NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Gyaru no Jitensha o Naoshitara Natsuka Reta Volume 2 Chapter 1


1

★★★

Bulan Juli telah tiba.

Seperti firasatku di bulan Mei dan Juni lalu, tahun ini cuaca sangat panas.

Suhu udara yang setara dengan suhu tubuhku saat demam dilaporkan terjadi di berbagai daerah, dan konon di Sawamigawa kita ini, sudah ada orang yang dilarikan ke rumah sakit karena sengatan panas.

Yah, intinya yang ingin kukatakan adalah.

"Seika-san, panas sekali."

Seika-san menempelkan bahunya erat-erat ke lenganku, mencoba mencari sisa embusan angin dari kipas angin portabelku.

Meskipun tidak ada teman sekelas kita yang berjalan ke sekolah dari arah sini, kami baru saja menjadi korban pengambilan foto secara diam-diam saat insiden pengusiran pria iseng itu.

Aku ingin dia sedikit menahan diri. Lagipula, pejalan kaki lain bisa melihat kita, itu saja sudah cukup memalukan. Namun, Seika-san sendiri malah menanggapi dengan santai.

"Begitu ya? Kipas angin Kosei ini tenaganya lumayan juga, rasanya enak sekali."

Dia tidak mau mendengarkanku. Karena cuaca panas ditambah rasa malu, darah terasa naik ke wajahku sampai rasanya aku hampir matang.

"Lagipula, kipas portabel itu murah, beli saja sendiri."

"Yah, dompetku lagi krisis nih. Kan aku baru saja beli karya Kosei juga? Ah, bukan berarti aku menyesal, ya? Bonekanya benar-benar lucu."

Aku lemah kalau dia bicara begitu. Hm? Tapi kan ini sudah lewat akhir bulan, artinya tanggal gajian juga sudah lewat, kan?

"Uang saku atau yang lainnya bagaimana? Bukannya itu turun tanggal 25?"

"Ah, tidak, itu... aku belum terima... hampir semuanya."

"Gaji paruh waktu atau penghasilan dari YouTube-mu juga sudah tidak ada?"

"Soal itu, yah... jadi perempuan itu butuh banyak biaya. Seperti untuk makeup atau pakaian."

Rasanya mencurigakan. Dia terdengar gugup. Padahal sebelumnya dia bilang akan meminta uang sepeda ke Ibu, tidak mungkin dia tidak bisa mendapatkan uang untuk membeli kipas angin portabel yang murah.

"Jangan-jangan, kamu takut karena kejadian difoto diam-diam itu?"

"Yah, bisa dibilang begitu. Lagipula, sebenarnya siapa sih pelakunya?"

"Yah, siapa pun itu tidak masalah. Hubungan kita kan sudah dijelaskan dengan jelas."




Begitulah. Pagi itu, meskipun kami sudah berhasil kabur berdua, kami tetap saja ketahuan oleh Pak Ota, guru wali kelas kami.

"Jangan berlari di koridor. Lagipula, sebentar lagi wali kelas datang, cepat kembali ke kelas," tegurnya dengan nasihat yang sangat masuk akal. Kami pun kembali ke kelas. Karena ini bukan film remaja, hal seperti itu memang wajar terjadi, bukan?

Lalu saat jam istirahat setelah pelajaran pertama, tentu saja kami dihujani berbagai pertanyaan. Kami akhirnya terpaksa mengaku ke seluruh kelas bahwa kami adalah teman masa kecil yang secara kebetulan bertemu kembali. Tentu saja, aku tidak menceritakan detail tentang kenangan berharga seperti action figure atau semacamnya. Pokoknya, berkat kejadian itu, sekarang kami bisa berangkat dan pulang sekolah bersama, serta mengobrol di dalam kelas dengan santai. Tapi ya.

"Tapi kalau skinship-nya terlalu berlebihan, nanti kita difoto lagi dan jadi bahan ejekan, lho."

"Tidak apa-apa, kali ini kan mereka sudah tahu ceritanya. Aku akan tegas bilang kalau begini ini cara aku menjaga jarak dengan teman."

Bukankah itu cara menjaga jarak dengan teman sesama perempuan? Terkadang aku melihatnya menyandarkan diri atau memeluk Mizoguchi-san, tapi kalau denganku yang laki-laki, itu sama saja meminta orang-orang untuk membuat rumor.

"Ah. Eh, maksudku teman itu, ya... itu, ah..."

Seika-san tampak panik karena salah paham dengan arti diamku. Aku merasa bersalah. Lagi pula, sepertinya dia sudah menyadari kalau aku punya beban pikiran soal hubungan semacam ini. Atau mungkin dia sudah dengar sedikit dari kakak perempuanku.

"......"

Tanpa bicara, aku mengarahkan kipas angin portabel ke arah Seika-san.

Saat wali kelas pagi, kami diberitahu bahwa ujian akhir semester akan dimulai minggu depan. Rasanya berat sekali. Ada bagian yang tertinggal karena aku sempat sakit, dan meski aku merasa bersalah pada Seika-san, aku sempat menghentikan pembuatan pesanan untuk mengejar ketertinggalan belajar... tapi sejujurnya, aku tidak percaya diri.

Jam istirahat.

Alih-alih buku gambar teknik, aku membuka buku kosakata dan menutup tulisan merah dengan lembar plastik merah. Ugh, bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang paling kubenci. Bukan berarti aku merasa tidak butuh karena terkadang ada pelanggan luar negeri yang datang ke toko, tapi tetap saja sulit.

"Kamu semangat sekali, Kosei."

Saat aku menoleh ke arah suara itu, ternyata Seika-san. Sejak festival olahraga, aku mulai terbiasa dengan dia yang menyapaku di dalam kelas. Karena dia menyapa saat dia sudah bosan mengobrol dengan anggota kelompoknya yang lain, frekuensinya tidak terlalu sering.

"Bukankah ujian bahasa Inggris hari kedua? Memangnya sebenci apa kamu sama pelajaran itu?"

Seika-san melirik ke arah tanganku dan tersenyum kecut. Kami sering membicarakan tentang tes saat berangkat atau pulang sekolah, jadi dia sudah tahu pelajaran mana yang kubenci dan kusukai.

"Ahaha, karena ini yang paling bikin khawatir. Seika-san ujian matematika, kan?"

"Ugh. Iya, benar juga. Dan itu di hari pertama."

Ujian matematika ada di jam pertama hari pertama. Dan itu adalah mata pelajaran yang paling dibenci Seika-san. Dengan kata lain, dia jurusan IPS dan aku jurusan IPA.

"......Ngomong-ngomong. Kami sedang berencana untuk belajar kelompok sepulang sekolah hari ini."

"Dengan teman-teman gyaru-mu itu?"

"Iya. Chika, Ria, dan satu orang lagi."

"......"

Ini artinya dia memintaku untuk ikut, kan? Tapi bagaimana ya. Kalau cuma sekadar basa-basi di kelas sih tidak masalah, tapi...

"......Lagipula, kedua orang itu."

"......Ya kan. Mizoguchi-san sepertinya agak agresif, ya?"

"......Jangan-jangan benar terjadi?"

Mendengar bisik-bisik orang di sekitar, ternyata memang banyak yang ingin mengaitkan kami ke sana. Foto diam-diam saat berpelukan juga sudah beredar, jadi aku paham perasaan mereka. Namun, soal itu, Seika-san adalah orang yang sangat jujur dalam mengekspresikan emosi, jadi menurutku tidak ada makna sedalam itu. Mungkin saja itu hanya luapan perasaan karena dia merasa sangat berterima kasih setelah ditolong.

Seika-san sepertinya juga menyadari perhatian orang-orang di sekitar, dia menunduk sedikit. Wajahnya agak merah.

"Aku sudah bilang berkali-kali ke mereka supaya tidak terlalu agresif menanyakan urusan pribadi."

Berarti dia akan menahan jarak khas gyaru itu, ya? Kalau begitu, baiklah. Lagipula, akan sangat membantu jika aku bisa diajari bahasa Inggris dan lainnya.

"Kalau begitu, boleh aku bergabung?"

"Iya! Ayo, datang ya!"

Seika-san tersenyum sangat bahagia. Aku pun ikut tersenyum karenanya. Aku sadar sendiri, aku jadi sedikit berubah. Mungkin karena aku jadi tidak terlalu memedulikan tatapan orang sekitar. Atau karena aku sadar kalau mengubah keputusan hanya karena hal seperti itu adalah sebuah kerugian. Ini pasti pertanda baik, kan?

Waktu berlalu begitu cepat hingga sepulang sekolah. Sekolah kami memiliki fasilitas ruang belajar mandiri, jadi kami menggunakannya. Karena sebentar lagi ujian akhir, kupikir akan ramai, tapi ternyata sepi sekali. Rupanya, kebanyakan orang lebih memilih belajar di rumah atau tempat bimbel.

"Ah, di sini, di sini."

Teman gyaru yang sudah sampai lebih dulu melambaikan tangan. Sanekata Aine-san. Rambut pirang panjang yang pudar, kulit kecokelatan, dan anting tindik besar adalah ciri khasnya. Kabarnya, empat orang termasuk dia adalah inti dari kelompok gyaru di kelas kami. Core Four yang terlihat menyeramkan, hehe.

"......"

Sanekata-san tampak menarik diri. Gawat. Sepertinya aku baru saja melakukan gerakan yang sangat menjijikkan khas orang yang kurang pergaulan, yaitu menertawakan lelucon sendiri di dalam kepala.

"Ah, eh. Namaku Kutsuzawa Kosei. Salam kenal."

"U-uh, iya. Yah, karena kita satu kelas, jadi terasa aneh ya kalau bilang salam kenal. Aku Sanekata Aine. Salam juga."

Sanekata-san berusaha menenangkan diri dan membalas perkenalanku. Karena dia satu kelompok dengan Seika-san, kesannya sangat blak-blakan. Rupanya, orang-orang yang berisik dan suka menggodai kami dengan foto itu berasal dari kelompok yang berbeda. Ternyata ada faksi-faksi kecil di kalangan gyaru, ya. Apa pun itu, sepertinya mereka tidak akan mengorek urusan pribadi terlalu dalam. Seika-san juga bilang dia sudah memperingatkan mereka.

"Oke, kalau begitu ayo kita mulai."

"Chika sama Ria di mana?"

"Mereka sedang beli minum. Kita mulai duluan saja nanti juga mereka balik."

Jadi, saat aku sedang membuka buku pelajaran dan buku catatanku, pintu ruang belajar terbuka.

"Yow. Minumnya sudah dibeli, nih."

Oh, waktu yang pas. Mizoguchi-san meletakkan botol teh ukuran 500ml di depanku.

"Kutsu, kamu suka teh, kan?"

"Ah, iya."

Entah kenapa aku diberi nama panggilan yang aneh, tapi ya sudahlah. Saat aku hendak mengambil dompet, dia menolak dengan keren.

"Tidak usah. Aku yang mengajak, kok. Hitung-hitung ganti biaya guru matematika."

Tidak, aku juga berniat meminta diajari bahasa Inggris, jadi menurut logika itu aku harus membalas sesuatu. Padahal aku sudah banyak berutang pada Mizoguchi-san.

"Oke, mulai yuk."

Atas aba-aba Sanekata-san, semua orang mengambil pensil masing-masing.

Untuk sementara, kami mengerjakan bagian yang bisa kami kerjakan sendiri, dan jika buntu, kami bertanya kepada orang yang ahli di mata pelajaran tersebut. Begitulah cara kami melangkah. Tapi karena aku tipe pemalu, aku hanya bisa bertanya pada Seika-san dan Mizoguchi-san.

"Fiuh. Istirahat sebentar, yuk."

Begitu Sonoda-san berkata demikian, dia langsung merenggangkan tubuhnya. Pensil yang dilemparnya menggelinding di atas buku soal dan berhenti di celah halaman. Aku pun mengikuti langkahnya dan berhenti belajar.

"Aah. Padahal sedikit lagi bisa terjawab."

Hanya Seika-san yang terdengar kecewa. Sepertinya waktunya tanggung.

"Nanti aku ajari lagi."

"Benarkah?"

"Iya. Bagaimana kalau kali ini belajarnya di rumahku saja?"

"Iya. Terima kasih."

Ekspresinya langsung berubah ceria, membuatku merasa hangat dan tersenyum secara alami.

"......"

"......"

"......Eh, ini sudah..."

Eh? A-apa aku jadi pusat perhatian? Saat aku melihat sekeliling, semua orang menatap kami dengan mata yang menyipit.

"Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa. Anggap saja kami ini udara atau semacamnya."

"Tidak bisa, untuk jadi udara, jangan menatap orang lain. Itu menurutku yang punya sertifikat tingkat satu deteksi udara."

"Kamu melawan apa sih? Apa itu deteksi udara?"

Seika-san membalasku. Gawat. Bukan saatnya bicara begitu, ya?

"Kutsuzawa, ternyata kamu tipe yang bisa diajak ngobrol normal, ya. Kenapa tidak lebih sering mengobrol di kelas? Tidak hanya dengan Seika, kamu bisa bersinar sendiri, lho?"

Aku tidak perlu bersinar, kok. Aku lebih suka merasa nyaman dengan berdiam diri di sudut ruangan.

Aku hanya tersenyum ambigu pada Sanekata-san untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi Mizoguchi-san berkata seperti ini:

"Tapi sebenarnya, teman-teman sekelas ternyata jauh lebih toleran dari yang kita kira, kan?"

Aku berpikir sejenak. Selain soal bersinar itu...

"Memang benar... mungkin aku terlalu berpikir secara mendalam."

Sebenarnya, hari ketika hubungan dekatku dengan Seika-san diketahui oleh seluruh kelas, aku sempat diajak mengobrol oleh anak laki-laki sekelas yang sebelumnya tidak pernah bicara denganku.

Mereka bilang, "Mizoguchi itu tipe yang menjaga jarak dengan cowok, hebat juga kamu bisa disukai dia," atau "Teman masa kecil memang kebenaran, ya." Terus terang, mereka sangat blak-blakan. Tidak ada atmosfer yang mencurigakan, semuanya terdengar murni apa adanya.

Saat aku menceritakan hal itu pada mereka,

"Aa~, jangan-jangan kamu pikir mereka bakal jadi tipe yang 'berani-beraninya dia mendekati Seika-tan kita!' begitu?"

Sanekata-san menebak kekhawatiranku dengan tertawa kecil.

"Iya. Meskipun aku tidak punya maksud apa-apa, aku pikir orang sekitar akan merasa iri."

"Ya, kalau bulan April mungkin saja. Waktu itu semua orang melihat Seika dan merasa dia sangat cantik. Tapi setelah hampir tiga bulan, karena tidak ada tanda-tanda (untuk mendekati), mereka yang tadinya punya kesempatan pun mulai mencari pacar lain."

Sonoda-san berkata sambil tertawa sinis.

"Begitu ya... Jadi, perasaan mereka sebenarnya bukan perasaan yang sungguhan."

"Ya. Kira-kira seperti itulah. Tidak banyak orang yang merasa 'hanya Seika yang bisa'. Malah, orang yang punya nyali untuk mengejar orang yang tidak punya perasaan padanya itu lebih jarang lagi."

Begitu ya. Ternyata begitu.

"Lagipula, orang yang cuma tertarik pada penampilan luar saja, biasanya memang begitu. Mereka mendaftar ke universitas impian yang tinggi, kalau dapat nilai E, mereka langsung pindah ke pilihan kedua atau ketiga. Pilihan pertama itu hanya untuk gaya karena gengsi saja, yang benar-benar punya keinginan untuk belajar di sana hanya segelintir orang."

Ah, penjelasan ini sangat bisa dimengerti. Yah, wajar saja. Seika-san sendiri pasti sudah melihat banyak orang seperti itu dan sudah menganalisisnya.

Lagi pula, semua orang punya kehidupan masing-masing. Tidak banyak orang yang terus memikirkan pilihan universitas yang gagal mereka raih, kecuali mereka sangat pendendam atau tidak punya kerjaan.

"Lagipula, banyak juga orang yang bahkan tidak berniat menulis di kolom pilihan sekolah, kan."

Benar juga. Dunia ini isinya macam-macam. Tidak semua orang ingin mengejarnya hanya karena dia cantik. Ada orang yang sudah punya pacar dari SMP, ada yang hanya tertarik pada dunia dua dimensi, ada yang tidak suka gyaru, benar-benar beragam.

Lagipula, aku ini bahkan bukan level orang yang bisa mendaftar. Aku harus mulai dari mencari teman dulu, pacar masih jauh sekali.

"Miyasaka sepertinya juga sudah menyerah. Kabarnya dia sedang dekat dengan siswi kelas sebelah."

"Jamur?"

"Manusia."

Begitu ya, manusia. Yah, entahlah. Si Miyasaka itu sepertinya merasa bersalah karena meninggalkan aku dan Seika-san, mungkin karena canggung bertemu denganku, dia selalu pergi menemui teman di kelas lain tiap jam istirahat. Jadi dia sudah menemukan target baru di sana, ya.

Kenyataan memang seperti itu, ya. Tidak peduli bagaimana kepribadiannya, orang yang memperhatikan penampilan dan bisa berbicara aktif dengan perempuan akan lebih populer.

"Jadi, kamu tidak perlu sungkan lagi untuk bicara dengan kami, ya?"

"I-iya. Benar juga. Aku akan melakukannya."

Tiba-tiba bisa sesantai saat berangkat atau pulang sekolah memang sulit, tapi aku ingin perlahan-lahan mulai bisa mengajak bicara mereka juga.

☆☆☆

Saat melihat punggung Kosei yang pergi ke kamar kecil di akhir istirahat, ketiga orang yang tersisa menoleh ke arahku.

"Padahal aku pikir, kalau dengan wajah Seika, begitu kamu menunjukkan sedikit saja ketertarikan, cowok pasti akan langsung mendekat, lho."

Perasaan Aine mungkin memang sudah menjadi opini umum. Seperti contoh tadi, mereka pasti berpikir hal-hal yang menyenangkan seperti akan langsung diterima hanya dengan mendaftar di universitas kelas atas. Tapi,

"Cowok seperti itu tidak kubutuhkan."

"Aa, begitu ya. Bagi Seika, begitu sudah cukup, ya."

Tentu saja, aku ingin Kosei menyukai penampilanku, tapi karena dia adalah anak yang melihat ke dalam diriku, aku ingin membuatnya jatuh cinta dari situ.

Ngomong-ngomong, orang-orang di sini... yah, tidak mungkin bisa kusembunyikan perasaanku. Chika sudah tahu sejak awal, tapi Ria dan Aine juga sudah ketahuan saat kejadian hari itu.

Mereka berdua tahu aku tidak mungkin memeluk laki-laki yang hanya kuanggap teman.

Lagipula, aku bahkan tidak punya laki-laki yang kuakui sebagai teman, dan saat aku membiarkan seseorang masuk ke ruang pribadiku sedalam itu, sudah jelas maksudnya.

"Bagaimana menurut Ria?"

Chika bertanya pada ahlinya. Ria bergumam, "Hmm," sambil berpikir.

"Entahlah, bagiku dia terasa seperti belum sampai di tahap asmara. Dia belum mencapai pola pikir ke sana."

"Artinya dia masih kekanak-kanakan?"

"Lebih tepatnya, dia sedang dalam proses mengembalikan perasaan untuk berinteraksi dengan orang lain. Sulit diungkapkan dengan kata-kata... tapi."

"Tapi?"

"Dia pasti punya perasaan yang lebih pada Seika dibandingkan orang lain. Meskipun itu belum sampai pada perasaan cinta saat ini."

"Serius!?"

"Serius."

Mendengar kepastian dari Ria, aku hampir melakukan pose kemenangan. Karena dia yang berpengalaman di dunia asmara yang mengatakannya, tingkat akurasinya pasti tinggi.

"Ngomong-ngomong, bagian mana yang membuatmu berpikir begitu?"

Chika bertanya.

"Dia yang mengajak Kutsuzawa-kun untuk belajar kelompok berikutnya, kan? Laki-laki dengan tipe pasif seperti itu tidak akan pernah mengajak perempuan yang tipe sebaliknya. Dia punya pemikiran negatif yang selalu memikirkan kemungkinan ditolak di urutan pertama."

Kosei, sekarang sebenarnya sudah tidak terlalu pasif lagi. Saat situasi genting, dia mempertaruhkan dirinya untuk melindungiku. Kosei saat itu sangat keren. Hehe.

"Kenapa kamu senyum sendiri seperti Kutsuzawa tadi?"

"Katanya kalau sering bersama, jadi mirip."

Mereka mengejekku, tapi tidak apa-apa. Dan sepertinya Ria belum selesai bicara.

"Lalu, buku catatan itu."

Dia menunjuk buku catatan Kosei dengan jari yang terulur. Karena sedang ditutup saat dia pergi ke toilet, hanya sampulnya yang terlihat. Chika mengulurkan tangan dan membukanya. Dia memang tidak tahu sungkan. Dia juga yang mentraktir minuman tadi, jadi mungkin dia merasa sedikit oke saja.

"Ooh. Padahal ini catatan bahasa Inggris, tapi ada rumus matematikanya."

Saat melihat halaman terbaru, benar saja ada deretan angka. Hmm?

"Itu sepertinya dia meringkas bagian yang sulit dipahami oleh Seika."

"Eh?"

"Dia melihat di mana kamu buntu, mengukur tingkat pemahamanmu... mungkin dia bermaksud untuk mengajarimu secara fokus saat kalian belajar berdua, atau mungkin dia berniat membuatkan soal-soal serupa untukmu."

Kosei... padahal aku yang mengajak secara mendadak, tapi dia sampai memikirkan hal sejauh itu untukku. Aku merasa sangat terharu.

"Aku juga buntu di sana-sini, tapi dia tidak membuatkan untukku ya."

"Tidak, mungkin dia berpikir kamu memang sudah tidak bisa ditolong lagi?"

"Benar juga. Apa kamu benar-benar bisa naik kelas? Padahal aku heran, bagaimana bisa kamu lulus masuk SMA ini."

Ria dan Chika memukul telak. Yah, Aine memang bodoh seperti kelihatannya. Kalau memohon dengan sungguh-sungguh mungkin saja Kosei mau mengurusnya, tapi kalau begitu, Kosei bakal sibuk mengurus Aine dan prestasi Kosei sendiri malah turun. Memang kasihan... maksudku, aku tidak akan membiarkannya.

"Pokoknya, karena dia sampai membuatkan ini secara alami, tidak salah lagi kalau dia menganggap Seika jauh lebih spesial daripada orang lain."

Begitu ya. Berarti menjadi dekat dengannya bukan hanya sekadar harapan pribadiku saja. Setelah dijamin oleh pihak ketiga, apalagi orang ahli asmara yang tidak melewatkan detail sekecil apa pun di buku catatan itu, kepercayaan diriku semakin dalam.

"Baguslah, Seika. Paling tidak, setidaknya dia pasti menganggapmu sebagai teman yang sangat dekat, kan?"

Aine berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"......"

Teman, ya.

"Kalau begitu, giliran selanjutnya adalah naik level dan membuatnya sadar kalau kamu perempuan. Tidak apa-apa. Persahabatan laki-laki dan perempuan itu tidak akan bertahan lama. Pada dasarnya. Mungkin."

Dia memang orang yang selalu asal bicara. Bodoh pula.

"Tunjukkan bagian sensitifmu, bagian sensitif. Belahan dada... ah, maaf."

"Aaa!?"

Aku bisa, lho! Kalau dikencangkan dan didorong ke atas.

...Yah, selain aku, mereka bisa membuatnya secara alami. Sialan.

"Tidak, aku pikir hanya dengan menghabiskan waktu bersama secara wajar saja sudah cukup, kok."

Ria menentang pendapat Aine.

"Terus terang, anak yang polos seperti Seika kalau mencoba melakukan rayuan seksi malah akan merasa malu sendiri, panik, dan jadinya malah canggung."

"Tidak, hal seperti itu... mungkin saja terjadi."

Kejadian masa lalu lewat di kepalaku satu per satu.

"Yah jujur saja, saingan Kutsuzawa-kun mungkin rendah, jadi aku rasa kamu bisa menjatuhkannya sedikit demi sedikit."

"Memang. Kutsuzawa kalau diajak bicara ternyata menarik, kalau dia aktif bergaul dengan perempuan mungkin saja bisa punya pacar... tapi dia tidak pernah bicara duluan."

Kalau memikirkan Kosei, seharusnya aku tidak boleh merasa senang, tapi saat memikirkan bahwa hanya aku yang tahu sisi imut dan sisi menariknya, rasa superioritas muncul. Memang aku sendiri tidak bisa menahannya. Jangan-jangan aku punya kecenderungan sedikit yandere?

"Yah, pokoknya begitu. Kurasa justru akan berjalan lebih lancar kalau kamu tidak memaksakan diri melakukan rayuan seksi."

"Padahal aku memprediksi bakal terjadi insiden dan suasananya jadi agak mesum. Walaupun tidak ada belahan dada."

"Masih mau bicara lagi! Kamu urusi saja dirimu sendiri supaya naik kelas!"

"Guk."

Begitulah, saat kami mengobrol hal-hal tidak penting, Kosei kembali. Kami belajar sedikit lagi, dan hari itu berakhir.

Dua hari kemudian. Biasanya hari ini ada sesi wali kelas panjang, tapi karena akan ujian, ditiadakan. Karena aku sudah janjian belajar berdua dengan Kosei, sepulang sekolah aku mampir ke rumah Kutsuzawa. Sepertinya hari ini tidak ada orang di rumah, Kosei menyiapkan minuman untukku.

"Silakan tunggu di kamarku dulu. Tolong nyalakan AC-nya juga."

"U-um. Oke."

Aku menurutinya dan pergi ke kamar Kosei. Begitu pintu dibuka, tercium sedikit aroma tiner.

"Fiuh."

Belahan dada... aku tidak bisa melakukannya, tapi mungkin aku bisa sedikit berusaha. Aku melepas pita seragamku dan membuka dua kancing blusku dari atas. Saat AC dinyalakan, embusan udara mengenai kulitku, rasanya sejuk sekali.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka, Kosei masuk membawa nampan.

"......Maaf menunggu. Apa teh oolong sudah oke?"

"Ah, iya. Terima kasih."

Kosei meletakkan gelas di atas meja, pandangannya tanpa sengaja tersedot ke arah dadaku. Dari sudut pandangnya, mungkin bra-ku kelihatan. Setelah membeku sejenak, Kosei terkejut dan menunduk.

I-itu berhasil. Sebelumnya juga pernah terjadi hal seperti ini, tapi kali ini aku merasakan sisi maskulin dari tatapan Kosei yang paling kuat. Sebagai aku... tatapan seperti itu dari laki-laki lain terasa menjijikkan, tapi milik Kosei sama sekali tidak terasa tidak enak.

Pertama, jika nanti kami pacaran, hal seperti itu juga akan diperlukan, kan. Wah, apa aku bisa melakukannya dengan baik? Aku bahkan tidak bisa membayangkannya.

Tapi ya. Bahkan kalau aku memikirkannya sejauh itu, rasa tidak suka atau perasaan menjijikkan itu tidak muncul sedikit pun. Aku merasa lega sendirian di sana. Tidak, kalau benar-benar menunjukkan kulit atau sebaliknya, mungkin aku tidak akan bisa tetap tenang, tapi tetap saja aku yakin perasaan benci atau jijik tidak akan muncul.

Ngomong-ngomong soal kulit... tempo hari setelah hujan badai, aku melihat Kosei telanjang. Kalau aku dipeluk oleh dada itu... wah, wah. Gawat. Jantungku berdebar kencang saat membayangkannya.

"......san. Seika-san."

"Eh!? Kya, kya!"

"Apa kita... tidak belajar?"

"Belajar kesehatan reproduksi!?"

"Bukan, kesehatan itu di hari kedua, mari mulai dari matematika."

"Ah, iya."

Sial. Padahal aku ingin membuatnya sadar akan diriku, malah aku sendiri yang mukaku memerah. Lagipula, Kosei, apa dia sudah tenang lagi? Dia cepat sekali pulih, aku jadi merasa sedih.

★★★

Aku mencoba untuk tetap tenang, tapi kepalaku hanya dipenuhi dengan pikiran mesum. Seika-san mungkin hanya membuka sedikit kancing karena kepanasan. Ini adalah naluri laki-laki, atau mungkin aku saja yang terlalu kurang pengalaman.

Tapi setiap Seika-san membungkuk, bra hitamnya terlihat dari balik kemeja yang terbuka, tidak mungkin aku tidak sadar.

Aku tahu kamu kepanasan, tapi tolong jangan terlalu terbuka. Suhu tubuhku malah jadi naik.

Lagipula, AC sudah disetel 20 derajat dan kipas angin juga menyala, kupikir itu sudah cukup sejuk. Kapan dia akan mengancingkan bajunya kembali?

"Bagian ini... mungkin sulit dipahami."

"......Iya."

Aku hanya fokus pada buku catatan Seika-san. Dengan mengajarinya seperti ini, perhatianku teralihkan, jadi sangat terbantu. Seringkali di karya fiksi, ada penggambaran karakter laki-laki yang sedang dikuasai nafsu lalu mencoba menghitung bilangan prima, ternyata itu benar-benar efektif. Matematika itu hebat.

Saat aku berpikir begitu dan melihat ujung pena Seika-san,

"Selesai! Benar tidak?"

Dengan suara yang percaya diri, gerakan jarinya berhenti. Aku mengikuti rumus dan perhitungan dari jawaban di atas... ya, benar.

"Tidak apa-apa. Ternyata Seika-san memang pintar, ya."

Padahal dia bilang benci, ternyata dia punya daya pemahaman yang cukup untuk tidak menghambat pelajaran matematika, selain pelajaran jurusan IPS yang dia kuasai. Dia bisa langsung mengerti saat diajari.

"Ehehe~. Karena cara mengajar Kou-chan bagus~."

Mungkin dia malu karena dipuji. Dia mulai bercanda soal hal-hal delapan tahun lalu. Senyum seperti anak nakal.

"Dyukshi! Dyukshi!"

Dia menyerang lenganku dengan penghapus.

"Ahaha. Sei-chan memang imut, ya."

Aku membalasnya dengan nada delapan tahun lalu. Tiba-tiba tangan Seika-san berhenti. Loh?

"Imut... itu."

Dia terlihat sedikit malu. Mungkin dia sadar diri kalau itu terlalu kekanak-kanakan.

"Baru pertama kali dibilang begitu, mungkin... ternyata Kosei itu lolikon, ya?"

"Kenapa!?"

'Ternyata' itu maksudnya apa? Aku dicurigai seperti itu?

"Habisnya, kalau aku menempel dengan cara biasa, kamu cuek saja, tapi kalau aku bersikap seperti anak kecil dan manja, kamu langsung bilang imut-imut, dasar malaikat."

Aku tidak sampai bilang malaikat, sih. Tapi, apakah karena aku sengaja tidak membahas itu, malah jadi tidak baik? Aku benar-benar tidak paham hati perempuan.

Pokoknya. Kakak pernah bilang, kalau perempuan sedang memuji diri sendiri sambil bercanda, pada dasarnya dia ingin dipuji, jadi lebih baik dipuji dengan jujur...

"Tidak. Itu... aku hanya tidak mengucapkannya saja. Saat berangkat sekolah menempel pun sebenarnya imut, sampai-sampai aku ingin mengusap kepalamu. Malaikat juga... yah... karena, sepeda."

"Soal sepeda lupakan saja. Ka-kalau menurutmu imut... mungkin aku ingin kamu mengatakannya."

Suaranya di bagian akhir hampir hilang, tapi aku benar-benar mendengarnya. Dia ingin dipuji imut olehku, itu artinya...

Jujur saja, ini sangat memalukan karena terasa seperti aku terlalu percaya diri, jadi selama ini aku sebisa mungkin menghindar untuk memikirkannya. Tapi, jangan-jangan Seika-san sebenarnya...

"Ah! Istirahat, istirahat! Ayo kita istirahat sebentar!"

Seika-san memotong pembicaraan dengan sengaja menggunakan nada bicara yang kasar. Dia langsung merebahkan diri ke belakang dan menyandarkan kepalanya di atas karpet kamarku.

Aku mengambil satu bantal lagi dan menyodorkannya dengan lembut di bawah kepalanya. Senyumnya saat mengucapkan terima kasih benar-benar terlihat manis.

"......Tapi ya, soal karya yang itu, yang katanya bakal selesai duluan, gimana ceritanya? Hah?"

Seika-san menggerakkan kepalanya, menatap karya seni yang diletakkan di sudut kamar.

"Ah, maksudmu Nobuel?"

"Berhenti menyingkat namanya begitu."

Padahal menurutku itu singkat dan mudah dimengerti.

"Sebenarnya, aku berencana mengikutkannya ke sebuah lomba. Batas waktunya akhir bulan ini."

Aku pun ikut menatap patung Nobuel itu. Dalam rancangan awal, aku berencana menggunakan bel sepeda yang difiksasi seperti kerang terbuka, lalu membentangkan jalur landai bercahaya dari sana. Rencananya, aku akan membuat adegan di mana sepeda yang ditumpangi figur kecil Chariel Nobunaga sedang melaju di atasnya. Tapi... karena akhirnya karya ini dibuat terpisah dari dekorasi interior milik Seika-san, aku tidak perlu lagi menggunakan bel sepeda itu.

Jadi, aku membuat titik awal jalurnya jadi lebih samar. Sebagai gantinya, aku memasang tiang transparan untuk menopang jalur tersebut dan menjadikannya sebuah lintasan dengan kemiringan yang cukup tajam. Yah, di dalam mimpi itu pun memang ada kemiringan, jadi bisa dibilang aku mereproduksinya dengan lebih akurat.

"Karena mimpi itu adalah rancangan aslinya, aku takut kalau dibiarkan terlalu lama, ingatan itu akan memudar. Rasanya, hanya sekaranglah aku bisa menangkapnya. Mungkin Seika-san sulit memahaminya, tapi mimpi itu... rasanya seperti kumpulan berbagai kenangan sejak aku bertemu kembali denganmu. Bukankah ini karya yang hanya bisa kubuat saat ini, sebuah benda yang memuat dua bulan terakhir ini?"

Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, tapi mungkin menyebutnya sebagai satu lembar kisah masa muda adalah yang paling pas.

"Kosei... apa kamu sedang berusaha mengalihkan perhatian dengan kata-kata puitis?"

"Ah, ketahuan ya?"

Apa yang kukatakan memang bukan bohong, tapi sebagian besar alasanku adalah karena aku merasa tidak akan bisa memimpikan mimpi itu lagi, jadi aku memutuskan untuk membuatnya. Bisa dibilang, aku hanya iseng saja.

Setelah itu, kami belajar selama satu jam lagi sebelum akhirnya bubar. Terakhir, aku memberikan buku soal buatan sendiri yang kususun untuk memperkuat kelemahan Seika-san.

Dia terlihat sangat senang dan berterima kasih. Saat sesi belajar sebelumnya, aku diam-diam mencatat bagian mana saja yang sering membuatnya kesulitan, lalu menyusun buku ini.

Aku ikut turun ke bawah untuk mengantar Seika-san sampai ke apartemennya. Aku selalu merasa tidak enak dan berpikir lebih baik dia pulang sebelum Ibu menutup toko dan kembali ke rumah.

Tapi, sebenarnya Seika-san punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk berbasa-basi dengan Ibu atau Kakak jika mereka bertemu, jadi mungkin aku saja yang terlalu khawatir.

"Terus ya, anjing bodoh di rumah Aine itu, dia... celana tante..."

Seika-san terus mengobrol sambil menuruni tangga. Meskipun dia memegang pegangan tangga, matanya terus menatap wajahku yang turun lebih dulu. Bukannya aku punya firasat buruk, tapi...

"Kyaa!?"

Seika-san salah melangkah di anak tangga terakhir. Apa karena dia salah mengira jarak?

Tubuhnya tersungkur ke depan. Aku buru-buru melompat untuk menopang tubuhnya. Di sudut pikiranku, sekilas terlintas memori saat aku menahan sepeda di hari pertemuan kami dulu.

Hanya saja... saat itu sentuhannya terasa keras seperti keranjang sepeda, tapi kali ini.

Ada sensasi empuk yang kenyal, sampai-sampai telapak tanganku tenggelam ke dalamnya. Ah, ini... meskipun aku sadar aku telah melakukan kesalahan fatal. Agar Seika-san bisa berdiri sendiri, aku menahan tubuhnya dengan kuat sebagai tumpuan, lalu menggunakan tangan satunya untuk mendorong bahunya guna mengembalikan posisinya.

Seika-san menunduk, dan perlahan-lahan telinganya memerah. Dia jelas sadar kalau aku sudah menyentuh bagian itu, kan?




"Maafkan aku."

"Terima Kasih."

Kami mengucapkan kata-kata itu hampir bersamaan, lalu kembali terdiam sejenak. Tak lama kemudian, Seika-san tiba-tiba mengangkat wajahnya dan berbicara dengan nada yang sengaja dibuat ceria.

"Wah, aku terlalu asyik mengobrol sampai salah mengukur jarak. Ahahaha. Thank you ya, sudah menolongku."

Dia mengucapkan terima kasih sekali lagi. Mungkin bagi Seika-san, ini adalah cara dia mengakhiri pembicaraan tersebut, tapi aku yang sedang panik malah merespons,

"E-eh, sungguh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu."

Karena rasa bersalah, aku malah mengungkitnya kembali dan meminta maaf. Seika-san sedikit menundukkan pandangannya ke arah dadanya sendiri.

"Tidak apa-apa, aku mengerti kok. Sungguh, aku tidak apa-apa? Yah, kalau bukan Kosei, mungkin sudah kubunuh orangnya."

Hiii.

"……Aku pulang ya. Hari ini, aku ingin pulang sendiri. Maaf ya."

"Eh?"

"Tidak apa-apa, aku tidak benar-benar marah kok. Serius, tidak apa-apa. Besok pagi juga sudah biasa lagi! Sampai jumpa!"

Dia mengatakannya dengan cepat, seolah sedang melarikan diri, lalu Seika-san keluar dari pintu depan dengan terburu-buru.

Aku…… sempat terpaku sejenak, namun segera sadar kembali dan membuka pintu depan untuk mencarinya. Aku melihat punggungnya yang sedang berlari dengan kecepatan luar biasa. Sosoknya mengecil, lalu berbelok ke kiri di tikungan menuju jalan besar dan menghilang dari pandangan.

Ya. Dengan kecepatan seperti itu, hari masih terang, dan dia sudah sampai di jalan besar, jadi dia pasti baik-baik saja. Bahkan di saat seperti ini, aku masih mengkhawatirkan keadaan Seika-san.

Tidak, memang ada rasa khawatir, tapi lebih dari itu, aku mungkin hanya berusaha memikirkan hal lain agar bisa kembali tenang.

Aku menutup pintu dan pergi ke dapur. Tenggorokanku terasa kering seketika. Aku mengambil botol plastik "Morning Tea" yang kubeli sebelumnya dari kulkas. Meneguknya sekali, lalu menghela napas.

"Uwaaaa."

Aku telah menyentuhnya. Da-dada seorang gadis. Apalagi dada Seika-san itu. Dada gadis yang kutemui saat belum ada tonjolan sedikit pun, menjalani interaksi singkat, lalu bertemu lagi saat masuk SMA.

Tidak, lupakan saja. Memikirkan hal-hal dari delapan tahun lalu itu membuatku dicurigai sebagai lolicon. Lagipula, itu benar-benar menjijikkan.

"Rasanya lembut sekali ya."

Itu pun baru lewat bra dan seragam, kalau menyentuh langsung…… tidak, kubilang itu menjijikkan.

Lagipula, bukankah aku bukan tipe orang seperti ini?

Hanya karena tidak sengaja menyentuh dada gadis. Hanya karena ini pertama kalinya seumur hidup aku meremas dada. Hanya karena itu……

…………Itu adalah peristiwa besar, tahu. Karakterku pun jadi berubah, wajar saja.

Semakin akrab dengan Seika-san, semakin aku sadar kalau aku juga seorang pria.

Apakah Seika-san. Apakah Seika-san benar-benar tidak marah?

Berbeda denganku, dia adalah orang yang blak-blakan, dan dia sudah bilang tidak apa-apa serta berjanji besok akan kembali seperti biasa.

Jadi, kurasa memang begitu adanya. Tapi, dia sempat melontarkan hal menakutkan seperti "kalau bukan Kosei sudah kubunuh".

Hm? Tunggu. Kalau "kalau bukan Kosei", berarti kalau aku itu boleh!?

Tidak, seharusnya bukan begitu pembahasannya. Itu hanya berarti kalau aku masih bisa dimaafkan, bukan berarti dia menyambutnya.

Hampir saja aku melakukan lompatan logika. Inilah alasan kenapa orang yang tidak punya imunitas terhadap gadis jadi seperti ini.

Aku merasa sia-sia memikirkannya sendiri. Yang pasti, besok sebaiknya aku tidak mengungkit topik ini lagi. Berperilakulah seperti biasa.

Seperti biasa…… mungkinkah aku bisa?

☆☆☆

Aku duduk merosot dengan punggung menyandar di pintu kamarku sambil memegangi jantung yang masih berdegup kencang. Lagipula, aku bodoh ya.

Padahal jantungku sudah berdebar-debar tidak karuan, tapi aku malah memaksanya bekerja lebih keras dengan berlari kencang. Jangan sampai aku terkena Heart Attack gara-gara ini.

Meski tahu itu tidak akan menghentikan jantung yang berdebar, aku tetap menempelkan tangan di dadaku. Dok-dok-dok, detak yang intens membalas telapak tanganku.

Di sini, tempat yang disentuhnya. Bahkan saat tangannya bergerak, dia sempat meremasnya sedikit.

"Tak disangka dugaan Aine tepat sasaran."

Yah, aku juga sempat mencoba berpetualang dengan membuka sedikit kerah bajuku sih. Tapi aku tidak pernah bermimpi akan benar-benar disentuh.

"……Bagaimana kalau dia mengira dadaku kecil?"

Dadaku ukuran cup C. Tidak buruk, tidak besar juga, pas lah.

Kosei lebih suka yang mana ya? Secara umum, sepertinya yang besar memang lebih populer.

"Lagipula, dia sadar kan kalau dia menyentuhnya?"

Dia terlihat sangat malu dan canggung tadi. Bahkan kalaupun Kosei tipe penyuka dada besar, dia pasti senang kalau bisa menyentuh milikku yang ukurannya normal!

Tidak, tidak, tidak. Meski begitu, jangan sampai diobral ya? Aku ini. Tidak mungkin aku membiarkannya menyentuh hanya karena dia minta.

Harus tunggu sampai dia bilang kalau dia hanya ingin menyentuh dada Seika-san dan tidak tertarik dengan dada orang lain.

Aku akhirnya tenang dan duduk di atas tempat tidur. Aku menarik boneka Kosei dari dekat bantal dan memeluknya ke dalam dada.

"……Akhirnya tubuh aslimu menyentuhku juga."

Aku hampir mencium dahinya, tapi berhenti tepat sebelum bibirku menyentuh. Kalau boneka tiruan ini yang merasakannya, mungkin lain kali aku bisa mewujudkannya dengan tubuh aslinya. Hal-hal konyol seperti takhayul semacam itu terlintas di benakku.

Akhirnya aku…… mencium dahi dan pipinya berturut-turut. Aku tidak pernah mencium di area bibir. Itu area spesial. Karena aku ingin melakukannya untuk pertama kali dengan Kosei yang asli.

"Besok harus seperti biasa. Aku sudah mendeklarasikan pada Kosei kalau aku akan kembali normal."

Lagipula, ini kan menjelang ujian, kenapa malah melakukan hal seperti ini.

Aku menatap boneka Chika di atas rak, di sebelah tiga bersaudara boneka Shiba Inu. Kalau aku melaporkan ini padanya, dia pasti akan menyeringai, jadi lebih baik jangan.

Keesokan paginya, aku pergi ke kediaman Kutsuzawa dengan perasaan senormal mungkin. Aku menunggu di bawah bayangan tiang listrik seperti biasa. Tak lama, Kosei keluar dua menit lebih awal dari jadwal biasanya. Kami langsung bertatapan.

"Opa, ohayou gozaimasu!"

Tegang sekali ya dia. Lagipula, barusan dia hampir bilang "oppai" (dada), kan?

"Yo, hari ini agak cepat ya."

Melihat Kosei yang tampak gelisah, justru rasa tegangku yang hilang dan aku bisa merespons dengan sangat normal.

"Aku takut membuatmu menunggu."

Biasanya dia tidak sampai sepeduli itu, tapi khusus hari ini. Terlalu kentara.

"Kau terlalu sadar ya."

Saat aku menebak tepat sasaran, Kosei langsung panik. Matanya melirik ke sana kemari, sempat terarah ke arah dadaku, lalu buru-buru membuang muka.

Entah kenapa. Aku yang tadinya tidak mengerti perasaan wanita yang mengunggah foto seksi ke media sosial hanya untuk mendapatkan respons pria dan merasa puas, sekarang aku sedikit paham. Yah, kalau aku sih tidak bisa kalau bukan dengan orang yang tidak spesifik, maksudnya, bukan dengan orang yang kusuka.

Sekarang, pikiran Kosei benar-benar didominasi oleh dadaku. Rasa puas dan superioritas itu. Rasanya mulai jadi kebiasaan.

Bukan berarti aku ingin berada di atas Kosei sih. Hanya saja, karena biasanya aku terus-terusan memikirkannya dan perasaanku naik turun karenanya, sesekali seperti ini juga tidak masalah.

"Ko-kok Seika-san terlihat santai sekali?"

Wajahnya tampak sedikit kesal. Fufufu. Ternyata memang menyenangkan.

"Kuperingatkan ya, orang yang pernah menyentuh dadaku itu cuma Mama atau pelayan toko pakaian dalam, levelnya segitu tahu? Pria yang pertama menyentuh adalah kau! Harganya mahal, lho?"

Aku malah menggodanya lebih jauh.

"U-uuh. Ayah, Ibu, maafkan anakmu yang tidak berbakti ini."

"Daa! Hentikan itu!"

Dia mengeluarkan senjata andalannya karena sudah terpojok.

"Bercanda, serius aku tidak marah. Aku tahu itu adalah hal yang tidak bisa dihindari saat menopangku."

"Benarkah?"

"Ya, lagipula kalau soal cara bertanggung jawab, bukan dengan bunuh diri."

"Bukan?"

"……Pikirkan sendiri. Itu PR-mu."

"Ujiannya sebentar lagi, tapi masih ada PR!?"

Tak terasa kami berdua tertawa bersama seperti biasanya.

"……Ngomong-ngomong, bagaimana rasa percaya dirimu?"

"Sangat yakin. Aku sudah mengerjakan buku soal yang Kosei beri sampai tuntas. Makasih banyak, ya."

Aku mengucapkan terima kasih sekali lagi. Berkat mengintip sebelumnya, aku bisa memprediksi dia akan memberiku buku soal, tapi tetap saja, saat benar-benar menerimanya, aku sampai ingin melompat kegirangan.

Aku merasa ingin menempel padanya, lalu menyandarkan bahuku ke bahunya. Angin dari kipas angin portabel membelai pipiku yang memerah.

★★★

Dari setiap sudut ruang kelas terdengar suara yang penuh dengan rasa puas dan lega, "Akhirnya selesai~". Seluruh rangkaian ujian akhir semester telah berakhir saat ini juga.

"Heh. Dilarang mengobrol sampai pengumpulan lembar jawaban selesai!"

Setelah ditegur oleh Pak Oota, wali kelas kami, semua orang terpaksa diam. Namun, teman sekelas kami saling bertukar pandang secara diam-diam. Sepertinya semua tidak sabar untuk mampir saat pulang sekolah nanti.

"Ya. Kalau begitu, hari ini sampai di sini saja. Semuanya, terima kasih atas kerja kerasnya."

Suara obrolan yang riuh langsung memenuhi kelas. Haa, selesai juga. Setelah sampai di rumah, aku akan lanjut mengerjakan pembuatan Nobu-L. Bersamaan dengan itu juga mengerjakan aransemen lagu Belle.

Tidak, mungkin Seika-san akan mengajakku pergi ke suatu tempat lagi. Aku baru saja hendak melirik ke arah kursinya, saat,

"Kutsuzawa-kun."

Seseorang memanggil namaku dari meja di sebelah. Saat kulihat, ada siswi berkacamata di sampingnya. Karena Yokokura-san juga berkacamata, mereka terlihat seperti kakak adik.

"Eh, ya?"

"Ano ne, anak ini."

Yokokura-san mengarahkan telapak tangannya ke arah siswi yang berdiri di sebelah kirinya.

"……Aku Hamamura Riko."

Hamamura-san. Seperti pernah dengar di suatu tempat.

"Saat festival olahraga, aku terluka dan kau menggantikanku."

"Ah!"

Tepat sekali. Karena itulah, aku dan Seika-san akhirnya ikut lomba lari kaki tiga.

……Gawat, aku ini. Padahal sudah hampir tiga bulan sejak masuk sekolah, aku terlalu samar mengenali wajah dan nama teman sekelas. Bahkan orang yang menonjol seperti Sanekata-san saja hampir lupa. Mungkin aku harus mengubah kebiasaan menggambar teknik di waktu istirahat. Ah, sudahlah, untuk saat ini lupakan dulu itu.

"Maaf atas ketidaknyamanan saat itu."

"Ah, tidak, tidak."

"Sebenarnya aku ingin lebih cepat mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf…… tapi Kutsuzawa-kun sempat absen karena flu, lalu ujian dimulai."

Begitu ya. Setelah festival olahraga memang banyak kesibukan. Di antara masa sembuh dari sakit sampai dimulainya ujian…… karena peristiwa insiden pengejaran pria-pria nakal itu, orang-orang populer sedang heboh. Sangat sulit untuk menyela pembicaraan di sana, jadi aku mengerti.

"Tidak perlu dipikirkan."

"Ta-tapi. Kutsuzawa-kun bukannya menjadi anggota komite karena tidak mau ikut perlombaan?"

Dia mengerti ya. Memang pantas disebut sesama kaum penyendiri. Tidak, mungkin terlalu lancang jika menyimpulkannya begitu.

Aku tersenyum kecut dan menggelengkan kepala perlahan. Memang benar awalnya aku tidak mau.

"Tidak apa-apa, sungguh. Saat dicoba ternyata cukup menyenangkan."

Itu adalah perasaan yang sejujurnya.

"Kutsuzawa-kun, kamu berubah ya."

Yokokura-san yang mendengar percakapan kami dari samping, mengatakan hal itu.

Meski kami tidak punya hubungan yang terlalu dalam, dia adalah orang yang paling sering kuajak bicara di kelas.

Jika dia yang menilainya, mungkin memang aku sedikit berubah. Pasti ke arah yang lebih baik.

"Berkat Mizoguchi-san?"

"Ya, itu sudah pasti."

Bisa menikmati perlombaan itu karena bersama Seika-san. Aku bisa berusaha untuk tidak terlalu memedulikan pandangan orang sekitar juga karena ingin membalas kebaikan Seika-san.

Namun, karena langsung menjawab dengan tegas terasa memalukan, aku menggaruk bagian belakang kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.

"……Ngomong-ngomong soal Mizoguchi-san. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih dan minta maaf padanya."

Hamamura-san melirik ke depan kelas. Kebetulan sekali, Seika-san sedang berjalan ke arah kami.

"Apa-apaan? Kosei, sedang bicara apa?"

Dia menyela dengan santai. Keren sekali, Seika-san.

"Ano…… eh."

Karena yang bersangkutan datang sebelum persiapan mentalnya selesai, Hamamura-san tidak bisa menatap matanya. Karena aku sangat memahami perasaannya, aku memberikan bantuan.

"Ini Hamamura-san. Dia tampaknya terus merasa tidak enak hati karena aku dan Seika-san ikut perlombaan menggantikannya saat festival olahraga."

"Ya, aku sudah tahu meski tidak diperkenalkan."

Ya juga sih. Setelah tiga bulan masuk sekolah, mungkin cuma aku penyandang disabilitas sosial yang belum memahami wajah dan nama teman sekelas.

"Lukanya sudah tidak apa-apa?"

"Ah, i-iya. Maafkan aku."

Hamamura-san menggumamkan sesuatu seperti "mohon maaf atas saat itu" dengan volume suara yang hampir tak terdengar. Tentu saja, dia tetap tidak berani menatap mata Seika-san.

"Ya, tidak usah dipikirkan. Lari kaki tiga dengan Kosei menyenangkan, kok."

"Ah, terima kasih banyak."

Sekali lagi, dia berterima kasih dengan suara seperti nyamuk.

"Kalau begitu, urusan di sana selesai ya. Kosei, ayo pulang."

Seika-san memegang tanganku dan mencoba menarikku berdiri. Tapi, sepertinya Hamamura-san masih punya sesuatu yang ingin disampaikan. Itu adalah teknik rahasia "menunggu lawan menyadari" yang hanya dipancarkan oleh orang yang hidup dalam bayang-bayang, yang tidak dipahami oleh Seika-san. Teknik yang terlalu dirahasiakan sehingga sering kali berakhir gagal.

"……Apa ada hal lain?"

"Ah……"

Hamamura-san sempat terdiam karena teknik rahasianya dibongkar olehku, tapi setelah pinggangnya ditepuk oleh Yokokura-san, dia memasang wajah seolah sudah membulatkan tekad.

"Ini permintaan yang lancang, tapi…… aku ingin berkonsultasi."

Mata di balik kacamatanya menatap Seika-san dengan ragu.

☆☆☆

Karena keduanya anggota klub penelitian manga, kami memutuskan menggunakan ruang klub. Saat melangkah masuk ke ruangan yang sempit, tercium bau kertas dan tinta.

Di tengah ruangan diletakkan meja panjang berbentuk huruf U, dan barang-barang berserakan di atasnya. Rasanya bahkan lebih berantakan dari kamar Kosei.

"Silakan, silakan."

Yokokura-san masuk lebih dulu dan membereskan meja. Meskipun, rasanya dia hanya asal menumpuk barang ke meja lain untuk mengosongkan satu meja.

"……Permisi."

Kosei menarik kursi besi di dekatnya dan memastikan kursi untukku dan dirinya sendiri. Perhatian kecil seperti ini, pasti diajarkan oleh Haru-san ya.

"……"

"……"

"……"

"……"

Semua sudah duduk, tapi seketika suasana menjadi canggung. Yah, kalau dipikir-pikir, ini anggota yang aneh. Aku merasa aneh karena harus perhatian padahal aku yang akan dimintai tolong, tapi……

"Ne, kalau kalian klub manga, tunjukkan manga yang kalian gambar dong."

"Eh?"

Yah, mulailah dengan obrolan ringan untuk mencairkan ketegangan.

"……Apa ada yang bisa diperlihatkan sekarang ya."

Yokokura-san bergumam pelan. Apa-apaan, apa mereka juga menggambar hal yang tidak boleh diperlihatkan? Maksudnya manga yang tidak boleh diperlihatkan itu apa?

"Ah, kalau begitu punyaku."

Hamamura-san berdiri, mengambil amplop yang diletakkan di tempat kerjanya, dan memberikannya padaku. Aku mengeluarkan isinya dan membacanya sekilas bersama Kosei.

"O, oh. Seperti bangsawan Eropa abad pertengahan?"

Seorang wanita dengan rambut ikal sedang diprotes oleh wanita paruh baya yang sepertinya ibu tirinya karena tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah.

"Ini jenis yang sering dibaca Kakak ya."

Wah, Haru-san punya hobi yang tidak terduga.

Aku membalik halaman pertama naskah ke halaman kedua. Ibu tiri mengeluarkan sesuatu seperti linggis dan mengancam tokoh wanita utama. Bukankah dari segi etika dan sejarah linggis itu tidak pas?

Saat aku membalik satu halaman lagi, tiba-tiba muncul karakter pria yang tampak seperti pangeran di panel besar. Pria yang sangat tampan, dan hanya karakter ini yang digambar dengan usaha lebih.

Di balon kata tertulis dialog "Hentikan!". Sepertinya, pria tampan ini berperan sebagai penolong tokoh utama.

"Kalau tidak salah…… ini namanya Suda-po ya."

Kosei memberi penjelasan, tapi,

"Suda-ri."

Hamamura-san langsung mengoreksinya. Kosei yang ingatannya samar terlihat malu.

"Tapi, begitu ya. Seperti gaya manga shoujo ya."

Saat kecil aku memang pernah melihat manga untuk anak perempuan seperti Magic R, tapi setelah sembuh aku sama sekali tidak. Sekalipun terkadang melihat, menurutku manga shounen lebih menarik.

"Ah, jangan-jangan permintaanmu adalah ingin menjadikan Seika-san model gambarmu?"

Kosei bertanya dengan wajah seolah dia sudah menebaknya. Tapi,

"Ah, bukan begitu."

Sepertinya salah. Kosei yang salah menebak lagi terlihat malu-malu.

"……Ano, anu. Sebenarnya……"

Dia mencoba bicara, tapi tampak ragu di saat-saat terakhir.

"Ya, lupakan saja deh."

Ah, bertele-tele sekali.

"Katakan saja. Setelah membawaku sampai sini, jangan membuatku kecewa karena batal."

"Ah…… i-iya juga ya."

Hamamura-san menarik napas dalam-dalam.

"Aku, ingin menjadi seorang Gal."

Aku diberitahu sesuatu yang benar-benar di luar dugaan. Itu kejutan yang bahkan lebih hebat daripada dipukul dengan linggis tadi.

"Eh……?"

Kosei tampaknya juga sama, dia hanya bisa mengeluarkan suara satu nada dari mulutnya. Sambil berusaha memutar otak untuk memahami maksudnya, kami benar-benar terdiam.

Hamamura-san sendiri, setelah mengatakannya, wajahnya menjadi sangat merah dan dia menunduk sambil gemetar. Yokokura-san yang tampaknya satu-satunya yang tenang dan tahu permasalahannya,

"Riko-chan, sepertinya masa kecilnya bersama Miyasaka-kun."

Dia malah menyodorkan informasi baru. Tidak, tunggu, tunggu. Aku tidak bisa mengikuti alurnya.

Tapi reaksi Hamamura-san sangat luar biasa, dia mencoba menutup mulut Yokokura-san sampai wajahnya hampir tertutupi. Kursi besi mengeluarkan bunyi gedubrak yang nyaring.

Ah, entah bagaimana aku mulai paham. Saat aku menoleh ke sebelah untuk melihat apakah Kosei menyadarinya juga, dia terlihat sedang berpikir. Mungkin dia sedang menyusun potongan informasi yang terfragmentasi. Tapi beberapa detik kemudian wajahnya tampak terkejut.

"Uu~. Jahat sekali~"

"Tapi kalau ingin minta bantuan, kurasa tidak ada pilihan selain bicara, kan?"

"Itu memang benar, sih~"

Interaksi dua anggota klub manga. Kalau mereka sampai merengek begini, berarti memang benar begitu ya.

"Hamamura-san…… soal Miyasaka?"

Saat kutanya dengan hati-hati, dia mengangguk dengan wajah merah padam.

"Eh, anu, sebaiknya aku pergi saja?"

"Tidak, ini sudah terlambat. Mungkin ada hal yang bisa kau bantu juga, Kosei, kalau Hamamura-san tidak keberatan, bukankah lebih baik mendengarkannya?"

Yah, kalau mau perhatian, mungkin Yokokura-san orangnya. Tapi, mengusir Kosei setelah situasi sejauh ini juga rasanya sangat tidak sopan.

Jadi, yah, ini adalah hal yang tidak bisa dihindari. Menyerahlah, Hamamura-san. Saat aku mengirimkan tatapan dengan maksud seperti itu, dia menggerutu "Uuu" tapi akhirnya mengangguk lagi seolah sudah pasrah.

"……Sejak SD kami bersama, dan itu, sudah lama sekali."

O, oh. Ternyata lebih lama dari dugaanku.

"Karena itu, dia sepertinya ingin meminta bantuan ini dengan mempertimbangkan fakta bahwa sampai beberapa waktu lalu, pria itu mengincar Mizoguchi-san."

Yokokura-san memberikan penjelasan tambahan.

"Aku juga sempat menemukan kursus lisensi Gal di internet, dan terpikir untuk mendaftarnya."

Wah. Seriusan? Saat aku melihat ke arah Kosei karena firasat buruk, dia menatapku balik dengan senyum bersinar.

"Ternyata benar ada lisensi Gal ya!"

"Tidak ada. Itu 100 miliar persen penipuan."

Aku harus menolaknya dengan tegas. Demi Hamamura-san juga.

"Begitu ya…… ternyata."

"Ya. Untung kau menahan diri."

Tapi ya. Meski diminta untuk menjadi Gal pun……

"Ngomong-ngomong Seika-san, motivasi apa yang membuatmu menjadi Gal?"

"Tidak ada. Aku hanya suka riasan dan gaya pakaian yang menurutku lucu, yang kebetulan masuk kategori Gal. Aku tidak berniat menjadi Gal, dan kalau mau jujur, sampai sekarang pun aku tidak merasa diriku ini Gal."

Aku mengerti bahwa jika dilihat secara objektif, aku masuk dalam kategori Gal.

"Begitu ya. Baru tahu."

"Yah, mungkin ada anak-anak yang mengagumi Gal lalu memulainya, tapi aku tidak. Jadi, sejujurnya aku juga bingung kalau ditanya caranya."

Lagipula, kata "Gal" diulang-ulang sampai kepalaku terasa pusing.

"Untuk saat ini, bagaimana kalau mulai dari penampilan, meniru gaya pakaian atau riasannya?"

Atas saran Kosei, Hamamura-san menggelengkan kepalanya. Lalu dia mengambil ponselnya, mengoperasikannya sebentar, dan mengarahkan layarnya ke arahku.

"U. Ini."

Sebuah gambar gadis otaku yang tampak gagal menggunakan riasan tebal, dan pakaiannya terlihat kebesaran. Karena riasannya, wajah aslinya hampir tidak terlihat, tapi kemungkinan besar itu Hamamura-san. Tidak perlu bicara panjang lebar lagi.

"Mulai dari cara merias…… tidak, sebelum itu perbaiki posisi punggungmu yang membungkuk. Lalu lepas kacamata itu."

Belakangan ini memang ada orang modis yang memakai kacamata klasik berbingkai besar, tapi itu adalah keahlian orang yang sudah mahir.

"Lagipula, kalau bicara lebih jauh, kudengar dia sedang mulai akrab dengan siswi dari kelas lain?"

"A, apa benar begitu!?"

Ah, itu informasi yang bahkan Hamamura-san tidak tahu ya. Dia tampak syok. Entahlah, aku merasa tidak enak melihatnya. Mungkin karena dia berpikir ada kesempatan baginya karena incarannya pada Seika-san sudah gagal, tapi ternyata dia sudah menebar pesona pada yang lain.

……Kalau dipikir dengan tenang, kenapa dia menyukai jamur yang tidak punya pendirian seperti itu ya.

"Ngomong-ngomong, kau tahu orang seperti apa dia?"

Yokokura-san bertanya mewakili temannya yang sedang terpaku. Aku sendiri tidak tahu siapa orangnya, tapi,

"Akan coba kutanyakan pada temanku."

Kalau bertanya pada Aine yang punya banyak informasi, pasti dia tahu. Jadi aku segera mengirim pesan lewat LINE.

Soal yang tadi dibicarakan, kau tahu orang seperti apa siswi yang sedang didekati Miyasaka?

Pesannya langsung dibaca, dan semenit kemudian balasan datang.

Apa-apaan. Kamu jadi merasa sayang ya? Jangan begitu dong. Mau menduakan Kutsuzawa?

Berisik. Tidak mungkinlah. Ada alasan tertentu, ada orang yang ingin tahu.

Siap. Seingatku ada fotonya. Tunggu sebentar.

Lalu sebuah gambar dilampirkan. Saat kubuka dan diperbesar……

"Bukan tipe Gal, tuh."

Rambut hitam panjang. Wajah putih pucat dengan riasan mata merah yang memberikan kesan kuat, atau yang biasa disebut doll makeup. Kalau dilihat-lihat, justru lebih mendekati tipe Jirai-kei.

Hmm. Meski terdengar narsis jika aku yang mengatakannya, rasanya dia mengincar tipe yang wajahnya sedikit di bawahku, tipe yang imut dan modis. Kalau dianalogikan dengan universitas, ini jelas pilihan kampus swasta yang lebih rendah. Benar-benar pria itu……

"Ano, bolehkah aku melihatnya?"

Karena didesak Yokokura-san, aku mengarahkan ponselku ke arah berlawanan. Dua anggota klub manga yang duduk di depan, dan Kosei dari samping mengintipnya.

"Wah. Benar-benar tidak punya pendirian."

Kosei langsung mengatakannya dengan terus terang. Yah, memang begitu adanya. Terlihat jelas kalau dia hanya memilih berdasarkan penampilan. Padahal saat festival olahraga aku sudah menasihatinya agar jangan hanya melihat penampilan luar. Ya sudahlah. Orang tidak bisa berubah semudah itu.

"Ini…… jadi tidak ada gunanya kalau aku menjadi Gal?"

"Sepertinya begitu."

Keduanya tampak putus asa. Lagipula.

"Ini pembicaraan yang mendasar, tapi bukankah sebaiknya kau berhenti saja? Dia benar-benar pria yang tidak bisa diandalkan."

Aku tahu aku tidak punya hak untuk berkomentar tentang selera orang lain, tapi……

"……Dulu dia bukan anak yang seperti itu. Dia pendiam dan penakut, tapi baik hati. Saat aku sedang kesulitan, dia selalu membantuku."

Meskipun, sisi penakutnya masih ada sampai sekarang. Waktu aku diganggu oleh gerombolan pria iseng, dia malah lari dengan kecepatan super.

"Saat kucing yang kami pelihara mati pun, dia terus menghiburku…… dan karena itu aku, anu."

Begitu ya. Alasan yang manis sekali.

"Tapi setelah masuk SMP, dia mulai berdandan, dan bergaul dengan orang-orang yang disebut kasta atas di kelas……"

Jadi dia mulai sok berkuasa, ya.

"……Mungkin dia juga merasa tertekan karena Kakaknya diterima di universitas bagus. Kalau dipikir-pikir sekarang."

Ah, pola yang itu, ya. Aku kan anak tunggal, jadi aku tidak terlalu mengerti perasaan dibanding-bandingkan dengan kakak yang berprestasi.

Ya sudahlah, intinya perasaan Hamamura-san pada pria itu sejak SD sepertinya sungguh-sungguh. Meskipun di mataku dia hanya seperti jamur, baginya dia adalah pahlawan masa kecil…… aku benar-benar berharap cinta seperti ini bisa berhasil.

Lagipula, belum tentu juga dia akan berakhir dengan gadis yang itu. Cara bicaranya pun kasar, kalaupun mereka bersama, rasanya hubungan itu bakal cepat retak, jadi kurasa kesempatan masih ada.

"……"

Kosei sepertinya merasakan hal yang sama denganku, dia tampak berpikir keras mencari ide bagus.

"……Aku memang laki-laki, jadi saranku mungkin tidak seberapa, tapi terlepas dari masalah 'Gal', kupikir tidak ada salahnya mencoba belajar dandan atau semacamnya."

"Eh?"

"Ini kanal milik Seika-san. Dia punya video populer yang berisi panduan makeup dan padu padan busana."

Tidak usah bilang populer juga kali. Tapi ya, itu ide yang cukup bagus, sih.

"Selama Miyasaka masih terobsesi dengan lookism, tidak ada ruginya meningkatkan kemampuan makeup, apa pun gaya yang ingin dikejar. Aku pikir, kalau dia belajar dari video Seika-san……"

Di akhir kalimat, Kosei jadi agak ragu-ragu, tapi aku merasa itu ide yang sangat masuk akal.

"Begitu ya…… mungkin itu ide yang bagus."

Yokokura-san pun setuju. Hamamura-san juga tampak lebih bersemangat karena sudah tahu apa yang harus dilakukan.

"Aku akan mencobanya. Sebisa mungkin."

……Tangguh sekali anak ini. Padahal mungkin sudah terlambat, tapi dia masih mau berusaha.

"Terima kasih untuk kalian berdua hari ini. Padahal aku memaksa kalian datang, tapi kalian memikirkannya dengan sungguh-sungguh."

Hamamura-san berdiri dan membungkuk dalam-dalam pada kami. Kemudian dia mengobrak-abrik tasnya,

"Anu. Ini, kalau tidak keberatan."

Dia menyodorkan sesuatu. Mungkin tanda terima kasih. Saat kuterima, ternyata itu voucher hadiah toko es krim. Ada tiga lembar masing-masing 500 yen.

"Boleh? Sebanyak ini?"

"Iya. Ini sekaligus untuk acara festival olahraga kemarin, sebagai tanda terima kasih dan permintaan maaf."

Ternyata dia memang sudah menyiapkannya untuk kami dari awal. Kalau begitu, tidak perlu sok menolak lagi.

"Terima kasih."

"Terima kasih banyak."

Kami akan menggunakannya bersama.

"Aku mau yang rasa rum raisin."

"Kecepetan! Jorok, tahu."

Selesaikan dulu urusan dengan orang yang memberi hadiah baru bicara begitu.

Akhirnya, seperti itulah kami meninggalkan ruang klub manga. Setelah bubar, aku berpisah dengan Kosei di tikungan dekat tempat pembuatan karyanya, lalu pulang ke rumah. Sesampainya di kamar, aku mulai merenungkan kejadian di ruang klub tadi.

Entah kenapa, aku merasa Hamamura-san ini bukan orang asing. Mengingat dia terus mencintai anak laki-laki yang disukainya sejak SD, keadaannya persis sama denganku. Termasuk bagian yang belum berhasil membuatnya menoleh padaku.

"Tapi. Tipe incarannya itu……"

Kosei bukan tipe pria genit yang suka menebar pesona ke sana kemari, dan dia juga baik pada orang sekitar. Hamamura-san bilang Miyasaka pun dulu seperti itu. Mungkin saat merasa tidak bisa mengalahkan kakaknya, dia belajar untuk mempercantik diri sebagai jalan pelarian. Karena ingin mencari nilai di luar prestasi akademik.

Lalu, dia jadi terobsesi meningkatkan status diri dengan bergaul bersama orang-orang yang berpenampilan menarik, kelompok kasta atas di kelas, dan gadis-gadis cantik. Jadi, orang-orang yang selalu berada di sampingnya seperti Hamamura-san pun tak terlihat lagi.

Aku teringat festival olahraga. Saat menjadi pasangan lari kaki tiga dengan Miyasaka, Hamamura-san pasti senang sekali. Padahal dia sedang cedera…… dan Miyasaka tidak terlihat terlalu khawatir. Dia cuma ingin menarik perhatian dengan berpasangan denganku yang penampilannya lebih mencolok. Kalau bisa, ingin menjadikanku pacar untuk menaikkan statusnya. Pasti cuma itu yang ada di kepalanya.

"Benar-benar kebalikan dari Kosei ya."

Kalau seandainya sekarang aku masih sakit-sakitan, tidak pandai berdandan, dan rambutku acak-acakan, Kosei pasti akan tetap memperlakukanku dengan lembut.

Dia pasti akan membuatkan sesuatu dengan sepenuh hati untuk menyemangatiku. Sifatnya tidak mungkin berubah hanya karena perhitungan dangkal seperti wajah cantik atau apakah pasangan itu bisa menaikkan statusnya atau tidak. Semangat Kosei dalam berkarya tidak mungkin dibangun dari nilai-nilai remeh seperti itu.

"Justru karena itulah, aku jadi makin cinta."

Yah, tanpa diucapkan pun sudah jelas kalau aku suka Kosei. Intinya, aku merasa terpacu. Oleh perasaan Hamamura-san yang begitu kuat.

"Aku lebih beruntung karena sainganku tidak ada, dan seperti kata Riria, dia jelas-jelas memperlakukanku lebih spesial daripada yang lain."

Kalau Hamamura-san saja yang cintanya sesulit itu masih mau berjuang, aku yang kondisinya sudah sangat mendukung tidak boleh jadi pengecut.

"Huu."

Aku mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri.

……Sebenarnya, ada satu hal yang ingin kubalas.

Yaitu kencan di mal waktu itu. Yah, kalau dibilang balas dendam sih tidak juga, tapi karena aku lepas kendali, kencan itu jadi batal.

Aku berpikir untuk mengajak kencan lagi saat kami sudah semakin akrab agar tidak canggung.

Lalu, setelah tahu dari masalah album bahwa Kosei menerima semua kesalahanku dengan lembut, aku jadi sangat ingin menciptakan kencan yang indah dan menyenangkan untuknya.

Ditambah lagi, untung atau malang, ada insiden sentuhan dada waktu itu, jadi dia masih sangat menyadariku. Ujian sudah selesai dan waktu luang sudah ada, jadi ini kesempatan emas, bukan?

"Kalau begitu, keputusannya sudah bulat."

Pukul selagi panas. Sekali berniat, lakukan segera. Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Kosei untuk memintanya meluangkan waktu besok sepulang sekolah.

★★★

Sehari setelah berbicara dengan Hamamura-san, aku dan Seika-san pergi ke depan stasiun sepulang sekolah. Tidak jauh dari stasiun ke arah selatan, ada gerai es krim waralaba nasional.

Singkat cerita, kami datang untuk menggunakan voucher yang diberikan tadi. Seika-san juga bilang ingin membicarakan sesuatu padaku, jadi pas sekali.

"Pilih yang mana?"

Toko tidak terlalu ramai, hanya ada satu orang yang mengantre di depan. Sebentar lagi giliran kami.

"Sesuai rencana awal, rum raisin dan…… cokelat, double."

"Aku juga mau yang rasa cokelat. Satunya lagi mungkin matcha."

Lumayan ada 1,500 yen. Tapi kalau dipikir-pikir, rasanya terlalu berlebihan hanya karena menggantikan di festival olahraga dan memberi saran cinta. Aku ingin bisa membantu hal lain lagi kalau ada.

Tapi hubungan kami dengan Miyasaka tidak sedekat itu…… malah bisa dibilang aku dipandang sebelah mata olehnya, ditambah lagi dia sempat mengabaikanku saat kesulitan. Rasanya sulit bagiku untuk mendekatinya.

Kami memesan es krim dan duduk di kursi bagian dalam. Meja di sekitar kami kosong, jadi rasanya aman dari orang yang menguping.

"Wah. Terima kasih pada Hamamura-san, ya."

"Iya. Tidak menyangka dia menyiapkan hadiah seperti ini."

"Iya, kan. Dia orang yang baik. Soal seleranya pada pria…… yah, bukan hakku untuk berkomentar."

Dia menahannya, ya. Seika-san sudah dewasa.

"Semoga dia bisa mendapatkan sesuatu dari videoku. Kalaupun Miyasaka gagal, setidaknya belajar makeup dan fashion tidak akan rugi seumur hidup."

Dari cara bicaranya, sepertinya Seika-san ingin dia berjuang di cinta berikutnya. Tapi ya benar juga.

"Seseorang yang bisa mencintai dengan sepenuh hati, mungkin akan bahagia jika dipertemukan dengan seseorang yang mencintainya dengan sepenuh hati juga."

Ikatan antarmanusia itu…… rapuh. Benar-benar bisa berubah karena pemicu atau kata-kata sepele. Karena itulah, kemampuan untuk tetap mencintai seseorang dengan tulus adalah semacam bakat.

……Sudahlah, jangan terlalu melankolis.

"Tulus dengan tulus…… ya."

Seika-san mengulangi kata-kataku. Entah kenapa aku jadi malu, lalu memakan es krim dalam cup dengan lahap. Aku harus membicarakan hal lain. Saat kulihat Seika-san di depanku, ekspresinya tampak serius. Sepertinya dia ingin mengubah topik pembicaraan.

"Ne, Kosei."

"Ya?"

"Ano…… ujiannya sudah selesai, kan?"

Aku mengangguk.

"Jadi, sampai liburan musim panas nanti, Kosei rencananya mau melakukan apa…… sekadar bertanya saja sih."

"Begitu ya…… karena ada lomba, pertama aku akan menyelesaikan Nobu-L. Setelah itu, aransemen lagu Belle, hadiah kesembuhan, dan proyek yang berhubungan dengan Seika-san."

"Ah, begitu ya. Jadi, kamu agak sibuk?"

"Ya, lumayan."

"……Begitu ya."

Suara dan ekspresinya tampak sedih.

Jika dugaanku tidak salah. Dia bertanya tentang jadwalku karena dia ingin bermain denganku, bukan? Tidak apa-apalah kalau aku sedikit percaya diri.

Padahal biasanya Seika-san yang selalu menarikku ke sana kemari, tapi karena dia juga orang yang baik, mungkin dia menahan diri setelah mendengar jawabanku. Dari posisinya, kedengarannya seperti aku tidak punya waktu karena sibuk dengan karyaku.

"……"

Melihat Seika-san yang terdiam, aku merasakan sensasi seperti dicubit di dalam dada.

"……Meskipun pengerjaan karyaku bakal terlambat, itu, aku juga ingin bermain dengan Seika-san."

"Kosei……!"

Senyumnya merekah seperti bunga. Lalu dengan wajah yang sedikit memerah,

"Begitu ya, kamu mau main dengan Seika-san~. Lucu sekali ya, Kosei ini."

Untuk menutupi rasa malunya, dia berkata begitu lalu mengulurkan tangan dari seberang meja dan mengelus kepalaku.

"Kalau begitu, kencan yuk."

"Ke-kencan?"

"Waktu kita ke mal sebelumnya, karena aku, kencannya berakhir dengan aneh, kan? Aku ingin minta mengulanginya lagi. Kali ini…… kencan di mal yang benar."

Begitu ya. Pasti hal itu terus mengganjal di hati Seika-san. Bukan hanya karena dia lepas kendali hari itu, tapi juga karena dia merasa merusak waktu yang menyenangkan.

"Saat hari-H nanti, sebagai permintaan maaf juga, aku ingin pergi ke mana pun yang Kosei suka. Terus, soal pakaian. Besok aku akan bawa majalah fashion yang ada fotoku, Kosei pilihkan ya gaya yang kamu suka. Aku akan pakai itu."

"Eh? Eh?"

Seika-san terus mendesakku dengan usulannya. Pasti dia sendiri merasa gelisah.

"Makanya…… mungkin tempat itu punya kenangan buruk buat Kosei, tapi tolong kencan lagi denganku!"

Dia membungkuk dari posisi duduk, dan mengulurkan tangannya di atas meja. Sayup-sayup terdengar suara bisikan dari sekitar. Meskipun tidak terlalu ramai, di dalam toko tetap ada orang. Sambil menyadari hal itu di sudut pikiranku, tanpa sadar aku menggenggam tangannya.

"……Kalau aku yang kau maksud, dengan senang hati aku mau."

Seika-san mengangkat wajahnya dengan terkejut.

"Ayo kita buat kencan yang menyenangkan."

Saat kukatakan itu, dia tersenyum dengan wajah yang tampak ingin menangis. Aku juga merasa sangat lembut. Lalu, saat itu terjadi.

"Lihat, bukankah anak itu yang waktu itu menghadapi pria iseng di depan stasiun?"

"Iya. Aku ingat, kelihatannya penakut tapi ternyata jantan."

"Gadisnya juga orang yang sama, kan?"

"Iya, iya. Wah, mereka sudah maju ya. Berharga sekali."

Suara percakapan itu terdengar dari sekitar. Yang dibicarakan…… tentu saja kami. Uu. Sial. Kalau di toko dekat stasiun dengan jam yang sama seperti hari itu, peluang bertemu pejalan kaki yang melihat kami memang ada.

Aku tidak punya keberanian untuk mengedarkan pandangan dan memastikannya. Tapi entah kenapa, aku merasa tatapan mereka tertuju pada tangan kami yang bertautan di atas meja.

"……A-anu, sudah waktunya lepas tangannya."

"Ah! Iya. Ahahaha. Wajahku panas."

Seika-san sepertinya juga sadar kami sedang dilihat, dan langsung melepaskan genggamannya. Saat aku menoleh refleks karena mendengar suara "A~" yang terdengar kecewa, tatapanku bertemu dengan dua wanita bersetelan jas. Mereka langsung memalingkan wajah, tapi sudah terlambat. Yah, salah kami sendiri berpegangan tangan di tempat seperti ini.

Akhirnya, karena merasa tidak nyaman, kami segera keluar dari toko. Saat terkena udara luar, sepertinya Seika-san sudah mencapai batasnya.

"Ha-hari ini aku pulang saja! Besok aku bawa majalahnya! Sampai jumpa!"

"Ah, biar kuantar."

"Tidak perlu! Ini masih belum jam lima! Thank you!"

Dia pergi dalam sekejap. Padahal arah pulangnya sama.

"…………"

Pemandangan punggung Seika-san yang berlari menjauh. Sepertinya ini yang terakhir kali sejak kejadian tak disengaja saat aku menyentuh dadanya.

Pertama kali adalah saat berpisah di mal. Waktu itu, aku ingat betul merasa sangat terkejut karena semuanya terjadi begitu saja.

Hampir dua bulan sejak itu. Waktu yang kami habiskan bersama semakin bertambah. Berangkat dan pulang sekolah bersama, sering mampir saat pulang. Pelayan toko swalayan itu pasti sudah hafal wajah kami.

Saat hari libur, kecuali saat Seika-san ada kerja sambilan atau bermain dengan temannya, atau saat aku sedang bekerja, sisanya hampir selalu kami habiskan bersama.

Kencan ulang dua bulan lalu setelah kami semakin akrab. Sebenarnya, mengenai lepas kendali waktu itu, aku justru menganggapnya sebagai hasil dari sifatnya yang sangat memegang janji dan perasaannya yang dalam, jadi aku tidak memikirkannya lagi. Tapi bagi Seika-san, itu pasti duri di dalam hatinya. Aku ingin sekali mencabutnya. Karena itu, kencan berikutnya harus sukses.

Selain itu…… kurasa di dalam dirinya bukan hanya itu alasannya. Meski aku sempat merasa rendah diri dan menganggap mustahil dia menyukaiku, melihat perilakunya belakangan ini, dan kejadian hari ini.

Kupikir, dia tidak membenciku. Mungkin. Kalau dia sampai gemetaran seperti itu saat mengajak kencan, lalu ternyata tidak melihatku sebagai pria, aku cukup percaya diri untuk mengatakan aku akan mengalami trauma pada wanita.

Aku merasa terhormat. Sekalipun kalau itu hanya perasaan samar-samar. Tapi, di saat yang sama.

"……Takut."

Di balik topeng senyuman, di balik topeng teman, orang bisa saja berkhianat dengan santai. Gadis yang luar biasa cantik seperti Seika-san mengejarku, orang yang bahkan tidak bisa membuat teman dengan benar.

Apakah ada hal semulus itu? Jangan-jangan di balik topeng itu, dia sedang melihat reaksiku dan menjadikanku bahan candaan……

Aku menampar pipiku sendiri sekuat tenaga. Sudah berulang kali kupikir Seika-san bukan orang seperti itu.

Bukankah dia menyelamatkanku dengan sifatnya yang memegang janji, kebaikannya, dan inisiatifnya? Itu fakta yang tak terbantahkan. Apa gunanya tidak percaya?

"Huu~"

Setelah mengembuskan napas panjang, aku pun berjalan pulang.

Sesampainya di rumah beberapa menit kemudian, ponselku bergetar. Pesan LINE dari Seika-san.

Maaf ya hari ini meninggalkanmu pulang duluan.

Di bawahnya ada stiker anak anjing yang menyatukan tangan meminta maaf. Sebelum aku sempat membalas tidak apa-apa, pesan berikutnya masuk.

Soal jadwal kencan…… akhir pekan ini bagaimana?

Akhir pekan ini. Sabtu, sama seperti sebelumnya.

Mengerti. Besok kita bahas detail jamnya ya.

Oke. Terus, itu.

Setelah itu kami bertukar pesan sepele seperti Es krimnya enak, ya, lalu percakapan LINE pun berakhir.

"Kencan. Sabtu minggu ini, kencan di mal dengan Seika-san."

Aku mengulanginya tanpa arti. Kurasa aku…… memang bahagia.

Tiba-tiba, sebuah ide bagus muncul. Seika-san mengira aku hanya membuat Nobu-L untuk lomba.

Saat dia mampir ke kamarku, karya yang sedang kubuat disimpan di dalam lemari, jadi dia tidak tahu kalau aku juga sedang mengerjakan interior aransemen Belle. Dengan kata lain……

"Bisa beri kejutan."

Aku membayangkan wajah terkejut Seika-san, lalu mulai menyiapkan peralatan dengan semangat penuh.

☆☆☆

Ah, akhirnya kulakukan. Satu langkah maju. Kurasa dia belum menyadari kalau aku sudah jatuh cinta sedalam ini, tapi kupikir dia sudah paham kalau aku menyadarinya sebagai lawan jenis. Akhirnya. Akhirnya ya.

Tentu saja ada rasa takut. Malah, sekarang pun rasanya ingin lari saja. Seperti bilang, "Tadi emosiku terlalu meluap. Itu cuma kencan teman biasa, kok. Jangan terlalu dipikirkan!"

Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak membenci hubungan seperti air hangat yang nyaman saat ini, tapi aku ingin melangkah lebih jauh. Sambil menunggu dia bilang kita berteman, sampai dia membuka hatinya, aku mencoba agar dia menyadariku sebagai lawan jenis. Begitu strateginya, tapi mungkin karena terpacu oleh Hamamura-san, hatiku sudah tidak sabar lagi.

"Lagipula, kurasa bagi Kosei, teman itu mungkin sudah sama dengan pacar."

Setidaknya kurasa ambang batasnya setingkat sahabat. Dan kalau sudah sampai level sahabat, aku pasti tidak akan bisa menahan diri untuk melangkah lebih jauh. Bahkan sekarang saja, aku ingin menyentuhnya lebih sering.

Pipi kenyal itu. Rambut yang kasar tapi nyaman disentuh. Lengan yang tak disangka cukup maskulin. Telapak tangan dan jari yang kapalan itu. Untuk bisa menyentuhnya tanpa ragu, jelas cara yang sekarang tidak cukup.

Selain itu, aku juga punya keinginan untuk disentuhnya. Mimpi tentang dia yang mengelus kepalaku dulu terkadang masih muncul, perasaan saat tubuh kami bersentuhan saat lari kaki tiga itu yang terbaik, dan saat dadaku disentuh pun…… ya, aku benar-benar tidak merasa risih. Aku bahkan berpikir kalau dia sudah benar-benar menyukaiku, aku rela membiarkannya menyentuhku.

"……Aku memang menginginkan masa depan itu."

Kalau begitu, hanya ada satu hal yang harus dilakukan.

Aku mengeluarkan majalah koleksi lama yang memuat halaman fotoku dari lemari. Aku memilih gaya busana yang paling membuatku percaya diri. Pilihannya tergantung Kosei. Tapi apa pun yang dia pilih, akan kuselesaikan dengan sempurna. Menaklukkannya…… mungkin masih belum bisa, tapi setidaknya akan kubuat dia berdebar-debar.

Aku membayangkan wajah malu-malu Kosei, lalu membalik halaman majalah dengan penuh semangat.

Keesokan harinya. Sesuai janji, aku meminjamkan koleksi majalah itu pada Kosei. Aku sudah menempelkan pembatas buku di bagian yang menampilkan gaya busana yang membuatku percaya diri, tapi ternyata Kosei justru memilih gaun putih tipis di pojok halaman belakang yang bahkan tidak kusadari.

Aku sempat mencoba mengarahkannya ke gaya yang lebih meyakinkan, tapi karena tak sengaja mendengar gumamannya yang lirih seperti "mirip gaun pengantin", aku jadi tidak bisa mundur lagi. Aku juga senang dia sampai mencari dan melihat sampai sedetail itu.

Hanya saja, biasanya aku sama sekali tidak memakai gaya yang se-girly ini. Karena tidak cocok. Rasanya putih dan abu-abu pucat sama-sama tidak memberikan kesan yang hidup. Sebenarnya, waktu itu aku juga sempat mencobanya untuk iseng, tapi reaksi editornya kurang memuaskan. Aku ingat mereka bilang, "Kamu tidak memakainya dengan percaya diri."

"Tapi, kalau dipikir-pikir sekarang."

Mungkin maksudnya gaya busana itu sendiri, atau tantangannya, tidak buruk. Tinggal bagaimana aku membawakannya. Memakainya dengan percaya diri dan bangga ternyata adalah elemen yang lebih penting daripada yang dibayangkan.

Fashion dimulai dari hati, ya. Dulu pernah ada model senior yang bilang begitu. Memang benar juga, sih. Tentu saja, kalau pakai baju bermotif Nobunaga, ya tidak bisa ditolong lagi.

Lagipula, pria itu tidak mungkin pakai baju bergambar tokoh sejarah, kan? Aku tidak terima kalau itu sampai terjadi. Padahal aku sudah meluangkan waktu sampai merasa bodoh memikirkannya.

"Fufu."

Dia benar-benar melakukan hal yang di luar dugaan. Itu yang membuatnya menarik dan aku tidak bisa berpaling darinya.

Aku menarik napas panjang. Kosei ingin melihatku memakainya. Meskipun nanti tidak cocok dan pengunjung mal merasa aneh melihatnya, tidak masalah, kan?

Aku menepuk pipiku pelan dan memikirkan padu padan keseluruhannya. Membayangkan sandal dan tas yang kupunya, aku mulai menyusunnya di kepala. Aku ingin menjawab perasaan Kosei.

Lebih dari dua jam kemudian, aku berhasil menemukan kombinasi yang memuaskan.

Alas kaki menggunakan sandal hak tinggi hitam. Tasnya, aku berani memilih warna hijau zamrud. Aku sempat takut mencocokkannya dengan warna rambutku, tapi aku sudah memutuskan untuk menyesuaikan dengan selera Kosei.

Dengan ini saja!

Tidak apa-apa. Pasti tidak apa-apa.

★★★

Sejak itu sampai akhir pekan, baik aku maupun Seika-san, sama-sama merasa sedikit melayang. Bukan berarti kami mengurangi waktu bersama karena terlalu sadar.

Pergi-pulang sekolah tentu saja, lalu ada acara makan camilan ringan di toko swalayan itu, saling menunjukkan lembar jawaban yang sudah dikembalikan, melakukan evaluasi atau perayaan kecil, dan banyak kejadian lainnya.

Tapi, di sela-sela itu pun, aku sempat terpikir bahwa akhir pekan nanti aku akan kencan dengan gadis ini. Aku sering tidak sengaja melirik profil wajahnya yang cantik. Atau sebaliknya, aku bisa merasakan tatapannya di profil wajahku.

Sambil menjalani hari-hari seperti itu, diam-diam aku terus melanjutkan pembuatan interior aransemen Belle.

Pertama, membongkar Belle menjadi bagian atas dan bawah. Memotong bagian poros di bagian bawah agar rata dan memberi lapisan dasar.

Mengecat permukaannya dan mencampurnya dengan kerikil buatan dari resin untuk meniru aspal. Di atasnya, aku menaruh miniatur aku, Seika-san, dan "Mizoguchi-go". Untuk "Mizoguchi-go", aku membeli rangka yang mirip dan mengecatnya sambil melihat barang aslinya. Bagian rantai dan hub yang rusak kuberikan warna karat merah secara detail.

Miniatur diriku dan Seika-san kubuat perlahan dari tanah liat. Ngomong-ngomong, saat membuat bagian dada, rasionya jadi terlalu realistis sampai aku merasa sangat bersalah. Sepertinya telapak tanganku mengingatnya, aku sungguh minta maaf.

Posisi figurin keduanya diatur dengan komposisi: saat aku sedang memperbaiki rantai, Seika-san sedang berlutut dan mengintipnya dengan tangan di lutut.

Awalnya aku ingin membuatnya di momen saat aku menahan sepedanya agar tidak jatuh, tapi karena kelihatannya seperti aku sedang memegang keranjang dan mau mencuri sepeda, jadi idenya dibatalkan. Jadilah bentuk yang sekarang.

Dengan segala macam usaha, karya yang membuatku puas itu selesai pada Kamis malam. Agak mepet, sih.

Interior yang dibuat agar bagian atas dan bawah Belle bisa dibuka seperti kerang, sehingga bisa dilihat kapan saja. Di bagian bawah terdapat "Mizoguchi-go" yang rusak dan kami berdua. Sebuah karya yang meniru situasi saat itu. Aku menyimpannya dengan hati-hati di dalam kotak bening.

Setelah selesai, tanpa sadar aku mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi di kamar sendirian, "Yes!". Karena rasa puas dan antisipasi bahwa dia pasti akan senang, aku jadi berputar-putar di kamar sampai tiga kali tanpa alasan.

"Dia bakal senang, kan?"

Termasuk saat masih milik Ibu, sepeda itu sudah lama sekali di keluarga Mizoguchi. Dari sekian banyak kenangan, yang dipilih adalah pemandangan di hari itu, saat aku bertemu kembali dengannya.

Itu suatu kehormatan, dan pasti karena dia punya perasaan sayang. Karena itu, aku berusaha memberikan yang terbaik untuk menjawab perasaannya.

Tidak apa-apa. Pasti tidak apa-apa.

Lalu, hari Sabtu yang dinanti-nanti pun tiba. Akhir pekan terakhir sebelum libur musim panas. Orang-orang yang terlihat seperti pelajar cukup banyak, tapi orang dewasa terasa sedikit. Mungkin separuh dari para pekerja sedang masuk. Terima kasih atas kerja kerasnya.

Atau mungkin, ada orang-orang yang bisa mengambil libur tiga hari dengan Hari Laut, sedang pergi wisata kecil bersama keluarga. Pokoknya, ini seperti celah udara, jumlah orangnya hanya sekitar separuh dari yang kubayangkan. Sejujurnya, itu sangat membantu. Yah, kesulitanku menghadapi keramaian juga sudah lebih baik dari sebelumnya.

Apalagi hari ini, karena aku bersama orang yang paling bisa kuandalkan di dunia ini selain keluarga, kelonggaran psikologis pun terasa lebih besar.

Tadinya aku berpikir begitu, tapi saat menemukan Seika-san yang berdiri menunggu di tempat pertemuan, dan melihat sosoknya, kecemasan yang sama sekali berbeda tumbuh di dalam diriku.

Ah, pantaskah aku berjalan bersama gadis secantik itu? Jangan-jangan tiba-tiba polisi masa muda datang dan menjatuhkanku hukuman mati karena tidak tahu diri.

"Ah! Kosei!"

Dia melambai dengan kegembiraan seperti anjing setia yang menemukan pemiliknya. Karena dia berlari kecil mendekat dengan suara sepatu yang beradu krak-krak, aku pun panik dan berlari ke arahnya.

"Ja-jangan memaksakan diri, Seika-san."

Kalau dilihat dengan teliti, sandal hak tinggi yang dikenakannya hanya diikat dengan tali kulit yang tampak sangat tipis dan tidak meyakinkan. Mengingat Seika-san yang tidak suka barang-barang yang sulit dipakai bergerak, fakta bahwa dia memakai benda semacam ini membuatku sadar sekali lagi kalau hari ini benar-benar istimewa.

"Yah, memang susah sih buat gerak."

Sambil memegang kedua tanganku yang terulur seolah ingin memeluknya, Seika-san terkekeh, persis seperti bayi yang sedang belajar berdiri.

Setelah dia memperbaiki posisinya, aku kembali menatapnya. Gaun putih yang memperlihatkan bahunya itu memiliki aksen rumbai ringan, desain yang manis sekali. Tas tangan yang dibawanya berwarna hijau zamrud dengan kilap yang tidak terlalu mencolok.

"Ba-bagaimana?"

Menerima tatapanku, dia menunduk sedikit dengan ragu, lalu melirikku dari bawah. Ditambah dengan gestur itu,

"Sangat, sangat manis."

Aku menjawabnya tanpa perlu berpikir panjang.

"Benarkah?"

Suaranya juga terdengar sedikit polos. Aku berkali-kali mengangguk mantap. Aku menatapnya secara keseluruhan lagi. Ya, benar-benar manis.

"Gaya gal yang keren dan cantik seperti biasanya memang menawan, tapi baju yang benar-benar feminin seperti ini juga sangat manis dan bagus."

Seika-san sampai memerah hingga ke telinganya, tapi dia tersenyum bahagia…… karena ingin melihat wajah itu lebih lama lagi, aku terus memberikan pujian.

"Terima kasih. Ternyata permintaanku dulu memang tepat."

Setelah mengatakannya, akhirnya kepalaku kembali dingin, dan seketika rasa malu menyerangku.

Ah. Uaaa. Isi ucapannya memang tidak bohong, tapi kenapa aku terus mengoceh seperti ini di depan orang banyak.

Saat itu, sepasang wanita bersetelan jas lewat di dekat kami sambil berbisik,

"Lihat deh, anak-anak itu. Padahal baru janjian tapi wajah mereka sudah merah padam."

"Wah, iya benar. Imut sekali~!"

Mereka berlalu sambil berbincang seperti itu. Akhir-akhir ini sering sekali kejadian seperti ini. Apa di Sawamigawa sedang ada tren pengamatan masa muda?

Baik aku maupun Seika-san merasa sangat tidak nyaman.

"A-ayo kita pergi!?"

Karena ingin cepat-cepat pergi, suaraku sampai sedikit pecah.

"Ya-ya, ayo!"

Seika-san juga tidak sampai pecah suaranya, tapi nadanya terdengar seperti salah mengatur volume.

Aku pun mulai berjalan terburu-buru. Tapi, saat sadar Seika-san tidak bisa mengikutiku, aku segera berbalik arah.

"Maaf, apa aku terlalu cepat?"

Akhir-akhir ini tubuhku sudah sangat hafal dengan kecepatan jalannya, dan harusnya aku bisa menyesuaikan secara alami.

"Bukan, bukan itu. Tapi hak sepatuku."

"Ah…… maaf. Aku sama sekali tidak mengerti urusan cewek."

Payah sekali aku ini. Padahal baru saja aku memegang tangannya karena sadar jalannya sulit, tapi karena panik aku malah lupa.

"Jangan pasang wajah seperti itu. Kita berdua ini kan baru pertama kali seumur hidup melakukan kencan yang benar. Lagipula, kalau kau sudah terlalu ahli menghadapi wanita, justru itu yang kubenci."

Melihatku yang panik, sepertinya Seika-san yang lebih dulu tenang.

"Makanya…… supaya aku tidak jatuh, boleh pinjam lenganmu?"

"Eh, ah, iya."

Sesaat, sempat terlintas pikiran aneh di kepalaku, tapi saat tangan kanannya masuk ke lengan kiriku, aku langsung paham artinya. Ini namanya menggandeng lengan.

Aku menahan napas saat kulit kami bersentuhan. Kulitnya terasa lembap karena keringat, tapi lembut dan halus. Jantungku rasanya mau copot.

"Ayo?"

Aku mengangguk kaku, dan gerakan itu membuat sikuku sedikit bersentuhan dengan dada Seika-san. Dia mungkin pura-pura tidak menyadarinya.

Kalau sedekat ini, kontak tak sengaja seperti tadi pasti akan terjadi lagi…… apa jantungku akan bertahan sampai kencan ini selesai?

☆☆☆

Aku menggandeng lengannya dengan cukup berani, tapi karena Kosei juga terlihat cukup gugup, keberanianku tidak sia-sia. Yah, sebenarnya aku juga malu sih.

"Ke mana…… sebaiknya kita pergi?"

Suara Kosei masih sedikit bergetar.

"Seperti yang kukatakan waktu mengajakmu, hari ini prioritasnya adalah tempat yang Kosei inginkan."

"……Hmm. Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke toko khusus capsule toy di lantai tiga? Pasti ada sesuatu yang Seika-san sukai juga di sana."

Wah. Ide yang bagus. Karena ada banyak jenis mainan, sepertinya aku tidak akan terseret ke dunia para panglima perang.

Jadi, kami segera menuju tenant lantai tiga. Mesin-mesin berderet rapi di atas lantai bertekstur kayu. Tokonya cukup ramah pengunjung, banyak orang tua membawa anak, tapi ada juga kelompok wanita.

"Kuil…… zaman perang……"

Entah kenapa orang di sebelahku menggumamkan hal yang meresahkan. Tapi aku mencoba mengabaikannya dan masuk ke toko. Lorongnya sempit, jadi saat berpapasan dengan orang lain, kami harus memiringkan badan. Setelah dua menit berkeliling,

"Ah."

Aku menemukan mesin yang berisi model mini pedang legendaris para panglima perang. Aku sempat bimbang, tapi akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Kosei.

"Kosei, di sini ada pedang panglima perang."

"……!"

Dia mendekat dengan wajah berbinar. Baguslah.

"Wah. Benar juga. Oh, ada enam jenis ditambah satu rahasia. Rahasianya…… pasti Tonbokiri, ya."

Jangan tebak dengan santai hanya dari siluetnya. Lagipula itu bukan pedang, apa tidak apa-apa?

"Karena Seika-san yang menemukannya, silakan duluan."

"Tidak, tidak, tidak. Kenapa jadi begitu?"

"Eh? Bukankah biasanya yang menemukan yang harus duluan……"

Apa ini tidak sampai padanya?

Tawar-menawar seperti itu hanya akan berhasil kalau keduanya memang sama-sama menginginkannya.

"Sudahlah, aku tidak usah. Kamu saja yang main."

"O-oh, begitu? Terima kasih."

Kosei mengucapkan terima kasih, lalu mulai mengintip ke dalam mesin dari samping. Itu tingkah anak SD banget, tahu.

"He-hei, sebentar. Malu, hentikan."

Lubang hidungnya sampai kembang kempis begitu.

"……Karena aku benar-benar tidak tahu, aku coba putar dulu ya."

"Ternyata tidak tahu ya……"

Aku kan jadi rugi karena malu sendiri. Kosei memasukkan koin 500 yen dan memutar kenopnya. Terdengar suara berat logam yang bergerak di dalam. Setelah diputar penuh, sebuah kapsul jatuh ke tempat pengambilan. Kosei segera membukanya. Aku tidak tahu jenis-jenisnya, jadi aku mengambil instruksi kecil yang disertakan untuk memeriksa. Tertulis Soza Samonji.

"Soza…… Samonji?"

"Berhasil! Ini pedang legendaris Imagawa Yoshimoto kesukaan Seika-san!"

"Aku tidak suka."

Ternyata kecurigaan itu masih hidup, ya.

"Ah, masa sih. Bercanda."

"Aku serius bicara."

"Bicara serius, ya? Fufu."

Ah, sudahlah. Menyebalkan.

"Hadiah."

"Tidak mau."

Masa kencan pertama yang layak, hadiahnya Imagawa.

Akhirnya, mainan pedang itu berakhir di situ saja. Sepertinya Kosei hanya asal bicara, lalu dengan santai menyimpannya ke dalam sakunya sendiri. Tapi, tidak bisa dipungkiri kalau sebenarnya dia memang menginginkannya untuk dirinya sendiri.

Setelah itu, kami mencari mainan bertema hewan. Karena peminatnya banyak, kami segera menemukannya. Bahkan banyak sekali.

"Apa kita beli juga untuk Chika sebagai tanda terima kasih?"

"Ah, iya benar juga. Karena sudah banyak membantu kita. Dia suka yang…… bertema alam atau beruang, ya?"

"Iya, benar."

Beruang lucu, ya…… tunggu, Kosei malah menuju ke seri hewan buas. Aku menarik ujung bajunya untuk menghentikannya. Saat dia menoleh, wajahnya tampak bingung.

"Tidak boleh? Beruang alam liar. Reproduksi otot bahunya cukup bagus, lho?"

"Otot bahu tidak perlu. Tolong bedakan antara beruang alam liar dan beruang lucu."

"……"

Apa ini tidak sampai padanya?

Butuh waktu sekitar dua menit bagiku untuk menjelaskan pesona maskot beruang yang lucu dan keagungan alam liar agar dia mengerti. Akhirnya, setelah Kosei mengerti, kami memutar mesin boneka beruang kecil untuk memilih dua jenis sebagai hadiah untuk Chika.




Setelah itu, aku berhasil mendapatkan mainan Shiba Inu incaranku, dan kami sempat berkeliling sebentar di toko hewan peliharaan. Tanpa terasa, kami asyik bermain hingga hari sudah lewat tengah hari. Saking serunya, kami benar-benar lupa waktu.

Karena tidak mungkin terus-terusan makan di pujasera, kami memutuskan untuk berkeliling di lantai restoran. Meskipun pengunjung tidak terlalu membeludak, sepertinya tidak ada tempat yang tidak perlu mengantre. Ngomong-ngomong, biaya kencan hari ini dibagi dua untuk pengeluaran bersama, sementara belanjaan masing-masing dibayar sendiri-sendiri. Itulah pembagiannya. Aku yang mengajak, jadi aku sempat bilang akan mentraktir, tapi Kosei menolaknya.

Sebaliknya, dia malah menyinggung soal kipas angin portabel tempo hari dan mengkhawatirkan apakah aku punya uang. Padahal aku sendiri sudah lupa pernah berbohong soal itu. Aku panik setengah mati berusaha menutupinya. Tidak mungkin aku bilang kalau aku pura-pura bokek hanya supaya bisa nempel padanya. Meski begitu, sepertinya dia agak menyadarinya. Yah, dia pun tidak mungkin berani bertanya, "Apa kamu pura-pura miskin supaya bisa nempel padaku?"

"Kita makan apa ya?"

"Hm, terserah kamu saja."

Ah, ini jawaban yang paling dibenci saat kencan. Saat aku melihat Kosei dengan panik, dia berkata,

"Kalau begitu, aku ingin makan omurice."

Ya ampun, imut sekali.

"Oke, setuju. Ayo kita ke sana."

Karena kegemasannya, aku secara alami menggandeng tangan Kosei. Memang, karena orang di sekitar cukup ramai, kami sempat berhenti bergandengan lengan tadi. Tapi kalau cuma tangan, harusnya tidak terlalu memalukan, kan? Lagipula, tidak ada orang yang benar-benar memperhatikan kami.

"Kosei, waktu kecil dulu, kamu suka omurice yang ada bendera di atasnya?"

"Eh? Kok tahu? Kamu tahu yang ada di piring anak-anak itu, kan? Aku selalu memakannya dengan hati-hati dari pinggir supaya benderanya tidak jatuh."

Matanya berkilat seperti anak kecil yang menceritakan rahasia berharga. Aku ingin sekali mengelus kepalanya.

Untungnya, restoran omurice itu tidak terlalu ramai dan kami bisa masuk tanpa antre. Waktu menunjukkan hampir pukul satu siang. Kurasa kami bertukar tempat dengan pelanggan yang masuk saat jam makan siang.

Kami diantar ke meja dengan sofa di sisi dinding dan kursi di sisi tengah. Secara alami, Kosei membiarkanku duduk di sofa sementara dia mengambil kursi. Poin plus untuknya. Tapi,

"Kita duduk di sofa berdua saja?"

Aku ingin mengelus kepalanya, lho.

"Eh? Boleh begitu?"

"Boleh dong. Ayo, kemari."

Saat aku menepuk kursi di sampingku, dia pindah dari kursinya. Penurut sekali.

"Wah! Kenapa kamu mengelus kepalaku?"

Meski sempat kaget dan tubuhnya menegang, Kosei tetap membiarkanku mengelus kepalanya. Aku makin menjadi dan lanjut mengelus pipinya yang kenyal. Ya ampun, kulitnya benar-benar kenyal.

Kosei membiarkan tanganku berbuat sesukanya, dia membuka menu sambil tetap kupuji.

"Ah, yang ini kelihatannya enak. Bacon dan jamur……"

"Gaya rambutnya……"

"Aku pesan saus krim udang saja."

"Ahahahaha."

Aku tertawa terbahak-bahak karena dia cepat sekali berubah pikiran. Tapi gara-gara itu, aku jadi sulit makan jamur karena teringat hal tadi.

"Aku…… mungkin yang pakai hamburg saja."

Kencan ini masih panjang, jadi aku butuh energi.

Kami mengirim pesanan lewat panel sentuh. Kosei membawakan air minum swalayan untuk kami berdua. Baik sekali.

Sambil mengobrol tentang anjing dan kucing yang kami lihat di toko tadi, makanan pun datang. Kami bertukar satu udang milik Kosei dengan satu gigitan hamburg milikku, lalu mulai makan.

"Mm~ enak sekali. Telurnya benar-benar tidak bisa kutiru. Lembut sekali."

Kenapa aku bicara dengan gaya inversi (kalimat terbalik) seperti itu, ya?

"Ah, tapi. Kosei kan jago masak, mungkin kamu bisa?"

"Kurang lebih bisa."

"Wah, hebat. Pakai susu, ya?"

"Iya, aku pakai susu. Tapi ada juga yang pakai krim kental. Kuncinya, jangan dipaksa dibentuk di atas wajan, tapi pindahkan dulu ke atas plastik wrap."

Wah, wah. Luar biasa. Penjelasan praktis yang sangat mendetail.

"Nanti, kapan-kapan kalau kita main pas siang hari, aku akan buatkan."

"Serius!? Asyik."

Minggu depan sudah libur musim panas, aku pasti akan sering mampir. Aku harus memberikan biaya bahan dan upah lelahnya.

"Lagipula, aku juga akan buatkan sesuatu untukmu."

"Eh? Seika-san bisa masak?"

"Yah, tidak terlalu hebat sih. Tapi aku merasa selama ini hanya dibantu terus sama Kosei."

Sambil mengucapkannya, aku merenungi diriku sendiri. Selama ini aku hanya memikirkan apa yang bisa dia buatkan untukku. Itu tidak baik.

"Omong-omong…… masakan andalanmu apa?"

"Ochazuke?"

"Pfft."

Dia menertawakanku!? Tunggu saja, aku akan latihan sampai benar-benar jago.

★★★

Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk membeli baju untukku. Karena ada model profesional di sampingku, sayang sekali kalau tidak meminta saran.

Memang, aku harus lebih memperhatikan penampilanku. Kalau libur sekolah musim panas nanti, aku akan sering berjalan dengan Seika-san menggunakan pakaian santai. Kalau aku berpakaian terlalu aneh, aku hanya akan membuatnya malu.

Saat aku mengutarakan hal itu,

"Sebenarnya gaya Kosei yang sekarang pun sudah biasa saja. Kaos biru tua dengan celana cargo hitam."

Jawabnya.

"Maksudku, itu terlalu biasa. Aku pikir aku harus menyesuaikan gaya berpakaianku agar cocok dengan Seika-san."

"Hm~ sebenarnya aku juga belum pernah jalan berdua dengan pria selain Kosei."

Ugh. Tiba-tiba dia bilang hal yang luar biasa. Aku tahu Seika-san tidak punya pengalaman pacaran, tapi mendengarnya tiba-tiba seperti ini membuat otakku bergetar.

"Makanya, aku tidak pernah terpikir untuk menyuruh pria memakai baju yang serasi dengan gayaku. Menurutku, tidak perlu memaksakan diri, selama Kosei memakai baju yang pantas bagimu, itu sudah cukup."

"Be-begitukah?"

"Manusia itu paling bagus kalau memakai baju yang ingin mereka pakai dengan cara yang mereka sukai."

Seika-san yang sudah naik eskalator lebih dulu menoleh ke bawah, menatapku.

"Jujur saja, aku tadi tidak percaya diri dengan bajuku ini, tapi karena Kosei senang sekali, sekarang aku jadi merasa senang memakainya."

Mendengar itu lagi membuatku malu. Tapi, aku sebagai orang yang meminta harus menghargainya.

"Itu…… menurutku benar-benar manis. Sangat cocok untukmu."

Saat janji temu tadi aku sangat bersemangat sampai bisa mengatakannya dengan lancar, tapi memuji di saat tenang seperti ini butuh keberanian besar. Telapak tanganku sampai berkeringat.

"Ya, terima kasih."

Seika-san tampak sedikit malu-malu.

"Kalau begitu, mari fokus mencari baju tipe yang Kosei suka. Nanti aku akan berikan saran untuk sentuhan akhirnya."

Setelah mengunjungi beberapa toko, koleksi kaosku bertambah.

Ah, aku mencoba sedikit petualangan dengan membeli warna ungu dan merah muda. Seika-san benar-benar punya selera yang bagus karena dia memilihkan baju dengan pola dan warna yang pas dan terlihat cocok untukku.

Setelah memilih baju, saat kami keluar ke lorong mal, ada kerumunan orang di satu sudut. Aku dan Seika-san saling bertukar pandang, tapi dia pun tidak tahu apa yang terjadi.

"Ada apa ya?"

"Coba kita lihat, yuk."

Aku mengangguk. Biasanya aku tidak akan masuk ke dalam kerumunan, tapi hari ini berbeda.

Kami sampai di lokasi. Kerumunan itu tampaknya didominasi keluarga dengan anak kecil. Orang tua di belakang, anak-anak di depan. Di tengah lingkaran, ada seorang pria berusia 30-an. Mengenakan kaos oranye dengan rompi kuning dan topi hitam. Dia terlihat seperti orang yang memang pekerja seni.

Seperti dugaanku, pria itu rupanya akan menunjukkan balloon art. Ada pompa tangan dan beberapa balon panjang yang belum ditiup di atas meja panjang.

"Oh, balloon art."

"Ternyata ada acara seperti ini hari ini ya."

Mungkin informasinya sudah ada di situs web mal.

"Kosei, kamu bisa melakukan itu?"

"Tidak. Itu di luar bidangku."

Yah, meskipun sama-sama kerajinan tangan, mungkin suatu saat aku harus mencobanya.

"Halo semuanya~. Sekarang, kakak akan menggunakan balon ini untuk membuat hewan, jadi coba tebak hewan apa ya~."

Pembawaannya sangat luwes. Mungkin dia seorang profesional.

Anak-anak menjawab "Iya~!" dengan ceria dan fokus ke tangan kakak itu. Kakak itu menyambungkan ujung pompa ke mulut balon dan mulai memompa. Dalam sekejap, balon itu mengembang panjang. Dia memegang ujungnya dan memutarnya dengan jari. Bagian itu menekuk dan membentuk oval. Terlihat seperti sosis.

Dia terus membuat bentuk oval dengan ukuran yang sama. Setelah tiga buah, kakak itu memutar-mutarnya dengan gerakan lincah, dan dalam sekejap telinga dan wajah pun terbentuk. Anak-anak bersorak.

"Sepertinya itu toy poodle. Bentuk klasik."

"Iya, ya. Aku juga pernah lihat."

Kami berbisik-bisik. Kalau sampai terdengar anak-anak yang belum tahu jawabannya, bisa merusak kesenangan mereka menebak.

"Nah, kita buat lagi terus, ya~."

Kakak itu lanjut melakukan tugasnya dengan cekatan, dan saat sudah setengah jalan,

"Anjing!"

"Pups!"

Anak-anak mulai bisa menebak dengan benar. Kakak itu tersenyum lebar memuji anak-anak, lalu dengan cepat menyelesaikannya dan meletakkan karya itu di atas lantai mal. Boneka itu berdiri dengan tegak.

Setelah itu, kakak itu terus menciptakan berbagai benda dengan tangkas.

Sekarang dia sedang mengutak-atik balon merah muda yang disambung membentuk lingkaran. Dia menekan bagian tengahnya, membuat lipatan, dan membentuknya menjadi hati…… tongkat sihir gadis penyihir pun selesai.

"Nah, siapa yang mau~."

Anak-anak sangat bersemangat. Mereka melompat-lompat dengan tangan terangkat. Kakak itu memilih seorang anak perempuan berusia empat tahun untuk diberikan hadiah. Gadis kecil itu sangat senang dan mengayunkan tongkat itu,

――Buk!

Dia tidak sengaja memukul anak laki-laki di sampingnya. Anak laki-laki itu yang sebelumnya sudah menerima balon berbentuk pedang,

――Buk!

Memukul balik gadis kecil itu.

"Wah. Kompetisi bela diri lintas jenis sudah dimulai."

"Gawat. Keduanya menangis sambil terus mengayunkannya."

Orang tua masing-masing berusaha menahan mereka, tapi karena mereka meronta, pedang dan tongkat sihir pun berayun kesana kemari.

"Aku juga dengan Soza Samonji ini……"

"Berhenti. Jangkauanmu terlalu pendek, nanti kamu malah dihajar habis-habisan."

Benar juga.

"Sudahlah, ini seperti neraka, mari kita pergi."

"Benar juga."

Acara yang menyenangkan berubah menjadi kekacauan dengan jeritan anak-anak dan bentakan orang tua.

……Acara anak-anak itu sulit ya. Kami memanjatkan doa dalam hati untuk kakak yang tampak bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, lalu kami meninggalkan tempat itu.

☆☆☆

Setelah pertunjukan mendadak itu berakhir, kami mulai merasa tidak ada kegiatan lagi.

Aku menemukan toko hobi yang mungkin disukai Kosei, dan bilang padanya bahwa dia boleh melihat model plastik kastil, tapi dia menjawab, "Aku sudah membuat semuanya." Hebat sekali.

"Di lantai empat ada tempat seperti lounge, bagaimana kalau kita ke sana?"

Aku tidak punya ide lain, tapi aku belum ingin berpisah.

Padahal kami sering mengobrol santai setelah pulang sekolah, ya.

Di sana aku baru sadar. Ah, pasangan atau suami istri yang tinggal bersama biasanya menghabiskan waktu dengan bermesraan di rumah setelah bermain di mal. Enaknya. Tanpa perlu memperpanjang kencan, mereka sudah punya waktu berdua yang terjamin.

"Lantai empat ya. Aku baru pernah ke lantai restoran. Tidak tahu ada tempat seperti itu."

"Padahal di daerah sendiri, tapi jarang ke sini?"

"Paling hanya sesekali dengan keluarga. Seika-san sepertinya lebih tahu."

"Iya. Sesekali dengan Mama. Terus, karena Hinano tinggal di dekat sini, aku sering ke sini dengannya."

Teman sekolah sejak kelas tinggi SD sampai SMP. Teman yang paling lama kutemani setelah Chika.

Tapi saat masuk SMA, dia pindah ke Sawamigawa karena pekerjaan orang tuanya, dan dia tidak bisa masuk sekolah kami karena nilai akademiknya kurang. Banyak sekali orang di sekitarku yang sering pindah rumah.

"Ah, kamu bilang sering bermain di hari Minggu, ya."

Sabtu dengan Kosei. Minggu seringnya dengan Hinano, dan jika waktunya cocok, kadang dengan Chika juga.

"Lagipula, bukannya kamu sering mengunggahnya ke Twista? Kamu jarang melihatnya, ya?"

Aku menatapnya tajam, tapi dia hanya tertawa kecut untuk menghindar.

"Tapi, kalau kamu sesering itu ke sini, aku memang tidak bisa menandingi pemahamanmu tentang Ivan Mall."

"Yah, kami kan hanya pergi ke tenant yang itu-itu saja. Aku juga tidak tahu ada toko khusus capsule toy."

Sambil berbincang tidak penting seperti itu, kami sampai di ujung lantai empat. Ada beberapa set sofa yang disusun melingkar.

Salah satunya dikuasai anak-anak. Entah apa yang menyenangkan, mereka berulang kali memanjat lalu melompat turun. Para orang tua sibuk mengobrol di tempat yang agak jauh.

"Ke dalam sana yuk."

Kami menghindari kebisingan itu dan pergi ke tempat paling ujung. Dari jendela besar, kami bisa melihat pemandangan kota.

"Wah."

Kosei sedikit terperangah.

"Aku suka tempat ini."

"Begitukah?"

"Kita bisa melihat seluruh kota, kan? Lihat, di sana…… rumah sakit tempatku dulu dirawat."

"Ah, Rumah Sakit Pusat Sawamigawa."

"Iya, lantai tujuh di sana."

"Maaf, aku tidak tahu sampai detail lantainya."

Kosei memasang wajah menyesal.

"Ah, tidak apa-apa. Aku tidak akan marah karena hal seperti itu."

"Ah, maksudku bukan begitu……"

Suasana jadi canggung dalam sekejap. Ah, kenapa aku malah bahas lantai rumah sakit tadi, sih.

Namun, tangan Kosei meraih tanganku yang hampir terkulai lemas, menggenggamnya dengan erat.

"Ah……"

Kelembutannya terasa. Kosei pasti hanya merasa menyesal karena tidak bisa mengingatnya, tidak ada maksud lain. Ternyata aku saja yang terlalu sadar diri karena merasa rendah diri. Aku balik menggenggam tangannya erat.

"……"

"……"

Setelah jeda beberapa saat,

"Omong-omong, nama direktur rumah sakit itu luar biasa, lho."

Kosei berkata dengan suara yang dibuat-buat ceria. Dia pasti ingin mencairkan suasana.

"Eh? Benarkah?"

Aku juga ikut menanggapi sambil berterima kasih atas perhatiannya.

"Namanya Ooyabu (Hutan Besar)."

"Yang benar saja!? Kalau tahu namanya begitu, aku tidak mau dirawat di sana!"

Kami tertawa bersama.

"Tapi, kalau bukan karena Ooyabu-san, aku tidak akan bertemu dengan Chika dan Kosei……"

"Tapi bagiku, aku berharap waktu Seika-san menderita saat kecil lebih singkat."

Dia memang baik hati. Tapi bagiku, pertemuan dengan kalian berdua adalah harta karun. Lagipula, mungkin saja aku bisa berteman dengan Chika di sekolah barunya nanti, tapi entahlah apakah aku bisa bertemu Kosei tanpa Ooyabu-san.

Aku merasa dia agak meremehkan pertemuan kami, dan itu terasa sepi. Aku menggenggam tangan Kosei yang hendak terlepas, menahannya.

"……Aku, punya target untuk datang ke mal ini."

"Eh?"

"Dulu dari jendela rumah sakit, aku bisa melihat mal ini sedang dibangun. Derek raksasa membawa kerangka besi merah, setiap hari terbangun dengan dentuman suara pembangunan."

"Ah…… saat itu, ya."

Kosei melihat ke langit. Yah, orang lokal pun tidak akan ingat bangunan apa yang dibuat tahun berapa.

"Kalau aku sudah sembuh, aku akan bermain di mal itu. Itu jadi salah satu motivasiku."

Kosei mendengarkan dengan alis yang melengkung sedih.

"Yah, akhirnya aku malah pindah rumah sakit sebelum malnya selesai dibangun."

Saat aku tertawa kecut, Kosei juga tertawa serupa.

"Karena itulah, saat pertama kali datang ke sini bersama Chika dan Hinano di SMP, aku sangat terharu."

"Ya."

"Ternyata aku sudah bisa pergi sejauh ini naik kereta, ke kota tempat tinggalku dulu."

Ternyata aku sudah sebebas itu.

"Bangunan itu bertahan bertahun-tahun, puluhan tahun, jadi pasti banyak orang lain selain aku yang punya kenangan tersendiri…… terus ada tanpa berubah, itu sendiri bisa jadi penanda bagi hati seseorang."

Membuat sesuatu itu benar-benar hebat, ya.

"Aku juga ingin mencoba membuat sesuatu……"

"Membangun gedung?"

"Bukan, arsitektur terlalu berat. Entah bagaimana…… mungkin aku harus diajari Kosei."

Seketika mata Kosei berbinar.

"Nobu."

"Selain Nobunaga! Lagipula bukan panglima perang!"

"Cha."

"Chariel juga jangan!"

Tidak ada calon yang benar. Kenapa jadi begini.

"……Kalau begitu, bagaimana kalau kita buat aksesoris?"

"Ah, aku tahu! Aku pernah lihat videonya, katanya pakai barang 100 yen. Kosei bisa?"

"Aku belum pernah membuatnya, tapi aku selalu membuat yang lebih rumit dengan resin."

"Wah, mau! Tapi…… aku sudah banyak merepotkanmu, kalau aku manja lebih jauh lagi……"

Aku selalu saja memikirkan apa yang bisa aku terima.

"Tidak apa-apa, kok. Sekarang, yang paling menyenangkan bagiku adalah karya kreatif yang kubuat untuk Seika-san."

Karena dia mengatakannya dengan senyum yang benar-benar bahagia, jantungku rasanya mau berhenti.

Yang paling menyenangkan adalah membuat karya untukku? Padahal dia sangat suka membuat barang? Yang paling menyenangkan di antara semua yang dia sukai?

Bisa! Ini bisa! P-pengakuan cinta! Aku tidak akan ditolak, pasti. Mungkin. Pasti.

Ah, tapi apa aku harus diakui sebagai teman dulu? Padahal menurutku suasananya sudah sangat bagus.

"Kalau begitu, setelah libur musim panas, kita buat kelas aksesoris resin, ya. Sebelumnya, selesaikan Nobuel untuk lomba. Kamu akan sibuk."

Berlawanan dengan kata-katanya, dia tampak penuh semangat karena merasa puas dengan dirinya. Aku agak keberatan karena dia memperlakukan Nobuel sama pentingnya dengan diriku, tapi kalau Kosei senang, ya sudahlah.

Lebih dari pukul empat sore.

Hari masih terang, tapi kami memutuskan untuk selesai. Duduk di bangku luar, makan es krim yang kami beli di jalan, kami menikmati sisa waktu hari ini.

"Seru sekali~"

"Iya. Bajunya bertambah banyak, dan aku juga bertemu dengan pedang yang bagus."

Dia bicara seperti samurai saja.

"Selain itu…… aku senang bisa mendengar filosofi Seika-san."

"Dibilang filosofi, jadi malu."

Tapi memang, rasanya aku bicara dengan suasana sentimental tadi.

"Kita sering bicara saat pulang sekolah atau setelah sekolah, tapi tidak pernah bicara sedalam itu."

Apa yang terjadi di sekolah, cerita makanan, cerita game, cerita pelajaran. Tanpa diduga, topik pembicaraan kami tidak pernah habis hanya dengan kehidupan sehari-hari.

Jika tidak ada kesempatan seperti ini, memang tidak ada waktu untuk menunjukkan isi hati terdalam.

Kapan-kapan, bisakah Kosei…… menceritakan hal itu padaku? Sebelum aku jadi sentimentil lagi, aku menghabiskan suapan terakhir es krimku.

"……Ayo pulang."

Tidak ada barang yang lupa dibeli, tidak ada yang tertinggal. Aku sudah janji akan bermain lagi lusa. Tapi tetap saja…… rasanya sedih sekali kencan hari ini harus berakhir.

★★★

Karena masalah sepatu, aku membonceng Seika-san yang datang dengan berjalan kaki, dan mulai mengayuh sepeda.

Dia meletakkan satu tangannya di sekitar perutku untuk menyeimbangkan diri, seperti tempo hari. Saat aku melirik ke belakang, tangan satunya lagi menahan ujung gaunnya agar tidak melebar.

Menjadi perempuan itu sulit. Dia pernah bilang saat mengobrol kalau rok seragam saja selalu merepotkan. Kalau terlalu panjang seperti parasut, kalau terlalu pendek jadi dilihat pria-pria di jalan, dan sebagainya.

Sambil memikirkan hal itu di sudut pikiranku, tenggorokanku kering karena tegang.

Setelah ini, aku berencana untuk meminta sesuatu padanya. Bukan bermaksud menjadikan pemberian karya Belle sebagai jaminan, tapi aku akan mengatakannya saat itu nanti.

Minta dia jadi temanku.

Sudah terlambat kalau dibilang sekarang, memang. Tapi bagiku, mengucapkannya dengan kata-kata punya arti yang sangat besar.

'Memangnya selama ini kamu tidak menganggapnya teman?'

Aku membayangkan akan dituduh seperti itu. Tapi pasti, hal itu tidak akan terjadi dalam kenyataan.

Tidak diragukan lagi, Seika-san juga memikirkan situasiku. Mungkin dia tidak mengerti detailnya, tapi dia berusaha untuk tidak memaksakan kata "teman" padaku.

Karena itu, tidak apa-apa. Aku bisa percaya pada orang sebaik dia.

Aku akan mengatakannya. Aku ingin menjadi temannya. Aku harus membalas kebaikannya.

Akhirnya, sepeda sampai di depan pintu masuk utama apartemen.

"Terima kasih, sampai di sini saja. Hari ini benar-benar seru."

Seika-san tersenyum, meski terlihat agak sedih, meski kata-katanya tulus. Aku memarkir sepeda di pinggir trotoar dan menguncinya. Sepertinya dia paham maksudku, wajahnya seketika bersinar.

"Mau mampir?"

"Boleh bicara sedikit lagi di lobi?"

Saat aku mengatakannya, Seika-san mengangguk berkali-kali. Kadang-kadang, dia jadi seperti anjing yang imut.

Seika-san membuka kunci dan masuk ke dalam. Untungnya, sepertinya tidak ada penghuni apartemen lain. Hari pertama libur panjang.

Orang-orang yang pergi bermain pasti belum pulang, dan mereka yang memutuskan untuk tetap di rumah pasti sudah selesai belanja makan malam, jadi ini adalah saat-saat yang tenang.

"Duduk, duduk. Ah~ sejuknya."

Kami duduk di sofa yang berseberangan dengan meja kaca di tengah.

"……"

"……"

Bagaimana cara memulainya. Memulai dengan obrolan biasa pun aneh. Kesan kencan sudah dibicarakan panjang lebar.

Tidak, sekarang yang kubutuhkan hanyalah keberanian. Di hari yang istimewa ini, kupikir hanya saat inilah aku bisa mengatakannya, jadi aku sudah memutuskan untuk menyampaikannya hari ini.

Namun, meskipun begitu, keberanian itu tak kunjung muncul, dan akhirnya aku tidak bisa mengatakannya selama kencan tadi.

Saat itu, secara kebetulan, Seika-san lebih dulu menceritakan hal yang cukup serius. Dia membagikan bagian yang sangat sensitif di dalam hatinya.

Bahkan bagi seseorang yang biasanya blak-blakan seperti dia, pasti rasanya memalukan untuk menceritakan hal itu. Meski begitu, dia menahan rasa malunya dan memilih untuk membaginya denganku.

Tindakan orang ini selalu menjadi semacam penunjuk arah bagiku.

Aku mengambil satu napas dalam-dalam, lalu membuka pembicaraan.

"Anu, Seika-san. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu."

Aku membuka ritsleting tas yang kubawa seharian ini. Aku mengeluarkan kotak figurin dari dalamnya dan meletakkannya perlahan di atas meja.

"I-ini!?"

Wajah Seika-san terkejut. Kelopak matanya terangkat lebar, dan gliter pada riasan matanya berkilau tertimpa cahaya lampu neon.

"Kamu membuatnya?"

"Iya. Diam-diam. Untuk hari ini."

Di dalam bel sepeda kecil itu, terdapat sepeda yang lebih kecil lagi, beserta aku dan Seika-san.

"Wah. Serius? Kupikir kamu cuma sibuk bikin Nobuel terus."

Tenggat waktu untuk karya itu akhir bulan nanti, jadi aku masih punya waktu luang. Itulah kenapa aku memprioritaskan yang ini.

Aku ingin menyelesaikannya tepat waktu untuk kencan kami. Karena aku pengecut, kupikir aku tidak akan bisa mengungkapkannya kalau tidak dengan hadiah seperti ini.

"……Seika-san. Apa kamu ingat apa yang aku katakan di sini sebelumnya?"

"Eh, apa ya?"

"Bahwa aku senang bisa bertemu denganmu lagi."

"Ah, iya. Aku ingat…… karena aku senang sekali."

Itu terjadi saat aku berselisih paham dengan Seika-san dan aku mengejarnya. Belakangan, aku sendiri kagum dengan keberanianku yang bisa-bisanya mendatangi rumahnya seperti itu, rasanya seperti menonton orang lain.

Tapi kurasa, jauh di lubuk hatiku, sejak saat itu aku sudah ingin menjadi teman Seika-san. Meskipun kepalaku lupa tentang Sei-chan, instingku tahu. Aku tahu dia adalah gadis yang setia kawan dan berhati dalam.

"……Mungkin itu adalah bencana bagimu, Seika-san, tapi justru karena kerusakan sepeda itu, kita jadi bisa bertemu lagi, kan?"

Sebuah miniatur yang meniru adegan itu. Seika-san menangkup kotak itu dengan kedua tangannya dan mengintip ke dalam.

"Setelah itu, selama lebih dari dua bulan, kita mengobrol dan bermain hampir setiap hari. Pergi ke sekolah jadi hal yang aku nantikan. Aku juga merasa lebih bersemangat dalam berkarya daripada sebelumnya…… semuanya berkat Seika-san."

Aku memikirkannya dari lubuk hatiku. Aku benar-benar senang bisa bertemu lagi. Karena itulah.

"Bisa…… bisa tidak, kau menjadi temanku?"

Kata-kata yang selalu ingin kuucapkan, tapi tak pernah bisa kulontarkan…… akhirnya, aku bisa mengatakannya.

☆☆☆

Akhirnya. Akhirnya momen ini datang. Rasanya lama sekali. Yah, kalau dihitung sejak pertemuan kembali kami baru sekitar dua bulan, jadi kalau kata orang awam, itu tidak terlalu lama.

Tapi kalau memikirkan betapa aku mendambakannya, dan betapa intensnya waktu yang kami habiskan bersama setiap hari selama dua bulan ini, rasanya…… lama sekali.

Aku mengepalkan tangan di bawah meja, meresapi rasa bahagia itu.

"Iya. Aku juga ingin menjadi teman Kosei. Lagipula, aku sudah sejak lama menganggapmu teman, bahkan teman yang sangat dekat."

Aku mengatakannya dengan nada yang kuusahakan seceria mungkin, supaya dia tidak terlalu memikirkannya. Tapi, karena terlalu senang, suaraku sedikit bergetar.

"Seika-san……"

Sepertinya Kosei menyadarinya. Dia perlahan berdiri dari sofa di seberangku, lalu duduk di sampingku. Tanpa ada yang memulai, kami berpegangan tangan.

"Aku…… aku tidak dimintai pengakuan karena ada niat jahat atau apa…… hanya saja, itu……"

Aku menggelengkan kepala, memotong kelanjutan ucapannya.

"Tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu bercerita. Menjadi teman bukan berarti kita harus menceritakan segalanya. Ceritakan saja saat Kosei sudah merasa siap."

Melihat wajahnya yang tampak kesakitan, aku sadar waktunya belum tepat. Yah, mungkin itu adalah masalah yang akan selalu terasa berat diceritakan kapan pun itu.

"Seika-san…… terima kasih banyak."

Lebih dari segalanya, sekarang hubungan kami sudah maju satu langkah, aku merasa sangat bahagia sampai rasanya ingin melompat. Aku belum bisa memproses informasi tambahan apa pun.

Aku pernah bilang pada Haru-san bahwa aku "sudah bahagia dengan keadaan saat ini", tapi saat merasakan kenyataan bahwa hubungan kami benar-benar maju, hatiku terasa penuh. Rupanya di lubuk hatiku yang terdalam, aku sempat merasa cemas.

Dan mungkin karena dia merasakan kelegaan serta kecemasanku selama ini dengan peka, Kosei pun berkata,

"Itu! Karena sudah memakan waktu lama, aku akan menjaganya dengan baik! Kamu satu-satunya temanku, jadi aku akan melakukan semua yang aku bisa, dan menggunakan semua waktu yang ada!"

Dia mengatakannya dengan sedikit tergesa-gesa.

Ah, benar dugaanku. Dia sudah di level sahabat dekat. Apalagi, orang selembut dan setulus ini pasti akan menjaga sahabatnya lebih berharga daripada pacar pria mana pun di luar sana.

……Meskipun begitu, aku masih belum puas. Kalau sudah sampai sejauh ini, selangkah lagi.

"Iya, terima kasih. Mulai sekarang, kita sahabat karib, ya."

"Iya!"

Kosei pun tersenyum lega. Tapi maaf ya, Kosei. Aku tidak berniat mengakhirinya hanya sebagai teman.

"Kalau begitu, aku permisi dulu…… Hari ini, benar-benar menyenangkan. Dan bisa menjadi temanmu…… aku juga senang."

Suaranya menunjukkan kelegaan yang besar sekaligus kelelahan. Aku bisa membayangkan betapa besar keberanian yang ia butuhkan untuk melakukan ini.

"Ajak aku lagi, ya…… nanti aku juga akan mengajakmu."

Kosei berdiri dengan sigap setelah mengatakan itu. Aku juga berdiri menyusulnya.

"Hei, Kosei."

"Ya?"

"Pipimu. Ada sisa es krim yang tadi kamu makan."

"Eh? Bohong!? To-tolong bersihkan."

Dia sedikit membungkuk dan mendekatkan pipinya agar aku bisa melihatnya dengan jelas. Saat itulah, aku memanfaatkan kesempatan itu dan berjinjit dengan mantap.




--Cup.

Sebuah suara kecipak air kecil bergema di lobi yang sepi. Di bibirku, terasa sensasi kulit Kosei yang kenyal.

Aku segera menurunkan kakiku dan menjauh. Wajah Kosei tampak terkejut. Dia menyentuh bagian bibirku yang sempat menempel tadi dengan lembut, matanya terbuka lebar.

"Bercanda, dasar bodoh! Itu balasan karena sudah membuatku menunggu!"

Aku menyambar tas dan kotak figurin di atas meja, lalu kabur. Pintu otomatis yang menuju ke depan lift terbuka dengan suara "wing". Aku sempat menoleh ke belakang, merasa sedikit menyesal karena mengatainya "bodoh". Kosei masih mematung dengan ekspresi dan gestur yang sama seperti tadi. Sedikit lucu. Sangat lucu dan manis.

"Sampai lusa ya,"

Ucapku dengan nada cepat, lalu melesat masuk ke dalam lift. Beruntung liftnya pas ada di lantai satu.

Aku menarik napas panjang di dalam kotak lift. Gawat. Jantungku benar-benar berdegup kencang. Rasanya jantungku terlalu sering dipaksa bekerja keras sejak bertemu kembali dengan Kosei. Jangan berhenti sekarang, sungguh. Aku baru saja berhasil maju ke tahap berikutnya, kalau jantungku berhenti sekarang, aku tidak akan bisa tenang meski mati sekalipun.

"Berhasil."

Aku benar-benar melakukannya. Aku telah menyelesaikannya.

Kata-kata yang memiliki dua makna itu keluar dari mulutku. Mungkin, kedua perasaan itu memang ada dalam diriku.

Kami sudah menjadi sahabat, tapi aku cemas kalau hubungan kami hanya akan berlarut-larut sebagai teman dan dia tidak akan melihatku sebagai seorang wanita, jadi aku menciumnya.

Bisa dibilang, itu adalah cara untuk menancapkan "paku" agar hubunganku dengannya tetap terpancang.

Dengan ini, jalan untuk mundur benar-benar sudah tertutup. Aku sudah melompat keluar dari zona nyaman. Sekarang, tinggal menunggu akhir yang bahagia atau patah hati.

"Tidak apa-apa, dia pasti tertarik padaku."

Sahabat lawan jenis itu hampir seperti kekasih, kan? Lagipula, saat aku menciumnya tadi, dia tidak menolak. Yah, mungkin dia hanya sedang terpaku karena syok. Tenang, tenang.

"Lagipula, aku benar-benar sudah menciumnya, ya."

Saat mengucapkannya kembali, wajahku terasa panas seketika. Di dalam lift yang terasa pengap, sensasi pipi kenyal Kosei kembali terbayang…… aku tanpa sadar menjilat bibirku pelan.

Karena aku sengaja memakai lipstik yang mudah membekas di toilet mal tadi, mungkin di pipi Kosei pun meninggalkan noda tipis.

"Ini sudah seperti menandai wilayah layaknya binatang saja."

Dulu aku sempat berpikir mungkin aku punya sifat yandere. Tapi sepertinya ini bukan "mungkin", tapi sudah pasti. Namun anehnya, aku tidak membenci diriku yang seperti itu.

★★★

Tanpa sadar, aku sudah sampai di depan rumah dengan sepeda. Aku samar-samar ingat sempat menunggu lampu lalu lintas sekali, tapi selain itu, aku sama sekali tidak ingat bagaimana aku mengayuh sepeda sampai ke sini.

Pipiku terus terasa panas, dan otakku seolah mengalami korsleting akibat panas berlebih.

--Aku dicium.

Dia bilang itu hanya balasan karena membuatnya menunggu, tapi tentu saja itu sulit dipercaya. Kalau itu benar-benar balasan, seharusnya yang mendarat di pipinya adalah tamparan, bukan bibir. Atau lebih tepatnya, itu pasti caranya menyembunyikan rasa malu.

Dia melakukannya setelah menyadari bahwa tindakannya itu adalah sesuatu yang juga membuatnya malu. Ciuman penuh kasih sayang untuk seorang teman?

Tapi, aku belum pernah melihatnya melakukan itu pada Dokuchi-san, jadi kemungkinan itu sangat kecil. Jadi, sudah pasti itu maksudnya adalah "itu", bukan? Tepat saat aku mulai berpikir pelan-pelan apakah mungkin itu maksudnya, ciuman itu menjadi penutupnya. Tidak mungkin ini hanya kesalahpahaman, kan?

"Musim panas, tapi musim semi telah tiba."

"Hei, jangan memanggil kakakmu tanpa embel-embel."

Suara dari dekat membuatku tersentak di tempat. Jantungku berdegup kencang seolah baru saja terkena efek visual film horor.

"Hahaha. Apa yang sedang kau lakukan, Adikku? Kakak jadi tidak bisa masuk rumah, tahu."

Ah, benar juga. Aku sedang melamun di depan pintu masuk, jadi Kakak tidak bisa masuk. Dia berdiri dengan pakaian santai, mungkin baru pulang dari minimarket.

"Bagaimana kencannya…… Eh!?"

"Eh?"

Kakak menatap wajahku dari depan dan tampak sangat terkejut.

"Wah, wah. Berhasil besar, ya? Selamat, ya! Akhirnya punya pacar!"

"Eh? Eh?"

"Kenapa? Kamu tidak sadar? Coba masuk rumah dan lihat cermin!"

Kakak mendorong punggungku dan mendesakku masuk ke dalam rumah. Aku masuk begitu saja dan menatap cermin yang tergantung di dinding di atas rak sepatu. Ada noda lipstik merah tipis di pipi kananku.

"Ah……"

Sensasinya masih terasa, dan meski aku tidak meragukannya, diperlihatkan bukti nyata yang tak terbantahkan ini membuatku sadar kembali bahwa itu semua adalah kenyataan.

Rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.

Aku baru saja resmi menjadi temannya, dan kapasitas perasaanku sudah hampir mencapai batasnya, namun sekarang emosi yang lebih besar lagi diaduk-aduk di dalam diriku. Perasaan yang meluap-luap itu ingin sekali keluar dari mulutku.

"U-uwaaaaa!"

Karena malu dilihat Kakak, aku tidak bisa berteriak dengan lantang, namun aku juga tidak bisa menahannya di dalam dada. Hasilnya, erangan tidak jelas yang setengah berteriak keluar dari mulutku.

"Bukan, maksudku, emosi macam apa itu?"

Mana kutahu.

"A-aku pergi lari sebentar!"

"Hah? Ini sudah waktunya makan malam, tahu!?"

"Aku segera kembali!"

Tanpa menunggu jawaban, aku mulai berlari. Aku sendiri tidak tahu ke mana tujuanku.

Bahkan kenapa aku berlari pun aku tidak tahu. Tapi, kakiku tidak bisa berhenti.

Namun, apalah dayaku. Meski adrenalin sedang memuncak, stamina tetap punya batasnya, dan aku segera menurunkan kecepatan.

Sambil mengatur napas, kakiku berhenti saat aku sampai di taman kanak-kanak sekitar 300 meter dari rumah.

"Haah, haah. Aku, dicium. Di, pipi."

Meski kata-kataku terbata-bata, aku tidak bisa menahan diri untuk mengucapkannya. Aku menyentuh pipi kananku pelan.

Bibir Seika-san dan ujung jariku, rasanya seperti bumi dan langit. Meskipun sensasinya sangat berbeda, tanpa sadar aku memutar ulang adegan tadi di pikiranku.

Selamat, ya! Akhirnya punya pacar!

Kata-kata Kakak kembali terngiang di otakku.

Pacar. Memang belum, tapi apakah perlahan akan menjadi seperti itu?

Sampai hari ini, aku hanya berpikir mungkin dia memiliki perasaan yang sangat samar, sedikit lebih tinggi dari sekadar teman.

Tapi aku tidak menyangka akan mendapatkan pendekatan seaktif ini.

Jika mengutip perumpamaan yang sering Seika-san gunakan, rasanya seperti universitas negeri ternama yang datang menawarkan diri secara langsung agar aku masuk ke sana, padahal aku bahkan belum mendaftarkan diri.

"……Apakah ada hal seindah itu?"

Entahlah. Setelah tenang, rasanya itu seperti hal yang mustahil. Tapi, aku sama sekali tidak bisa membayangkan kalau Seika-san mempermainkanku.

"Bukan mempermainkan, tapi mungkinkah dia hanya ingin membuatku bingung sebagai balasan?"

Bukan menyembunyikan rasa malu, melainkan kejahilan. Dia memang orang yang cukup jenaka…… tidak, itu terasa dipaksakan.

Kalau dia gadis yang sembarangan mungkin bisa saja, tapi gadis yang bisa dibuat semerah itu oleh tindakannya sendiri, kurasa tidak akan memilih kejahilan semacam itu.

Jadi, apakah perasaannya bukan perasaan yang samar, dan dia benar-benar mencoba memilihku sebagai pasangannya?

Lagipula, bagaimana dengan perasaanku sendiri?

Aku senang karena akhirnya punya teman lagi. Apakah hubungan dengan Seika-san cukup sebagai teman, atau jika bisa, aku ingin menjadi kekasihnya?

"Aku harus memikirkannya lebih baik lagi."

Suka sebagai teman dan suka sebagai lawan jenis. Aku belum pernah memikirkannya sebelumnya.

Yah, wajar saja, karena dia adalah gadis pertama yang sedekat ini denganku.

……Apa pun itu, ini bukan masalah yang bisa langsung terjawab dalam waktu singkat.

"Haah~"

Untuk saat ini. Aku pulang saja lah.

Seolah didesak oleh paduan suara serangga higurashi di taman, aku pun berbalik arah dan berjalan pulang melewati jalan yang tadi kulewati.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close