NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Imouto ga Gimai tte Koto wo Ore dake ga Shiranai ~ Futago no Bijin Shimai wa Nanimo Shiranai Ani wo Otoshitai~ V1 Chapter 8

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 8

"Perang Adik Tiri"

──Tahun Baru.


Setiap tanggal 1 Januari, kami sekeluarga selalu pergi ke kuil untuk Hatsumode (kunjungan pertama ke kuil di awal tahun).


Kairi mengenakan furisode (kimono formal berlengan panjang) berwarna putih dan emas yang sangat serasi dengan rambut pirangnya, sedangkan Yuuri mengenakan furisode bermotif apik dengan perpaduan warna ungu dan merah.


Mungkin karena dada mereka berdua tumbuh lebih besar dibanding tahun lalu, Ibu yang bertugas mendandani mereka tampak cukup kesulitan saat mengikat kain obi.


Bahkan sekarang, dalam perjalanan menuju ke kuil pun, mereka berdua sesekali menunjukkan gelagat tidak nyaman pada bagian dada mereka. Terutama Kairi, karena belakangan ini dia sering makan makanan cepat saji akibat stres belajar menghadapi ujian, ukuran dadanya jadi lebih...... ketimbang Yuuri.


"Onii, pandangan matamu mesum banget, deh."


"N-Nggak, kok!"


Sial, ketahuan kalau aku melirik ke arah dada Kairi.


"Onii-chan, jangan-jangan kamu sedang melihat bagian sini milik Kairi, ya?"


Yuuri menekan sedikit bagian dadanya yang tampak lembut dengan jari-jarinya yang dihiasi cat kuku berwarna ungu.


"M-Mana mungkin begitu! Tolong berhenti menggodaku!"


"Fufu......"


Aduh, tidak boleh membayangkan hal yang aneh-aneh tentang tubuh adik sendiri.


Aku menepuk kedua pipiku untuk melenyapkan pikiran kotor sebelum melangkah masuk ke area kuil. Kuil sudah dipadati oleh cukup banyak orang, dan sepertinya ada beberapa teman sekolahku juga di sini.


"Onii, onii! Ayo kita ambil ramalan kuil (omikuji)!"


"Nggak boleh. Onii-chan, sebelum melakukan itu, mari kita berdoa dulu, ya?"


Padahal sampai tahun lalu Yuuri maupun Kairi sama sekali tidak mau berbicara denganku, tetapi tahun ini benar-benar berbeda.


Yuuri menarik tangan kananku, sementara Kairi menarik tangan kiriku.


Saat Hatsumode tahun lalu, Kairi bahkan sempat bilang, "Onii, jangan dekat-dekat, deh. Aku nggak mau kalau sampai bertemu teman sekelas lalu dikira kita pacaran." Yuuri pun juga berkata, "Onii-chan, tolong menjauh sedikit."


Mungkin karena masa-masa pubertas mereka sudah berakhir, tetapi perubahan sikap mereka ini...... tidak, ini sih perubahannya kelewatan.


Kami berlima sekeluarga ikut mengantre di barisan depan aula pemujaan, lalu melemparkan koin ke dalam kotak persembahan (saisenbako).


Nah, sekarang waktunya memohon......


"Pasti lulus, pasti lulus......"


Di sebelah kiriku, Kairi menangkupkan kedua tangannya sambil terus bergumam tanpa intonasi layaknya sedang membaca mantra, merapalkan kata "pasti lulus" berulang kali.


Yah, sewajarnya memang begitu, sih. Untuk saat ini, permohonanku adalah kelulusan kedua adikku ke SMA...... sedangkan untuk diriku sendiri, sepertinya tidak ada. Meskipun sudah saatnya aku harus memikirkan masalah perguruan tinggi, bagi orang sepertiku, masuk ke Universitas Tokyo atau Universitas Kyoto hanyalah sebuah mimpi di siang bolong. Ujung-ujungnya aku pasti akan masuk ke universitas biasa-biasa saja lewat jalur rekomendasi formal.


Kalau begitu, permohonanku...... semoga karya audio dari streamer favoritku mendapat diskon sampai 90%.


☆☆


Kemampuan observasiku terhadap manusia bisa melihat dan menembus segala hal.


Aku melirik ke arah anggota keluargaku yang sedang menangkupkan tangan di depan aula pemujaan.


Ayah berdoa untuk pelunasan pinjaman, Ibu berdoa untuk dietnya, Kairi berdoa untuk kelulusan SMA-nya...... dan Onii-chan, kemungkinan besar sedang memohon agar produk audio ASMR dari streamer favoritnya mendapat diskon sebesar 90%.


Tampaknya...... hati Onii-chan masih belum terpikat sepenuhnya olehku, ya.


Tetapi, sudah bisa dipastikan kalau permohonan Onii-chan di tahun depan adalah, "Semoga aku bisa melakukan sks penuh cinta yang lebih mesra lagi dengan Yuuri."


Oleh karena itu, permohonanku hari ini adalah, "Semoga aku bisa melakukan sks penuh cinta yang mesra dengan Onii-chan setiap hari."


Keperjakaan Onii-chan adalah hal yang sudah berada di dalam genggamanku tanpa perlu memohon kepada Dewa sekalipun. Jadi, hal yang kumohonkan adalah masa depan yang berada jauh di depan sana.


Kairi sempat bilang kalau dia mengincar akhir cerita bahagia ala Manga Shoujo, di mana dia akan menyembuhkan penyakit ketakutan terhadap perempuan yang dialami Onii-chan terlebih dahulu baru kemudian membongkar status kalau mereka adalah adik tiri.


Tetapi jalanku berbeda dengannya. Aku tidak peduli meskipun Onii-chan tetap menderita ketakutan terhadap perempuan, asalkan dia hanya mencintai diriku seorang, itu sudah lebih dari cukup.


Jika dia sudah terlanjur sangat menginginkan sosok Otaru Yuuri secara pribadi, meskipun statusku adalah adiknya, Onii-chan pasti akan sangat tergoda untuk melakukan "aktivitas intim" bersamaku.


Dibandingkan dengan dada Kairi yang hanya sekadar besar dan tidak proporsional, dadaku yang kencang ini sudah pasti jauh lebih bisa dinikmati dan sanggup membawa Onii-chan menuju puncak kenikmatan tertinggi. Dan aku pun akan menikmatinya bersama-sama dengannya......


"O-Oi, Yuuri? Sampai kapan kamu mau berdoa terus?"


"Eh? Ah, maaf ya, Onii-chan."


Di saat yang lain sudah melangkah pulang terlebih dahulu, hanya Onii-chan yang tetap tinggal untuk memanggilku.


Aduh, Onii-chan...... kamu benar-benar terlalu mencintaiku, deh.


"Lama sekali? Memangnya kamu berdoa minta apa?"


"Aku berdoa semoga bisa lulus ke SMA yang sama dengan Kairi."


"Begitu ya...... Yuuri ternyata sangat memedulikan adiknya, ya."


Tangan hangat Onii-chan mengusap lembut kepalaku.


Ah, ahh...... ini membuatku terlampau senang sampai-sampai tubuh bagian bawahku rasanya sudah......


"Nngh......"


"Yuuri? Wajahmu merah sekali, kamu tidak apa-apa?"


"Maaf, Onii-chan. Tidak ada apa-apa, kok."


Segalanya──rencanaku sudah dimulai.


"......Eh, tunggu dulu?"


Bukannya aku terus berdiri di depan halaman kuil tanpa memikirkan apa pun, tetapi......


"Gawat. Kita malah terpisah dari Ibu dan yang lainnya, nih."


Jangan sekarang, Yuuri. Kamu belum boleh tertawa dulu.


Akan tetapi......


"Semua berjalan sesuai rencana......"


Maaf ya, Kairi, tetapi tidak ada kata libur awal tahun dalam pertempuran kita.


Setiap detik waktu yang kuhabiskan bersama Onii-chan adalah medan perang kami──itulah yang disebut dengan Perang Adik Tiri.


"Padahal setelah ini kita mau pergi makan bersama, repot juga kalau begini. Pokoknya aku coba hubungi lewat LIME dulu......"


"Onii-chan~"


"Hmm?"


"Kain ikat obi pada furisode-ku rasanya mulai longgar, nih."


"......Eh?"


Inilah metode pertempuran taktis milikku yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh Kairi yang bodoh. Jika harus memberinya nama, maka ini adalah──『Project S*ks』.


☆☆


"Ikatannya...... jadi longgar."


Mendengar ucapan Yuuri, aku langsung menghentikan langkahku dan berbalik.


Karena kain ikat obi pada furisode-nya melonggar, bagian dadanya pun menjadi sedikit terbuka. Belahan dadanya yang putih mulus dan tampak lembut serta bra berwarna ungu miliknya sedikit mengintip dari balik kain.


E-Eksotis...... sekaligus seksi banget.


"Onii-chan...... kamu melihatnya terlalu lama, lho."


"Ugh, m-maaf!"


Apa-apaan yang sedang kupikirkan, sekarang bukan waktunya untuk itu.


Aku segera mengarahkan Yuuri ke sudut lorong jalan kuil. Sembari memosisikan tubuhku sebagai pembatas agar dia tidak terlihat oleh orang-orang di sekitar, aku mulai memeriksa kondisi furisode milik Yuuri.


Kain ikat obi yang berada di bawah dadanya memang tampak melonggar, membuat lipatan kain furisode-nya menjadi berantakan dan tidak rapi.


T-Tapi, tunggu dulu, tunggu dulu. Meskipun aku adalah orang yang menderita ketakutan terhadap perempuan, aku tetap bisa menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal di sini.


“Furisode perempuan itu biasanya dililit dengan obi-ita, tali obi, dan berbagai lapisan lainnya, jadi seharusnya tidak mudah berantakan seperti ini.”


“Furisode ini sebenarnya baru dibuatkan tahun lalu, tapi dalam satu tahun tubuhku jadi terlalu besar... Aku juga tidak bisa membeli yang baru, jadi meskipun agak sempit, setidaknya supaya tidak terlalu ketat, aku meminta ibu untuk memakaikannya dengan cara yang lebih sederhana.”


Ucap Yuuri sambil mengernyitkan alisnya dengan wajah kesulitan.


Sebagai anak kembar, setiap kali harus membuat sesuatu yang baru biasanya dilakukan berdua, jadi biaya yang dikeluarkan pun besar. Dalam hal itu memang tidak bisa dihindari... tapi setidaknya untuk urusan pemakaian pakaian seperti ini, seharusnya ibu bisa lebih memperhatikannya.


“Yuuri, bagaimana kalau kamu ke toilet dulu?”


“Tapi, aku tidak bisa merapikannya sendirian...”


“Kalau begitu panggil ibu—... tidak bisa, kita tadi terpisah dari mereka.”


“Bagaimana ini, Onii-chan?”


Sebagai kakak, aku tidak mungkin membiarkan tubuh adikku terlihat oleh sembarang laki-laki sebelum ia menikah....k-kalau begitu.


“Yuuri, ke sini.”


“Eh?”


Aku menggenggam tangan Yuuri yang dingin, lalu membawanya ke belakang kantor kuil yang ada di dekat situ. Di belakang bangunan itu banyak daun kering yang menumpuk, dan sepertinya tidak ada orang yang datang ke sana.


Kami bersembunyi di balik bangunan, dan aku mulai menyentuh furisode Yuuri.


“...O, Onii, chan...”


Mungkin karena tadi sempat berlari, furisode Yuuri sudah hampir terlepas sepenuhnya, bagian dadanya terbuka lebar sampai-sampai terlihat seperti akan terjadi sesuatu yang tidak pantas.


Meski ini keadaan darurat, untuk pertama kalinya aku melihat kulit lembut Yuuri yang sudah menjadi “siswi SMP”.


Dulu, sampai kelas rendah SD, kami sering mandi bersama, jadi aku sudah terbiasa melihat tubuh Yuuri. Namun tubuh Yuuri yang sekarang sudah tidak memiliki bayangan masa kecilnya lagi.


Padahal masih SMP, tubuhnya sudah berkembang seperti model gravure. Pembuluh darah yang sedikit terlihat memberikan kesan nyata, dan dari melihat saja sudah bisa dibayangkan betapa lembutnya jika disentuh.


Meskipun dia adikku, di depan mataku ada... dada seorang perempuan... aku yang tanpa sadar terpaku, menelan ludah yang terkumpul di mulutku.


“...Yu, Yuuri...”


“D-dadaku... kalau begini, bisa terlihat...”


Yuuri menghembuskan napas putih, wajahnya memerah, dan ia menyentuh tali bra berwarna ungu yang dikenakannya.


“A-aku akan langsung membetulkan obi-nya, jadi tolong hadap belakang dulu.”


“Baik—kyaa!”


Saat hendak berbalik, Yuuri terpeleset di atas daun kering dengan sepatu botnya, kehilangan keseimbangan, dan tubuhnya condong ke arah bangunan.


Bahaya! Kalau dia jatuh ke sana, dia bisa membentur sudut bangunan dan terluka—


“Yuuri!”


Aku segera memeluknya, lalu kami jatuh ke arah berlawanan, ke tumpukan daun kering. Daun-daun itu berhamburan dengan suara lembut.


“Aduh...”


Karena aku yang menjadi alas saat jatuh, aku berakhir menatap ke langit.


“O, Onii-chan...”


Yuuri berada di atasku, dalam posisi saling berpelukan... dengan dadanya yang lembut menjadi bantalan.


“Yuuri... syukurlah kamu tidak apa—”


“Nee, Onii-chan.”


“...!?”


Tangan dingin Yuuri menyentuh perut bagian bawahku. Tubuhku refleks bergetar.


“Jangan-jangan Onii-chan... memikirkan hal aneh tentang tubuhku?”


“Ti-tidak mungkin! Aku ti—dak...”


Alasan yang sangat lemah. Karena memang benar aku merasa terangsang.


Saat Natal, Yuuri pernah mengingatkanku bahwa aku tidak boleh merasa terangsang oleh adik sendiri. Jika itu terjadi, wibawaku sebagai kakak akan hilang, dan jika Yuuri mengetahuinya, mungkin dia akan membenciku lagi.


Kalau begitu, hubungan kami akan kembali seperti dulu... Padahal kami sudah mulai akur lagi...


“Maaf... maaf, Yuuri! Aku—!”


“Fufu. Tidak apa-apa, Kak.”


Yuuri tidak marah. Dengan senyum yang misterius, ia menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya.


“Tidak apa-apa... maksudnya?”


“Kalau Onii-chan... tidak apa-apa kalau menyentuhku.”


Yuuri menggenggam tangan kananku yang berada di bawah tubuhnya, lalu membawanya ke dadanya, dan memasukkannya ke dalam bra ungunya.


Tangan kananku merasakan kehangatan yang lembut seperti penghangat tubuh—


“O, Oooooo, Oii! apa ini!?”


Yuuri menggerakkan tangan satunya lagi di tempat yang tidak bisa kulihat.


“Nee, Onii-chan... tubuhku lembut, kan?”


Semua sensasi yang kurasakan belum pernah kualami sebelumnya. Tanpa menyadari bagaimana kondisi tubuh bagian bawahku saat ini, aku menyentuh dada Yuuri secara langsung.


Ini bukan sekadar rasa terangsang—kepalaku menjadi kosong.


Tidak. Aku jelas terangsang. Dan itu karena tubuh adikku sendiri.


“Hangat, kan? Tubuhku...”


Yuuri yang tersenyum di depanku memiliki sorot mata yang berbeda dari biasanya.


☆☆


“Ayah, Ibu, kenapa mereka lama sekali?”


“Kamu ini tidak sabaran, Kairi. Kan sudah dikirim pesan lewat LIME ke Yuuto bahwa kita menunggu di restoran keluarga dekat sini. Nanti juga datang.”


“Benar itu, Kairi. Kita tunggu saja.”


“I-iya...”


Karena terpisah dari mereka, kami memutuskan menunggu di restoran keluarga terdekat.


Tapi tetap saja, Onii dan Onee-chan berdua saja...


Entah kenapa aku punya firasat buruk, tapi tersesat seperti ini pasti bukan disengaja, dan rasanya Onee-chan juga tidak akan bertindak sejauh itu di awal tahun.


Ah, benar. Nanti saat Onii pulang, aku akan sengaja memeluknya untuk membuatnya gugup.


Kalau aku memeluknya dengan furisode yang lucu seperti ini, pasti tingkat kesukaannya padaku akan langsung meningkat di awal tahun!


Sambil memikirkan itu, aku pun memakan pizza margherita panas yang baru saja kupesan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close