Prolog
Jarak Setelah Liburan Musim Panas
Senin, 2
September.
Liburan
musim panas yang manis telah berakhir, dan mulai hari ini kami menyambut
semester dua.
Shiori
sepertinya akan mulai fokus belajar ujian masuk, sementara Akari mengeluh
karena kegiatan klubnya akan bertambah sibuk.
Aku sendiri
memutuskan untuk mulai kerja paruh waktu bulan ini. Aku menemukan restoran
dengan gaji per jam yang bagus tak jauh dari rumah.
Mengingat di
kehidupan sebelumnya aku pernah bekerja paruh waktu di dunia kuliner, akhirnya
tiba saatnya untuk memanfaatkan pengalaman itu sepenuhnya.
Yah, meski
sebenarnya ada seseorang yang sebenarnya tidak ingin kutemui di sana……
"Ah…… Reo-kun……"
Saat aku sedang menatap jadwal shift hari ini di kereta pagi
dengan perasaan campur aduk, Nanami yang mengenakan masker berjalan mendekatiku
dengan langkah kecil-kecil.
"Pagi……"
"Pagi.
Kamu lagi flu?"
"…………Karena
aku baru saja mengubah penampilan, entah kenapa…… rasanya malu sekali……"
"Begitu,
ya."
Walaupun hanya
dari matanya, kecantikan Nanami sudah terpancar jelas.
Tapi, kepuasan
karena hanya aku yang tahu wajah aslinya benar-benar terasa luar biasa.
"…………Jangan
nyengir terus."
"……Aku
nggak nyengir."
"Tadi
nyengir."
"Itu
karena Nanami imut, jadi aku nggak sengaja."
"Ugh………… iya……"
Setelah bertemu, aku dan Nanami turun di stasiun terdekat
dari sekolah lalu berjalan bersama menuju sana.
Tentu saja, di sekitar kami banyak siswa yang mengenakan
seragam yang sama, tapi…… aku merasa ada banyak pasang mata yang memperhatikan
kami.
"Hei Nanami.
Kayaknya kita lagi diperhatiin, ya?"
"Hmm…… ah, mungkin rambutmu? Mungkin mereka kaget karena Reo-kun mengubahnya
jadi hitam?"
"Padahal aku
cuma mengubahnya jadi warna normal, lho……"
Selain karena
masalah kerja paruh waktu, mempertahankan rambut pirang juga memakan biaya.
Jadi, aku
memutuskan untuk menghitamkannya, tapi…… apa justru itu yang membuatku jadi
pusat perhatian?
"Menurutku,
kesan seramnya berkurang dan kamu jadi makin keren, kok."
"Oh.
Makasih."
Saat kami sampai
di gerbang sekolah sambil mengobrol ringan, Shiori sudah berdiri di sana
menyambut siswa lain meski hari ini adalah hari pertama masuk.
"Pagi, Shiori-chan."
"Ah, pagi…… Loh, kalian berdua. Pagi-pagi sudah pamer
kemesraan, ya."
"Eh!?"
"Bukan
begitu maksudnya. Kebetulan aja."
"Begitu?
Kalau begitu, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, Reo-kun."
Shiori
memanggilku dengan wajah serius.
Akhir-akhir ini
Shiori sering terlihat panik, jadi saat melihatnya kembali berwibawa seperti
ini, aku tersadar lagi betapa cantiknya dia.
"Di sini
kita adalah senior dan junior. Gunakanlah bahasa yang sopan. Dan jangan lupa
salamnya."
"……Selamat
pagi."
"Ya. Selamat
pagi."
Padahal sudah
banyak orang yang melihat, bicara dengan ketua OSIS yang disiplin seperti ini
malah membuat kami semakin mencolok.
Dari senyum Shiori yang penuh arti, sepertinya
dia sengaja melakukannya. Sifatnya benar-benar unik.
"……Shiori-chan
malah yang kelihatan lebih agresif."
"Apa
maksudmu?"
"Sudahlah,
ayo cepat jalan."
Nanami dan Shiori
memang sudah akrab sejak dulu, tapi setelah aku mulai berpacaran dengan mereka,
ketegangan di antara keduanya sedikit meningkat.
Katanya sih, ada
"hal-hal yang tidak bisa dikalahkannya". Karena hubungan mereka tidak benar-benar
memburuk, aku merasa lega.
Saat kami
melewati gerbang, masuk ke gedung sekolah, dan menuju tangga, tiba-tiba Akari
muncul entah dari mana.
"Selamat
pagi! Reo-senpai! Nanami-senpai!"
"Pagi…… kamu semangat banget pagi-pagi gini."
"Pagi, Akari-chan. Dan Sakura-chan juga."
"Ah…… se-selamat pagi."
Di samping Akari
ada Sakura, yang dengan patuh menundukkan kepala pada Nanami.
Tapi sedetik
kemudian, dia mengangkat kepalanya dengan kasar dan menatapku tajam.
"……Lagian!
Kamu itu………… kamu!"
Sakura menunjuk
wajahku dengan jari telunjuk kanannya, lalu setelah memastikan keadaan sekitar
seperti sedang mencari seseorang, dia langsung menyerangku seperti biasa.
"Aku
tidak mengakui ini! Orang seperti kamu! Dan Akari………… aku tidak mengakui
hubungan kalian!"
"……Kamu
sudah cerita ke Sakura, ya."
"Yah…… mau bagaimana lagi, kan?"
Dari nada bicaranya, kurasa Akari sudah memberitahunya soal
hubungan kami.
Kalau
tidak, mana mungkin dia berteriak sekencang ini di koridor.
"Hei,
tunggu sebentar! Aku lagi ngomong, tahu! Jangan asal bicara sama Akari!"
"Ah, iya,
iya. Maaf, maaf."
"Jangan
anggap remeh begitu!"
Kalian
berdua benar-benar semangat pagi-pagi. Cara menghadapi Sakura sudah cukup
kupahami sejak hari itu.
Mulutnya
memang pedas, tapi kalau sudah terbiasa, itu bukan masalah besar.
Tapi,
melakukannya di koridor sekolah benar-benar menyulitkan. Nanami terlihat malu
dan terus menunduk pada orang-orang di sekitar. Sepertinya aku harus memberinya sedikit pelajaran.
"Coba,
katakan sesuatu la—!??"
Aku menangkap
tangan kanannya yang diayunkan tepat di depanku, lalu dengan suara yang sedikit
berat seperti hari itu, aku berucap.
"Berisik.
Pikirkan juga orang-orang di sekitar."
"……Iya…… maaf……"
Mungkin karena lingkungan keluarganya, Sakura tumbuh dengan
dimanja oleh orang tuanya.
Tentu saja kakaknya, Kaede, juga begitu, tapi Sakura
menunjukkan efek pendidikan itu dengan sangat jelas, yaitu rendahnya ketahanan
dan pengalaman saat dimarahi.
Hatiku memang
sakit, tapi kalau dia terus menerjang orang lain seperti ini, masa depannya
akan mengkhawatirkan.
"……Kalau
begitu, sampai jumpa."
Karena tatapan
orang-orang dan suasana yang membeku akibat Sakura yang mendadak diam, aku dan
Nanami segera berjalan menuju kelas untuk melarikan diri dari situasi canggung
itu.
Kami masuk ke
kelas sambil melarikan diri setelah diganggu Sakura sedari pagi.
Melihat kami
berdua masuk, kelas seketika menjadi gempar.
Nanami yang tak
tahan menjadi pusat perhatian sejak pagi segera menuju kursinya, dan para siswi
di kelas pun langsung mengerumuninya.
"Kamu nggak
apa-apa?? Kita bisa kok bantu kalau mau curhat……?"
"Eh?
Curhat?"
"Iya,
soalnya……"
Mereka
berbisik-bisik sambil melirik ke arahku.
Pasti mereka
mengira Nanami sedang diancam atau semacamnya.
Aku paham
perasaan mereka, tapi……
"…………Sama
Reo-kun, itu, anu…… ahaha……"
"Re-Reo-kun!?"
"Ini!?
Jangan-jangan!?"
"Ah, bukan!!
Salah!! Maksudku Ibushi-kun!! Bukan, bukan begitu!"
Soal hubungan
kami, aku membiarkan mereka menilainya sendiri.
Akari dan Shiori
sepertinya tidak berniat menyembunyikannya, tapi Nanami merasa malu.
Yah, selain malu,
aku juga akan kesulitan kalau harus menjelaskan bahwa aku sedang menjalin
hubungan dengan tiga orang sekaligus.
"Eh, lagian dia imut banget. Apa itu gaya rambut
baru??"
"Ah, ini……"
"Coba lepas
maskernya! Ayo!! Ayo!?"
"Anoo……"
Nanami menatapku
berkali-kali seolah meminta bantuan.
Tapi aku sendiri
tidak ingin menghancurkan kesempatan Nanami untuk akrab dengan teman
sekelasnya.
Dengan pemikiran
itu, aku berusaha memberikan senyum seramah mungkin, lalu menggerakkan mulutku
tanpa suara "Semangat" sambil melambaikan tangan.
"!! Eh…… ternyata Ibushi bisa pasang wajah begitu……
gila……"
"Tapi, apa
jangan-jangan memang begitu kenyataannya……"
"Bukan!!
Sungguh!! Bukan begitu!!"
Nanami mengalami
nasib malang di hari pertama masuk.
Tapi, kurasa
teman-teman sekelasnya itu tidak berniat buruk.
Sepertinya aman
membiarkan mereka seperti itu.
"……Ano!"
Saat aku duduk di
bangku dan berencana tidur sampai jam pelajaran dimulai, seorang siswa
laki-laki menyapaku.
"…………Apa, Yoshimoto."
"Eh…… kenapa kamu tahu namaku……"
"Ya jelas
karena kita teman sekelas."
Orang yang
menyapaku adalah Yoshimoto, siswa yang muncul di event Nanami dalam game. Jujur
saja, aku tidak ingin terlalu berurusan dengannya karena merasa canggung,
tapi……
"…………Anu, itu…… maaf kalau aku salah, tapi…… ini…… Ibushi-kun……?"
"Hm? Ah……"
Yoshimoto menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
Terlihat tiga orang—pria dan wanita—yang sedang berpose
percaya diri dalam balutan cosplay. Tunggu, itu kan kami. Jadi ini arah
pembicaraannya.
"……Iya, itu aku. Kenapa?"
"……!! Kalau begitu, berarti!"
Yoshimoto berusaha menahan kegembiraannya sendiri dan
melontarkan pertanyaan yang bisa memastikan apakah aku adalah "kawan"
atau bukan.
"Tanya
dong, siapa karakter favoritmu?"
Jika aku
menjawab "Karakter favorit?" dengan nada bingung, percakapan dengan
Yoshimoto akan berakhir di sini.
Mempertimbangkan
banyak hal, memang seharusnya begitu, tapi……
"……Akhirnya,
tentu saja Seria."
Aku juga ingin
punya teman laki-laki!
Aku ingin
mengobrol tentang hal-hal sepele yang seru!
Sudahlah, aku
sudah melakukan segalanya di dunia ini, apa salahnya!
"………………Seriyomi?"
Yoshimoto
melontarkan pertanyaan lanjutan atas jawabanku.
Aku sebenarnya
bisa saja mengangguk mengikuti pilihannya, tapi ini adalah topik yang sangat
penting. Aku tidak akan mengalah.
"……YomiSeri, kan?"
"!! ……Begitu ya?"
Wajah Yoshimoto berubah menjadi sangat senang, dan dia
segera mengulurkan tangannya ke arahku. Artinya adalah……
"……Kamu ternyata paham, ya."
Aku menjabat tangannya dengan erat, menumbuhkan persahabatan
baru dengan sesama "kawan".
"Eh, ngapain sih? Lucu banget."
Saat kami sedang
bersalaman dengan penuh semangat di pojok kelas, seorang teman sekelas wanita
menyapa kami.
"Ngapain maksudnya…… ya jabat tanganlah."
"Bukan,
bukan itu maksudnya. Lucu aja gitu. Kenapa cowok otaku sama Ibu-kun jabat
tangan?"
"…………Karena
kita teman."
"Eh, ah…… ah, iya!"
"Aneh
banget sih. Ternyata begitu ya si Ibu-kun. Mengejutkan juga."
Gadis
yang menyapa kami adalah seorang gadis gal dengan rambut pirang yang sangat
mencolok.
Seragamnya
pun ia kenakan dengan gaya berantakan, memperlihatkan bagian lehernya.
Kalau
tidak salah namanya……
"Ah,
gue Himezaki. Salam ya."
"……Tiba-tiba banget."
"Ya soalnya gue tahu lo nggak bakal inget, makanya gue
kenalan duluan. Baik kan gue? Lagian baru pertama kali juga gue ngobrol sama
cowok otaku."
"Ah, iya…… namaku……"
"Yoshimoto
Tetsuhei. Faktanya gue inget kok. Gue emang jago kalau disuruh nginget nama
orang."
Ada apa
dengan gadis gal yang sangat khas ini? Selain itu, dia sama sekali tidak terasa
menakutkan, justru kebaikannya sangat terpancar…… jangan-jangan……
"……Terus?
Ada urusan apa?"
"Nggak
ada urusan penting sih, tapi gue cuma penasaran, siapa sih pacarnya
Kinoshita-san?"
Sambil
berkata begitu, Himezaki membandingkan wajahku dan Yoshimoto, lalu
mengangguk-angguk "Hmm-hmm".
"Ibu-kun
sih ganteng, tapi gue pribadi kayaknya lebih suka tipe cowok yang kelihatan
polos kayak si otaku ini deh."
"EH!?"
Mendengar
pengakuan mendadak itu, Yoshimoto mengeluarkan suara keterkejutan yang luar
biasa.
Mungkin karena
reaksi Yoshimoto terasa lucu, Himezaki mendekatkan wajahnya untuk melancarkan
serangan lanjutan.
"Nee, Tet-chin. Pacarnya Kinoshita-san itu lo?"
"Tet-chin!? A-ah, bukan…… bukan kok……"
"Eh, berarti jomblo?"
"Anu…… i-iya…… jadinya begitu."
"Gitu
ya. Terus, ada orang yang disuka nggak?"
"………………h……"
Karena
serangan tanpa ampun dari Himezaki, Yoshimoto melirik sekilas ke arah Nanami
lalu terdiam.
Ekspresinya
benar-benar terlihat seperti akan menangis, sangat menyedihkan.
"Eh?
Ah, begitu? Eh, kalau gitu……"
"Heii,
kembali ke tempat duduk masing-masing!"
Tepat
saat Himezaki menyadari arti dari kediaman Yoshimoto dan hendak melontarkan
pertanyaan, wali kelas datang ke dalam kelas.
"Wah,
sudah waktunya ya. Sampai nanti ya kalian berdua. Seru banget deh. Kapan-kapan
ngobrol lagi."
Himezaki
mengedipkan mata ke arah kami lalu bergegas menuju kursinya sendiri.
Melalui interaksi
dengan Himezaki tadi, kami berdua sampai pada satu kesimpulan dan saling
bertatapan.
Tanpa perlu
bicara pun, kami sudah mengerti. Kami sedang memikirkan hal yang sama.
Ya……
["Gadis gal yang baik pada otaku" itu benar-benar ada!!]



Post a Comment