〈1〉
★★★
Bulan Juli telah tiba.
Seperti firasatku di bulan Mei dan Juni
lalu, tahun ini cuaca sangat panas.
Suhu udara yang setara dengan suhu
tubuhku saat demam dilaporkan terjadi di berbagai daerah, dan konon di
Sawamigawa kita ini, sudah ada orang yang dilarikan ke rumah sakit karena
sengatan panas.
Yah, intinya yang ingin kukatakan
adalah.
"Seika-san, panas sekali."
Seika-san menempelkan bahunya erat-erat
ke lenganku, mencoba mencari sisa embusan angin dari kipas angin portabelku.
Meskipun tidak ada teman sekelas kita
yang berjalan ke sekolah dari arah sini, kami baru saja menjadi korban
pengambilan foto secara diam-diam saat insiden pengusiran pria iseng itu.
Aku ingin dia sedikit menahan diri.
Lagipula, pejalan kaki lain bisa melihat kita, itu saja sudah cukup memalukan.
Namun, Seika-san sendiri malah menanggapi dengan santai.
"Begitu ya? Kipas angin Kosei ini
tenaganya lumayan juga, rasanya enak sekali."
Dia tidak mau mendengarkanku. Karena
cuaca panas ditambah rasa malu, darah terasa naik ke wajahku sampai rasanya aku
hampir matang.
"Lagipula, kipas portabel itu
murah, beli saja sendiri."
"Yah, dompetku lagi krisis nih.
Kan aku baru saja beli karya Kosei juga? Ah, bukan berarti
aku menyesal, ya? Bonekanya benar-benar lucu."
Aku lemah kalau dia bicara begitu. Hm?
Tapi kan ini sudah lewat akhir bulan, artinya tanggal gajian juga sudah lewat,
kan?
"Uang saku atau yang lainnya
bagaimana? Bukannya itu turun tanggal 25?"
"Ah, tidak, itu... aku belum
terima... hampir semuanya."
"Gaji paruh waktu atau penghasilan
dari YouTube-mu juga sudah tidak ada?"
"Soal itu, yah... jadi perempuan
itu butuh banyak biaya. Seperti untuk makeup atau pakaian."
Rasanya mencurigakan. Dia terdengar
gugup. Padahal sebelumnya dia bilang akan meminta uang sepeda ke Ibu, tidak
mungkin dia tidak bisa mendapatkan uang untuk membeli kipas angin portabel yang
murah.
"Jangan-jangan, kamu takut karena
kejadian difoto diam-diam itu?"
"Yah, bisa dibilang begitu.
Lagipula, sebenarnya siapa sih pelakunya?"
"Yah, siapa pun itu tidak masalah. Hubungan kita kan sudah dijelaskan dengan jelas."
Begitulah. Pagi itu, meskipun kami sudah
berhasil kabur berdua, kami tetap saja ketahuan oleh Pak Ota, guru wali kelas
kami.
"Jangan berlari di koridor.
Lagipula, sebentar lagi wali kelas datang, cepat kembali ke kelas,"
tegurnya dengan nasihat yang sangat masuk akal. Kami pun kembali ke kelas.
Karena ini bukan film remaja, hal seperti itu memang wajar terjadi, bukan?
Lalu saat jam istirahat setelah
pelajaran pertama, tentu saja kami dihujani berbagai pertanyaan. Kami akhirnya
terpaksa mengaku ke seluruh kelas bahwa kami adalah teman masa kecil yang
secara kebetulan bertemu kembali. Tentu saja, aku tidak menceritakan detail
tentang kenangan berharga seperti action figure atau semacamnya. Pokoknya,
berkat kejadian itu, sekarang kami bisa berangkat dan pulang sekolah bersama,
serta mengobrol di dalam kelas dengan santai. Tapi ya.
"Tapi kalau skinship-nya terlalu berlebihan, nanti kita
difoto lagi dan jadi bahan ejekan, lho."
"Tidak apa-apa, kali ini kan mereka
sudah tahu ceritanya. Aku akan tegas bilang kalau begini ini cara aku menjaga
jarak dengan teman."
Bukankah itu cara menjaga jarak dengan
teman sesama perempuan? Terkadang aku melihatnya menyandarkan diri atau memeluk
Mizoguchi-san, tapi kalau denganku yang laki-laki, itu sama saja meminta
orang-orang untuk membuat rumor.
"Ah. Eh, maksudku teman itu, ya...
itu, ah..."
Seika-san tampak panik karena salah
paham dengan arti diamku. Aku merasa bersalah. Lagi pula, sepertinya dia sudah
menyadari kalau aku punya beban pikiran soal hubungan semacam ini. Atau mungkin
dia sudah dengar sedikit dari kakak perempuanku.
"......"
Tanpa bicara, aku mengarahkan kipas
angin portabel ke arah Seika-san.
Saat wali kelas pagi, kami diberitahu
bahwa ujian akhir semester akan dimulai minggu depan. Rasanya berat sekali. Ada
bagian yang tertinggal karena aku sempat sakit, dan meski aku merasa bersalah
pada Seika-san, aku sempat menghentikan pembuatan pesanan untuk mengejar
ketertinggalan belajar... tapi sejujurnya, aku tidak percaya diri.
Jam istirahat.
Alih-alih buku gambar teknik, aku
membuka buku kosakata dan menutup tulisan merah dengan lembar plastik merah.
Ugh, bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang paling kubenci. Bukan berarti
aku merasa tidak butuh karena terkadang ada pelanggan luar negeri yang datang
ke toko, tapi tetap saja sulit.
"Kamu semangat sekali, Kosei."
Saat aku menoleh ke arah suara itu,
ternyata Seika-san. Sejak festival olahraga, aku mulai terbiasa dengan dia yang
menyapaku di dalam kelas. Karena dia menyapa saat dia sudah bosan mengobrol
dengan anggota kelompoknya yang lain, frekuensinya tidak terlalu sering.
"Bukankah ujian bahasa Inggris hari
kedua? Memangnya sebenci apa kamu sama pelajaran itu?"
Seika-san melirik ke arah tanganku
dan tersenyum kecut. Kami sering membicarakan tentang tes saat berangkat atau
pulang sekolah, jadi dia sudah tahu pelajaran mana yang kubenci dan kusukai.
"Ahaha, karena ini yang paling
bikin khawatir. Seika-san ujian matematika, kan?"
"Ugh. Iya, benar juga. Dan itu di
hari pertama."
Ujian matematika ada di jam pertama hari
pertama. Dan itu adalah mata pelajaran yang paling dibenci Seika-san. Dengan
kata lain, dia jurusan IPS dan aku jurusan IPA.
"......Ngomong-ngomong. Kami sedang
berencana untuk belajar kelompok sepulang sekolah hari ini."
"Dengan teman-teman gyaru-mu
itu?"
"Iya. Chika, Ria, dan satu orang
lagi."
"......"
Ini artinya dia memintaku untuk ikut,
kan? Tapi bagaimana ya. Kalau cuma sekadar basa-basi di kelas sih tidak
masalah, tapi...
"......Lagipula, kedua orang
itu."
"......Ya kan. Mizoguchi-san
sepertinya agak agresif, ya?"
"......Jangan-jangan benar
terjadi?"
Mendengar bisik-bisik orang di sekitar,
ternyata memang banyak yang ingin mengaitkan kami ke sana. Foto diam-diam saat
berpelukan juga sudah beredar, jadi aku paham perasaan mereka. Namun, soal itu,
Seika-san adalah orang yang sangat jujur dalam mengekspresikan emosi, jadi
menurutku tidak ada makna sedalam itu. Mungkin saja itu hanya luapan perasaan
karena dia merasa sangat berterima kasih setelah ditolong.
Seika-san sepertinya juga menyadari
perhatian orang-orang di sekitar, dia menunduk sedikit. Wajahnya agak merah.
"Aku sudah bilang berkali-kali ke
mereka supaya tidak terlalu agresif menanyakan urusan pribadi."
Berarti dia akan menahan jarak khas
gyaru itu, ya? Kalau begitu, baiklah. Lagipula, akan sangat membantu jika aku
bisa diajari bahasa Inggris dan lainnya.
"Kalau begitu, boleh aku
bergabung?"
"Iya! Ayo, datang ya!"
Seika-san tersenyum sangat bahagia.
Aku pun ikut tersenyum karenanya. Aku sadar sendiri, aku jadi sedikit berubah. Mungkin karena aku jadi tidak terlalu memedulikan tatapan
orang sekitar. Atau karena aku sadar kalau mengubah keputusan hanya karena hal
seperti itu adalah sebuah kerugian. Ini pasti pertanda baik, kan?
Waktu berlalu begitu cepat hingga
sepulang sekolah. Sekolah kami memiliki fasilitas ruang belajar mandiri, jadi
kami menggunakannya. Karena sebentar lagi ujian akhir, kupikir akan ramai, tapi
ternyata sepi sekali. Rupanya, kebanyakan orang lebih memilih belajar di rumah
atau tempat bimbel.
"Ah, di sini, di sini."
Teman gyaru yang sudah sampai lebih dulu
melambaikan tangan. Sanekata Aine-san. Rambut pirang panjang yang pudar, kulit
kecokelatan, dan anting tindik besar adalah ciri khasnya. Kabarnya, empat orang
termasuk dia adalah inti dari kelompok gyaru di kelas kami. Core Four yang
terlihat menyeramkan, hehe.
"......"
Sanekata-san tampak menarik diri. Gawat.
Sepertinya aku baru saja melakukan gerakan yang sangat menjijikkan khas orang
yang kurang pergaulan, yaitu menertawakan lelucon sendiri di dalam kepala.
"Ah, eh. Namaku Kutsuzawa Kosei.
Salam kenal."
"U-uh, iya. Yah, karena kita satu
kelas, jadi terasa aneh ya kalau bilang salam kenal. Aku Sanekata Aine. Salam
juga."
Sanekata-san berusaha menenangkan diri
dan membalas perkenalanku. Karena dia satu kelompok dengan Seika-san, kesannya
sangat blak-blakan. Rupanya, orang-orang yang berisik dan suka menggodai kami
dengan foto itu berasal dari kelompok yang berbeda. Ternyata ada faksi-faksi
kecil di kalangan gyaru, ya. Apa pun itu, sepertinya mereka tidak akan mengorek
urusan pribadi terlalu dalam. Seika-san juga bilang dia sudah memperingatkan
mereka.
"Oke, kalau begitu ayo kita
mulai."
"Chika sama Ria di mana?"
"Mereka sedang beli minum. Kita
mulai duluan saja nanti juga mereka balik."
Jadi, saat aku sedang membuka buku
pelajaran dan buku catatanku, pintu ruang belajar terbuka.
"Yow. Minumnya sudah dibeli,
nih."
Oh, waktu yang pas. Mizoguchi-san meletakkan botol teh ukuran 500ml di
depanku.
"Kutsu, kamu suka teh, kan?"
"Ah, iya."
Entah kenapa aku diberi nama panggilan
yang aneh, tapi ya sudahlah. Saat aku hendak
mengambil dompet, dia menolak dengan keren.
"Tidak usah. Aku yang mengajak,
kok. Hitung-hitung ganti biaya guru matematika."
Tidak, aku juga berniat meminta
diajari bahasa Inggris, jadi menurut logika itu aku harus membalas sesuatu.
Padahal aku sudah banyak berutang pada Mizoguchi-san.
"Oke, mulai yuk."
Atas aba-aba Sanekata-san, semua
orang mengambil pensil masing-masing.
Untuk sementara, kami mengerjakan
bagian yang bisa kami kerjakan sendiri, dan jika buntu, kami bertanya kepada
orang yang ahli di mata pelajaran tersebut. Begitulah cara kami melangkah. Tapi
karena aku tipe pemalu, aku hanya bisa bertanya pada Seika-san dan
Mizoguchi-san.
"Fiuh. Istirahat sebentar,
yuk."
Begitu Sonoda-san berkata demikian,
dia langsung merenggangkan tubuhnya. Pensil yang dilemparnya menggelinding di
atas buku soal dan berhenti di celah halaman. Aku pun mengikuti langkahnya dan
berhenti belajar.
"Aah. Padahal sedikit lagi bisa
terjawab."
Hanya Seika-san yang terdengar
kecewa. Sepertinya waktunya tanggung.
"Nanti aku ajari lagi."
"Benarkah?"
"Iya. Bagaimana kalau kali ini
belajarnya di rumahku saja?"
"Iya. Terima kasih."
Ekspresinya langsung berubah ceria,
membuatku merasa hangat dan tersenyum secara alami.
"......"
"......"
"......Eh, ini sudah..."
Eh? A-apa aku jadi pusat perhatian? Saat
aku melihat sekeliling, semua orang menatap kami dengan mata yang menyipit.
"Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa.
Anggap saja kami ini udara atau semacamnya."
"Tidak bisa, untuk jadi udara,
jangan menatap orang lain. Itu menurutku yang punya sertifikat tingkat satu
deteksi udara."
"Kamu melawan apa sih? Apa itu
deteksi udara?"
Seika-san membalasku. Gawat. Bukan
saatnya bicara begitu, ya?
"Kutsuzawa, ternyata kamu tipe yang
bisa diajak ngobrol normal, ya. Kenapa tidak lebih sering mengobrol di kelas?
Tidak hanya dengan Seika, kamu bisa bersinar sendiri, lho?"
Aku tidak perlu bersinar, kok. Aku
lebih suka merasa nyaman dengan berdiam diri di sudut ruangan.
Aku hanya tersenyum ambigu pada
Sanekata-san untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi Mizoguchi-san berkata seperti
ini:
"Tapi sebenarnya, teman-teman
sekelas ternyata jauh lebih toleran dari yang kita kira, kan?"
Aku berpikir sejenak. Selain soal
bersinar itu...
"Memang benar... mungkin aku
terlalu berpikir secara mendalam."
Sebenarnya, hari ketika hubungan
dekatku dengan Seika-san diketahui oleh seluruh kelas, aku sempat diajak
mengobrol oleh anak laki-laki sekelas yang sebelumnya tidak pernah bicara
denganku.
Mereka bilang, "Mizoguchi itu
tipe yang menjaga jarak dengan cowok, hebat juga kamu bisa disukai dia,"
atau "Teman masa kecil memang kebenaran, ya." Terus terang, mereka
sangat blak-blakan. Tidak ada atmosfer yang mencurigakan, semuanya terdengar
murni apa adanya.
Saat aku menceritakan hal itu pada
mereka,
"Aa~, jangan-jangan kamu pikir
mereka bakal jadi tipe yang 'berani-beraninya dia mendekati Seika-tan kita!'
begitu?"
Sanekata-san menebak kekhawatiranku
dengan tertawa kecil.
"Iya. Meskipun aku tidak punya
maksud apa-apa, aku pikir orang sekitar akan merasa iri."
"Ya, kalau bulan April mungkin
saja. Waktu itu semua orang melihat Seika dan merasa dia sangat cantik. Tapi
setelah hampir tiga bulan, karena tidak ada tanda-tanda (untuk mendekati),
mereka yang tadinya punya kesempatan pun mulai mencari pacar lain."
Sonoda-san berkata sambil tertawa
sinis.
"Begitu ya... Jadi, perasaan mereka sebenarnya bukan perasaan yang
sungguhan."
"Ya. Kira-kira seperti itulah. Tidak banyak orang yang merasa 'hanya Seika yang
bisa'. Malah, orang yang punya nyali untuk mengejar orang yang tidak punya
perasaan padanya itu lebih jarang lagi."
Begitu ya. Ternyata begitu.
"Lagipula, orang yang cuma
tertarik pada penampilan luar saja, biasanya memang begitu. Mereka mendaftar ke
universitas impian yang tinggi, kalau dapat nilai E, mereka langsung pindah ke
pilihan kedua atau ketiga. Pilihan pertama itu hanya untuk gaya karena gengsi
saja, yang benar-benar punya keinginan untuk belajar di sana hanya segelintir
orang."
Ah, penjelasan ini sangat bisa
dimengerti. Yah, wajar saja. Seika-san sendiri pasti sudah melihat banyak orang
seperti itu dan sudah menganalisisnya.
Lagi pula, semua orang punya kehidupan
masing-masing. Tidak banyak orang yang terus memikirkan pilihan universitas
yang gagal mereka raih, kecuali mereka sangat pendendam atau tidak punya
kerjaan.
"Lagipula, banyak juga orang yang
bahkan tidak berniat menulis di kolom pilihan sekolah, kan."
Benar juga. Dunia ini isinya macam-macam. Tidak semua orang
ingin mengejarnya hanya karena dia cantik. Ada orang yang sudah punya pacar
dari SMP, ada yang hanya tertarik pada dunia dua dimensi, ada yang tidak suka
gyaru, benar-benar beragam.
Lagipula, aku ini bahkan bukan level orang yang bisa
mendaftar. Aku harus mulai dari mencari teman dulu,
pacar masih jauh sekali.
"Miyasaka sepertinya juga sudah
menyerah. Kabarnya dia sedang dekat dengan siswi kelas sebelah."
"Jamur?"
"Manusia."
Begitu ya, manusia. Yah, entahlah. Si
Miyasaka itu sepertinya merasa bersalah karena meninggalkan aku dan Seika-san,
mungkin karena canggung bertemu denganku, dia selalu pergi menemui teman di
kelas lain tiap jam istirahat. Jadi dia sudah menemukan target baru di sana,
ya.
Kenyataan memang seperti itu, ya. Tidak
peduli bagaimana kepribadiannya, orang yang memperhatikan penampilan dan bisa
berbicara aktif dengan perempuan akan lebih populer.
"Jadi, kamu tidak perlu sungkan
lagi untuk bicara dengan kami, ya?"
"I-iya. Benar juga. Aku akan
melakukannya."
Tiba-tiba bisa sesantai saat berangkat
atau pulang sekolah memang sulit, tapi aku ingin perlahan-lahan mulai bisa
mengajak bicara mereka juga.
☆☆☆
Saat melihat punggung Kosei yang pergi
ke kamar kecil di akhir istirahat, ketiga orang yang tersisa menoleh ke arahku.
"Padahal aku pikir, kalau dengan
wajah Seika, begitu kamu menunjukkan sedikit saja ketertarikan, cowok pasti
akan langsung mendekat, lho."
Perasaan Aine mungkin memang sudah
menjadi opini umum. Seperti contoh tadi, mereka pasti berpikir hal-hal yang
menyenangkan seperti akan langsung diterima hanya dengan mendaftar di
universitas kelas atas. Tapi,
"Cowok seperti itu tidak
kubutuhkan."
"Aa, begitu ya. Bagi Seika, begitu
sudah cukup, ya."
Tentu saja, aku ingin Kosei menyukai
penampilanku, tapi karena dia adalah anak yang melihat ke dalam diriku, aku
ingin membuatnya jatuh cinta dari situ.
Ngomong-ngomong, orang-orang di sini...
yah, tidak mungkin bisa kusembunyikan perasaanku. Chika sudah tahu sejak awal,
tapi Ria dan Aine juga sudah ketahuan saat kejadian hari itu.
Mereka berdua tahu aku tidak mungkin
memeluk laki-laki yang hanya kuanggap teman.
Lagipula, aku bahkan tidak punya
laki-laki yang kuakui sebagai teman, dan saat aku membiarkan seseorang masuk ke
ruang pribadiku sedalam itu, sudah jelas maksudnya.
"Bagaimana menurut Ria?"
Chika bertanya pada ahlinya. Ria bergumam, "Hmm," sambil berpikir.
"Entahlah, bagiku dia terasa
seperti belum sampai di tahap asmara. Dia belum mencapai pola pikir ke
sana."
"Artinya dia masih
kekanak-kanakan?"
"Lebih tepatnya, dia sedang
dalam proses mengembalikan perasaan untuk berinteraksi dengan orang lain. Sulit diungkapkan dengan kata-kata... tapi."
"Tapi?"
"Dia pasti punya perasaan yang
lebih pada Seika dibandingkan orang lain. Meskipun itu belum sampai pada
perasaan cinta saat ini."
"Serius!?"
"Serius."
Mendengar kepastian dari Ria, aku hampir
melakukan pose kemenangan. Karena dia yang berpengalaman di dunia asmara yang
mengatakannya, tingkat akurasinya pasti tinggi.
"Ngomong-ngomong, bagian mana yang membuatmu berpikir
begitu?"
Chika bertanya.
"Dia yang mengajak Kutsuzawa-kun untuk belajar kelompok
berikutnya, kan? Laki-laki dengan tipe pasif seperti itu tidak akan pernah
mengajak perempuan yang tipe sebaliknya. Dia punya pemikiran
negatif yang selalu memikirkan kemungkinan ditolak di urutan pertama."
Kosei, sekarang sebenarnya sudah tidak
terlalu pasif lagi. Saat situasi genting, dia mempertaruhkan dirinya untuk
melindungiku. Kosei saat itu sangat keren. Hehe.
"Kenapa kamu senyum sendiri seperti
Kutsuzawa tadi?"
"Katanya kalau sering bersama, jadi
mirip."
Mereka mengejekku, tapi tidak apa-apa.
Dan sepertinya Ria belum selesai bicara.
"Lalu, buku catatan itu."
Dia menunjuk buku catatan Kosei dengan
jari yang terulur. Karena sedang ditutup saat dia pergi ke toilet, hanya
sampulnya yang terlihat. Chika mengulurkan tangan dan membukanya. Dia memang
tidak tahu sungkan. Dia juga yang mentraktir minuman tadi, jadi mungkin dia
merasa sedikit oke saja.
"Ooh. Padahal ini catatan bahasa
Inggris, tapi ada rumus matematikanya."
Saat melihat halaman terbaru, benar saja
ada deretan angka. Hmm?
"Itu sepertinya dia meringkas
bagian yang sulit dipahami oleh Seika."
"Eh?"
"Dia melihat di mana kamu buntu,
mengukur tingkat pemahamanmu... mungkin dia bermaksud untuk mengajarimu secara
fokus saat kalian belajar berdua, atau mungkin dia berniat membuatkan soal-soal
serupa untukmu."
Kosei... padahal aku yang mengajak
secara mendadak, tapi dia sampai memikirkan hal sejauh itu untukku. Aku merasa
sangat terharu.
"Aku juga buntu di sana-sini, tapi
dia tidak membuatkan untukku ya."
"Tidak, mungkin dia berpikir kamu
memang sudah tidak bisa ditolong lagi?"
"Benar juga. Apa kamu benar-benar
bisa naik kelas? Padahal aku heran, bagaimana bisa kamu lulus masuk SMA
ini."
Ria dan Chika memukul telak. Yah, Aine memang bodoh seperti kelihatannya. Kalau memohon dengan
sungguh-sungguh mungkin saja Kosei mau mengurusnya, tapi kalau begitu, Kosei
bakal sibuk mengurus Aine dan prestasi Kosei sendiri malah turun. Memang
kasihan... maksudku, aku tidak akan membiarkannya.
"Pokoknya, karena dia sampai
membuatkan ini secara alami, tidak salah lagi kalau dia menganggap Seika jauh
lebih spesial daripada orang lain."
Begitu ya. Berarti menjadi dekat
dengannya bukan hanya sekadar harapan pribadiku saja. Setelah dijamin oleh
pihak ketiga, apalagi orang ahli asmara yang tidak melewatkan detail sekecil
apa pun di buku catatan itu, kepercayaan diriku semakin dalam.
"Baguslah, Seika. Paling tidak,
setidaknya dia pasti menganggapmu sebagai teman yang sangat dekat, kan?"
Aine berkata sambil tertawa
terbahak-bahak.
"......"
Teman, ya.
"Kalau begitu, giliran
selanjutnya adalah naik level dan membuatnya sadar kalau kamu perempuan. Tidak apa-apa. Persahabatan laki-laki dan perempuan itu tidak
akan bertahan lama. Pada dasarnya. Mungkin."
Dia memang orang yang selalu asal
bicara. Bodoh pula.
"Tunjukkan bagian sensitifmu,
bagian sensitif. Belahan dada... ah, maaf."
"Aaa!?"
Aku bisa, lho! Kalau dikencangkan dan
didorong ke atas.
...Yah, selain aku, mereka bisa
membuatnya secara alami. Sialan.
"Tidak, aku pikir hanya dengan
menghabiskan waktu bersama secara wajar saja sudah cukup, kok."
Ria menentang pendapat Aine.
"Terus terang, anak yang polos
seperti Seika kalau mencoba melakukan rayuan seksi malah akan merasa malu
sendiri, panik, dan jadinya malah canggung."
"Tidak, hal seperti itu... mungkin
saja terjadi."
Kejadian masa lalu lewat di kepalaku
satu per satu.
"Yah jujur saja, saingan
Kutsuzawa-kun mungkin rendah, jadi aku rasa kamu bisa menjatuhkannya sedikit
demi sedikit."
"Memang. Kutsuzawa kalau diajak
bicara ternyata menarik, kalau dia aktif bergaul dengan perempuan mungkin saja
bisa punya pacar... tapi dia tidak pernah bicara duluan."
Kalau memikirkan Kosei, seharusnya aku
tidak boleh merasa senang, tapi saat memikirkan bahwa hanya aku yang tahu sisi
imut dan sisi menariknya, rasa superioritas muncul. Memang aku sendiri tidak
bisa menahannya. Jangan-jangan aku punya kecenderungan sedikit yandere?
"Yah, pokoknya begitu. Kurasa
justru akan berjalan lebih lancar kalau kamu tidak memaksakan diri melakukan
rayuan seksi."
"Padahal aku memprediksi bakal
terjadi insiden dan suasananya jadi agak mesum. Walaupun tidak ada belahan
dada."
"Masih mau bicara lagi! Kamu urusi
saja dirimu sendiri supaya naik kelas!"
"Guk."
Begitulah, saat kami mengobrol hal-hal
tidak penting, Kosei kembali. Kami belajar sedikit lagi, dan hari itu berakhir.
Dua hari kemudian. Biasanya hari ini ada
sesi wali kelas panjang, tapi karena akan ujian, ditiadakan. Karena aku sudah
janjian belajar berdua dengan Kosei, sepulang sekolah aku mampir ke rumah
Kutsuzawa. Sepertinya hari ini tidak ada orang di rumah, Kosei menyiapkan
minuman untukku.
"Silakan tunggu di kamarku dulu. Tolong nyalakan
AC-nya juga."
"U-um. Oke."
Aku menurutinya dan pergi ke kamar Kosei. Begitu pintu
dibuka, tercium sedikit aroma tiner.
"Fiuh."
Belahan dada... aku tidak bisa melakukannya, tapi mungkin aku
bisa sedikit berusaha. Aku melepas pita seragamku dan membuka dua kancing
blusku dari atas. Saat AC dinyalakan, embusan udara
mengenai kulitku, rasanya sejuk sekali.
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka,
Kosei masuk membawa nampan.
"......Maaf menunggu. Apa teh
oolong sudah oke?"
"Ah, iya. Terima kasih."
Kosei meletakkan gelas di atas meja,
pandangannya tanpa sengaja tersedot ke arah dadaku. Dari sudut pandangnya,
mungkin bra-ku kelihatan. Setelah membeku sejenak, Kosei terkejut dan menunduk.
I-itu berhasil. Sebelumnya juga pernah
terjadi hal seperti ini, tapi kali ini aku merasakan sisi maskulin dari tatapan
Kosei yang paling kuat. Sebagai aku... tatapan seperti itu dari laki-laki lain
terasa menjijikkan, tapi milik Kosei sama sekali tidak terasa tidak enak.
Pertama, jika nanti kami pacaran, hal
seperti itu juga akan diperlukan, kan. Wah, apa aku bisa melakukannya dengan
baik? Aku bahkan tidak bisa membayangkannya.
Tapi ya. Bahkan kalau aku memikirkannya
sejauh itu, rasa tidak suka atau perasaan menjijikkan itu tidak muncul sedikit
pun. Aku merasa lega sendirian di sana. Tidak, kalau benar-benar menunjukkan
kulit atau sebaliknya, mungkin aku tidak akan bisa tetap tenang, tapi tetap
saja aku yakin perasaan benci atau jijik tidak akan muncul.
Ngomong-ngomong soal kulit... tempo hari
setelah hujan badai, aku melihat Kosei telanjang. Kalau aku dipeluk oleh dada
itu... wah, wah. Gawat. Jantungku berdebar kencang saat membayangkannya.
"......san. Seika-san."
"Eh!? Kya, kya!"
"Apa kita... tidak belajar?"
"Belajar kesehatan
reproduksi!?"
"Bukan, kesehatan itu di hari
kedua, mari mulai dari matematika."
"Ah, iya."
Sial. Padahal aku ingin membuatnya sadar
akan diriku, malah aku sendiri yang mukaku memerah. Lagipula, Kosei, apa dia
sudah tenang lagi? Dia cepat sekali pulih, aku jadi merasa sedih.
★★★
Aku mencoba untuk tetap tenang, tapi
kepalaku hanya dipenuhi dengan pikiran mesum. Seika-san mungkin hanya membuka
sedikit kancing karena kepanasan. Ini adalah naluri laki-laki, atau mungkin aku
saja yang terlalu kurang pengalaman.
Tapi setiap Seika-san membungkuk, bra
hitamnya terlihat dari balik kemeja yang terbuka, tidak mungkin aku tidak
sadar.
Aku tahu kamu kepanasan, tapi tolong
jangan terlalu terbuka. Suhu tubuhku malah jadi naik.
Lagipula, AC sudah disetel 20 derajat
dan kipas angin juga menyala, kupikir itu sudah cukup sejuk. Kapan dia akan
mengancingkan bajunya kembali?
"Bagian ini... mungkin sulit
dipahami."
"......Iya."
Aku hanya fokus pada buku catatan
Seika-san. Dengan mengajarinya seperti ini, perhatianku teralihkan, jadi sangat
terbantu. Seringkali di karya fiksi, ada penggambaran karakter laki-laki yang
sedang dikuasai nafsu lalu mencoba menghitung bilangan prima, ternyata itu
benar-benar efektif. Matematika itu hebat.
Saat aku berpikir begitu dan melihat
ujung pena Seika-san,
"Selesai! Benar tidak?"
Dengan suara yang percaya diri, gerakan
jarinya berhenti. Aku mengikuti rumus dan perhitungan dari jawaban di atas...
ya, benar.
"Tidak apa-apa. Ternyata Seika-san
memang pintar, ya."
Padahal dia bilang benci, ternyata dia
punya daya pemahaman yang cukup untuk tidak menghambat pelajaran matematika,
selain pelajaran jurusan IPS yang dia kuasai. Dia bisa langsung mengerti saat
diajari.
"Ehehe~. Karena cara mengajar
Kou-chan bagus~."
Mungkin dia malu karena dipuji. Dia
mulai bercanda soal hal-hal delapan tahun lalu. Senyum seperti anak nakal.
"Dyukshi! Dyukshi!"
Dia menyerang lenganku dengan
penghapus.
"Ahaha. Sei-chan memang imut,
ya."
Aku membalasnya dengan nada delapan
tahun lalu. Tiba-tiba tangan Seika-san berhenti. Loh?
"Imut... itu."
Dia terlihat sedikit malu. Mungkin dia
sadar diri kalau itu terlalu kekanak-kanakan.
"Baru pertama kali dibilang begitu,
mungkin... ternyata Kosei itu lolikon, ya?"
"Kenapa!?"
'Ternyata' itu maksudnya apa? Aku
dicurigai seperti itu?
"Habisnya, kalau aku menempel
dengan cara biasa, kamu cuek saja, tapi kalau aku bersikap seperti anak kecil
dan manja, kamu langsung bilang imut-imut, dasar malaikat."
Aku tidak sampai bilang malaikat,
sih. Tapi, apakah karena aku sengaja tidak membahas itu, malah jadi tidak baik?
Aku benar-benar tidak paham hati perempuan.
Pokoknya. Kakak pernah bilang, kalau
perempuan sedang memuji diri sendiri sambil bercanda, pada dasarnya dia ingin
dipuji, jadi lebih baik dipuji dengan jujur...
"Tidak. Itu... aku hanya tidak
mengucapkannya saja. Saat berangkat sekolah menempel pun sebenarnya imut,
sampai-sampai aku ingin mengusap kepalamu. Malaikat juga... yah... karena, sepeda."
"Soal sepeda lupakan saja. Ka-kalau
menurutmu imut... mungkin aku ingin kamu mengatakannya."
Suaranya di bagian akhir hampir
hilang, tapi aku benar-benar mendengarnya. Dia ingin dipuji imut olehku, itu
artinya...
Jujur saja, ini sangat memalukan
karena terasa seperti aku terlalu percaya diri, jadi selama ini aku sebisa
mungkin menghindar untuk memikirkannya. Tapi, jangan-jangan
Seika-san sebenarnya...
"Ah! Istirahat, istirahat! Ayo kita
istirahat sebentar!"
Seika-san memotong pembicaraan dengan
sengaja menggunakan nada bicara yang kasar. Dia langsung merebahkan diri ke belakang dan menyandarkan
kepalanya di atas karpet kamarku.
Aku mengambil satu bantal lagi dan
menyodorkannya dengan lembut di bawah kepalanya. Senyumnya saat mengucapkan
terima kasih benar-benar terlihat manis.
"......Tapi ya, soal karya yang
itu, yang katanya bakal selesai duluan, gimana ceritanya? Hah?"
Seika-san menggerakkan kepalanya,
menatap karya seni yang diletakkan di sudut kamar.
"Ah, maksudmu Nobuel?"
"Berhenti menyingkat namanya
begitu."
Padahal menurutku itu singkat dan mudah
dimengerti.
"Sebenarnya, aku berencana
mengikutkannya ke sebuah lomba. Batas waktunya akhir bulan ini."
Aku pun ikut menatap patung Nobuel itu.
Dalam rancangan awal, aku berencana menggunakan bel sepeda yang difiksasi
seperti kerang terbuka, lalu membentangkan jalur landai bercahaya dari sana.
Rencananya, aku akan membuat adegan di mana sepeda yang ditumpangi figur kecil
Chariel Nobunaga sedang melaju di atasnya. Tapi... karena akhirnya karya ini
dibuat terpisah dari dekorasi interior milik Seika-san, aku tidak perlu lagi
menggunakan bel sepeda itu.
Jadi, aku membuat titik awal jalurnya
jadi lebih samar. Sebagai gantinya, aku memasang tiang transparan untuk
menopang jalur tersebut dan menjadikannya sebuah lintasan dengan kemiringan
yang cukup tajam. Yah, di dalam mimpi itu pun memang ada kemiringan, jadi bisa
dibilang aku mereproduksinya dengan lebih akurat.
"Karena mimpi itu adalah rancangan
aslinya, aku takut kalau dibiarkan terlalu lama, ingatan itu akan memudar.
Rasanya, hanya sekaranglah aku bisa menangkapnya. Mungkin Seika-san sulit
memahaminya, tapi mimpi itu... rasanya seperti kumpulan berbagai kenangan sejak
aku bertemu kembali denganmu. Bukankah ini karya yang hanya bisa kubuat saat
ini, sebuah benda yang memuat dua bulan terakhir ini?"
Sulit untuk diungkapkan dengan
kata-kata, tapi mungkin menyebutnya sebagai satu lembar kisah masa muda adalah
yang paling pas.
"Kosei... apa kamu sedang berusaha
mengalihkan perhatian dengan kata-kata puitis?"
"Ah, ketahuan ya?"
Apa yang kukatakan memang bukan bohong,
tapi sebagian besar alasanku adalah karena aku merasa tidak akan bisa
memimpikan mimpi itu lagi, jadi aku memutuskan untuk membuatnya. Bisa dibilang,
aku hanya iseng saja.
Setelah itu, kami belajar selama satu
jam lagi sebelum akhirnya bubar. Terakhir, aku memberikan buku soal buatan
sendiri yang kususun untuk memperkuat kelemahan Seika-san.
Dia terlihat sangat senang dan berterima
kasih. Saat sesi belajar sebelumnya, aku diam-diam mencatat bagian mana saja
yang sering membuatnya kesulitan, lalu menyusun buku ini.
Aku ikut turun ke bawah untuk mengantar
Seika-san sampai ke apartemennya. Aku selalu merasa tidak enak dan berpikir
lebih baik dia pulang sebelum Ibu menutup toko dan kembali ke rumah.
Tapi, sebenarnya Seika-san punya
kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk berbasa-basi dengan Ibu atau Kakak
jika mereka bertemu, jadi mungkin aku saja yang terlalu khawatir.
"Terus ya, anjing bodoh di rumah
Aine itu, dia... celana tante..."
Seika-san terus mengobrol sambil
menuruni tangga. Meskipun dia memegang pegangan tangga, matanya terus menatap
wajahku yang turun lebih dulu. Bukannya aku punya firasat buruk, tapi...
"Kyaa!?"
Seika-san salah melangkah di anak tangga
terakhir. Apa karena dia salah mengira jarak?
Tubuhnya tersungkur ke depan. Aku
buru-buru melompat untuk menopang tubuhnya. Di sudut pikiranku, sekilas
terlintas memori saat aku menahan sepeda di hari pertemuan kami dulu.
Hanya saja... saat itu sentuhannya
terasa keras seperti keranjang sepeda, tapi kali ini.
Ada sensasi empuk yang kenyal,
sampai-sampai telapak tanganku tenggelam ke dalamnya. Ah, ini... meskipun aku
sadar aku telah melakukan kesalahan fatal. Agar Seika-san bisa berdiri sendiri,
aku menahan tubuhnya dengan kuat sebagai tumpuan, lalu menggunakan tangan
satunya untuk mendorong bahunya guna mengembalikan posisinya.
Seika-san menunduk, dan perlahan-lahan telinganya memerah. Dia jelas sadar kalau aku sudah menyentuh bagian itu, kan?
"Maafkan aku."
"Terima Kasih."
Kami mengucapkan kata-kata itu hampir
bersamaan, lalu kembali terdiam sejenak. Tak lama kemudian, Seika-san tiba-tiba
mengangkat wajahnya dan berbicara dengan nada yang sengaja dibuat ceria.
"Wah, aku terlalu asyik mengobrol
sampai salah mengukur jarak. Ahahaha. Thank you ya, sudah menolongku."
Dia mengucapkan terima kasih sekali
lagi. Mungkin bagi Seika-san, ini adalah cara dia mengakhiri pembicaraan
tersebut, tapi aku yang sedang panik malah merespons,
"E-eh, sungguh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu."
Karena rasa bersalah, aku malah
mengungkitnya kembali dan meminta maaf. Seika-san sedikit menundukkan
pandangannya ke arah dadanya sendiri.
"Tidak apa-apa, aku mengerti kok.
Sungguh, aku tidak apa-apa? Yah, kalau bukan Kosei, mungkin sudah kubunuh
orangnya."
Hiii.
"……Aku pulang ya. Hari ini, aku
ingin pulang sendiri. Maaf ya."
"Eh?"
"Tidak apa-apa, aku tidak
benar-benar marah kok. Serius, tidak apa-apa. Besok pagi juga sudah biasa lagi!
Sampai jumpa!"
Dia mengatakannya dengan cepat,
seolah sedang melarikan diri, lalu Seika-san keluar dari pintu depan dengan
terburu-buru.
Aku…… sempat terpaku sejenak, namun
segera sadar kembali dan membuka pintu depan untuk mencarinya. Aku melihat
punggungnya yang sedang berlari dengan kecepatan luar biasa. Sosoknya mengecil,
lalu berbelok ke kiri di tikungan menuju jalan besar dan menghilang dari
pandangan.
Ya. Dengan kecepatan seperti itu, hari masih terang, dan dia
sudah sampai di jalan besar, jadi dia pasti baik-baik saja. Bahkan di saat seperti ini, aku masih mengkhawatirkan keadaan
Seika-san.
Tidak, memang ada rasa khawatir, tapi
lebih dari itu, aku mungkin hanya berusaha memikirkan hal lain agar bisa
kembali tenang.
Aku menutup pintu dan pergi ke dapur.
Tenggorokanku terasa kering seketika. Aku mengambil botol plastik "Morning
Tea" yang kubeli sebelumnya dari kulkas. Meneguknya sekali, lalu menghela
napas.
"Uwaaaa."
Aku telah menyentuhnya. Da-dada seorang
gadis. Apalagi dada Seika-san itu. Dada gadis yang kutemui saat belum ada
tonjolan sedikit pun, menjalani interaksi singkat, lalu bertemu lagi saat masuk
SMA.
Tidak, lupakan saja. Memikirkan hal-hal
dari delapan tahun lalu itu membuatku dicurigai sebagai lolicon. Lagipula, itu
benar-benar menjijikkan.
"Rasanya lembut sekali ya."
Itu pun baru lewat bra dan seragam,
kalau menyentuh langsung…… tidak, kubilang itu menjijikkan.
Lagipula, bukankah aku bukan tipe orang
seperti ini?
Hanya karena tidak sengaja menyentuh
dada gadis. Hanya karena ini pertama kalinya seumur hidup aku meremas dada.
Hanya karena itu……
…………Itu adalah peristiwa besar, tahu.
Karakterku pun jadi berubah, wajar saja.
Semakin akrab dengan Seika-san, semakin
aku sadar kalau aku juga seorang pria.
Apakah Seika-san. Apakah Seika-san benar-benar tidak marah?
Berbeda denganku, dia adalah orang yang blak-blakan, dan dia
sudah bilang tidak apa-apa serta berjanji besok akan kembali seperti biasa.
Jadi, kurasa memang begitu adanya. Tapi, dia sempat melontarkan hal menakutkan seperti
"kalau bukan Kosei sudah kubunuh".
Hm? Tunggu. Kalau "kalau bukan
Kosei", berarti kalau aku itu boleh!?
Tidak, seharusnya bukan begitu
pembahasannya. Itu hanya berarti kalau aku masih bisa dimaafkan, bukan berarti
dia menyambutnya.
Hampir saja aku melakukan lompatan
logika. Inilah alasan kenapa orang yang tidak punya imunitas terhadap gadis
jadi seperti ini.
Aku merasa sia-sia memikirkannya
sendiri. Yang pasti, besok sebaiknya aku
tidak mengungkit topik ini lagi. Berperilakulah seperti biasa.
Seperti biasa…… mungkinkah aku bisa?
☆☆☆
Aku duduk merosot dengan punggung menyandar di pintu kamarku
sambil memegangi jantung yang masih berdegup kencang. Lagipula, aku bodoh ya.
Padahal jantungku sudah berdebar-debar tidak karuan, tapi aku
malah memaksanya bekerja lebih keras dengan berlari kencang. Jangan sampai aku
terkena Heart Attack gara-gara ini.
Meski tahu itu tidak akan menghentikan jantung yang berdebar,
aku tetap menempelkan tangan di dadaku. Dok-dok-dok, detak yang
intens membalas telapak tanganku.
Di sini, tempat yang disentuhnya. Bahkan saat tangannya bergerak, dia sempat meremasnya
sedikit.
"Tak disangka dugaan Aine tepat
sasaran."
Yah, aku juga sempat mencoba
berpetualang dengan membuka sedikit kerah bajuku sih. Tapi aku tidak pernah
bermimpi akan benar-benar disentuh.
"……Bagaimana kalau dia mengira
dadaku kecil?"
Dadaku ukuran cup C. Tidak buruk, tidak
besar juga, pas lah.
Kosei lebih suka yang mana ya? Secara umum, sepertinya yang besar memang lebih
populer.
"Lagipula, dia sadar kan kalau dia
menyentuhnya?"
Dia terlihat sangat malu dan
canggung tadi. Bahkan kalaupun Kosei tipe penyuka dada
besar, dia pasti senang kalau bisa menyentuh milikku yang ukurannya normal!
Tidak, tidak, tidak. Meski begitu,
jangan sampai diobral ya? Aku ini. Tidak mungkin
aku membiarkannya menyentuh hanya karena dia minta.
Harus tunggu sampai dia bilang kalau dia
hanya ingin menyentuh dada Seika-san dan tidak tertarik dengan dada orang lain.
Aku akhirnya tenang dan duduk di
atas tempat tidur. Aku menarik boneka Kosei dari dekat bantal dan memeluknya ke
dalam dada.
"……Akhirnya tubuh aslimu
menyentuhku juga."
Aku hampir mencium dahinya, tapi
berhenti tepat sebelum bibirku menyentuh. Kalau boneka tiruan ini yang
merasakannya, mungkin lain kali aku bisa mewujudkannya dengan tubuh aslinya.
Hal-hal konyol seperti takhayul semacam itu terlintas di benakku.
Akhirnya aku…… mencium dahi dan
pipinya berturut-turut. Aku tidak pernah mencium di area bibir. Itu area spesial. Karena aku ingin melakukannya untuk pertama
kali dengan Kosei yang asli.
"Besok harus seperti biasa. Aku
sudah mendeklarasikan pada Kosei kalau aku akan kembali normal."
Lagipula, ini kan menjelang ujian,
kenapa malah melakukan hal seperti ini.
Aku menatap boneka Chika di atas rak, di
sebelah tiga bersaudara boneka Shiba Inu. Kalau aku melaporkan ini padanya, dia
pasti akan menyeringai, jadi lebih baik jangan.
Keesokan paginya, aku pergi ke kediaman
Kutsuzawa dengan perasaan senormal mungkin. Aku menunggu di bawah bayangan
tiang listrik seperti biasa. Tak lama, Kosei keluar dua menit lebih awal dari
jadwal biasanya. Kami langsung bertatapan.
"Opa, ohayou gozaimasu!"
Tegang sekali ya dia. Lagipula, barusan dia hampir bilang "oppai"
(dada), kan?
"Yo, hari ini agak cepat ya."
Melihat Kosei yang tampak gelisah,
justru rasa tegangku yang hilang dan aku bisa merespons dengan sangat normal.
"Aku takut membuatmu
menunggu."
Biasanya dia tidak sampai sepeduli
itu, tapi khusus hari ini. Terlalu kentara.
"Kau terlalu sadar ya."
Saat aku menebak tepat sasaran, Kosei
langsung panik. Matanya melirik ke sana kemari, sempat terarah ke arah dadaku,
lalu buru-buru membuang muka.
Entah kenapa. Aku yang tadinya tidak
mengerti perasaan wanita yang mengunggah foto seksi ke media sosial hanya untuk
mendapatkan respons pria dan merasa puas, sekarang aku sedikit paham. Yah,
kalau aku sih tidak bisa kalau bukan dengan orang yang tidak spesifik,
maksudnya, bukan dengan orang yang kusuka.
Sekarang, pikiran Kosei benar-benar
didominasi oleh dadaku. Rasa puas dan superioritas itu. Rasanya mulai jadi
kebiasaan.
Bukan berarti aku ingin berada di
atas Kosei sih. Hanya saja, karena biasanya aku
terus-terusan memikirkannya dan perasaanku naik turun karenanya, sesekali
seperti ini juga tidak masalah.
"Ko-kok Seika-san terlihat santai
sekali?"
Wajahnya tampak sedikit kesal. Fufufu.
Ternyata memang menyenangkan.
"Kuperingatkan ya, orang yang
pernah menyentuh dadaku itu cuma Mama atau pelayan toko pakaian dalam, levelnya
segitu tahu? Pria yang pertama menyentuh adalah kau! Harganya mahal, lho?"
Aku malah menggodanya lebih jauh.
"U-uuh. Ayah, Ibu, maafkan anakmu
yang tidak berbakti ini."
"Daa! Hentikan itu!"
Dia mengeluarkan senjata andalannya
karena sudah terpojok.
"Bercanda, serius aku tidak
marah. Aku tahu itu adalah hal yang tidak bisa dihindari saat menopangku."
"Benarkah?"
"Ya, lagipula kalau soal cara
bertanggung jawab, bukan dengan bunuh diri."
"Bukan?"
"……Pikirkan sendiri. Itu
PR-mu."
"Ujiannya sebentar lagi, tapi
masih ada PR!?"
Tak terasa kami berdua tertawa
bersama seperti biasanya.
"……Ngomong-ngomong, bagaimana
rasa percaya dirimu?"
"Sangat yakin. Aku sudah
mengerjakan buku soal yang Kosei beri sampai tuntas. Makasih banyak, ya."
Aku mengucapkan terima kasih sekali
lagi. Berkat mengintip sebelumnya, aku bisa memprediksi dia akan memberiku buku
soal, tapi tetap saja, saat benar-benar menerimanya, aku sampai ingin melompat
kegirangan.
Aku merasa ingin menempel padanya, lalu
menyandarkan bahuku ke bahunya. Angin dari kipas angin portabel membelai pipiku
yang memerah.
★★★
Dari setiap sudut ruang kelas terdengar
suara yang penuh dengan rasa puas dan lega, "Akhirnya selesai~".
Seluruh rangkaian ujian akhir semester telah berakhir saat ini juga.
"Heh. Dilarang mengobrol sampai
pengumpulan lembar jawaban selesai!"
Setelah ditegur oleh Pak Oota, wali
kelas kami, semua orang terpaksa diam. Namun, teman sekelas kami saling
bertukar pandang secara diam-diam. Sepertinya semua tidak sabar untuk mampir
saat pulang sekolah nanti.
"Ya. Kalau begitu, hari ini sampai
di sini saja. Semuanya, terima kasih atas kerja kerasnya."
Suara obrolan yang riuh langsung
memenuhi kelas. Haa, selesai juga. Setelah sampai di rumah, aku akan lanjut
mengerjakan pembuatan Nobu-L. Bersamaan dengan itu juga mengerjakan
aransemen lagu Belle.
Tidak, mungkin Seika-san akan mengajakku
pergi ke suatu tempat lagi. Aku baru saja hendak melirik ke arah kursinya,
saat,
"Kutsuzawa-kun."
Seseorang memanggil namaku dari meja
di sebelah. Saat kulihat, ada siswi berkacamata di
sampingnya. Karena Yokokura-san juga berkacamata, mereka terlihat seperti kakak
adik.
"Eh, ya?"
"Ano ne, anak ini."
Yokokura-san mengarahkan telapak
tangannya ke arah siswi yang berdiri di sebelah kirinya.
"……Aku Hamamura Riko."
Hamamura-san. Seperti pernah dengar di
suatu tempat.
"Saat festival olahraga, aku
terluka dan kau menggantikanku."
"Ah!"
Tepat sekali. Karena itulah, aku dan
Seika-san akhirnya ikut lomba lari kaki tiga.
……Gawat, aku ini. Padahal sudah hampir
tiga bulan sejak masuk sekolah, aku terlalu samar mengenali wajah dan nama
teman sekelas. Bahkan orang yang menonjol seperti Sanekata-san saja hampir
lupa. Mungkin aku harus mengubah kebiasaan menggambar teknik di waktu
istirahat. Ah, sudahlah, untuk saat ini lupakan dulu itu.
"Maaf atas ketidaknyamanan saat
itu."
"Ah, tidak, tidak."
"Sebenarnya aku ingin lebih cepat
mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf…… tapi Kutsuzawa-kun sempat absen
karena flu, lalu ujian dimulai."
Begitu ya. Setelah festival olahraga
memang banyak kesibukan. Di antara masa sembuh dari sakit sampai dimulainya
ujian…… karena peristiwa insiden pengejaran
pria-pria nakal itu, orang-orang populer sedang heboh. Sangat sulit untuk menyela pembicaraan di sana, jadi aku mengerti.
"Tidak perlu dipikirkan."
"Ta-tapi. Kutsuzawa-kun bukannya
menjadi anggota komite karena tidak mau ikut perlombaan?"
Dia mengerti ya. Memang pantas
disebut sesama kaum penyendiri. Tidak, mungkin terlalu lancang jika
menyimpulkannya begitu.
Aku tersenyum kecut dan
menggelengkan kepala perlahan. Memang benar awalnya aku tidak mau.
"Tidak apa-apa, sungguh. Saat
dicoba ternyata cukup menyenangkan."
Itu adalah perasaan yang sejujurnya.
"Kutsuzawa-kun, kamu berubah
ya."
Yokokura-san yang mendengar
percakapan kami dari samping, mengatakan hal itu.
Meski kami tidak punya hubungan yang
terlalu dalam, dia adalah orang yang paling sering kuajak bicara di kelas.
Jika dia yang menilainya, mungkin
memang aku sedikit berubah. Pasti ke arah yang lebih baik.
"Berkat Mizoguchi-san?"
"Ya, itu sudah pasti."
Bisa menikmati perlombaan itu karena
bersama Seika-san. Aku bisa berusaha untuk tidak terlalu memedulikan pandangan
orang sekitar juga karena ingin membalas kebaikan Seika-san.
Namun, karena langsung menjawab dengan
tegas terasa memalukan, aku menggaruk bagian belakang kepalaku yang sebenarnya
tidak gatal.
"……Ngomong-ngomong soal Mizoguchi-san. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih dan minta maaf
padanya."
Hamamura-san melirik ke depan kelas.
Kebetulan sekali, Seika-san sedang berjalan ke arah kami.
"Apa-apaan? Kosei, sedang bicara
apa?"
Dia menyela dengan santai. Keren sekali,
Seika-san.
"Ano…… eh."
Karena yang bersangkutan datang sebelum persiapan mentalnya
selesai, Hamamura-san tidak bisa menatap matanya. Karena aku sangat memahami perasaannya, aku memberikan bantuan.
"Ini Hamamura-san. Dia tampaknya
terus merasa tidak enak hati karena aku dan Seika-san ikut perlombaan
menggantikannya saat festival olahraga."
"Ya, aku sudah tahu meski tidak
diperkenalkan."
Ya juga sih. Setelah tiga bulan masuk
sekolah, mungkin cuma aku penyandang disabilitas sosial yang belum memahami
wajah dan nama teman sekelas.
"Lukanya sudah tidak apa-apa?"
"Ah, i-iya. Maafkan aku."
Hamamura-san menggumamkan sesuatu
seperti "mohon maaf atas saat itu" dengan volume suara yang hampir
tak terdengar. Tentu saja, dia tetap tidak berani menatap mata Seika-san.
"Ya, tidak usah dipikirkan. Lari
kaki tiga dengan Kosei menyenangkan, kok."
"Ah, terima kasih banyak."
Sekali lagi, dia berterima kasih dengan
suara seperti nyamuk.
"Kalau begitu, urusan di sana
selesai ya. Kosei, ayo pulang."
Seika-san memegang tanganku dan mencoba
menarikku berdiri. Tapi, sepertinya Hamamura-san masih punya sesuatu yang ingin
disampaikan. Itu adalah teknik rahasia "menunggu lawan menyadari"
yang hanya dipancarkan oleh orang yang hidup dalam bayang-bayang, yang tidak
dipahami oleh Seika-san. Teknik yang terlalu dirahasiakan sehingga sering kali
berakhir gagal.
"……Apa ada hal lain?"
"Ah……"
Hamamura-san sempat terdiam karena
teknik rahasianya dibongkar olehku, tapi setelah pinggangnya ditepuk oleh
Yokokura-san, dia memasang wajah seolah sudah membulatkan tekad.
"Ini permintaan yang lancang, tapi…… aku ingin
berkonsultasi."
Mata di balik kacamatanya menatap Seika-san dengan ragu.
☆☆☆
Karena keduanya anggota klub penelitian manga, kami
memutuskan menggunakan ruang klub. Saat melangkah masuk ke ruangan yang sempit,
tercium bau kertas dan tinta.
Di tengah ruangan diletakkan meja panjang berbentuk huruf U,
dan barang-barang berserakan di atasnya. Rasanya bahkan lebih berantakan dari
kamar Kosei.
"Silakan, silakan."
Yokokura-san masuk lebih dulu dan membereskan meja. Meskipun, rasanya dia hanya asal menumpuk barang ke meja lain
untuk mengosongkan satu meja.
"……Permisi."
Kosei menarik kursi besi di dekatnya dan
memastikan kursi untukku dan dirinya sendiri. Perhatian kecil seperti ini,
pasti diajarkan oleh Haru-san ya.
"……"
"……"
"……"
"……"
Semua sudah duduk, tapi seketika suasana
menjadi canggung. Yah, kalau dipikir-pikir, ini anggota yang aneh. Aku merasa
aneh karena harus perhatian padahal aku yang akan dimintai tolong, tapi……
"Ne, kalau kalian klub manga,
tunjukkan manga yang kalian gambar dong."
"Eh?"
Yah, mulailah dengan obrolan ringan
untuk mencairkan ketegangan.
"……Apa ada yang bisa diperlihatkan
sekarang ya."
Yokokura-san bergumam pelan. Apa-apaan,
apa mereka juga menggambar hal yang tidak boleh diperlihatkan? Maksudnya manga
yang tidak boleh diperlihatkan itu apa?
"Ah, kalau begitu punyaku."
Hamamura-san berdiri, mengambil amplop
yang diletakkan di tempat kerjanya, dan memberikannya padaku. Aku mengeluarkan
isinya dan membacanya sekilas bersama Kosei.
"O, oh. Seperti bangsawan Eropa abad pertengahan?"
Seorang wanita dengan rambut ikal
sedang diprotes oleh wanita paruh baya yang sepertinya ibu tirinya karena tidak
bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
"Ini jenis yang sering dibaca
Kakak ya."
Wah, Haru-san punya hobi yang tidak
terduga.
Aku membalik halaman pertama naskah
ke halaman kedua. Ibu tiri mengeluarkan sesuatu seperti linggis dan mengancam
tokoh wanita utama. Bukankah dari segi etika dan sejarah linggis itu tidak pas?
Saat aku membalik satu halaman lagi,
tiba-tiba muncul karakter pria yang tampak seperti pangeran di panel besar.
Pria yang sangat tampan, dan hanya karakter ini yang digambar dengan usaha
lebih.
Di balon kata tertulis dialog
"Hentikan!". Sepertinya, pria tampan ini berperan sebagai penolong
tokoh utama.
"Kalau tidak salah…… ini
namanya Suda-po ya."
Kosei memberi penjelasan, tapi,
"Suda-ri."
Hamamura-san langsung mengoreksinya.
Kosei yang ingatannya samar terlihat malu.
"Tapi, begitu ya. Seperti gaya
manga shoujo ya."
Saat kecil aku memang pernah melihat
manga untuk anak perempuan seperti Magic R, tapi setelah sembuh aku sama
sekali tidak. Sekalipun terkadang melihat, menurutku manga shounen lebih
menarik.
"Ah, jangan-jangan permintaanmu
adalah ingin menjadikan Seika-san model gambarmu?"
Kosei bertanya dengan wajah seolah dia
sudah menebaknya. Tapi,
"Ah, bukan begitu."
Sepertinya salah. Kosei yang salah
menebak lagi terlihat malu-malu.
"……Ano, anu. Sebenarnya……"
Dia mencoba bicara, tapi tampak ragu di
saat-saat terakhir.
"Ya, lupakan saja deh."
Ah, bertele-tele sekali.
"Katakan saja. Setelah membawaku
sampai sini, jangan membuatku kecewa karena batal."
"Ah…… i-iya juga ya."
Hamamura-san menarik napas dalam-dalam.
"Aku, ingin menjadi seorang
Gal."
Aku diberitahu sesuatu yang
benar-benar di luar dugaan. Itu kejutan yang bahkan lebih hebat daripada
dipukul dengan linggis tadi.
"Eh……?"
Kosei tampaknya juga sama, dia hanya
bisa mengeluarkan suara satu nada dari mulutnya. Sambil berusaha memutar otak
untuk memahami maksudnya, kami benar-benar terdiam.
Hamamura-san sendiri, setelah
mengatakannya, wajahnya menjadi sangat merah dan dia menunduk sambil gemetar.
Yokokura-san yang tampaknya satu-satunya yang tenang dan tahu permasalahannya,
"Riko-chan, sepertinya masa
kecilnya bersama Miyasaka-kun."
Dia malah menyodorkan informasi
baru. Tidak, tunggu, tunggu. Aku tidak bisa mengikuti alurnya.
Tapi reaksi Hamamura-san sangat luar
biasa, dia mencoba menutup mulut Yokokura-san sampai wajahnya hampir tertutupi.
Kursi besi mengeluarkan bunyi gedubrak yang nyaring.
Ah, entah bagaimana aku mulai paham.
Saat aku menoleh ke sebelah untuk melihat apakah Kosei menyadarinya juga, dia
terlihat sedang berpikir. Mungkin dia sedang menyusun potongan informasi yang
terfragmentasi. Tapi beberapa detik kemudian wajahnya tampak terkejut.
"Uu~. Jahat sekali~"
"Tapi kalau ingin minta bantuan,
kurasa tidak ada pilihan selain bicara, kan?"
"Itu memang benar, sih~"
Interaksi dua anggota klub manga.
Kalau mereka sampai merengek begini, berarti memang benar begitu ya.
"Hamamura-san…… soal Miyasaka?"
Saat kutanya dengan hati-hati, dia mengangguk dengan wajah
merah padam.
"Eh, anu, sebaiknya aku pergi
saja?"
"Tidak, ini sudah terlambat.
Mungkin ada hal yang bisa kau bantu juga, Kosei, kalau Hamamura-san tidak
keberatan, bukankah lebih baik mendengarkannya?"
Yah, kalau mau perhatian, mungkin
Yokokura-san orangnya. Tapi, mengusir Kosei setelah situasi sejauh ini juga
rasanya sangat tidak sopan.
Jadi, yah, ini adalah hal yang tidak
bisa dihindari. Menyerahlah, Hamamura-san. Saat aku mengirimkan tatapan dengan
maksud seperti itu, dia menggerutu "Uuu" tapi akhirnya mengangguk
lagi seolah sudah pasrah.
"……Sejak SD kami bersama, dan itu,
sudah lama sekali."
O, oh. Ternyata lebih lama dari
dugaanku.
"Karena itu, dia sepertinya ingin
meminta bantuan ini dengan mempertimbangkan fakta bahwa sampai beberapa waktu
lalu, pria itu mengincar Mizoguchi-san."
Yokokura-san memberikan penjelasan
tambahan.
"Aku juga sempat menemukan kursus
lisensi Gal di internet, dan terpikir untuk mendaftarnya."
Wah. Seriusan? Saat aku melihat ke arah
Kosei karena firasat buruk, dia menatapku balik dengan senyum bersinar.
"Ternyata benar ada lisensi Gal
ya!"
"Tidak ada. Itu 100 miliar persen
penipuan."
Aku harus menolaknya dengan tegas. Demi
Hamamura-san juga.
"Begitu ya…… ternyata."
"Ya. Untung kau menahan diri."
Tapi ya. Meski diminta untuk menjadi Gal
pun……
"Ngomong-ngomong Seika-san,
motivasi apa yang membuatmu menjadi Gal?"
"Tidak ada. Aku hanya suka riasan
dan gaya pakaian yang menurutku lucu, yang kebetulan masuk kategori Gal. Aku
tidak berniat menjadi Gal, dan kalau mau jujur, sampai sekarang pun aku tidak
merasa diriku ini Gal."
Aku mengerti bahwa jika dilihat secara
objektif, aku masuk dalam kategori Gal.
"Begitu ya. Baru tahu."
"Yah, mungkin ada anak-anak yang
mengagumi Gal lalu memulainya, tapi aku tidak. Jadi, sejujurnya aku juga
bingung kalau ditanya caranya."
Lagipula, kata "Gal"
diulang-ulang sampai kepalaku terasa pusing.
"Untuk saat ini, bagaimana kalau
mulai dari penampilan, meniru gaya pakaian atau riasannya?"
Atas saran Kosei, Hamamura-san
menggelengkan kepalanya. Lalu dia mengambil ponselnya, mengoperasikannya
sebentar, dan mengarahkan layarnya ke arahku.
"U. Ini."
Sebuah gambar gadis otaku yang tampak
gagal menggunakan riasan tebal, dan pakaiannya terlihat kebesaran. Karena
riasannya, wajah aslinya hampir tidak terlihat, tapi kemungkinan besar itu
Hamamura-san. Tidak perlu bicara panjang lebar lagi.
"Mulai dari cara merias…… tidak,
sebelum itu perbaiki posisi punggungmu yang membungkuk. Lalu lepas kacamata
itu."
Belakangan ini memang ada orang modis
yang memakai kacamata klasik berbingkai besar, tapi itu adalah keahlian orang
yang sudah mahir.
"Lagipula, kalau bicara lebih jauh,
kudengar dia sedang mulai akrab dengan siswi dari kelas lain?"
"A, apa benar begitu!?"
Ah, itu informasi yang bahkan
Hamamura-san tidak tahu ya. Dia tampak syok. Entahlah, aku merasa tidak enak
melihatnya. Mungkin karena dia berpikir ada kesempatan baginya karena
incarannya pada Seika-san sudah gagal, tapi ternyata dia sudah menebar pesona
pada yang lain.
……Kalau dipikir dengan tenang, kenapa
dia menyukai jamur yang tidak punya pendirian seperti itu ya.
"Ngomong-ngomong, kau tahu orang
seperti apa dia?"
Yokokura-san bertanya mewakili temannya
yang sedang terpaku. Aku sendiri tidak tahu siapa orangnya, tapi,
"Akan coba kutanyakan pada
temanku."
Kalau bertanya pada Aine yang punya
banyak informasi, pasti dia tahu. Jadi aku segera mengirim pesan lewat LINE.
『Soal yang tadi
dibicarakan, kau tahu orang seperti apa siswi yang sedang didekati Miyasaka?』
Pesannya langsung dibaca, dan
semenit kemudian balasan datang.
『Apa-apaan. Kamu jadi
merasa sayang ya? Jangan begitu dong. Mau menduakan Kutsuzawa?』
『Berisik. Tidak
mungkinlah. Ada alasan tertentu, ada orang yang ingin tahu.』
『Siap. Seingatku ada
fotonya. Tunggu sebentar.』
Lalu sebuah gambar dilampirkan. Saat kubuka dan diperbesar……
"Bukan tipe Gal, tuh."
Rambut hitam panjang. Wajah putih
pucat dengan riasan mata merah yang memberikan kesan kuat, atau yang biasa
disebut doll makeup. Kalau dilihat-lihat, justru lebih mendekati tipe Jirai-kei.
Hmm. Meski terdengar narsis jika aku
yang mengatakannya, rasanya dia mengincar tipe yang wajahnya sedikit di
bawahku, tipe yang imut dan modis. Kalau dianalogikan dengan universitas, ini
jelas pilihan kampus swasta yang lebih rendah. Benar-benar pria itu……
"Ano, bolehkah aku
melihatnya?"
Karena didesak Yokokura-san, aku
mengarahkan ponselku ke arah berlawanan. Dua anggota klub manga yang duduk di
depan, dan Kosei dari samping mengintipnya.
"Wah. Benar-benar tidak punya
pendirian."
Kosei langsung mengatakannya dengan
terus terang. Yah, memang begitu adanya. Terlihat jelas kalau dia hanya memilih
berdasarkan penampilan. Padahal saat festival olahraga aku sudah menasihatinya
agar jangan hanya melihat penampilan luar. Ya sudahlah. Orang tidak bisa
berubah semudah itu.
"Ini…… jadi tidak ada gunanya
kalau aku menjadi Gal?"
"Sepertinya begitu."
Keduanya tampak putus asa. Lagipula.
"Ini pembicaraan yang mendasar,
tapi bukankah sebaiknya kau berhenti saja? Dia benar-benar pria yang tidak bisa
diandalkan."
Aku tahu aku tidak punya hak untuk
berkomentar tentang selera orang lain, tapi……
"……Dulu dia bukan anak yang
seperti itu. Dia pendiam dan penakut, tapi baik hati. Saat aku sedang kesulitan, dia selalu membantuku."
Meskipun, sisi penakutnya masih ada
sampai sekarang. Waktu aku diganggu oleh gerombolan pria iseng, dia malah lari
dengan kecepatan super.
"Saat kucing yang kami pelihara
mati pun, dia terus menghiburku…… dan karena itu aku, anu."
Begitu ya. Alasan yang manis sekali.
"Tapi setelah masuk SMP, dia
mulai berdandan, dan bergaul dengan orang-orang yang disebut kasta atas di
kelas……"
Jadi dia mulai sok berkuasa, ya.
"……Mungkin dia juga merasa tertekan
karena Kakaknya diterima di universitas bagus. Kalau dipikir-pikir
sekarang."
Ah, pola yang itu, ya. Aku kan anak tunggal, jadi aku tidak terlalu mengerti
perasaan dibanding-bandingkan dengan kakak yang berprestasi.
Ya sudahlah, intinya perasaan
Hamamura-san pada pria itu sejak SD sepertinya sungguh-sungguh. Meskipun di
mataku dia hanya seperti jamur, baginya dia adalah pahlawan masa kecil…… aku
benar-benar berharap cinta seperti ini bisa berhasil.
Lagipula, belum tentu juga dia akan
berakhir dengan gadis yang itu. Cara bicaranya pun kasar, kalaupun mereka
bersama, rasanya hubungan itu bakal cepat retak, jadi kurasa kesempatan masih
ada.
"……"
Kosei sepertinya merasakan hal yang sama
denganku, dia tampak berpikir keras mencari ide bagus.
"……Aku memang laki-laki, jadi
saranku mungkin tidak seberapa, tapi terlepas dari masalah 'Gal', kupikir tidak
ada salahnya mencoba belajar dandan atau semacamnya."
"Eh?"
"Ini kanal milik Seika-san. Dia
punya video populer yang berisi panduan makeup dan padu padan
busana."
Tidak usah bilang populer juga kali. Tapi ya, itu
ide yang cukup bagus, sih.
"Selama Miyasaka masih terobsesi dengan lookism,
tidak ada ruginya meningkatkan kemampuan makeup, apa pun gaya yang ingin
dikejar. Aku pikir, kalau dia belajar dari video Seika-san……"
Di akhir kalimat, Kosei jadi agak ragu-ragu, tapi aku merasa
itu ide yang sangat masuk akal.
"Begitu ya…… mungkin itu ide yang bagus."
Yokokura-san pun setuju. Hamamura-san juga tampak lebih
bersemangat karena sudah tahu apa yang harus dilakukan.
"Aku akan mencobanya. Sebisa
mungkin."
……Tangguh sekali anak ini. Padahal
mungkin sudah terlambat, tapi dia masih mau berusaha.
"Terima kasih untuk kalian berdua
hari ini. Padahal aku memaksa kalian datang, tapi kalian memikirkannya dengan
sungguh-sungguh."
Hamamura-san berdiri dan membungkuk
dalam-dalam pada kami. Kemudian dia mengobrak-abrik tasnya,
"Anu. Ini, kalau tidak
keberatan."
Dia menyodorkan sesuatu. Mungkin tanda
terima kasih. Saat kuterima, ternyata itu voucher hadiah toko es krim. Ada tiga
lembar masing-masing 500 yen.
"Boleh? Sebanyak ini?"
"Iya. Ini sekaligus untuk acara
festival olahraga kemarin, sebagai tanda terima kasih dan permintaan
maaf."
Ternyata dia memang sudah menyiapkannya
untuk kami dari awal. Kalau begitu,
tidak perlu sok menolak lagi.
"Terima kasih."
"Terima kasih banyak."
Kami akan menggunakannya bersama.
"Aku mau yang rasa rum
raisin."
"Kecepetan! Jorok, tahu."
Selesaikan dulu urusan dengan orang yang
memberi hadiah baru bicara begitu.
Akhirnya, seperti itulah kami
meninggalkan ruang klub manga. Setelah bubar, aku berpisah dengan Kosei di
tikungan dekat tempat pembuatan karyanya, lalu pulang ke rumah. Sesampainya di
kamar, aku mulai merenungkan kejadian di ruang klub tadi.
Entah kenapa, aku merasa Hamamura-san
ini bukan orang asing. Mengingat dia terus mencintai anak laki-laki yang
disukainya sejak SD, keadaannya persis sama denganku. Termasuk bagian yang
belum berhasil membuatnya menoleh padaku.
"Tapi. Tipe incarannya itu……"
Kosei bukan tipe pria genit yang suka
menebar pesona ke sana kemari, dan dia juga baik pada orang sekitar.
Hamamura-san bilang Miyasaka pun dulu seperti itu. Mungkin saat merasa tidak
bisa mengalahkan kakaknya, dia belajar untuk mempercantik diri sebagai jalan
pelarian. Karena ingin mencari nilai di luar prestasi akademik.
Lalu, dia jadi terobsesi meningkatkan
status diri dengan bergaul bersama orang-orang yang berpenampilan menarik,
kelompok kasta atas di kelas, dan gadis-gadis cantik. Jadi, orang-orang yang selalu berada di sampingnya seperti
Hamamura-san pun tak terlihat lagi.
Aku teringat festival olahraga. Saat
menjadi pasangan lari kaki tiga dengan Miyasaka, Hamamura-san pasti senang
sekali. Padahal dia sedang cedera…… dan Miyasaka tidak terlihat terlalu
khawatir. Dia cuma ingin menarik perhatian dengan berpasangan denganku
yang penampilannya lebih mencolok. Kalau bisa, ingin menjadikanku pacar untuk
menaikkan statusnya. Pasti cuma itu yang ada di kepalanya.
"Benar-benar kebalikan dari Kosei
ya."
Kalau seandainya sekarang aku masih
sakit-sakitan, tidak pandai berdandan, dan rambutku acak-acakan, Kosei pasti
akan tetap memperlakukanku dengan lembut.
Dia pasti akan membuatkan sesuatu dengan
sepenuh hati untuk menyemangatiku. Sifatnya tidak mungkin berubah hanya karena
perhitungan dangkal seperti wajah cantik atau apakah pasangan itu bisa
menaikkan statusnya atau tidak. Semangat Kosei dalam berkarya tidak mungkin
dibangun dari nilai-nilai remeh seperti itu.
"Justru karena itulah, aku jadi
makin cinta."
Yah, tanpa diucapkan pun sudah jelas
kalau aku suka Kosei. Intinya, aku merasa terpacu. Oleh perasaan Hamamura-san
yang begitu kuat.
"Aku lebih beruntung karena
sainganku tidak ada, dan seperti kata Riria, dia jelas-jelas memperlakukanku
lebih spesial daripada yang lain."
Kalau Hamamura-san saja yang cintanya
sesulit itu masih mau berjuang, aku yang kondisinya sudah sangat mendukung
tidak boleh jadi pengecut.
"Huu."
Aku mengembuskan napas panjang untuk
menenangkan diri.
……Sebenarnya, ada satu hal yang ingin
kubalas.
Yaitu kencan di mal waktu itu. Yah,
kalau dibilang balas dendam sih tidak juga, tapi karena aku lepas kendali,
kencan itu jadi batal.
Aku berpikir untuk mengajak kencan lagi
saat kami sudah semakin akrab agar tidak canggung.
Lalu, setelah tahu dari masalah album
bahwa Kosei menerima semua kesalahanku dengan lembut, aku jadi sangat ingin
menciptakan kencan yang indah dan menyenangkan untuknya.
Ditambah lagi, untung atau malang, ada
insiden sentuhan dada waktu itu, jadi dia masih sangat menyadariku. Ujian sudah
selesai dan waktu luang sudah ada, jadi ini kesempatan emas, bukan?
"Kalau begitu, keputusannya sudah
bulat."
Pukul selagi panas. Sekali berniat,
lakukan segera. Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Kosei untuk
memintanya meluangkan waktu besok sepulang sekolah.
★★★
Sehari setelah berbicara dengan
Hamamura-san, aku dan Seika-san pergi ke depan stasiun sepulang sekolah. Tidak
jauh dari stasiun ke arah selatan, ada gerai es krim waralaba nasional.
Singkat cerita, kami datang untuk
menggunakan voucher yang diberikan tadi. Seika-san juga bilang ingin
membicarakan sesuatu padaku, jadi pas sekali.
"Pilih yang mana?"
Toko tidak terlalu ramai, hanya ada
satu orang yang mengantre di depan. Sebentar lagi giliran kami.
"Sesuai rencana awal, rum raisin dan…… cokelat, double."
"Aku juga mau yang rasa cokelat. Satunya lagi mungkin
matcha."
Lumayan ada 1,500 yen. Tapi kalau dipikir-pikir, rasanya
terlalu berlebihan hanya karena menggantikan di festival olahraga dan memberi
saran cinta. Aku ingin bisa membantu hal lain lagi kalau ada.
Tapi hubungan kami dengan Miyasaka tidak sedekat itu…… malah
bisa dibilang aku dipandang sebelah mata olehnya, ditambah lagi dia sempat
mengabaikanku saat kesulitan. Rasanya sulit bagiku untuk mendekatinya.
Kami memesan es krim dan duduk di kursi bagian dalam. Meja di sekitar kami kosong, jadi rasanya aman dari
orang yang menguping.
"Wah. Terima kasih pada
Hamamura-san, ya."
"Iya. Tidak menyangka dia
menyiapkan hadiah seperti ini."
"Iya, kan. Dia orang yang baik.
Soal seleranya pada pria…… yah, bukan hakku untuk
berkomentar."
Dia menahannya, ya. Seika-san sudah
dewasa.
"Semoga dia bisa mendapatkan
sesuatu dari videoku. Kalaupun Miyasaka gagal, setidaknya belajar makeup
dan fashion tidak akan rugi seumur hidup."
Dari cara bicaranya, sepertinya
Seika-san ingin dia berjuang di cinta berikutnya. Tapi ya benar juga.
"Seseorang yang bisa mencintai
dengan sepenuh hati, mungkin akan bahagia jika dipertemukan dengan seseorang
yang mencintainya dengan sepenuh hati juga."
Ikatan antarmanusia itu…… rapuh. Benar-benar bisa berubah karena pemicu atau kata-kata sepele. Karena
itulah, kemampuan untuk tetap mencintai seseorang dengan tulus adalah semacam
bakat.
……Sudahlah, jangan terlalu melankolis.
"Tulus dengan tulus…… ya."
Seika-san mengulangi kata-kataku. Entah
kenapa aku jadi malu, lalu memakan es krim dalam cup dengan lahap. Aku
harus membicarakan hal lain. Saat kulihat Seika-san di depanku, ekspresinya
tampak serius. Sepertinya dia ingin mengubah topik pembicaraan.
"Ne, Kosei."
"Ya?"
"Ano…… ujiannya sudah selesai,
kan?"
Aku mengangguk.
"Jadi, sampai liburan musim panas
nanti, Kosei rencananya mau melakukan apa…… sekadar bertanya saja sih."
"Begitu ya…… karena ada lomba,
pertama aku akan menyelesaikan Nobu-L. Setelah itu, aransemen lagu Belle,
hadiah kesembuhan, dan proyek yang berhubungan dengan Seika-san."
"Ah, begitu ya. Jadi, kamu agak sibuk?"
"Ya, lumayan."
"……Begitu ya."
Suara dan ekspresinya tampak sedih.
Jika dugaanku tidak salah. Dia bertanya tentang jadwalku
karena dia ingin bermain denganku, bukan? Tidak apa-apalah kalau aku sedikit
percaya diri.
Padahal biasanya Seika-san yang selalu menarikku ke sana
kemari, tapi karena dia juga orang yang baik, mungkin dia menahan diri setelah
mendengar jawabanku. Dari posisinya, kedengarannya seperti aku tidak punya
waktu karena sibuk dengan karyaku.
"……"
Melihat Seika-san yang terdiam, aku merasakan sensasi seperti
dicubit di dalam dada.
"……Meskipun pengerjaan karyaku bakal terlambat, itu, aku
juga ingin bermain dengan Seika-san."
"Kosei……!"
Senyumnya merekah seperti bunga. Lalu dengan wajah yang
sedikit memerah,
"Begitu ya, kamu mau main dengan
Seika-san~. Lucu sekali ya, Kosei ini."
Untuk menutupi rasa malunya, dia berkata
begitu lalu mengulurkan tangan dari seberang meja dan mengelus kepalaku.
"Kalau begitu, kencan yuk."
"Ke-kencan?"
"Waktu kita ke mal sebelumnya,
karena aku, kencannya berakhir dengan aneh, kan? Aku ingin minta mengulanginya lagi. Kali
ini…… kencan di mal yang benar."
Begitu ya. Pasti hal itu terus
mengganjal di hati Seika-san. Bukan hanya karena dia lepas kendali hari itu,
tapi juga karena dia merasa merusak waktu yang menyenangkan.
"Saat hari-H nanti, sebagai
permintaan maaf juga, aku ingin pergi ke mana pun yang Kosei suka. Terus, soal
pakaian. Besok aku akan bawa majalah fashion yang ada fotoku, Kosei
pilihkan ya gaya yang kamu suka. Aku akan pakai itu."
"Eh? Eh?"
Seika-san terus mendesakku dengan
usulannya. Pasti dia sendiri merasa gelisah.
"Makanya…… mungkin tempat itu punya
kenangan buruk buat Kosei, tapi tolong kencan lagi denganku!"
Dia membungkuk dari posisi duduk, dan mengulurkan tangannya
di atas meja. Sayup-sayup terdengar suara bisikan dari sekitar. Meskipun tidak terlalu ramai, di dalam toko tetap ada
orang. Sambil menyadari hal itu di sudut pikiranku, tanpa sadar aku menggenggam
tangannya.
"……Kalau aku yang kau maksud,
dengan senang hati aku mau."
Seika-san mengangkat wajahnya dengan
terkejut.
"Ayo kita buat kencan yang
menyenangkan."
Saat kukatakan itu, dia tersenyum dengan
wajah yang tampak ingin menangis. Aku juga merasa sangat lembut. Lalu, saat itu
terjadi.
"Lihat, bukankah anak itu yang
waktu itu menghadapi pria iseng di depan stasiun?"
"Iya. Aku ingat, kelihatannya
penakut tapi ternyata jantan."
"Gadisnya juga orang yang sama,
kan?"
"Iya, iya. Wah, mereka sudah maju
ya. Berharga sekali."
Suara percakapan itu terdengar dari
sekitar. Yang dibicarakan…… tentu saja kami. Uu. Sial. Kalau di toko dekat stasiun
dengan jam yang sama seperti hari itu, peluang bertemu pejalan kaki yang
melihat kami memang ada.
Aku tidak punya keberanian untuk mengedarkan pandangan dan
memastikannya. Tapi entah kenapa, aku merasa tatapan mereka tertuju pada tangan
kami yang bertautan di atas meja.
"……A-anu, sudah waktunya lepas tangannya."
"Ah! Iya. Ahahaha. Wajahku panas."
Seika-san sepertinya juga sadar kami sedang dilihat, dan
langsung melepaskan genggamannya. Saat aku menoleh refleks karena mendengar
suara "A~" yang terdengar kecewa, tatapanku bertemu dengan dua wanita
bersetelan jas. Mereka langsung memalingkan wajah, tapi sudah terlambat. Yah,
salah kami sendiri berpegangan tangan di tempat seperti ini.
Akhirnya, karena merasa tidak nyaman,
kami segera keluar dari toko. Saat terkena udara luar, sepertinya Seika-san
sudah mencapai batasnya.
"Ha-hari ini aku pulang saja! Besok aku bawa majalahnya! Sampai jumpa!"
"Ah, biar kuantar."
"Tidak perlu! Ini masih belum
jam lima! Thank you!"
Dia pergi dalam sekejap. Padahal arah pulangnya sama.
"…………"
Pemandangan punggung Seika-san yang berlari menjauh.
Sepertinya ini yang terakhir kali sejak kejadian tak disengaja saat aku
menyentuh dadanya.
Pertama kali adalah saat berpisah di
mal. Waktu itu, aku ingat betul merasa sangat terkejut karena semuanya terjadi
begitu saja.
Hampir dua bulan sejak itu. Waktu
yang kami habiskan bersama semakin bertambah. Berangkat dan pulang sekolah
bersama, sering mampir saat pulang. Pelayan toko swalayan itu pasti sudah hafal
wajah kami.
Saat hari libur, kecuali saat
Seika-san ada kerja sambilan atau bermain dengan temannya, atau saat aku sedang
bekerja, sisanya hampir selalu kami habiskan bersama.
Kencan ulang dua bulan lalu setelah kami
semakin akrab. Sebenarnya, mengenai lepas kendali waktu itu, aku justru
menganggapnya sebagai hasil dari sifatnya yang sangat memegang janji dan
perasaannya yang dalam, jadi aku tidak memikirkannya lagi. Tapi bagi Seika-san,
itu pasti duri di dalam hatinya. Aku ingin sekali mencabutnya. Karena itu,
kencan berikutnya harus sukses.
Selain itu…… kurasa di dalam dirinya
bukan hanya itu alasannya. Meski aku sempat merasa rendah diri dan menganggap mustahil
dia menyukaiku, melihat perilakunya belakangan ini, dan kejadian hari ini.
Kupikir, dia tidak membenciku. Mungkin. Kalau dia sampai
gemetaran seperti itu saat mengajak kencan, lalu ternyata tidak melihatku
sebagai pria, aku cukup percaya diri untuk mengatakan aku akan mengalami trauma
pada wanita.
Aku merasa terhormat. Sekalipun kalau
itu hanya perasaan samar-samar. Tapi, di saat yang
sama.
"……Takut."
Di balik topeng senyuman, di balik
topeng teman, orang bisa saja berkhianat dengan santai. Gadis yang luar biasa
cantik seperti Seika-san mengejarku, orang yang bahkan tidak bisa membuat teman
dengan benar.
Apakah ada hal semulus itu?
Jangan-jangan di balik topeng itu, dia sedang melihat reaksiku dan menjadikanku
bahan candaan……
Aku menampar pipiku sendiri sekuat
tenaga. Sudah berulang kali kupikir Seika-san bukan orang seperti itu.
Bukankah dia menyelamatkanku dengan
sifatnya yang memegang janji, kebaikannya, dan inisiatifnya? Itu fakta yang tak
terbantahkan. Apa gunanya tidak percaya?
"Huu~"
Setelah mengembuskan napas panjang, aku
pun berjalan pulang.
Sesampainya di rumah beberapa menit
kemudian, ponselku bergetar. Pesan LINE dari Seika-san.
『Maaf ya hari ini
meninggalkanmu pulang duluan.』
Di bawahnya ada stiker anak anjing yang
menyatukan tangan meminta maaf. Sebelum aku sempat membalas tidak apa-apa,
pesan berikutnya masuk.
『Soal jadwal kencan……
akhir pekan ini bagaimana?』
Akhir pekan ini. Sabtu, sama seperti
sebelumnya.
『Mengerti. Besok kita
bahas detail jamnya ya.』
『Oke. Terus, itu.』
Setelah itu kami bertukar pesan sepele
seperti 『Es krimnya enak, ya』, lalu percakapan LINE pun
berakhir.
"Kencan. Sabtu minggu ini, kencan
di mal dengan Seika-san."
Aku mengulanginya tanpa arti. Kurasa
aku…… memang bahagia.
Tiba-tiba, sebuah ide bagus muncul. Seika-san mengira aku hanya membuat Nobu-L untuk lomba.
Saat dia mampir ke kamarku, karya yang
sedang kubuat disimpan di dalam lemari, jadi dia tidak tahu kalau aku juga
sedang mengerjakan interior aransemen Belle. Dengan kata lain……
"Bisa beri kejutan."
Aku membayangkan wajah terkejut
Seika-san, lalu mulai menyiapkan peralatan dengan semangat penuh.
☆☆☆
Ah, akhirnya kulakukan. Satu langkah
maju. Kurasa dia belum menyadari kalau aku sudah jatuh cinta sedalam ini, tapi
kupikir dia sudah paham kalau aku menyadarinya sebagai lawan jenis. Akhirnya.
Akhirnya ya.
Tentu saja ada rasa takut. Malah,
sekarang pun rasanya ingin lari saja. Seperti bilang, "Tadi emosiku
terlalu meluap. Itu cuma kencan teman biasa, kok. Jangan terlalu
dipikirkan!"
Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku
tidak membenci hubungan seperti air hangat yang nyaman saat ini, tapi aku ingin
melangkah lebih jauh. Sambil menunggu dia bilang kita berteman, sampai dia
membuka hatinya, aku mencoba agar dia menyadariku sebagai lawan jenis. Begitu
strateginya, tapi mungkin karena terpacu oleh Hamamura-san, hatiku sudah tidak
sabar lagi.
"Lagipula, kurasa bagi Kosei, teman
itu mungkin sudah sama dengan pacar."
Setidaknya kurasa ambang batasnya
setingkat sahabat. Dan kalau sudah sampai level sahabat, aku pasti tidak akan
bisa menahan diri untuk melangkah lebih jauh. Bahkan sekarang saja, aku ingin
menyentuhnya lebih sering.
Pipi kenyal itu. Rambut yang kasar
tapi nyaman disentuh. Lengan yang tak disangka cukup maskulin. Telapak tangan
dan jari yang kapalan itu. Untuk bisa menyentuhnya tanpa ragu, jelas cara yang
sekarang tidak cukup.
Selain itu, aku juga punya keinginan
untuk disentuhnya. Mimpi tentang dia yang mengelus kepalaku dulu terkadang
masih muncul, perasaan saat tubuh kami bersentuhan saat lari kaki tiga itu yang
terbaik, dan saat dadaku disentuh pun…… ya, aku benar-benar tidak merasa risih.
Aku bahkan berpikir kalau dia sudah benar-benar menyukaiku, aku rela
membiarkannya menyentuhku.
"……Aku memang menginginkan masa
depan itu."
Kalau begitu, hanya ada satu hal yang
harus dilakukan.
Aku mengeluarkan majalah koleksi lama
yang memuat halaman fotoku dari lemari. Aku memilih gaya busana yang paling
membuatku percaya diri. Pilihannya tergantung Kosei. Tapi apa pun yang dia
pilih, akan kuselesaikan dengan sempurna. Menaklukkannya…… mungkin masih belum
bisa, tapi setidaknya akan kubuat dia berdebar-debar.
Aku membayangkan wajah malu-malu Kosei, lalu membalik halaman
majalah dengan penuh semangat.
Keesokan harinya. Sesuai janji, aku
meminjamkan koleksi majalah itu pada Kosei. Aku sudah menempelkan pembatas buku
di bagian yang menampilkan gaya busana yang membuatku percaya diri, tapi
ternyata Kosei justru memilih gaun putih tipis di pojok halaman belakang yang
bahkan tidak kusadari.
Aku sempat mencoba mengarahkannya ke
gaya yang lebih meyakinkan, tapi karena tak sengaja mendengar gumamannya yang
lirih seperti "mirip gaun pengantin", aku jadi tidak bisa mundur
lagi. Aku juga senang dia sampai mencari dan melihat sampai sedetail itu.
Hanya saja, biasanya aku sama sekali
tidak memakai gaya yang se-girly ini. Karena tidak cocok. Rasanya putih dan
abu-abu pucat sama-sama tidak memberikan kesan yang hidup. Sebenarnya, waktu
itu aku juga sempat mencobanya untuk iseng, tapi reaksi editornya kurang
memuaskan. Aku ingat mereka bilang, "Kamu tidak memakainya dengan percaya
diri."
"Tapi, kalau dipikir-pikir
sekarang."
Mungkin maksudnya gaya busana itu
sendiri, atau tantangannya, tidak buruk. Tinggal bagaimana aku membawakannya.
Memakainya dengan percaya diri dan bangga ternyata adalah elemen yang lebih
penting daripada yang dibayangkan.
Fashion dimulai dari hati, ya. Dulu pernah ada model senior yang
bilang begitu. Memang benar juga, sih. Tentu saja, kalau pakai baju bermotif
Nobunaga, ya tidak bisa ditolong lagi.
Lagipula, pria itu tidak mungkin
pakai baju bergambar tokoh sejarah, kan? Aku tidak terima kalau itu sampai
terjadi. Padahal aku sudah meluangkan waktu sampai merasa bodoh memikirkannya.
"Fufu."
Dia benar-benar melakukan hal yang
di luar dugaan. Itu yang membuatnya menarik dan aku tidak bisa berpaling
darinya.
Aku menarik napas panjang. Kosei ingin
melihatku memakainya. Meskipun nanti tidak cocok dan pengunjung mal merasa aneh
melihatnya, tidak masalah, kan?
Aku menepuk pipiku pelan dan memikirkan
padu padan keseluruhannya. Membayangkan sandal dan tas yang kupunya, aku mulai
menyusunnya di kepala. Aku ingin menjawab perasaan Kosei.
Lebih dari dua jam kemudian, aku
berhasil menemukan kombinasi yang memuaskan.
Alas kaki menggunakan sandal hak tinggi
hitam. Tasnya, aku berani memilih warna hijau zamrud. Aku sempat takut
mencocokkannya dengan warna rambutku, tapi aku sudah memutuskan untuk
menyesuaikan dengan selera Kosei.
Dengan ini saja!
Tidak apa-apa. Pasti tidak apa-apa.
★★★
Sejak itu sampai akhir pekan, baik aku
maupun Seika-san, sama-sama merasa sedikit melayang. Bukan berarti kami
mengurangi waktu bersama karena terlalu sadar.
Pergi-pulang sekolah tentu saja, lalu
ada acara makan camilan ringan di toko swalayan itu, saling menunjukkan lembar
jawaban yang sudah dikembalikan, melakukan evaluasi atau perayaan kecil, dan
banyak kejadian lainnya.
Tapi, di sela-sela itu pun, aku sempat
terpikir bahwa akhir pekan nanti aku akan kencan dengan gadis ini. Aku sering
tidak sengaja melirik profil wajahnya yang cantik. Atau sebaliknya, aku bisa
merasakan tatapannya di profil wajahku.
Sambil menjalani hari-hari seperti itu,
diam-diam aku terus melanjutkan pembuatan interior aransemen Belle.
Pertama, membongkar Belle menjadi
bagian atas dan bawah. Memotong bagian poros di bagian bawah agar rata dan memberi
lapisan dasar.
Mengecat permukaannya dan mencampurnya dengan kerikil buatan
dari resin untuk meniru aspal. Di atasnya, aku menaruh miniatur aku, Seika-san,
dan "Mizoguchi-go". Untuk "Mizoguchi-go", aku membeli
rangka yang mirip dan mengecatnya sambil melihat barang aslinya. Bagian rantai
dan hub yang rusak kuberikan warna karat merah secara detail.
Miniatur diriku dan Seika-san kubuat perlahan dari tanah
liat. Ngomong-ngomong, saat membuat bagian dada, rasionya jadi terlalu
realistis sampai aku merasa sangat bersalah. Sepertinya telapak tanganku
mengingatnya, aku sungguh minta maaf.
Posisi figurin keduanya diatur dengan komposisi: saat aku
sedang memperbaiki rantai, Seika-san sedang berlutut dan mengintipnya dengan
tangan di lutut.
Awalnya aku ingin membuatnya di momen saat aku menahan
sepedanya agar tidak jatuh, tapi karena kelihatannya seperti aku sedang
memegang keranjang dan mau mencuri sepeda, jadi idenya dibatalkan. Jadilah
bentuk yang sekarang.
Dengan segala macam usaha, karya yang membuatku puas itu
selesai pada Kamis malam. Agak mepet, sih.
Interior yang dibuat agar bagian atas dan bawah Belle
bisa dibuka seperti kerang, sehingga bisa dilihat kapan saja. Di bagian bawah
terdapat "Mizoguchi-go" yang rusak dan kami berdua. Sebuah karya yang
meniru situasi saat itu. Aku menyimpannya dengan hati-hati di dalam kotak
bening.
Setelah selesai, tanpa sadar aku mengangkat kedua tangan
tinggi-tinggi di kamar sendirian, "Yes!". Karena rasa puas dan antisipasi bahwa dia pasti akan senang, aku jadi
berputar-putar di kamar sampai tiga kali tanpa alasan.
"Dia bakal senang, kan?"
Termasuk saat masih milik Ibu, sepeda
itu sudah lama sekali di keluarga Mizoguchi. Dari sekian banyak kenangan, yang
dipilih adalah pemandangan di hari itu, saat aku bertemu kembali dengannya.
Itu suatu kehormatan, dan pasti karena
dia punya perasaan sayang. Karena itu, aku berusaha memberikan yang terbaik
untuk menjawab perasaannya.
Tidak apa-apa. Pasti tidak apa-apa.
Lalu, hari Sabtu yang dinanti-nanti pun
tiba. Akhir pekan terakhir sebelum libur
musim panas. Orang-orang yang terlihat seperti pelajar cukup banyak, tapi orang
dewasa terasa sedikit. Mungkin separuh dari para pekerja sedang
masuk. Terima kasih atas kerja kerasnya.
Atau mungkin, ada orang-orang yang bisa
mengambil libur tiga hari dengan Hari Laut, sedang pergi wisata kecil bersama
keluarga. Pokoknya, ini seperti celah udara, jumlah orangnya hanya sekitar
separuh dari yang kubayangkan. Sejujurnya, itu sangat membantu. Yah,
kesulitanku menghadapi keramaian juga sudah lebih baik dari sebelumnya.
Apalagi hari ini, karena aku bersama
orang yang paling bisa kuandalkan di dunia ini selain keluarga, kelonggaran
psikologis pun terasa lebih besar.
Tadinya aku berpikir begitu, tapi saat
menemukan Seika-san yang berdiri menunggu di tempat pertemuan, dan melihat
sosoknya, kecemasan yang sama sekali berbeda tumbuh di dalam diriku.
Ah, pantaskah aku berjalan bersama gadis
secantik itu? Jangan-jangan tiba-tiba polisi masa muda datang dan menjatuhkanku
hukuman mati karena tidak tahu diri.
"Ah! Kosei!"
Dia melambai dengan kegembiraan seperti
anjing setia yang menemukan pemiliknya. Karena dia berlari kecil mendekat
dengan suara sepatu yang beradu krak-krak, aku pun panik dan berlari ke
arahnya.
"Ja-jangan memaksakan diri,
Seika-san."
Kalau dilihat dengan teliti, sandal hak
tinggi yang dikenakannya hanya diikat dengan tali kulit yang tampak sangat
tipis dan tidak meyakinkan. Mengingat Seika-san yang tidak suka barang-barang
yang sulit dipakai bergerak, fakta bahwa dia memakai benda semacam ini
membuatku sadar sekali lagi kalau hari ini benar-benar istimewa.
"Yah, memang susah sih buat gerak."
Sambil memegang kedua tanganku yang terulur seolah ingin
memeluknya, Seika-san terkekeh, persis seperti bayi yang sedang belajar
berdiri.
Setelah dia memperbaiki posisinya, aku
kembali menatapnya. Gaun putih yang memperlihatkan bahunya itu memiliki aksen
rumbai ringan, desain yang manis sekali. Tas tangan yang dibawanya berwarna
hijau zamrud dengan kilap yang tidak terlalu mencolok.
"Ba-bagaimana?"
Menerima tatapanku, dia menunduk sedikit
dengan ragu, lalu melirikku dari bawah. Ditambah dengan gestur itu,
"Sangat, sangat manis."
Aku menjawabnya tanpa perlu berpikir
panjang.
"Benarkah?"
Suaranya juga terdengar sedikit polos. Aku berkali-kali mengangguk mantap. Aku menatapnya
secara keseluruhan lagi. Ya, benar-benar manis.
"Gaya gal yang keren dan cantik
seperti biasanya memang menawan, tapi baju yang benar-benar feminin seperti ini
juga sangat manis dan bagus."
Seika-san sampai memerah hingga ke
telinganya, tapi dia tersenyum bahagia…… karena ingin melihat
wajah itu lebih lama lagi, aku terus memberikan pujian.
"Terima kasih. Ternyata
permintaanku dulu memang tepat."
Setelah mengatakannya, akhirnya kepalaku
kembali dingin, dan seketika rasa malu menyerangku.
Ah. Uaaa. Isi ucapannya memang tidak
bohong, tapi kenapa aku terus mengoceh seperti ini di depan orang banyak.
Saat itu, sepasang wanita bersetelan jas
lewat di dekat kami sambil berbisik,
"Lihat deh, anak-anak itu. Padahal
baru janjian tapi wajah mereka sudah merah padam."
"Wah, iya benar. Imut
sekali~!"
Mereka berlalu sambil berbincang
seperti itu. Akhir-akhir ini sering sekali kejadian seperti ini. Apa di
Sawamigawa sedang ada tren pengamatan masa muda?
Baik aku maupun Seika-san merasa sangat
tidak nyaman.
"A-ayo kita pergi!?"
Karena ingin cepat-cepat pergi, suaraku
sampai sedikit pecah.
"Ya-ya, ayo!"
Seika-san juga tidak sampai pecah
suaranya, tapi nadanya terdengar seperti salah mengatur volume.
Aku pun mulai berjalan terburu-buru.
Tapi, saat sadar Seika-san tidak bisa mengikutiku, aku segera berbalik arah.
"Maaf, apa aku terlalu cepat?"
Akhir-akhir ini tubuhku sudah sangat
hafal dengan kecepatan jalannya, dan harusnya aku bisa menyesuaikan secara
alami.
"Bukan, bukan itu. Tapi hak
sepatuku."
"Ah…… maaf. Aku sama sekali tidak
mengerti urusan cewek."
Payah sekali aku ini. Padahal baru saja
aku memegang tangannya karena sadar jalannya sulit, tapi karena panik aku malah
lupa.
"Jangan pasang wajah seperti itu.
Kita berdua ini kan baru pertama kali seumur hidup melakukan kencan yang benar.
Lagipula, kalau kau sudah terlalu ahli menghadapi wanita, justru itu yang
kubenci."
Melihatku yang panik, sepertinya
Seika-san yang lebih dulu tenang.
"Makanya…… supaya aku tidak jatuh,
boleh pinjam lenganmu?"
"Eh, ah, iya."
Sesaat, sempat terlintas pikiran aneh di kepalaku, tapi saat
tangan kanannya masuk ke lengan kiriku, aku langsung paham artinya. Ini namanya menggandeng lengan.
Aku menahan napas saat kulit kami
bersentuhan. Kulitnya terasa lembap karena keringat, tapi lembut dan halus.
Jantungku rasanya mau copot.
"Ayo?"
Aku mengangguk kaku, dan gerakan itu
membuat sikuku sedikit bersentuhan dengan dada Seika-san. Dia mungkin pura-pura
tidak menyadarinya.
Kalau sedekat ini, kontak tak sengaja
seperti tadi pasti akan terjadi lagi…… apa jantungku akan bertahan sampai
kencan ini selesai?
☆☆☆
Aku menggandeng lengannya dengan cukup berani, tapi karena
Kosei juga terlihat cukup gugup, keberanianku tidak sia-sia. Yah, sebenarnya aku juga malu sih.
"Ke mana…… sebaiknya kita
pergi?"
Suara Kosei masih sedikit bergetar.
"Seperti yang kukatakan waktu mengajakmu, hari ini
prioritasnya adalah tempat yang Kosei inginkan."
"……Hmm. Kalau begitu, bagaimana
kalau kita ke toko khusus capsule toy di lantai tiga? Pasti ada sesuatu
yang Seika-san sukai juga di sana."
Wah. Ide yang bagus. Karena ada banyak
jenis mainan, sepertinya aku tidak akan terseret ke dunia para panglima perang.
Jadi, kami segera menuju tenant
lantai tiga. Mesin-mesin berderet rapi di atas
lantai bertekstur kayu. Tokonya cukup ramah pengunjung, banyak orang tua
membawa anak, tapi ada juga kelompok wanita.
"Kuil…… zaman perang……"
Entah kenapa orang di sebelahku
menggumamkan hal yang meresahkan. Tapi aku mencoba mengabaikannya dan masuk ke
toko. Lorongnya sempit, jadi saat berpapasan dengan orang lain, kami harus
memiringkan badan. Setelah dua menit berkeliling,
"Ah."
Aku menemukan mesin yang berisi
model mini pedang legendaris para panglima perang. Aku sempat bimbang, tapi
akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Kosei.
"Kosei, di sini ada pedang
panglima perang."
"……!"
Dia mendekat dengan wajah berbinar.
Baguslah.
"Wah. Benar juga. Oh, ada enam
jenis ditambah satu rahasia. Rahasianya…… pasti Tonbokiri, ya."
Jangan tebak dengan santai hanya dari siluetnya. Lagipula itu
bukan pedang, apa tidak apa-apa?
"Karena Seika-san yang
menemukannya, silakan duluan."
"Tidak, tidak, tidak. Kenapa
jadi begitu?"
"Eh? Bukankah biasanya yang
menemukan yang harus duluan……"
Apa ini tidak sampai padanya?
Tawar-menawar seperti itu hanya akan
berhasil kalau keduanya memang sama-sama menginginkannya.
"Sudahlah, aku tidak usah. Kamu
saja yang main."
"O-oh, begitu? Terima kasih."
Kosei mengucapkan terima kasih, lalu
mulai mengintip ke dalam mesin dari samping. Itu tingkah anak SD banget, tahu.
"He-hei, sebentar. Malu,
hentikan."
Lubang hidungnya sampai kembang kempis
begitu.
"……Karena aku benar-benar tidak
tahu, aku coba putar dulu ya."
"Ternyata tidak tahu ya……"
Aku kan jadi rugi karena malu sendiri.
Kosei memasukkan koin 500 yen dan memutar kenopnya. Terdengar suara berat logam
yang bergerak di dalam. Setelah diputar penuh, sebuah kapsul jatuh ke tempat
pengambilan. Kosei segera membukanya. Aku tidak tahu jenis-jenisnya, jadi aku
mengambil instruksi kecil yang disertakan untuk memeriksa. Tertulis Soza
Samonji.
"Soza…… Samonji?"
"Berhasil! Ini pedang legendaris Imagawa Yoshimoto
kesukaan Seika-san!"
"Aku tidak suka."
Ternyata kecurigaan itu masih hidup, ya.
"Ah, masa sih. Bercanda."
"Aku serius bicara."
"Bicara serius, ya? Fufu."
Ah, sudahlah. Menyebalkan.
"Hadiah."
"Tidak mau."
Masa kencan pertama yang layak, hadiahnya Imagawa.
Akhirnya, mainan pedang itu berakhir di situ saja. Sepertinya
Kosei hanya asal bicara, lalu dengan santai menyimpannya ke dalam sakunya
sendiri. Tapi, tidak bisa dipungkiri kalau sebenarnya dia memang
menginginkannya untuk dirinya sendiri.
Setelah itu, kami mencari mainan bertema
hewan. Karena peminatnya banyak, kami segera menemukannya. Bahkan banyak
sekali.
"Apa kita beli juga untuk Chika
sebagai tanda terima kasih?"
"Ah, iya benar juga. Karena sudah
banyak membantu kita. Dia suka yang…… bertema alam atau beruang, ya?"
"Iya, benar."
Beruang lucu, ya…… tunggu, Kosei malah menuju ke seri hewan buas. Aku menarik
ujung bajunya untuk menghentikannya. Saat dia menoleh, wajahnya tampak bingung.
"Tidak boleh? Beruang alam
liar. Reproduksi otot bahunya cukup bagus, lho?"
"Otot bahu tidak perlu. Tolong
bedakan antara beruang alam liar dan beruang lucu."
"……"
Apa ini tidak sampai padanya?
Butuh waktu sekitar dua menit bagiku
untuk menjelaskan pesona maskot beruang yang lucu dan keagungan alam liar agar
dia mengerti. Akhirnya, setelah Kosei mengerti, kami memutar mesin boneka
beruang kecil untuk memilih dua jenis sebagai hadiah untuk Chika.
Setelah itu, aku berhasil mendapatkan
mainan Shiba Inu incaranku, dan kami sempat berkeliling sebentar di toko hewan
peliharaan. Tanpa terasa, kami asyik bermain hingga hari sudah lewat tengah
hari. Saking serunya, kami benar-benar lupa waktu.
Karena tidak mungkin terus-terusan makan
di pujasera, kami memutuskan untuk berkeliling di lantai restoran. Meskipun
pengunjung tidak terlalu membeludak, sepertinya tidak ada tempat yang tidak
perlu mengantre. Ngomong-ngomong, biaya kencan hari ini dibagi dua untuk
pengeluaran bersama, sementara belanjaan masing-masing dibayar sendiri-sendiri.
Itulah pembagiannya. Aku yang mengajak, jadi aku sempat bilang akan mentraktir,
tapi Kosei menolaknya.
Sebaliknya, dia malah menyinggung soal
kipas angin portabel tempo hari dan mengkhawatirkan apakah aku punya uang.
Padahal aku sendiri sudah lupa pernah berbohong soal itu. Aku panik setengah
mati berusaha menutupinya. Tidak mungkin aku bilang kalau aku pura-pura bokek
hanya supaya bisa nempel padanya. Meski begitu, sepertinya dia agak
menyadarinya. Yah, dia pun tidak mungkin berani bertanya, "Apa kamu
pura-pura miskin supaya bisa nempel padaku?"
"Kita makan apa ya?"
"Hm, terserah kamu saja."
Ah, ini jawaban yang paling dibenci saat
kencan. Saat aku melihat Kosei dengan panik, dia berkata,
"Kalau begitu, aku ingin makan
omurice."
Ya ampun, imut sekali.
"Oke, setuju. Ayo kita ke
sana."
Karena kegemasannya, aku secara alami
menggandeng tangan Kosei. Memang, karena
orang di sekitar cukup ramai, kami sempat berhenti bergandengan lengan tadi.
Tapi kalau cuma tangan, harusnya tidak terlalu memalukan, kan? Lagipula, tidak
ada orang yang benar-benar memperhatikan kami.
"Kosei, waktu kecil dulu, kamu
suka omurice yang ada bendera di atasnya?"
"Eh? Kok tahu? Kamu tahu yang
ada di piring anak-anak itu, kan? Aku selalu memakannya dengan hati-hati dari
pinggir supaya benderanya tidak jatuh."
Matanya berkilat seperti anak kecil yang
menceritakan rahasia berharga. Aku ingin sekali mengelus kepalanya.
Untungnya, restoran omurice itu tidak
terlalu ramai dan kami bisa masuk tanpa antre. Waktu menunjukkan hampir pukul
satu siang. Kurasa kami bertukar tempat dengan pelanggan yang masuk saat jam
makan siang.
Kami diantar ke meja dengan sofa di
sisi dinding dan kursi di sisi tengah. Secara alami, Kosei
membiarkanku duduk di sofa sementara dia mengambil kursi. Poin plus untuknya.
Tapi,
"Kita duduk di sofa berdua
saja?"
Aku ingin mengelus kepalanya, lho.
"Eh? Boleh begitu?"
"Boleh dong. Ayo, kemari."
Saat aku menepuk kursi di sampingku, dia
pindah dari kursinya. Penurut sekali.
"Wah! Kenapa kamu mengelus
kepalaku?"
Meski sempat kaget dan tubuhnya
menegang, Kosei tetap membiarkanku mengelus kepalanya. Aku makin menjadi dan
lanjut mengelus pipinya yang kenyal. Ya ampun, kulitnya benar-benar kenyal.
Kosei membiarkan tanganku berbuat
sesukanya, dia membuka menu sambil tetap kupuji.
"Ah, yang ini kelihatannya enak. Bacon dan
jamur……"
"Gaya rambutnya……"
"Aku pesan saus krim udang
saja."
"Ahahahaha."
Aku tertawa terbahak-bahak karena dia
cepat sekali berubah pikiran. Tapi gara-gara itu, aku jadi sulit makan jamur
karena teringat hal tadi.
"Aku…… mungkin yang pakai hamburg
saja."
Kencan ini masih panjang, jadi aku butuh energi.
Kami mengirim pesanan lewat panel sentuh. Kosei membawakan
air minum swalayan untuk kami berdua. Baik sekali.
Sambil mengobrol tentang anjing dan
kucing yang kami lihat di toko tadi, makanan pun datang. Kami bertukar satu
udang milik Kosei dengan satu gigitan hamburg milikku, lalu mulai makan.
"Mm~ enak sekali. Telurnya
benar-benar tidak bisa kutiru. Lembut sekali."
Kenapa aku bicara dengan gaya
inversi (kalimat terbalik) seperti itu, ya?
"Ah, tapi. Kosei kan jago masak,
mungkin kamu bisa?"
"Kurang lebih bisa."
"Wah, hebat. Pakai susu, ya?"
"Iya, aku pakai susu. Tapi ada juga
yang pakai krim kental. Kuncinya, jangan dipaksa dibentuk di atas wajan, tapi
pindahkan dulu ke atas plastik wrap."
Wah, wah. Luar biasa. Penjelasan
praktis yang sangat mendetail.
"Nanti, kapan-kapan kalau kita main
pas siang hari, aku akan buatkan."
"Serius!? Asyik."
Minggu depan sudah libur musim panas,
aku pasti akan sering mampir. Aku harus memberikan biaya bahan dan upah
lelahnya.
"Lagipula, aku juga akan buatkan
sesuatu untukmu."
"Eh? Seika-san bisa masak?"
"Yah, tidak terlalu hebat sih. Tapi aku merasa selama ini hanya dibantu terus sama
Kosei."
Sambil mengucapkannya, aku merenungi
diriku sendiri. Selama ini aku hanya memikirkan apa yang
bisa dia buatkan untukku. Itu tidak baik.
"Omong-omong…… masakan andalanmu apa?"
"Ochazuke?"
"Pfft."
Dia menertawakanku!? Tunggu saja, aku akan latihan sampai
benar-benar jago.
★★★
Setelah selesai makan, kami memutuskan
untuk membeli baju untukku. Karena ada model profesional di sampingku, sayang
sekali kalau tidak meminta saran.
Memang, aku harus lebih memperhatikan
penampilanku. Kalau libur sekolah musim panas nanti, aku akan sering berjalan
dengan Seika-san menggunakan pakaian santai. Kalau aku berpakaian terlalu aneh,
aku hanya akan membuatnya malu.
Saat aku mengutarakan hal itu,
"Sebenarnya gaya Kosei yang
sekarang pun sudah biasa saja. Kaos biru tua dengan celana cargo hitam."
Jawabnya.
"Maksudku, itu terlalu biasa. Aku
pikir aku harus menyesuaikan gaya berpakaianku agar cocok dengan
Seika-san."
"Hm~ sebenarnya aku juga belum
pernah jalan berdua dengan pria selain Kosei."
Ugh. Tiba-tiba dia bilang hal yang luar
biasa. Aku tahu Seika-san tidak punya pengalaman pacaran, tapi mendengarnya
tiba-tiba seperti ini membuat otakku bergetar.
"Makanya, aku tidak pernah terpikir
untuk menyuruh pria memakai baju yang serasi dengan gayaku. Menurutku, tidak
perlu memaksakan diri, selama Kosei memakai baju yang pantas bagimu, itu sudah
cukup."
"Be-begitukah?"
"Manusia itu paling bagus kalau
memakai baju yang ingin mereka pakai dengan cara yang mereka sukai."
Seika-san yang sudah naik eskalator
lebih dulu menoleh ke bawah, menatapku.
"Jujur saja, aku tadi tidak percaya
diri dengan bajuku ini, tapi karena Kosei senang sekali, sekarang aku jadi
merasa senang memakainya."
Mendengar itu lagi membuatku malu. Tapi,
aku sebagai orang yang meminta harus menghargainya.
"Itu…… menurutku benar-benar manis. Sangat cocok
untukmu."
Saat janji temu tadi aku sangat bersemangat sampai bisa
mengatakannya dengan lancar, tapi memuji di saat tenang seperti ini butuh
keberanian besar. Telapak tanganku sampai berkeringat.
"Ya, terima kasih."
Seika-san tampak sedikit malu-malu.
"Kalau begitu, mari fokus mencari
baju tipe yang Kosei suka. Nanti aku akan berikan saran untuk sentuhan
akhirnya."
Setelah mengunjungi beberapa toko,
koleksi kaosku bertambah.
Ah, aku mencoba sedikit petualangan
dengan membeli warna ungu dan merah muda. Seika-san benar-benar punya selera
yang bagus karena dia memilihkan baju dengan pola dan warna yang pas dan
terlihat cocok untukku.
Setelah memilih baju, saat kami keluar
ke lorong mal, ada kerumunan orang di satu sudut. Aku dan Seika-san saling
bertukar pandang, tapi dia pun tidak tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ya?"
"Coba kita lihat, yuk."
Aku mengangguk. Biasanya aku tidak akan
masuk ke dalam kerumunan, tapi hari ini berbeda.
Kami sampai di lokasi. Kerumunan itu
tampaknya didominasi keluarga dengan anak kecil. Orang tua di belakang, anak-anak di depan. Di tengah
lingkaran, ada seorang pria berusia 30-an. Mengenakan kaos oranye dengan rompi
kuning dan topi hitam. Dia terlihat seperti orang yang memang pekerja seni.
Seperti dugaanku, pria itu rupanya akan
menunjukkan balloon art. Ada pompa tangan dan beberapa balon panjang
yang belum ditiup di atas meja panjang.
"Oh, balloon art."
"Ternyata ada acara seperti ini
hari ini ya."
Mungkin informasinya sudah ada di situs
web mal.
"Kosei, kamu bisa melakukan
itu?"
"Tidak. Itu di luar
bidangku."
Yah, meskipun sama-sama kerajinan
tangan, mungkin suatu saat aku harus mencobanya.
"Halo semuanya~. Sekarang, kakak
akan menggunakan balon ini untuk membuat hewan, jadi coba tebak hewan apa
ya~."
Pembawaannya sangat luwes. Mungkin dia
seorang profesional.
Anak-anak menjawab "Iya~!"
dengan ceria dan fokus ke tangan kakak itu. Kakak itu menyambungkan ujung pompa
ke mulut balon dan mulai memompa. Dalam sekejap, balon itu mengembang panjang.
Dia memegang ujungnya dan memutarnya dengan jari. Bagian itu menekuk dan
membentuk oval. Terlihat seperti sosis.
Dia terus membuat bentuk oval dengan
ukuran yang sama. Setelah tiga buah, kakak itu memutar-mutarnya dengan gerakan
lincah, dan dalam sekejap telinga dan wajah pun terbentuk. Anak-anak bersorak.
"Sepertinya itu toy poodle.
Bentuk klasik."
"Iya, ya. Aku juga pernah
lihat."
Kami berbisik-bisik. Kalau sampai
terdengar anak-anak yang belum tahu jawabannya, bisa merusak kesenangan mereka
menebak.
"Nah, kita buat lagi terus,
ya~."
Kakak itu lanjut melakukan tugasnya
dengan cekatan, dan saat sudah setengah jalan,
"Anjing!"
"Pups!"
Anak-anak mulai bisa menebak dengan
benar. Kakak itu tersenyum lebar memuji anak-anak, lalu dengan cepat
menyelesaikannya dan meletakkan karya itu di atas lantai mal. Boneka itu
berdiri dengan tegak.
Setelah itu, kakak itu terus
menciptakan berbagai benda dengan tangkas.
Sekarang dia sedang mengutak-atik
balon merah muda yang disambung membentuk lingkaran. Dia menekan bagian
tengahnya, membuat lipatan, dan membentuknya menjadi hati…… tongkat sihir gadis
penyihir pun selesai.
"Nah, siapa yang mau~."
Anak-anak sangat bersemangat. Mereka
melompat-lompat dengan tangan terangkat. Kakak itu memilih
seorang anak perempuan berusia empat tahun untuk diberikan hadiah. Gadis kecil
itu sangat senang dan mengayunkan tongkat itu,
――Buk!
Dia tidak sengaja memukul anak laki-laki
di sampingnya. Anak laki-laki itu yang sebelumnya sudah menerima balon
berbentuk pedang,
――Buk!
Memukul balik gadis kecil itu.
"Wah. Kompetisi bela diri lintas jenis sudah
dimulai."
"Gawat. Keduanya menangis sambil terus
mengayunkannya."
Orang tua masing-masing berusaha menahan mereka, tapi karena
mereka meronta, pedang dan tongkat sihir pun berayun kesana kemari.
"Aku juga dengan Soza Samonji
ini……"
"Berhenti. Jangkauanmu terlalu
pendek, nanti kamu malah dihajar habis-habisan."
Benar juga.
"Sudahlah, ini seperti neraka, mari
kita pergi."
"Benar juga."
Acara yang menyenangkan berubah menjadi
kekacauan dengan jeritan anak-anak dan bentakan orang tua.
……Acara anak-anak itu sulit ya. Kami
memanjatkan doa dalam hati untuk kakak yang tampak bingung dan tidak tahu harus
berbuat apa, lalu kami meninggalkan tempat itu.
☆☆☆
Setelah pertunjukan mendadak itu
berakhir, kami mulai merasa tidak ada kegiatan lagi.
Aku menemukan toko hobi yang mungkin
disukai Kosei, dan bilang padanya bahwa dia boleh melihat model plastik kastil,
tapi dia menjawab, "Aku sudah membuat semuanya." Hebat sekali.
"Di lantai empat ada tempat seperti
lounge, bagaimana kalau kita ke sana?"
Aku tidak punya ide lain, tapi aku belum
ingin berpisah.
Padahal kami sering mengobrol santai
setelah pulang sekolah, ya.
Di sana aku baru sadar. Ah, pasangan
atau suami istri yang tinggal bersama biasanya menghabiskan waktu dengan
bermesraan di rumah setelah bermain di mal. Enaknya. Tanpa perlu memperpanjang
kencan, mereka sudah punya waktu berdua yang terjamin.
"Lantai empat ya. Aku baru pernah
ke lantai restoran. Tidak tahu ada tempat seperti itu."
"Padahal di daerah sendiri, tapi
jarang ke sini?"
"Paling hanya sesekali dengan
keluarga. Seika-san sepertinya lebih tahu."
"Iya. Sesekali dengan Mama.
Terus, karena Hinano tinggal di dekat sini, aku sering ke sini dengannya."
Teman sekolah sejak kelas tinggi SD
sampai SMP. Teman yang paling lama kutemani setelah Chika.
Tapi saat masuk SMA, dia pindah ke
Sawamigawa karena pekerjaan orang tuanya, dan dia tidak bisa masuk sekolah kami
karena nilai akademiknya kurang. Banyak sekali orang di sekitarku yang sering
pindah rumah.
"Ah, kamu bilang sering bermain
di hari Minggu, ya."
Sabtu dengan Kosei. Minggu seringnya
dengan Hinano, dan jika waktunya cocok, kadang dengan Chika juga.
"Lagipula, bukannya kamu sering
mengunggahnya ke Twista? Kamu jarang melihatnya, ya?"
Aku menatapnya tajam, tapi dia hanya
tertawa kecut untuk menghindar.
"Tapi, kalau kamu sesering itu
ke sini, aku memang tidak bisa menandingi pemahamanmu tentang Ivan Mall."
"Yah, kami kan hanya pergi ke tenant
yang itu-itu saja. Aku juga tidak tahu ada toko khusus capsule toy."
Sambil berbincang tidak penting
seperti itu, kami sampai di ujung lantai empat. Ada beberapa set sofa yang
disusun melingkar.
Salah satunya dikuasai anak-anak.
Entah apa yang menyenangkan, mereka berulang kali memanjat lalu melompat turun.
Para orang tua sibuk mengobrol di tempat yang agak jauh.
"Ke dalam sana yuk."
Kami menghindari kebisingan itu dan
pergi ke tempat paling ujung. Dari jendela besar, kami bisa melihat pemandangan
kota.
"Wah."
Kosei sedikit terperangah.
"Aku suka tempat ini."
"Begitukah?"
"Kita bisa melihat seluruh kota,
kan? Lihat, di sana…… rumah sakit tempatku dulu dirawat."
"Ah, Rumah Sakit Pusat
Sawamigawa."
"Iya, lantai tujuh di sana."
"Maaf, aku tidak tahu sampai detail
lantainya."
Kosei memasang wajah menyesal.
"Ah, tidak apa-apa. Aku tidak akan
marah karena hal seperti itu."
"Ah, maksudku bukan begitu……"
Suasana jadi canggung dalam sekejap. Ah,
kenapa aku malah bahas lantai rumah sakit tadi, sih.
Namun, tangan Kosei meraih tanganku yang
hampir terkulai lemas, menggenggamnya dengan erat.
"Ah……"
Kelembutannya terasa. Kosei pasti hanya
merasa menyesal karena tidak bisa mengingatnya, tidak ada maksud lain. Ternyata
aku saja yang terlalu sadar diri karena merasa rendah diri. Aku balik
menggenggam tangannya erat.
"……"
"……"
Setelah jeda beberapa saat,
"Omong-omong, nama direktur rumah
sakit itu luar biasa, lho."
Kosei berkata dengan suara yang
dibuat-buat ceria. Dia pasti ingin mencairkan suasana.
"Eh? Benarkah?"
Aku juga ikut menanggapi sambil
berterima kasih atas perhatiannya.
"Namanya Ooyabu (Hutan
Besar)."
"Yang benar saja!? Kalau tahu
namanya begitu, aku tidak mau dirawat di sana!"
Kami tertawa bersama.
"Tapi, kalau bukan karena
Ooyabu-san, aku tidak akan bertemu dengan Chika dan Kosei……"
"Tapi bagiku, aku berharap waktu
Seika-san menderita saat kecil lebih singkat."
Dia memang baik hati. Tapi bagiku,
pertemuan dengan kalian berdua adalah harta karun. Lagipula, mungkin saja aku
bisa berteman dengan Chika di sekolah barunya nanti, tapi entahlah apakah aku
bisa bertemu Kosei tanpa Ooyabu-san.
Aku merasa dia agak meremehkan pertemuan
kami, dan itu terasa sepi. Aku menggenggam tangan Kosei yang hendak terlepas,
menahannya.
"……Aku, punya target untuk datang
ke mal ini."
"Eh?"
"Dulu dari jendela rumah sakit, aku
bisa melihat mal ini sedang dibangun. Derek raksasa membawa kerangka besi
merah, setiap hari terbangun dengan dentuman suara pembangunan."
"Ah…… saat itu, ya."
Kosei melihat ke langit. Yah, orang lokal pun tidak akan
ingat bangunan apa yang dibuat tahun berapa.
"Kalau aku sudah sembuh, aku akan bermain di mal itu. Itu jadi salah satu motivasiku."
Kosei mendengarkan dengan alis yang
melengkung sedih.
"Yah, akhirnya aku malah pindah
rumah sakit sebelum malnya selesai dibangun."
Saat aku tertawa kecut, Kosei juga
tertawa serupa.
"Karena itulah, saat pertama kali
datang ke sini bersama Chika dan Hinano di SMP, aku sangat terharu."
"Ya."
"Ternyata aku sudah bisa pergi
sejauh ini naik kereta, ke kota tempat tinggalku dulu."
Ternyata aku sudah sebebas itu.
"Bangunan itu bertahan
bertahun-tahun, puluhan tahun, jadi pasti banyak orang lain selain aku yang
punya kenangan tersendiri…… terus ada tanpa berubah, itu sendiri bisa jadi
penanda bagi hati seseorang."
Membuat sesuatu itu benar-benar hebat,
ya.
"Aku juga ingin mencoba membuat
sesuatu……"
"Membangun gedung?"
"Bukan, arsitektur terlalu
berat. Entah bagaimana…… mungkin aku harus
diajari Kosei."
Seketika mata Kosei berbinar.
"Nobu."
"Selain Nobunaga! Lagipula bukan
panglima perang!"
"Cha."
"Chariel juga jangan!"
Tidak ada calon yang benar. Kenapa jadi
begini.
"……Kalau begitu, bagaimana kalau
kita buat aksesoris?"
"Ah, aku tahu! Aku pernah lihat
videonya, katanya pakai barang 100 yen. Kosei bisa?"
"Aku belum pernah membuatnya, tapi
aku selalu membuat yang lebih rumit dengan resin."
"Wah, mau! Tapi…… aku sudah banyak
merepotkanmu, kalau aku manja lebih jauh lagi……"
Aku selalu saja memikirkan apa yang bisa
aku terima.
"Tidak apa-apa, kok. Sekarang, yang
paling menyenangkan bagiku adalah karya kreatif yang kubuat untuk
Seika-san."
Karena dia mengatakannya dengan senyum
yang benar-benar bahagia, jantungku rasanya mau berhenti.
Yang paling menyenangkan adalah membuat
karya untukku? Padahal dia sangat suka membuat barang? Yang paling menyenangkan di antara semua yang dia
sukai?
Bisa! Ini bisa! P-pengakuan cinta! Aku tidak akan
ditolak, pasti. Mungkin. Pasti.
Ah, tapi apa aku harus diakui sebagai
teman dulu? Padahal menurutku suasananya sudah sangat bagus.
"Kalau begitu, setelah libur musim
panas, kita buat kelas aksesoris resin, ya. Sebelumnya, selesaikan Nobuel untuk
lomba. Kamu akan sibuk."
Berlawanan dengan kata-katanya, dia
tampak penuh semangat karena merasa puas dengan dirinya. Aku agak keberatan
karena dia memperlakukan Nobuel sama pentingnya dengan diriku, tapi kalau Kosei
senang, ya sudahlah.
Lebih dari pukul empat sore.
Hari masih terang, tapi kami memutuskan
untuk selesai. Duduk di bangku luar, makan es krim yang kami beli di jalan,
kami menikmati sisa waktu hari ini.
"Seru sekali~"
"Iya. Bajunya bertambah banyak, dan
aku juga bertemu dengan pedang yang bagus."
Dia bicara seperti samurai saja.
"Selain itu…… aku senang bisa
mendengar filosofi Seika-san."
"Dibilang filosofi, jadi malu."
Tapi memang, rasanya aku bicara dengan suasana sentimental
tadi.
"Kita sering bicara saat pulang sekolah atau setelah
sekolah, tapi tidak pernah bicara sedalam itu."
Apa yang terjadi di sekolah, cerita
makanan, cerita game, cerita pelajaran. Tanpa diduga, topik pembicaraan
kami tidak pernah habis hanya dengan kehidupan sehari-hari.
Jika tidak ada kesempatan seperti ini,
memang tidak ada waktu untuk menunjukkan isi hati terdalam.
Kapan-kapan, bisakah Kosei……
menceritakan hal itu padaku? Sebelum aku jadi
sentimentil lagi, aku menghabiskan suapan terakhir es krimku.
"……Ayo pulang."
Tidak ada barang yang lupa dibeli,
tidak ada yang tertinggal. Aku sudah janji akan bermain lagi lusa. Tapi tetap saja…… rasanya sedih sekali kencan hari ini harus
berakhir.
★★★
Karena masalah sepatu, aku membonceng Seika-san yang datang
dengan berjalan kaki, dan mulai mengayuh sepeda.
Dia meletakkan satu tangannya di sekitar
perutku untuk menyeimbangkan diri, seperti tempo hari. Saat aku melirik ke
belakang, tangan satunya lagi menahan ujung gaunnya agar tidak melebar.
Menjadi perempuan itu sulit. Dia pernah
bilang saat mengobrol kalau rok seragam saja selalu merepotkan. Kalau terlalu
panjang seperti parasut, kalau terlalu pendek jadi dilihat pria-pria di jalan,
dan sebagainya.
Sambil memikirkan hal itu di sudut
pikiranku, tenggorokanku kering karena tegang.
Setelah ini, aku berencana untuk meminta
sesuatu padanya. Bukan bermaksud menjadikan pemberian karya Belle
sebagai jaminan, tapi aku akan mengatakannya saat itu nanti.
Minta dia jadi temanku.
Sudah terlambat kalau dibilang sekarang,
memang. Tapi bagiku, mengucapkannya dengan kata-kata punya arti yang sangat
besar.
'Memangnya selama ini kamu tidak
menganggapnya teman?'
Aku membayangkan akan dituduh
seperti itu. Tapi pasti, hal itu tidak akan terjadi dalam kenyataan.
Tidak diragukan lagi, Seika-san juga
memikirkan situasiku. Mungkin dia tidak mengerti detailnya, tapi dia berusaha
untuk tidak memaksakan kata "teman" padaku.
Karena itu, tidak apa-apa. Aku bisa
percaya pada orang sebaik dia.
Aku akan mengatakannya. Aku ingin
menjadi temannya. Aku harus membalas kebaikannya.
Akhirnya, sepeda sampai di depan pintu
masuk utama apartemen.
"Terima kasih, sampai di sini saja.
Hari ini benar-benar seru."
Seika-san tersenyum, meski terlihat agak
sedih, meski kata-katanya tulus. Aku memarkir sepeda di pinggir trotoar dan
menguncinya. Sepertinya dia paham maksudku, wajahnya seketika bersinar.
"Mau mampir?"
"Boleh bicara sedikit lagi di
lobi?"
Saat aku mengatakannya, Seika-san
mengangguk berkali-kali. Kadang-kadang, dia
jadi seperti anjing yang imut.
Seika-san membuka kunci dan masuk ke
dalam. Untungnya, sepertinya tidak ada penghuni apartemen lain. Hari pertama
libur panjang.
Orang-orang yang pergi bermain pasti
belum pulang, dan mereka yang memutuskan untuk tetap di rumah pasti sudah
selesai belanja makan malam, jadi ini adalah saat-saat yang tenang.
"Duduk, duduk. Ah~ sejuknya."
Kami duduk di sofa yang berseberangan
dengan meja kaca di tengah.
"……"
"……"
Bagaimana cara memulainya. Memulai
dengan obrolan biasa pun aneh. Kesan kencan sudah dibicarakan panjang lebar.
Tidak, sekarang yang kubutuhkan hanyalah
keberanian. Di hari yang istimewa ini, kupikir hanya saat inilah aku bisa
mengatakannya, jadi aku sudah memutuskan untuk menyampaikannya hari ini.
Namun, meskipun begitu, keberanian itu
tak kunjung muncul, dan akhirnya aku tidak bisa mengatakannya selama kencan
tadi.
Saat itu, secara kebetulan, Seika-san
lebih dulu menceritakan hal yang cukup serius. Dia membagikan bagian yang
sangat sensitif di dalam hatinya.
Bahkan bagi seseorang yang biasanya
blak-blakan seperti dia, pasti rasanya memalukan untuk menceritakan hal itu.
Meski begitu, dia menahan rasa malunya dan memilih untuk membaginya denganku.
Tindakan orang ini selalu menjadi
semacam penunjuk arah bagiku.
Aku mengambil satu napas dalam-dalam,
lalu membuka pembicaraan.
"Anu, Seika-san. Sebenarnya, ada
sesuatu yang ingin kuberikan padamu."
Aku membuka ritsleting tas yang kubawa
seharian ini. Aku mengeluarkan kotak figurin dari dalamnya dan meletakkannya
perlahan di atas meja.
"I-ini!?"
Wajah Seika-san terkejut. Kelopak
matanya terangkat lebar, dan gliter pada riasan matanya berkilau tertimpa
cahaya lampu neon.
"Kamu membuatnya?"
"Iya. Diam-diam. Untuk hari
ini."
Di dalam bel sepeda kecil itu, terdapat sepeda yang lebih
kecil lagi, beserta aku dan Seika-san.
"Wah. Serius? Kupikir kamu cuma sibuk bikin Nobuel
terus."
Tenggat waktu untuk karya itu akhir bulan nanti, jadi aku
masih punya waktu luang. Itulah kenapa aku memprioritaskan yang ini.
Aku ingin menyelesaikannya tepat waktu untuk kencan kami.
Karena aku pengecut, kupikir aku tidak akan bisa mengungkapkannya kalau tidak
dengan hadiah seperti ini.
"……Seika-san. Apa kamu ingat apa
yang aku katakan di sini sebelumnya?"
"Eh, apa ya?"
"Bahwa aku senang bisa bertemu
denganmu lagi."
"Ah, iya. Aku ingat…… karena aku
senang sekali."
Itu terjadi saat aku berselisih paham dengan Seika-san dan
aku mengejarnya. Belakangan, aku sendiri kagum dengan keberanianku yang
bisa-bisanya mendatangi rumahnya seperti itu, rasanya seperti menonton orang
lain.
Tapi kurasa, jauh di lubuk hatiku, sejak
saat itu aku sudah ingin menjadi teman Seika-san. Meskipun kepalaku lupa
tentang Sei-chan, instingku tahu. Aku tahu dia adalah gadis yang setia kawan
dan berhati dalam.
"……Mungkin itu adalah bencana
bagimu, Seika-san, tapi justru karena kerusakan sepeda itu, kita jadi bisa
bertemu lagi, kan?"
Sebuah miniatur yang meniru adegan itu.
Seika-san menangkup kotak itu dengan kedua tangannya dan mengintip ke dalam.
"Setelah itu, selama lebih dari dua
bulan, kita mengobrol dan bermain hampir setiap hari. Pergi ke sekolah jadi hal
yang aku nantikan. Aku juga merasa lebih bersemangat dalam berkarya daripada
sebelumnya…… semuanya berkat Seika-san."
Aku memikirkannya dari lubuk hatiku. Aku
benar-benar senang bisa bertemu lagi. Karena itulah.
"Bisa…… bisa tidak, kau menjadi temanku?"
Kata-kata yang selalu ingin kuucapkan,
tapi tak pernah bisa kulontarkan…… akhirnya, aku bisa mengatakannya.
☆☆☆
Akhirnya. Akhirnya momen ini datang.
Rasanya lama sekali. Yah, kalau dihitung sejak pertemuan kembali kami baru
sekitar dua bulan, jadi kalau kata orang awam, itu tidak terlalu lama.
Tapi kalau memikirkan betapa aku
mendambakannya, dan betapa intensnya waktu yang kami habiskan bersama setiap
hari selama dua bulan ini, rasanya…… lama sekali.
Aku mengepalkan tangan di bawah meja,
meresapi rasa bahagia itu.
"Iya. Aku juga ingin menjadi teman
Kosei. Lagipula, aku sudah sejak lama menganggapmu teman, bahkan teman yang
sangat dekat."
Aku mengatakannya dengan nada yang
kuusahakan seceria mungkin, supaya dia tidak terlalu memikirkannya. Tapi,
karena terlalu senang, suaraku sedikit bergetar.
"Seika-san……"
Sepertinya Kosei menyadarinya. Dia
perlahan berdiri dari sofa di seberangku, lalu duduk di sampingku. Tanpa ada
yang memulai, kami berpegangan tangan.
"Aku…… aku tidak dimintai pengakuan
karena ada niat jahat atau apa…… hanya saja, itu……"
Aku menggelengkan kepala, memotong kelanjutan ucapannya.
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan
memaksamu bercerita. Menjadi teman bukan berarti kita harus menceritakan
segalanya. Ceritakan saja saat Kosei sudah merasa siap."
Melihat wajahnya yang tampak kesakitan,
aku sadar waktunya belum tepat. Yah, mungkin itu adalah masalah yang akan
selalu terasa berat diceritakan kapan pun itu.
"Seika-san…… terima kasih
banyak."
Lebih dari segalanya, sekarang hubungan kami sudah maju satu
langkah, aku merasa sangat bahagia sampai rasanya ingin melompat. Aku belum
bisa memproses informasi tambahan apa pun.
Aku pernah bilang pada Haru-san bahwa aku "sudah bahagia
dengan keadaan saat ini", tapi saat merasakan kenyataan bahwa hubungan
kami benar-benar maju, hatiku terasa penuh. Rupanya di lubuk hatiku yang
terdalam, aku sempat merasa cemas.
Dan mungkin karena dia merasakan
kelegaan serta kecemasanku selama ini dengan peka, Kosei pun berkata,
"Itu! Karena sudah memakan waktu
lama, aku akan menjaganya dengan baik! Kamu satu-satunya temanku, jadi aku akan
melakukan semua yang aku bisa, dan menggunakan semua waktu yang ada!"
Dia mengatakannya dengan sedikit
tergesa-gesa.
Ah, benar dugaanku. Dia sudah di level
sahabat dekat. Apalagi, orang selembut dan setulus ini pasti akan menjaga
sahabatnya lebih berharga daripada pacar pria mana pun di luar sana.
……Meskipun begitu, aku masih belum puas.
Kalau sudah sampai sejauh ini, selangkah lagi.
"Iya, terima kasih. Mulai sekarang,
kita sahabat karib, ya."
"Iya!"
Kosei pun tersenyum lega. Tapi maaf ya,
Kosei. Aku tidak berniat mengakhirinya
hanya sebagai teman.
"Kalau begitu, aku permisi dulu…… Hari ini, benar-benar menyenangkan. Dan bisa
menjadi temanmu…… aku juga senang."
Suaranya menunjukkan kelegaan yang besar
sekaligus kelelahan. Aku bisa membayangkan betapa besar keberanian yang ia
butuhkan untuk melakukan ini.
"Ajak aku lagi, ya…… nanti aku juga
akan mengajakmu."
Kosei berdiri dengan sigap setelah
mengatakan itu. Aku juga berdiri menyusulnya.
"Hei, Kosei."
"Ya?"
"Pipimu. Ada sisa es krim yang tadi
kamu makan."
"Eh? Bohong!? To-tolong bersihkan."
Dia sedikit membungkuk dan mendekatkan pipinya agar aku bisa
melihatnya dengan jelas. Saat itulah, aku memanfaatkan kesempatan
itu dan berjinjit dengan mantap.
--Cup.
Sebuah suara kecipak air kecil bergema
di lobi yang sepi. Di bibirku, terasa sensasi kulit Kosei yang kenyal.
Aku segera menurunkan kakiku dan
menjauh. Wajah Kosei tampak terkejut. Dia menyentuh bagian bibirku yang sempat
menempel tadi dengan lembut, matanya terbuka lebar.
"Bercanda, dasar bodoh! Itu balasan
karena sudah membuatku menunggu!"
Aku menyambar tas dan kotak figurin
di atas meja, lalu kabur. Pintu otomatis yang menuju ke depan lift terbuka
dengan suara "wing". Aku sempat menoleh ke belakang, merasa sedikit
menyesal karena mengatainya "bodoh". Kosei masih mematung dengan
ekspresi dan gestur yang sama seperti tadi. Sedikit lucu. Sangat lucu dan
manis.
"Sampai lusa ya,"
Ucapku dengan nada cepat, lalu
melesat masuk ke dalam lift. Beruntung liftnya pas
ada di lantai satu.
Aku menarik napas panjang di dalam kotak
lift. Gawat. Jantungku benar-benar berdegup
kencang. Rasanya jantungku terlalu sering dipaksa bekerja keras sejak bertemu
kembali dengan Kosei. Jangan berhenti sekarang, sungguh. Aku baru saja berhasil
maju ke tahap berikutnya, kalau jantungku berhenti sekarang, aku tidak akan
bisa tenang meski mati sekalipun.
"Berhasil."
Aku benar-benar melakukannya. Aku
telah menyelesaikannya.
Kata-kata yang memiliki dua makna itu
keluar dari mulutku. Mungkin, kedua perasaan itu memang ada dalam diriku.
Kami sudah menjadi sahabat, tapi aku
cemas kalau hubungan kami hanya akan berlarut-larut sebagai teman dan dia tidak
akan melihatku sebagai seorang wanita, jadi aku menciumnya.
Bisa dibilang, itu adalah cara untuk
menancapkan "paku" agar hubunganku dengannya tetap terpancang.
Dengan ini, jalan untuk mundur benar-benar sudah tertutup. Aku sudah melompat keluar dari zona nyaman. Sekarang, tinggal
menunggu akhir yang bahagia atau patah hati.
"Tidak apa-apa, dia pasti tertarik
padaku."
Sahabat lawan jenis itu hampir seperti
kekasih, kan? Lagipula, saat aku menciumnya tadi, dia tidak menolak. Yah,
mungkin dia hanya sedang terpaku karena syok. Tenang, tenang.
"Lagipula, aku benar-benar sudah
menciumnya, ya."
Saat mengucapkannya kembali, wajahku
terasa panas seketika. Di dalam lift yang terasa pengap, sensasi pipi kenyal
Kosei kembali terbayang…… aku tanpa sadar menjilat bibirku pelan.
Karena aku sengaja memakai lipstik yang
mudah membekas di toilet mal tadi, mungkin di pipi Kosei pun meninggalkan noda
tipis.
"Ini sudah seperti menandai wilayah
layaknya binatang saja."
Dulu aku sempat berpikir mungkin aku
punya sifat yandere. Tapi sepertinya ini bukan "mungkin", tapi
sudah pasti. Namun anehnya, aku tidak membenci diriku yang seperti itu.
★★★
Tanpa sadar, aku sudah sampai di depan
rumah dengan sepeda. Aku samar-samar ingat sempat menunggu lampu lalu lintas
sekali, tapi selain itu, aku sama sekali tidak ingat bagaimana aku mengayuh
sepeda sampai ke sini.
Pipiku terus terasa panas, dan otakku
seolah mengalami korsleting akibat panas berlebih.
--Aku dicium.
Dia bilang itu hanya balasan karena
membuatnya menunggu, tapi tentu saja itu sulit dipercaya. Kalau itu benar-benar
balasan, seharusnya yang mendarat di pipinya adalah tamparan, bukan bibir. Atau
lebih tepatnya, itu pasti caranya menyembunyikan rasa malu.
Dia melakukannya setelah menyadari bahwa
tindakannya itu adalah sesuatu yang juga membuatnya malu. Ciuman penuh kasih
sayang untuk seorang teman?
Tapi, aku belum pernah melihatnya
melakukan itu pada Dokuchi-san, jadi kemungkinan itu sangat kecil. Jadi, sudah
pasti itu maksudnya adalah "itu", bukan? Tepat saat aku mulai
berpikir pelan-pelan apakah mungkin itu maksudnya, ciuman itu menjadi
penutupnya. Tidak mungkin ini hanya kesalahpahaman, kan?
"Musim panas, tapi musim semi telah
tiba."
"Hei, jangan memanggil kakakmu
tanpa embel-embel."
Suara dari dekat membuatku tersentak
di tempat. Jantungku berdegup kencang seolah baru saja terkena efek visual film
horor.
"Hahaha. Apa yang sedang kau
lakukan, Adikku? Kakak jadi tidak bisa masuk rumah, tahu."
Ah, benar juga. Aku sedang melamun di
depan pintu masuk, jadi Kakak tidak bisa masuk. Dia berdiri dengan pakaian
santai, mungkin baru pulang dari minimarket.
"Bagaimana kencannya…… Eh!?"
"Eh?"
Kakak menatap wajahku dari depan dan tampak sangat terkejut.
"Wah, wah. Berhasil besar, ya? Selamat, ya! Akhirnya
punya pacar!"
"Eh? Eh?"
"Kenapa? Kamu tidak sadar? Coba
masuk rumah dan lihat cermin!"
Kakak mendorong punggungku dan
mendesakku masuk ke dalam rumah. Aku masuk begitu
saja dan menatap cermin yang tergantung di dinding di atas rak sepatu. Ada noda
lipstik merah tipis di pipi kananku.
"Ah……"
Sensasinya masih terasa, dan meski
aku tidak meragukannya, diperlihatkan bukti nyata yang tak terbantahkan ini
membuatku sadar kembali bahwa itu semua adalah kenyataan.
Rasanya aku ingin berteriak
sekeras-kerasnya.
Aku baru saja resmi menjadi temannya,
dan kapasitas perasaanku sudah hampir mencapai batasnya, namun sekarang emosi
yang lebih besar lagi diaduk-aduk di dalam diriku. Perasaan yang meluap-luap
itu ingin sekali keluar dari mulutku.
"U-uwaaaaa!"
Karena malu dilihat Kakak, aku tidak
bisa berteriak dengan lantang, namun aku juga tidak bisa menahannya di dalam
dada. Hasilnya, erangan tidak jelas yang setengah berteriak keluar dari
mulutku.
"Bukan, maksudku, emosi macam apa
itu?"
Mana kutahu.
"A-aku pergi lari sebentar!"
"Hah? Ini sudah waktunya makan
malam, tahu!?"
"Aku segera kembali!"
Tanpa menunggu jawaban, aku mulai
berlari. Aku sendiri tidak tahu ke mana tujuanku.
Bahkan kenapa aku berlari pun aku tidak
tahu. Tapi, kakiku tidak bisa berhenti.
Namun, apalah dayaku. Meski adrenalin
sedang memuncak, stamina tetap punya batasnya, dan aku segera menurunkan
kecepatan.
Sambil mengatur napas, kakiku berhenti
saat aku sampai di taman kanak-kanak sekitar 300 meter dari rumah.
"Haah, haah. Aku, dicium. Di,
pipi."
Meski kata-kataku terbata-bata, aku
tidak bisa menahan diri untuk mengucapkannya. Aku menyentuh pipi kananku pelan.
Bibir Seika-san dan ujung jariku,
rasanya seperti bumi dan langit. Meskipun sensasinya sangat berbeda, tanpa
sadar aku memutar ulang adegan tadi di pikiranku.
Selamat, ya! Akhirnya punya pacar!
Kata-kata Kakak kembali terngiang di
otakku.
Pacar. Memang belum, tapi apakah
perlahan akan menjadi seperti itu?
Sampai hari ini, aku hanya berpikir
mungkin dia memiliki perasaan yang sangat samar, sedikit lebih tinggi dari
sekadar teman.
Tapi aku tidak menyangka akan
mendapatkan pendekatan seaktif ini.
Jika mengutip perumpamaan yang sering
Seika-san gunakan, rasanya seperti universitas negeri ternama yang datang
menawarkan diri secara langsung agar aku masuk ke sana, padahal aku bahkan
belum mendaftarkan diri.
"……Apakah ada hal seindah
itu?"
Entahlah. Setelah tenang, rasanya itu
seperti hal yang mustahil. Tapi, aku sama sekali tidak bisa membayangkan kalau
Seika-san mempermainkanku.
"Bukan mempermainkan, tapi
mungkinkah dia hanya ingin membuatku bingung sebagai balasan?"
Bukan menyembunyikan rasa malu,
melainkan kejahilan. Dia memang orang yang cukup jenaka……
tidak, itu terasa dipaksakan.
Kalau dia gadis yang sembarangan
mungkin bisa saja, tapi gadis yang bisa dibuat semerah itu oleh tindakannya
sendiri, kurasa tidak akan memilih kejahilan semacam itu.
Jadi, apakah perasaannya bukan
perasaan yang samar, dan dia benar-benar mencoba memilihku sebagai pasangannya?
Lagipula, bagaimana dengan perasaanku
sendiri?
Aku senang karena akhirnya punya teman
lagi. Apakah hubungan dengan Seika-san cukup sebagai teman, atau jika bisa, aku
ingin menjadi kekasihnya?
"Aku harus memikirkannya lebih baik
lagi."
Suka sebagai teman dan suka sebagai
lawan jenis. Aku belum pernah memikirkannya sebelumnya.
Yah, wajar saja, karena dia adalah gadis
pertama yang sedekat ini denganku.
……Apa pun itu, ini bukan masalah yang
bisa langsung terjawab dalam waktu singkat.
"Haah~"
Untuk saat ini. Aku pulang saja lah.
Seolah didesak oleh paduan suara
serangga higurashi di taman, aku pun berbalik arah dan berjalan pulang
melewati jalan yang tadi kulewati.



Post a Comment