Chapter 1
Kehidupan Harem yang Sangat Biasa
"Jadi,
jadi. Menurutku, yang paling pas itu..."
"Ah,
Senpai!"
Sepulang
sekolah setelah upacara pembukaan semester baru. Saat aku berjalan di koridor
sambil mengobrol dengan Nanami, suara dan langkah kaki Akari mendekat dari
belakang.
Aku
sempat berhenti dan bersiap, sudah menduga kalau dia akan menerjangku, tetapi
sepertinya target Akari bukan aku...
"Hap.
Tackle!"
"Hwaa!?"
Dia
menerjang Nanami lebih lembut dari biasanya. Akari memeluk Nanami dari
belakang. Nanami yang sepertinya tidak siap mental pun mengeluarkan suara yang
sangat lucu.
"Kun-kun...
wangi banget ya, Nanami-senpai..."
"Awawa..."
"Sudahlah,
Akari. Nanami jadi bingung, tuh. Lepaskan sekarang."
Aku menarik Akari
menjauh dari Nanami yang wajahnya sudah memerah karena kontak fisik mendadak
itu. Akari kemudian menatapku dengan wajah jahil yang menyebalkan.
"Arahh...
cemburu, ya? Mau dipeluk juga sama aku?"
"......Tepat
sekali."
"Aduh!?"
Aku memberikan
sedikit jitakan di kepala Akari untuk menutupi rasa maluku.
"Ih,
Senpai emang imut, deh!"
Akari
yang merasa senang malah menari-nari aneh sambil memancing emosiku. Saat aku
bersiap untuk menjitaknya sekali lagi, aku melihat Akari berdiri di samping
Nanami dan menyadari sesuatu.
"Akari...
kamu tambah tinggi, ya?"
"Ah,
ketahuan! Sebenarnya, aku lagi masa pertumbuhan!"
Sebelum liburan
musim panas, Akari seharusnya sedikit lebih pendek dari Nanami. Sekarang,
tinggi mereka hampir sama.
"Hebat ya,
Akari-chan... kalau terus begini, bukannya kamu bakal nyusul Shiori-chan?"
"Sama
Shiori-san... ide bagus tuh!"
Mendengar ucapan
Nanami yang entah sejak kapan sudah kembali tenang, Akari membusungkan dada
dengan penuh percaya diri.
"......Mirip
pangeran."
"Eh?"
Mungkin karena
membayangkan Akari yang tingginya setara Shiori, Nanami bergumam pelan. Namun,
karena sedikit paham dengan situasi Akari, Nanami segera menggelengkan kepala
untuk menyangkalnya.
"Maaf, maaf,
maaf! Bukan gitu! Aku cuma... itu......"
"......Ihi.
Nanami-senpai."
"Hwaa!?"
Saat aku melihat
bagaimana Akari akan merespons ucapan Nanami, Akari memasang senyum jahat, lalu
menyudutkan Nanami ke dinding dan melakukan wall-don.
"Nanami-senpai...
benar-benar imut, ya. Sampai
rasanya aku ingin memakanmu."
"Obyaa!?"
Disudutkan oleh
Akari yang terlihat begitu berwibawa, Nanami mengeluarkan suara yang seharusnya
tidak keluar dari seorang gadis dan menjadi panik. Sisi otaku-nya benar-benar
bocor.
"Ne, Senpai.
Lain kali, bagaimana kalau kita... pergi kencan berdua saja?"
"Hi-hiiya...... mau......"
Dalam suasana yang aneh itu, Akari bahkan berhasil
mendapatkan janji kencan.
Maksudku, apa
yang sedang kutonton ini? Kenapa aku harus melihat seorang gadis digoda oleh
gadis lain? Apalagi godaannya sukses pula.
"Ehehe.
Terima kasih! Kalau begitu... ini hadiahnya!"
Setelah sukses
dengan godaannya, Akari mendekatkan wajah ke pipi Nanami dan memberikan ciuman
ringan, "Cup".
"Pa...!?"
Nanami
mengeluarkan suara ledakan alih-alih kata-kata, wajahnya memerah padam, dan
otaknya mengalami short circuit.
Sebagai orang
yang melihat, aku senang mereka akrab, tapi... jujur saja, aku merasa sedikit
cemburu.
"Hei. Apa
yang sedang kalian ributkan?"
Saat kami sedang
berinteraksi seperti itu, Shiori datang dengan wajah lelah dan menegur kami
yang sedang ribut.
"Ramai
sekali, ya. Tapi ini koridor sekolah. Jaga sikap kalian."
""Maaf...""
Kami berdua
menunduk meminta maaf pada ketua OSIS yang tegas itu.
Namun, Nanami
yang belum kembali ke dunia nyata masih melamun, membuat Shiori khawatir dan
mendekat.
"Nanami?
Kamu tidak apa-apa? Apa kamu demam?"
"Eh......
hah!?"
Shiori
menempelkan telapak tangannya ke dahi Nanami, lalu menempelkan dahinya sendiri
ke punggung tangan tersebut untuk membandingkan suhu.
Meski jaraknya
hanya selebar telapak tangan, wajah mereka sangat dekat, membuat Nanami
mengeluarkan suara aneh lagi.
"Pa-panas
sekali! Aku harus membawamu ke ruang kesehatan sekarang juga..."
"......Bukan
gitu."
"......Ya?"
"Ini salah
Shiori-chan!!"
"Eh!?
Ke-kenapa!? Aku tidak melakukan apa-apa, kan!?"
"Justru itu
masalahnya!!"
Shiori panik luar
biasa menghadapi teriakan Nanami, benar-benar bingung harus berbuat apa.
Rupanya,
perlakuan Shiori barusan memang murni tanpa sadar. Dia benar-benar wanita
penggoda yang alami.
"Hmm... kali
ini Shiori-san yang menang..."
"Sayang
sekali. Memang tidak
bisa menang lawan orang polos begitu."
"Na-!
Apa yang kalian bicarakan!"
Akhirnya,
bukannya tenang, keributan itu malah semakin menjadi-jadi sampai seorang guru
yang kebetulan lewat menegur kami berempat.
Sore harinya. Aku
memulai hari kerja pertamaku di tempat part-time.
Meski aku memilih
jenis toko yang sama dengan tempatku bekerja di kehidupan sebelumnya selama
bertahun-tahun, aku tetap merasa gugup.
Akan sangat
memalukan jika aku melakukan kesalahan di hari pertama.
Selain itu, ada
satu hal lagi yang membuatku khawatir. Shift-ku hari ini. Karena aku
masih dalam masa pelatihan, ada instruktur yang akan membimbingku, dan dia
adalah...
""Ah......""
Di pintu belakang
khusus staf, aku tidak sengaja berpapasan dengan gadis yang menjadi
instrukturku itu.
Rambut bob yang
lembut dengan wajah yang masih menyisakan kesan kekanak-kanakan.
Saat
bertemu langsung seperti ini, dia terlihat lebih ramping dibanding ilustrasi di
dalam game.
Kesan fluffy
yang memancar darinya adalah keimutan yang tidak dimiliki heroine lain.
Ya. Gadis
di depanku ini adalah instrukturku, teman masa kecil dari protagonis Miyano
Kaede, yaitu Mizukami Noa.
"......Hari
pertama kerja, ya! Ibushi-kun!"
"Ah... ya.
Mohon bantuannya."
Noa langsung
memasang senyum lebar dan menyapaku dengan nada santai seperti saat dia
berbicara dengan teman-temannya di kelas.
Bisa bersikap
baik bahkan pada Ibushi Reo, dia benar-benar main heroine yang
sesungguhnya.
"Wah~ nggak
nyangka cowok sekelas bisa part-time di tempat yang sama ya~. Kebetulan
banget~"
"......Iya,
ya. Aku sendiri nggak nyangka kalau Mizukami part-time di sini."
Sambil
berbasa-basi, kami menuju ruang staf. Meski begitu, aku bicara apa adanya. Di
dalam game, tidak pernah ada cerita Noa bekerja part-time.
Jadi, saat melihat nama yang familiar di jadwal shift,
jantungku rasanya berhenti.
Aku sempat berpikir untuk mencari pekerjaan lain agar bisa
menghindar, tapi tempat ini menawarkan gaji per jam yang tinggi.
Selain itu, jarang ada tempat yang mau mempekerjakan orang
seperti diriku. Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk bersikap
profesional saja.
Aku mengganti seragam dan memulai pekerjaan pertamaku.
Noa mengajariku aturan dan prosedur toko dengan teliti, dan
karena ini hari pertama, dia mengajariku cara mencuci piring dan membersihkan
peralatan makan pelanggan.
"Untuk
pemula... kamu cekatan juga, ya."
"Ah... itu
karena cara mengajar Mizukami bagus."
Di kehidupan
sebelumnya, aku sudah sering disiksa di tempat kerja.
Selalu kekurangan
staf sampai berkali-kali berpikir untuk resign. Yah, sebelum itu sempat
terjadi aku mati sih.
Dibandingkan
dulu, lingkungan di sini sangat nyaman.
Stafnya banyak,
pelanggannya tidak terlalu ramai juga tidak sepi. Hubungan antar staf pun
tampak baik. Rasanya aku ingin menangis karena saking nyamannya.
"Kalau
begitu, mau sekalian belajar cara mencatat pesanan?"
"Kalau
bisa. Aku ingin segera bisa bekerja dengan lancar."
"Oke,
mengerti."
Noa pasti tahu
rumor tentang Ibushi Reo.
Dia pasti sudah
diperingatkan oleh Kaede.
Tapi dia
tetap bisa bercakap-cakap dengan natural denganku. Benar-benar communication
skill yang luar biasa.
Namun, memikirkan bahwa kebaikan itulah yang memberikan
celah bagi Ibushi Reo, membuatku sadar kalau hidup memang penuh ketidakpastian.
Begitulah, aku
diajari pekerjaan lainnya oleh Noa, dan aku berhasil menyelesaikan hari
pertamaku tanpa melakukan kesalahan.
"Kerja bagus
hari ini~. Hebat, lho, Ibushi-kun. Sempurna."
"Tidak
juga... mungkin?"
"......Fufu.
Positif banget, ya~."
Setelah shift
selesai hari itu, aku mengobrol dengan Noa di ruang staf. Meskipun aku bertekad
untuk bersikap profesional, aku sudah terlanjur terpikat oleh pesona misterius
yang dimiliki Noa.
Dia
benar-benar pendengar yang baik, jadi obrolan kami terasa sangat santai. Inilah
yang disebut heroine tipe teman masa kecil.
Dunia
sering menyebutnya sebagai "atribut kekalahan", tapi kalau seseorang
seperti ini adalah teman masa kecilmu, mustahil kalau tidak jatuh cinta.
Si
brengsek Kaede itu benar-benar orang yang beruntung.
Keesokan harinya.
Karena tempat part-time kami sama, aku mencoba memikirkan sedikit
tentang kehidupan sehari-hari Noa.
"Ne-ne!
Lihat postingan kemarin, deh! Aesthetic banget! Lain kali ajak aku juga
ya!"
Dia adalah pusat
perhatian di kelas, selalu berbicara dengan seseorang. Biasanya dengan
gadis-gadis hype, tapi dia juga bicara dengan laki-laki dan para otaku
dengan ceria.
"Nah, siapa
yang tahu jawaban pertanyaan ini?"
"Saya!"
Bahkan saat
pelajaran, dia aktif mengangkat tangan. Teman sekelas, bahkan guru, memberikan
kepercayaan yang sangat berat padanya dengan berpikir, "Kalau Noa pasti
bisa menjawabnya."
Kepercayaan itu
tidak hanya saat pelajaran, tapi juga saat istirahat.
Mengangkut
dokumen, mengumpulkan catatan, semua selalu diminta pada Noa. Melihatnya dari
jauh pun terasa sangat berat.
"Maaf,
Noa-chan! Aku ada janji! Tolong gantikan piketku ya!"
"Oke!
Selamat bersenang-senang!"
"Makasih!"
Sepulang sekolah
pun Noa masih dimintai tolong.
Seorang anggota
piket kebersihan meninggalkan tugasnya pada Noa dan pulang bersama temannya.
Sesaat setelah
gadis itu pergi, Noa mengerutkan dahi, namun segera kembali tersenyum seperti
semula.
Aku sempat ragu
apakah harus menegurnya, tapi aku memutuskan untuk tidak terlalu ikut campur di
sekolah.
Kaede juga belum
pulang, dia pasti akan membantu Noa. Dia harusnya bisa melakukan itu.
Saat aku sedang
memikirkan hubungan mereka di jalan pulang sambil membiarkan Noa dibantu oleh
Kaede, aku merenungkan hubungan mereka berdua.
Kalau tidak salah
di dalam game, Kaede dan Noa seharusnya berpacaran sebelum liburan musim
panas.
Jadi, sangat
wajar kalau sekarang mereka sudah berpacaran. Ada keinginan untuk bertanya
langsung, tapi itu terlalu lancang. Semoga saja hubungan mereka berjalan
lancar...
"Ah,
gawat..."
Sampai di rumah,
aku membuka kulkas untuk memikirkan makan malam, dan isinya benar-benar kosong.
Aku lupa kalau
rencananya mau belanja di jalan pulang tadi.
"Hmm...
burger, deh."
Aku sempat ragu
untuk pergi ke supermarket, tapi suasana hatiku sedang ingin memakan junk
food, jadi aku memutuskan pergi ke toko burger terdekat.
"Selamat
datang. Makan di sini atau bungkus?"
"Saya makan
di sini."
Biasanya aku
membungkus, tapi entah kenapa aku ingin makan di tempat.
Rupanya mulai
hari ini sedang ada menu terbatas, dan saat aku melirik daftar menu...
[Triple Beef Mountain Garlic Burger]
Foto burger raksasa yang namanya saja membuat perut terasa
kenyang sudah terpampang besar.
Aku sempat ragu untuk mencoba tantangan itu, tapi harganya
mahal dan takut mengganggu aktivitas setelah ini, jadi aku memesan set biasa.
Setelah menunggu
beberapa menit, aku menerima pesananku dan mencari meja. Mungkin karena jam
sibuk, toko sedikit ramai. Saat aku hampir menyesal tidak membungkusnya...
"Hamu...
nnn~~!"
Aku menemukan Noa
duduk sendirian di meja, sedang melahap burger dengan sangat lahap. Terlebih
lagi, dia memakan burger edisi terbatas yang itu.
Aku sempat
mencoba berpura-pura tidak melihat, tapi mataku tidak bisa lepas dari tumpukan
burger, kentang, dan nugget di atas mejanya.
"Ah...
a..."
Saat Noa membuka
mulutnya lebar-lebar untuk melahap burger lagi, dia menyadari keberadaanku dan
benar-benar membeku dengan mulut terbuka.
"......Mencari
kursi kosong......"
Meski sudah
bertatapan, aku sadar dari reaksi Noa bahwa ini jelas pemandangan yang tidak
boleh kulihat, jadi aku mencoba berpura-pura tidak tahu...
"Ah,
bukannya Ibushi-kun! Kebetulan sekali~! Di sini kosong, lho!"
Di luar dugaan,
Noa memanggilku dan mengajakku duduk di hadapannya.
Suaranya ceria,
tapi matanya sama sekali tidak tertawa. Aku merasakan tekad kuat bahwa dia
tidak akan melepaskanku.
"Kalau
begitu... aku terima tawarannya."
Sadar
tidak bisa lari, aku duduk di hadapan Noa dengan patuh.
"Ini,
buat kamu~!"
"......Aku
nggak minta."
"Sudah,
ambil saja!"
Begitu
duduk, salah satu burger disodorkan padaku. Lagipula, berkurang satu pun tidak akan mengubah
kesan rakus itu.
"Mizukami
saja yang makan. Punyaku sudah ada."
"Eh, aku
nggak bisa makan sebanyak ini. Silakan."
"......Itu
tidak mungkin."
"Haha... ya
juga, ya......"
Menyerah dengan
alasannya, Noa menghela napas panjang dan mulai memakan kentangnya.
"Sial
banget... harusnya kubungkus saja..."
Sikap Noa
yang ini berbeda sekali dengan sisi cerianya di tempat part-time atau
sekolah. Bahunya terasa rileks, dan suaranya terasa lebih rendah.
"Aku
kasih tahu ya. Aku nggak selalu kayak gini. Cuma hari ini aku capek banget.
Apalagi ini menu terbatas. Ini adalah cheat day spesial."
Noa
memakan kentang, nugget, dan minum soda di sela-sela penjelasannya.
Makanan
itu menghilang dengan sangat cepat, membuatku tidak bosan melihatnya.
"......Jangan
dilihat terus. Kalau nggak mau makan, biar aku saja?"
"Maaf.
Kebiasaan."
Aku meminta maaf
karena tanpa sadar terus memperhatikannya, dan aku pun mulai memakan burgermu.
"......Bagaimana
dengan Miyano? Bukannya pulang bareng?"
Mengingat
kejadian pulang sekolah tadi, aku memberanikan diri untuk bertanya. Noa
kemudian menghela napas lagi dan mengeluh dengan wajah masam.
"Aku
nggak pulang bareng Kaede kok~. Emangnya kenapa~"
"......Begitu
ya. Maaf."
"Bukan
apa-apa kok~. Ibushi-kun juga nggak salah~"
Noa menghabiskan
sisa kentangnya sekaligus dengan wajah masam, lalu meminum sodanya.
"......Haa.
Maaf. Aku mungkin lagi capek banget. Istirahat dulu."
Tiba-tiba Noa
meminta maaf dan menundukkan kepala. Hal ini juga sempat digambarkan dalam game,
Noa memiliki kecenderungan untuk memendam segalanya sendirian.
Dia makan
dan minum berlebihan untuk melepas stres tersebut. Harusnya itu adalah tugas
protagonis Kaede untuk mendukungnya, tapi...
"......Oke!
Maaf ya, Ibushi-kun! Ngomong-ngomong, gimana part-time-nya? Besok
juga kan? Manajer bilang kamu 'sepertinya bisa diandalkan'!"
Setelah diam beberapa detik, Noa menjadi ceria seolah
tombolnya baru saja diaktifkan. Kecerian ini mungkin adalah bentuk batas diri.
"Jangan masuk lebih jauh lagi."
Faktanya, bukan aku yang punya peran untuk masuk ke sana,
dan aku tidak merasa sudah sedekat itu dengannya.
Namun, karena
ingin memberikan sedikit perhatian pada Noa yang sudah bekerja keras, aku
menyodorkan kentang goreng milikku.
"Punyakuku
belum kusentuh. Ini buat kamu."
"......Eh?
Nggak apa-apa! Aku sudah nggak bisa masuk lagi~!"
"Nggak apa-apa kok. Bukannya ini cheat day? Jangan pikirkan aku."
"......Apa
ini artinya aku digoda?"
"Nggak ada
maksud ke sana. Kalau nggak mau, aku makan nih."
"......Fufu.
Bercanda! Dengan senang hati kuterima!"
Noa menerima
kentang itu dengan sangat gembira, lalu memakannya dengan lahap.
Tidak, tapi
sungguh, cara makannya sangat luar biasa.
Burger terbatas
yang ukurannya sebesar itu kini tersisa dua gigitan saja.
"......Itu
enak?"
"Oh, kamu
penasaran? Ngomong-ngomong
ya, itu bener-bener enak banget!"
"Serius?
Kalau gitu aku juga... nggak, deh..."
Aku
sempat berpikir untuk mencobanya, tapi kata "bawang putih" membuat
penilaianku ragu.
Aku tidak
akan bisa bangkit kalau sampai Akari dan yang lain bilang aku "bau".
"Apa
jangan-jangan Ibushi-kun... terganggu sama bawang putihnya?"
"Terganggu
sekali."
"Haaa...
lihatlah aku di depanmu. Kalau memikirkan hal semacam itu, kamu nggak akan bisa
menaklukan Mountain Burger ini!"
Noa melahap sisa
burgernya, menunjukkan senyum puas seolah tidak menyesali apa pun.
"Muhuu...
bagaimana, Ibushi-kun? Ini adalah wanita yang membuang sekolah dan part-time
besok."
"Wah,
luar biasa, Senpai. Aku benar-benar hormat."
"Fufun. Kouhai-kun
juga harus mencobanya. Selain enak, sensasi bersalahnya itu yang terbaik.
Apalagi sekarang, Senpai baik hati mau menanggung separuh dosa itu
untukmu."
"......Itu
cuma alasan Senpai mau makannya lagi, kan?"
"......Bisa
dibilang begitu!"
Meski awalnya
hanya bercanda, Mizukami merespons dengan improvisasi yang pas. Tapi kami
berdua tidak bisa menahan tawa karena responsnya yang terlalu santai.
"Ahahaha!
Dasar! Apaan tuh 'aku hormat'!"
"Lagian
kamu... padahal licik mau makan setengahnya."
"Ya nggak mungkin lah! Emangnya aku food fighter!"
"......Terus,
sisa burger itu?"
"Itu
tempat berbeda! Ini fish burger, kok! Rasa lemonnya yang terbaik~"
Dia
membuka bungkus burger yang lebih kecil dibanding burger terbatas tadi, dan
mulai memakannya dengan santai.
Aku ingin
bilang kalau bisa makan sebanyak itu berarti "tempat berbeda" itu
tidak bohong, tapi aku menahannya. Kalau aku protes serius tentang "tempat
berbeda" bagi wanita, aku pasti bakal dimarahi.
"Nmm!
Enak!"
"......Syukurlah
kalau gitu."
Pada
akhirnya, aku tidak memesan burger terbatas itu, dan hanya dibuat kewalahan
melihat cara makan Noa yang membuat perutku kenyang hanya dengan melihatnya.
Siang
hari Rabu, 4 September. Ruang OSIS sedang sibuk rapat. Nanami bilang ada tugas komite perpustakaan, jadi
untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku makan siang hanya berdua saja
dengan Akari...
"Jangan
lihat ke sini, dasar mesum menjijikkan."
"Iya,
iya..."
Entah di mana
salahnya, aku malah duduk satu meja berdua saja dengan Sakura di kantin.
Kenapa hal ini
bisa terjadi? Penyebabnya
berawal dari beberapa menit yang lalu.
Karena
cuaca atap sekolah terlalu panas di musim panas ini, Akari datang membawa
Sakura yang sudah cemberut ke depan kantin, tempat yang biasa kami jadikan
tempat berkumpul makan siang.
"Senpai!
Hari ini Sakura juga ikut, nggak apa-apa kan!"
"Aku sih
nggak masalah..."
"Aku sih
keberatan! Terpaksa ikut karena Akari yang bilang!"
Sakura
menggonggong dengan imut dengan sikap tsun-tsun-nya seperti biasa.
Di dalam game,
tidak ada elemen tsundere pada Sakura, jadi sepertinya dia memang
benar-benar membenciku.
Kami
bertiga masuk ke kantin dan mencari meja kosong.
Aku
bersiap untuk makan siang yang gaduh, namun sebelum itu, Akari yang wajahnya
terlihat sedang merencanakan sesuatu berseru "Ah!" sambil melihat ke
meja lain.
"Itu Tomo-chan dan yang lain! Aku mau ngobrol sebentar!
Sakura tunggu di sini ya! Aku bakal balik lagi!"
"Hah!? Tunggu, Akari!"
Yang ada di pandangan Akari sepertinya adalah grup
teman-temannya.
Sakura
mencengkeram lengan Akari yang mencoba bergabung dengan grup tersebut.
"Bukannya
tadi bilang mau makan bareng aku!?"
"Iya
makan bareng sih, tapi... aku cuma mau ngobrol bentar!"
"Kalau
gitu aku ikut!"
"Sakura
nggak boleh~. Tunggu di sini ya!"
"Kenapa!?"
"Ya ya ya,
tenanglah Sakura-kun. Kalau tidak, aku akan memberi tahu Senpai tentang 'hal
itu' lho~?"
"......! Itu
saja jangan!"
"Nfufu! Oke,
diputuskan! Senpai! Tolong jaga Sakura ya!"
"Oke...
selamat bersenang-senang."
Tidak ada celah
bagiku untuk ikut bicara, Akari sudah pergi ke arah grup temannya.
Sakura yang
ditinggalkan mengembungkan pipinya dengan tidak puas, namun dengan terpaksa
membuka kotak bekalnya.
"Jangan
lihat ke sini, dasar mesum menjijikkan."
"Iya,
iya..."
Seperti itulah
alurnya hingga sampai di situasi sekarang ini. Strategi Akari mungkin adalah
"ingin kami berdua akrab" atau semacamnya.
""......""
Meski sadar akan
hal itu, kami tidak bisa saling bertukar kata. Sakura pasti membenciku, dan
dari sudut pandangku, Sakura adalah satu-satunya heroine tanpa bad
ending di game itu.
Aku tidak
ingin memperdalam hubungan dan mengubah alur game.
...Yah,
rasanya sudah terlambat untuk itu sih. Singkatnya, aku hanya ingin melakukan apa yang bisa kulakukan.
Sambil tetap
diam, aku mengeluarkan bekal dan mulai memakan masakan buatan Shiori.
Saat aku melirik
ke arah Akari, dia sedang mengobrol dengan temannya sambil terus melirik ke
arah sini dengan tidak sabar.
Mengesampingkan
soal bad ending atau karena dia adik Kaede, citra Sakura di mataku
adalah "adik perempuan imut yang menyayangi kakaknya".
Di game,
dia adalah hidden heroine, dan di Sakura route, cinta yang
digambarkan sangatlah mendalam.
Ero-love yang tidak ada hentinya, mulai dari melakukannya
di pintu masuk rumah sampai di sofa ruang tamu.
Ditambah
lagi, spesifikasi khusus karena dia tidak punya bad ending.
Rupanya
pembuat game-nya masih punya hati nurani.
Padahal aku ingin
mereka berbagi hal itu pada heroine lain.
"......Ne,
sebentar."
"Hm?"
Saat aku
sedang makan bekal dengan tenang sambil memikirkan Sakura, dia malah menegurku.
"Kasih
telur dadar kamu."
"......Nggak
mau."
"Kenapa? Kan
nggak apa-apa cuma satu."
"Ini
punyaku."
"Pelit.
Menjijikkan."
Mungkin karena
telur dadar buatan Shiori terlihat sangat enak, Sakura memintanya dengan sikap tsun-tsun.
"Haa...
kalau nggak mau kasih, jangan makan seenak itu. Mengganggu konsentrasiku
saja."
"Jangan
minta hal yang nggak masuk akal dong..."
Itu
benar-benar tidak adil. Tidak
mungkin aku tidak bereaksi saat makan masakan Shiori. Syukuri saja aku tidak
menangis saat memakannya.
"......Terus,
itu apa? Buatan sendiri? Atau buatan Ibu?"
"Ah... ya...
aku sendiri sih yang nggak buat."
Aku tidak mungkin
bilang itu buatan Shiori, dan merasa tidak enak kalau bilang buatan Ibu, jadi
aku mengelak seadanya. Sakura kemudian salah paham dan menatap ke arah Akari.
"Jangan-jangan
Akari? Nggak mungkin kan?"
"Silakan
berimajinasi sendiri."
"Wah,
menjijikkan. Jangan pamer hal semacam itu."
"Sudah
kubilang jangan minta hal yang nggak masuk akal..."
Aku terus
mengelak dari pertanyaan Sakura.
Tapi, ini tak
terduga. Sakura yang kukira tidak mau bicara denganku, ternyata tidak sebenci
itu padaku.
Kalau
begitu. Mungkin aku bisa mendengar informasi tentang Kaede atau Noa lewat
Sakura.
Aku mencoba
bertanya, tapi...
"Hei Sakura.
Kaede dan Mizukami itu──"
"Jangan
panggil namaku. Menjijikkan."
Memang benar sih,
tapi sulit membedakannya dengan Kaede, jadi mau bagaimana lagi.
"......Jadi,
Miyano. Sebenarnya, bagaimana hubungan kalian berdua──"
"Siapa yang
kamu panggil Miyano? Kakak juga bernama Miyano, tahu."
Sabar,
sabar, tenang diriku. Jangan marah, jangan marah. Anggap saja ini bagian dari keimutannya.
"............Lalu,
bagaimana hubungan kalian sekarang──"
"Berisik
sekali, bicara sendiri terus. Diamlah."
"............Fuuuuu."
"Wah, apa
itu? Hentikan. Itu benar-benar menjijikkan."
Aku benar-benar
hampir mencapai batas dan menarik napas panjang.
Sikap jual mahal
(tsun) juga ada batasnya. Ujung-ujungnya, dia pasti ingin bilang
"jangan ajak aku bicara". Padahal dia sendiri yang memulai
pembicaraan tadi.
"......Kalau
kamu memang ingin sekali bicara denganku, kasih aku telur dadarnya."
Saat aku sedang
menahan amarah, Sakura menunjuk telur dadar di kotak bekal dan mengajukan
permintaan itu. Jadi, ini tujuannya dari tadi.
"Iya, iya...... ini, ambillah."
"Asyik. Itadakimasu."
Aku menyerah untuk melawan dan menyodorkan telur dadar itu.
Sakura tersenyum sangat manis dan merampas satu potong.
Tolong, jangan ucapkan "Itadakimasu" dengan tulus
begitu. Aku jadi hampir memaafkan sikap dinginnya tadi.
"Nyam...... Hmm! Enak sekali...... Eh, ini Akari yang
buat...?"
"Entahlah.
Nah, sekarang boleh aku bicara?"
"............Silakan."
Izin akhirnya
turun, dan aku bisa menanyakan keadaan Kaede dan yang lainnya.
"Jadi...
apakah hubungan mereka sudah maju?"
"Apa itu?
Pertanyaanmu menjijikkan."
"Bukan
begitu. Mengertilah posisi kami yang dipaksa menonton adegan yang bikin
gregetan itu. Satu kelas sudah berharap kalian cepat jadian, tahu."
"Hmph......"
Aku bertanya
sambil menyelipkan kebohongan seperlunya. Sakura tampak sedikit berpikir, lalu
mengambil kesimpulan dengan cukup santai, "Yah, sudahlah."
"Sepertinya
begitu. Aku dengar dari Noa-san."
"Begitu ya...... kalau begitu baguslah."
"Apa itu?
Kamu bicara seolah-olah siapa?"
Kalau mereka
sudah resmi berpacaran, aku sungguh lega.
Pasti akan ada
banyak hal yang terjadi ke depannya, tapi selama tidak ada pengganggu bernama Ibushi
Reo, hubungan mereka seharusnya tidak akan hancur. Tolong, hiduplah bahagia
sesuka kalian.
"............Yah,
Akari juga bodoh sih. Seharusnya dia pilih Kakak saja, bukannya sampah
sepertimu."
"Sampah itu
terlalu kasar, tahu."
Mengingat apa
yang dilakukan Ibushi Reo selama ini, pemilihan katanya memang masuk akal, tapi
tetap saja berbahaya.
Apa dia tidak
terpikir kalau seandainya aku masih jadi sampah?
"Kakak itu
sangat baik sekali. Noa-san juga terlihat senang. Dia lebih keren darimu, main
game juga jago, dan sangat lembut. Tidak sepertimu, dia pacar yang sangat baik
yaーーー"
"Ya, ya,
terserahlah."
Mengabaikan
tanggapanku, Sakura mulai memamerkan kehebatan Kaede sesuka hatinya.
Namun, Sakura
terlihat sangat bahagia saat membicarakan Kaede, dan itu menunjukkan betapa dia
sangat menyayanginya. Aku juga ingin dibagikan perhatian semanis itu sedikit
saja.
"Tungguuuuu
sebentaaaar! Stop!"
"Wah, tiba-tiba kenapa?"
Suasana yang tadinya membaik membuatku berpikir untuk
mendengarkan ceritanya sebentar lagi, tapi Akari tiba-tiba kembali dengan
panik.
"Aku tidak menyuruh kalian sampai sedekat itu!"
"Lagipula aku juga tidak menanyakan hal sejauh
itu."
"Ah...... hehe!"
"Jangan
'hehe' padaku..."
Dengan kembalinya
Akari, pembicaraan tentang Kaede pun menghilang begitu saja.
Setelah itu,
Akari ikut meminta telur dadar, Sakura pun meminta "satu lagi",
hingga akhirnya yang tersisa untukku hanyalah satu potong yang kumakan di awal.
Jumat, 6
September. Kami berempat makan siang di ruang OSIS seperti biasa di semester
satu.
"Ugh............"
Di tengah
suasana itu, Shiori tiba-tiba memegang kepala dan merintih, hal yang sangat
jarang terjadi. Karena penasaran dengan apa yang membuatnya sampai sepusing
itu, aku pun bertanya.
"Ada apa?"
"Itu, lho...... Pemilihan ketua OSIS sudah dekat, kan?
Tapi sampai sekarang...... belum ada calon ketua OSIS berikutnya......"
"Ah......"
Mendengar keluhan Shiori, aku merasa sangat maklum dengan
situasi itu. A
ku mengerti alasan mengapa bukan hanya siswa biasa, tapi
bahkan anggota OSIS saat ini pun tidak ada yang mau menjadi ketua berikutnya.
Pasti karena beban menjadi penerus Shiori yang seorang
manusia sempurna itu sangat berat. Lagipula, mereka pasti akan terus
dibandingkan dengannya.
"Harus bagaimana, ya......"
Shiori memegang kepalanya sambil menatap layar komputer. Mau
tidak mau, ini juga masalah bagi kami. Kami meminjam ruang OSIS ini untuk makan
siang, dan kalau ketua OSIS berganti, mungkin kami tidak akan diizinkan lagi.
"Jiiiii......"
"......Kenapa,
Akari?"
Saat aku sedang
memikirkan nasib ruang OSIS setelah ketua berganti, Akari menatapku dengan
tatapan tajam.
"Aku baru
saja dapat ide bagus!"
"Ya,
katakanlah."
"Bagaimana
kalau Senpai saja yang jadi ketua OSIS!"
"Aku
menolak."
"Cepat
banget!?"
Aku
langsung menolak usul Akari. Menjadi ketua OSIS sama sekali bukan gaya hidupku, bahkan di kehidupan
sebelumnya. Lagi pula, tidak mungkin berbagai pihak akan membiarkan Ibushi Reo
menjadi ketua OSIS.
"............Memang benar. Itu ide yang bagus."
"Ketua juga...... itu mustahil, kan?"
"Tidak,
tidak mustahil. Kalau kamu, kamu pasti bisa. Nanami, kamu juga berpikir begitu, kan?"
"U-um...... tapi bukannya atributnya terlalu banyak ya
kalau untuk ukuran ketua......"
"Kalian mau
bilang apa pun, aku tidak akan jadi ketua OSIS. Itu bukan gaya hidupku dan bebannya terlalu
berat."
"Jangan
begitu~"
Saat kami
sedang mengobrol seperti itu, pintu ruang OSIS diketuk. Tok, tok, tok.
"Permisi.
Apakah Ibushi Reo-kun ada di sini?"
"......Ah.
Dia ada."
Suara itu pasti
milik Noa. Saat Shiori menjawab, pintu terbuka dengan tenang.
"Permisi.
Saya Mizukami Noa dari kelas dua. Saya datang karena ada perlu dengan Ibushi-kun."
"Begitu
katanya."
"......Aku
pergi dulu."
Setelah diberi
kode oleh Shiori, aku menghampiri Noa di depan pintu. Ini pertama kalinya dia
mengajakku bicara di sekolah, padahal di tempat kerja biasa saja.
"Ada
apa?"
"Itu...
mendadak sih, tapi apa kamu bisa masuk shift makan malam hari ini?
Katanya ada satu staf yang tidak bisa datang."
"Ah......
oke. Bisa kok."
"Benarkah?
Syukurlah!"
Ternyata cuma
soal pekerjaan. Aku sudah terbiasa dipanggil mendadak sejak dulu, dan aku juga
ingin segera menyelesaikan masa pelatihanku.
"............Lalu,
anu."
Setelah selesai
bicara, Noa menatap sosok di belakangku dengan tatapan menyelidik.
"Kenapa ya,
aku ditatap begitu sinis......?"
"Hmph!"
"Jangan
dimasukkan ke hati. Ini bukan salah Mizukami."
Sejak dipanggil
oleh Noa, Akari terus menempel di belakangku sambil mengintimidasi Noa.
Ah, benar juga,
hubungan Akari dan Kaede renggang karena kehadiran Noa. Dia pasti merasa kesal.
"Reo-senpai
tidak akan aku berikan! Aku yang pertama!"
"......Arah.
Jadi begitu ya?"
"............Yah,
begitulah."
Noa
menebak situasinya dan menggodaku. Mungkin karena perilaku itu membuat Akari kesal lagi, dia berteriak.
"Ugh............ Dengar ya! Senpai itu pacar kami! Jadi jangan harap bisa
mengambilnya!"
"Hei,
Akari......!"
"Tenang,
tenang! Aku tidak akan mengambilnya... tunggu, kami!?"
Noa
mencoba menangani ucapan keceplosan itu dengan tertawa, tapi meski dia
pendengar yang baik, dia tidak bisa memproses kata ganti jamak itu dengan cepat
dan memasang wajah terkejut.
"Eh, Ibushi-kun?
Maksudnya gimana!? Apa itu maksudnya!?"
"Eh,
anu...... yah............ maksudnya............ seperti itu."
"Eh, ee... heh............ Boleh aku mundur dua langkah
dulu?"
"......Silakan."
Menerima
pengakuan yang mengejutkan itu, Noa tampak menarik diri.
Dia menjauhkan
jarak dariku, lalu menunduk dengan senyum canggung yang tak bisa menyembunyikan
keterkejutannya.
"Kalau
begitu, sampai jumpa nanti...... eh, selamat berbahagia ya."
"Ya......"
Noa pergi
meninggalkan ruang OSIS seolah melarikan diri.
Melihat
punggungnya, Akari membusungkan dada dengan bangga seolah baru saja
menyelesaikan pekerjaan besar, lalu kembali ke kursinya.
"Sekarang
jadi tenang!"
"Tenang
apanya, hei."
"Aduh!?"
Aku
sedikit menjitak kepala Akari yang duduk dengan bangga.
Sebenarnya
aku tidak berniat menyembunyikan ini, dan aku yakin Noa bukan orang yang akan
menyebarkan rahasia, tapi aku tidak menyangka bakal terbongkar dengan cara
seperti ini.
"Ini salah
Senpai! Cepat sekali akrab dengan perempuan lain!"
"Bukan
begitu, aku sama Mizukami tidak seperti itu."
"Itu juga
pernah kudengar waktu Nanami-senpai!"
"............Maaf."
Kalau sudah
disudutkan dengan argumen logis, aku tidak bisa melakukan apa pun selain minta
maaf.
Meski tidak
pernah ditunjukkan, ternyata Akari juga punya sifat posesif yang kuat.
"Untuk
Senpai yang nakal! Ini hukumannya!"
Akari tiba-tiba
berdiri dan menciumku dengan penuh semangat.
Aku tidak
mencoba menghindarinya dan menerimanya dengan senang hati.
"Cup...... uuu............ hehe. Oke! Maafkan!"
"Kamu cuma
mau melakukannya sendiri saja, kan......"
"Bisa
dibilang begitu!"
"Haa......
Hei, kalian berdua."
Karena dipaksa
menonton adegan mesra yang tiba-tiba, Shiori menghela napas dan menegur kami.
"Ini
sekolah, tahu. Aku sudah bilang berkali-kali bukan, jangan lakukan hal yang
berlebihan? Coba tahan sedikit diri kalian."
"""............"""
Jiiiii...
"......Ke-kenapa.
Kenapa kalian bertiga menatapku seperti itu."
Teguran itu
sangat wajar dilakukan sebagai ketua OSIS, tapi kata "tahan diri" itu
justru membuat kami bertiga tersinggung. Alasannya adalah...
"Shiori-chan sendiri...... padahal sering sekali
berciuman dengan Reo-kun."
"A-apa...!?"
"Benar sekali. Waktu sesi belajar bersama saja, saat
ada kesempatan, kalian berdua sering 'cup-cup'-an, kan?"
"Ti-tidak!?
Tidak, kan!?"
"Kami
sudah berapa kali pura-pura tidak tahu...... kan, Nanami-senpai."
"Iya,
benar. Bahkan kalian melakukan yang dalam diam-diam. Bukankah kalian
tidak bisa menahan diri sama sekali?"
"Na......
a...... uuuuuuu......! Reo! Katakan sesuatu!"
"Iya,
iya......"
Shiori yang
wajahnya memerah karena malu meminta tolong padaku.
Tapi meski dia
memintaku bicara, aku tidak bisa membantah karena itu fakta.
Lagipula,
Shiori sendiri yang sering meminta duluan.
Meskipun
begitu, sebagai pacar, sudah tugasnya untuk membantu saat diminta. Aku tidak
mau dia merajuk.
"Aku
melakukannya karena aku juga ingin bersama Shiori, jadi dia menyesuaikan diri
saja."
"............Be-benar!
Karena Reo yang meminta, jadi aku terpaksa!"
""Hee......
Arah......""
Melihat Shiori menerima tawaran bantuanku tanpa ragu sedikit pun, Akari dan Nanami tersenyum licik dan mulai merencanakan sesuatu yang nakal.
"Jadi,
artinya kalau kami ingin ciuman dengan Senpai, boleh-boleh saja, kan!"
"Tidak...... itu beda masalahnya......!"
"Reo-kun.
Ayo."
"Hah!?
Nanami!?"
Mungkin karena
berpikir sekaranglah saat yang tepat untuk meruntuhkan pertahanan Shiori,
Nanami datang menghampiriku dan langsung mencium bibirku dengan ringan.
"......Fuhehe. Ternyata cukup...... memalukan,
ya............"
"Curang...... tidak! Sudah kubilang jangan, kan!? Jaga sedikit kesopanan kalian......"
"......Shiori."
Aku memanggil
Shiori yang masih terpaku pada perannya sebagai ketua yang harus menegur, lalu
memberi isyarat tangan.
Shiori
menunjukkan ekspresi yang tak bisa dijelaskan—campuran antara kesal, malu, dan
iri—tapi dia segera berdiri dari kursinya dan mulai mencari-cari alasan.
"......Yah,
aku, sebenarnya tidak ingin, tapi kalau Reo yang memintanya dengan sangat. Apa
boleh buat."
Aku menerima
Shiori yang suaranya terdengar girang meski sedang mencari-cari alasan, tanpa
mengucapkan sepatah kata pun. Sebelum dia berubah pikiran, aku yang menciumnya
lebih dulu.
"......Ngh............
yu............ dasar...... binatang buas......"
"Terima
kasih."
"Oke! Misi
menaklukkan Shiori-san selesai! Sekarang kita bebas ciuman sepuasnya!"
"Asyik,
Akari-chan!"
"Hei......
itu beda masalahnya!"
Shiori yang
tadinya memasang wajah kaku sampai beberapa saat lalu, entah karena terbawa
suasana mesra ini atau bagaimana, berubah menjadi senyum ceria.
Mungkin, ini
sebenarnya adalah bentuk perhatian dari Akari dan yang lainnya......
"Kalau
begitu Senpai! Sekali lagi!"
"Sudah
kubilang, jangan!"
......Tidak,
mungkin aku salah.
Siang hari Sabtu,
7 September.
Kami berjanji
untuk bertemu di stasiun pusat kota dan menunggu Akari yang baru saja selesai
kegiatan klub sambil mengobrol.
"Maaf! Aku
terlambat!"
"Kerja
bagus, Akari-chan. Tidak
ada yang keberatan, kok."
"I-iya! Kami
juga baru saja sampai!"
Akari datang
sedikit terlambat dari waktu yang dijanjikan, lalu membungkuk dengan sopan
kepada kami.
Mungkin karena
terbiasa dengan sopan santun di klub, dia memang serius dalam hal seperti ini.
Shiori dan Nanami
menyapanya dengan lembut, dan aku pun ikut mengusap kepalanya pelan.
"Justru itu,
kamu tidak apa-apa? Mau istirahat dulu di suatu tempat?"
"T-tess! Aku
tidak apa-apa! Sekarang! Energiku sudah terisi penuh!"
Akari menunjukkan
betapa semangatnya dia, lalu menggenggam tanganku dan berjalan di depan seolah
memimpin jalan.
"Ayo pergi! Kencan berempat!"
"......Ayo."
"Bagaimana, Nanami? Mau kita coba bergandengan tangan
juga?"
"Ehoh!? E...... i...... a...... mari
bergandengan......"
Begitulah, masing-masing dari kami bergandengan tangan, dan
kencan berempat yang penuh kehangatan pun dimulai.
"Wah...... yang mana ya bagusnya......"
Tempat pertama
yang kami kunjungi adalah toko olahraga. Tentu saja, itu permintaan Akari.
Sepertinya dia ingin melihat pakaian olahraga atau sepatu.
"Hei, hei,
Senpai! Ini tidak terlihat lucu kah!?"
Akari menunjukkan
pakaian olahraga yang sangat mencolok dengan warna dasar merah.
Logo berbentuk
bulat yang terpampang besar di bagian depan memang terlihat manis, tapi apa
boleh memilih pakaian olahraga berdasarkan alasan seperti itu?
"Lucu sih...... tapi bukannya materialnya yang lebih
penting?"
"Bagiku, lucu adalah yang utama! Bagaimana menurut kalian berdua!"
"Hm? Ah.
Sangat bagus, bukan? Kurasa cocok untuk Akari-chan."
"Iya, benar.
Kalau aku sih tidak akan cocok pakai yang lucu dan mencolok seperti
itu......"
Mendengar ucapan
merendahkan diri dari Nanami di tengah-tengah pamer pakaian, kami semua
bereaksi serempak dan mengerumuni Nanami.
"Jangan
bilang 'tidak akan cocok'. Nanami
juga sangat manis, kok."
"Hyu!??"
"Benar
sekali! Berikanlah kepercayaan diri! Nanami-senpai juga sangat manis!"
"Yowa......"
"Ini
kesempatan bagus. Belakangan ini kamu sedang rajin olahraga, kan? Kami akan
memilihkan pakaian yang cocok untukmu."
"Eh!? Tidak,
tidak perlu sampai begitu......!"
"Ide bagus!
Baiklah! Serahkan saja padaku~!"
Rencana awal
mencari pakaian olahraga untuk Akari kini berubah menjadi ajang peragaan busana
Nanami.
Kami
bertiga berdebat habis-habisan mengenai ini dan itu.
"Haa......
bagaimanapun juga, aku merasa lebih tenang di tempat seperti ini."
Setelah diskusi
sengit, kami membeli pakaian olahraga yang cocok untuk Nanami. Setelah itu,
kami mampir ke toko bertema anime sesuai keinginan Nanami.
"Ternyata banyak sekali macamnya ya...... dunia yang
tidak aku pahami......"
"Eh, Akari-chan tidak baca manga atau
semacamnya!?"
"Bukannya tidak baca, sih. Tapi sejak kecil aku lebih
suka menggerakkan tubuh...... ya, begitulah."
"......Padahal cukup menarik, lho. Aku sendiri jadi
ketagihan setelah direkomendasikan macam-macam oleh Nanami."
"Aku tahu sih...... tapi awal mulanya itu yang
sulit......"
Akari menatap koleksi manga dan pernak-pernik anime yang
berjajar banyak dengan wajah masam.
Lalu, seolah membalas dendam atas kejadian tadi, Nanami
menggenggam tangan Akari.
"Kalau begitu, jadikan hari ini sebagai awal mulanya!
Beritahu aku genre apa yang ingin kamu lihat! Aku akan carikan rekomendasi
untukmu!"
"......T-tess! Mohon bantuannya!"
Keduanya yang tadinya terlihat sangat bertolak belakang,
kini benar-benar akur dan berjalan berdampingan menuju pojok manga.
"Bagaimana,
Reo? Mau mengejar mereka?"
Shiori bertanya
begitu sambil menatap punggung keduanya dengan tatapan layaknya seorang ibu.
Aku menjawab sambil menahan rasa malu.
"............Itu,
aku sendiri sebenarnya punya sesuatu yang ingin kucari juga."
"Begitu ya.
Kalau begitu, mau pergi ke sana?"
"Bukan...... maksudku aku ingin melihatnya
sendiri...... entah bagaimana ya............"
Aku
melirik pojok pernak-pernik sambil memberi kode pada Shiori agar "mengerti
situasi".
Barang
yang kuinginkan adalah merchandise karakter dari game ponsel. Apalagi
karakter perempuan.
Lebih
parah lagi, semuanya memakai baju renang. Tidak mungkin aku bisa melihatnya
dengan leluasa di samping Shiori. Itulah kenapa aku ingin memeriksa semuanya
perlahan sendirian, tapi......
"......Fufu.
Kalau begitu, justru aku harus ikut. Aku harus memastikan seperti apa gadis yang jadi selingkuhanmu itu."
Syukurlah dia
mengerti, tapi Shiori justru sangat berniat untuk ikut.
Dia menempel erat
di sampingku, menggenggam tanganku, dan membawaku pergi dengan senyum yang
sangat ceria.
"Hmph. Jadi
Reo suka tipe gadis seperti itu, ya. Fumu-fumu. Berguna sekali untuk
referensiku."
"Aku lebih
suka Shiori dan yang lainnya, kok......"
Meski diamati
oleh Shiori, aku tetap memeriksa barang-barang dengan teliti dan berhasil
mendapatkan acrylic stand.
Sebagai bonus,
Shiori juga membeli gantungan kunci Hangan yang kebetulan ada di sana.
Gantungan itu berbentuk senapan yang digunakan Seria, sangat keren. Aku juga
membelinya.
"Lalu, anak-anak itu...... hm?"
Saat aku mendatangi pojok manga untuk bergabung dengan
Nanami dan lainnya, aku menemukan mereka sedang antusias di depan rak buku yang
berwarna serba merah muda.
"Yo......
ada sesuatu yang menarik?"
"Hah!?
Reo-kun!? Tidak!? Bukan!?"
"......Kenapa?"
Nanami
menggelengkan kepalanya dengan sangat berlebihan padahal aku hanya menyapa.
Namun, berbeda dengan Nanami, Akari malah membandingkan sampul buku di
tangannya dengan wajahku.
"Benar dugaanku...... orang ini mirip sekali dengan
Senpai!"
"Akari-chan!?"
"Coba kulihat......"
Sampul yang ditunjukkan Akari menggambarkan dua orang pria.
Salah satu dari mereka terlihat jelas seperti seorang
berandalan...... dan atmosfernya mirip dengan Ibushi Reo.
Tunggu, bukannya
ini BL? Apakah itu alasan Nanami tadi panik? Satunya lagi entah kenapa
mirip dengan Akari.
"Awawa......!
Ini tidak seperti itu......!"
Hanya Nanami yang
terus panik sendirian. Mungkin dia tidak ingin ketahuan kalau dia membaca BL.
Sebenarnya aku
tidak peduli dengan hal semacam itu, tapi mungkin lebih cepat menunjukkan
tindakan daripada sekadar kata-kata.
"......Aku
beli."
"Ah, kalau
begitu aku juga! Ayo baca bersama!"
"Fumu...... kalau begitu aku juga. Hitung-hitung mencoba sesuatu yang baru."
"Eh,
eh, eh, eh, eh??"
Mengikuti
langkahku, Akari dan Shiori pun memutuskan untuk membeli. Menghadapi
pemandangan itu, Nanami hanya bisa melongo, belum memahami situasi yang
terjadi.
"Ne, nee, Reo-kun............ hal seperti itu......
juga...... oke...... buatmu?"
"Ya.
Lagipula, aku cukup suka sentuhan seninya."
"!!
Mengerti!!!!"
Mendengar
ucapanku, kecemasan Nanami lenyap sama sekali, dan kami bertiga akhirnya harus
mendengarkan penjelasan panjang lebar darinya dengan kecepatan bicara yang luar
biasa seperti biasa.
"Untuk empat
orang, ya. Silakan duduk di meja ini."
Setelah
berkeliling memenuhi keinginan masing-masing, akhirnya kami mampir ke restoran
keluarga di depan stasiun. Sungguh restoran keluarga biasa tanpa ada yang
istimewa.
"Mau makan
apa ya!"
Begitu
duduk, Akari bersorak sambil memandangi menu.
Namun,
ada seseorang di sampingku yang lebih antusias menikmati menu dari sudut ke
sudut daripada Akari.
"Heh...... ternyata yang seperti ini juga......
harganya memang murah ya......"
Mata Shiori berbinar melihat banyaknya pilihan makanan dan
harganya yang terjangkau.
Ngomong-ngomong, Shiori-lah yang meminta untuk datang ke
restoran keluarga ini. Dia tidak memberitahu alasannya, tapi sepertinya dia
memang ingin sekali mencobanya.
"Jangan
sungkan kalau ada yang ingin dimakan. Ada aku, dan ada Akari juga. Kami pasti
akan menghabiskannya sampai tandas."
"......Benar
juga. Maaf untuk Nanami yang sedang diet...... tapi biarkan aku menikmatinya
ya."
"E-eh?
Bukannya tadi lusa kamu bilang begitu juga?"
"Ugh......!"
Sambil saling
melontarkan obrolan ringan, masing-masing memesan apa yang diinginkan.
Kami mengenang
kembali kencan hari ini dan membicarakan masa depan, percakapan yang sangat
normal untuk menutup kencan yang normal.
"Ne, nee, Shiori-chan."
"Hm? Ada apa?"
Nanami, yang sedang menikmati cheat day keduanya
minggu ini, bertanya pada Shiori sambil melilitkan pasta tinta cumi-cuminya ke
garpu.
"Kenapa
harus restoran keluarga?"
"............Apa
aku harus mengatakannya?"
"Aku ingin dengar!"
"Sudahlah Akari. Telan dulu makanannya baru bicara."
Mendengar
pertanyaan Nanami, Shiori tampak malu-malu dan ragu, lalu menghela napas pasrah
sebelum memberitahu alasannya.
"Tidak ada
alasan khusus. Aku hanya mengagumi tempat seperti ini. Makan di luar sambil
membicarakan hal-hal konyol dengan teman sekolah. Bagi kalian mungkin ini
biasa, tapi bagiku ini adalah hal yang sangat aku iri...... yah, yah. Meskipun
rasanya agak aneh menyebut kalian sebagai teman."
Shiori menutup
curhatannya dengan wajah yang sangat malu, lalu memasukkan pizza ke mulutnya
untuk menyembunyikan rona wajahnya.
Melihat pipi
Shiori yang sedikit memerah, Akari yang baru saja menelan makanannya langsung
berseru.
"Tidak apa-apa, Shiori-san! Kita adalah teman selamanya! Tidak, justru! Kita
adalah keluarga! Keluarga Reo!"
"Pffft!?
Nama macam apa itu! Ditolak!"
"............Fufu.
Terima kasih, Akari-chan. Begitu ya. Mungkin kita memang sudah selayaknya
keluarga."
"Keluarga Reo...... ternyata terdengar oke juga."
"Bahkan Nanami pun!?"
Nama yang dibuat hanya karena keisengan Akari itu akhirnya
justru disukai oleh Shiori dan Nanami, sehingga nama itu pun menetap.
Aku terus membujuk agar setidaknya tidak menyertakan namaku
di dalamnya, tapi aku tidak bisa menghentikan ketiga gadis yang sedang dalam
suasana hati yang sangat bersemangat itu.
Setelah itu, kami mengobrol dengan seru di restoran keluarga
untuk beberapa saat, lalu berpisah di stasiun.
Kalau saja tidak memikirkan jumlah orangnya, kami
benar-benar menikmati kencan yang layaknya pasangan kekasih biasa.
Begitu
banyak hal yang telah terjadi.
Aku hanya
berharap kami bisa terus menjalani hari-hari biasa seperti ini ke depannya.
Itulah harapanku.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment