NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 9 Epilogue

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Epilogue

Awal Musim Panas

Di halaman rumah kami ada sebuah dek kayu yang tersambung langsung dengan ruang keluarga.


Memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk beberapa orang duduk berjajar.


"Teman-teman, semangkanya sudah aku potong!"


Kaju muncul di dek kayu sambil membawa nampan besar.


"Wah! Mau! Mau!"


Yanami, yang baru saja menyalakan kembang api, langsung menyodorkannya kepadaku sebelum duduk.


Aku hanya memandangi cahaya kembang api yang dinyalakan orang lain itu dengan tatapan kosong.


Ya, entah bagaimana ceritanya, kami akhirnya mengadakan pesta kembang api Klub Sastra di rumahku.


Menurut Yanami, alasannya karena saat festival kembang api tempo hari dia belum makan sampai puas...


Tapi kenapa harus di rumahku? Apa dia berniat menghabiskan seluruh isi rumah sekalian?


Sambil melihat cara Yanami melahap semangka seperti pelawak era Showa, aku mengenang kembali berbagai kejadian selama setengah bulan terakhir.


...Ya. Banyak sekali yang terjadi.


Benar-benar banyak.


Sayangnya mereka berdua memang putus, tetapi Sakurai-kun menerima hasil itu dengan sikap yang sangat tenang.


Memang benar, patah hati membuat seseorang menjadi lebih dewasa.


"Yanami-san, bijinya tidak dikeluarkan?"


"Kaju-chan, biji semangka itu nanti tumbuh di dalam perut, jadi bagus buat diet."


...Yah, kurasa inilah hasil 'kedewasaannya'. Jangan berharap terlalu banyak.


Aku kembali mengalihkan pandangan ke kembang api yang perlahan padam, ketika Yakishio berdiri di sampingku.


"Nukkun, akhir-akhir ini sepertinya banyak kejadian ya."


"Yah... lumayan. Memangnya kamu dengar dari siapa?"


Aku mencoba bertanya dengan santai, dan Yakishio mengangkat bahu.


"Dari Chiha-chan. Katanya kamu ribut sama cewek dari sekolah lain."


Kenapa Asagumo-san tahu?


Serius, kenapa dia bisa tahu?


Saat aku merinding seperti sedang mendengar cerita hantu musim panas, Yakishio tiba-tiba mengendus-endus rambutku.


"Hah? Ada apa...?"


"Nukkun, kamu pakai sampoku ya."


Wah, ketahuan.


Apa penciuman Yakishio memang setajam hewan liar?


"Eh... ya... cuma penasaran seperti apa rasanya, jadi sesekali..."


Saat aku terbata-bata mencari alasan, Yakishio berbisik di dekat telingaku.


"──Sekarang kita baunya sama."


Tubuhku merinding. Bukan karena takut, melainkan karena perasaan lain.


Yakishio mengambil kembang api yang sudah padam dari tanganku yang membeku, lalu membuangnya ke ember berisi air.


...Eh...


Tadi itu cuma godaan, kan?


Saat aku masih gelisah, Shiratama-san muncul dari belakang Kaju sambil membawa nampan.


"Semuanya, silakan minum teh dingin."


"Terima kasih, Shiratama-chan!"


Yanami langsung menghabiskan satu gelas, lalu tanpa ragu mengambil gelas kedua.


Mungkin di kehidupan berikutnya Yanami akan menjadi arwah yang menghantui kalau sesajen tidak boleh tambah.


Mungkin cerita horor berikutnya bisa memakai Yanami sebagai model...


Sambil memikirkan hal itu, Shiratama-san menyodorkan segelas teh kepadaku.


"Nih, Ketua Klub juga."


"Terima kasih."


Aku menyesap sedikit teh itu. Aroma manis langsung memenuhi mulutku.


"Aku menambahkan aroma beri ke dalam teh hijaunya. Bagaimana?"


"Enak. Wanginya juga bagus."


"Iya. Aromanya sama seperti parfumku."


Setelah berkata begitu, Shiratama-san menggenggam tanganku yang masih memegang gelas.


"Hehe, biar baumu sama denganku."


Maaf. Tubuhku sudah lebih dulu berbau sampo Yakishio.


Saat sedang menikmati lembutnya sentuhan tangannya, Kaju tiba-tiba muncul di samping kami.


"...Shiratama-san. Bisa bantu di dapur sebentar?"


Tanpa sedikit pun gugup melihat Kaju, Shiratama-san tersenyum manis.


"Boleh kok. Siapa tahu aku bisa mencuri rasa masakan Kaju-chan."


"Wah, rupanya kamu memang pandai mencuri ya."


"Hmm... entahlah. Aku lebih jago mengambilnya secara terang-terangan."


Sambil mendengarkan percakapan para gadis yang... entahlah apakah bisa disebut menghangatkan hati, aku memandang ke halaman.


Yanami terus menghasilkan tumpukan kulit semangka.


Yakishio sedang memilih kembang api berikutnya sambil minum teh.


Sedangkan Komari....dia sendirian bermain kembang api di sudut halaman. Mungkin baginya bermain kembang api adalah bentuk dialog dengan dirinya sendiri.


Hebat juga.


Baru saja aku hendak mengganggunya, seseorang masuk ke halaman dari arah pintu depan.


"Selamat malam. Maaf mengganggu."


Sambil menyibakkan rambutnya, yang datang ternyata Hokobaru Hibari.


Semua orang memandangnya dengan heran.


Hokobaru-senpai lalu menyodorkan sebuah kantong kertas kepadaku.


"Ini titipan dari Koharu. Katanya tolong diberikan kepada kedua orang tuamu."


Isi kantong itu adalah sekotak kue yang tampak mewah.


"Rela-rela datang sejauh ini cuma untuk mengantar?"


"Aku kebetulan pulang dari tempat les, jadi sekalian mampir. Maaf mengganggu saat kalian sedang bersenang-senang."


Senpai itu tersenyum. Entah kenapa, aura dewasanya terasa lebih kuat dibanding sebelumnya.


Saat aku hanya terdiam, Kaju tiba-tiba berlari menghampirinya.


"Kalau berkenan, bagaimana kalau ikut main kembang api bersama kami? Semangkanya juga dingin sekali."


"Kalau begitu, aku akan ikut sebentar."


Melihat Kaju masih memakai celemek, Hokobaru-senpai menepukkan tangan.


"Kaju-kun, kalau memasak aku juga bisa memban—"


"Tidak usah! Silakan santai saja!"


Aku dan Kaju langsung menyela bersamaan.


Kami memaksakan sebatang kembang api ke tangannya.


Api merah yang menyala dari kembang api yang kuambil secara asal perlahan berubah menjadi kuning.


Hokobaru-senpai menatap nyala api itu dan berbisik pelan.


"...Nukumizu-kun, aku berutang banyak padamu."


"Aku tidak melakukan apa-apa kok."


Benar. Sepasang kekasih berpisah. Seorang perempuan terluka hatinya. Sedangkan aku hanya mondar-mandir di luar semuanya, tanpa mampu melakukan apa pun untuknya.


"Semuanya memang sudah berakhir sebagaimana mestinya. Sekarang aku juga bisa pergi tanpa penyesalan."


Api kuning berubah menjadi biru, lalu putih, sebelum akhirnya padam perlahan.


"Jadi... terima kasih."


Entah kenapa aku bisa memahami perasaan yang tersimpan di balik kata-kata singkat itu.


Aku sendiri tidak tahu apa yang telah kulakukan, atau apa yang gagal kulakukan. Namun senyum lembut Hokobaru-senpai tampak berbeda dari sebelumnya.


"Ketua, embernya."


Yakishio meletakkan ember berisi air di dekat kakinya.


"Aku mantan ketua. Yakishio-kun, bagaimana persiapanmu untuk Interhigh?"


"Lumayan sih. Pelatih malah terus marah karena katanya aku terlalu banyak latihan lari."


Yakishio tertawa lepas sambil menyerahkan kembang api baru kepada Hokobaru-senpai.


Aku meninggalkan mereka yang mulai mengobrol, lalu berjongkok di samping Komari yang masih meringkuk di sudut halaman.


"Ngapain sendirian?"


"...Main kembang api."


Dengan nada bicaranya yang selalu ketus, Komari menyodorkan sebatang kembang api kepadaku.


Aku menerimanya tanpa berkata apa-apa, lalu menyalakan punyaku dari api miliknya.


"...Kamu tetap saja dikelilingi urusan cewek ya."


Kurang ajar. Dalam kejadian kali ini, sepertiga orang yang terlibat justru laki-laki. Tapi marah hanya karena hal seperti itu terlalu kekanak-kanakan.


Aku tersenyum santai.


"Cuma ada sedikit masalah sama teman. Ngomong-ngomong, bagaimana soal kemah musim panas?"


"...Laut... atau gunung."


Komari menjawab sambil mengayunkan rambut yang diikatnya.


──Pada kemah tahun lalu, kisah cintanya berakhir.


Kalau dipikir-pikir, mungkin justru dialah yang paling banyak berubah selama setahun terakhir.


"Ngomong-ngomong, tahun lalu kita juga main kembang api begini, ya?"


"...Begitukah?"


Entah kenapa Komari tersenyum tipis.


Kami berdua memandangi bunga api yang jatuh bersamaan. Lalu Komari menyodorkan sebatang lagi.


"Ayo, satu lagi."


"Iya. Kita habiskan semuanya."


Saat kami sedang sibuk menyalakan kembang api, sepotong semangka tiba-tiba muncul di depan mata.


"Ayo cepat dimakan! Nanti semangkanya habis lho."


Yanami menyodorkan semangka ke mulutku dan Komari dengan kedua tangannya. Terpaksa kami makan semangka sambil memainkan senko hanabi.


Situasi macam apa ini...


"Kalian berdua ngobrol apa sih?"


Yanami menatap kami dengan mata penuh curiga.


Merasa seperti sedang diinterogasi orang mabuk, aku menelan semangka di mulutku.


"Tadi cuma bahas kemah. Kalau Yanami-san sendiri maunya ke mana?"


"Laut atau gunung!"


Begitu ya. Kalau begitu berarti pilihannya memang laut atau gunung.


Kress.


Aku menggigit semangka sekali lagi.


Sambil mendengarkan keramaian para gadis Klub Sastra, malam musim panas terus berlalu.


Tiga teman masa kecil—Sakurai dan yang lainnya—akan melangkah menuju masa depan mereka masing-masing.


Tak seorang pun bisa terus diam di tempat yang sama selamanya.


Bayangan Tiara yang dengan riang memperlihatkan lidahnya yang berubah biru terlintas di benakku.


"...Aku juga tidak bisa terus begini."


Tanpa sadar aku bergumam.


Tepat di depan mataku, bola api kecil kembang api jatuh perlahan.


Musim panas baru saja dimulai.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close