NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Eroge no Utsu End kara Heroine-tachi o Kyuusai Shitara Volume 2 Chapter 5

Chapter 5

Heroine Teman Masa Kecil Ingin Tetap Berada di Sampingnya


Hari itu, teman masa kecilku melampaui batas. Ia bahkan mencoba menyerang adiknya sendiri, Sakura.

Aku tidak punya jawaban pasti tentang apa yang harus kulakukan, jadi aku tidak sengaja bergantung pada Ibushi-kun. Seharusnya aku langsung melapor ke polisi hari itu juga.

Tapi, aku malah memberikan belas kasihan hanya karena dia adalah teman masa kecilku.

Karena hal itu, Ibushi-kun yang terseret ke dalam masalah terjatuh dari tangga dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Saat menunggu ambulans datang, aku tidak sanggup mendengar jeritan pilu dari si adik kelas, Kinoshita-san, dan Ketua OSIS.

"Bagaimana jika dia tidak bangun lagi?" pikirku. Aku merasa gara-gara aku meminta pertolongan, aku telah membuat semua orang tertimpa kemalangan.

Tanpa aku sadari, jauh di lubuk hati, aku telah bersandar pada Ibushi-kun.

Aku membebankan semuanya padanya, entah kenapa merasa bahwa "Ibushi-kun pasti akan melakukan sesuatu."

Ini salahku. Seharusnya aku menyelesaikan semuanya sendirian.

Jika begitu, Ibushi-kun tidak perlu melindungiku sampai terluka.

Jika saja aku mendengarkan permintaan Kaede dengan baik, Sakura tidak perlu mengalami kejadian mengerikan itu, meski kondisi fisiknya sedang tidak baik. Semua ini, salahku.

Karena itu, cukup aku saja yang menderita. Kalian semua boleh melimpahkan semua hal buruk itu padaku.

Dengan begitu, tidak akan ada masalah. Tidak ada yang berubah dari sebelumnya. Seperti biasa, cukup aku saja yang berjuang sendirian.

Dengan begitu, segalanya akan berjalan lancar. Jika ada hal buruk terjadi, aku tinggal memakan sesuatu yang enak. Aku sudah selalu melakukannya, kan?

......Tapi, jika memikirkan hal seperti ini, mungkin Ibushi-kun akan marah padaku.

Mengingat sifatnya, dia pasti akan ikut campur seolah itu hal yang wajar.

Seberapa keras pun aku mencoba menyembunyikannya, dia pasti akan mencoba mengulurkan tangannya padaku.

Berapa kali lagi aku harus mengelak?

Berapa kali lagi aku harus menolak?

Berapa kali dia harus marah agar dia menyerah?

Berapa kali lagi aku harus dibenci olehnya?

Hah.

Aku tidak mau... dibenci, ya......

******

Selasa, 15 Oktober.

Siang hari, tepat seminggu sebelum pemilihan ketua OSIS.

Seperti biasa, saat aku sedang berjalan menuju ruang OSIS bersama Nanami, aku melihat Noa sedang berbicara dengan Shiori di koridor dekat sana.

"......Nanami, kau duluan saja."

"Oke~"

Aku penasaran dengan isi pembicaraan mereka, jadi aku menyuruh Nanami pergi lebih dulu dan menghampiri mereka berdua yang tampak serius.

"Halo, kalian berdua."

"Hm? Ah, kau ya, Reo."

"Halo~"

"Sedang bahas apa?"

Saat aku bertanya langsung, Noa memberitahuku dengan nada yang terdengar bangga.

"Sebenarnya... aku sedang berpikir untuk mencalonkan diri jadi ketua OSIS!"

"Oh, serius?"

"Serius! Makanya aku sedang minta penjelasan dari Ketua!"

"Benar begitu. Bagiku, ini seperti pucuk dicinta ulam pun tiba."

Shiori tampak lega, mungkin karena beban di pundaknya akan segera terangkat.

Noa pun tampak sangat bersemangat, dan menurutku ini bukanlah urusanku untuk ikut campur.

"Ah, iya! Kalau boleh, bolehkah aku ikut ke ruang OSIS juga?"

"Boleh saja, sih... tapi untuk apa?"

"Fufu. Kampanye elektoral lebih awal... semacam itulah?"

Aku membawa Noa yang tersenyum licik itu, lalu kami bertiga berjalan menuju ruang OSIS.

"Halo~"

"Ah!!"

Begitu Noa masuk dan memberi salam, Akari langsung melesat ke arahku layaknya anjing penjaga.

"Senpai itu milik kami!!"

Akari langsung memelukku dan menggonggong ke arah Noa dengan kecemburuan yang meluap-luap.

Namun, Noa tidak takut sedikit pun dengan gertakan itu dan menyapa dengan riang.

"Tenanglah, Akari-chan. Memang benar Ibushi-kun itu keren, dan aku sangat iri pada kalian, tapi aku tidak akan merebutnya darimu."

"Fufu! Benar begitu! Senpai memang keren!"

Akari tampak bangga, padahal aku yang sedang dipuji. Lagipula, tolong hentikan itu. Aku benar-benar malu.

"Enaknya. Pasti dia pacar yang baik, ya."

"Tidak juga, kok...... yah, lumayanlah!"

"Kenapa malah kau yang tersipu malu?"

Aku memberi sedikit jitakan di kepala Akari yang tiba-tiba bersikap manja seolah-olah dia sedang membicarakan dirinya sendiri. Ke mana perginya ancaman tadi?

"......Hei, Ibushi-kun."

"Apa lagi..."

"Kau beruntung punya pacar yang imut sekali. Sampai-sampai aku iri pada Ibushi-kun!"

"!!"

Akari, yang entah sejak kapan sudah luluh, terkena serangan telak dari Noa.

Dia melonggarkan pelukannya, lalu menjauh dariku dan bertanya pada Noa dengan sikap sok polos.

"Ehem! Aaa... Mizukami-senpai? Barusan... kau bilang apa?"

"Hm? Nfufu, kau imut sekali!"

"~~!! I-iya, kan!!"

"Ya, benar! Imut sekali! Memang pantas jadi istri utama Ibushi-kun!"

"Fufufufu!!"

Akari luluh seketika hanya karena pujian sederhana itu.

Mungkin karena teknik Noa, tapi Akari benar-benar mudah sekali dijinakkan.

Yah, tapi sikapnya yang seperti itu memang imut juga, sih.

"......Ah, Kinoshita-san!"

"Hyaah!?"

Nanami, yang sejak tadi melihat interaksi kami dari kejauhan dengan tatapan "anak gaul luar biasa", langsung disergap oleh Noa dan jarak mereka pun memendek seketika.

"Sedang baca apa?"

"H-eh... eeto...... novel ringan......"

"Jangan-jangan novel ringan? Aku juga suka sekali membacanya!"

"Eh!? Benarkah!?"

"Benar sekali! Akhir-akhir ini aku sedang terobsesi dengan film yang diadaptasi dari komedi romantis! 'Koi-Nana'! Aku benar-benar jatuh cinta!"

"!! B-benar sekali, 'Koi-Nana' itu bagus! Jarak mereka terasa dekat tapi jauh... itu membuat hatiku berdebar-debar!"

Nanami yang sempat waspada pun luluh dalam hitungan detik, persis seperti Akari. Benar-benar heroin utama yang menakutkan. Dan juga, calon ketua OSIS berikutnya.

"............"

Aku duduk di bangkuku, melirik Nanami yang tampak asyik mengobrol dengan Noa.

Sakura menatapku dalam diam.

Saat aku memberikan kode mata seolah berkata "serahkan padaku," Sakura mendengus "humph" lalu mulai mengobrol santai dengan Akari.

Apa yang ingin disampaikan Sakura pasti soal pembicaraan kemarin.

Saat aku diminta untuk membebaskan Noa dari bayang-bayang hari itu dan Kaede.

Aku telah membuat satu janji dengan Sakura.

"Sakura tidak perlu merendahkan diri."

"Tapi......"

Sejujurnya, permintaan Sakura itu di luar dugaan, dan mewujudkannya pun sulit dari berbagai sisi.

Namun, terlepas dari apakah aku mendengarkan atau melaksanakan permintaan itu atau tidak, ada satu prasyarat yang harus kupahami dengan sungguh-sungguh.

"Jika seandainya aku dan Mizukami bisa menjalin hubungan seperti itu, Sakura tidak ada hubungannya dengan itu. Tanggung jawab sepenuhnya ada padaku. Menundukkan kepala pada Akari dan yang lainnya adalah tugasku, dan semua kesalahannya adalah milikku. Aku saja yang akan dilempar jauh-jauh oleh Shiori."

"Apa-apaan...... itu...... menjijikkan......"

"Haha, katakan saja apa pun yang kau mau."

Ini pembicaraan penting. Bukan karena Sakura yang menyuruhku.

Jika menyelamatkan Noa berujung pada perkembangan hubungan kami, maka itu hanyalah tanggung jawabku.

Awal hubungan ini adalah egoku sendiri.

Aku tidak ingin melakukan hal payah seperti menjadikan orang lain sebagai alasan. Hanya itu.

"......Ketua Shiori. Apakah ada calon wakil ketua?"

Setelah memantapkan tekadku dengan mengingat pembicaraan kemarin, aku bertanya pada Shiori.

"Untuk saat ini belum ada. Tapi jika dia bersedia menjadi ketua OSIS, aku yakin calon lain akan segera muncul."

"Ehem. Aku percaya diri bahwa aku punya banyak teman. Aku berniat mengajak siapa pun!"

Noa membusungkan dadanya dengan percaya diri.

Aku, yang berpikir ini bisa menjadi celah untuk berbicara dengan Noa, menyampaikan ide yang nekat.

"Hei, Mizukami. Bagaimana kalau aku saja yang melakukannya? Wakil ketua."

"......Haaah!?"

Mungkin dia tidak menyangka aku akan mencalonkan diri jadi wakil ketua.

Ekspresi Noa tampak sangat terkejut, seperti yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Tidak, tidak, tidak, tidak! Eh, bercanda, kan!? Tidak apa-apa! Ada kok teman yang mungkin mau!"

"Aku tidak bercanda. Aku serius."

"Eh, ta......pi......"

"Bagus itu, Senpai! Wakil ketua Senpai! Aku merasa bangga!"

"Fufu. Kalau begitu, biar aku yang menyampaikan pidato pendukungnya?"

"......Yah, atribut (posisi) itu semakin banyak semakin baik, kan! Menambah satu lagi juga tidak masalah bagi Reo-kun!"

Pembicaraan terus melaju sambil mengabaikan Noa yang kebingungan.

Meski Noa sempat mencoba menyela beberapa kali, ia tidak bisa memutus alurnya, dan keputusan bahwa aku akan mencalonkan diri sebagai wakil ketua OSIS pun semakin mantap.

Saat pulang kerja hari itu, Noa yang shift-nya bersamaan denganku menyapaku di ruang staf.

"Ibushi-kuuun?"

"Ada apa, Senpai?"

Nada bicara Noa terdengar bercanda namun terasa sedikit kesulitan. Sepertinya dia benar-benar tidak ingin aku menjadi wakil ketuanya.

"......Hah. Sudahlah, ayo kita pulang bersama sebentar."

Saat aku pura-pura tidak tahu, Noa menghela napas pasrah, lalu kami memutuskan untuk keluar dari toko terlebih dulu.

"Aku sudah menolak berkali-kali, kan? Bilang saja cari orang lain untuk wakil ketua."

"Begitu ya? Aku tidak mendengarnya."

"......Padahal kau dengar. Padahal kau mengabaikannya."

"Lalu kenapa? Apa aku tidak boleh mencalonkan diri jadi wakil ketua?"

Kami mengobrol saat berjalan di jalanan malam yang gelap. Noa meredupkan ekspresinya sesaat, lalu segera kembali tersenyum.

"Bukannya tidak boleh, sih... tidak juga...... ah, dengar! OSIS itu sibuk, tahu? Kalau jadi wakil ketua, kau tidak akan bisa bermain-main lagi, loh~?"

"Ah, soal itu. Aku sudah tanya pada Shiori, katanya yang sibuk itu cuma saat ada acara saja, jadi aman."

"Ah... begitu...... ahaha~"

Noa menutupi rasa canggungnya dengan tawa yang dipaksakan. Aku tidak melewatkan celah itu dan mencoba masuk lebih dalam.

"Kalau kau ingin aku tidak mencalonkan diri, beri tahu aku satu hal."

"Memberi tahu...... eh, apa yang mau kau tanyakan? Ukuran tubuh atau semacamnya?"

"Apa ada sesuatu yang sedang mengganggumu akhir-akhir ini?"

"......Eh...... tidak? Tidak, tidak, tidak? Tidak ada? Bebas stres!"

"Begitu ya. Misalnya...... soal Kaede."

"!? H-ha? Cerita itu sudah selesai, kan? Bukankah Ibushi-kun sendiri yang sok keren bilang 'Itu bukan salahmu, Noa~'?"

"Sepertinya di dalam diri Mizukami, itu belum selesai, kan?"

"......"

Saat aku tiba-tiba beralih dari topik wakil ketua ke rahasia yang ia sembunyikan, Noa mulai tampak panik.

"Te-terus kalau aku jawab apa hubungannya? Jangan-jangan, kau sedang merayuku? Seperti 'Ada apa? Ceritakan padaku?' begitu? Tidak, tidak, tidak. Itu di luar pertanyaan. Kalau kau salah paham, aku minta maaf, tapi pria beristri (berpacar banyak) itu tidak mungkin."

Mungkin karena dia sangat benci dikorek tentang kejadian hari itu, dia melawan dengan bicara lebih banyak.

Kata-katanya lebih tajam dari biasanya, dan dia berusaha sekuat tenaga untuk memutus topik pembicaraan.

"......Bukan seperti itu. Hanya saja, rasa sakit saat aku terjatuh dari tangga kambuh lagi, dan sepertinya tidak akan sembuh kalau tidak mendengar cerita dari Mizukami."

"Hah......? Wah, kau tipe orang yang seperti itu, ya. Marah setelah kejadian berlalu. Apa menurutmu itu tidak curang? Kau terlihat payah."

"Meski curang atau payah, aku tidak peduli. Jangan remehkan pria beristri ini."

Menyelamatkan Noa yang kelelahan fisik dan mental dalam game adalah peran karakter utama, Kaede.

Aku bukan Kaede, dan dunia ini tidak memvisualisasikan tingkat kesukaan atau pilihan seperti dalam game. Mustahil rasanya meyakinkan Noa dalam keadaan seperti ini.

Akan tetapi.

"Jangan bercanda...... jangan asal masuk ke duniaku!"

"Aku tidak bercanda. Aku tidak akan tenang kalau tidak membantu wanita yang sedang menangis."

Saat ini, aku adalah Ibushi Reo, sang antagonis dari rute Noa. Aku membidik celah di hati Noa yang sedang melemah, masuk dengan paksa, dan akhirnya akan menaklukkannya.

Karena aku bukan karakter utama, karena aku bukan Kaede, seharusnya ada cara yang hanya bisa dilakukan olehku, Ibushi Reo.

"T-tegas saja ya! Aku sama sekali tidak memikirkan soal Ibushi-kun! Bahkan, aku bi... benci padamu!!"

"Tidak apa-apa. Ceritakan saja."

"Benar-benar...... ah! Ini bukan untuk menutupi rasa malu! Ini aku yang sebenarnya! Biasanya aku hanya mencoba menyesuaikan diri dengan Ibushi-kun! Karena aku pikir kau pasti suka tipe gadis seperti itu! Aku melakukannya dengan terpaksa!"

"Aku memang menyukainya. Tapi, menurutku Mizukami yang sekarang pun tidak buruk."

"Su......!? Ngh...... gununu! Kau ini, selalu saja punya alasan......!"

Jika Noa yang biasanya, dia tidak akan sampai mengeluarkan emosi sebesar ini.

Dia pasti akan berusaha tersenyum dan sedikit demi sedikit menjauhkan diriku.

Namun, Noa yang sekarang tidak punya cukup kelonggaran untuk berpura-pura.

Karena tidak punya kelonggaran, dia mengeraskan suaranya dan mencoba menjauhkan diriku dengan paksa.

Aku tidak tahu apakah itu karena rasa bersalah atau karena harga diri, tapi jelas sekali mental Noa sedang berantakan.

Kalau begitu, aku tidak bisa mundur sekarang. Jika melewatkan kesempatan ini, aku tidak akan bisa membantu Noa dalam arti yang sebenarnya.

"Ka-kalau begitu! Terserah! Semuanya akan kuceritakan pada Ketua Shiori! Soal kau yang memanggilku Noa! Soal kau yang berpikir senyumanku adalah yang paling imut! Aku akan mengatakannya pada si adik kelas dan Kinoshita-san juga!"

"Habisnya mau bagaimana lagi. Senyum itu yang paling cocok untuk Noa, jadi aku benar-benar berpikir begitu."

"Naa......!? Gunoo......! Aku tidak mengizinkanmu memanggil namaku...... tapi...... aku tidak bisa menggunakan 'pesona pria keren' padamu...... hei!"

"......Kalau tidak mau kupanggil Noa, ceritakan semuanya."

"Sebentar...... makanya kubilang...... memanggil nama itu curang!!"

Saat aku mencoba memuji sedikit atau memanggil namanya sambil melihat reaksi Noa, rasa malunya mulai muncul mengalahkan rasa panik dan marahnya. Sepertinya strategi Ibushi Reo cukup efektif.

"Sudah cukup! Tidak ada gunanya bicara denganmu! Sampai jumpa, bye-bye!"

"Apa kau lari?"

"Ya, benar! Aku lari! Sampai jumpa besok! Soal wakil ketua, akan kupikirkan!"

Menyerah pada perlawanan terhadapku yang terus mendesaknya, Noa lari sendirian.

Aku sempat bimbang apakah harus mengejarnya, tapi aku memilih untuk mundur sejenak.

******

"Kenapa, kenapa, kenapa......!"

Hah, sudahlah. Ibushi-kun memang terlalu tajam.

Lagipula dia sangat gigih.

Biasanya orang akan benci kalau dikatakan seperti itu.

 Akan menjauh. Tapi kenapa... kenapa sampai segitunya......!

"Selamat datang kembali Noa-san...... ada apa?"

"......Fuuuh. Tidak apa-apa! Bukan apa-apa! Cuma capek kerja paruh waktu saja!"

Saat aku pulang dengan membawa gundah di hati ke apartemen baru yang akhirnya mulai terasa nyaman, Sakura yang sedang berdiri di dapur mengkhawatirkanku.

Aku menarik napas dalam-dalam untuk tenang, lalu berusaha membuat senyuman.

Hanya pada Sakura, aku tidak boleh memperlihatkan wajah seperti ini.

Padahal karena ulahku dia mengalami kejadian seperti itu. Aku harus memastikan Sakura benar-benar bahagia.

"Hei Noa-san."

"Hm? Apa?"

"......Apa pendapatmu tentang Ibushi-senpai?"

"Pfft!? Kenapa tiba-tiba!?"

Aku tersedak karena pertanyaan Sakura yang terlalu mendadak.

Ditambah lagi dengan percakapan dengan Ibushi-kun tadi, ketenangan yang susah payah kubangun semuanya terbang begitu saja.

"......Dia orang baik. Sangat baik."

"Iya, itu aku tahu, tapi......"

"Pasti, dia juga akan membuat Noa-san bahagia."

"Tidak, tidak...... hei Sakura......"

Saat aku mencoba menanggapi perkataan Sakura yang tidak masuk akal itu, aku menyadari sesuatu.

"......Apa kau bilang sesuatu pada Ibushi-kun? Tadi dia bertanya banyak hal padaku, kan?"

"Tidak bilang apa-apa. Tidak tahu."

"Ayo, lihat ke sini."

"............"

Dia mengalihkan pandangan dengan sangat kentara untuk mengelak.

Padahal sia-sia saja karena ekspresinya sama persis dengan Ibushi-kun.

Tapi sebentar, jadi begitu. Pantas saja aku merasa dia terlalu tajam, ternyata itu karena hasutan Sakura. Kali ini aku kalah telak.

"Hei Sakura. Kenapa kau meminta Ibushi-kun melakukan hal seperti itu padaku?"

"......Hanya ingin, Noa-san juga, merasakan kebahagiaan."

"Sekarang pun aku sudah sangat bahagia, kan? Kerja paruh waktuku menyenangkan, sekolah juga menyenangkan. Hidup bersamamu pun menyenangkan. Sudah lebih dari cukup."

"Kalau begitu kenapa...... kenapa kau menangis?"

"......Ketahuan, ya."

Aku tidak bisa membohongi Sakura yang tampak sedih, jadi aku mengakui fakta bahwa aku menangis.

Padahal kupikir dia sedang tidur.

Aku masih belum cukup hebat, ya.

"Noa-san sudah berusaha. Mencoba melakukan segalanya. Yang salah adalah orang itu, Noa-san tidak salah apa pun......"

"......Meskipun begitu, tetap saja. Aku dan dia adalah teman masa kecil. Aku tidak menyadari dia berjalan ke arah yang salah. Jadi, itu juga tanggung jawabku."

Padahal selalu bersama, aku tidak bisa menghentikannya.

Jika aku lebih berusaha lagi, pasti bisa kuhentikan.

Jika begitu, Sakura tidak akan terluka hatinya, dan Ibushi-kun pun tidak akan berada dalam bahaya.

Aku ingin Sakura jauh lebih bahagia lagi.

Jadi, aku akan memberikan segalanya.

Aku tidak mau Ibushi-kun menolongku lagi. Jadi, aku tidak mau dia menjadi wakil ketua.

Kalau ada Ibushi-kun di sampingku, aku akan bergantung padanya lagi.

Kalau aku tetap lemah, aku akan ditolong lagi. Padahal ada pacar-pacar yang jauh lebih hebat dari diriku untuk Ibushi-kun. Aku... tidak mau... diganggu olehnya.

Aku sudah terbiasa menekan perasaanku sendiri.

Hari ini memang agak longgar, tapi besok aku akan baik-baik saja.

Kejadian dengan Kaede terjadi karena aku terlalu memanjakan diriku.

Jika aku bersikap tegas, tidak akan ada lagi orang yang berbuat salah, dan semua orang bisa bahagia. Jadi, aku harus......

"Itu salah! Noa-san itu salah!"

Jeritan Sakura yang penuh amarah. Aku belum pernah mendengar suara seperti ini.

Emosi seperti ini belum pernah ditujukan padaku.

Jeritan itu adalah perasaan Sakura yang selama ini tidak kuketahui.

"Kenapa kau mencoba memikul semuanya sendirian! Kesalahan orang itu, hal-hal buruk tidak akan hilang! Meskipun Noa-san punya tanggung jawab! Aku sudah bilang kan, aku tidak peduli! Aku juga tidak hanya menangis! Aku sudah menatap ke depan!"

"Sakura............"

"Karena itu...... karena itu, jangan menyalahkan diri sendiri lagi...... jangan menangis sendirian......"

"......Maaf......"

Dimarahi Sakura menyadarkanku.

Aku tidak benar-benar melihat Sakura.

Aku menganggapnya seperti keberadaan adik yang masih sama seperti dulu, bertahun-tahun yang lalu.

Aku salah sangka kalau akulah yang harus melindunginya.

Tapi itu salah. Sakura sudah menjadi orang dewasa yang hebat.

Dia berjuang, bangkit, dan mencoba meraih kebahagiaannya sendiri.

"......Aku akan bicara dengan Ibushi-kun. Tentang segalanya yang sudah terjadi, dan tentang apa yang akan terjadi ke depannya. Dengan tuntas."

"Ya. Pergilah."

Karena Sakura sudah menatap ke depan, aku tidak boleh terus-menerus merasa bimbang.

Dengan perasaan yang telah berubah, saat aku membuka pintu depan untuk pergi meminta maaf ke kamar Ibushi-kun yang kurasa sudah pulang...

"Eh..."

"Ah...... ada apa?"

Entah kenapa Ibushi-kun berdiri di depan pintu.

Dia membawa kantong minimarket dan baru saja akan menekan bel pintu.

"Ah... ini semacam permintaan maaf karena sudah menanyakan hal yang aneh?"

"Permintaan maaf...... wah, ini kan es krim Dutch! Apalagi rasa stroberi!"

Saat aku mengintip isi kantong yang dibawa Ibushi-kun yang tampak canggung, di dalamnya ada es krim mahal. Ditambah rasa kesukaanku.

Dan untuk bagian Sakura juga. Pria yang bisa diandalkan memang berbeda, ya.

"......Tadinya, untuk hari ini aku minta maaf. Tapi aku tidak berniat menyerah. Sampai jumpa besok."

Ibushi-kun menitipkan kantong minimarket itu padaku dan hendak buru-buru pulang.

Saat aku berbalik ke arah Sakura untuk meminta saran, dia memberiku isyarat mendesak agar segera mengejarnya.

"......Ah. Aku juga minta maaf, Ibushi-kun!"

Aku meraih tangan Ibushi-kun sesuai desakan Sakura dan meminta maaf.

Tangan Ibushi-kun terasa besar dan hangat, dan aku merasa dia bisa menerima segalanya.

"Segalanya...... akan kuceritakan. Jadi, bolehkah aku...... bertamu ke kamarmu?"

"............Ya."

Untuk berbicara dengan tuntas, aku membiarkan diriku terbawa suasana dan pergi ke kamar Ibushi-kun.

"Nah, mulai dari mana ya pembicaraannya..."

"Mulai dari mana saja sesukamu."

Aku duduk di atas bantalan empuk di kamar Ibushi-kun yang ternyata cukup rapi.

Aku menimbang-nimbang konten pembicaraan dan memutuskan untuk memulai dari awal mula semuanya.

"......Pertama kali aku bertemu Kaede adalah di TK. Dulu aku lebih gemuk dari sekarang. Lalu, aku dirundung oleh anak perempuan di kelasku, dan yang menolongku adalah Kaede."

Kaede yang dulu sangat keren. Dia lurus, benci hal-hal buruk, dan bagi diriku, dia adalah pahlawan.

"Setelah itu...... kebetulan rumah kami dekat, kami jadi sering bermain, jadi akrab, dan aku...... menyukainya. Tapi, aku tidak punya keberanian, jadi aku terus memendamnya sampai sekarang."

Kaede sedikit demi sedikit berubah.

Dia tidak mau mengubah pendapatnya, berpikir bahwa hal yang bukan pendapatnya adalah kesalahan, dan sedikit demi sedikit, Kaede bukan lagi pahlawan bagiku.

"Selebihnya adalah seperti yang diketahui Ibushi-kun. Kaede melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. Dia melampaui batas terakhir hanya demi perasaannya sendiri. Aku tidak punya niat untuk memaafkannya, dan aku berharap dia tidak usah muncul seumur hidup."

Kaede yang melakukan dosa terburuk tidak pantas dimaafkan.

Aku tidak ingin bertemu lagi dengannya.

Aku bahkan tidak ingin memberinya kesempatan untuk meminta maaf pada Sakura.

Tapi, meski begitu,

"Meski begitu...... ya. Aku memikirkannya. Seandainya aku bisa melakukannya dengan lebih baik. Seandainya aku bisa sedikit memaksa diriku untuk menyesuaikan diri dengan Kaede. Pasti ada banyak hal yang bisa dilakukan...... begitu, ya."

Seberapa pun salahnya dia, bagiku Kaede adalah pahlawan, cinta pertama, dan teman masa kecilku.

Ingatan itu menghalangiku. Kenangan lama menarik kakiku.

Bahkan jika disuruh "lupakan saja", aku tidak bisa melupakannya.

Kata-kata "jangan pedulikan" tidak bisa mengembalikan waktu yang telah hilang.

Karena itu, aku terus berpikir bahwa mulai sekarang pun aku harus memikul salib ini.

Padahal begitu,

"......Mizukami. Terima kasih sudah menceritakannya."

Ibushi-kun, yang sejak tadi hanya mendengarkan, menundukkan kepala di depanku dengan wajah yang sangat serius.

Mengapa kata "terima kasih" dari Ibushi-kun bisa masuk ke dalam hatiku begitu saja, sampai-sampai aku ingin menangis.

"Aku juga berpikir, apakah ada sesuatu yang lebih baik yang bisa kulakukan untuk Kaede. Bahkan jika hasilnya tidak berubah, ada hal yang bisa kulakukan, aku juga terkadang menyesalinya."

Kenapa Ibushi-kun memikirkan hal seperti itu? Aku sendiri tidak tahu alasannya.

Tapi, aku yakin itu sama persis dengan perasaanku pada Kaede. Sebuah emosi yang tertimbun di dasar hati, seperti lumpur yang hanya bisa dipahami oleh pemiliknya sendiri.

Ah. Akhirnya aku sadar. Ibushi-kun tidak mirip dengan Kaede.

Dia sangat mirip dengan Sakura.

Dia selalu mengesampingkan dirinya sendiri, melakukan hal-hal nekat, memikul beban sendirian, depresi sendirian, menyalahkan diri sendiri, tapi tetap tersenyum dan perhatian pada orang-orang di sekitarnya.

Dia sama denganku. Ibushi-kun itu... sama persis denganku.

"Karena itu, Mizukami... biarkan aku memikul tanggung jawab itu juga. Biarkan aku menderita bersamamu selamanya."

Karena dia sama denganku, aku tahu makna sebenarnya dari kata-kata itu.

"Selamanya" itu bohong. Pasti dia berencana menanggung semuanya sendirian tanpa sepengetahuanku.

"......Tidak mau."

Aku tidak akan pernah membiarkannya melakukan hal sekeren itu.

"Begitu ya. Meski begitu, aku akan──"

Pasti dia akan bilang "aku tidak akan menyerah". Aku tahu. Aku mengerti, Ibushi-kun. Kalau aku, aku pasti akan bilang begitu.

Karena itu, sebelum dia sempat menyampaikan kata-kata yang sudah bisa kutebak itu, aku akan menyampaikan perasaanku.

Dia harus bertanggung jawab karena telah mengulurkan tangan pada gadis yang sedang patah hati dan membuatnya salah paham.

"Aku menyukaimu. Reo-kun."

"............Eh? Hah?"

Pemicunya mungkin saat itu. Saat dia melindungiku ketika aku hampir jatuh dari tangga.

Saat tubuh Ibushi-kun yang besar dan tegap itu mendekapku, tanpa sadar—meski tidak pantas—aku merasakan sedikit getaran di hatiku.

Dan sekarang. Dia berusaha mati-matian untuk menyelamatkan diriku yang canggung ini, diriku yang telah menyeretnya ke dalam kejadian seperti itu.

Entah kenapa, melihat Ibushi-kun membuat hatiku berdebar.

Jantungku berpacu kencang, perasaan yang sempat kulupakan saat bersama Kaede kini meluap kembali.

Begitu aku menyadari perasaan ini, entah mengapa aku tidak bisa menahannya lagi.

Lagipula, sebenarnya... bukankah curang karena dia pria yang keren? Itu mustahil.

Dia keren, berotot, baik hati, punya sisi imut, punya sisi maskulin yang pas, dan meski dulu dia nakal, sekarang dia sudah tenang.

Kalau meminjam kata-kata Kinoshita-san, dia jelas kelebihan atribut.

Aku yang hanya mengenal Kaede, jika diperlakukan sedekat ini, mana mungkin aku tidak jatuh cinta.

"Kenapa? Jangan-jangan kau tidak berniat begitu? Bukankah kau memang mau merayuku?"

"Aku tidak ada niat begitu..."

"Wah~ hebat sekali ya membuat gadis salah paham. Tapi tidak bisa. Bertanggung jawablah. Buat aku bahagia."

"Ghk......"

Aku mengerti, Ibushi-kun. Kau suka yang begini, kan?

Kau suka sekali kalau diserang secara agresif, kan?

Tidak apa-apa, biarpun kau terbawa suasana.

Tidak apa-apa kalau kau ingin menyalahkan aku.

"Tss...... Mizukami!"

Saat aku perlahan mendekat, kedua bahuku dicengkeram oleh Ibushi-kun.

Dia berusaha terlihat tulus, tapi bagaimanapun, dia tetaplah seorang laki-laki. Sisi seperti itu juga terasa imut...

"Perasaanmu itu membahagiakan! Sangat membahagiakan! Aku juga menyukaimu, Mizukami, dan aku benar-benar senang, tapi...... untuk membalas perasaanmu sekarang, ada hal yang harus kulakukan!"

Hal yang harus dilakukan... aaaaa. Begitu ya.

Tentu saja. Ada banyak masalah, ya.

Ternyata dia orang yang bertanggung jawab. Begitu rupanya.

"......Ya, ya. Tidak apa-apa. Kalau perlu, biarkan aku ikut menanggungnya."

"Tidak, ini masalahku..."

"Kau bilang mau menanggung tanggung jawabku, kan? Kalau begitu, biarkan aku menanggung tanggung jawab Reo-kun juga. Ya?"

"............Aku tidak akan pernah bisa menang melawan Senpai."

"Nfufu. Kau masih belum cukup, Adik Kelas!"

Ah. Aku jadi semakin menyukainya.

******

"Demikianlah duduk perkaranya... jadi, bolehkah aku meminta izin untuk berpacaran dengan Mizukami Noa......"

Siang hari setelah pengakuan cinta dari Noa kemarin. Aku sedang melakukan sujud dengan sepenuh hati di depan semua orang yang berkumpul di ruang OSIS.

"Aku juga... mohon izinnya!"

Noa yang berada di sampingku juga melakukan hal yang sama.

Padahal sudah kubilang tidak perlu sampai begitu, tapi aku terlanjur didesak olehnya.

"Kalau aku sih oke-oke saja! Mizukami-senpai orang yang baik! Semakin banyak pacarnya, semakin tinggi pula posisiku sebagai istri utama!"

"A-aku juga... tidak masalah, sih..."

"............Terserah kalian."

Akari, Nanami, dan Sakura sudah menerimanya.

Namun, Shiori yang duduk tenang di kursi paling belakang ruang OSIS tetap bungkam.

"Sekarang tinggal menunggu vonis dari Hakim Ketua! Bagaimana, Hakim Ketua Shiori!"

"............Fuu."

Shiori, yang ditanya oleh Akari, akhirnya membuka mulutnya yang tertutup rapat, menghela napas, lalu mulai bicara.

"Jika Akari-chan saja mengizinkan, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lagipula, aku pun berada di posisi yang telah diizinkan."

Sebagai pihak yang memegang kendali atas semuanya, Shiori tetap mempertahankan sikap tegasnya.

Dia menyuruh kami berdiri, lalu melanjutkan pembicaraan dengan ekspresi yang menakutkan.

"Namun, Reo. Kau sadar, kan? Lima orang, lho. Itu sudah jauh melampaui batas kewajaran. Apa kau bisa membahagiakan mereka semua? Apa kau sudah siap dengan tekad itu?"

"Ya, aku siap. Aku tidak akan membiarkan mereka menahan diri atau menyesal. Aku akan mencintai semuanya dengan benar, dan memastikan semuanya bahagia."

"............Kalau begitu, baiklah. Astaga. Kami pun tertangkap oleh pria yang buruk."

""Terima kasih banyak!""

Aku dan Noa kembali membungkuk setelah mendapat izin dari Shiori dan yang lainnya, menyampaikan rasa terima kasih kami.

Namun tiba-tiba, Noa berdiri dan melontarkan pernyataan yang sangat mendadak.

"Kalau begitu, hari ini aku meminjam Reo-kun ya!"

"............Hoo?"

Karena pernyataan Noa, suasana ruang OSIS yang tadi sempat tenang saat persidangan berubah membeku.

Untuk mencairkan suasana itu, Akari menjelaskan situasi saat ini kepada Noa.

"Ehm, Mizukami-senpai... belakangan ini, maksudku, karena ini adalah 'minggu Sakura', jadi ya begitu, tapi hari ini... adalah gilirannya Shiori-san..."

"Eh, a, ah......! Maaf! Aku tidak bermaksud begitu!"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Ya, ya. Reo juga pasti ingin pasangan baru, kan?"

"Tidak, bukan begitu! Aku sudah menantikan hari untuk bertemu dengan Shiori!"

"Maafkan aku, Shiori-senpai! Benar-benar tidak bermaksud begitu! Aku hanya asal bicara!"

"Begitu ya. Kalau begitu, hati-hatilah. Noa-kun."

"Ya! Akan kupahat di dalam hati!"

Noa kembali bersujud di depan Shiori yang mengeluarkan tekanan paling besar di antara kami semua.

"Ah, ngomong-ngomong besok giliranku......"

"Lusa giliranku ya!"

"............Noa-san empat hari lagi ya."

"Wah, sistem reservasi! Dimengerti!"

Walaupun sudah mengizinkan hubungan kami, Akari dan yang lainnya tidak berniat mengalah.

Noa tetap menunduk bersama denganku sambil menimpali dengan candaan.

Diam-diam, dia membisikkan sesuatu seperti "Reo-kun, kau seperti toko mewah saja," yang membuatku mati-matian menahan tawa karena merasa geli.

******

Sabtu, 19 Oktober.

Hari yang seharusnya dijanjikan bersama Noa... tapi kami berdua sama-sama bekerja paruh waktu sejak siang.

Saat kami pulang dan beristirahat, waktu sudah larut malam.

"Haah... hari ini melelahkan ya..."

"Benar juga..."

Noa berada di rumahku seolah-olah itu hal yang wajar.

Dia mandi di rumahku, memakai baju tidurku yang lucu, dan bersantai.

Omong-omong, Sakura sedang pergi bermain ke rumah Akari.

""............""

Hanya ada satu alasan kenapa aku mengundang Noa ke kamar.

Bahkan dia sendiri sudah menyatakannya.

Namun, kami berdua sama-sama ragu.

Mungkin karena lelah bekerja, kondisi macet (kebuntuan) pun terus berlanjut.

"............Ah, tidak bisa! Aku gugup sampai tidak bisa bicara apa-apa! Tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa!"

Noa yang memecah kebuntuan itu.

Dia tiba-tiba berteriak keras, pindah ke tempat tidurku, dan menyelimuti dirinya.

"Baiklah, hari ini tidak usah ya! Iya! Lelah sekali! Cuma tidur bersama saja! Ayo, Reo-kun! Silakan!"

Noa yang sangat bersemangat menepuk tempat tidur, mendesakku untuk segera ke sampingnya.

"Aku masuk, ya."

"......Silakan."

Sesuai desakan dan ajakannya, aku berbaring di samping Noa dan terbungkus selimut yang sama.

Di dalam selimut, rasanya hangat dan secara ajaib terasa lembut.

"............Aku..."

Saat aku berpikir mungkin tidur seperti ini saja sudah cukup, Noa bergumam pelan.

"Jujur saja, aku tidak pandai hal seperti ini. Apa ya istilahnya... frigid (tidak bisa merasakan kepuasan)? Saat melakukannya dengan dia, rasanya tidak enak, dan aku... belum pernah mencapai klimaks."

"......Kalau begitu, tidak perlu memaksakan diri. Aku sudah bahagia hanya dengan begini saja."

Aku tidak pernah mendengar di dalam game bahwa Noa frigid.

Mungkin saja Kaede yang payah, tapi... hal itu tidak penting. Yang penting adalah perasaan Noa.

"A-aku juga, hanya dengan begini saja, jantungku berdebar dan aku bahagia, tapi... aku tidak tahu, dengan Reo-kun, aku jadi ingin melakukannya. Tapi, aku takut kalau melakukannya denganku, kau tidak akan menikmatinya, dan kau akan membenciku."

"Tidak apa-apa. Aku tidak akan membencimu hanya karena hal seperti itu."

"Be-benarkah......?"

Aku memeluk Noa dengan lembut, yang menatapku dengan wajah cemas.

Akhirnya, Noa merasa sedikit lega dan membalas pelukanku dengan lembut.

"Meski aku tidak bisa merasakannya... kau tidak akan marah?"

"Tidak akan marah."

"......Meski aku tidak bisa mengeluarkan suara yang imut, kau tidak akan berhenti?"

"Tidak akan berhenti."

"............Kau akan mencintaiku sampai akhir, kan?"

"Aku akan mencintaimu."

"Begitu...... ya. Baiklah, kalau begitu, ya. Tolong lakukan... yeah, ayo mulai."

******

Sabtu, 19 Oktober

Event: "Dirusak Tubuh dan Jiwa"

Heroine: Mizukami Noa

Ciuman pertama terasa sangat aneh.

Rasanya cuma bisa digambarkan sebagai "aneh". Antara manis atau pahit. Sedikit berbeda dengan ciuman yang sering dibicarakan teman-temanku.

Tentu saja, awalnya aku senang karena merasa bisa bersentuhan dengan Kaede, tapi aku terkejut saat dia memasukkan lidahnya.

Setelah itu, aku jadi lelah, merasa kebahagiaan itu perlahan pergi, dan aku mulai berpikir, "Cuma begini saja?"

Ciuman pertamaku denganmu terasa sangat aneh.

Dipeluk erat, dicium lembut.

Aku baru tahu kalau ada begitu banyak cara untuk bersentuhan hanya dengan bibir.

Tapi tetap saja, perasaan aneh yang manis sekaligus pahit itu meluap.

Namun, perlahan-lahan aku terbiasa dengan perasaan itu, dan tanpa kusadari aku mulai menekan bibirku sendiri padamu.

Kamu menerima ciuman kikukku, dan menutup bibirku agar kebahagiaan itu tidak melarikan diri sedikit pun.

Saat pertama kali tubuhku disentuh, rasanya sangat menakutkan.

Meski sekarang sudah lebih kurus dari dulu, aku masih malu menunjukkan perutku.

Karena itu, aku takut melepas pakaianku, dan sebagai perlawanan, aku memilih pakaian dalam yang sebisa mungkin terlihat lucu.

Tapi Kaede tidak pernah memuji pakaian dalamku, jadi aku terpaksa melepasnya sendiri.

Setelah itu, dia mengubah warna matanya, meremas payudaraku, lalu tiba-tiba mencubit perutku dan bilang, "Bagaimana kalau kurusan lagi?" Aku tahu dia bercanda, tapi tetap saja aku merasa disindir "gendut".

Sekarang pun, saat pertama kali disentuh olehmu, rasanya sangat menakutkan.

Setelah itu aku jadi lebih banyak makan, dan berat badanku bertambah.

Di sekitarmu hanya ada orang-orang dengan gaya tubuh yang indah, jadi aku malu memperlihatkan bentuk tubuhku seperti ini.

Tapi kamu, entah sadar atau tidak dengan perasaanku, perlahan mengelus tubuhku dari balik pakaian.

Sambil menyebut pakaian tidurku "imut", kamu melepasnya dengan hati-hati, dan memuji pakaian dalam spesial yang kupakai dengan penuh keberanian.

Aku sedikit cemburu karena kau tampak terbiasa melepas kaitan bra... tapi, tubuhku dielus di seluruh bagian, terasa empuk, dan kesenangan yang tidak kukenal menjalar ke seluruh tubuhku.

Jari Kaede yang pertama terasa sangat sakit.

Aku sudah berkali-kali bilang sakit, tapi dia tidak mau berhenti dengan alasan "kau harus membiasakan diri."

Pada akhirnya memang tidak sakit lagi, tapi rasanya sama sekali tidak menyenangkan, dan saat itu aku berpikir bahwa diriku memang tidak bisa merasakan kesenangan.

Jari pertamamu terasa sangat bergetar.

Aku dibaringkan di tempat tidur, ditotol-totol pelan. Bukan di bagian yang sensitif, tapi di sekitar bawah perut, dengan ritme yang ringan.

Rasanya seperti sedang dicari bagian yang nikmat, dan itu membuat jantungku berdebar.

Sedikit demi sedikit jarimu menuju ke bawah, ke bagian sensitif, ke area pintu masuk, dikerik perlahan dengan kuku.

Hal itu terus dilakukan sampai pikiranku dikuasai oleh rasa nikmat, dan pinggangku secara alami mulai terangkat.

Lalu kamu berbisik dengan lembut, "Pelan-pelan. Tarik napas dalam-dalam."

Sesuai instruksimu, aku mengatur napas, dan jari telunjukmu yang lebih kasar dari Kaede mulai masuk perlahan.

Meski jarinya tebal, secara ajaib tidak ada rasa sakit, dan bisa diterima dengan mudah.

Saat jari itu ditekan seolah mencari sesuatu di dalam, dan tepat saat kekuatan diberikan ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh jari Kaede, kesenangan menjalar ke seluruh tubuhku lagi.

Aku hampir gila karena rasa malu dan nikmat, aku mencari tempat pelarian untuk rasa nikmat itu.

Tiba-tiba, kenikmatan yang tidak kukenal datang menyerbu lebih hebat lagi, kepalaku hampir gila, saat aku ingin melarikan diri pun kamu menahan pinggangku, dan sambil mengelus kepalaku kamu membisikkan kata-kata lembut, "Tidak apa-apa. Pelan-pelan. Jangan lupa napas dalam-dalam," yang justru membuat kepalaku semakin pusing, terasa nikmat, tidak mengerti apa-apa, terasa nikmat, tidak bisa menahannya, terlalu nikmat,

"......!!"

"......Ya. Pintar. Kerja bagus."

Tidak mengerti, apa ini, kepala terasa berdenyut, mungkinkah, aku, sudah mencapai klimaks?

Padahal saat melakukannya dengan Kaede, aku sama sekali tidak merasakan apa-apa, tapi dengan Reo-kun, hanya dengan jari saja, aku dibuat seperti ini.

"Mau istirahat?"

"......Iya... tidak mengerti... takut..."

"......Oke. Aku ambil air."

Reo-kun mengambilkan botol dari kulkas, dan aku meminumnya sedikit demi sedikit.

Begitu aku meminumnya, rasa takut perlahan memudar, dan aku bisa merasakan sensasi aneh yang masih tertinggal di tubuhku.

Begitu aku memastikan sudah selesai minum air, Reo-kun kembali mengelus tubuhku dengan lembut dan berbisik manis.

"Bisa lanjut?"

"......Ya..."

Aku membalas ajakan Reo-kun dengan ciuman.

Ciuman yang seperti anak kecil seperti yang kami lakukan tadi.

Tapi Reo-kun menerima ciuman itu, lalu perlahan mendorongku ke tempat tidur.

Pertama kali dengan Kaede... kurasa biasa saja.

Ukurannya mungkin standar. Dia terus menggoyangkan pinggangnya dengan putus asa, merasa nikmat sendirian, dan saat melihat dia menyalurkan nafsu birahinya, aku seketika menjadi dingin.

Kaede sering bilang, "Kita sangat cocok," tapi jujur saja aku tidak merasakannya.

Pertama kali denganmu banyak hal yang tidak kuketahui.

Punyamu lebih besar dari Kaede, bentuknya juga sedikit mengerikan, dan aku agak takut. Aku khawatir apa ini akan muat, aku pikir pasti akan sakit, jadi aku mengerahkan seluruh tenagaku.

Lalu kamu memintaku untuk melemaskan otot, dan jari-jarimu kembali masuk untuk melonggarkan.

Sesuatu seperti pelumas? Juga dioleskan, dan kamu menegaskan kalau sakit segera bilang.

Lalu, tepat saat mengenai pintu masuk, aku menyadari bahwa itu benar-benar berbeda dengan saat bersama Kaede.

Perlahan, seolah-olah ingin memperluas, seolah ingin mengganti semua pengalaman dengan Kaede, langsung mencapai tempat yang tidak bisa dicapai Kaede, dan setelah itu terus masuk lebih dalam, saat mulai terisi penuh, aku sudah mengulanginya beberapa kali dengan ringan.

Kamu diam saja untuk sementara waktu, terus menekannya.

Hanya itu saja, tapi rasanya sangat nikmat, aku hampir gila.

"......Mulai bergerak ya."

"Aa...... boleh..."

Saat benda yang mengisi diriku mulai bergerak, kesenangan yang tidak ada bandingannya datang menyerbu.

Gerakan pinggangnya sendiri tidak terlalu cepat, tapi terasa sangat nikmat, dan suara "dopyu-dopyu" menggema ke seluruh ruangan.

Berkali-kali, saat mengulanginya berkali-kali, aku mulai terbiasa dengan rasa nikmat yang membahagiakan ini, dan akhirnya aku punya kelonggaran untuk melihat ekspresimu.

"......"

"......Ada apa?"

Ekspresimu tidak lagi tampak santai seperti tadi, tapi wajahmu terlihat sedang menahan sesuatu.

Mungkin karena tidak terasa nikmat, jadi aku memutuskan untuk bertanya.

Saat itu, kamu menggelengkan kepala dengan rasa bersalah dan menjelaskan alasannya.

"Tidak... maaf... terlalu nikmat... sampai tidak punya kelonggaran..."

"Eh... kau pintar berbasa-basi ya... aku senang, tapi... sungguh, ah... nn..."

"Bukan begitu... sungguh..."

Kamu pasti tidak akan berbohong soal hal ini. Berarti, memang benar terasa nikmat ya.

Aku pun merasa sangat bahagia dan terpenuhi.

Bukan sekadar nikmat, tapi rasanya naluriku yang memintanya.

"......Kita... mungkin benar-benar cocok?"

"......Noa......!"

Ah, aku tahu itu sedang mengembang.

Luar biasa.

Aku senang.

Ternyata bisa terasa senikmat ini ya.

Aku ingin, kamu lebih merasa nikmat lagi denganku.

"Tidak apa-apa... ayo... bersama?"

Tepat sebelum kamu tidak bisa menahannya lagi, aku membisikkan kata-kata itu di telingamu.

Kamu lalu menunjukkan wajah yang sangat bahagia.

Pada saat yang sama, rasa nikmat yang sangat besar datang padaku juga, dan untuk sementara waktu kami berbaring sambil berpelukan.

Kali kedua denganmu terasa sangat intens.

Meski sudah melakukannya sebanyak itu, kamu masih penuh energi, kali ini kami melakukannya dari belakang.

Saat aku bilang pada Kaede kalau aku sudah sering melakukannya dengan posisi ini, kamu membesarkannya lagi dan memintaku sedikit lebih keras.

Aku juga tidak bisa menahan suara, dan banyak suara memalukan yang kudengar.

Kali ketiga... aku memutuskan untuk berada di atas.

Kali keempat, sambil berpelukan...

Kali kelima, saat memakai borgol mainan...

Tanpa sadar kami sudah tergeletak di tempat tidur dan tidak bisa bergerak satu langkah pun.

Kami berdua kelelahan, mengantuk, aku menjadikan lengan besarmu sebagai bantal, sambil saling mengelus kepala dan bermesraan.

"Hei Reo-kun. Aku dengar dari yang lain... apa benar kau bersujud pada orang tuamu?"

"......Benar. Karena menurutku itu adalah ketulusan versiku."

"Hmm? Tapi kau belum datang ke rumahku, kan?"

"......Karena suasananya tidak pas."

"Oh, begitu ya. Kalau begitu besok... eh, maksudku hari ini. Ayo kita pergi ke rumahku? Aku juga sudah lama ingin pulang, dan ayo kita sapa mereka dengan benar."

"............Orang tua yang galak?"

"Tidak juga, meski tidak galak pun, punya pacar lima orang pasti akan mengejutkan, dan aku rasa pasti akan ditentang."

"Ya, tentu saja..."

Tapi karena sekarang aku sudah bisa berpacaran dengan kalian semua, berarti aku sudah berhasil meyakinkan mereka.

Itu berarti mereka sudah mengakui kalian semua di depan orang tua kita, ya.

Ah. Ngomong-ngomong...

"Hei. Apa ada orang yang sudah pernah pergi ke rumah orang tuamu?"

"Eh? Aah... belum. Agak jauh, dan orang tuaku bekerja berdua. Jadi jadwalnya susah sekali untuk cocok."

"Hmm... kalau begitu, lain kali aku ingin pergi menyapa mereka."

"............Serius?"

"Ya. Serius. 'Aku dijadikan wanita oleh putra Anda~' begitu. Aku juga harus bersujud."

"Tolong, jangan gunakan perkenalan diri yang itu saja."

"Fufu............ mau bagaimana ya?"

Begitulah, kami menghabiskan sisa malam dengan mengobrol santai berdua, dan aku tertidur sambil menyadari bahwa tubuh dan jiwaku telah benar-benar dijadikan wanita milik Reo-kun.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close