NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kyoto Nadeshiko Kiyoko-san no Junjo Uraomote V1 Epilogue

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Epilogue

Liburan musim panas yang menyenangkan telah usai, dan musim pun mulai beralih menuju musim gugur.


Meski begitu, sisa-sisa panas musim panas masih terasa menyengat. Walaupun semester baru telah dimulai dan bulan September sudah tiba, dunia seolah masih enggan melepas sisa-sisa suasana musim panas.


Hari-hari yang dilewati Kiyoko dan Kouya pun masih tetap sama seperti biasanya.


"Bukannya kamu bisa telat buat janji ketemuan main boling sama teman-temanmu?"


Siang menjelang sore di hari Sabtu. Kiyoko bertanya kepada Kouya yang sedang asyik memainkan ponselnya di ruang keluarga lantai dua.


"Kiyoko-san mau ikut juga?"


Kouya mencoba mengajak gadis yang tinggal serumah dengannya itu. Karena ini cuma acara kumpul-kumpul circles-nya untuk persiapan festival budaya, tidak masalah kalau anggotanya bertambah satu orang. Tapi, sekali dia ikut, kemungkinan besar dia bakal diperas tenaganya sampai festival budaya selesai nanti.


"Ngapain juga aku ikut nongkrong kalau bukan urusan kerjaan."


"......Cara berpikirmu benar-benar kekanak-kanakan (baca: terlalu dewasa untuk ukuran anak-anak)."


"Daripada mikirin itu, Kouya-kun. Bukannya kamu bisa telat?"


Ini teguran yang kedua kalinya. Kouya melirik sekilas ke arah jam dinding.


Janjinya jam 2 siang, dan sekarang baru lewat jam satu sedikit. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke tempat pertemuan, jadi waktunya masih sangat longgar.


"Masih kepagian, kok."


"Nggak baik lho bikin teman-temanmu menunggu? (Arti sebenarnya: Aku ingin sendirian, jadi cepat sana pergi)"


"............"


Kouya bisa membaca suara hati Kiyoko.


—Mumpung hari libur, aku ingin santai-santai sendirian di rumah, jadi kamu cepat angkat kaki sana.


Bukankah situasi ini mirip sekali dengan seorang bapak-bapak kantoran yang diusir dari rumah oleh istrinya sendiri di hari Minggu?


"............Aku berangkat sekarang."


Memahami maksud terselubung gadis itu, dengan enggan Kouya melangkah menuju pintu depan.


Benar-benar deh, dia merasa dirinya ini terlalu baik hati. 


Padahal aslinya, Kiyoko yang menumpang di sini dan sama sekali tidak punya hubungan darah dengannyalah yang harusnya tahu diri.


Saat si remaja laki-laki itu sedang berpikir bagaimana cara membunuh waktu sampai jam pertemuan tiba, suara Kiyoko kembali terdengar dari arah belakangnya.


"Tempat bolingnya di sebelah toko kue, kan?"


Ketika Kouya berbalik, Kiyoko sedang tersenyum lebar dan manis sekali.


—Ini sih kode keras.


"......Mau aku bawain oleh-oleh?"


"Ah, nggak usah repot-repot, kok. (Arti sebenarnya: Tolong banget ya beliin kue pas pulang nanti!)"


Kiyoko-san, gadis penuh kepura-puraan yang datang dari Kyoto itu, melambaikan tangannya ringan sambil mengantar teman serumahnya pergi.


Sebagai catatan tambahan, setelah itu Kouya benar-benar membelikan kue sebagai oleh-oleh saat pulang, dan sudah bisa dipastikan suasana hati Kiyoko langsung sangat baik sepanjang hari.



Andai kata cinta memang memiliki masa kedaluwarsa...


Gadis yang datang dari Kyoto itu pun berbisik pelan di dalam hatinya.


—Selama aku menginginkannya, bolehkah aku tetap terus menyukaimu?


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close