kalau begitu, aku kulum bagian yang ini saja."


"Kyaa, bo-bodoh! Itu kan bagian yang biasanya Masaki-kun jilat... annh! ♡"


Riina mengulum milikku hingga pipinya penuh, sementara Yuzuki mengulum puting Riina dan menyesapnya kuat-kuat.


Melihat sesama gadis saling berinteraksi begini... benar-benar menggairahkan.


"Yuzuki, Riina, kalian berdua hebat sekali..."


"Tentu saja, kan? Aku juga akan lebih banyak menjilat yang ini... Rii, biarkan aku menjilatnya juga."


"Ba-baiklah."


Yuzuki dan Riina kembali menjulurkan ujung lidah mereka dan menjilati ujung milikku secara bersamaan. Rangsangan yang menggelitik ini benar-benar tak tertahankan....


Aku meletakkan tanganku di kepala Yuzuki dan Riina, lalu mengusap-usap rambut mereka.


"Fuh, nnh, nmumu... chu, rero ♡ Masaki, sepertinya sudah mau keluar ♡"


"Nnh, chu, pero... ♡ Masaki-kun, seperti biasanya ya... ♡"


"Ba-baiklah. Kalau begitu, pertama-tama──"


Aku melepaskan seluruh hasrat yang sudah memuncak ini sekaligus──


"Kyaa, ah, nnh, di wajahku... ah, yang hangat sudah datang! ♡"


"Aaah, Rii, senangnya ♡ Kau selalu saja dapat semprotan di wajah ya."


Cairan putih yang meluncur deras dari milikku membanjiri paras cantik Riina yang tegas.


Memang, kenikmatan menyemprot wajah Riina ini tidak pernah membosankan betapapun seringnya aku menikmatinya...!


"Ha, haah... kyaa, Yuzu, jangan menjilati wajahku dong! ♡"


"Kan cuma Rii yang dapat semprotan, jadi tidak apa-apa kalau aku minta sedikit, kan? ♡"


Yuzuki menjilati cairan yang ada di wajah Riina sampai bersih. Di sisi lain, Riina kembali mengulum milikku, menyesap sisa-sisanya hingga bersih. Sudah disemprot langsung di wajah, masih dibersihkan pula sampai tuntas....


Yuzuki memang pacarku, tapi Riina melakukannya hanya demi memunculkan aura sensual. Meski sudah terlambat untuk menyadarinya, aku benar-benar sudah bertindak terlalu jauh.


"Fufu, sudah kujilat bersih semua ♡ Berikutnya tentu saja di payudara, kan? Memang tidak sebesar milik Nyara, tapi dua gyaru terkuat ini akan menjepitmu sepuasnya ♡"


"Apa-apaan sebutan gyaru terkuat itu, terdengar bodoh tahu... Aku tidak bisa menjepitnya sendirian, dan maaf ya aku tidak sebesar Naraka... tapi, Masaki-kun, aku akan menjepit dan menggeseknya ya."


"To-tolong lakukan."


Jika berhadapan dengan dua gyaru ini, terkadang aku hanya bisa pasrah mengikuti kemauan mereka.


Yuzuki yang agresif dan Riina yang di luar dugaan punya kepercayaan diri rendah... kombinasi ini juga sangat bagus.


"Ini dia... kyaa, masih keras saja ya ♡"


"Luar biasa... punya Masaki-kun sampai tenggelam di payudara Yuzu... A-aku memang kecil, tapi kalau aku menekannya..."


"Uwooh..."


Yuzuki membiarkan milikku terjepit di antara payudaranya, sementara Riina menekan payudaranya sendiri ke dada Yuzuki dan mulai menggeseknya naik-turun. Rasanya luar biasa diperlakukan seperti ini oleh mereka berdua yang masih mengenakan bra hitam dan sports bra.


"Kyaa, nnh, punya Masaki terlalu besar! ♡ He-hei, Rii, kau tahu tidak? Hal seperti ini katanya disebut paizuri."


"Pa-paizuri... me-memalukan! Tidak usah dikatakan, Yuzu!"


"............"


Benar-benar... padahal sudah sering dilakukan, tapi begitu disebut dengan istilah vulgar secara langsung, aku mendadak merasa malu.


Milikku terjepit kencang di antara payudara dua gadis gyaru ini, digesek, dan terkadang mereka berdua mengulum ujungnya secara bergantian untuk menyesapnya.


Digesek-gesek dengan payudara... lalu diisap-isap dengan mulut secara bergantian...!


"Luar biasa, masih bertambah besar saja... ah, Masaki! ♡"


"Se-sesuatu yang sekeras dan sebesar ini mengamuk di sela payudaraku, annh! ♡"


"Kali ini, untuk kalian berdua...! Aku keluarkan!"


""Kyaa...!""


Aku tidak sanggup lagi menahannya dan segera mengeluarkan semprotan kedua. Cairan yang meluncur deras kali ini membanjiri Yuzuki dan Riina—dua gyaru dengan wajah dan gaya rambut yang mencolok.


"Kyaa, Masaki! ♡ Ti-tidak hanya di wajah, tapi juga sampai kena ke payudaraku! ♡"


"A, aa... aku juga kena wajah lagi... pa-payudaraku juga penuh dengan cairan kental ini... ♡"


Wajah cantik dan payudara erotis Yuzuki serta Riina kini kotor oleh cairan putih kental, namun mereka berdua tetap tersenyum senang.


Gawat... aura sensual mereka berdua benar-benar tidak main-main.


"Masaki... lakukan lebih banyak lagi juga boleh ♡"


"A-aku juga... perlakukan aku sesukamu ♡"


Yuzuki dan Riina berbaring berdampingan di atas sofa. Dua gyaru yang masih mengenakan bra dan celana dalam hitam, serta sports bra dan celana dalam, memamerkan tubuh mereka di atas sofa.


Setiap kali mereka bergerak sedikit, payudara G-cup itu bergoyang kenyal, dan payudara C-cup itu juga membal meyakinkan. Di depan dua orang semenarik ini, tidak mungkin aku berhenti hanya dengan dua kali.


Aku kembali menekan milikku yang sudah mengeras ke arah area intim Yuzuki dari balik celana dalamnya, lalu menggeseknya—di saat yang sama, aku meremas payudara Riina dengan kuat.


Aku akan menggesek area intim mereka berdua dari balik celana dalam dua kali lagi, lalu terakhir, aku akan membiarkan mereka mengulumnya kembali dan menyemprot wajah Riina dengan hebat.


Yuzuki mungkin akan marah lagi karena hanya Riina yang disemprot, tapi wajah marahnya pun terasa sangat manis.


Hari ini, aku benar-benar akan menikmati mereka berdua sampai puas...!


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close