NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Imouto ga Gimai tte Koto wo Ore dake ga Shiranai ~ Futago no Bijin Shimai wa Nanimo Shiranai Ani wo Otoshitai~ V1 Chapter 7

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 7

"Kemunculan Kekuatan Ketiga"

Hari kencan Natal pun berakhir dalam sekejap mata. Aku dan Kairi kembali ke kamar kami dengan perasaan yang masih dipenuhi rasa enggan untuk berpisah.


Sejak melangkah masuk ke kamar, Kairi terus-menerus menggosokkan sarung tangan merah pemberian Onii-chan ke pipinya.


"Fuu... baru diberi barang segitu saja sudah sebahagia itu, Kairi benar-benar masih sangat naif, ya."


"Apa-apaan sih, Onee-chan? Memangnya kenapa, tidak apa-apa, kan."


Sambil berkata demikian, Kairi kembali menatap sarung tangan itu dengan lekat.


Aku bukan tidak bisa memahami perasaannya. Namun, hadiah ini adalah sesuatu yang dipilih oleh Onii-chan untuk kami berdua sebagai saudari. Ini bukanlah cinta yang dicurahkan khusus hanya untuk diriku seorang. Karena di dalamnya masih tercampur komponen tidak penting berupa rasa cinta kepada Kairi, ada bagian dari diriku yang tidak bisa merasa senang sepenuhnya.


Yah, meski begitu, sudah pasti aku akan menggunakan barang ini untuk bermas*****urbasi setiap hari, sih.


"Onee-chan, waktu kamu sedang berduaan dengan Onii tadi, apa saja yang kalian bicarakan?"


Kairi menaruh sarung tangannya di atas meja lalu mengambil sebuah sisir. Sembari menyisir rambut pirangnya di atas tempat tidur, dia melontarkan pertanyaan itu kepadaku.


"No comment. Aku punya caraku sendiri. Cara pamer kemesraan yang terang-terangan dan memperlihatkan kebodohan seperti yang dilakukan Kairi itu suatu saat pasti akan menemui batasnya."


"Hah? Aku sama sekali tidak sedang pamer kemesraan, tahu."


"......Masa, sih."


Aku merasa hubunganku dengan Kairi dalam satu hari ini justru menjadi semakin menegang. Namun, hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sebagai sesama adik tiri dari Onii-chan, demi memenangkan perang adik tiri ini, aku harus bergerak dengan tekad untuk menjatuhkan Kairi.


Kairi memang sudah menjadi sedikit lebih pintar belakangan ini, tetapi jika dia sampai gagal dalam ujian masuk sekolah yang krusial itu, dia akan langsung tereliminasi dari kompetisi ini. Jika hal itu terjadi, maka hanya akulah yang akan mendapatkan curahan kasih sayang dari Onii-chan...


"Onee-chan, air liurmu menetes, tuh. Kamu pasti sedang memikirkan hal yang menjijikkan lagi, kan."


Ya, terlepas dari apa pun itu, strategiku hari ini di hari Natal untuk membuat Onii-chan mulai mengesampingkan status "adik perempuan" dan menyadari keberadaanku sebagai seorang wanita telah berhasil. 


Pada momen itu, Onii-chan dipastikan sudah melihatku sebagai seorang wanita. Jika dibandingkan dengan diriku, di mata Onii-chan sosok Kairi pasti masih memiliki kesan yang kuat sebagai seorang adik. Aku sudah berada di posisi yang unggul.


Mengambil keuntungan dari celah sempit dan menyerang secara perlahan tanpa harus terus menempel secara berlebihan, itulah yang dilakukan oleh orang yang berotak cerdas, dan aku mampu melakukannya.


"Orang yang akan melakukan s*ks hari Valentine bersama Onii-chan adalah aku..."


"O-Onee-chan, hasratmu itu sampai keluar lewat ucapan, lho."


☆☆


Karena Onee-chan pergi ke kamar mandi lebih dulu, aku pun menatap sarung tangan merah di atas meja dengan pandangan seolah sedang menjilatinya.


"Kapan terakhir kali Onii memberiku hadiah, ya?"


Seingatku, kejadian itu terjadi saat kami masih duduk di kelas awal sekolah dasar.


Kala itu, Ayah dan Ibu tidak sengaja membelikan hadiah Natal yang salah khusus untukku saja. Pada saat itu, Onii adalah orang pertama yang langsung berlari keluar rumah demi berkeliling mencari toko mainan untuk membelikan hadiah Natal yang kuinginkan.


"......Onii itu, serius, sejak dulu selalu bersikap selembut itu."


Makanya, akulah yang harus melindungi Onii.


Aku akan masuk ke SMA yang sama dengan Onii, lalu melindunginya dari jarak yang paling dekat. Hanya itulah bentuk balas budi maksimal yang bisa kulakukan saat ini.


"......Tapi, s*ks hari Valentine itu sebenarnya apa, sih? Apakah itu semacam kata fiktif yang baru dibuat?"


Di saat aku sedang mencari kata kunci tersebut di internet menggunakan ponselku, tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk dari aplikasi LIME.


Orang yang meneleponku adalah Kanagawa Kanna, seorang gadis gyaru yang merupakan sahabat terdekatku di SMP.


"Halo? Kanna?"


『Kairiii...... tolongin akuuu~』


"Ada apa, Kanna? Bukannya hari ini kamu berencana pura-pura jadi anak SMA buat pergi ke pesta kencan buta Natal?"


『Sebenarnya... aku tidak jadi pergi ke sana.』


"Eh, serius?"


Padahal sebelum ini Kanna adalah orang yang paling menggebu-gebu bilang ingin mencari pacar anak kuliahan sebelum masuk SMA...


『Aku ada permintaan nih buat Kairi.』


"Permintaan? B-Boleh saja, sih... apa?"


『Sebenarnya...... aku juga ingin masuk ke SMA pilihan yang sama dengan Kairi. Makanya, beri tahu aku dong tempat bimbingan belajar yang kamu datangi!』


"E-Eh...... hal seperti itu kenapa harus minta di malam Natal begini, sih."


『Aku ingin pergi ke tempat bimbel yang sama dengan Kairi! Belakangan ini nilai-nilai Kairi kan jadi bagus banget! Makanya aku juga ingin pergi ke sana...... ayolah, anggap saja ini permintaan dari sahabatmu sendiri! Tolong ya!』


Masalahnya, 【Bimbel Onii】 itu adalah fasilitas khusus untukku sendiri. Lagipula, jika aku membawa Kanna ke rumah, ketakutan terhadap perempuan yang dialami oleh Onii bisa-bisa kambuh lagi, kan. Namun, aku juga ingin bisa masuk ke SMA yang sama dengan Kanna yang merupakan sahabatku...


"Ah, benar juga. Kanna! Aku punya satu usul!"


☆☆


Keesokan pagi setelah melewatkan hari Natal bersama sepasang adik kembar perempuanku yang cantik. Begitu aku terbangun dari tidur, aku menemukan sebuah amplop tergeletak di dekat bantal tempat tidurku. Itu adalah sebuah amplop kecil berwarna merah muda pucat. Bagian penutupnya disegel menggunakan sebuah stiker berbentuk pohon Natal.


"A-Apa ini?"


Sembari bergumam dengan suara yang masih serak khas orang baru bangun tidur, aku mengelupas stiker tersebut menggunakan kuku dan membuka penutup amplopnya. Kemudian, dari dalam amplop itu keluar sebuah benda yang tampak seperti kartu ucapan Natal dengan motif garis-garis merah dan hijau.


Aku membuka kartu ucapan Natal yang terlipat menjadi dua tersebut, lalu mulai membaca isinya.


────


Untuk Onii.

Merry Christmas! Sarung tangan yang kamu hadiahkan kemarin bagus banget! Makasih ya! Lagipula tadi malam, Onee-chan juga kelihatan senang banget sewaktu menerima sarung tangan dari Onii!


Jangan-jangan, Onee-chan langsung jatuh cinta kepada Onii gara-gara hadiah kemarin, ya?


Bercanda, deh. Bagaimana kalau nanti saat bangun pagi, kamu coba mengelus kepalanya?


Dari Kairi.


────


Kalimat itulah yang tercetak di atas kartu tersebut.


Hah? Yuuri jatuh cinta kepadaku...?


Konyol sekali, sesama saudara kandung mana mungkin begitu. Ternyata tidak peduli seberapa tinggi nilai ujian yang bisa diraihnya, Kairi tetaplah Kairi yang dulu.


Namun, tumben sekali Kairi yang seperti itu mau repot-repot mengirimkan sebuah kartu ucapan. Biasanya jika ada keperluan dia pasti akan langsung mengirim pesan lewat LIME. Lagipula, mana mungkin seorang gyaru yang selalu mengikuti tren paling modern seperti Kairi mendadak menyukai teknologi kuno yang romantis seperti kartu ucapan?


Selain itu, kalau dia memang sengaja ingin menyampaikan rasa terima kasihnya lewat kartu ucapan, akan lebih baik jika dia menulisnya dengan tangan sendiri agar terasa bermakna... Tapi begitu kupikirkan lagi, tulisan tangan Kairi itu sangat berantakan dan jelek sekali, jadi dicetak seperti ini justru pilihan yang jauh lebih baik. Aku sampai tidak bisa menghitung seberapa sering aku harus bersusah payah membacanya setiap kali mengoreksi lembar jawaban ujiannya.


"Ya sudahlah, biarkan saja. Lebih baik aku cuci muka dulu."


Saat aku keluar dari kamar sembari merapikan rambutku yang acak-acakan karena baru bangun tidur, tanpa diduga aku berpapasan dengan Yuuri yang kebetulan baru saja keluar dari kamar mandi di saat yang bersamaan.


"Selamat pagi, Onii-chan."


Yuuri tampak mengenakan sebuah hoodie putih berbulu tebal yang membuatnya terlihat menggemaskan layaknya seekor domba. Karena Yuuri juga baru saja bangun tidur, rambut hitam panjangnya yang biasa terlihat berkilau kini tampak sedikit mencuat di beberapa bagian.


"S-Selamat pagi, Yuuri."


Seketika aku teringat kembali akan deretan kalimat yang tertulis di kartu ucapan Natal tadi.


Yuuri jatuh cinta kepadaku... Ah, tidak mungkin, tidak mungkin. Mana ada perkembangan cerita super ekstrem di mana adik kandung jatuh cinta kepada kakak laki-lakinya sendiri. Ini kan bukan sebuah light novel, hal seperti itu jelas tidak mungkin terjadi di dunia nyata.


"Eh? Kenapa kamu malah melamun begitu, Onii-chan?"


"Ah—tidak, itu..."


Mari kesampingkan dulu perkara tentang Yuuri yang jatuh cinta kepadaku atau hal semacamnya. Tapi, seperti yang tertulis di kartu ucapan tadi, kalau cuma sekadar mengelus kepala Yuuri, aku sudah sering melakukannya sejak kami masih kecil, jadi kurasa tidak ada salahnya, kan?


Meski merasa agak canggung, aku mengulurkan tanganku dengan lembut untuk mengelus rambut Yuuri, berpura-pura seolah sedang merapikan rambutnya yang mencuat.


"Eh, Onii-chan?"


Yuuri tersentak kaget seolah menanggapi tindakanku dengan reaksi tubuh yang sedikit melompat.


Lho... Apakah dia ternyata tidak suka dibilang begitu?


Aku langsung menarik kembali tanganku dengan cepat dan berusaha mencari alasan untuk mengalihkan keadaan.


"A-Ah, etto, ini... rambutmu mencuat! Benar, karena rambutmu berantakan makanya aku melakukannya!"


"Onii-chan...... fufu."


Sembari menahan tawa kecilnya, Yuuri mendongak dan menatap ke arahku dengan pandangan mata yang sedikit melirik ke atas. Tatapan matanya itu terasa seperti sedang menggoda, sekaligus memikat...


"Astaga Onii-chan, apakah kamu memang sebegitu inginnya menyentuh tubuhku?"


"T-Tidak! Bukan begitu!"


"Lagipula tidak apa-apa, kok. Aku kan adik perempuan Onii-chan."


Sembari berkata demikian, Yuuri mulai menggosok-gosokkan kepalanya ke telapak tanganku.


Yuuri yang biasanya selalu menjaga citranya sebagai murid teladan, belakangan ini jarak tubuhnya terasa menjadi terlampau dekat denganku...


Mengenai perkataan Kairi yang bilang kalau Yuuri jatuh cinta kepadaku, jangan-jangan... dia memang benar-benar sudah berubah menjadi seorang brocon?


Kalau memang situasinya seperti itu...


"Onii-chan? Wajahmu merah sekali, apakah kamu sedang masuk angin?"


"......M-Maaf, aku ke toilet dulu sebentar!"


Aku langsung bergegas kabur dan melompat masuk ke dalam toilet.


Sialan. Gara-gara kartu ucapan dari Kairi, hal-hal aneh jadi terus melintas di dalam kepalaku. Padahal Yuuri itu... adalah adik perempuanku sendiri...


☆☆


Astaga, apa-apaan aku ini, kenapa aku harus berdebar-debar hanya karena menghadapi adik sendiri.


"Ini semua gara-gara kartu ucapan dari Kairi yang merusak segalanya..."


Tapi aku yang sampai bisa terpengaruh oleh hal semacam itu juga salah, aku harus mendinginkan kepala dulu.


Begitu aku keluar dari toilet, kali ini giliran Kairi yang melangkah keluar dari dalam kamarnya. Hanya dengan mengingat kartu ucapan yang kubaca pagi ini saja sudah sukses membuatku penasaran mengenai apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Kairi saat ini.


"Selamat pagi, Onii! Makasih ya buat yang kemarin!"


"K-Kairi... iya, sama-sama."


Dia tampaknya bersikap biasa saja seolah tidak terlalu memikirkannya.


"Hmm? Onii, wajahmu kelihatan agak merah... jangan-jangan kamu sedang flu?"


"Bukan!"


Gawat, kenapa aku malah menjadi ikut canggung dan gugup saat berhadapan dengan Kairi...


Bagi Kairi sendiri, apakah tidak ada hal lain yang ingin dia bicarakan mengenai kartu ucapan tadi pagi? Ataukah dia sengaja memilih untuk tidak membahasnya karena merasa malu...?


Jika memang begitu, dia jadi terlihat sedikit imut—T-Tidak, tidak, tenanglah diriku!


Isi kepalaku sudah pasti mulai tidak beres. Rasa imut yang kurasakan ini murni hanya sebagai bentuk kasih sayang terhadap adik perempuan, sama sekali bukan mengarah ke hal yang "seperti itu".


Tenang...... Tenanglah diriku......


"Tapi, syukurlah kalau kamu sehat-sehat saja! Kemarin kan dingin sekali, jadi aku sempat khawatir."


Sembari tersenyum simpul, Kairi berjalan melewati sampingku menuju ke arah wastafel. Sama halnya dengan Yuuri, rambut pirang Kairi juga sering kali terlihat mencuat acak-acakan di pagi hari karena baru bangun tidur. Namun, jika aku mengelusnya seperti yang kulakukan pada Yuuri tadi...... itu jelas tidak boleh.


"Ah, benar juga!"


Seolah baru mengingat sesuatu, Kairi mendadak berbalik ke arahku sambil merapatkan kedua telapak tangannya.


"Ada sesuatu yang ingin kuminta dari Onii, nih."


"Permintaan? Kalau hadiah, aku sudah tidak punya lagi, lho."


"Bukan itu, tahu! Jangan menganggapku sebagai adik perempuan yang serakah, dong!"


Kairi menggembungkan pipinya sambil merengut manja.


"Yang ingin kuminta itu soal kelanjutan 【Bimbel Onii】."


"Jangan-jangan kamu mendadak ingin membatalkan sesi belajar bersama karena ingin mengembalikan pilihan SMA-mu seperti semula?"


"Bukan! Mana mungkin aku bilang ingin berhenti belajar bersama dengan Onii! ......Ah."


Kairi langsung membekap mulutnya sendiri seolah tersadar telah memuntahkan kata-kata yang "gawat".


Dia...... tidak ingin berhenti belajar bersamaku......?


Aku sama sekali tidak menyangka kalau Kairi ternyata sangat menyukai sesi belajar bersama itu sampai sebegininya.


"S-Sengaja yang tadi itu dibatalkan!"


"Dibatalkan apanya...... Tapi sebagai pihak yang mengajar, aku malah merasa senang kalau kamu bilang begitu......"


"Eh, jangan-jangan Onii sekarang sedang tersipu malu, ya?"


"Siapa yang tersipu! ......Tapi, aku cuma merasa senang karena ternyata Kairi tidak merasa terpaksa selama belajar denganku."


"Hee~h."


Apa-apaan atmosfer ini......


Ditambah dengan insiden bersama Yuuri tadi, diriku yang sekarang benar-benar sedang tidak beres. Tenanglah, aku ini adalah kakak mereka, jadi jangan sampai memiliki perasaan yang aneh......


"Jadi, soal permintaan yang kubilang tadi."


Kairi tampaknya sudah bosan menggodaku, lalu kembali mengalihkan pembicaraan ke topik utama.


"Sebenarnya, temanku juga ada yang ingin ikut belajar di 【Bimbel Onii】."


"Temanmu? ......Kalau begitu, apakah dia seorang anak perempuan?"


Jika dia perempuan, aku jelas tidak akan bisa mengajarinya. Melihatku yang mulai menunjukkan gelagat waspada dan keberatan, Kairi langsung mengibas-ngibaskan kedua tangannya dengan panik.


"B-Bukan, bukan! Dia laki-laki! Laki-laki!"


"Laki-laki......?"


Seorang laki-laki......? Artinya, apakah laki-laki ini yang menjadi alasan mengapa Kairi mendadak bersikeras ingin masuk ke SMA Shuugakuin? Karena dia sampai mau mengajaknya ke rumah kami, laki-laki ini pasti adalah orang yang dia sukai, kan?


"Apakah tidak boleh? Tolonglah, Onii."


Astaga, dasar Kairi...... Ternyata di balik semua ini, hubungannya dengan laki-laki idamannya berjalan dengan sangat lancar, ya. 


Sebagai kakaknya, aku harus menerima permintaannya ini dengan lapang dada. Lagipula, ada kemungkinan laki-laki ini akan menjadi adik iparku di masa depan nanti.


"Tentu saja boleh! Kalau orang seperti aku ini memang tidak keberatan baginya, serahkan saja padaku."


"Benarkah?! Terima kasih banyak, Onii!"


Saking merasa gembira dan terlampau bersemangat, Kairi secara spontan langsung menghambur dan memeluk tubuhku. Aroma manis dari samponya seketika tercium dari rambut pirangnya yang indah. Bersamaan dengan itu, dada Kairi yang terasa begitu empuk layaknya kue moci di malam tahun baru langsung bersandar sepenuhnya ke tubuh bagian atasku.


Gumpalan ini...... besar sekali. Jangan memikirkan hal yang mesum, diriku...... adik tetaplah seorang adik.


"Kalau begitu, aku akan menyuruhnya untuk datang mulai besok pagi, ya!"


"A-Ah, iya. Baiklah."


Bagaimanapun juga, akhirnya aku akan berhadapan langsung dengan laki-laki yang disukai oleh adik perempuanku, ya......


Entah apa yang akan terjadi nanti. Aku menjadi sangat penasaran untuk melihat pemuda seperti apa yang telah berhasil memikat hati Kairi. Di tengah rasa antusias dan cemas yang bercampur aduk, hari esok yang dinantikan pun akhirnya tiba──


"Weeei! Aku sahabatnya Kairi, nama lengkapku Kanag...... bukan, maksudku, panggil saja aku Kanta!"


Sosok yang menyapaku dengan nada suara yang terbilang cukup melengking tinggi itu adalah seorang remaja laki-laki bernama "Kanta". Rambutnya berwarna pirang yang hampir senada dengan Kairi, dengan potongan rambut pendek yang agak tanggung untuk ukuran pria dan poninya disisir ke arah atas. Dari sudut pandang mana pun, dia benar-benar terlihat seperti seorang gyaru-o.


Apakah laki-laki ini...... adalah orang yang disukai oleh Kairi?


Dia tampak mengenakan sebuah hoodie longgar berwarna hitam yang dipadukan dengan celana jins. Tinggi badannya berkisar sekitar 170 cm, tidak jauh berbeda denganku, tetapi proporsi tubuhnya sangat ramping dan memiliki postur yang bagus.


"Heh~! Jadi Anda yang namanya kakaknya Kairi? Tapi kalau dilihat-lihat ternyata Anda kelihatan cukup biasa saja, ya? Ah, tapi laki-laki tipe seperti inilah yang tampaknya bakal disukai oleh Kairi."


"Heii, Kanta!"


Kairi dan Kanta-kun tampak saling bercanda mesra sembari tarik-menarik baju satu sama lain.


J-Jadi bocah ini yang nantinya akan menjadi adik iparku......


Meskipun seorang gyaru-o dan gadis gyaru mungkin memiliki kecocokan yang sangat sempurna, tetapi apakah benar-benar tidak apa-apa jika aku menyerahkan Kairi kepada laki-laki seperti ini?


☆☆


Aku sudah memberi tahu Kanna sebelumnya bahwa karena Onii sangat tidak bisa menghadapi anak perempuan, dia baru boleh datang ke 【Bimbel Onii】 dengan syarat dia harus menyamar menjadi seorang laki-laki.


Melihat dari reaksi Onii, sepertinya penyamaran sebagai laki-laki sama sekali tidak ketahuan, dan itu berarti penyamaran Kanna berhasil, kan? Kalau begini, Kanna juga pasti bisa ikut diajari belajar oleh Onii.


Sahabatku, Kanagawa Kanna, adalah mantan pemain bintang dari klub bola voli. Dia adalah seorang gadis gyaru berambut pirang pendek yang selalu pergi ke mana-mana bersamaku. Dadanya rata seperti layaknya seorang laki-laki, kepribadiannya tomboi, dan dia selalu menggunakan kekuatan otot yang dibanggakannya untuk menghajar sampai babak belur setiap laki-laki yang mencoba mendekatiku. Tinggi badannya juga mencapai 170 cm, jadi tidak ada kesan janggal sama sekali meskipun dia menyamar menjadi laki-laki. Terlebih lagi, dia mengenakan pakaian oversized, jadi berbagai hal seharusnya bisa tersamarkan dengan baik.


Hanya ada satu hal yang menjadi kekhawatiranku...... Kanna itu punya jenis suara imut yang sangat manis......


"Kanta-kun, apa hubunganmu dengan Kairi?"


"Sahabat karib!"


"Sa-Sahabat karib...... heeh."


Yah, untuk ukuran anak SMP, laki-laki yang suaranya belum mengalami masa pubertas secara batas minimal masih ada, dan Onii juga tidak menunjukkan gelagat curiga, jadi kurasa semuanya akan baik-baik saja.


"Kanta, cepat masuk. Kita mulai belajarnya."


"Iya! ......Bukan, maksudku, siap!"


Meskipun awalnya terasa sangat mencemaskan, tetapi selama tidak dicurigai oleh Onii maka semuanya aman. Jangan dipikirkan, jangan dipikirkan.


"Apakah ini pertama kalinya Kanta-kun datang ke rumah ini? Atau sebenarnya kamu sudah sering datang ke sini tanpa sepengetahuanku?"


"Ah~ ini pertama kalinya aku datang ke rumah Kairi, sih. Tapi kalau Kairi, dia sudah sering banget main ke rumahku~"


"He-Heeh, Kairi sering ke sana, ya......"


Karena Kanna terus menceritakan hal-hal yang tidak perlu secara blak-blakan, Onii mulai menunjukkan ekspresi wajah yang masam saat melihat ke arah kami.


Ada apa ini...... ja-jangan-jangan identitas Kanna sebagai perempuan sudah ketahuan?!


Aku bisa merasakan keringat dingin mulai mengalir melewati pipiku.


"A-Anu, aku mau bertanya langsung saja, ya."


G-Gawat......!


"Apakah kalian berdua sedang berpacaran?"


“"Hah?"”


Karena ditanya hal yang benar-benar di luar dugaan, aku dan Kanna langsung membelalakkan mata bersamaan.


"Habisnya, kalau antara anak laki-laki dan perempuan sudah biasa main bersama di dalam rumah, aku refleks berpikir hubungannya mengarah ke sana."


"Mengarah ke sana? T-Tidak, tidak, mana mungkin begitu, Bang! Lagipula aku dan Kairi kan sama-sama masih perawan."


"Pe-Perawan?! A-Apa yang kamu katakan, Kanta-kun?!"


Pe-Perawan? Ponsel, mana ponsel.


Aku segera mencari arti kata tersebut di Google............ dan ternyata!


"Kanta bodooooh!!"


"Guh-fwaah?!"


Aku langsung melayangkan sebuah pukulan mentah menggunakan kepalan tanganku tepat ke arah pipi Kanna di lorong rumah.


☆☆


"Aduh, maaf ya Onii-san, yang tadi itu cuma salah pilih kata maksudnya! Aku mau bilang kalau kami berdua sama-sama belum pernah melakukan s*ks, tapi malah salah sebut jadi perawan! Kalau laki-laki dibilang perawan, rasanya agak imut juga, kan? Tapi kalau perawan anal sih aku punya, ahaha."


Meskipun Kanna terus melontarkan berbagai alasan dengan susah payah, Onii masih memasang ekspresi wajah yang masam. Aku mulai berpikir kalau identitas aslinya sebenarnya sudah agak ketahuan.


Lagipula di luar itu, mengumumkan secara terang-terangan di depan Onii kalau aku belum pernah melakukan hal mesum itu benar-benar tidak punya rasa tenggang rasa sama sekali!


Dasar perempuan bodoh berambut pirang pendek! Pokoknya kali ini kamu harus mentraktirku makan!


Saat aku melayangkan protes lewat tatapan mataku, Kanna bergumam lirih, "Seram banget."


"Ya sudah, terlepas dari apa pun itu, hari ini Kanta-kun datang ke sini untuk belajar, kan? Mari kita segera memulainya."


Begitu Onii mengembalikan pembicaraan dengan tegas ke topik utama, aku dan Kanna langsung menggelar peralatan belajar kami di atas meja ruang tamu. Kami sebagai murid duduk berdampingan, sementara Onii duduk di kursi yang berada di posisi berlawanan dengan kami.


Akhirnya sesi belajar bersama pun dimulai...... Serius, gara-gara kejadian tadi aku sampai mengeluarkan banyak keringat dingin.


"Kalau begitu, mohon bimbingannya!"


Dari sana, Kanna dan aku mulai belajar dengan dipandu oleh Onii yang bertindak sebagai guru kami.


Sembari memamerkan keramahan yang menjadi kebanggaannya, tanpa disadari Kanna kini sudah bisa mengobrol secara natural bersama Onii.


Sekarang, asalkan Kanna tidak melakukan kecerobohan lagi seperti yang tadi, semuanya pasti aman...... Yah, Kanna kan tipe anak yang bisa melakukan sesuatu jika dia mau berusaha, jadi dia pasti bisa mengaturnya dengan baik.


"Hmm? Kanta-kun, dari balik bahumu ada tali berwarna merah muda yang menyembul keluar, tuh."


"Ah, ini tali bra!"


"T-Tali bra?"


Hei, heii, heiii!! Baru saja dibilang, kenapa kamu malah langsung memicu masalah lagi, sih!!


"K-Kanta! Bukannya itu salah sebut, ya!"


"A-Ah, iya, benar juga."


Begitu aku membentaknya, Kanna langsung menggaruk kepalanya sembari berkata dengan santai, "Cuma bercanda kok~".


"Ini sports bra! Soalnya puting dadaku ini lumayan besar, jadi sering lecet kalau bergesekan!"


Hei, heiii, heiii!!!! 


"He-Heeh...... sports bra, ya. Apakah anak laki-laki zaman sekarang juga memakai barang seperti itu? Aku tidak tahu karena aku memang agak buta soal fesyen."


Onii mengatakannya sembari menyentuh area di sekitar puting dadanya sendiri.


Heeh, jadi puting dada Onii ada di sebelah sana, ya? Ternyata posisinya agak sedikit berada di bagian samping────Bukan, bukan itu fokusnya!


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat untuk mengembalikan fokus pikiranku ke kondisi normal.


Gawat, kalau situasinya terus dibiarkan berjalan seperti ini, lambat laun identitas Kanna sebagai seorang perempuan pasti akan benar-benar terbongkar oleh Onii!


Kalau sampai ketahuan bisa gawat...... eh, tapi tunggu dulu?


Memang sih aku tahu kalau Onii itu tidak bisa menghadapi anak perempuan, tetapi seandainya dia sampai tahu kalau Kanna itu perempuan, kira-kira apa yang akan terjadi, ya? Apakah dia akan langsung pingsan? Atau dia malah akan mengamuk besar karena merasa telah dibohongi......?


Aku tahu ini adalah pemikiran yang picik, tetapi di dalam lubuk hatiku, ada sedikit rasa penasaran ingin melihat Onii saat sedang mengamuk besar.


"T-Tidak boleh, kok!"


"Uwah! Ada apa, Kairi? Apakah ada soal yang tidak kamu pahami?"


"Eh? ......Ah, etto, maksudku jangan cuma melihat ke arah Kanta saja, aku juga ingin diperhatikan dengan benar oleh Onii."


Sembari mengalihkan keadaan dengan baik, aku menyelipkan hasrat pribadiku secara alami lewat ucapan. Apakah karena aku sudah menjadi sedikit lebih cerdas, lambat laun kemampuanku dalam bersilat lidah—baik dalam arti positif maupun negatif—jadi semakin mirip dengan Onee-chan, ya? Ikatan darah memang tidak bisa berbohong.


"Aduh, Kairi ternyata cemburuan banget, ya~"


"Kanta, berisik!"


Sembari berkata demikian, aku menatap tajam ke arah Kanna demi menyampaikan pesan, "Cari mati ya, benar-benar hati-hati dong!" lewat pandangan mataku. Namun, Kanna malah membalasnya dengan sebuah kedipan mata yang sok keren.


Bocah ini sama sekali tidak paham situasinya, ih!


Meski merasa cemas terhadap Kanna yang identitasnya sebagai perempuan bisa terbongkar kapan saja, aku tetap melanjutkan sesi belajarku. P-Pokoknya, karena saat ini situasinya masih bisa dikendalikan, aku harus fokus belajar.


"Heh...... Begitu ya, sekarang aku paham! Makasih banyak ya! Sesuai dugaan murid SMA Shuugakuin, hebat banget!"


"Tidak juga, kok. Nilai-nilaiku di SMA sebenarnya berada di peringkat bawah."


"Eeeh?! Padahal Anda se-pintar ini?!"


"M-Masa, sih?"


Dasar Onii, jangan mau dibuat senang hanya karena pujian yang sewajarnya seperti itu, dong.


Mengingat tabiat Kanna yang biasanya lebih suka mengobrol santai daripada belajar, aku sempat khawatir kalau dia hanya akan menjahili Onii sehingga sesi belajar bersama ini tidak akan berjalan efektif...... Namun secara tak terduga, Kanna ternyata mengikutinya dengan sangat serius. Dia membuktikannya lewat sikapnya yang bersungguh-sungguh, sebanding dengan usahanya yang sampai memohon-mohon langsung lewat telepon tempo hari. Dia akan langsung bertanya kepada Onii begitu menemukan bagian yang tidak dipahaminya.


Onii sendiri, karena dia tidak menyadari kalau Kanna adalah seorang perempuan, memperlakukannya secara natural layaknya saat dia sedang mengobrol bersama kami.


Artinya, strategi penyamaran sebagai laki-laki yang kupikirkan ini sukses besar, kan? Apakah aku ini memang seorang genius?


"Kairi, bagian yang ini salah, lho."


"Eh?"


Onii yang sudah selesai mengajari Kanna berkata demikian sembari menunjuk ke arah buku cetak matematikaku.


"......A-Aku sudah tahu, kok!"


Karena kesalahanku mendadak ditunjukkan olehnya, aku merasa sedikit kesal lalu menghapus jawabanku menggunakan penghapus sebelum akhirnya mencoba mengerjakannya kembali.


Aduh, padahal aku sudah tahu kalau aku tidak boleh telanjur senang dulu.


Melalui sesi belajar bersama Onii, ada banyak hal yang akhirnya mulai kusadari. 


Pertama adalah kenyataan pahit bahwa aku telah menyia-nyiakan waktu selama 3 tahun ini hanya untuk bermain-main sebagai seorang gyaru. Sebagai contoh, meskipun Kanna juga merupakan sesama gyaru, dia memiliki pencapaian nyata sebagai pemain bintang di klub bola voli yang berhasil melaju hingga ke turnamen tingkat prefektur.


Namun, aku tidak memiliki hal semacam itu. Bagi diriku yang selama ini hanya tergila-gila pada masalah riasan kuku dan kosmetik, tidak ada satu pun hal yang sudah kuperjuangkan yang bisa kubanggakan kepada orang-orang di sekitarku. Mengingat hanya ada sedikit poin kelebihan yang bisa kupamerkan saat sesi wawancara nanti, maka satu-satunya peluang tersisa agar aku bisa lulus ke SMA Shuugakuin adalah nilai akademikku.


Oleh karena itu, saat ini aku tidak punya pilihan selain menyelesaikan soal yang ada di hadapanku sebanyak mungkin demi meningkatkan kemampuan akademikku. Semua ini murni kulakukan demi bisa masuk ke SMA yang sama dengan Onii dan melewatkan masa-masa SMA bersamanya.


"Hari ini kamu kelihatan bersemangat sekali ya, Kairi. Mungkin karena ada Kanta-kun di sini."


"Tidak juga, lho? Belakangan ini Kairi di sekolah juga selalu fokus banget seperti ini, dia selalu bilang ingin masuk ke SMA yang sama dengan Onii—nngh!"


Aku langsung menginjak kaki Kanna dengan kuat di bawah meja.


"Aduh, duhh...... Kairi, kamu benar-benar tidak kenal ampun, ya."


"Habisnya yang tadi itu salah Kan...... Kanta sendiri, kok!"


"Tapi bukan berarti kamu harus menginjak kaki milik pemain bintang klub bola voli juga, kan."


"Kan sekarang sudah pensiun, jadi tidak apa-apa dong."


"Hah?"


"Sudah, sudah, kalian berdua. Kalau mau bermesraan, lakukan saja saat sedang berduaan, ya?"


Onii ternyata masih saja salah paham.


Mungkin di mata Onii, aku dan Kanna terlihat seperti sepasang kekasih yang aslinya berpacaran di belakang layar, tetapi berpura-pura sebagai teman biasa karena sedang berada di hadapan Onii......


Kalau begitu, aku harus meluruskan kesalahpahaman ini!


"Onii, biar kuberi tahu ya, aku dan Kanta itu—"


"Aku pulang, Onii-chan~"


Tepat pada sepersekian detik saat aku hendak bangkit berdiri untuk menyangkalnya, pintu ruang tamu mendadak terbuka. Onee-chan yang seharusnya berada di tempat bimbingan belajar sepanjang hari untuk mengikuti kelas musim dingin, kini telah pulang ke rumah.


"......Geh. Mantan Ketua OSIS, Yuuri......"


Wajah Kanna seketika menjadi pucat pasi saat melihat ke arah Onee-chan.


Gawaaat...... situasi seperti ini sama sekali tidak masuk ke dalam perkiraanku.


Aku sengaja mencari tahu jadwal kegiatan Onee-chan sebelumnya agar bisa melakukan sesi belajar ini secara diam-diam saat dia sedang tidak ada di rumah. Habisnya, jika aku bilang ingin mempertemukan Onii dengan teman perempuanku, Onee-chan sudah pasti akan menentangnya. Dia juga pasti akan menceramahiku kalau mengelabuhinya menggunakan penyamaran laki-laki adalah hal yang sangat terlarang...... makanya aku sama sekali tidak bisa mengatakannya.


"Are-ree, kita kedatangan tamu, ya?"


“"............"”


"Fufu...... Tamunya imut sekali, ya."


Onee-chan mengarahkan pandangan matanya yang terasa dingin dan menusuk—tatapan yang biasa ia tunjukkan saat berada dalam mode rahasianya—ke arahku dan Kanna.


Aku dan Kanna yang ditatap tajam oleh Onee-chan langsung bungkam dan benar-benar membeku.


"......"


Tatapan mata Onee-chan terasa menyakitkan. Meskipun ia tidak melakukan apa pun, tatapannya berada di level yang sanggup membuat tubuhku terasa sakit secara fisik.


"Hei, Onii-chan. Anak itu......"


"Hmm? Ada apa?"


Tepat pada momen ketika aku berpikir identitas asli Kanna pasti akan dibongkar oleh Onee-chan, secara mengejutkan Onee-chan melangkah mendekati Kanna dengan senyuman yang terlihat begitu natural hingga terasa mengerikan.


"Tidak ada apa-apa, kok. Hanya saja, tadi aku melihat ada sepatu yang asing di pintu masuk, jadi aku sudah tahu kalau kita kedatangan tamu. Tapi aku tidak menyangka kalau tamu itu ternyata adalah Kanagawa-san."


"Yuuri juga kenal dengan Kanta-kun? Oh, karena Yuuri mantan Ketua OSIS, jadi relasimu luas, ya."


"Benar sekali~"


Onee-chan...... tidak membongkar identitas Kanna......?


Ini benar-benar di luar dugaan. Jika ia mengumumkan identitas Kanna di sini, ia pasti bisa langsung menjatuhkan kepercayaanku di mata Onii. Namun, Onee-chan yang menyadari kalau Kanna sedang menyamar menjadi laki-laki, justru sengaja memilih untuk mengikuti permainan ini.


Mengingat tabiat Onee-chan, dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang licik. Tapi...... khusus untuk kali ini, aku benar-benar terselamatkan.


"Hmm, jadi Kanagawa-san kalau hari libur biasa memakai baju kasual yang seperti itu, ya?"


"......Ju-Justru Ketua OSIS sendiri yang kalau di rumah ternyata kelihatan cukup ceria, ya?"


Begitu Kanna melontarkan ucapan yang tidak perlu, mata Onee-chan langsung menyipit tajam.


"Mantan Ketua OSIS, lho? Kanta-kun~"


"B-Baik......"


Kanna, kamu benar-benar cari mati, deh. Sudah kubilang jangan mencoba beradu argumen lagi dengan Onee-chan.


"Lho? Apakah Yuuri kalau di SMP termasuk anak yang pendiam?"


Dari arah samping, Onii mendadak menginjak ranjau darat melalui pertanyaannya.


Pertanyaan itu adalah jenis topik yang bisa membuat Onee-chan mengamuk besar, jadi tolong abaikan saja, Onii!!


"A-Aku......"


Onee-chan berusaha menjawab pertanyaan Onii sembari menahan diri sekuat tenaga, tepat selangkah sebelum ia berubah menjadi sosok iblis yang mengamuk.


Kenyataannya, Onee-chan saat di SMP memang bukan termasuk murid yang ceria, dan dia pun hampir tidak punya teman. Meskipun dia memiliki reputasi yang cukup baik di mata orang-orang sekitarnya, atmosfer dirinya entah mengapa membuat orang lain sulit untuk mendekat. Alasan mengapa dia bisa terpilih menjadi Ketua OSIS saat kelas 2 dulu pun sebagian besar karena penampilannya yang populer di kalangan anak laki-laki. Jadi kalau ditanya apakah dia punya banyak teman di sekitarnya, jawabannya agak meragukan......


Kurasa dia tidak memiliki teman dengan jenis hubungan kedekatan seperti aku dan Kanna. Karena dia adalah tipe Ketua OSIS yang gila belajar, jika dibilang pendiam, ya mungkin dia memang pendiam.


"A-Aku! Karena aku seorang Ketua OSIS, aku hanya selalu bersikap tegas saja. Aku sering dibanding-bandingkan karena Kairi orangnya berjiwa bebas dan mencolok, tapi aslinya aku ini sangat normal, kok?"


"O-Oh, begitu ya?"


Onee-chan sama sekali tidak gugup meski baru saja diprovokasi oleh Kanna, dan dia langsung melontarkan argumen balasannya dengan sangat lancar.


Memang benar-benar sulit untuk bisa menang melawan Onee-chan jika dalam adu mulut. Hal ini membuatku semakin sadar bahwa tidak ada jalan lain untuk menang melawannya selain dengan menunjukkan hasil yang nyata lewat nilai akademikku.


"Ah, benar juga. Bagaimana kalau Yuuri ikut bergabung bersama kami?"


"Ikut bergabung?"


"Belajar bersama. Kamu boleh ikut sebagai murid, atau kalau kamu mau, kamu juga bisa membantu mengajari Kanta-kun dan Kairi sebagai guru."


"Menjadi guru untuk mereka berdua, ya......"


Aku dan Kanna mengamati ekspresi wajah Onee-chan dengan perasaan waswas dan ketakutan.


"Fufu...... sepertinya aku tidak usah, deh. Onii-chan kan sudah mengajari mereka dengan asyik, jadi kalau "anak pendiam" sepertiku ikut masuk, aku takut malah akan mengganggu Kanta-kun dan Kairi."


Sebagai balasan atas provokasi yang diterimanya tadi, Onee-chan sengaja menggunakan intonasi bicara yang sedikit berduri untuk menyindir Kanna kembali.


Dia benar-benar masih menyimpan dendam soal ucapan yang tadi, ih.


"A-Ah, begitu ya...... Tapi kalau kamu mendadak ingin bergabung, datang saja kapan pun kamu mau, ya."


Onii mengatakannya dengan ekspresi wajah yang tampak sedikit kesepian.


Apa-apaan reaksi itu...... kenapa kamu harus kelihatan sekecewa itu? Bukankah aneh rasanya kalau kamu sampai terlihat lesu hanya karena ditolak oleh Onee-chan?


"Kalau begitu, aku kembali ke kamar dulu, ya."


Sebelum melangkah pergi, Onee-chan sempat melotot tajam ke arahku sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruang tamu.


Benar-benar deh, Onee-chan selalu saja mengganggu jalanku. Memangnya kenapa kalau aku mengajak Kanna ke sini! Lagipula saat ini kami sudah berhasil mengelabui Onii dengan sangat baik, kan.


"Nah, kalian berdua, mari kita lanjutkan belajarnya."


“"Iyaa~"”


Kami pun kembali melanjutkan sesi belajar kami. Namun, beberapa menit kemudian.


"............Hmm?"


Sebuah notifikasi LIME masuk ke ponselku yang berada di dalam saku celana pendek rumahan yang sedang kukenakan.


Entah mengapa...... aku merasakan firasat yang buruk.


『Yuuri: Datang ke kamarku.』


Sudah kuduga, pesan itu memang dari Onee-chan.


......Uwah. Seram banget. Dia pasti benar-benar sedang mengamuk, nih......


"O-Onii, aku permisi sebentar, ya?"


"Ada apa, Kairi?"


"Perutku agak sakit, jadi aku mau ke kamar mandi dulu. Tolong titip Kanta, ya."


"A-Ah, iya."


Setelah dipanggil oleh Onee-chan, aku pun segera melangkah keluar meninggalkan ruang tamu.


☆☆


Karena Kairi berpamitan pergi, aku pun berakhir berduaan saja dengan Kanta-kun.


Di saat aku merasa agak canggung, Kanta-kun sendiri justru memasang ekspresi wajah yang biasa saja tanpa beban. Lalu tiba-tiba, Kanta-kun menghentikan tangannya yang sedang menulis untuk mengajakku berbicara.


"Onii-san, ada sesuatu yang ingin kutanyakan, nih."


Kanta-kun mengatakannya sembari merapikan poni rambut pendeknya.


Ada apa ya, mendadak bersikap formal begitu. Apakah hal yang ingin dia tanyakan itu adalah sesuatu di luar masalah pelajaran?


"O-Onii-san! Sebenarnya, bagaimana perasaanmu terhadap Kairi?"


"Perasaanku terhadap Kairi?"


"Tolong beri tahu aku!"


Meskipun Kanta-kun memiliki penampilan luar layaknya bocah nakal, dia melontarkan pertanyaan itu kepadaku dengan tatapan mata yang sangat serius, sesuatu yang tidak akan pernah kusangka jika melihat dari gaya penampilannya.


Ditanya bagaimana perasaanku terhadap Kairi...... jawabannya kan sudah pasti hanya ada satu.


"Dia...... adik perempuanku, kan?"


"Biarpun dia adikmu! Dia itu kan imut banget, jadi pasti ada sesuatu yang dirasakan terhadapnya, kan?!"


"D-Dekat banget."


Kanta-kun mendekatkan tubuhnya dan bertumpu pada meja sembari mengerutkan dahi ke arahku.


Melihat wajah tampannya yang kini berada sangat dekat tepat di depan mata dan hidungku, aku bahkan sampai merasakan semacam rasa minder. Sesaat wajahnya memang terlihat memiliki fitur yang imut, tetapi aslinya dia memang memiliki paras yang tampan.


"E-Etto, aku sama sekali tidak paham kenapa kamu sampai bisa se-menggebu-gebu ini, Kanta-kun."


"Alasannya tidak penting! Kalaupun ada, itu karena aku adalah sahabat karibnya Kairi!"


Tidak, tapi kenapa harus sampai begitu?


Meskipun kamu bertanya "bagaimana perasaanmu terhadap Kairi" kepada aku yang merupakan kakak kandungnya, kurasa jawaban yang akan kembali kepadamu ya tetap saja "sebagai adik", kan?


"Kairi itu! Dia selalu bilang kalau dia sangat mencintai Onii-san!"


"Hah?! Kairi yang itu?"


"Bahkan saat di SMP pun, hampir setiap hari dia selalu memamerkan dan membanggakan Onii-san! Kemarin, waktu dia berhasil meraih peringkat 1 paralel untuk pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika, dia memamerkan soal sesi belajar bersama Onii-san ini ke seluruh kelas!"


Memamerkan tempat bimbel rumahan yang seperti ini, tolong hentikan karena itu memalukan, Kairi......!


Tidak peduli seberapa hebatnya kamu bisa meraih peringkat 1, kamu jadi terlampau tinggi hati, tahu!


"Bagi Kairi, Onii-san adalah sosok yang istimewa! Makanya, aku ingin Onii-san juga...... memikirkan tentang Kairi secara serius."


"Secara serius bagaimana......"


"Soalnya kalau sesama saling suka, kurasa status kakak adik sudah tidak ada hubungannya lagi!"


Bocah ini, sejak tadi dia terus saja bicara sesuka hatinya, ya......


Padahal kemarin saat hari Natal, aku baru saja diberi peringatan keras oleh Yuuri agar tidak memicu masalah yang aneh...... tapi laki-laki ini malah mengatakan hal yang berbanding terbalik dengannya. Lagipula pada dasarnya, seorang kakak yang tidak memiliki perasaan aneh terhadap adiknya adalah hal yang sangat wajar secara biologis.


"Kairi itu, kurasa dia menyukai Onii-san, bahkan meskipun adalah kakaknya sendiri!"


"Kupikir itu adalah kesalahpahaman yang terlampau jauh...... Tapi anu, Kanta-kun, karena kamu sangat akrab dengan Kairi, apakah kamu tidak merasa keberatan kalau Kairi sampai direbut oleh orang sepertiku?"


"Bagiku (uchi)! ......bukan, maksudku bagiku (ore)! Selama Kairi bisa bahagia, aku merasa itu sudah lebih dari cukup!"


Hei, hei, kenapa Kanta malah berbicara seperti tokoh utama yang kalah dalam cerita cinta begini?! Apakah kamu benar-benar rela dengan hal itu, Kanta!


Kalau begitu caranya, Kanta-kun jadi kelihatan terlampau kasihan, tahu.


"E-Etto, apakah Kairi benar-benar menyukaiku?"


"Tentu saja! Benar-benar LOVE!"


"LOVE katanya?!"


"Iya!"


T-Tidak, tidak, mana mungkin begitu. Itu pasti hanya kelihatan seperti itu di mata Kanta-kun yang bertindak sebagai pihak ketiga.


Namun, demi menenangkan situasi di tempat ini, aku tidak punya pilihan selain menyetujui ucapan Kanta-kun untuk sementara, jadi aku mengangguk saja seadanya.


"Baiklah, aku mengerti. Pokoknya nanti aku akan mencoba membicarakan masalah ini baik-baik dengan Kairi. Karena sekarang kita sedang dalam sesi belajar bersama, bagaimana kalau Kanta-kun fokus belajar lagi saja?"


"Siap! Makasih ya!"


Makasih katanya...... waduh, rasanya ada yang melenceng dari apa yang kupikirkan, nih......


Meskipun Kairi adalah seorang gyaru, mengingat kemampuan asmaranya yang terbilang rendah, aku sempat berpikir kalau alasan mereka berdua belum sampai ke tahap berpacaran hanya karena masalah waktu saja...... 


Tapi, apakah Kanta-kun ini sebenarnya memang tidak memiliki perasaan suka terhadap Kairi sejak awal? Jika memang begitu, aku jadi merasa sedikit lega.


Aku mendapati diriku merasa tenang setelah mengetahui kenyataan tersebut.


Ah, ini murni hanya karena aku merasa lega karena sosok gyaru-o yang menjadi kandidat calon suami Kairi di masa depan telah tersingkir, kok......


Seharusnya...... begitu.


☆☆


"──Jadi Onee-chan, ada hal apa yang mau dibicarakan?"


Begitu aku melangkah masuk ke dalam kamar, Onee-chan tampak sedang berada dalam kondisi suasana hati yang buruk. Ia terus-menerus mengetukkan jarinya ke atas meja dengan ritme "tok-tok-tok-tok-tok-tok" yang terdengar gelisah.


"Hal yang ingin kubicarakan kepadamu bukankah sudah sangat jelas, kan?"


"......A-Aku tidak tahu, tuh."


"Kalau begitu, biar kuberi tahu. Ini tentang Kanagawa-san."


Sudah kuduga.


Malah kalau dia sampai mengamuk karena alasan di luar hal itu, Onee-chan pasti sedang datang bulan atau mengalami masa menopause yang datang terlalu cepat.


"Tindakan gegabahmu yang sepihak ini...... bisa merusak seluruh rencana yang sudah kususun. Jadi, jangan melakukan hal-hal yang tidak berguna!"


"Rencana...... Onee-chan?"


"Rencanaku adalah rencanaku sendiri!"


"Makanya, rencanamu itu sebenarnya apa? Coba jelaskan secara spesifik."


Meskipun aku dipanggil oleh Onee-chan, karena aku bisa merasakan kalau pembicaraan ini tampaknya akan berjalan panjang, untuk sementara aku memilih duduk di atas tempat tidurku sendiri.


Melihat tindakanku, Onee-chan pun ikut beranjak dari depan meja belajarnya untuk berpindah ke sisi tempat tidurnya yang berada di posisi berlawanan denganku. Ia lalu duduk dan mulai berbicara secara perlahan.


"......Sebenarnya aku masih belum berniat menceritakan hal ini kepada Kairi, tetapi baiklah, aku akan menjelaskannya kepadamu dengan benar."


"Iya, cepat beri tahu aku."


"Aku sedang menggerakkan segala sesuatunya agar semua urusan ini bisa diselesaikan sepenuhnya pada hari Valentine di bulan Februari tahun depan. Rencanaku adalah membuat Onii-chan sepenuhnya berubah menjadi seorang pecandu adik perempuan yang menderita siscon akut pada saat itu. Oleh karena itu, momen untuk merebut hati sekaligus keperjakaan Onii-chan harus dilakukan tepat pada hari Valentine."


Tanpa menunjukkan rasa malu sedikit pun, Onee-chan sejak tadi terus saja melontarkan rentetan kalimat dengan istilah-istilah yang tidak masuk akal. Pecandu adik perempuan yang menderita Siscon katanya? Serius, itu benar-benar tidak bisa dipahami oleh logika.


"Padahal situasinya sudah seperti itu, tindakanmu yang membawa masuk bom berwujud penyamaran laki-laki ke dalam rumah ini...... meskipun kamu mungkin tidak berniat menggangguku, apa yang akan kamu lakukan jika hal ini sampai terbongkar oleh Onii-chan?!"


"Terbongkar? Apanya yang terbongkar dari Kanna?"


"Jika identitas asli Kanagawa-san sebagai seorang perempuan sampai terbongkar, kita tidak akan pernah tahu reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan oleh Onii-chan! Seandainya dia sampai mengalami syok berat karena merasa dikelabui, lalu rasa trauma terhadap perempuannya semakin memburuk hingga membuatnya mengurung diri di dalam kamar, bagaimana kamu akan bertanggung jawab?!"


"Tidak, tidak, mana mungkin hal seperti itu sampai terjadi."


"Bisa saja hal itu terjadi, kan?!"


Onee-chan mendadak bangkit berdiri dari tempat tidurnya, lalu melangkah maju mendekat tepat di depan mataku dengan aura kemarahan yang luar biasa, hingga tangannya langsung mencengkeram kerah bajuku.


Ternyata dia sampai se-khawatir itu memikirkan masalah ketakutan terhadap perempuan yang dialami oleh Onii. Tapi kurasa sangat tidak mungkin kalau Onii sampai ketakutan setengah mati karena Kanna lalu mendadak berubah menjadi seorang hikikomori.


"Apakah kamu sama sekali tidak tahu seberapa besar tingkat kewaspadaan yang dimiliki oleh Onii-chan terhadap kaum perempuan?"


"A-Apa maksudmu?"


"Onii-chan itu, kalau sedang mengantre di kasir supermarket atau di peron stasiun, dia sama sekali tidak akan mau ikut mengantre di barisan tersebut jika melihat ada seorang perempuan di depannya! Bahkan untuk lift apartemen pun, jika di dalamnya ada penumpang perempuan, dia memilih untuk tidak naik meskipun dia sedang berada dalam kondisi hampir terlambat!"


Eh? Jadi selama ini Onii sampai sekhawatir itu......?


Aku sempat berpikir kalau ketakutannya hanya berada di level sebatas enggan berpacaran atau bergaul akrab dengan anak perempuan saja......


"......Y-Yah, lagipula seandainya hal itu sampai terbongkar pun, kita tinggal merayakannya saja sebagai tanda kalau daya tahan Onii terhadap anak perempuan telah bangkit kembali, kan. Buktinya, sekarang dia bisa mengobrol normal dengan Kanna yang sedang menyamar jadi laki-laki."


"Lalu bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya, dia malah menjadi semakin ketakutan?"


"Hah?"


"Aku sedang bertanya kepadamu, bagaimana kamu akan bertanggung jawab jika Onii-chan tahu kalau Kanta adalah Kanagawa-san, lalu tingkat kewaspadaannya justru menjadi semakin bertambah kuat?!"


Onee-chan yang mulai bersikap agak histeris itu menyampaikan tuntutannya kepadaku dengan mata yang tampak berkaca-kaca menahan tangis.


T-Tanggung jawab katanya...... bagaimana bisa begitu.


"Biar kuingatkan ya, kita berdua ini pada kenyataannya juga merupakan seorang 'perempuan' yang tidak memiliki hubungan darah dengan Onii-chan."


"......っ"


Satu kalimat yang diucapkan oleh Onee-chan itu terasa sangat dingin dan tajam menembus hatiku.


Seperti yang dikatakan oleh Onee-chan, baru-baru ini aku memang mengetahui fakta bahwa kami adalah adik tiri yang tidak memiliki hubungan darah dengan Onii. Kenyataan itu kudengar secara langsung dan jelas dari mulut Ibu dan Ayah sendiri, jadi sudah pasti tidak salah lagi.


Meskipun kami tinggal bersama di bawah atap rumah yang sama seperti ini, tidak adanya ikatan darah mengartikan bahwa kami bukanlah saudara kandung yang sebenarnya......


Namun tetap saja, aku ingin terus menganggap Onii sebagai kakak kandungku sendiri. Karena menurutku, kelembutan yang dimiliki oleh Onii adalah jenis kasih sayang yang hanya bisa dirasakan jika statusku adalah sebagai adiknya.


Tetapi Onee-chan, setiap kali dia membuka mulutnya, yang dibahas selalu saja s*ks dengan Onii, s*ks dengan Onii......


Apakah Onee-chan sekarang sudah tidak menganggap Onii sebagai kakaknya lagi......?


"Kairi, Onii-chan yang sekarang mau bersikap akrab dan baik kepada kita hanya karena dia menganggap kita sebagai adik perempuannya."


"Iya, itu benar."


"Alasan utama mengapa saat rapat adik tiri waktu itu aku membuat kesepakatan untuk 'tidak memberi tahu Onii-chan mengenai status hubungan adik tiri kita' adalah karena hal tersebut. Selama status kita masih menjadi adiknya, kita bisa memperdalam hubungan dengan Onii-chan. Namun,"


"Kalau dia sampai tahu kalau kita bukan adik kandungnya, kamu mau bilang kalau Onii akan mulai mewaspadai kita sama seperti dia mewaspadai perempuan lain di luar sana, kan?"


"Tepat sekali. Tetapi dalam kasusku, tujuanku bukan sekadar murni menjadi seorang adik saja."


Hah? Apa maksudnya? Bukan sekadar murni menjadi seorang adik saja......?


"Target utamaku adalah membuat Onii-chan jatuh cinta kepada 'diriku yang merupakan adiknya' dalam statusku sebagai seorang 'adik perempuan'. Setelah dia jatuh cinta kepadaku, tepat di ambang batas sebelum kami resmi berpacaran, aku akan membongkar fakta bahwa kami tidak memiliki hubungan darah, yang berarti kami bisa melakukan s*ks! Dengan begitu, Onii-chan akan mencintai diriku baik sebagai seorang adik maupun di luar status tersebut! Saat ini, aku sedang dalam proses menanamkan 【fetish Siscon super menyimpang】 agar dia bisa mencintai adiknya sendiri. Jadi, jangan menggangguku."


"N-Nada bicaramu sih terdengar seolah-olah kamu berada di pihak yang benar, tetapi hal yang sedang dilakukan oleh Onee-chan itu sebenarnya ekstrem dan gila banget, tahu?"


"......Jika otakmu sudah menjadi sedikit lebih cerdas, harusnya kamu bisa memikirkan hal ini sampai sejauh itu. Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk gara-gara masalah Kanagawa-san ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu dan Kanagawa-san."


Cengkeraman tangan Onee-chan pada kerah bajuku ditarik dengan semakin kuat, hingga membuat dadaku terasa tertekan dan hampir menyembul keluar seluruhnya.


"......Kamu paham?"


Hal-hal yang dikatakan oleh Onee-chan memang terasa menjijikkan, tetapi aku harus mengakui kalau landasan alasannya sangat kuat. Karena Onii mengalami ketakutan terhadap perempuan, maka sebagai langkah awal dia ingin membuat Onii menyukai dirinya sebagai seorang adik dulu.


Meskipun setelah itu ujung-ujungnya Onee-chan tampaknya hanya ingin membongkar status adik tiri demi bisa menikmati aktivitas s*ks berkualitas tinggi yang dipenuhi rasa bersalah, tetapi kenyataan bahwa dia bisa memutar otaknya sampai sebegini rupa membuktikan kalau dia memang benar-benar mencintai Onii......


"Tapi, Onee-chan."


"Apa?"


"Sebaliknya kalau aku, aku murni hanya ingin menyembuhkan penyakit ketakutan terhadap perempuan yang dialami oleh Onii."


"Kamu mengatakannya bahkan setelah mendengar seluruh penjelasanku tadi?"


"Iya. Onii kan bisa menyukai karakter perempuan 2 dimensi seperti V-sesuatu itu. Artinya, di dalam lubuk hatinya dia sebenarnya sedikit banyak masih menyukai anak perempuan. Makanya, aku ingin mendukung Onii agar dia bisa kembali menyukai anak perempuan di dunia 3 dimensi. Dan untuk itulah aku berjuang masuk ke SMA yang sama dengannya!"


Aku menyuarakan rencana pribadiku yang selama ini selalu kusimpan di dalam hati.


Aku pun bisa berpikir sejauh itu, tidak kalah dari Onee-chan.


"Jadi maksudmu, Kairi...... berbeda denganku yang ingin membuatnya menyukaiku sebagai adik lalu membongkarnya di akhir, kamu justru ingin menyembuhkan ketakutan terhadap perempuannya baru kemudian memberi tahu kalau kamu adalah adik tirinya?"


"Tepat sekali. Membuatnya terbiasa menghadapi Kanna meskipun lewat penyamaran laki-laki adalah langkah awal untuk menuju ke sana."


"Itu hanya argumen pembenaran saja. Kamu hanya ingin membenarkan tindakanmu sendiri, kan?"


"Kalau begitu, Onee-chan sendiri juga cuma memaksakan fetisisme pribadimu kepada Onii, kan."


"......"

"......"


Karena adanya perbedaan visi ini, aku dan Onee-chan akhirnya sama-sama memantapkan hati untuk membongkar status kami sebagai adik tiri kepada Onii dengan cara kami masing-masing.


Mulai saat ini, perang adik tiri kami akan semakin sengit.


☆☆


Dasar Kairi, lama sekali dia kembali ke sini......


Tadi dia berpamitan pergi dengan alasan sakit perut, tetapi jangan-jangan dia sebenarnya cuma ingin bolos saja?


Kuharap dia tidak sedang kembali ke kamarnya lalu asyik bermain ponsel atau semacamnya.


Meski menaruh curiga kalau Kairi sedang bolos, aku tetap melanjutkan sesi belajar bersama Kanta-kun.


"Ngomong-ngomong Onii-san, kenapa sih bisa sampai tidak bisa menghadapi perempuan?"


Eh............?


"E-Eh? Bagaimana Kanta-kun bisa tahu soal hal itu?"


"Aku mendengarnya dari Kairi."


"Bocah itu! Berani-beraninya dia menyebarkan informasi pribadiku begitu saja."


Ditambah dengan urusan bolosnya tadi, ini sih dia benar-benar harus kuceramahi nanti.


"Ayo dong! Kenapa bisa begitu? Kenapa bisa sampai takut dengan anak perempuan?!"


"Kamu sendiri juga benar-benar tidak punya rasa tenggang rasa, ya. Apakah kamu sewajar itu memedulikan kelemahan orang lain yang baru pertama kali kamu temui hari ini?"


"Habisnya, kurasa jarang sekali ada orang yang bisa sampai membenci lawan jenis!"


Jarang sekali ada orang yang begitu...... ya.


Rasa takutku terhadap perempuan awalnya dipicu oleh sebuah insiden di masa SMP, di mana aku hanya dimanfaatkan sebagai dompet berjalan oleh mantan pacarku kala itu. Namun, menceritakan hal tersebut kepada Kanta-kun...... rasanya agak memalukan.


Aku menatap ke arah Kanta-kun. Dia tampak sedang menunggu jawabanku dengan mata bulatnya yang berbinar-binar, layaknya seekor anjing toy poodle yang sedang mengemis makanan.


Sudahlah, mau bagaimana lagi...... karena kami sesama laki-laki, tidak ada salahnya aku menceritakannya sedikit.


"......Itu terjadi saat aku masih SMP."


"Uwooo, beneran mau cerita, nih."


"Kan kamu sendiri yang bilang ingin mendengarnya?! Kalau tidak mau dengar, aku tidak jadi cerita, lho?"


"Mau dengar!"


"Haaah......"


Dasar Kairi, dia benar-benar membawa teman yang aneh ke rumah.


Meski merasa heran dengannya, aku menghela napas lalu kembali melanjutkan ceritaku.


"Itu terjadi saat masa SMP dulu. Ada suatu periode di mana aku mendadak menjadi sangat gila belajar sampai-sampai memutuskan untuk keluar dari klub kegiatan sekolah."


"Uwah, itu sih ekstrem banget. Kalau bagiku, keluar dari klub demi belajar itu adalah hal yang mustahil! Onii-san lulusan dari SMP yang sama dengan kami, kan? Dulu ikut klub apa?"


"Klub tenis."


"Uwah~ Klub tenis yang digosipkan isinya cuma sekumpulan playboy mesum (yarichin) itu, ya! Ternyata Onii-san dulu seorang playboy yang tidak disangka-sangka, ya!"


"Hentikan prasangka burukmu itu. Di angkatanku, isinya cuma sekumpulan anak kuper tahu! Lagipula sejak tadi tolong jangan memotong pembicaraanku terus, dong!"


"Hya, baik!"


Kanta-kun membuat tanda silang di depan mulutnya menggunakan jari telunjuk, dan akhirnya dia bisa diam.


"Nah, setelah keluar dari klub itu, aku mulai pergi ke tempat bimbingan belajar setiap hari...... lalu di sana, anu."


"......Apakah terjadi sesuatu di sana?"


"Di tempat bimbel yang sama, ada seorang anak perempuan yang sangat imut. Aku sempat menaruh hati kepadanya. Lalu suatu hari, anak itu mendadak menyatakan cinta kepadaku...... dan aku pun langsung menerimanya."


"Padahal sedang gila belajar?"


"Tidak ada hubungannya dengan gila belajar atau tidak. Kanta-kun sendiri pun kalau ditembak oleh anak perempuan yang imut pasti akan langsung menerimanya, kan?"


"Ah~ iya juga sih, ya?"


Kanta-kun menjawabnya dengan nada suara yang agak ragu.


Sialan! Apakah karena dia laki-laki tampan yang populer makanya dia tidak pernah ambil pusing soal hal seperti ini?


"Yah, aku tidak mau menceritakan detail setelah kejadian itu jadi aku persingkat saja, tapi intinya aku dipaksa mentraktir banyak hal dan menghabiskan banyak uang saat kencan ataupun hari ulang tahunnya, lalu pada akhirnya dia mendadak bilang kalau dia aslinya sama sekali tidak pernah menyukaiku."


"Apa-apaan itu, kejam banget! Onii-san! Perempuan seperti itu sudah pantas buat dihajar saja!"


"Itu kan sudah jadi cerita masa lalu, mana mungkin aku melakukan hal seperti itu sekarang."


"Tapi......"


"......Sejak saat itu, aku selalu merasa takut."


"Takut?"


"Ketakutan terhadap perempuan sudah pasti, tetapi di atas segalanya, aku murni merasa takut terhadap yang namanya manusia. Aku menjadi ketakutan karena selalu berpikir apakah orang lain sedang menyembunyikan niat buruk di balik sikapnya, atau apakah mereka mendekatiku hanya demi keuntungan sepihak semata."


Meskipun kita menghadapi orang lain dengan perasaan yang tulus, belum tentu pihak lawan akan melakukan hal yang sama. Rasa takut yang muncul akibat ketidakmampuan membaca isi hati orang lain adalah sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang pernah merasakan pahitnya dikhianati.


Meskipun sekarang sedang musim dingin, aku sampai mengeluarkan keringat hanya karena mengingat kembali kejadian itu.


Melihat kondisiku, Kanta-kun mengambil sebuah saputangan putih bermotif bunga dari dalam sakunya, lalu menyisirkannya ke arah dahiku untuk menyeka keringatku.


"A-Ah, terima kasih, Kanta-kun."


"Sama-sama. Maaf ya, aku malah menanyakan hal yang sensitif seperti ini, aku jadi merasa bersalah."


Meskipun penampilannya terlihat seperti laki-laki gaul yang berandal, ternyata dia memiliki sisi yang cukup lembut. Tidak, jika melihat dari bagaimana dia begitu memedulikan Kairi, dia pada dasarnya memang seorang pemuda yang baik.


Memang benar kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja.


"Kalau Onii-san punya alasan yang seperti itu, kurasa mau bagaimana lagi. Dan kalau seandainya ada hal-hal berat atau masalah terkait hal itu yang tidak bisa diceritakan kepada Kairi, aku siap mendengarkan ceritamu kapan saja!"


"Kanta-kun......"


"Apakah Onii-san pakai LIME?"


"U-Uh, iya. Aku pakai, kok."


"Mumpung lagi begini, bagaimana kalau kita bertukar ID?"


Aku memindai kode QR milik Kanta-kun lalu bertukar kontak LIME dengannya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertukar LIME dengan seorang teman. Tidak, Kanta-kun ini sebenarnya lebih cocok disebut sebagai teman dari adikku daripada temanku sendiri, sih......


"......Hmm? Eh, lho."


Saat proses bertukar kontak selesai, aku menyadari ada sesuatu yang aneh.


Nama akun LIME miliknya adalah────Kanna?


"Kanna? Ini benar-benar akun milik Kanta-kun?"


"Heh, ah, gawat!"


Kanta-kun membuka mulutnya lebar-lebar sampai-sampai dagunya terlihat seperti mau copot. Ekspresi wajahnya jelas menunjukkan kalau dia baru saja melakukan kecerobohan yang fatal.


"B-Bukan begitu! Aku salah membawa ponsel milik adik kembarku! Waktu hari Natal kemarin aku baru ganti ke ponsel model baru, tapi aku lupa kalau ponsel yang lama sudah kuwariskan ke adik kembarku, dan malah terbawa olehku hari ini!"


"Begitu ya. Pantas saja. Kasihan adikmu, kontaknya malah bertukar dengan orang sepertiku. Apakah tidak apa-apa jika kamu langsung memblokirnya saja nanti?"


"......"


"Kanta-kun?"


Kanta-kun tampak terdiam sembari memikirkan sesuatu. Sejak tadi dia terus saja bersikap panik, sebenarnya ada apa dengannya?


"Anu, Onii-san...... kalau tidak keberatan, bagaimana kalau mencoba melakukan latihan untuk membiasakan diri menghadapi perempuan, menggunakan adik kembarku?"


"Hah?"


"A-Adikku sama sekali tidak punya niat terselubung yang buruk, kok! Kalau dia sampai berani macam-macam atau mencoba memeras uang Onii-san, aku sendiri yang akan menghajarnya!"


"......O-Oh. Aku menghargai niat baikmu, tapi......"


Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatku merasa takut. Namun, jika melihat dari apa yang kupahami selama beberapa jam ini, Kanta-kun adalah orang yang sangat baik, jadi adiknya pun pasti bukan anak yang nakal.


Akan tetapi......


"P-Pokoknya! Bagaimana kalau untuk sementara kontaknya dibiarkan saja seperti itu, lalu coba mengobrol dengannya lewat chat dulu!"


"Lewat chat saja?"


"Aku tidak akan memaksakan untuk pergi kencan, kok. Jadi kupikir tidak ada salahnya jika Abang mencoba berbicara dengannya di dalam LIME."


"......Yah, kalau cuma sebatas itu, kurasa tidak apa-apa."


Begitu mendengarkan jawabanku, Kanta-kun langsung mengembuskan napas lega.


Meskipun aku tidak terlalu paham maksudnya, tapi kurasa kalau cuma sekadar bertukar chat dengan adik dari kenalanku...... tidak masalah, kan.


☆☆


Setelah urusanku dengan Onee-chan selesai dan aku kembali ke ruang tamu, Kanna dan Onii tampak sedang belajar bersama dengan normal.


"Aku kembali~! Kanta, kamu belajarnya benar, kan?"


"Tentu saja benar. Kairi sendiri dari tadi ke mana saja, sih?"


"Benar kata Kanta, Kairi. Kamu tadi sengaja bolos, ya?"


Gawat! Karena aku terlalu lama kembali ke sini, mereka berdua jadi mengira kalau aku sengaja membolos dari sesi belajar.


"H-Hari ini kan dingin banget, jadi perutku mendadak mulas~"


“"............"”


Tatapan mata mereka berdua terasa menyakitkan.


Aduh! Padahal aku sudah bergerak ke sana kemari demi memikirkan masa depan Onii, lho!


Tetapi demi menolong Onii, melakukan berbagai hal di balik layar secara diam-diam seperti ini memang sudah menjadi kewajibanku.


......Sabar, sabar.


"P-Pokoknya mari kita lanjut belajar! Anggap saja tadi aku memang sedang membolos juga tidak apa-apa, kok!"


"Apanya yang tidak apa-apa."


"Kalau dari tadi Onii cuma mengajari Kanta saja, sekarang giliran aku, dong. Onii, mohon bimbingannya, ya~"


"Iya, iya."


Aku kembali mengambil posisi duduk di sebelah kiri Kanna, lalu meminta Onii yang berada di hadapan kami untuk mengoreksi pelajaranku.


Ngomong-ngomong soal Kanna...... apakah dia sudah menjadi sedikit lebih akrab dengan Onii?


Jika situasinya terus berjalan seperti ini dan Kanna bisa menjadi teman laki-laki bagi Onii, aku mungkin bisa mengorek berbagai informasi tentang Onii darinya.


"Ah benar juga. Apakah adik kembar Kanta-kun juga berteman akrab dengan Kairi?"


Adik, kembar, Kanna......?


Saat aku menoleh ke arah Kanna yang duduk di sebelah kiriku, dia berulang kali memberikan kedipan mata ke arahku seolah sedang menyampaikan pesan, "Ikuti saja alurnya!".


Jangan-jangan, Kanna membuat skenario bohong kalau dirinya adalah seorang kakak laki-laki yang memiliki saudara kembar?


"Kairi?"


"T-Tentu saja! Hubunganku dengan Kanna itu akrab banget, kami selalu main bersama! Dia adalah satu-satunya sahabat karibku~"


Kanna menyenggol pinggangku sembari menunjukkan ekspresi wajah yang sedikit memerah.


Hei, saat ini kamu tidak usah ikut-ikutan tersipu malu, dong! Aku mengatakan ini murni karena sedang berada di hadapan Onii, tahu!


"Heeh...... kalau begitu, aku jadi merasa sedikit lega."


"Lega?"


"O-Onii-san! Daripada membahas hal itu! Aku tidak paham bagian yang ini, nih!"


"Eh, i-iya."


Kanna menjulurkan tubuhnya ke depan sambil menyodorkan buku cetak ke arah Onii yang duduk di hadapannya.


......Entah mengapa, gelagat Kanna terasa agak aneh, ya?


Reaksinya yang barusan juga begitu, dan fakta bahwa dia sampai membuat skenario bohong kalau dirinya adalah seorang kakak kembar laki-laki juga terasa janggal. Meskipun aku merasakan ada atmosfer keanehan yang mengalir di tempat ini, aku tetap memutuskan untuk kembali melanjutkan belajarku.


☆☆


Sesi belajar bersama Kairi dan Kanta-kun terus berlanjut hingga sore hari. Setelah sesi belajar itu berakhir, aku sedang berada di atas tempat tidur di kamarku sendiri sembari mendengarkan suara ASMR dari seorang Vtuber. Namun, tepat di saat suara kecapan basah pembersih telinga terdengar di telingaku, ponselku mendadak bergetar hebat.


"......Hmm?"


『Kanna: Salam kenal, aku Kanna, adiknya Kanta.』


"Uwoh!"


Ternyata ada pesan LIME masuk dari Kanna-san, adik perempuan dari Kanta-kun. Meskipun hanya sebatas lewat LIME, ini adalah percakapan dengan seorang anak perempuan yang selama ini selalu kutakuti.


Dia adalah sahabat karib Kairi...... jadi dia tidak akan...... menipuku, kan? Tetapi di sisi lain, dia sama sekali tidak mengenalku.


Bisa saja dia berpikir kalau aku ini...... menjijikkan. 


Jika dia terpaksa meladeni obrolan ini hanya karena paksaan, aku sendiri pun juga tidak akan mau......


『Kanna: Aku sudah mendengar situasinya dari Kakak! Demi membantu Onii-san, kalau orang sepertiku ini tidak keberatan bagimu, izinkan aku untuk ikut membantu, ya!』


"Kanna...... san."


Aku mengetik jawaban 'Terima kasih', lalu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku kembali menjalin obrolan dengan seorang anak perempuan lewat LIME.


Gawat, entah mengapa...... jantungku mulai berdegup kencang.


Sejak saat itu, aku menjadi sangat sering bertukar pesan LIME dengan Kanna-san. Aku merasa seolah-olah akhirnya bisa kembali membangun komunikasi dengan anak perempuan lain di luar adik-adikku setelah sekian lama.


Aku tidak mengetahui wajahnya, dan aku pun belum pernah mendengar suaranya. Sosok anak perempuan yang terasa layaknya karakter 2 dimensi itu membuatku tanpa disadari bisa bertukar chat dengannya secara santai tanpa beban.


Kanna-san bercerita bahwa sama halnya dengan Kanta-kun, dia juga merupakan sahabat karibnya Kairi. Dia tampaknya adalah seorang gadis gyaru yang selalu pergi bermain bertiga bersama mereka.


Hubungan kami menjadi semakin akrab saat membahas cerita masa kecil Kairi, dan dia juga mendengarkan dengan penuh antusias saat aku menceritakan hobi anime serta game milikku (tentu saja untuk hobi mendengarkan ASMR tetap kurahasiakan darinya). Kami bahkan sampai berada di tahap sering bermain game online bersama sembari mengobrol lewat chat.


Ternyata sosok gyaru yang ramah terhadap otaku itu benar-benar eksis, ya. Namun, jika ditanya apakah aku ingin bertemu langsung dengannya, rasanya ada sesuatu yang menolak di dalam diriku.


Aku berpikir bahwa aku akan merasa bahagia jika hubungan yang seperti ini...... bisa terus dipertahankan selamanya.


Mungkin...... di dalam lubuk hatiku, aku memang masih dilingkupi oleh rasa takut.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close