Chapter 2
Curse Brotherhood, Pergerakan
Awal
Tiga
tahun telah berlalu sejak aku bertemu White.
Aku
sudah berusia 15 tahun. Tiga tahun yang berlalu dalam sekejap mata.
Kehidupan di perkebunan berjalan dengan sangat
lancar.
Begitu pula dengan Gift
"All-Jujutsu" (Semua Sihir Kutukan).
Penelitian mengenai kemampuan ini pun sudah jauh
berkembang.
Selama ini, "Curse Enhancement" yang
biasa kugunakan hanyalah teknik paling dasar bagi Gift ini.
Inti dari kemampuan ini sebenarnya terletak di tempat
lain.
"Teknik Aktivasi──Eshi Hyakkei Chofuku Jujutsu."
Aku menegakkan jari telunjuk dan jari tengah, lalu
mengepalkan jari lainnya. Aku melakukan rutinitas yang sudah menjadi
kebiasaanku, yaitu menyatukan segel telapak tangan.
G-Class
Gift
"All-Jujutsu". Inilah kemampuan yang sebenarnya.
Ini
adalah kemampuan yang memungkinkanku untuk melakukan segalanya:
"Penggunaan, Penyerapan, Penyimpanan, Sintesis, dan Pengembangan Jujutsu".
Wush. Cahaya hitam berputar-putar di
gubukku, dan dari sana muncul──.
"Semuanya,
absen!"
"CHU!"
"WAN!"
"BUMO!"
Tikus,
anjing, dan babi hutan.
Makhluk-makhluk
aneh berbentuk chibi merangkak keluar dari pusaran cahaya hitam dan Cursed
Power.
Itu adalah Jujutsu pertamaku, "Eshi
Hyakkei Chofuku Jujutsu".
Efeknya, aku bisa memanggil dan memerintah hewan-hewan chibi
yang lucu ini sebagai summons di mana saja dan kapan saja.
Di antara hewan yang bisa kuperintah, ada tikus putih
yang sudah kupelihara sejak beberapa tahun lalu.
Tikus putih ini ternyata muncul sendiri karena dulu aku
belum bisa mengendalikan tekniknya dengan baik. Pantas saja dia tidak pernah
buang air.
Nama tikus putih itu adalah "Bikara".
Anjing serigalanya adalah "Basara".
Babi hutannya adalah "Kubira".
Aku memberi mereka nama, dan sekarang mereka berfungsi
sebagai senjata, pekerja ladang, sekaligus hewan peliharaan.
Mereka juga sangat aktif dalam pertempuran. Lagipula,
mereka melahap habis semua mayat bandit yang ada.
Jujutsu. Benar-benar kemampuan yang bisa
melakukan apa saja.
Tapi, kenapa hanya "Eshi Hyakkei" yang
bisa kugunakan sejak awal?
──Transfer teknik kehidupan sebelumnya selesai.
Yah, sudahlah.
Mungkin sang Dewi memang memberikan bonus padaku.
Aku benar-benar banyak terbantu olehnya……
《Aneh sekali, hanya teknik "Eshi Hyakkei"
yang tidak mengikuti hukum Gift milikmu. Ah, Bikara, tidak boleh! Jangan
menggigit rambut Player. Basara, tolong berhenti menggali lantai. Kubira,
jangan menggesekkan taringmu ke dinding.》
Chu-chu, wan-wan, bumo-bumo.
Navi menenangkan hewan-hewan teknik yang bergerak
bebas itu.
Hewan-hewan itu menjadi tenang. Sepertinya, mereka juga
bisa mendengar suara Navi.
Mungkin karena sesama makhluk misterius, mereka jadi
cocok satu sama lain.
《Ah,
Player, White akan segera pulang.》
"Terima kasih, Navi. Semuanya, pulang."
"WAN!"
"BUMO!"
Pop!
Semua hewan teknik kecuali Bikara menghilang.
"CHU!"
Bikara dengan lincah masuk ke dalam saku dadaku.
Kekuatan istimewa yang selama ini kucari-cari. Kini,
kekuatan itu ada di tanganku.
"……Aku telah mengumpulkannya. Dengan pasti."
Ada rasa kepuasan yang aneh.
Di dunia sebelumnya pun, aku selalu menyiapkan diri untuk
menjadi seorang penjahat.
Tetapi, mungkin ada bagian dalam diriku yang merasa bahwa
semua itu hanyalah kesia-siaan.
Namun, sekarang berbeda.
Aku sedang berdiri di atas panggung.
Ini adalah dunia lain.
Sensasi di mana setiap tindakanku menjadi bagian dari
darah dan dagingku sendiri.
Kepuasan saat mendekati tujuan, serta kesenangan melatih
kekuatan demi bisa melakukan apa yang kuinginkan.
Jujutsu, Cursed Power, kepuasan saat
mengeluarkan kekuatan.
Aku kembali mengenal diriku sekali lagi.
"Aku, ternyata suka menjadi kuat."
──Kemampuan kehidupan sebelumnya "Thirst for
Power" aktif kembali.
《Player? Ada apa? Mengapa kau diam saja?》
"Tidak, tidak apa-apa…… ah, bukan, Navi, terima
kasih untuk semuanya selama ini."
《Eh──?》
"Aku senang orang pertama yang kutemui di dunia ini
adalah kamu. Terima kasih telah mengajariku tentang Gift, Magic
Power, dan segala hal tentang dunia ini."
《Ke-, kenapa kau tiba-tiba…… Ja-, jangan-jangan, tunggu,
ti-, tidak mau! Jangan berpisah! Jangan buang aku…… Aku tidak mau sendirian lagi──》
"Teruslah
bersamaku di masa depan juga."
《Eh?》 "Eh?"
Keheningan
total menyelimuti sesaat.
《……Anu, apakah yang baru saja kau katakan itu, bukan
kata-kata perpisahan?》
"Memangnya kenapa? Aku hanya merasa ingin
menyampaikan rasa terima kasihku saja."
《Suatu hari nanti kau akan ditusuk, tahu.》
"Aku
akan menahannya dengan 'Curse Enhancement'."
《…………》
Hari
ini aku kembali bisa berkomunikasi dengan baik bersama Navi.
Seorang
penjahat di zaman sekarang juga butuh kemampuan komunikasi, kan? Bagus!
◇◇◇◇
Ada satu hal lagi yang terjadi baru-baru ini.
"E-, permisi…… Kasta──Sensei, apakah ada…… Bo-, bolehkah aku
mengganggu……"
"Aku ada di sini, halo, Kotori-san."
"Ah…… ehehe, halo……"
Gadis
berambut hitam kehijauan.
Poni
depannya panjang, sedikit menutupi matanya.
Matanya
yang sayu terlihat besar layaknya tetesan air yang tumpah, dengan bentuk yang
sangat indah.
Tak
disangka, tinggi badannya cukup menjulang.
Di
usianya yang ke-15, ia sudah memiliki tinggi badan lebih dari 170 cm.
Mungkin
karena postur tubuhnya yang membungkuk, bentuk tubuhnya yang bagus dan ukuran
dadanya yang luar biasa tidak begitu mencolok.
Dia adalah mantan teman sekelasku. Salah satu orang yang
dulu tertidur di ruang Dewi itu.
Namanya adalah Kotori Taira. Nama setelah bereinkarnasi
adalah Kotori Tyler.
Ngomong-ngomong, sepertinya ia tidak memiliki ingatan
dari dunia sebelumnya.
Keluarga Kotori, yakni Tyler Trading, adalah pemilik
perkebunan ini.
Singkatnya, dia adalah seorang nona muda.
Jika bertanya mengapa gadis seperti itu bermain di gubuk
tua ini, alasannya adalah……
"Kotori-san, jangan-jangan kamu kurang tidur?"
"Eh, hehe. Sesuatu yang Sensei ajarkan itu begitu
menyenangkan, jadi aku tidak bisa berhenti. Saat sudah fokus, aku jadi tidak
bisa tidur."
Kotori-san melunakkan bibirnya yang memiliki tahi lalat
kecil.
"Jangan sampai kurang tidur ya. Mungkin saja
kekuatan sihir dan Gift juga berbanding lurus dengan pertumbuhan
fisik."
"Be-, benarkah begitu? Ta-, tapi, berkat
berlatih diam-diam di rumah, lihatlah……"
Kotori-san menyodorkan tangan kecilnya ke arahku.
Genggam, buka, genggam, buka. Ia
menutup dan membuka telapak tangan kecilnya.
Itu adalah rutinitas aktivasi kemampuan miliknya yang
kami pikirkan bersama.
"Gift──Salt Pillar (Eshet Rod)."
Butiran seperti pasir putih, tidak, "garam"
muncul di telapak tangannya.
"Oh! Hebat, produksi garamnya meningkat 16 gram
dibanding tiga hari yang lalu!"
"Ehehe, itu berkat saran Sensei…… hehe."
Waktu itu sudah lewat setengah tahun sejak usia 15 tahun.
Saat aku sedang sibuk membajak ladang sambil terus
menggunakan "Curse Enhancement" seperti biasa, dia yang sedang
menemani orang tuanya meninjau perkebunan menyapaku.
"To-, tolong ajarkan cara menggunakan kekuatan
sihir!"
Sepertinya ia salah mengira Cursed Power-ku
sebagai kekuatan sihir.
Hari itu benar-benar menjadi keributan besar.
Nona muda dari sebuah firma dagang yang bersujud
kepada budak perkebunan dengan semangat seperti itu adalah hal yang cukup
gawat. Yah, di masyarakat feodal kasta seperti ini memang begitu, bukan?
Wajah Bon-san saat itu benar-benar menarik untuk
dilihat.
Aku tidak menyangka wajah manusia bisa sepucat itu.
Secara resmi, masalahnya selesai dengan alasan
kesalahpahaman Kotori-san.
Di dunia ini, keberadaan yang bisa menangani kekuatan
sihir adalah kelas istimewa.
Baik rakyat jelata maupun bangsawan, semua orang
mendambakan kekuatan itu; itulah kekuatan sihir.
Intinya, tidak mungkin seorang yang bisa menangani
kekuatan sihir diperbolehkan menjadi budak.
Karena itulah, orang-orang dewasa menutup masalah ini
dengan alasan kesalahpahaman seorang gadis muda yang ingin menjadi penyihir.
Namun, kenyataannya berbeda.
Dia adalah seorang Gifted (pemberi berkat).
Alasan dia bisa melihat Cursed Power-ku mungkin
karena pengaruh dia yang telah menyadari Gift miliknya sendiri.
Pada akhirnya, secara diam-diam aku melatihnya mengenai
kekuatan sihir dan Gift.
"Hehe, sebenarnya belakangan ini aku sudah punya
teman…… seorang gadis bernama Fais juga tertarik dengan ilmu
sihir……"
Sepertinya ia bercita-cita menjadi seorang penyihir.
Aku menyukai orang yang memiliki tujuan.
"Anu, Sensei, apakah ada sesuatu di wajahku?
……Kenapa Sensei menatapku terus tanpa bicara…… Ma-, maafkan aku, aku suram,
jelek, dan jangkung, maafkan aku…… aku harus bersembunyi di tempat sempit dan
gelap……"
Selanjutnya, mungkin rasa terima kasihku padanya.
Ruang Dewi.
Aku mencuri takdir Kotori Taira.
Demi kepentinganku sendiri, aku merampas kehidupan
budaknya.
Tanpa mengonfirmasi kehendaknya, aku memaksakan
keegoisanku.
Tindakanku adalah pelanggaran etika yang mutlak. Jadi,
aku punya utang budi padanya.
"Membiarkan utang itu tetap ada rasanya kurang
berkelas, ya."
"Eh?"
"Kotori-san, kamu punya bakat. Baru beberapa bulan
berlatih, kamu sudah bisa mengendalikan kekuatan sihir dan bahkan menggunakan Gift."
"Hea, ehe, ti-, tidak juga, itu karena cara mengajar
Sensei yang bagus…… puhi, hehehe."
Kotori-san masuk ke dalam kendi besar dan tampak seperti
kelomang.
Ia menjulurkan wajah dari celah antara kendi dan lantai
sambil tertawa.
"Aku, benar-benar berterima kasih pada Sensei……
dengan begini, mungkin aku bisa mengikuti ujian masuk Akademi Sihir tahun
depan……"
"Ah, Kotori-san, impianmu jadi penyihir ya?"
"Ah, iya, kalau jadi penyihir, mungkin orang seperti
aku bisa berguna bagi seseorang…… hehe. Meskipun bagi diriku yang seperti ini,
itu terlalu lancang……"
Ingin berguna bagi seseorang. Itu adalah sifat baik yang
luar biasa.
"Anu, kenapa Sensei menyembunyikan kekuatan
sihirmu?"
"Hmm, rahasia."
"Ah, iya…… benar juga, maafkan aku yang seperti kutu
air ini karena terbawa suasana…… ah, aku masuk ke dalam kendi…… maaf karena
terlalu akrab……"
"Tidak apa-apa, kita kan teman."
"Puhyu!? Te-, teman…… puhipuhe, iya,
ehehe."
Akademi
Sihir ya, aku tidak terlalu tertarik……
Tapi
mungkin bagus juga tempat di mana banyak orang yang memiliki ambisi.
Orang-orang
seperti Kotori-san yang berusaha dengan sungguh-sungguh demi impian dan
cita-cita──.
"Terlihat
seperti tokoh utama ya."
"Eh? Apa Anda mengatakan sesuatu?"
Tadi aku bicara hal yang aneh. Yah, lupakan saja.
"Aku ingin menjadi lebih mahir dalam kekuatan
sihir dan Gift. Setelah bisa melakukan hal yang lebih hebat, aku ingin
memberi tahu Papa dan Mama tentang Gift milikku."
"Oh~"
Itu bagus sekali, ambisi dan keberanian itu.
Ternyata pertumbuhan dan usaha itu memang luar biasa.
Bagiku, Kotori-san terlihat sedikit bercahaya.
Baik Cursed Power maupun kekuatan sihir,
sebenarnya terasa menyakitkan untuk dikendalikan sampai terbiasa. Seperti
melakukan latihan otot sekaligus lari cepat secara bersamaan, dan rasa sakit
itu terus berlanjut.
Namun, sosok yang terus melakukan usaha kecil meski
terasa berat dan menyakitkan itu──.
"Sensei, kenapa menatapku begitu──…… ah, apakah aku
melakukan sesuatu yang aneh lagi……"
Bercahaya.
"Kehidupan terkutuk" Kotori Taira yang
dikatakan oleh Dewi. Akhir di mana suatu hari nanti ia akan dibunuh oleh salah
satu bereinkarnasi.
Kehidupan penjahat yang sangat panas itu kini sudah
menjadi milikku.
Artinya, Kotori-san juga merupakan kandidat tokoh utama
yang mungkin akan membunuhku.
Aku harus membuatnya menjadi lebih kuat.
"Anu, tolong jawab aku…… ah, aku melakukan sesuatu
yang aneh lagi…… ugh, aku mual……"
Membimbing sendiri kandidat tokoh utama yang akan
membunuh diriku……
Terasa seperti penjahat ya…… Oke!
──……Haah,
membosankan.
◇◇◇◇
Setelah
menyelesaikan pelajaran kekuatan sihir, aku menuju ladang.
Musim
semi telah tiba, saatnya menabur benih.
15
tahun berlalu sejak bereinkarnasi ke dunia ini, berkebun benar-benar telah
menjadi hobiku.
Pertanian
itu menyenangkan.
Aku
menyentuh ladang yang menjadi tanggung jawabku dan memastikan sensasinya.
Hmm……
gulma yang tumbuh banyak menyerupai semanggi putih dan mugwort. Tanahnya
terlalu asam. Perlu ada perbaikan.
Saat
sedang mengutak-atik tanah seperti itu, tiba-tiba aku merasakan kehadiran
seseorang di belakangku.
"Oi, Castani, ini."
"Wah! Bon-san, selamat pagi!"
Pengelola perkebunan, Bon-san yang merupakan mantan
petualang.
Sepertinya ia membawa gerobak besar dengan memerintahkan
bawahannya untuk menariknya ke sini.
"Gerobak
baru, cangkul yang sudah diasah, dan…… sesuai permintaanmu, aku sudah
mengumpulkan kulit kerang tiram dengan meminta ke kedai minuman dan toko ikan
di kota."
"Bon-san, terima kasih banyak!!"
Berkat suap harian (dari logam mulia milik bandit),
hubunganku dengan Bon-san berjalan baik.
Mengendalikan orang lain dengan uang, aku adalah
penjahat tipe intelektual yang juga mahir bernegosiasi.
"Ah, baguslah baguslah, tapi untuk apa kamu memakai
sampah kulit kerang? ……Hei, kalau kamu ingin makan tiram, itu, masakan andalan
istriku adalah masakan tiram……"
"Kulit kerangnya akan kuhancurkan lalu kusebar di
ladang!"
"……Hah?"
Akhirnya, kehidupan perkebunanku pun mencapai kematangan.
Teman yang orang tuanya pemilik tanah adalah aset
berharga.
Aku meminta tolong pada Kotori-san untuk mendapatkan
sebagian area perkebunan sebagai ladang pribadiku.
"Kulit kerang dihancurkan, lalu digunakan sebagai
pengganti kapur. Tanahnya terlalu asam, jadi aku ingin menetralkannya menjadi
basa."
"Kapur? Asam, basa……? Ah, ya sudahlah, lakukan saja
dalam batas yang diizinkan oleh Tuan Tyler……"
"Siap!"
Syukurlah aku belajar banyak hal di dunia sebelumnya……
Ini adalah teknik perbaikan tanah tradisional yang sudah
dilakukan di Jepang sejak akhir zaman Edo.
Dengan menyebarkan kapur ke tanah, ia akan mengisi
kebasaan dan menyeimbangkan tanah yang terlalu asam.
Tanaman pasti akan senang.
"Benar-benar orang yang aneh. ……Budak yang Gifted,
ya."
"Eh? Ada sesuatu yang Anda katakan,
Bon-san?"
"Bukan apa-apa."
Setelah bawahannya pulang, Bon-san masih berdiri di
belakangku, memperhatikan caraku mengolah tanah.
Jangan-jangan, dia tertarik dengan pekerjaan ladang?
Kehadiran orang di belakangku bertambah.
Dari suara langkah kaki dan getaran di tanah, ada
seorang wanita dan anak kecil. Ah, keluarga Bon-san.
"Militia, kamu datang?"
"Iya, anak ini ingin melihat pekerjaan Papa."
Tepat sekali.
Saat berbalik, keluarga Bon-san ada di sana. Istri yang cantik dan putri yang lucu.
Seingatku mereka menikah beberapa tahun lalu, dan anaknya
sudah berusia empat tahun ya.
"Sakry, kamu juga ikut?"
"Papa! Gendong~"
Bon-san dengan ringan menggendong putri kecilnya.
Wajahnya tenang. Pasti hal seperti itu juga adalah kebahagiaan.
Putri yang digendong itu menatapku sambil mengisap
jarinya.
"Wah, kakak budak."
"Kakak budak? Kamu, tahu tentang aku?"
"Iya!"
"Aduh, maaf ya, Castani-san. Suamiku sering
bercerita tentang kamu di rumah. Sepertinya putriku jadi tahu tentang
kamu karena itu."
"Oi, Militia, jangan……"
"Tidak, justru saya yang berterima kasih karena
selalu merepotkan Bon-san, Tuan! Siap!!"
"Siap" adalah kata sihir.
Hanya dengan meneriakkannya dengan penuh semangat, itu
menjadi salam yang penuh tekad.
"Itu sudah bukan salam lagi. Ah, lebih dari itu,
Castani, ada satu hal yang ingin aku bicarakan padamu."
"Bicara, ya?"
"……Belakangan ini, ada kejadian aneh di kota."
Bon-san merendahkan suaranya.
"Kejadian menyeramkan di mana satu keluarga
tiba-tiba menghilang, lalu keesokan harinya ditemukan menjadi mayat."
"Hehehe. Bahaya sekali ya."
"……Satu bulan lalu satu keluarga pemilik toko serba
ada dekat bazar, lalu keluarga pandai besi di distrik pengrajin, dan kemudian
satu keluarga penjual air di bagian luar kota. Semua menghilang dalam semalam,
dan di pagi hari berikutnya, mereka sudah menjadi mayat di suatu tempat di
kota."
Kota yang dimaksud adalah kota perdagangan Novis
di dekat perkebunan ini.
Tyler Trading juga memiliki kediaman di sana.
Hmm, bazar, distrik pengrajin, bagian luar kota…… ya.
Aku pernah menyusup ke kota itu saat berburu bandit, tapi
posisi itu……
"Jaraknya semakin mendekat ke perkebunan kita
ya."
"……Ternyata Castani juga berpikir begitu. Kami
melakukan ronda malam, tapi jika ini ulah monster, kemampuan kami ada batasnya.
Jadi, itu, ah, apa ya."
"?"
Komunikasiku dan Bon-san sedikit tidak nyambung.
Melihat itu, sang istri menunjukkan senyum lembut.
"Fufu, orang ini, dia mengkhawatirkan kamu. Kamu
tinggal sendirian di gubuk perkebunan, kan?"
"…………Jangan salah paham, Castani. Kamu adalah budak
tani yang cukup kompeten, tidak ada maksud lain selain itu."
"Bon-san!
Terima kasih!!"
Bon-san
bukan orang baik.
Dia
menerima suapku dengan baik, dan orang baik mungkin tidak akan bisa melakukan
pengelolaan budak.
Namun,
terkait peralatan pertanian atau izin keluar, dia adalah orang yang menepati
janji atas negosiasiku.
Jika
begitu, dia adalah lawan bicara yang harus kuhadapi dengan etika yang tepat. Penjahat
sejati memang peka terhadap hal-hal seperti itu.
"Hei, Castani…… apakah kamu…… punya minat……
berkeluarga……"
"Eh?"
Tapi tetap saja, Bon-san hari ini aneh……
Biasanya dia hanya menggunakan satu sentimeter bagian
otak yang paling dangkal, tapi hari ini dia terlihat berbicara denganku sambil
memikirkan sesuatu.
"……Haha, lupakan saja."
"Fufu, semoga kamu bisa mengatakannya suatu hari
nanti, Sayang."
"Berisik, Militia."
"Hah? Cara bicara macam apa itu kepada
istrimu?"
Militia-san yang tersenyum mulai menonjolkan urat biru di
wajahnya.
"Ah, maaf…… maaf sekali, karena tadi ada bawahan……
aku ingin terlihat keren…… ah, Militia-san, sakit, maaf, ah! Jangan pelintir lenganku!"
Wah,
pertengkaran suami-istri.
Istrinya
punya kekuatan cengkeram yang kuat…… teknik sendi yang luar biasa.
"Ca-, Castani, ka-, kalau begitu kami pulang. Kamu
juga istirahatlah yang cukup."
"Siap!"
"Ah, Kakak…… itu, anu"
Sakry-chan
berlari mendekat.
Aku
berjongkok untuk menyesuaikan dengan pandangannya.
"Ada
apa?"
Kemudian,
dia membenamkan wajahnya ke boneka kelinci yang ia peluk.
Tanda ♢ di
perut boneka itu sangat mencolok.
"……Boneka yang lucu ya."
"!! Iya! Dikasih sama teman, Fais-chan!"
Sakry-chan tertawa merekah seperti bunga.
"Nanti, Fais-chan juga mau datang main, katanya dia
mau main sama kakak dan teman-teman. Rahasia ya."
"Oh, ajakan ke jaringan pertemanan anak-anak? Terima
kasih, nanti main lagi ya."
"Benarkah!? Janji ya! Nhehe, Kakak budak!
Janji ya~!"
"Oke, nanti kakak ajarkan cara mengolah tanah
ya."
Aku melambaikan tangan ke keluarga Bon-san yang menuju
rumah.
Tumbuhlah dengan sehat, karena ada kemungkinan kamu akan
menjadi anak yang seperti tokoh utama di masa depan.
"Sakry, kamu bicara apa tadi sama Castani?"
"Nanti katanya kakak mau main sama aku!"
"Wah, jangan merepotkan dia ya?"
Ayah yang menggendong putrinya, ibu yang tersenyum
melihatnya.
Itu yang namanya gambaran keluarga ya. Pemandangan
yang tidak ada hubungannya denganku, dan itu berbeda dengan apa yang aku
inginkan.
Meski begitu, sosok mereka yang pulang ke rumah
dengan bahagia──.
"Indah sekali ya."
◇◇◇◇
Malam itu, seluruh keluarga Bon-san menghilang.
Di pagi hari berikutnya, mayat seluruh anggota
keluarga ditemukan di perkebunan.
Keesokan harinya, Kotori-san menghilang dari kediaman
perusahaan dagang.
Sampai sekarang, Kotori-san belum ditemukan.
◇◇◇◇
Saat ini, perkebunan dalam keadaan panik.
Mayat keluarga Bon-san sudah dimakamkan hari itu juga,
tapi kematian pengelola perkebunan membawa keguncangan yang besar.
Bersamaan dengan itu, hilangnya putri tunggal dari Tyler
Trading, salah satu perusahaan dagang terbesar di kekaisaran.
Wajar jika keributan besar terjadi.
Aku sedang bermeditasi di dalam gubukku.
Mengingat kembali keadaan mayat keluarga Bon-san yang
kulihat di ladang.
Bon-san
adalah mayat hangus dengan bagian bawah lehernya terbakar habis. Istri dan putrinya memiliki lubang besar di perut mereka.
Bon-san bukan orang baik.
Namun, tidak ada alasan apa pun yang membenarkan cara
kematian seperti itu.
Istri Bon-san dan putri kecilnya, Sakry-chan juga begitu.
Kotori-san juga bukan eksistensi yang boleh hilang hanya
dalam event sembarangan seperti ini.
Dan yang paling penting.
"Berani-beraninya mengotori ladangku."
Mayat-mayat
itu disebar di ladang.
Cara kerjanya berantakan, semuanya berantakan. Penjahat rendahan yang sampah sedang bernapas di dekatku.
──Tidak menyenangkan.
Akan kuhabisi pelakunya.
Mengganggu sekali, aku tidak suka ladang yang sudah
kubangun diperlakukan sembarangan.
Benih
yang buruk harus dicabut. Ah, kalimat barusan terasa seperti
penjahat…… Oke, mari kita sesuaikan kalimatnya sedikit.
"Akan kucabut hama itu, bagaimana?"
《Yes,
my player.》
"──Sesuai
kehendak Rajaku."
Di
dalam gubuk, White sudah bersiap.
Tak
disangka, White ternyata juga akrab dengan Kotori-san. Rambut
putihnya sedikit berdiri karena kekuatan sihir.
"Curse,
investigasi sudah dilakukan."
"Ah."
Di seluruh ruangan, dokumen dan peta tersebar luas.
Wah, ini seperti dokumen investigasi di drama kriminal.
"Peta ini menandai lokasi kejadian hilangnya
keluarga yang terjadi. Dan, kami juga sudah menyiapkan semua dokumen terkait
kejadian yang mungkin berhubungan, seperti kasus pembunuhan yang terjadi
belakangan ini."
"Oh?"
White, bukankah kamu terlalu kompeten?
Dari Curse
Brotherhood, bisa-bisa berubah menjadi White Sisterhood nih.
"Tapi, keberadaan Kotori masih belum diketahui……
Jika sama dengan kasus-kasus sebelumnya──"
"Batas waktunya pasti sampai besok."
"……Iya, ya."
《……Tampaknya investigasi oleh Ksatria Sihir, organisasi
kepolisian negara ini, juga mengalami kesulitan.》
"Sepertinya ada juga ksatria yang menghilang saat
sedang menyelidiki."
Ya, tidak ada informasi apa pun.
Tapi, jika buntu di sini, itu akan merusak martabat
seorang penjahat.
Harus mengulur waktu untuk berpikir……
"Oke, aku sudah punya perkiraan besarnya. Hubungkan
lokasi kejadian hilangnya keluarga dengan garis."
Bukankah itu sering terjadi di drama kriminal?
"Garis……? Hah, ini adalah segel sihir
gereja simbol ◇…… jangan-jangan……"
《Player……
Sejauh mana kau bisa membaca masa depan……》
Sepertinya
aku berhasil. Aku asal bicara, tapi simbol ◇ muncul di peta.
"Tidak
salah lagi, ini adalah magic circle dari teknik barrier…… Tenmaku
Ryokai no Jin (Formasi Batas Tirai Langit)……?"
《Namun, formasi ini belum selesai. Titik asal dalam magic
circle, yakni bentuk yang menjadi inti dari formasi ini, tidak ada di
sini……》
……Hmm? Simbol ◇? Sepertinya aku pernah melihatnya
di suatu tempat.
Err, kalau tidak salah……
──Kemampuan kehidupan sebelumnya "Malignant
Synchronous Thinking" aktif kembali.
『Hah! Iya! Dikasih sama teman,
Fais-chan!』
"Fais……"
Aku ingat. Benar, boneka yang dimiliki putri Bon-san,
Sakry-chan, memiliki simbol yang sama. Kalau tidak salah, dia bilang diberi
oleh teman yang bernama Fais-chan atau semacamnya.
"!? Curse, barusan kau bilang apa?"
Eh, wah, suara White keras sekali.
"……Fais."
"Ini adalah…… iya, jadi begitu ya…… Wahai Rajaku, Curse,
kau sudah mengetahui hal ini sebelumnya……"
White
menulis sesuatu di peta.
Di
tengah simbol ◇
pada peta, sebuah titik ditambahkan.
"Curse. Dari mana kau tahu nama Fais
itu……"
"Beberapa hari yang lalu, dari seseorang."
"…………Begitu, ya."
White menatap dengan tatapan yang terasa menyakitkan.
Apa perutnya sakit?
《Fais adalah gadis lima tahun yang telah meninggal
setengah tahun lalu.》
……Eh? Setengah tahun lalu? Bukankah itu aneh?
Karena, beberapa hari yang lalu, Sakry-chan……
──Kemampuan kehidupan sebelumnya "Evil
Brain" aktif kembali.
『Temanku yang bernama Fais-chan itu juga
tertarik dengan ilmu sihir……』
Wah, tiba-tiba aku teringat.
Bukan cuma Sakry-chan, Kotori-san juga sempat bilang
begitu.
Mereka berdua membicarakan tentang gadis yang sudah
meninggal.
Tempat yang harus diselidiki sudah ditentukan.
Menyelidiki rumah Bon-san, lalu rumah Fais.
Lagipula, pelakunya pasti orang itu.
Apa-apaan ini, apa di dunia lain juga ada hantu dan
sejenisnya?
Tolong hentikan, aku hidup di sini dengan niat sepenuhnya
menjalani dunia fantasi.
……Tidak, tunggu.
Benar, ini dunia lain, bukan dunia horor.
Event ini pasti yang itu.
Kelihatannya ulah hantu, tapi sebenarnya bukan sama
sekali!
Ini pasti kasus di mana pada akhirnya pelakunya adalah
manusia yang paling menakutkan!
Kalau begitu, masih ada peluang menang! Mari kita bunuh
semua pelakunya dan selesaikan ini.
"Curse. Berikan perintahmu."
White berlutut. Oh, auranya sebagai organisasi
jahat mulai terasa.
"Oke,
Curse Brotherhood malam ini akan pergi berburu."
Karena tidak mungkin ada hantu atau arwah gentayangan,
aman!
"Malam perburuan monster."
◇◇◇◇
Dan begitulah, aku datang ke rumah Bon-san dengan penuh
semangat.
Ya, ini sangat buruk.
『Aku penasaran Sakry akan jadi anak
seperti apa ya, aku tidak sabar menantikannya.』
『Fufu, benar juga. Karena dia suka
melihat orang memasak, mungkin saja dia jadi koki.』
Terdengar suara pria dan wanita dengan sangat jelas.
Padahal rumah ini seharusnya sudah kosong.
《Player,
suara ini…… itu……》
"Tidak,
tidak, tidak. Itu pasti ada tim investigasi dari Ksatria Sihir yang sedang
masuk, kan?"
Pasti
karena itu juga rumah yang seharusnya kosong ini memiliki lampu yang menyala.
Nah, lilin atau lentera…… eh? Tidak ada api yang menyala.
……Lalu kenapa rumah ini terang?
《……Ksatria Sihir seharusnya sudah terpancing oleh operasi
pengalihan White……》
"……Kalau begitu, siapa suara yang terdengar dari
ruang tamu ini?"
《……Bukankah itu arwah gentayangan?》
"Jangan
sebut 'itu' atau 'arwah' begitu. Kalau itu benar arwah dan dia marah karena kau
panggil dengan sebutan 'itu', kau mau tanggung jawab bagaimana?"
《Jangan-jangan
Player, kau takut hantu──》 "Tidak ada yang namanya hantu."
Mengeluh pun tidak ada gunanya.
Aku berjalan perlahan menyusuri rumah abad
pertengahan yang terbuat dari kayu dan bata itu.
Bau
tajam menusuk hidung, bau campuran sampah dan darah. Sering
kucium di kamp bandit…… bau tempat di mana orang mati.
Lalu, aku mengintip ke ruang tamu──.
『Aku ingin dia ikut les. Menambah
hal yang bisa dilakukan demi masa depan itu penting.』
『Astaga, kamu ini tidak sabaran
sekali.』
Itu Bon-san dan Militia-san.
Mereka duduk di kursi berlumuran darah sambil
berbincang ceria.
Di dinding dan lantai ruang tamu terdapat noda darah.
Di langit-langit masih menempel bekas telapak tangan
berwarna hitam pekat.
Dan, bertolak belakang dengan kondisi ruangan yang
tragis, ada sepasang suami istri yang berbincang dengan senyum ceria.
Padahal, aku sendiri sudah melihat mayat mereka di
ladang.
『Oh!
Sudah datang, Castani! Duduk di sana. Militia, siapkan
masakannya.』
『Fufu, tunggu sebentar ya, Castani-kun.』
"……Halo,
Bon-san, Militia-san."
Sesuai
tawaran suami istri yang seharusnya sudah mati itu, aku duduk di kursi.
Ada empat kursi mengelilingi meja; aku, Bon-san,
Militia-san, dan satu kursi kosong untuk anak kecil.
Sakry-chan, anak yang seharusnya duduk di sini, tidak ada
di mana pun.
『Iya, menunggu lama ya, Castani-kun.』
『Jangan sungkan, makanlah! Masakan tiram
Militia itu yang terbaik.』
Dari panci yang diletakkan di atas meja, tercium bau
busuk.
Sup berwarna hitam pekat yang meleleh, dan di dapur
terlihat cangkang tiram berserakan.
"……Jadi, kalian berniat memberiku makan ini?"
Percakapan dengan Bon-san di ladang beberapa hari lalu
terlintas di pikiranku.
Meskipun segalanya sudah terlambat.
『Ada apa, Castani? Jangan sungkan.
……Hei, aku berterima kasih padamu atas urusan di perkebunan. Kalau kau tidak
keberatan…… maukah
kau tinggal bersama di rumah ini?』
『Fufu, akhirnya kamu bisa mengatakannya
ya. Hei, Castani-kun. Sakry juga menginginkan seorang kakak laki-laki. Kalau
kau mau, aku sangat berharap kau bisa menjadi keluarga kami.』
"Bon-san,
Militia-san……"
《Player,
mereka…… itu…… sulit untuk dikatakannya, tapi…… mereka sudah……》
Ah, aku
tahu, Navi.
Air
mata dan kesedihan tidak dibutuhkan oleh penjahat. Yang dibutuhkan hanyalah
tindakan.
"Bon-san,
di mana Sakry-chan?"
『Oh,
dia sedang main ke rumah temannya. Fais-chan, kalau tidak salah?』
『Benar,
benar, Fais-chan. Anak yang sangat baik dan pintar. Katanya
impiannya masuk Akademi Sihir.』
Di sini pernah ada masa depan.
Ada harapan dan impian yang digambar oleh keluarga yang
hangat. Tapi, hal itu tidak akan pernah kembali ke dunia ini.
"Begitu ya, aku menantikan masa depan
Sakry-chan."
『Oh, benar sekali──eh?』
Srak.
"Curse Enhancement".
Aku menyelimuti garpu di meja dengan Cursed Power,
lalu menusukkannya ke telapak tangan Bon-san.
『A-, aghhhhhhh!? Ca-, Castaniii!? Kau
ini kenapa!?』
"Apa sakit? Bon-san."
『……Eh?
Ah…… eh?』
Bon-san
gemetaran sambil menatap bekas lukanya.
Tidak
ada apa-apa. Tidak ada luka, tidak ada darah, tidak ada apa pun.
Bon-san tertegun menatap tangannya sendiri.
"Rasa sakit adalah bukti kehidupan. Mengeluarkan
darah dan mendapat luka adalah hak istimewa makhluk hidup. Kau mengerti, kan,
Bon-san?"
『A-, a…… mu-, mustahil……』
『Ka-, kami…… tidak mungkin……』
Militia-san juga sepertinya menyadarinya.
"Kalian sudah mati. Bon-san, Militia-san."
『Ah,
aghhhhhh…… benar, aku, malam itu, tidak bisa melindungi keluargaku…… ah,
maaf, maafkan aku, Militia…… Sakry.』
『Kamu…… ah, aku ingat, kami…… sudah……
Sakry, Sakry ada di mana……?』
"Aku akan mencarinya."
『『Eh?』』
"Aku yang akan membawa Sakry-chan pulang ke rumah
ini. Karena itu, katakan padaku, siapa yang membunuh kalian?"
『『……』』
Bon-san dan Militia-san menunjuk ke arah rak.
Ada boneka kelinci berwarna biru di sana.
Tanda ◇ di
perutnya. Desain yang sama dengan boneka yang dibawa Sakry-chan ke ladang.
Saat aku menyentuhnya, boneka itu terbungkus api biru dan
terbakar habis.
Pada saat yang sama──.
Kriiiiieee. Terdengar suara sesuatu terbuka dari
lantai dua.
《Pintu kamar anak tampaknya telah terbuka……》
Pasti ada sesuatu di sana.
Sisanya──.
『Aghhhhhhh, Sakry, Sakry, aku ingin
lebih, lebih lama lagi bersama kalian! Militia, Sakry! Padahal aku seorang
ayah! Tidak bisa melindungi kalian! Aghhhhh』
『Maafkan aku, maafkan akuuuu, Sakry,
meninggalkanmu sendirian! Ah, aku ingin terus melihat masa depanmu! Aghhhhhh,
maafkan aku karena tidak bisa melindungimu! Aghhhhhhh』
Krak krak krak. Mereka mulai mencungkil papan lantai
dengan tangan kosong.
Kondisi suami istri itu aneh.
Kontur tubuh mereka memudar, dan mata mereka berubah
menjadi hitam pekat.
《……Rumah ini sudah berada di bawah kendali teknik barrier
"Tenmaku Ryokai". Lampu yang menyala dan keadaan di luar
jendela yang terang adalah karena ruang ini adalah ruang yang dibuat dari
kekuatan sihir yang terpisah dari dunia nyata.》
Seperti yang diharapkan dari Navi, kau ahli sekali.
Lain kali, tolong beri tahu aku hal semacam itu sedikit
lebih awal.
『『Akan kukutuk kau…… akan kukutuk kau』』
《……Jiwa mereka mulai tercemar oleh kekuatan sihir Ryokai.
Jika dibiarkan, mereka akan berubah menjadi eksistensi yang menyerang manusia.》
Itu tidak boleh terjadi. Kalau begitu, mari kita lakukan
apa yang harus dilakukan.
"Tidak perlu, kalian tidak perlu mengutuk siapa
pun."
Aku mengalirkan Cursed Power ke lengan, lalu
menyatukan kedua tangan.
Dari pertarungan dengan White beberapa tahun lalu, sudah
terbukti bahwa Cursed Power akan menimpa kekuatan sihir.
Seperti kata Navi, jika jiwa mereka terjebak oleh
kekuatan sihir di tempat ini.
Mari
kita akhiri dengan Cursed Power-ku.
"Kalian tidak perlu mengutuk apa pun."
『……Cahaya
hangat…… membuatku tenang…… ah…… Sakry, kamu pergi ke mana.』
『Castani,
kamu adalah……』
Pasangan
itu lenyap karena Cursed Power yang menyembur dari tubuhku.
Sampai
jumpa, Bon-san, Militia-san.
"Namaku
adalah Curse. Wahai suami istri baik hati yang kalah oleh tragedi. Hanya
penyesalan itu saja yang akan kupikul, tidurlah dengan tenang."
Bon-san
menunjukkan ekspresi terkejut pada wajahnya yang perlahan menghilang, lalu
disusul dengan senyum tenang.
"Putri
kalian, Curse ini yang akan membawanya pulang."
Wajahnya
kembali ke wajah tenang yang kukenal. Bon-san melihat ke arahku sambil tetap
memeluk istrinya.
『……Merepotkanmu, ya.』
"Sama-sama."
Sosok suami istri itu kini sudah tidak ada di mana pun.
Aku menginjak lantai yang mereka cakar untuk meratakannya
kembali.
《Player……
kau benar-benar orang yang lembut ya.》
"Tidak
juga."
Aku
menuju kamar anak di lantai dua. Di dalam kamar sangat gelap, tidak terlihat
apa pun.
Apa kau pikir aku akan takut sekarang? Aku akan
menghadapinya.
Fwoosh. Aku berganti pakaian dengan jubah
hitam yang ditenun dari Cursed Power.
Aku melangkahkan kakiku ke dalam kamar itu.
Mari kita mulai──permainan penjahatnya.
◇◇◇◇
"Sedikit
gawat nih."
Rambut
pirang lurus.
Kulit seputih porselen, mata biru. Wajah yang sangat
kecil hingga terasa mustahil. Penampilan yang akan dinilai sebagai gadis cantik
oleh siapa pun yang melihatnya.
Namanya
adalah Snow von Lichte.
Putri
tunggal dari keluarga Duke Lichte, bangsawan kekaisaran.
Sesuai
tradisi bangsawan, ia yang berpartisipasi dalam Ksatria Sihir sejak kecil
sedang menyelidiki kasus hilangnya orang yang terjadi di kota ini.
Saat menyentuh boneka aneh yang ia temukan selama
investigasi, ia terlempar ke tempat ini──.
"Ma-,
maafkan aku, tidak disangka…… sampai melibatkan putri seorang Duke……"
"Tidak apa-apa! Jangan pedulikan itu! Syukurlah kau
selamat, Tyler-san. Ah, boleh aku memanggilmu dengan nama depan?"
"Hi-, hiya! Ko-, Kotori. Putri Duke……"
"Terima kasih, Kotori-chan, panggil saja aku
Snow!"
"Eh, ……Ah, kalau begitu, Snow-sama……"
Menemukan orang hilang yang dicari, Kotori Tyler, memang
bagus, tapi……
"Tapi, tempat apa ini ya."
Rumah.
Tidak ada jendela, keadaan di luar tidak bisa
dipastikan.
Pintu pun tidak terbuka. Aku sudah mencoba
menghancurkannya, tapi tidak bisa rusak.
"A-, aku tidak, tahu. Aku juga, saat bangun
pagi, sudah ada di sini…… hiks……"
"Ah, jangan menangis! Kotori-chan, tidak apa-apa!
Ya!"
"Hiks…… maaf, kan. Aku, merepotkan putri
bangsawan…… hiks……"
"Aah……
tenanglah, Taira-san! Ah."
"Eh? Taira-san? Anu, maaf, aku……"
"Maaf, aku tidak sengaja salah sebut, anu…… aku
hanya ingin memastikan…… apakah namamu Kotori Taira?"
Masa
lalu dari putri Duke Snow von Lichte adalah Putri Kedua Snow von Lichten.
Ia
adalah seorang bereinkarnasi.
Dan, ia
mengingat memori kehidupan sebelumnya dengan jelas.
"Eh? Anu, aku Kotori Tyler, hiks, Taira?……"
"So-,
begitu ya…… ehehe. Maaf ya, Kotori-chan, aku menanyakan hal yang aneh."
Sembari
beradaptasi dengan dunia ini, ia mencari mantan teman sekelasnya dan berniat
melindungi mereka jika perlu.
"Eh. Ti-, tidak……"
"Baiklah, apa pun itu, mari cari jalan keluar! Tidak
apa-apa, pasti akan ada jalan!"
"Ah, iya! Eh?"
Rambut Kotori bergetar.
"Anu, Snow-sama, anu, di bawah sini, dari bawah
kaki, apakah Anda merasakan kekuatan sihir yang besar?"
"Eh. Ah! Be-, benar!"
Seorang penyihir bisa merasakan kekuatan sihir.
Terbagi menjadi dua jenis, mereka yang mampu secara
bawaan dan mereka yang mampu secara perolehan melalui pelatihan……
"Apakah Kotori-chan punya bakat kekuatan sihir sejak
lahir?"
"Ti-, tidak, belakangan ini…… se-, sebenarnya, sejak
dulu aku mengagumi penyihir…… ta-,
tapi belajar kekuatan sihir baru dimulai belakangan ini……"
Snow adalah manusia yang mampu merasakan kekuatan sihir
sejak lahir.
Snow diam-diam terkejut bahwa kemampuan deteksi kekuatan
sihir Kotori jauh lebih tajam daripada dirinya.
"Belajar sendiri? Atau dengan guru les?"
"Ah, anu, aku belajar pada Sensei……"
"Sensei? Apakah dia seorang penyihir?"
"Ah, ah, ti-, tidak, dia anak laki-laki yang bekerja
di perkebunan kami. Dia bilang, rasakan kekuatan sihir dengan sensasi kulitmu
yang meluas……"
"……Kaget. Luar biasa, padahal kurasa belajar
sendiri, tapi dia mengatakan hal yang sama dengan Guru Glerod…… Hei,
Kotori-chan, siapa nama anak itu?"
"Ah, anu, Ca-, Castani-kun. Namanya langka, katanya
itu nama dari wilayah timur yang jauh."
"Ca-, castani?"
Langkah Snow terhenti.
Wajahnya menegang, tapi Kotori tidak menyadari hal itu.
"Ah, iya──Castani-kun."
"…………Anak itu, apakah nama belakangnya bukan
Takihito?"
"Nama belakang……? Ah, anu, dia adalah budak di
kediaman kami…… jadi kurasa dia tidak punya nama keluarga……"
"──Budak……
Castani-san…… benarkah, kau……"
Snow menahan napasnya.
"Halo, para kakak."
““Eh?””
Seorang gadis berdiri di belakang mereka berdua.
Gadis berambut cokelat dengan gaun biru, memeluk
boneka kelinci.
"……Fais-chan……?"
"Kakak Kotori, kamu datang. Aku senang."
"……Kotori-chan, apa kalian saling kenal?"
"I-, iya, teman yang baru, baru saja kukenal…… eh, jadi, ini rumah
Fais-chan……?"
"……"
Gadis itu diam menanggapi perkataan Kotori.
Fais, nama itu diketahui oleh Snow.
"……Kotori-chan, kapan tepatnya kamu mengenal anak
ini?"
"Eh? Ba-, bulan lalu……"
"……Fais-san, bolehkah saya memanggilmu Fais
Blumeil?"
"Iya, benar sekali, Kakak penyihir."
"……Ibumu bekerja di kedai minuman, kan?"
"Iya."
"Terakhir, aku ingin bertanya satu hal lagi."
Snow merendahkan suaranya.
"Kamu sudah meninggal setengah tahun yang lalu,
kan?"
"Aha."
Gadis itu tersenyum menyeringai hingga menampakkan gusi.
"Cari Fais ya, kalau mau pulang ke rumah."
Tubuh gadis itu menghilang begitu saja.
""……””
Snow dan Kotori saling bertatapan dalam diam.
Krak, kriiieee. Di
balik ruang tamu, pintu yang menuju ke ruangan lain terbuka.
"……A-, apa yang harus kita lakukan?" Kotori
menatap Snow. "……Kita tidak punya pilihan selain pergi, kan."
Mereka berdua yang memiliki kemampuan merasakan kekuatan
sihir sudah menyadarinya.
Bahwa di balik pintu ini, kekuatan sihir yang mengerikan
sedang bergejolak.
"……Kotori-chan, apakah kau tahu teknik barrier
yang disebut "Tenmaku Ryokai"?"
"A-, aku pernah mendengarnya……"
"Ya, syukurlah kalau begitu. Aturan untuk memecahkan
"Tenmaku Ryokai" hanya satu. Temukan penggunanya dan kalahkan dia. Itu saja. Artinya,
kita harus pergi ke sana. Bagaimana pun terlihatnya, ini adalah jebakan, tapi
kita harus mencari anak itu di dalam wilayah Ryokai ini."
Yang akan dimulai sekarang adalah pertarungan
hidup-mati antar penyihir.
"Kotori-chan.
Aku akan membawamu pulang ke keluarga dengan selamat. Kekuatan
sihir di ruangan ini menunjukkan bahwa ruangan ini adalah satu-satunya zona
aman…… setidaknya kau, tetaplah di sini──"
"A-, aku juga, aku ikut!"
"Eh?"
"A-, aku, memang orang yang lamban, bodoh, dan
payah, ta-, tapi! A-, aku tidak bisa membiarkan Snow-sama yang datang
menyelamatkanku sendirian! Ti-, tidak bisa!"
Kotori yang setengah menangis menghasilkan garam di
telapak tangannya.
"Na-, nama Gift-ku adalah Salt Pillar
(Eshet Rod)! A-, aku akan melindungi diriku sendiri! Uhuk, uhuk!"
"Kotori-chan, ternyata kau juga seorang Gifted……
tapi kau tidak apa-apa!?"
"Uhuk!
Uhuk! Ma-, maafkan aku, karena aku berteriak terlalu keras, ludahku
masuk ke saluran yang salah…… uhuk."
Snow
mengusap punggung Kotori.
"Be-,
benarkah, kau tidak takut? Kotori-chan."
"Ta-, takut sih…… tapi, aku ingin pergi bersama
Snow-sama! Ugh! Uhuk!"
Kotori memaksakan suaranya dengan mata berkaca-kaca. Snow
bergumam "terima kasih" dengan pelan.
Mereka berdua berjalan menyusuri ruangan.
Setelah melewati pintu yang terbuka, di sana──.
『Ibu, hei, buka pintunya, hei……』
『Tidak apa-apa kan? Itu kan anakmu.
Biarkan saja terkunci di gudang.』
『Fufu, tidak apa-apa. Kalau dibiarkan
sebentar, dia akan tenang…… daripada itu, sentuh di sini, cepat…… semuanya sudah berantakan……』
『Dasar wanita jahat.』『Ara,
kau tidak suka wanita jahat? ──Ahnn.』
Pemandangan terburuk.
Laki-laki dan perempuan saling melilit di tempat tidur
yang hangat, sementara suara gadis kecil yang lirih dari lemari yang dingin
tidak tersampaikan.
Snow dan Kotori hanya bisa melihat pemandangan itu.
Tak lama kemudian, pria dan wanita itu menghilang dari
tempat tidur, dan pada saat yang sama, rasa kaku pada tubuh mereka hilang.
"……"
Snow membuka lemari. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Ibu selalu membawa pria asing ke rumah. Sejak Ayah
meninggal, selalu, selalu begitu. Saat pria itu datang, aku selalu dimasukkan
ke dalam lemari yang dingin dan gelap.
Suara itu bergema.
Kriiiiieee.
Pintu di ujung ruangan terbuka.
Snow dan Kotori memahaminya.
Ini adalah ingatan.
Setiap kali melewati ruangan, mereka akan terus
menyaksikan ingatan Fais Blumeil, pemilik "Tenmaku Ryokai".
Snow dan Kotori terus melangkah.
Di sana──.
『Err, kekuatan sihir adalah... anugerah?
yang diberikan tujuh Dewa Agung ke bumi... Dengan menggunakan kekuatan sihir,
seseorang bisa memunculkan fenomena yang diinginkan, ini disebut sihir. Sihir didasarkan pada teknik
untuk memberikan arah dan hukum...』
Seorang
gadis yang membaca buku dengan suara keras sendirian.
Namun,
tiba-tiba ibunya muncul dan merampas buku itu.
『Sudah kubilang berhenti membaca buku
itu!! Apa kau pamer karena merasa pintar? Kau meremehkanku yang tidak
berpendidikan seperti pria itu!!?? Agh! Mata itu, sama saja! Mata yang sama
dengan penyihir lemah tak berguna!!』
『Tidak mau! Kembalikan! Ibu! Itu buku
Ayah! Jangan hina Ayah! Kembalikan, ah』
Srek.
Buku itu disobek oleh sang ibu, lalu dibuang.
Gadis itu merangkak di lantai, mengumpulkan
halaman-halaman buku yang sudah terkoyak.
『……Bukunya, masih, bisa dibaca…… kalau dikumpulkan dan disambung, bisa dibaca……』
『Menjijikkan…… sudah kubilang
berhenti membaca!! Gara-gara kau, pria jadi tidak mau mendekat! Padahal aku
bisa bersinar lebih terang! Kalau saja kau tidak lahir! Hidupku berantakan!!
Kembalikan! Kembalikan hidupku!!』
Plak! Fais dipukul dan ditendang
berkali-kali.
Entah sejak kapan, sosok ibunya menghilang.
Fais berdiri mematung dengan wajah yang bengkak
karena dipukuli.
『……Kenapa aku hidup ya?』
『Bagaimana caranya agar Ibu mau
melihatku?』
『Semua teman-temanku, Rai-kun,
Sheena-chan, Sakry-chan punya Papa dan Mama yang baik, kenapa Fais tidak punya?』
Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu.
Pintu berikutnya terbuka, di sana──.
『Pu, hi, hihihihihihi』
『AAAAAaaaaAAAAaaaa!!』
Panas, jeritan, teriakan.
"……Ah, tidak mungkin……"
"Ti-, tidak mungkin……"
Kotori terduduk di tempat. Snow pun membuka matanya
lebar-lebar dan menggigit bibirnya.
Fais yang sedang dibakar hidup-hidup, sosok itu ada di
sana.
Ruang bawah tanah, mungkin.
Di ruangan yang dipenuhi berbagai alat siksa itu, seorang
pemuda gemuk berpakaian mewah membakar Fais yang terikat dengan api biru.
『Sakit, sakit sekali, panas, sakit
sekali』
『Sihir, hebat sekali! Membakar manusia
itu menarik sekali!』
『Kenapa, Tuan Bangsawan, katanya, A-,
Anda akan mengajarkanku sihir…… ahhhhhh』
『Pfuuh!
Buho! Kau benar-benar percaya hal seperti itu dan mengikuti? Hiahiaha! Kau
adalah bahan latihan sihirku, tumbal! Tumbal! Kau adalah tumbal kebahagiaanku!
Ah, ternyata apa yang dikatakan orang itu adalah kebenaran! Bukankah sihir itu
semudah ini!』
『Ah,
kenapa, sihir, Ayah, tolong, Ayah, panas, panas, Ayah』
『Ah, dia keluar! Ayah! Pupuupu! Lucu
sekali saat semua orang memanggil orang tua saat mau mati. Bukankah ayahmu
sudah mati!? Kasihan sekali wkwkwkwk. Tidak punya ayah, dijual oleh ibunya
pula!』
『Di-, dijual……?』
『Pfuuh! Kau tahu! Kau dijual oleh ibumu!
Sebagai bahan latihan sihirku! Harganya 1000 Gold! Uang receh yang tidak cukup
untuk bayar minuman semalam! Kasihan, kasihan sekali!!!』
『……Eh』
『Ahhhh, wajah itu, sempurna…… membakar
anak kecil itu sempurna, hiahiaha, para penyihir tidak berguna di Akademi
Sihir, akan kubuat kalian menyesal! Karena tidak mengakui kejeniusanku ini!!』
Kobaran
api biru semakin membesar.
Kehidupan singkat Fais berakhir di sana.
Gadis itu mengakhiri hidupnya sebagai tumbal.
Ingatan Fais menghilang dari hadapan Kotori dan Snow.
Lingkungan berubah menjadi ruangan yang suram.
Kotori meneteskan air mata dalam diam, sementara Snow
mengepalkan tinju dengan tubuh yang gemetar.
『Seharusnya aku melakukan apa ya』
Suara Fais bergema.
『Hei, beri tahu aku』
Fais muncul di hadapan mereka berdua.
『Bagaimana caranya supaya Fais bisa
hidup dengan bahagia』
Snow dan Kotori tidak bisa menjawab apa pun.
Ada eksistensi yang tidak bisa diselamatkan oleh orang
baik sekalipun.
『Tapi,
Fais sudah tahu』
『Untuk menjadi bahagia, kita harus
menjadikan orang lain sebagai tumbal』
『Karena total kebahagiaan sudah
ditentukan sejak awal, kita harus mengambilnya dari orang lain. Orang yang
membakarku juga bilang begitu』
『Makanya aku menjadikan semua orang
sebagai tumbal. Aku membakarnya dengan api biru dan mengirimkannya kepada
Tuhan. Semua orang berteriak dengan sangat keras, "tolong, tolong".
Padahal percuma saja, Fais juga berteriak, tapi tidak ada yang menolongku』
『Seseorang mengambil kebahagiaan
dari orang lain. Dunia berputar seperti itu』
Fais terus tertawa polos.
Gadis murni itu menjadi rusak saat tetap murni.
Snow melangkah maju.
『……Kakak?』
"Maafkan aku……"
Dengan lembut, ia memeluk Fais.
"Dunia tidak seperti itu, setidaknya kau……
seharusnya lahir untuk menjadi bahagia……"
『……Sangat panas, dan sakit. Tapi, tidak ada yang menolongku……』
Fais
membalas pelukan Snow dengan erat.
『Makanya,
sekarang aku mengambilnya dari orang lain. Karena saat aku minta tolong, tidak
ada yang menolongku. Jadi aku harus merebutnya』
Fais
adalah pelaku dari rangkaian kejadian ini.
Jiwa
yang mati, mendapatkan kekuatan sihir, lalu mengamuk dan berubah menjadi
monster yang mengutuk orang lain.
Pekerjaan
Snow, yang merupakan bangsawan sekaligus murid penyihir, adalah membunuhnya.
Tapi──.
"……Maafkan
aku. Aku bahkan tidak bisa membagi rasa sakit dan penderitaanmu. Kamu boleh
membenciku karena hanya bisa melakukan tindakan yang memuaskan diri sendiri
ini…… tapi, Fais-san……"
Inilah
Snow von Lichte.
Dia
selalu lurus dan bodoh.
"Jangan
jatuh menjadi binatang……! Kumohon, sudahlah…… jangan lakukan hal
seperti ini……!"
Snow
tahu kata-katanya terdengar konyol.
Dia
sadar itu sama sekali tidak menghibur Fais.
Namun,
tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya untuk memeluk Fais.
『……Kakak baik sekali ya, sangat cantik,
dan sangat hangat……』
Ya, semua kata-kata Snow benar.
『Makanya, jadilah ibuku』
"Eh?"
Dan, tidak ada lagi orang di sini yang bisa diselamatkan
oleh kebenaran.
『Melahirkanku sekali lagi? Jadilah ibu
yang baik untukku, ya?』
"Snow-sama!!"
Kotori tanpa sadar mencoba memisahkan Snow dan Fais,
namun terlambat.
『Tenmaku Ryokai "Fais Dream"』
"U-,
ah……"
Perut
Snow membuncit tiba-tiba.
"T-,
Fais-san, ini…… uh!?"
Rasa
sakit yang luar biasa, sesuatu menggeliat di dalam perut putih Snow.
『Aku ingin kau melahirkanku. Ibu
Rai-kun, kakak Rai-kun, Mama Sheena-chan, Sheena-chan, Mama Sakry-chan,
Sakry-chan. Semuanya, gagal. Mereka tidak melahirkanku』
"……Jangan-jangan"
Dalam benak Snow, penyebab kematian para korban wanita
terlintas.
Ada lubang di perut mereka, itu artinya──.
『Kalau Kakak, pasti bisa melahirkan Fais
lagi kan?』
Anak ini, perutnya──.
Kotori menahan Snow yang ambruk.
"Snow-sama……! U-, uaaaaaa! Kumohon, Gift "Salt
Pillar (Eshet Rod)"……!"
Gift miliknya yang diaktifkan Kotori
tanpa sadar.
Kemampuan yang hanya menghasilkan garam di telapak
tangan. Namun.
"Kotori……-chan, luar biasa, saat kau menyentuhku,
rasa sakitnya……"
Garam yang tumpah dari tangan Kotori bersinar.
Kabut hitam yang melilit perut Snow sedikit demi sedikit
disucikan oleh garam tersebut.
『Aha, ahahaha, luar biasa, ternyata
Kotori-chan juga spesial, baguslah, punya Papa dan Mama yang baik, kaya, punya
bakat sihir dan Gift, semuanya, enak ya』
Mata Fais berubah menjadi hitam pekat.
Mulutnya tersenyum lebar hingga hampir robek.
Itu bukan lagi ekspresi manusia.
『Tapi, aku juga sudah jadi spesial, lho』
Tubuh
Fais mulai terbakar hancur.
Kakinya
terbakar runtuh, dan kedua lengannya berubah menjadi api biru. Gadis itu
melayang ke udara.
Monster
sihir yang lahir dari seseorang dengan bakat penyihir yang mati dalam
penyesalan dan keputusasaan.
Namanya
adalah──.
"Wraith
(Hantu)……!"
『Kakak
Kotori, panas itu sangat menyakitkan dan menyiksa』
"……"
Fwoosh,
fwoosh!
Di
sekelilingnya, bola api biru melayang.
Kotori
mengerti, api itu memiliki kekuatan untuk menghanguskan daging dan tulangnya
dengan mudah.
『Atau, mau lari? Boleh saja, kalau kau
meninggalkan kakak cantik itu』
"Ti-, ti-, tidak bisa!"
『Kenapa?』
Nadanya ketakutan. Tatapannya tidak fokus.
Namun, Kotori tidak akan pernah mundur.
"A-, aku tidak tahu, tapi, tapi…… kalau aku lari
dari sini, pasti akan jadi, ti-, tidak benar"
『Ahahaha, cantik sekali, Kakak Kotori
juga』
"Hiuuu!!?? Eh, eh, Salt Pillar (Eshet Rod)!
Lindungi Snow-sama!!"
Kotori tanpa sadar menghantamkan kedua tangannya ke
tanah.
Sesuai gerakannya, dinding yang terbuat dari bongkahan
garam tumbuh dari tanah.
Duarr! Api biru besar dan dinding garam
saling bertabrakan.
Snow tahu dalam sekejap.
Tidak bisa ditahan. Itu bukan
api yang bisa ditahan oleh Gift Kotori yang lemah.
"Kotori……-chan, ti-, tidak, la-, lari……"
"Hiuuu, ti-, tidak mau!"
"Ke-, kenapa……"
"Ka-, kalau aku lari di sini, itu artinya aku
meninggalkan Snow-sama! Aku tidak mau melakukan ituuuu!"
Kotori menuangkan kekuatan sihir untuk menjaga dinding
garam dengan kedua tangan di depan.
Dia menangis sesenggukan, telapak tangannya melepuh,
bau daging terbakar tercium.
Kotori Tyler membenci dirinya sendiri.
Tidak bisa belajar, tidak bisa berolahraga, dan tidak
pandai bicara.
Di sekolah dagang yang ia hadiri, dia selalu
sendirian.
Dia membenci dirinya yang seperti itu. Oleh karena itu.
"A-, aku ingin berubah! Ma-, makanya, aku tidak akan
lari! ──Ah"
Kekuatan api biru meningkat. Telapak
tangan Kotori terbakar, dan Fais menyeringai.
『Kakak Kotori juga, mau jadi sama
denganku?』
Api biru melelehkan dinding garam, Kotori tertelan
olehnya──.
"Tidak, tidak perlu melakukan itu."
『Eh?』
Srak.
Api biru menghilang.
Pada saat yang sama, kedua lengan api Fais terpotong.
Terpotong oleh cahaya putih.
"Eh?"
Di depan Kotori, seorang gadis berjubah hitam muncul.
Gadis dengan rambut yang diikat dengan jepit perak,
mengenakan topeng perak yang menutupi mata hingga hidungnya.
『Aghhhhh!? Lenganku~~~~』
Jeritan Fais yang kehilangan kedua lengannya menggema
di ruangan.
Tanpa memedulikan jeritan itu, gadis bertopeng perak
berbalik ke arah Kotori.
"Koto──Nona Tyler. Luar biasa, kau tahu apa yang kau
lakukan tadi? Itu
namanya keberanian."
"Ah,
eh, a…… a, a, a, apakah Anda……"
『Siapa,
kau!?』
"White.
Ksatria pertama dari Raja Kutukan."
Hanya menjawab itu, gadis itu pergi ke arah Snow yang
terkapar. Ia menatapnya sambil berbicara.
"Nona bangsawan…… di dalam rahimmu, kutukan Wraith
bersemayam."
"……A-,
apakah Anda…… sekutu……?"
"Setidaknya, aku sekutu Nona Tyler."
"……Tentang diriku, tidak usah…… tolong…… Kotori-chan……"
"Ara,
kau bangsawan tapi bicara aneh, tidak ingin selamat?"
"Ugh……
yang harus diutamakan selalu rakyat, itu adalah kewajiban seorang
bangsawan……!"
"Hehehe……
perut putih itu buncit. Tidak takut? Kalau dibiarkan, perutmu akan dibelah dan
kau akan mati."
Gadis berambut putih mengusap perut Snow.
Dalam jarak di mana bibir mereka hampir bersentuhan,
kata-kata dingin gadis berambut putih itu tertuju pada Snow.
Snow menggigit bibirnya.
"……Kalau memang pengorbanan yang diperlukan, maka
bangsawan seperti diriku saja sudah cukup…… karena itu adalah alasan keberadaan
seorang bangsawan……!"
"Bodohnya kau."
"Bodoh…… tidak apa-apa! Dulu maupun sekarang, inilah
aku! Pengorbanan, akan aku terima──"
"Sudah kubilang, tidak perlu melakukan itu."
OOOoooOOOooon!
Chu-chu-chu-chu! Bumooooooo!
Tiba-tiba,
lolongan binatang bergema di ruangan itu.
““!?””
Snow
dan Kotori gemetar.
"Karena
Rajaku sudah datang."
Suara
memikat gadis berambut putih itu memenuhi ruangan dengan tenang.
Tok, tok, tok.
Di ruangan luas itu, seseorang berjalan dari balik
kegelapan.
『Ah, eh……?』
Regenerasi lengan Fais selesai. Bahkan dia yang sudah
kehilangan nyawa dan menjadi ketakutan itu sendiri, gemetar.
『Si-, siapa……?』
Bertanya pada kegelapan, kegelapan menjawab.
"Curse."
Hanya itu.
◇◇◇◇
Berat.
Kesan setelah melihat tur pengalaman masa lalu yang
menyedihkan dari seorang gadis.
Setelah menyelesaikan tur melihat masa lalu yang membuat
mual, saat aku berjalan asal, semua orang ada di sana.
Kotori-san,
White, dan gadis berambut pirang. Gadis berambut pirang itu…… sepertinya pernah
kulihat.
Gadis
yang terlihat melayang itu pasti Fais.
《Anu……
bukankah itu artinya hantu──》
Diam,
Navi.
Menurut
cerita, itu monster yang disebut Wraith, jadi itu bukan itu. Hantu tidak ada di
dunia ini.
『Si-,
siapa……?』
"Curse."
Ayo,
mari beradu kutukan.
Setelah
melihat masa lalumu yang menyedihkan dan nasib yang penuh penderitaan itu──.
『……Kau
datang untuk membully Fais?』
"Tidak, aku datang untuk membunuhmu."
Akan kuhabisi kau.
『!! Benci!!』
Api biru mendekat. Hmm, output-nya tidak
buruk.
"Ah! Bahaya!"
Jeritan Kotori-san terdengar dari balik api.
Cukup panas juga. Tapi, kalau api yang ditenun dengan
kekuatan sihir, tidak masalah.
Aku menahan api itu dengan Cursed Power di
lenganku, lalu langsung.
"Membosankan."
『……Eh?』
"Eh……"
"Ti-, tidak mungkin……"
"Luar biasa……"
Fais yang tertegun, Kotori-san yang membuka mata
lebar-lebar, gadis berambut pirang yang terkejut, dan White yang menghela napas
kecil.
Sedikit pertunjukan di depan penonton.
Plop……! Aku meremas bola api itu menjadi
ukuran telapak tangan.
Sayang sekali.
Padahal api biru itu sihir dengan penampilan dan output
yang tidak buruk, tapi hanya dilepaskan dengan paksa begitu saja. Penggunanya
tidak punya imajinasi dan ketangkasan.
Saat menyentuh target, meledakkannya, atau membakar udara
untuk menciptakan kekurangan oksigen…… bukankah bisa lebih kreatif?
"Sayang sekali bakatmu sia-sia."
『Ah, agh, benci benci benci benci!!』
Api biru ditembakkan secara beruntun dari gadis itu. Ah,
lagi-lagi polanya sama.
"Benar-benar membosankan."
『Hah, hah, eh…… ah!?』
Srak
srak srak!
Aku
menepis semua api itu dengan kepalan tangan, memperkuat kaki dengan "Curse
Enhancement", mendekati Fais dalam kecepatan tinggi, lalu.
"Perutmu, tahan."
『Eh, agh!!??』
Tepat di atas, aku menendangnya ke langit-langit dengan
kaki yang dialiri Cursed Power.
Oh~ dia tertanam di langit-langit, karena
aku menendangnya cukup keras, ada waktu sebelum dia kembali.
Aku
menghampiri Kotori-san dan yang lainnya.
"A-,
a-, a-, Anda, siapa sebenarnya…… uh, eh?"
Aku meletakkan tangan di perut gadis berambut pirang
itu.
Sepertinya dia mirip dengan mantan teman sekelasku,
Snow-san, tapi gaya rambutnya berbeda, jadi mungkin orang lain.
Orang ini tadi bilang hal yang keren ya.
Tentang kewajiban bangsawan atau apa. Tidak, itu
bagus, sangat bagus.
Orang ini juga punya aura orang yang menempuh
"jalan yang bersinar" seperti Kotori-san.
Jadi, akan kubantu.
"Apa yang──"
"Tidak apa-apa, sudah selesai."
Aku mengalirkan Cursed Power ke dalam diri gadis
pirang itu sejenak.
Seketika, sesuatu di dalam rahimnya merembes keluar
bersama kekuatan sihir. Sesuatu yang kutangkap dengan ujung jariku adalah──.
『──Ogya……』
"Begitu ya, ini penyebab perut korbannya
robek."
Sesuatu
yang mirip kecebong dengan wajah manusia.
Penyebab kematian Militia-san dan Sakry-chan. Perut
mereka pasti disobek oleh ini.
"Benar-benar membosankan."
『Mi──』
Plop, aku menghancurkannya dengan ujung
jari.
Laki-laki dibakar dengan api biru, perempuan dibunuh
dengan ditanami kecebong berwajah manusia.
Kalau di dunia horor, itu kemampuan kelas utama. Tapi,
karena ini dunia pedang dan sihir, ini sudah berakhir.
"Tidak mungkin…… perutku kembali normal…… kau, siapa……?"
Sekarang sedang mode penjahat, abaikan rasa terima kasih.
"Wahai kesatriaku, lindungi mereka berdua."
"Sesuai perintah, wahai Raja Kutuk yang kuat dan
menakutkan."
White juga ikut-ikutan…… Padahal biasanya dia cuma anak
kecil yang hobi makan sayur…… dia
benar-benar menjiwai……
『Ah,
a, ahhhhhhh! Kenapa』
Fais
kembali dari langit-langit.
Oh, ternyata dia cukup kuat,
baguslah. Tapi──.
"Ah,
sudah cukup, kau membosankan."
『Itt』
Aku
memukul pipi Fais yang turun dengan backfist.
Monster itu berguling seperti bola karet dan
terlempar.
"Monster, jawab sebelum kau lenyap. Sakry-cha……
di mana jiwa Sakry?"
『……Kenapa, Sakry-chan terus!! Padahal
Fais tidak ada, tidak ada yang mencariku! Kenapa Sakry-chan terus!!』
Fais berteriak, boneka kelinci yang melayang di
sekitarnya meneteskan air mata hitam.
Boneka yang sama dengan yang ada di rumah Bon-san.
『……Di-, ma……, Ka-, kak……?』
"……Di sana ya."
Mungkin, jiwa Sakry-chan ada di dalam sana……
『Fais, tidak salah……! Tidak salah! Kenapa,
kenapa cuma Fais yang dimarahi!? Fais sudah berusaha! Tapi kenapa Sakry-chan
yang tidak melakukan apa-apa terus disayangi Papa dan Mama, dan ada orang yang
mencarinya bahkan setelah mati!? Tidak
adil, tidak adil, tidak adil, tidak adil, semua tidak adil!! Makanya semuanya,
kubakar! Orang yang tidak mau jadi Ibu, semuanya kubunuh!! Mereka kan bahagia!
Makanya semuanya kujadikan tumbal! Semua, semua, semua, semuanya, jadi tumbal
Fais, dikorbankan!!』
Tubuh Fais terbakar api biru lebih hebat lagi.
Output sihir ini, ada triknya.
『Fais, padahal tidak melakukan apa-apa!!』
"Tidak, kau yang salah."
『Eh……?』
"Kau yang memilihnya. Terluka, dibunuh, tapi begitu
mendapatkan kekuatan, kau menebarkannya ke orang lain yang tidak bersalah, dan
mengundang perselisihan. Jadi, aku dan kau itu sama."
《……Player, kau…… tidak. Jika kau memilih jalan itu, aku
juga akan melakukan apa yang harus kulakukan.》
Navi lagi-lagi membuat suasana, tapi sudahlah, biarkan
saja.
Lagipula, anak yang bernama Fais ini bagus, keegoisannya
itu.
Kau memang korban yang malang.
Tapi, sekarang tidak lagi.
Saat kau menebarkan kelemahanmu kepada orang yang
lebih lemah darimu, kau adalah.
──Kehi, penjahat yang lumayan juga ya.
"Kau, penjahat ya."
《Atas nama ◇◇●●●, aku menjatuhkan vonis padamu.》
『Salah, Fais benar, banyak sekali
yang sudah kujadikan tumbal. Makanya, aku jadi sebesar ini!!』
Api biru mulai terbakar dengan kekuatan yang
memutarbalikkan ruang.
Aaaaaa! Suara seperti jeritan terdengar
dari dalam api.
Jadi ini triknya.
Jiwanya menjadikan jiwa orang yang dibunuh sebagai
bahan bakar.
Bon-san dan Militia-san kebetulan dilepaskan, atau
memang dibiarkan?
Ya sudahlah, terserah.
《Jiwa malang yang tenggelam dalam penderitaan dan
tragedi, jika kau iri dengan kebahagiaan orang lain, seharusnya kau mengarahkan
taringmu pada orang yang mempermalukanmu. Keinginanmu adalah eksploitasi dari
yang lemah, kebahagiaanmu yang didasarkan pada tumbal dan pengorbanan yang
lemah.》
Kotori-san dan gadis berambut pirang sepertinya
baik-baik saja dengan penghalang sihir putih yang dibuat White.
Baiklah, mari kita akhiri.
『Aaaaa! Fais, bukan anak nakal!!』
"Tidak, kau adalah kutukan yang luar
biasa."
『Berisiiikkkkkkkkkkkk』
《Dengan keinginan tersebut, namamu telah
divonis──gadis bernama Fais sudah tidak ada lagi. Kau adalah binatang yang
terjebak dalam reinkarnasi kebencian dan menyakiti orang lain. Kutukan
yang iri dan mencoba merampas kebahagiaan orang lain. Dengan kata lain, itulah
"Kutukan Api Biru".》
Api biru menelan segalanya dan mendekatiku.
Tidak masalah.
"Oleh karena itu, dosamu akan kuwarisi."
Karena Cursed Power lebih pekat, berat, dan kuat
daripada kekuatan sihir.
"Teknik Aktivasi──Eshi Hyakkei Chofuku Jujutsu."
Aku membentuk segel dengan satu tangan.
Api itu terbelah, menampakkan tikus, anjing, dan babi
hutan.
Sekawanan tikus menahan kobaran api, babi hutan raksasa
menyingkirkan api dengan taringnya, dan cakar serigala raksasa menyayat tubuh
gadis itu secara diagonal.
"Ah…… ti-, tidak mungkin…… apa, itu……"
"Tidurlah,
Blue Flame Curse."
Aku
mendekatinya dan menembus jantung Fais dengan kepalan tanganku.
Tubuh
yang terbentuk dari kekuatan sihir itu pun mulai terurai oleh Cursed Power.
"Fais……
ha-, hanya ingin hidup normal…… saja."
"Itu bukan alasan untuk menghancurkan kebahagiaan
orang lain."
"……Benci, benci, benci, semua kebahagiaan selain
milik Fais, jadikan tumbal…… akan ku-, kutuk kau."
"Sayang sekali, itu tidak akan terjadi."
"……Eh."
"Kau tidak perlu mengutuk siapa pun lagi."
Aku mengarahkan tangan ke arah Fais yang mulai hancur.
Gift
"All Curses"
aktif. Tubuh Fais mulai berubah menjadi kabut hitam.
"I-,
ini…… han-, gat."
"Karena dosa dan kutukanmu, kini sudah menjadi
milikku, sang penjahat."
Semua kutukan di dunia ini adalah milikku.
Karena itu, gadis ini tidak perlu lagi bertindak sebagai
kutukan.
"……Fais, tidak akan…… minta maaf. Semuanya, semuanya, benci, sa-,
sangat benci."
"Bagus.
Begitulah seharusnya kutukan."
"Ah…… ha…… aku akan, melakukannya lagi. Berapa kali
pun, Fais, kali ini, pasti, akan bahagia……"
"Bagus. Silakan lahir kembali berkali-kali. Silakan
menjadi kutukan berkali-kali. Tenang saja, di akhir perjalananmu, akan selalu
ada aku."
"──! ……Ra-, Raja, kutukan."
Syuuuu.
Tubuh
Fais berubah menjadi bola hitam pekat seperti bola bisbol.
Sama
seperti saat bersama White, ternyata Gift-ku bisa menyerap apa pun yang
kuanggap sebagai kutukan.
Aku menelannya dalam satu gigitan dan mengunyahnya…… uhm,
rasanya seperti cokelat.
Manis, tapi pahit, dengan sedikit aroma gosong yang
harum. Terima kasih atas hidangannya.
──Blue Flame Curse tersimpan: Mendapatkan
beberapa efek teknik termasuk "Blue Flame".
《Blue Flame Curse…… aku bisa merasakan berbagai macam kekuatan darinya.》
Efek dan cara menggunakan kutukan yang tersimpan ini akan
kupikirkan nanti.
Oh, jangan sampai lupa mengambil boneka
kelinci itu.
"Ka-, kak…… te-, terima, kasih……"
Mulut boneka kelinci yang meneteskan air mata hitam itu
terbuka.
Hanya anak ini yang disimpan di dalam boneka tanpa
jiwanya diubah menjadi kekuatan sihir.
"Sssst…… tidak apa-apa, Sakry-chan. Mari kita pulang
ke rumah, ke tempat Papa dan Mama."
"Te-, ri, ma…… ka, sih……"
Apakah
Sakry-chan juga spesial bagi Fais? Yah, tidak ada cara lagi untuk
memastikannya.
《Player……
terima kasih. Blue Flame Curse, tidak, Fais…… dia memiliki wajah yang
tenang ya.》
Begitukah?
Aku memang bersimpati dengan keadaannya, tapi membantai orang-orang yang tidak
bersalah adalah keputusannya sendiri……
"White, bawa mereka berdua pulang ke tempat yang
aman."
"Sesuai keinginan Rajaku."
White berlutut dan memberi hormat. Pose hormat ksatria
yang keren apa itu……! Ah, dia menyesuaikan diri dengan "peran
penjahat" yang kumainkan……! Kemampuan aktingnya benar-benar tinggi……
Baiklah, sisanya tinggal fade out dengan pas, maka
secara teknis itu akan menjadi penampilan yang sempurna.
"Eh,
ah, a……"
"Ah……Eh……"
Reaksi
Kotori-san dan gadis berambut pirang itu…… mereka takut padaku!
Hmm, bagi mereka, aku pasti
terlihat sebagai sosok penjahat misterius yang membantai gadis malang itu tanpa
ampun.
Perkembangan
yang sangat panas……!
Ah, aku sedang memainkan peran
penjahat dengan sempurna sekarang…… Kalau boleh jujur, aku ingin mengucapkan
sesuatu yang mendalam sebelum pergi……
"Tunggu……!"
Oh? Gadis berambut pirang itu berdiri.
Ah, dia gemetaran hebat, mungkin
karena efek dari Cursed Power.
Tapi, wajahnya tampak ingin mengatakan sesuatu……
Kenapa dia membunuhnya!?
Dialog naif seperti itu sepertinya cocok.
Aku suka karakter protagonis yang bisa mengucapkan
hal-hal seperti itu dengan wajah serius.
"……Selain itu, apakah tidak ada cara lain?"
Gadis ini benar-benar luar biasa.
"Melihatnya saja sudah tahu…… kau…… dibandingkan
siapa pun yang pernah kutemui…… kau jauh lebih kuat…… jika kau memiliki
kekuatan itu……!! Anak itu, Fais…… seharusnya bisa dengan cara lain──"
"Kehi."
"……Eh?"
Waduh, karena terlalu bagus, aku malah
tertawa.
……White, Kotori-san, dan gadis ini, bukankah dunia lain
ini punya terlalu banyak orang yang mirip protagonis?
Terima kasih, Dewi……
Baiklah, waktunya ceramah penjahat yang egois.
"Kosong sekali……"
"Ko-, kosong……?"
"Tidak ada yang lebih kosong untuk didengarkan
selain idealisme dari orang yang tidak punya kekuatan."
"Ah……"
Ah, wajah gadis itu tampak syok.
Jangan
menyerah!! Jangan kalah dengan ocehan penjahat!
Idealisme-mu itu luar biasa!
"Mes-, meski begitu…… dia itu, anak kecil……
bagaimana bisa anak kecil memiliki akhir yang begitu tragis……"
Sangat luar biasa. Kenapa gadis ini, aku jadi ingin jadi
fansnya.
"Kalau begitu, selamatkan dia olehmu sendiri."
"──Eh?"
Ini adalah dukunganku untukmu. Aku tulus ingin
menyemangatimu.
"Kalau kau merasa kasihan pada tragedi dan kutukan
yang memenuhi dunia ini, selamatkanlah dengan kekuatanmu sendiri. Aku tidak
akan menyelamatkannya."
"Kuh…… kalau begitu, kenapa kau membunuh Fais…… dan menyelamatkan…… aku……"
"Karena
kau cantik."
"…………Eh?"
Kalau
pembicaraan buntu, tinggal memuji saja, bukan?
Itu
teknik hidup yang kupelajari saat menjadi Guild Master di "Life
Field".
《Suatu hari nanti, kau benar-benar akan ditusuk, kau tahu.》
Bisa
kutahan dengan "Curse Enhancement".
《Apakah kau punya hati nurani?》
Navi tidak mengerti hati manusia…… Belajarlah,
pelajari kemampuan komunikasiku.
"Tumbuhlah. Belajarlah banyak, serap banyak hal, dan
jadilah kuat. Hanya itu yang akan menghapus kekosonganmu. Hanya dengan begitu
kau bisa mencapai idealisme-mu."
Ah, tiba-tiba aku mendapat ide.
Baiklah,
isi tubuh dengan Cursed Power di sini. Menyalurkan Cursed Power
ke mata.
Giiiiiiiiiiiiiiiiiii!
Sakit sekali!! Apa ini, sakit sekali!!
Saat aku menahan rasa sakit yang luar biasa seperti
menuangkan air cabai ke mata──.
──Previous Life Trait "Cursed Eye: Three-Monkey Mark" aktif kembali.
"A-,
a…… ma-, mata itu……"
Pandanganku kini terwarnai oleh hitam dan merah. Navi,
bagaimana keadaan mataku sekarang?
《Ada pola aneh yang muncul dengan pendar warna hitam dan
merah.》
Bagus sekali.
"Tempuhlah jalan yang bersinar itu. Dan jika
menurutmu kegelapan itu menghalangi pandanganmu……"
Tubuhku diselimuti oleh Cursed Power, dan mataku
pun bersinar karenanya…… ──Singkap kegelapan itu dengan kekuatanmu.
"Singkap kegelapan itu dengan kekuatanmu."
Sempurna……
benar-benar sempurna. Meskipun dialog itu muncul secara tiba-tiba, rasanya
sangat memuaskan……
Gadis
berambut pirang itu terpaku melihat tingkat martabat dan aura penjahatku. Dia
pasti sedang terbakar oleh amarah dan rasa keadilan yang membara, ya……
Bagus,
dibenci oleh orang yang mirip tokoh utama itu benar-benar terasa seperti
penjahat sejati……
"Dan
satu lagi, Kotori-sa…… bukan. Nona Tyler."
"Eh!?
A-, a-, iya!"
"Pertahanan dengan Gift milikmu tadi,
luar biasa."
"A-, eh, i-, iya…… te-, terima kasih……"
Setelah
itu, aku langsung pergi begitu saja dengan langkah tegap setelah menyampaikan
apa yang ingin kukatakan.
Tanpa sadar, aku sudah kembali ke rumah Bon-san. Ruang
dimensi lain yang terbentuk dari kekuatan sihir itu pasti sudah lenyap.
《Player, apa yang akan kau lakukan setelah ini?》
"Navi, kau sudah melihat ingatan Fais, kan?"
《……Player? Apa yang rencananya akan kau lakukan? Bukankah
semuanya sudah berakhir?》
Navi, kau ini, apa saja yang sudah kau pelajari dari
bertani selama ini?
"Rumput liar itu harus dibasmi sampai ke akarnya,
kan."
◇◇◇◇
Di tengah malam, awan hitam mulai menutupi bulan kembar
berwarna biru.
Di Kota Perdagangan Novis, hujan mulai turun dengan
tenang.
"Ayah! Bagaimana ini! Ksatria Sihir terus saja
menggeledah kota ini!" Di dalam ruangan berlapis karpet
merah, seorang pria gempal berteriak.
"Bagaimana kalau sampai aku tertangkap! Kau mau tanggung jawab?!
Ayah!"
"Tenanglah…… namamu tidak masuk dalam target
penyelidikan kali ini."
"Tapi,
rumah bocah yang kubunuh juga ikut digeledah!! Apa bisa
tenang begitu saja! Sial! Ibunya Fais sudah kubunuh, jadi seharusnya jejaknya
tidak akan terlacak!"
Namanya adalah Gulpi Tabusok.
Dia adalah putra pewaris keluarga Baron Tabusok yang
menguasai tiga kota, termasuk Kota Perdagangan Novis.
Hobinya adalah berlatih sihir. Kegemarannya adalah
anak-anak.
"……Gereja ada di pihak kita…… Selain itu, ada orang
itu dari Majelis Suci. Ksatria Sihir pun akan segera menarik diri dari kota
ini."
"Itu kan cuma angan-anganmu saja!! Karena itulah
orang non-penyihir itu tidak berguna!!"
Gulpi berteriak dengan wajah penuh jerawat yang dibanjiri
keringat.
Gulpi adalah seseorang yang memiliki bakat sihir. Hanya
fakta itu saja yang menjadi jaminan kesombongannya.
"……Panggil saja pelayan untuk melepas penat. Ada
beberapa gadis kota berusia sekitar 10 tahun yang baru kita pekerjakan."
"Eh! Benarkah!? Apa mereka boleh dijadikan
mainan!?"
"……Di ruang bawah tanah, secara diam-diam."
"Ayah, benar-benar terbaik!! Aku mencintaimu!"
"……Jangan pedulikan itu, kita adalah keturunan
bangsawan terpilih. Bakatmu setara dengan Blessing dari Dewa bagi
keluarga Tabusok. Mengorbankan beberapa rakyat jelata hanyalah biaya
operasional."
"Ayah mengerti sekali, ya! Ya sudah, cepat panggil
pelayannya!"
"……"
Sikap anak yang seharusnya tidak mungkin dimiliki oleh
seorang bangsawan. Sedikit rasa jijik muncul di wajah sang ayah.
"Hah? Apa? Ayah, tatapan itu, kau mau mengeluh?
Padahal kau sendiri tidak punya bakat sihir."
"……Ah, maaf. Aku akan segera memanggilnya."
Sang ayah meninggalkan ruangan sesuai perintah.
Pemandangan yang tidak menunjukkan siapa sebenarnya kepala keluarga di rumah
ini.
Keberadaan atau ketiadaan bakat sihir adalah perbedaan
mutlak di dunia ini.
Sekitar puluhan menit berlalu.
"Cih, lama sekali…… benar-benar,
orang yang tidak punya bakat sihir memang tidak berguna."
Sudah menunggu lama, ia kehilangan kesabaran karena
pelayan yang tak kunjung datang.
Saat Gulpi yang sudah sangat ingin membakar orang
berencana pergi memanggil pelayan sendiri, pintu ruangan terbuka.
"……Ayah?"
Bruk.
Sebagai ganti jawaban, sesuatu menggelinding ke dalam
ruangan. Itu adalah
kepala.
Kepala
Baron Dory Tabusok. Kepala ayah Gulpi.
"Eh?
!!?? Aaaaaaaa!? A-, a-, apa? Apa yang terjadi──"
"Selamat malam, malam yang indah bukan?"
Kriieee. Pintu terbuka lebar.
"Si-, si-, siapa kau……?"
"Teman dari teman Fais."
Pria berjubah hitam itu bergumam.
"Fa-, Fais……? Hah? Ja-, jangan-jangan, yang
kubunuh──ah!"
Gulpi membekap mulutnya sendiri karena keceplosan.
"Tidak apa-apa, aku tidak datang untuk
menyalahkanmu."
"……Apa maksudmu, jangan membuatku takut…… Ka-, kau
tahu apa yang sudah kau lakukan? Pem-, pembunuhan bangsawan itu hukuman mati!
Kau tahu!?"
"Ah, begitu ya. Yah, daripada itu──"
"Celah terbuka!! Blue Flame!"
Sihir Blue
Flame milik Gulpi membakar pria itu.
Api
biru yang telah dikuasai dengan menukarnya dengan banyak korban itu bergerak
cepat dan tepat, hendak menghanguskan tubuh manusia──.
"Hiahahaha!! Kena, kan! Sihir Blue Flame
milikku!! Kekuatan Artifact yang kuterima dari orang itu dan bakatku ini
tidak terkalahkan!!"
Cincin yang menjepit jari gemuk Gulpi bersinar aneh──.
"──Aku datang untuk berburu binatang buas."
Fwus. Api biru itu padam seketika.
Pria itu bahkan tidak memiliki satu pun luka bakar.
"Hah?"
Gulpi menyadari bahwa pria di depannya memiliki kekuatan
untuk mengancam dirinya.
"Ka-,
kau menahannya dengan Magic Barrier? Kau, seorang penyihir!? Tunggu, aku
salah! A-, aku tidak akan mengulanginya!!"
"Oh?"
"A-, apa, uang!? Berapa pun akan kuberi! A-, aku
akan bungkam soal kau yang membunuh Ayah! A-, kita sesama penyihir, mengerti
kan!? Kita diizinkan untuk menciptakan pengorbanan!"
"Pengorbanan, ya?"
Gulpi meracau sambil mundur. Pria berjubah hitam itu
justru kebalikannya, sangat irit bicara.
"Be-, benar, pengorbanan! Kita yang punya bakat
diizinkan untuk mengorbankan sampah yang tidak berbakat! Pengorbanan itulah
jalan menuju kebahagiaan! Aku diizinkan untuk menjadi bahagia!!"
"Benar. Bakat sihir itu spesial."
"Ternyata kau mengerti! Tepat sekali! Kita memiliki
bakat yang sangat diinginkan oleh para monyet yang tidak bisa sihir!! Hey, aku
sudah insaf! Karena sudah insaf, ayo kita anggap ini sama-sama impas!!"
Dia terduduk, mengulurkan tangan, dengan wajah penuh
jerawat dan keringat, meludah sambil berteriak. Bagi
Gulpi, sikap ini adalah konsesi tingkat tertinggi yang bisa ia berikan.
"……Fais, pasti ingin belajar sihir darimu."
"Pfuuh!! Begitulah! Padahal dia tidak tahu kalau
dia dijual oleh ibunya sendiri! Waktu kubilang aku akan mengajarinya sihir, dia
malah mengikuti dengan mudah! Orang kelas bawah memang bodoh! Mengingatnya saja
rasanya luar biasa! Begitu kutelanjangi dan kuikat, dia mulai menangis
meraung-raung!!"
Seketika, ia menyeringai lebar.
Gulpi tertawa terbahak-bahak.
"Dengan irama satu, dua, tiga, kubakar dia!
Kadang, kalau kubakar dengan irama satu, dua, dia sangat kaget dan berteriak! Lalu,
lama-lama air matanya habis! Setelah itu, dia terus berteriak melengking!
Akhirnya dia mati sambil mengumpat orang-orang yang tampak bahagia di
sekitarnya atau ayahnya yang tidak menolongnya! Ahihahaha! Bocah itu
kepribadiannya buruk sekali, kan wkwkwkwk."
Baginya, ini adalah kebanggaan. Dia
tidak bisa menahan diri untuk tidak memamerkan betapa hebat dirinya.
"……Sekadar bertanya, apa kau punya niat untuk
mengakui dosamu?"
"Hah? Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu!?
Hey, jangan sombong kau!!??"
Dari ketakutan berubah menjadi kemarahan. Bagi Gulpi,
tidak ada kontradiksi sama sekali dalam sikap ini.
"Aku sudah bilang aku insaf! Aku yang bangsawan dan penyihir ini!!"
Sudah insaf, sudah minta maaf. Justru aneh jika dia
tidak dimaafkan.
Inilah Gulpi Tabusok. Sosok bangsawan yang telah
mencapai titik nadir.
"Aku adalah jenius yang tahun ini pasti masuk
Akademi Sihir! Aku itu spesial!! Lagi pula, dosa tidak ada dalam kamusku! Aku
bangsawan dan penyihir, tahu! Aku adalah pihak yang berhak menerima
pengorbanan!! Aku adalah keturunan terpilih!!"
Pria di depannya pasti akan mengakui kesalahannya
sekarang. Gulpi benar-benar berpikir begitu.
Karena itu.
"Hahahaha, bagus, bagus. Binatang
buas haruslah begitu."
Ia tidak mengerti mengapa pria itu tertawa.
"──Eh?"
Brak. Tebasan tangan pria itu diayunkan
begitu saja.
Pluk. Lengan kiri Gulpi jatuh di atas
karpet.
"Aaaaaaa!!?? Sakiiit!!?
Apa ini, apa-apaan ini!? Ini?"
Rasa sakit luar biasa yang belum pernah dirasakan seumur
hidup menyerang Gulpi. Darah menyembur, mengotori karpet.
"Nah, ini latihan sihir terakhir dalam hidupmu,
berusahalah."
"J-, jangan bercanda!! Apa, apa yang kau lakukan!?
Lenganku!!"
"Gunakan sihir api andalanmu, kalau tidak
membakarku, kau yang akan mati."
"A……
gaaaaaa!!"
Bola api biru meluncur dari tangan kanan yang tersisa.
Bola api itu ditangkap oleh pria tersebut seolah sedang
bermain lempar tangkap.
"Ini, kuberikan lagi."
Fwus!!
Bola api yang dilempar balik meledak di dekat Gulpi.
Bunga api yang beterbangan menjilat tirai.
Bunga api itu perlahan membakar bulu karpet, dan api
biru menyebar ke seluruh ruangan.
Api mulai menerangi ruangan yang tadi gelap gulita
dengan sangat terang.
"Hah? Panaaas!!?? Kau, ini, pantulan sihir!?
Mustahil! Teknik rahasia kelas penyihir tingkat satu!!?? A-, aku salah! Aku
benar-benar salah!! Aaaaa, lenganku sakit sekali, mati, aku akan matiiii!"
"Tepat sekali, berusahalah sampai mati."
"Dengar penjelasanku! Kenapa kau tidak mengerti!
Aku, aku sudah minta maaf, tahu!! Sudah kubilang aku salah, tapi
kenapa!!"
Gulpi berkali-kali melepaskan bola api biru ke arah pria
itu.
Namun, api biru yang telah membakar banyak orang lemah
itu tidak pernah sampai ke pria tersebut.
Bola api itu ditangkis dengan gerakan seperti memukul
serangga.
Kobaran
api yang membakar ruangan semakin membesar.
"Aaaaa,
tidak, bukan begitu!! Aku ini orang yang malang, sampai bakat sihirku bangkit,
sejak kecil aku tidak bisa melakukan apa pun dan terus dibully! Tidak punya
teman! Tidak percaya diri! Kesepian dan menyedihkan! Ma-, makanya aku jadi
begini!! Tidak ada yang menghentikanku!!"
"Itu
bukan alasan."
Fwus.
Bola
api biru yang asal dilempar balik menghantam wajah Gulpi. Gulpi berguling-guling di atas karpet.
"Aaaaa!? Kenapaaa!? Hentikan!! Kalau kau membunuhku,
kau! Gereja Maris tidak akan diam saja!! Aku ini diperhatikan oleh orang itu di
Majelis Suci! Kalau kau dengar namanya, kau pasti ketakutan! Orang itu adalah
salah satu dari tujuh manusia terkuat! Tujuh Surgawi──……eh?"
Sampai di situ, Gulpi kehilangan kata-kata.
Api biru, tidak, Blue Flame menari-nari di tangan
pria itu.
"Hmm, begitu ya. Jadi citranya adalah terus membakar Cursed Power,
arahnya…… bisa diatur dengan jumlah Cursed Power yang disalurkan ke
dalam api."
"Hah……?
Itu, sihirku……"
"Ini
Blue Flame Curse yang diekstraksi dari Fais. Mari kita
coba, mana yang lebih kuat antara milikku dengan api birumu."
Seolah makhluk hidup. Gerakan api yang berdenyut dan
berkedip-kedip itu seolah memiliki kehendak. Api itu
tampak seperti sedang bernapas.
"Eh, tunggu."
Bahkan Gulpi pun mengerti. Bahwa Blue Flame
itu berada di tingkat yang berbeda dengan sihirnya.
"Bersiaplah,
satu, dua, tiga──mari beradu api."
"Ti-, tidak, tunggu, hei, anu, tidak,
benar-benar──"
"Satu, dua──Aktivasi Teknik Blue Flame Girl
Lapis Lazuli Heart."
Fwus.
Blue Flame
melesat lurus ke arah Gulpi.
"Tunggu, tunggu, tiga──aaaaa!!"
Gulpi yang seketika diselimuti api berguling-guling
di dalam ruangan. Ia meronta-ronta sambil menabrak sofa, jam berdiri, kursi,
dan meja.
"Ups maaf, ayo, lanjut. Berusahalah."
"Tidak, tunggu!?"
"Ngomong-ngomong, dari sekian banyak pembunuhan,
mana yang paling menyenangkan?"
"Ya tentu saja waktu membakar pelayan bocah itu
bersama ibunya! Sambil berpelukan mereka menangis tersedu-sedu minta
maaf, lalu perlahan kubakar──ah, salah!! Itu tidak dihitung!! Karena bocah
pelayan itu menumpahkan kopi ke bajuku!!"
"Kehi."
Pria itu tertawa. Mata itu memancarkan pola yang aneh.
"Kau, penjahat ya."
◇◇◇◇
Malam itu, kediaman Tabusok dilahap api. Ksatria Sihir
yang dipimpin oleh Pangeran Pertama Lux Mira Arteria memulai penggeledahan
rumah keluarga Tabusok.
Dari puing-puing, ditemukan dua mayat. Melalui sihir
identifikasi Lux, mayat tersebut dipastikan sebagai kepala keluarga Dory
Tabusok dan putra sulung Gulpi Tabusok.
Tidak ada korban cedera di antara mereka yang bekerja di
kediaman tersebut. Menurut kesaksian pelayan, seorang North Elf berjubah hitam
berambut putih muncul tiba-tiba, dan saat mereka sadar, mereka sudah berada di
luar area kediaman.
Saat penggeledahan, ditemukan tumpukan tulang manusia dan
alat siksa di ruang bawah tanah. Pangeran Pertama Lux secara resmi mengajukan
pembatalan status bangsawan keluarga Tabusok kepada Kaisar.
Api yang membakar habis kediaman itu padam oleh hujan
yang mengguyur, tidak sampai menyebar ke sekeliling. Hujan itu berhenti di
tengah malam seolah sudah menyelesaikan tugasnya.
◇◇◇◇
"Sudah
kubawa pulang, Bon-san, Milicia-san."
Cahaya bulan biru yang masuk dari jendela menerangi
ruang tamu. Cahaya bulan biru yang masuk dari jendela menerangi ruang tamu.
Boneka kelinci diletakkan perlahan di meja tempat
keluarga biasa makan bersama.
"Kita bisa bertemu lagi. Saat itu tiba, kita main
bersama ya, Sakry-chan."
Anak laki-laki itu mengelus boneka tersebut.
Boneka itu tidak menjawab apa pun. Anak laki-laki itu
perlahan merapatkan kedua tangannya, lalu menyantap masakan tiram yang sudah
busuk.
Sambil menahan
semua reaksi penolakan tubuhnya dengan kekuatan kutukan secara paksa.
"Kalau begitu, selamat tinggal Bon-san, Milicia-san,
terima kasih atas jamuannya."
Anak laki-laki itu memunggungi rumah yang kini kosong,
kembali ke balik malam.
Cahaya bulan dengan lembut menyinari boneka kelinci
seolah sedang mengelusnya. 『『『Terima
kasih.』』』
Suara itu tidak pernah sampai ke telinga sang anak
laki-laki.
◇◇◇◇
Jadi begitulah. Aktivitas Curse Brotherhood edisi
perdana, disingkat Kas-Katsu, telah berakhir dengan sukses.
Tapi.
"……Rasanya tidak sepuas yang kukira?"
Perasaan ini adalah──.
──Menyakitkan mata, kalian para antek.
Di dunia ini, terlalu banyak penjahat selain diriku.
Menyakitkan mata, mereka semua.
《Player? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?》
"Hmm, aku ingin memusnahkan semua penjahat selain
diriku."
《Aku
menyesal sudah bertanya.》
"Lagipula, penjahat selain aku itu tidak dibutuhkan
di dunia ini, kan?"
《Aku sedang berpikir dari mana harus mulai mengkritikmu.》
Saat ini, aku punya masalah. Yaitu terlalu banyak tipe
penjahat yang ingin kujalani. Karena terlalu banyak, aku jadi bingung mana yang
terkuat. Kalau begitu, kenapa tidak──.
"Kenapa tidak kulakukan semuanya saja?"
Benar. Mengapa harus menahan diri? Ini dunia lain,
kehidupan kedua. Kekuatan yang dulu begitu kuimpikan, kini sudah ada di
tanganku. Tidak perlu lagi berpura-pura menjadi orang baik, bukan?
《Kau tidak pernah terlihat berkelakuan baik sejak awal,
kok.》
Ada juga teman-temanku, termasuk pemandu misterius yang
mulutnya pedas ini.
Sudah saatnya aku melangkah ke tahap berikutnya.
Aku ingin menjadi penjahat. Hey, Kasuya Takito, penjahat
seperti apa yang ingin kau jadi?
──Pembantaian total.
"Penjahat terkuat……"
Tiba-tiba, aku mendapat ilham.
"Kalau kubunuh semua penjahat selain diriku,
bukankah aku akan jadi penjahat terkuat?"
《Ya, secara teknis begitu.》
Ini dia. Kalau aku memusnahkan semua penjahat di dunia
ini, akulah penjahat terkuat. Terkuat…… enak didengar. Bunyi yang meresap ke dalam otak.
Kalau
begitu, selanjutnya aku butuh setting-an seperti "Oh tidak…… dia
benar-benar penjahat……". Skenario kejahatan terkuat yang pantas bagi
penjahat terkuat.
Setting-an di mana siapa pun yang
melihatku, tidak punya pilihan selain menyimpulkanku sebagai penjahat.
Penjahat
besar harus memiliki tujuan besar, ini penting, tahu…… Berpikir adalah bidang
keahlianku. Aku pintar.
《……Apa
yang sebenarnya rencananya akan kau lakukan?》
"Mari kita lawan Gereja Maris."
Otak cerdasku segera menyusun solusi optimal.
《!!??》
"Gereja
Maris memiliki bagian gelap yang disebut 'Majelis Suci'. Mereka menguasai dunia
ini atas nama Tujuh Dewa Agung dan berniat menghancurkannya. Tujuanku adalah
mencegah hal itu."
Gereja
di dunia fantasi biasanya busuk, lagi pula bangsawan itu juga sempat
menyebut-nyebut soal Gereja Maris dan Majelis Suci, jadi pas sekali.
Dewi yang mereinkarnasiku…… ya, Rutos-sama.
Bukankah
dia juga dipuja di Gereja Maris sebagai salah satu dari Tujuh Dewa Agung, Dewi
Keberanian dan Kewajiban?
Aku
punya hutang budi padanya, jadi aku harus memastikan agar Rutos-sama tidak
terkena masalah.
《Player……
maksudmu…… kau akan menjatuhkan Dewa Utama Maris, begitu?》
Bukan begitu maksudku. Dari mana kau dapat ide Dewa Utama
Maris?
《Mataku
tidak salah…… dia bukan sekadar petani gila……》
Gawat,
Navi mulai masuk ke dunianya sendiri.
《Kau
ini orang yang menakutkan…… ternyata tujuanmu adalah pemberontakan
terhadap Dewa Utama……》
Orang yang menakutkan……? Tidak buruk juga reaksi itu.
Tapi, Dewa Utama Maris…… ya? Aku pernah dengar.
Kalau
tidak salah, itu dewa yang menciptakan dunia ini, kan?
Dalam
mitologi katanya sudah tidak ada atau semacamnya.
Tring!!
Suara
nyaring terdengar saat White menjatuhkan topeng peraknya ke lantai dan terpaku
di pintu masuk.
"Ah,
White, selamat datang."
"……Jadi
begitu maksudnya…… Rajaku."
Kau
juga rupanya. White gemetaran. Kenapa tiba-tiba?
"……Pagi
di padang salju yang dingin, dunia perak yang disinari matahari pagi. Dinginnya
air lelehan salju…… Dunia yang dingin, meski begitu aku sangat menyukai
kehidupan manusia yang hangat."
Bahkan
White mulai curhat……
"Aku……
marah. Aku membenci dewa-dewa yang menjadikanku senjata."
"Begitu ya."
"……Dewa tidak akan memaafkan pelaku pemberontakan.
Akhir hidupmu pasti akan sangat menyakitkan dan kejam."
"Begitu ya."
"……Meski begitu, kau tetap akan menempuh jalan
pembantai dewa, ya."
Meski begitu apa maksudnya? Aku tidak bilang apa-apa,
kok? Aku hanya sedang menyusun skenario penjahat yang memusuhi kelompok bernama
Majelis Suci itu…… itu……
Hah? Tunggu……?
Pembantai dewa. Jalan penderitaan yang menyakitkan dan
kejam, ya. Kalau
dipikir-pikir dengan tenang…… terdengar seperti penjahat…… OKE.
"Tentu saja, itu adalah peranku."
Sekalian saja kuikuti arusnya! Lagipula, selain Dewi
Rutos-sama, kurasa tidak ada dewa lain di sini!
《Player……!》 "Curse……!"
Fufufu, aku bisa merasakan rasa hormat mereka. Ah, arah
cerita ini juga tidak buruk──.
"CHU……!"
"WAN……!"
"BUMO……!"
Kalian juga? Binatang-binatang teknik Eshi yang
muncul di belakang White menatapku dengan mata yang bersinar terang.
Lagi pula, kenapa kalian memanggil diri kalian sendiri?
……Yah, sudahlah. Terlalu banyak memikirkan detail kecil
hanya akan menurunkan martabat. Ya sudah, anggap saja begitu.
《Player-ku, jika kita bersatu, kita akan sangat kuat.》
"Rajaku, Ksatria Dominasi, White akan selalu berada
di sisimu."
"CHUUUUU"
"WAOOOOOON"
"BUMOOOOOOOO"
"Kita
adalah Curse Brotherhood. Mereka yang hidup bersama kutukan dan
mengendalikan kutukan. Ayo kita mulai."
Punya tujuan itu membuat semangat jadi beda, ya.
Semangat.
Oke, mulai hari ini musuhku adalah Gereja Maris, dengan
kata lain, menentang langit.
"Mulai sekarang, perebutan takhta dewa."
Terdengar seperti penjahat! OKE!



Post a Comment