NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Imouto ga Gimai tte Koto wo Ore dake ga Shiranai ~ Futago no Bijin Shimai wa Nanimo Shiranai Ani wo Otoshitai~ V1 SS

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Short Story

"Wawancara Bersama Para Adik Tiri♡"

Ujian masuk SMA tidaklah semudah itu hingga bisa lulus hanya dengan mengandalkan nilai tes tertulis semata. Nilai rapor tentu saja berpengaruh, tetapi ada juga ujian yang menguji kemampuan berkomunikasi seseorang.


Benar...... ujian tersebut adalah ujian wawancara.


Di wilayah sekolah kami, ujian wawancara satu lawan satu dengan pewawancara, atau wawancara tunggal di hadapan beberapa pewawancara, merupakan salah satu jenis ujian yang wajib ada di setiap SMA. Seiring semakin dekatnya hari pelaksanaan ujian masuk SMA yang sesungguhnya, para peserta ujian mulai rajin berlatih wawancara, baik di sekolah maupun di rumah.


Di rumah kami sendiri yang memiliki dua orang anak yang akan menempuh ujian, Ayah dan Ibu bertindak sebagai pewawancara untuk membantu latihan wawancara Yuuri. Kedua orang tua kami memang sangat kooperatif, sama seperti saat aku menghadapi ujianku dulu.


Meskipun demikian, ada satu orang peserta ujian di sini yang sama sekali tidak memiliki motivasi untuk berlatih wawancara......


"Nyam nyam, keripik kentang edisi terbatas ini enak banget~"


Seorang gadis gyaru bernama Kairi tampak bermalas-malasan sambil berbaring di atas sofa di depan televisi ruang tamu, mengunyah keripik kentang dengan berisik demi membolos dari belajarnya. Sifatnya yang selalu terlalu santai dan bebas semaunya sendiri ini benar-benar menjadi kekurangan utamanya.


"Kairi...... apakah buku teks matematika yang kujadikan pekerjaan rumah kemarin sudah kamu selesaikan?"


"Iya, iya, sudah selesai semuanya, kok~ Makanya sekarang aku bisa santai sambil makan keripik kentang."


Kairi menjawab sambil menunjuk ke arah buku teks yang tergeletak berantakan di atas meja ruang tamu. Meskipun dia memang benar-benar mengerjakan pekerjaan rumahnya, ketegangan sebagai seorang peserta ujian sama sekali tidak terlihat dari dirinya. Untuk memberinya sedikit rasa ketegangan, sepertinya aku harus menyuruh Kairi melakukan hal itu......


"Kairi, bisa minta waktumu sebentar?"


"Hmm? Ada apa, Onii?"


Kairi menghentikan tangannya yang sedang mengambil keripik kentang, menjilat jarinya, lalu akhirnya menoleh ke arahku.


"Karena kamu sudah mengerjakan pekerjaan rumah kemarin dengan baik, sebagai pengecualian, hari ini tidak ada pekerjaan rumah untukmu."


"Eh? Benaran? Asyik──"


"Tapi sebagai gantinya!"


Untuk memotong kegembiraan Kairi yang baru saja akan tersenyum, aku mengambil sebuah kursi ke dekat meja lalu duduk di atasnya.


"Hari ini aku ingin kita melakukan latihan wawancara."


"Eeeh...... wawancara~?"


Kairi langsung menunjukkan ekspresi wajah yang sangat enggan. Yah, aku paham kalau melakukan hal seperti ini di antara sesama anggota keluarga rasanya memang agak memalukan!


"Pokoknya, mari kita coba dulu, Kairi. Ujian masuk SMA tidaklah semudah itu hingga kamu bisa lulus hanya dengan belajar materi pelajaran saja. Lagipula, jika wawancaramu sempurna, hal itu mungkin bisa membantu menutupi nilai ujian tertulismu yang kurang."


"Eh, serius?"


"Sangat serius. Makanya hari ini aku ingin membuat wawancaramu menjadi sempurna. Mari kita latihan, ya?"


"Iya!"


Setelah mendapat jawaban yang bersemangat dari Kairi, aku mengambil satu kursi lagi untuk diletakkan di hadapanku, lalu duduk berhadap-hadapan langsung dengannya.


"Baiklah, mari kita mulai latihan wawancaranya. Pertama-tama, Otaru-san."


"H-Hadir......"


"Tolong sebutkan alasan Anda memilih sekolah ini."


Sebagai dasar dari ujian wawancara, aku memintanya untuk mengutarakan alasan memilih sekolah tersebut. Mendengar itu, Kairi akhirnya tampak memantapkan hatinya dan menatap ke arahku dengan pandangan mata yang serius.


"Alasan saya memilih sekolah ini adalah...... u-untuk...... bersama Onii......"


"Hah? Bersamaku?"


"Maksudku, aku ingin masuk ke SMA yang sama dengan Onii......"


"Hah?"


"Ah, sudahlah, lupakan! Alasan memilih sekolah ini adalah karena iseng saja!"


Apa-apaan dengan alasan iseng...... mana mungkin alasan seperti itu bisa diterima. Apakah bocah ini benar-benar niat ujian?


"K-Kalau begitu, pertanyaan selanjutnya. Tolong sebutkan kelebihan dan kekurangan diri Anda."


"Kelebihan utama saya adalah sangat mahir dalam berdandan ala Gyaru, sedangkan kekurangan saya adalah sering lupa merawat kuku yang sengaja saya panjangkan untuk nail art, sehingga sering tergores dan menjadi rusak!"


"......Lalu, buku apa yang belakangan ini sedang Anda baca?"


"Majalah fesyen dan kosmetik! Selain itu, majalah tentang cara berdandan yang bisa membuat wajah terlihat sangat manglingi──"


"Sejak tadi kamu ini berniat meremehkan ujian, ya?!"


Batas kesabaranku akhirnya habis. 


Aku benar-benar naik pitam dan langsung membentaknya dengan suara keras. Bagaimana aku tidak marah, dari tadi jawabannya hanya seputar dandan ala gyaru, nail art, fesyen, dan kosmetik saja. Mana ada orang yang melakukan wawancara ujian masuk SMA dengan gaya gyaru total seperti itu!


"Ada apa sih, Onii? Kenapa tiba-tiba marah begitu?"


"Tentu saja aku marah! Ini adalah wawancara untuk ujian masuk sekolah, tahu! Apakah kamu berniat menggunakan jawaban seperti ini pada hari pelaksanaan yang sesungguhnya?!"


"Iya, begitulah."


"Kamu beneran berniat menggunakannya, toh?!"


Melihat Kairi yang begitu percaya diri justru membuatku menjadi semakin khawatir...... Haaah.


"Dengar ya, Kairi? Terus terang saja, wawancara ujian itu bukannya menyuruhmu untuk memperlihatkan jati dirimu yang sebenarnya, melainkan sebuah kompetisi untuk menguji seberapa pandai kamu memakai topeng sebagai seorang murid teladan demi menarik hati pewawancara."


"Eeh, jadi begitu, ya?"


"Makanya, seberapa Gyaru pun dirimu, kamu tetap harus berpura-pura menjadi murid teladan. Semua itu demi kelulusanmu."


Setelah aku menasihatinya tentang bagaimana cara melakukan wawancara yang benar, aku memintanya untuk mengulanginya sekali lagi.


"Aku pulang~ Eh, lho? Kalian berdua sedang melakukan apa?"


"Oh, Yuuri rupanya."


Di saat kami sedang sibuk berlatih wawancara di ruang tamu, Yuuri baru saja kembali dari tempat bimbingan belajar.


"Sebenarnya kami sedang latihan wawancara, tapi anak ini sedari tadi hanya memamerkan sisi gyaru-nya saja."


"Heh, merepotkan sekali, ya. Yah, kurasa wawancara memang hal yang terlalu sulit bagi Kairi, sih."


"Menyebalkan banget...... Siapa bilang sulit!"


Meskipun Kairi berusaha menyangkalnya, setelah melihat wawancaranya yang barusan, sanggahannya itu sama sekali tidak memiliki kredibilitas di mataku.


"Ah, kalau begitu, bagaimana kalau kita minta Onee-chan untuk memberikan contoh! Dia kan pintar menarik hati orang lain!"


"Wah, Kairi? Apakah kamu sedang menantangku berkelahi?"


Yuuri yang terprovokasi oleh sindiran Kairi tampak jelas langsung merasa kesal. Namun, terlepas dari urusan menarik hati orang lain atau semacamnya, Yuuri memang sudah berulang kali melakukan latihan wawancara, jadi hal ini mungkin bisa menjadi referensi yang bagus bagi Kairi.


"Yuuri, bisa tolong berikan sedikit contoh?"


"Apakah Onii-chan yang akan menjadi pewawancaranya?"


"A-Ah, iya. Begitulah."


"Kalau begitu mau bagaimana lagi, ya. Hanya satu kali saja, lho."


Setelah memastikan bahwa aku yang akan bertindak sebagai pewawancara, Yuuri segera bertukar tempat duduk dengan Kairi.


"Baiklah, aku akan memberikan pertanyaan yang sama seperti tadi, jadi Kairi, tolong dengarkan baik-baik, ya. Apakah ada buku yang belakangan ini sedang Anda baca?"


"Baik. Belakangan ini saya sedang membaca kumpulan puisi karya Ishikawa Takuboku. Di dalam untaian kata-kata pendek karya Ishikawa Takuboku, terdapat cerminan kebahagiaan hidup, kepedihan dari kesunyian, serta perasaan-perasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari manusia, sehingga saya merasa banyak dari karyanya yang sangat berkesan di hati. Di antara semua itu, saya sangat berempati pada cara beliau mengekspresikan kekhawatiran dan emosi dalam kehidupan sehari-hari secara jujur apa adanya. Hal tersebut membuat saya juga ingin menghargai kehidupan dan perasaan saya sendiri sehari-hari."


Yuuri mengutarakan jawaban contoh yang sangat ideal tersebut dengan nada suara yang tenang.


Seperti yang diduga dari seorang Yuuri. Lagipula, jika ingin masuk ke SMA Shuugakuin, setidaknya dia memang harus bisa memberikan jawaban dengan tingkat kecakapan seperti ini.


"Ah...... benar juga, maaf. Harusnya pertanyaan pertamanya adalah tentang alasan memilih sekolah, ya. Kalau begitu, pertanyaan berikutnya, tolong sebutkan alasan Anda memilih sekolah ini."


"Anu, kalau soal itu......"


"Hmm?"


Yuuri tiba-tiba menjadi terbata-bata, lalu mengarahkan pandangan matanya yang hangat ke arahku. A-Ada apa?


"Alasan saya memilih sekolah ini...... mungkin karena saya ingin masuk ke SMA yang sama dengan Onii-chan♡?"


"Bukan begitu, dong! Kenapa kalian berdua malah memasukkan aku ke dalam alasan memilih sekolah kalian?! Tolong lakukan ini dengan serius!"


""Kami beneran serius, tahu!!""


Pada akhirnya, latihan wawancara kami pun terus berlanjut hingga larut malam.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close