NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Bonjin Jujutsushi no Tanoshii Isekai Akuyaku Play Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Di Akademi, Aku Ingin Menjadi Orang Baik yang Misterius


Satu tahun telah berlalu sejak peristiwa Fais malam itu.

"CHU……"

"WAN……"

"BUMO……"

Saat ini, aku sedang menikmati waktu santai di dalam rumah sambil menyisir bulu para Eshi-Animal milikku.

Aku mengelus kepala tikus bernama Bikara dengan sikat mini.

Anjing bernama Basara sedang berbaring sambil menjulurkan lidah dengan perut terbuka, jadi aku mengelus perutnya.

Babi hutan bernama Kubira sedang kugosok taringnya dengan kain.

Ya, ya, para hewan itu tampak puas dengan wajah yang teler. Memelihara binatang di sekelilingku masih dalam batas peraturan villain play, kan?

Bos mafia biasanya juga terlihat sedang mengelus kucing siam, bukan?

Dan selama setahun terakhir ini, aku telah menjalani kehidupan sebagai penjahat……

Kesimpulannya…… kegiatan Kas-Katsu sukses besar.

Hari-hari yang kuhabiskan dengan terus-menerus menghajar Gereja Maris dari segala arah menjadi latihan yang sangat bagus.

Wah, mereka benar-benar luar biasa, Gereja Maris.

Orang-orang hebat di gereja itu semuanya hanyalah sekumpulan orang jahat.

Mulai dari eksperimen manusia menggunakan anak-anak, pengorbanan kepada dewa, hingga para pervert yang jujur pada hasrat seksual mereka—para lolicon dan shotacon sederhana.

Pertarungan melawan sampah masyarakat yang bersarang di kegelapan sosial ini bisa kusebut sebagai pekerjaan kotor yang layak.

Baguslah…… rasanya sangat menyenangkan, seperti serangga yang saling membunuh di dalam botol kaca untuk melihat siapa yang terkuat.

Ngomong-ngomong, soal penyelidikan tempat persembunyian mereka, Navi dan White biasanya membereskannya dalam satu malam.

Navi dan White yang sedang bersemangat, momentum mereka tidak bisa dihentikan oleh siapa pun.

Katanya, belakangan ini Werewolf dan Orc dari Wilayah Selatan juga mulai bekerja sama dengan Curse Brotherhood.

Mereka bilang sudah lama ditindas oleh gereja. Kasihan sekali, ya.

White dan yang lainnya benar-benar mendalami setting-an cerita ini. Bahkan lebih dari aku.

Di dunia ini ada dongeng yang disebut "Tujuh Nubuat".

Padahal, mereka dengan serius mengatakan bahwa itu adalah skenario kepunahan dunia oleh Tujuh Dewa Agung, dan Gereja Maris adalah organisasi yang dibentuk untuk melaksanakannya.

Tapi, suasana itu sangat penting.

Menikmati semuanya sendirian itu seru, tapi mode multiplayer punya keseruannya sendiri.

Jadi, aku memutuskan untuk mengikuti alur mereka.

Kita harus menghargai teman yang mau diajak bermain peran sebagai penjahat, kan?

Mulai dari asal-usul Magic Power, arti tersembunyi di balik pembagian kelas Gifted, fakta bahwa Tujuh Dewa Agung sebenarnya adalah makhluk yang datang untuk menginvasi planet ini, hingga kenyataan bahwa White sebenarnya punya tiga saudara perempuan lainnya—masing-masing penguasa perang, penyakit, dan kematian.

Mulai pertengahan, aku pun jadi makin semangat.

Karena Navi dan White memberikan reaksi yang sangat bagus.

Seperti, Player…… mengapa kau tahu hal itu…… atau "……Kars, aku sudah memeriksa dokumennya…… kata-katamu ternyata benar……"

Reaksi seperti itu sungguh memuaskan. Tidak heran teori konspirasi terus bermunculan.

Bermain pura-pura mengetahui rahasia dunia yang hanya diketahui oleh diri sendiri itu sangat menyenangkan.

Selain itu, skenario yang kubuat sendiri dengan cukup apik adalah…… soal pahlawan dan raja iblis.

Di dunia ini ada cerita rakyat terkenal mirip Momotaro yang berjudul [Pahlawan Berambut Biru], dan aku membuat kebenaran tersembunyi di baliknya.

Aku berhasil mementaskan cerita ini dengan sangat baik.

Identitas asli Raja Iblis adalah sang Pahlawan, dan Pahlawan yang mengalahkan Raja Iblis akan menjadi Raja Iblis berikutnya.

Inilah yang disebut dengan kutukan pahlawan.

Skenario bahwa pahlawan yang telah berubah menjadi raja iblis sekarang pun sedang menunggu waktu kebangkitannya di suatu tempat di dunia ini, dan sebagainya……

Tanpa disadari, Gereja Maris telah menjadi organisasi tersembunyi di balik layar yang menjalankan berbagai rencana kehancuran dunia secara bersamaan.

Kasihan sekali…… padahal kenyataannya mereka hanyalah sekumpulan penjahat kecil dan pervert……

Tapi, karena mereka adalah lawan bermain yang pas untuk villain play, biarlah mereka tetap seperti itu. Menjatuhkan gereja atau dewa…… itu juga terdengar sangat jahat, kan?

Yah, semuanya hanyalah ide orisinalku yang menggunakan pengaturan pahlawan dan raja iblis dari Life Field di dalam game.

Kalau sampai ketahuan, pasti bakal jadi gawat……

Oh, soal dewi pelindungku, Rutos-sama.

Navi dan White baru-baru ini benar-benar mulai berubah menjadi sosok yang "pasti membunuh dewa", jadi aku berusaha agar kebencian mereka tidak mengarah pada Rutos-sama.

"Aku pulang, Kars. Aku baru saja kembali."

"Ah, selamat datang kembali, White. Hari ini quest guild lagi?"

"Ya…… Belakangan ini, monster makin sering muncul di sekitar jalan raya Ibu Kota Kekaisaran……"

White sangat bersemangat belakangan ini.

Guild petualang yang sudah akrab bagi banyak orang juga ada di dunia ini.

White memutuskan untuk menjadi petualang atas penilaiannya sendiri.

Dalam waktu kurang dari setahun, dia dipromosikan menjadi petualang kelas satu, puncak dari para petualang di negara ini.

Hebat sekali, bukan?

Katanya dia adalah kekuatan tempur teratas yang jumlahnya tidak sampai 100 orang di seluruh kekaisaran.

Dia juga punya julukan "Pedang Perak". Julukan, ya…… kedengarannya keren.

Katanya, sebentar lagi dia akan mendapatkan hak untuk menantang "Tujuh Surgawi" yang katanya merupakan kekuatan terkuat umat manusia.

Kalau petualang kelas satu adalah pemain Major League, kupikir "Tujuh Surgawi" itu posisinya seperti anggota Hall of Fame.

"……Sedang bersih-bersih bulu?"

White menatap tajam ke arah para hewan yang sedang berbaring di pangkuanku.

"Ya, benar. Eh? Ada apa, Bikara, Basara, Kubira?"

"……CHU"

"……WAN"

"……BUMO"

Puhie. Para hewan itu menghela napas bersamaan.

Mereka bergerak lambat, lalu keluar rumah lewat pintu depan.

Eh, apa mereka sudah selesai? Dasar hewan-hewan yang mudah berubah pikiran.

"……Kars, itu…… ah, aku, hari ini, sangat lelah…… tahu."

"Ternyata ada lawan yang bisa membuat White lelah!? Heh, aku jadi tertarik, ceritakan padaku monster seperti apa itu!"

White tampak malu-malu.

Dia kadang bersikap seperti ini kalau sedang berdua saja denganku.

Perubahan sikap antara mode on dan off-nya sangat drastis.

"Ba-, ba-, baiklah, ta-, tapi, i-, itu…… karena aku lelah, aku tidak bisa bicara terlalu keras…… boleh aku mendekat?"

"Ah, silakan."

"Me-, mengganggu ya……"

White merosot ke pangkuanku dan meletakkan bagian belakang kepalanya di sana.

Posisi di mana aku yang memberi White bantal pangkuan.

"Mengganggu ya", katanya, padahal dia sendiri yang melakukan hal yang benar-benar terasa seperti gangguan.

"Bu-, bukan begitu…… aku bukannya bermanja-manja, ini, sudah kubilang berkali-kali…… ini adalah budaya North Elf."




"Ah—, rasanya aku pernah mendengar hal yang sama sebelumnya."

White memejamkan mata rapat-rapat sambil membuka-tutup mulutnya dengan canggung. Ini bukan kali pertama aku memberinya bantal pangkuan.

…………Wah, apa benar ada budaya seperti itu di North Elf? Aku tidak tahu, White.

"Na-, Navi…… to-, tolong."

White memejamkan mata lebih erat lagi sambil bicara pada Navi. Keduanya kini benar-benar bisa berkomunikasi; katanya mereka menjadikan diriku sebagai stasiun relai.

Menjadikan manusia sebagai antena itu, rasanya agak kurang sopan, ya.

…………Player. Bukankah menunjukkan pemahaman terhadap budaya ras lain adalah kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin organisasi?

Hmm. Navi menusukku dengan kata-katanya lagi……

Tentu saja, Curse Brotherhood sebagai organisasi jahat memang menjunjung tinggi keberagaman.

"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan. White, jadi? Pekerjaanmu sebagai petualang hari ini bagaimana?"

Sebagai remaja yang sedang puber, seharusnya aku berdebar-debar saat bersentuhan dengan gadis cantik…… tapi karena White adalah rekan setim, aku sama sekali tidak merasakannya.

Padahal dia adalah gadis super cantik dengan bulu mata yang sangat panjang.

"Pa-, pangkuan Kars…… hangat…… jangan lepaskan, ini tempat pulangku……"

Telinga runcing yang tersembunyi di balik rambut putih itu……

Hebat, ternyata telinga elf memang benar-benar runcing. Kira-kira kenapa, ya?

"Ka-, Kars…… kalau kau menatapnya…… itu…… a-, aku……"

Cih, dia sudah dipangku, kenapa masih malu-malu begitu.

Navi terasa sangat ketus pada White, ada apa dengannya?

Eh, telinga White memerah sekali. Apa dia kelelahan?

"Jadi? Monster seperti apa yang muncul di jalan raya? Apakah kuat? Apakah punya potensi kutukan? Keren tidak?"

"Hiu……"

"Ah, maaf. Refleks, aku menyentuhmu seperti saat mengelus hewan-hewan tadi……"

Tanpa sadar, aku mengelus telinga White.

Waduh, itu tindakan pelecehan seksual, ya. Aku harus lebih berhati-hati.

"Ti-, ti-, tidak apa-apa…… la-, lanjutkan."

"Eh, benarkah? Kau tidak benci?"

"Ti-, ti-, tidak benci…… silakan…… lakukan sesukamu…… ngh."

Karena sudah diberi izin, aku menyentuh telinga White tanpa ragu.

Teksturnya kenyal dan terasa dingin. Hmm? Sepertinya aliran sihir White terkonsentrasi di sekitar telinganya.

"Ah…… ngh……"

Hmm, menarik sekali…… di sepanjang bagian yang runcing itu, samar-samar sihir selalu menetap di sana.

"Phu…… ah, Kars, di-, di sana itu……"

White meliukkan tubuhnya. Aduh, jangan bergerak dulu sekarang.

Aku berbisik ke arah telinganya.

"Diamlah."

"—! ……Ba-, baik……"

Oh, gerakannya berhenti.

Oke, oke, aku melepaskan sedikit Cursed Power dari ujung jariku. "—!?" Hebat! Hanya dengan mendekatkan Cursed Power sedikit saja, tubuh White langsung bereaksi kencang!!

Jika aku memanfaatkan mekanisme ini, mungkin aku bisa menciptakan semacam respons refleks terhadap sihir dan Magic Power.

Orang ini benar-benar……

"Tubuhmu luar biasa, White!"

"Hah, hah……"

"White? Ada apa, kenapa kau menutup mulutmu seperti itu?"

White menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Apa dia masuk angin? Wajahnya merah sekali.

Wah, pangkuanku basah sekali. Apa ini keringat White?

Aduh, sudahlah…… dia harus menjaga kondisi tubuhnya. Lho, tunggu, keringatnya berubah menjadi embun beku dalam sekejap.

Ekosistem North Elf luar biasa……

"Maaf, maaf, White. Kau tidak nyaman, ya? Aku tidak akan melakukannya lagi."

"A-, ah. Perut—ah ah ah ah…… ngh."

Aku meminta maaf sambil menepuk-nepuk perut White. Hmm, entah kenapa rasanya seperti sedang memperlakukan kucing peliharaan.

Eh? White mencengkeram bajuku dengan sangat kuat.

Karena baju ini terbuat dari kain kasar hasil cuci manual setiap hari, ya sudahlah.

"Ti-, tidak apa-apa, la-, lakukan lagi…… boleh…… aku mau…… lagi."

"Eh? Benarkah? Jangan memaksakan diri, ya?"

White mengangguk berkali-kali.

Yah, sejujurnya itu sangat membantuku.

Saat nanti aku harus melawan elf lain, mungkin aku bisa mengembangkan teknik bertarung yang memanfaatkan karakteristik ini!

……Cih.

Suasana hati Navi memburuk.

Yah, nanti kalau aku pergi berburu bandit dan makan makanan yang berbumbu tajam, dia pasti akan kembali ceria.

Namun, sebagai ketua organisasi, komunikasi dengan bawahan itu penting.

"Kars, kau menyentuhku. Aku yang merupakan kutukan menjijikkan ini…… hanya kau yang…… benar-benar, hanya kau yang……"

White menggumamkan itu dengan telinga yang masih merah padam.

Hmm…… obrolan yang menyenangkan! Oke!

◇◇◇◇

Memasuki usia 16 tahun, aku masuk ke Akademi Sihir Maris Gear.

Wah, ujian masuknya lawan yang berat. Aku bisa menutupi fakta bahwa aku tidak bisa menggunakan sihir, jadi aman.

Ini adalah institusi pendidikan sihir terbaik di dunia manusia, sekolah elit tempat orang-orang dengan bakat sihir dari seluruh benua dikumpulkan.

Alasan masuknya adalah…… karena aku diminta dengan sangat oleh Kotori-san dan orang tuanya.

Karena aku juga mulai tertarik dengan Ibu Kota Kekaisaran dan akademi sihir, jadi ini pas sekali.

Akademi sihir memiliki lahan yang sangat luas di pinggiran Ibu Kota Kekaisaran.

Satu akademi saja luasnya hampir seperti sebuah kota.

Tyler Trading Company bahkan menyediakan rumah dan lahan pertanian di dalam area akademi untukku.

Sejak masuk, waktu terasa berlalu sangat cepat dengan pembagian kelas dan ujian.

Hari ini cuacanya cerah. Aku sedang bermeditasi di sudut kelas.

Kelas kami disebut "Kelas Naga"……

Semuanya terlihat familier. Maksudku, banyak dari mereka adalah teman sekelasku di dunia sebelumnya.

Katanya, orang-orang di kelas ini semuanya adalah Gifted yang menarik perhatian karena mencetak sejarah akademi.

Dan sekarang—sesuatu yang aneh terjadi.

Aku menyapa dua siswa laki-laki yang sedang mengobrol di kursi dekatku.

Buku bilang, dasar mencari teman adalah dengan menyapa duluan.

"Halo, sedang membicarakan apa?"

"Ah……, kami sepertinya ada urusan 5 menit lagi……!"

Hmm, mereka sibuk, ya. Kalau begitu, mari coba sapa siswi yang sedang membaca buku di sana.

"Maaf mengganggu waktu bacamu, pelajaran hari ini—"

"Maaf, sepertinya 10 menit lagi aku harus pergi ke toilet!"

Siswi itu pergi dengan terburu-buru.

"Hmm."

Aneh sekali, sudah seminggu seperti ini, aku tidak bisa berbincang dengan siapa pun. Kenapa?

Bukankah semua orang waspada karena kau menghancurkan boneka latihan sihir dengan tangan kosong saat ujian masuk?

Ah, insiden yang membuat ruang ujian jadi beku itu, ya. Tapi aku tidak bisa menggunakan sihir, jadi mau bagaimana lagi?

Lagipula, bagaimana cara mencari teman?

Di dunia sebelumnya pun aku tidak punya teman, jadi aku tidak paham.

Kalau tidak ada lawan bicara, kenapa tidak bicara dengan Kotori saja……

Navi tidak mengerti perasaan manusia.

Kalau aku menyapa Kotori-san dalam kondisi begini, dia pasti akan merasa terganggu, kan?

Dia kan sudah sangat ingin masuk akademi sihir ini?

Tapi, Kotori sendiri juga terlihat tidak punya teman, lho.

Navi-chan, kurasa pendapatmu itu kurang pas.

Itu bukan ucapan yang pantas keluar dari seseorang yang kemarin membantai bandit, lho.

Itu bukan manusia, itu bandit.

Mereka yang merampas hasil panen, ternak, dan putri dari para petani. Mereka bukan manusia.

Mengingatnya saja membuatku mual; mereka memakan sapi dan kuda yang digunakan petani untuk membajak ladang yang dirawat dengan penuh kasih sayang. Lima kali pembantaian pun tidak cukup. Kenapa manusia kalau dibunuh harus mati, ya?

Ya, ya……

Keamanan di Ibu Kota Kekaisaran juga buruk, ya; kalau keluar sedikit dari jalan raya, langsung muncul bandit seperti itu.

Yah, lupakan soal itu.

Yang penting sekarang adalah posisiku dalam kehidupan akademi.

Spesifiknya?

Ya, aku akan mengincar posisi sebagai "Mob Misterius yang Baik".

Penjelasannya spesifik, tapi malah jadi makin tidak dimengerti.

Mob Misterius yang Baik, Navi.

Aku bukannya tidak mendengar, lho.

Hmm, mungkin Navi memang tidak paham seluk-beluk perasaan manusia.

Mob Misterius yang Baik.

Karakter yang pas untuk wajah depan seorang penjahat terkuat.

Aku tidak mau jadi sekadar mob biasa karena aku ingin berteman dengan orang-orang yang terlihat seperti tokoh utama. Harus punya ciri khas.

Jalan yang sulit.

Karena aslinya aku adalah kejahatan yang murni dan gelap.

Sifat asliku sebagai penjahat yang keren pasti akan terpancar keluar……

……Tidak, kurasa kau tidak perlu terlalu memikirkan bagian itu……

—……

Tapi, ini layak diperjuangkan.

Tidak ada kompromi untuk penjahat terkuat. Aku pasti akan mencapainya.

Dan suatu saat nanti, aku akan bermusuhan dengan para tokoh utama.

Nanti di akademi ini, aku akan berkata pada kelompok tokoh utama yang sudah akrab denganku, "Kenapa kau jadi musuh!?" atau mereka akan berkata, "Tidak mungkin…… kau menjadi musuh, itu bohong kan!?"

Tegang sekali. Wah, hidup ini menyenangkan.

……Yah, baiklah, silakan lakukan sesukamu.

Ah, Kotori-san mencoba menyapa seseorang lagi, tapi gagal.

Canggung, tapi pantang menyerah, itu bagus sekali.

Tokoh utama itu tidak harus punya bakat atau kemampuan khusus.

Jatuh itu bukan aib, yang aib adalah tidak bangkit berdiri, seperti itulah kira-kira.

Mentalitas yang tidak menyerah meski takut, aku sangat menyukainya.

Oke, aku akan bantu Kotori-san mencari teman.

Tadi katanya tidak mau menyapa Kotori?

Tenang saja. Aku kan misterius.

Baru tahu kalau tidak punya tubuh pun bisa sakit kepala.

Sama-sama, tidak perlu berterima kasih.

Aku tidak bilang terima kasih.

Jalan misterius dimulai dari langkah kecil. Kegiatan kecil yang tekun seperti ini pasti akan membuahkan hasil.

Zawak. Kelas menjadi gaduh seketika.

"Snow. Kau sudah gila? Bisa tenang sedikit?"

"Aki, maaf ya, aku sudah memutuskannya."

Seorang pemuda pirang tinggi tampan dan gadis cantik pirang dengan kuncir kuda muncul di kelas.

Tatapan dan perhatian teman sekelas yang tadi menghabiskan waktu sesuka hati, kini tertuju pada mereka berdua.

Nama pemuda pirang tampan itu adalah Aki von Schwarz.

Seorang elit di antara elit yang memegang jabatan Ksatria Tingkat Atas yang keren.

Di wajahnya yang mustahil kecilnya, ada helaian rambut pirang yang mencapai pinggang dan diikat dengan pita putih. Gadis cantik berambut pirang seperti boneka itu adalah Snow von Lichte, seorang Putri Adipati.

Putri Adipati…… keren sekali…… kedengarannya sudah seperti tokoh utama.

Keduanya adalah Gifted tingkat tertinggi, dan nilai ujian masuk mereka juga jauh di atas rata-rata.

Latar belakang keluarga mereka juga termasuk kelas atas yang hebat setelah keluarga kerajaan. Mereka berdua adalah karakter tokoh utama yang cukup kuperhatikan.

Aku ingin masuk ke event pribadi dengan mereka berdua.

"Lihat, itu Nona Snow…… cantik sekali."

"Tuan Aki, hari ini pun tampan……"

"Nhihi, Ritsu~ tidak mau menyapa putri pujaanmu?"

"Ja-, jangan mengejekku. Mika……"

Teman sekelas pun semuanya melirik mereka berdua.

Keduanya, di dunia sebelumnya pun mereka adalah putri dari Eropa dan pengawalnya.

Ditambah lagi, kalau tidak salah mereka kakak beradik, bukan?

Kadang-kadang, di sekolah dunia sebelumnya pun aku pernah bicara soal Life Field dengan Snow-san, jadi rasanya aku ingat pernah dengar……

Yah, mungkin dia tidak ingat hal dunia sebelumnya.

Tapi, Snow-san. Rasanya aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat di dunia ini……

"Baiklah…… kalau begitu, Aki. Aku pergi dulu."

"……Ya sudah, terserah kau saja."

Putri cantik berambut pirang seperti boneka, Snow-san, berjalan melewati kelas.

Tatapan semua orang tertuju padanya.

Pelajaran berikutnya sore nanti, mungkin aku pergi ke kebun saja.

Mari pikirkan strategi mencari teman untuk Kotori-san sambil mencampur pupuk.

Pupuk kandang Griffin yang dikeringkan dicampur dengan bubuk tanduk Minotaur hasilnya bagus sekali. Mungkin aku pergi meminta lagi pada para bandit itu.

"Kastani-san."

"Hm?"

Saat aku sedang melamun memikirkan campuran pupuk, seseorang memanggilku.

"Ma-, maaf, tiba-tiba menyapa. Sekarang, apa kau punya waktu sebentar?"

Gadis cantik yang tersenyum manis ada di hadapanku. Itu Snow-san.

Seluruh kelas menjadi gempar seketika.

"Ah, ya, tidak apa-apa, Snow-san, bukan—Sama."

Bahaya, hampir saja menjawab dengan perasaan dunia sebelumnya.

"…………"

Aku merasakan tatapan tajam dari semua teman sekelas kecuali Kotori-san. Permusuhan dari orang-orang yang memiliki bakat sihir—bagus, aku suka.

Eh…… bukankah ini kesempatan?

Player, lawannya adalah darah biru dari strata tertinggi masyarakat bangsawan. Bertindak ceroboh itu berbahaya.

Aku tahu. Aku pun tidak berpikir bisa langsung akrab dengan putri adipati.

Spesifiknya?

Aku akan melakukannya dengan gaya yang paling fetish, primitif, dan misterius.

Gagal total.

Pertama, mulai dari perkenalan diri. Aku baru saja akan berdiri dari kursi—

"Ka-, Kastani-san. Ah…… aku penasaran padamu."

"……Hm?"

"Jika kau tidak keberatan, bisakah kau menemaniku ke pesta dansa musim semi?"




……Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?

◇◇◇◇

Keesokan harinya.

"Ngomong-ngomong, apa itu pesta dansa musim semi?"

Itu adalah acara besar musim semi di akademi. Sebuah pesta dansa untuk membangun komunikasi antar penyihir. Pada prinsipnya, acara ini diikuti secara berpasangan.

Aku sedang mengolah tanah di kebun.

Saat melihat dokumen penjelasan masuk akademi yang kubiarkan di dalam rumah, ternyata ada acara dansa di setiap musim sebagai kegiatan tahunan.

Tapi…… apakah Anda tidak apa-apa? Player.

"Apa?"

Soal ajakan dari putri adipati itu.

Aku menangguhkan ajakan Snow-san.

Suasana kelas saat itu sungguh luar biasa.

Snow-san membeku, teman-teman sekelas memancarkan Magic Power dari seluruh tubuh, dan kakak laki-laki Snow-san menatapku dengan tatapan sedingin es.

Tapi, begitu ya, pesta dansa…… aku benar-benar tidak tertarik.

Namun, ini adalah sebuah kesempatan. Jika aku memanfaatkan acara ini, aku mungkin bisa menjadi akrab dengan Snow-san dalam sekejap.

Selain itu, bukankah acara ini bisa dimanfaatkan untuk membantu Kotori-san mencari teman?

Player, apa maksud Anda…… eh, membicarakan orangnya, dia datang.

Ada kehadiran di belakangku; saat aku menoleh, tiga siluet mendekat dari balik jalan setapak di ladang gandum.

Itu Kotori-san, bersama dua pria tampan di sisinya—salah satunya terasa familier.

"A-, a-, a-, ano, Kastani-san…… ma-, maaf mengganggu waktu sibuk Anda."

"Halo, Kastani, kan namamu?"

"Aki-kun, sikapmu agak buruk. Bukankah ini pertama kalinya kalian bertemu?"

Wah, muncul pemuda pirang tampan dan pemuda berambut perak yang terlihat segar.

"Ma-, ma-, maafkan aku, anu, jadi…… di-, di-, diminta oleh Yang Mulia Lux untuk mengantar ke sini……"

Kotori-san menunduk sambil melirik pria berambut perak di sampingnya.

Lux? Siapa itu? Tapi orang ini kakinya jenjang sekali……

Dia adalah pangeran pertama dari klan kaisar kekaisaran.

Tokoh besar!! Tidak heran kakinya jenjang.

Tiba-tiba saja karakter dengan nama penting bermunculan.

Jangan-jangan…… ini berkah dari pelindungku, Rutos-sama?

Memiliki berkah tidak terlalu cocok untuk seorang penjahat, tapi…… aku akan menerima niat baiknya dengan senang hati.

Entah mengapa, sepertinya saya mendengar teriakan dari tempat yang jauh……

"Tuan Kastani. Maafkan kami, temanku Aki ingin berbicara denganmu, jadi aku memaksa Nona Tyler untuk mengantar kami ke sini."

"Begitukah, Yang Mulia."

Pangeran berambut perak dengan wajah yang menyegarkan itu sangat sopan, tapi……

Krak.

Dia menginjak galengan ladangku.

Aku ingin dia mencontoh Aki-kun; meskipun dia penuh permusuhan terhadapku, dia sama sekali tidak menginjak tanah ladang dan hanya menatapku tajam.

"Aku akan bicara jujur, Kastani. Bisa kau tolak ajakan pesta dansa Snow?"

Oh? Aku merasakan permusuhan yang luar biasa dari Aki-kun.

Bagus, aku tidak benci. Aku suka orang yang membenciku.

"Kenapa?"

"Apa kau tidak paham tanpa dijelaskan? Dunia kalian berbeda. Terus terang, aku tidak ingin Snow berdekatan dengan manusia sepertimu."

Seenaknya saja…… gadis itu yang mengajak Anda terlebih dahulu……

Navi-chan, diam dulu. Jangan langsung marah-marah.

"Jadi kau merasa aku tidak pantas?"

"Baguslah kau tidak perlu penjelasan panjang lebar; pemahamanmu lumayan juga."

Wah, sungguh khas negara penyindir dan lelucon gelap. Cara bicaranya keren juga.

Mari hadapi dengan gaya Mob Misterius yang Baik, Kastani.

"Kalau begitu, akan kubuktikan—aku dan Kotori-san di sini!"

"Eh?"

"Hm?"

"…………Hah?"

Wah, keluar juga sifatnya.

Di buku panduan pesta dansa tertulis bahwa berpartisipasi bertiga juga diperbolehkan.

Ini namanya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

"……Apa maksudmu? ……Apapun itu, aku sudah memperingatkanmu."

Aki-kun pergi meninggalkan ladang.

Tinggal aku, sang Pangeran, dan Kotori-san.

"Maaf ya, Tuan Kastani, dia sebenarnya bukan orang jahat—"

"Anda menginjak tanah."

"Eh?"

"Sejak tadi Anda menginjak galengan ladang saya, Yang Mulia."

Pangeran membeku dengan senyum yang tetap terpatri. Ekspresinya seperti membeku dalam lilin.

"……Oh, maafkan saya."

Pangeran menggerakkan kakinya untuk membersihkan tanah.

Dia tidak menyadari ada tunas kecil di tempat yang baru saja dia injak.

Karena kakinya terlalu panjang, sepertinya dia tidak pernah sadar dengan apa yang dia injak selama ini.

"Yah, kuharap kau tidak terlalu membencinya; aku hanya ingin menyampaikan itu."

"Saya menghargai perhatian Anda, Yang Mulia."

"Ahaha, kau menarik sekali. Baiklah…… oh iya, ada satu yang lupa kusampaikan."

Pangeran berambut perak itu memasang wajah seolah sudah lupa total pernah menginjak ladang.

"Aku juga mewakili Snow von Lichte untuk meminta maaf atas ketidaksopanannya. Maaf ya, dia tunanganku; dia sedang agak sensitif belakangan ini."

"Ya."

"……Yah, begitulah. Menggemaskan, bukan? Mungkin dia melakukan itu demi menarik perhatianku; maaf telah merepotkanmu."

"Ya."

"Aki memang agak kasar bicaranya, tapi itu demi kebaikanmu, bisakah kau memaafkannya?"

"Untuk itu, ya."

"Nona Tyler, maaf telah merepotkanmu untuk mengantar. Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kita makan bersama nanti?"

"Ah—…… Sungguh suatu kehormatan, namun sebagai keluarga Tyler, kami merasa tidak layak duduk satu meja dengan darah bangsawan yang mulia……"

"Fufu, begitu ya. Kau ternyata cukup teguh juga, ya."

Pangeran tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan kami.

Player, dia cukup dewasa; saya kira Anda akan langsung membunuhnya.

"Kau menganggapku apa, Navi?"

Aki-kun itu bagus.

Kata-katanya memang kasar, tapi aku merasakan keyakinan dalam dirinya. Kehendak seorang pelindung yang tidak membiarkan orang mencurigakan mendekati orang yang dia sayangi. Aku suka, itu terasa seperti tokoh utama.

Dibandingkan dia, sang Pangeran—

"Dia benar-benar tidak bisa diandalkan."

Karena dia menginjak galengan ladang?

Itu salah satunya, tapi yang utama adalah firasatku. Dia memiliki bau yang sama denganku.

Fufu, ini jadi menarik.

Situasinya mulai terasa seperti acara akademi.

Nah.

"……"

Kotori-san ditinggalkan sendirian, kasihan sekali dia dijadikan pion yang dirugikan……

Oke! Pertama, minta maaf!! Karena tanpa diskusi, aku menyeretnya ke dalam event pesta dansa!

"Maaf ya! Kotori-san!"

"Ma-, maafkan aku!! Kastani-san!"

"Ehh?"

Kotori-san membungkuk sedikit lebih cepat daripada gerakan membungkuk cepatku.

"Ke-, kenapa……"

Eh, mata Kotori-san tampak berkaca-kaca.

"Ka-, Kastani-san, ka-, kamu tidak membenci, a-, a-, aku, ya……?"

"Hmm??"

Kotori-san menangis.

Kira-kira siapa yang membuat ini jadi seperti ini……

"A-, aku, tadi, Kastani-san, tanpa izin, memberitahu, tempat ini…… padahal, Kastani-san, mungkin tidak ingin, tempat ladang ini diketahui orang lain, ditambah, ini mengganggu pekerjaan ladangmu…… Ma-, maafkan aku, sungguh……"

Jangan-jangan, dia meminta maaf karena membawa duo pria tampan itu kemari. Begitu ya, sangat khas Kotori-san. Seorang wanita yang sangat penuh perhatian.

"Ah, tidak masalah sama sekali. Malah, kalau Kotori-san punya waktu luang, datang saja main kapan pun."

Kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Inilah orang baik. Kotori-san pasti akan terkesan dan langsung merasa tenang—

"Ah, eh?"

Tes, tes, tes…… Air mata jatuh dari balik poni Kotori-san.

Wah, gawat, Player membuat gadis itu menangis.

Tidak mungkin, apa yang salah dengan aksi orang baikku tadi? Seperti es yang mencair di atap rumah saat musim semi, Kotori-san terus menangis.

"Ko-, Kotori-san, maaf, apa aku mengatakan sesuatu yang kasar—"

"Bu-, bukan—maaf, hiks, Sensei…… sa-, sangat, baik…… jadi, a-, aku, boleh datang, main…… selama ini, aku merasa, tidak boleh merepotkanmu…… karena itu, selama ini, di kelas pun…… sebenarnya aku ingin bicara, hiks. Tapi aku tahan……"

Sambil terisak, Kotori-san melanjutkan.

"Aku, tidak ingin, lebih dibenci lagi, oleh Sensei."

"Aku tidak membenci Kotori-san, kok."

"…………Hah?"

"Kenapa kau berpikir aku membencimu?"

Sesaat, Kotori-san membeku.

"Ka-, karenaaaaaa! Sejak masuk sekolah seminggu yang lalu, kamu tidak pernah bicara padaku sama sekali, tauuuuu!!"

Dia berteriak sambil mengeluarkan air mata dan ingus. Suaranya keras sekali, padahal dia biasanya benci bersuara keras……

"A-, apa, jangan-jangan, kamu malu karena harus bersama orang sepertiku yang suram dan penyendiri, lalu aku, agar tidak perlu bergantung pada Kastani-san, aku harus berusaha keras……"

"Ah, begitu ya."

……Apakah Anda yakin, Player?

Meskipun ditanya apakah aku yakin, Navi-chan…… Bagaimana mungkin aku membiarkan gadis menangis begitu saja—

Bukankah membiarkan orang yang menangis itu bukan sifat orang baik?

Ada benarnya juga. Aku harus melakukan sesuatu. Kalau dia pikir aku membencinya, lakukan saja kebalikannya.

"Aku menyukaimu, Kotori-san."

Wah, serius?

"…………Hah?"

Kotori-san membeku kebingungan, tubuhnya gemetar.

"Kotori-san, kau luar biasa. Aku menghormati kerja kerasmu dan sikapmu yang selalu berusaha berubah."

"Ah, eh…… hiks…… eh, ah, eh, menghormati, heh, i-, iya, kan, ah—begitu ya, rasa suka…… yang itu…… heh, ta-, tapi, aku senang……"

Wajah Kotori-san memerah seketika.

Apa dia sakit?

Bukankah Anda yang sakit kepala?

"Kotori-san, kau menantikan akademi sihir, kan?"

"I-, i-, iya."

"Oke, kalau begitu ayo kita berdua menargetkan menjadi teman sang Putri Adipati, atau lebih tepatnya—sahabat karibnya."

"Pu-, putri adipati itu, maksudnya Snow-sama……? I-, i-, itu mustahil! Be-, beliau itu bangsawan, dan Gifted kelas S! A-, aku yang seperti ini, itu, mustahil!"

"Tenang saja, kan ada aku."

"Eh. Se-, Sensei juga…… kalau begitu, mungkin, bisa……"

Kepercayaan dia pada Anda luar biasa sekali, Player.

Apakah itu berarti aku terlalu misterius?

Saya bodoh karena sempat memuji Anda. Saya akan mendaftar ikut kelas karate.

Kehadiran Navi menjauh; dia mematikan sensor persepsi bersama. Yah, sudahlah, sekarang waktunya komunikasi dengan Kotori-san.

"Ta-, tapi, Sensei…… ba-, bagaimana cara agar bisa berteman dengan Snow-sama……?"

"Mudah saja. Kotori-san, kau ingat apa pelajaran besok?"

"Um, "Simbiosis dengan Makhluk Sihir" dan "Teknik Pertempuran Sihir Jarak Dekat"……"

"Di akademi sihir kan ada tes di setiap pelajaran. Ayo kita targetkan nilai tertinggi di sana."

"Hah?"

"Pria tampan itu. Mari tunjukkan kemampuan kita pada ksatria Snow-san."

"Eh?"

◇◇◇◇

Keesokan harinya.

"Wah, luar biasa. Seperti peternakan."

"Pe-, pe-, pe-, pemandangan yang luar biasa."

Kotori-san di sampingku menatap pemandangan itu dengan mata berbinar. Kami datang ke padang rumput yang terletak di area akademi sihir yang sangat luas.

Padang rumput hijau yang tampak seperti perbukitan, dengan hutan lebat dan danau luas terlihat di sisi lain.

Di dalam pagar, makhluk mirip dinosaurus dengan bulu warna-warni sedang berjemur atau tidur siang dengan bebas.

Benar-benar dunia lain, monster dipelihara layaknya kuda atau sapi.

"Luar biasa! Aki! Haru-chan! Lihat! Pond Drake! Aku pernah melihatnya di buku bergambar!"

"Ah—iya, benar juga……"

"Ahaha, Snow-chan semangat sekali, ya."

"Ritsu! Itu makhluk apa?"

Teman sekelas yang mengikuti pelajaran juga tampak senang. Mereka berkumpul dalam kelompok pertemanan dan menikmati pemandangan peternakan.

"Berbaris. Kalian pikir ini tempat wisata?"

Seorang nenek muncul dari sebuah pondok, mengenakan jubah elegan dengan wajah bermata tajam yang penuh kerutan.

Berkat satu kata darinya, teman-teman sekelas diam dan berbaris tanpa perlu disuruh.

"Aku Madam Glerod, guru "Simbiosis dengan Makhluk Sihir". Aku tidak suka anak kecil yang berisik, dan aku suka anak kecil yang pintar. Salam kenal, para telur penyihir."

Madam Glerod melirik kami sekilas.

Sensasi dingin dan licin menjalar dari tengkuk hingga ujung kaki.

Wah, hebat sekali, dia mengirimkan sedikit Magic Power ke arah kami melalui tatapannya. Hanya segelintir orang berbakat yang bisa melakukan ini.

Nenek ini kuat sekali. Apakah setingkat dengan White?

"……Nenek itu, Magic Power-nya luar biasa."

"Apa-apaan nenek itu……"

"Sepertinya aku pernah melihat nama yang sama di buku daftar penyihir kelas satu……"

"Hei, jangan bilang…… si cantik yang menggoda itu, adalah nenek itu……?"

Teman sekelas yang tadinya merasa sedang wisata tampak mulai bersikap serius.

Hebat, inilah kelas kandidat tokoh utamaku. Aku bangga.

"……Heh, untuk ukuran anak bangsawan yang manja, kalian punya keberanian juga. Ah, kalian kelas dari si tua bangka Ansburna itu, ya? Pantas saja."

"Madam Glerod, apakah Anda kenal dengan Profesor Ansburna?"

Gadis berambut oranye dengan kuncir kuda yang segar bersuara.

Ah, dia adalah orang yang selalu bersama Snow-san dan Aki-kun.

Dia juga mantan teman sekelasku.

Seingatku di dunia sebelumnya, dia pindah dari jurusan hiburan ke jurusan umum.

Kurasa dia adalah pusat dari grup idola populer.

"Angkat tangan saat bertanya, Nona……"

"Aku Haru~, Haru Ayuriver. Putri kedua dari keluarga bangsawan Ayuriver."

Haru Ayuriver……

Seperti Kotori-san, namanya sedikit berubah, ya.

Ah. Aku ingat, seingatku namanya di dunia sebelumnya adalah Haru Ayukawa.

"Gadis yang semangat, Nona Ayuriver. Aku suka ketangguhanmu yang tetap tenang meski terkena Magic Power-ku. Ya, aku sudah kenal dengan kakek tua menyebalkan Ansburna selama lebih dari 100 tahun. Kalau kalian terus mengasah Magic Power, kalian juga akan berumur panjang."

Madam Glerod merespons dengan cukup ramah. Sepertinya dia benar-benar menyukai anak yang pintar.

"A-, apakah benar bahwa penyihir yang menguasai penguatan Magic Power bisa hidup sampai 1000 tahun?"

Kotori-san di sampingku berbisik bertanya.

Entahlah, dalam hal mengaktifkan tubuh, mungkin bisa……

"Nona Tyler. Jika kau ingin tahu rahasia awet muda, datanglah ke menara sihirku setelah pelajaran. Aku menyambut anak yang baik sepertimu."

"Hie…… ma-, maaf……"

Sepertinya pendengarannya masih tajam.

Bisa langsung tahu sifat Kotori-san dalam sekejap…… Hebat juga dia.

"Nah, cukup bicaranya, ayo kita mulai pelajarannya. "Simbiosis dengan Makhluk Sihir" hari ini adalah cara memelihara Pond Drake. Para telur, ada satu pertanyaan untuk kalian."

Ini dia.

"Makhluk apa sebenarnya "Makhluk Sihir" itu? Siapa yang bisa menjelaskan, angkat tangan."

Pelajaran akademi sihir selalu memberikan penilaian kepada siswa.

Kalau bisa menjawab kuis, nilai dari guru akan naik, dan itu berhubungan dengan prestasi, katanya.

Partisipasi pesta dansa dengan putri adipati Snow-san.

Agar Aki-kun, kakak laki-lakinya, mengakuiku, aku dan Kotori-san harus menunjukkan nilai di akademi ini.

Nilai yang bisa ditunjukkan oleh kita yang bukan bangsawan hanyalah kemampuan.

Karena itu, aku akan berpartisipasi aktif dalam pelajaran dan mengincar nilai terbaik.

Dalam hal itu, Kotori-san rajin, dia tidak masalah dengan pengetahuan semacam ini—

"Ha-, ha-, harus…… ang-, angkat tangan…… harus angkat tangan dan menjawab……"

Kotori-san mengeluarkan keringat di seluruh wajahnya dan terengah-engah.

Gawat, Kotori-san pemalu.

Mengangkat tangan di depan banyak orang adalah siksaan baginya. Kalau begitu, aku yang harus maju.

Makhluk sihir adalah makhluk yang memiliki faktor sihir di inti keberadaannya.

Itu seperti mengatakan bahwa turun salju berarti salju turun?

"Ha—"

"Ya."

Tepat saat aku akan mengangkat tangan, ada tangan yang terangkat sepersekian detik lebih cepat.

Itu Snow-san.

"Oh, Snow. Oh, kau juga lulus ujian masuk tahun ini."

"Madam, terima kasih banyak atas bimbingannya di ordo ksatria sihir, namun di sini, mohon perlakukan aku sebagai murid."

Ternyata mereka berdua saling kenal.

Sikap seperti ini terhadap Snow-san yang merupakan putri adipati, seseorang yang kedudukannya sangat tinggi.

Nenek ini mungkin orang yang sangat berpengaruh.

"Fufufu, kau pandai bicara, gadis kecil. Baiklah, seperti katamu, Nona Snow? Jawab konsep makhluk sihir."

"Ya, "Makhluk Sihir" adalah makhluk yang memiliki faktor magis di inti keberadaannya; di guild petualang mereka juga disebut monster. Secara spesifik, makhluk yang disebut monster memiliki tiga karakteristik: 1. Memiliki organ Magic Power, 2. Mampu memurnikan Magic Power sendiri, 3. Mampu menggunakan sihir unik, selain itu—"

"Ah, sudah, sudah. Jangan ambil pekerjaanku. Berikan Nona Snow nilai A+."

Pletok.

Madam Glerod menjentikkan jarinya.

Topi penyihir runcing muncul di kepala Snow-san.

Topi yang bersinar keemasan itu adalah tanda murid berprestasi.

Teman-teman sekelas bersorak.

Snow-san adalah orang populer di dunia sebelumnya, dan sepertinya popularitasnya luar biasa juga di dunia ini.

"Te-, terima kasih, Madam."

"Kalian juga, belajarlah dari Snow. Nah, hari ini bintang utama dari makhluk sihir ini dikenal sebagai spesies yang sangat patuh pada manusia."

Pond Drake.

Saat dilihat dari dekat, ini benar-benar dinosaurus.

Velociraptor dengan bulu.

Hijau terang dan biru pucat.

Ukurannya cukup besar, sebesar mobil kecil. Tekanannya luar biasa.

Kururururu

Beberapa dari mereka bermain-main di dalam pagar peternakan, saling bersahutan.

"Pond Drake, makhluk sihir peringkat C. Di pelajaran hari ini, kalian akan menjinakkan mereka. Di kelasku tidak ada teori. Dalam jam pelajaran ini, jinakkan satu ekor Pond Drake. Aku akan menunjukkan caranya satu kali."

Madam Glerod melirik peternakan.

Para Pond Drake yang sedang bersantai sejenak gemetar dan berhenti bergerak.

Cahaya biru gelap menyebar, Magic Power Madam Glerod menyebar ke seluruh peternakan seperti hujan badai.

Kururu

Para Pond Drake bersujud ke tanah dan menundukkan kepala secara bersamaan.

Mereka terlihat seperti prajurit yang sedang memberi hormat kepada raja.

Begitulah, sepertinya mereka menurut hanya karena aku menunjukkan Magic Power.

"Cara menjinakkan Pond Drake itu berbeda-beda bagi setiap orang. Menundukkan mereka dengan menunjukkan Magic Power seperti tadi juga bagus, atau bersikap baik agar mereka menyukaimu pun boleh. Jika kalian bisa membuat setidaknya satu Pond Drake membungkuk sebelum kelas berakhir, aku akan menganggap kalian berhasil dan lulus."

Pelajaran pun dimulai.

Semua orang mulai mengarahkan gelombang Magic Power ke arah Pond Drake, atau mencoba mengajak mereka bicara.

Namun, tidak banyak yang berhasil.

Para Pond Drake terlihat tidak tertarik, mereka justru berguling-guling atau saling membersihkan bulu teman mereka dengan paruh.

"Nah…… ini hanya gumamanku saja, para telur. Pond Drake itu punya harga diri yang tinggi. Mereka tidak akan pernah tunduk pada orang yang takut atau tidak memiliki rasa bangga diri, yah, tapi ini hanya gumamanku saja."

Nenek tsundere……!

Begitu ya, artinya mereka menyukai manusia yang pemberani. Dinosaurus-dinosaurus ini punya selera yang bagus.

Sensitivitas Player memang terasa lebih mirip monster daripada manusia.

Aku tidak akan kalah oleh sindiran Navi.

"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan kalian, para naga kecil pasukan."

『『『『『Kurururu……』』』』』

Tanpa membuang waktu, Snow-san sudah berhasil menjinakkan para Pond Drake.

Lebih dari sepuluh ekor Drake secara bersamaan membungkuk ke arah Snow-san.

"A-, a…… i-, i-, ini. He-, hebat sekali, Snow-sama……"

"Bukan begitu, cara menenun Magic Power-nya sangat rapi. Tapi, Kotori-san juga pasti tidak akan kalah."

"Eh?"

"Cara Kotori-san mengendalikan Magic Power adalah kombinasi antara bakat alami dan usaha keras yang sangat hebat, jadi tenang saja, kau pasti bisa."

"Se-, Sensei, sa-, sampai segitunya memujiku…… harus kulakukan, aku bisa, aku bisa, aku bisa."

Remas, remas, remas.

Kotori-san mulai mengalirkan Magic Power dengan rutinitas unik miliknya.

Kururu……?

Satu ekor Drake perlahan mendekati Kotori-san sambil memiringkan kepalanya.

Sepertinya dia sudah baik-baik saja.

Sekarang, apa yang harus kulakukan?

Jika ketahuan tidak bisa menggunakan sihir, itu bisa berakibat fatal sampai dikeluarkan dari akademi.

Aku memang sempat mengembangkan teknik yang terlihat sangat seperti sihir, yaitu memanipulasi bentuk tanah ladang menggunakan aplikasi Cursed Power, tapi…… itu sepertinya tidak berguna di sini.

"Hei, kau tadi mencoba menjawab pertanyaan guru, ya?"

"Ah, Aki-kun, halo."

"Seingatku aku tidak mengizinkanmu memanggil namaku."

Aki-kun, si pemuda pirang tampan yang elegan, melontarkan sindiran tajam dengan mulus.

Karena aku sudah terbiasa dengan sindiran Navi, bagiku itu hanya seperti angin sepoi-sepoi.

"Hei, Aki, kenapa kau bicara seperti itu?"

"Haha, sudahlah, Snow. Aki melakukan itu demi kebaikanmu."

Trio berprestasi itu muncul.

Snow-san dan Pangeran Lux.

"Ayo pergi, Snow. Sudah kubilang berkali-kali, kau harus memilih dengan siapa kau bergaul."

"Hmm! Aku tidak kenal Aki! Kotori-chan, bisa bicara sebentar?"

"Eh, a-, i-, iya!"

Eh, Kotori-chan? Mereka berdua saling kenal?

"Cara menenun Magic Power-mu sangat rapi."

"Eh, a-, eh."

"Aduh, tidak perlu tegang begitu! Kita kan teman korespondensi!"

"Eh, a-, a-, eh, ta-, ta-, tapi, S-, S-, S-, Snow-sama, tidakkah lebih baik…… kalau tidak bicara pada orang sepertiku……"

"Tidak ada hubungannya. Maaf ya, aku terus mencari waktu yang tepat untuk menyapa Kotori-chan…… tapi memikirkan hal seperti itu justru tidak sopan, bukan?"

Mata Kotori-san berbinar.

Mungkin dia bisa merasakan kehadiran seorang teman.

"Snow…… Yah, setidaknya ini lebih baik daripada mengikuti pelajaran ini bersama orang di sebelahmu itu."

Aki-kun menghela napas dalam-dalam.

Dia menatapku dengan tatapan seolah aku adalah sesuatu yang menjijikkan.

"Yah, berusaha keraslah sebentar, meskipun itu usaha yang sia-sia."

Sambil berkata begitu, Aki-kun pergi menjauh.

Di belakangnya, tujuh ekor Pond Drake yang sepertinya sudah ia jinakkan mengikuti dengan patuh.

Bagus sekali, dari tutur kata hingga perilakunya, dia benar-benar karakter rival yang sempurna.

Ah, aku ingin sekali berinteraksi dengan karakter seperti itu dan membuatnya melunak.

Oke, mari biarkan Kotori-san berusaha.

Nah, soal kejadian setelah ini.

Aku tidak sengaja menggunakan Cursed Power sedikit sekali.

Hasilnya, seluruh Pond Drake di peternakan itu pingsan dan menyebabkan kekacauan besar.

Tapi entah kenapa, aku malah disukai oleh dinosaurus besar bernama Knight Drake yang bertugas sebagai penjaga peternakan.

Aku mendapatkan nilai A++. Mantap.

◇◇◇◇

"Tuan Kastani. Nilai S+."

"Eh?"

Pelajaran teknik pertempuran sihir jarak dekat di gedung olahraga.

Tepat setelah dimulai, Profesor Ansburna yang mengenakan jubah hitam dan helm dengan enam lubang mata memberikan penilaian tertinggi kepadaku.

Tatapan dari teman sekelas, terutama para pria, terasa sangat intens.

Hasil akhirnya, aku sempat berurusan dengan Aki-kun.

Kami akhirnya harus melakukan latih tanding dengan Profesor Ansburna.

Aki-kun pingsan karena satu serangan profesor, sementara aku berpura-pura terhuyung untuk menghindari serangan yang sama.

Laga simulasi berikutnya adalah profesor melawan Pangeran tunangan Snow-san. Hasilnya, nilai A.

Pangeran ini sepertinya adalah orang hebat dengan gelar "Tujuh Langit" atau apalah itu. Memang cukup lumayan, sih.

"Ansburna-o…… sejujurnya, aku kurang bisa menerimanya."

"Hmm, Pangeran Lux, apa yang Anda maksud?"

"……Alasan kenapa aku mendapatkan nilai A sementara dia mendapatkan nilai S. Sulit dipercaya bahwa Anda, pahlawan perang besar, bisa salah menilai kemampuan murid."

Pangeran mendekati profesor dengan tetap mempertahankan senyumnya.

"Yang Mulia. Apakah Anda tahu apa hal terpenting dalam pertarungan antar penyihir?"

"Kemampuan sihir."

Brak.

Tanah di sekitar sang Pangeran terangkat, puing-puing melayang di sekelilingnya.

Teman-teman sekelas bersorak. Ternyata menggunakan sihir tanpa perlu melafalkan mantra itu sulit.

"Sihir tanpa mantra. Luar biasa. Di kekaisaran pun mungkin tidak ada orang yang memiliki kemampuan sihir sehebat Anda."

"Ahaha, aku tersanjung. Kalau begitu, bagaimana dengan nilaiku—"

"Meski begitu, aku tidak bisa memberikan nilai lebih tinggi daripada Tuan Kastani kepada Anda."

"…………Hah?"

Pangeran tampak jelas tersinggung.

Dia tersenyum, tapi kelopak matanya berkedut.

"Ansburna-o, meskipun Anda adalah mantan dari Tujuh Langit atau Penyihir Terkuat, bukankah sebaiknya Anda lebih berhati-hati dengan kata-kata Anda?"

"Saya rasa kata-kata saya sudah tepat. Lagi pula, Yang Mulia salah. Dalam pertarungan antar penyihir, hal terpenting bukanlah kemampuan sihir."

"Apa?"

"Yang terpenting adalah mengenali perbedaan kekuatan secara akurat."

"…………Aku akan melaporkan kejadian di kelas ini kepada kepala akademi."

"Hoh hoh hoh. Silakan. Namun, tetap saja sulit bagi saya untuk memberikan nilai lebih dari Tuan Kastani kepada Anda."

"……Kau sudah tua, Ansburna si Darah Segar."

Pangeran meninggalkan gedung olahraga begitu saja.

Para pengikutnya dengan panik mengejarnya. Pangeran sempat menatapku dengan sangat tajam, tapi aku berpura-pura tidak menyadarinya.

Tapi, Profesor Ansburna, ya.

Player, mungkinkah dia menyadari kemampuan aslimu?

Hmm, entahlah. Tapi bukankah mendapatkan nilai tinggi yang misterius itu justru sangat misterius?

Status terbuka, Kecerdasan 3 ya. Batas maksimalnya 100.

Setelah kelas selesai, aku pergi ke ruang kesehatan untuk menjenguk Aki-kun dan tidak sengaja bertemu Snow-san.

Saat berbicara di depan Aki-kun yang sedang tertidur, sebuah fakta mengejutkan terungkap.

Aku ternyata pernah bertemu Snow-san dulu sekali.

Itu si rambut pirang saat kejadian Faith dan kegiatan Kasukatsu pertama.

Karena gaya rambutnya berubah, aku sampai tidak menyadarinya.

Terlebih lagi, sepertinya Snow-san memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya. Dengan kata lain…… dia seperti tokoh utama! Bagus!

Player, saya baru saja terpikirkan. Snow memiliki ingatan kehidupan sebelumnya, bukan?

Sepertinya begitu?

……Mungkinkah dia juga tahu tentang kejadian saat kau melindungi Kotori dari Dewi? Itu adalah kejadian yang rasanya berhubungan dengan identitas aslimu, bukan?

Eh? Tapi semua orang sedang tertidur waktu itu, kan?

Lagipula, jika Snow-san sadar, dia pasti akan melindungi Kotori-san……

Artinya! Kejadian itu adalah rahasia yang hanya diketahui olehku dan Dewi!

Fuh, logika penalaran yang luar biasa…… Aku takut pada kecerdasanku sendiri.

U-, um…… saya tidak tahu kenapa, tapi saya mulai merasakan firasat yang sangat buruk.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close