NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kyoto Nadeshiko Kiyoko-san no Junjo Uraomote V1 SS

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


CERITA PENDEK BONUS VERSI E-BOOK: "Perang Nikujaga Kiyoko-san dan Kouya-kun"

"Yaa pastinya pakai daging babi, sih."


"Di sini kudu pakai daging sapi, ya."


Di depan konter daging sebuah supermarket, seorang remaja laki-laki dan seorang gadis angkat bicara di waktu yang bersamaan.


Nama mereka masing-masing adalah Torame Kouya dan Kiyoko Shizuishi. Dua orang yang tinggal serumah ini sedang berada di supermarket pada malam hari karena dimintai tolong oleh kakek Kouya, Juro, untuk membeli daging buat bahan masakan nikujaga.


"............"


Pendapat mereka terbagi dua secara telak mengenai jenis daging yang akan dibeli untuk bahan nikujaga, membuat keheningan yang canggung seketika menyelimuti Kouya dan Kiyoko.


"......Kouya-kun, kalau ngomongin daging buat nikujaga, ya jelas pakai daging sapi dong. Kamu kenapa malah mau beli daging babi?"


Kiyoko mencoba memaksakan pendapatnya dengan nada bicara yang lembut, namun Kouya langsung mendebatnya.


"Di mana-mana nikujaga itu ya pakai daging babi. Lagian daging sapi kan mahal. Pikirin efisiensi biayanya dong."


"Tunggu dulu, Kouya-kun. Lihat tuh, daging sapinya lagi diskon 30%, jadi hitungannya malah lebih murah yang sapi."


"Ya tapi masa gara-gara itu kita mau masukin daging sapi ke nikujaga! Pokoknya daging babi itu harga mati!"


"Di Kansai, daging buat nikujaga itu sudah takdirnya pakai daging sapi."


"Ini wilayah Tokyo. Kota terbesar di Dataran Kanto. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."


"............"


Tepat di saat remaja laki-laki dan gadis itu saling melempar tatapan sengit,


Pilon! Aplikasi ponsel Kouya berbunyi, menandakan ada pesan masuk.


Kouya merogoh kantong jaketnya, mengambil ponsel, lalu mengecek pesan tersebut.


"Ah, ada LINE dari Kakek."


"Juuro Oji-san bilang apa?"


"Katanya besok rencananya mau bikin kari, jadi sekalian minta beliin daging buat besok juga. Intinya disuruh beli dua pak."


"......Kouya-kun, sekadar buat memastikan aja nih, menurutmu daging yang pas buat dimasukin ke kari itu apa?"


"Babi!"


Remaja laki-laki asal Tokyo itu menjawab instan tanpa ragu.


"Oh, gitu...... Kalau di rumahku biasanya pakai sapi, sih......"


Gadis asal Kyoto itu pun langsung memalingkan wajahnya perlahan.


"............"


Lagi-masing, keheningan yang berat kembali melanda tempat itu.


Kiyoko memantapkan hatinya, lalu mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.


"Apakah kita memang ditakdirkan untuk saling berperang di sini......?"


Ada prinsip hidup yang tidak bisa mereka korbankan. Pertempuran ini mungkin sudah tidak bisa dihindari lagi.


Si gadis telah bersiap untuk angkat senjata dalam perang ini.


Ya, sebuah perang yang dinamakan: "Perang Daging Kari dan Nikujaga".


"—Ah!"


Sepersekian detik kemudian, sebuah ide cemerlang terlintas di otak si remaja laki-laki Tokyo.


"Kiyoko-san, aku punya ide bagus! Gimana kalau kita beli dua-duanya, daging babi sama daging sapi?!"


Mendengar usul Kouya, Kiyoko memiringkan kepalanya bingung.


"......Terus, yang mana yang mau dimasukin ke nikujaga dan yang mana yang mau dimasukin ke kari?"


"Bukan gitu, jawabannya adalah: dicampur! Masing-masing dibagi dua terus di-mix! Setengah campurannya buat nikujaga, setengah sisanya lagi buat kari!!"


"!"


"Kalau begini, dua-duanya sama-sama puas, kan?"


"Bener juga. Berarti perang bisa dihindari, ya......"


"Dengan ini, negosiasi perdamaian di antara kita resmi tercapai! Kedamaian telah tiba! Nikujaga mix daging babi-sapi dan kari mix daging babi-sapi!"


"Lahirnya kari campur yang bakal bikin orang India sekalipun melongo kaget."


Kouya dan Kiyoko saling menjabat tangan. Pertempuran antara orang Kansai dan orang Kanto seputar urusan makanan akhirnya resmi berakhir.


Dengan begini, kedamaian di meja makan kediaman Torame berhasil dipertahankan.


Alhasil, sambil menenteng bahan makanan untuk hari ini dan esok hari, sepasang remaja itu pun melangkah menuju kasir dengan senyuman lebar di wajah mereka.


Previous Chapter | ToC | 

0

Post a Comment

close