NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Cinta Pertama x Pembukaan


Aku pengin punya pacar!

Semua cowok seumuranku pasti mikir begitu. Aku, Sato Hiromichi, juga sudah memikirkannya setiap hari sejak kelas dua SMP.

Tapi ya, realita memang tak semanis ekspektasi.

Tampang, menengah ke bawah. Kemampuan atletik, menengah ke bawah.

Bakat menonjol, nggak ada sama sekali. Nilai akademisku lumayan, tapi itu murni karena aku banyak belajar, aslinya sih otakku agak jongkok.

Gara-gara itu, selama tiga tahun SMP aku jomlo ngenes. Boro-boro pacar, emangnya aku pernah diajak ngobrol cewek selain urusan kelas?

Padahal waktu SD aku punya teman cewek, lho. Tapi sejak kelas lima, aku jadi malu berinteraksi dengan cewek dan mulai jaga jarak, tahu-tahu nasibku jadi begini.

Inilah yang namanya "salah asuhan", ya. Benar, sifatku ini memang sudah ruwet, dan aku mengakhiri masa SMP dengan keruwetan ini.

Mengingat kembali masa tiga tahun itu, masa remajaku yang suram ini sukses bikin aku panik. Jangan-jangan masa sekolahku bakal berakhir tanpa satu pun pacar!

Aku nggak mau. Aku nggak mau begitu!

AKU PENGIN BANGET PUNYA PACAR!!

Bukannya lagi naksir siapa-siapa, tapi aku tetap pengin. Nggak punya tipe ideal juga, tapi pokoknya pengin.

Intinya, kalau ada cewek yang suka sama aku, aku jamin aku bakal jadi orang yang paling menyukainya di dunia!!

Aku SUKA BANGET sama cewek yang menyukaiku. Siapa pun pasti begitu, 'kan?

Makanya, demi mencari Cinderella itu, aku bertekad kuat menjadikan masa masuk SMA ini sebagai titik balik. Tapi, tekad yang nggak tahu diri itu bahkan nggak bertahan sebulan.

Niatnya mulai dari menyapa dulu, tapi begitu cewek itu menoleh dengan tatapan curiga yang seolah bilang "Siapa sih cowok ini?", aku langsung bungkam.

Aku sempat minta tolong teman yang gaul biar bisa ikut nimbrung, tapi aku malah cuma bisa mengangguk karena nggak paham apa makanan sehari-hari makhluk bernama cewek yang tiga tahun nggak pernah berinteraksi denganku itu.

Rupanya untuk mendapatkan skill Cooperation with Girls, kamu butuh skill Cooperation with Girls. YA AMPUN, game ampas macam apa ini, mending debug dulu sana!!

Yah—, pokoknya begitulah. Pada akhirnya, tahun pertama SMA-ku berlalu dengan suram begitu saja.

"Fuu~n fufun furu~ruru~~~~♪"

Tapi, semua cerita tadi itu masa lalu. Sekarang aku sedang berjalan menyusuri jalan ke sekolah di musim semi tahun kedua SMA-ku dengan langkah riang dan bersenandung.

Bunga sakura telah berguguran, dan kota menjelang musim panas ini berkilau oleh dedaunan hijau yang basah oleh embun pagi. Sulit dipercaya aku pernah menganggap dunia seindah ini berwarna abu-abu suram.

Kenapa perasaanku bisa berubah begitu drastis? Tentu saja karena—

Aku sudah punya pacar.

KARENA AKU PUNYA PACAR!

AKU SUDAH PUNYA PACAR!! BAGI COWOK SEPERTIKU INI!!

Karena ini sangat penting, niatnya mau kubilang dua kali, tapi malah kelewatan. Aku terlalu kegirangan karena ini pertama kalinya seumur hidup, tolong maklumi saja.

Tentu saja bukan aku yang nembak duluan. Bukannya sombong, tapi aku memang pengecut.

Waktu aku baru naik kelas setelah gagal start dash di SMA dan menghabiskan setahun dengan cowok-cowok saja, tiba-tiba ada cewek yang menembakku.

Cewek itu adalah teman seumuranku dari SD yang beda SMP, lalu kami reuni di SMA. Yah, walau aku di kelas unggulan dan dia di kelas reguler, jadi aku sama sekali nggak sadar keberadaannya sampai dia nembak aku, sih.

Aku ingat pernah menyapanya waktu dia sedang menyendiri di tempat penitipan anak sekolah. Siapa yang sangka flag yang kubuat waktu SD itu baru diklaim sekarang.

Dan saat aku ditembak, siaran resolusi 4K dalam hidupku pun dimulai. Eh, bukan cuma warnanya saja, sih.

Sejak hari itu sebulan yang lalu, dunia rasanya berubah total. Udara di jalan ke sekolah yang biasanya cuma bau knalpot kini terasa segar bak napas kehidupan, dan bel masuk yang suram berubah jadi nyanyian surga yang menandakan hari baruku dengannya.

Udon kantin pun rasanya punya kaldu yang lebih kaya kalau dimakan bareng pacar.

"Terus ya, si Riko anak cheerleader itu maksa banget, jadi aku ke kamarnya deh."

"He-he! Terus gimana? Ujung-ujungnya kalian anu, 'kan?"

"Ketat banget, bro. Cewek ekskul olahraga emang paling mantap~"

Obrolan anak-anak hitz kelas yang biasanya bikin aku kejang-kejang karena iri, sekarang bisa kudengar sambil tersenyum. Ya, ya, aku paham, cinta itu indah dan itulah esensi masa muda, mari sama-sama berjuang, Saudaraku.

Hati ini benar-benar terasa sedamai itu.

"Lho? Tapi Aizawa, bukannya kamu jadian sama Iimura Mao dari klub tiup? Udah putus?"

"Bukannya Sogabe, ya, bukan Iimura?"

"Yaelah, aku nggak pacaran sama siapa-siapa kali. Nggak level banget aku serius sama cewek kek mereka."

"Eh? Padahal tampang mereka berdua lumayan cakep, lho?"

"Harus sepadan, dong, sama pangeran ini? Aku tiap hari capek dibombardir LINE sama cewek-cewek, makanya OGAH BANGET sama cewek yang sok jadi pacar cuma karena udah anu dua tiga kali."

Aku tarik ucapanku. Mending cowok-cowok brengsek ini mati aja, deh.

...Yah begitulah, meski kadang masih suka emosi, tapi sebulan terakhir ini masa SMA-ku bersinar terang dan jauh lebih seru dari sebelumnya.

Mungkin itu karena sekarang aku bisa melihat banyak hal dari sudut pandang yang positif. Semuanya berkat pacarku tersayang.

Karena ada pacar yang selalu mendukungku, aku jadi punya keberanian untuk menerima orang lain. Sekarang, aku mau memperkenalkan pacar yang sudah memberiku keberanian itu.

Saat ini, aku sedang menunggu kedatangannya sendirian di perpustakaan sepulang sekolah. Berbeda denganku, dia ikut ekskul, jadi aku harus menunggunya selesai kalau mau pulang bareng.

Sambil membereskan PR, aku curi-curi pandang ke arah pintu masuk perpustakaan. Waktu terus berlalu, dan karena penasaran, aku pun melirik jam di HP.

Pukul 18.10. ...10 menit?

Padahal janjiannya jam 18.00 pas. Tapi pintu perpus masih tertutup rapat.

Dia belum datang juga, kenapa, ya? JANGAN-JANGAN SELAMA INI CUMA MIMPI HALU COWOK NGENES SAJA—

"Hii-romichi-kun."

"Uwahyak!?"

Tiba-tiba ada sensasi sedingin es merambat di tengkukku. Saat aku menoleh karena kaget, gadis yang sedari tadi kutunggu berdiri di sana dengan senyum polos sambil memegang jus kaleng.

Wajahnya cantik dan bergaris tegas. Rambutnya yang sedikit basah menjuntai hingga sebahu.

Tingginya sedikit di bawahku, dengan lekuk pinggang yang tampak jelas. Dia gadis cantik menawan yang jarang kamu temui sehari-hari, persis seperti model yang baru keluar dari sampul majalah remaja.

Inilah pacarku, Saikawa Haruka.

S-Syukurlah, ternyata bukan mimpi. Gara-gara terlalu lama ngenes, kadang aku masih suka insecure kalau ditembak cewek cantik kayak Haruka ini cuma mimpi manis belaka.

"Ahaha, kaget, ya? Maaf banget udah bikin nunggu karena latihannya molor dari perkiraan."

"Ini persembahan jus sebagai tanda minta maaf, tolong diterima, ya, Tuan."

"Ah, nggak apa-apa, kok, lagian aku juga baru aja datang."




"...Masa iya di situasi begini kamu bilang baru aja datang, sih."

Haruka melirik sekilas ke arah meja. Tentu saja di sana sudah berserakan buku catatan dan buku cetakku.

Gyaa.

Benar juga, maksa banget rasanya ngeles baru aja datang di situasi begini. Pikir sedikit kek.

Kenapa juga aku harus selalu sok keren begini, sih.

Malu banget rasanya. Aku bisa merasakan pipiku memanas.

Entah kenapa, kepalaku dan tubuhku selalu kaku karena grogi setiap kali berada di depan Haruka.

Tapi,

"Kamu baik banget, ya, Hiromichi-kun."

Haruka sama sekali tidak menertawakanku yang sedang panik begini.

Dia baik banget. Aku SUKA.

Wajahnya cantik, sifatnya juga baik. Entah pahala sebesar apa yang sudah kukumpulkan di kehidupan sebelumnya sampai bisa ditembak oleh gadis cantik sesempurna ini.

Diriku di kehidupan sebelumnya, TERIMA KASIH BANYAK, YA.

"Kalau gitu, ayo kita pulang?"

"O-Oke. Aku beresin ini bentar!"

"Ah, nggak usah buru-buru juga nggak apa-apa, lho?"

"Iya, aku ngerti."

Sambil menyahut begitu, aku memasukkan buku pelajaran dan alat tulis ke dalam tas dengan kecepatan penuh.

Aku nggak punya waktu untuk ditahan oleh buku-buku sialan ini saat Haruka ada di sampingku.

Lagipula—setelah ini, aku punya janji penting dengan Haruka.

Kami keluar dari ruang belajar bersama dan berjalan berdampingan di lorong sekolah yang disinari senja. Obrolan kami berkisar tentang kejadian di sekolah hari ini atau acara TV yang kami tonton kemarin.

Terkadang aku mempromosikan manga kesukaanku, yang kemudian dipinjam oleh Haruka lalu kami bahas bersama.

Akhir-akhir ini, kami juga sering membahas soal main Splatoon 2 bareng dua teman cowokku dalam satu tim berempat, dan banyak hal lainnya.

Kalau begini saja kedengarannya sama seperti teman cowok pada umumnya. Tapi tentu saja, kami juga membahas rencana kencan menjelang akhir pekan layaknya sepasang kekasih.

Ngomong-ngomong, topik hari ini adalah soal ekskul Haruka.

"Terus ya, akhir-akhir ini aku sering dipuji sama ketua klub dan guru, lho."

"Dipuji gimana?"

"Katanya aktingku jadi lebih mendalam. Dari yang awalnya kaku kayak lobak mentah, sekarang jadi lobak rebus yang bumbunya meresap."

"...Itu beneran pujian?"

"Ahaha. Seenggaknya lebih baik daripada kurang matang, 'kan~"

"Masuk akal juga, sih."

Haruka adalah anggota klub teater. Katanya sih, ibunya yang sudah bercerai itu dulunya aktris (meskipun nggak terkenal), jadi dia terpengaruh oleh hal itu.

Kata Haruka sendiri, dia cuma sekadar hobi dan nggak jago-jago amat.

Tapi waktu aku menontonnya latihan, rambutnya yang basah oleh keringat menempel di pipi, dan matanya berbinar penuh semangat menyala-nyala. Terlepas dari jago atau tidaknya, aku bisa melihat dengan jelas kalau gairahnya bukan sekadar "hobi numpang lewat".

Karena itulah, aku suka mendengar cerita Haruka tentang klubnya.

Orang yang berjuang keras melakukan sesuatu itu terlihat bersinar. Apalagi kalau orang itu adalah pacarku yang manis.

Aku bisa terus mendengarkan cerita Haruka sampai kapan pun, dan aku bisa terus ngobrol dengannya tanpa henti. Ada terlalu banyak hal yang ingin kubagikan dengannya, sampai-sampai waktu selalu habis lebih dulu daripada topik obrolan kami.

Tapi—hari ini berbeda.

Semakin kami mendekati gerbang sekolah, kami berdua jadi makin jarang bicara.

Dan tepat di depan gerbang sekolah, kami berdua terdiam dan... menghentikan langkah.

—Janji spesial yang kami buat kemarin. Gerbang sekolah adalah batasannya.

Saat aku melirik ke arah Haruka, mata kami bertemu. Tapi tatapan itu langsung terputus karena Haruka mengalihkan pandangannya dengan malu-malu.

Namun sebagai gantinya, tangan kanan Haruka disodorkan perlahan ke arahku yang berdiri di sebelahnya.

Benar. Kami sudah pacaran sekitar satu bulan.

Kami sepakat untuk berusaha sedikit lagi demi mengurangi jarak di antara kami. Dan kami memutuskan hari ini sebagai—hari pertama kami berpegangan tangan!

Bukan paksaan dari salah satu pihak, tapi keputusan bersama. Karena itu, aku membulatkan tekad dan MENGGENGGAM... tangan Haruka yang lentik itu!

Uwoooh...!

Sensasi jari kami yang saling bertaut membuat jantungku berdebar kencang. I-Ini toh yang namanya tangan cewek.

Ukurannya jauh lebih kecil dan lembut daripada tangan cowok. Terlebih lagi, kulitnya halus banget.

Perbedaan sensasi itu membuat jantungku berdebar tak karuan. Kira-kira apa yang Haruka rasakan, ya.

Saat kulirik, pipi Haruka juga tampak sedikit merona.

"Ehehe..., ternyata emang agak malu, ya."

"M-MaSA sih? (Nada tinggi)"

Oh, begitu. Haruka merasa agak malu, ya. Agak, ya.

Sudah pasti rasa maluku bukan sekadar "agak" lagi. Aku deg-degan parah sampai suaraku jadi cempreng misterius gitu.

Bulan pertama ini jantung penakutku yang awalnya selalu berdebar kencang walau cuma berada di dekatnya, sudah lumayan terlatih. Aku sudah bisa ngobrol biasa dengan santai tanpa dibuat-buat, tapi kalau urusan begini yang bikin sadar dia lawan jenis, kelakuanku langsung kacau balau.

Anak hitz di luar sana bisa merangkul dan memeluk cewek yang bukan pacarnya dengan santai. Urat malu mereka terbuat dari apa, sih? Udah fix mereka itu alien.

Saat aku sedang memikirkan hal itu,

"Maaf, ya. Aneh banget baru bisa gandengan tangan padahal udah sebulan. Soalnya, ini pertama kalinya aku punya hubungan kayak gini sama cowok, jadinya aku grogi...."

Wajah Haruka murung dan terlihat merasa bersalah. Sepertinya aku yang mendadak diam ini terlihat seperti sedang bad mood.

Bukan begitu! Aku cuma deg-degan setengah mati sampai bingung mau ngomong apa!

Tentu saja aku langsung panik menenangkannya.

"Ah, aku juga sama, kok! Malah kecepatan segini udah pas banget buatku. Lagian, walau kamu bilang butuh sebulan buat gandengan, itu 'kan baru satu bulan!

Menurutku kita lancar banget, lho! Buktinya, kalau dalam sebulan aja udah bisa gandengan, bayangin seberapa dekat kita seumur hidup nanti!"

"Hngggh~!"

Detik itu juga, pipi Haruka yang sudah merah merona mendadak jadi semerah tomat yang mau meledak. Suhu tubuhnya yang menjalar dari tangan kami yang bertaut pun terasa melonjak naik.

Jangan-jangan... aku barusan ngomong yang cringe banget? Iya, nggak, sih?!

Astaga, IYA! Aku bawa-bawa kata "seumur hidup", dong!

Aduh, MALU BANGET! Masih SMA kok berani-beraninya aku mikir sejauh itu?!

"E-Eh, bukan gitu! Eh, nggak salah, sih! Nggak salah, tapi kecepatan ngomongnya! Tentu aja itu perasaanku yang sejujurnya, tapi kata 'seumur hidup' barusan itu nggak ada maksud tersembunyi yang gimana-gimana, lho!

Itu cuma harapanku aja biar kita bisa begitu seterusnya...!"

Ah, mampus. Mau ngeles kayak apa pun, aku cuma nambah-nambahin omongan makin cringe.

Gimana cara benerinnya, nih. Haruka pasti bakal mikir aku cowok kepedean yang terlalu menuntut dan malah ilfeel padaku.

Saat aku kepikiran hal itu dan mulai kelabakan,

"Nggak, kok. Aku seneng banget."

Haruka menggenggam tanganku semakin erat, menyandarkan tubuhnya di lengan kiriku, dan tersenyum.

Bukan senyum polos nan ceria yang biasa dia tunjukkan ke teman-temannya. Itu adalah senyum spesial yang cuma dia berikan kepadaku, pacarnya.

"Barusan aku cerita kalau aktingku dipuji makin bagus, 'kan? Menurutku itu semua berkat Hiromichi-kun."

"Eh?"

"Soalnya sejak pacaran sama Hiromichi-kun, hari-hariku terasa menyenangkan banget.

Dunia terasa jauh lebih berkilauan dari sebelumnya, dan perasaan lembut yang nggak pernah kukenal tiba-tiba meluap dari dalam hatiku. Aku merasa mendapat kekuatan baru yang belum pernah kumiliki.

...Aku nggak tahu, lho. Ternyata punya seseorang yang begitu menyayangimu di dunia yang luas ini, terasa sangat membahagiakan dan melegakan. ...Makanya, terima kasih, Hiromichi-kun, karena udah menyukaiku. Aku juga sayang banget sama Hiromichi-kun!"

"Hngggh~~~~..."

...Sekarang aku paham. Aku dilahirkan ke dunia ini memang untuk bertemu dengan Haruka.

Nggak mungkin ada cewek lain yang mau menerima cowok sepertiku setulus ini. Nggak mungkin ada cewek lain selain Haruka yang bisa menghargai hal yang sama denganku sebesar ini.

Aku sudah nggak bisa memikirkan cewek lain selain Haruka.

Hari itu, Haruka terus bersandar padaku sampai kami berpisah di stasiun.

Meski kami berdua terlalu deg-degan sampai nggak bisa ngobrol dengan benar, detak jantung Haruka yang sama kencangnya denganku terasa melalui tubuh kami yang bersentuhan... dengan sangat erat.

Waktunya kurang lebih sekitar 15 menit. 15 menit itu sudah pasti menjadi momen terbaik dalam 17 tahun kehidupan seorang Sato Hiromichi.

Lalu, ah, ...tepat setelah kejadian itulah semuanya bermula.

Keyakinan bahwa aku nggak bisa memikirkan cewek lain selain Haruka. Cetak biru masa muda bersama Haruka yang kupercaya akan terus berlanjut ke depannya.

Dan di saat itulah aku bertemu dengan seseorang yang menjungkirbalikkan itu semua.

T/N: ["Daikon yakusha" (aktor lobak) adalah ungkapan atau sebutan dalam bahasa Jepang untuk aktor yang aktingnya buruk/kaku, seperti lobak yang keras. Splatoon 2 (スプラ2) adalah game tembak-menembak populer dari Nintendo.]



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close