Interlude 2
Snow,
Keinginanku
Aku memiliki seorang kakak perempuan.
Berbeda dengan kakak laki-laki tiriku, Aki, yang
bereinkarnasi bersama ke dunia ini, dia adalah kakak kandungku yang berbagi
darah yang sama.
Dia adalah orang yang sempurna.
Dalam hal pelajaran, tata krama, penampilan, hingga
kepribadian. Sejak kecil dia disebut sebagai anak ajaib, namun di atas
segalanya, dia adalah orang yang sangat lembut.
"Coba lihat, Snow, jangan menangis! Lihat, lihat!
Wajah aneh Kakak ini! Baa~"
Jika melihat orang yang menangis, dia akan membuat mereka
tertawa.
Jika ada orang yang kesulitan, dia akan membantu.
Dia adalah orang yang persis seperti tokoh utama dalam
sebuah cerita.
Kakak meninggal dalam sebuah kecelakaan sebelum aku
sempat masuk SMA.
Saat sedang bertugas, dia tertabrak kendaraan yang lepas
kendali demi menyelamatkan seorang anak kecil yang akan tergilas, dia menjadi
tumbalnya.
Sampai saat terakhirnya, Kakak tetaplah sosok pahlawan
yang penuh keberanian.
Saat Kakak meninggal, semua orang menangis.
Namun entah mengapa, aku tidak bisa menangis.
Aku yang selalu ingin menjadi seperti Kakak, namun tak
bisa mencapainya.
Diriku yang sebenarnya adalah orang yang malas, pengecut,
dan hanya bisa berfantasi.
Padahal sebenarnya, aku ingin menghabiskan waktu dengan
bermain game di rumah saja.
"Snow……
maaf! Setelah ini, Kakak serahkan padamu!"
Kata-kata terakhir Kakak sesaat sebelum mengembuskan
napas terakhir di atas aspal yang dingin itu tidak pernah hilang dari benakku.
Orang itu tetap tersenyum sampai detik terakhirnya.
Jika Kakak tidak ada lagi, maka aku harus melakukan hal
yang sama seperti yang dia lakukan.
Tapi, Kakak, pahlawan sepertimu—pahlawan yang rela
mengorbankan diri demi menolong orang lain—tidak ada di mana pun. Bagaimana
caranya agar aku bisa menjadi sepertimu?
Ke mana aku harus pergi dan apa yang harus kulakukan agar
bisa menjadi dirimu?
Begitulah yang selalu kupikirkan.
"Biar itu, bukan si Hirata, tapi biar aku saja yang
maju!"
Seorang pahlawan, ada di sana.
Tepat sebelum bereinkarnasi ke dunia ini, aku menemukan
pahlawan itu.
Sama seperti Kakak.
Dia mengorbankan dirinya dan melindungi orang lain.
Seorang pahlawan.
Saat bereinkarnasi oleh Dewi itu pun, kesadaranku terus
terjaga dengan jelas.
Karena itulah, aku ingat.
Kastani-san telah melindungi Hirata Kotori-san.
Di sekolah, aku hanya menganggapnya sebagai orang yang
sesekali membahas soal game.
Namun, hanya aku yang mengetahui siapa dirimu yang
sebenarnya.
Dirimu adalah cahaya, kau adalah pahlawan yang sama
seperti Kakak.
Cahaya yang kau tunjukkan itu telah menyelamatkanku.
Bahkan jika kenyataan lebih banyak dipenuhi oleh
penderitaan dan kesedihan sekalipun—
Aku ingin mengejar cahaya yang sama dengan yang dituju
oleh Kakak dan dirimu.
Karena itulah—aku akan…… dirimu.
◇◇◇◇
Sekitar satu minggu telah berlalu.
Sesuai tujuan, eksistensiku dan Kotori-san meningkat dari
hari ke hari.
Dalam pelajaran "Budidaya Tanaman Sihir"
kemarin, kami berhasil membudidayakan Man-Eating Lettuce dan Tentacle
Tomato.
Itu adalah tanaman cerdas yang memburu nutrisinya
sendiri.
Man-Eating Lettuce rasanya
sangat manis dan lezat jika direbus. Untuk Tentacle Tomato, mungkin aku
akan mengupas kulitnya dan memakannya langsung. Menaburkan sedikit garam di
atasnya akan menjadi yang terbaik, atau bahkan dipanggang di atas roti pun
sangat luar biasa.
Bagaimana caranya ya supaya aku bisa minta dibagikan
benihnya……
Sekarang, setiap kali berjalan di akademi, aku selalu
mendapatkan berbagai tatapan dari semua tingkatan dan kelas.
Penilaian orang terhadap Kotori-san adalah 50:50.
Setengahnya tertarik, setengahnya lagi iri.
Sementara penilaian terhadapku terasa seperti 90:10.
《Apa
detail rincian persentasenya?》
"Tertarik
1, permusuhan 9."
《Bukankah
itu buruk?》
"Begitulah."
Jika
itu adalah roleplay penjahat ala Cursed Power, mungkin tidak
masalah, tapi di akademi sihir ini aku harus tetap menjadi sosok orang baik
yang misterius.
Namun,
orang yang menaruh 1% rasa tertarik itu, mungkinkah dia calon tokoh utama?
"Eh?"
Saat masuk ke kelas, sudah ada kerumunan orang di kursi
Kotori-san dan kursi Snow-san.
Sudah biasa jika banyak orang berkumpul di kursi
Snow-san, tapi jarang sekali hal itu terjadi di kursi Kotori-san.
Saat aku melihat situasi di kursi Kotori-san—
"Ah……
Se-, Sensei……"
"Kotori-san? Ada apa—oh."
Meja Kotori-san dalam keadaan mengenaskan.
Itu gagak. Bangkai gagak yang ditancapkan ke meja dengan
sebuah pisau.
Omong-omong,
meja Snow-san juga dalam kondisi yang sama.
Wow, hebat juga mereka. Melakukan
tindakan seperti ini di meja seorang putri adipati bisa membuat mereka dihukum
mati.
"Ah, Kastani-san…… selamat pagi……"
"Selamat
pagi, Snow-san. Ini adalah……"
"A-, aku tidak tahu, saat datang ke kelas pagi tadi,
ini sudah……"
"Begitu ya…… yasudah, untuk sementara mari kita
bersihkan."
"Eh."
"Aku juga akan membersihkan milik Kotori-san, jadi
jangan disentuh, ya."
"Se-, Sensei……"
Aku bisa merasakan tatapan dari seluruh penjuru kelas.
"Hei, lihat dia……"
"Kenapa dia bisa setenang itu?"
"Wah, dia benar-benar berani
menyentuhnya……"
"Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan hal
kotor?"
"Dasar pendaki sosial keturunan budak
tani……"
Aku membersihkan bangkai gagak dan kotorannya
menggunakan alat pembersih yang ada di kelas.
Kotori-san dan Snow-san juga mencoba membantu, tapi
mereka berdua memaksakan diri. Aku menyuruh mereka beristirahat di tempat yang
agak jauh.
《Player, bukankah seharusnya tempat kejadian perkara
ini disimpan terlebih dahulu……》
Navi-chan,
lihatlah wajah Kotori-san dan Snow-san.
Meskipun
mereka berdua adalah kandidat tokoh utama, melihat bangkai gagak di atas meja
sejak pagi hari tentu membuat mereka mual.
《……Apakah
itu juga bagian dari akting orang baik?》
Eh? Ini kan hal yang wajar.
《Seperti dugaan, kau memang…… orang yang menakutkan.》
Apa sih yang kau bicarakan?
Bangkai gagak ini aku bungkus dengan kertas atau
semacamnya, lalu—
"……Pakai ini."
"Hm?"
Orang yang memberikan kertas besar kepadaku adalah sosok
yang tak terduga.
Aki von Schwarz, pemuda pirang tampan yang seharusnya
sangat membenciku.
"O-, terima kasih, Aki-kun—maksudku,
Schwarz-san."
Aki-kun tiba-tiba sedikit menundukkan kepalanya.
"Maaf. Seharusnya ini adalah hal yang harus segera
kutangani, dan lagi…… panggil saja Aki."
"Eh?"
"Panggil dengan nama pun tidak apa-apa. Kastani, apa
bangkai burung ini harus dibungkus dengan kertas ini?"
Dia
tiba-tiba melunak……
Angin
apa yang membawanya? Apa ada hal baik yang terjadi padanya?
"Ah,
soal bangkai burungnya, jangan terlalu disentuh ya, darahnya juga berbahaya. Kotori-san,
Snow-san, apa ada darah yang terkena pakaian kalian?"
"Ah, i-, iya!"
"Ti-, tidak apa-apa, te-, terima kasih……"
Oke, sepertinya tidak ada masalah.
"Maaf, Kastani-kun. Aku juga akan membantu. ……Maaf
karena aku tidak bisa langsung bergerak tadi."
Ayukawa-san,
tidak, Haru Ayuriver-san juga ikut membantu membersihkan.
Dia
anak yang baik. Kupikir anak bangsawan tidak akan mau melakukan pekerjaan
kotor……
Setelah
Ayuriver-san membantu, teman sekelas lainnya pun mulai ikut membantu
membersihkan noda dengan sihir air dan membantu bersih-bersih.
Ada
banyak orang baik di kelas ini.
Namun,
tetap saja ini adalah kumpulan manusia. Tidak semuanya adalah orang baik
layaknya tokoh utama.
"Ini pasti perbuatanmu, kan?"
"Jangan melakukan tindakan menjijikkan seperti
itu."
"O?"
Buk. Aku tiba-tiba didorong dari belakang.
Pria ini juga adalah reinkarnator yang dulunya teman
sekelasku.
Aku lupa namanya, tapi di dunia sebelumnya dia sepertinya
adalah petinju yang menjanjikan……
"Ini pisau yang kau buat di pelajaran membuat alat
sihir, kan?"
Oh, benar juga.
Pisau batu sihir yang mendapatkan penilaian lumayan B+
pada pelajaran tiga hari yang lalu. Omong-omong, Kotori-san mendapatkan nilai
A.
"Berlagak jadi orang baik lalu membersihkan…… kau pasti berniat menghilangkan barang bukti, kan."
"Benar sekali."
Teman-teman si petinju yang nakal dan murid laki-laki
yang biasanya sering dirundung oleh mereka menggumamkan hal itu dengan suara
yang berat.
Berlagak jadi orang baik……?
Navi, apa aktingku barusan terlihat seperti orang
baik?
《Ya. Player, silakan busungkan dadamu.》
Serius?! Wah, aku terkejut! Apakah ini berarti aku
tidak hanya memiliki bakat sebagai penjahat, tapi juga bakat sebagai orang
baik?
Aku takut pada bakat serbisaku sendiri.
"Kau, apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?
Beraninya kau melakukan hal seperti ini pada Snow-sama."
Tapi, pisau ini adalah tiruan.
Tidak ada Cursed Power yang kucampur dalam jumlah
kecil untuk latihan menyembunyikan sihir. Lagipula, pisau asliku tersimpan di
dalam ruang penyimpanan sihir……
Pelecehan yang sangat terencana…… heeh, menarik.
Artinya ada seseorang yang mencoba menjebakku.
Bagus. Nuansa yang licik ini. Bukankah rasanya jadi
semakin seperti cerita anak sekolah?
"Hei!! Kau, jangan mengabaikan kami!!"
Si petinju mengayunkan tinjunya. Mudah saja untuk
menghindar, tapi…… bagaimana kalau kubiarkan saja dipukul sekali? Maksudku,
tidakkah akan terlihat misterius jika setelah dipukul aku malah tersenyum?
《Bodoh! Kalau bisa menghindar, hindari—》
"Ya, cukup."
Plak.
Tinju si petinju terhenti. Aki-kun menahan tinjunya.
"Ke-, kenapa……? Aki-sama, dia itu……"
"Seingatku aku tidak mengizinkan kalian memanggil
namaku. Lowrie Ocker."
"Be-, beraninya kau melindungi rakyat jelata seperti
ini!?"
"B-, belakangan ini, kematian gagak yang
mencurigakan itu pasti juga perbuatan dia!"
"Be-,
benar! Lihat pisau selera rendah ini! Ini sama persis dengan yang dia buat di
pelajaran membuat alat sihir sebelumnya!"
Sayang sekali, kalian tidak mengerti estetika gagang
tengkorak dengan pelindung tangan berbentuk naga ini……
"……Apa kau benar-benar berpikir ada orang bodoh
yang mau melakukan hal mencolok seperti ini dengan pisaunya sendiri? Apa kau
tidak pernah menggunakan kepalamu untuk berpikir?"
"A-, aku, demi Snow-sama, aku——"
"Orang yang memikirkan Snow adalah mereka yang
bekerja sama membersihkan meja. Kalian hanya menonton sambil menyeringai sejak
tadi, bukan?"
"Ugh……"
Pemuda pirang setinggi 180 cm lebih itu punya aura
yang kuat, ya.
Si petinju dan pengikutnya juga punya tinggi badan
yang lumayan, tapi terlihat kalah telak dari Aki-kun.
"Semuanya, silakan kembali ke kursi kalian."
Di situlah kata-kata Snow-san memberikan efeknya.
Biasanya rasa tidak puas para mob itu akan reda
dengan ini—tapi kali ini berbeda.
"Ta-, tapi, Snow-sama, dia, tetap saja
mencurigakan!"
"Benar! Lagipula, aneh sekali rakyat jelata yang
dulunya budak bisa masuk ke Maris Gear! Dia bahkan tidak pernah menggunakan
sihir sekali pun, kan!?"
"Mungkin dia hanya disukai oleh Profesor
Ansburna!"
Mereka tidak akan mundur semudah itu.
Saat menginjak usia 16 tahun, harga diri mulai tumbuh
pada anak laki-laki.
Kelas kami punya banyak anak yang lucu, dan karena mereka
sudah terlanjur melabrakku, mereka tidak bisa mundur dengan mudah. Aku tidak
benci sifat mereka yang berdarah panas.
Snow-san tersenyum tipis pada anak-anak bangsawan yang
berdarah panas itu.
"Apa kalian berniat menyuruhku mengatakan hal yang
sama untuk kedua kalinya?"
““““““Ah……””””””
Para
bangsawan mob itu terdiam seolah disiram air dingin.
Putri adipati itu keren sekali.
Mungkin Snow-san adalah puncak dari piramida rantai
makanan di kelas ini.
Para penonton itu pun pucat pasi dan segera bubar.
"Maaf, Kastani-san. Pertama-tama, terima kasih.
Terima kasih karena sudah berinisiatif membersihkan ini, saat kami tidak tahu
harus melakukan apa."
"Bukan apa-apa."
"……Kau benar-benar orang yang aneh."
Sepertinya Snow-san sedang dalam mode putri adipati
sekarang.
Perasaan di mana dia bisa dengan jelas membedakan
mode on/off ini entah mengapa terasa mirip dengan White.
"Snow-chan, tapi…… sebenarnya siapa yang melakukan
ini dan untuk tujuan apa……"
Ayuriver-san
bergumam dengan nada yang sulit.
Memang
benar, untuk tindakan kriminal yang begitu berani, caranya terasa sangat kasar.
"Aku
akan mencari pelakunya. Jika itu hanya aku, mungkin tidak masalah, tapi cara
yang melibatkan Kotori-chan dan Kastani-san tidak bisa kubiarkan."
"Snow……
tapi, kau terlibat masalah itu—"
"Aki, kau tahu kan kalau aku paling benci hal
seperti ini."
"……Percuma kalau dilarang, ya."
"Aku
juga akan membantu, Snow-chan."
"Terima
kasih, Haru-chan. Cara licik seperti ini seharusnya hanya dilakukan di kalangan
bangsawan saja. Aku pasti akan mencari pelakunya dan membuat mereka
meminta maaf kepada Kotori-chan dan Kastani-san."
Begitu ya, awal dari event mencari pelaku.
Oh, aku juga ingin ikut…… terdengar menarik.
"Aku punya rencana. ……Kastani-san,
Kotori-chan. Jika tidak keberatan, bisakah kalian membantu mencari
pelakunya?"
"Mantap."
“““““Eh?”””””
Gawat. Mode orang baik aktif!! 《Kau ini bicara apa sebenarnya》
"Ehem. ……Aku tidak bisa memaafkannya! Perbuatan
macam apa ini! Apa mereka tidak punya hati nurani?!"
"Kastani-san…… benar saja, kau itu…… sama seperti Kakak……"
Hm?
Tadi, Snow-san seperti baru saja akan mengatakan sesuatu?
Yah, sudahlah. Sekarang mari berakting sebagai orang baik yang antusias.
"Seseorang yang menginjak-injak nyawa gagak dan
menyakiti hati teman, aku tidak bisa membiarkan orang seperti itu!"
"……Kau memang orang seperti yang kuduga."
Oke,
respon Snow-san sangat bagus.
Tingkat
kesukaan naik! Dengan begini aku akan masuk ke rute pertemanan!
"Ayo
lakukan! Snow-sama, izinkan aku membantu! ……Ya kan! Kotori-san!"
"……Ah.
A-, iya!"
Tentu saja, jangan lupakan sub-event membuat teman
untuk Kotori-san.
"……Entah mengapa, situasinya jadi aneh."
"Nyahaha, tidak apa-apa, Aki-chan. Aku juga akan
membantu."
Angin berhembus. Aku benar-benar berpartisipasi dalam event
tokoh utama.
"Jadi, Snow, sebenarnya dari mana kita akan mulai
mencari pelakunya?"
Pertanyaan Aki-kun masuk akal.
Sejujurnya, aku tidak punya petunjuk apa pun.
Biasanya Navi atau White yang selalu melakukannya
untukku.
Tapi Snow-san yang memiliki aura cendekiawan yang sama
denganku, pasti punya rencana yang brilian.
"Kita akan bertanya pada salah satu dari tujuh
misteri akademi, hantu yang tahu segalanya."
"Eh?"
《Oh, si putri ini mulai bicara konyol lagi.》
Tunggu, salah dengar?
Tadi aku seperti mendengar kata-kata bodoh yang tidak
pantas diucapkan oleh seorang putri adipati——
Tidak, itu pasti salah dengar. Karena pesta kali ini,
selain aku, semuanya adalah elit kelas atas.
Tidak mungkin mereka percaya pada hal konyol yang bahkan
tidak eksis seperti hantu.
"Kita akan menuju Hutan Terlarang yang ada di
distrik timur area akademi."
Lokasi spesifiknya keluar, ya?!
Dari peternakan yang kami kunjungi di pelajaran
"Budidaya Tanaman Sihir" sebelumnya, hutan yang sangat luas terlihat
di kejauhan, tapi……
"Tempat itu…… agak berbahaya tapi…… yah, kalau ada Gifted,
kurasa tidak masalah."
"Nyahaha, yah, kalau ada Aki-chan dan Snow-chan,
kurasa aman."
Kenapa kalian semua semangat sekali?
Tujuh misteri akademi itu apa sih?
Jangan biarkan misteri tetap menjadi misteri, sekolah
sihir macam apa ini, serius.
《Player,
mari kita bersiap.》
Kau
ini, saat keadaan genting kau malah mencoba mematikan sensor persepsi, kan!
Aku
tidak lupa! Saat kejadian Faith beberapa tahun yang lalu, kau
membuangku!
Tapi, kalau aku bilang "aku tidak bisa pergi karena
takut hantu", itu tidak terasa misterius……
"Tujuan kita adalah si 'Si Rambut Biru dari Hutan
Terlarang', salah satu dari tujuh misteri akademi."
……Namanya seram, bukan?
◇◇◇◇
"Dengan begitu, penyerangan ke fasilitas eksperimen
rahasia gereja malam ini libur."
"Rajaku, Hutan Terlarang seharusnya adalah tempat
yang bahkan tidak bisa dimasuki oleh orang dengan peringkat A ke atas di guild
petualang, tapi……"
White bergumam sambil mengunyah Man-Eating Lettuce.
Orang ini benar-benar makan sayur setiap ada
kesempatan. Apa dia hamster?
"Itu…… katanya jika murid akademi sihir, mereka
boleh masuk dengan risiko sendiri."
Institusi pendidikan dengan gaya laissez-faire
yang mengerikan.
Jika ini adalah tempat untuk mendidik eksistensi yang
melampaui masyarakat seperti penyihir, mungkin itu kebijakan pendidikan yang
sesuai. Seperti, menanggung risiko hidup sendiri.
"……Rajaku, bolehkah aku bicara satu hal."
"Hm?"
"Belakangan ini, orang-orang dari Kelompok Suci
sering keluar masuk akademi ini."
"Oh."
Kelompok Suci.
Setting dari kelompok yang merupakan
bagian gelap dari Gereja Maris dan merencanakan penguasaan dunia.
Yah, sebenarnya tidak ada orang seperti itu. Gereja
Maris hanyalah sekumpulan penjahat yang korup.
"Artefak telah dibawa masuk. Ini adalah sketsa dari
benda tersebut……"
"Hm? Ini……"
Buku sketsa yang disodorkan White.
Di sana, pakaian…… seperti haori digambar
dengan warna.
Pola
zig-zag putih di keliman dan manset, serta haori berwarna biru tua……
Rasanya
seperti haori milik Shinsengumi yang ada di film kolosal.
"……'Haori
Makoto'. Mirip sekali dengan artefak yang dikenakan oleh utusan Tuhan yang
ditakuti sebagai 'pembantai manusia' dalam perang besar kuno. Perasaanku jadi
tidak enak."
Event baru mulai terasa.
Perang
besar kuno, utusan, pembantai manusia, haori Shinsengumi……
Oh, tiba-tiba aku mendapat
inspirasi akan kebenaran dunia baru (tertawa).
Hari
ini aku tidak bisa melakukan Kasukatsu, jadi sebagai gantinya aku akan
bercerita tentang setting untuk mengulur waktu.
Yah, karena ini barang yang mirip haori
Shinsengumi, mari kita kaitkan dengan setting dunia modern dan
reinkarnator.
"Utusan. Oh…… hasil akhir dari reinkarnator,
ya."
"Eh?"
《Eh?》
"Utusan,
wujud asli dari monster kuat yang dilayani oleh dewa, adalah
reinkarnator."
"Ra-, Raja…… a-, apa yang kau katakan…… ha!? Ja-,
jangan-jangan, tidak, tapi, kalau begitu penjelasannya bisa…… kekuatan utusan
yang Raja kalahkan sebelumnya adalah kemampuan yang sama dengan pahlawan dari
dunia lain yang muncul di Perang Manusia Iblis……"
White juga sudah meningkatkan bakat mengarang
penjahatnya……
Aku tidak boleh kalah.
"Di antaranya, ini adalah milik pendekar pedang
terkenal dari zaman kuno. Pahlawan yang meninggalkan namanya di dunia lain
mungkin telah dipanggil ke dunia ini."
《……Terdengar seperti sesuatu yang akan dilakukan oleh
Tujuh Dewa Besar, mereka selamanya hanya menganggap manusia sebagai mainan.》
Semuanya bersemangat.
Di waktu luang, kami berhasil menciptakan setting
kegelapan dunia yang baru (tertawa).
Aku takut pada bakatku sendiri.
Ya ampun, syukurlah.
Sepertinya saat penyerbuan katedral tempo hari, aku
sempat bertarung dengan makhluk yang disebut utusan, untung saja aku tidak
memakannya.
Dengan setting dunia ini, itu berarti utusan
tersebut dulunya adalah manusia.
Selebihnya, hari-hariku dihabiskan dengan membuatkan sup
sayur untuk White atau mengolah tanah, sampai-sampai malam datang dalam
sekejap.
Sudah waktunya, saatnya berkumpul di depan pintu masuk
peternakan monster.
Akademi kita ini benar-benar bebas, tidak ada jam malam
sama sekali.
Yah, pasti tidak akan terjadi apa-apa. Mana mungkin tujuh
misteri akademi itu nyata.
"Fufu, kenapa kau berpikir begitu?"
"Ya memang begitu. Akhir dari cerita tujuh misteri
itu biasanya hanya salah paham atau perasaan semata."
《Eh? Player? Sedang bicara dengan siapa?》
"……Eh?"
"Kaas, ada apa? Di sini tidak ada siapa pun selain
kita."
White
bergumam sambil mengunyah tomat yang didinginkan dengan air.
"CHU?"
"WANWANO"
"BUMO"
Para
binatang hasil sihir yang sedang bermalas-malasan di kamar pun tidak
menunjukkan tanda-tanda keanehan.
……Apa cuma perasaanku saja?
Suara tadi…… "Bukan perasaanmu. Kau bisa mendengar
dan melihatku, kan? Aku."
"……Wah."
"Fufu, halo, salam kenal. Pak Tani."
Zowa. Pori-pori di sekujur tubuhku terbuka,
dan sensasi kesemutan langsung menyebar ke seluruh badanku dalam sekejap.
Seorang wanita misterius berambut biru sedang duduk di
kursi malas yang sengaja kutaruh sebagai hiasan.
Poni rambutnya panjang hanya di sisi kanan, menutupi
salah satu matanya.
Tangan dan kakinya jenjang, wajahnya rapi, dan meski
seorang wanita, dia punya aura pria tampan yang tak terukur.
"Kaas……?"
White masih mengunyah tomat panggang bersama roti.
Sepertinya dia tidak bisa melihatnya. Ngomong-ngomong,
dia makan terlalu banyak, ya.
“““S P I I I…… Su-pyopyo, S P I I I, Supyo~”””
Binatang hasil sihir malah semuanya tidur telentang
dengan perut terbuka.
Kalian itu binatang, kan? Mengertilah, ada situasi
aneh di sini!
"Fufu, teman-teman yang lucu, ya."
Wajah tampan yang cantik itu, dengan mata merah muda
yang dihiasi tahi lalat di bawah mata, tersenyum.
Navi, Navi-chan, kau berbagi indra denganku, jadi kau
bisa melihat dan mendengarnya, kan?
"Tidak lihat, tuh."
Tidak, tidak, tidak, itu jangan-jangan…… itu dia?
《Tidak, tidak, tidak, karena dia punya kaki, itu bukan
"itu".》
Kau kan bisa melihatnya!
《Player sendiri, kenapa tidak melihatnya dengan Cursed
Eye? Dengan begitu kau akan tahu apakah dia benar-benar makhluk dunia ini
atau bukan.》
Tidak, aku tidak mau memakai Cursed Eye.
Kalau nanti malah terlihat pembuluh darah atau sistem
sarafnya, aku tidak punya alasan untuk mengelak.
《Apa Raja Kutukan takut padanya?》
Berisik. Navi sendiri sebenarnya mirip dengannya,
kan? Suara misterius yang tidak ada wujudnya itu kan ciri khas keberadaan
"seperti dia".
《Kejam! Menyamakanku dengan makhluk seperti itu!
Sudah, terserah! Silakan selesaikan event hantu ini sendirian!》
Ah, kau! Jangan sebut-sebut hantu!
Bisa saja dia bukan hantu! Tolonglah Navi, ayo kita—
《Aku ada kelas karate sekarang, permisi ya, selamat
bekerja.》
Istirahatlah hari ini!!
"Fufu, anak yang menarik."
◇◇◇◇
"Ah, Kastani-san! Di sini, di sini!"
Sesampainya di titik kumpul, semuanya sudah berkumpul.
Snow-san, Aki-kun, gadis berkuncir kuda oranye
Ayuriver-san, Kotori-san, dan juga——
"Akademi di malam hari itu menakutkan, ya! Maksudku,
suasananya lho!"
"Ritsu, dari dulu kau kan tidak suka gelap? Kamu
oke?"
"……Ritsu, kalau takut, masuk saja ke pelukanku,
tidak perlu sungkan."
"U-, berisik! Itu kan cerita waktu kecil!"
Grup romansa pria tampan dan gadis cantik juga ada di
sana.
Ditambah lagi, teman sekelas lainnya pun berkerumun.
……Sungguh rombongan yang besar. Bahkan hampir seluruh
kelas ada di sini……
"Ah, haha, sebenarnya…… ada sesuatu yang
terjadi……"
"Selamat malam, Snow, Tuan Kastani. Senang melihat
kalian tampak akrab hari ini."
Pria berambut perak yang muncul dengan gaya cool,
Pangeran Pertama Lux.
Seingatku, dia tidak ada di kelas saat insiden gagak
terjadi.
"Jangan sungkan begitu, Snow. Masalahmu adalah
masalahku juga. Biar kubantu, ya. Dengan meminjam kekuatan teman-teman
sekelas."
Sepertinya sang Pangeran yang mengajak semua orang.
"Ah, haha. Kami tidak bermaksud merepotkan Yang
Mulia……"
"Fufu, jangan sungkan, Snow. Kita kan sudah
akrab."
Pangeran mencoba merangkul bahu Snow-san yang tertawa
getir.
Namun, Snow-san dengan halus menghindar dari tangan
yang terulur itu.
"Mohon maaf, Yang Mulia, kurasa ini bukan tempat
yang pantas untuk bersikap seperti itu."
"Haha, kau tegas sekali. Baiklah, waktu kita masih
panjang, kok."
Pancaran mata Pangeran saat melirikku mengandung sedikit
rasa superioritas.
"Atau, apa Snow lebih suka tipe seperti Tuan
Kastani…… yang agak unik? Aku mengerti, karena dia tipe yang
tidak ada di kalangan bangsawan."
"Yang Mulia, mohon berhenti mengejek
Kastani-san."
"Hahaha. Baik, baik. Malam masih panjang. Aku akan
fokus menangkap pelakunya yang sudah berani berbuat kejam pada
tunanganku."
Wajah tampan Pangeran, dengan senyum yang tidak sampai ke
matanya, menatapku.
"Kuharap, pelakunya bukanlah seseorang yang tidak
kukenal."
Pangeran berjalan menuju kelompok lain sambil tersenyum
tipis.
Dia salah paham. Hubunganku dan Snow-san tidak seperti
itu.
Tapi, masalah utamaku bukan itu saat ini.
"Kikik... kau ternyata cukup populer, ya. Snow von
Lichte. Aku bisa merasakan ketertarikan dan rasa hormat yang kuat darinya
padamu. Lux Mila Alteria tampak cemas, ya, ampun, kau pria yang penuh
dosa."
Wah,
dia muncul.
Wanita
cantik berambut biru dengan gaya pria tampan itu muncul begitu saja.
Wanita
berambut biru itu muncul tiba-tiba di pondok. Sejak
tadi dia terus masuk ke dalam bingkai pandanganku.
Omong-omong, sekarang wanita berambut biru itu sedang
duduk di dahan pohon besar sambil mengayunkan kakinya yang panjang.
Karena roknya pendek, sepertinya akan terlihat
sesuatu yang tidak boleh dilihat, aku benar-benar berharap dia tidak
melakukannya.
"Sayang sekali, aku pakai spats."
Apakah itu sayang atau tidak, aku yang menentukan.
Lagipula, apa dia juga bisa berkomunikasi tanpa bicara
seperti Navi?
Tapi, penampilan ini…… ciri khas yang hanya bisa
kulihat…… jangan-jangan.
"……Pangeran itu memang bermasalah, ya."
"Nyahaha, tapi ini pertama kalinya aku melihat
Pangeran secemas itu."
Itu Aki-kun dan Ayuriver-san.
"Aki, Haru-chan. Kalau melihatnya, tolong bantu
aku, dong……"
Ekspresi
Snow-san sedikit melunak; dia terlihat paling tenang saat bersama kelompok
teman dekatnya.
"Kalau
begitu, karena semua yang dipanggil sudah lengkap, ayo kita berangkat."
"Baiklah,
semuanya."
Snow-san
berdehem, hanya dengan begitu perhatian seluruh kelas tertuju padanya.
"Terima kasih sudah berkumpul malam-malam begini!
……Aku sebenarnya ingin bicara banyak, tapi biar singkat saja—ayo kita ungkap
siapa bajingan di masyarakat bangsawan yang berani-beraninya mengirim bangkai
gagak itu!"
Pidato
Snow-san yang terasa agak brute force.
Seketika, kelas menjadi hening seolah tenang sebelum
badai—
““““““OOOOOOO!!””””””
Kelas ini, banyak yang berjiwa extrovert
ternyata……
Teman-temanku langsung bersorak.
Yah, kelas ini memang isinya orang terpilih, mulai
dari bangsawan, rakyat jelata yang kaya, hingga keturunan petualang ternama.
Mudah sekali bagi mereka untuk bereaksi terhadap
kata-kata dari puncak kelas sosial, yaitu sang putri adipati.
"O-...
a... u"
Ah, Kotori-san juga berusaha keras mengikuti suasana.
Tapi mungkin karena malu, dia menurunkan tangannya.
"Ah,
anak itu bagus juga. Menurutku, keberanian itu bukan cuma dimiliki mereka yang
gagah berani saja. Bahkan kalau penakut, kalau mau maju dan menginginkan
perubahan, sosok penakut yang tetap berani melawan ketakutan itu sungguh luar
biasa."
Orang ini, dia hebat.
Tapi, aku tidak mau diajak bicara terus.
"Kalau begitu semuanya, kelas Ansburna, kelompok
tahun pertama kelas Naga, mari berangkat ke salah satu dari tiga tempat
terlarang Akademi Maris Gear, 'Hutan Terlarang'!"
Snow-san hari ini sepertinya sedang dalam mode penuh
energi.
Dia berjalan ke depan dengan mata yang
berbinar-binar.
Di ujung telunjuknya, terbentang hutan yang disinari
cahaya bulan biru.
"Untuk mencari 'Si Rambut Biru dari Hutan
Terlarang'!"
◇◇◇◇
Hutan yang rimbun.
Hutan yang dikelilingi pohon-pohon raksasa yang mungkin
sudah berumur ratusan tahun.
Pohon-pohon besar yang bahkan tidak membiarkan cahaya
bulan masuk. Biasanya, masuk ke hutan ini di tengah malam seperti ini sama saja
dengan bunuh diri.
Namun—
““““““Lutosphere!
Bersinarlah!””””””
Kelompok
ini adalah penyihir.
Mereka
adalah orang-orang yang mengubah dunia sesuka hati dengan kekuatan sihir mereka
melalui cincin, tongkat, atau segel sihir yang terukir di tubuh mereka.
Teman-temanku segera memamerkan hasil latihan harian
mereka.
Itu adalah Light Magic yang dipelajari di kelas Spellcraft,
yaitu Lutosphere.
Bola cahaya buatan yang dirajut dari kekuatan sihir
muncul di atas kepala kami, menerangi sekitar seolah-olah siang hari.
Ah, aku tidak berguna dalam hal ini.
Kotori-san benar-benar rajin. Dia sudah menguasai Light
Magic dengan sempurna.
Dia mengayunkan tongkat sihir kecilnya (harganya
diperkirakan 8 juta Gold, mungkin sekitar 80 juta Rupiah jika dikurskan ke yen)
yang dibelikan ayahnya dengan penuh semangat, menciptakan bola cahaya kecil
sama seperti yang lain.
"……Si Rambut Biru dari Hutan Terlarang. A-, apa dia benar-benar
ada……"
"Kotori-san,
si Rambut Biru itu punya ciri-ciri khusus?"
Aku
berjalan di samping Kotori-san sambil mengobrol.
"Eh, pertama-tama, seperti namanya, dia berambut
biru dan terlihat seperti wanita."
"Meski tidak terlalu panjang, perawatannya cukup
merepotkan lho."
Percakapan ceria antar teman ini terganggu oleh noise.
Gadis cantik rambut biru yang berpenampilan tomboy
dan berkaki jenjang itu entah sejak kapan sudah berganti seragam akademi dan
berbaur dengan kelompok kami.
"Lalu,
dia wanita yang ramping dan cantik."
"Ahaha,
aku malu kalau dipuji begitu, tapi aku senang mendengarnya."
"Katanya dia muncul di Hutan Terlarang hanya pada
malam hari. Dan hanya menampakkan diri di depan orang yang
menemukannya."
"Lebih tepatnya, hanya di depan orang yang aku
sukai. Hutan Terlarang ini cuma tempat favoritku saja."
"Dan jika bisa menemukannya, dia akan memberitahu
satu hal apa pun yang ingin kita ketahui."
"Sejak dulu, mendengarkan permintaan orang itu
hobiku."
Sudah jelas ini orangnya.
Dia kan ada di sini. Di
dalam tim pencari Si Rambut Biru, ada Si Rambut Biru sendiri.
Kenapa tidak ada yang sadar? Kenapa dia benar-benar ada
di sini?
"……Ada lagi? Apa ada kutukan kalau melihatnya?"
"T-, t-, tidak, setahuku…… ah."
"……Ada apa?"
"Eh, eh, anu, itu…… anak laki-laki……"
Kotori-san sedikit memerah dan memalingkan muka.
"Hm?"
"K-, katanya kalau ada anak laki-laki yang dia
sukai, dia t-, terkadang akan membawanya pulang……"
Itu mah roh jahat!
Aku menatap Si Rambut Biru yang berjalan di sebelahku.
"Haha, tenang saja, itu cuma gosip. Lagipula——kau
kan lebih kuat dariku, kan?"
"Kotori-chan, Kastani-san, sedang membicarakan
apa?"
Snow-san tiba-tiba menyela di antara aku dan Kotori-san
dari belakang.
"Fufu, lucu sekali anak ini. Dia sendiri mungkin
tidak sadar, tapi saat melihatmu dan Kotori-chan mengobrol dengan asyik, dia
tidak tahan dan ingin ikut bicara."
"Snow-san,
boleh kutanya satu hal?"
"Eh, a-, ya, silakan!"
"Fufu, dia kaget karena diajak bicara saat dia
sendiri tidak tahu kenapa dia menyela percakapan kalian."
"Apa kau tahu di mana di dalam hutan ini tempat Si
Rambut Biru itu biasanya berada?"
"Ah, soal itu, menurut senior di tingkat atas, dia
paling sering terlihat di danau yang terletak di tengah hutan."
"Soalnya, mandi di sana segar sekali. Ah, tentu
saja, meski ketahuan murid, aku akan bicara dalam kondisi menutupi bagian
pentingku!"
Itu tandanya dia tetap dianggap tidak pakai baju,
kan?
"……Bagian penting tetap kututupi! Pakai tangan atau
apa lah!"
"Menurut cerita senior, aku dengar kita harus
hati-hati dengan monster sampai ke danau…… tapi sejauh ini sepertinya tidak
perlu khawatir."
"Memang tidak ada apa-apa yang muncul, ya."
"Ah, itu gampang. Karena ada kau dan aku di
sini."
"W-, wah——aaaaaaaaaaaaaa!!??"
Jeritan dari depan kelompok.
Si rambut biru tomboy itu mengedipkan matanya.
"Ups, ada pengecualian ya. Tapi, yah, mereka
bersaudara yang pintar, kalau kau menampakkan diri, tidak masalah."
Aku dan Snow-san menerobos kerumunan yang membeku dan
maju ke depan.
Di sana, apa yang kulihat adalah——
"……Manusia?"
"Sepertinya penyihir, Saudaraku."
Itu adalah ular berkepala dua yang sangat besar.
Dikelilingi oleh dinding, ternyata yang kukira dinding
adalah tubuh ular itu.
Ular yang sangat besar dengan panjang puluhan meter.
"Begitu ya, kebetulan aku memang sedang lapar,
tapi……"
Lagipula, dia bisa bicara. Dan punya dua kepala.
Monster yang bisa bicara itu berbahaya.
"A-, a……"
"Seharusnya aku tidak datang…… seharusnya aku
tidak datang……"
Teman
sekelasku ketakutan.
Hebat
juga tidak ada yang panik dan kabur—tapi itu hanya masalah waktu.
Nah, apa yang harus kulakukan?
Membunuhnya mungkin mudah. Tapi, bagaimana caranya
menutupi hal itu?
Saat aku ragu harus berbuat apa, aku bertatapan dengan
salah satu kepala ular tersebut.
"——Saudaraku, hentikan."
"Apakah kau juga berpikir begitu, Saudaraku?"
"Ya, dia, tidak boleh."
Permusuhan dari ular raksasa itu memudar.
"Begitu ya. Tapi, bagaimana ini, kita sudah berada
dalam jangkauan jarak serangnya."
Gawat, dia melihat ke arahku.
Aku berusaha keras membuang muka.
"Bagaimana ini, Saudaraku, dia tidak mau bertatapan
dengan kita."
"Gawat, dia mungkin marah. Dia menganggap ikan teri
kecil tidak layak untuk ditatap."
"Apa pun itu, ayo memohon ampun, Saudaraku, aku
belum mau mati."
"Tentu saja, Saudaraku. ……Wahai Tuan dengan aroma
yang lebih menakutkan daripada Dewa. Tolong jangan bunuh kami, racun di tubuh kami tidak akan
hilang meski direndam dalam alkohol kecuali dengan 'Rum Emas'. Tanpa Rum Emas, kami tidak bisa membuat sake ular, tolong
hentikan."
"Saudaraku, kalau begitu kita akan direndam
dalam Rum Emas."
"Sial, maafkan aku, Saudaraku."
"Tidak apa-apa, Saudaraku. Mari kita menjadi sake
ular bersama."
Ular berkepala dua itu mulai meneteskan air mata dengan
tenang.
““Tolong, akhiri hidup kami dengan sekali tebas.””
"……Hei, semuanya, bukankah monster ini tidak
seberapa dibandingkan penampilannya……"
"Sepertinya dia malah takut pada kita, kan?"
Gawat, mereka yang berdarah panas mulai salah paham.
"——Kalian itu berbeda, makhluk lemah."
Mata ular merah seperti darah itu menatap anak-anak
laki-laki yang nakal, dan hanya dengan itu——
““Hii.””
Jowaaaa.
Tim anak laki-laki nakal itu, mengompol.
"Anu,
bo-, bolehkah saya bertanya, Tuan Ular Besar?"
Snow-san
memberanikan diri untuk bertanya.
"Saudaraku,
daging yang tampak lezat baru saja mengajak kita bicara."
Hah?
Apa yang kau bilang tadi ke Snow-san, dasar ular sialan.
"——!!??
Saudaraku!! Jaga bicaramu!! Dia baru saja melepaskan aura membunuh yang luar
biasa!!"
"Hii…… betapa mengerikan aura kewibawaannya…… mohon
dimaafkan, mohon dimaafkan……"
"Eh…… eh? Anu…… anu"
Sial,
beraninya dia membuat Snow-san bingung……
Memburu ular ini mudah, tapi citra misteriusku pasti akan
hancur.
"CHU!!"
"Eh?"
"Ti-, tikus? Dari mana asalnya?"
"Kenapa, ya? Kok bercahaya?"
Eh?
Yang melompat keluar diam-diam dari saku adalah Bikara,
tikus putih kenyal berukuran mini.
Tikus itu berlari kecil dan melompat tepat di depan
sang ular.
Jeritan terdengar dari arah teman-teman sekelasku.
Itu adalah jeritan para gadis yang khawatir kalau
tikus itu akan dimakan.
Namun, di luar dugaan——.
"CHU!!"
"Oh, apakah kau utusan dari 'Dia'? Kebetulan
sekali, 'Dia' sedang sangat marah kepada kami. Tolong sampaikan pesan—apa? Kamu
bilang tidak peduli dan suruh kami segera pergi? Tuanmu yang bilang begitu? Oh,
dengar itu, Adik?"
"Sudah dengar, Kakak. Betapa mulia hatinya. Padahal
dengan kekuatan yang begitu mutlak, dia bisa saja bertindak lebih
sewenang-wenang."
Mereka benar-benar berkomunikasi.
Ternyata peliharaan pun bisa meniru tingkat kemampuan
bersosialisasi pemiliknya, ya. Benar-benar membuatku lelah.
"CHU~ CHUCHU!"
"Begitu rupanya, kau menyembunyikan identitas dan
kemampuan aslimu karena sedang berada di tengah kerumunan…… sudah dengar,
Kakak?"
"Sudah dengar. Ternyata manusia itu bermacam-macam
juga, ya, Adik."
"Kalau begitu, Wahai Utusan, sampaikan rasa terima
kasih kami yang sebesar-besarnya kepada tuanmu. Kami pasti akan membalas
kebaikan karena telah dibiarkan hidup ini dalam waktu dekat."
Sret, sret, sret.
"Tadi itu…… apa
ya?"
Ular raksasa berkepala dua itu pun berlalu pergi begitu
saja.
"CHU."
Sejak kapan kau kembali?
Aku berbisik pada Bikara yang diam-diam sudah kembali ke
atas telapak tanganku.
"CHU?"
Bikara si tikus putih memiringkan kepalanya dan mencicit
kecil. Pura-pura polos sekali, dasar binatang aneh.
"WAN."
"BUMO."
Kalian berdua juga ada di sana rupanya?
Binatang hasil Jujutsu seukuran telapak tangan itu
muncul dari saku dadaku.
Sepertinya mereka sudah benar-benar lepas dari kendali Jujutsu-ku.
Agar tidak ketahuan siapa pun, kumasukkan kembali Bikara
ke dalam saku.
Dasar hewan-hewan yang bebas.
Lagipula, anjing dan babi hutan itu ternyata bisa
berubah-ubah ukuran, ya……
Dunia Jujutsu ini ternyata masih sangat dalam.
◇◇◇◇
Selain pertemuan dengan kakak-beradik ular itu, kami
tidak menemui masalah berarti saat menyusuri Hutan Terlarang hingga sampai di
danau tujuan.
Danau di malam hari, dengan para siswa yang entah kenapa
sedang dalam suasana hati yang terlalu bersemangat.
Jika dilihat dari sudut pandang horor, ini adalah
kombinasi terburuk, dan aku sangat tidak suka berada di pihak siswa yang sedang
bersemangat itu.
"Lowry, bukankah sebaiknya kau cuci celanamu
itu?"
"U-, berisik. Sudah kucuci."
"Entah kenapa, danau di malam hari ini punya suasana
yang mencekam, ya……"
Kami mulai melakukan investigasi danau.
Malam ini bulan purnama, jadi danau terlihat sangat jelas
berkat cahaya bulan biru.
"Ada apa itu?"
Seseorang bergumam pelan.
Teman-temanku mulai heboh, mengira itu adalah sang Gadis
Rambut Biru.
Wah, dia punya jiwa melayani yang tinggi, ya. Sepertinya
dia benar-benar berniat menampakkan diri dalam wujud gadis tomboy
berambut biru itu di depan semua orang.
Tanpa sadar, awan tebal menutupi bulan kembar yang
berwarna biru.
Kegelapan malam menyelimuti sekitar. Namun, hanya danau
yang terlihat aneh karena bercahaya——.
"……Benar juga. Ada sesuatu di danau itu."
"Ah,
iya, benar…… eh?"
Gadis
rambut biru itu bergumam di sampingku.
Bukankah
seharusnya kau berada di danau sana?
……Tunggu
sebentar.
Gadis
rambut biru ini ada di sampingku. Eh, kalau begitu——.
"A-,
a-, a-, itu, bukankah ada seseorang yang sedang berdiri di atas danau?"
Kalau
begitu, siapa orang yang berdiri di tengah danau itu?
Desain
pakaian yang aneh, dan jubah itu——.
"Wah……
gawat."
Apa yang gawat? Katakan sesuatu.
Gadis rambut biru itu melontarkan hal buruk di waktu yang
paling buruk.
"Aku tidak bohong, sebaiknya kita segera pulang.
Itu bukan hal yang baik."
"Ne-, hei, itu…… bukankah dia sedang
melambai-lambaikan tangannya?"
Salah
satu teman sekelasku bergumam dengan suara gemetar.
"Domain
Expansion: Dead Watch Capital."
Dua suara itu menggema bersamaan.



Post a Comment