NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 13 Chapter 4

Chapter 4

Menuju Hari Valentine Pertama……


Waktu terus berlalu setelah liburan musim dingin usai, hingga akhirnya bulan Februari pun tiba.

 

Jika membicarakan bulan Februari, dalam beberapa tahun terakhir biasanya salju turun cukup banyak hingga membuat kegiatan menyekop salju menjadi musim yang suram. Namun, bulan Februari tahun ini terasa berbeda dari biasanya.

 

Bagian yang berbeda itu utamanya terletak pada kondisi perasaanku dan hal-hal semacamnya, sih.

 

Manusia memang makhluk yang unik; ketika kita mulai menyadari suatu hal yang sebelumnya tidak pernah kita perhatikan, atau ketika mendapatkan informasi baru, rasanya hal tersebut mendadak memenuhi seluruh isi dunia.

 

Dalam istilah ilmiah, fenomena ini konon disebut sebagai "Baader-Meinhof Phenomenon". Kurasa... yang sedang terjadi pada diriku saat ini adalah fenomena tersebut.

 

Keberadaan Hari Valentine yang sebelumnya tidak pernah kuperhatikan, tahu-tahu kini hadir di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari.

 

Bukan cuma di supermarket atau pusat perbelanjaan saja, melainkan di event game, acara televisi, bahkan di sekolah pun suasananya jadi meriah oleh informasi seputar Valentine.

 

Anak-anak laki-laki yang tadinya tidak peduli pada anak perempuan, mendadak jadi gelisah dan bersikap sangat ramah kepada mereka.

 

Begitu pula dengan para anak perempuan; aku jadi sering melihat pemandangan di mana mereka meminta bantuan kepada anak laki-laki secara terang-terangan dengan imbalan cokelat Valentine. Seperti meminta pinjaman catatan pelajaran, misalnya.

 

Satu buku catatan demi satu buah cokelat... aku sendiri tidak bisa menilai apakah transaksi tersebut tergolong adil atau tidak... Namun di sekolah pun, perubahan kecil semacam itu mulai terlihat.

 

"Eh? Hitoshi... tahun ini kamu tidak butuh giri-choco?"

 

"Aah, tidak, maksudku sepertinya aku tidak butuh, sih. Tapi belum tahu pastinya bagaimana."

 

"Padahal biasanya kalau musim begini kamu bakal berlarian ke sana-kemari demi dapat cokelat, eh? Apakah besok salju bakal mendadak cair semua?"

 

"Sewaktu kamu punya pacar dulu pun, kamu tetap semangat minta cokelat kewajiban, kan? Perubahan perasaan macam apa ini?"

 

Mendengar perkataan Hitoshi, anak-anak perempuan di sekitarnya langsung membombardirnya dengan pertanyaan secara bertubi-tubi. Tampaknya mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Hitoshi akan bertemu dengan perempuan yang makin dekat dengannya sejak liburan di Hawaii lalu.

 

Mengingat Hitoshi juga terkesan sengaja menyembunyikan informasi tersebut... untuk saat ini aku memilih untuk tetap diam dan tidak ikut campur.

 

Meski begitu, ternyata dunia ini memang benar-benar dipenuhi oleh hal berbau Valentine, ya.

 

"Siapa sangka aku sampai lupa dengan event di dalam game."

 

"Memangnya event Valentine di dalam game itu seperti apa?"

 

"Kalau di game yang kumainkan sih... kita mengumpulkan poin kontribusi di event Valentine untuk mendapatkan barang terbatas... Walaupun barangnya cuma sekadar barang kenang-kenangan yang tidak begitu berguna, sih..."

 

"Hmm... Bagaimana kalau antar-pemain saling bertukar barang? Seperti bertukar cokelat, misalnya."

 

"Emm... Cokelatnya sendiri tergolong barang terbatas dan ada pembatasan pengiriman hadiah, jadi seingatku tidak bisa dilakukan... Paling selebihnya cuma perlengkapan bertema Valentine."

 

Di dalam game, aku hanya menganggapnya sebatas event untuk mendapatkan barang semata. Lagipula hadiahnya tidak begitu bagus, jadi biasanya sering kutinggalkan begitu saja...

 

Memang sih kita bisa mendapatkan cokelat dari karakter NPC, tetapi karena itu hanya menaikkan EXP dalam jumlah yang sangat sedikit, aku tidak pernah memintanya dari semua NPC...

 

"Ooh... Jadi kamu bisa dapat cokelat dari karakter game, ya..."

 

"Tunggu dulu Nanami, itu kan bukan di dunia nyata. Tolong jangan cemburu pada karakter game, dong?"

 

"Tapi Youshin menyukai karakter yang kamu jadikan foto profil itu, kan? Apakah ini yang dinamakan... waifu-nya Youshin?"

 

"Dari mana kamu belajar istilah semacam itu..."

 

Yah, aku tahu kok kalau di dunia ini ada budaya menganggap karakter 2D sebagai waifu. Teman-teman bermain game online-ku juga ada yang menyebut salah satu NPC sebagai istrinya.

 

Hanya saja, budaya tersebut sepertinya tergolong tradisi yang agak lama, dan kalau zaman sekarang ketimbang sebutan itu...

 

"Konsep oshi (karakter favorit) rasanya jauh lebih kuat, sih. Karakter favorit (oshi-chara)."

 

"Artinya bukan sebagai objek asmara...? Youshin, tidak punya istri di ranah sana?"

 

"Iya, aku tidak punya istri di dalam game ataupun anime..."

 

Meskipun pandangan mata Nanami terasa agak menakutkan, syukurlah dia tampaknya bisa diyakinkan. Lagipula kalau untuk kasusku, sejujurnya aku hanya tidak ingin mengaitkan urusan asmara ke dalam hal-hal seperti itu, sih. Karena dulu aku punya semacam trauma tak sadar di ranah tersebut... walaupun trauma itu sudah terobati setelah bertemu dengan Nanami... makanya aku tidak pernah membuat sosok seperti itu di dalam game.

 

Yah, memang ada karakter yang kusukai, sih. Namun itu pun setelah mempertimbangkan performa dan penampilannya secara menyeluruh...

 

Jika ditanya apakah ada karakter yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama hanya karena penampilannya semata, dalam arti tersebut mungkin memang tidak ada.

 

"Karakter favorit (oshi), ya... Aku juga tidak punya yang seperti itu, sih."

 

"Nanami juga tidak begitu sering menonton anime atau main game, kan."

 

"Iya, karena dari dulu kurang terbiasa... Tapi kalau bersamamu, rasanya terasa segar dan menyenangkan."

 

Nanami juga sempat bermain game sedikit setelah bertemu dengan Baron-san dan kawan-kawan. Walaupun benar-benar cuma sedikit, sih.

 

Namun fakta bahwa dia mau mencoba mendekati hobiku adalah hal yang sangat kuapresiasi.

 

"Tapi, kamu sampai tidak menyadari keberadaan Valentine di dalam game favoritmu sendiri... Berarti kamu benar-benar tidak tertarik sama sekali, ya..."

 

"Kembali ke topik itu lagi, ya... Tapi tidak juga, bukankah tahun ini acara event Valentine-nya tergolong banyak?"

 

"Tidak, kok, sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya...? Malah kurasa tahun ini agak sedikit berkurang."

 

Segini banyaknya dibilang berkurang. Karena belakangan ini terasa sangat mencolok di mataku, kikirain jumlahnya bertambah mulai tahun ini...

 

Rupanya fenomena yang tadi memang benar-benar sedang terjadi di dalam diriku, ya.

 

"Lalu?"

 

"Lalu... apa?"

 

"Apakah kamu sudah memutuskan mau membuat apa?"

 

"Kalau soal itu sih, rahasia sampai hari nanti..."

 

Ini adalah pola percakapan yang jadi rutinitas belakangan ini. Setiap ada kesempatan, Nanami pasti akan bertanya apa yang bakal kubuat. Dan secara teratur, dia akan tersenyum saat kubalas bahwa itu adalah rahasia sampai harinya tiba.

 

Ini sih... sepertinya dia cuma ingin menikmati pola percakapan ini saja, ya. Walaupun aku tahu maksudnya, melihat Nanami yang bersandar padaku dengan wajah tersenyum lebar terasa sangat imut, sehingga aku jadi terus melayaninya.

 

Tapi sebenarnya, benda yang bakal kubuat sudah kuputuskan, sih... Mengingat proses pembuatannya cukup ramah untuk pemula, aku memutuskan untuk membuat cupcake.

 

Anak-anak laki-laki terkadang juga menyempatkan diri untuk berkumpul sebentar setelah pulang sekolah demi berlatih membuat kue. Terkadang di rumahku, di rumah Teshikaga-kun, atau di rumah Hitoshi...

 

Karena dilakukan seusai pulang sekolah, kami memang tidak bisa meluangkan waktu yang terlalu lama, tetapi setelah melakukannya beberapa kali, Hitoshi sepertinya sudah mulai menemukan triknya dan kemampuannya makin meningkat pesat.

 

Di tengah-tengah proses itu, secara tidak sengaja aku mengetahui bahwa setiap hadiah yang diberikan saat Hari Valentine itu memiliki artinya masing-masing. Hal itu kuketahui saat sedang mencari resep di internet, sih.

 

Makna dari cupcake adalah... "Kamu adalah orang yang spesial."

 

Jujur saja, rasanya hal itu agak sedikit dicocok-cocokkan, sih. Namun jika memilih marshmallow atau biskuit (cookie), konon artinya tidak begitu baik bagi pasangan kekasih.

 

Aku merasa sangat beruntung karena tidak memilih biskuit... Walaupun memilih kue mangkuk sendiri sebenarnya murni karena kebetulan semata...

 

Di antara sekian banyak makna yang ada, memilih kue mangkuk benar-benar sebuah keberuntungan.

 

Yah, meskipun belum tentu Nanami bakal terlampau mementingkan makna dari kue tersebut, sih. Rasanya hal ini mirip dengan etika-etika misterius yang belakangan ini makin marak bermunculan.

 

Ngomong-ngomong, makna dari cokelat sendiri katanya adalah "Perasaanku sama dengannya." Hal ini... merupakan kata-kata yang bisa ditafsirkan secara fleksibel tergantung pada pihak penerimanya, ya.

 

Apakah Nanami mengetahui makna ini, dan apakah perasaannya memang sama denganku?

 

Sembari memikirkan hal itu... jika aku memberikan kue mangkuk dan Nanami memberikanku cokelat, apakah itu berarti perasaan Nanami padaku juga sama dengan perasaanku padanya?

 

Aku sendiri kurang begitu paham bagaimana mekanisme hal semacam itu bekerja, sih...

 

"Hari Valentine... tinggal sebentar lagi, ya."

 

"Kenbuchi-kun, libur berikutnya kamu kencan ke Festival Salju, kan? Bagaimana kalau kita ikut pergi ke sana juga? Aku ingin melihat seperti apa anak perempuan yang ditemuinya itu."

 

Tanpa diduga, sebuah deklarasi pembuntutan terlontar darinya. Namun memang benar... baik aku maupun Nanami sama sekali tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan sosok yang dekat dengan Hitoshi tersebut.

 

Sewaktu di Hawaii pun kami bertindak secara terpisah. Katanya ada banyak hal yang terjadi di antara mereka saat itu... jadi jika kali ini dia benar-benar datang ke Jepang, memang ada keinginan dari kami untuk...

 

"Ah, tidak bisa... Nanami... pada hari libur berikutnya kita kan ada jadwal kerja paruh waktu."

 

"Ah..."

 

Nanami menunjukkan kekecewaan yang sangat jelas, tetapi mau bagaimana lagi. Soalnya untuk hari libur berikutnya, kami sudah dipesan untuk masuk kerja.

 

Saat diminta saat itu, aku maupun Nanami langsung menyetujuinya tanpa ragu. Apalagi sebagai gantinya, kami dijanjikan bakal diberi libur pada hari H Valentine nanti...

 

Aah, Nanami yang kecewa langsung tertelungkup meliukkan tubuhnya di atas meja.

 

Sangat disayangkan, tampaknya kali ini pun kami belum bisa bertemu dengan sosok pujaan hati teman kami tersebut.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Bagi restoran ala Barat, Hari Valentine sepertinya merupakan acara yang tidak ada hubungannya... atau begitulah pikirku, namun ternyata tidak demikian.

 

Entah karena bentuk usaha manajemen belakangan ini, atau ketangguhan jiwa berbisnis yang tidak ingin melewatkan peluang usaha, restoran ini juga menggelar acara yang dikaitkan dengan Hari Valentine.

 

Orang pertama yang melakukannya adalah... Yuu-senpai.

 

"Ya~ ini cokelat pelayanan dariku. Silakan~"

 

"Ooh, Nao-chan... kamu memberikanku cokelat perasaan yang sungguh-sungguh..."

 

"Ini giri-choco, kok. Murni cokelat sekadarnya (giri-giri)."

 

"Apakah itu artinya ada kemungkinan bahwa ini sebenarnya bukan cokelat...?"

 

"Nanti saat Hari White Day, datang lagi ke sini dan silakan melakukan pemesanan, ya. Aku pribadi tidak butuh balasan apa pun, kok~"

 

Benar, itu adalah pembagian cokelat kewajiban dari Yuu-senpai.

 

Apakah hal semacam ini diperbolehkan secara hukum?

 

Yah tidak, Yuu-senpai kan cuma sekadar membagikan cokelat yang disiapkan oleh pihak restoran saja. Lagipula beliau tidak sampai menggenggam tangan atau menyuapi pelanggan, melainkan hanya menyajikannya di samping cangkir kopi, menyajikannya seusai hidangan utama, atau menyerahkannya setelah proses pembayaran di kasir saja.

 

Emm, kurasa hal seperti itu pasti tidak masalah.

 

"Yuu-senpai sibuk membagikan... dan..."

 

Aku dan Nanami secara bersamaan mengalihkan pandangan ke arah orang lain. Di sana... berdiri Shouichi-senpai yang sedang menebarkan senyuman berkilau secara berlebihan.

 

"Ini cokelat Valentine... apakah Anda berkenan menerimanya?"

 

"Terima kasih banyak atas perhatian Anda."

 

Sudah berapa banyak cokelat yang diterimanya hari ini, ya?

 

Dia kembali menerima cokelat Valentine dari pelanggan perempuan. Setiap cokelat diterimanya dengan penuh kehati-hatian, lalu menyampaikan terima kasih disertai dengan senyuman.

 

Terpesona oleh rasa lega karena cokelatnya diterima serta senyuman dari sang senior, pipi pelanggan perempuan itu tampak merona merah.

 

Padahal hari ini belum memasuki hari Valentine, tetapi dari pagi hingga malam sudah berapa banyak cokelat yang diterimanya, ya? Dan seberapa banyak yang akan diterimanya pada hari Valentine nanti?

 

"Senpai, cokelatnya... mau saya bantu simpan?"

 

Melihat sang senpai yang tampak kerepotan karena memegang banyak cokelat di tangannya, aku berniat membantunya... tetapi beliau menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.

 

"Youshin-kun, cokelat-cokelat ini adalah hadiah tulus dari hati mereka. Oleh karena itu, setidaknya aku ingin menyimpannya dengan tanganku sendiri secara benar."

 

"Ooh..."

 

Mendengar jawaban yang sangat mirip ikemen tersebut, tanpa sadar aku memberikan tepuk tangan kecil.

 

Tidak, bukankah jawaban orang ini benar-benar terlalu keren?

 

Sungguh sebuah jawaban yang sangat mencerminkan sosok gentleman. Sikapnya yang peduli hingga ke detail hadiah yang diterimanya adalah hal yang patut dicontoh. Aku sendiri merasa sudah cukup memikirkan Nanami sejauh itu, sih.

 

Namun karena aku sadar bahwa sikapku terhadap orang lain cenderung agak acuh tak acuh, sikap sang senpai ini patut kujadikan pelajaran. Mari kita pelajari hal ini darinya.

 

Membawa tas berisi tumpukan cokelat dan kue-kue lain yang memenuhi kedua tangannya... punggungnya saat berjalan menuju loker pribadinya terlihat sangat keren.

 

"Ah, tapi... kalau kamu bisa membantu memakankannya sedikit saja... sedikit saja sudah sangat membantu... Setiap tahun, menghabiskan semuanya sendirian itu benar-benar hal yang sangat berat..."

 

A, aduh... ternyata kurang keren sampai tuntas, ya.

 

Yah, tapi mungkin bagian inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dari Shouichi-senpai. Kesannya seperti tidak bisa menjadi pria idaman secara penuh...

 

Tidak, penampilan fisiknya memang tidak diragukan lagi sangat tampan, sih. Sisi ceroboh seperti inilah yang mungkin bisa dikatakan sebagai daya tariknya.

 

...Lho? Tapi... apakah ini tidak apa-apa?

 

"Senpai, bukankah tadi Senpai bilang itu hadiah tulus dari hati? Apakah saya juga boleh ikut memakankannya...?"

 

"Soal itu, sebelum menerimanya aku sudah minta izin terlebih dahulu... Aku menyampaikan bahwa 'Perasaan dari Anda sudah saya terima, tetapi mengenai wujud fisiknya... apakah boleh jika saya nikmati bersama keluarga atau teman-teman?'"

 

Ternyata pelanggan mau menerimanya dengan jawaban seperti itu.

 

Pada kenyataannya, sebagian besar cokelat yang diterima adalah giri-choco atau cokelat dari sudut pandang penggemar, bukan cokelat ungkapan perasaan yang sungguh-sungguh (honmei-choco), sehingga semua orang mau mengerti.

 

...Ternyata tidak ada cokelat ungkapan perasaan, ya. Hal itu cukup mengejutkan bagiku.

 

"Soalnya aku ingin mereka menyimpan cokelat ungkapan perasaan untuk pria yang kelak menjadi pasangan mereka. Lagipula, banyak juga pelanggan yang statusnya sudah menjadi istri orang. Walaupun bukan cokelat ungkapan perasaan, aku tetap merasa senang memeliharanya."

 

Begitu rupanya. Kalau menggunakan jalan pikiran seperti itu...

 

"Apakah itu artinya Shouichi-senpai hanya menerima cokelat ungkapan perasaan dari kekasih saja?"

 

"Benar. Jujur saja aku memang populer... tapi kalau bicara soal cokelat ungkapan perasaan, aku hanya ingin menerimanya dari wanita yang ingin kujadikan kekasih."

 

Ucapan yang justru keluar karena dia sadar bahwa dirinya populer, ya.

 

...Dunia yang luar biasa. Tampaknya pandangan tentang asmara dan situasi Hari Valentine setiap orang memang berbeda-beda...

 

"Kalau begitu yah... jika tidak keberatan, setelah Hari Valentine nanti saya akan bantu memakankannya..."

 

"Maaf ya... Seharusnya jika memikirkan para wanita yang sudah memberikannya, aku wajib menghabiskan semuanya sendirian... tapi sebagai pemain bola basket, terlalu banyak makan makanan manis itu..."

 

Membuang-buang makanan bertentangan dengan harga diriku, ucap sang senpai dengan raut wajah dilematis sembari menatap cokelat yang diterimanya.

 

Benar juga, ya, senpai kan seorang pemain bola basket... Jika orang yang berolahraga makan cokelat sebanyak ini sekaligus, tentu saja tidak baik. Memang benar, jika bentuk tubuh sampai rusak itu bisa menjadi masalah hidup dan mati baginya.

 

Sebelum Hari Valentine aku tidak bisa membantu karena ada janji dengan Nanami, tetapi jika dilakukan setelahnya, kalau cuma sedikit... tidak, apakah makan cokelatnya sendiri boleh dilakukan? Aku jadi merasa dilema.

 

"Untuk saat ini, kalau bersama Nanami saya mau ikut menyantapnya."

 

"Aah, benar juga. Saat memakankannya nanti, aku pasti akan ikut hadir bersama kalian."

 

"Ngomong-ngomong Senpai ternyata tidak masalah dengan makanan manis, ya."

 

"Pada dasarnya aku tidak punya makanan yang dibenci, sih. Yah, walaupun pernah hampir membenci cokelat gara-gara makan dalam jumlah sebanyak ini sekaligus..."

 

Dari cara bicaranya barusan, tampaknya senpai pernah menghabiskan seluruh cokelat tersebut sebelumnya. Sepertinya saat itu dia mengalami masa-masa yang cukup berat...

 

"Makanya, sesekali ada yang memberi kerupuk beras (osenbei), aku merasa sangat bersyukur..."

 

"Sampai ada yang memberi kerupuk beras juga...?"

 

Ternyata ada banyak sekali dinamika Hari Valentine, ya.

 

Sepertinya ini bisa dijadikan bahan referensi untuk ke depannya. Seperti saat memberikan hadiah ke Nanami nanti... makanan yang gurih juga memang terasa menarik, ya.

 

Ngomong-ngomong, mengenai kue-kue yang diterimanya, senpai biasanya membagikannya kepada keluarga, teman dekat, atau menggunakannya sebagai bahan saat memasak sendiri.

 

Masakan yang menggunakan cokelat...?

 

Walaupun aku sempat memiringkan kepala keheranan, tampaknya cokelat itu digunakan sebagai bumbu rahasia pada masakan kari, atau dimasukkan ke dalam beef stew.

 

Kalau masakan kari aku sudah tahu, tetapi ternyata dimasukkan ke dalam semur daging sapi juga bagus, ya...

 

Lain kali saat memasak aku mau mencobanya, ah.

 

Nah, inilah hal yang menjadi daya tarik utama dari restoran ala Barat ini pada periode musim seperti sekarang... Penyapuan Bersih Valentine oleh Dua Pelayan Utama. Aku tidak tahu apakah istilah "penyapuan bersih" ini tepat atau tidak, tetapi penamaan ini berasal dari Yuu-senpai.

 

Yuu-senpai berada di sisi yang membagikan, sedangkan Shouichi-senpai berada di sisi yang menerima... Entah sejak kapan mulainya, periode menjelang Hari Valentine memang selalu menjadi seperti ini.

 

Yah, bukan cuma mereka berdua saja yang menjadi daya tarik utama... tentu saja dari segi hidangan pun restoran menyediakan menu khusus yang disesuaikan dengan suasana Hari Valentine.

 

Di antara menu-menu tersebut, yang menjadi menu andalan utama adalah Chocolate Fondue. Menu khusus yang hanya dikeluarkan pada periode ini menyajikan keseruan menikmati chocolate fondue di atas meja masing-masing.

 

Bahan-bahan celupnya terdiri dari berbagai jenis buah-buahan, aneka kacang-kacangan, dan yang agak unik ada kue bolu (sponge cake)... marshmallow, hingga keripik kentang juga ada.

 

Meskipun menambah porsi cokelat atau menambah bahan makanan celup bisa dilakukan dengan biaya tambahan, porsi awalnya saja sudah sangat banyak sehingga tergolong sebagai menu yang sangat menguntungkan pelanggan.

 

Setahuku chocolate fondue itu identik dengan mesin besar yang dialiri cokelat melimpah dan bebas diambil ala prasmanan, sih...

 

Tetapi di restoran ini hal semacam itu sepertinya sulit dilakukan. Oleh karena itu, mereka menggunakan tipe sajian cokelat leleh, meskipun prosesnya ternyata memakan lebih banyak tenaga dari dugaanku.

 

Maka dari itu, meskipun banyak pelanggan wanita yang meminta agar dijadikan sebagai menu reguler, dengan berat hati permintaan tersebut terpaksa ditolak.

 

"Terima kasih telah menunggu, ini pesanan Chocolate Fondue-nya."

 

Bahkan pada waktu setelah jam makan siang yang biasanya sepi pelanggan pun, pemesan chocolate fondue terus berdatangan tanpa henti. Biasanya sebelum jam tutup sementara pelanggan sudah mulai sepi sehingga kami bisa makan siang lebih awal, tetapi hari ini sepertinya belum memungkinkan.

 

Nanami... aah, dia berusaha dengan sangat keras. Atau lebih tepatnya fakta bahwa dia sudah hampir bisa mandiri sepenuhnya itu sangat luar biasa, apalagi tidak ada yang mendampinginya.

 

Ternyata perbedaan pengalaman pernah bekerja paruh waktu sebelumnya memang membawa pengaruh besar, ya. Aku sendiri baru bisa melakukan berbagai hal sendirian belakangan ini, tetapi masih sering dibantu oleh para senpai.

 

Auh... sekarang aku harus fokus pada pekerjaan.

 

Setelah itu, kesibukan bagaikan medan perang terus berlanjut untuk beberapa saat, dan akhirnya kami mulai bisa bernapas lega setelah waktu pemesanan terakhir makan siang berlalu.

 

Aduh... rasanya baru kali ini mengalami kesibukan seberat ini. Sewaktu Natal dulu, entah kenapa rasanya masih ada sedikit kelonggaran.

 

"Ngomong-ngomong Misumai-kun, apakah kamu bakal dapat cokelat?"

 

Saat menyajikan chocolate fondue, aku disapa oleh pelanggan langganan yang sudah paruh baya.

 

Mereka terdiri dari dua orang pria dan wanita, dan karena terlihat seumuran, sepertinya mereka adalah sepasang suami istri. Chocolate fondue-nya dipesan oleh sang suami, sedangkan sang istri sedang menikmati parfait.

 

Keduanya merupakan pasangan suami istri yang berpakaian rapi dan memancarkan kesan anggun. Karena aku juga sesekali melihat mereka, tampaknya mereka mulai mengingatku.

 

Namun karena aku sendiri tidak mengingat nama mereka, aku agak sedikit bingung bagaimana harus meresponsnya. Mungkin karena jam sibuk sudah lewat makanya mereka menyapaku, lagipula ini sudah memasuki rentang waktu di mana pelanggan baru akan ditolak...

 

Apakah boleh kalau mengobrol sebentar?

 

Saat aku memberikan isyarat mata kepada Yuu-senpai, beliau memberikan anggukan kecil, jadi sepertinya tidak masalah.

 

Emm, kalau begitu... sedikit saja... Ini juga termasuk bagian dari melayani pelanggan, kan.

 

"Begitulah... sepertinya saya bakal mendapatkan satu buah."

 

Aku mengacungkan jari telunjukku, lalu tanpa sadar suaraku menjadi pelan. Mengaku bakal mendapatkan cokelat rasanya agak sedikit memaluakan.

 

"Ooh, syukurlah kalau begitu. Berarti kamu bakal dapat dari Barato-san, ya."

 

"Eh? Kenapa jadi dari Nana... Barato-san...?"

 

"Lho, bukannya... Yah, walaupun tidak bisa kubicarakan keras-keras... kamu jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, kan?"

 

Meskipun beliau mengatakannya dengan suara berbisik, sepertinya sang istri yang duduk di seberangnya tetap dapat mendengarnya.

 

Sang istri menutup mulut dengan kedua tangannya sembari membelalakkan matanya lebar-leban.

 

Matanya berbinar-binar bagaikan seorang gadis muda, seolah rasa ingin tahu dalam dirinya terpantik hebat.

 

Uwah, rasanya informasi yang merepotkan sudah terlanjur bocor. Dalam situasi seperti ini, bagaimana aku harus meresponsnya, ya...?

 

Padahal keheningan yang terjadi hanya sesaat, tetapi rasanya sungguh berat dan panjang. Mulutku terasa kaku seperti pintu yang berkarat.

 

"Ya, yaa... begitulah... iya..."

 

Dengan susah payah, aku bertahan sembari menanggapi dengan kecepatan bicara yang seolah berderit seperti pintu berkarat. Gawat, cara berkilahku malah jadi sangat buruk.

 

"Lho, kamu belum menyatakan perasaan padanya?"

 

"Mana bisa melakukan hal terburu-buru seperti itu. Lagipula Misumai-kun punya teman perempuan lain yang akrab dengannya juga, kan?"

 

Mendengar sang istri di seberang mendadak menyebutkan bahwa aku punya teman perempuan lain yang akrab, yang terlintas di kepalaku adalah Otofuke-san atau teman-teman Nanami. Namun, jika ditanya apakah kami memiliki hubungan yang sangat akrab...

 

Jika bersama Nanami aku memang mengobrol dengan mereka, tetapi aku tidak pernah berpergian khusus hanya berdua dengan mereka. Jadi jika ditanya apakah kami akrab secara khusus, rasanya itu patut dipertanyakan.

 

Namun, mereka memang teman yang berharga. Dalam artian tersebut... Tidak, tunggu dulu. Di hadapan para pelanggan langganan, aku seharusnya tidak pernah menunjukkan hubungan sejauh itu dengan mereka...

 

Mereka memang pernah datang berkunjung ke sini, tetapi itu hanya sebatas kunjungan ke tempat kerja paruh waktu dalam lingkup pertemanan... Sebenarnya siapa yang dimaksud oleh beliau?

 

Jawaban dari pertanyaan itu segera terungkap tak lama kemudian. Dan itu merupakan kata-kata yang sungguh di luar dugaan.

 

Atau mungkin dalam artian tertentu, justru sesuai dugaan, ya?

 

"Itu lho, anak perempuan yang agak bergaya mencolok yang bersamamu saat Natal. Tipe penampilannya benar-benar berbeda jauh dengan Barato-san, tetapi dia perempuan yang sangat cantik, kan? Karena kalian sampai pergi berkencan berdua, berarti kalian akrab, kan?"

 

Bersama saat Natal... bukankah itu maksudnya Nanami...? Eh? Tidak, tunggu dulu... Ternyata ada juga pelanggan yang tahu tentang Nanami?

 

Yah tentu saja ada, sih. Soalnya dia pernah datang ke sini. Waktu itu hanya kebetulan saja tidak ada pelanggan kenalan yang melihat...

 

Nanti dulu. Apa yang baru saja dikatakan oleh pelanggan ini? Tipe penampilannya berbeda... dengan Barato-san...?

 

"A-apa?! Dua kaki (mendua)?! Aku iri... bukan, Misumai-kun, punya wajah polos begitu tapi melakukan hal itu tidak baik, lho! Kamu harus memilih salah satu dari mereka... tapi yah, dua orang sekaligus, ya..."

 

Entah kenapa bapak-bapak itu tampak hampir mengamuk, tetapi tadi beliau pasti hampir bilang kalau dirinya iri, kan?

 

Sumpah, hal itu benar-benar tidak boleh dikatakan, kan?

 

Perempuan itu adalah Nanami, dan dia adalah orang yang sama dengan Barato-san.

 

Yah, meskipun mungkin tidak dipercaya, tetapi hal itu benar adanya.

 

"Bukankah ini bagus, cinta segitiga yang memperebutkan seorang laki-laki... Hal seperti ini sudah biasa terjadi di drama atau komik remaja perempuan."

 

"Tetapi tetap saja... sebagai laki-laki dia harus memilih salah satu dengan tegas..."

 

"Lagipula tadi Ayah hampir bilang iri, kan...?"

 

"Ibu, kamu suka marshmallow, kan? Nah, sini Ayah suapi, jadi Ayah tadi sama sekali tidak bilang iri, kok. Percayalah pada Ayah."

 

Tampaknya perkataan 'iri' yang terucap tadi tidak dilewatkan begitu saja oleh sang istri. Sang suami pun menyuapkan chocolate fondue kepada istrinya untuk mengalihkan perhatian.

 

Memanfaatkan kesempatan itu, aku mengucapkan "selamat menikmati" lalu mengundurkan diri ke area belakang.

 

Ngomong-ngomong pada saat itu pelanggan sudah berkurang drastis, sehingga Yuu-senpai dan Nanami yang sedang punya waktu luang berada di area belakang, tetapi...

 

"...Kenapa Anda menahan tawa begitu?"

 

Yuu-senpai berusaha menahan suaranya setengah mati sembari tubuhnya gemetar karena menahan senyum. Sebaliknya, Nanami memasang raut wajah yang sangat rumit.

 

"Misumai-senpai, ternyata Kamu menyukai orang itu, ya... Hubungan kita selama ini cuma main-main saja bagi Kamu..."

 

"...Tidak, bukankah itu agak berbeda? Kenapa pembicaraannya jadi makin tidak karuan begini?"

 

"Iya sih, tapi yah... aku sama sekali tidak menyangka kalau diriku sendiri yang akan menjadi rival terbesarku."

 

"Apakah hal seperti itu masih bisa disebut rival...?"

 

Masa bodoh dengan hal semacam ini; semakin didiamkan, keadaannya justru akan semakin rumit, ya... Maka dari itu, yah... mari kita selesaikan secepatnya. Demi nama baikku sendiri, demi reputasi Nanami, dan demi berbagai hal lainnya...

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Di dunia ini, ada kalanya orang-orang mengibaratkan kesibukan yang luar biasa sebagai 'medan perang'...

 

Meskipun belum pernah mengalami medan perang secara nyata, bukankah menggunakan ungkapan semacam itu terkesan agak kurang etis...?

 

Dulu aku sempat memikirkan hal semacam itu secara sekilas, tetapi hari ini pemikiran seperti itu jujur saja... langsung sirnah begitu saja.

 

Situasi ini benar-benar tidak bisa dilukiskan dengan kata lain selain medan perang.




Meskipun mengambil jadwal kerja paruh waktu di hari Sabtu dan Minggu, keduanya terus-menerus sibuk tanpa henti dari pagi hingga malam. Jangankan untuk beristirahat, kalau tidak mengambil waktu istirahat rasanya tubuhku bisa hancur.

 

Tidak, sungguh... karena aku minta libur pada hari Valentine, aku jadi mengambil jadwal lebih banyak... tetapi rasanya sampai membuatku menyesali hal itu saking sibuknya.

 

Mungkin, ini adalah kesibukan paling parah yang pernah kualami.

 

"Terima kasih atas kerja kerasnya. Berkat kalian semua, kita berhasil melewati hari Sabtu dan Minggu dengan selamat."

 

Sesi operasional malam pun berakhir, lalu pemilik restoran beserta istrinya memberikan kata-kata apresiasi kepada seluruh pekerja paruh waktu.

 

Setiap tahun pada periode Valentine, hari pertama pembukaan festival dan hari berikutnya memang tergolong cukup ramai, lalu setelah itu secara perlahan jumlah pelanggan mulai stabil... dan kemudian...

 

"Pada hari Valentine nanti, mohon bantuannya kembali, ya."

 

Benar... sesuai dengan perkataan pemilik restoran, hari Valentine adalah hari yang paling ramai. Terutama saat malam hari. Rasanya sangat merasa bersalah mengingat aku dan Nanami justru minta libur pada hari tersebut.

 

"Jangan dipikirkan, jangan dipikirkan, hal semacam itu serahkan saja pada tim tanpa kekasih."

 

"Agak kesal sih mendengarnya dari Nao-nee, tetapi sayangnya aku setuju dengan perkataan itu."

 

Yuu-senpai dan Shouichi-senpai secara bersamaan mengepalkan tangan mereka dengan erat untuk menunjukkan otot arm.

 

Yah, walaupun di lengan Yuu-senpai tidak terbentuk otot apa pun, sih.

 

Ngomong-ngomong, kalau kondisi Nanami sendiri...

 

"Lelahnya... karena lelah aku mau isi ulang energi..."

 

Dia bersandar di punggungku, lalu memelukku dengan sangat erat. Sosoknya saat itu terlihat bagaikan anak kecil yang sedang bermanja-manja... persis seperti anak perempuan kecil.

 

Gara-gara terlalu sibuk, bahkan setelah kerja paruh waktu selesai pun kami sudah terlampau lelah, sehingga kami cuma bisa pulang bersama... dia benar-benar terkulai lemas...

 

Mengingat besok sudah harus sekolah lagi, rasanya agak sedikit suram. Memikirkan orang dewasa yang bekerja melakukan hal seperti ini hampir setiap hari... aku benar-benar menaruh rasa hormat yang tinggi pada mereka...

 

"Misumai-kun dan Barato-san juga terima kasih atas kerja kerasnya. Festival Valentine pertama di toko kami... bagaimana menurut kalian?"

 

"Ah, Bos... terima kasih atas kerja kerasnya... Tidak deng, sungguh... pelanggannya luar biasa ramai, ya."

 

"Acara semacam ini merupakan ajang interaksi dengan karyawan maskot kami, jadi reputasinya sangat baik di mata pelanggan sekitar. Hanya saja hal ini cuma bertahan sampai mereka berdua lulus kuliah, sih..."

 

Kita harus membimbing karyawan maskot berikutnya, nih, ucap pemilik restoran sembari menunjukkan gestur agak sedikit bingung.

 

Karyawan maskot... ini pasti maksudnya Shouichi-senpai dan Yuu-senpai, kan. Karakter yang sekuat mereka berdua... atau lebih tepatnya, dua orang dengan kepribadian yang begitu kuat rasanya bakal sangat sulit dicari gantinya.

 

"Aku pribadi tidak masalah kok kalau setelah lulus kuliah langsung bekerja tetap di sini? Aku suka restoran ini."

 

"Nao, kamu harus bekerja dengan benar di tempat lain agar orang tuamu tenang. ...Yah, kalau tidak ada yang mau menerimamu di mana pun, barulah datang ke sini."

 

"Ehehe~, dapat tempat kerja tetap~. Dengan begini mau gugur di mana pun perasaanku bakal tetap tenang~"

 

"Nao-nee... hal-hal yang berbau koneksi begitu rasanya kurang baik, deh..."

 

"Shouichi juga, kamu mau lanjut kuliah lalu jadi pemain basket profesional, kan? Kalau sedang kesulitan, datang saja ke sini untuk makan, tidak perlu sungkan-sungkan."

 

"...Terima kasih, Nii-chan."

 

Ngomong-ngomong, pemilik restoran dan senpai juga teman masa kecil, ya. Rasanya seperti melihat sosok sang senpai bukan sebagai Shouichi-senpai yang biasanya, melainkan sebagai seorang pemuda biasa.

 

Lagipula, pemilik restoran juga sangat baik hati, ya. Perasaan bisa membangun restoran yang hangat seperti ini membuatku rasanya... iri?

 

Agak sedikit berbeda, deng.

 

Mungkin lebih tepatnya, muncul perasaan di mana aku juga ingin mencoba melakukan hal seperti itu kelak.

 

...Nanti dulu, Nanami mau memelukku sampai kapan, ya? Semua orang di tempat kerja paruh waktu menatap kami dengan tatapan yang sangat-sangat hangat. Sepertinya separuhnya berisi godaan.

 

Karena malam ini kami diberi tahu bahwa ada hidangan staf, kami pun memutuskan untuk menyantap makan malam dengan penuh rasa terima kasih... emm, Nanami, karena kita mau makan, bagaimana kalau lepas dulu pelukannya?

 

Sembari melepaskan Nanami yang matanya sudah menyipit karena mengantuk, kami duduk di kursi meja makan.

 

Karena sudah setelah jam tutup toko, kami merasa bersyukur bisa makan dengan tenang. Dikelilingi oleh orang-orang yang usianya sedikit lebih tua dari seumuran kami, makan bersama dalam jumlah banyak seperti ini mungkin baru pertama kali kualami selain dengan kerabat keluarga.

 

Hari ini modelnya prasmanan... bentuk buffet? Mungkin ya? Karena disajikan di piring besar, kami tinggal mengambil porsi masing-masing ke piring sendiri.

 

Yuu-senpai sempat bilang "Makanan staf hari ini bergaya keluarga besar, ya", jadi mungkin saja ini hal yang sudah biasa dilakukan. Rasanya menyenangkan bisa mencicipi berbagai macam menu sedikit demi sedikit.

 

"Nanti ada pencuci mulut juga, jadi sisakan ruang di perut kalian, ya~"

 

"Eh? Sampai ada pencuci mulut juga...?"

 

Mendengar kata pencuci mulut yang terucap dari istri pemilik restoran di akhir sesi makan, para pekerja perempuan tampak bersemangat. Yuu-senpai bahkan memasang wajah bangga yang terkesan pamer.

 

Suasananya sudah menjadi seperti pesta kecil, dan aku juga mendapat kesempatan untuk mengobrol sedikit dengan orang-orang yang biasanya jarang berinteraksi denganku.

 

Lalu pencuci mulut yang dikeluarkan adalah...

 

"Ini kan..."

 

"Wah..."

 

Hidangan yang sudah sangat sering kami lihat selama jam kerja paruh waktu, yang sudah sangat tidak asing lagi... Chocolate Fondue.

 

Tanpa sadar, aku dan Nanami saling bertatap muka.

 

"Misumai-kun dan Barato-san baru pertama kali mencoba chocolate fondue restoran kami, kan? Kami sangat ingin kalian mencobanya dan memberikan kesan-kesannya."

 

Disajikan chocolate fondue oleh pasangan pemilik restoran dengan wajah tersenyum ramah, situasinya menjadi sangat tidak memungkinkan bagi kami untuk tidak memakannya.

 

Tapi memang benar... kelihatannya sangat lezat, ya. Saat jam kerja pun, baunya terasa begitu manis hingga membuatku ingin mencobanya.

 

Nanami pun tampaknya sangat tertarik dengan chocolate fondue tersebut...

 

"...Lho? Jangan-jangan kalian... tidak suka cokelat?"

 

"Kalau begitu porsi kalian berdua buat aku saja, ya~? Sebagai gantinya mau makan yang lain?"

 

"Ah, tidak... bukan begitu, kok. Saya suka cokelat."

 

"Iya benar, begitu. Kami berdua sama-sama suka cokelat."

 

Hanya saja, demi makan cokelat saat Hari Valentine nanti, saat ini kami sedang menahan diri dari makan cokelat.

 

Bagaimana ini, menjelaskan situasinya terasa sangat memaluakan. Jika dilihat dari sudut pandang orang ketiga, alasannya pasti membuat mereka bertanya-tanya 'lagi ngapain sih'.

 

Tentu saja, menjelaskan situasinya lalu menolaknya di sini adalah salah satu pilihan, tetapi... mengabaikan kebaikan yang sudah disiapkan ini juga terasa sangat tidak sopan.

 

Terlebih lagi, kalau salah dalam menjelaskan situasinya di sini, suasananya justru bakal jadi canggung, kan. Bisa-bisa malah membuat mereka merasa tidak enak...

 

Saat aku sedang ragu... tiba-tiba istri pemilik restoran memasang raut wajah seperti menyadari sesuatu lalu menepuk mulutnya.

 

Sembari mengutarakan kata "Ara ara", beliau memancarkan senyuman yang sangat lembut.

 

"Tahukah kamu, bukankah Chocolate Fondue itu terasa menarik? Dibanding sekadar menyajikan buah-buahan yang disiram cokelat seperti biasa, pelanggan bisa mencelupkan cokelatnya sendiri secara langsung."

 

Sang istri menusuk buah stroberi yang ada di atas piring, lalu secara perlahan mencelupkannya ke dalam cokelat. Warna cokelat leleh yang pekat mulai melapisi stroberi merah yang matang tersebut.

 

Tadinya kukira beliau akan langsung memakan stroberi yang sudah terlapisi cokelat separuhnya itu sendirian... tetapi beliau justru mengarahkannya kepada sang pemilik restoran.

 

Melihat gestur menyuapi yang terjadi secara tiba-tiba itu, sang pemilik restoran, Yuu-senpai, Shouichi-senpai, para pekerja paruh waktu lainnya... dan tentu saja kami berdua ikut menahan napas.

 

Keheningan seolah waktu terhenti hadir sejenak, lalu sang pemilik restoran dengan sedikit ragu-ragu akhirnya menyantap stroberi yang disodorkan tersebut ke dalam mulutnya.

 

Entah siapa yang sempat memekik kegirangan. Sang pemilik restoran menyantap stroberi dengan raut agak malu-malu, sementara sang istri mengulas senyuman yang tampak sangat bahagia. Lalu, sang istri kembali berpaling menatap kami berdua.

 

"Jika pelanggan sendiri yang memilih bahan lalu mencelupkannya ke cokelat, bukankah hal itu sudah bisa dianggap seperti cokelat buatan tangan? Mungkin karena itulah Chocolate Fondue menjadi sangat populer."

 

Maka dari itu kalian berdua anggap saja sedang makan cokelat buatan tangan lalu nikmatilah berdua, ya...

 

Tampaknya sang istri sengaja menyiapkan alasan bagi kami.

 

Memang benar, jika Nanami yang mencelupkan cokelatnya untukku, hal itu bisa dianggap sebagai cokelat buatan tangan dari Nanami...

 

Tapi nanti dulu, kalau begitu artinya?

 

"Jika saling menyuapi satu sama lain..."

 

"Benar sekali, bakal jadi seperti itu, kan."

 

Beliau mengutarakannya secara gamblang tanpa beban. Jika dilihat baik-baik, Yuu-senpai juga tampak menyuapi Shouichi-senpai serta orang-orang lainnya.

 

Sebaliknya saat melihat mereka disuapi oleh para pekerja laki-laki, batasan jarak sosial mereka tampaknya tetap kacau seperti biasanya.

 

Sang pemilik restoran pun memenuhi permintaan istrinya, mencelupkan biskuit ke dalam cokelat lalu menyuapinya... Tampaknya suasana untuk melakukan hal semacam itu sudah terbentuk sepenuhnya.

 

Jujur saja, ini adalah penawaran yang sangat kusyukuri. Tubuh yang lelah ini rasanya akan sangat terobati oleh makanan manis... dan mulutku pun rasanya sudah membayangkan rasa cokelat.

 

Rasa ingin makan yang menggebu-gebu dari Nanami pun dapat tercium dengan jelas. Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain selain menyantapnya.

 

Alasan 'apa boleh buat' maupun alasan 'cokelat buatan tangan buatan Nanami'... segalanya telah disiapkan untuk kami.

 

"...Kalau begitu, Nanami mau makan apa?"

 

"Eh? Youshin dulu saja yang makan. Mumpung ini momen Valentine... walaupun bukan harinya, tapi kan mirip pre-Valentine."

 

"Mendadak muncul istilah yang tidak kuketahui. Apaan itu pre-Valentine?"

 

"Eh? Bukankah sebutan untuk hal-hal berbau Valentine atau masa persiapan sebelum Valentine itu biasa disebut pra-Valentine?"

 

...Masa, sih? Seumur hidupku aku tidak pernah menggunakan istilah tersebut, pre-Valentine. Hari ini saat kerja paruh waktu pun sebutannya Festival Valentine...

 

Jika Natal ada H-1 Natal (Christmas Eve), kenapa untuk Valentine tidak disebut H-1 Valentine (Valentine Eve), ya?

 

Saat sedang memikirkan hal itu, Nanami bertanya padaku ingin makan apa, sehingga secara refleks aku menjawab stroberi saja. Mendengar hal itu, dengan cekatan Nanami mencelupkan stroberi ke dalam cokelat.

 

Perpaduan stroberi dan cokelat memang sangat pas, ya... Walaupun jadinya sama dengan yang dimakan sang pemilik restoran tadi, tidak ada salahnya jika pilihan kami sama.

 

"Nah, ahnn..."

 

"Ah, iya. Selamat makan..."

 

Saat aku berniat menyantap stroberi itu secara polos... tiba-tiba aku menyadari tatapan dari sekeliling.

 

Orang-orang yang tadinya saling menyuapi, secara serentak menghentikan gerakan mereka lalu menatap ke arah kami dengan lekat. Bahkan sang pemilik restoran dan istrinya pun ikut memperhatikan.

 

Tidak, kenapa kalian malah menatap kami... Sudah, makan saja porsi kalian sendiri...

 

Harapan itu sia-sia belaka, tatapan mereka tetap tertuju pada kami secara konstan.

 

Sangat disayangkan... jika aku tidak memakan stroberi yang disuapkan oleh Nanami ini, badai tatapan ini tampaknya tidak akan pernah berakhir.

 

Apakah semua orang seingin itu melihat momen disuapi ini...? pikirku, tetapi jika dipikir-pikir kembali, apakah ini pertama kalinya kami memperlihatkan momen seperti ini di tempat kerja paruh waktu? Kalau di sekolah sih sesekali... sesekali pernah terlihat, sih... Apakah karena itu mereka jadi sangat penasaran?

 

Stroberi di hadapanku mendadak terlihat seperti pisau pemenggal eksekusi publik. Lagipula jika tidak segera dimakan, cokelatnya bisa menetes dan mengotori meja... sensasi itu terasa seperti sedang didesak...

 

Nanami memasang mata berbinar-binar seolah meminta agar aku segera memakannya. Sembari memiringkan kepalanya sedikit, sosoknya terlihat sangat menggoda...

 

...Emm, mau bagaimana lagi selain memakannya, kan. Aku bisa merasakan orang-orang di sekitar menahan napas memperhatikan kami... Walaupun aku tidak punya kewajiban untuk menuruti keinginan mereka, sih. Jika dengan begini suasana bisa mereda, anggap saja begitu.

 

Karena sudah menetapkan keteguhan hati, rasanya tidak enak jika membuat Nanami menunggu lama... maka aku menyerah dan menyantap stroberi itu dengan patuh.

 

Pada saat itu juga, apakah cuma perasaanku saja atau memang terdengar suara kekaguman yang bocor dari sekeliling?

 

Hanya karena makan stroberi saja sampai dikagumi, situasi macam apa ini sebenarnya. Walaupun keheranan, tidak ada orang yang bakal memberikan jawaban.

 

Di antara suara-suara yang terdengar dari sekeliling, ada yang berkata "Jadi itu hal yang dirumorkan...", tetapi apa maksudnya? Eh? Siapa yang mengatakan itu... tidak deng, kandidatnya cuma ada dua orang, kan.

 

Untuk saat ini... marilah abaikan sekeliling dan fokus pada indra pengecap saja. Mumpung sudah disuapi padaku.

 

Perpaduan stroberi segar yang asam manis dengan cokelat manis yang sedikit agak pahit meresap dan menyebar di dalam mulut.

 

Mungkin karena cokelatnya meleleh dalam wujud cair, perpaduannya menyatu dengan sangat sempurna bersama sari buah stroberi.

 

Secara pribadi ini adalah kombinasi yang sangat kesukai; rasa manis cokelat yang terkadang terasa agak berlebihan di tenggorokan, rasanya berhasil diringankan oleh buah stroberi... atau begitulah perasaanku. Rasa yang saling melengkapi satu sama lain itu mungkin seperti ini bentuknya. Lalu, rasa asam dari stroberi membuat bagian dalam mulut rasanya menjadi... mengerut tegang...

 

Apakah cuma aku saja yang merasakan hal ini? Apakah ada yang paham dengan sensasi ini? Rasanya bagian dalam mulut seperti terperas, tetapi sama sekali tidak menimbulkan rasa tidak nyaman, justru terasa agak menyenangkan...

 

"Enak?"

 

"Iya, enak banget."

 

Rasa manis dan kesegaran ini benar-benar meresap ke dalam tubuh yang lelah, ya... Makanan manis memang luar biasa... rasanya aku masih sanggup bekerja lebih banyak lagi.

 

Rasa lelah yang tersisa di dalam tubuh mulai mereda, lalu Nanami menyodorkan satu suapan lagi padaku. Kali ini tampaknya biskuit yang dicelupkan ke dalam cokelat.

 

Ini juga lezat. Aroma gurih biskuit dan rasa manis cokelat benar-benar padu dengan sangat pas. Ini juga merupakan kombinasi yang klasik, ya.

 

Jika yang tadi memberikan kesan rasa akhir yang segar, yang kali ini meninggalkan rasa gurih yang membayangi. Lalu untuk melengkapi mulut yang sudah terasa manis ini... giliran kopi.




Kopi pahit tanpa gula membilas rasa manis yang tersisa di dalam mulut. Rasanya aku bisa menyantap cokelat lagi satu demi satu.

 

Saat aku sedang menikmati rasa manis cokelat tersebut, kali ini Nanami menunjuk mulutnya dengan jari seolah mengisyaratkan bahwa sekarang adalah gilirannya. Sebab dari tadi cuma aku saja yang makan, sih.

 

Aku juga harus menyuapi Nanami dengan benar...

 

Bagaikan anak burung yang sedang menunggu makanan, mulutnya terbuka dan tertutup memohon suapan... tidak deng, kalau begini bukankah lebih mirip ikan koi di kolam...?

 

...Kalau ikan koi terkesan kurang lucu, jadi anggap saja anak burung.

 

Anak burung yang mengepakkan sayapnya sembari mencicit meminta makanan... tidak deng, itu Nanami. Aku malah membayangkan sosoknya yang seperti itu.

 

"Nanami, mau makan apa? Marshmallow?"

 

"Ah, marshmallow boleh juga. Ahnnn~"

 

Marshmallow, ya, dimengerti.

 

Aku menusuk marshmallow dengan garpu, lalu mencelupkannya ke dalam cokelat. Bobot ringan dari marshmallow kini bertambah sedikit. Perpaduan dua warna antara putihnya marshmallow dan cokelat tampak terlihat cantik. Aku pun menyodorkannya kepada Nanami... sembari menjaga agar tidak menetes ke pakaiannya.

 

Entah kenapa rasanya aku seperti menjadi induk burung.

 

Bagaimanapun juga, mungkin lebih baik aku mengucapkan kata "ahnn", ya.

 

"A... ah...nn..."

 

Saat aku mengucapkannya seperti memberi komando, Nanami menyantap marshmallow tersebut dengan lahap sembari tersenyum gembira. Meskipun ukuran marshmallow-nya lumayan besar, dia melahapnya sekaligus dalam satu gigitan.

 

Aku sendiri tidak begitu sering makan marshmallow, tetapi apakah perpaduan cokelat dan marshmallow tidak terasa terlalu manis, ya?

 

Mengabaikan rasa khawatirku, Nanami tampak terlihat sangat bahagia.

 

"Aah... kalau sedang lelah memang paling pas makan yang manis-manis, ya..."

 

Setelah menyantap marshmallow dengan raut bahagia, Nanami langsung meminum kopinya. Nanami tidak meminum kopi hitam, melainkan menambahkannya dengan susu menjadi café au lait.

 

Menikmati minuman manis bersanding dengan makanan manis. Seolah hal tersebut merupakan kebahagiaan yang tak tertandingi, Nanami menghela napas lega.

 

Saat melepaskan bibirnya dari cangkir dan menghela napas, Nanami terlihat anggun secara tidak terduga, bahkan uap air yang membumbung dari cangkir seolah menjadi hiasan yang mempercantik dirinya.

 

"Wah, kacamataku jadi berembun. Sama sekali tidak kelihatan apa-apa."

 

Mungkin karena jaraknya terlalu dekat dengan cangkir, kacamata yang dikenakan Nanami menjadi berembun sehingga dia melepaskannya.

 

Saat Nanami melepaskan kacamatanya dalam balutan seragam restoran, jujur saja jantungku agak berdebar.

 

Fenomena yang sesekali ada di komik, di mana seseorang menjadi tampak sangat cantik saat melepaskan kacamata... rasanya hal tersebut baru saja terjadi tepat di depan mataku.

 

Tidak, Nanami memakai kacamata pun memang sudah cantik, sih.

 

"Ada apa, Youshin?"

 

Mungkin menyadari tatapanku, Nanami memegang kacamatanya lalu memiringkan kepalanya sedikit. Sosoknya saat itu terlalu menggemaskan, kalau saja ini bukan di tempat kerja paruh waktu pasti sudah kupeluk.

 

"Tidak, cuma merasa kalau Nanami kelihatan cantik walaupun jidatnya kelihatan."

 

Karena terpesona, tanpa sadar aku memuji Nanami secara jujur. Suasana di sekeliling menjadi agak riuh, dan Nanami yang dipuji mendadak merona merah sembari masih memegang kacamatanya.

 

Orang-orang di sekitar ikut terkejut melihatku memujinya secara terang-terangan, tetapi Nanami yang tampak gembira karena dipuji di tempat kerja paruh waktu mengelus dahi sendiri dengan lembut.

 

"Youshin, fetish jidat, ya?"

 

"Tidak, bukan begitu kok... cuma karena jarang kelihatan saja makanya terasa cantik."

 

"Kalau begitu lain kali, bagaimana kalau aku memperlihatkan jidatku juga di sekolah...?"

 

Dengan gerakan seperti merapikan poni, Nanami mempermainkan dahinya menggunakan ujung jari. Sosoknya yang seperti itu memang cantik, tetapi kalau bisa aku ingin hal ini dilakukan di depanku saja... cukup di tempat kerja paruh waktu saja.

 

"Tuh kan~ jangan bermesraan dong~ Bukankah ketentuannya tidak boleh bermesraan di tempat kerja paruh waktu~? Mai-chan dan Nana-chan~ ayo makan bersama di sebelah sini~"

 

"Kalau ketentuannya tidak boleh bermesraan di tempat kerja paruh waktu, bukankah Yuu-senpai seharusnya memanggil kami menggunakan nama keluarga saja...?"

 

"Jangan pelit begitu dong. Memanggil dengan nama keluarga rasanya kurang imut. Nah Mai-chan, karena kamu sudah membatalkan 'stop cokelat', Kakak bakal kasih cokelat juga..."

 

Beliau mencelupkan potongan keju krim berbentuk dadu ke dalam cokelat... tetapi aku menyilangkan kedua tanganku membentuk tanda silang.

 

"Saya menolak suapan dari selain Nanami, jadi tolong berikan itu kepada orang lain saja."

 

"Eeh~? Apa-apaan itu~? Kalau begitu, Nana-chan mau makan?"

 

"Ah, mau mau~♪"

 

"Nanami?! Nanamiii~?!"

 

Tadinya kukira dia mendekati Yuu-senpai hanya karena dipanggil, tetapi Nanami langsung melahap keju yang disodorkan oleh senpai begitu saja.

 

Melihat Nanami yang bersemangat karena rasanya lezat, istri pemilik restoran dan para pekerja perempuan lainnya ikut-ikutan menyodorkan cokelat satu demi satu seperti sedang memberi makan hewan penangkaran.

 

Padahal tadi sosoknya bagaikan anak burung, kalau begini sih jadinya malah seperti burung migran... Lagipula, yah, disuapi sesama perempuan rasanya masih tergolong aman, sih.

 

Pemandangan yang bisa dibilang menyejukkan hati tersebut tanpa sadar membuat ukiran senyum terbit di bibirku.

 

"Kalau begitu, Aku bakal menyuapi Youshin-kun. Bagaimana kalau keripik kentang ini?"

 

"Apakah aku juga harus melakukan hal yang sama?"

 

"Shouichi-senpai, Bos... tidak perlu memaksa membuat lelucon penutup segala, kok..."

 

Pemilik restoran dan Shouichi-senpai yang berniat menyuapiku... apakah aku menyantapnya secara patuh atau tidak...

 

Hal itu, yah, rahasia di sini.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

"Barato-san, tolong urus yang ini, ya~"

 

"Baik, Misumai-senpai. Dimengerti."

 

Nanami memberi hormat dengan gaya hormat militer, lalu melaksanakan instruksi dariku. Ketentuan untuk tidak bermesraan selama jam kerja paruh waktu berhasil dipertahankan dengan baik sejak saat itu.

 

Hingga hari Valentine tiba, aku mengambil jadwal kerja paruh waktu hampir setiap hari. Oleh karena itu, rutinitas belakangan ini hanya berputar pada sekolah, kerja paruh waktu, dan belajar secara berulang.

 

Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, kami mengambil libur pada hari Valentine...

 

Hanya saja, karena Valentine tahun ini jatuh pada hari kerja biasa, kami juga mengambil libur pada hari Sabtu dan Minggu berikutnya.

 

Rencananya, pada hari kerja kami akan menghabiskan waktu berdua setelah pulang sekolah, lalu pada hari Sabtu dan Minggu yang libur kami akan melakukan kencan Valentine.

 

Hanya saja, untuk kencan Valentine, rasanya satu hari saja pada hari Sabtu atau Minggu sebenarnya sudah cukup.

 

Saat kucoba menanyakan hal itu kepada Yuu-senpai, beliau malah membalas dengan perkataan yang tidak jelas seperti, "Lagipula, kan... aduh, jangan bikin aku malu buat ngomongnya, dong."

 

Walaupun kurang begitu paham, karena diberi tahu boleh libur di kedua hari Sabtu dan Minggu tersebut, setelah berdiskusi dengan Nanami, kami memutuskan untuk menerima kebaikan mereka dan mengambil libur di kedua hari itu.

 

Berkat hal tersebut, saat ini kami memang menghadapi kesibukan yang cukup memusingkan, sih.

 

"Terima kasih banyak~ Ini cokelat Valentine-nya. Silakan diterima jika berkenan~"

 

"Ooh, Nao-chan, terima kasih. Nanti kupikirkan balasan hadiahnya, ya."

 

"Kalau begitu, datanglah sebagai pelanggan pada hari Valentine nanti. Soalnya pada hari nanti aku bakal pakai kostum khusus Valentine, lho!"

 

Yuu-senpai yang tidak pernah lupa melakukan promosi mengacungkan jempolnya dengan mantap, sementara pelanggan langganan yang dipromosikan hanya memiringkan kepala keheranan mengulang kata "Kostum Valentine?", namun tetap berpamitan pulang sembari menantikan hal tersebut.

 

Restoran memang selalu ramai setiap hari oleh pelanggan yang mengincar Yuu-senpai maupun Shouichi-senpai, tetapi hari ini sedikit... terjadi perubahan pada pekerja paruh waktu yang lain.

 

Disebut pekerja paruh waktu yang lain pun, sebenarnya yang dimaksud adalah diriku sendiri, sih.

 

"Nah, Misumai-kun, ini cokelat untukmu."

 

"Heh?"

 

Saat sedang mencatat pesanan seperti biasa, para ibu-ibu pelanggan langganan mencoba menyerahkan sebuah bungkusan kotak kecil padaku.

 

Karena aku mengira hari ini cuma menangani pelanggan wanita saja, aku jadi lengah. Apakah tadi beliau baru saja menyebut kata "cokelat"...?

 

Eh? Aku yang menerima?

 

Pemandangan misterius terhampar di depan mataku bagaikan sebuah kejadian yang tidak terasa nyata. Bahkan bagiku yang biasanya merasa sanggup menghadapi berbagai kejadian mendadak dalam kehidupan sehari-hari, kejadian kali ini benar-benar membuatku tidak bisa berimprovisasi dengan baik.

 

Padahal jika bisa menerimanya dengan gaya yang keren seperti Shouichi-senpai pasti bagus, tetapi...

 

"M-mohon maaf... saya tidak bisa menerimanya..."

 

"Lho? Jangan-jangan kamu tidak suka cokelat?"

 

Ah, tidak... bukan begitu alasannya... Melihat raut para ibu-ibu yang agak sedikit murung, rasa bersalah dalam diriku mulai terpantik.

 

Aku sendiri merasa tidak enak jika sampai membuat mereka tersinggung, tetapi aku tidak tahu bagaimana cara menolak yang sopan dalam situasi seperti ini. Walaupun bermaksud meminta bantuan ke orang lain, sialnya yang lain sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.

 

Justru dalam situasi seperti inilah... aku harus mengatasinya sendiri. Namun harus bagaimana... karena tidak tahu, aku memilih untuk menyampaikan perasaanku secara jujur, jujur tanpa berusaha menutupi apa pun.

 

"Itu, saya sangat menghargai penawarannya, tetapi... sebenarnya ada orang yang sangat ingin kuterima cokelat Valentine-nya..."

 

"Eh...? Begitu, ya...?"

 

"I-iya, benar begitu. Itu... karena ini adalah cokelat Valentine pertama dalam hidupku yang bakal kuterima, aku sudah menetapkan bahwa cokelat itu harus berasal darinya..."

 

Aku bisa merasakan para ibu-ibu tersebut menahan napas.

 

Mohon maaf karena harus menolak dengan alasan yang aneh.

 

Sembari meminta maaf di dalam hati, aku merasa sedikit tidak berguna.

 

Padahal berniat menyelesaikannya dengan keren, tetapi perkataanku malah jadi terbata-bata. Orang yang sudah terbiasa atau orang yang anggun dalam situasi seperti ini pasti bisa mengatakannya dengan lancar dan tegas, ya.

 

Pengalamanku masih sangat kurang... tidak deng, meskipun punya banyak pengalaman pun, mungkin hal seperti ini tetap saja tidak mudah bagiku. Paling tidak, aku memang tidak sanggup.

 

Sensasi gugup dan terbata-bata menjalar ke seluruh tubuhku, hingga secara refleks aku mengarahkan pandanganku sekilas ke arah Nanami seolah meminta pertolongan.

 

Karena dia tampak sibuk melayani pelanggan, tatapanku benar-benar... hanya berlangsung sekejap. Namun melihat sosoknya yang sedang berusaha keras, keberanian mendadak tumbuh di dalam diriku.

 

Benar juga, aku kan sedang berusaha keras demi menerima cokelat pertama dari Nanami. Sebelum menerima cokelat pertama darinya, aku harus memberanikan diri untuk menolak pemberian dari orang lain. Bahkan jika harus dimarahi karena hal itu, itulah harapanku yang sebenarnya. Membuat mereka kecewa memang terasa tidak enak, tetapi itu jauh lebih baik daripada membuat Nanami yang kecewa.

 

Jangan sampai salah dalam menentukan prioritas.

 

Maka, di hadapan diriku yang telah memantapkan keteguhan hati yang baru, pemandangan yang terhampar adalah...

 

"Ara ara ara..."

 

"Ampun deh, manisnya..."

 

Ibu-ibu pelanggan tersebut menatapku dengan mata berbinar-binar bagaikan gadis remaja, sementara pipi mereka tampak merona tipis. Bibir mereka semua terukir menjadi bentuk senyuman, lalu tertawa menggoda.

 

Melihat mereka meletakkan cokelat di atas meja sembari tertawa menggoda membuatku justru jadi ketakutan. Perubahannya terlalu mendadak; padahal sampai tadi mereka terlihat agak murung.

 

Saat aku sedang ketakutan hingga keteguhan hatiku tadi terasa sia-sia, para ibu-ibu tersebut dengan cekatan memasukkan kembali cokelat itu ke dalam tas mereka.

 

Apakah perasaanku sudah tersampaikan pada mereka, ya?

 

Meskipun merasa lega karena hal itu...

 

"Begitu rupanya, ya... Senangnya jadi anak muda, cokelat pertama, ya..."

 

"Pasti membahagiakan sekali bagi perempuan yang begitu dijaga olehmu, ya."

 

"Benar, benar. Kalau begitu cokelat dari kami bakal kami berikan tahun depan saja, ya... Cokelat pertama... masa muda yang indah, ya. Dulu Ibu juga pernah mengalami masa-masa seperti itu."

 

Ketiga ibu-ibu tersebut tampak memahami alasanku dengan cara mereka masing-masing, sembari melayangkan tatapan yang sangat hangat padaku. Walaupun aku sudah menolak kebaikan mereka, aku sangat bersyukur karena mereka mau membalasnya dengan kata-kata seperti ini.

 

Sejak bekerja di restoran ini, tampaknya aku memang sangat diberkahi dengan pelanggan-pelanggan yang baik. Aku tidak pernah mendapat komplain yang aneh-aneh, benar-benar hal yang patut disyukuri.

 

Merasa lega karena berhasil menolaknya secara damai, aku berniat mencatat pesanan lalu kembali ke belakang, namun...

 

"Berusahalah dengan keras agar bisa mendapatkannya dari Barato-san, ya."

 

"?! "

 

Padahal posisiku sudah membelakangi mereka, saking terkejutnya aku langsung berbalik dengan cepat. Tadinya kukira rumor yang waktu itu sudah tersebar ke mana-mana, tetapi tampaknya bukan begitu.

 

Rupanya hal itu terbongkar hanya gara-gara aku sempat menatap Nanami sekejap tadi...

 

Karena diucapkan dengan senyuman yang sangat ramah, aku sendiri tidak bisa menyangkalnya... lagipula memang tidak ada gunanya untuk menyangkal. Namun saat aku sedang memikirkan bagaimana harus merespons—apakah harus menjawab "Saya akan berusaha keras"—tiba-tiba Nanami muncul dari samping.

 

"Apakah ada yang bisa saya bantu, Pelanggan?"

 

Karena sedang memegang baki, tampaknya dia yang baru saja mengantarkan makanan di dekat situ mendengar namanya disebut sehingga mengira dirinya dipanggil. Para ibu-ibu juga tampak sedikit terkejut dengan kemunculan Nanami.

 

Aku yang berada di sampingnya pun ikut terkejut, sementara Nanami yang tidak paham kenapa kami terkejut hanya memiringkan kepalanya dengan polos.

 

Melihat Nanami yang keheranan seperti itu, mata para ibu-ibu tersebut mendadak berkilat tajam.

 

"Barato-san, bagaimana rencanamu saat Hari Valentine nanti?"

 

"Itu lho, seperti memberi cokelat..."

 

"Apakah ada acara atau semacamnya?"

 

Apa yang sedang Anda tanyakan sih?! pikirku sembari panik sendiri, tetapi Nanami yang tampak keheranan mendengarnya hanya merespons seolah berkata, Hari Valentine?

 

Kemudian sembari melirik sekejap ke arahku, dia tersenyum ramah kepada para ibu-ibu pelanggan tersebut.

 

"Untuk hari Valentine nanti, saya sudah diundang oleh Misumai-senpai."

 

Mendengar satu kalimat itu, aku kembali menahan napas, sedangkan para ibu-ibu melontarkan jeritan tanpa suara. Seperti yang diharapkan dari orang dewasa, mereka tidak sampai berteriak histeris.

 

Dengan raut wajah terkejut, pandangan mata mereka terus tertuju secara bergantian antara diriku dan Nanami. Raut wajah mereka seolah-olah mengisyaratkan, Boleh juga kamu, ya.

 

Rasanya... sungguh sangat memaluakan, sih.

 

"Nah, Misumai-senpai. Jangan bersantai saja, ayo kembali bekerja. Kalau begitu Pelanggan, jika ada yang dibutuhkan silakan panggil kami, ya."

 

Punggungku langsung didorong oleh Nanami, hingga aku akhirnya bisa melangkah pergi meninggalkan area tersebut. Melihat pemandangan itu, para ibu-ibu hanya bisa melongo keheranan.

 

Setelah kejadian tersebut, tidak ada masalah lain yang terjadi... hingga jam kerja paruh waktu berakhir. Saat proses pembayaran di kasir, para ibu-ibu tadi mengacungkan jempolnya padaku sembari memberikan semangat, "Berusahalah dengan keras, ya."

 

Siapa sangka Nanami bakal... mengatakan bahwa dirinya diundang olehku.

 

"Kenapa kamu malah bilang kalau kamu aku undang...?"

 

"Emm? Mumpung ada kesempatan, aku cuma ingin mencoba menjawab sebagai 'Barato-san' saja, sih."

 

"Sebagai... Barato-san?"

 

"Iya. Soalnya, kita kan sudah bisa menjaga batasan jarak yang tepat di tempat kerja... jadi kupikir tidak ada salahnya kalau aku membangun hubungan denganmu di tempat kerja paruh waktu sebagai 'Barato-san'."

 

Ternyata dia berniat melakukan hal serumit itu, ya. Kenapa harus sampai seperti itu...?

 

"Lho, chocolate fondue yang kemarin kan pemberian dari 'Barato-san', sedangkan Hari Valentine yang sebenarnya nanti adalah pemberian dariku. Jadi kamu dapat untung dua kali lipat dalam momen Valentine kali ini, kan?"

 

"Valentine dua kali lipat... sudut pandang yang cukup menarik, sih."

 

"Lagipula, rumor-rumor semacam itu kalau kita tanggapi secara terbuka dari awal justru bakal lebih cepat mereda, tahu. Kalau didiamkan, malah rumor aneh yang akan makin menyebar luas duluan."

 

"Aah... benar juga, hal itu rasanya tidak asing, ya..."

 

Di sekolah pun memang pernah terjadi berbagai macam hal, ya... Waktu itu ketimbang menyangkalnya, kami justru menyebarkan rumor baru untuk menimpa rumor yang lama.

 

Mungkin manusia memang cenderung lebih mudah mempercayai hal-hal yang terkesan dramatis dan sensasional sebagai sebuah kebenaran.

 

"Lagipula setelah Hari Valentine ini berakhir, kita bisa saja membongkar rahasianya, kan. Walaupun para pelanggan adalah orang-orang yang baik, rasanya kurang menyenangkan kalau kamu terus-terusan disalahpahami..."

 

"Aah... benar juga, lagipula kalau begini aku bakal disangka menyukai 'Barato-san' sekaligus 'Nanami', jadi terkesan cerita yang tidak masuk akal, ya..."

 

"Padahal keduanya adalah diriku sendiri, ya... Apakah ini yang dinamakan musuh terbesarku adalah diriku sendiri?"

 

Kurasa bukan begitu maksudnya.

 

Walaupun demikian, situasinya memang menjadi seperti itu, ya.

 

Setelah dinikmati dalam kurun waktu tertentu, membongkar rahasianya nanti mungkin bukan ide yang buruk.

 

"Tapi, bagaimana cara membongkarnya?"

 

"Emm? Kalau aku bekerja paruh waktu dengan penampilan seperti biasanya, mereka pasti langsung sadar kalau aku adalah orang yang sama dengan yang pernah datang ke restoran dulu. Kebalikan dari pola yang kita lakukan di sekolah."

 

"Kamu juga pernah memakai penampilan yang polos, ya... Di tempat kerja paruh waktu semuanya benar-benar jadi berkebalikan penuh, ya..."

 

Hal itu memang menarik dengan caranya sendiri, sih.

 

Yah, fakta bahwa aku bisa menikmati kedua sosok Nanami dan mendapat keuntungan memang benar adanya. Belakangan ini aku jadi bisa melihat berbagai wujud penampilan Nanami.

 

Di jalan pulang yang tertutup tumpukan salju, Nanami yang mengenakan mantel di luar seragam kerjanya berjalan sedikit di depanku. Kemudian, dia berbalik seolah ingin memamerkan wujud penampilannya padaku.

 

Aku bisa mengenali bahwa sosok ini adalah Nanami, tetapi memang jika dilihat oleh orang yang tidak tahu apa-apa... tidak bisa disalahkan jika mereka menganggapnya sebagai orang yang berbeda.

 

Bisa mengenali wujud penampilannya yang berbeda memang terasa luar biasa, tetapi ini cuma masalah perbedaan jumlah informasi antara orang yang tahu wujud aslinya dan yang tidak... pikirku secara tidak romantis.

 

"Barato-san."

 

Aku sengaja memanggil Nanami dengan sebutan di tempat kerja paruh waktu. Kemudian, aku secara perlahan mengulurkan tangan... lalu membuka suara seolah ini adalah momen pertama kali.

 

"Di hari Valentine nanti, maukah kamu menghabiskan waktu bersamaku?"

 

Mendengar kata-kataku tersebut, mata Nanami di balik kacamatanya tampak melongo keheranan. Karena berada di samping Nanami sudah menjadi hal yang sangat biasa bagiku, aku tidak pernah mengutarakan kalimat ajakan seperti itu.

 

Namun... aku sadar betul bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Mari kita kembali ke perasaan awal seolah sedang membangun hubungan yang baru.

 

Saat Nanami menggenggam tanganku, dia tersenyum dengan sangat bahagia. Hembusan napasnya tampak putih, sejajar dengan warna pemandangan salju di sekeliling kami.

 

"Aku menantikan Hari Valentine nanti, ya, Misumai-senpai?"

 

Aku pulang sembari bergandengan tangan dengan 'Barato-san', lalu memutuskan untuk menikmati hubungan yang sedikit unik di tempat kerja paruh waktu ini... yang sudah ditetapkan terbatas hanya sampai Hari Valentine saja.

 

Dan akhirnya, Hari Valentine pertama bagi kami berdua pun tiba.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close