NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Eroge no Utsu End kara Heroine-tachi o Kyuusai Shitara Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Kehidupan Harem yang Sangat Biasa


"Jadi, jadi. Menurutku, yang paling pas itu..."

"Ah, Senpai!"

Sepulang sekolah setelah upacara pembukaan semester baru. Saat aku berjalan di koridor sambil mengobrol dengan Nanami, suara dan langkah kaki Akari mendekat dari belakang.

Aku sempat berhenti dan bersiap, sudah menduga kalau dia akan menerjangku, tetapi sepertinya target Akari bukan aku...

"Hap. Tackle!"

"Hwaa!?"

Dia menerjang Nanami lebih lembut dari biasanya. Akari memeluk Nanami dari belakang. Nanami yang sepertinya tidak siap mental pun mengeluarkan suara yang sangat lucu.

"Kun-kun... wangi banget ya, Nanami-senpai..."

"Awawa..."

"Sudahlah, Akari. Nanami jadi bingung, tuh. Lepaskan sekarang."

Aku menarik Akari menjauh dari Nanami yang wajahnya sudah memerah karena kontak fisik mendadak itu. Akari kemudian menatapku dengan wajah jahil yang menyebalkan.

"Arahh... cemburu, ya? Mau dipeluk juga sama aku?"

"......Tepat sekali."

"Aduh!?"

Aku memberikan sedikit jitakan di kepala Akari untuk menutupi rasa maluku.

"Ih, Senpai emang imut, deh!"

Akari yang merasa senang malah menari-nari aneh sambil memancing emosiku. Saat aku bersiap untuk menjitaknya sekali lagi, aku melihat Akari berdiri di samping Nanami dan menyadari sesuatu.

"Akari... kamu tambah tinggi, ya?"

"Ah, ketahuan! Sebenarnya, aku lagi masa pertumbuhan!"

Sebelum liburan musim panas, Akari seharusnya sedikit lebih pendek dari Nanami. Sekarang, tinggi mereka hampir sama.

"Hebat ya, Akari-chan... kalau terus begini, bukannya kamu bakal nyusul Shiori-chan?"

"Sama Shiori-san... ide bagus tuh!"

Mendengar ucapan Nanami yang entah sejak kapan sudah kembali tenang, Akari membusungkan dada dengan penuh percaya diri.

"......Mirip pangeran."

"Eh?"

Mungkin karena membayangkan Akari yang tingginya setara Shiori, Nanami bergumam pelan. Namun, karena sedikit paham dengan situasi Akari, Nanami segera menggelengkan kepala untuk menyangkalnya.

"Maaf, maaf, maaf! Bukan gitu! Aku cuma... itu......"

"......Ihi. Nanami-senpai."

"Hwaa!?"

Saat aku melihat bagaimana Akari akan merespons ucapan Nanami, Akari memasang senyum jahat, lalu menyudutkan Nanami ke dinding dan melakukan wall-don.

"Nanami-senpai... benar-benar imut, ya. Sampai rasanya aku ingin memakanmu."

"Obyaa!?"

Disudutkan oleh Akari yang terlihat begitu berwibawa, Nanami mengeluarkan suara yang seharusnya tidak keluar dari seorang gadis dan menjadi panik. Sisi otaku-nya benar-benar bocor.

"Ne, Senpai. Lain kali, bagaimana kalau kita... pergi kencan berdua saja?"

"Hi-hiiya...... mau......"

Dalam suasana yang aneh itu, Akari bahkan berhasil mendapatkan janji kencan.

Maksudku, apa yang sedang kutonton ini? Kenapa aku harus melihat seorang gadis digoda oleh gadis lain? Apalagi godaannya sukses pula.

"Ehehe. Terima kasih! Kalau begitu... ini hadiahnya!"

Setelah sukses dengan godaannya, Akari mendekatkan wajah ke pipi Nanami dan memberikan ciuman ringan, "Cup".

"Pa...!?"

Nanami mengeluarkan suara ledakan alih-alih kata-kata, wajahnya memerah padam, dan otaknya mengalami short circuit.

Sebagai orang yang melihat, aku senang mereka akrab, tapi... jujur saja, aku merasa sedikit cemburu.

"Hei. Apa yang sedang kalian ributkan?"

Saat kami sedang berinteraksi seperti itu, Shiori datang dengan wajah lelah dan menegur kami yang sedang ribut.

"Ramai sekali, ya. Tapi ini koridor sekolah. Jaga sikap kalian."

""Maaf...""

Kami berdua menunduk meminta maaf pada ketua OSIS yang tegas itu.

Namun, Nanami yang belum kembali ke dunia nyata masih melamun, membuat Shiori khawatir dan mendekat.

"Nanami? Kamu tidak apa-apa? Apa kamu demam?"

"Eh...... hah!?"

Shiori menempelkan telapak tangannya ke dahi Nanami, lalu menempelkan dahinya sendiri ke punggung tangan tersebut untuk membandingkan suhu.

Meski jaraknya hanya selebar telapak tangan, wajah mereka sangat dekat, membuat Nanami mengeluarkan suara aneh lagi.

"Pa-panas sekali! Aku harus membawamu ke ruang kesehatan sekarang juga..."

"......Bukan gitu."

"......Ya?"

"Ini salah Shiori-chan!!"

"Eh!? Ke-kenapa!? Aku tidak melakukan apa-apa, kan!?"

"Justru itu masalahnya!!"

Shiori panik luar biasa menghadapi teriakan Nanami, benar-benar bingung harus berbuat apa.

Rupanya, perlakuan Shiori barusan memang murni tanpa sadar. Dia benar-benar wanita penggoda yang alami.

"Hmm... kali ini Shiori-san yang menang..."

"Sayang sekali. Memang tidak bisa menang lawan orang polos begitu."

"Na-! Apa yang kalian bicarakan!"

Akhirnya, bukannya tenang, keributan itu malah semakin menjadi-jadi sampai seorang guru yang kebetulan lewat menegur kami berempat.

Sore harinya. Aku memulai hari kerja pertamaku di tempat part-time.

Meski aku memilih jenis toko yang sama dengan tempatku bekerja di kehidupan sebelumnya selama bertahun-tahun, aku tetap merasa gugup.

Akan sangat memalukan jika aku melakukan kesalahan di hari pertama.

Selain itu, ada satu hal lagi yang membuatku khawatir. Shift-ku hari ini. Karena aku masih dalam masa pelatihan, ada instruktur yang akan membimbingku, dan dia adalah...

""Ah......""

Di pintu belakang khusus staf, aku tidak sengaja berpapasan dengan gadis yang menjadi instrukturku itu.

Rambut bob yang lembut dengan wajah yang masih menyisakan kesan kekanak-kanakan.

Saat bertemu langsung seperti ini, dia terlihat lebih ramping dibanding ilustrasi di dalam game.

Kesan fluffy yang memancar darinya adalah keimutan yang tidak dimiliki heroine lain.

Ya. Gadis di depanku ini adalah instrukturku, teman masa kecil dari protagonis Miyano Kaede, yaitu Mizukami Noa.

"......Hari pertama kerja, ya! Ibushi-kun!"

"Ah... ya. Mohon bantuannya."

Noa langsung memasang senyum lebar dan menyapaku dengan nada santai seperti saat dia berbicara dengan teman-temannya di kelas.

Bisa bersikap baik bahkan pada Ibushi Reo, dia benar-benar main heroine yang sesungguhnya.

"Wah~ nggak nyangka cowok sekelas bisa part-time di tempat yang sama ya~. Kebetulan banget~"

"......Iya, ya. Aku sendiri nggak nyangka kalau Mizukami part-time di sini."

Sambil berbasa-basi, kami menuju ruang staf. Meski begitu, aku bicara apa adanya. Di dalam game, tidak pernah ada cerita Noa bekerja part-time.

Jadi, saat melihat nama yang familiar di jadwal shift, jantungku rasanya berhenti.

Aku sempat berpikir untuk mencari pekerjaan lain agar bisa menghindar, tapi tempat ini menawarkan gaji per jam yang tinggi.

Selain itu, jarang ada tempat yang mau mempekerjakan orang seperti diriku. Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk bersikap profesional saja.

Aku mengganti seragam dan memulai pekerjaan pertamaku.

Noa mengajariku aturan dan prosedur toko dengan teliti, dan karena ini hari pertama, dia mengajariku cara mencuci piring dan membersihkan peralatan makan pelanggan.

"Untuk pemula... kamu cekatan juga, ya."

"Ah... itu karena cara mengajar Mizukami bagus."

Di kehidupan sebelumnya, aku sudah sering disiksa di tempat kerja.

Selalu kekurangan staf sampai berkali-kali berpikir untuk resign. Yah, sebelum itu sempat terjadi aku mati sih.

Dibandingkan dulu, lingkungan di sini sangat nyaman.

Stafnya banyak, pelanggannya tidak terlalu ramai juga tidak sepi. Hubungan antar staf pun tampak baik. Rasanya aku ingin menangis karena saking nyamannya.

"Kalau begitu, mau sekalian belajar cara mencatat pesanan?"

"Kalau bisa. Aku ingin segera bisa bekerja dengan lancar."

"Oke, mengerti."

Noa pasti tahu rumor tentang Ibushi Reo.

Dia pasti sudah diperingatkan oleh Kaede.

Tapi dia tetap bisa bercakap-cakap dengan natural denganku. Benar-benar communication skill yang luar biasa.

Namun, memikirkan bahwa kebaikan itulah yang memberikan celah bagi Ibushi Reo, membuatku sadar kalau hidup memang penuh ketidakpastian.

Begitulah, aku diajari pekerjaan lainnya oleh Noa, dan aku berhasil menyelesaikan hari pertamaku tanpa melakukan kesalahan.

"Kerja bagus hari ini~. Hebat, lho, Ibushi-kun. Sempurna."

"Tidak juga... mungkin?"

"......Fufu. Positif banget, ya~."

Setelah shift selesai hari itu, aku mengobrol dengan Noa di ruang staf. Meskipun aku bertekad untuk bersikap profesional, aku sudah terlanjur terpikat oleh pesona misterius yang dimiliki Noa.

Dia benar-benar pendengar yang baik, jadi obrolan kami terasa sangat santai. Inilah yang disebut heroine tipe teman masa kecil.

Dunia sering menyebutnya sebagai "atribut kekalahan", tapi kalau seseorang seperti ini adalah teman masa kecilmu, mustahil kalau tidak jatuh cinta.

Si brengsek Kaede itu benar-benar orang yang beruntung.

Keesokan harinya. Karena tempat part-time kami sama, aku mencoba memikirkan sedikit tentang kehidupan sehari-hari Noa.

"Ne-ne! Lihat postingan kemarin, deh! Aesthetic banget! Lain kali ajak aku juga ya!"

Dia adalah pusat perhatian di kelas, selalu berbicara dengan seseorang. Biasanya dengan gadis-gadis hype, tapi dia juga bicara dengan laki-laki dan para otaku dengan ceria.

"Nah, siapa yang tahu jawaban pertanyaan ini?"

"Saya!"

Bahkan saat pelajaran, dia aktif mengangkat tangan. Teman sekelas, bahkan guru, memberikan kepercayaan yang sangat berat padanya dengan berpikir, "Kalau Noa pasti bisa menjawabnya."

Kepercayaan itu tidak hanya saat pelajaran, tapi juga saat istirahat.

Mengangkut dokumen, mengumpulkan catatan, semua selalu diminta pada Noa. Melihatnya dari jauh pun terasa sangat berat.

"Maaf, Noa-chan! Aku ada janji! Tolong gantikan piketku ya!"

"Oke! Selamat bersenang-senang!"

"Makasih!"

Sepulang sekolah pun Noa masih dimintai tolong.

Seorang anggota piket kebersihan meninggalkan tugasnya pada Noa dan pulang bersama temannya.

Sesaat setelah gadis itu pergi, Noa mengerutkan dahi, namun segera kembali tersenyum seperti semula.

Aku sempat ragu apakah harus menegurnya, tapi aku memutuskan untuk tidak terlalu ikut campur di sekolah.

Kaede juga belum pulang, dia pasti akan membantu Noa. Dia harusnya bisa melakukan itu.

Saat aku sedang memikirkan hubungan mereka di jalan pulang sambil membiarkan Noa dibantu oleh Kaede, aku merenungkan hubungan mereka berdua.

Kalau tidak salah di dalam game, Kaede dan Noa seharusnya berpacaran sebelum liburan musim panas.

Jadi, sangat wajar kalau sekarang mereka sudah berpacaran. Ada keinginan untuk bertanya langsung, tapi itu terlalu lancang. Semoga saja hubungan mereka berjalan lancar...

"Ah, gawat..."

Sampai di rumah, aku membuka kulkas untuk memikirkan makan malam, dan isinya benar-benar kosong.

Aku lupa kalau rencananya mau belanja di jalan pulang tadi.

"Hmm... burger, deh."

Aku sempat ragu untuk pergi ke supermarket, tapi suasana hatiku sedang ingin memakan junk food, jadi aku memutuskan pergi ke toko burger terdekat.

"Selamat datang. Makan di sini atau bungkus?"

"Saya makan di sini."

Biasanya aku membungkus, tapi entah kenapa aku ingin makan di tempat.

Rupanya mulai hari ini sedang ada menu terbatas, dan saat aku melirik daftar menu...

[Triple Beef Mountain Garlic Burger]

Foto burger raksasa yang namanya saja membuat perut terasa kenyang sudah terpampang besar.

Aku sempat ragu untuk mencoba tantangan itu, tapi harganya mahal dan takut mengganggu aktivitas setelah ini, jadi aku memesan set biasa.

Setelah menunggu beberapa menit, aku menerima pesananku dan mencari meja. Mungkin karena jam sibuk, toko sedikit ramai. Saat aku hampir menyesal tidak membungkusnya...

"Hamu... nnn~~!"

Aku menemukan Noa duduk sendirian di meja, sedang melahap burger dengan sangat lahap. Terlebih lagi, dia memakan burger edisi terbatas yang itu.

Aku sempat mencoba berpura-pura tidak melihat, tapi mataku tidak bisa lepas dari tumpukan burger, kentang, dan nugget di atas mejanya.

"Ah... a..."

Saat Noa membuka mulutnya lebar-lebar untuk melahap burger lagi, dia menyadari keberadaanku dan benar-benar membeku dengan mulut terbuka.

"......Mencari kursi kosong......"

Meski sudah bertatapan, aku sadar dari reaksi Noa bahwa ini jelas pemandangan yang tidak boleh kulihat, jadi aku mencoba berpura-pura tidak tahu...

"Ah, bukannya Ibushi-kun! Kebetulan sekali~! Di sini kosong, lho!"

Di luar dugaan, Noa memanggilku dan mengajakku duduk di hadapannya.

Suaranya ceria, tapi matanya sama sekali tidak tertawa. Aku merasakan tekad kuat bahwa dia tidak akan melepaskanku.

"Kalau begitu... aku terima tawarannya."

Sadar tidak bisa lari, aku duduk di hadapan Noa dengan patuh.

"Ini, buat kamu~!"

"......Aku nggak minta."

"Sudah, ambil saja!"

Begitu duduk, salah satu burger disodorkan padaku. Lagipula, berkurang satu pun tidak akan mengubah kesan rakus itu.

"Mizukami saja yang makan. Punyaku sudah ada."

"Eh, aku nggak bisa makan sebanyak ini. Silakan."

"......Itu tidak mungkin."

"Haha... ya juga, ya......"

Menyerah dengan alasannya, Noa menghela napas panjang dan mulai memakan kentangnya.

"Sial banget... harusnya kubungkus saja..."

Sikap Noa yang ini berbeda sekali dengan sisi cerianya di tempat part-time atau sekolah. Bahunya terasa rileks, dan suaranya terasa lebih rendah.

"Aku kasih tahu ya. Aku nggak selalu kayak gini. Cuma hari ini aku capek banget. Apalagi ini menu terbatas. Ini adalah cheat day spesial."

Noa memakan kentang, nugget, dan minum soda di sela-sela penjelasannya.

Makanan itu menghilang dengan sangat cepat, membuatku tidak bosan melihatnya.

"......Jangan dilihat terus. Kalau nggak mau makan, biar aku saja?"

"Maaf. Kebiasaan."

Aku meminta maaf karena tanpa sadar terus memperhatikannya, dan aku pun mulai memakan burgermu.

"......Bagaimana dengan Miyano? Bukannya pulang bareng?"

Mengingat kejadian pulang sekolah tadi, aku memberanikan diri untuk bertanya. Noa kemudian menghela napas lagi dan mengeluh dengan wajah masam.

"Aku nggak pulang bareng Kaede kok~. Emangnya kenapa~"

"......Begitu ya. Maaf."

"Bukan apa-apa kok~. Ibushi-kun juga nggak salah~"

Noa menghabiskan sisa kentangnya sekaligus dengan wajah masam, lalu meminum sodanya.

"......Haa. Maaf. Aku mungkin lagi capek banget. Istirahat dulu."

Tiba-tiba Noa meminta maaf dan menundukkan kepala. Hal ini juga sempat digambarkan dalam game, Noa memiliki kecenderungan untuk memendam segalanya sendirian.

Dia makan dan minum berlebihan untuk melepas stres tersebut. Harusnya itu adalah tugas protagonis Kaede untuk mendukungnya, tapi...

"......Oke! Maaf ya, Ibushi-kun! Ngomong-ngomong, gimana part-time-nya? Besok juga kan? Manajer bilang kamu 'sepertinya bisa diandalkan'!"

Setelah diam beberapa detik, Noa menjadi ceria seolah tombolnya baru saja diaktifkan. Kecerian ini mungkin adalah bentuk batas diri. "Jangan masuk lebih jauh lagi."

Faktanya, bukan aku yang punya peran untuk masuk ke sana, dan aku tidak merasa sudah sedekat itu dengannya.

Namun, karena ingin memberikan sedikit perhatian pada Noa yang sudah bekerja keras, aku menyodorkan kentang goreng milikku.

"Punyakuku belum kusentuh. Ini buat kamu."

"......Eh? Nggak apa-apa! Aku sudah nggak bisa masuk lagi~!"

"Nggak apa-apa kok. Bukannya ini cheat day? Jangan pikirkan aku."

"......Apa ini artinya aku digoda?"

"Nggak ada maksud ke sana. Kalau nggak mau, aku makan nih."

"......Fufu. Bercanda! Dengan senang hati kuterima!"

Noa menerima kentang itu dengan sangat gembira, lalu memakannya dengan lahap.

Tidak, tapi sungguh, cara makannya sangat luar biasa.

Burger terbatas yang ukurannya sebesar itu kini tersisa dua gigitan saja.

"......Itu enak?"

"Oh, kamu penasaran? Ngomong-ngomong ya, itu bener-bener enak banget!"

"Serius? Kalau gitu aku juga... nggak, deh..."

Aku sempat berpikir untuk mencobanya, tapi kata "bawang putih" membuat penilaianku ragu.

Aku tidak akan bisa bangkit kalau sampai Akari dan yang lain bilang aku "bau".

"Apa jangan-jangan Ibushi-kun... terganggu sama bawang putihnya?"

"Terganggu sekali."

"Haaa... lihatlah aku di depanmu. Kalau memikirkan hal semacam itu, kamu nggak akan bisa menaklukan Mountain Burger ini!"

Noa melahap sisa burgernya, menunjukkan senyum puas seolah tidak menyesali apa pun.

"Muhuu... bagaimana, Ibushi-kun? Ini adalah wanita yang membuang sekolah dan part-time besok."

"Wah, luar biasa, Senpai. Aku benar-benar hormat."

"Fufun. Kouhai-kun juga harus mencobanya. Selain enak, sensasi bersalahnya itu yang terbaik. Apalagi sekarang, Senpai baik hati mau menanggung separuh dosa itu untukmu."

"......Itu cuma alasan Senpai mau makannya lagi, kan?"

"......Bisa dibilang begitu!"

Meski awalnya hanya bercanda, Mizukami merespons dengan improvisasi yang pas. Tapi kami berdua tidak bisa menahan tawa karena responsnya yang terlalu santai.

"Ahahaha! Dasar! Apaan tuh 'aku hormat'!"

"Lagian kamu... padahal licik mau makan setengahnya."

"Ya nggak mungkin lah! Emangnya aku food fighter!"

"......Terus, sisa burger itu?"

"Itu tempat berbeda! Ini fish burger, kok! Rasa lemonnya yang terbaik~"

Dia membuka bungkus burger yang lebih kecil dibanding burger terbatas tadi, dan mulai memakannya dengan santai.

Aku ingin bilang kalau bisa makan sebanyak itu berarti "tempat berbeda" itu tidak bohong, tapi aku menahannya. Kalau aku protes serius tentang "tempat berbeda" bagi wanita, aku pasti bakal dimarahi.

"Nmm! Enak!"

"......Syukurlah kalau gitu."

Pada akhirnya, aku tidak memesan burger terbatas itu, dan hanya dibuat kewalahan melihat cara makan Noa yang membuat perutku kenyang hanya dengan melihatnya.

Siang hari Rabu, 4 September. Ruang OSIS sedang sibuk rapat. Nanami bilang ada tugas komite perpustakaan, jadi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku makan siang hanya berdua saja dengan Akari...

"Jangan lihat ke sini, dasar mesum menjijikkan."

"Iya, iya..."

Entah di mana salahnya, aku malah duduk satu meja berdua saja dengan Sakura di kantin.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Penyebabnya berawal dari beberapa menit yang lalu.

Karena cuaca atap sekolah terlalu panas di musim panas ini, Akari datang membawa Sakura yang sudah cemberut ke depan kantin, tempat yang biasa kami jadikan tempat berkumpul makan siang.

"Senpai! Hari ini Sakura juga ikut, nggak apa-apa kan!"

"Aku sih nggak masalah..."

"Aku sih keberatan! Terpaksa ikut karena Akari yang bilang!"

Sakura menggonggong dengan imut dengan sikap tsun-tsun-nya seperti biasa.

Di dalam game, tidak ada elemen tsundere pada Sakura, jadi sepertinya dia memang benar-benar membenciku.

Kami bertiga masuk ke kantin dan mencari meja kosong.

Aku bersiap untuk makan siang yang gaduh, namun sebelum itu, Akari yang wajahnya terlihat sedang merencanakan sesuatu berseru "Ah!" sambil melihat ke meja lain.

"Itu Tomo-chan dan yang lain! Aku mau ngobrol sebentar! Sakura tunggu di sini ya! Aku bakal balik lagi!"

"Hah!? Tunggu, Akari!"

Yang ada di pandangan Akari sepertinya adalah grup teman-temannya.

Sakura mencengkeram lengan Akari yang mencoba bergabung dengan grup tersebut.

"Bukannya tadi bilang mau makan bareng aku!?"

"Iya makan bareng sih, tapi... aku cuma mau ngobrol bentar!"

"Kalau gitu aku ikut!"

"Sakura nggak boleh~. Tunggu di sini ya!"

"Kenapa!?"

"Ya ya ya, tenanglah Sakura-kun. Kalau tidak, aku akan memberi tahu Senpai tentang 'hal itu' lho~?"

"......! Itu saja jangan!"

"Nfufu! Oke, diputuskan! Senpai! Tolong jaga Sakura ya!"

"Oke... selamat bersenang-senang."

Tidak ada celah bagiku untuk ikut bicara, Akari sudah pergi ke arah grup temannya.

Sakura yang ditinggalkan mengembungkan pipinya dengan tidak puas, namun dengan terpaksa membuka kotak bekalnya.

"Jangan lihat ke sini, dasar mesum menjijikkan."

"Iya, iya..."

Seperti itulah alurnya hingga sampai di situasi sekarang ini. Strategi Akari mungkin adalah "ingin kami berdua akrab" atau semacamnya.

""......""

Meski sadar akan hal itu, kami tidak bisa saling bertukar kata. Sakura pasti membenciku, dan dari sudut pandangku, Sakura adalah satu-satunya heroine tanpa bad ending di game itu.

Aku tidak ingin memperdalam hubungan dan mengubah alur game.

...Yah, rasanya sudah terlambat untuk itu sih. Singkatnya, aku hanya ingin melakukan apa yang bisa kulakukan.

Sambil tetap diam, aku mengeluarkan bekal dan mulai memakan masakan buatan Shiori.

Saat aku melirik ke arah Akari, dia sedang mengobrol dengan temannya sambil terus melirik ke arah sini dengan tidak sabar.

Mengesampingkan soal bad ending atau karena dia adik Kaede, citra Sakura di mataku adalah "adik perempuan imut yang menyayangi kakaknya".

Di game, dia adalah hidden heroine, dan di Sakura route, cinta yang digambarkan sangatlah mendalam.

Ero-love yang tidak ada hentinya, mulai dari melakukannya di pintu masuk rumah sampai di sofa ruang tamu.

Ditambah lagi, spesifikasi khusus karena dia tidak punya bad ending.

Rupanya pembuat game-nya masih punya hati nurani.

Padahal aku ingin mereka berbagi hal itu pada heroine lain.

"......Ne, sebentar."

"Hm?"

Saat aku sedang makan bekal dengan tenang sambil memikirkan Sakura, dia malah menegurku.

"Kasih telur dadar kamu."

"......Nggak mau."

"Kenapa? Kan nggak apa-apa cuma satu."

"Ini punyaku."

"Pelit. Menjijikkan."

Mungkin karena telur dadar buatan Shiori terlihat sangat enak, Sakura memintanya dengan sikap tsun-tsun.

"Haa... kalau nggak mau kasih, jangan makan seenak itu. Mengganggu konsentrasiku saja."

"Jangan minta hal yang nggak masuk akal dong..."

Itu benar-benar tidak adil. Tidak mungkin aku tidak bereaksi saat makan masakan Shiori. Syukuri saja aku tidak menangis saat memakannya.

"......Terus, itu apa? Buatan sendiri? Atau buatan Ibu?"

"Ah... ya... aku sendiri sih yang nggak buat."

Aku tidak mungkin bilang itu buatan Shiori, dan merasa tidak enak kalau bilang buatan Ibu, jadi aku mengelak seadanya. Sakura kemudian salah paham dan menatap ke arah Akari.

"Jangan-jangan Akari? Nggak mungkin kan?"

"Silakan berimajinasi sendiri."

"Wah, menjijikkan. Jangan pamer hal semacam itu."

"Sudah kubilang jangan minta hal yang nggak masuk akal..."

Aku terus mengelak dari pertanyaan Sakura.

Tapi, ini tak terduga. Sakura yang kukira tidak mau bicara denganku, ternyata tidak sebenci itu padaku.

Kalau begitu. Mungkin aku bisa mendengar informasi tentang Kaede atau Noa lewat Sakura.

Aku mencoba bertanya, tapi...

"Hei Sakura. Kaede dan Mizukami itu──"

"Jangan panggil namaku. Menjijikkan."

Memang benar sih, tapi sulit membedakannya dengan Kaede, jadi mau bagaimana lagi.

"......Jadi, Miyano. Sebenarnya, bagaimana hubungan kalian berdua──"

"Siapa yang kamu panggil Miyano? Kakak juga bernama Miyano, tahu."

Sabar, sabar, tenang diriku. Jangan marah, jangan marah. Anggap saja ini bagian dari keimutannya.

"............Lalu, bagaimana hubungan kalian sekarang──"

"Berisik sekali, bicara sendiri terus. Diamlah."

"............Fuuuuu."

"Wah, apa itu? Hentikan. Itu benar-benar menjijikkan."

Aku benar-benar hampir mencapai batas dan menarik napas panjang.

Sikap jual mahal (tsun) juga ada batasnya. Ujung-ujungnya, dia pasti ingin bilang "jangan ajak aku bicara". Padahal dia sendiri yang memulai pembicaraan tadi.

"......Kalau kamu memang ingin sekali bicara denganku, kasih aku telur dadarnya."

Saat aku sedang menahan amarah, Sakura menunjuk telur dadar di kotak bekal dan mengajukan permintaan itu. Jadi, ini tujuannya dari tadi.

"Iya, iya...... ini, ambillah."

"Asyik. Itadakimasu."

Aku menyerah untuk melawan dan menyodorkan telur dadar itu. Sakura tersenyum sangat manis dan merampas satu potong.

Tolong, jangan ucapkan "Itadakimasu" dengan tulus begitu. Aku jadi hampir memaafkan sikap dinginnya tadi.

"Nyam...... Hmm! Enak sekali...... Eh, ini Akari yang buat...?"

"Entahlah. Nah, sekarang boleh aku bicara?"

"............Silakan."

Izin akhirnya turun, dan aku bisa menanyakan keadaan Kaede dan yang lainnya.

"Jadi... apakah hubungan mereka sudah maju?"

"Apa itu? Pertanyaanmu menjijikkan."

"Bukan begitu. Mengertilah posisi kami yang dipaksa menonton adegan yang bikin gregetan itu. Satu kelas sudah berharap kalian cepat jadian, tahu."

"Hmph......"

Aku bertanya sambil menyelipkan kebohongan seperlunya. Sakura tampak sedikit berpikir, lalu mengambil kesimpulan dengan cukup santai, "Yah, sudahlah."

"Sepertinya begitu. Aku dengar dari Noa-san."

"Begitu ya...... kalau begitu baguslah."

"Apa itu? Kamu bicara seolah-olah siapa?"

Kalau mereka sudah resmi berpacaran, aku sungguh lega.

Pasti akan ada banyak hal yang terjadi ke depannya, tapi selama tidak ada pengganggu bernama Ibushi Reo, hubungan mereka seharusnya tidak akan hancur. Tolong, hiduplah bahagia sesuka kalian.

"............Yah, Akari juga bodoh sih. Seharusnya dia pilih Kakak saja, bukannya sampah sepertimu."

"Sampah itu terlalu kasar, tahu."

Mengingat apa yang dilakukan Ibushi Reo selama ini, pemilihan katanya memang masuk akal, tapi tetap saja berbahaya.

Apa dia tidak terpikir kalau seandainya aku masih jadi sampah?

"Kakak itu sangat baik sekali. Noa-san juga terlihat senang. Dia lebih keren darimu, main game juga jago, dan sangat lembut. Tidak sepertimu, dia pacar yang sangat baik yaーーー"

"Ya, ya, terserahlah."

Mengabaikan tanggapanku, Sakura mulai memamerkan kehebatan Kaede sesuka hatinya.

Namun, Sakura terlihat sangat bahagia saat membicarakan Kaede, dan itu menunjukkan betapa dia sangat menyayanginya. Aku juga ingin dibagikan perhatian semanis itu sedikit saja.

"Tungguuuuu sebentaaaar! Stop!"

"Wah, tiba-tiba kenapa?"

Suasana yang tadinya membaik membuatku berpikir untuk mendengarkan ceritanya sebentar lagi, tapi Akari tiba-tiba kembali dengan panik.

"Aku tidak menyuruh kalian sampai sedekat itu!"

"Lagipula aku juga tidak menanyakan hal sejauh itu."

"Ah...... hehe!"

"Jangan 'hehe' padaku..."

Dengan kembalinya Akari, pembicaraan tentang Kaede pun menghilang begitu saja.

Setelah itu, Akari ikut meminta telur dadar, Sakura pun meminta "satu lagi", hingga akhirnya yang tersisa untukku hanyalah satu potong yang kumakan di awal.

Jumat, 6 September. Kami berempat makan siang di ruang OSIS seperti biasa di semester satu.

"Ugh............"

Di tengah suasana itu, Shiori tiba-tiba memegang kepala dan merintih, hal yang sangat jarang terjadi. Karena penasaran dengan apa yang membuatnya sampai sepusing itu, aku pun bertanya.

"Ada apa?"

"Itu, lho...... Pemilihan ketua OSIS sudah dekat, kan? Tapi sampai sekarang...... belum ada calon ketua OSIS berikutnya......"

"Ah......"

Mendengar keluhan Shiori, aku merasa sangat maklum dengan situasi itu. A

ku mengerti alasan mengapa bukan hanya siswa biasa, tapi bahkan anggota OSIS saat ini pun tidak ada yang mau menjadi ketua berikutnya.

Pasti karena beban menjadi penerus Shiori yang seorang manusia sempurna itu sangat berat. Lagipula, mereka pasti akan terus dibandingkan dengannya.

"Harus bagaimana, ya......"

Shiori memegang kepalanya sambil menatap layar komputer. Mau tidak mau, ini juga masalah bagi kami. Kami meminjam ruang OSIS ini untuk makan siang, dan kalau ketua OSIS berganti, mungkin kami tidak akan diizinkan lagi.

"Jiiiii......"

"......Kenapa, Akari?"

Saat aku sedang memikirkan nasib ruang OSIS setelah ketua berganti, Akari menatapku dengan tatapan tajam.

"Aku baru saja dapat ide bagus!"

"Ya, katakanlah."

"Bagaimana kalau Senpai saja yang jadi ketua OSIS!"

"Aku menolak."

"Cepat banget!?"

Aku langsung menolak usul Akari. Menjadi ketua OSIS sama sekali bukan gaya hidupku, bahkan di kehidupan sebelumnya. Lagi pula, tidak mungkin berbagai pihak akan membiarkan Ibushi Reo menjadi ketua OSIS.

"............Memang benar. Itu ide yang bagus."

"Ketua juga...... itu mustahil, kan?"

"Tidak, tidak mustahil. Kalau kamu, kamu pasti bisa. Nanami, kamu juga berpikir begitu, kan?"

"U-um...... tapi bukannya atributnya terlalu banyak ya kalau untuk ukuran ketua......"

"Kalian mau bilang apa pun, aku tidak akan jadi ketua OSIS. Itu bukan gaya hidupku dan bebannya terlalu berat."

"Jangan begitu~"

Saat kami sedang mengobrol seperti itu, pintu ruang OSIS diketuk. Tok, tok, tok.

"Permisi. Apakah Ibushi Reo-kun ada di sini?"

"......Ah. Dia ada."

Suara itu pasti milik Noa. Saat Shiori menjawab, pintu terbuka dengan tenang.

"Permisi. Saya Mizukami Noa dari kelas dua. Saya datang karena ada perlu dengan Ibushi-kun."

"Begitu katanya."

"......Aku pergi dulu."

Setelah diberi kode oleh Shiori, aku menghampiri Noa di depan pintu. Ini pertama kalinya dia mengajakku bicara di sekolah, padahal di tempat kerja biasa saja.

"Ada apa?"

"Itu... mendadak sih, tapi apa kamu bisa masuk shift makan malam hari ini? Katanya ada satu staf yang tidak bisa datang."

"Ah...... oke. Bisa kok."

"Benarkah? Syukurlah!"

Ternyata cuma soal pekerjaan. Aku sudah terbiasa dipanggil mendadak sejak dulu, dan aku juga ingin segera menyelesaikan masa pelatihanku.

"............Lalu, anu."

Setelah selesai bicara, Noa menatap sosok di belakangku dengan tatapan menyelidik.

"Kenapa ya, aku ditatap begitu sinis......?"

"Hmph!"

"Jangan dimasukkan ke hati. Ini bukan salah Mizukami."

Sejak dipanggil oleh Noa, Akari terus menempel di belakangku sambil mengintimidasi Noa.

Ah, benar juga, hubungan Akari dan Kaede renggang karena kehadiran Noa. Dia pasti merasa kesal.

"Reo-senpai tidak akan aku berikan! Aku yang pertama!"

"......Arah. Jadi begitu ya?"

"............Yah, begitulah."

Noa menebak situasinya dan menggodaku. Mungkin karena perilaku itu membuat Akari kesal lagi, dia berteriak.

"Ugh............ Dengar ya! Senpai itu pacar kami! Jadi jangan harap bisa mengambilnya!"

"Hei, Akari......!"

"Tenang, tenang! Aku tidak akan mengambilnya... tunggu, kami!?"

Noa mencoba menangani ucapan keceplosan itu dengan tertawa, tapi meski dia pendengar yang baik, dia tidak bisa memproses kata ganti jamak itu dengan cepat dan memasang wajah terkejut.

"Eh, Ibushi-kun? Maksudnya gimana!? Apa itu maksudnya!?"

"Eh, anu...... yah............ maksudnya............ seperti itu."

"Eh, ee... heh............ Boleh aku mundur dua langkah dulu?"

"......Silakan."

Menerima pengakuan yang mengejutkan itu, Noa tampak menarik diri.

Dia menjauhkan jarak dariku, lalu menunduk dengan senyum canggung yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Kalau begitu, sampai jumpa nanti...... eh, selamat berbahagia ya."

"Ya......"

Noa pergi meninggalkan ruang OSIS seolah melarikan diri.

Melihat punggungnya, Akari membusungkan dada dengan bangga seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan besar, lalu kembali ke kursinya.

"Sekarang jadi tenang!"

"Tenang apanya, hei."

"Aduh!?"

Aku sedikit menjitak kepala Akari yang duduk dengan bangga.

Sebenarnya aku tidak berniat menyembunyikan ini, dan aku yakin Noa bukan orang yang akan menyebarkan rahasia, tapi aku tidak menyangka bakal terbongkar dengan cara seperti ini.

"Ini salah Senpai! Cepat sekali akrab dengan perempuan lain!"

"Bukan begitu, aku sama Mizukami tidak seperti itu."

"Itu juga pernah kudengar waktu Nanami-senpai!"

"............Maaf."

Kalau sudah disudutkan dengan argumen logis, aku tidak bisa melakukan apa pun selain minta maaf.

Meski tidak pernah ditunjukkan, ternyata Akari juga punya sifat posesif yang kuat.

"Untuk Senpai yang nakal! Ini hukumannya!"

Akari tiba-tiba berdiri dan menciumku dengan penuh semangat.

Aku tidak mencoba menghindarinya dan menerimanya dengan senang hati.

"Cup...... uuu............ hehe. Oke! Maafkan!"

"Kamu cuma mau melakukannya sendiri saja, kan......"

"Bisa dibilang begitu!"

"Haa...... Hei, kalian berdua."

Karena dipaksa menonton adegan mesra yang tiba-tiba, Shiori menghela napas dan menegur kami.

"Ini sekolah, tahu. Aku sudah bilang berkali-kali bukan, jangan lakukan hal yang berlebihan? Coba tahan sedikit diri kalian."

"""............"""

Jiiiii...

"......Ke-kenapa. Kenapa kalian bertiga menatapku seperti itu."

Teguran itu sangat wajar dilakukan sebagai ketua OSIS, tapi kata "tahan diri" itu justru membuat kami bertiga tersinggung. Alasannya adalah...

"Shiori-chan sendiri...... padahal sering sekali berciuman dengan Reo-kun."

"A-apa...!?"

"Benar sekali. Waktu sesi belajar bersama saja, saat ada kesempatan, kalian berdua sering 'cup-cup'-an, kan?"

"Ti-tidak!? Tidak, kan!?"

"Kami sudah berapa kali pura-pura tidak tahu...... kan, Nanami-senpai."

"Iya, benar. Bahkan kalian melakukan yang dalam diam-diam. Bukankah kalian tidak bisa menahan diri sama sekali?"

"Na...... a...... uuuuuuu......! Reo! Katakan sesuatu!"

"Iya, iya......"

Shiori yang wajahnya memerah karena malu meminta tolong padaku.

Tapi meski dia memintaku bicara, aku tidak bisa membantah karena itu fakta.

Lagipula, Shiori sendiri yang sering meminta duluan.

Meskipun begitu, sebagai pacar, sudah tugasnya untuk membantu saat diminta. Aku tidak mau dia merajuk.

"Aku melakukannya karena aku juga ingin bersama Shiori, jadi dia menyesuaikan diri saja."

"............Be-benar! Karena Reo yang meminta, jadi aku terpaksa!"

""Hee...... Arah......""

Melihat Shiori menerima tawaran bantuanku tanpa ragu sedikit pun, Akari dan Nanami tersenyum licik dan mulai merencanakan sesuatu yang nakal.





"Jadi, artinya kalau kami ingin ciuman dengan Senpai, boleh-boleh saja, kan!"

"Tidak...... itu beda masalahnya......!"

"Reo-kun. Ayo."

"Hah!? Nanami!?"

Mungkin karena berpikir sekaranglah saat yang tepat untuk meruntuhkan pertahanan Shiori, Nanami datang menghampiriku dan langsung mencium bibirku dengan ringan.

"......Fuhehe. Ternyata cukup...... memalukan, ya............"

"Curang...... tidak! Sudah kubilang jangan, kan!? Jaga sedikit kesopanan kalian......"

"......Shiori."

Aku memanggil Shiori yang masih terpaku pada perannya sebagai ketua yang harus menegur, lalu memberi isyarat tangan.

Shiori menunjukkan ekspresi yang tak bisa dijelaskan—campuran antara kesal, malu, dan iri—tapi dia segera berdiri dari kursinya dan mulai mencari-cari alasan.

"......Yah, aku, sebenarnya tidak ingin, tapi kalau Reo yang memintanya dengan sangat. Apa boleh buat."

Aku menerima Shiori yang suaranya terdengar girang meski sedang mencari-cari alasan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sebelum dia berubah pikiran, aku yang menciumnya lebih dulu.

"......Ngh............ yu............ dasar...... binatang buas......"

"Terima kasih."

"Oke! Misi menaklukkan Shiori-san selesai! Sekarang kita bebas ciuman sepuasnya!"

"Asyik, Akari-chan!"

"Hei...... itu beda masalahnya!"

Shiori yang tadinya memasang wajah kaku sampai beberapa saat lalu, entah karena terbawa suasana mesra ini atau bagaimana, berubah menjadi senyum ceria.

Mungkin, ini sebenarnya adalah bentuk perhatian dari Akari dan yang lainnya......

"Kalau begitu Senpai! Sekali lagi!"

"Sudah kubilang, jangan!"

......Tidak, mungkin aku salah.

 

Siang hari Sabtu, 7 September.

Kami berjanji untuk bertemu di stasiun pusat kota dan menunggu Akari yang baru saja selesai kegiatan klub sambil mengobrol.

"Maaf! Aku terlambat!"

"Kerja bagus, Akari-chan. Tidak ada yang keberatan, kok."

"I-iya! Kami juga baru saja sampai!"

Akari datang sedikit terlambat dari waktu yang dijanjikan, lalu membungkuk dengan sopan kepada kami.

Mungkin karena terbiasa dengan sopan santun di klub, dia memang serius dalam hal seperti ini.

Shiori dan Nanami menyapanya dengan lembut, dan aku pun ikut mengusap kepalanya pelan.

"Justru itu, kamu tidak apa-apa? Mau istirahat dulu di suatu tempat?"

"T-tess! Aku tidak apa-apa! Sekarang! Energiku sudah terisi penuh!"

Akari menunjukkan betapa semangatnya dia, lalu menggenggam tanganku dan berjalan di depan seolah memimpin jalan.

"Ayo pergi! Kencan berempat!"

"......Ayo."

"Bagaimana, Nanami? Mau kita coba bergandengan tangan juga?"

"Ehoh!? E...... i...... a...... mari bergandengan......"

Begitulah, masing-masing dari kami bergandengan tangan, dan kencan berempat yang penuh kehangatan pun dimulai.

 

"Wah...... yang mana ya bagusnya......"

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah toko olahraga. Tentu saja, itu permintaan Akari. Sepertinya dia ingin melihat pakaian olahraga atau sepatu.

"Hei, hei, Senpai! Ini tidak terlihat lucu kah!?"

Akari menunjukkan pakaian olahraga yang sangat mencolok dengan warna dasar merah.

Logo berbentuk bulat yang terpampang besar di bagian depan memang terlihat manis, tapi apa boleh memilih pakaian olahraga berdasarkan alasan seperti itu?

"Lucu sih...... tapi bukannya materialnya yang lebih penting?"

"Bagiku, lucu adalah yang utama! Bagaimana menurut kalian berdua!"

"Hm? Ah. Sangat bagus, bukan? Kurasa cocok untuk Akari-chan."

"Iya, benar. Kalau aku sih tidak akan cocok pakai yang lucu dan mencolok seperti itu......"

Mendengar ucapan merendahkan diri dari Nanami di tengah-tengah pamer pakaian, kami semua bereaksi serempak dan mengerumuni Nanami.

"Jangan bilang 'tidak akan cocok'. Nanami juga sangat manis, kok."

"Hyu!??"

"Benar sekali! Berikanlah kepercayaan diri! Nanami-senpai juga sangat manis!"

"Yowa......"

"Ini kesempatan bagus. Belakangan ini kamu sedang rajin olahraga, kan? Kami akan memilihkan pakaian yang cocok untukmu."

"Eh!? Tidak, tidak perlu sampai begitu......!"

"Ide bagus! Baiklah! Serahkan saja padaku~!"

Rencana awal mencari pakaian olahraga untuk Akari kini berubah menjadi ajang peragaan busana Nanami.

Kami bertiga berdebat habis-habisan mengenai ini dan itu.

 

"Haa...... bagaimanapun juga, aku merasa lebih tenang di tempat seperti ini."

Setelah diskusi sengit, kami membeli pakaian olahraga yang cocok untuk Nanami. Setelah itu, kami mampir ke toko bertema anime sesuai keinginan Nanami.

"Ternyata banyak sekali macamnya ya...... dunia yang tidak aku pahami......"

"Eh, Akari-chan tidak baca manga atau semacamnya!?"

"Bukannya tidak baca, sih. Tapi sejak kecil aku lebih suka menggerakkan tubuh...... ya, begitulah."

"......Padahal cukup menarik, lho. Aku sendiri jadi ketagihan setelah direkomendasikan macam-macam oleh Nanami."

"Aku tahu sih...... tapi awal mulanya itu yang sulit......"

Akari menatap koleksi manga dan pernak-pernik anime yang berjajar banyak dengan wajah masam.

Lalu, seolah membalas dendam atas kejadian tadi, Nanami menggenggam tangan Akari.

"Kalau begitu, jadikan hari ini sebagai awal mulanya! Beritahu aku genre apa yang ingin kamu lihat! Aku akan carikan rekomendasi untukmu!"

"......T-tess! Mohon bantuannya!"

Keduanya yang tadinya terlihat sangat bertolak belakang, kini benar-benar akur dan berjalan berdampingan menuju pojok manga.

"Bagaimana, Reo? Mau mengejar mereka?"

Shiori bertanya begitu sambil menatap punggung keduanya dengan tatapan layaknya seorang ibu. Aku menjawab sambil menahan rasa malu.

"............Itu, aku sendiri sebenarnya punya sesuatu yang ingin kucari juga."

"Begitu ya. Kalau begitu, mau pergi ke sana?"

"Bukan...... maksudku aku ingin melihatnya sendiri...... entah bagaimana ya............"

Aku melirik pojok pernak-pernik sambil memberi kode pada Shiori agar "mengerti situasi".

Barang yang kuinginkan adalah merchandise karakter dari game ponsel. Apalagi karakter perempuan.

Lebih parah lagi, semuanya memakai baju renang. Tidak mungkin aku bisa melihatnya dengan leluasa di samping Shiori. Itulah kenapa aku ingin memeriksa semuanya perlahan sendirian, tapi......

"......Fufu. Kalau begitu, justru aku harus ikut. Aku harus memastikan seperti apa gadis yang jadi selingkuhanmu itu."

Syukurlah dia mengerti, tapi Shiori justru sangat berniat untuk ikut.

Dia menempel erat di sampingku, menggenggam tanganku, dan membawaku pergi dengan senyum yang sangat ceria.

 

"Hmph. Jadi Reo suka tipe gadis seperti itu, ya. Fumu-fumu. Berguna sekali untuk referensiku."

"Aku lebih suka Shiori dan yang lainnya, kok......"

Meski diamati oleh Shiori, aku tetap memeriksa barang-barang dengan teliti dan berhasil mendapatkan acrylic stand.

Sebagai bonus, Shiori juga membeli gantungan kunci Hangan yang kebetulan ada di sana. Gantungan itu berbentuk senapan yang digunakan Seria, sangat keren. Aku juga membelinya.

"Lalu, anak-anak itu...... hm?"

Saat aku mendatangi pojok manga untuk bergabung dengan Nanami dan lainnya, aku menemukan mereka sedang antusias di depan rak buku yang berwarna serba merah muda.

"Yo...... ada sesuatu yang menarik?"

"Hah!? Reo-kun!? Tidak!? Bukan!?"

"......Kenapa?"

Nanami menggelengkan kepalanya dengan sangat berlebihan padahal aku hanya menyapa. Namun, berbeda dengan Nanami, Akari malah membandingkan sampul buku di tangannya dengan wajahku.

"Benar dugaanku...... orang ini mirip sekali dengan Senpai!"

"Akari-chan!?"

"Coba kulihat......"

Sampul yang ditunjukkan Akari menggambarkan dua orang pria.

Salah satu dari mereka terlihat jelas seperti seorang berandalan...... dan atmosfernya mirip dengan Ibushi Reo.

Tunggu, bukannya ini BL? Apakah itu alasan Nanami tadi panik? Satunya lagi entah kenapa mirip dengan Akari.

"Awawa......! Ini tidak seperti itu......!"

Hanya Nanami yang terus panik sendirian. Mungkin dia tidak ingin ketahuan kalau dia membaca BL.

Sebenarnya aku tidak peduli dengan hal semacam itu, tapi mungkin lebih cepat menunjukkan tindakan daripada sekadar kata-kata.

"......Aku beli."

"Ah, kalau begitu aku juga! Ayo baca bersama!"

"Fumu...... kalau begitu aku juga. Hitung-hitung mencoba sesuatu yang baru."

"Eh, eh, eh, eh, eh??"

Mengikuti langkahku, Akari dan Shiori pun memutuskan untuk membeli. Menghadapi pemandangan itu, Nanami hanya bisa melongo, belum memahami situasi yang terjadi.

"Ne, nee, Reo-kun............ hal seperti itu...... juga...... oke...... buatmu?"

"Ya. Lagipula, aku cukup suka sentuhan seninya."

"!! Mengerti!!!!"

Mendengar ucapanku, kecemasan Nanami lenyap sama sekali, dan kami bertiga akhirnya harus mendengarkan penjelasan panjang lebar darinya dengan kecepatan bicara yang luar biasa seperti biasa.

 

"Untuk empat orang, ya. Silakan duduk di meja ini."

Setelah berkeliling memenuhi keinginan masing-masing, akhirnya kami mampir ke restoran keluarga di depan stasiun. Sungguh restoran keluarga biasa tanpa ada yang istimewa.

"Mau makan apa ya!"

Begitu duduk, Akari bersorak sambil memandangi menu.

Namun, ada seseorang di sampingku yang lebih antusias menikmati menu dari sudut ke sudut daripada Akari.

"Heh...... ternyata yang seperti ini juga...... harganya memang murah ya......"

Mata Shiori berbinar melihat banyaknya pilihan makanan dan harganya yang terjangkau.

Ngomong-ngomong, Shiori-lah yang meminta untuk datang ke restoran keluarga ini. Dia tidak memberitahu alasannya, tapi sepertinya dia memang ingin sekali mencobanya.

"Jangan sungkan kalau ada yang ingin dimakan. Ada aku, dan ada Akari juga. Kami pasti akan menghabiskannya sampai tandas."

"......Benar juga. Maaf untuk Nanami yang sedang diet...... tapi biarkan aku menikmatinya ya."

"E-eh? Bukannya tadi lusa kamu bilang begitu juga?"

"Ugh......!"

Sambil saling melontarkan obrolan ringan, masing-masing memesan apa yang diinginkan.

Kami mengenang kembali kencan hari ini dan membicarakan masa depan, percakapan yang sangat normal untuk menutup kencan yang normal.

 

"Ne, nee, Shiori-chan."

"Hm? Ada apa?"

Nanami, yang sedang menikmati cheat day keduanya minggu ini, bertanya pada Shiori sambil melilitkan pasta tinta cumi-cuminya ke garpu.

"Kenapa harus restoran keluarga?"

"............Apa aku harus mengatakannya?"

"Aku ingin dengar!"

"Sudahlah Akari. Telan dulu makanannya baru bicara."

Mendengar pertanyaan Nanami, Shiori tampak malu-malu dan ragu, lalu menghela napas pasrah sebelum memberitahu alasannya.

"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya mengagumi tempat seperti ini. Makan di luar sambil membicarakan hal-hal konyol dengan teman sekolah. Bagi kalian mungkin ini biasa, tapi bagiku ini adalah hal yang sangat aku iri...... yah, yah. Meskipun rasanya agak aneh menyebut kalian sebagai teman."

Shiori menutup curhatannya dengan wajah yang sangat malu, lalu memasukkan pizza ke mulutnya untuk menyembunyikan rona wajahnya.

Melihat pipi Shiori yang sedikit memerah, Akari yang baru saja menelan makanannya langsung berseru.

"Tidak apa-apa, Shiori-san! Kita adalah teman selamanya! Tidak, justru! Kita adalah keluarga! Keluarga Reo!"

"Pffft!? Nama macam apa itu! Ditolak!"

"............Fufu. Terima kasih, Akari-chan. Begitu ya. Mungkin kita memang sudah selayaknya keluarga."

"Keluarga Reo...... ternyata terdengar oke juga."

"Bahkan Nanami pun!?"

Nama yang dibuat hanya karena keisengan Akari itu akhirnya justru disukai oleh Shiori dan Nanami, sehingga nama itu pun menetap.

Aku terus membujuk agar setidaknya tidak menyertakan namaku di dalamnya, tapi aku tidak bisa menghentikan ketiga gadis yang sedang dalam suasana hati yang sangat bersemangat itu.

 

Setelah itu, kami mengobrol dengan seru di restoran keluarga untuk beberapa saat, lalu berpisah di stasiun.

Kalau saja tidak memikirkan jumlah orangnya, kami benar-benar menikmati kencan yang layaknya pasangan kekasih biasa.

Begitu banyak hal yang telah terjadi.

Aku hanya berharap kami bisa terus menjalani hari-hari biasa seperti ini ke depannya. Itulah harapanku.



Prolog | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close